Total Tayangan Halaman

Translate

Tampilkan postingan dengan label #NulisRandom2017. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #NulisRandom2017. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Juni 2017

Demi Sebuah Mimpi

Tak ada pesta yang tak berakhir. Tak ada perpisahan tanpa perjumpaan. Tawa mendampingi pertemuan namun tangis acap mengiringi perpisahan. Namun perpisahan tak selalu berarti akhir. Karena garis akhir adalah juga garis awal. 

Tak terasa Juni berakhir. Tantangan menulis random yang awalnya kuikuti secara iseng saja ternyata telah mengikatku menjadi lebih disiplin dalam menulis. Membaca karya teman-teman dalam tantangan ini membuka wawasanku betapa mimpi tak selalu absurd. 

Lega karena nyatanya sampai juga di garis finish, meski terseok-seok dan kerap dikejar-kejar sahabatku yang begitu rutin menulis bahkan saat hari baru saja berganti, ia sudah menyetor tulisan baru. Namun lega ini bercampur rasa aneh dalam hati, mungkin euforia, hingga saat sahabatku mengajakmu untuk tetap menulis setiap hari, kebiasaan yang mulai terbentuk berkat tantangan ini, aku langsung bilang yes, meski di hari-hari mendatang, mungkin kemalasanku kembali datang. 

Mengejar mimpi memang tak mudah seperti syair lagu Hero yang dilantunkan Mariah Carey. "Lord knows dreams are hard to follow, but don't let anyone tear them away. Hold on there will be tomorrow, in time you'll find your way...."

Lewat tantangan ini kebiasaan baru mulai terbentuk. Semoga saja kebiasaan baru ini melekat kuat dalam diriku untuk terus menulis. Seperti Isadora Duncan yang mengabdikan hidup dan matinya untuk terus menari, bahkan tewas secara mengenaskan akibat tercekik syal-nya, namun saat ajal menjelang itu pun ia terlihat seolah tengah menari. 

Tidak, aku tak berharap menemui akhir tragis seperti Isadora Duncan. Namun sejak lama aku berharap bisa mengabdikan hidup dan matiku untuk menulis. Seperti Isadora Duncan yang tak bisa meninggalkan tarian, semoga pula aku memiliki tekad kuat untuk terus membiarkan jemariku menarikan seluruh alam pikirku ke dalam bentuk nyata tulisan.

Kamis, 29 Juni 2017

Tentang Menulis

Tinggal dua hari lagi, kata sahabatku mengingatkan tantangan menulis random ini. Dalam hati lega akhirnya meski terseok-seok, dan kerap diingatkan sahabatku untuk terus menulis dan tidak menyerah, bahkan dilarang mati sebelum bulan Juni ini berakhir, akhirnya hampir sampai di garis finish

Sewaktu pertama kali sahabatku mengabarkan tantangan ini, seperti biasa secara impulsif aku bersemangat, namun seperti balon yang ditiup ngos-ngos-an, sekejap pula semangat itu mengempis. Tapi seperti biasa, sahabatku seperti seorang sais pedati, memecutku untuk kembali menggerakkan langkah. 

Aku sendiri tak mengira bisa sampai sejauh ini. Mengingat biasanya meski sangat suka menulis, namun aku suka menggantung tugas, sampai-sampai sahabatku kerap gemas menunggu novelku yang tak pernah usai. Dia bahkan pernah meledekku, jangan-jangan aku keburu mati sebelum menyelesaikan novelku seperti Suzue Miuchi, penulis komik Topeng Kaca yang membuatku gemas karena sampai sekarang belum ada kelanjutan ceritanya padahal belum ada kata The End, diduga penulisnya keburu meninggal. 

Rasanya aku pernah mendengar istilah Pengarang sudah mati. Entah apa maksudnya. Tapi menurutku seperti phoenix yang membakar diri demi keabadian, begitulah seorang penulis. Berharap mencapai keabadian lewat tokoh-tokoh ciptaannya. Seperti seorang ibu, mungkin ada penulis yang dengan mudah melahirkan bayinya (karakter ciptaannya) secara normal namun tak sedikit pula rasanya pengarang yang mungkin menahan sakit dan terpaksa melahirkan "bayinya" secara caesar. 

Seperti pernah kusampaikan, bagiku penulis itu seperti penderita schizophrenia di mana pikirannya begitu penuh dan kerap terlalu asyik dengan dunianya seperti anak autis. Tapi penulis memang profesi menyedihkan pula, sebenarnya. Meski alam pikirannya demikian bising dengan percakapan berbagai tokoh-tokoh imajinatif-nya, namun si penulis tetap saja seorang diri menyusuri jalan sunyi, menjadikan tokoh imajinasinya sebagai pribadi nyata, mengosongkan pikirannya dan mengalihkannya ke atas kertas putih. Mengupas setiap lapisan kulit emosinya. Tidak membiarkan emosi pribadinya terlibat tapi tetap perlu meletakkan emosi dalam ceritanya. 

Kembali ke soal sahabatku dan kegeramannya pada ketidakdisiplinanku menulis. Rasanya pernah dia meledekku, atau mungkin aku yang meledek diri sendiri, entahlah ingatan ini terlalu samar, dan mengatakan jangan-jangan saat menjadi hantu aku justru bisa jauh lebih baik dalam bercerita dan mampu menyelesaikan novelku.

Ah... sudahlah... menulis adalah soal rasa dan rasanya cukup ini sajalah dulu yang kutulis di hari ke dua puluh sembilan di bulan Juni iniπŸ˜‰

Rabu, 28 Juni 2017

Bahasa....

Beberapa minggu lalu saat tengah menghadiri misa, tak biasanya konsentrasiku terpecah oleh percakapan dua orang di sebelahku. Bukan bermaksud ingin menguping, karena nyatanya percakapan dua orang di sebelahku itu memang tak kupahami bahasanya. Ya, mereka bercakap-cakap entah menggunakan bahasa dari belahan bumi bagian mana. Bahasa mereka sangat asing sekaligus menarik minat sensor syaraf telingaku.

Entah mengapa, sensor dalam syaraf telingaku memang mudah tertarik saat mendengar bahasa asing yang tak kukenal. Saat kecil aku malah pernah bermimpi bisa menguasai berbagai bahasa asing dari berbagai negara. Lagi-lagi, namanya mimpi, tak selalu menjadi nyata. 

Aku memang sangat tertarik pada bahasa. Bagiku bahasa adalah sebuah tanda peradabaan manusia. Setiap makhluk hidup memang memiliki cara berkomunikasi masing-masing. Bahkan ikan pesut di Gelanggang Samudra Ancol pasti memiliki gaya komunikasi dalam komunitasnya. Bahkan pepohonanpun pasti memiliki cara berkomunikasi dengan kaumnya, mungkin lewat gesekan angin atau entahlah, aku bukan pakar botani. 

Namun berbeda dengan makhluk lainnya, hanya manusia sebagai makhluk termulia dari seluruh ciptaan di bumi yang memiliki bahasa sebagai lambang peradabannya. 

Seperti makhluk hidup yang tumbuh dan berkembang, demikian pula dengan bahasa. Bahasa sangat unik. Bukan benda cair namun kerap mampu mencairkan kebekuan suasana. Tak memiliki lidah api namun mampu membakar hati bahkan hutan seluas amazon. Tak berwujud namun mampu menggerakkan seorang pemalas sekalipun. 

