Total Tayangan Halaman

Translate

Tampilkan postingan dengan label Michael Schumacher. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Michael Schumacher. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Desember 2014

Sebuah Catatan....

29 Desember 2013... tanggal ini mungkin hanya akan menjadi sebuah tanggal biasa saja di antara 364 tanggal lainnya sepanjang tahun kemarin bila kejadian itu tak pernah terjadi. 29 Desember mungkin juga merupakan tanggal istimewa karena tiga hari menuju tahun baru.... Tapi di tahun 2013, tanggal 29 Desember menjadi hari paling menggemparkan dalam dunia balap Formula One. Bagaimana tidak... di tanggal ini tiba-tiba saja muncul berita menggemparkan. Michael Schumacher, pebalap tersukses dalam sejarah dunia balap jet darat ini mengalami kecelakaan. Bukan di atas lintasan balap Nurburgring yang terkenal angker, atau Hockenheim yang telah merenggut nyawa Jim Clark, pebalap karismatis di tim Lotus, bukan pula di Monza tempat di mana Wolfgang von Trips dan 15 orang penonton meregang nyawa dalam kecelakaan parah pada tahun 1961. Michael Schumacher yang selama karirnya di Formula One selalu dekat dengan maut itu justru mengalami kecelakaan paling tragis dalam hidupnya justru di arena ski di Meribel, Perancis, lima hari menjelang ulang tahunnya yang ke-44 tahun.

Di tanggal ini setahun yang lalu, dunia benar-benar terhenyak. Michael Schumacher saat itu baru saja mengundurkan diri (untuk kedua kalinya) dari dunia balap Formula One setelah tiga tahun yang tak terlalu mengesankan bersama tim Mercedes, tengah berlibur bersama keluarga dan beberapa kawan di kawasan ski di mana ia memiliki pondok pribadi di sana. Sebenarnya ski bukanlah olahraga baru bagi Schumi, panggilan media dan fans pebalap tujuh kali juara dunia F1 ini. Sama seperti dunia balap, Schumi dikabarkan sangat ahli dalam olahraga bersalju ini, karena itu berita kecelakaan Schumi saat bermain ski sangat mengejutkan. Terlebih dampak dari kecelakaan di arena ski itu, Schumi dikabarkan koma dan mengalami pendarahan di otaknya. Namun itulah yang terjadi. Michael Schumacher mengalami kecelakaan di arena ski saat ia tengah menolong seorang tamunya yang terjatuh, kepala Schumacher membentur batu sedemikian keras hingga membuat helmnya retak dan mengakibatkan pendarahan dalam otaknya.

Berita kecelakaan Michael Schumacher ini tak pelak mengejutkan para penggemarnya, bahkan yang tak terlalu menyukainya pun rasanya sangat terkejut dengan berita ini.

Selama karirnya di dunia Formula One, Michael Schumacher memang telah menorehkan sejumlah prestasi mengesankan. Catatan rekornya terlalu banyak dan menjadi barometer bagi pebalap muda. Di atas lintasan, Schumi merupakan lawan yang amat tangguh. Ia tak pernah gentar dengan keadaan sesulit apapun. Entah sudah berapa kali kecelakaan pernah dialaminya di atas lintasan. Ia pernah membalap dan finish di tempat terdepan dengan transmisinya stuck di gigi lima. Ia juga pernah membalap dengan tangki bahan bakarnya menyemburkan api. Mengalami wheel bearing rusak namun tetap finish di posisi ke-4 di GP Inggris 1997 (padahal ia bisa saja menang). Finish terdepan walau bannya mengalami tingkat keausan yang tinggi di GP Hungaria.

Berbagai macam insiden pernah dialaminya di lintasan sirkuit. Ditabrak. Menabrak. Dihantam. Menghantam. Malaikat maut seolah begitu dekat dengannya. Kecelakaan paling parah yang pernah dialami Michael Schumacher mungkin adalah saat GP Inggris 1999 di Silverstone. Kecelakaan parah yang dialaminya di lap pertama itu membuatnya patah kaki dan nyaris mengakhiri karir balapnya. Beruntung ada seorang dokter bernama Professor Gérard Saillant, ahli ortopedi yang begitu tekun dan membantunya pulih. Michael harus merelakan mimpinya merebut gelar dunia pertamanya bersama Ferrari di tahun itu (sebelumnya ia sudah menjadi juara dunia dua kali berturut-turut bersama tim Benneton) karena terpaksa absen hampir sepanjang musim, tapi ternyata kecelakaan itu tak pernah menyurutkan nyali Schumi di atas sirkuit. Setahun kemudian, ia tampil mendominasi dan meraih gelar dunia ketiganya dan memulai masa keemasannya bersama Ferrari dengan merebut lima kali gelar juara dunia berturut-turut.

Keberanian Schumi dan kesuksesannya di dunia balap ternyata bukan hanya menciptakan penggemar fanatik untuknya. Tak sedikit pula yang tak menyukai dominasinya di dunia balap ini. Namun berita kecelakaan yang dialaminya tahun lalu hingga menyebabkannya koma menimbulkan gelombang simpati dan doa dari berbagai pihak. Tak peduli penggemar fanatiknya atau bukan, semua melantunkan doa dan harapan yang tulus bagi kesembuhannya. Semua percaya Schumi bisa melewati semua masa kritis ini. Schumi yang selama karirnya di dunia balap menunjukkan semangat juang yang sangat tinggi diyakini takkan mudah menyerah. Sejumlah pebalap yang menjadi rivalnya maupun rekan setimnya pun menyampaikan doa, harapan dan keyakinan akan kesembuhannya. Salah satunya adalah David Coulthard, pebalap Skotlandia yang pernah membalap untuk tim Williams dan McLaren. DC, sebutan untuk Coulthard, pernah bertengkar hebat dengan Schumi usai sebuah insiden di sirkuit yang membuat Schumi begitu berang hingga mendatangi DC dan memakinya dengan keras. Begitu pun DC pernah mengoloknya di atas sirkuit. Tapi di saat Schumi dalam kondisi kritis usai kecelakaannya di arena ski, DC menulis sebuah artikel yang sangat tulus dan menyentuh.

Berhari-hari para fans fanatiknya berkumpul di depan rumah sakit di Perancis, tempatnya dirawat. Namun kondisi Michael masih belum ada perubahan. Luka serius pada otaknya membuat tim dokter yang menanganinya terpaksa mengkondisikannya dalam keadaan koma. Di antara tim dokternya terdapat pula nama yang tak asing. Professor Saillant, yang pernah menanganinya saat kecelakaan di Silverstone, Inggris pada tahun 1997 langsung terbang ke rumah sakit tempat Schumi dirawat.

Berbulan-bulan lamanya Schumi dalam keadaan koma. Sempat muncul kekhawatiran saat tersiar berita Schumi tak merespon walau tim dokter ahli di sekelilingnya mencoba menyadarkannya dari komanya. Namun setitik cahaya terang muncul saat Schumi mulai menunjukkan reaksi yang menandakan ia telah terbangun dari koma. Walau untuk mencapai tahap pulih seperti sediakala nampaknya masih jauh dari harapan.

Setelah berbulan-bulan dalam keadaan koma, Schumi memang telah terbangun tapi ia mengalami kelumpuhan yang menyebabkannya harus menjalani terapi. Meski begitu harapan tetap layak diusung setinggi-tingginya. Bagaimanapun juga, pulihnya Michael dari koma tetaplah sebuah mujizat yang patut disyukuri. Terlebih setelah berbulan-bulan lamanya dirawat di rumah sakit, kini Schumi telah diperkenankan pulang ke rumahnya di Swiss. Setidaknya hal itu adalah berita baik. Meski para penggemarnya harus merelakan idolanya ini takkan bisa membalap lagi. Tim dokter sudah memastikan bahwa Schumi takkan pernah bisa membalap lagi. Tragis memang. Balapan memang sepertinya sudah mendarah daging bagi Schumi. Bakat balap itu rupanya menurun ke putranya, Mick Schumacher yang belum lama ini diberitakan memulai debutnya di dunia balap mobil.

Michael Schumacher memang sudah tak mungkin lagi membalap. Tapi ia tetap seorang pejuang. Selama karir F1-nya yang spektakuler, Schumi sudah kadung dicap sebagai manusia super pemecah rekor fantastis. Manusia setengah dewa. Jadi tak berlebihan kiranya bila penggemarnya meyakini Schumi takkan menyerah sedemikian mudahnya.

Kini genap setahun insiden itu terjadi. Miracle can happens in many ways. Di dunia balap di mana maut begitu dekat, mujizat merupakan hal istimewa bagi para pebalap. Schumi telah seringkali merasakan keindahan mujizat itu. Dan kali ini pun meski ia tak lagi bertarung di atas sirkuit, tapi Schumi masih mendambakan mujizat itu terjadi atas dirinya.

Sebagai salah satu penggemar fanatiknya, aku selalu berdoa mujizat kembali terjadi atasnya. Aku berharap berita baik dari Michael Schumacher datang. Michael Schumacher adalah pribadi dengan semangat juang yang sangat tinggi. Banyak sudah sirkuit yang bahkan terkenal angker telah ditaklukkan oleh Michael Schumacher. Seperti yang pernah dikatakan oleh Mika Hakkinen, salah satu rivalnya sekaligus rekan yang sangat dihormatinya, saat Michael masih terbaring koma, Mika pernah mengungkapkan keyakinannya bahwa Michael akan mampu melewati masa kritisnya. Fighting for life, kala itu menjadi penyemangat bagi Schumi untuk segera sadar dari komanya dan melewati masa kritisnya. Menyerah sepertinya takkan pernah ada dalam kamus hidup seorang Michael Schumacher. Seperti yang pernah diungkapkannya:

"We are always there, we always fight, we never give up… that’s why we are here.”

"I’ve always believed that you should never, ever give up and you should always keep fighting even when there’s only a slightest chance.”

Selasa, 31 Desember 2013

Michael Schumacher: Real Human, Real Fighter

Pagi ini (Senin, 30 Desember 2013), aku memulai hari dengan optimisme yang tak biasanya, karena hanya tinggal dua hari menjelang tahun 2013 akan berakhir, sehingga aku ingin mengakhiri tahun ini dengan semangat dan optimisme melimpah. Namun sebuah pesan singkat kuterima dari sahabatku perihal kecelakaan Michael Schumacher. Aku yang semula bersemangat memulai aktivitasku tentu saja terkejut. Aku membaca dengan cepat, menelusuri setiap huruf yang sedikit demi sedikit menguapkan semangat optimismeku yang kubangun saat bangun pagi. 

Berbagai artikel berita kemudian dikirim sahabatku. Kesemua berita mengabarkan mengenai kecelakaan yang dialami Michael Schumacher, juara dunia F1 tujuh kali, saat tengah bermain ski bersama putranya yang berumur Mick, yang berumur 14 tahun di Meribel Resort, Alpen, Perancis. Ia terjatuh dari tebing saat tengah meluncur di atas salju dan kepalanya membentur batu.

Setelah kecelakaan, Michael dikabarkan masih sadar meski agak terguncang. Ia dikawal oleh dua polisi patroli di arena ski dan segera dibawa ke Moutiers, rumah sakit terdekat. Namun tak lama kemudian Michael dilarikan ke rumah sakit yang lebih besar di Grenoble, sebelah tenggara Perancis. Awalnya setelah kecelakaan, Michael sempat sadar hingga ia dibawa ke Moutiers yang tak jauh dari resor ski Meribel, tapi kemudian kondisi Michael memburuk dan saat tiba di rumah sakit di Grenoble, Michael Schumacher sudah koma. Ia mengalami trauma dan pendarahan pada otaknya sehingga harus dioperasi. Pasca operasi kondisinya masih buruk dan tim dokter yang menanganinya menyatakan bahwa kondisinya sangat kritis dan serius. Michael hingga saat ini dikabarkan masih kritis. Untuk mengistirahatkan otaknya, Michael saat ini dikondisikan dalam keadaan koma dengan suhu yang diatur rendah.

