Total Tayangan Laman

Translate

Jumat, 30 Juli 2010

Something About Asthma

 pic taken from here

Beberapa minggu yang lalu, di kantor entah apa yang semula tengah kami perbincangkan hingga akhirnya pembicaraan kami melenceng tentang kecoak, dan seorang rekan kerjaku mengatakan bahwa kecoak sebenarnya bisa menjadi obat untuk penyakit asma. Akupun bergidik ngeri membayangkan kecoak sebagai santapan meskipun itu untuk obat.

Aku sudah hampir melupakan pembicaraan itu, ketika dua atau tiga hari kemudian, aku tak bisa tidur hingga larut, sementara acara tv tak terlalu menarik sementara aku tengah malas menonton dvd, jadi akupun mencari sumber bacaan untuk mengundang kantukku datang. Sebenarnya aku masih punya dua novel hasil pinjaman dari temanku, tapi aku tengah malas membaca novel sehingga aku mengorek-ngorek kliping-kliping koran yang rajin kukumpulkan dulu (sekarang entah kenapa aku jadi malas mengumpulkan kliping lagi).

Mataku langsung menangkap secarik kliping korang yang kusimpan entah kapan karena aku lupa mencantumkan tanggalnya hanya sumbernya kucatat dari Kompas. Judulnya membuatku tertarik karena berhubungan dengan pembicaraanku beberapa hari sebelumnya di kantor. Asma, Obat, dan Kecoak, begitu judul artikel dalam klipingku tersebut. Aku pun langsung tenggelam dalam bacaan artikel itu (meski kurasa aku pernah membacanya toh aku menyimpan klipingnya tapi karena aku seorang pelupa, jadi aku lupa isi materinya) untuk mencari kesinambungan antara kecoak dengan asma dan benarkah yang dikatakan oleh rekan kerjaku itu bahwa kecoak adalah obat untuk asma.

Setelah kubaca ternyata memang kecoak ada hubungannya dengan asma tapi bukan sebagai obat. Di dalam artikel itu dikatakan bahwa asma, menurut dugaan sementara para ahli disebabkan oleh perubahan gaya hidup dan lingkungan. Antara lain, makanan artificial seperti pewarna, pengawet, penyedap, pemanis buatan, daging hewan yang diternakan dengan vitamin dan antibiotik, penggunaan pengatur suhu ruangan (AC), serta polusi. Itulah sebabnya mengapa anak-anak di negara berkembang, meski banyak terpapar infeksi tetap menderita asma. Kemungkinan lain, karena pengaru kecoak yang berkeliaran di lingkungan kumuh. "Tubuh, terutama sayap kecoa ternyata mengandung alergen," jelas Prof Dr. Hadiarto Mangunegoro SpP(K), pakar pulmonologi dari Bagian Penyakit Paru FKUI/RS. Persahabatan. Sampai di sini aku tersenyum, ternyata kecoak memang berhubungan dengan asma tapi bukan sebagai obat melainkan banyaknya pertumbuhan kecoak menjadi barometer tingginya penderita asma di suatu negara atau kawasan.

Meski setelah kubaca tak ada kaitannya kecoak dengan obat asma tapi aku sudah kepalang asyik dan ingin melanjutkan artikel itu hingga tuntas. Selama ini kupikir asma bukanlah penyakit yang berbahaya, tapi meski asma memang tak semematikan kanker, asma tetaplah merupakan penyakit yang perlu diwaspadai apalagi menurut artikel itu, meningkatknya serangan asma bisa pula disebabkan oleh penggunaan obat-obat penghilang rasa sakit seperti antalgin atau obat rematik yang sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu pula penderita asma harus hati-hati menggunakan obat analgetik (penghilang rasa sakit) karena salah-salah saluran napas makin menciut. Ya, meski peringatan ini hanya berlaku untuk penderita asma, aku jadi menyadari bahwa penyakit asma pun sebenarnya bukanlah penyakit yang bisa dianggap enteng. Sayangnya memang masih banyak yang belum terlalu mengenal penyakit asma.

Seperti kebanyakan orang awam lainnya, yang kutahu asma itu adalah suatu penyakit gangguan pernapasan yang kadang mengeluarkan bunyi saat bernafas atau dalam artikel ini istilah pinternya adalah mengi atau wheezing. Parahnya kadang penderita asma bisa diserang batuk atau pilek yang terjadi pada tengah malam sampai pagi hari. Bayangkan betapa menderitanya saat tidur harus mengalami batuk pilek hampir sepanjang malam. Untuk orang yang doyang tidur seperti aku, gangguan batuk pilek seperti itu pastinya amat menyiksa karena amat mengganggu jatah tidurku. Jangankan orang awam yang pastinya tak terlalu memiliki pengetahuan yang cukup memadai mengenai asma, bahkan menurut Dr. Hadiarto yang kukutip dari artikel usang ini, ia mengakui bahwa pengetahuan mengenai asma di kalangan dokter pun ternyata belum merata. Biasanya pasien didiagnosis batuk alergi. Karena itu kalau ada gejala seperti di bawah ini, pasien harus bertanya kemungkinan adanya asma sehingga dokter melakukan pemeriksaan untuk memastikan.

Asma adalah gejala yang ditimbulkan oleh gangguan saluran napas, akibat meningkatnya kepekaan terhadap rangsangan dari lingkungan. Kepekaan biasanya diawali sejak masa kanak-kanak. Sekitar 50% gejala ini akan sembuh dengan sendirinya. Sekitar 60% penyakit alergi pernapasan diturunkan, selebihnya akibat polusi lingkungan.

Sementara saluran napas yang meradang adalah akibat reaksi dari:
-kelelahan pikiran
-kelelahan jasmani
-perubahan lingkungan yang tidak diharapkan (cuaca, kelembaban, temperatur, asap terutama dari rokok, dan bau-bauan yang merangsang)
-infeksi dari influenza.

Gejala asma:
Pilek, bersin, batuk disertai rasa gatal pada tenggorokan yang berulang.
Gejala selanjutnya:
Sesak napas, napas berbunyi, berkeringat, dan denyut nadi meningkat. Sering terjadi pada malam hari.

Komplikasi:
Penyempitan saluran napas akan sangat berbahaya karena dahak yang pekat, sulit untuk dikeluarkan dan menghalangi ventilasi udara.