Bahasa sekalipun tak memiliki rupa namun selalu berkembang. Selalu mengalami pembaharuan seiring perkembangan jaman. Abadi bersama masa. 

Kembali ke soal perbincangan dua orang di sebelahku. Alhasil bukan saja memecah konsentrasiku, mereka juga telah menggelitik rasa penasaranku. Belum sempat aku bertanya bahasa apa yang mereka gunakan, namun mereka sudah terlebih dulu pergi bahkan sebelum iring-iringan pastor bergerak keluar. Ah... akhirnya aku menundukkan doa sebelum pulang sambil otakku terus berputar mengira-ngira asal bahasa yang mereka gunakan tadi.

Selasa, 27 Juni 2017

Bukan Cerita Horor

Seorang temanku kerap mengatakan rumah ayahnya berhantu. Katanya, terkadang ia suka mendengar suara keran menyala padahal tak ada orang di dapur. Lain waktu ia bilang merasa seolah ada yang tengah memandanginya namun tak ada siapapun selain dirinya.

Terkadang pula seolah ia anak indigo yang punya indra keenam mengatakan rumahku berhantu. Ia bilang ada sesuatu di dapurku, padahal sebelum aku menempati rumahku ini, saat tengah melihat-lihat rumah, ia meyakinkanku bahwa rumah ini terasa menyenangkan sehingga aku yakin dan akhirnya memutuskan untuk menyewa rumah yang kini kutempati ini. Karena itu mendengarnya kini mengatakan bahwa ia sudah merasakan aura negatif sejak pertama kali masuk ke dalam rumah ini membuatku ingin melemparnya ke dalam panci penuh sup mendidih. 

Lain waktu ia menceritakan soal rumah-rumah yang ditempatinya sebelumnya yang hampir semuanya berhantu. Awalnya aku terkesan dengan ceritanya seperti kisah dalam film horror, namun lama kelamaan aku mulai berpikir tidakkah ini semacam halusinasi pikiran?

Mungkin benar bahwa rumah-rumahnya berhantu mengingat ia bukan pembohong jadi kurasa ceritanya memang benar, namun terkadang pikiran kita-lah yang membohongi. 

Aku memang penakut tapi entah mengapa, kisah berulang yang diceritakan berkali-kali ini membuatku tak lagi takut, sebaliknya jenuh dan merasa jangan-jangan kisah-kisah horror yang dialaminya itu memang merupakan halusinasi pikirannya. 

Aku sendiri terkadang merasa seperti mendengar suara keran di kamar mandi meski saat dicek tak ada apapun di sana. Lain waktu aku mendengar pula suara seperti siulan dari ketel penuh air mendidih, namun lagi-lagi saat aku ke dapur, komporku tak ada satupun yang menyala dan tak ada ketel yang tengah menjerang air.

Ah, aku memang bukanlah ahli soal otak macam dokter imajinatif, Derek Shepherd yang keren dan pintar dalam serial Grey's Anatomy, tapi aku merasa bahwa aku dan temanku bukanlah satu-satunya manusia di bumi ini yang pernah dipecundangi otak kami. 

Aku juga bukan ahli metafisika yang mampu menjelaskan secara ilmiah bagaimana bisa fenomena seolah mendengar hal yang tak ada ini terasa nyata, bisa terjadi. Aku hanya bisa menganggap seluruh pengalaman bagai film horor ini adalah bentuk halusinasi otak, yang memang tak mampu kujelaskan secara ilmiah namun inilah penjelasan yang membuatku tetap mampu berpikir waras tanpa rela ditakut-takuti oleh pikiranku sendiri. 

Satu-satunya peganganku soal ini hanyalah sebuah kutipan lama dari John Milton: “The mind is its own place and in itself can make a heaven of hell or a hell of heaven.”

Senin, 26 Juni 2017

Topeng

Orang dewasa itu menakutkan. Begitu pemikiranku saat kecil dulu. Seperti Peter Pan yang tak ingin menjadi dewasa, begitulah harapanku saat kecil. Aku takut menjadi orang dewasa.

Menurutku saat kecil dulu, orang dewasa memiliki banyak topeng. Hanya beberapa orang dewasa yang menurutku memiliki ketulusan tanpa lapisan topeng, seperti ibuku yang lebih suka to the point, wajahnya akan memperlihatkan apa yang dikandung hatinya. Ia takkan mampu bersifat munafik dengan memasang wajah senyum pada orang yang jelas-jelas ia tahu mengarahkan pisau ke jantungnya. 

Aku menyukai ketulusan ibuku ini namun nyatanya aku pun tak mampu menampilkan warna wajah segamblang ibuku. Setelah dewasa, apa yang kubenci justru kulakukan pula. Seperti orang dewasa lain aku harus pula mengenakan berbagai macam topeng itu. 

Kemunafikan versus sopan santun. Demi alasan sopan santun kerap orang dewasa mengenakan topeng kemunafikan itu. Sebagai contoh, saat menghadapi atasan, tak peduli seberapa busuknya sikap seorang atasan, demi kenyamanan posisi dalam pekerjaan, dipakailah topeng penuh senyum dengan bibir penuh puja-puji kepalsuan. 

Lain waktu saat bertemu dengan orang yang sangat menyebalkan sekalipun, tak elok katanya bila wajah kita menyiratkan apa yang ada di hati. Anehnya justru kepalsuan dan kemunafikan inilah yang menjadi norma dalam masyarakat.

Atas nama sopan santun itu, justru sikap apa adanya dianggap sebagai tingkah tak beradab. Bibir yang nyata-nyata menyerukan penyimpangan seringkali dianggap tak beretika. Sementara bibir dan wajah bertopeng penuh kepalsuan malah mendapat pujian sebagai sikap beradab dan penuh sopan santun. 

Ah... tak ada lagi rasanya kata yang mampu kuucapkan, meski hati mendidih penuh sumpah serapah yang siap meletup keluar, namun atas nama tata krama dan sopan santun, tetaplah topeng senyum penuh kepalsuan itu yang dianggap pantas untuk dikenakan dan menelan seluruh sumpah serapah itu dan membiarkannya meletus dalam perut sendiri.

Minggu, 25 Juni 2017

Takut

Waktu kecil pernah salah seorang tanteku menakuti menggunakan topeng. Saat itu aku tengah bermain bersama abang dan adik-adikku serta seorang sepupu ketika tiba-tiba masuk seorang dewasa dengan wajah menyeramkan. Kami semua berhamburan lari, kuingat abangku berlari sambil tertawa sementara adik-adikku menjerit-jerit. Aku juga ikut lari ketakutan namun tak berhasil menemukan tempat bersembunyi, alih-alih malah tertangkap makhluk mengerikan itu.

Aku masih ingat tubuhku yang gemetar ketakutan, jantungku seolah berhenti berdetak dan bibirku terus berkomat-kamit mengatakan, "kiamat... kiamat...." Entah, mengapa aku berkata demikian dan darimana kudengar kata itu, namun aku ingat dengan jelas, waktu kecil dulu, setiap kali ada sesuatu yang membuatku gemetar ketakutan, kata pertama yang melintas dalam benakku adalah kiamat. 