Jean Todt, sahabat yang juga mantan bos tim Ferrari, tempat Michael bernaung dan mempersembahkan lima gelar dunia F1 untuk tim asal Maranello, Italia ini, dikabarkan langsung datang ke Grenoble. Begitu pula Ross Brawn, mantan direktur teknik Ferrari dan bos tim Mercedes, yang juga merupakan orang terdekat Schumi, dikabarkan saat ini juga berada di Grenoble untuk mendampingi pebalap sekaligus sahabatnya ini melewati masa kritisnya.

Dalam karir balap F1 Michael Schumacher, nama Ross Brawn memang tak bisa dipisahkan darinya. Michael mulai bekerjasama dengan Brawn saat membalap untuk Benetton pada 1991. Dari kerjasama mereka di Benetton ini, Michael sukses menggondol dua gelar dunia di tahun 1994 dan 1995. 

Tahun 1996 Michael hijrah ke Ferrari. F310 saat itut tak terlalu bagus, meski begitu Michael sempat meraih tiga kemenangan. Atas sarannya, Ross Brawn dan Rory Byrne disabot dari Benetton. Byrne saat itu sebenarnya sudah ingin pensiun tapi Schumi berhasil membujuknya untuk menunda pensiunnya. Tak sia-sia. Dengan kehadiran Brawn dan Byrne ditambah tangan dingin Jean Todt, Ferrari dan Michael Schumacher tak terkalahkan. Schumi sukses menambah lima gelar juara dunia yang direngkuhnya secara berturut-turut dari tahun 2000-2004. 

Di pertengahan musim balap 1999, Schumi sempat mengalami kecelakaan parah saat balapan di Silverstone, Inggris. Saat itu ia mengalami patah kaki dan karir balapnya hampir berakhir. Tapi ia beruntung. Ia berhasil diselamatkan. Bukan hanya nyawanya tapi juga karir balapnya. Bahkan usai pemulihan pasca kecelakaan di Silverstone ini, Schumi seperti mendapat energi baru. Terbukti di GP Malaysia, balapan pertamanya setelah kecelakaan di GP Inggris, Schumi tampil cemerlang dan sukses mengantarkan Ferrari meraih gelar dunia konstruktor. Tahun berikutnya, Schumi mengawali masa keemasannya bersama Ferrari. Ia tampil dominan dan meraih lima gelar dunia berturut-turut sebelum akhirnya pensiun di akhir musim 2006. 

Tiga tahun pensiun dari F1, ia sempat menjajal arena balap motor dan pada Februari 2009, ia mengalami kecelakaan motor di Spanyol yang mengakibatkannya mengalami cedera leher dan tulang belakang. Pulih dari cedera ini, Michael kembali ke ajang F1 bersama tim Mercedes yang dikomandani Ross Brawn. Sayang ia tak meraih kesuksesan seperti di masa paruh pertama karir F1-nya. Akhirnya setelah tiga tahun bersama Mercedes, ia memutuskan pensiun di akhir musim 2012 setelah hanya sempat meraih satu kali podium. Di sesi kualifikasi GP Monaco tahun lalu, Schumi sempat mencatat waktu tercepat dan meraih pole position, sayangnya karena kecelakaan di balapan sebelumnya, ia terkena penalti sehingga posisi polenya harus melayang begitu saja.

Salah satu dokter yang sangat berperan dalam kesembuhannya dari kecelakaan di GP Inggris itu adalah Professor Gerard Saillant. Ia dokter ahli bedah otak dan cedera tulang belakang. Sejak itu Michael dan Professor Saillant bersahabat. Professor Saillant juga turut berperan dalam pemulihan cedera leher dan tulang belakang tersebut. 

Saat Michael mengalami kecelakaan di resort ski Meribel, hari Minggu kemarin, Professor Gerard Saillant langsung dikabari dan terus memantau perkembangannya. Bahkan kabarnya Professor Gerard Saillant-lah yang memerintahkan membawa Michael ke Grenoble. Kehadiran Professor Gerard Saillant ini pula yang membuat pers menyadari bahwa kondisi Schumi benar-benar kritis. 

Kepada pers yang senantiasa menunggu perkembangan kondisi Schumi, Professor Saillant menyatakan, "(dalam) Kecelakaan semacam ini, untung usianya 45 tahun (tanggal 3 Januari nanti, Schumi akan berulangtahun yang ke-45), yang mana (jauh) lebih baik (untuk pulih) dibanding bila usianya lebih tua."

Sabine Kehm, juru bicara Michael Schumacher kepada media menegaskan bahwa saat kecelakaan itu, Michael mengenakan helm dan tidak sendirian. Hal mana sedikit membantu sehingga saat mengalami kecelakaan itu, Michael segera mendapat perawatan dan pertolongan pertama. 

Michael saat ini ditangani oleh tim dokter ahli yang dikepalai oleh Professor Stephane Chabarde, dokter ahli bedah otak dan Professor Jean - Francois Payen, Dokter Kepala Anestesi. 

Menurut Profesor Payen, kondisi Michael yang saat kecelakaan mengenakan helm ini juga sedikit membantu. "Tanpa helm (itu), ia tidak akan berada di sini sekarang," demikian pernyataan Professor Payen. Namun Professor Payen menolak menjelaskan efek yang akan terjadi pasca operasi ini. Ia hanya menegaskan bahwa tim dokter bekerja keras jam-demi-jam untuk memulihkan Schumi. 

Kondisinya yang fit, bukan rahasia umum, meski Michael sudah pensiun dari dunia balap tapi ia masih menjaga tubuhnya tetap fit, bahkan dari catatan waktu Hamilton, yang menggantikannya di tim Mercedes yang tak beda dengan Michael saat tiga tahun membalap untuk tim tersebut memperlihatkan betapa fit-nya Michael Schumacher bahkan untuk orang seusianya. Kondisinya yang fit ini dianggap tim dokter yang menanganinya akan sangat membantunya untuk pulih dari krisis ini.

Setelah kabar kecelakaan ski yang dialami Michael Schumacher diiringi berita kondisinya yang masih kritis. Sejumlah komentar yang intinya berisi doa dan harapan agar Michael Schumacher segera pulih ramai menghiasi media sosial. Sejumlah mantan pebalap, yang sempat menjadi pesaingnya, pebalap yang masih aktif saat ini, komunitas F1 hingga para fansnya ramai mengungkapkan keprihatinan dan doa untuknya. Salah satunya adalah Martin Brundle, mantan rekan setimnya di Benetton pada tahun 1992 dan 1993 yang dalam akun twitternya mengatakan, "Come on Michael, give us one of those race stints at pure qualifying pace to win through, like you used to. You can do it."

"Come on Michael, give us one of those race stints at pure qualifying pace to win through, like you used to. You can do it."

Sepanjang karir balapnya di F1, Michael Schumacher dikenal sebagai pebalap yang sangat disiplin dan memiliki semangat juang yang sangat tinggi dan pantang menyerah. Semangat juang Michael inilah yang diharapkan oleh banyak pihak yang bisa membawa Michael melewati masa kritis dan segera pulih. 

Rob Smedley, engineer Ferrari merupakan salah satu yang mengungkapkan harapannya semoga semangat juang Michael yang tak pernah menyerah meraih kemenangan berhasil mengatasi masa kritisnya saat ini. 

"What he represented was the fight, the spirit and the absolute determination to win. Second was never good enough. He pushed everyone else along, and that's what's giving me a lot of hope right now. He's lying in a hospital bed in Grenoble and he needs that fighting spirit to pull through." 

Aku jadi teringat, dalam sebuah artikel, rasanya aku pernah membaca bahwa Michael Schumacher yang bersama istrinya, Corinna Betsch dan dua anak mereka, Gina Maria dan Mick, tinggal di Swiss, selain menyukai olahraga balap juga gemar bermain ski. Rasa-rasanya pula, aku pernah membaca dalam sebuah wawancaranya, Michael sempat ditanya apakah putranya, Mick akan mengikuti jejaknya menjadi pebalap F1. Waktu itu Michael agak tertegun sejenak sebelum akhirnya menjawab. Ia menyatakan bahwa ia tak berharap putranya mengikuti jejaknya menjadi pebalap F1 karena tak ingin putranya hidup sengsara dalam bayang-bayang nama besarnya. Ia banyak melihat beberapa rivalnya, yang merupakan putra pebalap hebat begitu kesulitan membuktikan diri dan keluar dari bayang-bayang nama besar ayah mereka. Itu pula agaknya yang membuatnya lebih suka anaknya memilih olahraga yang lain, meski ia tak bisa mengelak dan akan membiarkan bila ternyata putranya nanti akan memilih karir yang sama dengannya. Sambil tertawa ia menambahkan bahwa putranya sangat hebat bermain ski dan bahkan ia sendiri kalah dari putranya. 

Namun aku seperti banyak fans dan orang-orang dekat Michael Schumacher, berharap Michael tidak akan kalah dalam pertempurannya kali ini untuk tetap hidup. Satu hal yang membuatku begitu mengagumi Michael Schumacher dan membawaku menyukai F1 (tapi sejak pensiun Michael yang kedua kalinya tahun lalu setelah tiga tahun yang tak mengesankan bersama tim Mercedes, kesukaanku pada F1 ikut menguap, karena bagiku F1 tanpa Michael Schumacher takkan pernah sama lagi) adalah semangat juangnya yang pantang menyerah. Ia suka membawa dirinya melewati titik batas yang bahkan tak bisa dibayangkan seorang manusia pun. Walau bagi sebagian orang, Michael dianggap egois dan arogan tapi sesungguhnyalah tak ada yang bisa menampik bahwa Michael Schumacher adalah juara sejati. Dalam keadaan seburuk apapun, ia tak pernah menjelekkan timnya. Seburuk apapun mobilnya, ia mencoba memahaminya dan membawa mobilnya mencapai garis finish. Tak pernah ia mengeluarkan komentar yang akan menurunkan semangat timnya, karena ia tahu, kesuksesan itu tak bisa digapainya seorang diri. Itu pula sebabnya, semua orang yang pernah bekerja bersamanya sangat menghormatinya. 

Saat ia tersandung masalah team order di GP Austria hingga membuatnya jadi bulan-bulanan publik yang seolah menggambarkannya sebagai sosok ambisius egois yang suka mengorbankan orang lain. Publik seolah lupa kalau F1 adalah olahraga tim dan team order dalam olahraga ini adalah kemutlakan demi kesuksesan tim. Michael bukanlah orang pertama yang menikmati tim order ini, bahkan Michael pun pernah pula harus mendukung rekan setimnya untuk meraih gelar dunia. Eddie Irvine di musim 1999 tengah bersaing ketat dengan Mika Hakkinen. Di GP Malaysia, usai pulih dari cederanya akibat kecelakaan hebat di Silverstone, pertengahan musim itu, Michael memainkan peran sebagai pebalap pelapis terbaik di dunia. Ia membantu Irvine meraih kemenangan dan membuat Hakkinen frustasi. Sayangnya di akhir musim Irvine tak bisa meraih gelar dunia idamannya. Mengenai hal ini, Irvine mengungkapkan keberuntungannya memiliki rekan tim seperti Michael. Ia juga menegaskan betapa banyak dukungan dari Michael Schumacher sementara ia tak memberi sebanyak yang diberikan Michael. 

"To be honest, I could never have given him the same support, he (Schumi) helped me more than any other driver could have done."

Michael Schumacher hingga saat ini dianggap masih merupakan pebalap F1 tersukses. Rekor juara dunianya yang mencapai tujuh kali masih belum dilampaui siapapun. Sepanjang karir balapnya di F1 ia telah meraih 91 kemenangan, menjalani 303 balapan dengan 155 kali berdiri di atas podium. Podium terakhirnya adalah di GP Eropa tahun lalu.

