Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 31 Desember 2013

Michael Schumacher: Real Human, Real Fighter

Pagi ini (Senin, 30 Desember 2013), aku memulai hari dengan optimisme yang tak biasanya, karena hanya tinggal dua hari menjelang tahun 2013 akan berakhir, sehingga aku ingin mengakhiri tahun ini dengan semangat dan optimisme melimpah. Namun sebuah pesan singkat kuterima dari sahabatku perihal kecelakaan Michael Schumacher. Aku yang semula bersemangat memulai aktivitasku tentu saja terkejut. Aku membaca dengan cepat, menelusuri setiap huruf yang sedikit demi sedikit menguapkan semangat optimismeku yang kubangun saat bangun pagi. 

Berbagai artikel berita kemudian dikirim sahabatku. Kesemua berita mengabarkan mengenai kecelakaan yang dialami Michael Schumacher, juara dunia F1 tujuh kali, saat tengah bermain ski bersama putranya yang berumur Mick, yang berumur 14 tahun di Meribel Resort, Alpen, Perancis. Ia terjatuh dari tebing saat tengah meluncur di atas salju dan kepalanya membentur batu.

Setelah kecelakaan, Michael dikabarkan masih sadar meski agak terguncang. Ia dikawal oleh dua polisi patroli di arena ski dan segera dibawa ke Moutiers, rumah sakit terdekat. Namun tak lama kemudian Michael dilarikan ke rumah sakit yang lebih besar di Grenoble, sebelah tenggara Perancis. Awalnya setelah kecelakaan, Michael sempat sadar hingga ia dibawa ke Moutiers yang tak jauh dari resor ski Meribel, tapi kemudian kondisi Michael memburuk dan saat tiba di rumah sakit di Grenoble, Michael Schumacher sudah koma. Ia mengalami trauma dan pendarahan pada otaknya sehingga harus dioperasi. Pasca operasi kondisinya masih buruk dan tim dokter yang menanganinya menyatakan bahwa kondisinya sangat kritis dan serius. Michael hingga saat ini dikabarkan masih kritis. Untuk mengistirahatkan otaknya, Michael saat ini dikondisikan dalam keadaan koma dengan suhu yang diatur rendah.

Jean Todt, sahabat yang juga mantan bos tim Ferrari, tempat Michael bernaung dan mempersembahkan lima gelar dunia F1 untuk tim asal Maranello, Italia ini, dikabarkan langsung datang ke Grenoble. Begitu pula Ross Brawn, mantan direktur teknik Ferrari dan bos tim Mercedes, yang juga merupakan orang terdekat Schumi, dikabarkan saat ini juga berada di Grenoble untuk mendampingi pebalap sekaligus sahabatnya ini melewati masa kritisnya.

Dalam karir balap F1 Michael Schumacher, nama Ross Brawn memang tak bisa dipisahkan darinya. Michael mulai bekerjasama dengan Brawn saat membalap untuk Benetton pada 1991. Dari kerjasama mereka di Benetton ini, Michael sukses menggondol dua gelar dunia di tahun 1994 dan 1995. 

Tahun 1996 Michael hijrah ke Ferrari. F310 saat itut tak terlalu bagus, meski begitu Michael sempat meraih tiga kemenangan. Atas sarannya, Ross Brawn dan Rory Byrne disabot dari Benetton. Byrne saat itu sebenarnya sudah ingin pensiun tapi Schumi berhasil membujuknya untuk menunda pensiunnya. Tak sia-sia. Dengan kehadiran Brawn dan Byrne ditambah tangan dingin Jean Todt, Ferrari dan Michael Schumacher tak terkalahkan. Schumi sukses menambah lima gelar juara dunia yang direngkuhnya secara berturut-turut dari tahun 2000-2004. 

