Total Tayangan Halaman

Translate

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juli 2017

Kisah Si Pohon Besar

Sebatang pohon besar, berdiri anggun menatap langit. Meski tak seluas langit namun si pohon besar memiliki kuasa atas hidup makhluk-makhluk kecil yang bernaung padanya. 

Ada rumput-rumput kecil, ilalang dan beberapa rumpun-rumpun tanaman merambat yang menikmati keteduhan dari kerimbunan dedaunan si pohon besar namun tetap mendapat limpahan sinar sang surya demi proses fotosintesisnya. 

Pun ada cacing-cacing dalam tanah yang menikmati gemburnya tanah di sekitar akar-akar gemuk si pohon besar. Seperti gemuknya akar-akar itu, demikian pula cacing-cacing tanah yang begitu menikmati kekayaan unsur hara dari tanah gembur tempat si pohon besar berpijak.

Hei, lihat! Ada pula sarang semut di sana... wuih... semut-semut besar dan kecil begitu nyaman membangun sarang bagi ratu mereka. Hiiii... gatal sekujur badan melihat koloni makhluk kecil yang giat bekerja ini. 

Seperti semut, burung-burung pun gemar membangun sarang di atas dahan-dahan kokoh si pohon besar. Meski terkadang si anak kost ini nakal, mematuk-matuk induk semangnya, namun si induk semang merasa terhibur tatkala mendengar senandung merdu burung-burung yang menumpang di dahannya.

Si pohon besar bersahabat dengan angin. Terkadang angin sepoi-sepoi berhembus, membisikkan rayuan maut yang membuat daun-daun rimbun si pohon besar terlena, melengut seperti anak kecil menikmati gula-gula. 

Hujan juga sahabat si pohon besar. Seperti angin sepoi-sepoi yang lembut mengipasi kegerahan si pohon besar disengat sinar mentari, rinai lembut air hujan yang menetesinya membuat dedaunan hijaunya riuh berpesta. 

Namun seperti musuh dalam selimut, terkadang angin dan hujan berkolaborasi, bersekutu dengan petir dan halilintar, mencoba menaklukkan si pohon besar yang tetap berdiri anggun menatap langit. 

Berkali-kali kolaborasi angin dan hujan tak membuahkan hasil. Si pohon besar tetap tegak berdiri. Sementara kumpulan makhluk hidup di sekitar si pohon besar bersyukur atas ketangguhan si pohon besar. 

Namun seperti Korea Utara yang mengerut ketakutan tatkala saudara kandungnya, Korea Selatan bersekutu menggelar latihan perang bersama paman dari negeri nun jauh di seberang samudra, Amerika Serikat, begitu pula si pohon besar. Namun tak seperti Korea Utara yang lantas ngamuk tak jelas dan sok pamer membuang rudal, syukur-syukur kalau berhasil sehingga membuat negeri matahari terbit, tetangganya itu ikut ketar-ketir, lha, kalau rudal-nya malah seperti kerupuk bantet, bukannya melesat perkasa malah seperti balon kempes, sambil mengeluarkan bunyi pssssstttttt..., bukannya malah bikin malu saja? 

Ah, si pohon besar ini mungkin keturunan bangsawan sehingga ia emoh mengikuti tingkah kekanakan bocah ingusan, berponi lucu, anak sekaligus cucu pemimpin besar negeri ginseng bagian utara itu. Si pohon besar berjiwa anggun dan aristokrat. Ia percaya bahwa segala sesuatu ada masanya. 

Dan ternyata masanya itupun tiba juga. 

Seperti pemanah amatir yang bila terus-menerus berlatih nyatanya berhasil pulalah menembak seekor rusa yang berlari kencang. Demikian pun kolaborasi angin dan hujan di malam gelap basah berangin itu. Sesekali kilatan petir dan halilintar menghiasi langit, menambah efek dramatis seperti di panggung Broadway kala menampilkan Romeo yang memilih bunuh diri karena mengira Juliet, pujaan hatinya telah wafat. 

Si pohon besar tumbang, menimpa beberapa rumput kecil di bawahnya juga beberapa bagian tanaman merambat di sekitar ikut tertindih tubuh besarnya. Semua kehidupan di sekitar si pohon besar seketika nyaris terhenti. 

Namun seperti roda pedati yang terus berputar. Ternyata kehidupan terus berjalan. Life must go on

Kehidupan di sekitar si pohon besar kacau-balau, namun berusaha move on, tak mau menangis berlebihan meratapi tumbangnya si pohon besar. Mereka mencari kehidupan baru di tempat yang lain. 

Sementara si pohon besar rebah dengan anggunnya sambil tetap memandangi langit.

Sabtu, 04 Oktober 2008

KEPAK CAMAR YANG PATAH

KEPAK CAMAR YANG PATAH

Oleh: Herny S. Yahya

Begitu aku memasuki ruangan bercat putih itu, pandanganku langsung tertumbuk pada tubuh yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Tubuh itu tampak kurus dan lemah. Matanya yang tertutup tampak biru dan lebam. Aku bahkan tak percaya bahwa tubuh yang terbaring lemah itu benar-benar Calista, sahabatku sejak kecil yang tumbuh bersamaku, yang memiliki mimpi yang sama denganku dan memiliki semangat hidup yang membara.

Aku dan Calista sebenarnya merupakan sepupu jauh. Kami tumbuh besar bersama. Aku sering menginap di rumahnya demikian juga sebaliknya. Apalagi setelah orang tuaku bercerai, dan ibuku pindah ke luar kota, akupun tinggal di rumah Calista. Kebetulan, Tante Sisil, ibunya Calista merupakan kerabat ibuku. Aku dan Calista bisa dibilang sudah seperti kakak beradik. Calista sangat senang jika aku datang ke rumahnya, karena ia merupakan anak perempuan satu-satunya. Dua kakak laki-lakinya lebih sering menggoda dan mengerjainya daripada mengajaknya bermain.

Kemanapun kami selalu bersama, bahkan juga di sekolah karena kami selalu sekelas. Sehingga semua orang menjuluki kami seperti anak kembar yang tak terpisahkan. Aku sangat mengenal Calista demikian juga sebaliknya. Kami saling mengenal kebaikan dan keburukan masing-masing dari kami. Pokoknya tak ada rahasia di antara kami berdua.

Kami juga sama-sama menyukai film bertema hukum seperti law And Order, The Practise, Ally Mac Beal, dan banyak lagi. Kami sama-sama merupakan penggemar buku-buku karya John Grisham dan semua film-film yang dibuat berdasarkan buku-buku tersebut telah pula kami tonton.

Karena kesukaan akan film-film dan buku-buku bertema hukum, kami sama-sama masuk fakultas hukum, dan kami memiliki mimpi yang sama, bekerja di biro hukum terkenal atau membuka biro hukum bersama. Kami sudah berencana setelah lulus, kami akan melanjutkan ke Harvard.

Namun, setelah menikah Calista ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Ia ingin merawat suami dan anak-anaknya. Aku tak menentangnya, karena bukankah menjadi ibu rumah tangga merupakan tugas mulia seorang wanita. Orang tuanyapun tidak menentangnya. Akhirnya, hanya aku yang berangkat ke Amerika seorang diri.

“Aku pasti akan merindukanmu, Na. Akhirnya hanya kau yang melanjutkan impian kita. Kau harus melanjutkan impianku juga, Na. Aku percaya padamu. Suatu hari nanti kau pasti akan menjadi seorang ahli hukum yang hebat seperti yang selalu kita impikan selama ini,” ujar Calista seraya memelukku saat mengantarku di bandara.

Biasanya kami selalu bersama ke sekolah. Tak pernah sekalipun kami bersekolah di tempat yang berbeda. Tapi kini, hanya aku seorang diri yang bersekolah di tempat yang jauh pula.

“Kau juga akan menjadi ibu yang baik, anak-anakmu pasti akan menjadi anak-anak yang hebat, karena mereka memiliki ibu yang luar biasa,” bisikku seraya memeluknya.

Aku tak mengerti, mengapa cinta bisa membuat orang menjadi berubah. Calista memang seorang wanita yang lembut hati, namun bukan berarti ia lembek dan tak memiliki keinginan yang kuat. Padahal, ia lebih berambisi daripadaku untuk melanjutkan kuliah di Harvard. Namun, setelah ia menikah, ia rela melepaskan semua mimpi-mimpinya demi suami dan anak-anak yang akan dimilikinya kelak.

Kutatap mata Calista yang masih tertutup dan tampak lebam. Rasanya baru kemarin aku melihat matanya yang bulat berbinar indah ketika ia mengatakan padaku dengan pipi yang memerah, “Na, Raymond melamarku.”

Jika orang bilang, wajah orang yang jatuh cinta sangat cantik, kupikir memang benar. Calista yang memang sebenarnya sangat cantik menjadi lebih cantik dan mempesonakan semua orang saat ia bersanding dengan Raymond (yang juga tampan dan merupakan idola kampus) di pelaminan.

Semua tamu bahkan berdecak mengagumi kecantikan dan ketampanan kedua mempelai. Semuanya menganggap bahwa mereka merupakan pasangan serasi dan bisa membuat iri siapapun.

Namun, saat ini semua itu seolah tak berbekas di wajah Calista yang terbaring lemah. “Sudah seminggu ia koma, Na. Kenapa Raymond tega berbuat begitu. Bukankah mereka saling mencintai, Na? Tante benar-benar tak percaya Raymond dapat melakukan hal itu. Corina, apakah Calista pernah menceritakan padamu mengenai perilaku kasar Raymond? Bukankah kalian sangat dekat?” tanya tante Sisil sambil menangis.

“Oh, Corina, tante takut sekali akan kehilangan Calista,” lanjut tante Sisil. Kupeluk tante Sisil, yang sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri seraya membisikkan kata-kata penghiburan, meski kutahu tak satupun kata yang benar-benar dapat menghibur. Kulihat wajah tante Sisil yang biasanya bermake up rapi tampak kuyu dan tua. Ia tampak kelihatan lelah dan putus asa. Kubujuk tante agar ia sebaiknya pulang dan istirahat, Aldo, kakak laki-laki tertua Calista juga membujuk ibunya untuk pulang dan memintaku untuk menjaga Calista dulu, sementara ia mengantarkan ibunya pulang.

“Sebentar lagi Bernard juga akan datang,”ujar Aldo seraya memapah ibunya keluar. Aku mengangguk lemah seraya menyaksikan mereka keluar.

Aku sendiri sebenarnya sangat lelah, karena dari bandara, aku meminta Pak Min, supir keluarga Calista yang menjemputku di Bandara (dulunya sering mengantar kami ke sekolah) agar segera mengantarku ke rumah sakit. Sejak aku mendengar kabar dari om Peter, ayah Calista yang memberitakan Calista koma, aku sudah panik (aku memang orang yang mudah panik, lain dengan Calista yang berpembawaan tenang. Calista pernah meledekku karena sifatku yang mudah panik. Katanya, “Bagaimana kau bisa menangani kasus, jika kau mudah panik seperti itu? Pengacara itu mesti tenang dan berkepala dingin baru bisa memenangkan kasus,” ledeknya). Sepanjang perjalanan aku tidak tenang sebelum aku melihat Calista yang tampak lebih menyedihkan dari yang kubayangkan.

Dari tante Sisil, aku mengetahui bahwa Raymond memukul kepala Calista setelah sebelumnya ia menjambak dan membenturkan kepala Calista ke tembok dalam pertengkaran mereka. Tante Sisil bilang, “Ternyata bukan sekali ini saja Raymond melakukan kekerasan fisik terhadap Calista. Setiap kali bertengkar, Raymond selalu memukul Calista.” Seringkali tante Sisil mendapati mata Calista yang lebam, tapi Calista tak pernah menceritakan yang sebenarnya pada ibunya. Ia selalu mengatakan bahwa ia terjatuh di kamar mandi.

Tante Sisil baru tahu semua perangai buruk Raymond itu setelah Calista terbaring koma dari pembantu yang biasa bekerja di rumah Calista dan Raymond. Pembantu itu sebelumnya tidak pernah cerita mengenai perilaku majikan prianya itu, mungkin ia takut karena diancam Raymond, atau mungkin malah Calista yang melarangnya? Karena sifat Calista memang tertutup, ia lebih suka menyimpan segala masalah untuk dirinya sendiri. Hanya padaku sajalah Calista suka menceritakan masalahnya, mungkin karena usia kami yang sebaya, atau mungkin karena hubungan kami yang memang dekat. Raymond sendiri entah dimana. Saat ia melihat Calista yang terbaring tak bergerak, ia menjadi panik dan lari begitu saja meninggalkan Calista dan putri semata wayang mereka, Ally. (Calista sangat suka tokoh Ally Mac Beal, sehingga ia menamai putrinya dengan nama tokoh utama dari film seri favoritnya itu.)

Aku membelai wajah Calista yang tampak lebih tirus sambil menceritakan kenangan-kenangan masa kecil kami. Aku ceritakan kuliahku di Harvard. Aku juga menceritakan bahwa aku sedang menjalin hubungan dengan pria dari daratan tempatku menuntut ilmu. “Namanya Michael. Matanya coklat tua bukan biru langit seperti warna favoritku, Lis. Rambutnya juga berwarna coklat kehitaman. Aku sering menceritakan tentang kau padanya, dan ia ingin sekali bertemu denganmu. Tadinya ia ingin ikut denganku ke Indonesia, tapi karena ia masih ada urusan, ia tidak bisa pergi. Tapi ia titip salam untukmu.”

