Total Tayangan Halaman

Translate

Selasa, 18 Februari 2014

Review Novel: The Strange Case of Dr. Jekyll And Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson

Gabriel John Utterson awalnya tak mengira kisah yang dituturkan oleh sepupunya, Richard Enfield akan membawanya ke sebuah kasus yang sangat pelik. Saat mereka tengah berjalan-jalan seperti rutinitas mereka setiap hari Minggu, mereka melewati sebuah pintu belakang sebuah rumah. Melihat pintu ini, Mr. Enfield teringat kejadian aneh beberapa malam sebelumnya dan ini diceritakannya pada Mr. Utterson. 

Malam itu, Mr. Enfield berkisah, ia melihat seorang pria berperawakan kecil dengan baju yang kebesaran tengah berjalan kaki dan di arah sebaliknya ada seorang anak perempuan yang juga berjalan menuju ke arahnya. Saat sudah berdekatan si pria ini tiba-tiba membuat anak perempuan itu terjatuh, bukannya membantu anak perempuan itu bangkit berdiri si pria berperawakan pendek ini malah menginjak-injak si anak perempuan yang malang itu. Tangisan dan jeritan kesakitan si anak perempuan ini membuat orang-orang di sekitar mereka mendekat, si pria aneh itu tanpa perasaan bersalah mencoba pergi begitu saja, tapi Mr. Enfield yang sigap langsung menangkapnya sehingga ia tak bisa berkelit dan berjanji akan memberi cek sebagai biaya pengobatan si anak perempuan malang itu. Si pria ini lalu masuk ke pintu di mana Mr. Enfield dan Mr. Utterson saat ini berdiri. 

Saat keluar ia memberikan cek seperti yang dijanjikannya. Tapi semua orang di sana terlihat tak percaya melihat nama dan tanda tangan di atas cek itu adalah nama seorang yang sangat terkenal dan terpandang. Mereka mengira tanda tangan di cek itu mungkin palsu atau jika asli ada kemungkinan si pria aneh yang mengaku bernama Edward Hyde ini telah mencuri cek tersebut. Tapi saat cek tersebut diuangkan keesokan paginya ternyata tanda tangan itu asli dan tak ada laporan cek itu telah dicuri. Tanda tangan yang tertera di cek tersebut adalah tanda tangan Dr. Henry Jekyll yang memiliki reputasi dan dikenal dermawan. Mendengar cerita sepupunya itu, Mr. Utterson sedikit ragu apalagi dikatakan si pria aneh berperawakan kecil ini masuk ke dalam pintu rumah di mana mereka tengah berdiri. Dan Mr. Utterson sangat mengenal pintu rumah ini karena pintu di mana mereka berdiri dan menjadi awal cerita Mr. Enfield adalah pintu laboratorium yang menuju ke kediaman pribadi Dr. Henry Jekyll, sahabatnya.

Mr. Enfield juga menggambarkan ciri-ciri fisik dari Edward Hyde. Selain berperawakan pendek, wajah Hyde terlihat sangat jahat hingga membuat siapapun yang melihatnya merasa ngeri dan jijik. 

Beberapa hari kemudian di suatu malam, Utterson berpapasan dengan Edward Hyde dan ciri-ciri fisiknya benar-benar mirip seperti yang digambarkan oleh Enfield. 

Sebelum Enfield menceritakan tentang Hyde sebenarnya Utterson sudah lama mengenal nama Edward Hyde, karena beberapa hari sebelumnya, Henry Jekyll pernah meminta bantuan Utterson yang adalah seorang pengacara untuk membuatkan surat wasiat. Dalam wasiatnya itu Henry Jekyll memutuskan akan menyerahkan seluruh harta kekayaannya pada Edward Hyde bilamana ia tiba-tiba menghilang tanpa diketahui jejaknya selama tiga bulan. Sejak membuatkan wasiat itu, Utterson sudah merasa aneh, ditambah mendengar cerita sepupunya yang melihat Hyde bisa dengan mudah dan memiliki kunci pintu laboratorium yang menuju rumah Jekyll bahkan bisa memberikan cek dengan tanda tangan Henry Jekyll. Dengan semua keanehan ini, Utterson curiga jangan-jangan ada rahasia kelam Jekyll yang jatuh ke tangan Hyde dan kini Hyde mencoba memeras Jekyll. 

Sebagai sahabat, Utterson ingin menolong Jekyll terbebas dari Hyde yang terlihat jahat itu, tapi Jekyll menenangkan Utterson bahwa ia baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Masih merasa penasaran, Utterson mencoba menemui Dr. Hastie Lanyon, sahabat Jekyll sejak di sekolah. Mengingat Lanyon sudah lama berteman dengan Jekyll maka Utterson menduga pastilah Lanyon mengenal semua teman-teman Jekyll. Tapi Lanyon menyatakan bahwa ia dan Jekyll belakangan berselisih paham. Jekyll sangat suka melakukan eksperimen dan belakangan ini Lanyon menganggap kejeniusan Jekyll telah membuatnya sedikit aneh, terkadang Lanyon menyaksikan sendiri sifat-sifat jahat Jekyll. Meski mereka berselisih paham berhubungan dengan profesi mereka namun keduanya tetap berteman dan Lanyon bisa memastikan bahwa sejak dulu tak ada teman Jekyll yang bernama Edward Hyde.