Saat tanteku menyadari aku gemetar ketakutan, ia memeluk untuk menenangkanku namun tubuhku justru bergetar lebih kencang dan mulutku berkomat-kamit tak henti menyerukan, "Kiamat... kiamat..."

Tanteku mungkin takut aku terkena serangan jantung seperti ayahku yang tewas akibat serangan jantung. Sehingga alih-alih tertawa karena berhasil menakuti bocah-bocah, tanteku mulai panik melihatku yang seperti orang sesak nafas.

Seiring waktu, mungkin karena pertambahan usia juga perkembangan olah daya pikir dan nalar, ketakutanku memiliki bentuk lain. Aku juga tak lagi selalu mengatakan kiamat bila mengalami suatu kejadian mengerikan. Meski bayangan soal kiamat memang tetap menimbulkan getar ketakutan dalam hatiku. 

Perjalanan waktu membawaku melewati banyak kiamat-kiamat kecil. Kematian ayahku yang meski saat itu belum terlalu kupahami mendalam, namun meninggalkan kehilangan yang sampai kini masih sukar kulukiskan. Pun saat keponakanku, putra pertama adik perempuanku yang hanya sempat beberapa menit saja merasakan udara kehidupan meninggalkan suatu kisah sedih lain dalam hidup. Terakhir, kematian nenekku pada Oktober tahun lalu. Kepergian yang tiba-tiba itu hingga kini masih bukan hanya meninggalkan luka dan kesedihan tapi menegaskan betapa misteriusnya sang waktu. Bila dihitung kenangan yang terukir, tiga puluh tahun kurasakan keberadaan nenekku tapi nyatanya betapa singkatnya waktu kurasakan bersama nenek. 

Sama seperti ketakutanku yang meski mampu kurasakan, membuat tubuhku bergetar ketakutan namun tetap saja ketakutan itu tak memiliki rupa, begitulah juga dengan waktu. Hadir nyata, berjalan beriringan bersama sepanjang hidup namun anehnya ia tetap misterius. Tak memiliki rupa. Namun kini, dalam usia yang bertambah seiring perjalanan waktu yang panjang, seringkali aku justru mendapat kekuatan lewat ketakutan-ketakutanku.

Sabtu, 24 Juni 2017

Filosofi Bubur

Memasak bubur sebenarnya tidaklah sulit. Hanya perlu mendidihkan air, cuci beras lalu masukkan beras yang sudah dicuci ke dalam panci air tersebut, sesekali diaduk lalu tambahkan air bila rebusan beras dalam panci sudah mulai mengering. 

Bukan perkara sulit memang namun perlu sedikit ketelatenan dan kesabaran. Bayangkan saja, demi mengubah rebusan beras itu menjadi bubur, mesti menggunakan api kecil hingga sedang. Bila nyala api terlalu besar, bisa hangus. Selain itu juga harus rajin-rajin mengaduk rebusan beras itu hingga menjadi bubur demi menghindari adanya kerak setebal kerak bumi di dasar panci.

Memasak bubur tak ubahnya menikmati proses dalam kehidupan. 

Terkadang pergerakan hidup terasa demikian cepat seperti saat memasak dengan menggunakan api besar namun tak jarang pula hidup mengalir dengan lambat bagai tengah dimasak menggunakan api kecil. 

Dalam semangkuk bubur ada berbagai pelengkap demi menciptakan rasa sedap di lidah. Kecap asin, kecap manis, ayam, cakwe, kerupuk, sambal. Wah... enak sekali. Tidakkah hiduppun seperti itu. Sebagai makhluk sosial, manusia tak mampu hidup sendiri. Ada banyak pelengkap yang membuat hidup terasa indah. Ada keluarga, hadiah pertama dari Tuhan, lalu setelah besar kita memiliki teman, sahabat, kerabat, pekerjaan atau karir yang kesemuanya turut membentuk dan mewarnai jalan hidup kita. 

Seperti saat memasak bubur yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan, begitu pun dengan proses perjalanan hidup. Jalan pintas mungkin bisa membawa kita mencapai tujuan kita secara cepat, tapi seperti menggunakan api besar yang membuat bubur jadi hangus, begitu pun jalan pintas yang kita gunakan. Mungkin lewat jalan pintas itu kita bisa mencapai tujuan lebih cepat, tapi jalan pintas itu bisa jadi menjadi awal kehancuran. 

Kesabaran dan ketelatenan dalam memasak bubur bagiku juga merupakan kunci dalam proses hidupku. Walau jalan hidupku tak jarang melalui kerikil dan jalan berliku, namun ingin kunikmati setiap proses ini hingga aku mencapai garis akhir. Seperti rasa puas mendapatkan bubur dengan rasa yang pas dan aroma menggugah selera berkat ketelatenan dan kesabaran dalam memasaknya, demikian pun kuharap mampu menjalani proses kehidupan ini dengan kesabaran dan ketelatenan seperti saat memasak bubur.

Jumat, 23 Juni 2017

Mencintai Buku

A good book on your shelf is a friend that turns its back on you and remains a friend. ~Author Unknown

Kecintaanku pada buku dimulai... ketika terlintas dalam benakku, aku tak tahu pasti kapan tepatnya aku begitu gemar menyesatkan diri dalam buku. 

Mungkin kecintaanku pada buku dimulai dari Lima Sekawan-nya Enid Blyton. Tak ingat tepat petualangan mana yang waktu itu kubaca, hanya saja begitu melembari halaman pertama, begitu saja aku terhanyut dan tak pernah terpuaskan rasa laparku akan bacaan.

Sejak itulah aku selalu melahap berbagai macam bacaan. Buku telah membawaku melanglang buana berbagai benua dan terbang ke banyak negara tanpa perlu berada dalam pesawat terbang. Buku pula yang membawaku melewati segala batas imaji. 

Lewat buku aku mengenal dunia. Lewat buku pula aku belajar soal kehidupan. Buku adalah teman pertamaku sekaligus teman sejatiku hingga kini. Jadi bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta pada buku?

Kamis, 22 Juni 2017

Tersesat...

Tersesat tidaklah menyenangkan. Merasa tersesat jauh lebih tidak menyenangkan. Tapi tersesat tak selalu menyebalkan. Bisa jadi pengalaman tersesat menjadi petualangan mengesankan. Semua hanya soal cara pandang kita dalam menyikapi sebuah kejadian.

Sejak sekolah, aku kerap mencoba naik bis jurusan yang tak kukenal. Meski hati berdebar, khawatir dengan wilayah yang tak dikenal, sedikit jengkel namun saat kucoba mengalihkan ke sekitar, sok-sok-an menjadi ahli pembaca wajah, melihat wajah-wajah asing seraya membayangkan warna yang tersirat dari wajahnya, membuat kisah imajinatif dalam benakku. Memberikan nama khayalan baginya sebagai tokoh dari kisah dalam benakku.

Namun lebih dari tersesat dalam arti nyata, aku lebih suka tersesat dalam buku. Seperti yang dikatakan Bung Hatta, "Aku rela dipenjara, asalkan bersama buku." Bukan berarti aku ingin hidup dalam bui. Namun aku rela terpenjara di dalam buku. Menyelami setiap kisah yang kubaca. Merasakan apa yang dirasakan sang tokoh. 

