Total Tayangan Halaman

Translate

Sabtu, 07 November 2015

Review Novel : All The Flowers In Shanghai

Penulis : Duncan Jepson
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Tebal : 476 halaman
ISBN : 978-979-024-388-0

Xiao Feng atau Feng-Feng merupakan putri kedua dari sebuah keluarga kelas menengah yang tak pernah diperhatikan keberadaannya. Ibunya sangat berambisi menjadi bagian dari kalangan kelas atas. Demi mencapai ambisinya ini, ibunya telah mempersiapkan kakak Xiao Feng agar dapat menikah dengan pemuda kaya. Sementara Xiao Feng yang tak diharapkan menikah karena harus mengurus kedua orangtuanya saat mereka tua nanti, seperti bayangan di balik kemilau kakaknya.
 
Meski tak diperhatikan namun Xiao Feng justru menikmati kehidupannya. Berbeda dengan kakaknya yang selalu disibukkan dengan acara pesta dansa untuk menarik perhatian pemuda kaya, Xiao Feng justru lebih suka mengunjungi taman-taman di sekitar rumahnya bersama kakeknya. Dari kakeknya ini, Xiao Feng mengetahui berbagai nama latin bunga-bungaan yang mereka temui. Bahasa yang sukar dimengerti tapi berbekas dalam benak Xiao Feng.
 
Kehidupan penuh kebebasan ini tiba-tiba berubah tatkala kakaknya yang sudah dipersiapkan untuk menikah dengan seorang pemuda dari keluarga Sang yang kaya raya mendadak jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Pihak keluarga Sang yang sudah menyebarkan undangan tak mau kehilangan muka danbersikukuh pesta pernikahan harus tetap diselenggarakan. Maka Xiao Feng harus menggantikan kakaknya menikahi Sang Xiong Fa, putra pertama, ahli waris keluarga Sang itu. Namun hati Xiao Feng ternyata sudah tertambat pada Bi, seorang pemuda miskin, anak penjahit baju pengantin kakaknya yang belakangan menjadi baju pengantinnya.

Hidup sebagai menantu keluarga Sang tak memberi kebahagiaan bagi Xiao Feng. Dalam tekanan untuk melahirkan seorang putra pewaris keluarga Sang, jiwa Xiao Feng memberontak. Di dalam hatinya munculkebencian dan keinginan untuk membalas dendam pada ibu dan almarhum kakaknya yang telah membuatnya terjebak dalam pernikahan yang tak diingininya ini. Pada mertuanya yang telah menekannya untuk melahirkan pewaris. Pada suaminya yang telah menciptakan teror terhadapnya setiap malam demi mendapatkan seorang putra sebagai penerus garis keturunan keluarga Sang. Ia memutuskan bila anak yang dikandungnya laki-laki, maka ia akan merawatnya tapi bila anak yang dikandungnya seorang perempuan, maka ia akan memberikan anaknya itu pada keluarga miskin.

Saat tiba waktunya melahirkan, ia tak mengijinkan siapapun mendampinginya kecuali Yan, pelayan pribadinya. Ternyata anaknya perempuan, tanpa melihat apalagi memeluknya, ia meminta pelayannya memberikan anak yang baru dilahirkannya itu kepada keluarga miskin. Kepada suami dan mertuanya, ia mengatakan ia keguguran.

Sejak hari itu Xiao Feng memutuskan untuk berubah. Ia tak mau lagi tunduk pada siapapun. Bahkan dengan cerdiknya, ia menyalahkan ibu mertuanya yang telah membuatnya keguguran sehingga ibu mertuanya yang sejak awal selalu mempersulitnya tak bisa lagi berkutik. Ia juga tak mau lagi tunduk dan membiarkan suaminya menerornya setiap malam hanya demi mendapatkan seorang putra.

Xiao Feng yang semula pemalu memutuskan keluar dari kepompongnya. Ia ingin menjalani hidup seperti kakaknya dulu. Ia belajar bersolek, belanja sepatu dan baju-baju bagus dan rajin mengikuti pesta-pesta dansa. Ia juga mulai mendapat respek dari ayah mertuanya karena berhasil membuat Xiong Fa, yang rendah diri menjadi sosok berbeda dengan kepribadian kuat seperti dambaan ayahnya. 

