Total Tayangan Halaman

Translate

Jumat, 02 Mei 2014

Review Novel: Sleeping With The Enemy - Nancy Price

Sara Gray Burney merasa pernikahannya dengan Martin Burney adalah sebuah kesalahan besar. Ia tak pernah menyangka Martin yang bersikap baik dan lembut saat masih berpacaran ternyata seorang pria picik yang bukan hanya suka mabuk tapi juga gemar menyiksanya secara fisik. Sara bahkan nyaris tak memiliki hak apapun dalam kehidupan pernikahan mereka. Martin bisa bertindak sesuka hatinya. Menyiksa dan menekan Sara untuk mendapatkan keinginannya. Martin bahkan kerap mengingatkan Sara bahwa Sara adalah miliknya seolah Sara adalah sebuah benda mati yang tak memiliki hati dan jiwa. Salah satu propertinya dan karenanya Martin bebas memperlakukan Sara sesuai kehendaknya tanpa mempedulikan hak pribadi Sara sebagai seorang individu yang berjiwa dan bernyawa. 

Segala macam hal bisa dengan mudah membangkitkan amarah Martin. Dan bila marah bisa diduga Martin selalu melampiaskannya pada Sara dengan memukul atau menendangnya. Hal-hal remeh pun tak jarang bisa menyebabkan Martin marah dan melakukan kekerasan fisik terhadapnya. 

Sara sangat menyukai pekerjaannya di perpustakaan. Martin sebenarnya tak suka Sara bekerja. Tapi akhirnya ia mengijinkan Sara bekerja dengan syarat Sara tak boleh terlambat di rumah untuk menyediakan makan malamnya. Martin tak suka bila Sara terlambat satu menit pun menyiapkan makannya. Bahkan Martin juga bisa tiba-tiba marah dan memukulnya bila Sara tak menata sajian di piringnya sesuai kehendaknya. Daging dan sayur-mayur di atas piring Martin harus ditata serapi mungkin dengan posisi yang benar seperti yang diharapkan oleh Martin. 

Pernah Sara mencoba melarikan diri tapi naas, Martin bisa menemukan Sara. Akibatnya sangat mengerikan. Martin menendang dan memukulinya sampai-sampai jari kaki Sara patah. 

Saat itu Martin yang geram menodongkan pistol di tengkuk Sara sambil mengancam akan membunuh Sara bila ia sampai berani-berani kabur lagi. Martin juga mengingatkan Sara bila Sara sampai berani berselingkuh dan lari bersama pria lain maka Martin takkan segan-segan untuk membunuhnya dan pria tersebut. 

Sara memiliki seorang ibu yang tinggal di rumah jompo. Ibunya sudah tua dan buta. Saudara satu-satu yang dimilikinya sudah lama meninggal dunia. Joe, adik laki-lakinya semata wayang tewas tenggelam saat mereka masih kecil. Itulah sebabnya Sara amat takut dengan air. Peristiwa tenggelamnya adiknya masih meninggalkan trauma dan ketakutan dalam diri Sara. Semua teman-teman Sara tahu kalau Sara amat takut dengan air laut. Ia takut tenggelam. Martin juga tahu hal ini. Tapi Martin tetap saja tak mempedulikan trauma istrinya ini. 

Saat tengah berlibur di rumah pantai tempat mereka pernah berbulan madu, tetangga di samping rumah penginapan mereka memiliki sebuah perahu layar. Ia suka berlayar menuju kota terdekat di sana untuk menjemput kekasihnya. Martin tiba-tiba saja sangat antusias berlayar malam itu. Ia pun mendesak Sara untuk berlayar bersama tetangga mereka. Sara yang memiliki fobia terhadap air laut menolaknya. Wajahnya pucat dan tangannya gemetar ketakutan. Martin jelas melihatnya tapi tetap saja Martin memaksa bahkan menendang Sara saat Sara tetap bersikeras menolak ikut pergi berlayar bersamanya. Akhirnya karena tak punya pilihan Sara pun ikut berlayar. 

Perlayaran mereka malam itu ternyata justru menjadi babak baru dalam hidup Sara. Selama berlayar, wajah Sara pucat pasi. Tangannya menggenggam erat tepi perahu. John Fleishman, pemilik perahu layar itu pun melihat wajah Sara yang pucat. Demikian pula dengan Martin tapi tetap saja Martin tak mempedulikan perasaan Sara. Ia terlalu egois untuk memikirkan penderitaan Sara selama pelayaran mereka malam itu. Ia malah asyik menikmati suasana malam yang dinilainya amat indah itu dengan bulan purnama yang bersinar sempurna. Saat itulah petaka itu tiba-tiba saja terjadi. 

Sekonyong-konyong angin keras menerpa perahu layar yang mereka tumpangi. Dan kejadian itu berlangsung dengan cepat. Sara terjatuh ke laut. Martin dan John Fleishman yang terkejut terus memanggil-manggil nama Sara tapi tak ada satupun tanda-tanda keberadaan Sara. 

Martin dan John Fleishman pun melapor ke pos polisi terdekat perihal menghilangnya Sara ini. Polisi menduga Sara tenggelam dan meninggal. Awalnya Martin tak bisa menerima ini, ia masih mencoba kembali meneriakkan nama Sara tapi tetap saja tak ada tanda-tanda keberadaannya. Saat ia kembali ke rumah pantai tempat mereka menginap, semuanya masih berada di tempatnya kecuali Sara. Tak ada tanda-tanda Sara sempat kembali ke rumah itu. Semua barang-barang Sara termasuk buku hariannya masih ada di sana. Akhirnya Martin pun harus menerima kenyataan bahwa Sara telah tenggelam dan meninggal dunia. Dan semua itu karena dirinya. 

Satu hal yang tak diketahui Martin ternyata Sara selama beberapa bulan belakangan telah melakukan terapi untuk mengatasi fobianya terhadap air laut. Dan Sara akhirnya berhasil mengatasi ketakutannya dan bahkan menjadi perenang yang handal. Dan itulah yang dilakukan Sara saat terjatuh dari kapal layar John Fleishman. 

Saat terjatuh dari kapal, Sara berusaha selama mungkin menyelam di bawah kapal layar. Ia mendengar suara Martin memanggil-manggilnya tapi ia tetap berusaha agar kepala dan tubuhnya tetap di bawah air. Saat Martin dan John Fleishman pergi ke kantor polisi, barulah Sara naik ke daratan, melepas pakaian basahnya, sehingga saat masuk ke dalam rumah pantai tempatnya menginap bersama Martin tak ada jejak-jejak air di lantai. Secepatnya Sara mengambil kantung berisi beberapa potong pakaian dan sedikit uang yang disembunyikannya di bawah sofa. Setelah itu Sara berganti baju dengan pakaian kering dan segera pergi dari sana tanpa meninggalkan jejak setitikpun. 

Sara memilih pergi ke sebuah kota kecil yang sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya dan Martin sehingga suaminya takkan menemukannya. Di tempat ini Sara memulai hidup baru dengan nama Laura Pray. Rambut pirangnya yang indah terpaksa disembunyikannya di balik wig warna cokelat. Ia menyewa sebuah rumah yang nyaman dengan harga murah. Demi menghemat pengeluaran, Sara bahkan bersedia mengecat sendiri rumah sewaan barunya. Ia juga berhemat dalam membeli makanan karena uang yang dimilikinya tak terlalu banyak. Ia membutuhkan pekerjaan tapi untuk bekerja di perpustakaan seperti profesinya selama ini, tak mungkin karena pekerjaan-pekerjaan formal semacam itu harus memberikan nomor jaminan sosialnya. Dan bila ia memberikan nomor jaminan sosialnya maka penyamarannya akan segera ketahuan dan Martin pasti bisa langsung menemukannya. Jadi ia mencoba mencari pekerjaan non-informal seperti menjadi asisten rumah tangga atau merawat orang sakit. 

Selama belum mendapat pekerjaan Sara benar-benar harus mengencangkan ikat pinggang. Ia hanya mampu membeli bubur gandum dan pisang untuk menunya sehari-hari. Tapi tetangga Sara memiliki pohon apel dan kerapkali buah-buah apel itu berjatuhan ke bawah. Sara suka diam-diam mengambil apel-apel yang berjatuhan itu untuk menu hariannya. 

Tak memiliki uang berarti banyak hal. Terutama di musim panas. Karena tak memiliki uang, Sara tak sanggup membeli alat pendingin ruangan sehingga ia harus bertahan dan menikmati cuaca panas sambil memandang dengan iri ke arah rumah tetangganya yang terlihat nyaman dan sejuk. 

Ben Woodward, tetangga Sara ini adalah seorang professor yang mengajar drama di universitas. Ben sudah jatuh hati pada Sara sejak pertama kali melihat wanita ini. Meski menyayangkan warna rambut Sara yang cokelat karena tipe wanita yang disukai Ben biasanya wanita berambut pirang tapi mata jeli Ben bisa dengan cepat menyadari bahwa wanita cantik tetangganya ini mengenakan wig. Dan itu artinya ada sesuatu yang disembunyikannya. Ben sangat ingin tahu rahasia apa yang tengah disembunyikan Sara tapi segala kemisteriusan maupun tubuh Sara yang dinilainya terlalu kurus ini tetap tak bisa menghentikan perasaannya terhadap tetangga barunya ini. 

Kesempatannya untuk berkenalan dengan Sara muncul di suatu pagi. Saat itu Sara tengah berupaya menolong seekor kucing yang ketakutan di atas pohon maple. Ben yang tiba-tiba sudah berada di belakang Sara berkenan menolong kucing itu turun. Sara sebenarnya ingin sekali memelihara kucing yang baru mereka selamatkan itu, bila ternyata tak ada yang memiliki kucing tersebut, tapi kondisi keuangannya saat ini tak memungkinkan. Setidaknya sampai ia mendapatkan pekerjaan barulah ia bisa membawa kucing itu ke rumahnya. Tapi Ben ternyata bersedia menampung kucing tersebut sementara waktu di rumahnya. Mereka menamai kucing itu Banana. 

Dalam kesempatan itu pula, Ben memberanikan diri mengajak Sara makan malam. Sara yang takut dengan ancaman Martin merasa belum siap untuk berhubungan dengan siapapun. Tapi Ben tentu saja tak tahu soal ini. Ia memang mengira bahwa Sara tengah menyembunyikan diri dan tentunya tak ingin keberadaannya dilihat oleh orang banyak apalagi pergi makan malam bersama seorang pria di sebuah tempat publik. Maka Ben pun mengubah taktiknya. Ia mengundang Sara makan malam di rumahnya jam 7 malam saat hari sudah gelap dan Sara bisa masuk ke rumah Ben lewat pintu belakang sehingga takkan dilihat siapapun. Sebenarnya pula tawaran makan malam ini sudah amat menggoda bagi Sara terlebih saat ia mencium aroma bacon panggang, menu sarapan Ben dari arah dapur Ben, maka Sara pun menerima tawaran Ben itu. 

