Total Tayangan Halaman

Translate

Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2015

Review Novel : Di Bawah Bendera Merah

Penulis : Mo Yan 
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta 
Tebal : xvi + 144 halaman 
ISBN : 978-979-024-410-8 

Buku ini bisa dibilang merupakan otobiografi atau semacam memoir dari secuil bagian kisah hidup Mo Yan, peraih Nobel Sastra 2012 yang disusun seperti novel. Dalam buku ini Mo Yan mengisahkan tentang masa-masa sekolahnya hingga ia menjadi penulis. Nama asli Mo Yan adalah Guan Moye. Saat Mo Yan masih kecil, orangtuanya melarangnya membicarakan isi pikirannya bila berada di luar karena kondisi revolusi politik di China, itulah sebabnya, ia kemudian memilih nama Mo Yan sebagai nama pena. Nama Mo Yan memiliki makna “Jangan Bicara”. 

Lahir dari keluarga miskin di Kabupaten Gaomi Timur, di mana tempat ini menjadi latar belakang dari karya-karyanya termasuk karyanya yang paling terkenal, Sorgum Merah yang diterbitkan pada tahun 1987, karya inilah yang mengantarkannya meraih Nobel Sastra 2012. Mo Yan terpaksa drop out dari sekolah hanya karena gurunya menuduhnya telah mengolok-oloknya. Namun sebagai anak yang haus belajar, Mo Yan tetap menyelinap ke sekolah walau berkali-kali ia diseret keluar dari sekolah. Tak lulus sekolah, Mo Yan masuk ke militer, demi mengangkat derajat hidup keluarganya; dari sinilah garis hidup Mo Yan mulai berubah. Lewat jalur inilah, ia akhirnya bisa melanjutkan sekolahnya hingga akhirnya ia memulai karirnya sebagai penulis. 

Ada tiga tokoh yang memiliki benang merah selain Mo Yan sendiri dalam buku ini. He Zhiwu, Lu Wenli, keduanya adalah teman sekelas Mo Yan dan Guru Liu, yang mendapat julukan Liu Kodok karena bentuk fisik mulutnya yang lebar. Guru Liu menuduh Mo Yan sebagai biang kerok yang telah memberinya julukan ini murka dan memaksa Mo Yan keluar dari sekolah. Mo Yan sendiri bermulut besar sama seperti Guru Liu, oleh karenanya ia merasa senasib dan menganggap tuduhan gurunya ini tidak benar. Namun gurunya tidak percaya dan tetap mengeluarkan Mo Yan dari sekolah. Di kemudian hari Mo Yan menulis cerita berjudul “Mulut Besar” yang didasari oleh kisah nyata hidupnya. Mo Yan tetap mengendap-endap, mencari celah untuk masuk sekolah meskipun berkali-kali ia dipaksa keluar oleh anak-anak yang lebih besar yang ditempatkan di pintu sekolah oleh Guru Liu untuk melemparkan Mo Yan bila muncul ke sekolah. 

Di kelas Mo Yan ada anak lain yang juga drop out dari sekolah bernama He Zhiwu, namun kasus dan sikap mereka berbeda sekali. Suatu hari guru bahasa mereka menyuruh mereka menulis karangan dengan topik “Impianku”. Mo Yan waktu itu masih bersekolah. Profesi idaman anak-anak lelaki di sana saat itu adalah menjadi supir truk. Truk yang paling memikat mereka adalah Gaz 51 yang sangat cepat. Kelebihan lain Gaz 51 yang mempesona mereka adalah karena truk buatan Soviet ini merupakan salah satu truk yang pernah digunakan Soviet untuk bertempur di Perang Dunia II bahkan truk yang dikemudikan oleh ayah Lu Wenli, teman sekelas mereka ini memiliki beberapa lubang bekas terkena peluru. 

Nah, sudah tentu saat diminta menulis karangan mengenai impian mereka, seluruh anak laki-laki di kelas menulis impian mereka adalah menjadi supir truk. Tapi ada salah satu anak yang menulis dengan gaya berbeda. Alih-alih menulis impiannya menjadi supir truk seperti teman-temannya, anak ini menulis: “Aku tidak punya impian lain- aku hanya punya sebuah impian-impianku adalah menjadi ayah Lu Wenli.” Tentu saja saat guru mereka membacakan karangan ini seisi kelas langsung dipenuhi gelak tawa. Lu Wenli, teman sebangku Mo Yan yang namanya disebut-sebut tentu saja merasa malu. Gadis malang ini pun hanya bisa menangis karena malu. Si penulis bernama He Zhiwu, siswa yang bisa dibilang agak angkuh dan memiliki kepercayaan diri tinggi. Guru mereka mendesak Zhiwu mengatakan alasan dan maksudnya menulis seperti itu, alih-alih menjawab, Zhiwu malah melakukan tindakan seolah menantang, hingga gurunya berang dan memaksanya bergulir keluar kelas. Bergulir yang dimaksud adalah ia menggulung tubuhnya, menekuk lututnya ke dada, seperti bola dan kemudian bergulir ke luar kelas. Gurunya sebenarnya hanya menyuruh Zhiwu ke luar kelas, namun anak ini malah keluar sekolah dengan aksi penuh gaya. 

Mo Yan sempat bertemu dengan kembaran Gaz 51 yang dikemudikan ayah Lu Wenli di resimennya saat ia masuk militer. Saat di militer inilah garis hidup Mo Yan mulai berubah. Saat di militer ia mengikuti ujian masuk Jurusan Sastra di Institut Seni Tentara Pembebasan Rakyat dan diterima. Meski ia drop out dari sekolah, namun ia berhasil masuk kuliah di Universitas Beijing. Ia kemudian mulai menulis cerpen. Cerpen pertamanya berjudul “Ibu” selain itu ia juga menulis naskah drama enam babak berjudul Perceraian. Setelah berkali-kali naskahnya ditolak, akhirnya ” Malam Musim Semi Berhujan" menjadi cerpen pertamanya yang diterbitkan di majalah. Setelah itu cerpen berikutnya, “Prajurit Jelek” kembali diterbitkan. Tahun 1984 novel pendek pertamanya yang diberi judul Lobak yang Tembus Pandang diterbitkan. Namanya makin dikenal lewat karya fenomenalnya, Sorgum Merah yang belakangan difilimnkan dengan sutradara Zhang Yimou dan dibintangi Gong Li. 

Saat pembuatan film Sorgum Merah di kampong halamannya, Gaomi Timur, Mo Yan melihat sebuah truk yang digunakan oleh kru film tersebut mirip sekali dengan Gaz 51 yang pernah dikendarai oleh ayah Lu Wenli. Dari berita yang pernah didengar Mo, truk tersebut telah dibeli He Zhiwu. Tapi setahunya Zhiwu telah pergi ke Mongolia dan ia mengira truk itu dibawa Zhiwu ke Mongolia. Belakangan Zhiwu yang sudah menjadi pengusaha sukses menceritakan pada Mo bahwa truk itu memang telah dibelinya. Jadi bisa dibilang di antara mereka hanya Zhiwu-lah yang benar-benar mewujudkan impian seperti yang mereka tulis di karangan mereka. Zhiwu membeli truk tersebut dengan harapan bisa menikah Lu Wenli. Namun Wenli kala itu sudah bertunanan dengan Wang Jianjun, anak Wakil Sekretaris Partai. Zhiwu tahu bahwa Jianjun, yang akan dinikahi Wenli adalah playboy busuk yang suka mabuk dan melakukan kekerasan, karenanya meski tahu Wenli telah bertunangan, ia tetap melamar Wenli, tapi Wenli menolaknya dan lebih memilih menikah dengan Jianjun. Patah hati ditolak Wenli, Zhiwu pergi ke Mongolia. Gas 51 yang telah dibelinya dari ayah Wenli dititipkan di rumah ayahnya yang sempit, belakangan truk itupun dijual Zhiwu ke kru film. Di Mongolia inilah Zhiwu mendapatkan kekayaannya. Ia kemudian menikah dengan seorang wanita keturunan asing dan dikaruniai tiga orang anak. 

Suatu hari Wenli mendatangi Zhiwu. Suaminya meninggal dalam suatu kecelakaan. Wenli mempertanyakan perasaan Zhiwu padanya dan apakah tawaran pernikahan yang diajukannya dulu masih berlaku. Meski Zhiwu mencintai Wenli namun rupanya ia masih belum lupa penolakan Wenli dulu, terlebih sekarang ia telah menikah. Dengan sedikit “kejam” dia menegaskan pada Wenli bahwa ia bisa saja menikahi Wenli tapi tidak sebagai istri sah melainkan hanya sebagai simpanannya. Wenli yang sebenarnya memiliki sifat serupa dengan Zhiwu, sedikit angkuh dan memiliki harga diri tinggi tentu saja menolak tawaran Zhiwu. Belakangan muncul kabar Wenli menikah dengan Guru Liu, guru mereka dulu yang pernah mengusir Mo Yan keluar dari sekolah. Saat mendengar kabar ini, Zhiwu kembali patah hati, dengan membawa dua bungkus rokok dan dua botol minuman keras ia pergi ke tanah kosong tempat dimana ia mengutarakan kekagumannya akan Wenli kepada ayahnya untuk menyepi dan mengusir kesedihan dan penyesalannya. 

Ketika Mo Yan diminta menjadi juri suatu acara pencarian bintang berbakat, ia bertemu dengan Wenli, teman sebangkunya saat sekolah dulu. Wenli yang sebenarnya meminta bertemu dengan Mo Yan. Dalam kesempatan itu Mo menanyakan kabar Guru Liu yang sudah menikah dengan Wenli. Namun Guru Liu ternyata sudah meninggal dunia. Setelah berbasa-basi, akhirnya Wenli mengutarakan tujuannya bertemu Mo. Ia meminta bantuan Mo untuk meloloskan putrinya dengan Guru Liu yang ikut dalam acara pencarian bintang berbakat di mana Mo Yan menjadi salah satu jurinya. Wenli sebenarnya seorang yang memiliki harga diri tinggi, namun demi putrinya ia rela merendahkan dirinya melakukan tindakan kotor seperti itu. Mo sendiri menyadari hal ini. Namun samar-samar saat melihat foto putrid Wenli yang disodorkan kepadanya, ia ingat anak ini merupakan salah satu bintang yang mendapat pujian dari juri lainnya. Namun untuk lebih meyakinkan Wenli, ia mengirimkan SMS kepada Kepala Lu, penyelenggara acara tersebut dan memperlihatkan kepada Wenli SMS balasan dari Kepala Lu. Ternyata Liu Huanhuan, anak Wenli dan Guru Liu merupakan salah satu yang paling berbakat di acara tersebut. Air mata Wenli pun mengalir saat membaca SMS tersebut. Ia merasa terharu. Hidupnya selama ini terasa terjal dan berat tapi ternyata masih terdapat buah manis di balik kesulitan hidup yang dijalaninya. 

Catatanku: Membaca buku ini aku merasa Mo Yan memang piawai dalam bercerita. Terlebih dalam merangkai benang merah di antara para tokohnya. Meski buku ini merupakan kisah hidupnya, tapi pastinya sulit mengurai benang-benang kenangannya yang begitu berwarna untuk diungkapkan dalam sebuah buku. Dalam buku ini kita disuguhkan beragam ironi seolah menegaskan nasib orang takkan pernah bisa diterka. Mo Yan yang harus drop out sekolah, namun ternyata ia bisa meraih kesuksesan sebagai penulis dan bahkan mendapatkan Nobel Sastra. Lewat Zhiwu, kita juga diperlihatkan sosok seorang yang tak kenal menyerah. Sama seperti Mo Yan, ia juga drop out dari sekolah, namun berkat kenekatan dan kemampuan berpikirnya, ia berhasil menjadi pengusaha kaya raya, tapi ia gagal mendapatkan cinta yang didambakannya sejak sekolah karena keliru menganalisa hatinya sendiri. Dan melalui Lu Wenli, kita seperti disuguhi kisah drama yang dramatis. Saat sekolah, ia menjadi gadis paling cantik, profesi ayahnya menjadi pujaan teman-teman sekelasnya, namun hidupnya demikian berat. Namun di ujung kisah ia akhirnya ada pula hal manis dari hidupnya yang sulit itu. Seolah mengingatkan pada kita untuk tak pernah berhenti berharap. Toh hidup bukan hanya sehari. Dan hidup tak melulu berisi karang terjal. 

Sabtu, 05 Desember 2015

Resensi Novel : Sorgum Merah

Resensi Novel : Sorgum Merah

Penulis : Mo Yan
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Tebal : 548 halaman
ISBN : 978-602-290-006-1

Novel ini berkisah mengenai kehidupan sebuah keluarga dalam tiga generasi. Melalui tokoh "aku" yang hingga akhir tak terkuak identitas lengkapnya, mengalirlah kisah perjalanan hidup kakek dan ayahnya di jaman perang dengan bumbu kehidupan asmara mereka.

Sang ayah yang bernama Douguan masih berumur lima belas tahun saat mengikuti Komandan Yu Zhan'ao, ayah angkatnya yang belakangan terungkap bahwa ia adalah ayah kandungnya, berperang gerilya melawan penjajahan Jepang di Gaomi Timur.