Ayah mertua Xiao Feng makin menyayanginya saat mengetahui Xiao Feng hamil lagi. Kali ini anak yang dilahirkan Xiao Feng adalah laki-laki. Ia benar-benar puas karena telah berhasil menuntaskan tugasnya memberikan keluarga Sang seorang pewaris. Tapi masalahnya bayi yang dilahirkannya cacat. Ayah dan ibu mertuanya menganggap bayinya tak layak menjadi pewaris keluarga Sang dan mendesak Xiong Fa membuang putranya dan menikah lagi dengan wanita lain yang bisa melahirkan seorang putra. Tapi ternyata Xiong Fa tak mau menuruti keinginan orang tuanya. Ia memutuskan untuk tetap merawat putranya yang diberi nama Sang Lu Meng.

Suatu hari Xiong Fa menumpahkan perasaannya pada Xiao Feng bahwa sekalipun anak yang dilahirkan Xiao Feng adalah perempuan, ia akan tetap bahagia. Malah ia lebih suka memiliki anak perempuan. Mendengar ini Xiao Feng ingin menjerit dan menceritakan pada Xiong Fa bahwa anak pertama mereka adalah perempuan. Diliputi perasaan menyesal Xiao Feng meminta Yan, pelayan pribadinya untuk mencari anak perempuannya tapi tentu saja hal itu mustahil. 

Seiring waktu Lu Meng mulai besar. Ia tumbuh menjadi anak yang tangguh meski cacat. Sementara perang mulai berkecamuk. Jepang datang menguasai Shanghai. Suatu hari datanglah seorang gadis pelayan bernama Yu. Ia ditugaskan mengurus Lu Meng. Keduanya sangat akrab. Xiao Feng tak suka melihat keakraban anaknya dengan seorang gadis pelayan. Ia makin membenci Yu saat suatu hari melihat Yu tengah bersama suaminya. Dalam keadaan kalap ia memukuli Yu dengan ikat pinggangnya. Ia makin murka saat Lu Meng, putra kesayangannya malah melindungi gadis pelayan itu. 

Kemarahan dan kebencian yang terpendam di dalam hatinya terhadap Yu, si gadis pelayan serta rasa sakit hati atas pengkhianatan suami dan putra semata wayangnya yang malah lebih membela seorang pelayan membuat Xiao Feng menarik diri dan hidup terasing. Hingga suatu hari ia menemukan sebuah kenyataan yang jauh lebih menyakitkan. Kemarahan dan kebenciannya pada Yu malah berbalik menjadi kacau balau saat rahasia kelamnya tersingkap. Rasa marah dan bencinya kini berbalik menjadi rasa malu, sedih, menyesal, dan berbagai rasa yang membuatnya melarikan diri dari rumahnya. Meninggalkan suami dan anaknya.

Keluar dari rumah keluarga Sang, hidup Xiao Feng tidaklah mudah. Ia harus bekerja keras dan di bawah rezim partai komunis yang berkuasa atas China usai perang melawan Jepang makin membuat hidup Xiao Feng bertambah sulit. Suatu hari, di musim dingin yang berat, ia menerima sepucuk surat yang membuatnya sadar bahwa ia harus menghadapi masa lalunya. Dalam keadaan sekarat karena musim dingin yang berat, Xiao Feng mulai menulis surat mengisahkan kisah hidupnya untuk putri yang telah dicampakkannya.

Catatanku: Sejujurnya aku sedikit kecewa dengan cerita dalam novel ini yang tak sesuai dengan bayanganku yang terpesona saat membaca sinopsisnya saat browsing di internet. Meski begitu, untuk mengisi waktu luang, novel ini lumayan bisa membunuh waktu. Tak terlalu membosankan meski tak bisa dibilang istimewa.

Senin, 18 Mei 2015

Review Novel : Bleachers (Sang Pelatih)

Review Novel : Bleachers (Sang Pelatih)
Penulis : John Grisham
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 208 halaman

Neely Crenshaw, seorang quarterback terbaik yang pernah dimiliki regu football Messina Spartan, sebuah regu football kebanggaan kota kecil Messina terpaksa harus mengakhiri karir cemerlangnya akibat sebuah kecelakaan saat tengah bertanding. Tempurung lutut Neely hancur. Bintang Neely yang semula merupakan idola Amerika perlahan memudar. Namun di Messina, nama Neely tetap harum seperti juga nama pelatih football, Eddie Rake yang telah menemukan dan mengasah bakatnya hingga menjadi seorang quarterback handal.