Michael telah banyak menjalani balapan paling sulit dan keras dan kebanyakan di antaranya berhasil diatasinya. Dan kali ini Michael tengah melalui lintasan paling sulit dalam hidupnya dan kuharap Michael berhasil mengatasinya. Seperti ketika tengah menyaksikannya berlaga di atas sirkuit, aku selalu berdoa ia bisa mengatasi semuanya dan memenangi balapan, begitu pula kali ini. I crossed my finger, pray for him and hope he will get through this and win the battle. Please, Michael, do not ever give up! Keep fighting and get the victory like you always to do!

Selasa, 27 November 2012

The Lucky Number Seven

Bagi kebanyakan orang angka tujuh mungkin bukanlah suatu hal yg istimewa. Tujuh hanyalah sebuah bilangan dari deretan angka. Tapi bagi seorang Michael Schumacher, tujuh bagaikan sebuah takdir. Sebentuk bilangan yang menjadi rentetan angka menakjubkan dalam catatan statistik karir balapnya.

Berikut adalah beberapa hal seputar angka tujuh dalam rangkaian prestasinya di ajang balap Formula One yang kini menjadi sebuah legenda.

- 7 gelar dunia Formula One. Di luar semua kontroversi, pro-kontra, bagaimanapun 7 gelar dunia pebalap merupakan catatan rekor spektakuler yang pastinya membutuhkan kerja keras, disiplin, kemampuan/skill individu, determinasi, dan semangat pantang menyerah khas seorang juara sejati.

- 77 fastest lap. Sebagai pebalap tersukses F1, sulit rasanya menisbikan bakat istimewa seorang Michael Schumacher. Sejarahlah yang telah membuktikan bahwa Michael Schumacher memang merupakan pebalap yang sangat kencang.

- 7UP, Jordan 191, Ford V8, Spa Francorchamps, Belgia 1991, race start: 7th
Rangkaian angka tujuh pertama dari sebuah legenda.

Seperti yang sudah menjadi rahasia umum, Michael Schumacher memulai debut F1-nya bersama tim Jordan di GP Belgia 1991.

Mengendarai Jordan 191 yang didukung mesin Ford V8, Michael berhasil memukau publik di sesi kualifikasi dengan meraih posisi start di p7. Sayangnya di balapan, Michael harus retire di lap pertama karena masalah dengan mobilnya.
Meski begitu Jordan 191 yang didominasi warna hijau dengan logo besar 7UP, sponsor utama Jordan bersama Fuji Film ini tetap memiliki tempat istimewa dalam hatinya.
"You never forget your first taste of F1," ujarnya mengenang mobil F1 pertamanya ini.

- Mild Seven, Benetton, Ford, Renault RS7, 1994 dan 1995.
Gelar dunia pertama dan keduanya (dari total 7 gelarnya) direbut bersama Benetton.

Tahun 1994 Benetton didukung mesin Ford Zetec V8, Michael sukses merebut gelar dunia pertamanya yang berhasil dipertahakannya di tahun 1995 masih bersama Benetton yang kali ini mempercayakan mesin Renault RS7 V10 sebagai dapur pacunya. Meski didukung dua pabrikan berbeda tapi baik B194 maupun B195 sama-sama didominasi warna biru dengan logo Mild Seven sebagai sponsor Benetton kala itu.

- 7 gelar dunia, 72 kemenangan bersama kuda jingkrak, Ferrari, 2000-2004
Masa keemasan Michael Schumacher dan Ferrari.

Setelah berkali-kali nyaris meraih gelar dunia ketiga (yang paling menyesakkan adalah pertarungan di musim 1997), dengan beragam momen-momen pahit juga manis, akhirnya Michael Schumacher mampu meraih lima gelar dunia beruntun sejak 2000-2004 bersama Ferrari yang menggenapkan total perolehan gelar dunianya menjadi 7 kali.

Selama sembilan tahun kebersamaan mereka, Michael Schumacher sukses melompat sebanyak tujuh puluh dua kali di atas podium utama bersama tim kuda jingkrak ini.

- Last Race: GP Brazil 2012, Interlagos, Sao Paolo, Mercedes, car no. 7.

Akhirnya setelah melalui 307 balapan sepanjang 21 tahun karirnya di F1, Michael tiba juga di titik perhentiannya di dunia olahraga yang dicintainya ini. Sirkuit Interlagos, Brazil menjadi sirkuit terakhir yang menyaksikan kepergian sang petarung tangguh ini menggenapkan jumlah startnya menjadi 308 balapan.

Masa tiga tahun comeback-nya ke F1 bersama Mercedes memang jauh dari harapan. Ia hanya mampu naik podium satu kali di Valencia usai finish ke-3 dan sempat meraih pole di Monaco 2012, sayangnya akibat insiden tabrakannya dengan Senna di Spanyol, maka Michael terkena penalti turun lima grid dari posisi pole saat start yang sekaligus juga mengandaskan harapannya meraih kemenangan bersama .Mercedes.

Walau Michael lebih banyak didera masalah dengan mobilnya, tapi aksi terakhirnya di Interlagos, Brazil hari Minggu kemarin memperlihatkan bahwa Michael Schumacher memang merupakan seorang petarung terbaik, jika bukan pebalap terbaik, seperti ucapan para pengkritiknya.

Start dari grid 13, selepas start Michael sempat melesat ke p11 tapi kemudian masuk pit mengganti ban yang membuat posisinya melorot ke urutan paling buncit. Belum lama berselang, Michael harus masuk pit lagi karena terkena puncture (hal yang persis sama terjadi di GP Brazil 2006 yang kala itu merupakan GP terakhirnya sebelum akhirnya ia memutuskan kembali ke F1 bersama Mercedes pada tahun 2010) dan membuatnya tetap berada di p20.

Tapi ia memperlihatkan semangat tempur khas seorang Michael Schumacher yang tak kenal menyerah. Perlahan tapi pasti posisinya terus merangsek naik. Sirkuit Interlagos yang terus menerus diguyur hujan merupakan, setting panggung terbaik bagi seorang bintang besar macam Michael Schumacher, Sang Rain Master, hingga akhirnya ia berhasil membawa mobil Mercedesnya dengan no. urut 7 ini menuju garis finish di urutan ke-7.

Entah apakah semua rentetan angka tujuh itu merupakan takdir atau tidak. Satu hal yang tak bisa dipungkiri, betapa ajaibnya semua rangkaian angka tujuh ini berperan dalam karir balap f1 seorang Michael Schumacher.

Berawal dari start ke-7 di atas mobil hijau dengan tulisan 7UP dan berakhir dengan finish di urutan ke-7 di atas mobil silver metalik dengan no. mobil 7.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Michael Schumacher Menuju Kemenangan Ke-92-nya di Spa Francorchamps

Sebulan lamanya deru hingar bingar Formula One sejenak terhenti walau berbagai kisah dari dunia balap paling spektakuler sedunia ini tetap berlangsung, tapi bagi penggemar F1 dan pelaku F1 sendiri tentunya yang paling berharga adalah pertarungan di sirkuit. Untungnya penantian itu akan segera berakhir. Seminggu lagi, tepatnya tanggal 2 September 2012, para pecinta dan pelaku F1 akan kembali berdenyut dan kali ini sirkuit Spa Francorchamps, Belgia yang mendapatkan kehormatan sebagai panggung utama bagi para bintang F1 memperlihatkan pesona mereka setelah sebulan lamanya mereka beristirahat, merevisi ulang kekuatan dan semangat tempur mereka. Hal yang benar-benar patut dinanti oleh para penggemar dunia balap jet darat.

Spa Francorchamps bukan hanya sirkuit kecintaan para pebalap F1 di mana kebanyakan pebalap F1 mengaku Spa Francorchamps merupakan salah satu sirkuit terbaik di dunia. Perpaduan antara keindahan pemandangan alam khas Eropa Barat dengan lay out sirkuit yang bukan hanya mampu memacu adrenalin tapi juga menguras seluruh skill individu para pebalap itu sendiri. Tapi bagi penggemar Michael Schumacher, Spa Francorchamps tentunya amat berkesan terlebih bagi sang juara dunia tujuh kali ini sendiri. 

Ada banyak kisah heroik dan manis bagi Michael Schumacher di sirkuit kebanggaan publik Belgia ini. Debut pertamanya, kemenangan pertamanya, gelar dunia dan berbagai kemenangan manis direngkuhnya di sirkuit ini. Tak heran bila Michael Schumacher mentahbiskan sirkuit Spa Francorchamps ini bagaikan "ruang tamu-nya" dan merupakan sirkuit nomor satu di dunia baginya.

Tahun ini Spa Francorchamps pun bersiap menjadi pelaku dan saksi sejarah baru bagi seorang Michael Schumacher. Tahun lalu di saat penampilannya tak terlalu mengesankan, Spa Francorchamps bagaikan titik balik bagi Schumi yang menandakan dua puluh tahun keikutsertaannya di balap F1. Sejak balapan di Belgia, perolehan poin Michael di paruh kedua musim balap tahun lalu melesat bahkan hampir mengungguli rekan setimnya. Tahun ini, Michael kembali berniat mengukir kembali kenangan manisnya bersama sirkuit Spa Francorchamps terlebih balapan di Belgia pekan depan akan menandai keikutsertaannya dalam balap F1 yang ke-300. Tak heran bila Michael berharap untuk tampil mengesankan di GP Belgia pekan depan.

Tahun lalu, Mercedes berhasil mengejewantahkan harapan Michael untuk tampil spektakuler di peringatan 20 tahun kiprahnya dalam dunia balap F1. Tahun ini Michael berharap Mercedes bisa kembali memenuhi harapannya itu dalam peringatan GP ke-300-nya. Bukan harapan kosong sebenarnnya, mengingat tipe high speed dari sirkuit Spa Francorchamps ini seharusnya amat cocok dengan mesin Mercedes.

"The fact that I will also take part in my 300th grand prix at Spa was somehow almost inevitable and we will have to celebrate it in the right way. I'm proud to be just the second driver in the history of the sport to reach this milestone and there's no question that we are looking to have a particularly nice weekend", ujar juara dunia tujuh kali ini seperti dilansir dari Autosport.

"We delivered a good performance in Spa last year; I'll be doing everything possible to drive a strong race," tegasnya.

Tahun ini meski penampilan Michael masih tak secemerlang seperti aksinya di babak pertama karir F1-nya, namun dengan finish ketiga yang diraihnya di GP Eropa, Valencia ditambah performa tim Mercedes yang sebenarnya jauh lebih baik dibanding dua tahun sebelumnya, meski di beberapa balapan terakhir performa Mercedes merosot jauh, semoga saja dengan masa cuti sebulan telah memberikan suntikan semangat baru bagi tim pabrikan asal Jerman yang bermarkas di Inggris ini sehingga mampu melakukan pengembangan dan terobosan baru di balapan GP Belgia nanti. 

Dua tahun terakhir ini kiprah Michael Schumacher memang tak terlalu cemerlang sehingga membuat pebalap-pebalap muda termasuk Sebastian Vettel mulai meremehkannya, tapi Michael Schumacher tetaplah Michael Schumacher. Sebagai seorang pejuang tulen, Michael Schumacher tak pernah berhenti kehilangan semangat juangnya. Asalkan timnya, Mercedes mampu memberikan senjata yang tepat maka dunia akan melihat kembali aksi memukau ayah dua orang anak ini.

Sebagai seorang penggemarnya, aku sendiri tak pernah berhenti berharap bahwa kilau bintang pujaan ini akan bersinar kembali seperti pertama kali ia memukauku dengan aksi spektakulernya. Dan kuharap Spa Francorchamps bersedia kembali menjadi panggung yang mampu memperlihatkan kilau bintang besar ini dan bila saja Mercedes mampu memberikan tunggangan sebaik saat di GP China (untuk Nico Rosberg, rekan setim Michael Schumacher), bukannya tak mungkin Spa Francorchamps akan kembali menorehkan sejarah baru bagi Michael Schumacher untuk meraih kemenangan ke-92-nya.

