Total Tayangan Halaman

Translate

Jumat, 17 Januari 2014

Surat Untuk Matthew, Anakku di Surga...

Dear My baby, Matthew... 

Saat pertama kali Mami tahu ada kamu di dalam rahim Mami, Mami bahagia sekali hingga rasanya ingin berteriak, memberi tahu seluruh dunia kalau Mami akhirnya akan jadi ibu. 

Sejak Matthew 1 bulan dan hanya segumpal darah yg berdenyut di dalam rahim Mami, tiap hari Mami ajak bicara sampai Matthew berumur 41 minggu, 10 bulan 1 minggu. Mami selalu menjaga Matthew melebihi nyawa Mami, tiap hari Mami selalu mencari apa yang baik untuk Matthew di dalam perut Mami, yang tidak baik Mami hindari jauh-jauh karena Mami cinta kamu, Nak... Tapi akhirnya Mami kehilangan kamu anakku... Kalau saja Mami gak egois memikirkan diri Mami sendiri, Matthew sekarang seharusnya ada di dalam pelukan Mami, tapi hanya karena Mami ingin melahirkan secara normal, Mami ingin merasakan sungguh-sungguh jadi ibu. Merasakan sakitnya saat-saat Matthew lahir.... Ternyata Mami salah. Karena keegoisan Mami, sekarang Mami malah harus kehilangan kamu, Nak.... Maafkan Mami ya, Nak.... 

Sekarang mami hanya bisa menyesali semuanya, hanya airmata dan kerinduan saat melihat foto Matthew... bahkan mami gak bisa memeluk kamu saat terakhir atau pun menyusuimu, Nak.... Hancur rasanya hati Mami, Nak.... 

Anakku sayang, Mami percaya saat ini kamu ada di surga bersama Tuhan Yesus dan Bunda Maria.... Jangan menangis di sana ya, Nak. Jadi anak yang baik, seperti doa Mami tiap hari waktu Matthew masih di dalam rahim Mami, harus taat pada Tuhan Yesus, mencintai dan sayang sama Tuhan Yesus, menghormati Bunda Maria, jadi anak yang menyayangi sesama.... Mami yakin Matthew selalu melihat Mami dari surga.... Rasa cinta dan rindu Mami hanya bisa Mami sampaikan buat Matthew lewat doa, Nak.... I love you, Matthew, anakku....

In Memoriam, Matthew Yahya, born: 4 January 2014, died: 4 January 2014

Selasa, 31 Desember 2013

Michael Schumacher: Real Human, Real Fighter

Pagi ini (Senin, 30 Desember 2013), aku memulai hari dengan optimisme yang tak biasanya, karena hanya tinggal dua hari menjelang tahun 2013 akan berakhir, sehingga aku ingin mengakhiri tahun ini dengan semangat dan optimisme melimpah. Namun sebuah pesan singkat kuterima dari sahabatku perihal kecelakaan Michael Schumacher. Aku yang semula bersemangat memulai aktivitasku tentu saja terkejut. Aku membaca dengan cepat, menelusuri setiap huruf yang sedikit demi sedikit menguapkan semangat optimismeku yang kubangun saat bangun pagi. 

Berbagai artikel berita kemudian dikirim sahabatku. Kesemua berita mengabarkan mengenai kecelakaan yang dialami Michael Schumacher, juara dunia F1 tujuh kali, saat tengah bermain ski bersama putranya yang berumur Mick, yang berumur 14 tahun di Meribel Resort, Alpen, Perancis. Ia terjatuh dari tebing saat tengah meluncur di atas salju dan kepalanya membentur batu.

Setelah kecelakaan, Michael dikabarkan masih sadar meski agak terguncang. Ia dikawal oleh dua polisi patroli di arena ski dan segera dibawa ke Moutiers, rumah sakit terdekat. Namun tak lama kemudian Michael dilarikan ke rumah sakit yang lebih besar di Grenoble, sebelah tenggara Perancis. Awalnya setelah kecelakaan, Michael sempat sadar hingga ia dibawa ke Moutiers yang tak jauh dari resor ski Meribel, tapi kemudian kondisi Michael memburuk dan saat tiba di rumah sakit di Grenoble, Michael Schumacher sudah koma. Ia mengalami trauma dan pendarahan pada otaknya sehingga harus dioperasi. Pasca operasi kondisinya masih buruk dan tim dokter yang menanganinya menyatakan bahwa kondisinya sangat kritis dan serius. Michael hingga saat ini dikabarkan masih kritis. Untuk mengistirahatkan otaknya, Michael saat ini dikondisikan dalam keadaan koma dengan suhu yang diatur rendah.

Jean Todt, sahabat yang juga mantan bos tim Ferrari, tempat Michael bernaung dan mempersembahkan lima gelar dunia F1 untuk tim asal Maranello, Italia ini, dikabarkan langsung datang ke Grenoble. Begitu pula Ross Brawn, mantan direktur teknik Ferrari dan bos tim Mercedes, yang juga merupakan orang terdekat Schumi, dikabarkan saat ini juga berada di Grenoble untuk mendampingi pebalap sekaligus sahabatnya ini melewati masa kritisnya.

Dalam karir balap F1 Michael Schumacher, nama Ross Brawn memang tak bisa dipisahkan darinya. Michael mulai bekerjasama dengan Brawn saat membalap untuk Benetton pada 1991. Dari kerjasama mereka di Benetton ini, Michael sukses menggondol dua gelar dunia di tahun 1994 dan 1995. 

Tahun 1996 Michael hijrah ke Ferrari. F310 saat itut tak terlalu bagus, meski begitu Michael sempat meraih tiga kemenangan. Atas sarannya, Ross Brawn dan Rory Byrne disabot dari Benetton. Byrne saat itu sebenarnya sudah ingin pensiun tapi Schumi berhasil membujuknya untuk menunda pensiunnya. Tak sia-sia. Dengan kehadiran Brawn dan Byrne ditambah tangan dingin Jean Todt, Ferrari dan Michael Schumacher tak terkalahkan. Schumi sukses menambah lima gelar juara dunia yang direngkuhnya secara berturut-turut dari tahun 2000-2004. 