Aku terus bercerita banyak hal pada Calista. Dan baru kusadari, ternyata sudah lama sekali kami tidak saling bicara begini seperti dulu. Padahal dulu kami selalu saling curhat. Memang kami suka saling bertukar cerita lewat telpon. Namun, karena pembicaraan interlokal biayanya sangat mahal, maka tidak banyak yang kami bicarakan lewat telepon.

Kalau mau dibilang, sebenarnya perangai Raymond yang kasar itu telah terlihat saat mereka masih pacaran. Aku ingat, suatu hari Calista pernah mengeluhkan sifat cemburu Raymond yang terlalu besar. “Mulanya sih aku senang dia cemburu, karena kan cemburu itu tanda cinta. Tapi, kalo cemburu buta seperti itu lama-lama aku jadi muak, Na,” keluhnya dulu ketika suatu hari Calista bertegur sapa dengan seorang teman pria yang bertemu di jalan.

“Raymond tiba-tiba menarik tanganku, aku sampai nggak enak hati sama Sam. Padahal Sam kan sahabat dia sendiri. Dan Sam pula yang memperkenalkan kami. Kau juga kenal Sam anak Arsitek yang sekelas sama Ray, kan?” lanjutnya.

Aku juga pernah menyaksikan perilaku kasar Raymond pada Calista, dan aku menasihati Calista agar sebaiknya memutuskan saja hubungan mereka. Tapi sepertinya Calista benar-benar mencintai Raymond dan berpikir cintanya dapat mengubah sifat buruk Raymond seperti dalam novel-novel percintaan. Ah, Calista betapa kita para wanita begitu bodoh, terlalu banyak berkhayal dan terpengaruh oleh novel-novel dan cerita-cerita romantis percintaan, batinku sedih seraya menatap Calista yang terus terpejam.

Entah sudah berapa lama aku terlarut dalam masa lalu, aku terus berbicara pada Calista meski ia tetap mengatupkan matanya, namun aku yakin ia dapat mendengarku, hingga kurasakan bahuku ditepuk seseorang. Kupalingkan wajahku dan melihat Bernard, kakak Calista yang kedua berdiri di sana.

“Sebaiknya kau pulang saja, Na. Kau pasti lelah karena jet lag, kan? Barang-barangmu sudah di bawa Pak Min ke rumah. Kau tidur di rumah kami saja. Kamar kalian juga masih seperti dulu, dan tidak ada yang menempati. Mama selalu menyuruh Mbok Nem membersihkannya setiap hari, karena siapa tahu kau pulang liburan ke Indonesia. Calista biar aku yang jaga” ujar Bernard. (Orang tua Calista menamai anak-anak mereka sesuai urutan abjad. Mungkin agar anak-anaknya dapat cepat menghafal abjad, sayangnya hanya sampai C, coba Tante Sisil melahirkan dua puluh enam orang anak, dari a sampai Z).

Saat berjalan di selasar rumah sakit, aku disambut oleh kesibukan rumah sakit, suara-suara erangan orang sakit, dan kesibukan para suster. Tiba-tiba mataku tertuju oleh sesosok tubuh yang didorong di atas brankar. Tubuhnya tampak melepuh dan wajahnya hampir tak dapat lagi dikenali sebagai manusia.

“Suaminya menyiramnya dengan minyak tanah dan mencoba membakarnya hidup-hidup. Suaminya cemburu karena ia diantar pulang oleh rekan kerjanya. Mereka bertengkar dan menuduhnya selingkuh kemudian memaksa istrinya mengaku, tentu saja istrinya bilang ia tidak selingkuh. Suaminya kalap dan gelap mata, lalu terjadilah peristiwa itu. Tapi, suaminya memang kasar, mana cemburuan lagi. Istrinya memang cantik sih. Sebenarnya suaminya tidak suka istrinya bekerja, dia takut istrinya main mata dengan rekan-rekan kerjanya, tapi kalau ngandalin hidup dari uang gajinya saja, mana cukup. Jadi wanita memang susah. Sudah capek ngurus rumah, anak-anak dan suami, ditambah harus kerja buat bantu-bantu nambah uang belanja, eh, masih dicemburui suami pula,” cerita seorang ibu pada suster yang mendorong brankar itu menjelaskan.

“Anda keluarganya?” tanya suster itu.

“Saya tetangganya, saya tidak tahu di mana keluarganya. Habis suaminya langsung kabur, sus. Saya tak tahu bagaimana menghubungi keluarganya,” jawab ibu itu.

Aku menghela napas. Rupanya Calista tidak seorang diri. Memang banyak kasus wanita yang dianiaya oleh suami-suaminya yang dibakar cemburu atau mungkin merasa egonya terusik oleh kelebihan yang dimiliki istrinya. Bukankah pria paling tidak suka dikalahkan oleh wanita, terlebih wanita itu merupakan istrinya.?!

Aku segera disergap udara malam yang dingin begitu aku keluar dari gedung rumah sakit. Reflek aku menengadah menatap langit, seperti kebiasaanku saat hatiku sedang gundah. Kulihat langit gelap menyelimuti kota. Sekelam hari-hari para wanita seperti Calista. Sebenarnya berapakah harga yang harus dibayar oleh seorang wanita dalam pernikahannya? Dapatkah pada akhirnya nanti para pria menghargai nilai sebuah pernikahan tanpa harus menyakiti para istrinya? Mungkin suatu saat nanti, akan ada titik terang bagi nasib para wanita.

Kuhirup lagi udara malam yang segera mengisi rongga dadaku, terbayang wajah Calista saat kami masih kuliah, dengan wajah ceria dan mata berbinar menceritakan Raymond. Setiap hari ada saja yang diceritakannya tentang Raymond, sampai-sampai aku bosan mendengarnya. Saat kuledek, wajahnya segera memerah dan ia pura-pura merengut. Dapatkah kutemukan kembali Calista yang dulu? Bila esok Calista bangun, apakah aku akan menemui Calista yang seperti saat kami sekolah dulu ataukah akan kutemui Calista yang berbeda, yang menyimpan segala duka lara dan kesedihan dalam hatinya seorang diri? Menyimpan semua derita dan kepedihannya dalam hatinya rapat-rapat. Apakah Calista akan menjadi pribadi yang tertutup bahkan padaku, sahabat satu-satunya? Hatiku merasa sedih jika mengingat penderitaan Calista. Sambil memandang langit, kuucapkan doa dalam hati, agar Calista dapat sadar kembali dan agar aku dapat kembali menemukan Calistaku yang dulu. Aku berharap Calista tak akan pernah berubah karena penderitaannya. Untuk kesekian kalinya kuucapkan doaku sambil menatap bintang-bintang di langit yang tampak sangat jauh, seperti Calista yang saat ini kurasakan sangat jauh dariku. Ah, Calista, mungkin benar seperti yang kau bilang, wanita itu seperti burung Camar yang tak akan pernah dapat pergi jauh. Karena kemanapun Camar pergi, ia selalu kembali ke dermaga, karena di sanalah tempatnya. Betapapun kokohnya sayap seorang wanita dan tak peduli seberapa jauh wanita terbang melayang melintasi angkasa namun wanita selalu mencari tempat berlabuh pada pria yang dicintainya sebagai dermaganya. Namun, apakah kau telah benar-benar menemukan dermaga yang tepat untuk melepaskan penatnya sayap-sayapmu, Calista? batinku seraya berjalan menembus malam.

.

Selasa, 22 April 2008

Sapta Lintang

Sapta Lintang

H.S. Yahya


Malam telah larut. Lampu di rumah-rumah sudah lama dinyalakan untuk kemudian dipadamkan kembali. Hanya lampu-lampu taman saja yang dibiarkan tetap menyala. Malam kian larut. Sebagian dunia sepertinya telah lama terlelap, sementara sebagian dunia lainnya justru sedang beraktifitas atau baru saja akan memulai aktifitas rutinnya. Sementara aku yang seharusnya berada pada belahan dunia yang mestinya sedang asyik terlelap melintasi dunia mimpi, namun jam biologisku malah sepertinya mengikuti mereka pada belahan dunia lainnya, yang mungkin saat ini sedang bangkit dengan rasa enggan dari tempat tidurnya. Kutarik nafas dalam-dalam saat menyadari hari telah pagi yang artinya satu lagi hari baru dengan rutinitas yang membosankan.

Sebenarnya tadi saat senja menjelang malam, mataku terasa berat digantungi kantuk. Namun ketika aku memejamkan mata, peristiwa tadi siang yang kusaksikan lewat televisi di rumahku terbentang kembali di depan mataku; rasa kantuk itupun menguap entah kemana.

Kucoba menyingkirkan kejadian tadi siang yang kusaksikan dari layar kaca. Adegan di mana kau hampir meraih kemenangan yang mungkin merupakan kemenangan terindah di akhir karirmu.

Ah, seribu satu macam pengandaian menyeruak dalam benakku. Seandainya kecerobohan di Monaco dan Hungaria tidak terjadi. Seandainya kau tidak memutuskan pensiun di akhir musim. Seandainya dewi fortuna masih mesra menggayutimu. Seandainya…, kumaki diriku yang terus saja memikirkan segala macam pengandaian dan mencoba memejamkan mataku kembali sambil menyanyikan bait-bait lagu dalam hatiku. Iini sudah menjadi kebiasaanku jika aku tidak bisa tidur. Lama-lama rasa kantuk itu memang kembali datang, namun lagi-lagi aku kembali terjaga karena sebuah mimpi buruk.

Sebenarnya aku bukanlah orang yang percaya pada hal-hal yang berbau takhayul atau semacamnya. Di antara teman-temanku, aku dikenal cukup logis. Bagiku segala sesuatu di dunia ini pasti memiliki penjelasan yang dapat dijabarkan secara ilmiah dan dapat diterima oleh akal sehat. Namun sejak mengenalmu aku jadi menyadari bahwa rasionalitas merupakan sifat irasionalitas yang terselubung. Manusia sebenarnya adalah makhluk yang irasionalitas (atau mungkin lebih tepat dikatakan kontradiktif?). Manusialah yang menciptakan perang. Dan bukankah manusia juga yang menggusur makhluk hidup lainnya demi membangun rumah-rumah tinggal bagi mereka; karena tingkat pertumbuhan dan kelahiran mereka meningkat lebih pesat dibanding makhluk hidup lainnya? Manusia yang demikian tinggi, merusak ekosistem alam dan mengancam kelangsungan makhluk hidup lainnya, namun manusia juga yang mendengungkan perdamaian tanpa dapat menyadari bahwa sebelum mengharapkan perdamaian dunia; terlebih dulu sebaiknya manusia berdamai dengan dirinya sendiri. Mendamaikan ego dan nafsunya sendiri!

Salah satu fakta lain keirasionalitasan manusia adalah mimpi. Memang sebagian orang menganggap bahwa mimpi adalah bunga tidur yang tidak berarti apa-apa. Ada juga yang menganggap bahwa mimpi merupakan isyarat akan sesuatu hal yang akan terjadi. Ya,semacam petunjuklah. Sementara para psikiatri berpendapat bahwa mimpi merupakan keadaan alam bawah sadar dalam diri seseorang yang ditekan sedemikian rupa oleh pribadi tersebut agar tidak muncul di dalam keadaan nyata. Keadaan alam bawah sadar itu bisa merupakan ketakutan-ketakutan atau trauma-trauma masa kecilnya. Karena tidak memungkinkan untuk memunculkan keadaan alam bawah sadar itu dalam keadaan realitas, maka ketakutan atau hal-hal yang bersembunyi dalam alam bawah sadar seseorang tersebut muncul dalam bentuk mimpi.

Aku sendiri merupakan salah satu orang yang berpendapat bahwa mimpi hanyalah bunga tidur belaka. Aku tak pernah memikirkan mimpi secara mendalam. Namun, sejak mengenalmu dan kerap memimpikanmu dengan kejadian-kejadian yang mungkin akan terjadi pada dirimu, aku jadi suka memikirkan mimpi dan menganalisa mimpi tersebut. Apakah mimpi yang baru kualami merupakan petunjuk atau semacam isyarat, ataukah seperti yang dikatakan oleh para psikiatri bahwa aku terlalu takut membayangkan hal-hal buruk yang mungkin akan menimpamu sehingga aku menyaksikannya dalam mimpi?

Dan kini, aku kembali termenung menatapi langit-langit kamarku seraya mencoba meraih kembali kantukku. Namun berhubung kantuk itu telah lenyap, aku hanya berbaring diam di atas tempat tidurku seraya merangkai mimpiku yang baru saja kualami dan menganalisa mimpi yang baru kualami tersebut.

Karena aku tak dapat lagi melanjutkan tidurku, akhirnya aku bangkit dari tempat tidurku dan menuju ruang keluarga. Aku menyalakan televisi. Aku memencet-mencet tombol di remote seraya menyelonjorkan tubuhku di atas kursi mencari posisi yang dapat membuatku merasa nyaman. Namun karena tidak ada acara bagus yang bisa ditonton, akhirnya aku mematikan kembali layar televisi tersebut.

Setelah lama termenung diam, aku kembali bangkit dari kursi dan beranjak menuju teras rumahku; menatap langit yang hitam pekat. Dulu aku suka sekali memandangi bintang-bintang di langit. Ayahkulah yang mengenalkanku pada gugusan-gugusan bintang. Ayahku suka sekali mengajakku ke planetarium.