Selasa, 17 April 2012

Mercedes Road To The Top Podium

Musim balap F1 2012 baru melangsungkan tiga balapan namun ketiga balapan ini sukses menciptakan banyak kejutan yang menjadi perbincangan.

Mulai dari merosotnya penampilan Red Bull yang tahun lalu begitu mendominasi sampai soal perang kata antara sang juara dunia bertahan, Sebastian Vettel dari Red Bull dengan backmarker dari HRT, Narain Karthikeyan usai GP Malaysia yang basah diguyur hujan tapi suasana persaingan di sana justru panas bukan kepalang.

Namun yang sejak seri pertama di Australia, kontroversi rear wing W03 Mercedes-lah yang menarik perhatian.

Bagian sayap belakang Meredes ini bagi beberapa pihak khususnya Red Bull dan Lotus telah berulang kali melayangkan protes pada FIA sebagai regulator balapan F1 karena menilai design rear wing W03 ini menyalahi regulasi dan merupakan akal-akalan kubu Mercedes dalam mengatasi DRS sementara pihak Mercedes pun tak mau kalah dan tetap mempertahankan argumen mereka bahwa design sayap mobil mereka legal.

Panasnya perselisihan ini terus berlanjut. Merasa gerah dan jengkel, Brawn, bos tim Mercedes bahkan sempat balik menyerang mempersoalkan exhaust design Renault yang digunakan Red Bull dan Lotus, dua tim yang terbilang paling gigih melayangkan protes ke FIA soal endplate sayap belakang Mercedes.

Terlepas dari argumen masing-masing pihak, yang jelas penampilan Mercedes memang jauh lebih baik dibanding musim lalu.

Di dua seri awal yaitu di Melbourne, Australia dan Malaysia, Mercedes terus menarik perhatian terutama pada sesi latihan dan kualifikasi lewat Michael Schumacher yang akhirnya sukses meraih posisi start di deretan depan.

Pada kualifikasi GP Australia, Michael Schumacher sukses meraih P4 sedangkan di GP Malaysia, Schumi berhasil menyabet P3. Sayangnya penampilan gemilang tim Mercedes di sesi latihan bebas dan kualifikasi ini tak bisa berlanjut saat balapan.

Di GP Australia, langkah Michael Schumacher harus terhenti di lap 10 akibat masalah girboks. Hasil yang sangat mengecewakan. Padahal saat itu Michael tengah berada di P3 berkat startnya yang bagus dan berhasil merebut P3 dari pebalap Lotus, Romain Grosjean, dan kala itu tengah menahan gempuran Vettel.

An unfortunated end, demikian komentar Schumi soal masalah girboks yang menghempaskan kesempatannya untuk meraih podium pertamanya sejak ia kembali ke arena F1 tahun 2010 silam.

Ketidakberuntungan ini rupanya tak berhenti di Melborne karena pada race selanjutnya di Malaysia, Mercedes lagi-lagi seperti kehilangan tajinya dan tak segarang seperti di babak latihan bebas dan kualifikasi.

Di Sepang, Malaysia, Michael Schumaher meraih P3 di babak kualifikasi. Posisi start terbaik yang berhasil diraih Schumi sejak comeback-nya.

Tentu saja posisi ketiga yang diraih Michael ini menerbitkan harapan besar bagi kubu Mercedes untuk meraih kemenangan pertama mereka dan juga sekaligus kemenangan Michael sejak comeback-nya.

Sayangnya harapan itu kembali harus kandas. Jika di Australia, mobil mereka terlalu kepanasan, maka di Malaysia adalah yang sebaliknya.

Hujan deras yang mengguyur sirkuit Sepang makin menyulitkan Mercedes. Beruntung Michael Schumacher menyelamatkan wajah Meredes walau ia hanya meraih satu poin sehingga Mercedes tak pulang engan tangan hampa. Kegagalan Mercedes di dua race ini memberi pe er ekstra untuk race selanjutnya di China. Atas penampilan buruk Mercedes di race, Brawn menyatakan semua itu akibat tyre degradation. Hal yang telah dikemukakan oleh Michael saat sesi latihan pra musim tapi ditampik keras oleh Brawn pada saat itu.

Jeda waktu tiga minggu ternyata benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Mercedes.

Di China kemarin Mercedes akhirnya bisa mengatasi kelemahan mereka di race mengimbangi keperkasaan mereka di sesi latihan bebas dan kualifikasi.

Pada babak latihan bebas Mercedes sudah tampil meyakinkan seperti biasa. Bahkan di sesi latihan bebas kedua, Michael Schumacher tampil sebagai pebalap tercepat mengalahkan McLaren. Sayangnya di sesi kualifikasi, Michael kalah kencang dari rekan setimnya dan meraih P3 namun dengan 5 grid penalty yang harus dijalani Hamilton, maka Michael mengisi front row di P2 bersama Rosberg, rekan setimnya.

Selepas start Rosberg langsung melesat di depan diikuti Michael dan Button yang berhasil menyodok ke P3.

Kedua pebalap Mercedes kali ini tampil sama baiknya dan keduanya berpeluang meraih kemenangan bahkan bisa finish 1-2 sayangnya kecerobohan kru pit Mercedes menodai kesempurnaan Mercedes kemarin.

Michael lebih dulu masuk pit dari rekan setimnya di lap 13 keluar dari pit, mobil Michael terlihat bermasalah, ia mulai melambat sebelum akhirnya memarkir mobilnya. Usut punya usut rupanya baut ban depan kanan mobilnya tak terpasang sempurna.

Balapan Michael terpaksa harus berakhir sementara rekan setimnya tampil mendominasi di Shanghai, China dan meraih kemenangan pertamanya sekaligus mewujudkan mimpi Mercedes. Kejadian historik baik untuk
Rosberg maupun Mercedes.

Kubu Mercedes diliputi kegembiraan yang meluap. Kecerobohan sang kru pit dan denda yang dijatuhkan oleh FIA pada Mercedes atas kelalaian di pit Michael itu pun seolah bukan masalah besar.

Mercedes larut dalam euforia. Menimbulkan tanda tanya di hati fans berat Schumi, apakah insiden pit itu benar-benar kecerobohan sang kru pit? Sebagai fans Schumi, memang menyedihkan melihat sad ending yang dialami jagoannya. Padahal di dua race sebelumnya, Michael yang berada lebih dekat dengan pole dan podium.

Mungkin Michael Schumacher bukanlah anak emas Mercedes walaupun ia telah menjadi bagian dari Mercedes sejak masa mudanya. Michael pasti kecewa karena gagal menjadi orang yang mampu memecahkan telur dan memberikan kemenangan pertama bagi Mercedes tapi semua itu bukan karena ketidakmampuannya melainkan lebih disebabkan oleh kecerobohan orang lain. Meski begitu sebagai profesional ia tetap bersikap tenang dan menyatakan tak marah atas kecerobohan kru pitnya.

Apapun itu race telah berakhir. Yang tersisa adalah masa depan. Semoga di race-race selanjutnya tak ada lagi kecerobohan semacam itu. Semoga pula paket sempurna Mercedes bukan hanya pada kesempurnaan w03 saja tapi juga pada kru pit yang memegang andil tak kalah pentingnya dari tunggangannya itu sendiri.

Minggu, 11 Maret 2012

Running to the Future

Michael Schumacher pebalap tersukses sepanjang sejarah Formula One. Tak ada yang bisa menampik pernyataan ini. Dengan sederetan rekor yang ditorehkannya dan hingga kini belum juga terpecahkan. Bahkan di usianya yang ke-43, Schumi menjadi pebalap tertua yang mengisi grid F1 tahun ini. Masalah usia inilah yang kerap disebut-sebut sebagai mundurnya performa Schumi selama dua tahun terakhir ini sejak kembalinya ia ke arena balap F1. Meskipun dalam berbagai kesempatan, Schumi lewat juru bicara-nya Sabine Kehm, menyatakan bahwa pebalap Jerman ini masih memiliki determinasi yang amat tinggi dan tak kalah fit dari pebalap-pebalap muda belia di arena tempur Formula One. 

Sepanjang karirnya di F1, bisa dibilang Schumi sudah kenyang dengan berbagai kritikan dan cercaan yang setara dengan pujian yang diterimanya. Hal yang normal terjadi pada orang-orang yang memang memiliki bakat istimewa seperti dirinya. Schumi memang seorang tokoh yang fenomenal. 

Tahun ini merupakan tahun terakhir dari masa kontrak tiga tahun antara Schumi dengan tim Mercedes. Masalah kontrak ini kerap kali menjadi bahan pembicaraan publik. Penampilannya selama dua tahun pertama masa kontraknya bersama Mercedes yang ternyata tak sesuai ekspektasi yang diembannya sebagai pebalap tersukses sepanjang sejarah Formula One kerap kali menimbulkan sentilan-sentilan yang terkadang kejam dan menusuk bahkan tak sedikit mantan rekan-rekan setimnya yang di masa lalu dilumatnya tanpa ampun angkat bicara, mengkritik performanya dan bahkan mengusulkannya untuk mundur saja dari F1 selamanya tanpa perlu menyelesaikan kontraknya dengan Mercedes berakhir. 

Tapi Schumi bukanlah Nigel Mansell yang saat comeback-nya ke F1 pada 1994 bersama tim lamanya, Williams, setelah memutuskan pensiun setelah meraih gelar juara dunianya pada tahun 1992 tak berjalan mulus, persis seperti yang Michael alami selama dua tahun ini, hingga membuat pebalap Inggris berjuluk “The Lion” itu frustasi dan akhirnya memilih mundur sebelum namanya sebagai juara dunia 1992 hancur lebur. Michael tak hirau soal kritikan, walau ia pun merasa kecewa dengan performanya sejak comeback-nya ke F1 yang memang tak sesuai harapannya. Tapi mundur begitu saja sebelum kontrak berakhir bukanlah tindakan seorang juara. Mundur begitu saja artinya lari dari tanggung jawab. Dan itu adalah tindakan pengecut! 

Buruknya performa bukanlah alasan untuk mundur. Bagi seorang juara sejati, buruknya performa seyogyanya disikapi dengan analisa mendalam dalam mencari kelemahan dan kelebihan setiap performanya. Mencari tahu di mana letak kelemahan itu dan terus melakukan perbaikan guna meraih hasil optimal. Karena Michael percaya sukses tidak datang dalam waktu semalam. Sukses adalah buah yang dihasilkan dari rangkaian kerja keras. Dan inilah kunci Michael Schumacher dalam menempatkan dirinya sebagai pebalap dengan rekor tujuh kali juara dunia, 91 kali kemenangan GP, dan 68 rekor pole position terbanyak. Semuanya bukan tercipta dalam waktu semalam! 

Tapi sayangnya, nama Michael Schumacher kerap merupakan jaminan mutu yang identik dengan kesuksesan. Karenanya belum berhasilnya Schumi dalam dua tahun masa comebacknya ke F1 ini dalam meraih podium membuat pebalap Jerman ini terus menjadi sasaran kritik berbagai pihak. Padahal seperti yang kerap diungkapkan Schumi dalam berbagai wawancara, sebenarnya bukan hanya publik, baik para penggemarnya maupun para pengkritiknya yang berharap bisa melihatnya lagi meraih kemenangan, dia sendiri pun berharap bisa kembali melompat di atas podium tertinggi Grand Prix Formula One! 

Di awal tahun ini, belum lagi gelaran GP dimulai, tapi soal kelangsungan Schumi bersama Mercedes sudah menjadi perbincangan mengingat tahun ini merupakan tahun terakhir masa kontraknya bersama Mercedes AMG. Tahun ini masalah kontrak ini pertama kali dikemukakan oleh Gerhard Berger yang pada 29 Januari 2012 lalu memperkirakan bahwa kontrak Schumi dengan Mercedes takkan diperpanjang yang diungkapkannya pada Auto Moto und Sport. Dan alasan yang dikemukakannya apalagi selain soal umur Schumi yang sudah kepala empat itu yang dianggapnya takkan bisa menandingi para pebalap muda belia. 

