Total Tayangan Laman

Translate

Senin, 29 Desember 2014

Sebuah Catatan....

29 Desember 2013... tanggal ini mungkin hanya akan menjadi sebuah tanggal biasa saja di antara 364 tanggal lainnya sepanjang tahun kemarin bila kejadian itu tak pernah terjadi. 29 Desember mungkin juga merupakan tanggal istimewa karena tiga hari menuju tahun baru.... Tapi di tahun 2013, tanggal 29 Desember menjadi hari paling menggemparkan dalam dunia balap Formula One. Bagaimana tidak... di tanggal ini tiba-tiba saja muncul berita menggemparkan. Michael Schumacher, pebalap tersukses dalam sejarah dunia balap jet darat ini mengalami kecelakaan. Bukan di atas lintasan balap Nurburgring yang terkenal angker, atau Hockenheim yang telah merenggut nyawa Jim Clark, pebalap karismatis di tim Lotus, bukan pula di Monza tempat di mana Wolfgang von Trips dan 15 orang penonton meregang nyawa dalam kecelakaan parah pada tahun 1961. Michael Schumacher yang selama karirnya di Formula One selalu dekat dengan maut itu justru mengalami kecelakaan paling tragis dalam hidupnya justru di arena ski di Meribel, Perancis, lima hari menjelang ulang tahunnya yang ke-44 tahun.

Di tanggal ini setahun yang lalu, dunia benar-benar terhenyak. Michael Schumacher saat itu baru saja mengundurkan diri (untuk kedua kalinya) dari dunia balap Formula One setelah tiga tahun yang tak terlalu mengesankan bersama tim Mercedes, tengah berlibur bersama keluarga dan beberapa kawan di kawasan ski di mana ia memiliki pondok pribadi di sana. Sebenarnya ski bukanlah olahraga baru bagi Schumi, panggilan media dan fans pebalap tujuh kali juara dunia F1 ini. Sama seperti dunia balap, Schumi dikabarkan sangat ahli dalam olahraga bersalju ini, karena itu berita kecelakaan Schumi saat bermain ski sangat mengejutkan. Terlebih dampak dari kecelakaan di arena ski itu, Schumi dikabarkan koma dan mengalami pendarahan di otaknya. Namun itulah yang terjadi. Michael Schumacher mengalami kecelakaan di arena ski saat ia tengah menolong seorang tamunya yang terjatuh, kepala Schumacher membentur batu sedemikian keras hingga membuat helmnya retak dan mengakibatkan pendarahan dalam otaknya.

Berita kecelakaan Michael Schumacher ini tak pelak mengejutkan para penggemarnya, bahkan yang tak terlalu menyukainya pun rasanya sangat terkejut dengan berita ini.

Selama karirnya di dunia Formula One, Michael Schumacher memang telah menorehkan sejumlah prestasi mengesankan. Catatan rekornya terlalu banyak dan menjadi barometer bagi pebalap muda. Di atas lintasan, Schumi merupakan lawan yang amat tangguh. Ia tak pernah gentar dengan keadaan sesulit apapun. Entah sudah berapa kali kecelakaan pernah dialaminya di atas lintasan. Ia pernah membalap dan finish di tempat terdepan dengan transmisinya stuck di gigi lima. Ia juga pernah membalap dengan tangki bahan bakarnya menyemburkan api. Mengalami wheel bearing rusak namun tetap finish di posisi ke-4 di GP Inggris 1997 (padahal ia bisa saja menang). Finish terdepan walau bannya mengalami tingkat keausan yang tinggi di GP Hungaria.

Berbagai macam insiden pernah dialaminya di lintasan sirkuit. Ditabrak. Menabrak. Dihantam. Menghantam. Malaikat maut seolah begitu dekat dengannya. Kecelakaan paling parah yang pernah dialami Michael Schumacher mungkin adalah saat GP Inggris 1999 di Silverstone. Kecelakaan parah yang dialaminya di lap pertama itu membuatnya patah kaki dan nyaris mengakhiri karir balapnya. Beruntung ada seorang dokter bernama Professor Gérard Saillant, ahli ortopedi yang begitu tekun dan membantunya pulih. Michael harus merelakan mimpinya merebut gelar dunia pertamanya bersama Ferrari di tahun itu (sebelumnya ia sudah menjadi juara dunia dua kali berturut-turut bersama tim Benneton) karena terpaksa absen hampir sepanjang musim, tapi ternyata kecelakaan itu tak pernah menyurutkan nyali Schumi di atas sirkuit. Setahun kemudian, ia tampil mendominasi dan meraih gelar dunia ketiganya dan memulai masa keemasannya bersama Ferrari dengan merebut lima kali gelar juara dunia berturut-turut.

Keberanian Schumi dan kesuksesannya di dunia balap ternyata bukan hanya menciptakan penggemar fanatik untuknya. Tak sedikit pula yang tak menyukai dominasinya di dunia balap ini. Namun berita kecelakaan yang dialaminya tahun lalu hingga menyebabkannya koma menimbulkan gelombang simpati dan doa dari berbagai pihak. Tak peduli penggemar fanatiknya atau bukan, semua melantunkan doa dan harapan yang tulus bagi kesembuhannya. Semua percaya Schumi bisa melewati semua masa kritis ini. Schumi yang selama karirnya di dunia balap menunjukkan semangat juang yang sangat tinggi diyakini takkan mudah menyerah. Sejumlah pebalap yang menjadi rivalnya maupun rekan setimnya pun menyampaikan doa, harapan dan keyakinan akan kesembuhannya. Salah satunya adalah David Coulthard, pebalap Skotlandia yang pernah membalap untuk tim Williams dan McLaren. DC, sebutan untuk Coulthard, pernah bertengkar hebat dengan Schumi usai sebuah insiden di sirkuit yang membuat Schumi begitu berang hingga mendatangi DC dan memakinya dengan keras. Begitu pun DC pernah mengoloknya di atas sirkuit. Tapi di saat Schumi dalam kondisi kritis usai kecelakaannya di arena ski, DC menulis sebuah artikel yang sangat tulus dan menyentuh.

Berhari-hari para fans fanatiknya berkumpul di depan rumah sakit di Perancis, tempatnya dirawat. Namun kondisi Michael masih belum ada perubahan. Luka serius pada otaknya membuat tim dokter yang menanganinya terpaksa mengkondisikannya dalam keadaan koma. Di antara tim dokternya terdapat pula nama yang tak asing. Professor Saillant, yang pernah menanganinya saat kecelakaan di Silverstone, Inggris pada tahun 1997 langsung terbang ke rumah sakit tempat Schumi dirawat.

Berbulan-bulan lamanya Schumi dalam keadaan koma. Sempat muncul kekhawatiran saat tersiar berita Schumi tak merespon walau tim dokter ahli di sekelilingnya mencoba menyadarkannya dari komanya. Namun setitik cahaya terang muncul saat Schumi mulai menunjukkan reaksi yang menandakan ia telah terbangun dari koma. Walau untuk mencapai tahap pulih seperti sediakala nampaknya masih jauh dari harapan.

Setelah berbulan-bulan dalam keadaan koma, Schumi memang telah terbangun tapi ia mengalami kelumpuhan yang menyebabkannya harus menjalani terapi. Meski begitu harapan tetap layak diusung setinggi-tingginya. Bagaimanapun juga, pulihnya Michael dari koma tetaplah sebuah mujizat yang patut disyukuri. Terlebih setelah berbulan-bulan lamanya dirawat di rumah sakit, kini Schumi telah diperkenankan pulang ke rumahnya di Swiss. Setidaknya hal itu adalah berita baik. Meski para penggemarnya harus merelakan idolanya ini takkan bisa membalap lagi. Tim dokter sudah memastikan bahwa Schumi takkan pernah bisa membalap lagi. Tragis memang. Balapan memang sepertinya sudah mendarah daging bagi Schumi. Bakat balap itu rupanya menurun ke putranya, Mick Schumacher yang belum lama ini diberitakan memulai debutnya di dunia balap mobil.

Michael Schumacher memang sudah tak mungkin lagi membalap. Tapi ia tetap seorang pejuang. Selama karir F1-nya yang spektakuler, Schumi sudah kadung dicap sebagai manusia super pemecah rekor fantastis. Manusia setengah dewa. Jadi tak berlebihan kiranya bila penggemarnya meyakini Schumi takkan menyerah sedemikian mudahnya.

Kini genap setahun insiden itu terjadi. Miracle can happens in many ways. Di dunia balap di mana maut begitu dekat, mujizat merupakan hal istimewa bagi para pebalap. Schumi telah seringkali merasakan keindahan mujizat itu. Dan kali ini pun meski ia tak lagi bertarung di atas sirkuit, tapi Schumi masih mendambakan mujizat itu terjadi atas dirinya.

Sebagai salah satu penggemar fanatiknya, aku selalu berdoa mujizat kembali terjadi atasnya. Aku berharap berita baik dari Michael Schumacher datang. Michael Schumacher adalah pribadi dengan semangat juang yang sangat tinggi. Banyak sudah sirkuit yang bahkan terkenal angker telah ditaklukkan oleh Michael Schumacher. Seperti yang pernah dikatakan oleh Mika Hakkinen, salah satu rivalnya sekaligus rekan yang sangat dihormatinya, saat Michael masih terbaring koma, Mika pernah mengungkapkan keyakinannya bahwa Michael akan mampu melewati masa kritisnya. Fighting for life, kala itu menjadi penyemangat bagi Schumi untuk segera sadar dari komanya dan melewati masa kritisnya. Menyerah sepertinya takkan pernah ada dalam kamus hidup seorang Michael Schumacher. Seperti yang pernah diungkapkannya:

"We are always there, we always fight, we never give up… that’s why we are here.”

"I’ve always believed that you should never, ever give up and you should always keep fighting even when there’s only a slightest chance.”

Jumat, 19 September 2014

Review Novel: The Appeal (Naik Banding) - John Grisham

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama 
ISBN : 978-979-22-9680-8 
Tebal : 512 hlm. 

Bertahun-tahun lamanya warga Bowmore di Mississipi menderita akibat dampak limbah beracun dari pabrik pestisida Krane Chemical yang dibuang secara tak bertanggung jawab sehingga membuat air di kota Bowmore tercemar. Sudah banyak warga kota Bowmore yang menderita dan meninggal akibat kanker yang disebabkan oleh air yang tercemar limbah dari Krane Chemical tersebut. Keadaan ini pula yang membuat Bowmore dikenal sebagai Kota Kanker - Cancer County. Meski begitu, tak ada satupun yang bisa memaksa Krane Chemical mempertanggung jawaban aksi pencemaran lingkungan yang mereka lakukan di Bowmore. 

Di antara korban-korban yang menderita atas pencemaran lingkungan yang dilakukan Krane Chemical adalah Jeannette Baker yang harus kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Suami dan putra semata wayangnya meninggal dunia akibat menderita kanker. Suami dan anak Jeannette Baker ini termasuk kelompok orang yang meminum air yang tercemar. Jeannette sendiri tak mau meminum air dari keran langsung saat melihat air di Bowmore tersebut tercemar, sedangkan suami dan anaknya saat itu masih saja meminum air yang tercemar tersebut karena mempercayai pernyataan dari Krane Chemical bahwa air di Bowmore masih aman dan bisa dikonsumsi. 