Di pertengahan musim balap 1999, Schumi sempat mengalami kecelakaan parah saat balapan di Silverstone, Inggris. Saat itu ia mengalami patah kaki dan karir balapnya hampir berakhir. Tapi ia beruntung. Ia berhasil diselamatkan. Bukan hanya nyawanya tapi juga karir balapnya. Bahkan usai pemulihan pasca kecelakaan di Silverstone ini, Schumi seperti mendapat energi baru. Terbukti di GP Malaysia, balapan pertamanya setelah kecelakaan di GP Inggris, Schumi tampil cemerlang dan sukses mengantarkan Ferrari meraih gelar dunia konstruktor. Tahun berikutnya, Schumi mengawali masa keemasannya bersama Ferrari. Ia tampil dominan dan meraih lima gelar dunia berturut-turut sebelum akhirnya pensiun di akhir musim 2006. 

Tiga tahun pensiun dari F1, ia sempat menjajal arena balap motor dan pada Februari 2009, ia mengalami kecelakaan motor di Spanyol yang mengakibatkannya mengalami cedera leher dan tulang belakang. Pulih dari cedera ini, Michael kembali ke ajang F1 bersama tim Mercedes yang dikomandani Ross Brawn. Sayang ia tak meraih kesuksesan seperti di masa paruh pertama karir F1-nya. Akhirnya setelah tiga tahun bersama Mercedes, ia memutuskan pensiun di akhir musim 2012 setelah hanya sempat meraih satu kali podium. Di sesi kualifikasi GP Monaco tahun lalu, Schumi sempat mencatat waktu tercepat dan meraih pole position, sayangnya karena kecelakaan di balapan sebelumnya, ia terkena penalti sehingga posisi polenya harus melayang begitu saja.

Salah satu dokter yang sangat berperan dalam kesembuhannya dari kecelakaan di GP Inggris itu adalah Professor Gerard Saillant. Ia dokter ahli bedah otak dan cedera tulang belakang. Sejak itu Michael dan Professor Saillant bersahabat. Professor Saillant juga turut berperan dalam pemulihan cedera leher dan tulang belakang tersebut. 

Saat Michael mengalami kecelakaan di resort ski Meribel, hari Minggu kemarin, Professor Gerard Saillant langsung dikabari dan terus memantau perkembangannya. Bahkan kabarnya Professor Gerard Saillant-lah yang memerintahkan membawa Michael ke Grenoble. Kehadiran Professor Gerard Saillant ini pula yang membuat pers menyadari bahwa kondisi Schumi benar-benar kritis. 

Kepada pers yang senantiasa menunggu perkembangan kondisi Schumi, Professor Saillant menyatakan, "(dalam) Kecelakaan semacam ini, untung usianya 45 tahun (tanggal 3 Januari nanti, Schumi akan berulangtahun yang ke-45), yang mana (jauh) lebih baik (untuk pulih) dibanding bila usianya lebih tua."

Sabine Kehm, juru bicara Michael Schumacher kepada media menegaskan bahwa saat kecelakaan itu, Michael mengenakan helm dan tidak sendirian. Hal mana sedikit membantu sehingga saat mengalami kecelakaan itu, Michael segera mendapat perawatan dan pertolongan pertama. 

Michael saat ini ditangani oleh tim dokter ahli yang dikepalai oleh Professor Stephane Chabarde, dokter ahli bedah otak dan Professor Jean - Francois Payen, Dokter Kepala Anestesi. 

Menurut Profesor Payen, kondisi Michael yang saat kecelakaan mengenakan helm ini juga sedikit membantu. "Tanpa helm (itu), ia tidak akan berada di sini sekarang," demikian pernyataan Professor Payen. Namun Professor Payen menolak menjelaskan efek yang akan terjadi pasca operasi ini. Ia hanya menegaskan bahwa tim dokter bekerja keras jam-demi-jam untuk memulihkan Schumi. 

Kondisinya yang fit, bukan rahasia umum, meski Michael sudah pensiun dari dunia balap tapi ia masih menjaga tubuhnya tetap fit, bahkan dari catatan waktu Hamilton, yang menggantikannya di tim Mercedes yang tak beda dengan Michael saat tiga tahun membalap untuk tim tersebut memperlihatkan betapa fit-nya Michael Schumacher bahkan untuk orang seusianya. Kondisinya yang fit ini dianggap tim dokter yang menanganinya akan sangat membantunya untuk pulih dari krisis ini.

Setelah kabar kecelakaan ski yang dialami Michael Schumacher diiringi berita kondisinya yang masih kritis. Sejumlah komentar yang intinya berisi doa dan harapan agar Michael Schumacher segera pulih ramai menghiasi media sosial. Sejumlah mantan pebalap, yang sempat menjadi pesaingnya, pebalap yang masih aktif saat ini, komunitas F1 hingga para fansnya ramai mengungkapkan keprihatinan dan doa untuknya. Salah satunya adalah Martin Brundle, mantan rekan setimnya di Benetton pada tahun 1992 dan 1993 yang dalam akun twitternya mengatakan, "Come on Michael, give us one of those race stints at pure qualifying pace to win through, like you used to. You can do it."

"Come on Michael, give us one of those race stints at pure qualifying pace to win through, like you used to. You can do it."

Sepanjang karir balapnya di F1, Michael Schumacher dikenal sebagai pebalap yang sangat disiplin dan memiliki semangat juang yang sangat tinggi dan pantang menyerah. Semangat juang Michael inilah yang diharapkan oleh banyak pihak yang bisa membawa Michael melewati masa kritis dan segera pulih. 