Bagi kota kecil Messina, Eddie Rake sudah bagaikan dewa yang begitu dipuja kebanyakan penduduk Messina yang begitu tergila-gila pada football karena Eddie Rake telah memuaskan dahaga mereka akan kemenangan. Di tangan Eddie Rake, tim Spartan yang semula tak dikenal menjadi tim yang amat ditakuti lawan. Di bawah kepemimpinan Rake, Spartan pernah meraih kemenangan 89 kali berturut-turut. Namun demi kemenangan ini, Rake melatih murid-muridnya dengan tingkat disiplin yang amat tinggi. Suatu hari salah satu murid Rake tewas akibat latihan keras yang diberikan Rake. Masalahnya murid yang tewas ini adalah keponakan salah seorang petinggi Dewan Pendidikan di Messina. Rake dipecat dari kursi pelatih Spartan. Rakyat Messina terbelah. Ada yang mendukung pemecatan Rake tapi tak sedikit pula yang tak menyetujui pemecatan Rake ini. Rake sendiri, di dalam hatinya amat menyesali kematian Scotty Reardon, muridnya.

Saat Rake dipecat karir football Neely sudah berakhir. Ia sudah lama meninggalkan Messina dan enggan kembali ke kampung halamannya ini. Namun saat Rake tengah sekarat akibat kanker yang dideritanya, Neely memutuskan kembali ke Messina. Kota kecil yang akan selalu memujanya sebagai salah satu pahlawan Spartan.

Neely seperti juga para mantan pemain Spartan lainnya memilih berada di lapangan football yang bernama Rake Field, nama yang diberikan penduduk Messina untuk menghormati Eddie Rake, menunggu berita kematian pelatih mereka sambil mengenang masa lalu, pertandingan-pertandingan yang pernah mereka jalani sekaligus juga mengenang perlakuan Rake selama melatih mereka. Saat tenggelam dalam kenangan mereka ini, ada perasaan benci sekaligus kagum dalam diri para pemain ini terhadap mantan pelatih mereka. Bagi Neely dan kawan-kawan seangkatannya, mereka takkan pernah bisa melupakan kejuaraan tahun 1987, kejuaraan yang telah membawa Neely Crenshaw menjadi legenda Spartan. Pertandingan yang dipenuhi kekerasan, pertengkaran dan misteri mengenai patahnya hidung Neely dengan ketidakhadiran Rake dan tim pelatih di lapangan seusai istirahat babak pertama dimana Spartan dibantai lawan. Rake baru muncul menjelang pertandingan akan berakhir, menyaksikan dari pinggir lapangan para pemainnya berhasil menciptakan mujizat, bangkit dari kematian dan meraih kemenangan besar. Tapi tak seperti pada umumnya, seusai kemenangan spektakuler itu, Neely dan kawan-kawannya berlari ke dalam kamar ganti, mengunci pintu dan tak mengijinkan siapapun masuk tak terkecuali pelatih mereka, Eddie Rake, karena kemenangan itu diraih mereka tanpa Rake.

Namun kisah Rake tak melulu soal kedisiplinannya dalam melatih para pemain Spartan. Meski tak piawai mengungkapkan sisi manusiawinya, Rake toh tetap memiliki perhatian terhadap mantan anak didiknya, di antaranya Nat Sawyer, kawan seangkatan Neely yang belakangan berani menyatakan diri sebagai homoseks, hal yang tentunya membuatnya dikucilkan, tapi berkat Rake, toko bukunya tetap memiliki pengunjung. Saat Neely dirawat di rumah sakit usai kecelakaan di lapangan football yang membuat karir football-nya berakhir, Rake juga menyempatkan datang. Tak piawai mengucapkan kalimat penghiburan, Rake hanya mengungkapkan penyesalannya dan berharap seandainya ia tak pernah memperkenalkan football pada Neely, dan Neely meski memiliki hubungan yang kaku dengan pelatihnya ini, namun dapat merasakan ketulusan hati pelatihnya.

