Total Tayangan Halaman

Translate

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juni 2017

Daun Musim Kemarau

daun musim kemarau
di atas batu temaram bulan
memudar warna langit malam
melagukan syair nyanyian bisu

daun musim kemarau
meranggas di antara kemilau
cahaya lampu kota tertusuk
nadi telaga warna

daun musim kemarau
menanti
hingga masa
yang tak terganti

Rabu, 07 Juni 2017

Waktu ...

Kita memilikinya tapi kita tak berkuasa atasnya
Waktu...
kita memilikinya tapi kita tak berkuasa atasnya
menjadi teman seperjalanan tapi sering tak menyadari keberadaannya
ada kalanya ia bergerak lambat namun tak jarang kita terengah-engah mengikut gerak langkahnya
ia menjadi hadiah pertama yang kita miliki saat dilahirkan ke dalam dunia 
atau mungkin kita sudah mendapatkannya jauh sebelumnya? 
saat kita masih serupa udang, tengah bergelung nyaman dalam rahim sempit ibu?
mungkinkah di saat itu titik nol kita dimulai? 
titik awal perjalanan bersama hingga akhirnya kita kembali ke titik nol itu....

Selasa, 30 Mei 2017

Puisi Untuk Emak...



Emak,
Rasanya baru kemarin aku melihat
senyum lucu tersungging di wajah keriputmu
Kau bercerita tentang film India favoritmu sementara aku mendengar dengan separuh
hati

Kalau saja aku tahu itu adalah hari terakhir aku mendengar suaramu,
akan kupuaskan seluruh indera pendengaranku meresapi ceritamu...

Emak,
Rasanya baru kemarin aku mendengar suara
tawa khasmu yang memperlihatkan gigi ompongmu
kala aku menggodamu...

Ah, betapa aku akan merindukan suara tawamu itu...

Emak,
Rasanya baru kemarin kau memintaku mengguntingi kuku-kuku kakimu dan kau mengatakan tak ada yang bisa mengguntingi kuku-kuku kakimu selain aku, namun aku malah meledekmu...

Emak,
Rasanya baru kemarin kau menggenggam tanganku sementara aku bercerita tentang hal-hal remeh yang kini kulupa...

Ah... Kalau saja aku tahu, hari itu adalah genggaman tangan terakhirmu...

Tangan keriput yang sama yang telah menggendong dan menyuapiku dengan nasi kepal bawang goreng

saat kecil dulu...

Tangan keriput yang sama yang suka membelai kepalaku sementara aku tertidur di pangkuanmu

saat kecil dulu...

Tangan keriput yang sama yang mengepangi rambut cucu-cucunya...

Tahukah kau, Mak,
kepanganmu memang menyakitkan tapi tak ada yang menyaingi kerapihan kepanganmu...

Ah... betapa aku akan merindukan tangan keriputmu itu...

Emak,
Rasanya baru kemarin aku mendengar kau memanggil namaku dengan suaramu yang khas...

Kau meminta banyak hal yang sayangnya belum sempat kupenuhi semua...

Maafkan aku, Mak...

Sekali waktu aku sempat jengkel padamu...

Sekali waktu aku sempat mengacuhkanmu ...

Tanpa pernah menyadari berapa banyak luka yang telah kutorehkan dalam hati tuamu yang rapuh itu...

Maafkan aku, Mak...

Karena aku terlambat menyadari betapa menderita dan kesepiannya dirimu...

Emak,
Doaku kini tulus mengiringimu
menuju
kebahagiaan abadi
yang kan menghapus air mata dan duka hatimu...

Hanya doa yang kini dapat kupersembahkan untukmu
hingga kita bertemu lagi

Di suatu waktu dalam keabadian...