Rob Smedley, engineer Ferrari merupakan salah satu yang mengungkapkan harapannya semoga semangat juang Michael yang tak pernah menyerah meraih kemenangan berhasil mengatasi masa kritisnya saat ini. 

"What he represented was the fight, the spirit and the absolute determination to win. Second was never good enough. He pushed everyone else along, and that's what's giving me a lot of hope right now. He's lying in a hospital bed in Grenoble and he needs that fighting spirit to pull through." 

Aku jadi teringat, dalam sebuah artikel, rasanya aku pernah membaca bahwa Michael Schumacher yang bersama istrinya, Corinna Betsch dan dua anak mereka, Gina Maria dan Mick, tinggal di Swiss, selain menyukai olahraga balap juga gemar bermain ski. Rasa-rasanya pula, aku pernah membaca dalam sebuah wawancaranya, Michael sempat ditanya apakah putranya, Mick akan mengikuti jejaknya menjadi pebalap F1. Waktu itu Michael agak tertegun sejenak sebelum akhirnya menjawab. Ia menyatakan bahwa ia tak berharap putranya mengikuti jejaknya menjadi pebalap F1 karena tak ingin putranya hidup sengsara dalam bayang-bayang nama besarnya. Ia banyak melihat beberapa rivalnya, yang merupakan putra pebalap hebat begitu kesulitan membuktikan diri dan keluar dari bayang-bayang nama besar ayah mereka. Itu pula agaknya yang membuatnya lebih suka anaknya memilih olahraga yang lain, meski ia tak bisa mengelak dan akan membiarkan bila ternyata putranya nanti akan memilih karir yang sama dengannya. Sambil tertawa ia menambahkan bahwa putranya sangat hebat bermain ski dan bahkan ia sendiri kalah dari putranya. 

Namun aku seperti banyak fans dan orang-orang dekat Michael Schumacher, berharap Michael tidak akan kalah dalam pertempurannya kali ini untuk tetap hidup. Satu hal yang membuatku begitu mengagumi Michael Schumacher dan membawaku menyukai F1 (tapi sejak pensiun Michael yang kedua kalinya tahun lalu setelah tiga tahun yang tak mengesankan bersama tim Mercedes, kesukaanku pada F1 ikut menguap, karena bagiku F1 tanpa Michael Schumacher takkan pernah sama lagi) adalah semangat juangnya yang pantang menyerah. Ia suka membawa dirinya melewati titik batas yang bahkan tak bisa dibayangkan seorang manusia pun. Walau bagi sebagian orang, Michael dianggap egois dan arogan tapi sesungguhnyalah tak ada yang bisa menampik bahwa Michael Schumacher adalah juara sejati. Dalam keadaan seburuk apapun, ia tak pernah menjelekkan timnya. Seburuk apapun mobilnya, ia mencoba memahaminya dan membawa mobilnya mencapai garis finish. Tak pernah ia mengeluarkan komentar yang akan menurunkan semangat timnya, karena ia tahu, kesuksesan itu tak bisa digapainya seorang diri. Itu pula sebabnya, semua orang yang pernah bekerja bersamanya sangat menghormatinya. 

Saat ia tersandung masalah team order di GP Austria hingga membuatnya jadi bulan-bulanan publik yang seolah menggambarkannya sebagai sosok ambisius egois yang suka mengorbankan orang lain. Publik seolah lupa kalau F1 adalah olahraga tim dan team order dalam olahraga ini adalah kemutlakan demi kesuksesan tim. Michael bukanlah orang pertama yang menikmati tim order ini, bahkan Michael pun pernah pula harus mendukung rekan setimnya untuk meraih gelar dunia. Eddie Irvine di musim 1999 tengah bersaing ketat dengan Mika Hakkinen. Di GP Malaysia, usai pulih dari cederanya akibat kecelakaan hebat di Silverstone, pertengahan musim itu, Michael memainkan peran sebagai pebalap pelapis terbaik di dunia. Ia membantu Irvine meraih kemenangan dan membuat Hakkinen frustasi. Sayangnya di akhir musim Irvine tak bisa meraih gelar dunia idamannya. Mengenai hal ini, Irvine mengungkapkan keberuntungannya memiliki rekan tim seperti Michael. Ia juga menegaskan betapa banyak dukungan dari Michael Schumacher sementara ia tak memberi sebanyak yang diberikan Michael. 

"To be honest, I could never have given him the same support, he (Schumi) helped me more than any other driver could have done."

Michael Schumacher hingga saat ini dianggap masih merupakan pebalap F1 tersukses. Rekor juara dunianya yang mencapai tujuh kali masih belum dilampaui siapapun. Sepanjang karir balapnya di F1 ia telah meraih 91 kemenangan, menjalani 303 balapan dengan 155 kali berdiri di atas podium. Podium terakhirnya adalah di GP Eropa tahun lalu.

Michael telah banyak menjalani balapan paling sulit dan keras dan kebanyakan di antaranya berhasil diatasinya. Dan kali ini Michael tengah melalui lintasan paling sulit dalam hidupnya dan kuharap Michael berhasil mengatasinya. Seperti ketika tengah menyaksikannya berlaga di atas sirkuit, aku selalu berdoa ia bisa mengatasi semuanya dan memenangi balapan, begitu pula kali ini. I crossed my finger, pray for him and hope he will get through this and win the battle. Please, Michael, do not ever give up! Keep fighting and get the victory like you always to do!