Pencegahan:
-Menghindari bahan yang menjadi pemicu serangan asma
-Memakai masker hidung apabila sedang membersihkan/menyapu lantai
-Olahraga secara teratur
-Sedia obat bronkhodilator (untuk melebarkan saluran napas)
-Obat Beta-agonist dan steroid (untuk meringankan reaksi peradangan).

Inti yang bisa kuambil dari artikel itu adalah pentingnya menjalani gaya hidup sehat dan menjaga kebersihan. Bagaimanapun lebih baik mencegah daripada mengobati.

Senin, 26 Juli 2010

Mimpi yang Urung Jadi Nyata

pic taken from this site
 
Kali ini aku benar-benar tak tahu lagi apa yang meski kutulis tentang F1. Meski kecewa dengan hasil GP Jerman kemarin, tapi mau bagaimana lagi. Fernando Alonso berhasil meraih kemenangan keduanya di musim 2010 ini. Mungkin terdengar terlalu tak adil dan bisa membuat fans Alonso jadi sewot dengan komentarku ini tapi aku merasa GP Jerman kemarin benar-benar membosankan seperti GP Bahrain di mana saat itu Alonso juga berhasil tampil menjadi juara. Entah apa karena perasaan antipatiku saja terhadap Alonso yang membuatku merasa GP Jerman kemarin semembosankan GP Bahrain atau memang begitulah kenyataannya. 
 
Namun harus juga diakui, penampilan Alonso dan Ferrari di GP Jerman kemarin memang luar biasa. Siapa pula yang menyangka Ferrari yang selama ini tenggelam di balik kecemerlangan performa Red Bull dan McLaren dan membuat F1 musim ini sepertinya akan menjadi milik dua tim papan atas ini, ternyata berhasil tampil menggebrak setelah pada beberapa GP setelah Bahrain melempem dan kalah bersinar dibanding Red Bull dan McLaren.

Sebagai tim besar dan merupakan legenda di dunia F1, Ferrari ternyata tak ingin terus-terusan menggigit jari melihat para pebalap Red Bull dan McLaren berebutan meraih kemenangan. Ferrari pun akhirnya berhasil melakukan pengembangan dan memetik hasil optimal di Hockenheim kemarin dan kedua pebalap mereka bukan hanya berhasil mempermalukan McLaren yang menggunakan mesin Mercedes, pabrikan mobil asal Jerman, di kandangnya sendiri ini, tapi juga sukses mengacaukan harapan Vettel untuk mengumandangkan lagu kebangsaan negaranya di negerinya sendiri ini.

Waktu hari Rabu, empat hari sebelum GP Jerman dimulai, aku bermimpi indah. Dalam mimpiku Jenson Button tampil menjadi juara GP Jerman. Aku memang ingin sekali melihat Jenson kembali tampil menjadi juara tapi jujur sudah berhari-hari aku tak terlalu memikirkan F1. Dulu setiap kali mendekati GP, aku meamng tak pernah sabar menunggu hari Minggu tapi sejak penampilan jagoan-jagoanku melempem, aku jadi tak terlalu semangat menunggu GP seperti dulu. Karena itu aku benar-benar tak menyangka bisa memimpikan Jenson Button menjadi juara. Mimpi yang indah tentunya, tapi pastinya akan jadi lebih indah bila mimpi itu menjadi kenyataan. 

Dua hari kemudian aku kembali bermimpi indah. Kali ini Michael Schumacher yang tampil dalam mimpiku, tapi bukan seperti mimpiku tentang Jenson. Aku tak bermimpi Michael tampil menjadi juara. Aku mimpi diundang untuk bertemu dengan Michael Schumacher. Uhhh, benar-benar mimpi paling indah, bisa bertemu dengan idola kita. 

Biasanya aku pasti sudah menceritakan mimpiku pada temanku, Selvia, tapi kali ini aku terlalu takut menceritakan mimpiku. Aku takut mimpiku itu akan berbanding terbalik dengan kenyataan bila kuungkapkan. Meski akhirnya aku tak tahan juga dan akhirnya menceritakan mimpiku, tapi yang kuceritakan hanyalah mimpiku tentang Michael sementara mimpi tentang Jenson tetap kusimpan sendiri dan berharap bila aku tak menceritakan mimpiku pada siapapun, maka mimpiku itu bisa menjadi kenyataan.

Mimpiku hampir saja menjadi kenyataan ketika Jenson berhasil mengambil alih kepemimpinan lomba dari Felipe Massa setelah pebalap Ferrari itu dan semua pebalap yang tadinya di depan Jenson, beramai-ramai masuk pit. Selama beberapa lap Jenson masih tampil sebagai pemimpin lomba dan aku sempat tegang ketika McLaren-Mercedes-nya Jenson berguncang keras. Jenson memang belum masuk pit untuk mengganti ban seperti pebalap yang lain. Tadinya aku berharap Jenson akan mengganti bannya agak di pertengahan lomba sehingga ia bisa selama mungkin memimpin dan terus memperbesar jarak antara dirinya dengan dua pebalap Ferrari yang entah mengapa bisa tampil luar biasa di GP kemarin, tapi setelah melihat mobil Jenson berguncang keras, aku jadi menurunkan harapanku dan menyadari mimpiku itu ternyata takkan menjadi kenyataan. 

Aku pun mengubah harapanku dari ingin melihat Jenson menjadi juara jadi asalkan Jenson meraih podium saja sudah cukup. Tak mengapa tak menjadi juara yang penting Jenson bisa meraih podium entah podium kedua atau ketiga. Tapi setelah Jenson akhirnya masuk pit untuk mengganti bannya, dan melihat dua mobil merah Ferrari diikuti Red Bull-nya Vettel melintas, aku pun kembali mengubah harapanku dari ingin melihat Jenson meraih podium menjadi asalkan Jenson bisa finish di depan rekan setimnya sudah cukup. Nyatanya apa mau dikata. Jenson bukan hanya tak berhasil meraih juara GP seperti mimpiku, ia juga tak bisa meraih podium dan akhirnya hanya mampu finish di P5 dan hingga akhir race Jenson tak berhasil melewati rekan setimnya meski ia sudah tampil baik dan terus menjaga jaraknya mendekati rekan setimnya itu. 
 