Di pertengahan musim balap 1999, Schumi sempat mengalami kecelakaan parah saat balapan di Silverstone, Inggris. Saat itu ia mengalami patah kaki dan karir balapnya hampir berakhir. Tapi ia beruntung. Ia berhasil diselamatkan. Bukan hanya nyawanya tapi juga karir balapnya. Bahkan usai pemulihan pasca kecelakaan di Silverstone ini, Schumi seperti mendapat energi baru. Terbukti di GP Malaysia, balapan pertamanya setelah kecelakaan di GP Inggris, Schumi tampil cemerlang dan sukses mengantarkan Ferrari meraih gelar dunia konstruktor. Tahun berikutnya, Schumi mengawali masa keemasannya bersama Ferrari. Ia tampil dominan dan meraih lima gelar dunia berturut-turut sebelum akhirnya pensiun di akhir musim 2006. 

Tiga tahun pensiun dari F1, ia sempat menjajal arena balap motor dan pada Februari 2009, ia mengalami kecelakaan motor di Spanyol yang mengakibatkannya mengalami cedera leher dan tulang belakang. Pulih dari cedera ini, Michael kembali ke ajang F1 bersama tim Mercedes yang dikomandani Ross Brawn. Sayang ia tak meraih kesuksesan seperti di masa paruh pertama karir F1-nya. Akhirnya setelah tiga tahun bersama Mercedes, ia memutuskan pensiun di akhir musim 2012 setelah hanya sempat meraih satu kali podium. Di sesi kualifikasi GP Monaco tahun lalu, Schumi sempat mencatat waktu tercepat dan meraih pole position, sayangnya karena kecelakaan di balapan sebelumnya, ia terkena penalti sehingga posisi polenya harus melayang begitu saja.

Salah satu dokter yang sangat berperan dalam kesembuhannya dari kecelakaan di GP Inggris itu adalah Professor Gerard Saillant. Ia dokter ahli bedah otak dan cedera tulang belakang. Sejak itu Michael dan Professor Saillant bersahabat. Professor Saillant juga turut berperan dalam pemulihan cedera leher dan tulang belakang tersebut. 

Saat Michael mengalami kecelakaan di resort ski Meribel, hari Minggu kemarin, Professor Gerard Saillant langsung dikabari dan terus memantau perkembangannya. Bahkan kabarnya Professor Gerard Saillant-lah yang memerintahkan membawa Michael ke Grenoble. Kehadiran Professor Gerard Saillant ini pula yang membuat pers menyadari bahwa kondisi Schumi benar-benar kritis. 

Kepada pers yang senantiasa menunggu perkembangan kondisi Schumi, Professor Saillant menyatakan, "(dalam) Kecelakaan semacam ini, untung usianya 45 tahun (tanggal 3 Januari nanti, Schumi akan berulangtahun yang ke-45), yang mana (jauh) lebih baik (untuk pulih) dibanding bila usianya lebih tua."

Sabine Kehm, juru bicara Michael Schumacher kepada media menegaskan bahwa saat kecelakaan itu, Michael mengenakan helm dan tidak sendirian. Hal mana sedikit membantu sehingga saat mengalami kecelakaan itu, Michael segera mendapat perawatan dan pertolongan pertama. 

Michael saat ini ditangani oleh tim dokter ahli yang dikepalai oleh Professor Stephane Chabarde, dokter ahli bedah otak dan Professor Jean - Francois Payen, Dokter Kepala Anestesi. 

Menurut Profesor Payen, kondisi Michael yang saat kecelakaan mengenakan helm ini juga sedikit membantu. "Tanpa helm (itu), ia tidak akan berada di sini sekarang," demikian pernyataan Professor Payen. Namun Professor Payen menolak menjelaskan efek yang akan terjadi pasca operasi ini. Ia hanya menegaskan bahwa tim dokter bekerja keras jam-demi-jam untuk memulihkan Schumi. 

Kondisinya yang fit, bukan rahasia umum, meski Michael sudah pensiun dari dunia balap tapi ia masih menjaga tubuhnya tetap fit, bahkan dari catatan waktu Hamilton, yang menggantikannya di tim Mercedes yang tak beda dengan Michael saat tiga tahun membalap untuk tim tersebut memperlihatkan betapa fit-nya Michael Schumacher bahkan untuk orang seusianya. Kondisinya yang fit ini dianggap tim dokter yang menanganinya akan sangat membantunya untuk pulih dari krisis ini.