Makan malam itu kemudian jadi ritual mereka. Setiap minggu di jam yang sama, Sara diperkenankan datang ke rumah Ben lewat pintu belakang untuk makan malam. Mereka pun menjadi akrab terlebih karena mereka memiliki kesukaan yang sama soal buku. Ben suka membahas soal drama yang juga disukai Sara. Saking akrabnya Sara bebas menggunakan dapur Ben. Dan karena di rumah barunya, perlengkapan dapur Sara masih belim lengkap, ia sangat suka berada di dapur Ben. Dan demi membalas kebaikan Ben, Sara menawarkan membuatkan makan siang untuk Ben yang langsung disambut gembira oleh Ben. 

Nasib baik memang perlahan mulai beranjak mendekati Sara. Pekerjaan yang amat dibutuhkannya itu akhirnya datang juga. Ia mendapat pekerjaan merawat Hazel George Channing, seorang professor yang sudah mengajar Sastra Inggris selama 40 tahun di universitas. Tapi akibat sebuah kecelakaan parah yang dialaminya baru-baru ini membuatnya harus selalu berada di atas kursi roda dan kehilangan semangat hidupnya. Ellen Garner, salah seorang muridnya yang tinggal bersamanya tak bisa menjaganya di siang hari saat ia harus bekerja. Karenanya ia mencari orang yang bisa merawat, memasak dan menyuapi Dr. Channing. 

Kecelakaan mobil yang dialami Dr. Channing membuat wanita ini tak bisa menggerakkan tubuhnya. Kecelakaan itu juga membuat Dr. Channing tak mau lagi bicara. Menanganinya sepertinya hal yang sulit tapi Sara yang sebelum bersama Martin sudah terbiasa mengurus ibunya yang buta. Dan nyatanya Sara memang sangat telaten mengurus Dr. Channing. Ia bahkan menanyakan terlebih dahulu pada Dr. Channing menu apa yang disukainya sebagai makan siangnya, meski Sara sudah diberitahu Dr. Channing tak pernah bicara lagi sejak kecelakaan itu. Sara meminta Dr. Channing memberi isyarat dengan mengedipkan matanya untuk memberitahu bila ia menyukai salah satu menu yang disebutkan Sara. 

Atas informasi dari Ben, Sara mengetahui Henry James adalah penulis favorit Hazel Channing. Karena itulah Sara juga menyempatkan diri setiap hari membacakan novel Henry James untuk Hazel Channing. Hal ini membuat Dr. Channing yang selama ini kehilangan semangat hidupnya merasakan kembali kegembiraannya. Tak seperti biasanya siang itu ia makan banyak sekali sehingga saat Ellen Garner pulang, ia amat terkejut saat mengetahui Hazel Channing makan sebanyak itu. Puas dengan pekerjaan Sara maka Ellen langsung membayarkan gaji Sara dan memintanya datang setiap hari. 

Sementara itu Martin yang merasa kehilangan Sara masih terus meratapi kepergian istrinya. Ia merasa menyesal karena sikap kasarnya selama ini terhadap Sara. Suatu hari secara kebetulan Martin bertemu seorang wanita yang rupanya mengenal Sara di tempat terapi dan memberitahu Martin bahwa walau awalnya Sara amat takut berada di dalam air tapi belakangan Sara akhirnya bisa mengatasi rasa takutnya dan bahkan sangat piawai berenang. Martin tentu saja amat terkejut dengan pemberitahuan wanita ini. Ia sangat marah dan merasa Sara sudah menipunya. Ia memang tak tahu di mana saat ini Sara berada tapi ia yakin Sara pasti akan menemui ibu kandungnya sendiri, satu-satunya anggota keluarganya yang masih hidup. Dan ke sanalah Martin memulai pencariannya. Ia bertekad menemukan Sara dan memberinya pelajaran. Ia akan membunuh Sara karena telah berani-berani menipunya. 

Dugaan Martin memang tak keliru. Bagaimanapun juga Sara amat merindukan ibunya. Ia yakin ibunya pasti sudah mendengar berita perihal "kematian"- nya itu, dan ibunya pasti sedih. Sara ingin sekali pergi ke rumah jompo tempat ibunya dirawat dan memberitahu ibunya bahwa ia masih hidup. Tapi bila ia ke sana, ia yakin Martin pasti akan mengetahuinya. Satu-satunya cara baginya untuk pergi menemui ibunya tanpa ketahuan oleh Martin adalah menyamar. 

Dengan bantuan peralatan drama dari Ben, maka Sara pun menyamar sebagai seorang pria muda. Ben yang masih belum secara tuntas mengetahui rahasia apa yang tengah disembunyikan Sara memilih tak bertanya terlalu banyak. Ia bahkan meminjamkan mobilnya untuk dipakai Sara pergi ke kota tempat ibunya dirawat. 

Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Meski Sara sudah amat rapi mengatur penyamarannya tapi akhirnya Martin berhasil menemukannya juga. Sara dengan penyamarannya ini memang berhasil menemui ibunya dan memberitahu ibunya bahwa ia adalah Sara dan ia terpaksa bepura-pura tewas tenggelam demi bisa melarikan diri dari Martin. Tapi keberhasilan Sara menemui ibunya inilah yang pada akhirnya menggiring Martin ke tempat persembunyiannya selama ini. Martin memang tak menduga pria muda yang menemui ibu mertuanya itu adalah Sara tapi ia menduga pria muda itu mungkin kekasih baru Sara jadi ia mengikuti pria ini hingga ke kota kecil tempat Sara bersembunyi selama ini. 

Keberuntungan Sara yang semula menghampirinya kini justru berbalik. Petaka mulai kembali menyerangnya. Hidupnya mulai rumit. Secara kebetulan, Sara mengetahui rahasia gelap Ellen Garner, orang yang mempekerjakannya untuk merawat Hazel Channing. Ellen Garner ternyata hamil di luar nikah dan secara tak terduga bayinya lahir di dalam kamar mandi di rumah Dr. Channing dan hal ini terlihat oleh Sara. Nama Ellen Garner pun ternyata bukanlah nama aslinya. Ellen takut sekali Dr. Channing mengetahui hal ini dan akibatnya ia akan diusir. Ia terus saja menangis takut Sara akan menceritakan rahasianya ini pada orang lain. Meski Sara sudah meyakinkannya bahwa ia akan menjaga rahasia ini tapi Ellen tetap saja menangis. Akhirnya Sara memberitahu Ellen soal rahasianya juga. Ia memberitahu Ellen bahwa Laura Pray bukanlah nama aslinya dan ia juga membuka wignya di depan Ellen sehingga Ellen bisa melihat bahwa rambut aslinya pirang. 

Sementara itu hubungan Sara dan Ben semakin dekat. Namun Sara tetap menjaga jarak karena khawatir bilamana Martin berhasil menemukan tempat persembunyiannya. Ben yang sudah jatuh cinta pada Sara merasa frustasi dengan sikap wanita misterius ini. Walau ia tak terlalu mendesak Sara tapi hatinya bergelora oleh rasa penasaran terhadap rahasia apa yang sebenarnya tengah disembunyikan wanita cantik ini. Sara masih belum berani bersama Ben di depan publik. Ia masih suka diam-diam menyelinap ke rumah Ben lewat pintu belakang sehingga tak diketahui oleh tetangga lainnya. Hal inilah yang menjadi salah satu kekesalan Ben. Dalam hatinya ia ingin sekali membawa Sara ke tempat umum seperti pasangan lainnya, tapi hal itu tak mungkin selama Sara masih merasa belum aman. 

Suatu hari Sara menemukan sebuket mawar merah di depan pintunya disertai secarik kertas berisi kata-kata yang membuatnya nyaris kaku karena ketakutan. Kalimat di atas kertas tersebut berbunyi: 

AKU TAHU SIAPA DIRIMU, LAURA-KU. 
AKU TELAH MENEMUKANMU DAN AKU 
TAKKAN MELEPASKANMU. 

Saat membacanya, otak Sara serasa membeku. Ia mengira Martin berhasil menemukannya. 

Sepulang dari mengunjungi ibunya, Sara merasa gembira sekali. Ia juga tak melihat keberadaan Martin di rumah jompo. Ia sama sekali tak menduga Martin justru telah mengikutinya hingga ke tempat persembunyiannya. Sara yang tengah gembira sama sekali tak menyadari telah menggiring serigala ke goa tempatnya bersembunyi. 

Sara yang sebenarnya juga mencintai Ben tapi takut dengan ancaman Martin kini merasa sudah bebas. Ia mengira Martin takkan pernah menemukannya jadi kini ia bebas memulai hubungan baru dengan pria lain. Ia ingin membalas cinta Ben. Dan di saat inilah, ia melihat Martin. Ia tentu saja sangat terkejut, tapi bertekad tak ingin lagi takluk di bawah kaki Martin. Ia berniat berjuang meraih kebahagiaannya sendiri. Namun kebahagiaan takkan bisa diraihnya kecuali Martin mati! 

Novel ini pernah difilmkan dengan judul yang sama dan Sara Burney diperankan oleh Julia Roberts. Walau membaca novel ini dengan bahasa aslinya tapi gaya bahasa Nancy Price yang ringan dan sederhana membuat kita asyik menyelami setiap karakter tanpa perlu mengerutkan kening terlalu dalam. Nancy Price juga pandai mengatur secara rapi setiap konflik antar tokoh dan menjaga rasa penasaran pembaca terus terjaga hingga akhir cerita. 

Penerbit : Arrow Books Limited, London 
Tebal : 332 halaman 
ISBN : 0 09 994910 5 

Selasa, 18 Maret 2014

Resensi Buku: Perempuan Dalam Hidup Sukarno: Biografi Inggit Garnasih - Reni Nuryanti

Berbicara soal sejarah Indonesia, tak bisa tidak, nama Ir. Sukarno tentunya tabu dilewatkan. Betapa tidak, dalam perjalanan menuju Indonesia, nama Bung Karno bergema bukan hanya di tanah air bahkan dengan kemampuannya berorasi hingga mendapat julukan Singa Podium dan betapa rakyat Indonesia sangat mendengarkan suaranya, membuat pemerintah Hindia Belanda belingsatan. Berkali-kali Sukarno seperti juga tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia lainnya seperti Bung Hatta, Syahrir dan banyak lainnya, dimasukkan ke penjara dan hidup menderita dalam pengasingan, semua itu dilakukan pemerintah Hindia Belanda demi membungkam Sukarno dan menjauhkannya dari rakyat. Tapi semua penderitaan itu tak pernah mampu memadamkan api semangat dalam jiwa Sukarno untuk memerdekaan Indonesia. Dan berbicara soal pergulatan Sukarno dalam masa-masa pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia ada nama seorang wanita sederhana bersahaja yang begitu tulus dan setia mendampingi Sukarno muda melewati masa-masa sulit di penjara dan pengasingan. Dialah Inggit Garnasih. 