Ah, membicarakan kecintaanku pada buku rasanya takkan pernah cukup waktu bagiku untuk mengungkapkannya. Mungkin esok akan kugali lebih lagi kerelaan dan keikhlasanku untuk tersesat dalam buku.

Rabu, 21 Juni 2017

Emoticon

Emoticon. Dalam berkomunikasi di dunia maya, aku suka sekali menggunakan emoticon yang memiliki banyak sekali ekspresi. Mulai dari hanya sekedar meneteskan air mata, menangis, tersedu, meringis, menyeringai, tersenyum hingga tertawa. 

Emoticon terkadang mengungkapkan lebih banyak dari sekadar kata-kata. Tak jarang kata yang terketik menimbulkan salah tafsir pada si penerima pesan, namun dengan keberadaan emoticon, bisa saja kesalahpahaman itu terminimalisir. 

Selama ini aku masih penasaran mengapa namanya emoticon? Setahuku emoticon gabungan kata antara emosi dan icon (dalam kamus bahasa Inggris artinya patung/gambar orang suci). Emosi terkadang mengacu pada luapan perasaan seseorang. Dalam hal ini penggalan emot dari kata emoticon bisa jadi tepat, namun gambar-gambar lucu dalam emoticon lebih mengungkapkan ekspresi dibanding emosi. Soal kata icon, engganlah aku berkomentar, toh bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu jadi bisa saja salah penafsiran dalam kamus bahasa Inggrisku yang minim. Jadi aku hanya berani mencermati soal emosi itu saja. Ah, aku tak bermaksud meributkan hal sepele ini. Apapun namanya. Aku suka dengan adanya emoticon yang lebih mampu mengungkapkan banyak kata dibanding kata itu sendiri. 

Saat ada kata yang tak mampu kuungkapkan, maka saat itulah kurasa kububuhkan emoticon untuk menyampaikan rasaku:)

Selasa, 20 Juni 2017

Lorong Gelap Tak Berujung

Setiap kali pikiran kosong tidak tahu apa yang ingin ditulis, dalam benakku selalu muncul kalimat lorong gelap tak berujung. Entah mengapa sel-sel kelabuku suka sekali dengan ungkapan ini. Mungkin karena aku selalu menganggap perjalanan hidup seperti melangkah dalam lorong gelap tak berujung mencari setitik cahaya yang terkadang berpijar terang namun tak jarang terlihat redup. 

Bukankah hidup itu memang penuh ketidakpastian? Bagai lorong gelap tak berujung. Meski kita menyadari ujung dari kehidupan adalah kematian namun tetap tak ada yang mampu mengungkap misterinya. Bagaimana kematian itu datang menjemput? Bilamana ia menyapa? Mungkin ada tapi tak semua orang mendapat keistimewaan untuk memilih tempat ideal saat bertemu dengan malaikat maut itu. 

Bagaimanapun kematian adalah soal lain. Walau kematian beririsan dengan kehidupan, namun kematian adalah sang gelap, pesimistis dan menguarkan aroma negatif. Sedangkan kehidupan adalah sang terang, penyebar semangat optimistis penuh aura positif. Meski begitu keduanya tetaplah memiliki misteri yang tak mampu terselami. 

Hidup menawarkan harapan sementara kematian akhir dari harapan. Meski tak sedikit yang mengatakan bahwa kematian adalah awal dari sebuah perjalanan baru. Perjalanan menuju keabadian. 

Lorong gelap tak berujung bagiku memang tak selalu berkonotasi dengan soal kehidupan atau kematian. Lorong gelap tak berujung dalam benakku seringkali artinya ketakmampuanku menemukan sinar di antara belantara hutan negeri kata. Bukan soal tersesat, karena aku lebih suka tersesat di negeri kata. Karena di negeri ini aku bebas melarikan pikiran abstrakku. Hanya di negeri kata, mimpi paling aneh pun bisa menjadi kisah indah. 

Masalahnya sebelum mencapai negeri kata, aku kerap tersesat dalam lorong gelap tak berujung.

Senin, 19 Juni 2017

Daun Musim Kemarau

daun musim kemarau
di atas batu temaram bulan
memudar warna langit malam
melagukan syair nyanyian bisu

daun musim kemarau
meranggas di antara kemilau
cahaya lampu kota tertusuk
nadi telaga warna

daun musim kemarau
menanti
hingga masa
yang tak terganti

Minggu, 18 Juni 2017

Elegi Pagi

Malam pernah begitu mempesonaku...

Aku benci pagi yang penuh ketidakpastian. Pagi yang tak menawarkan kenyamanan selain kehangatan sinar mentari muda yang menyilaukan saat telah mencapai puncak kekuasaannya di siang yang terik. 

Pagi pernah menjadi teror bagiku. Mimpi buruk yang selalu kualami dengan mata terjaga. Ketakutan tanpa bentuk yang hanya kurasa dalam rupa kecemasan mencekam dan berharap gelap kan kembali menyapa

Rembang petang membawa harapan. Aku nyaman bersembunyi dalam gelap walau tak sepenuhnya pekat. Malam mencipta misteri namun menawarkan kenyamanan. Membuaiku hingga terlelap dan berharap pagi tak pernah datang...

Namun pagi selalu datang dalam rupa dan bentuk yang sama. Menawarkan teror yang sama dan mencipta kecemasan yang nyaris serupa. Dengan harapan yang sama. 

Pagi bagai deja vu yang melelahkan.... 

Hanya saja sesuatu telah berubah. Entah apa, namun pagi tak lagi menakutkan. Pagi tak sepenuhnya teror. Kecemasan tanpa rupa itu masih kerap mengendap menyusup namun perlahan terkikis sinar lembut mentari muda yang tak pernah lelah merayap di ufuk timur mengumpulkan bentuk dan energinya demi mengukuhkan otoritasnya atas siang namun dalam puncak kekuasaannya pun, ia rela mengundurkan diri, membiarkan sinarnya meredup saat petang menyapa, menyerahkan kekuasaannya dalam kedamaian malam. Bergulir ke arah barat, bersembunyi sesaat di balik peraduannya, untuk kembali menyapa di ujung timur. 

Aku masih mencinta malam namun pagi tak lagi mencipta teror. Pagi menawarkan harapan yang terbentuk dalam mimpi di saat malam. 

Pagi masih menawarkan ketidakpastian dan malam masih mempesona sementara roda waktu terus bergulir, melindas kejam mereka yang tak mampu mengikuti geraknya namun begitu lembut pada siapapun yang mampu merangkulnya.

Sabtu, 17 Juni 2017

A Day To Be Remembered

Hari ini mungkin merupakan hari teraneh dalam hidupku. Teman-temanku begitu khawatir ketika kukabarkan perusahaan tempatku bekerja bangkrut dan kini aku officially jadi pengangguran, namun anehnya aku malah merasa tenang saja. Entahlah, aku tak tahu bagaimana hari esok, namun aku sudah lama belajar berpasrah menyerahkan hidup sepenuhnya dalam perencanaan Tuhan, Sang Pencipta. 