Seolah ingin membungkam Berger, di sesi ujicoba hari kedua di Jerez, Schumi tampil sebagai pebalap tercepat dengan 1:18.561, padahal ia menggunakan mobil Mercedes spec tahun lalu, W02 sementara yang lainnya menggunakan mobil terbaru mereka kecuali Pedro de la Rosa dari HRT yang juga masih menggunakan mobil tahun lalu. Schumi yang dinilaii sudah uzur ini masih sanggup melahap 132 lap, tujuh lap lebih sedikit dari Heikki Kovalainen yang menjadi pebalap paling sibuk hari itu dengan menyelesaikan 139 lap untuk mengujicoba mobil tim barunya, Caterham. 

Issue soal kontrak Schumi dengan Mercedes AMG kembali mengemuka saat Dieter Zetsche, CEO Daimler, induk perusahaan Mercedes pada pertengahan Februari lalu menyatakan bahwa Schumi masih merupakan ikon dari dunia motor sport. 

“He (Michael Schumacher) is still the icon of motor sport, “ungkap Dieter Zetsche, CEO Daimler kepada dpa. Petinggi Daimler ini juga menyatakan bahwa kerjasama dengan Schumacher merupakan “attractive opportunity”. 

Pernyataan positif petinggi Daimler ini tentu saja menerbitkan berita bahwa kontrak Schumi dengan Mercedes diperpanjang. 

Issue soal perpanjangan kontrak antara Schumi dengan Mercedes makin mengemuka saat media terkenal Jerman, Bild menyampaikan pernyataan bos tim Mercedes, Ross Brawn mengenai kemungkinan diperpanjangnya kontrak antara Michael dengan Mercedes. 

“We are not talking to any other drivers at the moment and I assume that he is not negotiating with other teams,” demikian pernyataan Brawn seperti yang dilansir dari media Jerman, Bild. 

“If Michael is still having fun while bringing in the results that we expect, then why not? I think after five or six races it will be obvious in which direction we are heading. He has certainly not said that he is toying with the idea to stop,” lanjut Brawn lagi yang makin memperkuat kemungkinan kontrak Schumi dengan Mercedes tidak berakhir di tahun ini. 

Menurut beberapa berita di Jerman, tim asal Jerman yang markas besarnya di Brackley, Inggris ini menawari perpanjangan kontrak dua tahun kepada Schumi yang artinya juara dunia tujuh kali ini masih akan membalap untuk tim Mercedes hingga akhir tahun 2014. Berita yang menerbitkan harapan dan sukacita dalam hati kaum loyalis Michael Schumacher. Betapa tidak, tentunya para penggemar Schumi tak ingin melihat jagoannya ini meninggalkan Formula One untuk kedua kalinya dengan kegagalan besar yang akan menodai catatan kesuksesannya selama ini, bahkan tanpa sempat satu kalipun sempat mencicipi kembali sampanye di podium tertinggi GP Formula One. Tidakkah ini akan menjadi akhir tragis bagi seorang Michael Schumacher? 

Tapi dengan teganya, beberapa hari kemudian, muncul berita pernyataan Brawn yang menepis berita soal diperpanjangnya kontrak antara Michael dengan Mercedes. 

“There’s nothing on the table like that at the moment but we’re open minded,” tegas Brawn pada Sky Sports menampik berita soal Mercedes telah memperpanjang kontrak dengan Michael Schumacher untuk dua tahun ke depan. “We don’t have other plans for drivers,” ungkap Brawn lagi membuat gemas fans setia Schumi yang amat berharap Mercedes bersedia memperpanjang kontrak dengan Schumi. Dalam media yang sama, Brawn menyatakan ingin melihat dulu apa yang terjadi tahun ini baru kemudian membahas soal kontrak itu sambil menambahkan ia berharap tahun ini bisa berjalan lebih baik dan mereka bisa memetik hasil yang lebih bagus sehingga baik Schumi maupun Mercedes bisa sama-sama puas untuk melanjutkan kembali kerjasama mereka. 

“We’ll see what happens this year then talk about it. I hope it goes well because that means we’ll be having good results and I think we’d both be happy to continue.” 

Terlepas soal issue kontrak antara Schumi dengan Mercedes dan masalah penampilan Schumi selama dua tahun terakhir ini, tapi nama besar Schumi masih tetap menarik minat terutama bagi supremo F1, Bernie Ecclestone yang berharap Schumi bisa berada di tim yang lebih bagus dengan mobil yang jauh lebih hebat yang sesuai dengan bakat dan nama besarnya selama ini. Dan saat ini tim dan mobil yang memenuhi syarat itu adalah Red Bull, dan rekan setim yang dinilai Ecclestone cocok bersanding dengan juara dunia tujuh kali ini tak lain tak bukan adalah rekan setim Schumi di ajang Race of Champions, sang juara dunia dua kali, Sebastian Vettel. 

Sudah seringkali supremo F1 ini mengungkapkan imajinasinya akan tim impiannya dimana Schumi dan Vettel berada di tim yang sama, Red Bull dan saling bersaing dengan mobil yang sama untuk melihat siapakah yang terbaik di antara dua pebalap Jerman beda generasi ini. Dan impian Ecclestone ini kembali menguak pada akhir Februari silam. 

“Bukankah lebih bagus kalau ia (maksudnya Michael Schumacher-red pindah ke Red Bull Racing)?,” ujar Ecclestone pada Reuters, “Saya ingin melihatnya berada di mobil yang bagus (dan) saya ingin melihatnya ada di mobil kedua Red Bull (bersaing dengan Vettel sebagai rekan setim). Saya rasa Sebastian (Vettel) tidak akan keberatan,” lanjut tokoh kunci yang sukses meramu Formula One menjadi tontonan olahraga motorsport paling spektakuler seperti saat ini. 

Tentu saja pendapat bos perhelatan F1 ini bukan tanpa alasan. Baik Schumi dan Vettel sama-sama dikenal cukup lama bersanding sebagai rekan setim membela tim Jerman di ajang Race of Champions sementara di F1 keduanya bersaing satu sama lain di tim yang berbeda, tapi dalam kondisi dan kapasitas mobil yang berbeda. Dan bila saja Schumi berada di tim yang bagus dengan mobil yang hebat, maka bila Schumi masih juga tidak berhasil meraih kemenangan, maka itu adalah murni karena kegagalan pribadinya dan bukan karena mobilnya, demikian kakek gaek yang dengan kecerdasan dan bakat bisnisnya telah meraup triliunan dolar selama menjadi bos utama perhelatan F1 ini mengemukakan opininya. 

Semua orang berhak mengemukakan opini pribadinya. Sang bos F1 pun sah-sah saja mengungkapkan tim impiannya. Semua kritikan maupun pujian yang ditujukan bagi Michael Schumacher tak lain tak bukan karena Michael Schumacher adalah sosok istimewa. Sedikit dari miliaran penduduk bumi yang memiliki kemampuan istimewa sebagai seorang mega bintang. Bahkan dibalik kritikan yang ditujukan para anti Schumi pun sebenarnya menunjukkan bahwa mereka pun tertarik pada seorang Michael Schumacher. Karena tanpa sesuatu yang bernama ketertarikan, mustahil seseorang membahas sesuatu itu yang dalam hal ini adalah Michael Schumacher. Dan bukannya tak mungkin bila para pengkritik Michael itu sebenarnya juga sangat merindukan Michael Schumacher bisa berada kembali di podium utama Formula One. Hal yang bukan hanya merupakan kerinduan para fans Schumi tapi juga merupakan harapan utama sang bintang itu sendiri yakni Michael Schumacher seperti yang diungkapkan juara dunia tujuh kali ini ketika ditanya apakah ia masih yakin bisa meraih gelar kedelapannya? 

“Absolutely. I’m still around to fight for the championship. Whether we can or cannot do that is something to be proven this year-or whenever,” tegas sang juara dunia tujuh kali ini. 

Senin, 05 Maret 2012

Run to You

Empat bulan sudah para fans Formula One menunggu musim balap F1 kembali bergulir. Setelah balapan terakhir di Brazil pada 27 November 2011 lalu, kini fans F1 kembali disuguhkan dinamika F1 yang mulai bergeliat lagi dengan diawali oleh sesi ujicoba pra musim balap 2012.

Sesi ujicoba diawali di Jerez selama 4 hari dimulai dari tanggal 7 Februari sampai 10 Februari. Seiring dengan dimulainya sesi ujicoba, banyak tim melakukan launch kendaraan tempur mereka untuk musim ini di awal bulan Februari yang lalu, tapi tiga tim yakni Mercedes, HRT, dan Maurisia tidak ikut-ikutan latah merilis mobil mereka di awal bulan lalu. Di antara ketiga tim ini hanya Mercedes-lah yang terbilang tim besar dan merupakan tim papan atas yang belakangan merilis tunggangan terbaru mereka bertajuk W03 pada tanggal 21 Februari 2011 bertepatan dengan sesi ujicoba kedua yang dilaksanakan di Barcelona.

Tak ayal penundaan Mercedes yang mulai tahun 2013 menyandang nama baru: Mercedes AMG Petronas F1 Team merilis mobil barunya menimbulkan banyak spekulasi di sekitar paddock. Bahkan Adrian Newey, engineer jenius yang sukses mengantarkan Red Bull dan Sebastian Vettel meraih gelar dunia ganda mereka sejak tahun 2011 hingga 2012 silam menduga bahwa Mercedes menyembunyikan sesuatu agar tak bisa langsung ditiru oleh lawan-lawannya. Gosip santer beredar bahwa front nose tunggangan baru Mercedes mungkin amat fenomenal sehingga tim Jerman ini memilih menunda waktu perilisan mobil baru mereka.

 Issue ini makin diperkuat dengan performa cemerlang tim Mercedes AMG di Jerez di mana Schumi berhasil mencatat waktu tercepat pada hari kedua ujicoba dengan 1:18.561. Hari itu Michael menjadi orang tersibuk kedua setelah Kovalainen yang melahap 139 lap, sementara Michael mengitari sirkuit sebanyak 132 kali untuk mengujicoba kinerja ban soft dan hard Pirelli. Michael dikonsentrasikan mengujicoba ban baru Pirelli sebagai persiapan untuk debut mobil baru mereka pada sesi ujicoba di Barcelona.

 Hasil gemilang Michael diikuti oleh rekan setimnya, Rosberg sehari kemudian yang tampil menjadi pebalap terkencang. Padahal di ujicoba itu mereka masih menggunakan mobil spec tahun lalu, W02, sehingga gossip bahwa desain mobil baru Mercedes W03 bisa jadi merupakan terobosan spektakuler yang mungkin akan membungkam lawan-lawannya di tahun ini.

Rasa penasaran publik juga lawan-lawan Mercedes akhirnya terjawab sudah saat Mercedes merilis tunggangan terbaru mereka, W03 pada 21 Februari 2011, tepat di hari pertama sesi ujicoba di Barcelona, Spanyol. Michael Schumacher mendapat kehormatan menjajal mobil terbaru tim asal Jerman ini pada hari pertama ujicoba di Barcelona. Sebelumnya, kedua pebalap ini sudah mencoba tunggangan terbaru mereka dalam sesi ujicoba pribadi di Silverstone selama dua minggu yang mana mobil baru mereka ini menempuh jarak sepanjang 350 km.

Meskipun sepanjang karir F1-nya yang panjang dan telah berkali-kali melihat mobil baru bahkan di antaranya amat spektakuler, tapi Schumi tetap memperlihatkan antusiasme seperti saat pertama kali ketika penutup mobil baru Mercedes dibuka.

“I have done quite a few roll-outs and launches of new cars, but even after all these years, I must say it still feels special. Days like this are precious moments, as they are always filled with hope and anticipation,” ujar Michael saat peluncuran mobil baru-nya, W03.

Schumi menyambut positif tunggangan barunya. Setelah menjajal mobil barunya dalam sesi ujicoba tertutup di Silverston, Michael menyatakan tunggangan Mercedes yang baru memberikan feedback dan sensasi yang bagus.