Jeannette Baker dibantu biro hukum Payton & Payton, yang dikelola pasangan suami istri, Wes dan Mary Grace Payton, akhirnya berhasil menyeret Krane Chemical ke meja hijau. Menghadapi perusahaan raksasa macam Krane Chemical tentu saja bukan hal yang mudah. Demi kasus ini Wes dan Mary Grace sampai berada di ambang kebangkrutan. Selama menangani kasus ini, mereka terpaksa meninggalkan kasus-kasus lain demi fokus pada kasus Bowmore ini. Akibatnya mereka tak ada pemasukan sementara proses pengadilan yang berlarut-larut membuat pengeluaran terus bertambah. Untuk mengatasi hal ini. Mereka terpaksa berhutang pada bank. Semakin hari hutang mereka di bank pun makin bertumpuk. Gaji para pegawai di Biro Hukum Payton & Payton pun sudah berbulan-bulan tak dibayar. Selain itu mereka juga harus kehilangan rumah mereka di kawasan elite dan sebagai gantinya terpaksa hidup di apartemen sederhana. Mereka juga harus merelakan mobil-mobil mewah mereka dijual. Semua pengorbanan mereka ini berbuah manis saat akhirnya dewan juri memutuskan Krane Chemical bersalah dan diharuskan membayar ganti rugi pada Jeannette Baker senilai 41 juta dolar. 

Kekalahan Krane Chemical di Pengadilan Tinggi Mississipi ini mengakibatkan saham perusahaan pestisida ini merosot tajam. Carl Trudeau, miliuner pemilik Krane Chemical tentu saja tak rela perusahaan hancur tapi yang paling menyebalkan baginya bukanlah saham-sahamnya yang anjlok melainkan keputusan pengadilan yang membuat perusahaannya harus membayar ganti rugi 41 juta dolar pada Jeannette Baker. Selain itu, kekalahannya memicu tuntutan-tuntutan hukum lainnya dari warga Bowmore yang pada akhirnya akan mengancam posisinya dalam daftar orang terkaya versi Forbes. 

Kekhawatiran Trudeau itu memang beralasan, karena setelah kemenangan Biro Hukum Payton & Payton dan Jeannette Baker ini membuat banyak pengacara yang semula enggan menangani kasus warga Bowmore mendadak menaruh minat amat besar, bahkan ada biro hukum besar dari luar Mississipi mengumpulkan sekelompok warga Bowmore yang merasa sebagai korban limbah beracun Krane Chemical dan mengajukan Class Action atas perusahaan raksasa itu. 

Dalam kekhawatirannya ini, Trudeau dihubungi seseorang senator yang memberinya sebuah nama yang dijamin bisa membantunya memenangi kasusnya dalam pengadilan banding di Mahkamah Agung sehingga ia tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk Jeannette Baker maupun masyarakat Bowmore lainnya. Namun tentu saja bantuan ini tak murah. Namun Trudeau lebih rela mengeluarkan uang untuk membayar orang ini daripada membayar uang ganti rugi pada masyarakat Bowmore. Nama orang yang diusulkan senator kenalan Trudeau ini adalah Barry Rinehart. 

Pekerjaan Barry Rinehart ini bisa dibilang cukup unik. Ia mengatur kampanye yang disebut pemilu peradilan, di mana ia bisa menggeser hakim di pengadilan banding dan pengadilan tertinggi yang berpotensi merugikan kliennya dan mengganti posisi hakim itu dengan hakim lain yang bisa memberi keputusan yang diinginkan oleh klien-kliennya. Dan klien Barry Rinehart ini adalah perusahaan-perusahaan besar macam Krane Chemical yang menghadapi tuntutan hukum. Untuk memenangkan klien-kliennya ini, Rinehart bersama kelompok kerjanya ini mengatur kampanye secara agresif dalam pergantian hakim pengadilan yang dinilai akan memberatkan posisi para kliennya. Tentu saja kerja kelompok Rinehart ini sangat rahasia namun sistematis dan tentunya sangat bersih, tanpa dokumen sehingga takkan terlacak. Dengan membayar delapan juta dolar, maka Carl Trudeau akan mendapatkan seorang Hakim Mahkamah Agung yang akan memenangkan kasusnya dan membebaskannya dari segala macam tuntutan warga Bowmore. 

Untuk melakukan pekerjaan ini, Barry Rinehart menugaskan Tony Zachary. Ia yang akan menemui calon potensial untuk menjadi Hakim di Mahkamah Agung Mississippi yang bisa mereka setir untuk memenuhi semua keinginan mereka. Pilihan pun jatuh pada seorang pengacar tak terkenal yang tinggal di luar kota kecil di Brookhaven, Mississippi bernama Ron Fisk. Profil Ron Fisk bisa dibilang tanpa cela, tokoh yang mudah dipoles untuk menjadi pujaan masyarakat. Pria muda kulit putih, menikah dengan satu istri, tiga anak, cukup tampan, berpakaian rapi, konservatif, penganut Kristen Baptis yang taat, lulusan sekolah hukum Universitas Mississipi dan tidak pernah melakukan pelanggaran etika dalam karir hukum, pun tak pernah terlibat masalah pidana selain kena tilang, namun masalahnya meski berprofesi sebagai pengacara, ia tidak tergabung dalam kelompok pengacara persidangan, tidak ada kasus yang kontroversial, tidak memiliki pengalaman apa pun di bangku sidang, yang artinya ia sebenarnya tidak memiliki kompetensi untuk menilai kasus sebagai hakim di persidangan apalagi menjadi seorang Hakim Agung. Tapi justru ini merupakan poin istimewa dari Fisk bagi Zachary dan orang yang mempekerjakannya. 

Fisk tentu saja tak mengetahui rencana besar dibalik penawaran Zachary untuk menjadikannya sebagai Hakim Agung. Fisk yang sederhana dan memiliki hidup monoton ini tentu saja terpesona dengan bayangan posisinya sebagai seorang Hakim Agung. Sebuah kelompok yang dinamakan Judicial Vision menjadi penyandang dana yang akan mempromosikan Fisk menjadi Hakim Agung. 

Demi menjadikan Ron Fisk sebagai Hakim Agung tentu saja diperlukan seorang korban di antara Hakim Agung yang perlu digeser dari posisinya. Pilihan jatuh pada Sheila McCarthy. Berbeda dengan Ron Fisk, banyak kepribadian dari Hakim Sheila McCarthy ini yang tak terlalu mengesankan bagi kelompok konservatif. Sheila McCarthy memiliki moralitas yang cenderung longgar. Janda cerai dan seorang penganut liberalisme. Meski begitu, Sheila McCarthy merupakan seorang Hakim Agung yang tangguh. Kebalikan dari Ron Fisk, Sheila sangat berpengalaman dengan kejamnya pertarungan di ruang sidang. Namun masyarakat tentu saja takkan memperhatikan soal ini. Masyarakat umumnya hanya memperhatikan kehidupan personal dan inilah yang digunakan Tony Zachary dalam kampanye. Dibanding Sheila McCarthy yang liberalis dengan kehidupan pernikahan yang berantakan tentu saja masyarakat akan memilih Ron Fisk yang memiliki kehidupan pernikahan ideal dengan kehidupan keagamaan yang tampak tak bercela pula. 

Sementara itu, Wes dan Mary Grace Payton di antara persiapan menuju banding menghadapi berbagai masalah pelik. Bank yang selama ini memberi mereka pinjaman sehingga biro hukum mereka masih bisa beroperasi tiba-tiba saja terjadi pergantian manajemen, hal ini tentu saja ada campur tangan tak terlihat dari Carl Trudeau. Atas prakarsa Trudeau pula manajemen baru bank ini menyetop pinjaman pada Payton & Payton dan menuntut pembayaran hutang-hutang mereka. Payton & Payton di ambang kebangkrutan. Ayah Mary Grace, warga asli Mississippi yang berharap keadilan bagi warga di tanah kelahirannya ditegakkan merelakan rumahnya digadaikan demi memberi sedikit ruang bagi anak dan menantunya menyelamatkan biro hukum mereka. 

Selain itu ada kabar ahli teknik industri yang bekerja di pabrik Krane di Bowmore bernama Gatewood dikabarkan menghilang. Gatewood sudah bekerja di Krane selama 34 tahun membuatnya sangat mengenal Krane luar dalam. Selama persidangan ia mati-matian membela Krane, sikapnya di pengadilan yang arogan, agrsif, dan cepat marah membuat para juri sangat membencinya. Hakim Harrison yang memimpin sidang dengan jelas bisa mengetahui kesaksian Gatewood adalah palsu dan secara terbuka mengancam Gatewood akan dakwaan atas kesaksian palsu. Hal ini tentu saja justru memberi keuntungan bagi pihak penggugat yaitu Payton & Payton yang mewakili Jeannette Baker. Menghilangnya Gatewood menjelang sidang banding tentu saja menimbulkan tanda tanya. Besar kemungkinan Krane Chemical menyingkirkannya. Dua tahun sebelumnya, Earl Crouch, atasan Gatewood juga dikabarkan menghilang secara misterius. Crouch dan Gatewood sebelumnya selalu membela Krane mati-matian dan menyangkal apa yang sudah terbukti dengan jelas. Pembelaan keduanya terhadap Krane ini ternyata karena mereka diancam. Keduanya mengeluh diancam akan dibunuh. 

Di sisi lain, kampanye menuju kursi hakim Mahkamah Agung Mississippi mulai memanas. Kampanye negatif mulai dilancarkan ke arah Sheila McCarthy, namun kampanye negatif ini tak dilancarkan dari kubu Ron Fisk. Demi membuat Ron Fisk sebagai figur tanpa cela, maka Tony Zachary dan kelompok korporat di belakangnya membayar seorang pengacara pemabuk untuk menjadi calon Hakim Agung yang fungsinya hanya untuk melontarkan kampanye-kampanye negatif terhadap Sheilla McCarthy. Setelah misinya selesai, saat McCarthy sudah hancur-hancuran di muka publik, maka pemabuk bayaran ini pun mengundurkan diri dari pencalonan. 

Sheila McCarthy yang menyadari posisinya sebagai Hakim Agung terancam berupaya mengumpulkan kelompok kampanye yang sebagian besar merupakan para pengacara. Namun dana besar dari Judicial Vision pengusung Ron Fisk bukanlah tandingan kelompok pengacara pendukung Sheila McCarthy yang kebanyakan juga pelit dan tak benar-benar rela menyumbangkan uang pribadi mereka untuk kampanye McCarthy. Hasilnya tentu saja bisa ditebak, Ron Fisk terpilih menjadi Hakim Agung. 

Menjadi hakim terlebih Hakim Agung ternyata memiliki konsekuensi yang tak kecil. Hal ini baru disadari Fisk saat putranya mengalami kecelakaan dalam pertandingan bisbol. Saat itu kasus banding Jeannette Baker versus Krane Chemical sudah menjadi pembahasan hangat di Mahkamah Agung. Delapan Hakim Agung sudah membuat keputusan, pendapat mayoritas dikepalai memenangkan Krane. Keputusan Fisk sangat dinantikan, pendapatnya bisa saja membalikkan keadaan menjadikan kemenangan di pihak Baker tapi ia memilih mengendapkan lebih dahulu keputusan ini demi pertandingan bisbol putranya, Josh. Saat bermain bisbol ini kecelakaan menimpa Josh. Ia mengalami gegar otak dan langsung dibawa ke rumah sakit. Tapi rumah sakit yang didatanginya ternyata melakukan kesalahan yang berakibat kondisi anaknya makin parah. Anaknya lalu dibawa ke rumah sakit lain. Saat berada di rumah sakit inilah Fisk mengalami kejadian yang membuatnya menyadari betapa setiap keputusan yang dibuatnya sebagai seorang hakim sangat memengaruhi hidup orang lain. Di sana ia bertemu Aaron, seorang bocah yang mengalami kecelakaan akibat kelalaian sebuah produsen bush hog hingga menyebabkan bocah ini mengalami cedera otak yang berujung pada cacat permanen. Keluarganya yang mengalami kehancuran finansial menuntut produsen tersebut ke meja hijau. Juri menilai produsen harus bertanggung jawab. Tapi Fisk saat itu berpikir kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan tanpa bisa dicegah dengan mudahnya menjatuhkan putusan yang pada akhirnya merugikan anak tersebut. Kini di saat anaknya sendiri mengalami kejadian nyaris sama, kecelakaan yang diakibatkan kelalaian sebuah korporasi, ia baru menyadari betapa keputusannya bisa memengaruhi hidup-matinya seseorang. 