“Pa, bintang jatuh apa sih?”, tanyaku suatu hari.
“Bintang jatuh itu sebenarnya merupakan meteor, pecahan-pecahan benda langit. Konon kalau kau mengucapkan sebuah permintaan saat ada bintang jatuh, maka permintaanmu akan terkabul” jawab ayahku.
“Benarkah?” tanyaku menatap ayahku.
Ayahku tersenyum menatapku.

Dulu ayah adalah idolaku. Namun saat ayah dan ibuku bercerai -kemudian ayahku menikah lagi; dan bersama keluarga barunya, mereka pindah ke luar kota, meninggalkan aku dan adikku yang hanya terpaut dua tahun usianya denganku tetap bersama ibuku- kekagumanku pada ayahku mulai luntur. Memang kadang setiap kali ayahku datang ke kota kami, ayah selalu mengunjungi kami dan membawa kami pergi tamasya. Namun, ayah tidak ada saat aku dan adikku tumbuh besar.

Saat aku dan adikku mendengar bahwa orang tua kami akan bercerai dan mereka menjelaskan mengenai artinya, kami berdua menangis dan berdoa agar mereka tidak jadi bercerai. Aku bahkan mengucapkan permohonanku itu pada bintang, namun pada akhirnya mereka tetap bercerai.

Sejak itu aku tak lagi suka memandangi bintang ataupun pergi ke planetarium. Sekarang jika kuingat semua masa kecilku dan kebodohanku karena mempercayai kata-kata ayahku bahwa aku dapat menyampaikan permohonan pada bintang, aku jadi merasa seperti orang bodoh. Jika kukatakan mengenai permohonan yang kukatakan pada bintang kepada sahabatku, ia pasti akan menertawakanku seperti ia biasa menertawakan kebiasaanku yang irasional.

Aku bisa membayangkan yang akan ia katakan, “Mungkin bintangnya terlalu jauh darimu sehingga mereka tidak mendengar permohonanmu,” begitu pasti ia mengolokku.

Sahabatku itu memang selalu berpikir logis dan rasional meski sebenarnya ia juga seorang yang irasional. Bayangkan saja, waktu kecil, ketika anak-anak seusianya (termasuk aku) masih terkekeh-kekeh membaca Donald Bebek, ia sudah asyik menekuri novel-novel dewasa yang tebalnya saja aujubilah. Kemudian ketika kami mulai beralih membaca novel, ia sudah naik kelas dengan membaca buku-buku sastra yang struktur dan tata bahasanya begitu ngejelimet dan membuat kepala mumet bin pusing tujuh keliling. Entah, mungkin ia sudah bisa membaca begitu keluar dari rahim ibunya, atau mungkin ia belajar membaca saat masih berada dalam kandungan?

Ketika kami masih duduk di bangku sekolah, kami ditugaskan oleh guru bahasa membuat karangan bebas. Kami seperti anak-anak didikan rezim yang berkuasa kala itu; yang sangat menyanjung keberagaman semu dan memberangus kebebasan berpikir apalagi berpendapat -meski ada pasal dalam Undang-Undang tertinggi negara yang dibentuk oleh para pendiri bangsa yang menjamin kebebasan berpikir maupun berpendapat, membuat karangan dengan tema yang seragam dan membosankan. Berlibur Ke Rumah Nenek dan Kakek. Sementara ia sudah mengembangkan daya imajinasinya yang luar biasa melebihi anak-anak di kelas kami saat itu.

Kami merasa begitu bodoh dan miskin kreatifitas apalagi imajinasi ketika mendengarnya membacakan karangan bebasnya di depan kelas. Saat mendengarnya membaca karangannya, kami benar-benar takjub dan terpesona hingga kami berpikir bahwa ia tidak benar-benar nyata dan menganggapnya makhluk asing yang berasal dari negeri antah berantah seperti imajinasi dalam karangan bebasnya itu. Ia berpendapat bahwa ia adalah pribadi yang dewasa terlalu cepat, mengutip kata-kata penyair favoritnya, namun menurutku, ia dan juga dirimu adalah pribadi-pribadi yang luar biasa dan istimewa. Anehnya, mengapa ia tak menyukaimu, ya?

Setelah ayahku tidak lagi memenuhi syaratku untuk menjadi idola, aku mengalihkan kekagumanku pada Bill Clinton, Presiden Amerika yang kesekian. Namun, aku juga jadi muak dan mencoretnya sebagai idolaku karena skandalnya dengan karyawati magangnya. Aku sungguh tak dapat mengerti dan percaya; bagaimana mungkin, ia yang merupakan tokoh yang paling dipandang di dunia berlaku bodoh seperti itu dan mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh rakyat dan keluarganya sendiri? Sama seperti ayahku, bagaimana mungkin ayah begitu tega memutuskan berpisah dengan istri dan anak-anakknya sendiri? Oke, aku mengerti bahwa pernikahan adalah perpaduan dari dua jiwa manusia, dan ketika jiwa yang semula berpadu itu memiliki pergesekan-pergesekan yang tak lagi dapat dipadukan, maka tak ada jalan lain selain mengakhiri perpaduan itu. Tapi, benarkah tidak ada lagi jalan lain? Oke, aku bisa pahami bahwa aku sebagai anak tak mengerti masalah-masalah di antara kedua orang tuaku, namun tidak bisakah mereka mencari kembali hal-hal yang telah memadukan mereka demi kami anak-anaknya? Ah, kadang orang dewasa memang suka sekali mengesahkan keputusan dan tindakannya dengan mengatasnamakan demi kebaikan bersama juga demi kebaikan anak-anaknya, namun benarkah mereka dapat mengerti hal apa yang benar-benar dibutuhkan oleh anak-anaknya? Bagiku orang dewasa adalah orang paling egois sedunia. Setidaknya itulah pemikiranku saat aku kecil dulu. Kini setelah aku dewasa, makin banyak hal yang kuyakini saat kecil mulai luntur dan menjadi kabur.

Namun semua keyakinanku akan adanya keajaiban yang merupakan dunia masa kecilku kembali muncul saat aku mengenalmu. Semangat untuk meraih impian yang kuyakini saat kecil kembali mencuat ke atas diriku saat aku mengenalmu. Demi mencapai impianmu, kau telah mengerahkan segala daya upaya. Dalam mencapai mimpimu seringkali kau melibas segala keraguan yang ditujukan pada dirimu hingga akhirnya setiap orang yang semula meragukanmu mulai mengakui keberadaanmu dan kapabilitas yang memang sungguh-sungguh kau miliki.

Bintang yang dulu kulihat berada jauh di atas langit, seperti terepresentasikan ke dalam dirimu. Saat kau melaju menuju mimpi terindahmu menyingkirkan segala lawanmu, kau tampak seperti bintang yang bersinar paling terang.

Semangat dan dedikasi yang kau perlihatkan telah menyihir setiap orang yang mengagumimu. Memang ada beberapa ucapan miring yang ditujukan padamu. Mungkin karena ambisi dan keyakinan dirimu yang terlalu tinggi atau karena pencapaian-pencapaian yang telah kau raih melebihi apa yang dapat diterima secara rasional oleh orang lain? Tapi kau selalu dapat mengatasi semuanya itu. Kau terus memacu dirimu hingga kau mencapai apa yang menjadi impianmu. Kau bahkan dapat mengerahkan setiap orang yang berada di sekelilingmu untuk mengeluarkan seluruh potensi yang ada di dalam diri mereka masing-masing melebihi apa yang dapat mereka sendiri sadari.

Semangat dan dedikasi total yang kau tunjukkan pada akhirnya telah menulari orang-orang di sekelilingmu untuk dengan ikhlas dan rela hati, memberikan segala hal yang terbaik yang mereka miliki untuk dirimu. Kau adalah pribadi yang paling kompleks. Dipuja sekaligus dibenci. Dipuji sekaligus dicerca. Dicemooh sekaligus dikagumi. Dan itulah yang membuatmu menjadi pribadi yang sungguh-sungguh berbeda dan istimewa.

Setiap kali melihat kau berhasil mencapai puncak tertinggi. Melihat senyum hangat yang kau berikan sebagai ungkapan syukur dan terima kasihmu yang sungguh-sungguh tulus pada semua orang yang telah mendukungmu, membuatku yakin bahwa dalam hidup tidak melulu memberikan kegetiran namun juga ada hal-hal manis yang melebisi manisnya madu kala kita berhasil menggapai mimpi. Bahwa hidup memang pantas diperjuangkan.

Sahabatku pasti lagi-lagi akan menertawakanku atas segala ucapan pujianku padamu ini. Bagi sebagian orang mungkin menganggapku seorang penggemar fanatik yang kadang suka bersikap tolol dan konyol. Ya, kuakui aku memang penggemarmu. Tapi jika kita mengagumi semangat yang ada dalam diri seseorang, dapatkah perasaan itu disebut sebagai kebodohan dan kekonyolan? Aku memang mengagumi semangatmu yang luar biasa itu, namun aku bukanlah seorang penggemar fanatik yang kerap bersikap tolol dan konyol!

Aku terlebih suka disebut sebagai seorang pengagum setia karena memang aku sangat mengagumi segala prestasi, dedikasi dan semangatmu yang luar biasa itu.

Ah, manusia memang selalu membutuhkan tokoh-tokoh yang dapat dijadikannya idola. Mungkin karena pada dasarnya jiwa manusia demikian rapuh sehingga ia memerlukan tokoh lain yang memiliki kemampuan lebih daripada kemampuannya sendiri untuk dapat menyegarkan jiwanya yang gersang. Untuk menutupi ketidakmampuannya dalam mencapai mimpinya hingga akhirnya ia menujukan perhatiannya pada orang lain yang dianggapnya telah berhasil mereprentasikan apa yang sebenarnya ingin dicapainya? Atau mungkin sebagai pelampiasan dari perasaan dirinya yang tidak berharga? Kalau begitu betapa menyedihkannya jiwa manusia itu.

Ah, mengapa pula kuributkan masalah kejiwaan manusia. Aku tak memiliki kapasitas untuk mengemukakan segala pendapatku mengenai kejiwaan manusia karena seringkali aku tak dapat mengerti jiwaku sendiri! Aku hanya ingin mengungkapkan kekagumanku pada pribadi seorang manusia yang dapat mengerahkan segenap potensinya melebihi yang dapat dilakukan oleh orang-orang pada umumnya. Dan pribadi itu adalah dirimu.

Kini bintangmu sepertinya mulai redup seperti bintang-bintang di atas langit sana yang disebut sebagai bintang mati. Ya, semua juga sadar bahwa usia manusia sebenarnya sangatlah singkat. Dulu, saat kau muda, kau memang merupakan bintang yang bersinar paling terang (dan bagiku kau tetaplah bintang yang bersinar paling terang), namun seiring waktu, muncul juga bintang-bintang baru yang bersinar seterang bintang-bintang muda yang kini beranjak tua.

Saat ini, menatap bintang yang berada jauh di atas langit seperti ini, aku jadi teringat akan dirimu. Sebentar lagi, aku tak lagi dapat melihat semangat dan passion yang kau tunjukkan. Aku tak lagi dapat melihat senyum dan lompatanmu yang penuh energi dan pesona seolah ingin menembus langit dan menggapai bintang-bintang yang sesungguhnya, yang berada jauh di atas langit sana.

Selama ini senyuman dan semangatmu itulah yang membuatku merasa yakin dalam menapaki hidupku. Bahkan kadang saat aku merasa hidup yang kujalani ini terlalu berat, aku kembali dapat menemukan keyakinan diri bila teringat segala pencapaian-pencapaianmu yang telah kau tunjukkan pada dunia.

Memang dunia tidak akan pernah kehabisan bintang-bintang yang akan selalu bersinar. Setelah kau pergipun, dunia mungkin akan segera menemukan bintang lain yang seterang cahayamu dulu. Namun, dunia tidak akan pernah melupakan bahwa dulu pernah ada bintang yang bersinar sangat terang dan paling terang di antara bintang-bintang lain.

Ah, bila mengingatmu yang akan tergantikan oleh bintang lain seperti ini, membuatku merasa sedih karena betapa sebenarnya manusia itu adalah makhluk yang paling menyedihkan. Kita hidup untuk kemudian mati. Kita datang untuk kemudian pergi dan digantikan oleh yang baru datang. Betapa membosankan hari-hari manusia dengan segenap rutinitasnya yang benar-benar menjenuhkan itu.

Kutatap langit dan melihat setitik sinar bintang yang bercahaya terang. Aku jadi tersenyum miris, iba pada bintang itu, karena pada saatnya nanti akan ada bintang lain yang menggantikan sinarnya. Tapi layakkah rasa ibaku ini? Bukankah hidup memang seperti itu?

Kutatap langit dan kembali kulihat senyum dan semangatmu yang begitu membara tergambar di langit yang mulai terang oleh rembang pagi menghangati jiwaku hingga kembali membuatku tersenyum. Bintang tua yang mulai meredup cahayanya perlahan menghilang untuk kemudian benar-benar tak terlihat. Jauh di ufuk timur kulihat semburat cahaya terang menerangi langit. Kurentangkan tanganku dan menghirup udara dini hari. Kututupi kuapku dengan tanganku. Ah, mengapa pula kantuk baru datang sekarang, saat pagi mulai datang, saat aku sudah harus bersiap-siap memulai aktifitas di hari yang baru? Ah, persetan dengan semuanya! Aku ingin kembali melanjutkan tidurku. Siapa tahu, aku kembali dapat menjumpaimu dalam mimpi dan bila kau datang dalam mimpiku, aku tak ingin terbangun dengan segera, karena aku tak tahu, kapan lagi aku dapat melihat bintang yang bersinar sangat terang seperti dirimu.