Keanehan ini belum lagi terurai tiba-tiba terjadi suatu peristiwa mengerikan. Suatu malam terjadi pembunuhan terhadap anggota dewan. Seorang saksi mata melihat sosok pembunuhnya itu berperawakan kecil dengan wajah jahat yang menjijikan. Di tempat kejadian tertinggal serpihan tongkat yang terlihat unik dan langka. Utterson sangat mengenal tongkat itu karena tongkat itu pernah ia hadiahkan untuk Henry Jekyll.

Kejadian ini membuat Utterson merasa posisi Jekyll kini berada dalam bahaya. Reputasinya bisa saja hancur bila kedekatannya dengan Hyde diketahui. Utterson segera mendatangi Jekyll untuk mendesaknya agar menjauhi Hyde. Ternyata tanpa diminta pun, Jekyll menegaskan ia takkan pernah lagi mau terlibat dengan Edward Hyde. Ia juga menunjukkan pada Utterson surat yang baru saja diterimanya. Surat itu tidak melalui pos, Jekyll menduga surat itu diantarkan langsung oleh pengirimnya. Surat itu dari Hyde dan dalam surat tersebut Hyde mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Jekyll yang banyak membantunya dan meminta Jekyll tak mengkhawatirkannya karena ia memiliki cara untuk meloloskan diri. 

Henry Jekyll yang berperawakan tinggi besar itu tampak pucat dan kelihatannya benar-benar ketakutan. Tanpa banyak pikir ia bahkan mengijinkan Utterson menyimpan surat dari Hyde tersebut. 

Isi surat itu memang tak ada yang aneh tapi keberadaan dan asal usul surat itu diliputi banyak misteri. Jekyll menyatakan pada Utterson bahwa surat tersebut diantarkan langsung ke rumahnya, tapi saat Utterson menanyakan pada Poole, kepala pelayan di rumah Jekyll sangat yakin bahwa hari itu tak ada siapapun yang mengirimkan surat kecuali tukang pos tapi yang diantarkan tukang pos hanyalah surat-surat iklan saja dan sama sekali tak ada surat pribadi untuk Dr. Henry Jekyll.

Keanehan kedua seputar surat itu datang dari pengamatan Guest, kepala tata usaha di kantor pengacara Utterson. Mr. Guest sangat piawai membaca tulisan. Di waktu yang sama datang surat dari Dr. Henry Jekyll untuk Mr. Utterson. Saat melihat surat dari Hyde dan surat dari Dr. Jekyll yang baru saja datang, Mr. Guest dengan pasti menyatakan bahwa kedua tersebut ditulis oleh orang yang sama. 

Pernyataan Mr. Guest itu sangat mengejutkan Utterson. Tapi belum lagi misteri ini terpecahkan, datang kejadian aneh berikutnya. Suatu hari Utterson mengunjungi Dr. Lanyon karena Jekyll lagi-lagi secara tiba-tiba kembali sukar ditemui dan memilih mengurung diri di dalam laboratorium pribadinya. Saat melihat Lanyon, Utterson terperangah melihat penampilan sahabatnya berubah drastis secara mendadak. Lanyon yang biasanya ceria kini terlihat kurus, pucat, dan tampaknya tengah menanggung beban pikiran yang sangat berat. Padahal beberapa hari sebelumnya, Lanyon masih tampak segar saat menghadiri undangan makan malam di rumah Henry Jekyll. Saat mendengar nama Jekyll, tiba-tiba Lanyon marah dan meminta Utterson tak pernah lagi menyebut nama Henry Jekyll di depannya. Utterson kebingungan tapi ia tak mendapat jawaban yang bisa memuaskan rasa ingin tahunya. Beberapa hari kemudian, Lanyon meninggal dan di hari pemakamannya, Utterson menerima surat dari Lanyon tapi pada amplopnya tertulis surat tersebut baru boleh dibuka bila Dr. Henry Jekyll sudah meninggal dunia atau menghilang.

Melihat tulisan menghilang ini membuat Utterson kembali kebingungan. Apa maksud dari menghilang ini? Dua kali ia melihat kata ini. Pertama dalam surat wasiat Henry Jekyll dan kini kata menghilang ini kembali muncul di surat dari almarhum sahabatnya yang lain, Hastie Lanyon.

Teka-teki yang membingungkan ini terbuka saat suatu malam Poole, kepala pelayan Henry Jekyll datang ke rumah Utterson. Ia khawatir majikannya berada dalam bahaya. Selama ini Poole dan seluruh pelayan di rumah tersebut yakin majikannya yang mengurung diri dalam laboratoriumnya berada seorang diri karena majikannya tak berkenan ditemui siapapun dan mereka yakin sekali tak ada siapapun yang datang. Tapi suatu hari, Poole melihat sosok seorang pria mengenakan topeng terlihat mengendap-endap dari arah laboratorium masuk ke dalam rumah. Saat Poole menegurnya, orang ini langsung menjerit dan berlari kembali ke dalam laboratorium. Selain itu dari bunyi langkah di dalam laboratorium, Poole merasa ada orang lain selain majikannya. 