Komandan Yu di masa-masa sebelum perang bisa dibilang merupakan bajingan kelas wahid. Ayahnya meninggal saat masih kecil. Sepeninggal ayahnya, ibunya memiliki hubungan dengan seorang pendeta Buddha. Ia tak menyukai pendeta Buddha tersebut. Suatu malam ia membunuh kekasih ibunya tersebut. Saat mengetahui kekasihnya tewas, ibu Yu Zhan'ao bunuh diri sehingga Yu menjadi yatim piatu. Ia pergi meninggalkan kampungnya dan bekerja serabutan menjadi tukang angkut peti mati dan tandu pengantin.

Saat menjadi tukang angkut tandu pengantin inilah ia bertemu dengan Dai Fenglian, gadis cantik yang akan dinikahkan dengan Shan Bianlang, anak keluarga kaya pengusaha arak yang menderita lepra. Tanpa sengaja Zhan'ao memegang kaki mungil Fenglian yang diikat, sebuah tradisi "kejam" di masa lalu yang mengharuskan anak perempuan diikat kakinya agar kakinya mungil dan cantik. Kejadian tak sengaja ini ternyata menerbitkan perasaan saling menyukai di antara keduanya.

Demi membebaskan wanita yang dicintainya dari tragedi hidup bersama penderita kusta, Zhan'ao membunuh Shan Bianlang dan ayahnya, Shan Tingxiu. Saat itu Fenglian tengah berada di rumah orangtuanya. Namun tetap saja ia menjadi tersangka utama atas kematian suami dan mertuanya. Dalam pengadilan yang kacau balau, akhirnya Fenglian lolos dari jerat hukum, kecurigaan dialihkan ke Leher Berbintik, ketua bandit yang sangat ditakuti. Di kemudian hari Zhan'ao membunuh Leher Berbintik.

Kematian suami dan mertuanya membuat Fenglian kini menjadi pemilik penyulingan arak keluarga Shan. Dalam menjalankan usaha ini ia dibantu Paman Arhat yang sudah lama bekerja untuk keluarga Shan. Saat tentara Jepang datang ke Gaomi Timur Laut, Paman Arhat yang setia ini tewas dikuliti tentara Jepang.

Hubungan Fenglian dan Zhan'ao mengalami kerikil saat Zhan'ao selingkuh dengan Gairah, gadis pelayan Fenglian. Zhan'ao memilih pergi dan tinggal bersama Gairah di desa tetangga yang bernama Celah Air Garam. Fenglian pun membalas perbuatan Zhan'ao. Ia menjalin hubungan dengan Mata Hitam, pemimpin genk, Kelompok Besi. Mendengar hal ini, Zhan'ao pergi menemui Mata Hitam dan bertarung, hasilnya keduanya seimbang. Fenglian yang terharu memilih kembali bersama Zhan'ao namun menolak tinggal satu atap dengan Gairah, madunya.

Kedamaian di Gaomi Timur Laut terusik saat tentara Jepang datang. Sebelumnya, tentara Jepang terlebih dahulu membantai penduduk di Celah Air Garam. Dalam pembantaian ini, Gairah yang tengah mengandung bersama putrinya menjadi korban kekejaman tentara Jepang. Zhan'ao saat itu tengah berada di rumah Fenglian.

Zhan'ao kemudian membentuk pasukan gerilya-nya melawan Jepang. Douguan, putranya dengan Fenglian yang masih belia turut mendampingi ayahnya berperang gerilya. Dalam sebuah pertempuran yang sangat heroik, pasukan Zhan'ao semuanya tewas. Hanya ia dan Douguan yang selamat. Dalam pertempuran itu, Fenglian turut tewas saat tengah mengantarkan makanan untuk pasukan Zhan'ao. Kematian Fenglian ini menimbulkan kesedihan mendalam bagi Zhan'ao. Hubungannya dengan Fenglian yang belakangan dihiasi perselisihan akibat perselingkuhan keduanya seolah sirna. Menatap jazad Fenglian dengan senyum tersungging di wajahnya yang cantik dan muda membuat Zhan'ao tersadar, Fenglian adalah cinta sejatinya.

Perang makin keras. Zhan'ao bukan hanya berperang dengan Jepang, tapi belakangan ia juga terlibat perang dengan pasukan lainnya. Dalam masa sulit ini ada kisah di mana Douguan dan pasukan kecilnya harus bertempur melawan kumpulan anjing yang memakan bangkai nyawa manusia yang tewas dalam pertempuran. Saat itu Zhan'ao tengah sakit keras. Nyawa Douguan sendiri nyaris berakhir saat bertempur dengan salah satu anjing terpintar dalam kumpulan itu.

Dalam masa-masa perang ini Douguan menemukan wanita yang nantinya akan menjadi jodohnya. Namun perang pula yang sempat memisahkan keduanya. Tak dikisahkan bagaimana akhirnya keduanya bertemu kembali, namun pembaca bisa diyakini mereka akhirnya bersatu lewat tutur tokoh "aku" yang merupakan anak dari mereka.

Meski di bagian-bagian akhir novel ini berisi beberapa kisah-kisah mitos yang terasa aneh, namun secara keseluruhan cerita dalam novel ini sangat menawan. Dengan gaya tutur yang menarik, kita takkan bosan untuk membaca hingga akhir. Penokohan yang kuat dan diksi yang menarik menjadi salah satu daya pikat dari novel ini. Salah satu yang juga istimewa dalam novel ini, menurutku, adalah kemampuan Mo Yan mengisahkan keindahan dan keluhuran cinta sama fasihnya dengan kekejaman dan kerakusan manusia akan nafsu dan kuasa yang tak kekal. Beberapa kalimat bisa sangat puitis seperti di halaman 453 "matahari terbenam menerangi awan sore dan menyinari tanah hitam yang merintih...", tapi di bagian lain, Mo Yan bisa saja menggunakan kalimat yang sedikit vulgar namun tetap memiliki keindahan kata yang memikat. Di bagian akhir, Mo Yan menyisipkan kisah tragis dalam perang di manapun, pahlawan perang yang pada akhirnya harus mati di tangan bangsanya sendiri. Lewat kisah seorang tua bernama Geng Tua, yang mengalami delapan belas tusukan oleh tentara Jepang, namun ia tetap hidup secara ajaib, setelah perang usai, ia malah terabaikan. Hidup lewat belas kasih pemerintah. Namun suatu hari jatah ransum-nya tiba-tiba saja terhenti. Saat ia menuntut hak-nya ke gedung komite, ia diabaikan hingga akhirnya mati kedinginan di depan gedung komite.

Sabtu, 07 November 2015

Review Novel : All The Flowers In Shanghai

Penulis : Duncan Jepson
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Tebal : 476 halaman
ISBN : 978-979-024-388-0

Xiao Feng atau Feng-Feng merupakan putri kedua dari sebuah keluarga kelas menengah yang tak pernah diperhatikan keberadaannya. Ibunya sangat berambisi menjadi bagian dari kalangan kelas atas. Demi mencapai ambisinya ini, ibunya telah mempersiapkan kakak Xiao Feng agar dapat menikah dengan pemuda kaya. Sementara Xiao Feng yang tak diharapkan menikah karena harus mengurus kedua orangtuanya saat mereka tua nanti, seperti bayangan di balik kemilau kakaknya.
 
Meski tak diperhatikan namun Xiao Feng justru menikmati kehidupannya. Berbeda dengan kakaknya yang selalu disibukkan dengan acara pesta dansa untuk menarik perhatian pemuda kaya, Xiao Feng justru lebih suka mengunjungi taman-taman di sekitar rumahnya bersama kakeknya. Dari kakeknya ini, Xiao Feng mengetahui berbagai nama latin bunga-bungaan yang mereka temui. Bahasa yang sukar dimengerti tapi berbekas dalam benak Xiao Feng.
 
Kehidupan penuh kebebasan ini tiba-tiba berubah tatkala kakaknya yang sudah dipersiapkan untuk menikah dengan seorang pemuda dari keluarga Sang yang kaya raya mendadak jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Pihak keluarga Sang yang sudah menyebarkan undangan tak mau kehilangan muka danbersikukuh pesta pernikahan harus tetap diselenggarakan. Maka Xiao Feng harus menggantikan kakaknya menikahi Sang Xiong Fa, putra pertama, ahli waris keluarga Sang itu. Namun hati Xiao Feng ternyata sudah tertambat pada Bi, seorang pemuda miskin, anak penjahit baju pengantin kakaknya yang belakangan menjadi baju pengantinnya.

Hidup sebagai menantu keluarga Sang tak memberi kebahagiaan bagi Xiao Feng. Dalam tekanan untuk melahirkan seorang putra pewaris keluarga Sang, jiwa Xiao Feng memberontak. Di dalam hatinya munculkebencian dan keinginan untuk membalas dendam pada ibu dan almarhum kakaknya yang telah membuatnya terjebak dalam pernikahan yang tak diingininya ini. Pada mertuanya yang telah menekannya untuk melahirkan pewaris. Pada suaminya yang telah menciptakan teror terhadapnya setiap malam demi mendapatkan seorang putra sebagai penerus garis keturunan keluarga Sang. Ia memutuskan bila anak yang dikandungnya laki-laki, maka ia akan merawatnya tapi bila anak yang dikandungnya seorang perempuan, maka ia akan memberikan anaknya itu pada keluarga miskin.

Saat tiba waktunya melahirkan, ia tak mengijinkan siapapun mendampinginya kecuali Yan, pelayan pribadinya. Ternyata anaknya perempuan, tanpa melihat apalagi memeluknya, ia meminta pelayannya memberikan anak yang baru dilahirkannya itu kepada keluarga miskin. Kepada suami dan mertuanya, ia mengatakan ia keguguran.

Sejak hari itu Xiao Feng memutuskan untuk berubah. Ia tak mau lagi tunduk pada siapapun. Bahkan dengan cerdiknya, ia menyalahkan ibu mertuanya yang telah membuatnya keguguran sehingga ibu mertuanya yang sejak awal selalu mempersulitnya tak bisa lagi berkutik. Ia juga tak mau lagi tunduk dan membiarkan suaminya menerornya setiap malam hanya demi mendapatkan seorang putra.

Xiao Feng yang semula pemalu memutuskan keluar dari kepompongnya. Ia ingin menjalani hidup seperti kakaknya dulu. Ia belajar bersolek, belanja sepatu dan baju-baju bagus dan rajin mengikuti pesta-pesta dansa. Ia juga mulai mendapat respek dari ayah mertuanya karena berhasil membuat Xiong Fa, yang rendah diri menjadi sosok berbeda dengan kepribadian kuat seperti dambaan ayahnya. 

Ayah mertua Xiao Feng makin menyayanginya saat mengetahui Xiao Feng hamil lagi. Kali ini anak yang dilahirkan Xiao Feng adalah laki-laki. Ia benar-benar puas karena telah berhasil menuntaskan tugasnya memberikan keluarga Sang seorang pewaris. Tapi masalahnya bayi yang dilahirkannya cacat. Ayah dan ibu mertuanya menganggap bayinya tak layak menjadi pewaris keluarga Sang dan mendesak Xiong Fa membuang putranya dan menikah lagi dengan wanita lain yang bisa melahirkan seorang putra. Tapi ternyata Xiong Fa tak mau menuruti keinginan orang tuanya. Ia memutuskan untuk tetap merawat putranya yang diberi nama Sang Lu Meng.

Suatu hari Xiong Fa menumpahkan perasaannya pada Xiao Feng bahwa sekalipun anak yang dilahirkan Xiao Feng adalah perempuan, ia akan tetap bahagia. Malah ia lebih suka memiliki anak perempuan. Mendengar ini Xiao Feng ingin menjerit dan menceritakan pada Xiong Fa bahwa anak pertama mereka adalah perempuan. Diliputi perasaan menyesal Xiao Feng meminta Yan, pelayan pribadinya untuk mencari anak perempuannya tapi tentu saja hal itu mustahil. 

Seiring waktu Lu Meng mulai besar. Ia tumbuh menjadi anak yang tangguh meski cacat. Sementara perang mulai berkecamuk. Jepang datang menguasai Shanghai. Suatu hari datanglah seorang gadis pelayan bernama Yu. Ia ditugaskan mengurus Lu Meng. Keduanya sangat akrab. Xiao Feng tak suka melihat keakraban anaknya dengan seorang gadis pelayan. Ia makin membenci Yu saat suatu hari melihat Yu tengah bersama suaminya. Dalam keadaan kalap ia memukuli Yu dengan ikat pinggangnya. Ia makin murka saat Lu Meng, putra kesayangannya malah melindungi gadis pelayan itu. 

Kemarahan dan kebencian yang terpendam di dalam hatinya terhadap Yu, si gadis pelayan serta rasa sakit hati atas pengkhianatan suami dan putra semata wayangnya yang malah lebih membela seorang pelayan membuat Xiao Feng menarik diri dan hidup terasing. Hingga suatu hari ia menemukan sebuah kenyataan yang jauh lebih menyakitkan. Kemarahan dan kebenciannya pada Yu malah berbalik menjadi kacau balau saat rahasia kelamnya tersingkap. Rasa marah dan bencinya kini berbalik menjadi rasa malu, sedih, menyesal, dan berbagai rasa yang membuatnya melarikan diri dari rumahnya. Meninggalkan suami dan anaknya.