Aku beranjak dari dudukku dan masuk ke dalam rumah menuju kamarku, bersiap kembali tidur.

Buat: MS

SETELAH HUJAN REDA

Setelah Hujan Reda

Oleh: Herny S. Yahya

Ia duduk di dekat jendela seperti biasa. Kegiatan membosankan yang telah menjadi kebiasaannya sejak setahun belakangan ini. Di luar hujan turun dengan deras. Titik-titik airnya seperti jarum-jarum yang menghujam menusuk daging bumi.
Waktu kecil, ia suka sekali menyaksikan hujan turun seperti saat ini. Mendengarkan suara rintik-rintik air hujan yang jatuh menetes di atas atap, membaui aroma tanah setelah hujan dan melihat tetes-tetes air yang menempel di dedaunan.
Ah, betapa waktu telah lama berlalu. Namun, dulu waktu terasa amat singkat untuknya. Dulu sebelum kecelakaan itu, ia bisa pergi ke mana saja, melakukan apapun. Begitu banyak kegiatan yang harus dilakukannya, hingga ia merasa tak pernah memiliki cukup waktu. Kini, hidupnya seperti terpenjara di atas kursi roda dalam rumah yang megah ini. Tak banyak kegiatan yang bisa dilakukannya selain hanya duduk dan melamun di depan jendela seperti saat ini, hingga ia merasa waktu merayap dengan amat lambat.
Kecelakaan itu bukan hanya telah merenggut kedua kakinya, tapi juga anak-anaknya. Sementara ia telah kehilangan suaminya jauh sebelum kecelakaan itu terjadi.
Entah sejak kapan pernikahannya menjadi hambar. Memang benar jika dikatakan bahwa perceraian terjadi bukan karena tidak ada lagi cinta di dalamnya. Perceraian terjadi karena tidak adanya komunikasi di dalam pernikahan itu.
Bukannya ia tidak mensyukuri apa yang telah dimilikinya seperti yang dikatakan orang-orang tentang dirinya. Ia merasa beruntung karena memiliki anak-anak yang cantik dan tampan juga cerdas. Ia juga mensyukuri usaha suaminya yang terus meningkat hingga akhirnya mereka memiliki materi yang berkelimpahan. Namun, seiring dengan meningkatnya bisnis suaminya, ia justru kehilangan suaminya.
Suaminya terlalu sibuk dengan kegiatan usahanya. Seringkali suaminya harus keluar kota dalam menjalankan bisnisnya. Rumah sudah seperti hotel saja bagi suaminya. Pulang ke rumah hanya untuk tidur saja. Kadang suaminya pulang saat rembang pagi mulai menyingsing di ufuk timur. Bahkan, seringkali juga suaminya tidak pulang ke rumah jika harus melakukan perjalanan ke luar kota atau ke luar negeri.
Jarangnya intensitas pertemuan mereka telah membuat komunikasi mereka juga berkurang yang pada akhirnya menciptakan rentang jarak dan berimbas pada keharmonisan mereka sebagai suami istri. Saat anak-anaknya masih kecil, ia tidak terlalu merasa kesepian, karena ia sudah cukup sibuk oleh celoteh dan tingkah polah anak-anaknya. Namun, setelah anak-anaknya beranjak dewasa, barulah rumahnya terasa kosong dan hampa baginya. Namun, tak sekosong dan sehampa seperti saat ini.
Dalam kebosanannya menghadapi kehidupan rumah tangga yang terasa hambar itu, ia seringkali menghadiri seminar-seminar. Kadang ia memang suka menghabiskan waktu di mall dengan berbelanja. Namun, lama kelamaan ia merasa bosan dan menurutnya kegiatan shopping gila-gilaan itu tidak berguna dan hanya merupakan kebodohan saja. Ia lebih suka mengikuti seminar-seminar yang diadakan oleh harian-harian ibukota. Kadang ia mengikuti seminar mengenai kewanitaan seperti seminar kecantikan atau seminar yang membahas mengenai kesehatan reproduksi wanita. Ia juga menghadiri seminar-seminar mengenai kesehatan dan pendidikan.
Saat mengikuti salah satu seminar itulah ia bertemu dengan seorang pria yang mampu menghapuskan rasa kesepian dan kekosongan dalam jiwanya. Semula mereka hanya menjadi kawan bertukar pikiran, namun dengan bertambahnya kuantitas pertemuan mereka dan komunikasi yang terjalin di antara mereka, tumbuhlah rasa ketertarikan yang kian hari kian tumbuh subur dan berkembang dalam hati mereka masing-masing.
Kadang hati kecilnya menegur dan mengingatkannya agar ia menghentikannya sebelum terlibat terlalu jauh. Ia sadar bahwa ia telah menikah, dan pria itupun mengetahuinya karena ia tak pernah menutupinya. Namun, bukannya menjauh, mereka malah terjebak makin dalam.
Saat hubungan itu telah membuahkan janin di dalam rahimnya, barulah ia menyadari bahwa ia telah terperosok terlalu jauh. Bukan hanya sekali dua, ia berperang dalam dirinya untuk mengakui dan mengatakan yang sebenarnya pada suaminya meski ia sadar bahwa pengakuannya itu akan berujung pada perceraian. Toh baginya ia tak lagi merasakan ikatan pernikahan itu selain sehelai kertas, berupa surat nikah yang telah mengikat mereka menjadi sepasang suami istri. Pada kenyataannya, ia bahkan tak mengerti arti pernikahan itu sendiri.
Bukan perceraian itu yang ditakutinya. Ia hanya takut, jika ia mengatakan yang sebenarnya pada suaminya, maka ia akan kehilangan anak-anaknya. Bukankah bagi seorang ibu, anak adalah segala-galanya. Demikian juga dengan dirinya. Ia rela kehilangan segala-galanya asalkan bisa tetap memiliki anak-anaknya.
Akhirnya di malam hari yang berhujan itu, ia memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. Meski ia merasa berat karena bagaimanapun juga janin itu merupakan darah dagingnya sendiri, namun ia lebih tak dapat kehilangan kedua anaknya yang telah tumbuh besar di tangannya. Dan hal itu telah dikemukakannya kepada pria itu. Ia tidak dapat melepaskan pernikahannya, karena ia tak ingin kehilangan anak-anaknya. Pria itupun menyetujuinya. Pria itu segera mencari dokter yang bersedia untuk melakukan aborsi dengan bayaran yang sangat besar tentunya.
Dengan ditemani pria itu, ia pergi menuju tempat praktek dokter yang bersedia melakukan abortus itu Tempatnya agak di luar kota Jakarta, di sebuah kampung kumuh dan mereka agak kesulitan menemukan tempat praktek dokter itu karena tempat itu sudah pasti tanpa papan nama. Mereka menyusuri jalan-jalan yang berliku dan becek akibat air hujan yang membasahi jalan.
Dalam cuaca berkabut dan jalan yang gelap, mereka tak menyadari ketika sebuah truk berlari kencang ke arah mereka. mungkin supirnya mabuk atau mungkin juga supir itu tak dapat melihat dengan jelas dalam cuaca yang berkabut dan gelap seperti saat itu. Pria yang menyetir di sebelahnya itu mencoba membanting setir untuk menghindari tabrakan. Namun mobilnya mengalami slip sehingga mobilnya malah bergerak liar menuju arah truk dan tabrakkan pun tak dapat dihindari.
Ia menjerit sekerasnya saat tabrakan itu terjadi sambil memegangi perutnya seolah melindungi anak dalam kandungannya. Ia merasa bahwa kecelakan itu merupakan hukuman bagi mereka karena telah berniat untuk membunuh darah daging mereka sendiri. Sebelum gelap menyelimutinya ia sempat melihat kobaran api yang menyala terang seperti api neraka.
Saat ia siuman, ia telah berada di rumah sakit. Ia melihat wajah anak-anaknya yang tampak cemas, namun ia merasa melihat ada kilatan kecewa dan kebencian dalam mata mereka saat melihatnya. Ia juga melihat suaminya yang duduk di kursi dekat tempat tidurnya. Wajah suaminya tampak lebih tua daripada usia sebenarnya. Wajahnya kusut dan ia juga merasa melihat kilatan kebencian dan kekecewaan dalam sinar mata suaminya seperti yang dilihatnya dalam mata anak-anaknya.
Yang pertama terlintas dalam benaknya setelah sadar adalah janinnya, sehingga tanpa sadar ia langsung bertanya pada suaminya, “Bagaimana kandunganku?”
“Kau baru saja mengalami keguguran. Jangan terlalu banyak bergerak. Kau harus banyak istirahat. Aku akan memanggil dan memberitahu dokter bahwa kau sudah sadar,” jawab suaminya dengan kata-kata yang terdengar penuh simpati dan perhatian, namun ia menangkap kata-kata itu diucapkan suaminya dengan nada yang sedingin es.
Ia menyaksikan suaminya yang tampak lelah dan terpukul memalingkan wajahnya dan melangkah ke luar memanggil dokter. Melihat suaminya, ia yakin bahwa suaminya pasti telah mengetahui perselingkuhannya.
Dipalingkannya wajahnya dan menatap anak-anaknya. Namun, anak-anaknya memalingkan wajah mereka menghindari tatapannya. “Apakah mereka juga tahu mengenai perselingkuhanku?” tanyanya dalam hati. Dengan lemah dipanggilnya nama anak-anaknya.
Putrinya, Nadine tak mau menjawabnya dan memalingkan wajahnya. Sementara Letho, putranya menghampirinya dan bertanya, “Apa mama merasa sakit? Mama sudah koma selama 7 hari.”
“Papa menunggui mama setiap hari. Tahukah mama, papa sudah seperti orang gila ketika mendengar mama kecelakaan?” ujar Nadine melanjutkan kata-kata kakaknya. Entah hanya perasaannya atau bukan, ia mendengar Nadine memberikan tekanan pada kalimatnya yang terakhir.
Belakangan ia tahu dari dokter bahwa pria yang bersamanya di dalam mobil itu tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit. “Ya Tuhan. Apakah kobaran api itu benar-benar api neraka untuk menghukum kami karena kami bukan hanya telah melakukan dosa perzinahan tapi juga berniat membunuh janin bayi yang merupakan darah daging kami berdua?” batinnya dalam hati.
Kadang penyesalan memang suka datang terlambat seperti yang dirasakannya saat ini. Ia merasa Tuhan benar-benar sedang menghukumnya. Bukan saja ia telah kehilangan bayinya dan pria itu. Dokter mengatakan bahwa kakinya harus diamputasi demi keselamatan jiwanya. Ia sudah tak dapat lagi menjerit atau menolak.
“Mengapa aku tidak mati saat kecelakaan itu sehingga aku tak perlu mengalami penyiksaan seperti ini?” rintihnya dalam hati.
Saat sebelum dan sesudah operasi, suaminya selalu menemani di sisinya. Ia ingin mengucapkan maaf pada suaminya, namun lidahnya terasa kelu dan ia merasa menjadi pengecut saat melihat wajah suaminya yang tampak hampa menatapnya. Meski ia telah mengumpulkan segenap keberanian, namun ia tak sanggup mengatakan sepotongpun kata maaf . Ia berharap suaminya memakinya dan tidak diam seperti saat ini. Baginya, sikap diam suaminya itu seperti lecutan cambuk yang mengiris setiap daging dalam jiwanya.
“Sebaiknya kita bercerai saja,” ujarnya setelah mengumpulkan segenap keberaniannya. Saat itu ia sedang dalam proses pemulihan setelah operasi.
Suaminya menatapnya lama sebelum akhirnya bertanya, “mengapa?”
“Aku telah menghianatimu. Aku telah melakukan perbuatan tercela yang takkan termaafkan. Aku tahu kau pasti sangat membenciku dan takkan pernah memaafkanku. Aku sendiri bahkan merasa jijik pada diriku. Aku hanya mohon padamu, jangan pisahkan aku dengan anak-anakku. Aku telah membayar cukup banyak untuk dosa-dosaku. Aku telah kehilangan bayiku dan kakiku.”
“Kania. Kau baru mengalami guncangan. Kau pulihkan dulu dirimu. Aku memang kecewa dan sempat membencimu. Namun, aku tak pernah berpikir untuk bercerai. Aku takkan pernah menceraikanmu. Mungkin tidak sepenuhnya semua salahmu. Kupikir aku juga turut andil dalam semua ini. Kania, bagaimana jika kita mulai lagi dari awal. Kita lupakan masa lalu. Yang lalu biarlah berlalu lalu kita cari lagi cinta kita yang telah pudar. Berikanlah kesempatan kedua bagi kita.”
Mendengar kata-kata suaminya ia merasa terharu. Dan dalam hati ia bertekad, apapun yang dilakukan suaminya, ia berjanji takkan lagi mengkhianati pernikahan mereka. Ia sungguh-sungguh berharap dapat menemukan kembali cinta mereka yang telah pudar itu, seperti yang diharapkan oleh suaminya.
Namun, sekembalinya ia ke rumah itu, ia kembali merasa terpenjara dalam rumahnya yang besar itu. Ia kembali kehilangan suaminya, karena suaminya tak ikut bersamanya mencari cinta mereka yang telah pudar itu. Suaminya kembali sibuk dengan urusan bisnisnya. Anak-anaknya juga sibuk dengan kuliah-kuliah mereka dan teman-teman mereka. Sehingga ia kembali selalu sendirian dalam istana mereka yang terasa makin dingin dan hampa.
Orang-orang mungkin mengatakan bahwa ia sangat beruntung karena memiliki suami yang pengertian dan pemaaf. Sudah tahu istrinya berselingkuh, tapi masih mau menerimanya. Apalagi istrinya kini sudah lumpuh!
Ia sendiri jadi ragu, mengapa suaminya menolak untuk bercerai? Benarkah kata-kata suaminya yang ingin mencari cinta mereka yang telah pudar itu? Atau suaminya tak ingin menceraikannya karena ia lumpuh? Apakah suaminya takut dengan penilaian orang-orang yang akan mengatakannya kejam karena menceraikan istrinya yang telah lumpuh? Sebenarnya masih adakah cinta dalam hati suaminya untuk dirinya?
Yang paling membuatnya menderita adalah penolakan anak-anaknya atas dirinya. Mereka seperti makin menjauh dari dirinya. Apakah mereka marah padanya karena ia berselingkuh dan hampir menjadi seorang pembunuh? Namun, ia menjalani hari-harinya dengan tabah, karena menganggap bahwa semua itu adalah hukuman bagi dirinya. Dalam hatinya ia terus berharap bisa mendapatkan kembali cinta dan kepercayaan dari suami dan anak-anaknya.
Hujan telah reda. Ia jadi teringat kata-kata temannya dulu, “Aku tidak suka hujan! Apa romantisnya hujan-hujanan jika setelah itu jadi sakit karena kehujanan? Aku lebih suka pelangi yang muncul setelah hujan.”
Tapi saat ini, meski hujan telah berhenti, pelangi tak juga muncul. Dalam hati ia bertanya, “Masih adakah pelangi untukku? Pelangi cinta dari suami dan anak-anakku?
Ia terkenang saat-saat pacaran dulu, suaminya suka sekali menulis surat cinta untuknya, yang masih disimpannya hingga saat ini. Namun, setelah menikah, suaminya tak pernah lagi menulis surat cinta ataupun mengatakan cinta padanya.
Senja mulai membayang. Ia mengambil pena dan kertas kemudian mulai menulis. Ia menulis surat cinta pertamanya untuk suaminya. Ia bertekad untuk meraih kembali sedikit demi sedikit cinta dan kepercayaan suami dan anak-anaknya padanya.

