Total Tayangan Laman

Translate

Jumat, 19 September 2014

Review Novel: The Appeal (Naik Banding) - John Grisham

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama 
ISBN : 978-979-22-9680-8 
Tebal : 512 hlm. 

Bertahun-tahun lamanya warga Bowmore di Mississipi menderita akibat dampak limbah beracun dari pabrik pestisida Krane Chemical yang dibuang secara tak bertanggung jawab sehingga membuat air di kota Bowmore tercemar. Sudah banyak warga kota Bowmore yang menderita dan meninggal akibat kanker yang disebabkan oleh air yang tercemar limbah dari Krane Chemical tersebut. Keadaan ini pula yang membuat Bowmore dikenal sebagai Kota Kanker - Cancer County. Meski begitu, tak ada satupun yang bisa memaksa Krane Chemical mempertanggung jawaban aksi pencemaran lingkungan yang mereka lakukan di Bowmore. 

Di antara korban-korban yang menderita atas pencemaran lingkungan yang dilakukan Krane Chemical adalah Jeannette Baker yang harus kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Suami dan putra semata wayangnya meninggal dunia akibat menderita kanker. Suami dan anak Jeannette Baker ini termasuk kelompok orang yang meminum air yang tercemar. Jeannette sendiri tak mau meminum air dari keran langsung saat melihat air di Bowmore tersebut tercemar, sedangkan suami dan anaknya saat itu masih saja meminum air yang tercemar tersebut karena mempercayai pernyataan dari Krane Chemical bahwa air di Bowmore masih aman dan bisa dikonsumsi. 

Jeannette Baker dibantu biro hukum Payton & Payton, yang dikelola pasangan suami istri, Wes dan Mary Grace Payton, akhirnya berhasil menyeret Krane Chemical ke meja hijau. Menghadapi perusahaan raksasa macam Krane Chemical tentu saja bukan hal yang mudah. Demi kasus ini Wes dan Mary Grace sampai berada di ambang kebangkrutan. Selama menangani kasus ini, mereka terpaksa meninggalkan kasus-kasus lain demi fokus pada kasus Bowmore ini. Akibatnya mereka tak ada pemasukan sementara proses pengadilan yang berlarut-larut membuat pengeluaran terus bertambah. Untuk mengatasi hal ini. Mereka terpaksa berhutang pada bank. Semakin hari hutang mereka di bank pun makin bertumpuk. Gaji para pegawai di Biro Hukum Payton & Payton pun sudah berbulan-bulan tak dibayar. Selain itu mereka juga harus kehilangan rumah mereka di kawasan elite dan sebagai gantinya terpaksa hidup di apartemen sederhana. Mereka juga harus merelakan mobil-mobil mewah mereka dijual. Semua pengorbanan mereka ini berbuah manis saat akhirnya dewan juri memutuskan Krane Chemical bersalah dan diharuskan membayar ganti rugi pada Jeannette Baker senilai 41 juta dolar. 

Kekalahan Krane Chemical di Pengadilan Tinggi Mississipi ini mengakibatkan saham perusahaan pestisida ini merosot tajam. Carl Trudeau, miliuner pemilik Krane Chemical tentu saja tak rela perusahaan hancur tapi yang paling menyebalkan baginya bukanlah saham-sahamnya yang anjlok melainkan keputusan pengadilan yang membuat perusahaannya harus membayar ganti rugi 41 juta dolar pada Jeannette Baker. Selain itu, kekalahannya memicu tuntutan-tuntutan hukum lainnya dari warga Bowmore yang pada akhirnya akan mengancam posisinya dalam daftar orang terkaya versi Forbes. 

Kekhawatiran Trudeau itu memang beralasan, karena setelah kemenangan Biro Hukum Payton & Payton dan Jeannette Baker ini membuat banyak pengacara yang semula enggan menangani kasus warga Bowmore mendadak menaruh minat amat besar, bahkan ada biro hukum besar dari luar Mississipi mengumpulkan sekelompok warga Bowmore yang merasa sebagai korban limbah beracun Krane Chemical dan mengajukan Class Action atas perusahaan raksasa itu. 

Dalam kekhawatirannya ini, Trudeau dihubungi seseorang senator yang memberinya sebuah nama yang dijamin bisa membantunya memenangi kasusnya dalam pengadilan banding di Mahkamah Agung sehingga ia tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk Jeannette Baker maupun masyarakat Bowmore lainnya. Namun tentu saja bantuan ini tak murah. Namun Trudeau lebih rela mengeluarkan uang untuk membayar orang ini daripada membayar uang ganti rugi pada masyarakat Bowmore. Nama orang yang diusulkan senator kenalan Trudeau ini adalah Barry Rinehart. 

Pekerjaan Barry Rinehart ini bisa dibilang cukup unik. Ia mengatur kampanye yang disebut pemilu peradilan, di mana ia bisa menggeser hakim di pengadilan banding dan pengadilan tertinggi yang berpotensi merugikan kliennya dan mengganti posisi hakim itu dengan hakim lain yang bisa memberi keputusan yang diinginkan oleh klien-kliennya. Dan klien Barry Rinehart ini adalah perusahaan-perusahaan besar macam Krane Chemical yang menghadapi tuntutan hukum. Untuk memenangkan klien-kliennya ini, Rinehart bersama kelompok kerjanya ini mengatur kampanye secara agresif dalam pergantian hakim pengadilan yang dinilai akan memberatkan posisi para kliennya. Tentu saja kerja kelompok Rinehart ini sangat rahasia namun sistematis dan tentunya sangat bersih, tanpa dokumen sehingga takkan terlacak. Dengan membayar delapan juta dolar, maka Carl Trudeau akan mendapatkan seorang Hakim Mahkamah Agung yang akan memenangkan kasusnya dan membebaskannya dari segala macam tuntutan warga Bowmore. 