Kembali ke Messina bagi Neely nyatanya bukan hanya berisi kenangan akan football, Spartan, dan Eddie Rake. Messina juga memberi kenangan pada Neely akan cinta pertamanya sekaligus kenangan akan kebodohan khas anak SMU. Meski merasa khawatir, Neely memberanikan diri mendatangi rumah Cameron Lane, gadis yang pernah dicintainya tapi setelah ia meraih ketenaran sebagai kapten Spartan, ia malah mendepak dan mempermalukan Cameron demi mendapatkan Brandy Skimmel alias Screamer. Pilihan yang belakangan disesali Neely. Setelah karir football Neely berakhir, Screamer meninggalkannya demi mengejar mimpinya menuju Hollywood. Mimpi Screamer memang menjadi kenyataan tapi bukan film yang akan memenangkan Oscar, sebaliknya Screamer kini hanyalah pemain film dewasa dengan nama Tessa Canyon. Seperti dugaan Neely, ternyata Cameron juga kembali ke Messina. Tak seperti Neely, kehadiran Cameron di Messina bukan untuk memberi penghormatan pada Eddie Rake. Seperti segelintir orang di Messina yang bukan penggemar football, Cameron sangat membenci olahraga yang sangat dipuja sebagian besar penduduk Messina itu. Kehadiran Cameron di Messina lebih untuk memberi penghiburan bagi Mrs. Lila Rake, mantan guru pianonya yang adalah istri Eddie Rake. Meski penerimaan Cameron terhadap kedatangannya tak bisa dibilang ramah, namun Neely tetap bertahan untuk meminta maaf atas perlakuannya dulu. Cameron yang kini telah bersuami dan memiliki dua orang anak masih marah dengan perlakuan Neely dulu padanya tapi ia menganggap semua itu hanyalah bagian dari masa lalu.

Berita itu akhirnya datang juga. Berita kematian Eddie Rake. Duka menyelimuti Messina. Rake Field dipilih menjadi tempat untuk upacara pelepasan Eddie Rake. Penduduk Messina memenuhi lapangan football kebanggaan mereka ini untuk memberikan penghormatan terakhir pada sosok mantan pelatih yang telah memberikan banyak kemenangan bagi kota kecil ini. Tiga orang mantan pemain Rake dipilih untuk memberikan pidato pelepasan, salah satu yang terpilih adalah Neely Crenshaw. Air mata dan kenangan akan Eddie Rake berbaur menjadi satu dan saat semua berakhir, Neely mendapati kesadaran baru. Seperti yang dikatakan Cameron, masa-masa keemasannya telah berakhir. Ia bukan lagi seorang pahlawan. Masa lalu adalah masa lalu, dan ia hidup di masa kini. Messina tetaplah kota kecil yang sebagian besar penduduknya tergila-gila pada football dan Neely Crenshaw adalah bagian di dalamnya.

Novel ini adalah novel pertama John Grisham yang pernah kubaca yang bukan bertema hukum. Entah apakah sebelumnya Grisham pernah menulis novel lain yang tidak bertema hukum, tapi ini adalah novel non hukum pertama Grisham yang pernah kubaca. Meski tak terlalu paham dengan istilah-istilah football Amerika yang memenuhi novel ini, tapi gaya tutur Grisham dan plot cerita dalam novel ini bagiku tetap menarik seperti bila ia menulis novel bertema hukum. Tema yang ringan dan isinya yang tak terlalu tebal, membuat novel ini lumayan juga untuk mengisi waktu luang. Di bagian akhir digambarkan skema lapangan dan susunan pemain football, mungkin untuk menguatkan penjelasan bagi yang benar-benar awam terhadap olahraga favorit Amerika ini. Bagiku sendiri skema tersebut tetap tak membuatku memahami olahraga ini. Meski begitu cerita ini tetap menarik walau kita sama sekali tak memahami satupun istilah olahraga football Amerika yang menjadi tema novel ini.

Selasa, 28 April 2015

Resensi Buku : Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman - Warisan Pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid

Editor : Frans M. Parera dan T. Jakob Koekerits
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : xviii + 182 hlm

Berbicara tentang Gus Dur adalah juga berbicara tentang perjalanan bangsa ini menuju babak baru reformasi yang kini tampak tak jelas arahnya. Namun Gus Dur ternyata sudah jauh-jauh hari mengkhawatirkan ketidakjelasan arah reformasi saat babak baru itu memulai lembaran awalnya.