Tapi itu semua yang terbaik yang bisa dilakukan Jenson, kurasa. Aku tak lagi terlalu kecewa dengan hasil yang diraih Jenson karena apapun hasilnya, Jenson telah berusaha semaksimal mungkin dan semuanya ada waktunya. Mungkin saat ini bukanlah masanya Jenson. Setidaknya Jenson pernah mengalami masa-masa terbaiknya di tahun lalu, dan mungkin nanti Jenson bisa mendapatkan masanya kembali seperti tahun lalu.

GP Jerman sendiri mestinya menjadi ajang tampil para local hero terlebih musim ini banyak sekali pebalap asal Jerman yang tampil di F1 dan tersebar baik di tim gurem, tengah, maupun di tim papan atas.

Di tim gurem ada Timo Glock yang tampil membela tim Virgin-Cosworth sementara di tim papan tengah ada Nico Hulkenberg, The next German raising star, yang mendampingi Rubens Barrichello di Williams-Cosworth. Ada juga Adrian Sutil, pebalap andalan Force India-Mercedes. Di samping mereka ada sang juara dunia tujuh kali, Michael Schumacher yang berdampingan dengan bintang Jerman masa depan, Nico Rosberg, putra juara dunia asal Finlandia, Keke Rosberg. Keduanya membela tim asal Jerman, Mercedes yang setelah lima puluh lima tahun lamanya, kembali tampil sebagai tim utuh dan bukan sekadar pemasok mesin saja di F1. Sedangkan di tim papan atas tepatnya di Red Bull, bercokol calon juara dunia, Sebastian Vettel, yang juga kerap disebut-sebut sebagai The Next Michael Schumacher karena bakat balapnya yang cemerlang seperti seniornya itu.

Memang hal yang agak mustahil bila mengharapkan Michael Schumacher yang tahun ini di debutnya kembali di F1 ini agak mengecewakan, tampil sebagai juara di negara asalnya ini, meski harapan itu tetap saja terbuka lebar bila peluangnya ada. Setidaknya publik Jerman memiliki seorang local hero lain yang memiliki paket komplet tahun ini. Siapa lagi kalau bukan Sebastian Vettel. Ia memiliki bakat balap yang tak diragukan dan tahun ini mendapatkan tunggangan yang sangat kompetitif jadi tak terlalu berlebihan bila publik Jerman berharap bisa melihat pebalap muda mereka ini tampil menjadi juara di hadapan publiknya sendiri.

Di sesi kualifikasi publik Jerman sudah dibuat terhenyak setelah pebalap kebanggaan mereka yang di masa lalu peranh membuat lagu kebangsaan Jerman menjadi lagu yang paling banyak diputar di setiap sirkuit di seluruh dunia, gagal melewati Q2. Hanya berbeda sepersekian detik saja memang, tapi di dunia F1 di mana 0.00001 detik sekalipun amat sangat berharga dan bisa membuat perbedaan. 

Di detik-detik terakhir Michael gagal mencatat waktu yang lebih baik lagi, sehingga akhirnya ia pun harus puas memulai startnya dari grid ke-11. Michael sendiri mengaku amat kecewa dengan hasil ini, terlebih ia dan Mercedes berharap bisa tampil lebih baik di negaranya dan setidaknya berhasil meraih P5 atau P6.

"I was hoping for a strong weekend here in Hockenheim in front of our fans but unfortunately I struggled a lot in qualifying today,” he said. “It's really disappointing and it seems that we are just not making our developments work as well as we hoped this weekend which we need to look into. I hope that we find the problem with the car otherwise it is difficult to explain why we are not closer to the front," begitu ungkap Michael seperti yang kukutip dari Crash.net.

“I had a lot of oversteer and that made it really difficult as I had to keep coming down on the front wing levels which did not help. I will do my best tomorrow to achieve a good result but it will be difficult from this position."

Saat start seperti biasanya, Michael tampil amat baik. Dari P11 ia melesat melewati juniornya, dua pebalap Jerman, Hulkenberg dan rekan setimnya, Rosberg, menuju P8 tepat di depan rekan setimnya yang posisinya tak berubah dari posisinya saat kualifikasi. Namun setelah Michael masuk pitu untuk mengganti bannya, posisinya pun melorot dan akhirnya ia hanya mampu finish di urutan ke-9 di belakang Rosberg. Meski agak mengecewakan tapi itulah hasil optimal yang bisa diraih.

"I had a pretty good start today but from then onwards, there was not much more that we could do,” kata Michael yang lagi-lagi kuambil dari crash.net. “We were targeting to stay out long but we changed the strategy to react to the circumstances and maybe I could have finished slightly higher. But in the end, that would not have changed much in a race where we had hoped to be more competitive. 

“What we achieved after my stop was the maximum that was possible. Of course I would have wished for more, especially as our race performance tends to be better than qualifying, but it did not work out. We will certainly not get nervous but we have to sit down, analyse the reasons and put the right solutions in place,"  ungkap Michael.

Mengingat paket yang dimiliki Michael tahun ini tak sebaik seperti di musim-musim sebelumnya ketika ia berjaya, maka harapan publik Jerman pun dialihkan kepada Sebastian Vettel yang memiliki paket yang lebih kompetitif untuk mencatat hasil gemilang seperti di Silverstone, dua minggu sebelumnya. Harapan yang hampir membubung itu, nyaris terlaksana setelah Vettel berhasil meraih waktu tercepat di sesi kualifikasi dan meraih pole mengalahkan Alonso dan Massa yang merajai Hockenheim di Q1 dan Q2. Sayangnya saat start, Vettel gagal menghambat duo Ferrari, malahan ia harus kehilangan posisinya di tempat pertama dan merosot dengan finish di P3.

pic taken from this site

A Time to Remember


Pagi ini aku bangun dengan perasaan agak nelangsa. Entah, mungkin karena hasil GP Jerman kemarin tak terlalu menggembirakan atau mungkin aku tengah berada di titik kulminasi kejenuhan. Aku bangun dengan perasaan lelah meski tak tahu mengapa aku merasa lelah. Mungkin aku lelah dengan hidupku. Lelah dengan mimpiku yang kadang terasa begitu mudah untuk diraih tapi di detik berikutnya terasa amat jauh dari jangkauanku. Aku lelah mencari kata-kata kosong berisi harapan membubung untuk menjaga optimismeku meraih impian-impianku. Aku jadi merasa seperti pemimpi tolol yang penuh dengan mimpi-mimpi semu dan ungkapan-ungkapan yang terkesan berarti padahal kosong. Aku lelah dengan rutinitasku yang seringkali membuatku berpikir apa sebenarnya maksud Tuhan menciptakanku ke dunia ini. Aku lelah dengan semua kegiatan semuku yang hanya untuk sekadar membuatku bertahan hidup. Aku lelah dengan semuanya, tapi aku terlalu takut untuk mengakhiri mimpi dan harapan semuku itu.

