Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 12 Desember 2015

Review Novel : Di Bawah Bendera Merah

Penulis : Mo Yan 
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta 
Tebal : xvi + 144 halaman 
ISBN : 978-979-024-410-8 

Buku ini bisa dibilang merupakan otobiografi atau semacam memoir dari secuil bagian kisah hidup Mo Yan, peraih Nobel Sastra 2012 yang disusun seperti novel. Dalam buku ini Mo Yan mengisahkan tentang masa-masa sekolahnya hingga ia menjadi penulis. Nama asli Mo Yan adalah Guan Moye. Saat Mo Yan masih kecil, orangtuanya melarangnya membicarakan isi pikirannya bila berada di luar karena kondisi revolusi politik di China, itulah sebabnya, ia kemudian memilih nama Mo Yan sebagai nama pena. Nama Mo Yan memiliki makna “Jangan Bicara”. 

Lahir dari keluarga miskin di Kabupaten Gaomi Timur, di mana tempat ini menjadi latar belakang dari karya-karyanya termasuk karyanya yang paling terkenal, Sorgum Merah yang diterbitkan pada tahun 1987, karya inilah yang mengantarkannya meraih Nobel Sastra 2012. Mo Yan terpaksa drop out dari sekolah hanya karena gurunya menuduhnya telah mengolok-oloknya. Namun sebagai anak yang haus belajar, Mo Yan tetap menyelinap ke sekolah walau berkali-kali ia diseret keluar dari sekolah. Tak lulus sekolah, Mo Yan masuk ke militer, demi mengangkat derajat hidup keluarganya; dari sinilah garis hidup Mo Yan mulai berubah. Lewat jalur inilah, ia akhirnya bisa melanjutkan sekolahnya hingga akhirnya ia memulai karirnya sebagai penulis. 

Ada tiga tokoh yang memiliki benang merah selain Mo Yan sendiri dalam buku ini. He Zhiwu, Lu Wenli, keduanya adalah teman sekelas Mo Yan dan Guru Liu, yang mendapat julukan Liu Kodok karena bentuk fisik mulutnya yang lebar. Guru Liu menuduh Mo Yan sebagai biang kerok yang telah memberinya julukan ini murka dan memaksa Mo Yan keluar dari sekolah. Mo Yan sendiri bermulut besar sama seperti Guru Liu, oleh karenanya ia merasa senasib dan menganggap tuduhan gurunya ini tidak benar. Namun gurunya tidak percaya dan tetap mengeluarkan Mo Yan dari sekolah. Di kemudian hari Mo Yan menulis cerita berjudul “Mulut Besar” yang didasari oleh kisah nyata hidupnya. Mo Yan tetap mengendap-endap, mencari celah untuk masuk sekolah meskipun berkali-kali ia dipaksa keluar oleh anak-anak yang lebih besar yang ditempatkan di pintu sekolah oleh Guru Liu untuk melemparkan Mo Yan bila muncul ke sekolah. 

Di kelas Mo Yan ada anak lain yang juga drop out dari sekolah bernama He Zhiwu, namun kasus dan sikap mereka berbeda sekali. Suatu hari guru bahasa mereka menyuruh mereka menulis karangan dengan topik “Impianku”. Mo Yan waktu itu masih bersekolah. Profesi idaman anak-anak lelaki di sana saat itu adalah menjadi supir truk. Truk yang paling memikat mereka adalah Gaz 51 yang sangat cepat. Kelebihan lain Gaz 51 yang mempesona mereka adalah karena truk buatan Soviet ini merupakan salah satu truk yang pernah digunakan Soviet untuk bertempur di Perang Dunia II bahkan truk yang dikemudikan oleh ayah Lu Wenli, teman sekelas mereka ini memiliki beberapa lubang bekas terkena peluru. 