Berbicara tentang Gus Dur adalah juga berbicara tentang pluralisme bangsa ini. Meski tumbuh dalam keluarga santri yang sangat kental keislamannya namun ia tak pernah antipati pada kelompok keyakinan yang berbeda dengannya.

Gus Dur sepertinya tak pernah kehabisan topik. Kemampuan pikirnya sangat luas jangkauannya. Ia juga merupakan penulis yang produktif bahkan di saat periode Orde Baru dimana mengemukakan pendapat masih memiliki banyak keterbatasan dan belenggu. Topik tulisan Gus Dur juga beragam tak melulu soal politik dan agama, tapi ia juga sangat piawai dalam menulis ulasan soal sepakbola. Dan buku ini merupakan kumpulan tulisan Gus Dur yang pernah dimuat dalam harian Kompas. Dibagi dalam empat bagian yang mengupas soal Agama Islam Dan Negara di bagian pertama, kepemimpinan politik di bagian kedua. Sementara di bagian ketiga berisi kumpulan tulisan Gus Dur mengenai kepemimpinan moral spiritual terhadap Romo Mangunwijaya, Gus Miek, Kiai Achmad Shiddiq dan Tuan Guru Faisal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Terakhir, di bagian keempat merupakan tulisan-tulisan Gus Dur mengenai politik dan demokrasi.

Sub judul buku ini, Warisan Pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid, agaknya sangatlah tepat, karena Gus Dur dan segala pemikirannya merupakan warisan bagi negara ini yang tengah berada dalam kebimbangan di tengah alur reformasi yang kehilangan arahnya. Buku ini sendiri saat cetakan pertamanya pada Oktober 1999 adalah saat ketika Gus Dur ditetapkan sebagai Presiden ke-4 republik ini. Pada cetakan ketiganya di Januari 2010, satu dasawarsa kemudian, buku ini tetap layak menjadi refleksi perjalanan bangsa ini.

Membaca buku ini sebenarnya tak terlalu sampai harus membuat kening berkerut, walau pada beberapa tulisan yang ditulis pada masa Orde Baru di mana ada pengekangan dalam menyatakan pendapat sehingga kalimat yang digunakan tak terlalu gamblang tersurat, namun Gus Dur tetap lugas dalam menyatakan opininya. Secara pribadi, aku paling suka membaca mengenai pandangan Gus Dur soal politik negeri Jiran yang tercantum dalam dua bagian. Di bagian pertama, bab 5 dengan judul: Anwar, UMNO, Dan Islam di Malaysia, Gus Dur membahas pandangannya soal Anwar Ibrahim yang semula merupakan "putra mahkota" Mahathir Mohamad, sangat islami karena pernah aktif sebagai ketua ABIM namun kemudian ia masuk ke lembaga kepemudaan UMNO yang membuatnya sangat melayu tapi juga tak meninggalkan keislamannya, sangat cocok seperti Mahathir Mohamad yang juga sangat Islam dan sekaligus sangat melayu, sehingga tak heran bila ia digadang-gadang akan menggantikan Mahathir sebagai Perdana Menteri Malaysia, tapi apa mau dikata, sejarah kemudian berkata lain. Anwar Ibrahim malah kemudian menjadi musuh Mahathir dan didakwa dalam kasus sodomi dan korupsi.

Sementara dalam bagian kedua di bab 10 dengan judul: Anwar, Mahathir, Dan Kita di Indonesia, Gus Dur menuliskan bagaimanapun kasusnya, ia tak ingin terjebak dalam politik negeri Jiran tersebut. Ia tak ingin terjebak dalam dukung-mendukung soal mana yang benar. Namun saat diminta turut mendukung surat protes atas penangkapan Anwar Ibrahim oleh Pemerintah Malaysia yang diajukan Adnan Buyung Nasution, Gus Dur bersedia setelah dalam surat tersebut dicantumkan kalimat "Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri dan mantan Menteri Keuangan" karena menurut Gus Dur dengan pencantuman kalimat tersebut ia tidak berpihak kepada siapapun dalam sengketa antara Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohamad.