Untuk melakukan pekerjaan ini, Barry Rinehart menugaskan Tony Zachary. Ia yang akan menemui calon potensial untuk menjadi Hakim di Mahkamah Agung Mississippi yang bisa mereka setir untuk memenuhi semua keinginan mereka. Pilihan pun jatuh pada seorang pengacar tak terkenal yang tinggal di luar kota kecil di Brookhaven, Mississippi bernama Ron Fisk. Profil Ron Fisk bisa dibilang tanpa cela, tokoh yang mudah dipoles untuk menjadi pujaan masyarakat. Pria muda kulit putih, menikah dengan satu istri, tiga anak, cukup tampan, berpakaian rapi, konservatif, penganut Kristen Baptis yang taat, lulusan sekolah hukum Universitas Mississipi dan tidak pernah melakukan pelanggaran etika dalam karir hukum, pun tak pernah terlibat masalah pidana selain kena tilang, namun masalahnya meski berprofesi sebagai pengacara, ia tidak tergabung dalam kelompok pengacara persidangan, tidak ada kasus yang kontroversial, tidak memiliki pengalaman apa pun di bangku sidang, yang artinya ia sebenarnya tidak memiliki kompetensi untuk menilai kasus sebagai hakim di persidangan apalagi menjadi seorang Hakim Agung. Tapi justru ini merupakan poin istimewa dari Fisk bagi Zachary dan orang yang mempekerjakannya. 

Fisk tentu saja tak mengetahui rencana besar dibalik penawaran Zachary untuk menjadikannya sebagai Hakim Agung. Fisk yang sederhana dan memiliki hidup monoton ini tentu saja terpesona dengan bayangan posisinya sebagai seorang Hakim Agung. Sebuah kelompok yang dinamakan Judicial Vision menjadi penyandang dana yang akan mempromosikan Fisk menjadi Hakim Agung. 

Demi menjadikan Ron Fisk sebagai Hakim Agung tentu saja diperlukan seorang korban di antara Hakim Agung yang perlu digeser dari posisinya. Pilihan jatuh pada Sheila McCarthy. Berbeda dengan Ron Fisk, banyak kepribadian dari Hakim Sheila McCarthy ini yang tak terlalu mengesankan bagi kelompok konservatif. Sheila McCarthy memiliki moralitas yang cenderung longgar. Janda cerai dan seorang penganut liberalisme. Meski begitu, Sheila McCarthy merupakan seorang Hakim Agung yang tangguh. Kebalikan dari Ron Fisk, Sheila sangat berpengalaman dengan kejamnya pertarungan di ruang sidang. Namun masyarakat tentu saja takkan memperhatikan soal ini. Masyarakat umumnya hanya memperhatikan kehidupan personal dan inilah yang digunakan Tony Zachary dalam kampanye. Dibanding Sheila McCarthy yang liberalis dengan kehidupan pernikahan yang berantakan tentu saja masyarakat akan memilih Ron Fisk yang memiliki kehidupan pernikahan ideal dengan kehidupan keagamaan yang tampak tak bercela pula. 

Sementara itu, Wes dan Mary Grace Payton di antara persiapan menuju banding menghadapi berbagai masalah pelik. Bank yang selama ini memberi mereka pinjaman sehingga biro hukum mereka masih bisa beroperasi tiba-tiba saja terjadi pergantian manajemen, hal ini tentu saja ada campur tangan tak terlihat dari Carl Trudeau. Atas prakarsa Trudeau pula manajemen baru bank ini menyetop pinjaman pada Payton & Payton dan menuntut pembayaran hutang-hutang mereka. Payton & Payton di ambang kebangkrutan. Ayah Mary Grace, warga asli Mississippi yang berharap keadilan bagi warga di tanah kelahirannya ditegakkan merelakan rumahnya digadaikan demi memberi sedikit ruang bagi anak dan menantunya menyelamatkan biro hukum mereka. 

Selain itu ada kabar ahli teknik industri yang bekerja di pabrik Krane di Bowmore bernama Gatewood dikabarkan menghilang. Gatewood sudah bekerja di Krane selama 34 tahun membuatnya sangat mengenal Krane luar dalam. Selama persidangan ia mati-matian membela Krane, sikapnya di pengadilan yang arogan, agrsif, dan cepat marah membuat para juri sangat membencinya. Hakim Harrison yang memimpin sidang dengan jelas bisa mengetahui kesaksian Gatewood adalah palsu dan secara terbuka mengancam Gatewood akan dakwaan atas kesaksian palsu. Hal ini tentu saja justru memberi keuntungan bagi pihak penggugat yaitu Payton & Payton yang mewakili Jeannette Baker. Menghilangnya Gatewood menjelang sidang banding tentu saja menimbulkan tanda tanya. Besar kemungkinan Krane Chemical menyingkirkannya. Dua tahun sebelumnya, Earl Crouch, atasan Gatewood juga dikabarkan menghilang secara misterius. Crouch dan Gatewood sebelumnya selalu membela Krane mati-matian dan menyangkal apa yang sudah terbukti dengan jelas. Pembelaan keduanya terhadap Krane ini ternyata karena mereka diancam. Keduanya mengeluh diancam akan dibunuh. 