Sementara itu saham Krane Chemical perlahan mulai merangkak naik kembali. Carl Trudeau merasa puas tapi ia ingin meraih laba lebih besar terlebih ia sudah berinvestasi cukup besar untuk penetapan Ron Fisk menjadi Hakim Agung, ia merasa sudah saatnya menerima hasil investasinya. Ia mulai mendesak penyelesaian kasusnya dengan warga Bowmore. Ron Fisk memang tak mengenal Carl Trudeau tapi setelah ia didesak Tony Zachary yang telah memoles dan memuluskan jalannya menuju posisi Hakim Agung untuk segera menjatuhkan putusan atas kasus Jeannette Baker versus Krane Chemical dengan kemenangan di pihak Krane tentunya, barulah Ron Fisk menyadari pencalonannya menuju kursi hakim di Mahkamah Agung Mississippi disokong oleh korporasi busuk yang kini memintanya membayar jasa. Fisk memang belum kehilangan nurani tapi sayangnya ia merasa tak memiliki kekuatan untuk menentang korporasi besar itu. 

Membaca novel ini kita seperti disuguhi realita pahit kebenaran tak selalu mutlak berjaya. Carl Trudeau bisa jadi merupakan tokoh antagonis tanpa nurani tapi itulah gambaran dari realitas yang ada. Kita bisa jadi iba pada Jeannette Baker yang sejak kemenangan sesaatnya di pengadilan menengah Mississippi yang menetapkan Krane Chemical harus membayar ganti rugi 41 juta dolar pada wanita malang yang telah kehilangan suami dan anak semata wayangnya. Jeannette Baker bisa jadi merupakan gambaran kebanyakan rakyat kecil yang hanya berharap pada keadilan tapi nyatanya hukum tak selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran itu. Namun satu hal yang sangat mengagumkan dari Baker, ia tak terlena pada euforia atas kemenangan singkatnya di pengadilan menengah Mississippi karena ia sadar perusahaan raksasa macam Krane Chemical takkan semudah itu memberinya uang ganti rugi seperti yang diputuskan oleh pengadilan. Ia sadar keadilan mungkin tak bisa sempurna diraihnya tapi ia setidaknya telah berjuang. Bukan untuk dirinya sendiri. Bukan demi ganti rugi puluhan juta dolar untuk dirinya. Perjuangannya melawan korporat besar macam Krane Chemical adalah demi menegakkan keadilan bagi suami dan anaknya walau ia tahu keadilan memiliki versi kisah yang berbeda untuknya. Begitu pula dengan Wes dan Mary Grace Payton. Mereka rela mempertaruhkan segalanya demi kasus Jeannette Baker ini. Bersama Pendeta Denny Ott, mereka bagai suluh bagi warga Bowmore untuk tak putus harapan memperjuangkan keadilan bagi mereka.

Selasa, 02 September 2014

Review Novel : Wuthering Heights - Emily Brontë

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 488 halaman
ISBN : 978 - 979 - 22 - 6278 - 9

Pertama kali mengenal novel klasik ini dari sebuah komik Jepang. Awalnya kupikir kisah ini tentang cinta tragis klasik macam Romeo dan Juliet yang manis namun tragis. Tapi ternyata dugaanku keliru. Novel ini meski memang merupakan kisah cinta tragis tapi jauh dari kesan manis seperti kisah cinta klasik Romeo dan Juliet. Kisah cinta dalam novel ini bisa dibilang getir dan kejam. Tokoh-tokohnya pun bukanlah tokoh protagonis macam Romeo dan Juliet yang bisa membuat kita jatuh hati dan iba. Tokoh dalam novel ini bahkan bisa membuat kita merasa benci, jijik dan muak karena kejahatan dan kelicikan hatinya. Namun justru di sinilah menariknya novel ini. Semua tokohnya bisa menjadi bahan perdebatan sepanjang masa, barangkali inilah yang membuat novel klasik ciptaan Emily Brontë ini menjadi abadi.

Novel ini diawali oleh kisah Mr. Lockwood, seorang kaya yang menyewa sebuah rumah bernama Thrushcross Grange dari seorang bernama Heathcliff pemilik sebuah rumah besar bernama Wuthering Heights. Dari pertemuannya, Lockwood bisa menilai Heathcliff adalah orang yang antisosial yang selalu bermuka masam. Suatu hari saat berkunjung ke Wuthering Heights, Lockwood terjebak badai salju sehingga ia terpaksa menginap di tempat itu. Saat itulah ia mengalami kejadian yang paling aneh dalam hidupnya.

Wuthering Heights bagaikan rumah misteri. Semua penghuninya bermuka masam seperti Heathcliff, sang tuan rumah. Joseph, pelayan tua di sana merupakan seorang pria religius yang rajin membaca kitab suci, ia suka berkotbah tapi juga suka memaki dan menyumpah. Terutama sekali ia suka memaki dan menyumpahi seorang wanita muda di sana yang dianggapnya akan masuk neraka. Wanita muda yang ternyata tak kalah galak dari Joseph ini sebenarnya berparas cantik kalau saja tak memasang wajah masam. Belakangan ia baru tahu kalau wanita muda ini adalah menantu Heathcliff. Selain itu ada juga seorang pemuda yang sebenarnya cukup tampan tapi terlihat bodoh. Sama seperti penghuni lainnya, ia juga bermuka masam dan suka memaki. Lockwood merasa suasana di Wuthering Heights ini sangat suram tapi karena badai salju, ia justru terpaksa harus bermalam di rumah ini. Saat itulah ia mengalami suatu kejadian paling aneh dalam hidupnya.

Ia menempati sebuah kamar yang merupakan milik seseorang bernama Catherine. Hal ini diketahuinya karena ada banyak nama itu di sekitar kamar tersebut. Di langkan jendela ia melihat goresan nama Catherine Earnshaw, Catherine Linton, dan Catherine Heathcliff terukir silih berganti. Selain itu ia juga menemukan sebuah buku harian bersampul kulit yang sudah sangat tua dengan nama Catherine Earnshaw. Untuk mengisi waktu menunggu kantuk datang, Lockwood iseng membaca buku harian tersebut yang rupanya mengisahkan masa kecil seorang gadis bernama Catherine Earnshaw yang ternyata merupakan putri pemilik Wuthering Heights. Dalam buku harian itu tertulis kemarahan Catherine pada Hindley, kakaknya karena melarangnya bermain bersama Heathcliff.

Saat Lockwood tertidur, entah mimpi atau nyata, Lockwood terbangun oleh suara ketukan dari luar jendela. Mengira suara ketukan itu berasal dari ranting pohon, ia bermaksud menyingkirkan ranting yang membuat suara berisik berupa ketukan di jendela kamar tersebut. Namun alangkah terkejutnya ia saat merasa sesuatu yang dingin menggenggam tangannya. Sontak ia menarik tangannya. Tak lama ia mendengar suara seorang perempuan yang mengaku bernama Catherine memohon dengan pilu agar diijinkan masuk. Suara itu mengaku telah dua puluh tahun lamanya tersesat di hutan dan kini sudah kembali. Tak tahan mendengar suara itu, Lockwood berteriak mengusirnya. Keributan ini rupanya membangunkan tuan rumah, Heathcliff.

Kamar yang ditempati Lockwood ini sebenarnya terlarang. Heathcliff tak pernah mengijinkan siapapun menempati kamar tersebut. Zillah, tukang masak di sana, satu-satunya yang berbaik hati menyelamatkannya saat ia dikeroyok kumpulan anjing Heathcliff- lah yang memberikan kamar itu untuk ditempati Lockwood. Namun ia mengingatkan Lockwood untuk berhati-hati agar jangan sampai diketahui tuannya. Heathcliff tentu saja marah saat mengetahui Lockwood menempati kamar terlarang tersebut, tapi kemarahannya tertunda mendengar kisah aneh yang baru saja dialami Lockwood. Kejadian berikutnya yang dirasa tak kalah ganjil oleh Lockwood. Setelah mendengar cerita Lockwood, tiba-tiba saja Heathcliff berlari ke arah jendela, membukanya dan memanggil-manggil Catherine, sambil dengan suara pilu memohon agar Catherine membawa dirinya pergi bersamanya. Tapi tak ada lagi suara wanita seperti yang sebelumnya didengar Lockwood. Hanya ada suara desau badai salju.

Keesokan harinya, setelah badai salju sudah usai. Lockwood kembali ke Thrushcross Grange rumah yang disewanya. Saat menyewa rumah ini, Heathcliff juga memberikan seorang pengurus rumah tangga bernama Ellen Nelly Dean. Ternyata Nelly ini bukanlah orang asing bagi Wuthering Heights. Ia bahkan sangat mengenal semua orang yang ada di Wuthering Heights. Maka ia pun mulai menceritakan semuanya pada Lockwood.

Nelly Dean ternyata dulu bekerja di Wuthering Heights. Suatu hari tuannya, Mr. Earnshaw pemilik Wuthering Heights yang lama pergi ke Liverpool. Di sana rupanya ia bertemu seorang bocah laki-laki yatim piatu yang hidup menggelandang di jalanan. Merasa iba ia membawa bocah laki-laki yang berkulit gelap dan berambut ikal ini ke rumahnya. Tentu saja semua orang terkejut melihat kehadiran bocah laki-laki yang bermuka masam ini. Bocah laki-laki ini kemudian dinamai Heathcliff yang merupakan nama anak Mr. Earnshaw yang meninggal saat masih kecil. Mr. Earnshaw memiliki dua orang anak bernama Hindley dan Catherine. Keduanya tak menyukai kehadiran Heathcliff. Tapi belakangan Catherine yang nakal dan berjiwa bebas ini menjadi dekat dengan Heathcliff. Ia suka bermain di padang bersama Heathcliff. Mereka sangat dekat hingga muncul cerita di mana ada Heathcliff di situ ada Catherine begitu pula sebaliknya. Adapun Hindley, kakak Catherine sama sekali tak menyukai Heathcliff. Ia benci Heathcliff karena anak ini merebut kasih sayang ayahnya. Mr. Earnshaw yang diliputi rasa iba memang sangat menyayangi Heathcliff melebihi rasa sayangnya pada Hindley, putra kandungnya. Ia bahkan memarahi dan menghukum Hindley saat mendapati Hindley menindas Heathcliff. Menyadari ia mendapat rasa sayang dari Mr. Earnshaw, Heathcliff juga bertindak jahat. Suatu hari ia memaksa Hindley menukar kudanya dengan miliknya karena ia tak suka kuda miliknya sendiri. Hindley menolak dan Heathcliff mengancam akan melapor pada Mr. Earnshaw dan mengatakan bahwa Hindley menindasnya. Terpaksa Hindley menuruti kemauan Heathcliff tapi kejadian itu makin menumpuk rasa bencinya pada Heatcliff.