Di bab ketiga yang membahas sosok kepemimpinan moral spiritual tampak jelas kesahajaan Gus Dur dalam menerima bahkan yang mungkin tak sepaham dengannya. Gus Dur sebagai tokoh nasional sangat terbuka atas berbagai pandangan walau keislamannya tak perlu disangsikan lagi. Tak heran walau sempat tak sependapat dengan Tuan Guru Faisal, pemimpin besar NU di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dengan jelas Tuan Guru Faisal menyatakan pada keluarganya bahwa jika ia meninggal maka orang pertama di Jakarta yang harus di beritahu adalah K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan bukan PBNU-nya.

Bagian yang juga menarik dari buku ini adalah ketika Gus Dur yang berani mengemukakan pandangan yang pastinya ia sadari, kontroversial, seperti ketika ia mengemukakan pandangan secara konstitusional bahwa nonmuslim bisa saja menjadi presiden negeri ini. Tentu saja pernyataannya menjadi kontroversial, karena secara tak tertulis ada janji di antara tokoh awal bangsa yang salah satunya adalah kakek dari Gus Dur sendiri mengenai syarat menjadi presiden tapi Gus Dur walau mengetahui hal ini tapi ia lebih berpegang pada apa yang tertulis, dan ini sahih juga, bahwa dalam konstitusi dalam hal ini Undang Undang Dasar tak ada aturan soal syarat agama keyakinan tertentu untuk menjadi presiden. Gus Dur juga mengingatkan jika ingin murni berdemokrasi maka bangsa ini harus pula siap pada wacana yang tertulis secara konstitusional soal ini.

Juga menarik adalah penjelasan Gus Dur soal dwifungsi ABRI yang sangat berjaya di masa Orde Baru. Pula menarik disimak soal Pertemuan Ciganjur, di masa-masa awal reformasi yang mana salah satu tokoh yang hadir dalam pertemuan itu adalah Gus Dur sendiri. Penjelasan Gus Dur soal Dialog Nasional yang direncakannya dengan mempertemukan mantan Presiden Soeharto dengan Presiden (saat itu) B.J. Habibie dan Menhankam/Pangab (saat itu) Wiranto untuk kejelasan arah bangsa agar tak menuju pada apa yang ditakuti semua pihak sebagai perang saudara, tapi sayangnya rencananya ini gagal. Dari tulisan ini tampak jelas betapa Gus Dur adalah tokoh sejati yang dibutuhkan negeri ini. Tokoh yang bisa mengatasi kepentingan pribadinya untuk sebuah kepentingan yang jauh lebih besar. Kepentingan bangsa. Tapi sayangnya pemikirannya ini tak selalu dipahami sehingga ia mendapat pertentangan keras. Setelah membaca buku ini tercenung dalam hati, masih adakah sosok negarawan sejati seperti Gus Dur yang benar-benar berpikir dan bertindak sebenar-benarnya bagi negara dan bukan nafsu pribadi akan kekuasaan?

Senin, 29 Desember 2014

Sebuah Catatan....

29 Desember 2013... tanggal ini mungkin hanya akan menjadi sebuah tanggal biasa saja di antara 364 tanggal lainnya sepanjang tahun kemarin bila kejadian itu tak pernah terjadi. 29 Desember mungkin juga merupakan tanggal istimewa karena tiga hari menuju tahun baru.... Tapi di tahun 2013, tanggal 29 Desember menjadi hari paling menggemparkan dalam dunia balap Formula One. Bagaimana tidak... di tanggal ini tiba-tiba saja muncul berita menggemparkan. Michael Schumacher, pebalap tersukses dalam sejarah dunia balap jet darat ini mengalami kecelakaan. Bukan di atas lintasan balap Nurburgring yang terkenal angker, atau Hockenheim yang telah merenggut nyawa Jim Clark, pebalap karismatis di tim Lotus, bukan pula di Monza tempat di mana Wolfgang von Trips dan 15 orang penonton meregang nyawa dalam kecelakaan parah pada tahun 1961. Michael Schumacher yang selama karirnya di Formula One selalu dekat dengan maut itu justru mengalami kecelakaan paling tragis dalam hidupnya justru di arena ski di Meribel, Perancis, lima hari menjelang ulang tahunnya yang ke-44 tahun.