Di sisi lain, kampanye menuju kursi hakim Mahkamah Agung Mississippi mulai memanas. Kampanye negatif mulai dilancarkan ke arah Sheila McCarthy, namun kampanye negatif ini tak dilancarkan dari kubu Ron Fisk. Demi membuat Ron Fisk sebagai figur tanpa cela, maka Tony Zachary dan kelompok korporat di belakangnya membayar seorang pengacara pemabuk untuk menjadi calon Hakim Agung yang fungsinya hanya untuk melontarkan kampanye-kampanye negatif terhadap Sheilla McCarthy. Setelah misinya selesai, saat McCarthy sudah hancur-hancuran di muka publik, maka pemabuk bayaran ini pun mengundurkan diri dari pencalonan. 

Sheila McCarthy yang menyadari posisinya sebagai Hakim Agung terancam berupaya mengumpulkan kelompok kampanye yang sebagian besar merupakan para pengacara. Namun dana besar dari Judicial Vision pengusung Ron Fisk bukanlah tandingan kelompok pengacara pendukung Sheila McCarthy yang kebanyakan juga pelit dan tak benar-benar rela menyumbangkan uang pribadi mereka untuk kampanye McCarthy. Hasilnya tentu saja bisa ditebak, Ron Fisk terpilih menjadi Hakim Agung. 

Menjadi hakim terlebih Hakim Agung ternyata memiliki konsekuensi yang tak kecil. Hal ini baru disadari Fisk saat putranya mengalami kecelakaan dalam pertandingan bisbol. Saat itu kasus banding Jeannette Baker versus Krane Chemical sudah menjadi pembahasan hangat di Mahkamah Agung. Delapan Hakim Agung sudah membuat keputusan, pendapat mayoritas dikepalai memenangkan Krane. Keputusan Fisk sangat dinantikan, pendapatnya bisa saja membalikkan keadaan menjadikan kemenangan di pihak Baker tapi ia memilih mengendapkan lebih dahulu keputusan ini demi pertandingan bisbol putranya, Josh. Saat bermain bisbol ini kecelakaan menimpa Josh. Ia mengalami gegar otak dan langsung dibawa ke rumah sakit. Tapi rumah sakit yang didatanginya ternyata melakukan kesalahan yang berakibat kondisi anaknya makin parah. Anaknya lalu dibawa ke rumah sakit lain. Saat berada di rumah sakit inilah Fisk mengalami kejadian yang membuatnya menyadari betapa setiap keputusan yang dibuatnya sebagai seorang hakim sangat memengaruhi hidup orang lain. Di sana ia bertemu Aaron, seorang bocah yang mengalami kecelakaan akibat kelalaian sebuah produsen bush hog hingga menyebabkan bocah ini mengalami cedera otak yang berujung pada cacat permanen. Keluarganya yang mengalami kehancuran finansial menuntut produsen tersebut ke meja hijau. Juri menilai produsen harus bertanggung jawab. Tapi Fisk saat itu berpikir kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan tanpa bisa dicegah dengan mudahnya menjatuhkan putusan yang pada akhirnya merugikan anak tersebut. Kini di saat anaknya sendiri mengalami kejadian nyaris sama, kecelakaan yang diakibatkan kelalaian sebuah korporasi, ia baru menyadari betapa keputusannya bisa memengaruhi hidup-matinya seseorang. 

Sementara itu saham Krane Chemical perlahan mulai merangkak naik kembali. Carl Trudeau merasa puas tapi ia ingin meraih laba lebih besar terlebih ia sudah berinvestasi cukup besar untuk penetapan Ron Fisk menjadi Hakim Agung, ia merasa sudah saatnya menerima hasil investasinya. Ia mulai mendesak penyelesaian kasusnya dengan warga Bowmore. Ron Fisk memang tak mengenal Carl Trudeau tapi setelah ia didesak Tony Zachary yang telah memoles dan memuluskan jalannya menuju posisi Hakim Agung untuk segera menjatuhkan putusan atas kasus Jeannette Baker versus Krane Chemical dengan kemenangan di pihak Krane tentunya, barulah Ron Fisk menyadari pencalonannya menuju kursi hakim di Mahkamah Agung Mississippi disokong oleh korporasi busuk yang kini memintanya membayar jasa. Fisk memang belum kehilangan nurani tapi sayangnya ia merasa tak memiliki kekuatan untuk menentang korporasi besar itu. 