Bayang-Bayang Keabadian

Bayang-bayang Keabadian

Oleh: Herny S. Yahya

Bagiku ada tiga hal yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Kematian, film dan pohon. Mungkin terdengar tidak ada hubungannya satu sama lain. Tapi, tiga hal itu memang sangat mempengaruhi hidupku.
Sesungguhnya hidup manusia adalah seperti angin. Hari-harinya seperti bayang-bayang yang telah lewat. Ungkapan pemazmur ini sangat mengena dalam hatiku. Kupikir ungkapannya sangat tepat dalam menggambarkan kehidupan manusia. Bukankah setelah kita meninggal, hari-hari dan kenangan terhadap kita akan berlalu seperti bayang-bayang yang tersapu angin.
Pertama kali aku mengenal kematian dari film Tjut Nyak Dien yang dibintangi oleh Christine Hakim. Saat itu aku masih kecil sekali. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu mengerti keseluruhan ceritanya. Bahkan aku tak ingat jalan ceritanya. Yang aku ingat adalah adengan iring-iringan prosesi mengantar jenazah Tjut Nyak Dien. Saat itu semua orang berpakaian serba hitam.
Keluargaku memang maniak film. Meski kondisi keuangan kami tidak terlalu baik, dan kami sering kali kekurangan uang, namun kami memiliki budget khusus untuk menonton di bioskop. Bagi kami kegiatan menonton film di bioskop sama wajibnya seperti makan nasi.
Meski aku tak pernah mengerti jalan cerita film yang kutonton, dan seringkali aku tertidur di dalam bioskop saat film sedang diputar, namun aku sangat menikmati setiap kunjungan ke bioskop. Jaman dulu tidak banyak tempat hiburan seperti saat ini. Dimana jika sedang bosan, anak-anak a be ge bisa pergi ke mall dan mondar-mandir seharian di sana tanpa memedulikan kaki yang sudah pegal-pegal.
Mungkin yang paling kusuka dari kegiatan menonton bioskop adalah perdebatan seru untuk menentukan film yang akan ditonton. Selera ibu dan nenekku berbeda, sehingga mereka kerap bertengkar, untuk menentukan film apa yang akan ditonton. Ibuku menyukai film komedi, sedangkan nenekku senang sekali menonton film India. Karena aku masih kecil, aku belum bisa memilih film yang bisa ditonton. Jadi aku hanya menjadi penonton perdebatan mereka. Aku dan ayahku hanya tinggal mengikuti keputusan apa yang akhirnya diambil.
Sebenarnya ayahku lebih suka menonton film drama, namun karena ia adalah orang yang tidak menyukai konfrontasi, jadi ia memilih untuk keluar dari pertempuran, meski ada kalanya ayah terlihat tak mau kalah dan ikut berdebat menentukan film yang akan ditonton. Setelah semakin besar, aku memiliki selera film yang sama dengan ayahku. Aku suka sekali menonton film drama. Kadang aku merasa ikut larut dalam film drama yang kutonton. Bukannya aku cengeng seperti kata teman-temanku, tapi menurutku film drama dapat menempa rasa empati kita dan banyak hal yang bisa kita pelajari dari film-film drama itu.
Aku tak terlalu ingat sosok ayahku. Seingatku, ayahku adalah seorang yang pendiam. Sebenarnya, ayahku ingin memiliki seorang anak lagi. Anak laki-laki. Tapi, ibuku tidak mau, katanya satu anak juga sudah cukup. Kata nenekku, sebenarnya ibu trauma akan sakitnya melahirkanku. Belum lagi, meski aku anak perempuan, tapi bandelnya minta ampun.
Sayangnya, ayahku meninggal saat aku berumur lima tahun. Itulah pertama kalinya aku menyaksikan kematian yang sesungguhnya. Kematian dalam dunia nyata dan bukan dalam film. Menyadarkanku akan realita. Bahwa di dalam kehidupan ada kematian. Memberikanku pemahaman akan perbedaan antara hidup dalam impian dan realita. Mengingatkanku akan batas tipis antara dunia realita dan dunia mimpi.
Ibuku tak henti-hentinya menangisi kepergian ayahku. Aku yang masih kecil dan tak mengerti mengapa ibu menangis, berlari menuju pelukan nenekku. “Mengapa ibu menangis, nek? Bukankah ayah hanya sedang tidur? Apakah ayah memarahi ibu?” tanyaku dengan polosnya.
“Ayah bukan sedang tidur , sayang. Suatu saat nanti, ketika kau sudah dewasa, kau akan mengerti semua ini,” jawab nenekku seraya mengelus kepalaku. Kulihat butir-butir air mata juga menetes dari mata nenekku yang telah dihiasi keriput.
Suasana saat itu mirip dengan adegan dalam film Tjut Nyak Dien yang pernah kutonton. Hanya saja orang-orang yang ada di sekelilingku memakai pakaian putih, sama seperti pakaian yang kukenakan.
Satu hal yang kusyukuri, aku tak pernah melihat wajah ayahku saat meninggal. Dengan begitu, aku akan selalu ingat wajah ayahku yang penuh senyum dan menatapku dengan sabar saat aku melakukan kesalahan.
Kematian kedua yang kuhadapi adalah kematian nenekku, tiga tahun setelah kematian ayahku. Saat itu meski aku tak dapat mengerti sepenuhnya, namun melihat ibuku yang terus menangis dan orang-orang termasuk aku berpakaian serba putih, aku tahu bahwa nenekku juga tertidur seperti ayah dan tak akan pernah bangun lagi.
Jika saat ayahku meninggal, aku tak melihat wajahnya. Kali ini, aku melihat saat nenekku akan meninggal. Aku melihat wajahnya sebelum dimasukkan ke dalam peti. Saat itu, aku juga turut menangis. Aku tak dapat mengetahui dengan pasti mengapa aku menangis. Aku hanya merasakan kepedihan yang dalam. Aku merasa hatiku seperti melayang terbang. Aku merasa seperti pohon kecil yang segera saja akan lenyap diterpa angin. Selama ini, ayah dan nenekkulah yang jadi pembelaku, bila aku dimarahi oleh ibuku.
“Bu, apakah nenek marah padaku, karena aku selalu nakal? Kenapa nenek juga ingin tidur seperti ayah? Kenapa nenek dan ayah tidak mau bangun lagi, Bu? Seandainya aku berjanji tidak akan nakal lagi, apakah mereka akan bangun lagi, bu?” tanyaku sambil menangis.
Kulihat ibuku sedikit tersenyum mendengar pertanyaanku, lalu ia menghapus air mataku, “Tidak sayang. Mereka tidak akan bangun lagi, karena mereka telah hidup di dunia yang lain. Dunia yang berbeda dengan kita,” jawab ibuku.
“Apakah mereka hidup dalam dunia film seperti yang suka kita tonton di bioskop, Bu?” tanyaku lagi.
“Bukan dunia film sayang. Mereka hidup dalam dunia yang tenang. Dunia yang kekal. Pada akhirnya, kita semua juga akan pergi ke sana, sayang,” jawab ibuku.
Aku tidak mengerti satupun ucapan ibuku. Namun, aku tidak bertanya apa-apa lagi. Karena aku merasa yakin, suatu saat nanti aku juga akan mengerti artinya. Seperti kata nenekku. Suatu saat nanti, saat aku besar, aku akan mengerti arti semuanya itu. Dan lagi, bukankah ibuku tadi bilang, bahwa kita semua pada akhirnya akan pergi ke sana? Jadi, nanti aku juga akan bertemu kembali dengan mereka. Dan kami akan bersama-sama lagi. Pergi ke bioskop bersama-sama lagi.
Kesukaan kami menonton bioskop terus berlanjut hingga aku besar. Namun kini hanya tinggal aku dan ibuku saja. hubunganku dengan ibuku juga semakin dekat. Setelah aku besar, aku sudah mulai bisa memutuskan film yang akan kami tonton. Aku memilih menonton film drama, sedangkan ibu tak pernah mengubah seleranya, tetap saja ia menyukai film komedi. Namun, sama seperti dulu, ibulah yang selalu menang. Lama-kelamaan, akupun menyukai film komedi. Aku suka film drama komedi karena jalan ceritanya yang manis dan kerap berakhir bahagia. Meski hidup tak selalu terasa manis dan berakhir bahagia. Kupikir, hidup ini memang merupakan perpaduan antara komedi dan drama.
Semakin besar, semakin aku suka sekali pergi ke bioskop. Film bagiku bukan hanya merupakan hiburan, tapi juga merupakan cermin bagi kita dalam menjalani kehidupan. Walau kadang-kadang ada juga film yang terkesan konyol dan tidak nyata. Diam-diam aku suka pergi ke bioskop sendiri, menonton film drama yang kusenangi.
Kerap aku jadi berpikir mengenai kehidupan dan kematian. Aku sering bertanya-tanya mengenai arti kehidupan. Aku banyak sekali membaca buku-buku filsafat. Aku juga suka membaca buku-buku Khalil Gibran. Namun, aku tidak pernah mendapat jawaban yang dapat benar-benar memuaskanku. Apakah esensi dari kehidupan? Mengapa harus ada kehidupan jika pada akhirnya semua berakhir dengan kematian? Apa yang terjadi setelah kita meninggal? Dunia yang bagaimanakah kematian itu?
Salah seorang sahabatku yang suka sekali menanam pohon pernah berkata,”Kau tahu apa yang paling kusuka dari pohon. Aku suka sekali melihat tunas-tunas yang baru muncul seperti bayi yang baru lahir. Begitu kecil dan muda. Setiap melihat tunas-tunas baru itu aku seolah belajar seperti itulah hidup. Dari setiap dahan yang dipotong akan muncul tunas-tunas baru. Daun-daun yang sudah tua dan menguning akan luruh dan digantikan oleh tunas-tunas muda yang tumbuh kemudian. Kupikir seperti itulah siklus kehidupan. Ada yang pergi dan ada yang datang kemudian. Setiap tempat yang ditinggalkan akan diisi oleh yang baru datang.”
Kesukaan sahabatku menanam pohon jadi menular padaku. Aku juga turut senang menikmati munculnya tunas-tunas baru. Aku jadi teringat akan diriku. Mungkin seperti itulah saat aku lahir dulu. Begitu kecil dan muda.
Kematian ketiga yang kuhadapi, adalah yang paling berat kurasakan. Aku begitu kehilangan sosok ibuku. Meski aku telah belajar dari pohon mengenai siklus yang pergi dan yang datang, aku tetap merasa kehampaan saat ibuku meninggal.
Seperti saat kematian nenekku, aku juga berada di sisi ibuku ketika ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Aku bahkan turut memandikannya sebelum ia diletakkan di dalam peti. Aku terus menatap wajah ibuku yang tertidur dengan tenang, kucium pipi ibuku yang mulai dingin seraya berbisik di telinganya, “Pada waktunya nanti, aku juga akan tiba di sana, Bu, sehingga kita bisa bersama-sama lagi. Ayah, nenek, kau dan aku. Kita akan bersama lagi, suatu saat nanti, Bu.”
Kali ini aku merasa dadaku amat sakit. Aku merasa dadaku dipenuhi oleh perasaan yang tak dapat kujelaskan. Aku merasa seolah terdorong dalam lorong yang gelap dan dalam. Aku merasa kehampaan yang amat sangat. Perasaanku ini tidak terlalu berbeda seperti saat kematian ayah dan nenekku, namun kali ini perasaan kehilangan itu demikian nyata dan dalam. Meski aku sangat sedih, namun aku tak dapat menangis. Setiap orang bahkan suamiku cemas akan keadaanku. Ia bahkan menyuruhku untuk menangis jika ingin menangis, agar hatiku terasa lebih tenang. Tapi aku tetap tak bisa menangis meski aku ingin sekali menangis. Apakah dengan menangis, ibu akan kembali hidup lagi? Saat kematian ayah dan nenek, ibu terus menangis, toh mereka tetap pergi meninggalkan kami.
Satu hal yang aku terus kukatakan pada diriku adalah, ibu pergi untuk memberikan tempat bagi tunas-tunas yang baru dan suatu saat nanti akupun akan pergi untuk memberikan tempat bagi yang akan datang kemudian.
Dan akhirnya waktuku memang tiba. Saat ini aku berbaring menanti saatku. Aku merasa agak takut, namun segera saja perasaan itu hilang berganti dengan perasaan bahagia karena akan segera bertemu dengan ayah, nenek dan ibuku. Aku menatap wajah suami, anak-anak dan cucuku. Mereka menatapku seperti aku dulu menatap wajah nenek dan ibuku.
Kutatap wajah Saskia, cucuku. Ia sangat mirip dengan diriku. Ia juga suka menonton film drama. Ia menatapku dengan matanya yang bulat jernih. Usianya yang masih kecil sama seperti saat aku kehilangan ayahku. Aku memanggilnya dan memeluknya.
Kupandangi wajah ketiga anakku, merangkumnya dalam ingatanku dan berharap dapat membawa kenangan mereka bersamaku. Satu persatu mereka kupeluk. Satu persatu mereka menciumku. Mereka adalah kebanggaanku. Mereka adalah hartaku di dunia. Seperti aku dahulu merupakan harta bagi ayah, ibu dan nenekku.
Terakhir aku menatap wajah suamiku yang telah setia menemaniku dalam saat sulit dan senang. Orang yang kepadanya, aku berbagi. Orang yang mengajari untuk belajar kehidupan dari sebatang pohon. Ia tersenyum menatapku dan membisikkan bahwa ia sangat mencintaiku dan selamanya akan terus mencintaiku, seperti yang selalu dibisikkannya kepadaku setiap pagi. Aku tersenyum menatapnya.
Aku telah banyak belajar mengenai kehidupan. Batas tipis antara hidup dan mati. Batas tipis antara mimpi dan realita. Batas tipis antara kedukaan dan kebahagiaan. Meski masih banyak hal yang ingin kuketahui mengenai kehidupan, tapi aku sadar, ada hal yang selamanya akan tetap tersembunyi dan ada hal yang suatu saat nanti akan terungkap. Karena tidak ada kekekalan selain dari ketidakkekalan itu sendiri.
Akhirnya, aku melihat ayah, ibu dan nenekku tersenyum menatapku. Kupandangi wajah keluargaku untuk terakhir kalinya. Seperti daun-daun tua yang berguguran demi memberikan tempat bagi tunas-tunas muda, akupun pergi untuk memberikan tempat bagi tunas-tunas muda seperti Saskia, cucuku. Kurentangkan tanganku kembali ke dalam pelukan ayah, ibu dan nenekku.
Pada akhirnya, semua hanya akan menjadi kenangan. Dan mungkin, kenanganlah yang abadi di dalam ketidakabadian. Kata-kata pemazmur kembali terngiang dalam telingaku. ‘Hari-hari manusia seperti bayang-bayang yang lewat dan kemuliaannya seperti bunga rumput.’
Namun seperti bunga rumput yang hari ini dicabut, namun esok, bunga rumput itu akan kembali tumbuh memenuhi bumi. Karena bunga rumput meski mudah layu tidak akan pernah tercabut habis. Bunga rumput selamanya akan terus tumbuh selama matahari masih bersinar.