Utterson yang sudah sejak semula mengkhawatirkan Jekyll makin khawatir mendengar penuturan Poole. Dan kekhawatirannya makin menjadi saat ia memanggil-manggil Jekyll di depan pintu laboratorium tapi suara yang menjawabnya bukanlah suara Henry Jekyll. Sebelumnya Utterson sempat berpapasan dengan Edward Hyde di sebuah perumahan mewah dan sempat memaksanya bicara dan kini suara yang sama itulah yang menjawabnya dari balik pintu laboratorium. Suara Edward Hyde yang kasar. Tanpa pikir panjang, mengira jangan-jangan Hyde telah membunuh Henry Jekyll maka Utterson dan Poole mendobrak pintu laboratorium itu tapi ternyata jawaban dari teka-teki aneh ini sama sekali di luar nalar pikir manusia siapapun. Tak ada sosok Henry Jekyll. Yang ada hanyalah sosok seorang pria berperawakan pendek dengan baju yang kebesaran. Sosok Edward Hyde yang sudah tewas bunuh diri saat mendengar Utterson dan Poole mendobrak pintu laboratorium. Utterson mencari keberadaan Henry Jekyll, ia menemukan surat dan tulisan di surat tersebut dikenalnya sebagai tulisan Henry Jekyll.

Jekyll meninggalkan dua surat untuk Utterson. Yang pertama sepucuk surat yang sangat singkat dan yang lainnya adalah satu bundel surat yang sangat berat. Dalam suratnya yang singkat, Jekyll meminta Utterson terlebih dahulu membaca surat dari Lanyon sebelum membaca satu bundel surat yang ditinggalkannya itu. Surat dari Lanyon dan Jekyll itulah yang akhirnya membuka semua teka-teki aneh ini. Dalam surat itu pula barulah diketahui di mana keberadaan Dr. Henry Jekyll dan pribadi sebenarnya Edward Hyde yang berperawakan pendek dan berwajah jahat itu.

Catatan: Kisah Jekyll dan Hyde merupakan salah satu kisah klasik yang sudah melegenda. Dua pribadi yang bertolak belakang tapi juga menggambarkan dualisme dalam diri setiap manusia yang membentuk satu kesatuan sebagai pribadi yang utuh. Melalui karyanya ini Robert Louis Stevenson memperlihatkan kejeniusannya mengurai sifat-sifat paling mendasar setiap manusia. Kemunafikan manusia yang tak ingin mengorbankan reputasinya sebagai makhluk terhormat tapi di sisi lain bergolak rasa ingin memuaskan hasrat dari sisi paling gelap dalam dirinya. Sisi jahat dari pribadinya sendiri yang disadari secara nyata mengerikan dan bisa merusak reputasinya tapi tak bisa juga ditampik petualangan sisi jahatnya begitu menyenangkan, menegangkan dan membuat hidup jadi terasa bergairah. Demi maksud inilah maka eksperimen itu dilakukan. Eksperimen yang pada dasarnya menunjukkan ambisi dan kearoganan seseorang. Hasrat untuk menantang Tuhan. Mencipta ulang tapi berujung pada tragedi.

Awalnya alur cerita dalam novel ini sedikit agak membosankan dan membingungkan tapi seiring waktu, kemisteriusan yang membalut pribadi Edward Hyde membuat jalan cerita jadi menarik. Puncaknya, ending yang benar-benar menantang daya nalar manusia. Ending yang sama sekali tak terduga.

Senin, 10 Februari 2014

Review Novel The Icon - Frederick Forsyth

Rusia pasca tumbangnya rezim komunisme berada di titik nadir. Kriminalitas merajalela, inflasi melambung tinggi, bahkan sepotong roti saja harganya mencapai satu juta rubel. Di saat seperti ini, Presiden Rusia, Josef Cherkassov meninggal dunia akibat serangan jantung dalam perjalanannya menuju dacha, tempat peristirahatan akhir pekannya di luar Moskow. 

Kematian Presiden Cherkassov yang mendadak membuat pemilu Rusia yang segera akan digelar menjadi wacana yang ramai diperbincangkan. Dari sekian banyak nama calon presiden ada sebuah nama yang sangat populer dan dianggap mampu mengangkat kembali Rusia menuju masa keemasannya. Orang itu adalah Igor Komarov, ketua umum UPF, Union of Patriotic Forces, atau Federasi Kekuatan Patriotis. UPF merupakan persatuan partai-partai ultra kanan dan neo fasis, di antaranya Partai Demokrat Liberal, yang melebur jadi satu hingga menjadi kekuatan besar di bawah kepemimpinan Komarov. Meski dalam pidato-pidatonya yang membuat namanya melambung, Komarov digambarkan sebagai sosok yang ramah bersahabat terutama pada masyarakat kalangan bawah, pada kenyataannya Komarov adalah seorang yang dingin dan kaku. Bahkan para bawahannya di UPF diharuskan memanggilnya Presiden karena ia menganggap, cepat atau lambat partainya akan memenangi pemilu yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi Presiden yang sesungguhnya. Presiden Rusia.

Di malam ketika Presiden Cherkassov diberitakan meninggal dunia akibat serangan jantung, teradi suatu peristiwa kecil yang berdampak luas di dalam markas besar UPF.

Leonid Zaitsev, seorang tua pensiunan tentara seperti biasanya datang ke markas besar UPF untuk melakukan tugasnya sebagai tukang bersih-bersih. Tapi tak seperti biasanya, kali itu ia melihat sebuah dokumen bersampul hitam yang menarik minatnya tergeletak di atas meja N.I. Akopov, sekretaris pribadi Igor Komarov, sang Presiden UPF. Setelah ia membaca dokumen itu, ia sangat terkejut karena isinya adalah rencana sang Presiden UPF yang akan melakukan pembersihan ras, kembali mendirikan pemerintahan satu partai, dan membuka kembali kamp-kamp kerja paksa, bila ia terpilih menjadi Presiden Rusia. Dalam menjalankan aksi pembersihan ras dan menciptakan kembali teror terhadap rakyat, Komarov mempercayakannya pada Kolonel Anatoli Grishin, kepala keamanannya yang dikenal dengan nama Pengawal Hitam.