Kamis, 05 Desember 2013

Resensi Novel : Burung-Burung Rantau - Y.B. Mangunwijaya

Letnan Jenderal Wiranto adalah seorang purnawirawan berhati luhur sederhana, lahir dari keluarga sederhana yang awalnya berniat menjadi guru SD tapi perang membuat jalan hidupnya berbeda, ia malah menjadi tentara dan karirnya meroket dalam dunia ketentaraan, ia turut andil dalam membasmi pemberontakan saat republik muda ini belum lama berdiri. Karir pesat yang diraihnya, Letjen Wiranto selalu mengatakan bahwa sebenarnyalah ia hanya orang udik yang didorong ke atas hingga ia menduduki berbagai jabatan bergengsi, di antaranya sempat menjadi duta besar di London, Inggris, dan terakhir menjadi Komisaris Bank Pusat Negara. Sang Letjen mantan duta besar dan Komisaris Bank Pusat Negara ini memiliki seorang istri yang menurut putri bungsunya adalah wanita yang cantik tapi sayang-tidak-peka-humor, Serafin Yuniati, peranakan Jawa-Kawanua, Manado. Mereka berdua merupakan manusia konvensional, generasi kemerdekaan yang hidupnya sarat perjuangan dan revolusi dengan lima orang anak pascakemerdekaan yang kesemuanya saling bertentangan satu sama lain, menjelajah dunia dengan cara mereka masing-masing. Kelimanya merupakan burung-burung rantau yang tak lagi merasa terikat sebagai orang Indonesia, walau tak pernah menampik, dan bukannya tidak nasionalis, dalam tubuh mereka mengalir darah Indonesia dalam hal ini Jawa-Manado, namun mereka adalah manusia-manusia Pascaindonesia.

Putri pertama pasangan Letjen Wiranto dan Yuniati adalah Anggraini Primaningsih atau lebih akrab disapa Anggi, seorang wanita karir, pengusaha sukses yang serba mandiri, fleksibel dan lihai dalam membuat celah peluang demi kepentingannya pribadi, membuat bingung orangtuanya, tak tahu darimana bakat bisnisnya itu menurun. 

Anak kedua mereka sekaligus putra sulung adalah Wibowo Laksono atau Bowo, doktor fisika-nuklir, anak kesayangan Yuniati yang lebih suka menetap di Jenewa, Swiss, bekerja di laboratorium internasional CERN dan menikah dengan seorang wanita Yunani, Agatha Anaxopoulos.

Letkol Candra Sucipto, anak ketiga pasangan Wiranto-Yuniati adalah pilot pesawat tempur. Menurut Neti, adiknya, Candra jiwanya memang batu kasar seperti Bima Werkudara, tetapi pada dasarnya hatinya intan. Di awal-awal kisah Candra memang terlihat kasar dan jiwanya yang seorang pilot pesawat tempur nyata tergambar dengan semangat meledak-ledak ingin menghancurkan segala macam yang dibenci, seperti ketika adik bungsunya, Edi meninggal karena jerat narkoba. Saat mendapat kesempatan bergabung dalam sebuah aksi penyergapan ke jantung sindikat narkoba di Bogota, bersama pasukan anti narkoba Amerika, dalam percakapannya dengan ayahnya, Candra mengungkapkan gejolak emosinya, darahnya terasa mendidih, ungkapnya, saat teringat nasib malang Edi, adiknya yang meninggal akibat kekejaman para gembong-gembong narkoba itu yang tega menjerat hidup anak-anak muda labil macam Edi, adik bungsunya itu. 

Meski terkesan keras dan serba suka sembarang hantam, tapi Candra juga terlihat merupakan kakak yang bijak dan sangat menyayangi adik perempuannya, Marineti Dianwidhi, yang memiliki nama panggilan Neti. Setelah kematian Edi, praktis Neti menjadi anak bungsu pengganti Edi yang malang itu. Sebenarnya pula Neti yang paling terluka akibat kematian Edi, adik bungsunya. Terlebih mereka berdua sangat dekat sejak kecil. Dan sejak kecil pula, Edi sudah terlihat pribadinya paling lembut dan halus dibanding kakak-kakaknya. Neti bisa dibilang sudah bagai orangtua bagi Edi mengingat ayah dan ibu mereka yang sangat sibuk. Bahkan Neti seorang yang hadir di saat terakhir Edi menghembuskan nafas terakhirnya. Di atas pangkuan Neti, kakaknya seorang yang paling memahaminya, Edi malang itu menemui ajalnya.

Sebuah kesalahan fatal Wiranto adalah sebagai ayah ia kurang memahami kelembutan jiwa dan hati putra bungsunya yang malang itu kala di suatu hari Edi yang gemar menggambar membuat sebuah lukisan wajah Karl Marx, tokoh pencetus paham komunisme membuat Wiranto, ayahnya berang bukan main dan merobek-robek gambar coretan tangan putra bungsunya yang begitu terluka atas perbuatan ayahnya. 

Sebagai panglima perang, Wiranto begitu hebat gagah membasmi gerakan-gerakan pemberontakan di pedalaman nusantara yang menggerogoti perjalanan awal republik muda ini, tapi justru terhadap anak-anaknya sendiri Wiranto memang tak berdaya sama sekali. Tanpa disadarinya, saat merobek-robek lukisan wajah Karl Marx karya anak bungsunya itu, ia telah pula merobek-robek hati putra bungsunya yang hatinya kelewat lembut dan halus itu, hal yang baru terakhir disadarinya, tapi sayangnya terlambat, anaknya yang berjiwa labil itu mencetuskan pemberontakannya dalam jeratan narkoba yang memberinya dunia ilusi semu berujung pada kematiannya. Duka dan sesal yang harus ditanggung seluruh anggota keluarga Wiranto. 

Meski senantiasa dibayangi kenangan sendu akan Edi, tapi hidup menawarkan pula segala macam keindahan dalam kesedihan. Marineti Dianwidhi, anak keempat sekaligus putri bungsu keluarga Letjen Wiranto, sarjana antropolog dan tengah melanjutkan ke jenjang S2, yang merupakan tokoh sentral dari novel ini melalui sikap cerianya yang suka menggoda ibunya yang cantik-tapi-sayang-tidak-peka-humor itu. 