Setelah kabar kecelakaan ski yang dialami Michael Schumacher diiringi berita kondisinya yang masih kritis. Sejumlah komentar yang intinya berisi doa dan harapan agar Michael Schumacher segera pulih ramai menghiasi media sosial. Sejumlah mantan pebalap, yang sempat menjadi pesaingnya, pebalap yang masih aktif saat ini, komunitas F1 hingga para fansnya ramai mengungkapkan keprihatinan dan doa untuknya. Salah satunya adalah Martin Brundle, mantan rekan setimnya di Benetton pada tahun 1992 dan 1993 yang dalam akun twitternya mengatakan, "Come on Michael, give us one of those race stints at pure qualifying pace to win through, like you used to. You can do it."

"Come on Michael, give us one of those race stints at pure qualifying pace to win through, like you used to. You can do it."

Sepanjang karir balapnya di F1, Michael Schumacher dikenal sebagai pebalap yang sangat disiplin dan memiliki semangat juang yang sangat tinggi dan pantang menyerah. Semangat juang Michael inilah yang diharapkan oleh banyak pihak yang bisa membawa Michael melewati masa kritis dan segera pulih. 

Rob Smedley, engineer Ferrari merupakan salah satu yang mengungkapkan harapannya semoga semangat juang Michael yang tak pernah menyerah meraih kemenangan berhasil mengatasi masa kritisnya saat ini. 

"What he represented was the fight, the spirit and the absolute determination to win. Second was never good enough. He pushed everyone else along, and that's what's giving me a lot of hope right now. He's lying in a hospital bed in Grenoble and he needs that fighting spirit to pull through." 

Aku jadi teringat, dalam sebuah artikel, rasanya aku pernah membaca bahwa Michael Schumacher yang bersama istrinya, Corinna Betsch dan dua anak mereka, Gina Maria dan Mick, tinggal di Swiss, selain menyukai olahraga balap juga gemar bermain ski. Rasa-rasanya pula, aku pernah membaca dalam sebuah wawancaranya, Michael sempat ditanya apakah putranya, Mick akan mengikuti jejaknya menjadi pebalap F1. Waktu itu Michael agak tertegun sejenak sebelum akhirnya menjawab. Ia menyatakan bahwa ia tak berharap putranya mengikuti jejaknya menjadi pebalap F1 karena tak ingin putranya hidup sengsara dalam bayang-bayang nama besarnya. Ia banyak melihat beberapa rivalnya, yang merupakan putra pebalap hebat begitu kesulitan membuktikan diri dan keluar dari bayang-bayang nama besar ayah mereka. Itu pula agaknya yang membuatnya lebih suka anaknya memilih olahraga yang lain, meski ia tak bisa mengelak dan akan membiarkan bila ternyata putranya nanti akan memilih karir yang sama dengannya. Sambil tertawa ia menambahkan bahwa putranya sangat hebat bermain ski dan bahkan ia sendiri kalah dari putranya. 

Namun aku seperti banyak fans dan orang-orang dekat Michael Schumacher, berharap Michael tidak akan kalah dalam pertempurannya kali ini untuk tetap hidup. Satu hal yang membuatku begitu mengagumi Michael Schumacher dan membawaku menyukai F1 (tapi sejak pensiun Michael yang kedua kalinya tahun lalu setelah tiga tahun yang tak mengesankan bersama tim Mercedes, kesukaanku pada F1 ikut menguap, karena bagiku F1 tanpa Michael Schumacher takkan pernah sama lagi) adalah semangat juangnya yang pantang menyerah. Ia suka membawa dirinya melewati titik batas yang bahkan tak bisa dibayangkan seorang manusia pun. Walau bagi sebagian orang, Michael dianggap egois dan arogan tapi sesungguhnyalah tak ada yang bisa menampik bahwa Michael Schumacher adalah juara sejati. Dalam keadaan seburuk apapun, ia tak pernah menjelekkan timnya. Seburuk apapun mobilnya, ia mencoba memahaminya dan membawa mobilnya mencapai garis finish. Tak pernah ia mengeluarkan komentar yang akan menurunkan semangat timnya, karena ia tahu, kesuksesan itu tak bisa digapainya seorang diri. Itu pula sebabnya, semua orang yang pernah bekerja bersamanya sangat menghormatinya. 