Aku takut, bila aku tak lagi memiliki impian, lalu apa lagi yang bisa membuatku bersemangat menjalani hariku dan melewati hidupku yang terasa membosankan ini. Aku takut bila aku berhenti bermimpi maka aku akan kehilangan semangatku untuk mencari makna hidupku. Takut, lelah, jenuh beriringan menerorku hingga pagi ini aku memulai hariku dengan optimisme yang sedikit menyusut. Aku pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mandi dengan pikiran kosong sambil mencari-cari apa yang bisa kulakukan dengan hidupku hari ini. Apakah hidupku masih cukup berarti untuk kujalani? Sejuta apakah dan bagaimana pun berkecamuk dalam pikiranku hingga aku selesai dengan urusan kamar mandi dan aku pun menjadi makin lelah dan makin takut menghadapi hidupku yang sepertinya makin tak pasti.


Masih dengan perasaan hampa yang tak menentu aku menjalani saat teduhku- sejenak bercakap dengan Tuhan dan bertanya makna hidupku sesungguhnya-. Ayat-ayat Alkitab yang terkadang bisa membangkitkan semangatku kala berada di titik nadir, kali ini terasa kosong dan aku pun hanya mengeja huruf-hurufnya dengan pikiran setengah terisi, mungkin karena sejak kecil aku terlalu mengenai isi di dalamnya hingga aku sendiri tak terlalu memahami makna dan artinya dengan sepenuh hatiku dan hanya menjadikannya sebagai rutinitasku. Akhirnya masih dengan perasaan setengah hampa aku membuka bacaan panduan saat teduhku, Our Daily Bread (ODB). Perlahan seperti sebuah embun yang menetes di atas daun, aku merasa perasaan setengah hampaku setetes demi setetes mulai terasa hatiku. Jiwaku yang semula terasa setengah kosong seprti mendapatkan sumber kekuatan kembali. Aku tak berani menyebut bacaanku hari ini sebagai pencerahan tapi aku sungguh merasa malu karena sempat mempertanyakan maksud Tuhaan atas hidupku.

Dalam bacaanku hari ini, Dave Branon, salah seorang penulis ODB memberi judul tulisannya, Learning From Erin. Awalnya aku agak skeptis dan mengira temanya menganai Erin Brockovich, tokoh yang pernah diperankan Julia Roberts dan mengantarkannya meraih piala Oscar. Tapi ternyata Erin yang ini bukanlah seorang Erin yang terkenal. Erin yang satu ini adalah seorang anak yang tak memiliki harapan muluk selain bisa kembali sehat dan bisa bermain seperti anak-anak sebayanya.

Hidup Erin dikisahkan mulai berubah saat ia berumur delapan tahun. Sementara anak-anak lain sepertinya tengah berlari, bermain, atau menikmati es krim, Erin harus terbaring di atas tempat tidurnya dikelilingi selang infus di tubuhnya - able to see only the brightest lights and hear only the loudest sounds. Hidupnya hanya seputar jarum suntik, infus, suster, dokter, dan mereka yang mengunjunginya di rumah sakit sementara ia terus berjuang melawan penyakit dan ketakberdayaannya. Sayangnya Erin akhirnya harus menyerah. Di tengah keluarganya yang mengasihinya, Erin meninggal dunia sebelum ia mencapai ulang tahunnya yang kesembilan.

Kata-kata yang berikut membuatku benar-benar tersentuh. What can be learned from a precious child like Erin-one who never spoke a word or colored a picture or sang a song? Sampai sini aku agak tertegun, menyadari betapa konyolnya aku, sementara seorang anak kecil seperti Erin harus berjuang untuk bisa terus bertahan dalam hidupnya yang masih amat muda, aku malah mengeluhkan kehampaanku akan arti hidup. Dibanding Erin, seorang anak kecil yang masa hidupnya terlalu singkat untuk memahami sepenuhnya apa arti hidup, aku bukanlah siapa-siapa. Aku jadi makin merasa seperti seorang pemimpi tolol yang hanya bisa terus mengeluhkan hidupku yang monoton. Padahal dibanding Erin, hidupku masih jauh lebih baik. Aku bisa melihat segala keindahan yang bisa ditawarkan hidup. Aku bisa mendengar berbagai suara termanis yang bisa dikatakan oleh hidup. Aku bisa melangkahkan kakiku menyusuri setapak demi setapak jalan kehidupan. Aku memiliki kebebasan yang tak dimiliki Erin. Dan aku bisa melakukan apapun yang bisa kulakukan untuk mengisi hidupku dibanding hanya terus mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Bertanya, bertanya, dan bertanya.

Seorang teman keluarga Erin kemudian mengatakan sesuatu yang makin membuatku merasa malu pada seorang anak kecil bernama Erin. "We are all better for having had Erin in our lives. She taught of compassion, unconditional love, and appreciation for the little things." 

Appreciation for the little things. Kata-kata ini terasa makin menghujam keegoisanku yang tak menyadari betapa sempurnanya sebenarnya apa yang kumiliki. Tubuh sehat sempurna dan waktu, dua hal yang tak dimiliki oleh Erin tapi kumiliki dengan limpahnya. Mengingat singkatnya waktu yang dimiliki Erin dan betapa berharganya setiap detik yang dimilikinya untuk bisa mereguk semua keindahan yang bisa diberikan dunia baginya, Erin menjalani hidupnya jauh lebih berat dari yang bisa ditanggung oleh seorang anak kecil seperti dia.

Tulisan Branon berikutnya makin membuat mata dan hatiku terbuka. Children such as Erin also remind us that this world is not reserved for the perfect, the wealthy, or the athletic. Each person, no matter their physical, mental, or emotional condition, is created in the image of God and is of equal value and significance. - Anak-anak seperti Erin mengingatkan kita bahwa dunia ini bukan hanya untuk mereka yang sempurna, kaya, dan sehat saja. Setiap orang tak peduli keadaan fisik, mental maupun emosionalnya, semuanya adalah ciptaan Tuhan dan gambaran dari Allah karenanya semuanya nilai yang sama dan berharga bagi Penciptanya. Aku jadi merasa serasa disiram air dingin. Tuhan telah mengaruniakanku hidup yang meski tak selalu berjalan sesuai keinginanku tapi jauh lebih sempurna dibanding hidup singkat yang dimiliki Erin. Bila setiap waktu amat berharga bagi Erin yang memiliki waktu teramat singkat itu, maka tak sepantasnya aku mengeluhkan hari-hariku yang membosankan.