Membaca novel ini kita seperti disuguhi realita pahit kebenaran tak selalu mutlak berjaya. Carl Trudeau bisa jadi merupakan tokoh antagonis tanpa nurani tapi itulah gambaran dari realitas yang ada. Kita bisa jadi iba pada Jeannette Baker yang sejak kemenangan sesaatnya di pengadilan menengah Mississippi yang menetapkan Krane Chemical harus membayar ganti rugi 41 juta dolar pada wanita malang yang telah kehilangan suami dan anak semata wayangnya. Jeannette Baker bisa jadi merupakan gambaran kebanyakan rakyat kecil yang hanya berharap pada keadilan tapi nyatanya hukum tak selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran itu. Namun satu hal yang sangat mengagumkan dari Baker, ia tak terlena pada euforia atas kemenangan singkatnya di pengadilan menengah Mississippi karena ia sadar perusahaan raksasa macam Krane Chemical takkan semudah itu memberinya uang ganti rugi seperti yang diputuskan oleh pengadilan. Ia sadar keadilan mungkin tak bisa sempurna diraihnya tapi ia setidaknya telah berjuang. Bukan untuk dirinya sendiri. Bukan demi ganti rugi puluhan juta dolar untuk dirinya. Perjuangannya melawan korporat besar macam Krane Chemical adalah demi menegakkan keadilan bagi suami dan anaknya walau ia tahu keadilan memiliki versi kisah yang berbeda untuknya. Begitu pula dengan Wes dan Mary Grace Payton. Mereka rela mempertaruhkan segalanya demi kasus Jeannette Baker ini. Bersama Pendeta Denny Ott, mereka bagai suluh bagi warga Bowmore untuk tak putus harapan memperjuangkan keadilan bagi mereka.

Selasa, 02 September 2014

Review Novel : Wuthering Heights - Emily Brontë

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 488 halaman
ISBN : 978 - 979 - 22 - 6278 - 9

Pertama kali mengenal novel klasik ini dari sebuah komik Jepang. Awalnya kupikir kisah ini tentang cinta tragis klasik macam Romeo dan Juliet yang manis namun tragis. Tapi ternyata dugaanku keliru. Novel ini meski memang merupakan kisah cinta tragis tapi jauh dari kesan manis seperti kisah cinta klasik Romeo dan Juliet. Kisah cinta dalam novel ini bisa dibilang getir dan kejam. Tokoh-tokohnya pun bukanlah tokoh protagonis macam Romeo dan Juliet yang bisa membuat kita jatuh hati dan iba. Tokoh dalam novel ini bahkan bisa membuat kita merasa benci, jijik dan muak karena kejahatan dan kelicikan hatinya. Namun justru di sinilah menariknya novel ini. Semua tokohnya bisa menjadi bahan perdebatan sepanjang masa, barangkali inilah yang membuat novel klasik ciptaan Emily Brontë ini menjadi abadi.

Novel ini diawali oleh kisah Mr. Lockwood, seorang kaya yang menyewa sebuah rumah bernama Thrushcross Grange dari seorang bernama Heathcliff pemilik sebuah rumah besar bernama Wuthering Heights. Dari pertemuannya, Lockwood bisa menilai Heathcliff adalah orang yang antisosial yang selalu bermuka masam. Suatu hari saat berkunjung ke Wuthering Heights, Lockwood terjebak badai salju sehingga ia terpaksa menginap di tempat itu. Saat itulah ia mengalami kejadian yang paling aneh dalam hidupnya.

Wuthering Heights bagaikan rumah misteri. Semua penghuninya bermuka masam seperti Heathcliff, sang tuan rumah. Joseph, pelayan tua di sana merupakan seorang pria religius yang rajin membaca kitab suci, ia suka berkotbah tapi juga suka memaki dan menyumpah. Terutama sekali ia suka memaki dan menyumpahi seorang wanita muda di sana yang dianggapnya akan masuk neraka. Wanita muda yang ternyata tak kalah galak dari Joseph ini sebenarnya berparas cantik kalau saja tak memasang wajah masam. Belakangan ia baru tahu kalau wanita muda ini adalah menantu Heathcliff. Selain itu ada juga seorang pemuda yang sebenarnya cukup tampan tapi terlihat bodoh. Sama seperti penghuni lainnya, ia juga bermuka masam dan suka memaki. Lockwood merasa suasana di Wuthering Heights ini sangat suram tapi karena badai salju, ia justru terpaksa harus bermalam di rumah ini. Saat itulah ia mengalami suatu kejadian paling aneh dalam hidupnya.

Ia menempati sebuah kamar yang merupakan milik seseorang bernama Catherine. Hal ini diketahuinya karena ada banyak nama itu di sekitar kamar tersebut. Di langkan jendela ia melihat goresan nama Catherine Earnshaw, Catherine Linton, dan Catherine Heathcliff terukir silih berganti. Selain itu ia juga menemukan sebuah buku harian bersampul kulit yang sudah sangat tua dengan nama Catherine Earnshaw. Untuk mengisi waktu menunggu kantuk datang, Lockwood iseng membaca buku harian tersebut yang rupanya mengisahkan masa kecil seorang gadis bernama Catherine Earnshaw yang ternyata merupakan putri pemilik Wuthering Heights. Dalam buku harian itu tertulis kemarahan Catherine pada Hindley, kakaknya karena melarangnya bermain bersama Heathcliff.

Saat Lockwood tertidur, entah mimpi atau nyata, Lockwood terbangun oleh suara ketukan dari luar jendela. Mengira suara ketukan itu berasal dari ranting pohon, ia bermaksud menyingkirkan ranting yang membuat suara berisik berupa ketukan di jendela kamar tersebut. Namun alangkah terkejutnya ia saat merasa sesuatu yang dingin menggenggam tangannya. Sontak ia menarik tangannya. Tak lama ia mendengar suara seorang perempuan yang mengaku bernama Catherine memohon dengan pilu agar diijinkan masuk. Suara itu mengaku telah dua puluh tahun lamanya tersesat di hutan dan kini sudah kembali. Tak tahan mendengar suara itu, Lockwood berteriak mengusirnya. Keributan ini rupanya membangunkan tuan rumah, Heathcliff.