Banyak memang wanita yang ada di sekitar Presiden pertama republik ini, namun, tanpa niat mengesampingkan peran wanita-wanita lainnya, rasanya memang hanya Inggit Garnasih-lah, sebagaimana yang dikisahkan dalam buku ini bersumber dari banyak buku-buku sejarah lainnya, wanita yang lebih banyak mengalami kepahitan dan kesulitan dalam menemani Sukarno muda sejak masih merupakan mahasiswa Technische Hooge School (sekarang ITB), di Bandung, mendampingi saat Sukarno ditangkap dan dipenjarakan bahkan sampai dibuang ke Ende, Palembang, dan Padang, kembali ke Palembang sebelum akhirnya ke Jakarta dan kembali ke Bandung. Namun, Inggit tanpa pamrih hanya bisa pasrah saat Sukarno mencintai wanita lain, Sukarno tak ingin menceraikan Inggit, menyadari begitu besar pengorbanan dan ketulusan Inggit untuknya, tapi Inggit, wanita yang sangat tegar dan begitu kukuh memegang prinsip, memilih dicerai daripada harus dimadu. 

Jadilah, Inggit yang selama ini mendampingi Soekano melewati masa-masa sulit dalam perjuangan pergerakan menuju Indonesia Merdeka tak bisa memetik buah pengabdiannya saat Sukarno menjadi Presiden pertama republik ini. Inggit tak pernah menjadi First Lady negeri ini dan menikmati hidup dalam Istana Negara, tapi di hati Sukarno nama dan peran Inggit Garnasih mungkin takkan pernah bisa digantikan.

Inggit Garnasih, perempuan Sunda bersahaja ini adalah anak dari pasangan Ardjipan, biasa dipanggil Bapak Jipan dengan Ibu Amsi. Inggit lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada tanggal 17 Februari 1888. Tak banyak catatan sejarah yang mengisahkan masa kecil Inggit Garnasih, begitu pun dengan buku ini. Hanya diceritakan Inggit Garnasih dilahirkan dengan nama Garnasih, nama Inggit yang kemudian disandangnya berasal dari kisah di masa mudanya, di mana diceritakan banyak yang menyukainya dan ia kerap diberi uang seringgit. Dari situlah nama Inggit dilekatkan padanya. Inggit dari kata seringgit.

Inggit sejak kecil memang memiliki wajah cantik yang menimbulkan rasa sayang di hati siapapun yang melihatnya. Saat remaja, ada seorang pemuda bernama Sanusi yang menyukainya, dan rupanya Inggit pun menyukainya. Tapi suatu hari Inggit mendengar Sanusi akan menikah dengan gadis lain. Dibakar rasa cemburu, Inggit yang memang merupakan kembang desa karena parasnya yang cantik itu, tanpa pikir lagi menerima pinangan dari seorang Kopral Residen Bandung bernama Nata Atmadja. Namun pernikahan Inggit dengan Nata Atmadja hanya seumur jagung. Pada tahun 1904, setelah empat tahun mengarungi bahtera rumah tangga, Inggit dan Nata Atmadja memutuskan bercerai. Dari pernikahan ini mereka tak dikaruniai anak. 

Sementara itu rupanya Sanusi yang telah menikah dan memiliki dua orang putra dari pernikahannya itu pun telah bercerai. Inggit dan Sanusi yang rupanya masih sama-sama saling mencintai ini memutuskan menyambung kembali kisah cinta mereka dan menikah. Awalnya kehidupan rumah tangga mereka berjalan harmonis. Sanusi adalah seorang saudagar mebel. Bisa dibilang kehidupan rumah tangga mereka tak berkekurangan. Terlebih Inggit yang sejak dulu suka bekerja, tak pernah berpangku tangan, sehingga meski sebenarnya seluruh keperluannya sudah tercukupi oleh Sanusi, tapi Inggit tetap suka bekerja menjahit baju perempuan dan anak-anak, ia juga piawai meramu jamu dan bedak. Namun sayangnya, keharmonisan rumah tangga ini tak berlangsung lama. Inggit belum juga dikaruniai anak dari pernikahannya ini dan di sisi lain, Sanusi belakangan suka keluar malam dan bermain bilyar. Kegersangan rumah tangga Inggit dengan Sanusi ini makin runyam saat seorang pemuda tampan, mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Bandung (Technische Hoogeschool) datang dan menumpang di rumah mereka. Pemuda tampan ini bernama Sukarno.

Sukarno adalah menantu H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam. Saat Sukarno akan melanjutkan pendidikan di Bandung, Tjokroaminoto meminta bantuan Sanusi yang juga anggota Sarekat Islam untuk mencarikan tempat kost bagi menantu dan putrinya, Siti Oetari. Inggit yang sering ditinggal Sanusi merasa senang ada yang menemani, jadi ia memutuskan menerima Sukarno dan Oetari tinggal di rumahnya. Namun ternyata rumah tangga Sukarno dan Oetari pun rupanya tengah bermasalah. Oetari masih terlalu belia dan belum memahami sepenuhnya peran istri. Ia masih merupakan seorang remaja yang gemar bermain dengan teman-teman sepermainan, maklum saat menikah gantung dengan Sukarno pada tahun 1921, usia Oetari baru 16 tahun sementara Sukarno berumur 20 tahun. 

Inggit sendiri mencoba menengarai perselisihan dalam rumah tangga muda ini kendati rumah tangganya sendiri bermasalah. Tapi rupanya, Sukarno yang sejak pertemuan pertamanya dengan Inggit sudah jatuh hati pada ibu kostnya yang cantik dan dewasa ini. Ia sering mengeluh pada Inggit tentang perasaannya pada Oetari yang lebih dianggapnya sebagai adik. Di sisi lain Sukarno juga iba pada Inggit yang kerap ditinggal Sanusi bermain bilyar tiap malam. 

Pada tahun 1923 Soekarno bercerai dengan Oetari. Setelah memulangkan Oetari kepada ayahnya di Surabaya, Sukarno kembali ke Bandung. Perasaan Sukarno terhadap Inggit rupanya tak lepas dari pengamatan Sanusi, suami Inggit. Namun alih-alih marah, Sanusi malah menganjurkan Inggit menerima Sukarno. 

Sukarno dinilai sebagai pemuda yang cerdas dan bersemangat, harapan bangsa untuk keluar dari cengkeraman penjajah. Sanusi yang walaupun menyayangi Inggit berpikir bahwa Sukarno muda, calon pemimpin bangsa ini membutuhkan sosok Inggit, perempuan dewasa keibuan yang diharapkan dapat membimbing Sukarno. Sementara Inggit yang belakangan lelah dan kecewa dengan kebiasaan buruk Sanusi, suaminya yang suka keluar malam, nyatanya memang menaruh hati juga pada pemuda yang usianya terpaut jauh darinya ini. 

Pada tahun 1923, pernikahan Inggit dengan Sanusi juga berakhir. Di tahun yang sama, tepatnya pada tanggal 24 Maret 1923 Inggit dan Sukarno menikah. Usia Inggit saat itu 35 tahun sementara Sukarno berumur 22 tahun. Berbeda dengan ketika bersama Sanusi, di mana sebagai pengusaha, Sanusi bisa mencukupi kebutuhan materi bagi Inggit sementara bersama Sukarno yang masih seorang mahasiswa, Inggit harus bekerja seorang diri memenuhi kebutuhan mereka. 

Sudah lama Inggit ingin memiliki anak. Dari dua kali pernikahan sebelumnya, Inggit tak pernah dikaruniai anak, begitu pun pada pernikahan ketiganya ini dengan Sukarno, Inggit tak juga dikaruniai anak. Pada 4 Mei 1923, Murtasi, kakak perempuan Inggit melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Arawati. Saat anak ini berumur 40 hari, Inggit membawa Arawati ke rumahnya. Karena Arawati sering sakit, akhirnya Sukarno mengganti namanya menjadi Ratna Juami yang akrab dipanggil Omi. Baik Inggit maupun Sukarno sangat menyayangi Omi.

Kegiatan politik yang ditopang kemampuan Sukarno berorasi sudah kerap kali membuat Pemerintahan Hindia Belanda gerah. Tahun 1926 Sukarno lulus dari THS dan meraih gelar insinyur. Pada 4 Juli 1927 PNI (Perserikatan Nasional Indonesia) didirikan dengan Sukarno sebagai ketuanya. Pada bulan Mei 1928 nama Perserikatan Nasional Indonesia diubah menjadi Partai Nasional Indonesia. Tujuan utama PNI adalah kemerdekaan Indonesia. 

Pergerakan politik PNI ditambah pidato-pidato Sukarno membuat pemerintah Hindia Belanda mengambil sikap dengan menekan Sukarno tapi Sukarno tak pernah hirau hingga akhirnya Sukarno beserta beberapa tokoh PNI ditangkap pada 29 Desember 1929. Selama masa persidangan, Sukarno dan kawan-kawannya ditempatkan di Penjara Banceuy selama 8 bulan. 

Di masa-masa ini sulit ini, Inggit berperan sangat besar untuk membangkitkan kembali semangat Sukarno yang sempat hancur karena harus hidup dalam jeruji besi. Inggit bekerja lebih keras. Ada kalanya Inggit harus berjalan kaki demi mengunjungi Sukarno di penjara dan membawakan buku-buku seperti yang diminta Sukarno untuk dibawakan. Inggit bahkan sempat harus berpuasa selama tiga hari agar buku yang diminta Sukarno bisa disisipkan di perutnya tanpa menimbulkan kecurigaan dari penjaga penjara. Selama dalam penjara inilah, Sukarno menulis naskah pidato "Indonesia Menggugat", yang sangat melegenda dan yang digunakannya sebagai pembelaannya di persidangan. 

Putusan pengadilan menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara bagi Sukarno. Ia dipindahkan ke sebuah penjara baru yan dikenal dengan nama Penjara Sukamiskin. 

Penjara nyatanya tak pernah memudarkan semangat Sukarno untuk memerdekakan bangsanya. Ia terus melakukan kegiatan politiknya yang membuat pemerintah Hindia Belanda geram dan memutuskan mengasingkannya ke Ende, Flores. Inggit lagi-lagi berperan sangat besar di masa-masa ini. Ia menjual rumahnya di Bandung dan bersama ibunya, Ibu Amsi dan putri angkatnya, Ratna Juami mendampingi Sukarno hidup dalam pengasingan di Ende, Flores, daerah yang sangat asing bagi mereka.