Hidup memang terkadang keras dan sulit. Hidup tak selalu memberikan apa yang kita harapkan tapi bukan berati kita bisa mengatakan bahwa hidup ini tak berarti sama sekali. Seberat apapun yang kita jalani, toh matahari masih tetap akan terbit esok pagi, dan betapapun tingginya pertumbuhan manusia sehingga bumi terasa makin padat namun udara yang diberikan oleh Tuhan tak pernah berkurang untuk kita hirup dan menjadi sumber kehidupan kita. 

Hidup memang harus berpijak pada realita dan bukan hanya sekadar penuh dengan mimpi-mimpi kosong tapi hidup tanpa mimpi pun terasa terlalu hampa. Jadi meski terdengar konyol dan tolol aku tetap yakin bahwa mimpi harus tetap ada untuk membuat seseorang memiliki harapan dan tujuan bagi hidupnya. Meski Bondan Prakoso dan Fade to Black bilang bila kita tak berhasil meraih mimpi kita, ya sudahlah, tapi aku tetap beranggapan mimpi tetap berharga untuk dikejar dan diraih. Dan aku lebih terinspirasi oleh lagu Mariah Carey yang berjudul Hero:
"Lord knows dreams are hard to follow
but don't let anyone tear them away
hold on, there will be tomorrow
in time, you'll find your way."

Tuhan pun tahu mimpi itu amat sulit untuk diraih tapi jangan pernah biarkan siapapun menghancurkan mimpimu karena masih ada hari esok dan pada saatnya nanti kau akan menemukan jalanmu, begitu kira-kira terjemahan bebas dari lagu Mariah. Jadi betapapun terdengar konyol dan tolol, sebuah impian tetap berharga dan pantas diperjuangkan, betapapun konyol dan tololnya mimpi itu. Mimpi bagibku merupakan peristirahatan kita saat hidup terasa penat. Mimpi membuat kita tetap memiliki harapan di tengah himpitan rutinitas dan kekosongan hidup. Mimpi membuat hidup jadi amat berharga. Aku sendiri takkan takut untuk terus bermimpi meski mungkin hingga aku mencapai waktuku, aku tetap tak berhasil meraih mimpiku, tapi setidaknya aku telah berusaha untuk meraih mimpiku, sehingga saat aku di ujung hidupku aku bisa tersenyum mengingat betapa konyolnya aku dan semua yang telah kulakukan untuk meraih sebuah mimpi. Dan meski diliputi perasaan pedih dan kecewa, aku bisa dengan puas mengatakan bahwa aku telah berusaha semampuku untuk meraih mimpiku. Untuk membuat hidupku terasa berarti. 
Mungkin pula di ujung akhir hidupku nanti akhirnya aku bisa menemukan arti hidup yang kucari sepanjang hidupku ini. Bukankah hidup memang merupakan perjalanan untuk mencari arti hidup itu sendiri dan mimpi merupakan penunjuk jalan bagi kita menemukan arti hidup? Itu memang hanya pendapat konyolku, tapi aku hanya tak ingin mengakhiri hidup dalam penyesalan. Dan meski aku hanyalah sekadar noktah kecil dalam jagat raya ini, dan mungkin pencapaianku tak terlalu berarti, setidaknya aku tak ingin hidupku berakhir dalam kesia-siaan dalam waktu yang terus berjalan. Karena hidup yang dianugrahkan oleh Tuhan ini terlalu indah dan sempurna untuk diakhiri dalam kesia-siaan. Dan setiap waktu sangat berharga untuk dikenang dalam hari-hari yang kosong ini.

Senin, 12 Juli 2010

Michael Still The Best

pic taken from here

Melihat performa Michael di musim ini memang jauh dari bayanganku ketika musim 2010 baru berjalan, tapi semua itu bisa dimaklumi mengingat Michael tak turut serta dalam pengembangan di tim. Comeback-nya Michael ke F1 bersama Mercedes saja sebenarnya sudah cukup mengherankan, tak menyangka Michael mau terjun ke tim yang setengah kacau seperti Mercedes meskipun tim ini tahun lalu berhasil meraih gelar dunia ganda dengan nama Brawn GP. 

Memang bila dibanding rekan setimnya yang lebih muda, Michael seperti dipermalukan habis-habisan tapi itu juga bukan berarti Michael telah kehilangan kemampuan luar biasanya itu. Jangan lupa, Michael telah cuti dari F1 selama tiga musim jadi jelas keadaan F1 sekarang telah berbeda seperti ketika ia masih membalap, dan regulasi FIA yang baru dimana melarang pengisian bahan bakar selama lomba sepertinya juga menyulitkan Michael. 

Meski banyak yang mencela penampilan Schumi yang buruk tahun ini, tapi Bernie Ecclestone, Supremo F1, tetap menganggap Schumi masih sangat tangguh. "Schumacher still strong," ungkap bos F1 itu, "He has returned in a situation more complex than he could imagine," ucap Ecclestone dalam wawancaranya dengan Gazzetta dello Sport tapi beritanya kukutip dari Crash. (Berita selengkapnya bisa dibaca di sini).

"Tapi jeleknya performa Michael di debutnya kembali di F1 lebih disebabkan oleh buruknya mobil yang ditunggangi Michael, " kata Ecclestone, "Jika Michael membalap bersama Red Bull, maka bisa dipastikan Michael akan kembali tangguh seperti Michael yang dulu," yakin Ecclestone.