Kamar yang ditempati Lockwood ini sebenarnya terlarang. Heathcliff tak pernah mengijinkan siapapun menempati kamar tersebut. Zillah, tukang masak di sana, satu-satunya yang berbaik hati menyelamatkannya saat ia dikeroyok kumpulan anjing Heathcliff- lah yang memberikan kamar itu untuk ditempati Lockwood. Namun ia mengingatkan Lockwood untuk berhati-hati agar jangan sampai diketahui tuannya. Heathcliff tentu saja marah saat mengetahui Lockwood menempati kamar terlarang tersebut, tapi kemarahannya tertunda mendengar kisah aneh yang baru saja dialami Lockwood. Kejadian berikutnya yang dirasa tak kalah ganjil oleh Lockwood. Setelah mendengar cerita Lockwood, tiba-tiba saja Heathcliff berlari ke arah jendela, membukanya dan memanggil-manggil Catherine, sambil dengan suara pilu memohon agar Catherine membawa dirinya pergi bersamanya. Tapi tak ada lagi suara wanita seperti yang sebelumnya didengar Lockwood. Hanya ada suara desau badai salju.

Keesokan harinya, setelah badai salju sudah usai. Lockwood kembali ke Thrushcross Grange rumah yang disewanya. Saat menyewa rumah ini, Heathcliff juga memberikan seorang pengurus rumah tangga bernama Ellen Nelly Dean. Ternyata Nelly ini bukanlah orang asing bagi Wuthering Heights. Ia bahkan sangat mengenal semua orang yang ada di Wuthering Heights. Maka ia pun mulai menceritakan semuanya pada Lockwood.

Nelly Dean ternyata dulu bekerja di Wuthering Heights. Suatu hari tuannya, Mr. Earnshaw pemilik Wuthering Heights yang lama pergi ke Liverpool. Di sana rupanya ia bertemu seorang bocah laki-laki yatim piatu yang hidup menggelandang di jalanan. Merasa iba ia membawa bocah laki-laki yang berkulit gelap dan berambut ikal ini ke rumahnya. Tentu saja semua orang terkejut melihat kehadiran bocah laki-laki yang bermuka masam ini. Bocah laki-laki ini kemudian dinamai Heathcliff yang merupakan nama anak Mr. Earnshaw yang meninggal saat masih kecil. Mr. Earnshaw memiliki dua orang anak bernama Hindley dan Catherine. Keduanya tak menyukai kehadiran Heathcliff. Tapi belakangan Catherine yang nakal dan berjiwa bebas ini menjadi dekat dengan Heathcliff. Ia suka bermain di padang bersama Heathcliff. Mereka sangat dekat hingga muncul cerita di mana ada Heathcliff di situ ada Catherine begitu pula sebaliknya. Adapun Hindley, kakak Catherine sama sekali tak menyukai Heathcliff. Ia benci Heathcliff karena anak ini merebut kasih sayang ayahnya. Mr. Earnshaw yang diliputi rasa iba memang sangat menyayangi Heathcliff melebihi rasa sayangnya pada Hindley, putra kandungnya. Ia bahkan memarahi dan menghukum Hindley saat mendapati Hindley menindas Heathcliff. Menyadari ia mendapat rasa sayang dari Mr. Earnshaw, Heathcliff juga bertindak jahat. Suatu hari ia memaksa Hindley menukar kudanya dengan miliknya karena ia tak suka kuda miliknya sendiri. Hindley menolak dan Heathcliff mengancam akan melapor pada Mr. Earnshaw dan mengatakan bahwa Hindley menindasnya. Terpaksa Hindley menuruti kemauan Heathcliff tapi kejadian itu makin menumpuk rasa bencinya pada Heatcliff.

Selain Hindley ternyata kehadiran Heathcliff juga tak disukai oleh Mrs. Earnshaw, ibunda Hindley dan Catherine. Namun ia tak bisa menentang keputusan suaminya yang membawa bocah tanpa asal usul yang jelas ini ke rumah mereka. Tak seperti suaminya, ia tak pernah membela saat Heathcliff diperlakukan secara buruk. Mrs. Earnshaw meninggal dua tahun sejak kedatangan Heathcliff. Seiring waktu kesehatan Mr. Earnshaw juga memburuk dan akhirnya meninggal dunia. Kematian Mr. Earnshaw membuat seluruh harta kekayaannya termasuk Wuthering Height jatuh ke tangan putra sulungnya, Hindley Earnshaw. Dengan kekuasaan yang kini dimilikinya, Hindley akhirnya bisa membalas dendam pada Heathcliff. Ia menempatkan Heathcliff sebagai pelayan dan menyuruh Heathcliff makan di dapur bersama pelayan lainnya. Selain itu ia juga melarang Heathcliff bergaul dengan Cathy, adiknya. Ia menegaskan perbedaan status mereka. Namun Cathy yang sudah sangat akrab dengan Heathcliff ini menolak perintah kakaknya. Hindley yang jengkel dengan perlawanan adiknya pun mengancam akan melempar Heathcliff ke jalanan bila ia tak mau menurut. Meski begitu Cathy dan Heathcliff rupanya tetap saja bermain bersama.