Keluar dari rumah keluarga Sang, hidup Xiao Feng tidaklah mudah. Ia harus bekerja keras dan di bawah rezim partai komunis yang berkuasa atas China usai perang melawan Jepang makin membuat hidup Xiao Feng bertambah sulit. Suatu hari, di musim dingin yang berat, ia menerima sepucuk surat yang membuatnya sadar bahwa ia harus menghadapi masa lalunya. Dalam keadaan sekarat karena musim dingin yang berat, Xiao Feng mulai menulis surat mengisahkan kisah hidupnya untuk putri yang telah dicampakkannya.

Catatanku: Sejujurnya aku sedikit kecewa dengan cerita dalam novel ini yang tak sesuai dengan bayanganku yang terpesona saat membaca sinopsisnya saat browsing di internet. Meski begitu, untuk mengisi waktu luang, novel ini lumayan bisa membunuh waktu. Tak terlalu membosankan meski tak bisa dibilang istimewa.

Senin, 18 Mei 2015

Review Novel : Bleachers (Sang Pelatih)

Review Novel : Bleachers (Sang Pelatih)
Penulis : John Grisham
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 208 halaman

Neely Crenshaw, seorang quarterback terbaik yang pernah dimiliki regu football Messina Spartan, sebuah regu football kebanggaan kota kecil Messina terpaksa harus mengakhiri karir cemerlangnya akibat sebuah kecelakaan saat tengah bertanding. Tempurung lutut Neely hancur. Bintang Neely yang semula merupakan idola Amerika perlahan memudar. Namun di Messina, nama Neely tetap harum seperti juga nama pelatih football, Eddie Rake yang telah menemukan dan mengasah bakatnya hingga menjadi seorang quarterback handal.

Bagi kota kecil Messina, Eddie Rake sudah bagaikan dewa yang begitu dipuja kebanyakan penduduk Messina yang begitu tergila-gila pada football karena Eddie Rake telah memuaskan dahaga mereka akan kemenangan. Di tangan Eddie Rake, tim Spartan yang semula tak dikenal menjadi tim yang amat ditakuti lawan. Di bawah kepemimpinan Rake, Spartan pernah meraih kemenangan 89 kali berturut-turut. Namun demi kemenangan ini, Rake melatih murid-muridnya dengan tingkat disiplin yang amat tinggi. Suatu hari salah satu murid Rake tewas akibat latihan keras yang diberikan Rake. Masalahnya murid yang tewas ini adalah keponakan salah seorang petinggi Dewan Pendidikan di Messina. Rake dipecat dari kursi pelatih Spartan. Rakyat Messina terbelah. Ada yang mendukung pemecatan Rake tapi tak sedikit pula yang tak menyetujui pemecatan Rake ini. Rake sendiri, di dalam hatinya amat menyesali kematian Scotty Reardon, muridnya.

Saat Rake dipecat karir football Neely sudah berakhir. Ia sudah lama meninggalkan Messina dan enggan kembali ke kampung halamannya ini. Namun saat Rake tengah sekarat akibat kanker yang dideritanya, Neely memutuskan kembali ke Messina. Kota kecil yang akan selalu memujanya sebagai salah satu pahlawan Spartan.

Neely seperti juga para mantan pemain Spartan lainnya memilih berada di lapangan football yang bernama Rake Field, nama yang diberikan penduduk Messina untuk menghormati Eddie Rake, menunggu berita kematian pelatih mereka sambil mengenang masa lalu, pertandingan-pertandingan yang pernah mereka jalani sekaligus juga mengenang perlakuan Rake selama melatih mereka. Saat tenggelam dalam kenangan mereka ini, ada perasaan benci sekaligus kagum dalam diri para pemain ini terhadap mantan pelatih mereka. Bagi Neely dan kawan-kawan seangkatannya, mereka takkan pernah bisa melupakan kejuaraan tahun 1987, kejuaraan yang telah membawa Neely Crenshaw menjadi legenda Spartan. Pertandingan yang dipenuhi kekerasan, pertengkaran dan misteri mengenai patahnya hidung Neely dengan ketidakhadiran Rake dan tim pelatih di lapangan seusai istirahat babak pertama dimana Spartan dibantai lawan. Rake baru muncul menjelang pertandingan akan berakhir, menyaksikan dari pinggir lapangan para pemainnya berhasil menciptakan mujizat, bangkit dari kematian dan meraih kemenangan besar. Tapi tak seperti pada umumnya, seusai kemenangan spektakuler itu, Neely dan kawan-kawannya berlari ke dalam kamar ganti, mengunci pintu dan tak mengijinkan siapapun masuk tak terkecuali pelatih mereka, Eddie Rake, karena kemenangan itu diraih mereka tanpa Rake.

Namun kisah Rake tak melulu soal kedisiplinannya dalam melatih para pemain Spartan. Meski tak piawai mengungkapkan sisi manusiawinya, Rake toh tetap memiliki perhatian terhadap mantan anak didiknya, di antaranya Nat Sawyer, kawan seangkatan Neely yang belakangan berani menyatakan diri sebagai homoseks, hal yang tentunya membuatnya dikucilkan, tapi berkat Rake, toko bukunya tetap memiliki pengunjung. Saat Neely dirawat di rumah sakit usai kecelakaan di lapangan football yang membuat karir football-nya berakhir, Rake juga menyempatkan datang. Tak piawai mengucapkan kalimat penghiburan, Rake hanya mengungkapkan penyesalannya dan berharap seandainya ia tak pernah memperkenalkan football pada Neely, dan Neely meski memiliki hubungan yang kaku dengan pelatihnya ini, namun dapat merasakan ketulusan hati pelatihnya.

Kembali ke Messina bagi Neely nyatanya bukan hanya berisi kenangan akan football, Spartan, dan Eddie Rake. Messina juga memberi kenangan pada Neely akan cinta pertamanya sekaligus kenangan akan kebodohan khas anak SMU. Meski merasa khawatir, Neely memberanikan diri mendatangi rumah Cameron Lane, gadis yang pernah dicintainya tapi setelah ia meraih ketenaran sebagai kapten Spartan, ia malah mendepak dan mempermalukan Cameron demi mendapatkan Brandy Skimmel alias Screamer. Pilihan yang belakangan disesali Neely. Setelah karir football Neely berakhir, Screamer meninggalkannya demi mengejar mimpinya menuju Hollywood. Mimpi Screamer memang menjadi kenyataan tapi bukan film yang akan memenangkan Oscar, sebaliknya Screamer kini hanyalah pemain film dewasa dengan nama Tessa Canyon. Seperti dugaan Neely, ternyata Cameron juga kembali ke Messina. Tak seperti Neely, kehadiran Cameron di Messina bukan untuk memberi penghormatan pada Eddie Rake. Seperti segelintir orang di Messina yang bukan penggemar football, Cameron sangat membenci olahraga yang sangat dipuja sebagian besar penduduk Messina itu. Kehadiran Cameron di Messina lebih untuk memberi penghiburan bagi Mrs. Lila Rake, mantan guru pianonya yang adalah istri Eddie Rake. Meski penerimaan Cameron terhadap kedatangannya tak bisa dibilang ramah, namun Neely tetap bertahan untuk meminta maaf atas perlakuannya dulu. Cameron yang kini telah bersuami dan memiliki dua orang anak masih marah dengan perlakuan Neely dulu padanya tapi ia menganggap semua itu hanyalah bagian dari masa lalu.

Berita itu akhirnya datang juga. Berita kematian Eddie Rake. Duka menyelimuti Messina. Rake Field dipilih menjadi tempat untuk upacara pelepasan Eddie Rake. Penduduk Messina memenuhi lapangan football kebanggaan mereka ini untuk memberikan penghormatan terakhir pada sosok mantan pelatih yang telah memberikan banyak kemenangan bagi kota kecil ini. Tiga orang mantan pemain Rake dipilih untuk memberikan pidato pelepasan, salah satu yang terpilih adalah Neely Crenshaw. Air mata dan kenangan akan Eddie Rake berbaur menjadi satu dan saat semua berakhir, Neely mendapati kesadaran baru. Seperti yang dikatakan Cameron, masa-masa keemasannya telah berakhir. Ia bukan lagi seorang pahlawan. Masa lalu adalah masa lalu, dan ia hidup di masa kini. Messina tetaplah kota kecil yang sebagian besar penduduknya tergila-gila pada football dan Neely Crenshaw adalah bagian di dalamnya.

Novel ini adalah novel pertama John Grisham yang pernah kubaca yang bukan bertema hukum. Entah apakah sebelumnya Grisham pernah menulis novel lain yang tidak bertema hukum, tapi ini adalah novel non hukum pertama Grisham yang pernah kubaca. Meski tak terlalu paham dengan istilah-istilah football Amerika yang memenuhi novel ini, tapi gaya tutur Grisham dan plot cerita dalam novel ini bagiku tetap menarik seperti bila ia menulis novel bertema hukum. Tema yang ringan dan isinya yang tak terlalu tebal, membuat novel ini lumayan juga untuk mengisi waktu luang. Di bagian akhir digambarkan skema lapangan dan susunan pemain football, mungkin untuk menguatkan penjelasan bagi yang benar-benar awam terhadap olahraga favorit Amerika ini. Bagiku sendiri skema tersebut tetap tak membuatku memahami olahraga ini. Meski begitu cerita ini tetap menarik walau kita sama sekali tak memahami satupun istilah olahraga football Amerika yang menjadi tema novel ini.

Selasa, 28 April 2015

Resensi Buku : Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman - Warisan Pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid

Editor : Frans M. Parera dan T. Jakob Koekerits
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : xviii + 182 hlm

Berbicara tentang Gus Dur adalah juga berbicara tentang perjalanan bangsa ini menuju babak baru reformasi yang kini tampak tak jelas arahnya. Namun Gus Dur ternyata sudah jauh-jauh hari mengkhawatirkan ketidakjelasan arah reformasi saat babak baru itu memulai lembaran awalnya.

Berbicara tentang Gus Dur adalah juga berbicara tentang pluralisme bangsa ini. Meski tumbuh dalam keluarga santri yang sangat kental keislamannya namun ia tak pernah antipati pada kelompok keyakinan yang berbeda dengannya.

Gus Dur sepertinya tak pernah kehabisan topik. Kemampuan pikirnya sangat luas jangkauannya. Ia juga merupakan penulis yang produktif bahkan di saat periode Orde Baru dimana mengemukakan pendapat masih memiliki banyak keterbatasan dan belenggu. Topik tulisan Gus Dur juga beragam tak melulu soal politik dan agama, tapi ia juga sangat piawai dalam menulis ulasan soal sepakbola. Dan buku ini merupakan kumpulan tulisan Gus Dur yang pernah dimuat dalam harian Kompas. Dibagi dalam empat bagian yang mengupas soal Agama Islam Dan Negara di bagian pertama, kepemimpinan politik di bagian kedua. Sementara di bagian ketiga berisi kumpulan tulisan Gus Dur mengenai kepemimpinan moral spiritual terhadap Romo Mangunwijaya, Gus Miek, Kiai Achmad Shiddiq dan Tuan Guru Faisal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Terakhir, di bagian keempat merupakan tulisan-tulisan Gus Dur mengenai politik dan demokrasi.

Sub judul buku ini, Warisan Pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid, agaknya sangatlah tepat, karena Gus Dur dan segala pemikirannya merupakan warisan bagi negara ini yang tengah berada dalam kebimbangan di tengah alur reformasi yang kehilangan arahnya. Buku ini sendiri saat cetakan pertamanya pada Oktober 1999 adalah saat ketika Gus Dur ditetapkan sebagai Presiden ke-4 republik ini. Pada cetakan ketiganya di Januari 2010, satu dasawarsa kemudian, buku ini tetap layak menjadi refleksi perjalanan bangsa ini.

Membaca buku ini sebenarnya tak terlalu sampai harus membuat kening berkerut, walau pada beberapa tulisan yang ditulis pada masa Orde Baru di mana ada pengekangan dalam menyatakan pendapat sehingga kalimat yang digunakan tak terlalu gamblang tersurat, namun Gus Dur tetap lugas dalam menyatakan opininya. Secara pribadi, aku paling suka membaca mengenai pandangan Gus Dur soal politik negeri Jiran yang tercantum dalam dua bagian. Di bagian pertama, bab 5 dengan judul: Anwar, UMNO, Dan Islam di Malaysia, Gus Dur membahas pandangannya soal Anwar Ibrahim yang semula merupakan "putra mahkota" Mahathir Mohamad, sangat islami karena pernah aktif sebagai ketua ABIM namun kemudian ia masuk ke lembaga kepemudaan UMNO yang membuatnya sangat melayu tapi juga tak meninggalkan keislamannya, sangat cocok seperti Mahathir Mohamad yang juga sangat Islam dan sekaligus sangat melayu, sehingga tak heran bila ia digadang-gadang akan menggantikan Mahathir sebagai Perdana Menteri Malaysia, tapi apa mau dikata, sejarah kemudian berkata lain. Anwar Ibrahim malah kemudian menjadi musuh Mahathir dan didakwa dalam kasus sodomi dan korupsi.