Neti, anak manja tapi juga sangat dewasa bertanggung jawab, memilih menjadi sosiawati, atas inisiatif pribadi, seorang diri menjadi guru anak-anak keluarga kumuh di bawah jembatan, walau ia akui aksi sosialnya itu tak sepenuhnya murni melainkan didasari rasa sakit hatinya akibat kematian adiknya yang malang tapi toh pada akhirnya Neti benar-benar menghayati sepenuhnya tindakan mulianya ini.

Kegiatan sosialnya ini pula yang membawa Neti berjumpa dengan Gandhi Krishnahatma, seorang pemuda asal Punjab, India dari kalangan Brahmana yang selalu terikat pada karma, dalam sebuah konferensi untuk pekerja sosial antar negara Asia di India. Nama Gandhi itu memang diberikan orangtuanya karena ia dilahirkan di hari ulangtahun Mahatma Gandhi dan tentunya dengan harapan ia memiliki kebijakan hati seperti Mahatma Gandhi. Nyatanya pula, meski sebagai seorang pemuda dari kalangan atas dengan kekayaan melimpah, tapi Krish, panggilan Neti untuk sahabatnya dari India ini, memiliki hati yang amat mulia seperti Mahatma Gandhi, tokoh perjuangan perdamaian India yang justru menemui ajalnya di tangan seorang penganut Hindu fanatik. Kelembutan hati pemuda Punjab inilah yang membuat Neti jatuh hati. Mereka kembali bertemu saat pesta pernikahan Bowo - Agatha di Yunani. Dalam perjalanan wisata ke beberapa tempat wisata terkenal di Yunani bersama Krish dan Candra, usai pernikahan Bowo-Agatha, perasaan Neti terhadap Gandhi Krishnahatma, ilmuwan mikro biologi yang tengah mempersiapkan diri untuk jadi doktor bioteknologi di Heidelberg ini pun makin dalam. Tapi kendalanya adalah suasana muram India yang senantiasa terikat aturan kasta dan karma, membuat perasaan Neti gamang. 

Di samping itu, walau tak memperlihatkan penolakan, Yuniati, ibunda Neti yang cantik tapi tidak peka humor itu, menghadapi dilema, di satu sisi, ia gembira karena ternyata toh putri bungsunya yang selalu berikrar tak ingin menikah ini, akhirnya bisa juga jatuh cinta, tapi di sisi lain, latar belakang pria yang telah mengharu-biru perasaan putrinya terlalu rumit. Krish, memang merupakan putra dari pengusaha media Punjab yang kaya raya, tapi Krish adalah seorang duda beranak satu, belum lagi India, negeri asalnya yang diikat oleh pembagian nasib bernama kasta dan karma, membuat hati masygul. Namun pada akhirnya semua kegelisahan dan kegamangan itu terjawab. Krish yang senantiasa terikat oleh karma, nyatanya tak bisa menolak desakan orangtuanya untuk menikahi seorang kerabatnya yang telah dijodohkannya dan disebut sebagai karmanya. Meski pedih, tapi toh Neti adalah Neti, gadis manja, putri bungsu Letjen Wiranto, hidupnya terus berjalan, dan ia justru bisa menemukan kekuatannya di tengah kawasan kumuh di kolong jembatan bersama anak-anak malang secara ekonomi tapi tak mampu memudarkan semangat, keceriaan masa kanak-kanak, dan wanita-wanita sederhana yang walau sikap dan perilakunya tak seelegan, seanggun ibu-ibu pejabat, tapi toh hati mereka sebenarnya murni indah. Mereka yang sebenarnya adalah juga burung-burung rantau kehidupan.

Catatan: Sebagai sebuah novel filsafat, tentu saja pembaca akan dibawa pada kedalaman kata yang mungkin akan membuat kening berkerut dalam, meski begitu, jalan ceritanya cukup ringan mengalir membawa para pembacanya hanyut pada kedalaman berpikir para tokohnya. Perpaduan berpikir antara kaum teknokrat yang digambarkan melalui tokoh Candra, si pilot pesawat tempur itu dan Bowo, abangnya yang profesor fisika nuklir dan astro-fisika dengan pandangan humanis Neti, si antropolog sekaligus sosiawati, juga tak kalah mengesankan, yang disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami sehingga mampu menggugah hati dan pikiran kita. Belum lagi pemilihan kata-kata khas Y.B. Mangunwijaya yang lugas membuat novel ini makin menarik seperti dalam halaman 55 dalam kenangan Neti akan percakapannya dengan almarhum adiknya, Edi:

"Kaukira manusia berbakat untuk melupakan masa lampau? Aku tidak mudah, mungkin orang lain bisa?" 

Percakapan antara Neti dengan ayahnya di makam Edi, membahas soal korban dan pelaku, dalam halaman 56:

"Anehnya, dalam manusia tokoh pelaku dan sosok korban sulit dibedakan satu dari yang lain. Dalam hal ini memang benar kau: kita bukan hanya boneka wayang yang digerak-gerakkan oleh Ki Dalang, tetapi pelaku otonom seratus persen tidak juga."

Simak juga kalimat menarik dalam halaman 87 mengenai pemikiran Neti yang membuat abangnya, Candra, si pilot pesawat tempur spontan mengingatkan Neti bahwa pemikirannya itu berbahaya dan salah-salah bisa menyebabkan perang saudara:

'Pernah dalam suatu anggar pendapat dengan Mas Candra sang pilot ulung itu, abangnya marah karena Neti mengungkapkan pengamatannya, bahwa rupa-rupanya ada keharusan faktual, bahkan mungkin prinsipial, pesawat hanya dapat lepas bila ada landasan, landasan yang stabil dari beton bertulang atau batu beraspal. Teori-teori yang bertebaran memang mengingkari, tetapi kenyataan menunjukkan betapa kemajuan masyarakat kalangan atas hanya dapat lepas meninggi ke udara apabila ada lempeng-lempeng masyarakat lain yang terpaksa mau diinjak roda-roda pesawat.'

"Sejarah bukan monopoli satu-dua bangsa."