Suatu hari Cathy dan Heathcliff bermain ke Thrushcross Grange, kediaman keluarga Linton. Keluarga ini memiliki dua orang anak bernama Edgar dan Isabella. Saat tengah mengintip ke ruang keluarga Linton, Cathy digigit anjing milik keluarga Linton. Sebagai tanda penyesalan mereka maka Cathy dirawat di rumah keluarga ini sampai sembuh. Selama dirawat di Thrushcross Grange, hubungan Cathy dengan Edgar dan Isabella menjadi dekat bahkan Edgar jatuh cinta pada Cathy. Hal ini membuat Heathcliff yang selama ini merupakan satu-satunya teman bermain Cathy merasa cemburu.

Saat kembali ke Wuthering Heights, perilaku Cathy sedikit berubah. Ia tak lagi urakan seperti dulu. Ia menjadi gadis manis terutama saat Edgar dan Isabella Linton datang ke Wuthering Heights. Hal ini membuat Heathcliff makin kesal. Terlebih setiap kali keluarga Linton datang, Hindley melarang Heathcliff keluar karena ia tak suka bila keluarga Linton berpandangan buruk melihat Cathy bergaul dengan Heathcliff yang berkulit gelap ini.

Suatu hari Cathy yang sudah beranjak dewasa ini merasa galau setelah menerima pernyataan cinta dari Edgar Linton karena diam-diam dalam hatinya ia ternyata mencintai Heathcliff, teman masa kecilnya. Kegalauannya ini diungkapkan Cathy pada Nelly Dean. Secara terbuka Cathy mengatakan bahwa ia mencintai Heathcliff tapi ia merasa akan hidup menderita karena Heathcliff tak memiliki apapun. Tanpa disadari rupanya di tempat itu ada Heathcliff sehingga ia mendengar pernyataan hati Cathy. Setelah mendengar kata-kata Cathy, Heathcliff berlari keluar. Cathy yang terkejut menyadari kehadiran Heathcliff pucat pasi. Sejak hari itu Heathcliff minggat dari Wuthering Heights. Cathy yang merana dipenuhi rasa bersalah pada Heathcliff akhirnya menerima lamaran Edgar Linton. Setelah menikah, Cathy pun diboyong ke Thrushcross Grange. Atas permintaan Cathy maka Nelly Dean pun diboyong ke sana untuk membantu Cathy.

Nelly Dean sebenarnya tak suka ikut ke Thrushcross Grange karena ia tak tega meninggalkan Hareton Earnshaw, putra semata wayang Hindley yang berada dalam asuhannya. Ibunda Hareton, istri Hindley meninggal dunia saat melahirkan Hareton. Kematian istrinya membuat Hindley larut dalam kedukaan panjang. Alih-alih mengurus putranya, ia malah tenggelam dalam minuman keras dan judi. Sepanjang hari kerjanya hanya mabuk-mabukan dan menyerahkan pengasuhan Hareton pada Nelly Dean. Karena keadaan inilah Nelly Dean merasa berat meninggalkan Hareton kecil yang malang ini.

Saat Cathy sudah menikah dengan Edgar Linton tiba-tiba saja Heathcliff kembali. Kedatangannya tentu saja mengejutkan semua orang. Selain fisiknya yang kini gagah, Heathcliff datang sebagai orang kaya baru. Hindley yang walau tak suka pada Heathcliff bersedia menampung Heathcliff di Wuthering Heights karena berharap bisa mendapatkan uang yang dibawa Heathcliff di meja judi. Alih-alih mendapatkan uang milik Heathcliff justru Hindley kalah judi dan membuat Wuthering Heights jatuh ke tangan Heathcliff. Keadaan ini membuat ia makin tenggelam ke dalam minuman keras. Ia berusaha merebut rumahnya kembali dari Heathcliff tapi pikirannya yang sudah dipenuhi alkohol tak pernah mampu mengalahkan Heathcliff di meja judi. Suatu hari Hindley dan Heathcliff bertengkar yang berujung pada kematian Hindley.

Kematian Hindley membuat Heathcliff leluasa berkuasa dan melaksanakan pembalasan dendamnya. Hareton, putra semata wayang Hindley dibiarkannya menjadi pria bodoh tak berpendidikan. Nelly Dean sempat meminta Heathcliff mengijinkan Hareton belajar baca-tulis tapi Heathcliff menolak dan memerintahkan Hareton bekerja di kandang dan kebun. Ia sengaja membuat Hareton tumbuh menjadi pria bodoh tak beradab karena rasa dendamnya pada Hindley, ayah Hareton. Ia malah mengajarkan Hareton memaki dengan kasar yang bukan merupakan sikap pria terhormat. Ironisnya Hareton yang tak terlalu mengenal ayahnya malah memuja Heathcliff dan menganggap Heathcliff adalah penolongnya. Ia sama sekali tak menyadari bahwa Heathcliff telah merebut harta miliknya. Ia bahkan tak menyadari bahwa dirinyalah pemilik sah Wuthering Heights.