Saat mengetahui dokumen rahasia itu hilang, Komarov sangat marah dan memerintahkan Anatoli Grishin, kepala pasukan keamanannya untuk menyingkirkan Akopov, sekretaris pribadinya yang ceroboh, membiarkan dokumen rahasia tergeletak di mejanya hingga akhirnya hilang dicuri. Orang kedua yang dibunuh akibat dokumen rahasia bersampul hitam itu adalah Leonid Zaitsev, si tukang bersih-bersih yang mencuri dokumen tersebut, tapi meski Grishin menghabisi nyawa pria tua pensiunan tentara miskin itu dengan cara keji, ia tetap tak bisa mendapatkan kembali dokumen rahasia Komarov itu karena Zaitsev sudah melemparkannya ke dalam mobil seorang staf Kedutaan Besar Inggris. Oleh Dinas Intelijen Inggris, dokumen rahasia Komarov itu disebut Manifesto Hitam. Orang ketiga yang dibunuh akibat Manifesto Hitam itu adalah seorang wartawan Inggris yang saat mewawancarai Komarov menyinggung Presiden UPF itu dengan menggunakan kalimat yang sama persis dengan yang ada di Manifesto Hitam sehingga Komarov mengira wartawan Inggris itu sudah membaca Manifesto Hitam miliknya dan karenanya harus disingkirkan.

Dari Moscow Manifesto Hitam itu diam-diam dibawa ke London hingga akhirnya sampai ke tangan Sir Nigel Irvine, mantan Kepala SIS, Dinas Intelijen Inggris yang kemudian dia sampaikan ke suatu perkumpulan rahasia di Amerika Serikat bernama Council of Lincoln. Anggota Council of Lincoln ini adalah orang-orang yang memiliki pengaruh di dunia, di antaranya Mantan Perdana Menteri Inggris, Mantan Presiden Amerika Serikat, Mantan Menteri Luar Negeri Amerika dan Inggris, bankir dan pengusaha top dunia. Ketika Manifesto Hitam ini disampaikan pada mereka, semuanya mencapai kata sepakat yaitu Igor Komarov harus disingkirkan. 

Satu-satunya cara untuk menyingkirkan Komarov adalah dengan melakukan destabilisasi. Namun aksi ini tentu saja sangat berbahaya mengingat aksi ini sangat rahasia dan tak mendapat dukungan resmi dari pemerintah manapun, karena akan merusak hubungan dengan pemerintah Rusia, terlebih Manifesto Hitam itu dibawa keluar dari Rusia dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena itu untuk melakukan tugas ini diperlukan seseorang yang benar-benar piawai, mengenal Rusia, dan mampu bekerja secara rahasia sambil membangun jaringan dan menggalang kekuatan untuk menghancurkan kredibilitas Igor Komarov. 

Lewat seorang kenalannya yang merupakan mantan Direktur Deputi Operasional CIA, ia mendapat nama orang yang cocok untuk melakukan tugas tersebut, ia pernah menjadi bintang di CIA berkat kepiawaiannya merekrut agen-agen top Soviet dan memberikan informasi penting bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Tapi masalahnya orang ini saat keluar dari CIA sudah bersumpah takkan pernah lagi menjejakkan kakinya di Rusia. Nama orang ini adalah Jason Monk. 

Sewaktu masih menjadi agen CIA saat di penghujung Perang Dingin, Monk pernah menjadi bintang kebanggaan dinas intelijen Amerika Serikat tersebut. Tokoh-tokoh yang direkrutnya untuk membelot dan memberi informasi bagi CIA, semuanya adalah agen-agen top yang bekerja di jantung pemerintahan Soviet. 

Sepanjang karirnya di CIA, Monk memang hanya merekrut empat orang agen saja tapi empat orang yang luar biasa. 

Agen pertama yang direkrutnya adalah Nikolai Turkin dari Direktorat Jenderal Satu KGB. Setelah ia diangkat menjadi Kepala KGB di Jerman Timur, divisi terbesar Soviet di dunia, ia memberikan informasi yang luar biasa berharga. Monk memberi nama kode Lysander untuk Turkin.

Agen kedua yang direkrut Monk adalah seorang prajurit Siberia bertubuh besar namun berwajah oriental, Mayor Pyotr Solomin. Saat direkrut di Republik Yaman Selatan, jabatan Mayor Solomin memang belum terlalu penting, tapi saat ia kembali ke Moskow, ia diangkat menjadi ajudan Deputi Menteri Pertahanan yang memungkinkannya memberikan banyak informasi berharga dari jantung pertahanan Soviet. Solomin mendapat nama kode: Orion. 

Agen ketiga Monk adalah Valeri Kruglov yang memiliki posisi di Kementrian Luar Negeri Soviet sehingga informasi-informasi yang diberikannya sangat bernilai bagi Amerika Serikat dan negara-negara Barat untuk memahami arah politik luar negeri Soviet. Nama kode untuknya adalah Delphi

Satu agen terakhir Monk adalah seorang ilmuwan fisika yang bekerja melakukan riset untuk membuat senjata nuklir Soviet, Profesor Ivan Blinov yang hidup terisolasi dalam sebuah kota yang meski mendapat fasilitas mewah versi Soviet dan blok Timur namun dijaga amat ketat hingga para penghuni di kota tersebut merasa bagai hidup dalam penjara. Mengingat Soviet sangat menjaga para ilmuwannya dan hasil-hasil riset mereka maka tak banyak yang bisa diketahui negara-negara Barat, tapi berkat informasi-informasi yang diberikan oleh Blinov, negara-negara Barat bisa mengetahui posisi persenjataan nuklir Soviet. Blinov mendapat nama kode: Pegasus.