"Kematian diganti kehidupan yang tumbuh dalam benih dunia lain, seperti manusia pun demikian"

"Berpolitik adalah merealisasikan diri selaku manusia yang bertanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga maupun masyarakat."

Pemaparan mengenai manusia yang pada dasarnya tak memiliki apa-apa selain akal budinya, seperti yang disampaikan dalam halaman 238 pun tak kalah menarik menggugah daya pikir:

"... betapa manusia adalah satu-satunya makhluk dunia yang serba kurang. Menghadapi burung dia tidak bisa terbang. Menghadapi ikan dia tidak bisa menang berenang dalam air. Berpacu dengan kuda dia kalah. Melawan badak dia lemah; kemampuan tubuh untuk dapat menembus tanah nyaris nol bila disuruh melawan tikus atau ular. Tetapi manusia punya otak, dan inilah yang dimanfaatkan sampai sel dan sarafnya setuntas mungkin,...."

Selasa, 22 Oktober 2013

Review Novel: Fourth Protocol - Frederick Forsyth

Novel ini berkisah tentang intrik dalam dunia spionase- spesialisasi Frederick Forsyth- yang berlatar belakang tahun 1980-an, era perang dingin yang ditandai dengan perseteruan dua kekuatan negara besar saat itu, Amerika yang merupakan pemimpin kelompok Barat dengan Inggris sebagai sekutunya dan Soviet yang adalah kekuatan dari blok Komunis. Mengambil momen pemilihan umum di Inggris yang dimajukan lebih awal dari jadwal , Soviet berusaha menjatuhkan blok barat dengan menyusup ke Inggris untuk melucuti kekuatan seteru utamanya, Amerika Serikat.

Sebuah rencana gila dan mematikan disusun pihak Soviet. Rencana ini tentu saja mengandung resiko luar biasa dan akan berdampak negatif bagi Soviet bila sampai gagal, namun bila berhasil, maka bukan saja Soviet akan menghancurkan Amerika Serikat, seteru utamanya itu, lebih dari itu Soviet dan komunisme pun akan menjadi penguasa tunggal dunia. Namun, bila menjalankan rencana ini maka berarti Soviet akan melanggar Protokol Keempat (Fourth Protocol) yang ditandatangani oleh tiga negara yaitu, Uni Soviet, Inggris, dan Amerika Serikat, di mana dalam kesepakatan tersebut dinyatakan bahwa ketiga negara tersebut tidak akan mengalihkan teknologi atau bahan-bahan yang memungkinkan pengembangan senjata nuklir kepada negara mana pun yang pada saat itu belum memiliki teknologi seperti itu atau bahan-bahan untuk itu; karenanya bila sampai rencana ini terungkap maka akibatnya akan sangat fatal bagi Soviet, tapi dalam rencana tersebut Soviet berusaha meminimalisir perannya dan mengatur sedemikian rupa bahwa yang melakukan pelanggaran itu adalah Amerika Serikat dan bukannya Uni Soviet. Rencana itu dinamai Operasi Aurora.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, pemimpin Uni Soviet, sang Sekretaris Jenderal membutuhkan masukan langsung dari orang yang paling mengerti seluk beluk pemilu Inggris dan segala macam problematik dalam partai-partai utama peserta pemilu Inggris. Dan tak ada orang yang tepat yang paling memahaminya selain daripada orang Inggris itu sendiri, dan orang pertama yang memunculkan ide yang mendasari rencana Aurora itu. Orang itu adalah Kim Philby, pengkhianat Inggris yang membelot ke Moskow, Soviet.


Kim Philby adalah salah satu dari Five Cambridge, lima agen top Inggris yang bertahun-tahun lamanya ternyata menjadi agen rahasia Soviet. Kelimanya merupakan alumni Cambridge dan direkrut Soviet saat tengah menuntut ilmu di universitas terkenal tersebut, karena itulah mereka disebut Five Cambridge. Yang paling pertama terbongkar kedoknya adalah Guy Burgess dan Donald Maclean yang dengan bantuan rekan mereka, Anthony Blunt, melarikan diri ke Moskow. Anthony Blunt sendiri juga termasuk dalam salah satu kelompok pengkhianat Five Cambridge ini. Sebenarnya Blunt masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Ratu Elizabeth II, setelah pengkhianatannya terungkap maka gelar kehormatan Blunt pun dilucuti. Meski begitu ia tetap memilih tinggal di Inggris dan tak melarikan diri ke Moskow seperti yang dilakukan rekan-rekannya.

Di antara Five Cambridge, Kim Philby yang paling banyak mendatangkan keuntungan bagi Soviet, mengingat Philby sempat menjadi petinggi di Kedutaan Besar Inggris di Amerika Serikat. Philby pula yang membocorkan pada Burgess dan Maclean bahwa kedok mereka sudah terbongkar sehingga mereka sempat melarikan diri ke Moskow. Saat kedok Philby terbongkar, mengikuti jejak-jejak rekannya, ia juga melarikan diri ke Moskow bahkan menikah dengan wanita Soviet.

Segala persiapan dilakukan untuk mewujudkan Operasi Aurora. Tapi aksi ini berlangsung sangat rahasia, mengingat dampak yang akan diderita Soviet akan sangat besar bila ketahuan, sang Sekretaris Jenderal, pemimpin tertinggi Uni Soviet, bahkan tak melibatkan sama sekali badan-badan intelijennya sendiri, KGB, mengingat di dalam tubuh agen rahasia itu pastinya telah pula disusupi pihak lawan. Kecurigaan yang sangat beralasan.

Agen terbaik dari badan utama intelijen Soviet direkrut dan mendapat pengarahan langsung dari Kim Philby yang menjadi legenda dan pahlawan bagi tunas-tunas muda agen intelijen Soviet.