Untuk: ibuku dan kenangan abadinya akan ayahku.

MENUNGGU DATANGNYA PAGI

Menunggu Datangnya Pagi

Oleh: Herny S. Yahya

Aku tak suka membicarakan masa kecilku, kadang aku malah berharap dapat benar-benar menghapusnya dari ingatanku. Mungkin karena masa kecilku bisa dibilang tidak membahagiakan. Aku tak pernah lupa akan masa kecilku, tapi setiap kali ingatan masa kecilku muncul, aku selalu menekannya hingga ingatan itu makin kabur. Namun, saat aku berdiri menatap rumah ini, aku seolah tenggelam kembali dalam masa lalu. Aku tak terlalu ingat pada rumah ini, tapi aku ingat ruangan di mana seluruh dindingnya terdiri dari kaca. Karena di sana aku pernah melihat ibuku yang tidak pernah dapat kupahami hampir membunuhku.
Ibuku seorang yang pendiam, meski kami tinggal dalam satu atap, tapi kami hampir tidak pernah bertatap muka, atau sekadar bercakap – cakap. Jangankan bermanja-manja seperti kanak-kanak pada umumnya. Ia bahkan tak pernah muncul di kamarku, ia tidak pernah menciumku saat malam. Bila melihatku seringkali ia terkesan acuh, hingga aku bertanya dalam hati, apakah ia menyadari kehadiranku?
Kadang aku berpikir bahwa aku bukanlah anak kandungnya, aku merasa aku dan ibuku sangat berbeda. Ibuku sangat cantik, rambutnya hitam lurus tidak seperti rambutku yang ikal, dan aku sering kesal karena rambutku selalu kelihatan kusut meski aku telah berulang kali menyisirnya. Kulit ibuku putih halus seperti pualam, sedangkan kulitku agak gelap, meski tidak hitam. Hingga aku berpikir, apakah ibuku membenciku karena aku jelek?
Sejak kecil aku dilarang berkeliaran apalagi berlarian di dalam rumah. Aku hanya diperbolehkan berada dalam kamarku. Kadang-kadang, aku suka keluar diam-diam dari kamar, dan mengelilingi rumah. Suatu hari aku mendengar suara musik dari ruangan kaca di lantai bawah, dan aku menyelinap keluar dari kamarku menuju asal suara musik tersebut. Aku mengintip ruangan tersebut, dan saat itulah aku melihat ibuku sedang menari. Gerakannya sangat indah, kulihat lengannya terkembang seperti burung yang mengepakkan sayapnya dan terbang melintasi langit. Aku terpesona melihat tarian ibuku. Aku tidak pernah diajari menari oleh ibuku, tapi ibuku memang tidak pernah mengajariku apapun. Hanya tante Lisa, adik ibuku yang kelihatan memperhatikanku, dan kadang menanyakan apakah aku sudah makan (aku tidak pernah makan di ruang makan bersama seisi keluarga seperti layaknya sebuah keluarga), dan kadang melihatku apakah aku sudah tidur atau belum. Meski ia tampak memperhatikanku, namun aku dan dia juga tidak terlalu akrab, bahkan sepertinya tidak ada seorangpun di dalam rumah ini yang menyukai kehadiranku.
Tanpa kusadari aku telah berdiri di dekat ibuku. Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh suara ibuku yang menjerit keras, ia mencekikku, dan matanya yang sebenarnya sangat indah tapi sering terlihat hampa, menatapku dengan penuh kebencian. Aku terkejut dan menatap ibuku dengan ketakutan. Aku ingin menjerit tapi tak ada suara yang keluar, hingga seseorang mencoba menarik tangan ibuku dari leherku. Kulihat Nenek sedang berusaha membujuk ibuku. Akhirnya ibuku melepaskan cekikannya dan menangis dengan suara keras. Aku tak mengerti mengapa ibuku yang menangis, padahal kan aku yang dicekiknya. Tak kusadari, aku malah berdiri termangu menatap ibuku sambil mengusap-usap leherku.
”Sedang apa kau disini? Cepat kembali ke kamarmu!” bentak nenekku yang selalu marah jika melihat aku berkeliaran di dalam rumah.
Kulihat ibuku masih menangis, seolah ia tak mempedulikan kehadiranku. Nenekku masih berdiri menatapku. Dengan ketakutan, aku berlari menaiki tangga dan mengurung diriku kembali di dalam kamarku.
Aku memang hampir tidak pernah keluar kamar. Dunia masa kecilku terbatas di sekitar kamarku saja dan teman-temanku adalah mainanku yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Kadang aku dilanda rasa bosan, namun aku tak berani keluar kamarku.
Suatu hari aku diajak oleh Tante Lisa pergi, itu adalah pertama kalinya aku ke luar rumah, aku merasa senang sekali dapat melihat keadaan di luar dan tidak hanya ruangan sempit berbentuk segi empat, yang terdiri dari lemari kecil di sudut, tempat tidur kecil dan sedikit mainan.
Suasana di luar benar-benar berbeda, aku melihat banyak sekali orang, suara-suara di luar benar-benar membuatku terpesona, aku terbiasa dengan suasana hening di rumahku. Meski sepanjang perjalanan, kami tak bicara, namun aku tak mempedulikannya. Aku terlalu terpesona dengan keadaan di luar yang kusaksikan dari kaca mobil.
Hari itu merupakan hari yang paling menyenangkan dalam hidupku. Tante Lisa membelikanku pakaian, kaus kaki dan sepatu, ia juga membelikanku mainan. Bahkan Tante Lisa juga membelikanku tas, “sebentar lagi kau akan masuk sekolah” ujarnya sambil memilihkan sebuah tas untukku. Setelah itu, tante membelikanku es krim dan mengajakku makan di sebuah restoran fast food.
Kupikir itu merupakan hari yang paling menyenangkan dalam hidupku, tapi ternyata hari itu merupakan awal mimpi burukku. Setelah berbelanja dan makan, tante Lisa membawaku ke suatu tempat, kupikir kami akan ke tempat yang menyenangkan lainnya, ternyata ia membawaku ke dalam penjara lain yang berbeda dengan rumahku. Tante Lisa bilang nama tempat itu adalah panti asuhan dan aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari di mana aku menyadari bahwa keluargaku tak pernah menginginkanku. Hari di mana aku menyadari bahwa aku dibuang oleh keluargaku! Hari di mana aku menyadari bahwa keluargaku meninggalkanku seorang diri.
Kami disambut oleh seorang wanita setengah baya dengan matanya yang besar. Meski nenekku juga galak, tapi aku merasa ia lebih mengerikan daripada nenekku. Tante Lisa dan wanita itu masuk ke dalam sementara aku berdiri di luar menyaksikan banyak anak-anak sebayaku yang sedang bermain. Aku tak pernah melihat ada anak-anak sebanyak itu. Meski aku merasa senang, melihat banyak anak kecil yang sebaya aku, namun aku merasa takut saat menyadari mereka menatapku. Aku berdiri gelisah menunggu tante Lisa keluar, dalam hati aku ingin segera pergi dari tempat ini.
Lama setelah itu Tante Lisa keluar, “Minerva, untuk sementara kau tinggal di sini, yah. Di sini kau akan mendapat banyak teman dan kau bisa sekolah.” Aku menangis sambil menatap tanteku, aku tak berkata apa-apa, aku hanya berharap bahwa tante dapat mengerti lewat mataku, bahwa aku ingin pulang bersamanya. Aku berharap ia tidak meninggalkanku seorang diri di tempat asing ini.
“Maafkan tante, kau hanya sementara tinggal di sini, nanti tante akan kembali menjemputmu jika kau bersikap baik dan tidak nakal. Sekarang tante harus pergi,” ujarnya seraya mencium pipiku, lalu ia mulai beranjak pergi. Aku mencoba meraihnya, tapi wanita itu menarikku dan ia tersenyum kepada tanteku seraya mengatakan agar tak usah khawatir, tante melihat sekilas padaku, aku menangis keras dan memanggilnya, namun ia pergi tanpa menoleh ke arahku.
Setiap hari, aku selalu menunggu di depan pintu gerbang, berharap tanteku akan datang dan membawaku pulang. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, hingga aku akhirnya lulus sekolah, dan keluar dari tempat itu, tanteku tidak pernah datang. Aku merasa keluargaku memang telah membuangku dan membiarkanku hidup seorang diri di tempat asing.
Kenyataan aku dibuang membuatku merasa pahit. Aku tak mengerti mengapa ibuku dan keluargaku membenciku. Kenyataan bahwa aku tak diinginkan keluargaku membuatku berpikir bahwa tidak ada yang dapat dipercaya di dunia ini. Jika keluarga sendiri saja membuangku, bagaimana orang lain dapat menerima keberadaanku.
Setelah lulus dan pergi dari panti asuhan, aku mulai bekerja, dan aku mulai menabung agar aku bisa melanjutkan sekolah hukum. Aku tak tahu mengapa aku memilih sekolah hukum, aku hanya berpikir alangkah baiknya jika aku dapat menjadi hakim. Kadang aku mengkhayalkan diriku yang menjadi hakim dan di kursi terdakwa duduk berderet, mulai dari ibuku, tanteku, nenekku, ibu pemimpin panti, dan anak-anak di sana yang selalu mencemoohku.
Aku tak pernah dan tak ingin mengingat masa laluku dan keluargaku. Hingga suatu hari, seorang wanita berumur kira-kira enam puluhan muncul di hadapanku. Gayanya sangat anggun. Ia mengenakan setelan warna hijau lumut yang bagus sekali namun tetap tak dapat menutupi tubuhnya yang kurus dan tampak rapuh. Wajahnya masih menyisakan kecantikan masa mudanya. Semula aku tak mengenalinya, namun saat kulihat tatapan matanya, aku seolah tenggelam dalam ingatan masa laluku yang telah lama kukubur. Matanya sama seperti mata ibuku, juga sama seperti mata nenekku dan mungkin sama seperti mataku. Tatapan matanya tampak hampa. “Apa kabar, Minerva?” tanya tante Lisa.
Kami duduk berhadapan tanpa satupun membuka pembicaraan. Aku teringat pada saat terakhir kami bertemu, dan bagaimana ia meninggalkanku. “Aku tak menyangka kau akan menjadi hakim” tante Lisa mencoba memecahkan keheningan di antara kami. Dalam hati aku tersenyum sinis, meski di wajahku tak menunjukkan ekspresi apa-apa, sejak kecil aku telah terlatih untuk tak menampakkan ekspresi di wajahku. Apakah kau berpikir aku akan menjadi sampah masyarakat hanya karena keluargaku tak menginginkanku dan membuangku? Batinku sinis.
“Kau pasti sangat membenci kami” lanjut tante Lisa setelah aku tetap diam. Ia meneguk minumannya dengan canggung. “Kau seorang hakim dan setiap kali memutuskan suatu kasus, kau selalu berusaha memberikan putusan yang adil, bukan? Pernahkah kau berpikir mengenai keadilan itu sendiri? Bukankah keadilan juga memiliki dua sisi? Dari sudut pandangmu mungkin kau menganggap itu adil, tapi dari sudut pandang keluarga terdakwa yang kau vonis, apakah keadilan versimu sama dengan keadilan menurut versi mereka?” aku tak mengerti arah pembicaraan tanteku, dan ia terus bicara, sementara aku terus saja diam.