Empat orang agen inilah yang membuat nama Jason Monk bersinar di CIA. Berkat hubungan baiknya dengan Carey Jordan, Direktur Deputi Operasional CIA, Monk mendapat keistimewaan untuk menangani langsung keempat agennya. Padahal aturan yang berlaku, biasanya usai merekrut, si agen yang direkrut akan diserahkan ke orang lain. Dalam berkomunikasi dengan para agennya, Monk memperlakukan mereka sebagai sahabat. Tak jarang ia menyisipkan surat pribadi darinya sendiri untuk agen-agennya, padahal aturan yang berlaku tak memperkenankan hubungan emosional secara pribadi seperti itu. 

Sementara itu di tubuh CIA ada kebocoran informasi besar-besaran. Beberapa agen Soviet yang diam-diam bekerja memberikan informasi untuk CIA satu persatu lenyap tak berbekas. Ada dua kemungkinan untuk lenyapnya agen-agen tersebut. Entah mereka ceroboh hingga terendus KGB ataukah ada "tikus" pengkhianat dalam tubuh CIA. Dan jawabannya adalah yang kedua. 

Aldrich Ames, si "tikus" yang menciptakan kerusakan parah di tubuh badan intelijen negeri adidaya itu adalah Kepala Cabang Soviet dari grup kontraspionasi Divisi Soviet/Eropa Timur sehingga dengan posisinya ini ia memiliki akses ke Arsip 301 yang memuat seluruh data agen-agen Soviet dan Eropa Timur yang bekerja untuk Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Kegemaran Ames menenggak alkohol dan berfoya-foya membuatnya hampir jatuh bangkrut. Untuk mengatasi masalah keuangannya, Ames tega menghianati institusi, negara, dan rekan-rekannya di CIA dengan merampok isi Arsip 301 untuk diserahkan ke badan intelijen Rusia, KGB. 

Berdasarkan dokumen-dokumen yang dikuras Ames dari Arsip 301, satu persatu agen Soviet yang bekerja untuk Barat mulai ditangkap dan dijatuhi hukuman. Ada yang dihukum mati, ada pula yang dikirim ke kamp kerja paksa, hanya beberapa yang disiksa secara mental dengan tetap menahannya di sel penjara dan dipaksa memakan kotorannya sendiri hingga akhirnya kehilangan kewarasannya. Komandan interogator yang menyiksa dan membunuh para agen Soviet yang dikhianati Ames itu adalah Anatoli Grishin yang kala itu bekerja di Direktorat Jenderal Dua KGB yang terkenal kejam dan bengis.

Meski satu persatu agen-agen Soviet yang bekerja untuk negara-negara Barat mulai lenyap tak berbekas tapi agen-agen milik Monk masih memancarkan sinar kehidupan, karena Monk yang suka melanggar aturan, tak pernah menyimpan data mereka ke dalam Arsip 301 sebagaimana seharusnya, karena itu Ames tak pernah menemukan agen-agen yang direkrut Monk tersebut. Arsip-arsip berisi data agen-agennya disimpan dalam lemari di ruangan atasannya, Carey Jordan. 

Namun keadaan ini tak berlangsung lama. Saat Carey Jordan, pelindung Monk selama ini tersandung kasus politis yang menyebabkannya diberhentikan dari posisinya di CIA, maka oleh penggantinya, arsip berisi data agen-agen Monk pun dipindahkan ke tempat yang seharusnya, Arsip 301. Tak butuh waktu lama, Ames berhasil mendapatkan dokumen-dokumen berisi data agen-agen Monk yang lalu diserahkannya ke KGB. Anatoli Grishin yang sudah lama penasaran dengan aset milik Monk ini gembira bukan kepalang saat akhirnya mendapatkan data agen-agen milik Monk. 

Satu persatu agen-agen Monk diinterogasi. Solomin, Kruglov, dan Profesor Blinov diinterogasi langsung oleh Grishin. Dan saat menginterogasi mereka ini, timbul rasa benci di hatinya pada orang bernama Jason Monk. Karena ternyata selama ini Jason Monk sudah tiga kali masuk ke dalam wilayah Soviet, menemui ketiga agennya ini tanpa diketahui sama sekali. Ia merasa marah karena berhasil dipecundangi Monk. Berkali-kali Jason Monk masuk ke daerah kekuasaannya, melakukan pertemuan dengan agen-agennya, yang dianggap Grishin sebagai pengkhianat, tapi berhasil melenggang kembali ke negerinya dengan selamat. Saat ketiga Solomin, Kruglov, dan Blinov membeberkan di depan panel pemeriksa informasi apa saja yang telah mereka bocorkan, semua orang KGB itu pucat pasi, karena informasi yang mereka berikan mampu menghancurkan rezim Soviet. Dan hal ini membuat Grishin makin muak dan benci pada seorang Amerika Serikat bernama Jason Monk.