16102016
In memoriam
My dear Grandma,
Thio Kiam Nio
3.10.1937 - 10.10.2016

Kamis, 05 Juli 2012

Terasing

sendiri tak selalu satu
ada sudut gelap di tengah limpahan cahaya
sendiri tak selalu satu
ada sunyi di antara hiruk pikuk suara

terasing dalam keramaian
sunyi terkucil di tengah keriuhan
tersesat di antara kamuflase kata dan rupa
sendiri tak selalu satu

120212

Sabtu, 30 April 2011

Bingkai Waktu













malam berlalu secepat pagi
menyapa
menyisakan kantuk yang masih
manja menggayut dan
lelah
yang belum terlepas sempurna
memaksa
langkah berbaur dalam lingkaran
rutinitas
menderap
dalam irama syair kehidupan

waktu ...
butir-butir waktu bergulir
seringan
angin yang berhembus
menembus segala imajinasi
dalam benak yang terus bertanya
apakah arti kehidupan?

di antara kanak-kanak yang riang
tertawa
bermain lepas seolah tak ada hari
esok
bertanya hati di antara senyum kecut
penyesalan
di manakah masa muda
yang terhempas dalam kesia-siaan?


Sumber gambar dari:  sini

Kamis, 24 Juni 2010

Bayang-bayang....

pic taken from here


 di satu sudut ia menyepi sendiri
bergelut dalam gelap walau
cahaya berpendar menyinari namun
geram menutup jiwanya yang kelam....

galau hati menyelimuti jiwanya
terbalut amarah tanpa rupa
membelitnya hingga tak berdaya
terkapar jiwanya dalam kebencian
sementara bayang-bayang tertawa mengejeknya....

Selasa, 08 September 2009

Nurani Menyepi


pic taken from : www.freefoto.com

Nurani menyepi
kala angkara meraja
dan kepalsuan bertahta
dalam jiwa-jiwa sunyi
yang mati membeku
oleh kemunafikan dan ambisi semu

Nurani menyepi
menanti sang fajar datang menyapa
membawa seberkas cahaya
menembus lorong-lorong hampa sang jiwa
yang telah lama terbuai
sebelum ia sekarat menunggu mati

Nurani menyepi
bersama tetes-tetes murni embun pagi
berharap masih tersisa ruang
sebelum jiwa benar-benar meregang
dalam kengerian abadi

Nurani menyepi
terabai di ambang tak bertepi ....

Kamis, 06 Agustus 2009

Elegi Malam



Hampa hati merindu surga
kala litani keagungan-Nya
menghias langit malam
melantunkan nada-nada surgawi
menghembus jiwa-jiwa nan sepi
mengalun di antara angin sepoi
hati berbisik dalam lirih
rindu jiwa bersatu dalam kalbu-Mu,
ya Tuhan ...
di batas elegi malam sunyi ....
26.07.09


Jumat, 31 Juli 2009

Karena Kita Hidup



Kalau saja kita punya rasa;
maka kita akan selalu bersyukur
menikmati kemanisan masa lalu
merasakan kehangatan masa kini
mengangankan keindahan masa depan

Kalau saja kita berpegang pada asa ...
kita akan mencintai hidup
menantikan pagi membawa cahaya
merindukan malam menyebarkan warna

Kalau saja tak kita pedulikan kasta
Kita takkan pernah kehilangan
Mereka yang mencintai kita
Mereka yang dicintai kita
Mereka yang adalah diri kita
Kita yang adalah satu

Kalau saja kita mau terbangun
tidak membiarkan kita terlelap
Kita akan menyaksikan kehilangan kita;
tapi kita tetap memiliki rasa dan asa
untuk menjadikan hidup kita
bukan cuma omong kosong dan banyolan
dan kita akan bersyukur atas hidup kita ...

karena kita hidup ...




Selasa, 07 Juli 2009

Telaga


Gambar dipinjam dari : www.fotothing.com


Telaga tenang, telaga bening
alam terefleksi dalam hening
di antara derai-derai lembut sang bayu
helai-helai kemuning luruh satu satu

Telaga beriak, getarkan bumi
bulan berpendar di balik teratai
walau hati rindu mengurai kisah
namun ragu kelu membelit lidah

Telaga beku, sunyi berselimut kabut
meski melati samar menghias ruang
namun kata tetap membeku di ujung karang

Telaga bening ...
Telaga beriak ...
Telaga beku ...