Selain Hindley ternyata kehadiran Heathcliff juga tak disukai oleh Mrs. Earnshaw, ibunda Hindley dan Catherine. Namun ia tak bisa menentang keputusan suaminya yang membawa bocah tanpa asal usul yang jelas ini ke rumah mereka. Tak seperti suaminya, ia tak pernah membela saat Heathcliff diperlakukan secara buruk. Mrs. Earnshaw meninggal dua tahun sejak kedatangan Heathcliff. Seiring waktu kesehatan Mr. Earnshaw juga memburuk dan akhirnya meninggal dunia. Kematian Mr. Earnshaw membuat seluruh harta kekayaannya termasuk Wuthering Height jatuh ke tangan putra sulungnya, Hindley Earnshaw. Dengan kekuasaan yang kini dimilikinya, Hindley akhirnya bisa membalas dendam pada Heathcliff. Ia menempatkan Heathcliff sebagai pelayan dan menyuruh Heathcliff makan di dapur bersama pelayan lainnya. Selain itu ia juga melarang Heathcliff bergaul dengan Cathy, adiknya. Ia menegaskan perbedaan status mereka. Namun Cathy yang sudah sangat akrab dengan Heathcliff ini menolak perintah kakaknya. Hindley yang jengkel dengan perlawanan adiknya pun mengancam akan melempar Heathcliff ke jalanan bila ia tak mau menurut. Meski begitu Cathy dan Heathcliff rupanya tetap saja bermain bersama.

Suatu hari Cathy dan Heathcliff bermain ke Thrushcross Grange, kediaman keluarga Linton. Keluarga ini memiliki dua orang anak bernama Edgar dan Isabella. Saat tengah mengintip ke ruang keluarga Linton, Cathy digigit anjing milik keluarga Linton. Sebagai tanda penyesalan mereka maka Cathy dirawat di rumah keluarga ini sampai sembuh. Selama dirawat di Thrushcross Grange, hubungan Cathy dengan Edgar dan Isabella menjadi dekat bahkan Edgar jatuh cinta pada Cathy. Hal ini membuat Heathcliff yang selama ini merupakan satu-satunya teman bermain Cathy merasa cemburu.

Saat kembali ke Wuthering Heights, perilaku Cathy sedikit berubah. Ia tak lagi urakan seperti dulu. Ia menjadi gadis manis terutama saat Edgar dan Isabella Linton datang ke Wuthering Heights. Hal ini membuat Heathcliff makin kesal. Terlebih setiap kali keluarga Linton datang, Hindley melarang Heathcliff keluar karena ia tak suka bila keluarga Linton berpandangan buruk melihat Cathy bergaul dengan Heathcliff yang berkulit gelap ini.

Suatu hari Cathy yang sudah beranjak dewasa ini merasa galau setelah menerima pernyataan cinta dari Edgar Linton karena diam-diam dalam hatinya ia ternyata mencintai Heathcliff, teman masa kecilnya. Kegalauannya ini diungkapkan Cathy pada Nelly Dean. Secara terbuka Cathy mengatakan bahwa ia mencintai Heathcliff tapi ia merasa akan hidup menderita karena Heathcliff tak memiliki apapun. Tanpa disadari rupanya di tempat itu ada Heathcliff sehingga ia mendengar pernyataan hati Cathy. Setelah mendengar kata-kata Cathy, Heathcliff berlari keluar. Cathy yang terkejut menyadari kehadiran Heathcliff pucat pasi. Sejak hari itu Heathcliff minggat dari Wuthering Heights. Cathy yang merana dipenuhi rasa bersalah pada Heathcliff akhirnya menerima lamaran Edgar Linton. Setelah menikah, Cathy pun diboyong ke Thrushcross Grange. Atas permintaan Cathy maka Nelly Dean pun diboyong ke sana untuk membantu Cathy.

Nelly Dean sebenarnya tak suka ikut ke Thrushcross Grange karena ia tak tega meninggalkan Hareton Earnshaw, putra semata wayang Hindley yang berada dalam asuhannya. Ibunda Hareton, istri Hindley meninggal dunia saat melahirkan Hareton. Kematian istrinya membuat Hindley larut dalam kedukaan panjang. Alih-alih mengurus putranya, ia malah tenggelam dalam minuman keras dan judi. Sepanjang hari kerjanya hanya mabuk-mabukan dan menyerahkan pengasuhan Hareton pada Nelly Dean. Karena keadaan inilah Nelly Dean merasa berat meninggalkan Hareton kecil yang malang ini.

Saat Cathy sudah menikah dengan Edgar Linton tiba-tiba saja Heathcliff kembali. Kedatangannya tentu saja mengejutkan semua orang. Selain fisiknya yang kini gagah, Heathcliff datang sebagai orang kaya baru. Hindley yang walau tak suka pada Heathcliff bersedia menampung Heathcliff di Wuthering Heights karena berharap bisa mendapatkan uang yang dibawa Heathcliff di meja judi. Alih-alih mendapatkan uang milik Heathcliff justru Hindley kalah judi dan membuat Wuthering Heights jatuh ke tangan Heathcliff. Keadaan ini membuat ia makin tenggelam ke dalam minuman keras. Ia berusaha merebut rumahnya kembali dari Heathcliff tapi pikirannya yang sudah dipenuhi alkohol tak pernah mampu mengalahkan Heathcliff di meja judi. Suatu hari Hindley dan Heathcliff bertengkar yang berujung pada kematian Hindley.

Kematian Hindley membuat Heathcliff leluasa berkuasa dan melaksanakan pembalasan dendamnya. Hareton, putra semata wayang Hindley dibiarkannya menjadi pria bodoh tak berpendidikan. Nelly Dean sempat meminta Heathcliff mengijinkan Hareton belajar baca-tulis tapi Heathcliff menolak dan memerintahkan Hareton bekerja di kandang dan kebun. Ia sengaja membuat Hareton tumbuh menjadi pria bodoh tak beradab karena rasa dendamnya pada Hindley, ayah Hareton. Ia malah mengajarkan Hareton memaki dengan kasar yang bukan merupakan sikap pria terhormat. Ironisnya Hareton yang tak terlalu mengenal ayahnya malah memuja Heathcliff dan menganggap Heathcliff adalah penolongnya. Ia sama sekali tak menyadari bahwa Heathcliff telah merebut harta miliknya. Ia bahkan tak menyadari bahwa dirinyalah pemilik sah Wuthering Heights.

Heathcliff kerap datang ke Thrushcross Grange meski tahu Cathy kini sudah bersuami. Cathy sendiri menurut penilaian Nelly Dean bersikap tak pantas dengan selalu menyambut Heathcliff. Penampilan fisik Heathcliff yang kini menjadi pria gagah ini rupanya juga membuat Isabella Linton yang sudah tumbuh sebagai wanita dewasa jatuh hati. Hal ini diketahui Cathy dan dengan jahatnya Cathy malah mengolok-olok perasaan adik iparnya ini di depan Heathcliff. Tak disangka Heathcliff menyambut perasaan Isabella.

Kehadiran Heathcliff sebenarnya tak disukai oleh Edgar Linton, suami Cathy sekaligus kakak Isabella. Namun mengingat Heathcliff adalah teman masa kecil Cathy, maka ia membiarkan saja Heathcliff datang menemui istrinya hingga akhirnya suatu hari ia tak tahan dengan sikap kasar Heathcliff sehingga ia mengusirnya dan tak mengijinkan Heathcliff menginjak rumahnya lagi. Cathy pun marah pada suaminya. Mereka bertengkar hebat. Cathy mengunci diri dalam kamar dan mogok makan selama tiga hari sementara Edgar membenamkan kekesalannya di perpustakaan pribadinya. Cathy yang manja dan suka dipuja ini sebenarnya berharap Edgar datang memohon maaf dan menyenangkan hatinya tapi ternyata Edgar malah lebih suka berada di antara buku-bukunya sehingga membuat Cathy jengkel dan murka.

Esoknya mereka mendengar kabar Heathcliff dan Isabella Linton kawin lari. Baik Cathy maupun Edgar merasa marah dan kecewa untuk alasan yang berbeda. Edgar yang marah memutuskan hubungan dengan adik semata wayangnya itu. Sementara Catherine yang terluka ini tiba-tiba terserang demam otak yang membuatnya tak menyadari kekiniannya. Pikirannya malah membawanya ke masa lalu dan membuatnya merasa kembali ke masa di saat ia masih tinggal di Wuthering Heights.

Catherine berhasil disembuhkan dari demam otaknya tapi luka hati yang dibuat oleh pernikahan secara sembunyi-sembunyi antara Heathcliff dengan Isabella rupanya membekas dalam. Makin hari kondisi Cathy kian lemah padahal ia tengah mengandung anaknya dengan Edgar. Kondisi Cathy yang lemah ini membuat bayinya lahir prematur. Jiwa Cathy sendiri tak selamat. Ia meninggal saat melahirkan putrinya yang dinamai Catherine oleh Edgar. Semasa hidup Catherine, istrinya, Edgar tak pernah memanggil Catherine dengan nama panggilannya, Cathy, karena Heathcliff telah menggunakan nama panggilan itu. Kini dengan kehadiran putrinya yang bernama sama, ia menggunakan nama panggilan Cathy untuk anaknya.

Sementara itu Isabella baru menyadari bahwa Heathcliff tak benar-benar mencintainya. Hanya sehari setelah mereka resmi menikah, Heathcliff menunjukkan sifat aslinya. Ia memperlakukan Isabella dengan kasar. Heathcliff bahkan nyata-nyata menegaskan bahwa ia tak mencintai Isabella. Ia mengawini Isabella hanya untuk membalas dendam pada Edgar. Menyadari hal ini Isabella sangat terluka. Perlakuan kasar Heathcliff tak berkurang sekalipun mengetahui Isabella tengah mengandung anak mereka. Tak tahan akhirnya Isabella kabur. Dalam pelariannya ini ia melahirkan anak laki-laki yang dinamai Linton Heathcliff. Isabella yang selama ini anak manja yang serba berkecukupan kini harus bekerja demi membiayai hidupnya dan putranya yang lemah dan sakit-sakitan. Tubuh Isabella juga lemah hingga akhirnya ia meninggal dunia. Namun sebelum meninggal ia sempat menulis surat pada Edgar, kakaknya dan memohon agar Edgar mau merawat putra semata wayangnya karena ia tak ingin Heathcliff merawat anaknya.

Edgar pun menjemput keponakannya. Perjalanan panjang ternyata membuat Linton yang lemah ini makin parah. Setibanya di Thrushcross Grange, Linton hanya bisa berbaring sepanjang hari. Sebelumnya Edgar sudah mempersiapkan Catherine, putrinya untuk menyambut Linton, sepupunya yang lebih muda beberapa tahun ini. Sama seperti ibunya, Catherine Linton memiliki vitalitas hidup yang sangat tinggi. Melihat Linton kecil yang malang ini hanya bisa berbaring dengan wajah pucat menimbulkan rasa sayang dalam diri Catherine. Sebenarnya ia sangat ingin mengajak Linton bermain tapi kondisi fisik Linton yang sangat lemah tak memungkinkannya bergerak seaktif Catherine.

Berita Edgar membawa putra Isabella ternyata sampai ke telinga Heathcliff. Sebagai ayah kandungnya tentu saja Heathcliff meminta agar anaknya diserahkan padanya. Edgar yang merupakan hakim terpandang di daerah itu meski keberatan namun tak mungkin menolak karena secara hukum Heathcliff memang berhak atas Linton, putra kandungnya. Maka Linton pun terpaksa diserahkan kepada Heathcliff.

Catherine kecil yang tiba-tiba tak lagi melihat Linton tentu saja sangat sedih saat tak lagi melihat "mainan"-nya tersebut. Edgar yang sejak awal memutuskan Catherine tak boleh mengenal apalagi menginjak tanah Wuthering Heights hanya memberi penjelasan singkat mengenai kepergian Linton.