Mungkin karena issue kebangkrutan ini sudah lama berhembus, hingga membuatku sudah siap mental, namun sebenarnya dibilang siap mental pun, rasanya tidak. Hanya saja aku merasa apa yang harus terjadi pasti akan terjadi. 

Peristiwa kebangkrutan perusahaan tempat kerjaku ini membuatku teringat pada sebuah kisah mitologi tentang burung phoenix yang membakar diri demi sebuah keabadian. Atau apalah ceritanya, aku sedikit lupa.

Ada rasa pedih saat melihat teman-teman kerjaku yang selama ini suka bersenda gurau. Ada yang terlihat tegar, namun tak sedikit yang tak kuasa menahan tangis. Aku bahkan tak kuasa menahan tangis saat temanku yang baru saja mengalami musibah, suaminya kecelakaan, menangis begitu rupa saat bersalaman dan memelukku. Kuelus bahunya menghiburnya sekaligus menghibur diriku. Memintanya bersabar dan tabah sekaligus juga mengingatkan diriku untuk tabah dan tawakal.

Hidup memang bagai roda pedati. Kita tak pernah tahu kisah apa yang akan menyambut di depan. Aku telah menjalani berbagai macam peristiwa yang membentukku menjadi pribadi seperti saat ini. Kuyakin lewat fase ini pun, aku akan menemukan sebuah hikmah tersendiri. Suatu hari saat tua nanti, hari ini pun akan menjadi kenangan yang akan menimbulkan perasaan campur aduk dalam hatiku.

Aku teringat akan perkataan guru agamaku dulu: Telinga Tuhan mungkin tak cukup tajam untuk mendengar, namun tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menolong. Pertolongan Tuhan selalu datang tepat pada waktunya.

In God I trust, itu keyakinanku sejak kecil. Aku tak pernah hilang keyakinan bahwa dalam setiap perkara Tuhan selalu bekerja untuk mendatangkan kebaikan. Bagi kawan-kawan sekerjaku, terima kasih telah menjadi teman yang menyenangkan. Teman berdiskusi hingga tak jarang seperti bocah yang suka bertengkar memperebutkan mainan. Aku akan merindukan saat-saat berdiskusi itu. Saat-saat saling mempertahankaan argumen tapi tak jarang kita menemukan titik temu dalam perdebatan kita. 

Malam sudah menjelang, namun seperti yang selama ini kuyakini, gelap malam tak selamanya bertahta, esok, terang pagi akan kembali datang membawa cahaya baru. Ini hanyalah satu fase yang mewarnai jalan hidupku.

Kamis, 15 Juni 2017

Cita-cita....

Suatu kali, dalam sebuah pembicaraan, seorang temanku bertanya, apa cita-cita pertamaku. Aku tersenyum bodoh karena ingat waktu kecil, cita-citaku terlalu konyol. Ingin menjadi tukang gado-gado hanya karena supaya bisa puas makan gado-gado. Tapi enggan kuakui ini di depan teman-temanku, karena kuanggap itu bukanlah cita-cita, hanya pemikiran polos seorang bocah yang belum tahu apa arti cita-cita.

Sewaktu kecil setelah sudah mengenal huruf dan angka, aku bercita-cita menjadi guru. Seperti anak-anak pada umumnya, alasanku menjadi guru karena terpesona dengan posisi guru sebagai pusat perhatian di dalam kelas. 

Seiring waktu alasanku memiliki bentuk yang lebih rasional dibanding hanya ingin menjadi pusat perhatian dalam kelas. Aku ingat bagaimana perasaanku saat pertama kali belajar membaca. Sejak mengenal huruf dan mulai bisa mengeja, aku begitu haus akan bacaan. Setiap kertas yang ada tulisannya pasti langsung ku-eja huruf demi hurufnya. Bahkan demi membuatku lancar membaca, ibuku mengkliping cerita bergambar Doyok yang rutin terbit di harian Pos Kota, kalau aku tak salah ingat. 

Nah, perasaan inilah yang ingin rasanya kutularkan ke anak-anak didikku nantinya. Dengan membaca kita bisa mengenal dunia luas. Raga kita mungkin tak bergerak, tapi jiwa dan alam pikir kita berkelana melintasi benua dan samudra. Dengan membaca, kita sudah separuh menguasai dunia. Itulah perasaanku waktu itu. 

Saat SMP ketika membaca kisah Audrey Hepburn yang di masa tuanya membaktikan hidupnya sebagai sukarelawan di Afrika, muncul impian dalam hatiku untuk menjadi guru di pedalaman Papua.

Seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya yang mudah sekali berubah pikiran, demikian pula denganku. Cita-citaku mulai berubah lagi saat membaca novel Rage Of Angel (Malaikat Keadilan)-nya Sidney Sheldon. Aku ingin menjadi pengacara. 

Namun angan dan cita tak selalu jadi nyata.

Rabu, 14 Juni 2017

TDL Naik Untuk Siapa?

Masih soal kenaikan tarif listrik nih. Aku termasuk kelompok yang menentang kenaikan tarif listrik tapi bukan berarti tak mau berbagi dengan saudara-saudara di Papua seperti sindiran teman-teman pendukung kenaikan TDL. Bagiku pembelaan kelompok yang setuju kenaikan ini dengan menjual issue pembangunan di Papua ini (sorry to say) super bullshit.

Bagiku promosi pembelaan PLN menaikkan TDL dengan alasan demi memberikan saudara-saudara kita yang tinggal di pedalaman dan daerah terpencil seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur tak ubahnya propaganda Nazi Jerman yang membenarkan aksi fasis Hitler. 

Aku tak keberatan bila benar kenaikan TDL demi masyarakat di daerah pedalaman bisa mendapat kesejahteraan setara di Pulau Jawa, masalahnya kenaikan TDL yang dilakukan PLN bagiku lebih karena ketidakmampuan Perusahaan Listrik Negara mengatasi inefisiensi biaya internal-nya. 

Bukankah seperti yang pernah dikemukakan Sofyan Basyir, Dirut PLN dalam rapat bersama Komisi VII DPR pada medio Oktober tahun lalu, PLN kesulitan karena harga bahan bakar seperti batu bara dari Bukit Asam juga gas yang dibeli dari Pertamina dan Perusahaan Gas Negara kelewat mahal? Bahkan katanya perusahaan-perusahaan BUMN ini menjual harga bahan bakar yang lebih murah kepada pihak swasta ketimbang ke PLN. Jadi letak permasalahan keuangan PLN adalah ketidakadilan "saudara-saudaranya" dalam memberikan harga sehingga imbasnya rakyat harus membayar listrik lebih mahal. Jelas dilihat dari kacamata ini, kenaikan harga listrik bukan semata-mata demi memberikan listrik kepada saudara-saudaraku di Papua namun lebih pada kesulitan keuangan PLN yang terbebani oleh harga bahan bakar yang mahal ini.

Sekarang coba kita berandai-andai saja, bila "saudara-saudara" PLN ini tidak bertindak kejam dan memberikan harga bahan bakar semurah yang diberikannya pada pihak swasta, tidakkah keuangan PLN bisa lebih sehat sehingga tak lagi membebankan tarif listrik mahal pada rakyat demi mencapai surplus neraca keuangannya? 