“Already last week, when we were driving the F1 W03 for the first time, it instantly gave us good feedback and sensations.”

W03 merupakan harapan baru bagi Michael yang kontraknya dengan Mercedes akan berakhir tahun ini dan sampai sekarang masih belum ada kejelasan mengenai kelangsungannya di tim ini, untuk kembali tampil cemerlang setelah di dua tahun comeback-nya ke F1 bersama Mercedes tak berjalan sesuai harapan. Dalam acara launching mobil barunya, W03, Schumi menyatakan bahwa ia siap untuk bertempur kembali di tahun ini.

“Obviously, we will only see over the next couple of weeks how big the step is that we have made, but I can say already that the guys and girls back in the factories at Brackley and Brixworth were brilliant in putting in so much effort, and we can only say a big thank you them.
“I know which reward they would like, and we will definitely try to deliver it. For my part, I am eager to fight again, looking forward to the new season, and I can’t wait for it to begin.”
Pada debut W03 di depan public, Schumi hanya menjalani 51 lap dan mencatat waktu tercepat ke-enam. Di hari pertama penampilan W03 diwarnai oleh masalah hidrolik, meski begitu Schumi tetap menanggapi positif penampilan baru mobilnya ini yang menurutnya memiliki potensi yang bagus. Selama empat hari ujicoba mobil barunya, inilah pertama kalinya tim mengalami masalah hidrolik.

”Reasonably positive. It is the fourth day we are in the car and it’s the first time we had a little issue with the hydraulics. It has good potential. I had a good feeling inside the car. It’s difficult to say what the feeling is worth because of the rule changes, but the potential is good,” ujar Michael Schumacher.

Di hari ketiga sesi ujicoba di Barcelona, Schumacher berhasil menyelesaikan 127 lap yang setara dengan jarak 592 km sehingga total jarak tempuh yang sudah dilakukan W03 adalah 1756 km. Di sesi ini focus ujicoba yang dilakukan Michael masih tetap berkonsentrasi pada ban kompon soft dan hard Pirelli. Schumi juga sukses menyelesaikan race simulasi F1 untuk mobil terbarunya W03 lengkap dengan bagian pit stopnya. Schumi sempat mencatat waktu tercepat dengan 1:23.384 tapi menjelang bagian akhir sesi ujicoba, Pastor Maldonado dari Williams mematahkan catatan waktu Schumi dengan 1:22.391 dan menempatkannya di urutan pertama.

Pada pekan ini, sesi ujicoba pra musim kembali digelar di Barcelona yang akan berlangsung selama empat hari sejak tanggal 1 Maret silam dan akan berakhir pada hari Minggu, 4 Maret. Rosberg akan mengujicoba mobil di hari pertama dan ketiga sementara Michael Schumacher mendapat kesempatan di hari kedua dan keempat.

Hari kedua ujicoba Barcelona, 2 Maret 2012. Pada pagi hari sesi ujicoba, Michael menyelesaikan 19 lap tapi W03 Michael masih didera masalah degradasi ban bahkan Michael sampai menyebabkan red flag dikibarkan dua kali. Tapi siangnya, penampilan W03 Michael mengalami perbaikan hingga ia bisa menyelesaikan total 79 lap yang setara dengan 368 km dengan catatan waktu terbaiknya 1:23.978 yang menempatkannya di urutan ke -8 di antara Nico Hulkenberg yang tahun ini naik pangkat menjadi pebalap reguler Force India menggantikan Adrian Sutil dan Lewis Hamilton dari McLaren.

Dengan adanya masalah tyre degradasi yang dialaminya ini, Schumi berharap timnya bisa segera menemukan solusi untuk mengatasi masalah ini sebelum tampil di balapan pembuka musim di Australia dua pekan mendatang.

Michael akan kembali mengujicoba W03 di hari terakhir sesi ujicoba di Barcelona sebelum seluruh tim F1 bersiap untuk bertempur di race perdana musim 2013 yang akan berlangsung di Melbourne, Australia tanggal 18 Maret 2011 nanti.

Di sesi ujicoba hari terakhir di Barcelona pada hari Minggu kemarin, meski masih mengalami tyre degradation yang membuatnya kehilangan waktu sebanyak 3.3 dan 3.7 detik sementara Lotus-nya Kimi Raikkonen yang memuncaki sesi latihan bebas hari terakhir, kemarin hanya kehilangan waktu 2.5 detik di stint yang lebih panjang dengan menggunakan kompon ban yang sama.

Catatan waktu yang ditorehkan Michael, 1:22.939 menempatkannya di urutan ke-8. Meski sebelumnya, Schumi sempat mengatakan bahwa tyre degradation ini harus segera dibenahi oleh tim sebelum race perdana di Australia nanti, tapi hari Minggu kemarin, Schumi menyatakan keyakinannya bahwa timnya saat ini tengah berada di posisi yang lebih kuat dibanding pada dua musim sebelumnya, walau mungkin masih sulit untuk menggeser posisi Red Bull yang mana menurutnya tim minuman energi ini masih sangat tangguh.

“I don’t think that’s possible for us to fight for first position,” ujar Michael Schumacher hari Minggu kemarin pada Autosport. “Already Red Bull is quite strong. It’s a separate thing to be first position. But after this it’s a pretty tight field. With this testing knowledge and not knowing everything in detail, and how much fuel people are running. It’s very difficult to assume and assess what that means,” lanjut Schumi mengenai peta kekuatan tim-tim lawan yang masih sulit diprediksi karena tak tahu berapa banyak bahan bakar yang dibawa tim-tim lainnya. Meski begitu, Schumi meyakini bahwa performa timnya tahun ini jauh lebih baik dibanding dua tahun sebelumnya dan tahun ini timnya memiliki persiapan yang jauh lebih baik.

“The good thing is that we’ve definitely worked on the car and improved it; it’s always a question of how much we’ve moved forward though. [Compared to the last two years], we’re certainly much better prepared.”

Keyakinan Michael ini pun diamini oleh bosnya, Ross Brawn yang menyatakan keyakinannya bahwa Mercedes tahun ini akan tampil lebih cemerlang dibanding dua tahun sebelumnya. Mengenai mobil baru Mercedes, W03, Brawn menyatakan bahwa W03 secara fundamental jauh lebih baik di segala area, sistem pendinginannya bekerja lebih baik yang artinya memudahkan para engineer tim ini bisa lebih fokus dalam mencari cara jitu dalam mengembangkan performa mereka dibanding tahun lalu.

Walaupun saat sesi ujicoba W03 masih didera tyre degradation tapi Brawn berpendapat bahwa itu bukanlah hal  yang serius. Menurutnya para pebalapnya harus bisa memahami balance mobil baru mereka ini dan berusaha mengurangi tyre degradation tersebut.

“I don’t think we have a core problem – I think we have a reasonable car in that respect and our race distance simulations are quite reasonable,” ujar Brawn.

“But what we are understanding is the sensitivity – things that we can do that change the level of degradation. The drivers are understanding the balance of the car they should try and have to reduce the degradation and I think it is how you translate what you learned have to what we are going to have between Melbourne and the first few races which will be the big challenge,” kata Brawn menanggapi soal issue tyre degradation.

Sekarang, sesi ujicoba pra musim sudah berakhir. Dua pekan mendatang, pertarungan kembali akan mulai bergulir, dan saat itulah waktunya pembuktian. Tim mana yang jauh lebih siap dibanding tim lain. Tim mana yang jauh lebih lihai dan cerdas dalam menembus celah regulasi FIA. Dan bagi para penggila F1, akhirnya bisa kembali melepas rindu menyaksikan aksi para jagoannya dan menikmati deru mesin F1 laksana musik terindah di dunia.

Sabtu, 10 Desember 2011

Schumacher & Vettel, Duet Lintas Generasi


Sejak Michael Schumacher kembali ke ajang balap Formula One pada 2010 silam, ia memang belum sempat lagi satu kali pun menginjak podium F1, meski timnya Mercedes GP yang pada tahun depan akan berganti nama menjadi Mercedes AMG, bukanlah tim sembarangan. Penampilan terbaik Schumacher bersama Mercedes sepanjang dua tahun ini adalah hasil finish ke-4 di GP Kanada tahun ini.

Berbanding terbalik dengan Schumacher, sementara itu pamor bintang baru Jerman, Sebastian Vettel tengah terang benderang. Keberhasilan Vettel mempertahankan gelar dunianya tahun ini untuk yang kedua kalinya menjadikannya pebalap pertama yang berhasil meraih dua gelar dunia berturut-turut sejak tahun 2006 yang diraih Fernando Alonso bersama Renault. Sejak tahun 2006 juara dunia Formula One terus berganti, diawali oleh Raikkonen pada tahun 2007, setahun berikutnya Hamilton yang menyabet gelar dan pada tahun 2009, Jenson Button bersama Brawn GP yang sukses meraih gelar dunia dari tangan Hamilton. 

Namun bagaimana bila dua juara dunia asal Jerman itu disatukan dalam satu tim? Hasilnya adalah kemenangan yang mereka raih di ajang RoC pada hari Sabtu, 3 Desember yang lalu untuk tim Jerman. Memang duet mereka di ajang RoC atau Race of Champions ini bukanlah kali pertama. Dan kemenangan mereka pada hari Sabtu lalu ini juga bukanlah yang pertama kalinya. Di ajang RoC awal Desember silam, Schumacher dan Vettel berhasil mempersembahkan gelar dunia RoC bagi tim Jerman untuk yang kelima kalinya. 

Race of Champions adalah ajang balap yang diikuti pebalap-pebalap dari berbagai ajang balap mobil. Untuk tahun 2011, ajang RoC yang digelar di Dusseldorf, Jerman ini setidaknya ada sembilan pebalap F1 yang ikut berpartisipasi di ajang ini. Selain Michael Schumacher dan Sebastian Vettel yang membela tim Jerman, tercatat pula nama Jenson Button yang mendukung tim Great Britain. Selain itu ada pula Romain Grosjean yang berpasangan dengan Sebastian Ogier membela tim Prancis. Bahkan terdapat pula pebalap veteran F1, David Coulthard. 

Duet pebalap Jerman ini berhasil melaju ke final setelah berhasil mengalahkan tim Inggris (Great Britain) yang diisi oleh Jenson Button dan Andy Priaulx. Saat melawan Button, Schumacher sempat kalah tapi kemudian Vettel berhasil menumbangkan Button setelah pebalap Inggris itu melintir yang mengantarkan tim Jerman melaju ke final menghadapi tim Nordic yang dipunggawai oleh Tom Kristensen dan Juho Hanninen dan sukses merebut gelar juara RoC bagi tim Jerman untuk kelima kalinya.

Kemenangan di RoC mungkin tak semeriah saat menjuarai ajang F1, tapi tetap saja kemenangan ini pastinya amat berarti, terlebih lawan-lawan mereka merupakan pebalap-pebalap yang berasal dari berbagai ajang balap mobil dan pastinya bukanlah pebalap sembarangan. 

Bagi Michael sendiri kemenangannya bersama Vettel di ajang RoC ini amat istimewa terlebih kemenangannya di RoC ini merupakan salah satu dari sedikit kemenangan yang diraihnya belakangan ini. Ia juga mengungkapkan Sebastian Vettel dan dirinya merupakan rekan setim yang klop dan bisa saling mendukung dan bekerja sama hingga akhirnya berhasil meraih kemenangan bagi tim nasional Jerman.

"It's always a pleasure for us to be here and especially to win it. Sebastian and I are good mates and we work well each other and help each other. In the end it worked out right for us," ujar Michael Schumacher usai meraih kemenangan.

"Unlike him (Sebastian Vettel), this is one of the few wins I've had this year- apart from a few in karts," lanjut juara dunia F1 tujuh kali ini.

"There are so many great drivers here and we are all good in our own area. So this is just a nice competition and the social moments that we get to spend together behind the scenes are very special."