Selama hidup dalam pengasingan di Ende ini jiwa seni Sukarno berkembang. Sukarno sempat mendirikan kelompok sandiwara. Ia menulis dan menyutradarai beberapa sandiwara. Selain itu Sukarno juga suka melukis. Namun hobi melukisnya ini memerlukan biaya besar untuk membeli kanvas dan cat tapi Inggit tanpa mengeluh, selalu memenuhi keinginan Sukarno. Seperti saat di Bandung, di Ende pun Inggit tak pernah berpangku tangan. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia suka berjualan kain yang dipesannya dari kerabatnya di tanah Jawa untuk dikirimkan ke Ende. 

Di Ende ini, Inggit dan Sukarno mendapat tambahan satu lagi anak angkat yang bernama Soekarti. Orangtua kandung Soekarti adalah pasangan Jawa yang tinggal di Ende. Ayah kandung Soekarti bernama Atmo Soedirjo. Oleh Sukarno nama Soekarti diubah menjadi Kartika.

Saat di Ende, Inggit harus kehilangan ibunda yang sangat dicintainya. Pada 1935 ibu Amsi, ibunda Inggit meninggal dunia akibat penyakit malaria. Tak lama berselang Sukarno pun jatuh sakit karena penyakit yang sama dan hampir saja merenggut nyawanya. Tapi kabar Sukarno yang sakit parah ini sampai ke tanah Jawa. Tokoh-tokoh pejuang Indonesia di Jakarta, di antaranya Mohammad Husni Thamrin yang juga adalah anggota Volksraad (Dewan Rakyat), mendesak pemerintah Hindia Belanda untuk mengeluarkan Sukarno dari Ende. Atas desakan ini akhirnya pada 1938 pemerintah Hindia Belanda memutuskan memindahkan Sukarno ke Bengkulu.

Saat di Bengkulu inilah rumah tangga Inggit dan Sukarno yang selama ini kukuh berdiri mulai goyah oleh kehadiran seorang gadis cantik, putri dari Hasan Din, tokoh Muhamadiyah setempat. Nama gadis itu adalah Fatmawati. Ironisnya Fatmawati adalah kawan sepermainan Ratna Juami, atau Omi, putri angkat Sukarno dan Inggit. Fatmawati bahkan juga merupakan anak angkat Inggit dan Sukarno dan sempat tinggal di rumah mereka. 

Meski Sukarno jatuh cinta pada Fatmawati dan berniat menikahinya tapi ia tak ingin menceraikan Inggit. Di hatinya, Inggit masih tak tergantikan. Ia menyadari peran besar dan pengorbanan Inggit baginya selama ini, tapi di sisi lain, Sukarno mendambakan keturunan langsung dari dirinya sendiri. Ia ingin memiliki anak. Anak kandungnya sendiri, hal yang tak bisa dipenuhi Inggit. Tentu saja hal ini menghancurkan hati Inggit. Selama ini pernikahannya bersama Sukarno berjalan harmonis, walau mereka tak memiliki anak kandung namun mereka sangat menyayangi dua anak angkat mereka, Omi dan Kartika. Tapi sejak bertemu Fatmawati, gadis manis putri Hasan Din, ketua ranting Muhamadiyah cabang Bengkulu, hati Sukarno tergetar yang juga menggoyahkan biduk rumah tangganya bersama Inggit. Walau Sukarno bersikeras tak ingin bercerai, namun ia juga tetap kukuh pada pendiriannya untuk menikahi Fatmawati. Dan bagi Inggit yang berhati teguh, ia tak rela dimadu. Baginya lebih baik mati daripada dimadu. Maka ia pun memberi ultimatum pada Sukarno, bila ia tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk menikahi Fatmawati maka ia harus terlebih dahulu menceraikan Inggit. Tak dinyana, Sukarno memilih menceraikan Inggit demi bisa menikahi Fatmawati. Namun satu permintaan Inggit, ia meminta perceraian dilakukan saat mereka sudah kembali ke Pulau Jawa, karena Inggit merasa setidaknya di tanah Jawa tepatnya di Bandung, ia memiliki banyak kerabat sehingga ia merasa tak sendirian tidak seperti di Bengkulu yang sama sekali asing baginya.

Perang Dunia kedua dan kabar mengenai kedatangan Jepang ke Indonesia membuat Belanda melakukan antisipasi. Sukarno dan keluarga kecilnya dibawa pergi dari Bengkulu. Mereka menyusuri hutan-hutan belantara Sumatera hingga akhirnya sampai ke Padang. Dari Padang ini sedianya mereka akan berlayar menuju Pulau Jawa. Di tengah keadaan yang tak menentu ini, hubungan Sukarno dan Inggit justru sedikit membaik. Dalam hati Inggit merasa bahagia, karena Sukarno untuk sementara terpisah dari Fatmawati. Ia berharap bisa segera tiba kembali ke tanah Jawa dan takkan pernah lagi bertemu Fatmawati. Tapi tak dinyana, saat mereka tengah menunggu kapal yang akan membawa mereka ke pulau Jawa datang berita bahwa Jepang sudah memasuki kota Padang. Jepang mengetahui peran Sukarno dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pihak Jepang pun menawarkan kerjasama pada Sukarno. Berbeda dengan harapan Inggit yang tak ingin kembali ke Bengkulu, nyatanya dalam perjalanan ke tanah Jawa, mereka kembali dibawa menuju Bengkulu terlebih dahulu. Dan seperti yang bisa diduga, Sukarno kembali menemui Fatmawati dan menegaskan janjinya untuk menikahi Fatmawati.

Setibanya di Bandung, setelah 20 tahun mengarungi bahtera rumah tangga, pada 1943 pernikahan Inggit dan Sukarno berakhir. Sejarah kemudian menggariskan Sukarno menjadi Presiden pertama Republik Indonesia dan Fatmawati yang akhirnya benar-benar dinikahi Sukarno menjadi ibu negara. Sementara Inggit yang sejak mudanya selalu bekerja keras, kembali berjuang sendirian memenuhi kebutuhan hidupnya dan Kartika, anak angkatnya. Ia kembali membanting tulang membuat bedak dan jamu juga menjahit pakaian untuk wanita dan anak-anak. Meski kecewa dan patah hati tapi tak setitik pun benci dan dendam bertahta di hatinya. Dengan keluhuran budinya, Inggit menerima semuanya sebagai suratan takdirnya. Di dalam hatinya, Sukarno tetap merupakan kesayangannya. Foto Sukarno bahkan masih terpasang di kamarnya. Nyatanya pula Sukarno tak pernah menafikan peran Inggit Garnasih sebagai mitra seperjalanan merintis kemerdekaan Indonesia. Pada 17 Agustus 1961 Sukarno menganugrahi Inggit tanda kehormatan "Satyalancana Perintis Pergerakan Kemerdekaan."

Saat Sukarno mengunjunginya, dua puluh tahun setelah perceraian mereka, Sukarno meminta maaf pada Inggit karena telah menyakiti hatinya, tapi dengan bijak, Inggit berujar, "Tidak usah diminta Ngkus, sudah lama Nggit maafkan Ngkus. Ngkus pimpinlah negara dan rakyat dengan baik seperti cita-cita kita dulu (hal. 340)." Sukarno dan Inggit memang memiliki panggilan kesayangan masing-masing. Inggit memanggil Sukarno dengan nama Kusno, nama kecil Sukarno namun karena waktu kecil ia suka sakit-sakitan maka ayahnya mengganti namanya dengan nama Sukarno, yang diambil dari nama tokoh wayang kesukaannya, Karna. Sementara Sukarno memanggil Inggit dengan panggilan Nggit.

Pada 1960 saat Sukarno kembali datang ke Bandung, ia pun sempat mengunjungi Inggit yang kala itu sudah berusia 72 tahun. Saat itu Inggit sedang sakit. Pertemuan ini menjadi pertemuan terakhir mereka. Pada 21 Juni 1970 Sukarno meninggal dunia. 

Fatmawati pun sempat datang mengunjungi Inggit. Awalnya Ali Sadikin yang adalah Gubernur DKI Jakarta terlebih dahulu mengunjungi Inggit menjajaki perasaan Inggit, bilamana masih ada rasa sakit di hati Inggit pada Fatma. Namun nyatanya Inggit sudah lama memaafkan dan melupakan kejadian di masa silam itu. Bahkan dengan tangan terbuka ia menyambut Fatmawati yang datang bersama Guntur dan Megawati, anak-anaknya bersama Sukarno. Pada kesempatan ini, Fatmawati menangis dan bersujud sambil mencium kaki Ibu Inggit tapi Inggit dengan arifnya berkata, "Ibu maafkan semua kesalahanmu dari dahulu, dan sampai sekarangpun engkau masih anak ibu (hal. 343)" Tiga bulan setelah pertemuan mereka ini, pada 14 Mei 1980 Fatmawati meninggal dunia dalam usia 57 tahun.

Pada September 1982 Inggit terserang sakit bronchitis. Seiring waktu kesehatannya makin menurun. Pada 13 April 1984 Inggit Garnasih menghembuskan nafas terakhirnya. Pada 11 Agustus 1997, Presiden Soeharto menganugrahinya tanda kehormatan "Bintang Mahaputra Utama." 

Peran Inggit Garnasih dalam sejarah kemerdekaan Indonesia mungkin tak sebingar tokoh pejuang kemerdekaan lainnya, namun kesederhanaan dan ketulusannya serta kebesaran jiwanya adalah teladan sempurna bagi bangsa ini. Bahkan ada satu kejadian menyentuh saat Inggit didatangi oleh seorang wartawan, tak lama setelah kematian Sukarno. Wartawan ini bertanya pada Inggit, "Apa yang Ibu terima dari harta pusaka peninggalan Bapak?" Inggit menjawab, "Negara kita ini, untuk kita semua, untuk seluruh rakyat, dan untuk semua keturunan bangsa kita." Jawaban yang sama sekali tak disangka. Wartawan ini mengira Inggit akan menerima harta secara materi dari Sukarno mengingat peran Inggit dalam hidup Sukarno. Si wartawan itu pun menegaskan maksud pertanyaannya, "Yang saya maksudkan harta pusaka untuk Ibu pribadi?" Dan lagi-lagi Inggit menjawab dengan jawaban yang sama sekali tak diduga. Ia berkata, "Kenangan yang tak terlupakan, yang Ibu simpan di dalam hati, yang akan menemani Ibu masuk ke dalam kubur (hal. 341)."