Promosi gencar pembenaran PLN atas tindakannya menaikkan TDL ini sama seperti aksi pemerintah sebelumnya saat menaikkan harga bahan bakar. Waktu itu digemborkan opini bahwa harga bensin di Indonesia masih jauh lebih murah dibandingkan harga segelas air mineral di Singapura. Temanku menyetujui opini ini sementara aku langsung mendelik mendengar jawaban yang membodohi macam ini. Hellow? Apa tidak salah membuat perbandingan macam ini? Bukankah Singapura memang tak memiliki sumber air minum sehingga harus mengimpor air dari negeri tetangganya, Malaysia? Jadi tentu tak heran bila harga air mineral di Singapura sangat mahal. Menurut mantan bosku yang pernah ke sana, di sini kita masih bisa menikmati secangkir kopi sambil membaca koran, sementara di negeri Singa ini, membeli koran saja, rasanya ia sayang merogoh koceknya karena mahal. 

Bahkan aku pernah membaca anak-anak TK di Singapura diajarkan cinta tanah air dengan cara menghemat penggunaan air karena penggunaan air secara boros tentu memberatkan keuangan negara. 

Jadi membandingkan harga bensin di Indonesia dengan harga air mineral di Singapura ini menurutku bukan hanya tak tepat bahkan kuanggap konyol. Mengapa? Pertama karena Singapura untuk mendapatkan air saja harus import dari tetangganya. Kedua, Singapura dari yang pernah kubaca tak memiliki sumber daya alam sekaya kita. Lantas mengapa pemerintah waktu itu tak membandingkan harga bahan bakar di sini dengan harga di Malaysia yang juga memiliki sumber daya bahan bakar? Sumber daya bahan bakar Indonesia lebih besar dari Malaysia tapi coba perhatikan seberapa besar perbedaan harga di sini dengan negara jiran itu?

Kembali ke soal TDL. Beberapa pembela kenaikan TDL bahkan secara sinis menyindir dengan mengatakan: bisa punya ponsel, tv, kulkas tapi kenapa listrik naik malah protes? 

Menurutku sindiran seperti ini sangat lucu. Ponsel sekarang memiliki banyak variasi segmen yang juga berpengaruh pada harga. Sebuah ponsel android bagi segmen kalangan bawah bahkan ada yang harganya enam ratus rupiah alias tidak sampai satu juta, dibeli saat dapat THR pula. Dan soal kulkas, sepertinya benda pendingin makanan ini bukan lagi barang mewah. Seperti kenalanku membelinya dari barang loakan dengan harga dua-tiga ratus ribu, diperbaiki (karena kebetulan otaknya seperti Mcgyver) lagi-lagi harganya tak sampai jutaan. Tivi yang dimilikinya tivi tabung, pernah punya tivi flat (yang dibelinya lagi-lagi dari penjual rongsokan, harganya bahkan tak mencapai ratusan ribu, lantas diperbaiki) tapi kemudian dia jual karena sedang kepepet uang. Nah, dia adalah konsumen listrik dengan daya 900VA. Kenaikan TDL kali ini memang menyasar kelompok pengguna 450VA dan 900VA ditambahi janji bahwa masyarakat tak mampu akan tetap mendapat subsidi. Lantas apakah yang akan mendapat subsidi nanti benar-benar masyarakat tak mampu? Barometer apakah yang akan digunakan untuk menentukan kelompok mampu dan tak mampu? Dengan menggunakan data dari mana pula? Akuratkah data yang akan digunakan itu? 

Aku sendiri konsumen kelompok 1300VA, tapi aku ikut menentang karena besaran kenaikan TDL menurutku amat keterlaluan. Tak masalah jika mendukung dasar yang dikemukakan PLN menaikkan TDL demi memberikan listrik bagi rakyat di Papua dan daerah-daerah lain yang lama tak mendapat pasokan listrik. Namun jangan pula mengabaikan empati terhadap konsumen pengguna 450-900VA yang pasti akan makin kesulitan mengatasi beban hidupnya bila tarif dasar listrik mengalami kenaikan super tinggi kali ini. Aku sendiri merasa PLN memiliki kewajiban menyediakan listrik ke seluruh pelosok negeri dengan harga masuk akal yang tak mencekik leher. 

Bila menilik hati secara jujur, kenaikan harga listrik ini untuk siapa sih? Apa benar semata-mata demi memberikan listrik bagi daerah yang lama tak mendapat pasokan listrik? Ataukah hanya sekadar alasan PLN yang tak lagi sanggup menanggung beban inefisiensi? Tidakkah lebih bijak mengatasi persoalan yang kedua. Bila ini terselesaikan, rasanya seluruh nusantara akan terang benderang dialiri listrik. Dengan harga rasional pula.

Selasa, 13 Juni 2017

Hujan Di Bulan Juni

Ini bukanlah soal puisi atau novel Sapardi Djoko Damono. Juga bukan bermaksud meniru maupun menyontek tulisan sang maestro kata yang memang kukagumi itu. Aku tak ingin melakukan plagiarisme. Judul ini mendadak saja muncul di benakku begitu titik pertama hujan jatuh berderai di tengah kemarau ini. 

Ah, lega rasanya begitu mendengar tetes hujan turun membasahi tanah kemarau yang kering. 

Sudah berhari-hari panas terasa begitu menyengat dari ubun-ubun hingga ke mata kaki. Sambil kipas-kipas cari angin, mulut merapal berharap hujan segera datang. Tak dinyana akhirnya hujan benar-benar datang juga.

Di saat kemarau seperti ini, curahan hujan yang turun benar-benar terasa bagai berkat dari langit. Panas yang berhari-hari mengendap langsung menguap dibasahi tetesan air hujan yang malam ini turun deras sekali. 

Padahal saat musim hujan, aku begitu merutuk bila hujan turun berhari-hari. Hati selalu berdebar tak karuan di saat curah hujan mencapai puncak tertinggi, khawatir banjir melanda. Di saat seperti itu, aku menatap langit yang kerap diliputi awan kelabu sambil mulut merapal berharap matahari segera bersinar dan angin berhembus kencang membawa awan-awan kelabu yang dipenuhi kantong-kantong air. 

Di saat itu aku berharap musim kemarau segera datang.

Ketika banjir menggenang, kupikir rasanya aku lebih bisa menahan panas terik dibanding menghadapi banjir yang menyesakkan. 

Nyatanya saat kemarau seperti saat ini, ketika berhari-hari kepala serasa hampir pecah akibat panas yang menyengat dan tubuh sering kuyup bermandi keringat, hujan yang turun terasa begitu nikmat. 

Ibuku bilang ini tanda orang yang tak pernah puas. Benarkah? Tapi ini hal yang manusiawi bukan? Kita baru merindukan yang telah pergi dan merasa bosan dengan apa yang kita miliki. 

Sudahlah... aku ingin menikmati hujan di bulan Juni ini. Meresapi tiap tetesan air hujan menguapkan panas yang beberapa hari ini membakar kulitku...

Senin, 12 Juni 2017

Ampun Dah... Listrik Naik Lagi???!!!

Ini yang muncul di benakku saat melihat berita yang merusak pagiku. Awalnya saat bangun pagi, aku berharap mengalami hari yang menyenangkan. Namun saat membuka ponsel, mataku langsung tertumbuk pada berita soal kenaikan TDL alias Tarif Dasar Listrik. Setiap kali issue soal ini muncul emosiku selalu saja terletup. 