Nah, sudah tentu saat diminta menulis karangan mengenai impian mereka, seluruh anak laki-laki di kelas menulis impian mereka adalah menjadi supir truk. Tapi ada salah satu anak yang menulis dengan gaya berbeda. Alih-alih menulis impiannya menjadi supir truk seperti teman-temannya, anak ini menulis: “Aku tidak punya impian lain- aku hanya punya sebuah impian-impianku adalah menjadi ayah Lu Wenli.” Tentu saja saat guru mereka membacakan karangan ini seisi kelas langsung dipenuhi gelak tawa. Lu Wenli, teman sebangku Mo Yan yang namanya disebut-sebut tentu saja merasa malu. Gadis malang ini pun hanya bisa menangis karena malu. Si penulis bernama He Zhiwu, siswa yang bisa dibilang agak angkuh dan memiliki kepercayaan diri tinggi. Guru mereka mendesak Zhiwu mengatakan alasan dan maksudnya menulis seperti itu, alih-alih menjawab, Zhiwu malah melakukan tindakan seolah menantang, hingga gurunya berang dan memaksanya bergulir keluar kelas. Bergulir yang dimaksud adalah ia menggulung tubuhnya, menekuk lututnya ke dada, seperti bola dan kemudian bergulir ke luar kelas. Gurunya sebenarnya hanya menyuruh Zhiwu ke luar kelas, namun anak ini malah keluar sekolah dengan aksi penuh gaya. 

Mo Yan sempat bertemu dengan kembaran Gaz 51 yang dikemudikan ayah Lu Wenli di resimennya saat ia masuk militer. Saat di militer inilah garis hidup Mo Yan mulai berubah. Saat di militer ia mengikuti ujian masuk Jurusan Sastra di Institut Seni Tentara Pembebasan Rakyat dan diterima. Meski ia drop out dari sekolah, namun ia berhasil masuk kuliah di Universitas Beijing. Ia kemudian mulai menulis cerpen. Cerpen pertamanya berjudul “Ibu” selain itu ia juga menulis naskah drama enam babak berjudul Perceraian. Setelah berkali-kali naskahnya ditolak, akhirnya ” Malam Musim Semi Berhujan" menjadi cerpen pertamanya yang diterbitkan di majalah. Setelah itu cerpen berikutnya, “Prajurit Jelek” kembali diterbitkan. Tahun 1984 novel pendek pertamanya yang diberi judul Lobak yang Tembus Pandang diterbitkan. Namanya makin dikenal lewat karya fenomenalnya, Sorgum Merah yang belakangan difilimnkan dengan sutradara Zhang Yimou dan dibintangi Gong Li. 

Saat pembuatan film Sorgum Merah di kampong halamannya, Gaomi Timur, Mo Yan melihat sebuah truk yang digunakan oleh kru film tersebut mirip sekali dengan Gaz 51 yang pernah dikendarai oleh ayah Lu Wenli. Dari berita yang pernah didengar Mo, truk tersebut telah dibeli He Zhiwu. Tapi setahunya Zhiwu telah pergi ke Mongolia dan ia mengira truk itu dibawa Zhiwu ke Mongolia. Belakangan Zhiwu yang sudah menjadi pengusaha sukses menceritakan pada Mo bahwa truk itu memang telah dibelinya. Jadi bisa dibilang di antara mereka hanya Zhiwu-lah yang benar-benar mewujudkan impian seperti yang mereka tulis di karangan mereka. Zhiwu membeli truk tersebut dengan harapan bisa menikah Lu Wenli. Namun Wenli kala itu sudah bertunanan dengan Wang Jianjun, anak Wakil Sekretaris Partai. Zhiwu tahu bahwa Jianjun, yang akan dinikahi Wenli adalah playboy busuk yang suka mabuk dan melakukan kekerasan, karenanya meski tahu Wenli telah bertunangan, ia tetap melamar Wenli, tapi Wenli menolaknya dan lebih memilih menikah dengan Jianjun. Patah hati ditolak Wenli, Zhiwu pergi ke Mongolia. Gas 51 yang telah dibelinya dari ayah Wenli dititipkan di rumah ayahnya yang sempit, belakangan truk itupun dijual Zhiwu ke kru film. Di Mongolia inilah Zhiwu mendapatkan kekayaannya. Ia kemudian menikah dengan seorang wanita keturunan asing dan dikaruniai tiga orang anak. 