Namun aksi rahasia Sekretaris Jenderal yang serba rahasia dan merebut semua agen terbaik, dokumen-dokumen terbaik untuk penyusupan yang serba rahasia ini menimbulkan kemarahan Kepala Direktorat Ilegal, Mayjen Pavel Petrovitch Borisov yang awalnya mengira, rekannya sekaligus sahabatnya, Letnan Jenderal Yevgeni Sergeivitch Karpov, pucuk pimpinan Direktorat Utama Satu yang melakukan operasi rahasia tanpa setahunya. Tapi ternyata Karpov pun tak tahu apa-apa. Tapi dalam hatinya ia tahu siapa yang melakukannya. Sang Sekretaris Jenderal, dan instingnya mengatakan apa yang dilakukan Sekretaris Jenderal pastinya merupakan operasi yang luar biasa mengerikan dan kemungkinan besar akan membahayakan stabilitas Soviet bila sampai bocor sehingga departemennya tidak dilibatkan sama sekali. Meski begitu, sebagai pemimpin departemen yang paling berpengaruh dalam pemerintahan Uni Soviet, ia merasa tak seharusnya sang Sekretaris Jenderal menyembunyikan hal ini darinya. Ia pun bertekad mencari tahu operasi rahasia apa yang tengah dilakukan pemimpin tertinggi negaranya tersebut.

Sementara Soviet tengah mematangkan rencana Operasi Aurora, di badan intelijen Inggris tengah terjadi kekisruhan saat diketahui terjadi kebocoran di salah satu departemen penting dalam pemerintahan Inggris. Kebocoran ini berhasil diketahui berkat aksi sebuah pencurian berlian di suatu apartemen saat malam pergantian tahun. Awalnya si pencuri hanya berniat mencuri perhiasan berlian klasik milik sang nyonya rumah di apartemen Fontenoy House, Untuk membawa berlian-berlian curiannya, si pencuri yang bernama Jim Rawlings memasukkannya ke dalam tas kerja suami si nyonya rumah yang rupanya merupakan petinggi dalam Kementerian Pertahanan Inggris. Rupanya pula dalam tas tersebut terdapat dokumen rahasia dari kementerian tempat si tuan rumah bekerja. Ternyata si tuan rumah tersebut diam-diam menjadi agen mata-mata negara asing yang kerap membawa keluar dokumen rahasia dari kementeriannya untuk diberikan pada agen penghubungnya. Saat mengetahui hal ini, si pencuri mengirimkan dokumen tersebut ke departemen yang berada di bawah otoritas MI5. Dinas intelijen Inggris dibagi menjadi dua, MI5 yang menangani stabilitas dalam negeri sementara MI6 bertanggung jawab akan kegiatan intelijen Inggris di luar negeri.. Kepala departemen yang menerima kiriman dokumen dari Jim Rawlings, si pencuri, memberikannya pada John Preston, agen lapangan MI5 yang ulet dan gigih saat menangani kasus, tapi memiliki masalah dengan Brian Harcourt-Smith, wakil pimpinan dinas rahasia tempatnya bekerja. Harcourt-Smith yang bukan merupakan orang lapangan kerap tak memahami insting dalam mengendus suatu kasus tak seperti atasannya, Sir Bernard Hemmings, karenanya ia kerap tak menghiraukan laporan yang dibuat Preston yang didasarkan pada insting dan asumsinya sebagai orang lapangan. Laporan Preston selalu dilemparkan oleh Harcourt-Smith ke ruang arsip dengan label NFA-No Further Action- atau tak ada tindakan lebih lanjut alias dipeties-kan. Bukan itu saja. Harcort-Smith bahkan beberapa kali memutasi Preston.

Namun dalam aksinya, Preston kerap mendapat banyak bantuan dari Sir Nigel Irvine, pimpinan MI5, yang seperti Preston dan Sir Bernard Hemmings juga merupakan orang lapangan. Ia sangat percaya akan intuisi Preston dan menyukai cara kerja Preston yang gigih dan ulet hingga akhirnya bisa menemukan si pengkhianat, pemilik tas kerja berisi dokumen rahasia tersebut.

Atas keberhasilan Preston ini, bukannya mendapat penghargaan, sebaliknya, Harcourt-Smith yang melihat Preston bisa mengancam posisinya, kembali memutasi Preston ke bagian lain yang mengawasi segala arus keluar masuk dari dan ke Inggris. Jadi pekerjaan barunya ini membawahi bandara, stasiun, pelabuhan, dan sebagainya, kegiatan yang dianggap Preston membosankan dan tak ada ubahnya seperti polisi lalu lintas.

Tapi ternyata, di departemen inilah Preston menjadi titik sentral yang akan menyelamatkan Inggris dan dunia barat dari rencana gila Sekretaris Jenderal Soviet.

Sementara itu agen paling top telah dipilih untuk disusupkan ke Inggris. Agen ini yang akan menerima berbagai macam kiriman dari berbagai kurir, dan memberikan laporan ke Moskow saat semua barang yang harus dikirimkan sudah tiba semua, sehingga operasi bisa segera dijalankan.

Satu persatu kurir Soviet yang diatur sedemikian rupa berdatangan ke Inggris untuk memberikan alat-alat yang nantinya akan dirakit setelah seluruh kiriman tersebut telah tiba semua. Meski begitu para kurir tersebut tak ada yang tahu barang apa yang sebenarnya mereka bawa. Hanya si perakit yang nantinya akan datang ke Inggris saat semua barang sudah lengkap, yang tahu bahwa barang-barang tersebut akan menjadi bom nuklir yang rencananya akan diledakkan di dekat pangkalan militer Amerika, menjelang pemilu Inggris, untuk menciptakan kekacauan, dan saat ledakan nuklir itu terjadi, semuanya akan mengarah ke Amerika, seolah pelakunya adalah Amerika Serikat sehingga akan ada gelombang anti Amerika besar-besaran, dan inti dari semuanya, kemenangan Partai Buruh di Inggris, yang juga akan diatur sedemikian rupa sehingga saat partai oposisi ini meraih kemenangan dalam pemilu, ketua Partai Buruh yang masih memimpin akan disingkirkan dan kemudian menggantikannya dengan seorang Marxis-Leninisme fanatik yang pro Soviet.