Menurutku tak pantas Perusahaan Listrik Negara menuntut kenaikan harga bila dalam pelayanannya saja sering membuat murka konsumennya akibat listrik mati berjam-jam lamanya. Seperti yang selalu kualami. Ya, daerah tempat tinggalku seringkali mati listrik hingga berjam-jam lamanya bahkan pernah sampai seharian. Eits, jangan bilang demi meningkatkan pelayanan maka perlu ada kenaikan harga. Itu pembelaan paling klise dan konyol. Coba saja hitung, sudah berapa kali PLN melemparkan issue kenaikan harga dengan alasan demi perbaikan kualitas pelayanannya? 

Kali ini lewat banyak share di medsos menyatakan bahwa alasan PLN menaikkan TDL demi memastikan subsidi listrik tepat guna alias benar-benar untuk warga tidak mampu? Tapi apa iya? Lantas bagaimana cara perusahaan negara ini memastikan langkah ini benar-benar tepat guna alias benar-benar demi kepentingan warga tak mampu?

Alasan lain PLN menaikkan TDL kali ini mengkambinghitamkan pembangunan di Papua. Aku sendiri menilai ini hanya lipservice alias akal-akalan perusahaan ini saja. 

Pun alasan inefisiensi yang digemakan PLN sebagai dasar pembenaran atas kenaikan TDL tidaklah tepat. Dengan dalih bahwa PLN kewalahan membeli sumber bahan bakar seperti baru bara dari Bukit Asam maupun gas dari Perusahaan Gas Negara dan pertamina yang notabene sesama perusahaan negara alias BUMN, pun tak dapat kupahami. Sofyan Basir, Dirut PLN memang sempat mengeluhkan "saudara-saudara"nya yang memberikan harga tak adil, mereka menjual bahan bakar dengan harga lebih mahal ke PLN dibanding kepada pihak swasta, dalam rapat dengan Komisi VII DPR di gedung DPR, Senayan, Jakarta. Namun bukan berarti ini menjadi jalan pintas untuk membebani rakyat dengan menaikkan TDL. 

Tanpa kenaikan TDL pun banyak warga yang sudah kesulitan dengan tingginya beban hidup. Istilahnya untuk makan saja sudah Senin-Kamis masih ditambah pula kepenatan hidup ini dengan listrik yang sering byar pret tapi pelaksananya malah mau menaikkan harga. Dalam bekerja pun, seringkali sebelum menuntut kenaikan gaji, seorang karyawan dituntut peningkatan kualitas kerjanya. Jika sudah naik hingga berkali-kali lipat, sudah jaminankah bahwa PLN tidak akan byar pret lagi? Saat terlambat bayar listrik, konsumen langsung kena denda, bahkan bisa sampai pemutusan, lantas jika listrik-nya byar pret terus, insentif apakah yang diterima konsumen yang tak bisa tidak selalu saja dengan terpaksa hanya bisa menuruti saja kenaikan itu walau dengan hati mendongkol?

Minggu, 11 Juni 2017

Kotak Abu-abu-ku

Sejak kecil aku sudah menyukai kotak ini. Dulu sekali saat isinya masih belum terlalu banyak, isinya masih sangat rapi. Dengan mudah aku bisa menemukan apa yang kucari. Namun makin hari makin banyak yang kutumpuk di sana. Sesekali masih suka kutengok namun lebih sering aku mengabaikannya. 

Aku memanggilnya kotak abu-abu-ku meski warnanya tak pasti abu-abu namun sejak membaca novel Agatha Christie, aku menamakannya kotak abu-abuku. 

Di dalamnya kini terdapat banyak sekali, mulai dari yang remeh hingga yang cukup berharga. Semua kumasukkan begitu saja ke dalamnya tanpa sempat menatanya. 

Terkadang aku melongok ke dalamnya tapi terlalu frustasi karena tak mampu menemukan apa yang ingin kucari sehingga kututup kembali kotak abu-abuku sebelum kepalaku meledak karena pening yang teramat sangat. 

Rasanya kotak abu-abuku sudah sedemikian lusuh. Penuh debu dan mungkin dihiasi banyak sarang laba-laba juga. Aku tak dapat memastikan keadaannya karena aku terlalu lelah untuk merapikan isinya. Terlalu banyak yang kusimpan hingga aku bahkan tak lagi mengingat apa saja yang telah kucemplungkan ke dalam sana. 

Seorang teman pernah menasihatiku untuk menjaga kotak abu-abuku saat aku terlalu tamak mengambil apa saja yang ingin kuambil dan melemparkannya begitu saja ke dalam kotak abu-abuku. 

Bagiku kotak abu-abuku ini sangatlah berharga. Tanpanya aku merasa bagai kepompong tanpa isi. Kotak abu-abuku ini menyimpan seluruh gambaran perjalanan hidupku. Kotak abu-abu ini pulalah teman pertama dalam hidupku saat aku bahkan belum mengenal kata berteman. 

Ketakutan terbesarku adalah bila kotak abu-abuku rusak. Kotak abu-abu inilah kebanggaanku. Kotak abu-abu ini harta sekaligus harga diriku. Aku tak berani membayangkan apa jadinya aku bila kotak abu-abuku ini rusak. Kurasa hidupku akan terasa mengerikan bukan saja bagiku tapi bagi orang-orang yang kucintai bila sampai kotak abu-abuku rusak. 

Ketakutanku makin menjadi saat kotak abu-abu nenekku mengalami penyumbatan. Nenekku tak berdaya. Tiga hari ia bagai kepompong tanpa isi. Aku dan keluarga berjuang dan berharap kotak abu-abu nenek bisa kembali utuh namun dalam tiga hari itu kotak abu-abu nenek malah makin parah. Nenek tak lagi dapat bertahan. Sama sepertiku, kotak abu-abu itu adalah harta utamanya. Karena dari kotak abu-abu itu kehidupannya memancar. 

Seperti kotak hitam yang selalu menyimpan rekaman dari pesawat atau kapal laut yang mengalami kecelakaan, demikian pula rekam jejak hidupku tersimpan dalam kotak abu-abu ini. Karena kotak abu-abu ini adalah kotak memoriku. Dalam buku biologiku kotak abu-abu ini tak berbentuk kotak, lebih mirip sebuah gumpalan aneh penuh serat-serat halus dan jalinan benda-benda seperti pipa lembek. Dari buku biologiku ini nama benda ini adalah otak. Benda kecil yang sangat ajaib bagiku.

Sabtu, 10 Juni 2017

Reuni...

Beberapa hari yang lalu, salah seorang teman mengunggah di facebook-nya berita kematian temannya. Bukan soal kematiannya itu yang membuatku sedikit tertegun, bukan soal kematian temannya yang memang tak kukenal melainkan status yang ditulisnya. Pada kolom status-nya ia menulis bahwa belum lama ia dan beberapa temannya berencana untuk bertemu tapi tak disangka mereka bertemu dalam upacara penghormatan terakhir untuk kawan mereka ini.

Pertemuan dan perpisahan memang selalu beriringan. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Takkan ada perpisahan tanpa didahului pertemuan. Dan tak ada pertemuan yang abadi. Begitu bukan yang dinamakan siklus kehidupan?