Suatu hari Wenli mendatangi Zhiwu. Suaminya meninggal dalam suatu kecelakaan. Wenli mempertanyakan perasaan Zhiwu padanya dan apakah tawaran pernikahan yang diajukannya dulu masih berlaku. Meski Zhiwu mencintai Wenli namun rupanya ia masih belum lupa penolakan Wenli dulu, terlebih sekarang ia telah menikah. Dengan sedikit “kejam” dia menegaskan pada Wenli bahwa ia bisa saja menikahi Wenli tapi tidak sebagai istri sah melainkan hanya sebagai simpanannya. Wenli yang sebenarnya memiliki sifat serupa dengan Zhiwu, sedikit angkuh dan memiliki harga diri tinggi tentu saja menolak tawaran Zhiwu. Belakangan muncul kabar Wenli menikah dengan Guru Liu, guru mereka dulu yang pernah mengusir Mo Yan keluar dari sekolah. Saat mendengar kabar ini, Zhiwu kembali patah hati, dengan membawa dua bungkus rokok dan dua botol minuman keras ia pergi ke tanah kosong tempat dimana ia mengutarakan kekagumannya akan Wenli kepada ayahnya untuk menyepi dan mengusir kesedihan dan penyesalannya. 

Ketika Mo Yan diminta menjadi juri suatu acara pencarian bintang berbakat, ia bertemu dengan Wenli, teman sebangkunya saat sekolah dulu. Wenli yang sebenarnya meminta bertemu dengan Mo Yan. Dalam kesempatan itu Mo menanyakan kabar Guru Liu yang sudah menikah dengan Wenli. Namun Guru Liu ternyata sudah meninggal dunia. Setelah berbasa-basi, akhirnya Wenli mengutarakan tujuannya bertemu Mo. Ia meminta bantuan Mo untuk meloloskan putrinya dengan Guru Liu yang ikut dalam acara pencarian bintang berbakat di mana Mo Yan menjadi salah satu jurinya. Wenli sebenarnya seorang yang memiliki harga diri tinggi, namun demi putrinya ia rela merendahkan dirinya melakukan tindakan kotor seperti itu. Mo sendiri menyadari hal ini. Namun samar-samar saat melihat foto putrid Wenli yang disodorkan kepadanya, ia ingat anak ini merupakan salah satu bintang yang mendapat pujian dari juri lainnya. Namun untuk lebih meyakinkan Wenli, ia mengirimkan SMS kepada Kepala Lu, penyelenggara acara tersebut dan memperlihatkan kepada Wenli SMS balasan dari Kepala Lu. Ternyata Liu Huanhuan, anak Wenli dan Guru Liu merupakan salah satu yang paling berbakat di acara tersebut. Air mata Wenli pun mengalir saat membaca SMS tersebut. Ia merasa terharu. Hidupnya selama ini terasa terjal dan berat tapi ternyata masih terdapat buah manis di balik kesulitan hidup yang dijalaninya. 

Catatanku: Membaca buku ini aku merasa Mo Yan memang piawai dalam bercerita. Terlebih dalam merangkai benang merah di antara para tokohnya. Meski buku ini merupakan kisah hidupnya, tapi pastinya sulit mengurai benang-benang kenangannya yang begitu berwarna untuk diungkapkan dalam sebuah buku. Dalam buku ini kita disuguhkan beragam ironi seolah menegaskan nasib orang takkan pernah bisa diterka. Mo Yan yang harus drop out sekolah, namun ternyata ia bisa meraih kesuksesan sebagai penulis dan bahkan mendapatkan Nobel Sastra. Lewat Zhiwu, kita juga diperlihatkan sosok seorang yang tak kenal menyerah. Sama seperti Mo Yan, ia juga drop out dari sekolah, namun berkat kenekatan dan kemampuan berpikirnya, ia berhasil menjadi pengusaha kaya raya, tapi ia gagal mendapatkan cinta yang didambakannya sejak sekolah karena keliru menganalisa hatinya sendiri. Dan melalui Lu Wenli, kita seperti disuguhi kisah drama yang dramatis. Saat sekolah, ia menjadi gadis paling cantik, profesi ayahnya menjadi pujaan teman-teman sekelasnya, namun hidupnya demikian berat. Namun di ujung kisah ia akhirnya ada pula hal manis dari hidupnya yang sulit itu. Seolah mengingatkan pada kita untuk tak pernah berhenti berharap. Toh hidup bukan hanya sehari. Dan hidup tak melulu berisi karang terjal. 