Waktu berlalu dan tak terasa Catherine tumbuh besar. Ruang jelajah bermainnya pun makin luas. Meski begitu, Edgar selalu bisa menjauhkan Catherine dari Wuthering Heights yang merupakan satu-satunya tetangga terdekatnya. Tiap tahun di hari kematian Catherine Earnshaw, Edgar menyendiri seharian di makam istrinya. Sehingga pengawasan Catherine, putrinya diserahkannya pada Nelly Dean. Namun Catherine yang aktif kerap menyulitkan Nelly Dean hingga suatu kali tanpa bisa dicegahnya, Catherine lepas dari pengawasannya. Panik ia mencari nona kecilnya yang ternyata ada di Wuthering Heights. Khawatir hal ini diketahui tuannya, ia bergegas ke sana untuk menjemput nona kecilnya. Namun Heathcliff yang menyambutnya secara langsung bersikap licik dengan sengaja menahan Catherine dan dirinya lebih lama. Catherine yang tak menyadari bahaya sama sekali tak mengira Heathcliff adalah serigala berbulu domba. Dengan keramahan yang tak biasa, Heathcliff menyambut Catherine yang rupanya mewarisi mata yang sama seperti ibunya. Melihat Nelly Dean, dengan girang sekaligus penuh tuntutan, Catherine mengajukan protesnya karena merasa dibohongi. Selama ini Linton, sepupunya ternyata tinggal tak terlalu jauh dari rumahnya.

Heathcliff mengatur secara licik agar Catherine Linton bisa menikahi putranya yang lemah dan sakit-sakitan itu sehingga ia bisa menguasai Thrushcross Grange sekaligus memberi pukulan terakhir pada Edgar Linton, musuh bebuyutannya.

Setelah mengetahu hal ini, Catherine jadi suka sembunyi-sembunyi pergi ke Wuthering Heights demi menemui Linton. Mereka juga kerap saling berkirim surat. Nelly Dean yang khawatir nona kecilnya masuk perangkap jahat Heathcliff mengingatkan anak asuhnya ini bahkan ia mengancam akan melaporkan kelakuan memalukannya pada ayahnya. Untuk sesaat Catherine memang takut dengan ancaman Nelly Dean. Bagaimana pun ia sangat menyayangi ayahnya dan tak ingin ayahnya kecewa. Namun Catherine yang tengah tumbuh menjadi gadis remaja ini pun tengah mengalami rasa jatuh cinta. Ia masih secara sembunyi-sembunyi berkirim surat dengan Linton Heathcliff dan diam-diam menemui Linton mengantarkan buku bacaan seperti yang dijanjikannya. Mereka bertemu di padang di antara Thrushcross Grange dan Wuthering Heights. Catherine sama sekali tak menyadari bahwa sebenarnya setiap kalimat dalam surat Linton untuknya adalah hasil dikte-an Heathcliff yang merasa muak pada putranya karena sangat lembek dan tak bisa apa-apa ini. Dengan kejam ia memaksa bahkan mengancam putranya yang diperintahkannya memikat hati Catherine hingga akhirnya suatu hari hal yang ditakutkan Nelly Dean terjadi pula. Catherine "diculik" Heathcliff dan dipaksa untuk menikahi Linton. Catherine awalnya memberontak dan memaksa ingin pulang karena ia mengkhawatirkan ayahnya terlebih ia mendengar ayahnya jatuh sakit saat mendengar Catherine hilang. Demi supaya bisa diijinkan pergi menemui ayahnya, maka Catherine pun bersedia memenuhi permintaan Heathcliff dan menikahi Linton. Tapi ternyata Heathcliff bersikap licik. Sementara kondisi Edgar makin lemah karena rasa sedihnya terhadap keadaan putrinya hingga akhirnya Edgar meninggal dunia. Catherine sangat menyesal tapi semua sudah jadi bubur. Setelah kematian Edgar Linton, dengan liciknya Heathclif merampas Thrushcross Grange menjadi miliknya. Tak lama Linton, putra Heathcliff yang memang sudah lemah sejak lahir ini pun meninggal dunia. Di saat sakratul mautnya, Catherine yang ketakutan meminta Heathcliff menolong Linton yang kesakitan tapi Heathcliff dengan kejam mengacuhkannya. Kejadian ini membuat Catherine jadi dingin dan akhirnya bersikap seperti penghuni Wuthering Heights lainnya.

Awalnya Hareton masih bersikap baik dan manis pada Catherine. Tapi Catherine yang muak pada kekejaman sekelilingnya membuatnya bersikap sinis dan melecehkan Hareton hingga membuat pemuda itu pun malu dan berbalik bersikap masam dan ketus. Namun akhirnya Catherine menyadari untuk membalas dendam dan menghancurkan Heathcliff maka ia perlu mencari sekutu. Pilihannya jatuh pada Hareton. Ia bisa menjadi teman sekutunya. Ia pun berbalik bersikap baik pada Hareton dan mengajarinya membaca. Hareton sangat suka bila Catherine membacakan buku untuknya. Namun masalahnya Hareton yang malang ini memuja Heathcliff dan menganggap Heathcliff sebagai idola sekaligus ayahnya. Satu-satunya cara untuk melepaskan Wuthering Heights dari kemuraman adalah kematian Heathcliff.

Selasa, 19 Agustus 2014

Wisata Keliling Museum : Jejak Peradaban dan Sejarah Bangsa di Museum Nasional Republik Indonesia

Seperti janjiku sebelumnya, kali ini aku akan membahas acara jalan-jalanku ke Museum Gajah alias Museum Nasional. Nama resmi museum yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat ini adalah Museum Nasional Republik Indonesia, tapi museum ini kerap disebut Museum Gajah, hal ini dikarenakan keberadaan patung gajah yang menghiasi bagian depan gedung museum yang terletak tepat di samping kantor Kementerian Sekretariat Negara ini. Patung gajah ini rupanya bukanlah patung gajah biasa. Patung gajah berbahan perunggu ini merupakan hadiah yang diberikan oleh Raja Chulalongkorn dari Thailand (dulu bernama Siam) pada tahun 1871 saat berkunjung ke Batavia.


Gedung Museum Nasional yang sangat dipengaruhi bentuk arsitektur Eropa ini dibangun pada tahun 1862 oleh pemerintah Hindia Belanda. Nama Museum Nasional Republik Indonesia mulai resmi digunakan sejak 28 Mei 1979. 

Dibanding Museum Sejarah Jakarta, pengelolaan di Museum Nasional bisa dibilang jauh lebih modern. Dalam museum ini terdapat dua gedung yaitu gedung lama (Unit A) dan gedung baru (Unit B). 

Kami lebih dulu memasuki gedung lama (Unit A). Di sini terdapat banyak sekali koleksi patung atau arca yang sebagian besar peninggalan dari masa Kerajaan Majapahit. Kebanyakan adalah arca dewa Siwa, dewa utama dan yang paling dipuja dalam agama Hindu. Tapi yang paling menarik perhatian adalah arca Bhairawa dengan Nomor Inventaris 6470. Bagaimana tidak menarik, patung ini bisa dibilang merupakan yang tertinggi di sini. Patung yang terbuat dari batu andesit ini sangat mencolok perhatian karena tingginya yang mencapai 4,41 meter dengan berat 4 ton. 


Bhairawa adalah dewa raksasa dalam aliran Hindu-Buddha atau Tantrayana. Dikisahkan Bhairawa merupakan pengejawantahan Siwa sekaligus Buddha sebagai raksasa yang menakutkan. Namun arca Bhairawa ini dianggap merupakan perwujudan Adityawarman yang merupakan penganut Buddha aliran Tantrayana Kalachakra. 

Nah, Adityawarman ini adalah salah seorang bangsawan Majapahit keturunan Melayu yang diangkat menjadi raja di Sumatra. Konon Adityawarman disebut-sebut memiliki hubungan darah dengan keluarga Kerajaan Majapahit. Bahkan setelah Jayanegara, raja kedua Majapahit meninggal tanpa meninggalkan anak, Adityawarman yang merupakan sepupu Jayanegara, dikatakan merupakan salah satu calon pewaris tahta Kerajaan Majapahit. Tapi seperti yang diketahui kemudian, Ratu Tribhuwanottunggadewi, adik dari Jayanegara yang akhirnya naik takhta menggantikan ibunya, satu-satunya permaisuri dari Raden Wijaya yang masih hidup namun lebih memilih menjadi pertapa, meninggalkan hiruk-pikuk keduniawian. 

Pada tahun 1343, di masa pemerintahan Ratu Tribhuwanottunggadewi, Adityawarman disebut-sebut turut membantu Gajah Mada menaklukkan Bali. Setelah itu Adityawarman yang juga dikenal dengan panggilan Mpu Aditya kembali ke Sumatera dan mengangkat dirinya sebagai maharaja namun tetap tunduk dan mengakui kebesaran Kerajaan Majapahit. 

Penggambaran arca Bhairawa ini bisa dibilang cukup mengerikan. Bagaimana tidak, arca ini berupa pria yang berdiri di atas mayat seorang manusia cebol dengan deretan tengkorak di sekelilingnya. Di tangan kanannya ia memegang cangkir yang terbuat dari tengkorak sementara tangan kirinya memegang belati. Di bagian perutnya terpahat seraut wajah yang rupanya merupakan ukiran kepala Kala. 

Arca Bhairawa ini ditemukan di Padang Roco, Sungai Langsat, Sumatra Barat dan diperkirakan berasal dari abad ke-14. Arca ini dikabarkan pernah roboh dan terkubur dalam tanah. Hanya sisi bagian lapik (alas) yang menyembul ke permukaan tanah. Penduduk setempat yang tak mengetahui bahwa yang menyembul itu adalah bagian dari sebuah arca menjadikan batu yang menyembul itu sebagai batu pengasah parang dan membuat lubang lumpang atau lesung untuk menumbuk padi. Pada tahun 1935 arca Bhairawa ini diangkut oleh pemerintah Hindia Belanda ke Kebun Margasatwa Bukittinggi kemudian pada 1937 arca Bhairawa ini dibawa ke Batavia dan ditempatkan di Museum Nasional sampai sekarang. 

Selain arca Bhairawa, yang juga menarik perhatianku adalah arca dewa Agni. Dalam kisah Mahabharata, seperti yang tengah rutin ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi nasional, Arjuna, putra ketiga Raja Pandu dengan dewi Kunti atas karunia dari dewa Indra, meminta bantuan dari dewa Agni yang juga dikenal sebagai dewa api untuk membakar hutan Kandhawa. 


Selain arca Siwa, arca Parwati, istri dewa Siwa juga banyak sekali. Tapi ada satu arca Parwati dengan nomor inventaris 256a/103b/2082 yang sangat menarik perhatianku. Pada label keterangan yang menyertai arca ini dijelaskan bahwa arca Parwati yang berasal dari Candi Rimbi, Jombang, Jawa Timur ini merupakan perwujudan dari Ratu Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwardhani, ibunda dari Raja Hayam Wuruk yang memerintah Majapahit pada tahun 1328-1351 Masehi. 

Arca Parwati yang dianggap perwujudan Ratu Tribhuwanottunggadewi yang memerintah Majapahit pada tahun 1328-1351.

Di bagian lain ada pula sebuah arca yang merupakan perwujudan dari Raja Kertarajasa Jayawardhana, pendiri sekaligus raja pertama Majapahit yang memerintah pada tahun 1293-1309. Raja Kertarajasa yang juga dikenal dengan nama Raden Wijaya merupakan ayah dari Ratu Tribhuwanottunggadewi. Arca tersebut adalah arca Harihara dengan nomor inventaris: 256/103a/2082. Arca ini juga sangat menarik. Pada label keterangannya dijelaskan bahwa Harihara adalah persatuan dewa Siwa (Hara) dan dewa Wisnu (Hari). Arca ini berasal dari Candi Sumberjati, Simping, Blitar, Jawa Timur. 

Harihara, persatuan dewa Siwa dan dewa Wisnu. Arca ini dianggap perwujudan Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit.