Heathcliff kerap datang ke Thrushcross Grange meski tahu Cathy kini sudah bersuami. Cathy sendiri menurut penilaian Nelly Dean bersikap tak pantas dengan selalu menyambut Heathcliff. Penampilan fisik Heathcliff yang kini menjadi pria gagah ini rupanya juga membuat Isabella Linton yang sudah tumbuh sebagai wanita dewasa jatuh hati. Hal ini diketahui Cathy dan dengan jahatnya Cathy malah mengolok-olok perasaan adik iparnya ini di depan Heathcliff. Tak disangka Heathcliff menyambut perasaan Isabella.

Kehadiran Heathcliff sebenarnya tak disukai oleh Edgar Linton, suami Cathy sekaligus kakak Isabella. Namun mengingat Heathcliff adalah teman masa kecil Cathy, maka ia membiarkan saja Heathcliff datang menemui istrinya hingga akhirnya suatu hari ia tak tahan dengan sikap kasar Heathcliff sehingga ia mengusirnya dan tak mengijinkan Heathcliff menginjak rumahnya lagi. Cathy pun marah pada suaminya. Mereka bertengkar hebat. Cathy mengunci diri dalam kamar dan mogok makan selama tiga hari sementara Edgar membenamkan kekesalannya di perpustakaan pribadinya. Cathy yang manja dan suka dipuja ini sebenarnya berharap Edgar datang memohon maaf dan menyenangkan hatinya tapi ternyata Edgar malah lebih suka berada di antara buku-bukunya sehingga membuat Cathy jengkel dan murka.

Esoknya mereka mendengar kabar Heathcliff dan Isabella Linton kawin lari. Baik Cathy maupun Edgar merasa marah dan kecewa untuk alasan yang berbeda. Edgar yang marah memutuskan hubungan dengan adik semata wayangnya itu. Sementara Catherine yang terluka ini tiba-tiba terserang demam otak yang membuatnya tak menyadari kekiniannya. Pikirannya malah membawanya ke masa lalu dan membuatnya merasa kembali ke masa di saat ia masih tinggal di Wuthering Heights.

Catherine berhasil disembuhkan dari demam otaknya tapi luka hati yang dibuat oleh pernikahan secara sembunyi-sembunyi antara Heathcliff dengan Isabella rupanya membekas dalam. Makin hari kondisi Cathy kian lemah padahal ia tengah mengandung anaknya dengan Edgar. Kondisi Cathy yang lemah ini membuat bayinya lahir prematur. Jiwa Cathy sendiri tak selamat. Ia meninggal saat melahirkan putrinya yang dinamai Catherine oleh Edgar. Semasa hidup Catherine, istrinya, Edgar tak pernah memanggil Catherine dengan nama panggilannya, Cathy, karena Heathcliff telah menggunakan nama panggilan itu. Kini dengan kehadiran putrinya yang bernama sama, ia menggunakan nama panggilan Cathy untuk anaknya.

Sementara itu Isabella baru menyadari bahwa Heathcliff tak benar-benar mencintainya. Hanya sehari setelah mereka resmi menikah, Heathcliff menunjukkan sifat aslinya. Ia memperlakukan Isabella dengan kasar. Heathcliff bahkan nyata-nyata menegaskan bahwa ia tak mencintai Isabella. Ia mengawini Isabella hanya untuk membalas dendam pada Edgar. Menyadari hal ini Isabella sangat terluka. Perlakuan kasar Heathcliff tak berkurang sekalipun mengetahui Isabella tengah mengandung anak mereka. Tak tahan akhirnya Isabella kabur. Dalam pelariannya ini ia melahirkan anak laki-laki yang dinamai Linton Heathcliff. Isabella yang selama ini anak manja yang serba berkecukupan kini harus bekerja demi membiayai hidupnya dan putranya yang lemah dan sakit-sakitan. Tubuh Isabella juga lemah hingga akhirnya ia meninggal dunia. Namun sebelum meninggal ia sempat menulis surat pada Edgar, kakaknya dan memohon agar Edgar mau merawat putra semata wayangnya karena ia tak ingin Heathcliff merawat anaknya.

Edgar pun menjemput keponakannya. Perjalanan panjang ternyata membuat Linton yang lemah ini makin parah. Setibanya di Thrushcross Grange, Linton hanya bisa berbaring sepanjang hari. Sebelumnya Edgar sudah mempersiapkan Catherine, putrinya untuk menyambut Linton, sepupunya yang lebih muda beberapa tahun ini. Sama seperti ibunya, Catherine Linton memiliki vitalitas hidup yang sangat tinggi. Melihat Linton kecil yang malang ini hanya bisa berbaring dengan wajah pucat menimbulkan rasa sayang dalam diri Catherine. Sebenarnya ia sangat ingin mengajak Linton bermain tapi kondisi fisik Linton yang sangat lemah tak memungkinkannya bergerak seaktif Catherine.

Berita Edgar membawa putra Isabella ternyata sampai ke telinga Heathcliff. Sebagai ayah kandungnya tentu saja Heathcliff meminta agar anaknya diserahkan padanya. Edgar yang merupakan hakim terpandang di daerah itu meski keberatan namun tak mungkin menolak karena secara hukum Heathcliff memang berhak atas Linton, putra kandungnya. Maka Linton pun terpaksa diserahkan kepada Heathcliff.

Catherine kecil yang tiba-tiba tak lagi melihat Linton tentu saja sangat sedih saat tak lagi melihat "mainan"-nya tersebut. Edgar yang sejak awal memutuskan Catherine tak boleh mengenal apalagi menginjak tanah Wuthering Heights hanya memberi penjelasan singkat mengenai kepergian Linton.