“Aku dulu iri sekali pada kakakku. Sepertinya hidupnya sangat sempurna. Ia memiliki wajah yang cantik dan otak yang cerdas. Saat ia les balet, akupun tak mau kalah, aku merengek pada kakekmu agar aku juga dimasukkan les balet, meski aku sama sekali tak berbakat menari. Apa yang dilakukan kakakku, aku juga ingin melakukannya. Ia selalu menjadi juara kelas, dan ia berhasil lulus ujian masuk fakultas kedokteran di universitas favorit yang ujian masuknya saja sudah sulit sekali. Ia punya tunangan yang tampan dan baik. Singkatnya, hidupnya sangat sempurna dan ia memiliki segalanya. Tapi dalam sekejap semuanya berbalik. Masa depannya dan hidupnya hancur berantakan, dan bukan hanya hidupnya saja yang hancur tapi juga hidup kami hancur berantakan bersamanya. Saat itu ia sedang dalam semester akhir dan rencananya setelah dia lulus, mereka akan menikah lalu mereka akan ke Amerika dan melanjutkan sekolah di sana. Masa depannya sangat cerah dan menjanjikan.”
“Kau pasti pernah mendengar tragedi Mei. Saat itu, krisis moneter melanda sebagian besar negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Krisis moneter itu seperti meluncurkan bola salju yang mengubah peta politik negara ini. Demonstrasi mahasiswa memanas yang berujung pada kerusuhan rasial. Saat itu terjadi penjarahan dan pemerkosaan terhadap para wanita dari kelompok minoritas yang disebut keturunan. Aneh juga yah, negara kita merupakan negara kesatuan, namun masih juga ada pengkotak-kotakan seperti itu. Tapi seperti itulah orang-orang seperti kita ini. Tak akan pernah mendapat tempat di negeri ini, meski kita memiliki akar di negeri ini. Kenasionalan kita akan selalu dipertanyakan.”
“Ibumu merupakan salah satu di antara wanita-wanita itu. Sebenarnya tunangannya tetap mau menerimanya, ia bahkan mengajak kakakku pergi ke Amerika dan tinggal di sana. Namun kakakku telah berubah, sejak kejadian itu ia mengalami trauma dan tidak pernah mau menemui siapapun. Ia selalu mengurung diri di dalam kamarnya. Ia merasa tertekan dan jiwanya terguncang. Ayahku yang shock atas segala yang menimpa keluarga kami, ia bukan hanya kehilangan kakakku tapi juga kehilangan toko hasil jerih payahnya sejak masa muda yang hancur dijarah massa, mengalami stroke dan meninggal seminggu sebelum kelahiranmu.”
“Kami pikir waktu dapat menyembuhkan. Kami membawanya ke psikiater, dan seiring waktu, keadaannya makin membaik. Kami pikir, ia sudah seperti dulu, meski ia tetap pemurung. Tapi saat ia mencekikmu, kau pasti ingat kejadian itu. Aku dan nenekmu, merasa suatu hari, kau bisa di bunuh oleh ibumu, dan kami pikir, kau akan selalu mengingatkannya pada kejadian mengerikan itu, sehingga kami memutuskan untuk membawamu jauh dari ibumu. Itulah sebabnya aku membawamu ke panti asuhan.” Kuperhatikan wajah tanteku, aku merasa tante pasti juga telah mengalami saat yang sulit, baru kusadari ternyata wajah tanteku yang sudah keriput dimakan usia itu tampak kelelahan. Kadang ia tampak meringis menahan sakit. Melihat wajah tanteku yang tampak lelah, aku jadi bertanya dalam hati. Apakah ia merasa lelah pada hidupnya? Bisa kubayangkan, beban hidupnya sama beratnya seperti aku. Aku jadi sadar bahwa ia sama menderitanya sepertiku. Aku tak tahu siapakah yang pantas disalahkan atas semua peristiwa ini, tapi yang jelas, kami semua telah jadi korban. Ibuku telah kehilangan masa depannya yang cerah, nenek dan tanteku juga menderita atas segala yang terjadi. Aku telah kehilangan masa kecilku, saat dimana seharusnya seorang anak mendapat perhatian dari ibunya. Tapi aku tak bisa menyalahkan ibuku.
“Aku tak berharap kau memaafkan kami atas sikap kami terhadapmu setelah aku menceritakan semuanya ini. Aku juga tidak bermaksud menyakiti hatimu dengan menceritakan semua kejadian dan sejarah kelahiranmu. Sebenarnya aku ingin mengubur sejarah kelam ibumu dan keluarga kami dan membiarkanmu tak mengetahuinya. Tapi kupikir kau berhak mengetahuinya,” ujar Tante Lisa sambil menatap mataku dengan matanya yang kelam.
“Sekarang mama di mana? Apakah aku bisa bertemu dengannya?” akhirnya setelah diam sekian lama , aku dapat mengeluarkan kata-kata yang selalu ingin kuucapkan. Dulu aku ingin bertemu ibuku, agar aku dapat balas dendam atas segala penolakannya terhadapku, tapi kini aku tak tahu apa motifku untuk menemuinya. Mungkin aku ingin membantunya keluar dari bayang-bayang kelabu masa lalu. Aku tak berharap ibuku mengenaliku, tapi aku ingin ibuku tahu bahwa aku kini dapat dijadikan tempatnya bersandar. Mungkin selamanya aku tak akan bisa memaafkannya karena telah mengabaikanku, namun sebagai sesama wanita aku dapat memahami penderitaan yang dialami ibuku.
“Ia sudah meninggal lima belas tahun yang lalu. Seminggu sebelum ia meninggal, ia tampak seperti saat sebelum kejadian itu. Ia tampak menikmati hidup seperti dulu, ia bahkan menanyakan mengenai dirimu. Aku membawanya ke panti asuhan tempatmu. Kami berdiri di luar dan melihat kau yang baru saja pulang sekolah, dengan tas yang besar di punggungmu. Saat itu kau kelas berapa yah? Ah, aku ingat kau mengenakan seragam abu-abu. Berarti kau sudah SMA. Kau sudah menjadi remaja yang cantik. Ibumu tersenyum menatapmu, aku ingin memanggilmu, tapi ia melarangku. Ia bilang ia hanya ingin menatapmu, dan ia berkata padaku, bahwa kau seperti dirinya saat ia sekolah dulu. Dulu saat sekolah, ibumu juga selalu membawa tas yang besar, dan sepertinya seluruh buku dibawanya ke sekolah. Sampai-sampai nenekmu takut punggung ibumu remuk” sekilas senyum terbayang di sudut bibir tante Lisa.
Seminggu setelah pertemuan kami, aku mendapat surat dari tanteku, dan seorang yang mengaku pengacaranya mengatakan bahwa tanteku sudah meninggal karena kanker payudara, sehari setelah pertemuan kami dan aku merupakan satu-satunya ahli warisnya. Tanteku tidak pernah menikah, “apakah tante tak menikah karena harus merawat ibu sehingga memilih untuk tak menikah, atau karena tante menderita penyakit itu. Sudah berapa lama tante menderita kanker? Mengapa tante tak pernah menemuiku sebelumnya?” tanyaku dalam hati. Dalam hati aku menyesal, mengapa dulu aku tak datang mencari tante dan ibuku. seandainya aku bisa mengenal mereka lebih lama.
Jadi di sinilah aku, berdiri menatap rumah yang suatu waktu dulu aku tinggal di dalamnya. Saat aku berdiri di ruangan kaca itu, aku melihat sekelilingku. Aku bertanya dalam hati, apakah di sini pernah ada kehidupan? Aku merasa rumah ini terlalu sepi. Aku menatap surat tanteku yang dititipkan pada pengacaranya untuk diserahkan padaku saat ia telah meninggal.
“Minerva, saat kau menerima surat ini, aku sudah pergi untuk tinggal bersama ibu dan kakek nenekmu. Aku menyesal meninggalkanmu seorang diri. Tapi setelah kupikir-pikir, sejak dulu, kami selalu meninggalkanmu seorang diri. Saat kau kecil, kami membiarkan kau seorang diri menanggung kesedihan. Minerva, meski kau membenci kami dan semua kenangan dalam rumah ini, namun aku harap kau takkan menjual rumah ini. Karena rumah ini bukan hanya berisi kenangan akan dirimu tapi juga ada kenangan orang tuaku dan ibumu. Rumah ini dibeli oleh kakekmu dan beliau kerap mengatakan pada kami agar kami tidak menjual rumah ini, saat mereka tiada.
“Ibumu sangat suka nama Minerva. Ia pernah bilang jika ia punya anak nanti ia ingin menamainya Minerva. Nama itu ternyata memang cocok untukmu. Aku sering berdiri di luar panti asuhan tempat aku meninggalkanmu, kau pasti sangat membenciku karena itu, kan? Minerva, aku tak pernah bermaksud meninggalkanmu. Seringkali saat aku berdiri di luar panti melihat kau pulang sekolah, ingin rasanya aku memanggilmu, tapi aku merasa kau tak akan dapat bahagia bila tinggal bersama kami. Karena kami juga tak dapat sepenuhnya melupakan tragedi yang menimpa kakakku jika melihat dirimu.” Aku terkejut, kupikir tante meninggalkanku seorang diri. Namun, seberapa seringkah tante datang? Mengapa tante tak pernah memanggilku? Tahukah tante, bahwa aku selalu menantikan kedatangan tante yang berjanji menjemputku?
“Kami berharap kau benar-benar dapat menjadi dewi perang yang mampu berperang melawan ketidakadilan. Aku percaya kebenaran akan terbit dan bersinar seperti siang. Aku percaya kebenaran akan muncul, dan kaulah kebenaran itu. Aku tahu selama ini kau sangat menderita dan hidup dalam kebencian. Kau terbuang dari keluargamu. Namun jauh sekali dalam hati kami, kau merupakan setitik sinar kehidupan saat kehidupan kami telah mati oleh karena peristiwa itu.”
Saat kumasuki kembali rumah ini. Aku merasakan kehampaan. Aku tak pernah berharap mendapatkan rumah ini. Aku bahkan tak tahu, apakah aku dapat tinggal di rumah ini? Terlalu banyak kesedihan di dalam rumah ini. Mungkin suatu masa dulu ada kehidupan di dalam rumah ini. Tapi saat ini, aku merasa rumah ini tak lebih sebagai masa lalu. Namun aku merasa ada keterikatan diriku dengan rumah ini. Meski aku tak berniat tinggal di rumah ini, namun aku setuju dengan tante Lisa. Aku tak akan pernah menjual rumah ini. Karena di tempat ini aku pernah merasakan keberadaan ibuku. Setelah kupikir, mungkin aku akan menjadikan tempat ini sebagai pusat center bagi anak-anak korban pemerkosaan. Aku ingin rumah ini dipenuhi tawa riang anak-anak. Aku ingin memberikan kehidupan bagi anak-anak itu. Meski mereka merupakan aib bagi keluarga. Namun, mereka tidak pantas dipersalahkan.
Aku menatap ruangan yang tampak lengang dan kosong, di dinding terlihat foto besar ibuku yang sedang menari. Aku baru menyadari ada lukisan itu, dan kulihat lengan ibuku yang terkembang. Kupikir sayap ibuku dan sayap para wanita yang telah jadi korban itu telah patah. Aku tak tahu ada berapa wanita yang mengalami nasib seperti ibuku dan ada berapa anak-anak yang juga menjadi korban seperti aku. Namun lenganku baru saja terkembang tapi aku tak tahu mampukah aku mengepakkan sayapku dan terbang menyibak siang yang bernama kebenaran itu. Mencari keadilan bagi orang-orang seperti ibuku. Darimanakah aku harus mulai? Dapatkah aku menyibak kebenaran itu? Dan seperti yang tanteku bilang, aku adalah dewi perang, jadi aku akan terus berperang melawan ketidakadilan hingga saat sayapku terkulai dan aku tak dapat lagi terbang.
Langit mulai beranjak senja, aku tahu tugasku sangat sulit, tapi aku tahu kebenaran ada di sana siap untuk bersinar. Seperti menanti datangnya pagi, aku menanti datangnya kebenaran. Menanti datangnya keadilan bagi ibuku dan bagi diriku sendiri. Dalam hati aku bertanya, benarkah keadilan itu ada? Aku jadi bertanya-tanya kembali, apakah tujuanku dulu saat aku memutuskan ingin menjadi seorang hakim?”