Bagi pecinta sejarah atau penggemar kisah-kisah wayang, mungkin gedung arca ini merupakan tempat yang sangat menarik mengingat begitu banyak arca yang juga menjadi tokoh-tokoh dalam kisah-kisah wayang. Ada satu kejadian menarik yang kusaksikan di sana. Saat tengah mengamati arca-arca dan membaca label-label keterangan dari arca-arca tersebut, ada seorang pria yang dengan telatennya memberitahu putrinya kisah-kisah di balik tokoh-tokoh arca yang diamatinya. Putrinya dengan antusias mengamati arca-arca yang ditunjuk ayahnya dan sesekali mengajukan pertanyaan yang dengan fasih dapat dijawab oleh ayahnya. Mungkin bagi beberapa orang kejadian ini merupakan hal biasa. Tapi bagiku ini adalah kejadian menarik. Karena alih-alih mengajak anaknya jalan-jalan tanpa juntrungan ke mall, seperti umumnya di masa kini, si ayah ini justru membawa anaknya ke museum dan dengan pengetahuannya soal kisah-kisah dunia perwayangan membuat si anak sangat antusias mendengar kisah-kisah yang dituturkan ayahnya sambil mengamati tiap-tiap arca yang ditunjuk ayahnya. 

Koleksi arca di gedung Museum Nasional ini bisa dibilang sangat banyak. Ada beberapa arca Ganesha, dewa pengetahuan yang sangat bisa dikenali karena bentuk kepalanya yang berupa seperti gajah ini. Sayangnya ada beberapa arca Ganesha yang bagian belalainya sudah hilang atau keropos. 

Patung Ganesha juga termasuk salah satu patung yang banyak terdapat di Museum Nasional ini. Patung Ganesha ini adalah salah satunya.

Pada bagian belakang gedung ini terdapat Taman Prasejarah. Di sini kita bisa melihat berbagai macam contoh sarkofagus, peninggalan masa pra sejarah yang sering sekali kita dengar dalam pelajaran sejarah tapi tak pernah kita lihat bentuk rupanya. Yang juga selalu kuingat dari pelajaran sejarah saat sekolah adalah menhir. Sama seperti sarkofagus, menhir juga kerap muncul dalam pelajaran sejarah saat aku sekolah tapi sama sekali tak diperlihatkan contoh bentuk rupanya seperti apa. Nah, di Museum Nasional ini barulah aku melihat bentu rupa dari kedua objek sejarah tersebut 

Salah satu contoh menhir di museum ini adalah menhir gada yang berasal dari Danau Poso, Sulawesi Tengah. 

Menhir Gada yang berasal dari Danau Poso, Sulawesi Tengah. Salah satu koleksi di Taman Prasejarah Museum Nasional. Sedangkan patung di belakangnya tak disertai label keterangan, tapi bentuknya dan pahatannya menarik perhatianku.

Keluar dari gedung ini, kami beranjak ke gedung di sampingnya. Di sini ada empat lantai. Tapi kami hanya sempat menyusuri sampai ke lantai dua saja. 

Di gedung ini terdapat banyak benda-benda kebudayaan dari seluruh nusantara. Di bagian awal terdapat peta besar Indonesia. Masuk ke dalamnya ada ruang pamer masa pra sejarah di mana terdapat patung manusia purba. 

Patung keluarga manusia purba yang terdapat di gedung Unit B. Di gedung ini banyak dipamerkan sejarah peradaban manusia dan berbagai koleksi budaya Indonesia.

Salah satu yang menarik di sini adalah cetakan otak Homo Erectus Progresif. Cetakan otak ini diambil dari fosil tengkorak Homo Soloensis IV dengan volume sebesar 1.100cm3. Homo Soloensis adalah jenis manusia purba paling progresif di antara kelompoknya. Pada dinding dekat ruang pamer ini terdapat penjelasan mendetail mengenai evolusi manusia hingga jenis Homo Erectus Progresif ini. Jika mampir di sini, cobalah membaca mengenai Pohon silsilah manusia sekadar untuk menambah pengetahuan kita mengenai evolusi manusia. 

Di sebelahnya ada fosil gading Stegodon (Elephas sp.). Beberapa langkah di seberangnya ada replika tengkorak manusia Flores. Dijelaskan bahwa otak manusia Flores adalah jenis otak terkecil. 

Fosil Gading Stegodon , jenis gajah purba. Di sampingnya adalah cetakan otak manusia purba jenis Homo Erectus Progresif. Salah satu jenis manusia purba yang paling maju (progresif) dalam tingkatan evolusi Homo Erectus.

Di tempat ini ada pula beberapa perhiasan serta jimat-jimat dari daerah-daerah di nusantara ini. Beberapa perlengkapan yang digunakan untuk upacara di beberapa daerah. Salah satunya adalah anyaman yang dibuat dari daun lontar yang bernama Cili. Anyaman yang bisa juga dibuat dari daun pandan selain daun lontar ini berupa seorang wanita yang menjadi simbol "Dewi Sri" dan ditempatkan di atas sesaji untuk dibawa saat upacara tertentu seperti upacara panen atau sebagai hiasan pada lamak (salah satu dekorasi bebantenan di Bali). 

Cili (kiri), anyaman dari daun lontar yang menyerupai seorang wanita sebagai simbol "Dewi Sri" untuk upacara panen. Di sebelahnya adalah Ketu atau penutup kepala sebagai pelengkap pakaian pendeta tinggi (pedanda) dalam agama Hindu yang digunakan dalam upacara di Bali.

Berada ruangan ini kita seperti disadarkan akan kekayaan budaya bangsa ini. Ada pula beberapa benda-benda tekstil dengan pola khas budaya dari daerah-daerah asalnya. 

Dalam gedung ini terdapat pula beberapa prasasti di antaranya Prasasti Mulawarman, peninggalan dari Kerajaan Kutai. Prasasti ini juga disebut yupa merupakan peninggalan tertua dari kerajaan Hindu di Indonesia. Prasasti yang berbentuk tinggi lurus seperti tiang ini ditemukan di hulu sungai Mahakam, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Prasasti yang berisi tulisan dalam bahasa Sansekerta ini diperkirakan berasal dari sekitar tahun 400 Masehi. Isinya menceritakan Raja Mulawarman memberikan sumbangan yang sangat besar berupa sapi kepada kaum Brahmana. 

Prasasti Mulawarman, salah satu prasasti tertua di Indonesia, peninggalan Kerajaan Kutai, Kalimantan Timur. Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia.

Di ruang lain, kita juga bisa menemukan Prasasti Telaga Batu yang juga tak kalah menarik. Prasasti yang dibuat dari batu andesit dengan tinggi 118 cm dan lebar 148 cm ini berbentuk seperti setengah lingkaran. Bagian atasnya terdapat hiasan tujuh ekor kepala kobra sementara bagian bawahnya ada semacam legokan kecil yang setelah aku browsing dari internet ternyata cerat sempit itu untuk mengalirkan air pembasuh. Aku sangat tertarik dengan bentuk prasasti ini, namun setelah aku browsing di internet ternyata prasasti ini berasal dari Kerajaan Sriwijaya, tapi yang membuatku terkejut ternyata di balik keindahan prasasti ini, isi dari prasasti ini adalah kutukan bagi siapapun yang melakukan kejahatan di Kedatuan Sriwijaya dan yang tak taat pada perintah Datu. Tulisan dalam prasasti ini menggunakan huruf Pallawa, bahasa Melayu kuno. 

Prasasti Telaga Batu, peninggalan kerajaan Sriwijaya. Bentuknya terlihat indah dan menarik, tapi siapa sangka ternyata isinya adalah kutukan.

Di depan Prasasti Telaga batu, ada sebuah patung yang juga sangat menarik. Patung itu adalah Pancuran Samudramanthana dengan nomor inventaris : 383a/4385 berasal dari Sirah Kencong, Wlingi, Blitar, Jawa Timur. Baik bentuk dan relief patung yang berasal dari abad abad ke- 13-14 Masehi ini sangat menarik perhatian kami. Ternyata pula setelah aku mencari tahu di internet, kisah di balik patung ini benar-benar menarik. 

Pancuran Samudramanthana. Relief yang menggambarkan pergulatan para dewa demi mendapatkan amerta "air kehidupan". Di balik bentuknya yang menarik ini ternyata memiliki kisah yang tak kalah menariknya.

Pancuran Samudramanthana mengisahkan perseteruan antara para dewa dan raksasa dalam memperebutkan amerta yaitu 'air kehidupan' yang bisa membuat siapapun yang meminumnya akan hidup abadi. Konon air kehidupan ini tersembunyi di dasar samudra dan dijaga sejumlah naga. Para dewa lalu bersatu padu untuk mengambil air kehidupan ini. Dikisahkan dewa Wisnu sampai menjelma menjadi kura-kura yang sangat besar sementara dewa Wasuki menjelma jadi seekor ular yang amat panjang yang melilit Gunung Mandara yang digunakan para dewa untuk mengaduk samudra demi mengeluarkan amerta dari pusat samudra ini. Para raksasa turut dilibatkan dalam proyek besar ini. Kaum raksasa memegang bagian kepala ular sementara bagian ekor ular dipegang oleh para dewa. Silih berganti mereka menarik "tali" dari ular jelmaan dewa Wasuki tersebut hingga akhirnya keluarlah dari dalam samudra Dhanwantari yaitu tabib kehidupan dari dalam kehidupan menjinjing sebuah guci berisi amerta yang mereka cari. Celakanya Dhanwantari keluar menuju kepala ular jadi para raksasalah yang mengambil dan membawa lari guci amerta tersebut. 

Para dewa pun berusaha merebut kembali guci amerta tersebut dari tangan kaum raksasa. Dewa Brahma bahkan sampai menjelma jadi bidadari yang amat cantik untuk memperdayai para raksasa yang tengah berpesta pora merayakan keberhasilan mereka merebut guci amerta. Singkat cerita akhirnya Dewa Brahma pun berhasil merebut guci amerta itu dari tangan para raksasa. 

Kisah itu merupakan cerita yang diambil dari kitab resi India Adiparwa-Mahabharata. 

Sementara kisah Pancuran Samudramanthana versi Indonesia agak sedikit berbeda namun tak kalah seru dan menarik. 

Dalam versi Indonesia yang terdapat dalam kitab Tantu Panggelaran dikisahkan rencana memindahkan Gunung Mahameru dari India ke Pulai Jawa. Dalam cerita, keadaan pulau Jawa ketika itu masih belum tetap kedudukannya karena terombang-ambing oleh gelombang laut. Agar pulau Jawa tetap berada di tempatnya, Bhatara Guru memerintahkan para dewa dan raksasa memindahkan Gunung Mahameru dari India ke Jawa sebagai alat pemberat. Untuk mengangkat Gunung Mahameru ini tentu saja sangat sulit. Untuk itu Dewa Wisnu pun menjelma jadi kura-kura besar dan puncak Mahameru diletakkan di atas punggungnya. Sementara Dewa Brahma menjelma jadi ular yang sangat panjang sehingga bisa digunakan sebagai 'tali' untuk menarik gunung tersebut sehingga akhirnya puncak Mahameru berhasil dibawa ke pulau Jawa. Awalnya gunung ini diletakkan di sebelah barat pulau tapi malah mencuat dan miring sehingga akhirnya dibawalah gunung tersebut ke sebelah timur. Selama perjalanan menuju arah timur, bagian-bagian gunung tersebut berceceran dan kemudian menjadi deretan gunung-gunung di pulau Jawa. Sisanya diletakkan di bagian timur pulau Jawa dan menjadi Gunung Semeru. Nah adegan inilah yang kemudian menjadi relief dari patung Pancuran Samudramanthana ini. 