Sabtu, 05 Desember 2015

Resensi Novel : Sorgum Merah

Resensi Novel : Sorgum Merah

Penulis : Mo Yan
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Tebal : 548 halaman
ISBN : 978-602-290-006-1

Novel ini berkisah mengenai kehidupan sebuah keluarga dalam tiga generasi. Melalui tokoh "aku" yang hingga akhir tak terkuak identitas lengkapnya, mengalirlah kisah perjalanan hidup kakek dan ayahnya di jaman perang dengan bumbu kehidupan asmara mereka.

Sang ayah yang bernama Douguan masih berumur lima belas tahun saat mengikuti Komandan Yu Zhan'ao, ayah angkatnya yang belakangan terungkap bahwa ia adalah ayah kandungnya, berperang gerilya melawan penjajahan Jepang di Gaomi Timur.

Komandan Yu di masa-masa sebelum perang bisa dibilang merupakan bajingan kelas wahid. Ayahnya meninggal saat masih kecil. Sepeninggal ayahnya, ibunya memiliki hubungan dengan seorang pendeta Buddha. Ia tak menyukai pendeta Buddha tersebut. Suatu malam ia membunuh kekasih ibunya tersebut. Saat mengetahui kekasihnya tewas, ibu Yu Zhan'ao bunuh diri sehingga Yu menjadi yatim piatu. Ia pergi meninggalkan kampungnya dan bekerja serabutan menjadi tukang angkut peti mati dan tandu pengantin.

Saat menjadi tukang angkut tandu pengantin inilah ia bertemu dengan Dai Fenglian, gadis cantik yang akan dinikahkan dengan Shan Bianlang, anak keluarga kaya pengusaha arak yang menderita lepra. Tanpa sengaja Zhan'ao memegang kaki mungil Fenglian yang diikat, sebuah tradisi "kejam" di masa lalu yang mengharuskan anak perempuan diikat kakinya agar kakinya mungil dan cantik. Kejadian tak sengaja ini ternyata menerbitkan perasaan saling menyukai di antara keduanya.

Demi membebaskan wanita yang dicintainya dari tragedi hidup bersama penderita kusta, Zhan'ao membunuh Shan Bianlang dan ayahnya, Shan Tingxiu. Saat itu Fenglian tengah berada di rumah orangtuanya. Namun tetap saja ia menjadi tersangka utama atas kematian suami dan mertuanya. Dalam pengadilan yang kacau balau, akhirnya Fenglian lolos dari jerat hukum, kecurigaan dialihkan ke Leher Berbintik, ketua bandit yang sangat ditakuti. Di kemudian hari Zhan'ao membunuh Leher Berbintik.

Kematian suami dan mertuanya membuat Fenglian kini menjadi pemilik penyulingan arak keluarga Shan. Dalam menjalankan usaha ini ia dibantu Paman Arhat yang sudah lama bekerja untuk keluarga Shan. Saat tentara Jepang datang ke Gaomi Timur Laut, Paman Arhat yang setia ini tewas dikuliti tentara Jepang.

Hubungan Fenglian dan Zhan'ao mengalami kerikil saat Zhan'ao selingkuh dengan Gairah, gadis pelayan Fenglian. Zhan'ao memilih pergi dan tinggal bersama Gairah di desa tetangga yang bernama Celah Air Garam. Fenglian pun membalas perbuatan Zhan'ao. Ia menjalin hubungan dengan Mata Hitam, pemimpin genk, Kelompok Besi. Mendengar hal ini, Zhan'ao pergi menemui Mata Hitam dan bertarung, hasilnya keduanya seimbang. Fenglian yang terharu memilih kembali bersama Zhan'ao namun menolak tinggal satu atap dengan Gairah, madunya.