Ketiga agen Monk ditembak mati. Yang paling pertama Kruglov, lalu Profesor Blinov dan terakhir si prajurit Siberia, sang pemburu, Kolonel Pyotr Solomin. Dengan seluruh harga diri dan keyakinannya bahwa ia melakukan hal yang benar, Solomin menengadahkan kepalanya menatap langit, dan saat laras senapan menempel di belakang kepalanya, ia mengulurkan tangan kirinya ke arah Kolonel Grishin yang menatapnya dengan pandangan benci, jari tengahnya menunjuk kaku ke atas, saat itulah Grishin berteriak memberi perintah menembak. Saat Solomin mengarahkan jari tangan kirinya ke arah Kolonel Grishin, tampak sebentuk cincin Navajo berwarna biru dan keperakan di jari Solomin, cincin itu adalah hadiah dari Monk untuk si prajurit Siberia. Setelah Solomin tewas, Grishin mengambil cincin itu dan mengenakannya. 

Di Langley, Monk mulai panik karena tiga agennya, Orion, Delphi, dan Pegasus tiba-tiba lenyap tak berbekas. Ia terus meracau mengungkapkan keyakinannya bahwa ada "tikus" pengkhianat di dalam CIA tapi tak ada yang mau mempedulikannya. Semua prihatin padanya yang secara mendadak kehilangan tiga agennya sekaligus tapi mereka terlalu takut untuk mempercayai Monk, karena bagaimanapun mereka harus saling percaya satu sama lain, dan tuduhan adanya pengkhianat dalam tubuh badan intelijen sebesar CIA terlalu mengerikan karena bila tuduhan itu benar adanya artinya adalah mimpi buruk.

Dengan kematian tiga agennya, kini Monk hanya memiliki Turkin yang masih mengisi posisinya sebagai Kepala seluruh Direktorat K di Jerman Timur. Sebagai kepala kontraspionase, Turkin mencium ada sesuatu yang tak beres. Ia meminta Monk agar datang menemuinya di Berlin Timur. Meski berbahaya, Monk menyanggupi permintaan Turkin. Sementara itu, perburuan besar-besaran dikerahkan untuk menangkap aset Monk yang terakhir, Lysander alias Nikolai Turkin. 

Perburuan ini dipimpin langsung oleh Anatoli Grishin yang merasa geram pada Monk dan bersumpah bila sampai Monk menginjakkan lagi kakinya di wilayah Soviet maka ia sendiri yang akan menangkap dan menyiksa Monk. Dan kini Monk ada di wilayah Berlin Timur, menyamar sebagai penyemir sepatu sambil berbincang-bincang secara tak kentara dengan Turkin. Dalam kesempatan itu Turkin mengungkapkan pada Monk, ia mendapat informasi secara tak sengaja bahwa di tubuh CIA ada pengkhianat yang membuat Moscow pesta pora melakukan penangkapan besar-besaran atas satu orang di Kementrian Pertahanan dan satu orang lagi di Kementrian Luar Negeri. Turkin sama sekali tak mengenal Solomin dan Kruglov tapi Monk tahu yang dimaksud Turkin itu adalah Solomon dan Kruglov. Informasi dari Turkin membuat Monk pucat pasi karena semuanya bertepatan dengan menghilangnya agen Orion dan Delphi yang mendadak. Diliputi kekhawatiran akan kehilangan satu-satunya agennya yang tersisa; bagaimanapun Monk sudah menganggap Turkin sebagai sahabatnya, Monk mendesak Turkin agar segera menyeberang ke Berlin Barat, tapi Turkin mengkhawatirkan istri dan anaknya yang masih berada di Soviet. Maka Monk menganjurkan agar Turkin segera saja memanggil istri dan anaknya, Yuri agar datang ke Berlin. Dan bila mereka sudah menyeberang, Monk berjanji, ia sendiri yang akan mengurus Turkin dan keluarganya. Mereka sepakat dan lalu berpisah. Tapi baru saja beberapa langkah, mendadak Grishin dan pasukannya datang menyerbu dan menangkap Turkin di depan mata Monk yang hanya bisa terpana tak berdaya melihat sahabatnya dibawa pergi. 

Tak seperti Ames yang mengkhianati negara dan lembaga tempatnya bekerja demi tumpukan uang yang memungkinkannya untuk terus menjalani hobinya minum minuman keras dan berfoya-foya, agen-agen Soviet yang direkrut Monk melakukannya bukan demi materi. 

Turkin bersedia direkrut Monk karena ia ingin memberikan negeri yang jauh lebih baik bagi Yuri, putranya, negeri yang dibebaskan dari rasa curiga berlebih dan setulusnya membantu warganya yang kesulitan. Pertama kali Turkin bertemu dengan Monk saat ia ditugaskan di Nairobi, Kenya. Waktu itu jabatan yang disandang Turkin belum terlalu tinggi. Saat di Afrika ini, Yuri, putra Turkin yang kala itu baru berumur lima tahun terkena melioidosis, salah satu varian malaria yang jarang terjadi di Afrika tapi banyak ditemui di Asia Tenggara. Amerika Serikat mengenal penyakit ini saat Perang Vietnam dan membuat antibiotik untuk mengatasi penyakit ini tapi di Rusia belum ada antibiotik untuk penyakit jenis ini. Soviet melarang keras warganya untuk mendapat bantuan dari Barat sementara antibiotik yang dimiliki Soviet hanya mampu membuat nyawa Yuri, anaknya bertahan selama sebulan saja. Dalam keadaan putus asa dan marah pada sikap kaku pemerintahnya, Turkin bertemu Monk yang diam-diam mencari antibiotik untuk melioidosis dan memberikannya pada Turkin. Nyawa Yuri berhasil diselamatkan tapi kejadian ini membuat Turkin ingin menghancurkan sistem di negaranya dan cara yang ditempuhnya adalah bekerjasama dengan CIA tempat Monk bernaung.