Saat ia tersandung masalah team order di GP Austria hingga membuatnya jadi bulan-bulanan publik yang seolah menggambarkannya sebagai sosok ambisius egois yang suka mengorbankan orang lain. Publik seolah lupa kalau F1 adalah olahraga tim dan team order dalam olahraga ini adalah kemutlakan demi kesuksesan tim. Michael bukanlah orang pertama yang menikmati tim order ini, bahkan Michael pun pernah pula harus mendukung rekan setimnya untuk meraih gelar dunia. Eddie Irvine di musim 1999 tengah bersaing ketat dengan Mika Hakkinen. Di GP Malaysia, usai pulih dari cederanya akibat kecelakaan hebat di Silverstone, pertengahan musim itu, Michael memainkan peran sebagai pebalap pelapis terbaik di dunia. Ia membantu Irvine meraih kemenangan dan membuat Hakkinen frustasi. Sayangnya di akhir musim Irvine tak bisa meraih gelar dunia idamannya. Mengenai hal ini, Irvine mengungkapkan keberuntungannya memiliki rekan tim seperti Michael. Ia juga menegaskan betapa banyak dukungan dari Michael Schumacher sementara ia tak memberi sebanyak yang diberikan Michael. 

"To be honest, I could never have given him the same support, he (Schumi) helped me more than any other driver could have done."

Michael Schumacher hingga saat ini dianggap masih merupakan pebalap F1 tersukses. Rekor juara dunianya yang mencapai tujuh kali masih belum dilampaui siapapun. Sepanjang karir balapnya di F1 ia telah meraih 91 kemenangan, menjalani 303 balapan dengan 155 kali berdiri di atas podium. Podium terakhirnya adalah di GP Eropa tahun lalu.

Michael telah banyak menjalani balapan paling sulit dan keras dan kebanyakan di antaranya berhasil diatasinya. Dan kali ini Michael tengah melalui lintasan paling sulit dalam hidupnya dan kuharap Michael berhasil mengatasinya. Seperti ketika tengah menyaksikannya berlaga di atas sirkuit, aku selalu berdoa ia bisa mengatasi semuanya dan memenangi balapan, begitu pula kali ini. I crossed my finger, pray for him and hope he will get through this and win the battle. Please, Michael, do not ever give up! Keep fighting and get the victory like you always to do!

Kamis, 05 Desember 2013

Resensi Novel : Burung-Burung Rantau - Y.B. Mangunwijaya

Letnan Jenderal Wiranto adalah seorang purnawirawan berhati luhur sederhana, lahir dari keluarga sederhana yang awalnya berniat menjadi guru SD tapi perang membuat jalan hidupnya berbeda, ia malah menjadi tentara dan karirnya meroket dalam dunia ketentaraan, ia turut andil dalam membasmi pemberontakan saat republik muda ini belum lama berdiri. Karir pesat yang diraihnya, Letjen Wiranto selalu mengatakan bahwa sebenarnyalah ia hanya orang udik yang didorong ke atas hingga ia menduduki berbagai jabatan bergengsi, di antaranya sempat menjadi duta besar di London, Inggris, dan terakhir menjadi Komisaris Bank Pusat Negara. Sang Letjen mantan duta besar dan Komisaris Bank Pusat Negara ini memiliki seorang istri yang menurut putri bungsunya adalah wanita yang cantik tapi sayang-tidak-peka-humor, Serafin Yuniati, peranakan Jawa-Kawanua, Manado. Mereka berdua merupakan manusia konvensional, generasi kemerdekaan yang hidupnya sarat perjuangan dan revolusi dengan lima orang anak pascakemerdekaan yang kesemuanya saling bertentangan satu sama lain, menjelajah dunia dengan cara mereka masing-masing. Kelimanya merupakan burung-burung rantau yang tak lagi merasa terikat sebagai orang Indonesia, walau tak pernah menampik, dan bukannya tidak nasionalis, dalam tubuh mereka mengalir darah Indonesia dalam hal ini Jawa-Manado, namun mereka adalah manusia-manusia Pascaindonesia.