Selasa, 18 Februari 2014

Review Novel: The Strange Case of Dr. Jekyll And Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson

Gabriel John Utterson awalnya tak mengira kisah yang dituturkan oleh sepupunya, Richard Enfield akan membawanya ke sebuah kasus yang sangat pelik. Saat mereka tengah berjalan-jalan seperti rutinitas mereka setiap hari Minggu, mereka melewati sebuah pintu belakang sebuah rumah. Melihat pintu ini, Mr. Enfield teringat kejadian aneh beberapa malam sebelumnya dan ini diceritakannya pada Mr. Utterson. 

Malam itu, Mr. Enfield berkisah, ia melihat seorang pria berperawakan kecil dengan baju yang kebesaran tengah berjalan kaki dan di arah sebaliknya ada seorang anak perempuan yang juga berjalan menuju ke arahnya. Saat sudah berdekatan si pria ini tiba-tiba membuat anak perempuan itu terjatuh, bukannya membantu anak perempuan itu bangkit berdiri si pria berperawakan pendek ini malah menginjak-injak si anak perempuan yang malang itu. Tangisan dan jeritan kesakitan si anak perempuan ini membuat orang-orang di sekitar mereka mendekat, si pria aneh itu tanpa perasaan bersalah mencoba pergi begitu saja, tapi Mr. Enfield yang sigap langsung menangkapnya sehingga ia tak bisa berkelit dan berjanji akan memberi cek sebagai biaya pengobatan si anak perempuan malang itu. Si pria ini lalu masuk ke pintu di mana Mr. Enfield dan Mr. Utterson saat ini berdiri. 

Saat keluar ia memberikan cek seperti yang dijanjikannya. Tapi semua orang di sana terlihat tak percaya melihat nama dan tanda tangan di atas cek itu adalah nama seorang yang sangat terkenal dan terpandang. Mereka mengira tanda tangan di cek itu mungkin palsu atau jika asli ada kemungkinan si pria aneh yang mengaku bernama Edward Hyde ini telah mencuri cek tersebut. Tapi saat cek tersebut diuangkan keesokan paginya ternyata tanda tangan itu asli dan tak ada laporan cek itu telah dicuri. Tanda tangan yang tertera di cek tersebut adalah tanda tangan Dr. Henry Jekyll yang memiliki reputasi dan dikenal dermawan. Mendengar cerita sepupunya itu, Mr. Utterson sedikit ragu apalagi dikatakan si pria aneh berperawakan kecil ini masuk ke dalam pintu rumah di mana mereka tengah berdiri. Dan Mr. Utterson sangat mengenal pintu rumah ini karena pintu di mana mereka berdiri dan menjadi awal cerita Mr. Enfield adalah pintu laboratorium yang menuju ke kediaman pribadi Dr. Henry Jekyll, sahabatnya.

Mr. Enfield juga menggambarkan ciri-ciri fisik dari Edward Hyde. Selain berperawakan pendek, wajah Hyde terlihat sangat jahat hingga membuat siapapun yang melihatnya merasa ngeri dan jijik. 

Beberapa hari kemudian di suatu malam, Utterson berpapasan dengan Edward Hyde dan ciri-ciri fisiknya benar-benar mirip seperti yang digambarkan oleh Enfield. 

Sebelum Enfield menceritakan tentang Hyde sebenarnya Utterson sudah lama mengenal nama Edward Hyde, karena beberapa hari sebelumnya, Henry Jekyll pernah meminta bantuan Utterson yang adalah seorang pengacara untuk membuatkan surat wasiat. Dalam wasiatnya itu Henry Jekyll memutuskan akan menyerahkan seluruh harta kekayaannya pada Edward Hyde bilamana ia tiba-tiba menghilang tanpa diketahui jejaknya selama tiga bulan. Sejak membuatkan wasiat itu, Utterson sudah merasa aneh, ditambah mendengar cerita sepupunya yang melihat Hyde bisa dengan mudah dan memiliki kunci pintu laboratorium yang menuju rumah Jekyll bahkan bisa memberikan cek dengan tanda tangan Henry Jekyll. Dengan semua keanehan ini, Utterson curiga jangan-jangan ada rahasia kelam Jekyll yang jatuh ke tangan Hyde dan kini Hyde mencoba memeras Jekyll. 

Sebagai sahabat, Utterson ingin menolong Jekyll terbebas dari Hyde yang terlihat jahat itu, tapi Jekyll menenangkan Utterson bahwa ia baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Masih merasa penasaran, Utterson mencoba menemui Dr. Hastie Lanyon, sahabat Jekyll sejak di sekolah. Mengingat Lanyon sudah lama berteman dengan Jekyll maka Utterson menduga pastilah Lanyon mengenal semua teman-teman Jekyll. Tapi Lanyon menyatakan bahwa ia dan Jekyll belakangan berselisih paham. Jekyll sangat suka melakukan eksperimen dan belakangan ini Lanyon menganggap kejeniusan Jekyll telah membuatnya sedikit aneh, terkadang Lanyon menyaksikan sendiri sifat-sifat jahat Jekyll. Meski mereka berselisih paham berhubungan dengan profesi mereka namun keduanya tetap berteman dan Lanyon bisa memastikan bahwa sejak dulu tak ada teman Jekyll yang bernama Edward Hyde.

Keanehan ini belum lagi terurai tiba-tiba terjadi suatu peristiwa mengerikan. Suatu malam terjadi pembunuhan terhadap anggota dewan. Seorang saksi mata melihat sosok pembunuhnya itu berperawakan kecil dengan wajah jahat yang menjijikan. Di tempat kejadian tertinggal serpihan tongkat yang terlihat unik dan langka. Utterson sangat mengenal tongkat itu karena tongkat itu pernah ia hadiahkan untuk Henry Jekyll.

Kejadian ini membuat Utterson merasa posisi Jekyll kini berada dalam bahaya. Reputasinya bisa saja hancur bila kedekatannya dengan Hyde diketahui. Utterson segera mendatangi Jekyll untuk mendesaknya agar menjauhi Hyde. Ternyata tanpa diminta pun, Jekyll menegaskan ia takkan pernah lagi mau terlibat dengan Edward Hyde. Ia juga menunjukkan pada Utterson surat yang baru saja diterimanya. Surat itu tidak melalui pos, Jekyll menduga surat itu diantarkan langsung oleh pengirimnya. Surat itu dari Hyde dan dalam surat tersebut Hyde mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Jekyll yang banyak membantunya dan meminta Jekyll tak mengkhawatirkannya karena ia memiliki cara untuk meloloskan diri. 

Henry Jekyll yang berperawakan tinggi besar itu tampak pucat dan kelihatannya benar-benar ketakutan. Tanpa banyak pikir ia bahkan mengijinkan Utterson menyimpan surat dari Hyde tersebut. 

Isi surat itu memang tak ada yang aneh tapi keberadaan dan asal usul surat itu diliputi banyak misteri. Jekyll menyatakan pada Utterson bahwa surat tersebut diantarkan langsung ke rumahnya, tapi saat Utterson menanyakan pada Poole, kepala pelayan di rumah Jekyll sangat yakin bahwa hari itu tak ada siapapun yang mengirimkan surat kecuali tukang pos tapi yang diantarkan tukang pos hanyalah surat-surat iklan saja dan sama sekali tak ada surat pribadi untuk Dr. Henry Jekyll.

Keanehan kedua seputar surat itu datang dari pengamatan Guest, kepala tata usaha di kantor pengacara Utterson. Mr. Guest sangat piawai membaca tulisan. Di waktu yang sama datang surat dari Dr. Henry Jekyll untuk Mr. Utterson. Saat melihat surat dari Hyde dan surat dari Dr. Jekyll yang baru saja datang, Mr. Guest dengan pasti menyatakan bahwa kedua tersebut ditulis oleh orang yang sama. 

Pernyataan Mr. Guest itu sangat mengejutkan Utterson. Tapi belum lagi misteri ini terpecahkan, datang kejadian aneh berikutnya. Suatu hari Utterson mengunjungi Dr. Lanyon karena Jekyll lagi-lagi secara tiba-tiba kembali sukar ditemui dan memilih mengurung diri di dalam laboratorium pribadinya. Saat melihat Lanyon, Utterson terperangah melihat penampilan sahabatnya berubah drastis secara mendadak. Lanyon yang biasanya ceria kini terlihat kurus, pucat, dan tampaknya tengah menanggung beban pikiran yang sangat berat. Padahal beberapa hari sebelumnya, Lanyon masih tampak segar saat menghadiri undangan makan malam di rumah Henry Jekyll. Saat mendengar nama Jekyll, tiba-tiba Lanyon marah dan meminta Utterson tak pernah lagi menyebut nama Henry Jekyll di depannya. Utterson kebingungan tapi ia tak mendapat jawaban yang bisa memuaskan rasa ingin tahunya. Beberapa hari kemudian, Lanyon meninggal dan di hari pemakamannya, Utterson menerima surat dari Lanyon tapi pada amplopnya tertulis surat tersebut baru boleh dibuka bila Dr. Henry Jekyll sudah meninggal dunia atau menghilang.

Melihat tulisan menghilang ini membuat Utterson kembali kebingungan. Apa maksud dari menghilang ini? Dua kali ia melihat kata ini. Pertama dalam surat wasiat Henry Jekyll dan kini kata menghilang ini kembali muncul di surat dari almarhum sahabatnya yang lain, Hastie Lanyon.

Teka-teki yang membingungkan ini terbuka saat suatu malam Poole, kepala pelayan Henry Jekyll datang ke rumah Utterson. Ia khawatir majikannya berada dalam bahaya. Selama ini Poole dan seluruh pelayan di rumah tersebut yakin majikannya yang mengurung diri dalam laboratoriumnya berada seorang diri karena majikannya tak berkenan ditemui siapapun dan mereka yakin sekali tak ada siapapun yang datang. Tapi suatu hari, Poole melihat sosok seorang pria mengenakan topeng terlihat mengendap-endap dari arah laboratorium masuk ke dalam rumah. Saat Poole menegurnya, orang ini langsung menjerit dan berlari kembali ke dalam laboratorium. Selain itu dari bunyi langkah di dalam laboratorium, Poole merasa ada orang lain selain majikannya. 

Utterson yang sudah sejak semula mengkhawatirkan Jekyll makin khawatir mendengar penuturan Poole. Dan kekhawatirannya makin menjadi saat ia memanggil-manggil Jekyll di depan pintu laboratorium tapi suara yang menjawabnya bukanlah suara Henry Jekyll. Sebelumnya Utterson sempat berpapasan dengan Edward Hyde di sebuah perumahan mewah dan sempat memaksanya bicara dan kini suara yang sama itulah yang menjawabnya dari balik pintu laboratorium. Suara Edward Hyde yang kasar. Tanpa pikir panjang, mengira jangan-jangan Hyde telah membunuh Henry Jekyll maka Utterson dan Poole mendobrak pintu laboratorium itu tapi ternyata jawaban dari teka-teki aneh ini sama sekali di luar nalar pikir manusia siapapun. Tak ada sosok Henry Jekyll. Yang ada hanyalah sosok seorang pria berperawakan pendek dengan baju yang kebesaran. Sosok Edward Hyde yang sudah tewas bunuh diri saat mendengar Utterson dan Poole mendobrak pintu laboratorium. Utterson mencari keberadaan Henry Jekyll, ia menemukan surat dan tulisan di surat tersebut dikenalnya sebagai tulisan Henry Jekyll.