Sehari setelah kemenangan beregu mereka, keduanya lalu kembali harus berhadapan di kategori perorangan. Bila sebelumnya mereka bertanding secara tim, di hari Minggu, mereka harus saling bertarung satu sama lain. Di babak perdelapan final, Michael Schumacher berhasil mengalahkan juniornya, Sebastian Vettel dan melaju ke babak semi final. Sayangnya langkah Schumacher untuk bisa menuju babak final terhenti setelah di babak semifinal ia dikalahkan oleh pebalap Le Mans, Tom Kristensen. Namun di babak final, Kristensen harus mengakui keunggulan pebalap Rally, Sebastian Ogier. 

Meski kalah dari Ogier tapi rupanya Kristensen tetap berbangga hati, karena ia berhasil mengalahkan dua pebalap Jerman, Schumacher dan Vettel di hadapan publik mereka sendiri. Dan bagi Kristensen bisa mengalahkan duo pebalap Jerman itu terlebih di tanah mereka sendiri merupakan pencapaian yang luar biasa baginya. "It's almost better than Christmas," seru Kristensen.

Gambar dipinjam dari : France24

Rabu, 17 Agustus 2011

Spa Francorchamps 2011, Akankah Michael Kembali Bersinar?

Sebagai fans berat Michael Schumacher tentu saja penampilan Michael Schumacher sejak dua tahun terakhir ini amat merisaukan. Di musim balap tahun ini, secercah harapan sempat muncul di GP Kanada saat melihat Michael Schumacher memperlihatkan kembali pesonanya seperti di masa lalu, harapan akan melihat kembalinya Super Schumi pun kembali menyeruak, tapi apa mau dikata, di race-race berikutnya, Schumi malah kembali mengalami kesulitan. Dewi Fortuna rupanya masih terlalu enggan menghampiri juara dunia tujuh kali ini. Serangkaian insiden kembali membuatnya keteteran hingga pebalap berumur 42 tahun yang telah meraih 91 kemenangan GP ini pun masih harus terus menelan pil pahit akibat bersinggungan dengan junior-juniornya. 

Meski Michael Schumacher masih belum memperlihatkan penampilan gemilangnya tapi sebagai salah satu fans-nya, aku hanya berharap Michael Schumacher bisa kembali tampil cemerlang, karena aku percaya Michael Schumacher masih memiliki pesona itu dan bakat membalapnya kurasa masih belum pudar meski usianya telah menua. 

Race selanjutnya akan digelar di sirkuit Spa Francorchamps, Belgia. Bila ditelusuri, sirkuit Spa Francorchamps ini bisa dibilang salah satu sirkuit keberuntungan Michael Schumacher. Begitu banyak memori manis diciptakan Michael Schumacher di sirkuit yang berpemandangan cantik ini. Debut F1-nya dimulai di sirkuit ini pada tahun 1991 bersama tim Jordan menggantikan Bertrand Gachot, yang harus mendekam di penjara Inggris atas penyerangan yang dilakukannya terhadap seorang supir taxi di London. 

Usai GP Belgia, nama tim Jordan menjadi headline berbagai surat kabar kala itu, mengulas aksi cemerlang pebalap baru asal Jerman, Michael Schumacher yang walau gagal finish karena mobilnya bermasalah namun sempat menarik perhatian saat ia meraih P7 saat sesi kualifikasi. 

Spa Francorchamps makin mengesankan bagi Michael Schumacher saat ia berhasil meraih kemenangan gp F1 pertamanya di sirkuit ini setahun setelah debutnya. 

Di GP Belgia 1992 Michael dengan Benetton-Ford-nya berhasil meraih kemenangan atas duo Williams, Nigel Mansell dan Riccardo Patrese. 

Namun yang paling mengesankan adalah aksi Michael Schumacher di GP Belgia 1995. Meski aksinya memblok Damon Hill terbilang kontroversial dan menjadi salah satu noda dalam karir balapnya yang cemerlang, tapi tak bisa dipungkiri, penampilannya di GP Belgia 1995 itu merupakan salah satu aksinya yang paling spektakuler. Ia memulai balapan dari grid 16 tapi berhasil meraih kemenangan mengalahkan Hill dan Brundle di atas sirkuit Spa Francorchamps yang basah oleh hujan. 

Memang hampir di semua sirkuit lama, Michael Schumacher mencatat rekor sebagai pebalap yang paling banyak menang, tak terkecuali di sirkuit Spa Francorchamps ini, di mana ia berhasil menorehkan 6 kali kemenangan mengalahkan rekor lima kali kemenangan Ayrton Senna di Spa Francorchamps. 

Mengingat banyaknya kenangan manis yang ditorehkan Michael Schumacher di Spa Francorchamps ini, maka tak berlebihan pula bila para penggemarnya berharap Spa Francorchamps di tahun 2011 ini bisa menjadi titik balik kembalinya sang legenda, Michael Schumacher yang sudah kerap kali menaklukkan sirkuit sepanjang 308.302 km ini. 

Sumber gambar dari : Autoweek

Schumacher Still Full Of Passion

Michael Schumacher akhirnya mengeluarkan pernyataannya, menanggapi rumor yang beredar bahwa ia akan meninggalkan F1 sebelum kontraknya dengan Mercedes GP berakhir tahun depan. Sebelumnya di awal bulan ini sempat muncul berita bahwa Michael Schumacher tengah mempertimbangkan kembali keberadaannya di tim Mercedes mengingat sejak 2 tahun kebersamannya dengan tim pabrikan Jerman ini ia gagal tampil cemerlang dan lebih sering finish di belakang rekan setimnya. 

Penampilannya yang jauh dari mengesankan bersama tim Mercedes ini beberapa kali menimbulkan spekulasi bahwa Michael tidak akan menyelesaikan kontraknya bersama Mercedes yang akan berakhir pada akhir tahun depan terlebih hingga kini Mercedes masih belum berhasil menciptakan mobil yang kompetitif.

Corriere dello Sport pada awal bulan ini memberitakan bahwa juara dunia tujuh kali ini merasa dirinya sebagai beban bagi tim Mercedes dan ia tengah mempertimbangkan apakah akan tetap bertahan atau meninggalkan F1.

Tapi berita ini langsung mendapat bantahan dari mantan jubir Michael yang kini menjadi tim manajemen pebalap yang telah meraih 91 kemenangan gp ini, menyatakan bahwa sejak kembali membalap di F1, Michael Schumacher tidak pernah melakukan wawancara dengan satu orang pun di Corriere dello Sport.

Kehm juga menegaskan bahwa berita yang dilansir media itu bohong belaka dan menegaskan Michael Schumacher masih tetap penuh semangat dalam melakukan tugasnya membalap untuk tim Mercedes.

"He is full of passion for the cause and continues to see the task of build something big at Mercedes as an exciting challenge," ujar Kehm pada media Jerman, Bild.

"The fact that sometimes it doesn't work only spurs him on. Someone who will soon celebrate their 20th anniversary in Formula One know that perseverance can make a difference," imbuh Kehm.

Pernyataan Kehm ini pun makin diperkuat oleh Michael Schumacher. Lewat situs resmi tim Mercedes, Michael Schumacher menegaskan bahwa ia akan tetap mengisi grid F1 tahun depan bersama Mercedes dan menganggap rumor seputar dirinya baru-baru ini merupakan rumor yang konyol dan tidak benar. 

"Despite some funny rumours and stupid untruthful stories, I keep repeating myself that you will have to see me in 2012, wheter you like it or don't like it," tegas Schumacher dalam wawancaranya dengan website Mercedes.

Meski Michael masih belum berhasil meraih podium bersama Mercedes namun ia menyatakan bahwa ia masih mendapat banyak dukungan terutama dari pabrikan dan timnya hingga memacunya untuk tetap bertahan.

Michael juga menegaskan bahwa ia masih cukup fit dan secara mental ia siap untuk tetap membalap. 

"I'm still fit enough. I'm mentally ready for it. And I like a challenge."

Michael Schumacher juga menyatakan prospek timnya, Mercedes GP dalam memperebutkan gelar dunia melawan tim-tim favorit macam Red Bull, dan Ferrari masih jauh dari jangkauan. Meski peluang timnya musim depan masih diragukan namun peluang timnya di musim depan pantas dinanti untuk melihat seberapa jauh pengembangan yang dilakukan tim.

Sumber gambar dari situs ini.

Sabtu, 16 Juli 2011

GP Jerman, Mercedes, dan Michael Schumacher

Michael bersama Ralf, adiknya dan Norbert Haug, vice president Mercedes sport

Setelah tampil mengesankan di Montreal, Kanada, ternyata dua balapan berikutnya tak terlalu menggembirakan untuk Michael Schumacher. Di Valencia, juara dunia tujuh kali ini kembali harus bertabrakan dengan Vitaly Petrov dan di Silverstone, Inggris, pekan lalu, Michael Schumacher yang tampil meyakinkan saat start dengan merebut P10 dari posisi start-nya di P13, lagi-lagi Michael harus mengalami nasib naas. Kali ini ia bersinggungan dengan Kamui Kobayashi. Akibatnya, Michael terkena penalty 10 detik. Penalti yang dinilai Michael terlalu berat karena dengan pelanggaran ringan yang dilakukannya, Michael mengaku remnya tak bekerja dengan baik sehingga ia tak bisa menghindari mobil Kobayashi hingga mengakibatkan keduanya bertabrakan dan membuat Michael terpaksa masuk pit untuk mengganti front nose mobilnya yang rusak, menurut Michael setidaknya drive through penalty sudah cukup baginya dan tak perlu ia sampai dikenai penalti 10 detik sehingga membuat posisinya melorot jauh, padahal Michael menilai setidaknya ia bisa merebut finish di urutan keempat atau kelima. Terlebih setelah pit pertamanya usai insiden tabrakannya dengan Kobayashi sekaligus ia memakai kesempatan itu untuk mengganti ban, sekeluarnya dari pit, Michael beberapa kali berhasil mencatat fastest lap, hasil ini memicu para pebalap lainnya untuk segera masuk pit juga mengganti ban intermediate mereka.

Michael akhirnya harus puas finish ke-9 dan meraih dua poin. Namun rupanya diffuser baru Mercedes yang mulai dipasang tim ini di GP Inggris, pekan silam memberikan harapan baru bagi kubu Mercedes dalam menghadapi balapan selanjutnya yang akan berlangsung di negeri mereka, Jerman, pekan yang akan datang. 

Dalam sejarah GP Jerman, Mercedes pernah tampil merajai sirkuit Nurburgring di masa sebelum perang dunia kedua, masa sebelum F1 yang baru dimulai pada tahun 1950. Pada balapan pra perang dunia kedua, Rudolf Caracciola, yang adalah juga pebalap Jerman merupakan pebalap yang paling banyak menangguk kesuksesan di GP Jerman. Pebalap Jerman yang di masa sebelum perang dunia kedua, sempat membalap dengan bendera bergambar swastika, lambang Nazi, pimpinan Hitler ini meraih enam kemenangan di GP Jerman dan enam di antaranya direbutnya bersama tim Mercedes-Benz. 

Sementara Mercedes-Benz sendiri sebelum perang dunia kedua merupakan kontruktor unggulan yang merajai GP Jerman dan berhasil merebut tujuh kemenangan. Namun tim konstruktor yang paling banyak meraup kemenangan di GP Jerman adalah Ferrari yang tercatat berhasil menorehkan dua puluh kali kemenangan. Sedangkan Mercedes hanya meraup delapan kali kemenangan. Tujuh kemenangan sebelum masa perang dunia kedua sementara satu kali lagi kemenangan atas nama Mercedes diraih pada tahun 1954 bersama Juan Manuel Fangio, sementara saat bertandem dengan McLaren, Mercedes sempat meraih dua kali kemenangan. Pada tahun 1998 bersama Mika Hakkinen, sedangkan yang kemenangan di GP Jerman terakhir diraih Mercedes bersama McLaren lewat Lewis Hamilton pada tahun 2008 silam.