Putri pertama pasangan Letjen Wiranto dan Yuniati adalah Anggraini Primaningsih atau lebih akrab disapa Anggi, seorang wanita karir, pengusaha sukses yang serba mandiri, fleksibel dan lihai dalam membuat celah peluang demi kepentingannya pribadi, membuat bingung orangtuanya, tak tahu darimana bakat bisnisnya itu menurun. 

Anak kedua mereka sekaligus putra sulung adalah Wibowo Laksono atau Bowo, doktor fisika-nuklir, anak kesayangan Yuniati yang lebih suka menetap di Jenewa, Swiss, bekerja di laboratorium internasional CERN dan menikah dengan seorang wanita Yunani, Agatha Anaxopoulos.

Letkol Candra Sucipto, anak ketiga pasangan Wiranto-Yuniati adalah pilot pesawat tempur. Menurut Neti, adiknya, Candra jiwanya memang batu kasar seperti Bima Werkudara, tetapi pada dasarnya hatinya intan. Di awal-awal kisah Candra memang terlihat kasar dan jiwanya yang seorang pilot pesawat tempur nyata tergambar dengan semangat meledak-ledak ingin menghancurkan segala macam yang dibenci, seperti ketika adik bungsunya, Edi meninggal karena jerat narkoba. Saat mendapat kesempatan bergabung dalam sebuah aksi penyergapan ke jantung sindikat narkoba di Bogota, bersama pasukan anti narkoba Amerika, dalam percakapannya dengan ayahnya, Candra mengungkapkan gejolak emosinya, darahnya terasa mendidih, ungkapnya, saat teringat nasib malang Edi, adiknya yang meninggal akibat kekejaman para gembong-gembong narkoba itu yang tega menjerat hidup anak-anak muda labil macam Edi, adik bungsunya itu. 

Meski terkesan keras dan serba suka sembarang hantam, tapi Candra juga terlihat merupakan kakak yang bijak dan sangat menyayangi adik perempuannya, Marineti Dianwidhi, yang memiliki nama panggilan Neti. Setelah kematian Edi, praktis Neti menjadi anak bungsu pengganti Edi yang malang itu. Sebenarnya pula Neti yang paling terluka akibat kematian Edi, adik bungsunya. Terlebih mereka berdua sangat dekat sejak kecil. Dan sejak kecil pula, Edi sudah terlihat pribadinya paling lembut dan halus dibanding kakak-kakaknya. Neti bisa dibilang sudah bagai orangtua bagi Edi mengingat ayah dan ibu mereka yang sangat sibuk. Bahkan Neti seorang yang hadir di saat terakhir Edi menghembuskan nafas terakhirnya. Di atas pangkuan Neti, kakaknya seorang yang paling memahaminya, Edi malang itu menemui ajalnya.

Sebuah kesalahan fatal Wiranto adalah sebagai ayah ia kurang memahami kelembutan jiwa dan hati putra bungsunya yang malang itu kala di suatu hari Edi yang gemar menggambar membuat sebuah lukisan wajah Karl Marx, tokoh pencetus paham komunisme membuat Wiranto, ayahnya berang bukan main dan merobek-robek gambar coretan tangan putra bungsunya yang begitu terluka atas perbuatan ayahnya. 