Jekyll meninggalkan dua surat untuk Utterson. Yang pertama sepucuk surat yang sangat singkat dan yang lainnya adalah satu bundel surat yang sangat berat. Dalam suratnya yang singkat, Jekyll meminta Utterson terlebih dahulu membaca surat dari Lanyon sebelum membaca satu bundel surat yang ditinggalkannya itu. Surat dari Lanyon dan Jekyll itulah yang akhirnya membuka semua teka-teki aneh ini. Dalam surat itu pula barulah diketahui di mana keberadaan Dr. Henry Jekyll dan pribadi sebenarnya Edward Hyde yang berperawakan pendek dan berwajah jahat itu.

Catatan: Kisah Jekyll dan Hyde merupakan salah satu kisah klasik yang sudah melegenda. Dua pribadi yang bertolak belakang tapi juga menggambarkan dualisme dalam diri setiap manusia yang membentuk satu kesatuan sebagai pribadi yang utuh. Melalui karyanya ini Robert Louis Stevenson memperlihatkan kejeniusannya mengurai sifat-sifat paling mendasar setiap manusia. Kemunafikan manusia yang tak ingin mengorbankan reputasinya sebagai makhluk terhormat tapi di sisi lain bergolak rasa ingin memuaskan hasrat dari sisi paling gelap dalam dirinya. Sisi jahat dari pribadinya sendiri yang disadari secara nyata mengerikan dan bisa merusak reputasinya tapi tak bisa juga ditampik petualangan sisi jahatnya begitu menyenangkan, menegangkan dan membuat hidup jadi terasa bergairah. Demi maksud inilah maka eksperimen itu dilakukan. Eksperimen yang pada dasarnya menunjukkan ambisi dan kearoganan seseorang. Hasrat untuk menantang Tuhan. Mencipta ulang tapi berujung pada tragedi.

Awalnya alur cerita dalam novel ini sedikit agak membosankan dan membingungkan tapi seiring waktu, kemisteriusan yang membalut pribadi Edward Hyde membuat jalan cerita jadi menarik. Puncaknya, ending yang benar-benar menantang daya nalar manusia. Ending yang sama sekali tak terduga.

Senin, 10 Februari 2014

Review Novel The Icon - Frederick Forsyth

Rusia pasca tumbangnya rezim komunisme berada di titik nadir. Kriminalitas merajalela, inflasi melambung tinggi, bahkan sepotong roti saja harganya mencapai satu juta rubel. Di saat seperti ini, Presiden Rusia, Josef Cherkassov meninggal dunia akibat serangan jantung dalam perjalanannya menuju dacha, tempat peristirahatan akhir pekannya di luar Moskow. 

Kematian Presiden Cherkassov yang mendadak membuat pemilu Rusia yang segera akan digelar menjadi wacana yang ramai diperbincangkan. Dari sekian banyak nama calon presiden ada sebuah nama yang sangat populer dan dianggap mampu mengangkat kembali Rusia menuju masa keemasannya. Orang itu adalah Igor Komarov, ketua umum UPF, Union of Patriotic Forces, atau Federasi Kekuatan Patriotis. UPF merupakan persatuan partai-partai ultra kanan dan neo fasis, di antaranya Partai Demokrat Liberal, yang melebur jadi satu hingga menjadi kekuatan besar di bawah kepemimpinan Komarov. Meski dalam pidato-pidatonya yang membuat namanya melambung, Komarov digambarkan sebagai sosok yang ramah bersahabat terutama pada masyarakat kalangan bawah, pada kenyataannya Komarov adalah seorang yang dingin dan kaku. Bahkan para bawahannya di UPF diharuskan memanggilnya Presiden karena ia menganggap, cepat atau lambat partainya akan memenangi pemilu yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi Presiden yang sesungguhnya. Presiden Rusia.

Di malam ketika Presiden Cherkassov diberitakan meninggal dunia akibat serangan jantung, teradi suatu peristiwa kecil yang berdampak luas di dalam markas besar UPF.

Leonid Zaitsev, seorang tua pensiunan tentara seperti biasanya datang ke markas besar UPF untuk melakukan tugasnya sebagai tukang bersih-bersih. Tapi tak seperti biasanya, kali itu ia melihat sebuah dokumen bersampul hitam yang menarik minatnya tergeletak di atas meja N.I. Akopov, sekretaris pribadi Igor Komarov, sang Presiden UPF. Setelah ia membaca dokumen itu, ia sangat terkejut karena isinya adalah rencana sang Presiden UPF yang akan melakukan pembersihan ras, kembali mendirikan pemerintahan satu partai, dan membuka kembali kamp-kamp kerja paksa, bila ia terpilih menjadi Presiden Rusia. Dalam menjalankan aksi pembersihan ras dan menciptakan kembali teror terhadap rakyat, Komarov mempercayakannya pada Kolonel Anatoli Grishin, kepala keamanannya yang dikenal dengan nama Pengawal Hitam.

Saat mengetahui dokumen rahasia itu hilang, Komarov sangat marah dan memerintahkan Anatoli Grishin, kepala pasukan keamanannya untuk menyingkirkan Akopov, sekretaris pribadinya yang ceroboh, membiarkan dokumen rahasia tergeletak di mejanya hingga akhirnya hilang dicuri. Orang kedua yang dibunuh akibat dokumen rahasia bersampul hitam itu adalah Leonid Zaitsev, si tukang bersih-bersih yang mencuri dokumen tersebut, tapi meski Grishin menghabisi nyawa pria tua pensiunan tentara miskin itu dengan cara keji, ia tetap tak bisa mendapatkan kembali dokumen rahasia Komarov itu karena Zaitsev sudah melemparkannya ke dalam mobil seorang staf Kedutaan Besar Inggris. Oleh Dinas Intelijen Inggris, dokumen rahasia Komarov itu disebut Manifesto Hitam. Orang ketiga yang dibunuh akibat Manifesto Hitam itu adalah seorang wartawan Inggris yang saat mewawancarai Komarov menyinggung Presiden UPF itu dengan menggunakan kalimat yang sama persis dengan yang ada di Manifesto Hitam sehingga Komarov mengira wartawan Inggris itu sudah membaca Manifesto Hitam miliknya dan karenanya harus disingkirkan.

Dari Moscow Manifesto Hitam itu diam-diam dibawa ke London hingga akhirnya sampai ke tangan Sir Nigel Irvine, mantan Kepala SIS, Dinas Intelijen Inggris yang kemudian dia sampaikan ke suatu perkumpulan rahasia di Amerika Serikat bernama Council of Lincoln. Anggota Council of Lincoln ini adalah orang-orang yang memiliki pengaruh di dunia, di antaranya Mantan Perdana Menteri Inggris, Mantan Presiden Amerika Serikat, Mantan Menteri Luar Negeri Amerika dan Inggris, bankir dan pengusaha top dunia. Ketika Manifesto Hitam ini disampaikan pada mereka, semuanya mencapai kata sepakat yaitu Igor Komarov harus disingkirkan. 

Satu-satunya cara untuk menyingkirkan Komarov adalah dengan melakukan destabilisasi. Namun aksi ini tentu saja sangat berbahaya mengingat aksi ini sangat rahasia dan tak mendapat dukungan resmi dari pemerintah manapun, karena akan merusak hubungan dengan pemerintah Rusia, terlebih Manifesto Hitam itu dibawa keluar dari Rusia dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena itu untuk melakukan tugas ini diperlukan seseorang yang benar-benar piawai, mengenal Rusia, dan mampu bekerja secara rahasia sambil membangun jaringan dan menggalang kekuatan untuk menghancurkan kredibilitas Igor Komarov. 

Lewat seorang kenalannya yang merupakan mantan Direktur Deputi Operasional CIA, ia mendapat nama orang yang cocok untuk melakukan tugas tersebut, ia pernah menjadi bintang di CIA berkat kepiawaiannya merekrut agen-agen top Soviet dan memberikan informasi penting bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Tapi masalahnya orang ini saat keluar dari CIA sudah bersumpah takkan pernah lagi menjejakkan kakinya di Rusia. Nama orang ini adalah Jason Monk. 

Sewaktu masih menjadi agen CIA saat di penghujung Perang Dingin, Monk pernah menjadi bintang kebanggaan dinas intelijen Amerika Serikat tersebut. Tokoh-tokoh yang direkrutnya untuk membelot dan memberi informasi bagi CIA, semuanya adalah agen-agen top yang bekerja di jantung pemerintahan Soviet. 

Sepanjang karirnya di CIA, Monk memang hanya merekrut empat orang agen saja tapi empat orang yang luar biasa. 

Agen pertama yang direkrutnya adalah Nikolai Turkin dari Direktorat Jenderal Satu KGB. Setelah ia diangkat menjadi Kepala KGB di Jerman Timur, divisi terbesar Soviet di dunia, ia memberikan informasi yang luar biasa berharga. Monk memberi nama kode Lysander untuk Turkin.

Agen kedua yang direkrut Monk adalah seorang prajurit Siberia bertubuh besar namun berwajah oriental, Mayor Pyotr Solomin. Saat direkrut di Republik Yaman Selatan, jabatan Mayor Solomin memang belum terlalu penting, tapi saat ia kembali ke Moskow, ia diangkat menjadi ajudan Deputi Menteri Pertahanan yang memungkinkannya memberikan banyak informasi berharga dari jantung pertahanan Soviet. Solomin mendapat nama kode: Orion. 

Agen ketiga Monk adalah Valeri Kruglov yang memiliki posisi di Kementrian Luar Negeri Soviet sehingga informasi-informasi yang diberikannya sangat bernilai bagi Amerika Serikat dan negara-negara Barat untuk memahami arah politik luar negeri Soviet. Nama kode untuknya adalah Delphi

Satu agen terakhir Monk adalah seorang ilmuwan fisika yang bekerja melakukan riset untuk membuat senjata nuklir Soviet, Profesor Ivan Blinov yang hidup terisolasi dalam sebuah kota yang meski mendapat fasilitas mewah versi Soviet dan blok Timur namun dijaga amat ketat hingga para penghuni di kota tersebut merasa bagai hidup dalam penjara. Mengingat Soviet sangat menjaga para ilmuwannya dan hasil-hasil riset mereka maka tak banyak yang bisa diketahui negara-negara Barat, tapi berkat informasi-informasi yang diberikan oleh Blinov, negara-negara Barat bisa mengetahui posisi persenjataan nuklir Soviet. Blinov mendapat nama kode: Pegasus.