Laut, Langit, Angin

Laut, Langit, Angin

Oleh: Herny S. Yahya

Entah dari mana sebaiknya kumulai kisahku. Entah pula apakah kisahku ini menarik? Kisahku ini seperti setangkai rumput yang hari ini tampak kokoh berdiri menantang matahari dan sehari kemudian rebah, layu tak berdaya, bahkan mungkin tercerabut dari akarnya, terhempaskan begitu saja. Atau, mungkin pula kisahku ini bagaikan setitik debu di antara ribuan titik-titik di seluruh jagat raya yang tampak tak berarti dan dihempaskan begitu saja, tertiup oleh angin yang berhembus.
Namaku adalah Laut. Aku sulung dari tiga bersaudara. Nama adik-adikku adalah Langit dan Angin. Apakah kalian berpikir nama kami unik? Jangan ungkapkan pemikiran kalian itu pada Langit, karena dialah di antara kami yang paling benci membicarakan nama kami yang menurutnya konyol.
Kalian mungkin berpikir, ayah kami yang menamai anak-anaknya dengan nama-nama alam merupakan seorang pecinta alam. Lebih baik kalian buang pemikiran tersebut jauh-jauh. Mengenai isu pemanasan global yang menyebabkan lapisan ozon makin menipis saja, ayah sama sekali tak peduli.
Ketika Langit mendesak ayah untuk mengemukakan alasannya menamai kami seperti itu, ayah menjawab, “Siapakah yang bisa memiliki Langit, Laut dan Angin sepertiku?”
Dengan kata lain, ayah merasa sebagai makhluk yang paling hebat karena bisa memiliki atau menguasai tiga hal dari bumi yaitu, langit, laut dan angin.
Bagi Langit, ayah adalah sosok manusia paling konyol dan egois yang pernah ada dan tak layak menjadi orang tua. Aku sendiri menyangsikan, jika saatnya nanti, apakah Langit, aku dan Angin akan bisa menjadi orang tua yang layak?
Sedangkan bagi Angin, ayah adalah salah satu tragedi dalam kehidupan. Meski sebenarnya semua manusia adalah tragedi dalam hidup. Bukankah hidup itu sendiri merupakan tragedi? Bagiku sendiri, ayah tak lebih dari seorang tua yang perlu dikasihani.
Sifat ayah yang bertemperamen keras menurun pada Langit. Sedangkan Angin, kata ayah, menuruni sifat ibu yang pendiam dan penurut. Namun sesungguhnya di balik sikap ibu yang penurut itu bergejolak jiwa pemberontak seperti Angin, sehingga ibu yang sudah tak tahan dengan kekeraskepalaan dan keegoisan ayah, pergi meninggalkannya bersama anak-anak mereka.
Ayah yang keras memang paling tak suka dibantah. Namun, Langit merupakan duplikat ayah. Ia sama kerasnya dengan ayah. Kadang aku bertanya, tidakkah ayah melihat gambarannya dalam diri Langit? Kurasa ya.
Ketika Langit memutuskan pergi dari rumah, ayah terlihat tak peduli, namun aku tahu, ayah sebenarnya terluka, hanya saja ayah terlalu sombong untuk merendah sekadar meminta agar Langit tetap tinggal. Seandainya saja ia bisa sedikit mengekang kesombongannya dan mau merendah, maka ibu tak akan pergi meninggalkan kami. Karena itulah, kukatakan ayah tak lebih dari seorang tua yang perlu dikasihani. Ia patut dikasihani karena ia tak bisa memahami sepenuhnya arti cinta. Cinta dari istri dan anak-anaknya. Lebih menyedihkan lagi, ia tak tahu bagaimana mengungkapkan cintanya pada istri dan anak-anaknya.
“Mengapa kau harus bersikap seperti ini? Bukankah kita adalah keluarga?” bujukku pada Langit agar ia mengurungkan niatnya untuk pergi, mengambil alih peran ayah.
“Keluarga? Menurutmu, apakah definisi dari keluarga? Apakah arti keluarga? Bagiku, keluarga hanyalah label yang ditempeli pada sepasang pribadi yang masing-masing berbeda namun disatukan oleh ikatan hukum yang bernama pernikahan kemudian dari ikatan itu lahir sekelompok pribadi lainnya yang juga berbeda namun kebetulan disatukan oleh garis darah yang sama yang dipetakan lewat sel-sel DNA atau istilah-istilah ajaib lainnya yang pastinya sulit dimengerti oleh orang-orang semacam kita,” katanya seraya terus merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas besar.
“Lalu ke mana akan kau langkahkan kakimu? Di manakah akan kau istirahatkan langkahmu bila kau merasa lelah?”, tanyaku, mencoba menahannya walau kutahu itu hanyalah usaha yang sia-sia.
“Aku akan melangkahkan kakiku ke mana pun ia hendak melangkah. Biarlah langit yang memanduku dan angin yang menuntunku menuju guru sejatiku. Alam raya. Aku akan belajar dari langit, laut dan bumi. Lucu ya, mungkin bila ibu tak pergi meninggalkan kita, ia akan melahirkan anak keempatnya yang akan dinamai bumi. Hingga suatu saat nanti aku sungguh-sungguh menjadi manusia sejati. Aku tak tahu bilakah langkahku penat? Mungkin nanti kala aku telah menemukan kebenaran sejati dari guru-guru sejatiku. Mungkin saat itulah baru kurasakan penat dan mencari tempat untuk mengistirahatkan kaki dan gejolak hatiku.”
Ah, Langit. Bagiku, keluarga adalah tempat kita berlabuh kala kaki dan tubuh kita telah penat mengarungi hidup. Keluarga adalah sebuah ruang hangat dalam hati setiap umat manusia, karena ke mana pun kita pergi, bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun, kita akan tahu bahwa ketika kita tidak ada lagi tempat untuk dituju, hanya satu tempat bagi kita untuk pulang, yaitu keluarga, karena di sana kita dapat menyatukan hati, jiwa dan raga kita. Keluarga adalah bintang polaris yang menjadi penunjuk jalan bagi kita kala kita tersesat dan tak dapat menemukan jalan pulang. Dan kuyakin keluargalah yang akan kau tuju kala kau merasakan penat.
Lain Langit, lain pula dengan Angin. Bila dengan Langit yang meletup-letup, aku merasa lebih nyaman, setidaknya aku tahu hasrat dan impiannya. Sedangkan terhadap Angin yang tertutup dan mengasingkan diri, aku jadi seperti orang asing yang hanya dapat melongok dari jendela saja.
Meskipun Langit mudah sekali meledak-ledak, namun aku lebih suka menghadapinya daripada menghadapi Angin. Aku tak pernah tahu apa yang dipikirkan Angin. Ia selalu menutup dirinya. Ketika aku berdebat dengan Langit, ia lebih suka menyendiri di sudut ruangan, terpekur menatap lantai. Kadang aku berpikir, apakah kebiasaannya mengasingkan diri karena ia merasa tak dicintai. Ibu kami pergi meninggalkan kami, ketika ia baru saja menginjak usia dua tahun.
Kadang aku ingin seperti Langit dapat dengan lantang menyalahkan ibu, namun aku yakin, ibu juga memiliki dilema ketika ia harus memutuskan untuk pergi meninggalkan kami.
Sejak kepergian Langit, rumah kami tampak seperti bom waktu. Terlihat tenang, namun bisa meledak suatu waktu. Aku jadi memandang keluargaku dengan skeptis seperti Langit. Aku lelah harus mengasuh ayah dan Angin. Kadang, aku ingin juga pergi seperti Langit dan melepaskan semua ini.
Angin. Aku selalu saja sulit menggambarkan mengenai adikku ini. Aku tak terlalu memahaminya. Ia benar-benar seperti angin yang berhembus. Dapat kita rasakan keberadaannya namun tak benar-benar kita sadari keberadaannya. Saat ia pergi, barulah kusadari kehampaan yang benar-benar. Lain dengan ketika Langit atau ibu pergi. Selama ini aku hampir tak pernah menyadari keberadaan Angin, namun mengapa aku merasa kosong ketika ia juga pergi?
“Kak Laut, menurut kakak apa arti hidup?”, tanya Angin suatu hari.
Aku terperangah tak tahu harus menjawab apa. Aku selalu saja tak tahu harus bersikap bila menghadapi Angin.
“Menurutku hidup adalah tragedi,” lanjut Angin, menjawab pertanyaannya sendiri.
“Mengapa kau berkata begitu? Bukankah hidup itu indah? Indah karena hidup adalah warna-warna pelangi. Indah bila kita dapat benar-benar memaknai nada-nada dalam hidup itu sendiri. Menurutku, hidup adalah anugrah Tuhan bagi kita dan kita perlu bersyukur atas hidup yang telah dikaruniainya pada kita ini. Karena kita hidup, maka kita dapat merasakan kehangatan matahari. Karena kita hidup, maka kita dapat merasakan manisnya dicintai dan mencintai,” jawabku dengan senyum getir, karena kadang aku merasa memang hidup adalah tragedi.
“Apakah cinta adalah anugrah, kak? Berarti benci juga anugrah? Bukankah cinta dan benci saling berdampingan seperti gelap merekat erat dengan terang?”
“Tentu saja! Bila kita memiliki kekuatan untuk membenci, maka pastinya kita juga memiliki kekuatan yang lebih besar untuk mencintai,” jawabku asal.
Aku tak tahu, apakah kata-kataku mengenai teori hidup dan cinta adalah anugrah yang menyebabkan Angin mengambil keputusan untuk pergi dengan cara yang berbeda dengan Langit dan ibu.
Aku tak tahu apakah ayah menangis ketika mendapati Angin tak lagi bernyawa. Aku sendiri saat mendapati adikku dalam keadaan itu, hanya termangu sesaat seperti aku sedang bermimpi. Ketika kusadari bahwa semuanya adalah nyata, aku lebih lagi tak menyadari keadaan sekelilingku.
“Bila hidup adalah anugrah, maka kematian juga adalah anugrah, kak? Menurutku adalah anugrah bila kita tidak pernah dilahirkan. Karena kita dilahirkanlah maka kita mengalami derita. Alangkah beruntungnya mereka yang tak pernah lahir ke dalam dunia,” tulisnya dalam secarik kertas yang kutemukan terselip di antara lembaran Kitab Suci miliknya.
Rumah sepeninggal Langit dan Angin semakin kosong. Hanya tinggal aku dan ayah. Melihat ayah yang semakin tua dan sepanjang hari hanya duduk termenung menatap jendela, aku tahu ayah sedang memikirkan hari-hari yang telah lewat. Adakah ia menyesali kepergian ibu, Langit dan Angin?
Sepanjang hari aku mengurus ayah dan menunggu saat kaki dan tubuh Langit telah lelah menapaki hidup, dan ketika ia telah menjadi manusia sejati seperti keinginannya, mungkin ia akan kembali ke rumah di mana hati dan jiwanya berada. Aku yakin Langit akan kembali.
Langit di atas sangat jernih dan jauh dari jangkauanku seperti Langitku yang saat ini tak kuketahui keberadaannya. Angin yang berhembus kurasakan membelai rambut dan pipiku, dan aku tahu bahwa Anginku ada di antara hembusan itu mengipasi semangatku untuk tetap menyalakan cinta dan menunggu rumah hingga Langit kembali.
Rasanya seperti baru kemarin kami hanyalah kanak-kanak. Tak kusadari betapa waktu demikian cepatnya berlalu. Sudah tiga tahun sejak kematian Angin dan mungkin sudah tahun kesepuluh atau sebelas sejak kepergian Langit. Yang tersisa dari waktu hanyalah kepingan-kepingan kenangan yang kadang terasa pahit hingga membuat lidah kelu meski ada juga yang terasa manis seperti madu yang menetesi jiwa-jiwa usang manusia. Akhirnya hanya kenanganlah yang dimiliki oleh manusia hingga ia pun terbang dihembuskan angin.
“Langit dan Angin. Selamanya kita adalah keluarga,” bisikku pelan dan kutahu Angin membawa bisikanku untuk disampaikan pada Langit.”