Aku sebagai fans beratnya Michael sudah pasti setuju dengan ucapan big boss-nya F1 itu. Melihat penampilan Michael, aku hanya berharap semoga saja juara dunia tujuh kali ini tak jera untuk terus berusaha dan tak membuatnya melakukan pensiun kedua kalinya. Karenanya aku benar-benar lega mendengar Michael dengan realistis berkata bahwa ia tak terlalu berharap banyak di musim ini dan lebih memfokuskan diri membantu tim mengembangkan mobil untuk tahun depan (berita selengkapnya di sini). Yes, ucapku dalam hati, ucapan Michael itu bisa dianggap sebagai kepastian bahwa Michael akan kembali membalap untuk tahun depan. Dan semoga saja tahun depan, tangan midas Michael kembali bertuah dan menggemparkan jagat Formula One lagi. Dan saat itulah, dunia akhirnya berkata, "Yes, Michael is really back."

Sementara pengembangan mobil untuk tahun depan mulai dilakukan, menyaksikan penampilan Michael hingga akhir seri ini tetap menarik untukku walaupun ia selalu harus keteteran dan kerap menjadi ajang pamer para pebalap muda yang pastinya akan senang sekali bila berhasil mengoverlap juara dunia tujuh kali ini seperti yang terjadi di GP Inggris kemarin. Dengan susah payah Michael harus menghadapi gempuran para pasukan muda Jerman. Pertama Sutil, lalu Vettel, sementara di belakangnya, Niko Hulkenberg pun mulai mengintai menunggu sang juara dunia tujuh kali ini lengah. Akhirnya Michael harus puas dengan finish di P9 dengan hanya mendapat tambahan dua poin sementara rekan setimnya tersenyum sumringah di podium ketiga setelah sukses menahan laju Button yang harus puas finish keempat.

Tentu saja hasil yang diraih Michael di GP Inggris kemarin tak terlalu menggembirakan. Michael sendiri dalam konferensi pers usai GP Inggris mengaku tak terlalu puas dengan hasil balapan kemarin. Kondisi di sirkuit sendiri banyak merugikan Michael seperti traffic dan ia pun mengaku ia melakukan kesalahan yang mengakibatkannya harus membayar mahal dengan hanya berhasil menambah dua poin saja dalam perolehannya di klasemen pebalap. Tapi di ujung kata-katanya, ia tetap optimis. GP Inggris telah berakhir dan tak perlu berlama-lama menyesali hasil yang telah terjadi, kini ia dan tim mulai bersiap diri menghadapi gelaran GP di negaranya, Jerman. Dan semoga saja, Michael akhirnya berhasil meraih hasil yang jauh lebih baik.

Michael Schumacher - 9th: "Again a race which I am not really happy about today. It was ok and seeing Nico on the podium is good for the team but my race was obviously less rewarding. I was in traffic for most of the race and did not really have a clear track. After the pit stop where I had to push really hard to make it in front of Rubens, I unfortunately made a mistake out of a slow corner which put me off the track. That cost me a lot of time plus two positions and that was it for today. We now look towards Hockenheim where we obviously will do everything to perform in the best possible way." (dikutip dari Autosport).

Ketika Michael bersitegang dengan Vettel, aku pun hanya bisa berharap Michael memberikan jalan kepada Vettel mengingat Michael dengan usaha kerasnya menahan laju pebalap yang lebih kencang di belakangnya kerap menuai keapesan. Berkali-kali Michael akhirnya harus kandas akibat menggeber mobilnya yang payah dengan terlalu keras. Setidaknya Michael tetap mendapatkan poin, rasanya itu sudah cukup meskipun aku lebih berharap Michael meraih hasil yang lebih baik dari hanya sekadar meraih poin. Aku benar-benar berharap Michael bisa meraih podium mengingat rekan setimnya sudah tiga kali merasakan manisnya champagne di podium ketiga, tapi aku lebih ngeri bila melihat Michael akhirnya harus retired hanya karena terlalu keras menjaga posisinya dan malah mengakibatkan kerugian yang jauh lebih besar bagi dirinya.

Tahun ini, Michael boleh saja tampil buruk, tapi tahun depan, kuyakin seyakin-yakinnya, Michael takkan lagi sudi membiarkan dirinya dipermalukan seperti sekarang ini. So, keep fighting Michael! God always bless you....


Button: Shame I couldn’t make the podium

 pic taken from here

Yap, Button memang mestinya malu banget karena tak berhasil meraih podium di GP Inggris hari Minggu kemarin. Bila dilihat track record Button, ia memang tak pernah terlalu gemilang di tanah tumpah darahnya sendiri itu. Begitu pun tahun lalu ketika ia tengah mendominasi tahun lalu, justru di negaranya sendiri itu, ia malah mulai memperlihatkan penurunan performa, beruntung ia akhirnya tetap berhasil meraih gelar juara dunia. Pun ketika di tahun 2004 ia menjadi kompetitor terkuat Michael Schumacher, di hadapan publik senegaranya sendiri itu, Button malah kehilangan gregetnya. 

Penampilan Jenson di GP Inggris kemarin sebenarnya memang sudah cukup baik. Ia memulai start dari grid 14 tapi selepas start ia berhasil menyodok ke P8 di belakang Michael Schumacher. Setelah beberapa pebalap di atasnya mulai masuk pit untuk mengganti ban, posisi Button pun mulai merangsek naik ke P3 hingga akhirnya ia pun masuk pit dan rejoin di P7 di belakang Kubica dan Alonso. Beruntung Alonso yang terlalu berdarah panas melakukan pelanggaran dengan memotong jalur dan tak memberikan kesempatan balik (give back) pada Kubica yang merupakan ketentuan tak tertulis F1, sehingga akhirnya Alonso mendapatkan drive through penalty sementara Kubica terpaksa gagal melanjutkan lomba setelah mobilnya mengalami masalah driveshaft. Pertikaian dua pebalap di depannya itu pun membawa keuntungan bagi Button sehingga posisinya merangsek naik ke P4 di belakang Rosberg hingga akhir race.

Menyedihkan memang melihat Button gagal meraih podium dan memperbesar gap perolehan poinnya dengan rekan setimnya, Hamilton yang masih memuncaki klasemen pebalap. 

Button sendiri mengaku bahagia dengan pencapaiannya di GP Inggris kemarin walaupun ia gagal meraih podium tapi bila melihat bagaimana kesulitannya menembus Q2 hingga akhirnya harus puas memulai balapan dari grid 14 dan di balapan berhasil meraih P4 memang merupakan usaha yang sudah cukup keras yang bisa dilakukan oleh Button. "It's hard to overtake around here," kata Button. Karena menyadari sulit melakukan overtake di sirkuit Silverstone, Button pun berusaha sebisa mungkin meraih posisi yang lebih baik selepas start dan itu berhasil dilakukannya. "I then had to push really hard on the option tyre in the first stint. That strategy worked for us and I came out behind Fernando, who had a drive-through, so I picked up fourth. It's a pity I couldn't have overtaken Nico, but this is still a fantastic result for me," jelas Button.