030709

Jumat, 30 Januari 2009

Puisi

Orakel, kita ini pengembara
berkelana di negeri kata
mencari sebuah makna
atas hidup di antara derai-derai jiwa

Tak tahukah kau, Orakel?

Kita ini memang pengelana
sesekali kita berkaca
di dalam telaga kata
kata bukan sekadar deret aksara
dan langit bukan sekadar bentangan angkasa

Tak ingatkah kau, Orakel?

pada negeri ini
dan tak malu kuakui
aku memang jatuh hati
pada negeri ini
di sini kita bebas menjadi
apapun yang ingin kita jadi
di sini kudapati
meski hidup memang ternyata retorika basi
namun sejatinya hidup adalah ilusi
seilusi melodi-melodi hati yang menyepi
di balik kabut mimpi

Mungkin kau lupa Orakel

negeri ini bernama puisi….

(last January 2009)
for: My best friend. Happy Birthday.

Selasa, 22 April 2008

Puisi 2

Kumpulan Puisi

Oleh: Herny S. Yahya

Kurasakan Tuhan mengalir – Herny S. Yahya

Kurasakan Tuhan mengalir
dalam aliran darahku
Kudengar bisikan Tuhan
Dalam hembusan nafasku
‘Tuhan begitu dekat.’, pikirku
namun, mengapa Tuhan juga
begitu jauh?

Cinta adalah – Herny S. Yahya

Cinta adalah suatu kata indah
yang mampu memompa jantung
menyemburkan kehidupan dalam
denyutan nadi
yang dapat membuat adrenalin
bekerja super cepat melebihi kapasitas
walau tak mampu membuat jantung
berhenti berdenyut
namun,
cinta tanpa nurani
adalah kesia-siaan
yang membuat jiwa kering
kerontang
meranggas dimakan waktu
dan mati perlahan-lahan

Ketika nurani telah … - Herny S. Yahya

Ketika nurani telah tertutup
Oleh suara-suara asing
Terkungkung dalam batas-batas
sempit ideologi

Ketika nurani telah dibutakan
dari pandangan peradaban
masa depan penuh harapan
cuma tinggal puing-puing

Ketika nurani telah terbang
tinggal kekosongan jiwa
menetap dalam kepicikan emosi
sia-sia menatap pilu
kehancuran nurani
meninggalkan ruang besar menganga
dalam jiwa yang tiada lagi
Nurani cuma dalam batas
ambisi dan keegoisan

Puisi1

Kumpulan Puisi

Oleh: Herny S. Yahya

Balok-Balok Mimpiku

Ku susun balok-balok mimpiku
Tinggi menjulang
Tanpa bentuk

Jakarta, 6 Juni 2003

Nurani

Nurani berjalan tak tahu arah
Membentur dinding-dinding dingin keserakahan
Menembus lorong-lorong gelap
bernama
Ambisi dan angkara!

Jakarta, 10 April 2003

Kesunyian

Kesunyian
Begitu menyenangkan
Saat hati terasa penat dan penuh

Kesunyian
Begitu mengerikan dan mencekam
Saat hidup terasa kosong

Jakarta, 25 Agustus 2004
Rev: 12 Mei 2006

Kerinduan

Matanya yang basah
menatap langit
Teringat akan anak-anaknya
yang pergi
dan belum kembali

Senja telah membayang
namun anak-anaknya
Belum juga pulang

Terucap dari bibir tuanya
Sebelum matanya terkatup
“cepatlah pulang anakku”

Jakarta, 11 Mei 2006
Untuk: Nenekku yang jauh dalam hatinya merindukan anak-anaknya yang terhilang


Dua wajah

Pada mata nenekku
Kulihat telaga yang dalam
Penuh kekecewaan dan penyesalan
Akan tahun-tahun yang terlewati