Di tanggal ini setahun yang lalu, dunia benar-benar terhenyak. Michael Schumacher saat itu baru saja mengundurkan diri (untuk kedua kalinya) dari dunia balap Formula One setelah tiga tahun yang tak terlalu mengesankan bersama tim Mercedes, tengah berlibur bersama keluarga dan beberapa kawan di kawasan ski di mana ia memiliki pondok pribadi di sana. Sebenarnya ski bukanlah olahraga baru bagi Schumi, panggilan media dan fans pebalap tujuh kali juara dunia F1 ini. Sama seperti dunia balap, Schumi dikabarkan sangat ahli dalam olahraga bersalju ini, karena itu berita kecelakaan Schumi saat bermain ski sangat mengejutkan. Terlebih dampak dari kecelakaan di arena ski itu, Schumi dikabarkan koma dan mengalami pendarahan di otaknya. Namun itulah yang terjadi. Michael Schumacher mengalami kecelakaan di arena ski saat ia tengah menolong seorang tamunya yang terjatuh, kepala Schumacher membentur batu sedemikian keras hingga membuat helmnya retak dan mengakibatkan pendarahan dalam otaknya.

Berita kecelakaan Michael Schumacher ini tak pelak mengejutkan para penggemarnya, bahkan yang tak terlalu menyukainya pun rasanya sangat terkejut dengan berita ini.

Selama karirnya di dunia Formula One, Michael Schumacher memang telah menorehkan sejumlah prestasi mengesankan. Catatan rekornya terlalu banyak dan menjadi barometer bagi pebalap muda. Di atas lintasan, Schumi merupakan lawan yang amat tangguh. Ia tak pernah gentar dengan keadaan sesulit apapun. Entah sudah berapa kali kecelakaan pernah dialaminya di atas lintasan. Ia pernah membalap dan finish di tempat terdepan dengan transmisinya stuck di gigi lima. Ia juga pernah membalap dengan tangki bahan bakarnya menyemburkan api. Mengalami wheel bearing rusak namun tetap finish di posisi ke-4 di GP Inggris 1997 (padahal ia bisa saja menang). Finish terdepan walau bannya mengalami tingkat keausan yang tinggi di GP Hungaria.

Berbagai macam insiden pernah dialaminya di lintasan sirkuit. Ditabrak. Menabrak. Dihantam. Menghantam. Malaikat maut seolah begitu dekat dengannya. Kecelakaan paling parah yang pernah dialami Michael Schumacher mungkin adalah saat GP Inggris 1999 di Silverstone. Kecelakaan parah yang dialaminya di lap pertama itu membuatnya patah kaki dan nyaris mengakhiri karir balapnya. Beruntung ada seorang dokter bernama Professor Gérard Saillant, ahli ortopedi yang begitu tekun dan membantunya pulih. Michael harus merelakan mimpinya merebut gelar dunia pertamanya bersama Ferrari di tahun itu (sebelumnya ia sudah menjadi juara dunia dua kali berturut-turut bersama tim Benneton) karena terpaksa absen hampir sepanjang musim, tapi ternyata kecelakaan itu tak pernah menyurutkan nyali Schumi di atas sirkuit. Setahun kemudian, ia tampil mendominasi dan meraih gelar dunia ketiganya dan memulai masa keemasannya bersama Ferrari dengan merebut lima kali gelar juara dunia berturut-turut.

Keberanian Schumi dan kesuksesannya di dunia balap ternyata bukan hanya menciptakan penggemar fanatik untuknya. Tak sedikit pula yang tak menyukai dominasinya di dunia balap ini. Namun berita kecelakaan yang dialaminya tahun lalu hingga menyebabkannya koma menimbulkan gelombang simpati dan doa dari berbagai pihak. Tak peduli penggemar fanatiknya atau bukan, semua melantunkan doa dan harapan yang tulus bagi kesembuhannya. Semua percaya Schumi bisa melewati semua masa kritis ini. Schumi yang selama karirnya di dunia balap menunjukkan semangat juang yang sangat tinggi diyakini takkan mudah menyerah. Sejumlah pebalap yang menjadi rivalnya maupun rekan setimnya pun menyampaikan doa, harapan dan keyakinan akan kesembuhannya. Salah satunya adalah David Coulthard, pebalap Skotlandia yang pernah membalap untuk tim Williams dan McLaren. DC, sebutan untuk Coulthard, pernah bertengkar hebat dengan Schumi usai sebuah insiden di sirkuit yang membuat Schumi begitu berang hingga mendatangi DC dan memakinya dengan keras. Begitu pun DC pernah mengoloknya di atas sirkuit. Tapi di saat Schumi dalam kondisi kritis usai kecelakaannya di arena ski, DC menulis sebuah artikel yang sangat tulus dan menyentuh.