Perjalanan kami di Museum Nasional terpaksa dihentikan karena keterbatasan waktu. Tak puas memang hati ini karena kami belum sempat mengelilingi seluruh ruangan di dalam gedung ini. Sambil membatin dalam hati, suatu hari kami akan kembali lagi ke sini untuk menjelajah lebih jauh, akhirnya kami melangkah keluar dan menyempatkan diri berfoto-foto di depan patung Gajah persembahan Raja Siam yang menjadi maskot gedung Museum Nasional Republik Indonesia ini. Pendek kata, sedikit berpromosi nih;) jika ingin liburan yang lain dari biasanya, cobalah berkunjung ke museum sambil mengajak anak-anak Anda, ajaklah anak-anak mengenal jejak dari negeri ini dengan berwisata ke museum karena jejak di sana adalah jatidiri kita di masa kini.

Salah satu koleksi di Taman Prasejarah Museum Nasional. 
Tak ada label yang menyertai koleksi ini.

Selasa, 12 Agustus 2014

Wisata Keliling Museum : Oleh-oleh Dari Museum Sejarah Jakarta

Liburan selalu menjadi saat-saat yang amat dinantikan bukan hanya oleh pelajar tapi juga para pekerja. Rutinitas dan tumpukan tugas kadang membuat pikiran dan tubuh terasa penat. Berlibur jadi saat bagi tubuh dan pikiran mendapatkan pelepasan dari segala kepenatan itu dengan harapan setelah berlibur dengan pikiran dan tubuh yang terasa lebih segar memberi energi baru untuk kembali memulai aktivitas sehari-hari. Selain itu liburan juga merupakan saat istimewa bagi orang tua bersama anak-anaknya, mengingat sehari-hari orang tua kerap disibukkan dengan pekerjaannya sehingga tak terlalu banyak waktu yang dimilikinya untuk bersama anak-anaknya. Itu pula sebabnya, berlibur dewasa ini menjadi salah satu agenda wajib sampai-sampai disiapkan budget khusus untuk berlibur. 

Di Jakarta sendiri ada banyak tempat wisata yang bisa dijadikan pilihan sebagai tempat mengisi liburan. Umumnya mall yang memang banyak tersebar di Jakarta menjadi pilihan sebagai tempat berlibur tapi kerap kali keluar masuk mall menjadi hal yang membosankan. Nah, bila bosan berlibur di mall atau tempat-tempat liburan pada umumnya, kenapa tidak mencoba berlibur ke museum? 

Dewasa ini berlibur ke museum sepertinya sudah menjadi budaya yang amat menggembirakan. Berlibur ke museum bukan hanya memberikan nilai rekreasi tetapi juga ada nilai-nilai edukasi budaya dan sejarah yang bisa digunakan bagi orang-orang tua untuk memberikan nilai-nilai pendidikan bagi putra-putrinya. 

Beberapa waktu lalu, aku bersama sahabat-sahabatku menyempatkan diri mengisi liburan kami dengan mengunjungi Museum Sejarah Jakarta atau dikenal juga dengan nama Museum Fatahillah dan Museum Gajah alias Museum Nasional. Sebenarnya kami berniat mengunjungi beberapa museum tapi sayangnya kami baru bisa menyempatkan diri ke dua museum ini saja. Untuk yang pertama akan kubahas adalah Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah di kawasan wisata kota tua Jakarta. 

Pertama kali aku berkunjung ke Museum Jakarta adalah saat aku masih sekolah jadi rasanya sudah lama sekali. Kesan pertamaku saat itu, museum adalah tempat yang sangat suram dan sunyi dengan hanya sedikit pengunjung. Tapi saat aku kembali berkunjung ke Museum Fatahillah saat liburan kemarin, terus terang aku cukup terkejut karena ternyata pengunjungnya kini lumayan banyak. Antrian untuk masuk bahkan lumayan panjang. Hal ini bisa dimaklumi, karena lantai 1 dan lantai 2 museum dibatasi hanya 500 orang dalam waktu bersamaan sehingga antrian di luar jadi lumayan panjang. Untung saat kami datang, meski hari sudah cukup terang tapi belum terlalu terik, jadi meski harus mengantri lama tak sampai membuat kami kepanasan apalagi dehidrasi. Halaman museum pun kini menjadi jauh lebih luas. Sayangnya di halaman museum yang luas ini banyak diisi oleh pedagang-pedagang kaki lima, padahal kalau saja halaman luas museum ini tak terlalu banyak diokupasi para PKL, pengunjung museum pasti bisa lebih leluasa menikmati kunjungan ke museum ini. 

Untuk masuk ke dalam museum, harga tiketnya tak terlalu mahal. Anak-anak hanya perlu membayar dua ribu rupiah saja, mahasiswa hanya perlu membayar tiga ribu rupiah sedangkan untuk umum (dewasa) dikenai tiket seharga lima ribu rupiah. Bagi wisatawan asing dikenai biaya masuk sebesar sepuluh ribu rupiah. Harga yang sangat bersahabat. Berlibur tanpa harus membuat kantong bolong 

Setelah masuk ke dalam museum, setiap pengunjung diminta mengganti alas kakinya dengan sandal yang disiapkan oleh pihak museum. Kebijakan ini memang terbilang baru. Sejak bulan Maret 2014 setiap pengunjung yang memasuki bangunan utama Museum Sejarah Jakarta diharuskan mengenakan alas kaki yang telah disediakan oleh pihak museum. Hanya saja menurut pendapat pribadiku, alas kaki yang disediakan pihak museum memang kurang terasa nyaman. Selain kotor, alas kaki yang kudapat terasa sedikit lengket sehingga terus terang, aku pribadi jadi tak terlalu menikmati acara jalan-jalan keliling Museum Sejarah Jakarta ini. 

Museum Sejarah Jakarta yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat ini di masa penjajahan Belanda merupakan balai kota yang disebut Staadhuis. Pada 10 Maret 1974 gedung balaikota peninggalan Belanda ini diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta oleh Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta kala itu. Luas gedung ini sekitar lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung ini dibangun pada 1620 oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen. Gambar foto sang Gubernur Jenderal ini bisa kita jumpai di dalam museum ini. Salah seorang sahabatku yang mengira semua orang Belanda biasanya memiliki nama tengah van, sama sekali tak mengira jika sang Gubernur Jenderal ini merupakan orang Belanda, karena nama Coen di belakangnya itu, malah seorang sahabatku ini mengira ia adalah salah seorang Tionghoa 

Masuk ke dalam museum, di bagian kiri pintu masuk terdapat sebuah lukisan besar karya pelukis Indonesia S. Sudjojono yang mengisahkan penyerangan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung ke Batavia. 

Di ruangan sebelahnya terdapat replika Gereja Belanda lama yang di masa lalu terletak di samping gedung balai kota, kini Gereja Belanda lama ini dijadikan sebagai gedung Museum Wayang yang terletak tepat di samping Gedung Museum Sejarah Jakarta. Arsitektur Gedung Gereja Belanda lama ini cukup menarik. Dengan kubah bulat ala gedung-gedung gereja Ortodoks yang biasanya terdapat di negara-negara Eropa Timur seperti Rusia sedangkan Belanda merupakan bagian dari Eropa Barat. 

Di ruangan selanjutnya terdapat pula maket-maket kota Batavia dan alur perdagangan Batavia dengan pedagang-pedagang Portugis. Ada pula keterangan mengenai sejarah Meriam Sijagur yang merupakan salah satu ikon dari Museum Sejarah Jakarta ini. Di mana dituliskan bahwa Meriam Sijagur dibuat dan dikirimkan dari Makao atas pesanan Portugis. Sijagur sendirimemiliki bentuk yang cukup unik (kalau tak mau dibilang nyeleneh) yang mana bentuknya ini memiliki makna pelambang kesuburan yang dalam bahasa Portugis berarti mano in piga. Meriam Sijagur memiliki berat 3,5 ton dengan panjang lebih dari 3 meter. 

Di ruangan lainnya terdapat patung besar Pangeran Jayakarta atau Fatahillah yang merebut Sunda Kelapa dan menamainya Jayakarta, cikal bakal dari sejarah terbentuknya kota Jakarta. 

Beranjak sedikit dari sana terdapat batu-batu prasasti di antaranya Prasasti Tugu. Di bagian lain ruangan terdapat keterangan mengenai Prasasti-prasasti bersejarah seperti Prasasti Kebon Kopi dan Prasasti Ciareuteun. 

Di lantai dua yang di masa lalu mungkin merupakan gedung pengadilan di Batavia. Di lantai ini lebih banyak dipamerkan keramik-keramik dari Jepang dan Tiongkok. Tapi sebagian besar yang dipamerkan di lantai ini adalah barang-barang kayu seperti meja, tempat tidur, dan lemari dari jaman Belanda. Yang paling menarik perhatian adalah sebuah meja bulat besar dengan diameter 2,25 meter tanpa sambungan. Ada pula sebuah cermin besar dengan bingkai kayu yang sangat kokoh. Seorang sahabatku, Selvia Lusman mengajak berfoto di dekat cermin ini, tapi aku dan sahabatku lainnya yang sama-sama penakut tak menyetujui usul ini. Karena terus terang saja, cermin itu memang terlihat seperti cermin-cermin dalam film horor. Sementara menurut Selvia, cermin besar itu seperti cermin yang ada di film Harry Potter And The Sorcerer's Stone

Di ruangan ini banyak terdapat furnitur yang sangat menarik. Di antaranya ada sebuah lemari kaca besar. Saat mengambil foto di dekat lemari kaca ini, sahabatku, Selvia Lusman, bahkan dengan gaya bak fotografer kawakan, berhasil mengambil foto seolah-olah kami tengah berada di depan sebuah gedung pencakar langit dan bukannya di depan sebuah lemari kaca besar  

Pada bagian samping lemari kaca besar ini terdapat sebuah ukiran kepala, entah apakah itu kepala dari tokoh mitologi atau bukan, tapi ukiran tersebut juga cukup menarik. Sebagian besar furnitur peninggalan Belanda ini memang banyak dihiasi oleh ukiran-ukiran tokoh mitologi Yunani. Di antaranya sebuah partisi yang terbuat dari logam, ada yang dihiasi ukiran seperti medusa, tokoh mitologi Yunani yang terkenal dengan rambut-rambut ularnya dan siapapun yang melihatnya akan berubah menjadi batu. Sebuah partisi logam lainnya juga terdapat ukiran seperti seorang serdadu Romawi. 

Puas berkeliling di lantai dua, kami kembali ke lantai bawah menuju pintu keluar yang mengarah ke halaman belakang museum. Di bagian bawah dekat pintu keluar ini terdapat deretan lukisan-lukisan yang menggambarkan keadaan Batavia atau Jakarta tempo dulu. Di antaranya ada lukisan taman pemakaman yang terdapat di daerah Tanah Abang, kawasan ini kemudian menjadi Museum Taman Prasasti yang memajang nisan-nisan bekas pemakaman orang-orang Belanda dan beberapa tokoh tanah air, di antaranya nisan istri dari Raffles selain itu ada juga tokoh dari tanah air seperti Soe Hok Gie. Rencananya kami juga ingin mengunjungi museum tersebut tapi sayang, waktu kami tak cukup. Semoga saja di lain waktu kami bisa mengunjungi museum ini. 

Di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta ada sebuah patung Hermes, salah satu tokoh mitologi Yunani. Dulunya patung ini menghiasi jembatan di kawasan Harmoni, tapi suatu hari patung ini sempat hilang dicuri. 