Pada wajah ibuku
Kutemukan guratan-guratan
Kepahitan dan keputusasaan
oleh gerusan waktu

Pada cermin
Kutemukan mata nenekku
Dan wajah ibuku
Dalam diriku
Yang berdiri bimbang
Menatap jalan yang terbentang

Jakarta, 11 Mei 2006

Namun Kapal Tetap Merapat

Layar telah terkembang
Sauh telah terangkat
Namun kapal tetap merapat
Tak jua berangkat

Jakarta, 11 Mei 2006

Penantian

Tahukah kau, lara
Daun-daun sudah menguning
Tua
Dan luruh

Tahukah kau, lara
Tunas-tunas muda baru muncul
Muda
Dan merekah

Tahukah kau, lara
Bulan tak lagi muncul
Bersembunyi
Entah di mana

Tahukah kau, lara
Aku terbaring sekarat
Dalam
Kekecewaan

Jakarta, 11 Agustus 2003

Rapuh

Betapa rapuhnya mimpi
Dalam balutan
Angan-angan semu

Jakarta, 13 Juni 2003

Nafas

Kumulai lagi menulis
Puisi
Bukan karena aku mencintai
Puisi
Bukan pula untuk
Mengisi waktu senggangku

Kumulai lagi menulis
Puisi
Karena puisi
Adalah nafasku!

Jakarta, 3 September 2002

Bawa Saja Ceritamu!

Bawa saja ceritamu!
Bawa saja cintamu!
Bawa saja lukamu!

Aku ingin sendiri
di sini
menatap langit
mendengar angin membisik mesra
menyampaikan mimpi
yang tak henti kurangkai

Aku ingin sendiri
di sini
menikmati sunyi
hingga aku mati
dicabik rasa sepi

Jakarta, 2 Juni 2006

Dilema

Kadang hidup membuatku lelah

meski aku kadang berharap
waktu berhenti,
namun aku takut bila hidup
turut terhenti

Kadang hidup membuatku jenuh

dan pagi bagai mimpi buruk bagiku;
namun aku selalu takut
bila mentari tak lagi datang

jangan tertawakan aku dan jangan
kotbahi aku dengan
retorikamu
tentang arti hidup dan anugrah

jangan katakan kau
tak pernah merasa
jenuh dan lelah atas
hidupmu!!!

Jakarta, 13 Juli 2006

Jangan Sekalipun Kau Biarkan

Ingin sekali aku membunuhmu!
Namun kau seperti tanpa bentuk
Pada kayu kau berubah menjadi kayu
Pada batu kaupun serupa dengannya
Pada daun kau tak ada ubahnya
Menatap dengan matamu yang mengejek!!

Betapa aku muak melihatmu!
Namun kau ada di mana-mana
Pada kayu
Pada batu
Pada daun
Menertawakanku dengan suara malaikatmu!

Ah, Tuhan
Meski aku hancur lebur
Dirajam batu
Jangan sekalipun Kau biarkan
Aku menjadi seorang bunglon!!!

Jakarta, 13 Juli 2006

Kepada Tuhan

Tuhan,
Kau mengenal tiap-tiap pribadi
Kau mengetahui kedalaman
tiap-tiap hati

Tuhan,
Kau mengenal seberapa besar kekuatan
seseorang
Kau mengetahui seberapa rapuh hati
seseorang

Tuhan,
Kaulah yang tahu
hari-hari setiap orang
Kepada-Mulah setiap orang
akan berpulang

Tuhan,
Tak hentinya aku mengagumi
Kebesaran-Mu
Tak hentinya kusyukuri
Anugrah-Mu

Tuhan,
Kurasakan dalam setiap nadiku
Kau mengalir bersama darahku
Kurasakan dalam jiwaku
Kau berdetak seirama jantungku

Tuhan,
Betapa dekat kurasakan
Keberadaan-Mu
Hingga kurasakan nafas hangat-Mu
Mengisi relung-relung hampa jiwaku