Sementara dalam bagian kedua di bab 10 dengan judul: Anwar, Mahathir, Dan Kita di Indonesia, Gus Dur menuliskan bagaimanapun kasusnya, ia tak ingin terjebak dalam politik negeri Jiran tersebut. Ia tak ingin terjebak dalam dukung-mendukung soal mana yang benar. Namun saat diminta turut mendukung surat protes atas penangkapan Anwar Ibrahim oleh Pemerintah Malaysia yang diajukan Adnan Buyung Nasution, Gus Dur bersedia setelah dalam surat tersebut dicantumkan kalimat "Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri dan mantan Menteri Keuangan" karena menurut Gus Dur dengan pencantuman kalimat tersebut ia tidak berpihak kepada siapapun dalam sengketa antara Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohamad.

Di bab ketiga yang membahas sosok kepemimpinan moral spiritual tampak jelas kesahajaan Gus Dur dalam menerima bahkan yang mungkin tak sepaham dengannya. Gus Dur sebagai tokoh nasional sangat terbuka atas berbagai pandangan walau keislamannya tak perlu disangsikan lagi. Tak heran walau sempat tak sependapat dengan Tuan Guru Faisal, pemimpin besar NU di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dengan jelas Tuan Guru Faisal menyatakan pada keluarganya bahwa jika ia meninggal maka orang pertama di Jakarta yang harus di beritahu adalah K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan bukan PBNU-nya.

Bagian yang juga menarik dari buku ini adalah ketika Gus Dur yang berani mengemukakan pandangan yang pastinya ia sadari, kontroversial, seperti ketika ia mengemukakan pandangan secara konstitusional bahwa nonmuslim bisa saja menjadi presiden negeri ini. Tentu saja pernyataannya menjadi kontroversial, karena secara tak tertulis ada janji di antara tokoh awal bangsa yang salah satunya adalah kakek dari Gus Dur sendiri mengenai syarat menjadi presiden tapi Gus Dur walau mengetahui hal ini tapi ia lebih berpegang pada apa yang tertulis, dan ini sahih juga, bahwa dalam konstitusi dalam hal ini Undang Undang Dasar tak ada aturan soal syarat agama keyakinan tertentu untuk menjadi presiden. Gus Dur juga mengingatkan jika ingin murni berdemokrasi maka bangsa ini harus pula siap pada wacana yang tertulis secara konstitusional soal ini.

Juga menarik adalah penjelasan Gus Dur soal dwifungsi ABRI yang sangat berjaya di masa Orde Baru. Pula menarik disimak soal Pertemuan Ciganjur, di masa-masa awal reformasi yang mana salah satu tokoh yang hadir dalam pertemuan itu adalah Gus Dur sendiri. Penjelasan Gus Dur soal Dialog Nasional yang direncakannya dengan mempertemukan mantan Presiden Soeharto dengan Presiden (saat itu) B.J. Habibie dan Menhankam/Pangab (saat itu) Wiranto untuk kejelasan arah bangsa agar tak menuju pada apa yang ditakuti semua pihak sebagai perang saudara, tapi sayangnya rencananya ini gagal. Dari tulisan ini tampak jelas betapa Gus Dur adalah tokoh sejati yang dibutuhkan negeri ini. Tokoh yang bisa mengatasi kepentingan pribadinya untuk sebuah kepentingan yang jauh lebih besar. Kepentingan bangsa. Tapi sayangnya pemikirannya ini tak selalu dipahami sehingga ia mendapat pertentangan keras. Setelah membaca buku ini tercenung dalam hati, masih adakah sosok negarawan sejati seperti Gus Dur yang benar-benar berpikir dan bertindak sebenar-benarnya bagi negara dan bukan nafsu pribadi akan kekuasaan?

Jumat, 19 September 2014

Review Novel: The Appeal (Naik Banding) - John Grisham

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama 
ISBN : 978-979-22-9680-8 
Tebal : 512 hlm. 

Bertahun-tahun lamanya warga Bowmore di Mississipi menderita akibat dampak limbah beracun dari pabrik pestisida Krane Chemical yang dibuang secara tak bertanggung jawab sehingga membuat air di kota Bowmore tercemar. Sudah banyak warga kota Bowmore yang menderita dan meninggal akibat kanker yang disebabkan oleh air yang tercemar limbah dari Krane Chemical tersebut. Keadaan ini pula yang membuat Bowmore dikenal sebagai Kota Kanker - Cancer County. Meski begitu, tak ada satupun yang bisa memaksa Krane Chemical mempertanggung jawaban aksi pencemaran lingkungan yang mereka lakukan di Bowmore. 

Di antara korban-korban yang menderita atas pencemaran lingkungan yang dilakukan Krane Chemical adalah Jeannette Baker yang harus kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Suami dan putra semata wayangnya meninggal dunia akibat menderita kanker. Suami dan anak Jeannette Baker ini termasuk kelompok orang yang meminum air yang tercemar. Jeannette sendiri tak mau meminum air dari keran langsung saat melihat air di Bowmore tersebut tercemar, sedangkan suami dan anaknya saat itu masih saja meminum air yang tercemar tersebut karena mempercayai pernyataan dari Krane Chemical bahwa air di Bowmore masih aman dan bisa dikonsumsi. 

Jeannette Baker dibantu biro hukum Payton & Payton, yang dikelola pasangan suami istri, Wes dan Mary Grace Payton, akhirnya berhasil menyeret Krane Chemical ke meja hijau. Menghadapi perusahaan raksasa macam Krane Chemical tentu saja bukan hal yang mudah. Demi kasus ini Wes dan Mary Grace sampai berada di ambang kebangkrutan. Selama menangani kasus ini, mereka terpaksa meninggalkan kasus-kasus lain demi fokus pada kasus Bowmore ini. Akibatnya mereka tak ada pemasukan sementara proses pengadilan yang berlarut-larut membuat pengeluaran terus bertambah. Untuk mengatasi hal ini. Mereka terpaksa berhutang pada bank. Semakin hari hutang mereka di bank pun makin bertumpuk. Gaji para pegawai di Biro Hukum Payton & Payton pun sudah berbulan-bulan tak dibayar. Selain itu mereka juga harus kehilangan rumah mereka di kawasan elite dan sebagai gantinya terpaksa hidup di apartemen sederhana. Mereka juga harus merelakan mobil-mobil mewah mereka dijual. Semua pengorbanan mereka ini berbuah manis saat akhirnya dewan juri memutuskan Krane Chemical bersalah dan diharuskan membayar ganti rugi pada Jeannette Baker senilai 41 juta dolar. 

Kekalahan Krane Chemical di Pengadilan Tinggi Mississipi ini mengakibatkan saham perusahaan pestisida ini merosot tajam. Carl Trudeau, miliuner pemilik Krane Chemical tentu saja tak rela perusahaan hancur tapi yang paling menyebalkan baginya bukanlah saham-sahamnya yang anjlok melainkan keputusan pengadilan yang membuat perusahaannya harus membayar ganti rugi 41 juta dolar pada Jeannette Baker. Selain itu, kekalahannya memicu tuntutan-tuntutan hukum lainnya dari warga Bowmore yang pada akhirnya akan mengancam posisinya dalam daftar orang terkaya versi Forbes. 

Kekhawatiran Trudeau itu memang beralasan, karena setelah kemenangan Biro Hukum Payton & Payton dan Jeannette Baker ini membuat banyak pengacara yang semula enggan menangani kasus warga Bowmore mendadak menaruh minat amat besar, bahkan ada biro hukum besar dari luar Mississipi mengumpulkan sekelompok warga Bowmore yang merasa sebagai korban limbah beracun Krane Chemical dan mengajukan Class Action atas perusahaan raksasa itu. 

Dalam kekhawatirannya ini, Trudeau dihubungi seseorang senator yang memberinya sebuah nama yang dijamin bisa membantunya memenangi kasusnya dalam pengadilan banding di Mahkamah Agung sehingga ia tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk Jeannette Baker maupun masyarakat Bowmore lainnya. Namun tentu saja bantuan ini tak murah. Namun Trudeau lebih rela mengeluarkan uang untuk membayar orang ini daripada membayar uang ganti rugi pada masyarakat Bowmore. Nama orang yang diusulkan senator kenalan Trudeau ini adalah Barry Rinehart. 

Pekerjaan Barry Rinehart ini bisa dibilang cukup unik. Ia mengatur kampanye yang disebut pemilu peradilan, di mana ia bisa menggeser hakim di pengadilan banding dan pengadilan tertinggi yang berpotensi merugikan kliennya dan mengganti posisi hakim itu dengan hakim lain yang bisa memberi keputusan yang diinginkan oleh klien-kliennya. Dan klien Barry Rinehart ini adalah perusahaan-perusahaan besar macam Krane Chemical yang menghadapi tuntutan hukum. Untuk memenangkan klien-kliennya ini, Rinehart bersama kelompok kerjanya ini mengatur kampanye secara agresif dalam pergantian hakim pengadilan yang dinilai akan memberatkan posisi para kliennya. Tentu saja kerja kelompok Rinehart ini sangat rahasia namun sistematis dan tentunya sangat bersih, tanpa dokumen sehingga takkan terlacak. Dengan membayar delapan juta dolar, maka Carl Trudeau akan mendapatkan seorang Hakim Mahkamah Agung yang akan memenangkan kasusnya dan membebaskannya dari segala macam tuntutan warga Bowmore. 

Untuk melakukan pekerjaan ini, Barry Rinehart menugaskan Tony Zachary. Ia yang akan menemui calon potensial untuk menjadi Hakim di Mahkamah Agung Mississippi yang bisa mereka setir untuk memenuhi semua keinginan mereka. Pilihan pun jatuh pada seorang pengacar tak terkenal yang tinggal di luar kota kecil di Brookhaven, Mississippi bernama Ron Fisk. Profil Ron Fisk bisa dibilang tanpa cela, tokoh yang mudah dipoles untuk menjadi pujaan masyarakat. Pria muda kulit putih, menikah dengan satu istri, tiga anak, cukup tampan, berpakaian rapi, konservatif, penganut Kristen Baptis yang taat, lulusan sekolah hukum Universitas Mississipi dan tidak pernah melakukan pelanggaran etika dalam karir hukum, pun tak pernah terlibat masalah pidana selain kena tilang, namun masalahnya meski berprofesi sebagai pengacara, ia tidak tergabung dalam kelompok pengacara persidangan, tidak ada kasus yang kontroversial, tidak memiliki pengalaman apa pun di bangku sidang, yang artinya ia sebenarnya tidak memiliki kompetensi untuk menilai kasus sebagai hakim di persidangan apalagi menjadi seorang Hakim Agung. Tapi justru ini merupakan poin istimewa dari Fisk bagi Zachary dan orang yang mempekerjakannya. 

Fisk tentu saja tak mengetahui rencana besar dibalik penawaran Zachary untuk menjadikannya sebagai Hakim Agung. Fisk yang sederhana dan memiliki hidup monoton ini tentu saja terpesona dengan bayangan posisinya sebagai seorang Hakim Agung. Sebuah kelompok yang dinamakan Judicial Vision menjadi penyandang dana yang akan mempromosikan Fisk menjadi Hakim Agung. 

Demi menjadikan Ron Fisk sebagai Hakim Agung tentu saja diperlukan seorang korban di antara Hakim Agung yang perlu digeser dari posisinya. Pilihan jatuh pada Sheila McCarthy. Berbeda dengan Ron Fisk, banyak kepribadian dari Hakim Sheila McCarthy ini yang tak terlalu mengesankan bagi kelompok konservatif. Sheila McCarthy memiliki moralitas yang cenderung longgar. Janda cerai dan seorang penganut liberalisme. Meski begitu, Sheila McCarthy merupakan seorang Hakim Agung yang tangguh. Kebalikan dari Ron Fisk, Sheila sangat berpengalaman dengan kejamnya pertarungan di ruang sidang. Namun masyarakat tentu saja takkan memperhatikan soal ini. Masyarakat umumnya hanya memperhatikan kehidupan personal dan inilah yang digunakan Tony Zachary dalam kampanye. Dibanding Sheila McCarthy yang liberalis dengan kehidupan pernikahan yang berantakan tentu saja masyarakat akan memilih Ron Fisk yang memiliki kehidupan pernikahan ideal dengan kehidupan keagamaan yang tampak tak bercela pula. 

Sementara itu, Wes dan Mary Grace Payton di antara persiapan menuju banding menghadapi berbagai masalah pelik. Bank yang selama ini memberi mereka pinjaman sehingga biro hukum mereka masih bisa beroperasi tiba-tiba saja terjadi pergantian manajemen, hal ini tentu saja ada campur tangan tak terlihat dari Carl Trudeau. Atas prakarsa Trudeau pula manajemen baru bank ini menyetop pinjaman pada Payton & Payton dan menuntut pembayaran hutang-hutang mereka. Payton & Payton di ambang kebangkrutan. Ayah Mary Grace, warga asli Mississippi yang berharap keadilan bagi warga di tanah kelahirannya ditegakkan merelakan rumahnya digadaikan demi memberi sedikit ruang bagi anak dan menantunya menyelamatkan biro hukum mereka. 