Namun salah satu kurir yang didatangkan secara ilegal mengalami masalah sehingga tak berhasil menyampaikan barang bawaannya ke agen ilegal yang telah berada di Inggris. Si kurir ini membawa sebuah kotak tembakau dalam tas kanvas yang sebenarnya takkan mendatangkan kecurigaan siapapun, walaupun bila ada yang memeriksa kotak tembakau tersebut hanya didapati lempengan logam yang tidak akan dipahami oleh siapapun yang mungkin akan memeriksa kotak tembakau tersebut. Namun saat si kurir yang sedianya tengah dalam perjalanan ke tempat pertemuan yang dijanjikan dihadang sekelompok preman. Ia pun secara refleks melindungi tas kanvas yang dipeluknya erat-erat di perutnya, dan aksinya itulah yang menimbulkan kecurigaan polisi yang melihat aksi pengeroyokan tersebut.

Berita pengeroyokan ini lalu disampaikan ke Preston yang juga menerima laporan -tidak secara tertulis- dari si polisi yang merasa janggal dengan sikap si kurir yang lalu memilih bunuh diri karena berpikir aksinya sudah ketahuan. Secara diam-diam Preston mengambil lempengan logam dalam kotak tembakau tersebut dan mengirimkannya pada ahli fisika untuk diteliti. Dan ternyata lempengan logam itu merupakan salah satu bahan dasar untuk membuat bom atom. Dari sini Preston mulai curiga ada sebuah aksi rahasia dari pihak asing yang akan mengancam keamanan Inggris. Namun masalahnya, Preston tak memiliki petunjuk lainnya selain lempengan logam tersebut.

Sebagai seorang agen MI5 sudah merupakan kewajibannya untuk membuat laporan mengenai hal ini, tapi berhubung Preston tak memiliki bukti lain yang lebih kuat selain perkiraan dan asumsi yang berdasar pada instingnya sebagai orang lapangan, maka lagi-lagi laporan Preston ini tak ditanggapi serius oleh Brian Harcourt-Smith.

Tapi untungnya ada Sir Nigel Irvine, bos MI6 yang sudah kadung menyukai cara kerja Preston ini sehingga diam-diam ia memperhatikan kegiatannya. Karena itu pula, lewat salah satu mata-matanya di MI5, ia tahu Preston tengah mendapat kasus besar yang sayangnya tak mendapat tanggapan dari atasannya.

Sir Nigel Irvine pun membantu Preston untuk mengungkap lebih jauh dari sekadar lempengan logam yang dilindungi setengah mati oleh si kurir malang itu. Tapi segala upaya mereka menemui jalan buntu. Mereka tak pernah bisa menemukan kurir-kurir lain yang disusupkan Soviet ke Inggris hingga akhirnya seluruh bahan yang harus dikirimkan sudah terkirim semua termasuk lempeng logam yang gagal dikirim itu pun sudah dikirim gantinya, sehingga semuanya tinggal dirakit dan operasi Aurora pun siap dijalankan.

Dalam keputusasaan yang semua penyelidikannya menemui jalan buntu ini, sementara musuh utamanya adalah waktu, Sir Nigel Irvine dengan koneksi yang dimilikinya pun turut berusaha mencari titik terang dari misteri ini. Bahkan Sir Nigel Irvine yang diam-diam memiliki mata-mata dalam tubuh dinas intelijen Soviet, KGB, mencoba mencari tahu dari agen gandanya itu. Tapi semuanya nyaris mustahil hingga suatu malam titik terang yang dinanti itu muncul secara tiba-tiba yang kemudian membawanya pada agen ilegal, penyusup yang akan melaksanakan Operasi Aurora.

Catatan: Novel Fourth Protocol ini bisa dibilang merupakan salah satu novel terbaik Frederick Forsyth. Kisah-kisah spionase yang dikemas secara menarik dengan jalinan plot yang seru dan menegangkan membuat pembacanya terus berpikir bersama sang tokoh utama, John Preston yang gigih dan ulet dengan ending yang tak terduga khas Frederick Forsyth. Poin tambahan novel ini meramu secara menarik tokoh-tokoh fiktif yang dipadukan dengan tokoh-tokoh real atau nyata. Seperti Kim Philby, yang perannya dalam Protokol Keempat ini sangat besar, namun sebenarnya sejak membelot ke Soviet, ia tak pernah mendapatkan peran besar seperti itu, sebaliknya ia hidup dalam pengawasan ketat Moskow. Dan meski dalam kehidupan nyata Philby benar menikah dengan wanita Soviet, tapi wanita Soviet yang menjadi istri Philby dalam novel ini adalah tokoh fiktif. Yang juga menarik adalah bagaimana Forsyth mengisahkan sedikit tentang dua pembelot lainnya, Burgess dan MacLean. Dikisahkan MacLean akhirnya mati dalam kekecewaannya sementara pembelot kelima dari Five Cambridge, yang sebenarnya saat itu masih belum diketahui, jadi Forsyth menciptakan tokoh fiktif dari pembelot kelima itu sebagai yang paling berhasil di antara kelima pemebelot Five Cambridge. Digambarkan si pembelot kelima ini bisa menerima keadaan dibanding rekan-rekan lainnya, ia bahkan bisa berbaur dan meleburkan diri secara total ke dalam masyarakat Soviet. Padahal yang sebenarnya, pembelot kelima dari Five Cambridge, seperti Blunt, memilih tetap tinggal di Inggris dan yang berhasil meleburkan diri secara total ke dalam kehidupan masyarakat Soviet adalah Donald MacLean yang akhirnya meninggal di Moskow akibat sakit kanker. Secara keseluruhan, untuk penggemar kisah-kisah spionase, Fourth Protokol adalah salah satu bacaan wajib.