Kubu McLaren sendiri tetap berbangga hati meski pebalap mereka, Lewis dan Jenson tak berhasil menjuarai GP tapi dengan tetap bertenggernya kedua pebalapnya di posisi pertama dan kedua klasemen pebalap dan McLaren tetap memimpin di klasemen konstruktor. "So, well done, boys," puji Martin Whitmarsh, bos tim McLaren pada dua jagoannya seperti dilansir dari crash.net.

Usaha Button pun yang berhasil naik hingga 10 posisi pun tetap mendapatkan apresiasi dari sang bos tim, “Jenson drove a masterly race to make up ten places – from 14th at the start to fourth at the finish – and the team got all the strategy calls right for him,” puji Whitmarsh.

Whitmarsh dan McLaren boleh saja mengaku puas dengan pencapaian pebalap mereka tapi aku sebagai penggemar Jenson tentu saja tak bisa puas. Aku tak menampik bahwa Jenson sebenarnya merupakan pebalap yang bagus dan bisa sangat brilian dalam melakukan overtaking tapi Jenson juga kerap terlihat lembek dan terlalu takut melakukan manuvernya.

Di Turki, Jenson terpaksa harus mengalah pada rekan setimnya, Hamilton meski ia memiliki kecepatan yang mumpuni untuk mengejar Hamilton tapi karena bahan bakarnya berada di titik kritis, Button pun terpaksa mengendurkan perlawanannya demi tetap menjaga peluangnya untuk bisa finish sebagai runner up di belakang rekan setimnya itu. Itu bisa dimaklumi tapi penampilan Jenson di dua GP terakhir membuatku benar-benar geram setengah mati (untungnya ga beneran mati even jantungku serasa ingin meledak saja).

Dua minggu lalu di GP Valencia, Jenson seperti orang bodoh malah hanya bisa mengekor di belakang Kobayashi yang jelas-jelas Saubernya meski didukung oleh mesin Ferrari tak setangguh McLaren-Mercedesnya Button. Tapi Jenson seperti pebalap kemarin sore tak bisa melakukan aksi apapun untuk melewati Kobayashi sehingga ia harus kehilangan banyak waktu. Dan ketika rekan setimnya harus menjalani penalti, karena jauhnya jarak waktu yang terbentang antara dirinya dengan Button yang masih berkutat di belakang pantat mobilnya pebalap Jepang itu, memudahkan langkah Hamilton untuk tetap berada di posisi keduanya hingga akhir race.

Jengkel memang melihat penampilan buruk Jenson yang terlalu English sehingga ia kelihatannya rela saja melihat rekan setimnya terus bersinar. Bukannya berharap Jenson meledak-ledak tak jelas seperti Alonso saat bertandem dengan Lewis di McLaren pada musim 2007 lalu, tapi bukan berarti Jenson harus seperti orang bodoh yang tak tahu bagaimana caranya membalap. Jenson boleh saja menjaga ketentraman tim tapi Jenson juga seharusnya ingat bagaiman McLaren memperlakukan David Coulthard yang telah setia mematuhi saja perintah tim dan akhirnya hanya bisa menggigit jari melihat rekan setim yang didukungnya, Mika Hakkinen berhasil menyabet dua gelar dunia, sementara ia akhirnya terpaksa tersingkir dari kubu Silver Arrows itu dan kemudian pensiun dari F1 tanpa pernah mengoleksi satu gelar pun.

Prove that you deserve to be world champion, Jense...!

Wait For Miracle....

pic taken from here

Dua minggu lalu saat gelaran GP Eropa di Valencia, aku merasa sepertinya hari itu merupakan hari terburuk. Awalnya saat bangun pagi, aku benar-benar bersemangat mengingat hari Minggu itu ada tiga gelaran olahraga berbeda tapi semuanya merupakan favoritku.

Diawali oleh final Badminton Indonesia Open Super Series dimana hanya tinggal menyisakan Taufik Hidayat di tunggal putra melawan Lee Chong Wei dari Malaysia. Final hari itu bisa dibilang merupakan ulangan final tahun lalu. Sebenarnya aku bukanlah fans Taufik, tapi karena hanya tersisa Taufik yang kemungkinan bisa menyelamatkan wajah Indonesia maka akupun menaruh harapan besar pada menantu Agum Gumelar ini. Di set pertama, penampilan Taufik sudah cukup bagus dan mampu meladeni permainan bintang Malaysia itu, tapi di set kedua, Taufik yang staminanya mulai terkuras pun mulai keteteran sehingga Lee Chong Wei pun melangkah mulus, menaklukan Taufik dua set langsung tanpa balas dan pebulutangkis Malaysia itu kembali memperlihatkan supremasinya di Istora Senayan yang sebenarnya sangat sadis terhadap pebulutangkis negara lain.

Aku masih belum terlalu bete setelah Taufik kandas dan Indonesia terpaksa harus menanggung malu, tak berhasil meraih satupun gelar di depan publiknya sendiri.

Selepas final badminton, aku masih memiliki semangat mengingat setelah itu F1 GP Eropa mulai berlangsung. Meski sebelumnya saat sesi qualifying berlangsung, aku sempat merasa bete dan apes karena tengah seru-serunya menonton qualifying saat Q2 baru saja berlangsung dan dadaku masih bergemuruh keras akibat tegang saat Michael Schumacher nyaris tersingkir di Q1 tapi akhirnya berhasil lolos di detik-detik terakhir. Tapi baru saja aku melotot melihat Q2 yang baru dimulai, tiba-tiba, prett, rumahku mati lampu. Uhh, gemes banget, pengen rasanya berteriak memaki PLN yang tega banget mematikan lampu di saat-saat genting seperti itu, tapi karena hari sudah amat larut dan ibuku tengah terlelap di alam mimpi, akupun urung menjerit-jerit seperti orang gila. Kalau aku tetap nekat teriak-teriak, jangan-jangan ibuku benar-benar memasukanku ke RSJ.