Selain itu ada kabar ahli teknik industri yang bekerja di pabrik Krane di Bowmore bernama Gatewood dikabarkan menghilang. Gatewood sudah bekerja di Krane selama 34 tahun membuatnya sangat mengenal Krane luar dalam. Selama persidangan ia mati-matian membela Krane, sikapnya di pengadilan yang arogan, agrsif, dan cepat marah membuat para juri sangat membencinya. Hakim Harrison yang memimpin sidang dengan jelas bisa mengetahui kesaksian Gatewood adalah palsu dan secara terbuka mengancam Gatewood akan dakwaan atas kesaksian palsu. Hal ini tentu saja justru memberi keuntungan bagi pihak penggugat yaitu Payton & Payton yang mewakili Jeannette Baker. Menghilangnya Gatewood menjelang sidang banding tentu saja menimbulkan tanda tanya. Besar kemungkinan Krane Chemical menyingkirkannya. Dua tahun sebelumnya, Earl Crouch, atasan Gatewood juga dikabarkan menghilang secara misterius. Crouch dan Gatewood sebelumnya selalu membela Krane mati-matian dan menyangkal apa yang sudah terbukti dengan jelas. Pembelaan keduanya terhadap Krane ini ternyata karena mereka diancam. Keduanya mengeluh diancam akan dibunuh. 

Di sisi lain, kampanye menuju kursi hakim Mahkamah Agung Mississippi mulai memanas. Kampanye negatif mulai dilancarkan ke arah Sheila McCarthy, namun kampanye negatif ini tak dilancarkan dari kubu Ron Fisk. Demi membuat Ron Fisk sebagai figur tanpa cela, maka Tony Zachary dan kelompok korporat di belakangnya membayar seorang pengacara pemabuk untuk menjadi calon Hakim Agung yang fungsinya hanya untuk melontarkan kampanye-kampanye negatif terhadap Sheilla McCarthy. Setelah misinya selesai, saat McCarthy sudah hancur-hancuran di muka publik, maka pemabuk bayaran ini pun mengundurkan diri dari pencalonan. 

Sheila McCarthy yang menyadari posisinya sebagai Hakim Agung terancam berupaya mengumpulkan kelompok kampanye yang sebagian besar merupakan para pengacara. Namun dana besar dari Judicial Vision pengusung Ron Fisk bukanlah tandingan kelompok pengacara pendukung Sheila McCarthy yang kebanyakan juga pelit dan tak benar-benar rela menyumbangkan uang pribadi mereka untuk kampanye McCarthy. Hasilnya tentu saja bisa ditebak, Ron Fisk terpilih menjadi Hakim Agung. 

Menjadi hakim terlebih Hakim Agung ternyata memiliki konsekuensi yang tak kecil. Hal ini baru disadari Fisk saat putranya mengalami kecelakaan dalam pertandingan bisbol. Saat itu kasus banding Jeannette Baker versus Krane Chemical sudah menjadi pembahasan hangat di Mahkamah Agung. Delapan Hakim Agung sudah membuat keputusan, pendapat mayoritas dikepalai memenangkan Krane. Keputusan Fisk sangat dinantikan, pendapatnya bisa saja membalikkan keadaan menjadikan kemenangan di pihak Baker tapi ia memilih mengendapkan lebih dahulu keputusan ini demi pertandingan bisbol putranya, Josh. Saat bermain bisbol ini kecelakaan menimpa Josh. Ia mengalami gegar otak dan langsung dibawa ke rumah sakit. Tapi rumah sakit yang didatanginya ternyata melakukan kesalahan yang berakibat kondisi anaknya makin parah. Anaknya lalu dibawa ke rumah sakit lain. Saat berada di rumah sakit inilah Fisk mengalami kejadian yang membuatnya menyadari betapa setiap keputusan yang dibuatnya sebagai seorang hakim sangat memengaruhi hidup orang lain. Di sana ia bertemu Aaron, seorang bocah yang mengalami kecelakaan akibat kelalaian sebuah produsen bush hog hingga menyebabkan bocah ini mengalami cedera otak yang berujung pada cacat permanen. Keluarganya yang mengalami kehancuran finansial menuntut produsen tersebut ke meja hijau. Juri menilai produsen harus bertanggung jawab. Tapi Fisk saat itu berpikir kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan tanpa bisa dicegah dengan mudahnya menjatuhkan putusan yang pada akhirnya merugikan anak tersebut. Kini di saat anaknya sendiri mengalami kejadian nyaris sama, kecelakaan yang diakibatkan kelalaian sebuah korporasi, ia baru menyadari betapa keputusannya bisa memengaruhi hidup-matinya seseorang. 

Sementara itu saham Krane Chemical perlahan mulai merangkak naik kembali. Carl Trudeau merasa puas tapi ia ingin meraih laba lebih besar terlebih ia sudah berinvestasi cukup besar untuk penetapan Ron Fisk menjadi Hakim Agung, ia merasa sudah saatnya menerima hasil investasinya. Ia mulai mendesak penyelesaian kasusnya dengan warga Bowmore. Ron Fisk memang tak mengenal Carl Trudeau tapi setelah ia didesak Tony Zachary yang telah memoles dan memuluskan jalannya menuju posisi Hakim Agung untuk segera menjatuhkan putusan atas kasus Jeannette Baker versus Krane Chemical dengan kemenangan di pihak Krane tentunya, barulah Ron Fisk menyadari pencalonannya menuju kursi hakim di Mahkamah Agung Mississippi disokong oleh korporasi busuk yang kini memintanya membayar jasa. Fisk memang belum kehilangan nurani tapi sayangnya ia merasa tak memiliki kekuatan untuk menentang korporasi besar itu. 

Membaca novel ini kita seperti disuguhi realita pahit kebenaran tak selalu mutlak berjaya. Carl Trudeau bisa jadi merupakan tokoh antagonis tanpa nurani tapi itulah gambaran dari realitas yang ada. Kita bisa jadi iba pada Jeannette Baker yang sejak kemenangan sesaatnya di pengadilan menengah Mississippi yang menetapkan Krane Chemical harus membayar ganti rugi 41 juta dolar pada wanita malang yang telah kehilangan suami dan anak semata wayangnya. Jeannette Baker bisa jadi merupakan gambaran kebanyakan rakyat kecil yang hanya berharap pada keadilan tapi nyatanya hukum tak selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran itu. Namun satu hal yang sangat mengagumkan dari Baker, ia tak terlena pada euforia atas kemenangan singkatnya di pengadilan menengah Mississippi karena ia sadar perusahaan raksasa macam Krane Chemical takkan semudah itu memberinya uang ganti rugi seperti yang diputuskan oleh pengadilan. Ia sadar keadilan mungkin tak bisa sempurna diraihnya tapi ia setidaknya telah berjuang. Bukan untuk dirinya sendiri. Bukan demi ganti rugi puluhan juta dolar untuk dirinya. Perjuangannya melawan korporat besar macam Krane Chemical adalah demi menegakkan keadilan bagi suami dan anaknya walau ia tahu keadilan memiliki versi kisah yang berbeda untuknya. Begitu pula dengan Wes dan Mary Grace Payton. Mereka rela mempertaruhkan segalanya demi kasus Jeannette Baker ini. Bersama Pendeta Denny Ott, mereka bagai suluh bagi warga Bowmore untuk tak putus harapan memperjuangkan keadilan bagi mereka.

Jumat, 20 Juni 2014

Review Novel : Princess Deokhye - Kwon Bee-Young

Judul Asli : The Last Princess of Chosun Dynasti Deokhye 
Penerbit : PT Bentang Pustaka 
Ukuran : xvi + 368 hlm.; 20,5 cm 
ISBN : 978-602-8811-76-7 

Novel ini diangkat dari kisah nyata seorang putri dari Kerajaan Joseon, Korea. Hidupnya yang bahagia sebagai seorang putri berakhir secara tragis. Ayahnya yang sangat menyayanginya tewas mendadak akibat diracun. Ia dipaksa meninggalkan negeri yang dicintainya dan harus menikah dengan pria Jepang, negeri yang telah menjajah negara yang dicintainya. Pernikahannya berakhir dengan perceraian. Anak satu-satunya yang sangat disayanginya ternyata membencinya dan tak sudi bersamanya. Suaminya memasukkannya ke rumah sakit jiwa dan negara yang dicintainya nyaris melupakannya. "Meskipun orang-orang tidak mengenaliku, aku adalah Putri terakhir Kerajaan Joseon," ujarnya dalam keterasingan dan kesendiriannya. Nama sang Putri adalah Deokhye. 

Putri Deokhye adalah Putri terakhir dari Dinasti Kerajaan Joseon. Ayahnya, Raja Kojong, sangat menyayanginya karena ia adalah putri satu-satunya. Raja bahkan sampai membuatkan sebuah taman bermain di Istana Chang Deok demi dirinya. Namun keadaan Korea saat itu dalam cengkeraman penjajahan Jepang. Itulah sebabnya Raja mencemaskan nasib putri semata wayangnya ini. Ia takut putrinya akan mengalami nasib seperti salah seorang putranya, menjadi "tawanan" Jepang. 

Salah seorang putra Raja Kojong yaitu Pangeran Young Chin, saat berumur sebelas tahun demi alasan politik terpaksa meninggalkan negerinya dan menetap di Jepang dengan dalih melanjutkan studi, padahal seluruh Kerajaan Joseon menyadari bahwa keadaaan yang sebenarnya, Pangeran Young Chin menjadi "sandera" politik Jepang. "Penyanderaan" Jepang terhadap Pangeran Young Chin makin nyata tatkala ia demi alasan politik pula, harus menikah dengan putri Kerajaan Jepang. Pernikahan Pangeran Young Chin dengan Putri Masako Nashimotonomiya yang adalah anak perempuan Pangeran Morimasa Nashimotonomiya dari Kekaisaran Jepang ini sempat mengusik Putri Deokhye, yang memiliki jiwa nasionalisme yang sangat tinggi dan amat menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan Kerajaan Joseon. Ia mempertanyakan nilai nasionalisme kakaknya yang rela menikahi Putri dari Kerajaan Jepang yang artinya akan menodai garis keturunan Kerajaan Joseon. Namun ibunda dari Putri Deokhye, Lady Yang menyatakan bahwa Putri Deokhye masih terlalu belia untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. 

Raja Kojong yang sudah sakit hati dan terluka terhadap nasib putranya yang harus menjadi "tawanan" Jepang khawatir kalau-kalau putri semata wayangnya, Putri Deokhye akan mengalami nasib yang sama dengan yang menimpa kakaknya. Karena itu, diam-diam ia mengatur pertunangan Putri Deokhye dengan Kim Jang Han, keponakan dari Kim Hwang Jin, orang kepercayaan Raja Kojong. Baik Putri maupun Kim Jang Han saat itu masih kecil. 

Saat dibawa menemui Raja, tanpa sengaja Kim Jang Han, yang semula tak tahu tujuan pamannya membawanya menemui Raja, bertemu dengan Sang Putri. Saat itu baik Kim Jang Han maupun putri saling menyukai satu sama lain. Tapi Putri yang juga tak tahu siapa anak laki-laki yang dibawa oleh Kim Hwang Jin, orang kepercayaan ayahnya sendiri. Rencana pertunangan yang dipersiapkan Raja ini hanya diketahui segelintir orang. Salah satunya adalah bibi pengasuh Putri sendiri. Saat berpapasan anak laki-laki yang dibawa Kim Hwang Jin, tanpa sadar bibi pengasuh ini ini bergumam. Ia berkata, "Oh, ternyata melalui anak itu...." Sang putri yang tak paham maksud perkataan bibi pengasuhnya tentu saja langsung mempertanyakan arti gumaman dari wanita tua yang telah mengasuhnya ini, tapi bibi pengasuh Putri hanya bisa mengelak. 

Namun pertunanangan sang Putri yang diatur dengan sangat rapi oleh Raja Kojong nyatanya hancur berantakan. Raja Kojong meninggal dunia secara mendadak. Ada kabar mengatakan bahwa Raja tewas diracun. 

Kematian Raja Kojong membuat kondisi psikologis sang putri terganggu. Putri dikabarkan mengalami gangguan jiwa. Ada dayang yang menyebarkan isu bahwa Putri Deokhye bertingkah aneh dan bersikap seolah-olah tengah bercakap-cakap dengan ayahandanya. 

Setelah Raja Kojong wafat, Raja Sunjong naik tahta. Raja Sunjong sesungguhnya sangat menyayangi dan melindungi Deokhye, namun ia tetap tak berdaya saat Deokhye harus mengikuti jejak Pangeran Young Chin. Apa yang ditakutkan Raja Kojong benar-benar terjadi. Deokhye harus pergi ke Jepang dengan dalih melanjutkan studi di sana. 

Sementara itu beberapa orang bergabung ke dalam gerakan bawah tanah untuk memerdekakan Korea dari penjajahan Jepang. Gerakan kemerdekaan ini disebut Korea Manse. Salah seorang yang tergabung dalam gerakan ini bernama Heo Seung. Pergerakannya sangat menyulitkan pihak Jepang sehingga Heo Seung menjadi buron pihak Jepang. Akibatnya Heo Seung terpaksa bersembunyi di dalam hutan dan meninggalkan istri dan anak perempuannya bernama Heo Bok Sun yang usianya sebaya dengan Putri Deokhye. 