Alasan Solomin bersedia direkrut oleh Monk pun hampir serupa dengan Turkin. Sebagai prajurit Siberia dari suku Udegey yang termasuk ras Asia dan karenanya ia sering mendapat perlakuan rasialis. Tapi yang membuat Solomin marah dan muak adalah perilaku koruptif para pejabat negara dan partai. Sementara rakyatnya hidup berkekurangan, para pejabatnya malah hidup berkelimpahan dengan menggunakan uang rakyat. 

Kruglov mungkin satu-satunya di antara agen-agen rekrutan Monk yang mendapat sedikit materi tapi bertahun-tahun lamanya sebagai diplomat Soviet, ia hidup di jalur lurus, sehingga tak seperti rekan-rekannya yang mampu membeli apartemen mewah, ia bahkan tak mampu membeli sebuah apartemen sederhana sekalipun. Berkat Monk, ia akhirnya bisa membeli sebuah apartemen sederhana seperti impiannya. Tapi alasan utamanya bersedia direkrut Monk adalah karena ia ingin Perang Dingin segera usai sehingga ia bisa hidup di negeri yang damai. 

Terakhir Profesor Blinov. Keadaannya sedikit rumit. Sebagai ilmuwan ia hidup terisolasi di sebuah kota yang dijaga ketat. Ia memiliki istri, ia bahagia dengan pernikahannya tapi sayangnya mereka tak dikaruniai anak. Suatu hari dalam suatu liburan, Blinov bertemu dengan seorang wanita keturunan Yahudi, Yevgenia Rozina. Mereka terlibat affair, namun walau Blinov mencintai Rozina, ia tak sampai hati menceraikan istrinya. Mereka berpisah secara baik-baik, Rozina lalu hijrah sebagai imigran gelap di Amerika Serikat. Blinov tak tahu saat berpisah dengannya, Rozina tengah mengandung anaknya. Rozina menamai anaknya Ivan Ivanovich Blinov yang artinya Ivan Putra-Ivan. Monk mengetahui hal ini dan bersedia membantu Blinov yang kini sudah menduda karena istrinya sudah meninggal dunia, untuk menyeberang ke Amerika Serikat dan hidup damai bersama Rozina dan Ivan, putra mereka, tapi Monk meminta Blinov bertahan dulu di Soviet selama dua tahun untuk memberikan informasi yang dibutuhkan negara-negara Barat.

Setelah Turkin ditangkap, Monk kembali ke Amerika bagai singa gunung yang terbakar ekornya. Ia terus mengungkapkan keyakinannya bahwa ada cecunguk tingkat tinggi di CIA. Tapi tak banyak yang menghiraukannya. Di kemudian hari keyakinan Monk itu terbukti. Aldrich Ames tertangkap tapi kerusakan akibat perbuatannya sudah tak bisa lagi diperbaiki. Ratusan agen sudah dijatuhi hukuman mati tanpa melalui proses pengadilan. Dan agen-agen terbaik milik Monk juga sudah tewas. Suatu hari Monk mendapat surat dari Turkin. Dalam suratnya Turkin menceritakan pada Monk, sahabatnya bahwa ia dikirim ke kamp kerja paksa paling kejam yang membuat rambut dan giginya rontok, tubuhnya dipenuhi kutu. Saat menulis surat itu Turkin mengatakan bahwa usianya takkan lama lagi, dan dalam surat itu Turkin mengungkapkan bahwa ia tak pernah menyesali perbuatannya karena ia menganggap rezim di negerinya sangat bengis. Bahkan di akhir suratnya ia memanggil Monk sebagai sahabatnya dan merasa bahwa Yuri, putranya, berhutang nyawa pada Monk. Usai membaca surat ini Monk menangis. Ia mendatangi rumah Ken Mulgrew, sahabat Ames yang selalu melindunginya sehingga membuat Ames melakukan kerusakan sedemikian hebatnya. Monk menghajar Mulgrew sebanyak empat kali, masing-masing untuk keempat agennya yang harus mati sia-sia. Setelah itu Monk mengundurkan diri dari CIA dan pergi ke Kepulauan Karibia, membeli sebuah perahu kecil dan menyewakannya untuk turis yang ingin memancing di tengah laut. Monk membuang kehidupan masa lalunya dan bersumpah tak ingin lagi menginjak tanah Rusia.

Monk memang sudah bersumpah tak ingin lagi menginjakkan kakinya di Rusia, tapi Sir Nigel Irvine, sang mantan Chief SIS, badan intelijen Inggris, setelah mendengar kisahnya dari Carey Jordan, kenalannya yang mantan Direktur Deputi Operasional CIA dan mantan atasan Monk itu, ia yakin bahwa Monk adalah orang yang cocok untuk mengemban tugas mendestabilisasi Igor Komarov. Irvine punya sesuatu yang ia yakin akan membuat Monk mau melakukan tugas ini. Anatoli Grishin. 

Monk memiliki dendam pribadi dengan Grishin karena itu Irvine yakin bila Monk mendengar nama Anatoli Grishin ini, Monk tidak akan menolaknya. Dan dugaannya memang benar. Saat ia mengungkapkan bahwa begitu Igor Komarov benar-benar terpilih menjadi Presiden, ia pasti akan menjalankan rencana gilanya seperti yang tercantum dalam Manifesto Hitam, dan Anatoli Grishin-lah yang akan menjadi algojonya. Ia yang akan menjalankan teror itu. Demi mendengar nama Anatoli Grishin minat Monk pun bangkit. 