Jakarta, 13 Juli 2006

Kadang Aku

kadang aku terbangun dari mimpi buruk
dan aku bersyukur karena semua hanyalah
mimpi
namun
kadang
aku tak dapat menyadari
antara
realita
dan mimpi

Jakarta, 26 Agustus 2006

Untuk Rere

dalam mataku, terbayang
mimik lucu wajahmu
dan segala tingkah menggemaskanmu

dalam tanganku, kurasakan
jari jemarimu yang mungil
menggenggam jemariku dengan kuat
seolah enggan melepaskannya
walau akhirnya genggamanmu terurai jua
dari genggamanku

dalam telingaku, terngiang
celoteh-celoteh lucumu
yang mengisi seluruh ruang
hingga setiap sudut hati

dalam hatiku, tersirat
segala harapan dan doa untukmu
agar kelak:
saat derap-derap kecil kakimu menjadi langkah-langkah yang cukup kuat
saat tangan-tangan mungilmu cukup besar untuk merangkul dunia
saat suaramu memiliki artikulasi yang jelas untuk mengucapkan setiap kata:
aku berharap saat itu hingga kapanpun
jangan pernah kau koyakkan nurani;
karena nurani adalah jiwa yang paling hakiki!

Jakarta, 28 Agustus 2006

Rumah Masa Kecilku

betapa amat kurindukan
rumah masa kecilku
karena di sana terkubur
harapan dan mimpi-mimpi manisku
dan serabut-serabut mimpi itu
terus membelit jiwaku

betapa pedih kurasakan
saat kudapati rumah masa kecilku
hancur terkikis waktu
meninggalkan lubang besar
kepahitan
ditumbuhi ilalang kebencian
berbaur bersama belukar kekecewaan

Jakarta, 26 Agustus 2006

Seorang Manusia di Ujung Jalan

seorang manusia di ujung jalan
melepas jejak-jejak yang tertinggal
menghembus angin melibas ragu
meniti titik-titik air nirwana
menuju dunia di atas kata

Seraut wajah penuh senyum
berselimut awan semburat jingga
menatap lembut
seorang manusia di ujung jalan
yang melepas segala bimbang dan ragu
yang bergejolak bergemuruh dalam raga
berlari penuh kerinduan
menuju wajah berselimut awan jingga

Seorang manusia di ujung jalan …

17.09.06

Lukisan Langit

Wajah ibuku saat tidur
seperti langit melukis malam
menempatkan titik-titik cahaya
di sepanjang gulita
menampilkan kesyahduan
di balik peraduan

Wajah ibuku saat tertawa
laksana langit melukis siang
menggoreskan spektrum-spektrum cahaya
berkilau warna dalam mentari
menyelipkan aroma
dalam derai-derai melodi jiwa

Wajah ibuku kala berduka
bagai langit melukis petang
menyapukan nuansa jingga
laksana jiwa yang membara
dalam penantian yang dipadamkan
menyisakan kesenduan
dalam jiwa-jiwa yang merindu

17.09.06
Buat: Mama

Lewat Mata Ibuku

Kukenal sosok ayahku
Kesahajaan dan pesonanya
Lewat tutur ibuku
Lewat kenangan yang terkuak
Dalam jiwa ibuku

Lewat mata ibuku:
kulihat cinta bukanlah omong kosong
ataupun kebodohan
melainkan anugrah terindah Tuhan
bagi jiwa-jiwa fana manusia;
agar hidup dapat lebih berarti?

17.09.06
Untuk: Ayah dalam kenangan ibuku

Helai-Helai Bunga Kemuning

Helai-helai bunga kemuning
luruh satu persatu
diterbangkan angin entah ke mana
menyisakan aroma
dalam udara yang mewangi

Helai-helai bunga kemuning
luruh satu persatu
bagai mimpi-mimpi masa mudaku
terbang menguap tanpa dapat kuraih
lagi …;
menyisakan kesedihan
dan penyesalan;
berharap waktu dapat terulang
lagi …?

17.09.06