Hidup Bok Sun dengan ibunya sangat sulit. Mereka harus hidup berpindah-pindah dan bersembunyi karena khawatir mereka akan dijadikan sandera untuk menjebak Heo Sung agar menampakkan diri. Bok Sun yang masih kecil terpaksa harus bekerja demi menghidupi dirinya sendiri dan ibunya yang sakit-sakitan. Suatu hari Bok Sun hampir ditangkap untuk dijadikan wanita penghibur bagi tentara Jepang, beruntung saat itu kereta yang dinaiki oleh Putri Deokhye lewat. Bok Sun diselamatkan oleh Putri Deokhye dan dibawa ke istana. Bok Sun kemudian menjadi pelayan pribadi Putri Deokhye. Walau begitu, usia mereka yang sebaya membuat hubungan keduanya sangat dekat. Saat Putri Deokhye dibawa ke Jepang, Bok Sun ikut serta untuk mendampingi Putri Deokhye. 

Selama di Jepang ternyata status Deokhye sebagai seorang putri Kerajaan Joseon sama sekali tak berarti. Di kelas ia tak disukai oleh teman-temannya. Sikapnya yang penuh harga diri sebagai putri Kerajaan Joseon membuat teman-teman sekelasnya menganggapnya sombong dan arogan. Mereka pun lantas mengerjai sang putri. Mereka pernah membuat termos air minum sang putri terjatuh hingga airnya tumpah membasahi lantai. Mereka berharap sang putri akan menangis tapi Putri Deokhye tanpa banyak bicara mengepel tumpahan air minumnya. Sebenarnya Bok Sun yang setiap hari memperhatikan sang putri di luar kelas, berniat mengepel tumpahan air minum sang puteri tapi Putri Deokhye menahannya dan memutuskan mengepel sendiri tumpahan air minumnya. Dan seharian itu Putri Deokhye memilih menahan rasa dahaganya dan tidak minum sama sekali karena air dalam termosnya habis ditumpahkan oleh teman-temannya, daripada harus mengemis meminta minum pada teman-temannya. 

Lain waktu teman-teman Putri Deokhye juga kerap mengerjainya dengan membawa mejanya keluar atau menyembunyikan bukunya. Tapi sang putri tak pernah menangis ataupun panik. Ia tetap bersikap tenang dan memperlihatkan keeleganannya sebagai seorang putri hingga membuat teman-teman sekelasnya makin benci kepadanya tapi menyadari bahwa Putri Deokhye takkan pernah merendahkan dirinya maka teman-temannya pun menyerah karena tak bisa mempermalukan sang Putri. 

Waktu berlalu. Putri Deokhye tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik namun rasa rindunya pada tanah airnya tak pernah padam. Putri Deokhye juga sangat merindukan ibunya. Setelah ia di Jepang, ia baru bertemu ibunya sekali saat Raja Sunjong wafat. Kala itu Deokhye melihat ibunya tampak tak terlalu sehat, tapi ibunya selalu meminta Deokhye tak mengkhawatirkannya dan menyatakan bahwa ia sangat sehat. Padahal saat itu Lady Yang, ibunda Putri Deokhye menderita kanker. 

Berkali-kali Putri Deokhye menyatakan keinginannya untuk pulang ke tanah air menemui ibunya tapi Jepang tak pernah memberikan ijin hingga suatu hari, Pangeran Young Chin meminta Deokhye bersiap-siap pulang ke Korea. Tentu saja Deokhye girang bukan kepalang karena akhirnya ia bisa menemui ibunya, ia sama sekali tak memperhatikan kakaknya mengenakan pakaian serba hitam. Setibanya di Korea betapa terkejut dan terpukulnya Deokhye tatkala mengetahui bahwa kepulangannya itu adalah untuk menghadiri pemakaman ibunya. Namun karena Lady Yang, ibunda Putri Deokhye adalah seorang selir yang berasal dari rakyat jelata dan menjadi dayang sebelum akhirnya menjadi selir Raja Kojong, maka Deokhye tak diizinkan mengadakan upacara peringatan bagi ibunya. Hal ini tentu saja membuat Deokhye berang tapi ia tak bisa berbuat banyak karena pihak Jepang membatasi waktu kunjungannya dan memaksanya harus kembali ke Jepang. 

Kematian Raja Sunjong yang selama ini sudah bagaikan ayah bagi Deokhye ditambah kematian ibunya sendiri membuat kejiwaan sang putri rapuh. Pangeran Young Chin membawa Deokhye berobat dan ternyata Deokhye didiagnosa menderita gejala skizophrenia, sejenis penyakit gangguan jiwa yang membuat penderitanya kerap mengalami gangguan halusinasi. 

Belum lagi sang putri pulih, tiba-tiba saja Han Chang Su, Perdana Menteri Korea yang pro Jepang dan tak disukai oleh pihak keluarga Kerajaan Joseon, menetapkan pernikahan Putri Deokhye dengan seorang bangsawan Jepang. Tentu saja pernyataan Han Chang Su ini membuat marah Pangeran Young Chin. Ia sudah merasakan hidupnya sendiri tersandera oleh pihak Jepang dan harus menjalani pernikahan politik. Ia tak ingin adiknya mengalami hal yang sama. Deokhye masih dalam keadaan duka atas kematian ibunya, kesehatan jiwanya pun masih belum pulih, bagaimana bisa membicarakan pernikahannya. Tapi Han Chang Su yang merasa memiliki kekuasaan atas otoritas yang diberikan pihak Jepang tak menanggapi keberatan Pangeran Young Chin. Menyadari posisi Kerajaan Joseon yang sudah rapuh, bahkan Han Chang Su berani bersikap kurang ajar terhadap Pangeran Young Chin. Namun keberuntungan ada di pihak Deokhye. Tunangan yang sudah siap dinikahkan dengannya tiba-tiba saja sakit dan meninggal dunia. Untuk sementara Pangeran Young Chin merasa lega. Tapi kelegaan itu tak berlangsung lama. Han Chang Su yang masih belum puas kembali datang ke kediaman Pangeran Young Chin dan mengumumkan pertunangan Putri Deokhye dengan seorang pemuda Jepang bernama Tso Takeyuki. 

Asal usul Tso Takeyuki sebenarnya cukup kelam. Ada desas-desus yang mengatakan bahwa orangtua Takeyuki adalah seorang pencuri. Saat mengetahui hal ini, Deokhye merasa sedikit tersinggung. Ia berpikir karena ia hanyalah seorang anak selir, maka jodoh yang diberikan untuknya pun bukanlah seorang anggota keluarga kerajaan. Takeyuki sudah menjadi yatim piatu sejak kecil. Takeyuki lalu diadopsi oleh Tso Sikemochi. Namun Takeyuki dijaga oleh Sadako, kakak Ratu Daisho. 

Tso Takeyuki sebenarnya tulus ingin membina rumah tangga yang bahagia bersama Deokhye. Ia memenuhi apapun keinginan Deokhye asalkan istrinya ini bahagia. Bahkan meskipun Deokhye tak bersedia mengenakan kimono dan menyediakan menu makanan Korea demi membuat Deokhye bahagia. Tapi Deokhye yang sejak awal merasa terhina dengan pernikahan politik ini tak lantas menerima uluran kasih yang ditawarkan Takeyuki ini. Ia tetap bersikap dingin dan menjaga jarak hingga membuat Takeyuki frustasi. Suatu hari Takeyuki membuat dirinya sendiri mabuk. Dalam keadaan mabuk ini, ia mencurahkan seluruh perasaan frustasinya dan niat tulusnya pada Deokhye. Setelah mendengar pernyataan tulus Takeyuki yang diucapkannya dalam keadaan mabuk ini, perasaan Deokhye pun mulai mencair. Ia bersimpati dan menerima ketulusan Takeyuki. Mereka kemudian berlibur ke tempat di mana Takeyuki pernah menghabiskan masa kecilnya. Dari sini Deokhye mulai bisa mengenal Takeyuki. Sama seperti Deokye, rupanya Takeyuki juga suka membaca dan membuat puisi. Harapan Takeyuki untuk memiliki rumah tangga yang bahagia bersama Deokhye nyaris terpenuhi. Pada tahun 1932 putri semata wayang mereka lahir. Takeyuki menamainya Tso Masae. Namun Deokhye lebih suka memanggil putrinya dengan nama Korea, Jeong Hye. 

Saat masih kecil, Jeong Hye sangat akrab dengan Deokhye, ibunya. Setiap hari Deokhye mengajari Jeong Hye bahasa dan tata krama Joseon. Ia juga kerap menceritakan pada Jeong Hye mengenai negeri asalnya. Ia mengisahkan tentang jatidirinya yang adalah putri dari Kerajaan Joseon. Ia juga menceritakan keindahan taman di Istana Chang Deok yang sangat dirindukannya. Jeong Hye yang masih sangat kecil ini pun selalu menyatakan kebanggaannya terhadap ibunya yang adalah putri Kerajaan Joseon dan karena tertarik dengan kisah-kisah ibunya mengenai Korea, Jeong Hye pun berujar, "Ah... aku juga ingin sekali pergi ke negera Ibu." 

Jeong Hye adalah segala-galanya bagi Deokhye. Namun di dalam hatinya ia selalu khawatir bila suatu hari nanti Jeong Hye akan datang padanya dan mengatakan bahwa ia benci dengan darah Korea yang diwariskannya. Dalam kegelisahannya ini, penyakit kejiwaan yang telah lama diderita Deokhye kembali muncul. Ia kerap berjalan dalam tidur. 

Kekhawatiran Deokhye menjadi kenyataan. Setelah Jeong Hye mulai masuk sekolah, ia diledek oleh teman-temannya karena memiliki darah campuran Jepang-Korea. Jeong Hye pulang sekolah sambil menangis. Saat Deokhye ingin menghiburnya, Jeong Hye malah berteriak memakinya dan menyalahkan Deokhye karena berdarah Korea. Bukan hanya itu saja, Jeong Hye tak lagi suka bila dipanggil dengan nama Jeong Hye karena nama ini adalah nama Korea. Ia lebih suka dipanggil dengan nama Masae. Tso Masae. Tapi Deokhye terus saja memanggilnya Jeong Hye sehingga Jeong Hye sangat membenci Deokhye. 

Semakin hari Jeong Hye makin menjauh dari Deokhye. Hal ini tentu saja membuat Deokhye sedih. Terlebih lagi Takeyuki malah menyalahkan Deokhye yang terus memanggil putri mereka dengan nama Jeong Hye padahal putri mereka ini tak suka dipanggil dengan nama itu. Takeyuki juga kerap jengkel dengan sikap Deokhye yang seolah masih merupakan putri Kerajaan Joseon. Deokhye bahkan pernah menampar seorang pelayan. Kini dengan krisis ekonomi yang menimpa Jepang pasca Perang Dunia Kedua, Takeyuki merasa kesulitan menghadapi Deokhye. 

Saat Jepang kalah di Perang Dunia Kedua, Jeong Hye makin membenci ibunya. Ia marah karena teman-teman sekolahnya menuduhnya yang berdarah campuran adalah mata-mata yang menyebabkan Jepang kalah. Jeong Hye menangis, ia mengatakan bahwa ia sendiri sebenarnya berdoa agar Jepang menang perang tapi yang terjadi adalah sebaliknya dan ia merasa kekalahan Jepang ini bukan disebabkan oleh dirinya. Lain halnya dengan Deokhye. Saat mendapat kabar Jepang kalah perang, Deokhye justru girang bukan kepalang. Ia berharap kekalahan Jepang di Perang Dunia ini akan membuat kemerdekaan Korea, negaranya bisa segera terwujud. Ia berharap bisa secepatnya pergi dari Jepang kembali ke negerinya. 

Kondisi kejiwaan Deokhye yang sudah lama bermasalah makin parah dengan semua keadaan ini. Ia merasa kesepian. Deokhye berharap ada yang bisa memahaminya dan orang itu seharusnya adalah Bok Sun, tapi sudah lama Bok Sun menghilang. Saat Deokhye tengah mengandung, tiba-tiba saja Han Chang Su datang dan meminta Bok Sun membantu di rumah Pangeran Young Chin karena pelayan yang biasa melayani di sana mendadak harus pergi. Awalnya Deokhye tak mengijinkan Bok Sun pergi tapi akhirnya ia harus mengalah dan membiarkan Bok Sun pergi. Namun Bok Sun ternyata bukan dikirim ke tempat Pangeran Young Chin. Rupanya Bok Sun sengaja dipisahkan oleh Han Chang Su dari Putri Deokhye. Bahkan orang yang ditugaskan menjemput Bok Sun tega memperkosanya dan setelah itu membiarkan Bok Sun menggelandang mencari pekerjaan dan tempat tinggal. 

Suatu hari Takeyuki harus pergi ke suatu tempat. Di rumah hanya ada Deokhye. Kesempatan ini digunakan Deokhye untuk membawa Jeong Hye kabur ke Korea bersamanya. Kepada pelayan, ia mengatakan ingin membuat sendiri makanan untuk putrinya. Deokhye memasukkan obat tidur ke dalam makanan yang disantap Jeong Hye dengan maksud saat Jeong Hye tertidur maka ia bisa membawa Jeong Hye ke kapal dan kabur bersamanya ke Korea. Tapi aksinya ini ketahuan oleh pelayan yang menemukan bungkus obat tidur di dapur. Hal ini segera dikabarkan ke Takeyuki. Tentu saja Takeyuki sangat marah dan saat Jeong Hye tersadar pun, ia jadi marah dan tak mau lagi berada di dekat ibunya. Bahkan ia menuduh Deokhye adalah ibu yang kejam yang sampai hati berniat membunuhnya. Deokhye amat sedih, ia menyatakan bahwa ia sama sekali tak bermaksud membunuh Jeong Hye, ia hanya ingin membuat Jeong Hye tertidur agar bisa dibawa kabur ke Korea tapi Jeong Hye makin marah dan menyatakan bahwa ia takkan pernah sudi menginjakkan kakinya ke Korea. 