Setelah perang dunia kedua, baik pebalap maupun pabrikan Jerman dilarang terlibat dalam balapan. Sirkuit Nurburgring yang biasa menggelar balapan pun tak lagi digunakan. GP Jerman kembali digelar pada thaun 1950 yang dimenangkan oleh Alberto Ascari bersama Ferrari. Ascari menjuarai GP Jerman tiga kali berturut-turut sejak tahun 1950 hingga 1952. 

Mercedes baru kembali meraih kemenangan di kandang mereka pada tahun 1954 lewat Juan Manuel Fangio sementara fastest lap dicatat oleh Karl Kling yang juga merupakan pebalap Mercedes. Setelah tahun 1954, Mercedes tak pernah lagi meraih kemenangan di negerinya sendiri. Sementara Fangio masih dua kali lagi meraih kemenangan di Jerman. Pada tahun 1956 Fangio meraih kemenangan bersama Ferrari, sementara pada tahun 1957 pebalap Argentina ini mencatat kemenangan untuk Maserati.

Bertahun-tahun lamanya, akhirnya Jerman kembali bisa menyaksikan pebalap mereka meraih kemenangan di negeri mereka sendiri. Dan ia adalah Michael Schumacher yang berhasil mengembalikan kejayaan pebalap Jerman di negerinya sendiri. Schumacher meraih kemenangan pertamanya di GP Jerman, yang kali ini digelar di Hockenheim, pada tahun 1995 lewat Benetton-Renault. Meski Michael Schumacher belum bisa menyamai 6 kali rekor kemenangan di GP Jerman seperti yang ditorehkan oleh Rudolf Caracciola, namun Michael Schumacher merupakan pebalap F1 yang paling banyak meraih kemenangan di GP Jerman, setelah masa perang dunia kedua. Ia menorehkan empat kali kemenangan dan semuanya ditorehkannya di sirkuit Hockenheim. Sementara kebanyakan pebalap lainnya, seperti Ascari, Fangio, Stewart, Piquet, dan Senna hanya mampu menorehkan tiga kali kemenangan saja. 

Kemenangan kedua Michael Schumacher di negerinya diraihnya pada tahun 2002 bersama Ferrari. Kiprah Michael Schumacher di negerinya sendiri memang terbilang cukup unik. Meski ia merupakan pebalap yang memiliki paket paling lengkap, tapi ia belum pernah berhasil mencatat hattrick di negerinya sendiri seperti yang pernah dilakukan oleh Ascari. 

Saat ia telah bergabung dengan Ferrari pada tahun 1996, Michael belum jua meraih kemenangan di tanah airnya. Malahan, rekan setimnya, Irvine dan Barrichello yang lebih dulu meraih kemenangan yakni pada tahun 1999 dan 2000. Pada tahun 2001 Ralf Schumacher, adik kandung Michael Schumacher berhasil meraih kemenangan pertamanya di tanah airnya. Setahun kemudian, barulah Michael Schumacher yang berhasil kembali menaikkan bendera Jerman di negeri mereka sendiri. Pada tahun 2004, Michael mengalami kesulitan dan hanya mampu meraih finish ke-7 sementara yang meraih kemenangan adalah Juan Pablo Montoya yang membalap untuk tim Williams-BMW, pabrikan saingan Mercedes.

Pada tahun 2004 dengan paket Ferrari-nya yang sempurna, Michael Schumacher kembali berhasil meraih kemenangan di depan publiknya sendiri. Setahun berikutnya, Michael dan Ferrari kepayahan akibat perang ban yang dimenangkan oleh tim-tim lawannya pengguna Michellin. Kemenangan terakhir Michael Schumacher di GP Jerman, diraihnya pada tahun 2006. 

Kini bersama Mercedes, Michael Schumacher masih belum juga tampil cemerlang kecuali di GP Kanada, yang merupakan penampilan terbaiknya sejak kembali ke arena F1, namun hingga kini Michael dan Mercedes belum pernah lagi meraih kemenangan. Tentunya hal ini merupakan motivasi paling kuat bagi mereka untuk tampil mengesankan di GP Jerman yang akan berlangsung pekan depan terlebih tim Mercedes makin optimis dengan diffuser baru mereka yang memperlihatkan hasil yang mengesankan di Silverstone, Inggris, pekan lalu. Optimisme ini diungkapkan oleh bos tim, Ross Brawn yang menilai positif perkembangan paket baru mobil mereka dengan sistem exhaust baru yang dipasang mereka di Silverstone dan berharap bisa memberikan kesempatan bagi kedua pebalap mereka tampil gemilang di hadapan publik mereka sendiri di Jerman nanti

"Our car showed positive signs of improvement with the new upgrade package and exhaust system in Silverstone, and we have been working hard since then to further enhance our understanding of its performance capabilities," ujar Brawn dalam preview tim.

"We are hopeful of continuing this progression and putting on a good performance next weekend, giving our drivers the opportunity to show what they can do in front of their own supporters."

Hal positif senada juga diungkapkan oleh Michael Schumacher yang berharap beberapa pengembangan yang telah dilakukan di Silverstone dengan sistem exhaust baru bisa bersinergi dengan ban sehingga bisa memenuhi harapan para pendukungnya.

"We saw some improvements over the Silverstone weekend with our new exhaust system, along with improvements to how we work with the tyres, so we go to the next race weekend with a good feeling added to our fighting spirit," ujar Schumacher.

"We definitely want to show our home crowds our best level of performance possible," imbuh juara dunia tujuh kali ini. 

Michael amat berharap perkembangan teknis terbaru yang dilakukan timnya bisa membuatnya tampil lebih baik, terlebih lagi tahun ini adalah kali pertama Michael akan melintasi tikungan yang dinamai dengan namanya sendiri yaitu tikungan 8 dan 9, jadi tentunya ia ingin sekali tampil kencang yang tentunya akan merupakan kebanggaan tersendiri bagi pebalap yang telah mengoleksi 91 kemenangan ini.

"It will be the first time that I race through the corner which is named after me (Turns 8 and 9), and obviously I would like to believe that this is not only making me proud, but also even faster."

Sumber gambar : worldcarfans

Rabu, 15 Juni 2011

Haug Memuji Penampilan Schumi di Kanada



Michael Schumacher is back?! Melihat aksi spektakuler Michael Schumacher di Kanada kemarin mungkin bisa dijadikan awal dari kembalinya Michael yang berhasil memperlihatkan kembali bakat istimewanya. Di atas trek basah sirkuuit Gilles Villeneuve, Michael Schumacher yang berada di P12 saat restart usai balapan sempat dihentikan hampir dua jam lamanya, seperti terbang hingga berhasil merambat ke P2. Bahkan aksinya saat menyalip Massa dan Kobayashi (yang selama ini dianggap seperti mimpi buruk-nya Schumi karena juara dunia tujuh kali ini kerap mengalami kesulitan saat menyalip pebalap Jepang ini) sekaligus di lap 51 untuk merebut P2 yang sayangnya gagal dipertahankannya hingga akhir race karena Mercedes W02-nya tak mampu mengimbangi kekuatan peranti DRS milik Button dan Webber.

Nama Michael Schumacher pun kembali muncul ke permukaan setelah sebelumnya juara dunia tujuh kali ini selalu dihujani kritik dan cemooh dari berbagai pihak karena penampilannya yang tak mengesankan sejak kembali ke ajang olahraga ini tahun lalu.

Menjadi Michael Schumacher memang tak mudah. Saat ia tampil luar biasa seperti kemarin, segala puja puji akan segera dilambungkan padanya tapi begitu penampilannya buruk, maka kritikan super pedas (lebih pedas dari cabe rawit paling seribu kilo) akan segera menghujamnya. Bahkan tak jarang mantan pebalap yang numpang tampil untuk mengkritiknya dan menyuruhnya untuk segera mundur. Tapi untungnya, Michael Schumacher yang sudah cukup kenyang dengan segala macam situasi seperti ini, bisa mengatasinya dengan tetap berkepala dingin dan tetap fokus pada apa yang ingin dicapainya.

Semua hujan kritik yang menderanya sejak tahun lalu akhirnya berhasil dibungkam Schumi di Kanada hari Minggu kemarin. Bahkan David Coulthard, mantan rekan setim Michael yang kini menjadi komentator tv, usai GP Turki sempat mengkritik Schumi dan menyuruhnya untuk segera pensiun, balik memberikan ucapan yang menyejukkan bagi Schumi saat mengomentari aksi sang juara dunia tujuh kali ini di Kanada.

Penampilan spektakuler Schumi di Kanada kemarin itu tentu saja mendapat respon positif dari vice president Mercedes, Norbert Haug. "This is what happens in sport - you can turns thing around quickly," ujar Haugh kepada Autosport mengomentari penampilan gemilang Schumacher di Montreal, Kanada yang beberapa minggu sebelumnya mendapat hujan kritik atas penampilannya di Turki.

Dalam kesempatan itu Haug juga mengemukakan bahwa di DTM, Ralf Schumacher yang merupakan adik kandung Michael, yang juga membalap untuk Mercedes sebelumnya mendapat kritikan tapi kini telah memetik hasil yang lebih baik.

Haug juga menegaskan bahwa timnya tengah melakukan pengembangan dan itu membutuhkan kerja sama semua pihak di dalam tim. Dan Michael akhirnya bisa memberikan penampilan terbaiknya dan jika saja tim bisa memberikan mobil yang tepat maka Michael pastinya akan mampu tampil cemerlang seperti yang diperlihatkannya di Kanada hari Minggu kemarin.

"Our team is composed, it stays together and everyone is helping each other. This was Michael at his best. It shows that he can do it, and that if we give him the right car he will deliver."

Peningkatan performa Michael dibanding tahun lalu belum lama ini menimbulkan spekulasi bahwa juara dunia tujuh kali ini akan memperpanjang kontraknya bersama Mercedes sehubungan dengan komentarnya mengenai pentingnya kontinuitas dalam meraih kesuksesan. Saat itu Michael mengungkapkan bahwa setidaknya dibutuhkan waktu tiga tahun untuk membuat sebuah tim menjadi sukses. Michael menyebutkan bahwa ia membutuhkan waktu 5 tahun bersama Ferrari sebelum akhirnya berhasil meraih gelar dunia pertamanya bersama tim Italia itu yang juga merupakan gelar dunia ketiganya karena sebelumnya, Michael telah meraih dua gelar dunia bersama Benetton sebelum bergabung di Ferrari pada tahun 1996.

Kontrak Michael sendiri dengan Mercedes hanya tiga tahun dan akan berakhir pada tahun 2013 yang akan datang.

Di Kanada kemarin dalam rangkaian GP Kanada yang baru saja usai itu, Schumi memberikan penjelasan atas interpretasi yang muncul berdasarkan komentarnya. Ia menyatakan bahwa komentarnya itu tak memiliki maksud tersembunyi mengenai kemungkinan akan memperpanjang kontraknya dengan Mercedes dan menegaskan bahwa saat ini ia memiliki kontrak tiga tahun dengan Mercedes namun pembicaraan mengenai perpanjangan kontraknya dengan Mercedes belum tertutup dan akan dibicarakan di saat yang tepat.

"I have heard the speculation-and how it was interpreted into my comments. But that wasn't the meaning of my comment-let me put it that way. We have said that I have a three-year deal and at the right moment in time we will talk about what will happen in the future," terang Michael Schumacher.

Bila melihat penampilan gemilang Schumi di Kanada kemarin, rasanya terlalu mubazir bagi tim Mercedes bila sampai menyia-nyiakan bakat luar biasa dan pengalaman Schumi yang segudang ini. Schumi merupakan aset berharga bagi tim manapun. Apapun yang akan terjadi di masa mendatang. Apakah kontrak Schumi akan diperpanjang ataupun tidak, bagiku pribadi, aku hanya berharap bisa melihat Michael kembali meraih kemenangan sebelum ia kembali harus pensiun dari F1 entah karena faktor usia ataupun karena sebab lainnya.

Sumber gambar dari situs ini.