Saat membaca status temanku ini, aku teringat kembali peristiwa seminggu yang lalu. Seorang teman yang lain bercerita bahwa ia baru saja reuni bersama teman-teman SMP dan SMA-nya. Saat itu mereka diliputi euforia kenangan karena lama tak bersua. Hatinya masih dipenuhi kegembiraan usai bertemu teman-temannya ketika hanya berselang beberapa hari saja ia mendapat kabar, salah seorang teman SMP-nya mengalami kecelakaan motor dan sudah dalam keadaan koma karena terjadi pendarahan otak. Belum lagi ia sempat membesuk kawannya tatkala muncul berita baru, kawannya meninggal dunia usai operasi. Shock pasti. Aku yang mendengar pun terkejut walau aku tak mengenal almarhum, sebaris doa kulantunkan dalam hati sambil meringis menyadari betapa rapuhnya kita sebagai manusia. Sedetik sebelumnya kita bisa saja bahagia, tertawa gembira, berkumpul bersama. Namun tawa itu bisa kapan saja berubah menjadi isak tangis. Dan kita tak memiliki kuasa atasnya.

Teringat kembali dalam benakku saat beberapa tahun lalu, saat teman-teman SMP-ku berniat melakukan reuni, bertemu dengan guru-guru kami yang jumlahnya kini bisa dihitung dengan jari. Kebetulan kepala sekolah SMP kami yang sudah bertugas di Kalimantan tengah menyempatkan diri ke Jakarta. Aku sebenarnya tak terlalu bersemangat ikut reuni, apalagi aku juga bukanlah kelompok penggemar kepala sekolah kami, bahkan rasanya tak ada guru yang cukup mengesankanku saat SMP kecuali guru matematikaku yang hanya sebentar mengajar, Bu Sri namanya. Bagiku guruku ini istimewa karena aku yang lemah otak terutama saat pelajaran matematika ini hanya saat diajar beliau-lah, aku pernah mendapat nilai sempurna alias seratus. Sampai berhari-hari aku memandangi kertas ulanganku dengan angka 100 yang ditorehkannya dengan tinta merah. Ingin rasanya kulaminating kertas ulanganku itu. 

Namun Bu Sri bukan termasuk kelompok guru favorit kepala sekolahku sehingga masa tugasnya sangatlah singkat. Pengganti Bu Sri yang tak pernah kuingat namanya selalu membuatku tersiksa dengan cara mengajarnya. Baginya matematika memang sewajarnya menjadi neraka bagi murid. Tak pernah lagi aku mendapat nilai seratus yang membanggakan itu. Sebaliknya guru matematika yang baru itu membuat otakku yang lemah hanya khusus di pelajaran matematika dan fisika makin tersiksa saja jadinya. 

Selain Bu Sri, guru favoritku saat SMP adalah Pak Daniel Hapan, guru PPKn yang waktu itu masih bernama PMP. Aku suka dengan cara mengajar Pak Daniel yang tak pernah merendahkan murid. Kebetulan juga aku memang suka pelajaran PMP yang mengutamakan daya ingat khususnya dalam mengingat pasal-pasal UUD '45 dan sebuah kata ajaib yang disukainya, kristalisasi-kristalisasi Pancasila. Setiap ada ujian essai, asal kutuliskan kalimat ajaib ini, bisa dipastikan kertas ujianku akan mendapat ponten memuaskan πŸ˜‰ Namun kudengar Pak Daniel sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Kisah kematiannya sedikit meremangkan bulu roma namun aku berdoa guru favoritku ini mendapat tempat di sisi Tuhan YME. 

Masih ada dua guru favoritku memang. Guru olahragaku, Pak Harun dan guru bahasa Inggrisku, Ms. Banowati yang cantik namun kami sudah bertemu di pertemuan sebelumnya. Sementara aku bukan termasuk murid penggemar kepala sekolah yang merangkap guru geografi kami. Jadi aku tak terlalu antusias untuk bertemu beliau. 

Aku sudah malas datang kalau saja kawanku tak menakutiku dengan mengatakan bahwa kita tak pernah tahu kapan waktu akan berpihak pada kita. Dia menyusupkan dalam otakku pertanyaan: bagaimana bila ternyata ini adalah kesempatan terakhir untuk bertemu? Meski merinding, pergi jugalah aku ke reuni itu. 

Tak dinyana kekhawatiran kawanku itu benar-benar terjadi. 

Entah apakah kawanku ini diam-diam memiliki kemampuan meramal macam Mama Lauren ataukah memang kebetulan saja ucapannya nyata terjadi.

Hanya selang beberapa bulan setelah reuni, kepala sekolahku dikabarkan masuk rumah sakit dan sudah sekarat. Aku dan kawanku datang menjenguk. Beliau sudah tak sadarkan diri. Kami berdoa di sisi tempat tidurnya. Sesaat ia sempat membuka matanya, ia berniat mencabut selang oksigen yang membuatnya tak nyaman namun aksinya ini dicegah. Tak lama ia pejamkan kembali matanya. Kami pamit pulang pada keluarganya. Sampai kami pamit pulang, beliau tak pernah lagi membuka matanya. Aku sudah hampir sampai rumahku ketika guru olahragaku menelpon, mengabarkan bahwa kepala sekolah kami sudah meninggal. 

Ah, aku memang tak terlalu menyukai kepala sekolahku ini. Namun terlepas dari rasa suka atau tidak itu, aku berduka untuknya. Meski aku tak menyukai gaya mengajarnya namun kepala sekolahku ini orang yang humoris. Kadang leluconnya terdengar garing dan aneh bagiku namun membuat kelas bergemuruh dalam gelak tawa murid lain. Hal lain yang membuatku terkesan pada kepala sekolahku, ternyata walau sudah hampir dua puluh tahun tak berjumpa, ia masih mengenal wajah kami satu per satu. Saat aku bahkan tak mampu mengingat beberapa temanku, kepala sekolahku ini saat reuni kami yang pertama sekaligus terakhir itu, ia menatap mata kami satu per satu saat bersalaman dan mampu menyebut nama kami dengan benar. Tak ada yang dilupakannya. Sedikit haru menyeruak dalam hati menyadari bahwa ternyata, walau ia memiliki banyak murid tapi ia tak pernah melupakan murid-muridnya karena menurutnya setiap murid memiliki ciri khas-nya masing-masing dan semua itu tergambar lewat mata, karenanya ia menjabat tangan kami satu persatu seraya memandang tajam ke dalam mata kami. Dan kenangannya saat reuni inilah yang lebih nyata berkesan dalam hatiku dibanding masa-masa di sekolah dulu. Meski begitu beliau telah turut mewarnai hidupku dan aku berdoa semoga beliau mendapat kedamaian di surga mulia. 

Lewat kisah-kisah ini aku menyadari bahwa setiap pribadi yang kita temui dalam hidup, sadar atau tidak telah menorehkan setitik warna dalam hidup kita. Seperti sebuah gambar meski ada warna yang lebih dominan namun gabungan warna-warna lain turut membuat gambar tersebut indah. Jadi, ayo kita saling menorehkan warna dan nikmatilah kebersamaan yang kita miliki. Have a nice weekend :)