Penolakan dari putrinya benar-benar membuat Deokhye tak tahan. Terlebih Takeyuki dengan kasar malah memakinya karena berniat membawa kabur putri mereka ke Korea. Hati Deokhye benar-benar terluka. Tanpa pikir panjang Deokhye meminum semua obat tidur yang masih tersisa di kamarnya. Ia berpikir apa perlunya lagi hidup? 

Takeyuki yang tiba-tiba masuk terkejut. Ia memaksa Deokhye mengeluarkan kembali obat tidur yang ada di dalam mulutnya. Takeyuki yang sebenarnya sangat ingin membangun rumah tangga yang bahagia bersama Deokhye sangat sedih dan kecewa karena rumah tangga mereka justru diterpa masalah seperti ini. 

Musim gugur 1946, Takeyuki menjual rumahnya. Kekalahan Jepang telah mengubah kondisi perekonomian semua warga Jepang. Takeyuki bahkan tak lagi sanggup menggaji pelayan. Ia juga terpaksa membuang beberapa barang di rumahnya. Tanpa pelayan, tak ada lagi yang bisa mengurus rumah tangga sementara Deokhye yang mengalami gangguan jiwa sama sekali tak bisa diharapkan untuk membantunya. Sedangkan Jeong Hye, putri mereka masih SMP. Takeyuki tak sanggup harus mengurus Deokhye sementara kondisi ekonominya pun terus menurun. Maka Takeyuki memutuskan memasukkan Deokhye ke dalam rumah sakit jiwa. Kegetiran dan kepahitan hidupnya sedikit demi sedikit mengikis nyala kehidupan dalam jiwa Deokhye. Dalam pikirannya ia masih terus teringat pada putrinya tapi sedihnya Jeong Hye tak pernah sekalipun mengunjungi ibunya. Adapun Takeyuki telah menikah dengan wanita lain. Takeyuki sempat datang mengunjungi Deokhye tapi sinar mata Deokhye tetap terlihat kosong. Saat itu Takeyuki menangis dan mengatakan pada Deokhye bahwa ia akan menceraikan Deokhye. Tapi Deokhye tetap bergeming. Pun saat Takeyuki memeluknya. Satu-satunya ekspresi darinya adalah saat Takeyuki beranjak keluar, barulah Deokhye mengeluarkan suara. Ia memanggil Jeong Hye, nama putri mereka. Jeong Hye rupanya yang selalu mengisi hati Deokhye yang sudah kosong. Tapi hingga akhir hayatnya Jeong Hye tak pernah datang menemui ibunya. 

Setelah menjenguk Deokhye, perasaan Takeyuki sendiri makin tak menentu. Ia merasa bersalah. Ia berpikir dirinyalah yang menjadi penyebab Deokhye terpisah dari Masae padahal dalam hatinya Deokhye tak pernah bisa melupakan putri semata wayangnya ini. Dan walaupun Takeyuki menikah lagi, namun dalam hatinya tak mampu menghapus nama Deokhye sehingga ia menulis sebuah puisi. Dalam puisinya itu ia menulis: Untuk Istri Koreaku. 

Jeong Hye di kemudian hari dikabarkan telah menikah. Deokhye tentu saja tak bisa menghadiri pernikahan itu. Tapi tak lama setelah kabar pernikahannya muncul berita bahwa Jeong Hye ditemukan bunuh diri di Gunung Komatake. 

Adapun Deokhye bertahun-tahun terlupakan di dalam rumah sakit jiwa hingga suatu hari seorang wartawan Korea menemuinya di sana dan memberitakan nasib tragis putri terakhir Dinasti Joseon ini. 

Suatu hari Bok Sun yang terpaksa menggunakan identitas palsu dengan nama Jepang demi bisa mendapat pekerjaan dan tempat tinggal mendengar kabar mengenai sang Putri yang dirawat di rumah sakit jiwa ini. Ia lalu melamar kerja sebagai petugas kebersihan di rumah sakit tersebut demi bisa bertemu sang Putri. Namun sang Putri yang terlalu banyak menerima kepahitan dan kegetiran dalam hidupnya sudah tak lagi mengenali Bok Sun. Sang Putri sudah kehilangan ingatan. Bok Sun yang iba melihat nasib junjungannya yang tragis ini berniat membebaskan sang Putri. Maka ia bersama kelompok gerakan kemerdekaan yang anggotanya sudah menyusut karena putus asa tak bisa memperjuangkan kemerdekaan Korea dari penjajahan Jepang, mengatur rencana untuk menculik Putri Deokhye dari rumah sakit dan membawanya kembali ke Korea. Kelompok gerakan rahasia ini diketuai oleh Park Mu Young. Sebenarnya Park Mu Young ini adalah Kim Jang Han, anak laki-laki yang dipilih Raja Kojong sebagai tunangan Putri Deokhye. Setelah Raja Kojong wafat, Kim Jang Han diganti identitasnya namun oleh pelindungnya ia tetap dipersiapkan sebagai pelindung sang Putri. Bahkan ia diperintahkan untuk "menjaga sang Putri sekuat tenaga hingga kekuatanmu benar-benar habis." (hlm. 168). 

Saat Putri Deokhye ditetapkan akan menikahi Tso Takeyuki, sebenarnya kelompok Park Mu Young sudah dipersiapkan untuk menculik sang Putri tapi sayangnya rencana mereka gagal, beberapa anggota mereka bahkan tewas ditembak penjaga yang mengawasi kediaman Takeyuki yang digunakan sebagai tempat upacara pernikahan tersebut. Meski dibayang-bayangi kegagalan itu, namun Park Mu Young tetap bertekad untuk menyelamatkan sang Putri. Dalam hati Park Mu Young, ia tak pernah melupakan sang Putri walau kondisi sang Putri sendiri memprihatinkan. Putri Deokhye tak lagi mengenali siapapun. Bahkan ia pun tak lagi mengenali Bok Sun. Namun saat sang Putri melihat Park Mu Young, ada sesuatu yang melintas dalam ingatannya. Dari tatapan sang Putri, Park Mu Young dapat melihat bahwa sang Putri mengenalinya. Ia mengenali Mu Young, si anak laki-laki yang pernah ditetapkan Raja Kojong sebagai tunangannya. Kim Jang Han. 

**** 

Gaya bertutur dalam novel ini cukup menarik. Di bagian-bagian awal mungkin agak sedikit membingungkan tapi cukup menjelaskan kondisi Korea yang semula berada dalam kekuasaan Rusia tapi lewat sebuah perjanjian politik, Rusia kemudian menyerahkan Kerajaan Korea kepada Kekaisaran Jepang. Beberapa fakta sejarah disisipkan dalam beberapa kejadian fiktif rekaan penulisnya dengan kekuatan kata-kata bernada puitik menurutku menjadi kekuatan dalam novel ini. Hal menarik lainnya dalam novel ini, menurutku, adalah dialog-dialog khas penulis Korea yang memang pandai menciptakan kalimat bernada puitis yang mampu menguras emosi dan air mata pembacanya, menangisi nasib tragis sang Putri. Ada beberapa dialog yang sangat berkesan bagiku. Salah satunya adalah kalimat yang diucapkan oleh Deokhye saat hatinya gelisah memikirkan apa yang akan terjadi saat Jeong Hye, putrinya sudah cukup besar nanti dan mungkin takkan menyukai jatidirinya yang separuh Jepang dan separuh Korea. 

"Meskipun terhempas angin, aku harus dapat bangkit kembali." (hlm. 270). 

Dialog lainnya yang juga kusuka adalah dialog dalam halaman 175. Dialog ini diucapan oleh Pangeran Young Chin. Saat itu Pangeran Young Chin memberitahu Deokhye mengenai keputusan yang sudah ditetapkan bagi Deokhye untuk menikah dengan seorang pria Jepang. Saat itu Deokhye sangat marah dan tak menerimanya. Ia tak mau mengalami "pernikahan politik" seperti yang dialami oleh kakaknya ini. Namun Pangeran Young Chin yang tak memiliki kuasa hanya bisa menghibur adiknya. Ia berkata, "Sedalam-dalamnya air, pasti akan ada jalan untuk kembali. Sesuatu yang hancur pun, pasti ada caranya juga untuk memperbaikinya kembali." 

Salah satu kalimat yang juga menarik bagiku adalah kenangan Takeyuki mengenai tulisan ayahnya yang ditinggalkan oleh ibunya. 

"Kalau memulai sesuatu dengan kejujuran pasti akan menemukan jalan yang baik. Namun, kalau tidak memulai dengan berlaku jujur, kau tidak akan pernah pergi ke mana pun." (hlm. 237).

Jumat, 06 Juni 2014

Review Novel : Love Story - Erich Segal

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 
Cetakan : Kedua belas, Juni 2012 
Tebal : 216 halaman 
ISBN : 978-979-22-8372-3 

Novel klasik karya Erich Segal ini sudah lama sekali memikatku. Pertama kali mendengar soal novel ini saat aku masih di bangku sekolah tapi walau sudah seringkali keluar masuk berbagai perpustakaan (karena dulu uang jajanku tak pernah cukup untuk membeli novel:D) tapi aku tak pernah berhasil mendapatkan novel ini. Aku jatuh cinta pada cerita klasik karya Erich Segal ini saat menonton film klasik berjudul sama dengan novel ini: Love Story. Film tersebut diperankan oleh Ryan O'Neal sebagai Oliver Baret IV. Entah apa yang membuatku terpaku pada kisah ini. Mungkin karena kalimat pembukanya yang amat menarik buatku. Atau mungkin juga karena kisah ini berakhir tragis sehingga membuat sel-sel kelabu-ku sulit menghapusnya dari kotak memoriku. 

Novel Love Story ini berkisah tentang cinta dua orang muda, Oliver Barrett IV dan Jennifer Cavilleri yang bertemu pertama kali di sebuah perpustakaan kampus. Meski latar belakang keduanya begitu berbeda tapi perasaan cinta mereka nyatanya mampu menghapus seluruh perbedaan itu. Melawan segala rintangan, mereka berhasil mengikat cinta mereka dalam sebuah pernikahan. Namun di saat semua rintangan sosial yang membelenggu jalinan cinta mereka selama ini telah berhasil mereka singkirkan, justru mereka harus menghadapi satu rintangan terbesar dan tersulit. 

Novel ini (seperti juga filmnya) diawali oleh kalimat yang walau mengandung pemberitahuan bahwa kisah ini berakhir tragis, tapi dirangkai dengan manisnya sehingga meski tragis tapi mengesankan keindahan dari kisah cinta itu sendiri. 

Apa yang dapat kita ceritakan mengenai gadis dua puluh lima tahun yang telah tiada? Bahwa ia cantik. Dan cemerlang. Bahwa ia mencintai Mozart dan Bach. Dan Beatles. Dan aku. 

Begitulah kutipan kalimat pembuka dari kisah cinta klasik ini. Adalah Oliver Barrett IV yang meski telah dua puluh lima tahun lamanya ditinggal mati istrinya, Jennifer Cavilleri mengenang kembali kisah cintanya. 

Oliver Barrett IV seorang mahasiswa hukum Harvard dari kalangan sosial kelas atas. Ayah Oliver yaitu Oliver Barrett III adalah seorang bankir terkemuka. Garis keturunan keluarga Barrett sebagai tokoh kelas ternyata membuat Oliver merasa terbebani. Ia merasa tertekan dalam bayang-bayang keluarga Barrett. Apapun prestasi yang ditorehkannya tak pernah bisa terasa istimewa karena ayahnya, Oliver Barrett III nyatanya memiliki prestasi yang amat gemilang. Selain prestasi akademik, Oliver Barrett III di masa mudanya merupakan atlet Olimpiade yang telah mengoleksi banyak penghargaan. Untuk itulah Oliver Barrett IV yang walaupun sangat cemerlang di lapangan hoki es namun ia tetap tak bisa berbangga diri menghadapi ayahnya yang pernah menjadi atlet olimpiade saat kuliah. Begitu pun dengan prestasi akademik. Betapapun Oliver berupaya keras tetap saja nama belakangnyalah yang akan lebih menarik bagi publik dibanding prestasi dan kerja kerasnya. 