Sebagai panglima perang, Wiranto begitu hebat gagah membasmi gerakan-gerakan pemberontakan di pedalaman nusantara yang menggerogoti perjalanan awal republik muda ini, tapi justru terhadap anak-anaknya sendiri Wiranto memang tak berdaya sama sekali. Tanpa disadarinya, saat merobek-robek lukisan wajah Karl Marx karya anak bungsunya itu, ia telah pula merobek-robek hati putra bungsunya yang hatinya kelewat lembut dan halus itu, hal yang baru terakhir disadarinya, tapi sayangnya terlambat, anaknya yang berjiwa labil itu mencetuskan pemberontakannya dalam jeratan narkoba yang memberinya dunia ilusi semu berujung pada kematiannya. Duka dan sesal yang harus ditanggung seluruh anggota keluarga Wiranto. 

Meski senantiasa dibayangi kenangan sendu akan Edi, tapi hidup menawarkan pula segala macam keindahan dalam kesedihan. Marineti Dianwidhi, anak keempat sekaligus putri bungsu keluarga Letjen Wiranto, sarjana antropolog dan tengah melanjutkan ke jenjang S2, yang merupakan tokoh sentral dari novel ini melalui sikap cerianya yang suka menggoda ibunya yang cantik-tapi-sayang-tidak-peka-humor itu. 

Neti, anak manja tapi juga sangat dewasa bertanggung jawab, memilih menjadi sosiawati, atas inisiatif pribadi, seorang diri menjadi guru anak-anak keluarga kumuh di bawah jembatan, walau ia akui aksi sosialnya itu tak sepenuhnya murni melainkan didasari rasa sakit hatinya akibat kematian adiknya yang malang tapi toh pada akhirnya Neti benar-benar menghayati sepenuhnya tindakan mulianya ini.

Kegiatan sosialnya ini pula yang membawa Neti berjumpa dengan Gandhi Krishnahatma, seorang pemuda asal Punjab, India dari kalangan Brahmana yang selalu terikat pada karma, dalam sebuah konferensi untuk pekerja sosial antar negara Asia di India. Nama Gandhi itu memang diberikan orangtuanya karena ia dilahirkan di hari ulangtahun Mahatma Gandhi dan tentunya dengan harapan ia memiliki kebijakan hati seperti Mahatma Gandhi. Nyatanya pula, meski sebagai seorang pemuda dari kalangan atas dengan kekayaan melimpah, tapi Krish, panggilan Neti untuk sahabatnya dari India ini, memiliki hati yang amat mulia seperti Mahatma Gandhi, tokoh perjuangan perdamaian India yang justru menemui ajalnya di tangan seorang penganut Hindu fanatik. Kelembutan hati pemuda Punjab inilah yang membuat Neti jatuh hati. Mereka kembali bertemu saat pesta pernikahan Bowo - Agatha di Yunani. Dalam perjalanan wisata ke beberapa tempat wisata terkenal di Yunani bersama Krish dan Candra, usai pernikahan Bowo-Agatha, perasaan Neti terhadap Gandhi Krishnahatma, ilmuwan mikro biologi yang tengah mempersiapkan diri untuk jadi doktor bioteknologi di Heidelberg ini pun makin dalam. Tapi kendalanya adalah suasana muram India yang senantiasa terikat aturan kasta dan karma, membuat perasaan Neti gamang. 

Di samping itu, walau tak memperlihatkan penolakan, Yuniati, ibunda Neti yang cantik tapi tidak peka humor itu, menghadapi dilema, di satu sisi, ia gembira karena ternyata toh putri bungsunya yang selalu berikrar tak ingin menikah ini, akhirnya bisa juga jatuh cinta, tapi di sisi lain, latar belakang pria yang telah mengharu-biru perasaan putrinya terlalu rumit. Krish, memang merupakan putra dari pengusaha media Punjab yang kaya raya, tapi Krish adalah seorang duda beranak satu, belum lagi India, negeri asalnya yang diikat oleh pembagian nasib bernama kasta dan karma, membuat hati masygul. Namun pada akhirnya semua kegelisahan dan kegamangan itu terjawab. Krish yang senantiasa terikat oleh karma, nyatanya tak bisa menolak desakan orangtuanya untuk menikahi seorang kerabatnya yang telah dijodohkannya dan disebut sebagai karmanya. Meski pedih, tapi toh Neti adalah Neti, gadis manja, putri bungsu Letjen Wiranto, hidupnya terus berjalan, dan ia justru bisa menemukan kekuatannya di tengah kawasan kumuh di kolong jembatan bersama anak-anak malang secara ekonomi tapi tak mampu memudarkan semangat, keceriaan masa kanak-kanak, dan wanita-wanita sederhana yang walau sikap dan perilakunya tak seelegan, seanggun ibu-ibu pejabat, tapi toh hati mereka sebenarnya murni indah. Mereka yang sebenarnya adalah juga burung-burung rantau kehidupan.