Berhari-hari para fans fanatiknya berkumpul di depan rumah sakit di Perancis, tempatnya dirawat. Namun kondisi Michael masih belum ada perubahan. Luka serius pada otaknya membuat tim dokter yang menanganinya terpaksa mengkondisikannya dalam keadaan koma. Di antara tim dokternya terdapat pula nama yang tak asing. Professor Saillant, yang pernah menanganinya saat kecelakaan di Silverstone, Inggris pada tahun 1997 langsung terbang ke rumah sakit tempat Schumi dirawat.

Berbulan-bulan lamanya Schumi dalam keadaan koma. Sempat muncul kekhawatiran saat tersiar berita Schumi tak merespon walau tim dokter ahli di sekelilingnya mencoba menyadarkannya dari komanya. Namun setitik cahaya terang muncul saat Schumi mulai menunjukkan reaksi yang menandakan ia telah terbangun dari koma. Walau untuk mencapai tahap pulih seperti sediakala nampaknya masih jauh dari harapan.

Setelah berbulan-bulan dalam keadaan koma, Schumi memang telah terbangun tapi ia mengalami kelumpuhan yang menyebabkannya harus menjalani terapi. Meski begitu harapan tetap layak diusung setinggi-tingginya. Bagaimanapun juga, pulihnya Michael dari koma tetaplah sebuah mujizat yang patut disyukuri. Terlebih setelah berbulan-bulan lamanya dirawat di rumah sakit, kini Schumi telah diperkenankan pulang ke rumahnya di Swiss. Setidaknya hal itu adalah berita baik. Meski para penggemarnya harus merelakan idolanya ini takkan bisa membalap lagi. Tim dokter sudah memastikan bahwa Schumi takkan pernah bisa membalap lagi. Tragis memang. Balapan memang sepertinya sudah mendarah daging bagi Schumi. Bakat balap itu rupanya menurun ke putranya, Mick Schumacher yang belum lama ini diberitakan memulai debutnya di dunia balap mobil.

Michael Schumacher memang sudah tak mungkin lagi membalap. Tapi ia tetap seorang pejuang. Selama karir F1-nya yang spektakuler, Schumi sudah kadung dicap sebagai manusia super pemecah rekor fantastis. Manusia setengah dewa. Jadi tak berlebihan kiranya bila penggemarnya meyakini Schumi takkan menyerah sedemikian mudahnya.

Kini genap setahun insiden itu terjadi. Miracle can happens in many ways. Di dunia balap di mana maut begitu dekat, mujizat merupakan hal istimewa bagi para pebalap. Schumi telah seringkali merasakan keindahan mujizat itu. Dan kali ini pun meski ia tak lagi bertarung di atas sirkuit, tapi Schumi masih mendambakan mujizat itu terjadi atas dirinya.

Sebagai salah satu penggemar fanatiknya, aku selalu berdoa mujizat kembali terjadi atasnya. Aku berharap berita baik dari Michael Schumacher datang. Michael Schumacher adalah pribadi dengan semangat juang yang sangat tinggi. Banyak sudah sirkuit yang bahkan terkenal angker telah ditaklukkan oleh Michael Schumacher. Seperti yang pernah dikatakan oleh Mika Hakkinen, salah satu rivalnya sekaligus rekan yang sangat dihormatinya, saat Michael masih terbaring koma, Mika pernah mengungkapkan keyakinannya bahwa Michael akan mampu melewati masa kritisnya. Fighting for life, kala itu menjadi penyemangat bagi Schumi untuk segera sadar dari komanya dan melewati masa kritisnya. Menyerah sepertinya takkan pernah ada dalam kamus hidup seorang Michael Schumacher. Seperti yang pernah diungkapkannya:

"We are always there, we always fight, we never give up… that’s why we are here.”

"I’ve always believed that you should never, ever give up and you should always keep fighting even when there’s only a slightest chance.”