Awal pertemuan Oliver Barrett IV dengan Jennifer Cavilleri terjadi di perpustakaan Radcliffe. Meskipun Oliver merupakan mahasiswa Harvard dan perpustakaan Harvard sebenarnya jauh lebih lengkap dan bagus daripada milik Radcliffe tapi Oliver lebih suka meminjam buku dari perpustakaan milik universitas yang lebih banyak berisi kaum hawa ini. Alasannya karena di Radcliffe tak ada yang mengenalnya sehingga ia merasa lebih nyaman. Tambahan pula, menurutnya ia lebih mudah mendapatkan referensi yang diinginkannya dari perpustakaan Radcliffe. Dan di sanalah Oliver bertemu Jenny. Saat itu Oliver berniat meminjam buku yang akan menjadi referensi untuk ujian mata kuliah sejarah dan Jenny adalah salah satu gadis yang bertugas di meja untuk bagian referensi yang dibutuhkan Oliver. Pada pertemuan pertama itu, Oliver menangkap kesan Jenny adalah sosok yang pendiam dan berkacamata tapi tak dinyana ternyata Jenny ceriwis dan sangat cerdas. Selain itu saat Jenny keluar dari mejanya, Oliver melihat Jenny memiliki sepasang kaki yang indah. Meski awalnya Oliver tak terlalu menyukai Jenny yang dari ucapannya terkesan sebagai tipe wanita yang superior yang karena perbandingan antara mahasiswa Harvard dengan mahasiswi Radcliffe adalah lima banding satu maka ia menganggap mahasiswi jauh lebih cerdas dibanding para mahasiswa, tapi seiring waktu Oliver justru mendapati dirinya jatuh cinta pada Jennifer Cavilleri yang cerdas dan sangat percaya diri ini. 

Suatu hari Oliver mendapati Jenny tengah menelpon seseorang. Walau ia tak bermaksud menguning, tapi ia penasaran siapa sebenarnya yang tengah berbicara dengan Jenny di telepon. Kewaspadaannya makin tinggi saat ia mendengar Jenny mengatakan, "Aku juga menyayangimu, Phill" di telepon. Hati Oliver langsung kacau balau. Rasa penasarannya makin meningkat. Ia merasa panas hati. Siapa sebenarnya pria bernama Phill yang tengah berbicara dengan Jenny di telepon tersebut. Ia dibakar api cemburu. Seingatnya tak ada makhluk pria di Radcliffe yang bernama Phill. Saat Jenny selesai menelpon, Oliver yang sudah tak sabar langsung bertanya pada Jenny siapa pria bernama Phil yang menelponnya itu. Jenny dengan ringan menjawab bahwa Phil adalah ayahnya. Tentu saja Oliver tak langsung percaya. 

"Kau panggil ayahmu Phil?" demikian Oliver mencecar Jenny, tak percaya dengan penjelasan Jenny. 

"Memang itu namanya. Ayahmu kau panggil apa?" 

Jawaban sekaligus pertanyaan Jenny itu tak bisa dibalas Oliver. Ia memang pernah mendengar dari Jenny bahwa hubungannya dengan ayahnya memang sangat dekat. Sejak ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil saat Jenny masih sangat kecil, hubungan Jenny dengan ayahnya makin dekat. Tapi ia sama sekali tak menyangka bahwa Jenny sampai memanggil ayahnya sendiri dengan namanya. 

Bila hubungan Jenny dengan ayahnya begitu akrab, berbeda dengan Oliver. Hubungan antara Oliver dengan ayahnya bisa dibilang sangat dingin. Ia bahkan menjuluki ayahnya, si Muka Batu. Perbincangan di antara mereka pun sangat kaku sehingga Oliver tak pernah menikmati pertemuan dengan orangtuanya. Tapi ia tak bisa selamanya menghindar dari orangtuanya karena pada akhirnya ia harus memperkenalkan Jenny dengan orangtuanya. 

Saat hubungan mereka sudah sangat dekat, Jenny mengatakan pada Oliver bahwa ia mendapat beasiswa ke Paris dan ia berniat melanjutkan kuliah musiknya ke Paris. Oliver yang sudah sangat mencintai Jenny tentu tak rela harus kehilangan wanita yang dicintainya. Ia pun langsung melamar Jenny dan membawa Jenny membawa Jenny menemui orangtuanya. 

Pertemuan Jenny dengan orangtua Oliver bisa dibilang berlangsung lancar walau tak terlalu menyenangkan. Kondisi tak menyenangkan ini sebagian besar dipicu oleh Oliver sendiri yang tanpa malu-malu memperlihatkan sikap pemberontakannya pada ayahnya sendiri sehingga Jenny melihat sikap Oliver ini kekanak-kanakan. Bahkan Jenny sampai menarik kesimpulan kegigihan Oliver terhadap hubungan cinta mereka mungkin disebabkan oleh semangat pemberontakan Oliver yang kekanak-kanakan itu yang suka sekali melakukan hal-hal yang ditentang oleh nilai-nilai dari keluarganya yang sangat bermartabat itu. Tapi tentu saja Oliver membantah pendapat Jenny tersebut. Walau ia mengakui bahwa sikap permusuhannya dengan ayahnya yang diperlihatkannya secara gamblang itu memang kekanak-kanakan, namun rasa cintanya pada Jenny adalah murni dan sama sekali bukan semata-mata bentuk pemberontakannya pada orangtuanya. 

Sementara itu, walau orangtua Oliver menyukai Jenny namun mereka tak setuju bila Oliver menikahi Jenny. Namun Oliver yang pemberontak tak ingin mengindahkan keberatan orangtuanya. Ia tetap menikahi Jenny walau akibatnya ia harus kehilangan dukungan finansial dari ayahnya. Sebagai akibatnya ia bukan hanya harus membiayai hidupnya bersama Jenny tapi ia juga terpaksa mengemis meminta jatah beasiswa untuk dirinya demi bisa meneruskan kuliahnya di fakultas hukum. 

Pertengkaran pertama dalam kehidupan rumah tangga Oliver dengan Jenny terjadi saat mereka mendapat undangan makan malam untuk merayakan ulang tahun Oliver Barrett III yang ke-60. Oliver tentu saja tak berminat datang, namun Jenny yang menganggap sikap Oliver ini sangat kekanak-kanakan merasa sudah waktunya permusuhan tak mendasar Oliver terhadap ayahnya ini harus diakhiri. Terlebih kedua orangtua Oliver sudah secara khusus mengirimkan undangan tersebut untuk mereka yang menandakan orangtua Oliver sudah sangat berbesar jiwa dan benar-benar ingin memulihkan hubungan mereka dengan Oliver. Tapi Oliver yang keras kepala tak rela menyerah secara mudah begitu saja sehingga membuat Jenny gemas bukan main. Ia sama sekali tak mengerti dengan sikap Oliver yang begitu dingin terhadap ayahnya sendiri. 

"Ollie, coba pikir," Jenny berkata, kini dengan nada memohon. "Umurnya sudah enam puluh tahun. Tak seorang pun bisa memastikan dia masih ada pada waktu kau akhirnya bersedia rujuk." 

Namun meski Jenny sudah memohon seperti ini, Oliver tetap bergeming dengan kedegilan hatinya sehingga Jenny dengan jengkel mencoba menelpon orangtua Oliver untuk mengabarkan bahwa mereka tidak bisa menghadiri undangan makan malam tersebut. Telepon Jenny dijawan langsung oleh ayah Oliver. Demi mendengar suara ayah mertuanya, Jenny tak sampai hati dan dengan mata basah oleh air mata, Jenny memohon agar Oliver mau mengesampingkan pertikaiannya yang kekanak-kanakkannya itu dan mau berbicara dengan ayahnya sendiri yang menurut Jenny sudah amat merindukan putranya yang tanpa alasan jelas membangkang darinya. Tapi tindakan Jenny ini justru memicu amarah Oliver. Ia langsung merebut pesawat telepon dari tangan Jenny dan melemparnya ke sudut ruangan. Tapi yang paling fatal adalah makian yang disemburkan Oliver pada Jenny. 

"Persetan, Jenny! Kenapa kau tak menyingkir saja dari hidupku!" 

Emosi sesaat Oliver ini amat disesalinya karena dalam sekejap, saat kewarasan menguasai pikirannya kembali, Jenny sudah pergi. Oliver mencoba mencari Jenny, ia berlari ke Radcliffe, menyusuri ruang-ruang latihan piano, kantin, hingga ke stasiun bis, kalau-kalau dalam keadaan emosi, Jenny memutuskan pergi ke rumah ayahnya. Tapi semuanya nihil. Ia tak bisa menemukan Jenny di manapun. Ia bahkan mencoba menelpon Phil, ayah mertuanya, kalau-kalau Jenny ada di sana atau mungkin Jenny menelpon ayahnya setelah pertengkaran mereka, tapi ternyata ayah mertuanya yang terbangun di tengah malam oleh suara telepon dari Oliver ini malah mengeluh karena Jenny sudah lama tak pernah menelponnya. 

Setelah tak berhasil menemukan Jenny di manapun, dengan gontai Oliver kembali ke apartemen sederhana yang disewanya bersama Jenny. Saat hampir sampai di depan apartemennya, ia melihat sosok seorang wanita duduk di anak tangga paling atas. Ia segera mengenali sosok itu adalah Jenny. Kelegaan segera membuncah di dalam hatinya. Rasa penyesalan, keletihan dan kelegaan itu berbaur jadi satu. Di pihak lain, emosi Jenny pun rupanya telah larut. Dengan nada naif dan lucu, Jenny malah mengeluh ia lupa membawa kunci sehingga ia harus duduk diam di tangga apartemen mereka entah untuk berapa lama di tengah malam yang dingin itu. Oliver yang masih diliputi rasa penyesalan mengucapkan permohonan maafnya tapi Jenny segera memotong permintaan maaf Oliver. 

"Cinta berarti tak perlu meminta maaf," kata Jenny. 

Tak terasa Oliver akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah hukumnya dan berada di peringkat ketiga. Hasil ini menjadikannya rebutan di berbagai biro hukum. Masa depan yang indah pun terbentang di depan Oliver dan Jenny. Dari berbagai tawaran yang datang padanya, Oliver memilih Biro Hukum Jonas & Marsh yang berada di New York. Dengan gaji senilai 11.800 dolar, gaji tertinggi di antara rekan-rekan seangkatan Oliver membuat pasangan Barrett ini keluar dari masa-masa sulit dari kekurangan finansial yang diderita pasangan ini. Mereka kini bisa tinggal di apartemen besar dan mewah. Oliver juga membeli sebuah mobil yang angsurannya bahkan hampir sama dengan uang sewa apartemen sederhana mereka di Cambridge. Jenny sempat meledek suaminya yang bertingkah seperti orang kaya baru tapi Oliver sama sekali tak peduli. Ia begitu bahagia karena akhirnya bisa menghasilkan uang dari hasil keringatnya sendiri tanpa bantuan ayahnya. 

Tapi kebahagiaan mereka nyatanya tak berlangsung lama. Setelah bertahun-tahun menikah dan kini saat kehidupan finansial mereka sudah cukup kuat, mereka pun mulai mendambakan seorang anak. Tapi nyatanya mereka tak jua dikaruniai seorang anak pun. Akhirnya mereka pun memeriksakan diri ke dokter. Saat pemeriksaan inilah diketahui ada masalah dengan Jenny. Kepada Oliver, dokter yang memeriksa Jenny mengatakan bahwa Jenny menderita leukimia dan umurnya tidak akan lama lagi. Oliver tentu saja merasa terpukul dengan berita ini. Meski dokter memintanya untuk bersikap senormal mungkin agar Jenny tak curiga namun tentu saja Jenny yang sudah sangat mengenal Oliver mengetahui bahwa Oliver menyembunyikan sesuatu darinya. 

Saat Oliver akhirnya tak bisa lagi menyembunyikan soal penyakit Jenny, berbeda dengan Oliver, justru Jenny malah terlihat tegar. Ia malah lebih mengkhawatirkan ayahnya yang pasti akan terpukul. Meski tahu bahwa Oliver pun pasti akan hancur dan sedih saat ia meninggal nanti tapi Jenny meminta Oliver tetap riang gembira. 

Saat yang ditakutkan mereka itu pun tiba. Leukimia yang diderita Jenny bertambah parah sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit. Oliver meminta perawatan yang terbaik untuk Jenny berapapun biaya yang harus dikeluarkan, ia sama sekali tak peduli. Meski demi itu Oliver harus merendahkan diri dan meminjam lima juta rupiah dari ayahnya sekalipun, Oliver sama sekali tak keberatan. Tapi seberapapun kerasnya ia berusaha, ia tetap tak bisa melawan kehendak Ilahi. 

Walau Jenny terenggut darinya tapi Oliver belajar satu hal yang sangat penting dalam hidupnya. Cara untuk mencintai. Pada akhirnya hubungannya dengan ayahnya pun berkembang ke arah yang baik. Ia sama sekali tak menyangka di hari kematian Jenny, ayahnya, si Muka Batu, datang menemuinya. Saat itu ayahnya tak tahu kalau Jenny sudah meninggal. Ia hanya mendengar Jenny sakit keras dan karenanya langsung ke rumah sakit. Ayah Oliver menyesali sikap Oliver yang tak memberitahunya soal penyakit Jenny. 

Seperti kalimat pembukanya yang begitu getir sekaligus manis, kalimat-kalimat akhir dalam novel ini pun diakhiri secara manis sekaligus getir. 

"Oliver," ayahku berkata dengan nada mendesak, "aku ingin membantu." 

"Jenny meninggal," aku memberitahunya. 

"Maafkan aku," ia berbisik seperti seseorang yang kehabisan kata-kata. 

Saat itu, Oliver menjawab ayahnya dengan kalimat yang sama seperti yang pernah diucapkan oleh Jenny, wanita yang dicintainya. 

"Cinta berarti tak perlu meminta maaf." 

Dan kemudian aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan di depan ayahku, apalagi di dalam pelukannya. Aku menangis.