Empat orang agen inilah yang membuat nama Jason Monk bersinar di CIA. Berkat hubungan baiknya dengan Carey Jordan, Direktur Deputi Operasional CIA, Monk mendapat keistimewaan untuk menangani langsung keempat agennya. Padahal aturan yang berlaku, biasanya usai merekrut, si agen yang direkrut akan diserahkan ke orang lain. Dalam berkomunikasi dengan para agennya, Monk memperlakukan mereka sebagai sahabat. Tak jarang ia menyisipkan surat pribadi darinya sendiri untuk agen-agennya, padahal aturan yang berlaku tak memperkenankan hubungan emosional secara pribadi seperti itu. 

Sementara itu di tubuh CIA ada kebocoran informasi besar-besaran. Beberapa agen Soviet yang diam-diam bekerja memberikan informasi untuk CIA satu persatu lenyap tak berbekas. Ada dua kemungkinan untuk lenyapnya agen-agen tersebut. Entah mereka ceroboh hingga terendus KGB ataukah ada "tikus" pengkhianat dalam tubuh CIA. Dan jawabannya adalah yang kedua. 

Aldrich Ames, si "tikus" yang menciptakan kerusakan parah di tubuh badan intelijen negeri adidaya itu adalah Kepala Cabang Soviet dari grup kontraspionasi Divisi Soviet/Eropa Timur sehingga dengan posisinya ini ia memiliki akses ke Arsip 301 yang memuat seluruh data agen-agen Soviet dan Eropa Timur yang bekerja untuk Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Kegemaran Ames menenggak alkohol dan berfoya-foya membuatnya hampir jatuh bangkrut. Untuk mengatasi masalah keuangannya, Ames tega menghianati institusi, negara, dan rekan-rekannya di CIA dengan merampok isi Arsip 301 untuk diserahkan ke badan intelijen Rusia, KGB. 

Berdasarkan dokumen-dokumen yang dikuras Ames dari Arsip 301, satu persatu agen Soviet yang bekerja untuk Barat mulai ditangkap dan dijatuhi hukuman. Ada yang dihukum mati, ada pula yang dikirim ke kamp kerja paksa, hanya beberapa yang disiksa secara mental dengan tetap menahannya di sel penjara dan dipaksa memakan kotorannya sendiri hingga akhirnya kehilangan kewarasannya. Komandan interogator yang menyiksa dan membunuh para agen Soviet yang dikhianati Ames itu adalah Anatoli Grishin yang kala itu bekerja di Direktorat Jenderal Dua KGB yang terkenal kejam dan bengis.

Meski satu persatu agen-agen Soviet yang bekerja untuk negara-negara Barat mulai lenyap tak berbekas tapi agen-agen milik Monk masih memancarkan sinar kehidupan, karena Monk yang suka melanggar aturan, tak pernah menyimpan data mereka ke dalam Arsip 301 sebagaimana seharusnya, karena itu Ames tak pernah menemukan agen-agen yang direkrut Monk tersebut. Arsip-arsip berisi data agen-agennya disimpan dalam lemari di ruangan atasannya, Carey Jordan. 

Namun keadaan ini tak berlangsung lama. Saat Carey Jordan, pelindung Monk selama ini tersandung kasus politis yang menyebabkannya diberhentikan dari posisinya di CIA, maka oleh penggantinya, arsip berisi data agen-agen Monk pun dipindahkan ke tempat yang seharusnya, Arsip 301. Tak butuh waktu lama, Ames berhasil mendapatkan dokumen-dokumen berisi data agen-agen Monk yang lalu diserahkannya ke KGB. Anatoli Grishin yang sudah lama penasaran dengan aset milik Monk ini gembira bukan kepalang saat akhirnya mendapatkan data agen-agen milik Monk. 

Satu persatu agen-agen Monk diinterogasi. Solomin, Kruglov, dan Profesor Blinov diinterogasi langsung oleh Grishin. Dan saat menginterogasi mereka ini, timbul rasa benci di hatinya pada orang bernama Jason Monk. Karena ternyata selama ini Jason Monk sudah tiga kali masuk ke dalam wilayah Soviet, menemui ketiga agennya ini tanpa diketahui sama sekali. Ia merasa marah karena berhasil dipecundangi Monk. Berkali-kali Jason Monk masuk ke daerah kekuasaannya, melakukan pertemuan dengan agen-agennya, yang dianggap Grishin sebagai pengkhianat, tapi berhasil melenggang kembali ke negerinya dengan selamat. Saat ketiga Solomin, Kruglov, dan Blinov membeberkan di depan panel pemeriksa informasi apa saja yang telah mereka bocorkan, semua orang KGB itu pucat pasi, karena informasi yang mereka berikan mampu menghancurkan rezim Soviet. Dan hal ini membuat Grishin makin muak dan benci pada seorang Amerika Serikat bernama Jason Monk.

Ketiga agen Monk ditembak mati. Yang paling pertama Kruglov, lalu Profesor Blinov dan terakhir si prajurit Siberia, sang pemburu, Kolonel Pyotr Solomin. Dengan seluruh harga diri dan keyakinannya bahwa ia melakukan hal yang benar, Solomin menengadahkan kepalanya menatap langit, dan saat laras senapan menempel di belakang kepalanya, ia mengulurkan tangan kirinya ke arah Kolonel Grishin yang menatapnya dengan pandangan benci, jari tengahnya menunjuk kaku ke atas, saat itulah Grishin berteriak memberi perintah menembak. Saat Solomin mengarahkan jari tangan kirinya ke arah Kolonel Grishin, tampak sebentuk cincin Navajo berwarna biru dan keperakan di jari Solomin, cincin itu adalah hadiah dari Monk untuk si prajurit Siberia. Setelah Solomin tewas, Grishin mengambil cincin itu dan mengenakannya. 

Di Langley, Monk mulai panik karena tiga agennya, Orion, Delphi, dan Pegasus tiba-tiba lenyap tak berbekas. Ia terus meracau mengungkapkan keyakinannya bahwa ada "tikus" pengkhianat di dalam CIA tapi tak ada yang mau mempedulikannya. Semua prihatin padanya yang secara mendadak kehilangan tiga agennya sekaligus tapi mereka terlalu takut untuk mempercayai Monk, karena bagaimanapun mereka harus saling percaya satu sama lain, dan tuduhan adanya pengkhianat dalam tubuh badan intelijen sebesar CIA terlalu mengerikan karena bila tuduhan itu benar adanya artinya adalah mimpi buruk.

Dengan kematian tiga agennya, kini Monk hanya memiliki Turkin yang masih mengisi posisinya sebagai Kepala seluruh Direktorat K di Jerman Timur. Sebagai kepala kontraspionase, Turkin mencium ada sesuatu yang tak beres. Ia meminta Monk agar datang menemuinya di Berlin Timur. Meski berbahaya, Monk menyanggupi permintaan Turkin. Sementara itu, perburuan besar-besaran dikerahkan untuk menangkap aset Monk yang terakhir, Lysander alias Nikolai Turkin. 

Perburuan ini dipimpin langsung oleh Anatoli Grishin yang merasa geram pada Monk dan bersumpah bila sampai Monk menginjakkan lagi kakinya di wilayah Soviet maka ia sendiri yang akan menangkap dan menyiksa Monk. Dan kini Monk ada di wilayah Berlin Timur, menyamar sebagai penyemir sepatu sambil berbincang-bincang secara tak kentara dengan Turkin. Dalam kesempatan itu Turkin mengungkapkan pada Monk, ia mendapat informasi secara tak sengaja bahwa di tubuh CIA ada pengkhianat yang membuat Moscow pesta pora melakukan penangkapan besar-besaran atas satu orang di Kementrian Pertahanan dan satu orang lagi di Kementrian Luar Negeri. Turkin sama sekali tak mengenal Solomin dan Kruglov tapi Monk tahu yang dimaksud Turkin itu adalah Solomon dan Kruglov. Informasi dari Turkin membuat Monk pucat pasi karena semuanya bertepatan dengan menghilangnya agen Orion dan Delphi yang mendadak. Diliputi kekhawatiran akan kehilangan satu-satunya agennya yang tersisa; bagaimanapun Monk sudah menganggap Turkin sebagai sahabatnya, Monk mendesak Turkin agar segera menyeberang ke Berlin Barat, tapi Turkin mengkhawatirkan istri dan anaknya yang masih berada di Soviet. Maka Monk menganjurkan agar Turkin segera saja memanggil istri dan anaknya, Yuri agar datang ke Berlin. Dan bila mereka sudah menyeberang, Monk berjanji, ia sendiri yang akan mengurus Turkin dan keluarganya. Mereka sepakat dan lalu berpisah. Tapi baru saja beberapa langkah, mendadak Grishin dan pasukannya datang menyerbu dan menangkap Turkin di depan mata Monk yang hanya bisa terpana tak berdaya melihat sahabatnya dibawa pergi. 

Tak seperti Ames yang mengkhianati negara dan lembaga tempatnya bekerja demi tumpukan uang yang memungkinkannya untuk terus menjalani hobinya minum minuman keras dan berfoya-foya, agen-agen Soviet yang direkrut Monk melakukannya bukan demi materi. 

Turkin bersedia direkrut Monk karena ia ingin memberikan negeri yang jauh lebih baik bagi Yuri, putranya, negeri yang dibebaskan dari rasa curiga berlebih dan setulusnya membantu warganya yang kesulitan. Pertama kali Turkin bertemu dengan Monk saat ia ditugaskan di Nairobi, Kenya. Waktu itu jabatan yang disandang Turkin belum terlalu tinggi. Saat di Afrika ini, Yuri, putra Turkin yang kala itu baru berumur lima tahun terkena melioidosis, salah satu varian malaria yang jarang terjadi di Afrika tapi banyak ditemui di Asia Tenggara. Amerika Serikat mengenal penyakit ini saat Perang Vietnam dan membuat antibiotik untuk mengatasi penyakit ini tapi di Rusia belum ada antibiotik untuk penyakit jenis ini. Soviet melarang keras warganya untuk mendapat bantuan dari Barat sementara antibiotik yang dimiliki Soviet hanya mampu membuat nyawa Yuri, anaknya bertahan selama sebulan saja. Dalam keadaan putus asa dan marah pada sikap kaku pemerintahnya, Turkin bertemu Monk yang diam-diam mencari antibiotik untuk melioidosis dan memberikannya pada Turkin. Nyawa Yuri berhasil diselamatkan tapi kejadian ini membuat Turkin ingin menghancurkan sistem di negaranya dan cara yang ditempuhnya adalah bekerjasama dengan CIA tempat Monk bernaung.