Meski dibayang-bayangi kejadian menyebalkan saat nonton sesi qualifying, aku tetap semangat menonton GP Eropa. Dari temanku, Selvia akhirnya aku tahu bahwa Michael ternyata tak berhasil menembus Q2 dan harus puas start di P15 sementara Button memulai balapan dari grid 7 di belakang Kubica dan di depan Hulkenberg.

GP Eropa nya sendiri kurasa akan sangat menyenangkan untukku kalau saja kedua pebalap jagoanku tidak harus mengalami nasib apes karena regulasi tak jelas. Aku sudah sangat gembira dan bersorak dalam hati saja (karena belum finish) melihat Michael seperti biasanya tampil bagus sekali saat start. Dari posisi 15, Michael berhasil terbang ke urutan 11 sementara rekan setimnya yang meraih P12 di qualifying turun ke posisi ke-14. Tapi setelah kecelakan dahsyat yang menimpa Webber dan menyebabkan Safety Car masuk, kekacauan tak jelas itupun mulai terjadi. Schumi yang dengan susah payah berhasil menembus top ten terpaksa kehilangan posisinya hingga ke grid paling buncit karena tertahan di pit karena regulasi tak jelas yang kusebut di atas tadi. Akhirnya Michael pun hanya bisa puas finish di P16 tanpa berhasil meraih satu poin pun. Tapi di ujung race, aku sempat tersenyum puas melihat Michael meski memiliki mobil tak sehebat Vettel yang sukses menjuarai GP Eropa, tapi ia sempat membuat fastest lap yang menandakan kemampuan Michael sebenarnya masih sangat baik. Michael masih amat kompetitif kalau saja ia memiliki "senjata" yang lebih baik.

Bila aku tetap merasa puas dengan performa Michael meski ia gagal meraih poin tapi tidak demikian yang kurasa terhadap Button yang walaupun sukses meraih podium ketiga, tapi kebodohannya yang memilih untuk tetap mengekor di belakang Kobayashi tanpa berusaha melakukan manuver dan baru berhasil meraih posisi ketiganya setelah pebalap Jepang yang membela Sauber-Ferrari itu masuk pit untuk mengganti bannya. Bahkan keberhasilan Jenson mencatat fastest lap pada lap-lap akhir pun tetap tak mampu menyingkirkan rasa jengkelku pada pebalap asal Inggris ini. Tapi balapan sudah usai dan hasilnya sudah tercetak. Mau dibilang apa lagi, biarpun tak puas tetap saja tak mampu mengubah keadaan.

Usai GP Eropa, adik laki-lakiku yang sudah tak sabar selama aku menonton F1 segera menyambar remote dan mengganti saluran ke tv penyelenggara piala dunia. Aku sendiri sebenarnya tak terlalu suka sepakbola tapi berhubung pertandingan saat itu menampilkan tim Inggris melawan Jerman, maka akupun antusias. Kupikir sebagai pelepas kejengkelanku atas hasil GP Eropa dan Final badminton yang hasilnya tak menggembirakan.

Sejak dulu bila menonton bola, aku memang selalu mendukung tim Inggris meskipun kakak dan adik laki-laki selalu meledek pilihanku itu, karena menurut mereka, Inggris tak bisa bermain bola, tapi sejak aku melihat penampilan Alan Shearer dkk di piala Eropa (entah tahun berapa yang jelas saat itu Inggris adalah tuan rumahnya), aku sudah kepalang kepincut dengan pasukan St. George Cross itu.

Tak disangka, alih-alih melepaskan stres akibat hasil F1 GP Eropa yang bikin aku gregetan itu, aku malah jadi makin kesal saja saat Inggris terpaksa harus kalah menyakitkan dari Jerman. Yang lebih bikin aku bete ketika gol Lampard tak dianggap oleh wasit. Benar-benar mengesalkan. Jantungku yang serasa sudah ingin meledak sejak melihat Button seperti orang tolol terus mengekor Kobayashi, rasanya benar-benar akan meledak melihat Inggris dipecundangi tanpa ampun oleh Jerman.

Tragis sekali melihat apa yang terjadi pada Inggris. Pada 1966, Inggris berhasil meraih gelar juara dunianya setelah mengalahkan Jerman Barat (kalau aku tak salah ingat) dan salah satu gol yang dibuat Inggris saat itu dianggap kontroversial karena tak jelas apakah benar-benar masuk atau tidak. Dan kali ini, Inggris kembali mengalami dilema masalah gol seperti itu, tapi kali ini yang diuntungkan adalah pihak Jerman. Padahal lewat tayangan ulang jelas-jelas terlihat bahwa gol Lampard mestinya sah karena telah melewati garis gawang usai membentur mistar atas gawang Jerman. Tapi lagi-lagi semua itu telah terjadi. Hasilnya telah ditetapkan, suka ataupun tidak, Inggris akhirnya harus kembali ke tanah airnya dengan menanggung beban berat. Diiringi harapan Inggris akan meraih hasil yang lebih baik di Piala Dunia berikutnya terlebih tim yang berjuluk The Three Lions itu diisi oleh pemain-pemain top dunia yang berkualitas jadi menyakitkan bila Inggris harus terus-terusan menanggung malu seperti itu padahal Inggris selalu menggembar-gemborkan sebagai negara pencipta sepakbola yang telah menghipnotis jutaan penggila olahraga jenis ini.

Karena kejengkelanku atas hasil yang tak menggembirakan dari tiga pertandingan berbeda itu, aku jadi seperti kehilangan soul, dan malas rasanya mengupdate blog. Untungnya akhirnya aku bisa menemukan soul-ku kembali meskipun di GP Inggris kemarin, kedua jagoanku kembali jeblok tapi aku tetap menaruh harapan besar terjadi miracle. Meskipun Michael dan Jenson terus menerus mengalami nasib buruk tapi aku tetap tak bisa mengalihkan pandanganku dari layar tv dan terus berharap bahwa suatu saat nanti miracle benar-benar terjadi, ya siapa tahu akhirnya Michael bisa meraih podium teratas kembali dan Jenson mungkin beruntung bisa finish kedua di belakang Michael. Kenapa begitu? Karena aku tetap menganggap Michael masih jauh lebih hebat dari Button, buktinya Button dengan mobil yang lebih bagus saja tak mampu menyingkirkan Kobayashi. Tapi untuk menjadi juara dunia tahun ini, aku lebih menaruh harapan pada Button daripada Michael mengingat tunggangan Michael jauh lebih payah dibanding pacuannya Jenson.
pic taken from here