Kedamaian di Gaomi Timur Laut terusik saat tentara Jepang datang. Sebelumnya, tentara Jepang terlebih dahulu membantai penduduk di Celah Air Garam. Dalam pembantaian ini, Gairah yang tengah mengandung bersama putrinya menjadi korban kekejaman tentara Jepang. Zhan'ao saat itu tengah berada di rumah Fenglian.

Zhan'ao kemudian membentuk pasukan gerilya-nya melawan Jepang. Douguan, putranya dengan Fenglian yang masih belia turut mendampingi ayahnya berperang gerilya. Dalam sebuah pertempuran yang sangat heroik, pasukan Zhan'ao semuanya tewas. Hanya ia dan Douguan yang selamat. Dalam pertempuran itu, Fenglian turut tewas saat tengah mengantarkan makanan untuk pasukan Zhan'ao. Kematian Fenglian ini menimbulkan kesedihan mendalam bagi Zhan'ao. Hubungannya dengan Fenglian yang belakangan dihiasi perselisihan akibat perselingkuhan keduanya seolah sirna. Menatap jazad Fenglian dengan senyum tersungging di wajahnya yang cantik dan muda membuat Zhan'ao tersadar, Fenglian adalah cinta sejatinya.

Perang makin keras. Zhan'ao bukan hanya berperang dengan Jepang, tapi belakangan ia juga terlibat perang dengan pasukan lainnya. Dalam masa sulit ini ada kisah di mana Douguan dan pasukan kecilnya harus bertempur melawan kumpulan anjing yang memakan bangkai nyawa manusia yang tewas dalam pertempuran. Saat itu Zhan'ao tengah sakit keras. Nyawa Douguan sendiri nyaris berakhir saat bertempur dengan salah satu anjing terpintar dalam kumpulan itu.

Dalam masa-masa perang ini Douguan menemukan wanita yang nantinya akan menjadi jodohnya. Namun perang pula yang sempat memisahkan keduanya. Tak dikisahkan bagaimana akhirnya keduanya bertemu kembali, namun pembaca bisa diyakini mereka akhirnya bersatu lewat tutur tokoh "aku" yang merupakan anak dari mereka.

Meski di bagian-bagian akhir novel ini berisi beberapa kisah-kisah mitos yang terasa aneh, namun secara keseluruhan cerita dalam novel ini sangat menawan. Dengan gaya tutur yang menarik, kita takkan bosan untuk membaca hingga akhir. Penokohan yang kuat dan diksi yang menarik menjadi salah satu daya pikat dari novel ini. Salah satu yang juga istimewa dalam novel ini, menurutku, adalah kemampuan Mo Yan mengisahkan keindahan dan keluhuran cinta sama fasihnya dengan kekejaman dan kerakusan manusia akan nafsu dan kuasa yang tak kekal. Beberapa kalimat bisa sangat puitis seperti di halaman 453 "matahari terbenam menerangi awan sore dan menyinari tanah hitam yang merintih...", tapi di bagian lain, Mo Yan bisa saja menggunakan kalimat yang sedikit vulgar namun tetap memiliki keindahan kata yang memikat. Di bagian akhir, Mo Yan menyisipkan kisah tragis dalam perang di manapun, pahlawan perang yang pada akhirnya harus mati di tangan bangsanya sendiri. Lewat kisah seorang tua bernama Geng Tua, yang mengalami delapan belas tusukan oleh tentara Jepang, namun ia tetap hidup secara ajaib, setelah perang usai, ia malah terabaikan. Hidup lewat belas kasih pemerintah. Namun suatu hari jatah ransum-nya tiba-tiba saja terhenti. Saat ia menuntut hak-nya ke gedung komite, ia diabaikan hingga akhirnya mati kedinginan di depan gedung komite.