Alasan Solomin bersedia direkrut oleh Monk pun hampir serupa dengan Turkin. Sebagai prajurit Siberia dari suku Udegey yang termasuk ras Asia dan karenanya ia sering mendapat perlakuan rasialis. Tapi yang membuat Solomin marah dan muak adalah perilaku koruptif para pejabat negara dan partai. Sementara rakyatnya hidup berkekurangan, para pejabatnya malah hidup berkelimpahan dengan menggunakan uang rakyat. 

Kruglov mungkin satu-satunya di antara agen-agen rekrutan Monk yang mendapat sedikit materi tapi bertahun-tahun lamanya sebagai diplomat Soviet, ia hidup di jalur lurus, sehingga tak seperti rekan-rekannya yang mampu membeli apartemen mewah, ia bahkan tak mampu membeli sebuah apartemen sederhana sekalipun. Berkat Monk, ia akhirnya bisa membeli sebuah apartemen sederhana seperti impiannya. Tapi alasan utamanya bersedia direkrut Monk adalah karena ia ingin Perang Dingin segera usai sehingga ia bisa hidup di negeri yang damai. 

Terakhir Profesor Blinov. Keadaannya sedikit rumit. Sebagai ilmuwan ia hidup terisolasi di sebuah kota yang dijaga ketat. Ia memiliki istri, ia bahagia dengan pernikahannya tapi sayangnya mereka tak dikaruniai anak. Suatu hari dalam suatu liburan, Blinov bertemu dengan seorang wanita keturunan Yahudi, Yevgenia Rozina. Mereka terlibat affair, namun walau Blinov mencintai Rozina, ia tak sampai hati menceraikan istrinya. Mereka berpisah secara baik-baik, Rozina lalu hijrah sebagai imigran gelap di Amerika Serikat. Blinov tak tahu saat berpisah dengannya, Rozina tengah mengandung anaknya. Rozina menamai anaknya Ivan Ivanovich Blinov yang artinya Ivan Putra-Ivan. Monk mengetahui hal ini dan bersedia membantu Blinov yang kini sudah menduda karena istrinya sudah meninggal dunia, untuk menyeberang ke Amerika Serikat dan hidup damai bersama Rozina dan Ivan, putra mereka, tapi Monk meminta Blinov bertahan dulu di Soviet selama dua tahun untuk memberikan informasi yang dibutuhkan negara-negara Barat.

Setelah Turkin ditangkap, Monk kembali ke Amerika bagai singa gunung yang terbakar ekornya. Ia terus mengungkapkan keyakinannya bahwa ada cecunguk tingkat tinggi di CIA. Tapi tak banyak yang menghiraukannya. Di kemudian hari keyakinan Monk itu terbukti. Aldrich Ames tertangkap tapi kerusakan akibat perbuatannya sudah tak bisa lagi diperbaiki. Ratusan agen sudah dijatuhi hukuman mati tanpa melalui proses pengadilan. Dan agen-agen terbaik milik Monk juga sudah tewas. Suatu hari Monk mendapat surat dari Turkin. Dalam suratnya Turkin menceritakan pada Monk, sahabatnya bahwa ia dikirim ke kamp kerja paksa paling kejam yang membuat rambut dan giginya rontok, tubuhnya dipenuhi kutu. Saat menulis surat itu Turkin mengatakan bahwa usianya takkan lama lagi, dan dalam surat itu Turkin mengungkapkan bahwa ia tak pernah menyesali perbuatannya karena ia menganggap rezim di negerinya sangat bengis. Bahkan di akhir suratnya ia memanggil Monk sebagai sahabatnya dan merasa bahwa Yuri, putranya, berhutang nyawa pada Monk. Usai membaca surat ini Monk menangis. Ia mendatangi rumah Ken Mulgrew, sahabat Ames yang selalu melindunginya sehingga membuat Ames melakukan kerusakan sedemikian hebatnya. Monk menghajar Mulgrew sebanyak empat kali, masing-masing untuk keempat agennya yang harus mati sia-sia. Setelah itu Monk mengundurkan diri dari CIA dan pergi ke Kepulauan Karibia, membeli sebuah perahu kecil dan menyewakannya untuk turis yang ingin memancing di tengah laut. Monk membuang kehidupan masa lalunya dan bersumpah tak ingin lagi menginjak tanah Rusia.

Monk memang sudah bersumpah tak ingin lagi menginjakkan kakinya di Rusia, tapi Sir Nigel Irvine, sang mantan Chief SIS, badan intelijen Inggris, setelah mendengar kisahnya dari Carey Jordan, kenalannya yang mantan Direktur Deputi Operasional CIA dan mantan atasan Monk itu, ia yakin bahwa Monk adalah orang yang cocok untuk mengemban tugas mendestabilisasi Igor Komarov. Irvine punya sesuatu yang ia yakin akan membuat Monk mau melakukan tugas ini. Anatoli Grishin. 

Monk memiliki dendam pribadi dengan Grishin karena itu Irvine yakin bila Monk mendengar nama Anatoli Grishin ini, Monk tidak akan menolaknya. Dan dugaannya memang benar. Saat ia mengungkapkan bahwa begitu Igor Komarov benar-benar terpilih menjadi Presiden, ia pasti akan menjalankan rencana gilanya seperti yang tercantum dalam Manifesto Hitam, dan Anatoli Grishin-lah yang akan menjadi algojonya. Ia yang akan menjalankan teror itu. Demi mendengar nama Anatoli Grishin minat Monk pun bangkit. 

Berbagai persiapan dilakukan. Dan pada saatnya, Monk akhirnya kembali menginjakkan kakinya di Rusia dan membawa Manifesto Hitam Komarov kembali ke Rusia. 

Di masa lalu Monk pernah menyelamatkan nyawa seorang Chechnya bernama Umar Gunayev yang kini menjadi salah satu pemimpin kelompok bawah tanah yang sangat berpengaruh. Setibanya di Moskow, ia datang bukan sekadar untuk menagih hutang nyawa itu tapi menurut Manifesto Hitam Komarov, suku Chechnya yang minoritas termasuk kelompok yang akan dihancurkan Komarov dan Grishin, karena itu Umar Gunayev menjadi bagian dari sedikit orang yang membaca Manifesto Hitam Komarov. Walau ragu tapi ia tak punya pilihan selain memberikan apa yang Monk inginkan. Perlindungan. Dengan perlindungan dari kelompok Chechnya, Monk bisa bergerak cepat menggalang kekuatan guna menghancurkan Igor Komarov. 

Ada tiga kelompok yang disebut-sebut Komarov dalam Manifesto Hitamnya yang akan dihancurkan. Gereja, kelompok minoritas di antaranya Yahudi dan suku Chechnya, dan tentara. Dan kepada tiga kelompok ini, Monk membangun kekuatan guna menghancurkan Komarov. Namun masalahnya ia harus berkejaran dengan waktu. Pemilu akan segera dilaksanakan, dan menurut jajak pendapat nama Igor Komarov selalu meraja di urutan teratas. 

Seperti Monk, rupanya Anatoli Grishin pun belum melupakan nama Jason Monk. Saat menginterogasi Turkin, ia baru tahu kalau ternyata saat itu Monk juga ada di sana dan melakukan kontak terakhirnya dengan Turkin. Hal ini membuatnya makin membenci Monk. Kini saat ia mendengar Monk kembali datang ke daerah kekuasaannya, ia bertekad takkan lagi membiarkan Monk pergi dengan selamat. Tapi masalahnya, meski ia telah mengerahkan anak buahnya tapi tetap saja sosok Monk tak bisa ditemukan.

Catatan: Novel ini merupakan salah satu novel favoritku. Bila aku harus menulis list novel terbaik sepanjang masa, maka bisa dipastikan novel The Icon karya Frederick Forsyth ini akan berada di urutan lima besar. Sudah berkali-kali aku membaca ulang novel ini tapi setiap kali aku membacanya, setiap kali itu pula aku terpesona dengan kepiawaian Forsyth yang memang lihai meramu kisah spionase penuh bumbu intrik kontraspionase lintas negara diselipi beberapa fakta sejarah murni berpadu dengan kisah fiktif rekaannya dengan latar belakang Perang Dingin. Dan berkali-kali aku membaca ulang novel ini, tak bisa tidak, aku selalu menangis di bagian Monk membaca surat Turkin yang dikirimkannya secara sembunyi-sembunyi dari kamp kerja paksa.

Bagian favoritku dari novel ini adalah saat Monk menghajar Ken Mulgrew sebanyak empat kali, masing-masing untuk keempat agennya. Empat orang agen yang luar biasa. Empat orang sahabatnya. 

Bagian favoritku lainnya adalah bagian di mana Monk berhadapan langsung dengan Anatoli Grishin dan berhasil mengambil kembali cincin Navajo berwarna biru dan keperakan dari jazad Grishin. Cincin itu adalah cincin yang sama yang pernah ia berikan pada Pyotr Solomin, di sebuah bangku taman di Yalta tapi kemudian Grishin mencurinya dari tangan si prajurit Siberia, si Pemburu Pemberani dari suku Udegey yang telah tewas ditembak mati oleh bawahan Grishin di halaman penjara Lefortovo.

Kata pengkhianat memang memiliki dua sisi. Bagi Amerika Serikat, Ames adalah pengkhianat hina. Monk begitu membenci Ames yang telah menyebabkan keempat agennya yang baginya adalah empat orang sahabatnya tewas karena keserakahan Ames. Sementara Grishin pun sangat membenci agen-agen Soviet yang mau bekerja sama dengan CIA mengirimkan informasi yang bisa menghancurkan negeri mereka sendiri. Dan bagi Grishin mereka adalah pengkhianat hina yang pantas dikirim ke neraka. Namun menarik disimak analisa perbedaan antara mereka yang dianggap sebagai pengkhianat Soviet dengan pengkhianat Amerika Serikat seperti yang tertera di halaman 228:

Seperti semua orang di Langley, Monk tidak pernah terpikir untuk membandingkan antara mereka yang bekerja melawan rezim Soviet dengan pengkhianat Amerika. Seorang pengkhianat Amerika mengkhianati seluruh rakyat Amerika dan pemerintahnya yang dipilih secara demokratis. Kalau tertangkap, ia akan mendapat perlakuan manusiawi, pengadilan yang adil, dan pengacara terbaik yang bisa didapatnya.

Sedangkan orang Rusia yang melawan rezim Soviet akan melawan Rezim yang mewakili tidak lebih dari sepuluh persen populasi yang menindas sembilan puluh persen sisanya. Kalau tertangkap ia akan disiksa dan ditembak tanpa melewati proses pengadilan, atau dibuang ke kamp kerja paksa.