Catatan: Sebagai sebuah novel filsafat, tentu saja pembaca akan dibawa pada kedalaman kata yang mungkin akan membuat kening berkerut dalam, meski begitu, jalan ceritanya cukup ringan mengalir membawa para pembacanya hanyut pada kedalaman berpikir para tokohnya. Perpaduan berpikir antara kaum teknokrat yang digambarkan melalui tokoh Candra, si pilot pesawat tempur itu dan Bowo, abangnya yang profesor fisika nuklir dan astro-fisika dengan pandangan humanis Neti, si antropolog sekaligus sosiawati, juga tak kalah mengesankan, yang disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami sehingga mampu menggugah hati dan pikiran kita. Belum lagi pemilihan kata-kata khas Y.B. Mangunwijaya yang lugas membuat novel ini makin menarik seperti dalam halaman 55 dalam kenangan Neti akan percakapannya dengan almarhum adiknya, Edi:

"Kaukira manusia berbakat untuk melupakan masa lampau? Aku tidak mudah, mungkin orang lain bisa?" 

Percakapan antara Neti dengan ayahnya di makam Edi, membahas soal korban dan pelaku, dalam halaman 56:

"Anehnya, dalam manusia tokoh pelaku dan sosok korban sulit dibedakan satu dari yang lain. Dalam hal ini memang benar kau: kita bukan hanya boneka wayang yang digerak-gerakkan oleh Ki Dalang, tetapi pelaku otonom seratus persen tidak juga."

Simak juga kalimat menarik dalam halaman 87 mengenai pemikiran Neti yang membuat abangnya, Candra, si pilot pesawat tempur spontan mengingatkan Neti bahwa pemikirannya itu berbahaya dan salah-salah bisa menyebabkan perang saudara:

'Pernah dalam suatu anggar pendapat dengan Mas Candra sang pilot ulung itu, abangnya marah karena Neti mengungkapkan pengamatannya, bahwa rupa-rupanya ada keharusan faktual, bahkan mungkin prinsipial, pesawat hanya dapat lepas bila ada landasan, landasan yang stabil dari beton bertulang atau batu beraspal. Teori-teori yang bertebaran memang mengingkari, tetapi kenyataan menunjukkan betapa kemajuan masyarakat kalangan atas hanya dapat lepas meninggi ke udara apabila ada lempeng-lempeng masyarakat lain yang terpaksa mau diinjak roda-roda pesawat.'

"Sejarah bukan monopoli satu-dua bangsa."

"Kematian diganti kehidupan yang tumbuh dalam benih dunia lain, seperti manusia pun demikian"

"Berpolitik adalah merealisasikan diri selaku manusia yang bertanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga maupun masyarakat."

Pemaparan mengenai manusia yang pada dasarnya tak memiliki apa-apa selain akal budinya, seperti yang disampaikan dalam halaman 238 pun tak kalah menarik menggugah daya pikir:

"... betapa manusia adalah satu-satunya makhluk dunia yang serba kurang. Menghadapi burung dia tidak bisa terbang. Menghadapi ikan dia tidak bisa menang berenang dalam air. Berpacu dengan kuda dia kalah. Melawan badak dia lemah; kemampuan tubuh untuk dapat menembus tanah nyaris nol bila disuruh melawan tikus atau ular. Tetapi manusia punya otak, dan inilah yang dimanfaatkan sampai sel dan sarafnya setuntas mungkin,...."