Waktu berlalu dan tak terasa Catherine tumbuh besar. Ruang jelajah bermainnya pun makin luas. Meski begitu, Edgar selalu bisa menjauhkan Catherine dari Wuthering Heights yang merupakan satu-satunya tetangga terdekatnya. Tiap tahun di hari kematian Catherine Earnshaw, Edgar menyendiri seharian di makam istrinya. Sehingga pengawasan Catherine, putrinya diserahkannya pada Nelly Dean. Namun Catherine yang aktif kerap menyulitkan Nelly Dean hingga suatu kali tanpa bisa dicegahnya, Catherine lepas dari pengawasannya. Panik ia mencari nona kecilnya yang ternyata ada di Wuthering Heights. Khawatir hal ini diketahui tuannya, ia bergegas ke sana untuk menjemput nona kecilnya. Namun Heathcliff yang menyambutnya secara langsung bersikap licik dengan sengaja menahan Catherine dan dirinya lebih lama. Catherine yang tak menyadari bahaya sama sekali tak mengira Heathcliff adalah serigala berbulu domba. Dengan keramahan yang tak biasa, Heathcliff menyambut Catherine yang rupanya mewarisi mata yang sama seperti ibunya. Melihat Nelly Dean, dengan girang sekaligus penuh tuntutan, Catherine mengajukan protesnya karena merasa dibohongi. Selama ini Linton, sepupunya ternyata tinggal tak terlalu jauh dari rumahnya.

Heathcliff mengatur secara licik agar Catherine Linton bisa menikahi putranya yang lemah dan sakit-sakitan itu sehingga ia bisa menguasai Thrushcross Grange sekaligus memberi pukulan terakhir pada Edgar Linton, musuh bebuyutannya.

Setelah mengetahu hal ini, Catherine jadi suka sembunyi-sembunyi pergi ke Wuthering Heights demi menemui Linton. Mereka juga kerap saling berkirim surat. Nelly Dean yang khawatir nona kecilnya masuk perangkap jahat Heathcliff mengingatkan anak asuhnya ini bahkan ia mengancam akan melaporkan kelakuan memalukannya pada ayahnya. Untuk sesaat Catherine memang takut dengan ancaman Nelly Dean. Bagaimana pun ia sangat menyayangi ayahnya dan tak ingin ayahnya kecewa. Namun Catherine yang tengah tumbuh menjadi gadis remaja ini pun tengah mengalami rasa jatuh cinta. Ia masih secara sembunyi-sembunyi berkirim surat dengan Linton Heathcliff dan diam-diam menemui Linton mengantarkan buku bacaan seperti yang dijanjikannya. Mereka bertemu di padang di antara Thrushcross Grange dan Wuthering Heights. Catherine sama sekali tak menyadari bahwa sebenarnya setiap kalimat dalam surat Linton untuknya adalah hasil dikte-an Heathcliff yang merasa muak pada putranya karena sangat lembek dan tak bisa apa-apa ini. Dengan kejam ia memaksa bahkan mengancam putranya yang diperintahkannya memikat hati Catherine hingga akhirnya suatu hari hal yang ditakutkan Nelly Dean terjadi pula. Catherine "diculik" Heathcliff dan dipaksa untuk menikahi Linton. Catherine awalnya memberontak dan memaksa ingin pulang karena ia mengkhawatirkan ayahnya terlebih ia mendengar ayahnya jatuh sakit saat mendengar Catherine hilang. Demi supaya bisa diijinkan pergi menemui ayahnya, maka Catherine pun bersedia memenuhi permintaan Heathcliff dan menikahi Linton. Tapi ternyata Heathcliff bersikap licik. Sementara kondisi Edgar makin lemah karena rasa sedihnya terhadap keadaan putrinya hingga akhirnya Edgar meninggal dunia. Catherine sangat menyesal tapi semua sudah jadi bubur. Setelah kematian Edgar Linton, dengan liciknya Heathclif merampas Thrushcross Grange menjadi miliknya. Tak lama Linton, putra Heathcliff yang memang sudah lemah sejak lahir ini pun meninggal dunia. Di saat sakratul mautnya, Catherine yang ketakutan meminta Heathcliff menolong Linton yang kesakitan tapi Heathcliff dengan kejam mengacuhkannya. Kejadian ini membuat Catherine jadi dingin dan akhirnya bersikap seperti penghuni Wuthering Heights lainnya.

Awalnya Hareton masih bersikap baik dan manis pada Catherine. Tapi Catherine yang muak pada kekejaman sekelilingnya membuatnya bersikap sinis dan melecehkan Hareton hingga membuat pemuda itu pun malu dan berbalik bersikap masam dan ketus. Namun akhirnya Catherine menyadari untuk membalas dendam dan menghancurkan Heathcliff maka ia perlu mencari sekutu. Pilihannya jatuh pada Hareton. Ia bisa menjadi teman sekutunya. Ia pun berbalik bersikap baik pada Hareton dan mengajarinya membaca. Hareton sangat suka bila Catherine membacakan buku untuknya. Namun masalahnya Hareton yang malang ini memuja Heathcliff dan menganggap Heathcliff sebagai idola sekaligus ayahnya. Satu-satunya cara untuk melepaskan Wuthering Heights dari kemuraman adalah kematian Heathcliff.