Berbagai persiapan dilakukan. Dan pada saatnya, Monk akhirnya kembali menginjakkan kakinya di Rusia dan membawa Manifesto Hitam Komarov kembali ke Rusia. 

Di masa lalu Monk pernah menyelamatkan nyawa seorang Chechnya bernama Umar Gunayev yang kini menjadi salah satu pemimpin kelompok bawah tanah yang sangat berpengaruh. Setibanya di Moskow, ia datang bukan sekadar untuk menagih hutang nyawa itu tapi menurut Manifesto Hitam Komarov, suku Chechnya yang minoritas termasuk kelompok yang akan dihancurkan Komarov dan Grishin, karena itu Umar Gunayev menjadi bagian dari sedikit orang yang membaca Manifesto Hitam Komarov. Walau ragu tapi ia tak punya pilihan selain memberikan apa yang Monk inginkan. Perlindungan. Dengan perlindungan dari kelompok Chechnya, Monk bisa bergerak cepat menggalang kekuatan guna menghancurkan Igor Komarov. 

Ada tiga kelompok yang disebut-sebut Komarov dalam Manifesto Hitamnya yang akan dihancurkan. Gereja, kelompok minoritas di antaranya Yahudi dan suku Chechnya, dan tentara. Dan kepada tiga kelompok ini, Monk membangun kekuatan guna menghancurkan Komarov. Namun masalahnya ia harus berkejaran dengan waktu. Pemilu akan segera dilaksanakan, dan menurut jajak pendapat nama Igor Komarov selalu meraja di urutan teratas. 

Seperti Monk, rupanya Anatoli Grishin pun belum melupakan nama Jason Monk. Saat menginterogasi Turkin, ia baru tahu kalau ternyata saat itu Monk juga ada di sana dan melakukan kontak terakhirnya dengan Turkin. Hal ini membuatnya makin membenci Monk. Kini saat ia mendengar Monk kembali datang ke daerah kekuasaannya, ia bertekad takkan lagi membiarkan Monk pergi dengan selamat. Tapi masalahnya, meski ia telah mengerahkan anak buahnya tapi tetap saja sosok Monk tak bisa ditemukan.

Catatan: Novel ini merupakan salah satu novel favoritku. Bila aku harus menulis list novel terbaik sepanjang masa, maka bisa dipastikan novel The Icon karya Frederick Forsyth ini akan berada di urutan lima besar. Sudah berkali-kali aku membaca ulang novel ini tapi setiap kali aku membacanya, setiap kali itu pula aku terpesona dengan kepiawaian Forsyth yang memang lihai meramu kisah spionase penuh bumbu intrik kontraspionase lintas negara diselipi beberapa fakta sejarah murni berpadu dengan kisah fiktif rekaannya dengan latar belakang Perang Dingin. Dan berkali-kali aku membaca ulang novel ini, tak bisa tidak, aku selalu menangis di bagian Monk membaca surat Turkin yang dikirimkannya secara sembunyi-sembunyi dari kamp kerja paksa.

Bagian favoritku dari novel ini adalah saat Monk menghajar Ken Mulgrew sebanyak empat kali, masing-masing untuk keempat agennya. Empat orang agen yang luar biasa. Empat orang sahabatnya. 

Bagian favoritku lainnya adalah bagian di mana Monk berhadapan langsung dengan Anatoli Grishin dan berhasil mengambil kembali cincin Navajo berwarna biru dan keperakan dari jazad Grishin. Cincin itu adalah cincin yang sama yang pernah ia berikan pada Pyotr Solomin, di sebuah bangku taman di Yalta tapi kemudian Grishin mencurinya dari tangan si prajurit Siberia, si Pemburu Pemberani dari suku Udegey yang telah tewas ditembak mati oleh bawahan Grishin di halaman penjara Lefortovo.

Kata pengkhianat memang memiliki dua sisi. Bagi Amerika Serikat, Ames adalah pengkhianat hina. Monk begitu membenci Ames yang telah menyebabkan keempat agennya yang baginya adalah empat orang sahabatnya tewas karena keserakahan Ames. Sementara Grishin pun sangat membenci agen-agen Soviet yang mau bekerja sama dengan CIA mengirimkan informasi yang bisa menghancurkan negeri mereka sendiri. Dan bagi Grishin mereka adalah pengkhianat hina yang pantas dikirim ke neraka. Namun menarik disimak analisa perbedaan antara mereka yang dianggap sebagai pengkhianat Soviet dengan pengkhianat Amerika Serikat seperti yang tertera di halaman 228:

Seperti semua orang di Langley, Monk tidak pernah terpikir untuk membandingkan antara mereka yang bekerja melawan rezim Soviet dengan pengkhianat Amerika. Seorang pengkhianat Amerika mengkhianati seluruh rakyat Amerika dan pemerintahnya yang dipilih secara demokratis. Kalau tertangkap, ia akan mendapat perlakuan manusiawi, pengadilan yang adil, dan pengacara terbaik yang bisa didapatnya.

Sedangkan orang Rusia yang melawan rezim Soviet akan melawan Rezim yang mewakili tidak lebih dari sepuluh persen populasi yang menindas sembilan puluh persen sisanya. Kalau tertangkap ia akan disiksa dan ditembak tanpa melewati proses pengadilan, atau dibuang ke kamp kerja paksa.