Setelah selesai berkeliling museum dan puas berfoto-foto ria, tanpa terasa rupanya sudah tengah hari, perut kami sudah keroncongan, maka kami pun memutuskan mencari tempat makan untuk memuaskan cacing-cacing di perut kami. Perjalanan mengunjungi Museum Sejarah Jakarta pun berakhir. Selanjutnya aku akan membahas perjalanan kami menuju Museum Nasional alias Museum Gajah 

Jumat, 20 Juni 2014

Review Novel : Princess Deokhye - Kwon Bee-Young

Judul Asli : The Last Princess of Chosun Dynasti Deokhye 
Penerbit : PT Bentang Pustaka 
Ukuran : xvi + 368 hlm.; 20,5 cm 
ISBN : 978-602-8811-76-7 

Novel ini diangkat dari kisah nyata seorang putri dari Kerajaan Joseon, Korea. Hidupnya yang bahagia sebagai seorang putri berakhir secara tragis. Ayahnya yang sangat menyayanginya tewas mendadak akibat diracun. Ia dipaksa meninggalkan negeri yang dicintainya dan harus menikah dengan pria Jepang, negeri yang telah menjajah negara yang dicintainya. Pernikahannya berakhir dengan perceraian. Anak satu-satunya yang sangat disayanginya ternyata membencinya dan tak sudi bersamanya. Suaminya memasukkannya ke rumah sakit jiwa dan negara yang dicintainya nyaris melupakannya. "Meskipun orang-orang tidak mengenaliku, aku adalah Putri terakhir Kerajaan Joseon," ujarnya dalam keterasingan dan kesendiriannya. Nama sang Putri adalah Deokhye. 

Putri Deokhye adalah Putri terakhir dari Dinasti Kerajaan Joseon. Ayahnya, Raja Kojong, sangat menyayanginya karena ia adalah putri satu-satunya. Raja bahkan sampai membuatkan sebuah taman bermain di Istana Chang Deok demi dirinya. Namun keadaan Korea saat itu dalam cengkeraman penjajahan Jepang. Itulah sebabnya Raja mencemaskan nasib putri semata wayangnya ini. Ia takut putrinya akan mengalami nasib seperti salah seorang putranya, menjadi "tawanan" Jepang. 

Salah seorang putra Raja Kojong yaitu Pangeran Young Chin, saat berumur sebelas tahun demi alasan politik terpaksa meninggalkan negerinya dan menetap di Jepang dengan dalih melanjutkan studi, padahal seluruh Kerajaan Joseon menyadari bahwa keadaaan yang sebenarnya, Pangeran Young Chin menjadi "sandera" politik Jepang. "Penyanderaan" Jepang terhadap Pangeran Young Chin makin nyata tatkala ia demi alasan politik pula, harus menikah dengan putri Kerajaan Jepang. Pernikahan Pangeran Young Chin dengan Putri Masako Nashimotonomiya yang adalah anak perempuan Pangeran Morimasa Nashimotonomiya dari Kekaisaran Jepang ini sempat mengusik Putri Deokhye, yang memiliki jiwa nasionalisme yang sangat tinggi dan amat menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan Kerajaan Joseon. Ia mempertanyakan nilai nasionalisme kakaknya yang rela menikahi Putri dari Kerajaan Jepang yang artinya akan menodai garis keturunan Kerajaan Joseon. Namun ibunda dari Putri Deokhye, Lady Yang menyatakan bahwa Putri Deokhye masih terlalu belia untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. 

Raja Kojong yang sudah sakit hati dan terluka terhadap nasib putranya yang harus menjadi "tawanan" Jepang khawatir kalau-kalau putri semata wayangnya, Putri Deokhye akan mengalami nasib yang sama dengan yang menimpa kakaknya. Karena itu, diam-diam ia mengatur pertunangan Putri Deokhye dengan Kim Jang Han, keponakan dari Kim Hwang Jin, orang kepercayaan Raja Kojong. Baik Putri maupun Kim Jang Han saat itu masih kecil. 

Saat dibawa menemui Raja, tanpa sengaja Kim Jang Han, yang semula tak tahu tujuan pamannya membawanya menemui Raja, bertemu dengan Sang Putri. Saat itu baik Kim Jang Han maupun putri saling menyukai satu sama lain. Tapi Putri yang juga tak tahu siapa anak laki-laki yang dibawa oleh Kim Hwang Jin, orang kepercayaan ayahnya sendiri. Rencana pertunangan yang dipersiapkan Raja ini hanya diketahui segelintir orang. Salah satunya adalah bibi pengasuh Putri sendiri. Saat berpapasan anak laki-laki yang dibawa Kim Hwang Jin, tanpa sadar bibi pengasuh ini ini bergumam. Ia berkata, "Oh, ternyata melalui anak itu...." Sang putri yang tak paham maksud perkataan bibi pengasuhnya tentu saja langsung mempertanyakan arti gumaman dari wanita tua yang telah mengasuhnya ini, tapi bibi pengasuh Putri hanya bisa mengelak. 

Namun pertunanangan sang Putri yang diatur dengan sangat rapi oleh Raja Kojong nyatanya hancur berantakan. Raja Kojong meninggal dunia secara mendadak. Ada kabar mengatakan bahwa Raja tewas diracun. 

Kematian Raja Kojong membuat kondisi psikologis sang putri terganggu. Putri dikabarkan mengalami gangguan jiwa. Ada dayang yang menyebarkan isu bahwa Putri Deokhye bertingkah aneh dan bersikap seolah-olah tengah bercakap-cakap dengan ayahandanya. 

Setelah Raja Kojong wafat, Raja Sunjong naik tahta. Raja Sunjong sesungguhnya sangat menyayangi dan melindungi Deokhye, namun ia tetap tak berdaya saat Deokhye harus mengikuti jejak Pangeran Young Chin. Apa yang ditakutkan Raja Kojong benar-benar terjadi. Deokhye harus pergi ke Jepang dengan dalih melanjutkan studi di sana. 

Sementara itu beberapa orang bergabung ke dalam gerakan bawah tanah untuk memerdekakan Korea dari penjajahan Jepang. Gerakan kemerdekaan ini disebut Korea Manse. Salah seorang yang tergabung dalam gerakan ini bernama Heo Seung. Pergerakannya sangat menyulitkan pihak Jepang sehingga Heo Seung menjadi buron pihak Jepang. Akibatnya Heo Seung terpaksa bersembunyi di dalam hutan dan meninggalkan istri dan anak perempuannya bernama Heo Bok Sun yang usianya sebaya dengan Putri Deokhye. 

Hidup Bok Sun dengan ibunya sangat sulit. Mereka harus hidup berpindah-pindah dan bersembunyi karena khawatir mereka akan dijadikan sandera untuk menjebak Heo Sung agar menampakkan diri. Bok Sun yang masih kecil terpaksa harus bekerja demi menghidupi dirinya sendiri dan ibunya yang sakit-sakitan. Suatu hari Bok Sun hampir ditangkap untuk dijadikan wanita penghibur bagi tentara Jepang, beruntung saat itu kereta yang dinaiki oleh Putri Deokhye lewat. Bok Sun diselamatkan oleh Putri Deokhye dan dibawa ke istana. Bok Sun kemudian menjadi pelayan pribadi Putri Deokhye. Walau begitu, usia mereka yang sebaya membuat hubungan keduanya sangat dekat. Saat Putri Deokhye dibawa ke Jepang, Bok Sun ikut serta untuk mendampingi Putri Deokhye. 

Selama di Jepang ternyata status Deokhye sebagai seorang putri Kerajaan Joseon sama sekali tak berarti. Di kelas ia tak disukai oleh teman-temannya. Sikapnya yang penuh harga diri sebagai putri Kerajaan Joseon membuat teman-teman sekelasnya menganggapnya sombong dan arogan. Mereka pun lantas mengerjai sang putri. Mereka pernah membuat termos air minum sang putri terjatuh hingga airnya tumpah membasahi lantai. Mereka berharap sang putri akan menangis tapi Putri Deokhye tanpa banyak bicara mengepel tumpahan air minumnya. Sebenarnya Bok Sun yang setiap hari memperhatikan sang putri di luar kelas, berniat mengepel tumpahan air minum sang puteri tapi Putri Deokhye menahannya dan memutuskan mengepel sendiri tumpahan air minumnya. Dan seharian itu Putri Deokhye memilih menahan rasa dahaganya dan tidak minum sama sekali karena air dalam termosnya habis ditumpahkan oleh teman-temannya, daripada harus mengemis meminta minum pada teman-temannya. 

Lain waktu teman-teman Putri Deokhye juga kerap mengerjainya dengan membawa mejanya keluar atau menyembunyikan bukunya. Tapi sang putri tak pernah menangis ataupun panik. Ia tetap bersikap tenang dan memperlihatkan keeleganannya sebagai seorang putri hingga membuat teman-teman sekelasnya makin benci kepadanya tapi menyadari bahwa Putri Deokhye takkan pernah merendahkan dirinya maka teman-temannya pun menyerah karena tak bisa mempermalukan sang Putri. 

Waktu berlalu. Putri Deokhye tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik namun rasa rindunya pada tanah airnya tak pernah padam. Putri Deokhye juga sangat merindukan ibunya. Setelah ia di Jepang, ia baru bertemu ibunya sekali saat Raja Sunjong wafat. Kala itu Deokhye melihat ibunya tampak tak terlalu sehat, tapi ibunya selalu meminta Deokhye tak mengkhawatirkannya dan menyatakan bahwa ia sangat sehat. Padahal saat itu Lady Yang, ibunda Putri Deokhye menderita kanker. 

Berkali-kali Putri Deokhye menyatakan keinginannya untuk pulang ke tanah air menemui ibunya tapi Jepang tak pernah memberikan ijin hingga suatu hari, Pangeran Young Chin meminta Deokhye bersiap-siap pulang ke Korea. Tentu saja Deokhye girang bukan kepalang karena akhirnya ia bisa menemui ibunya, ia sama sekali tak memperhatikan kakaknya mengenakan pakaian serba hitam. Setibanya di Korea betapa terkejut dan terpukulnya Deokhye tatkala mengetahui bahwa kepulangannya itu adalah untuk menghadiri pemakaman ibunya. Namun karena Lady Yang, ibunda Putri Deokhye adalah seorang selir yang berasal dari rakyat jelata dan menjadi dayang sebelum akhirnya menjadi selir Raja Kojong, maka Deokhye tak diizinkan mengadakan upacara peringatan bagi ibunya. Hal ini tentu saja membuat Deokhye berang tapi ia tak bisa berbuat banyak karena pihak Jepang membatasi waktu kunjungannya dan memaksanya harus kembali ke Jepang. 

Kematian Raja Sunjong yang selama ini sudah bagaikan ayah bagi Deokhye ditambah kematian ibunya sendiri membuat kejiwaan sang putri rapuh. Pangeran Young Chin membawa Deokhye berobat dan ternyata Deokhye didiagnosa menderita gejala skizophrenia, sejenis penyakit gangguan jiwa yang membuat penderitanya kerap mengalami gangguan halusinasi. 

Belum lagi sang putri pulih, tiba-tiba saja Han Chang Su, Perdana Menteri Korea yang pro Jepang dan tak disukai oleh pihak keluarga Kerajaan Joseon, menetapkan pernikahan Putri Deokhye dengan seorang bangsawan Jepang. Tentu saja pernyataan Han Chang Su ini membuat marah Pangeran Young Chin. Ia sudah merasakan hidupnya sendiri tersandera oleh pihak Jepang dan harus menjalani pernikahan politik. Ia tak ingin adiknya mengalami hal yang sama. Deokhye masih dalam keadaan duka atas kematian ibunya, kesehatan jiwanya pun masih belum pulih, bagaimana bisa membicarakan pernikahannya. Tapi Han Chang Su yang merasa memiliki kekuasaan atas otoritas yang diberikan pihak Jepang tak menanggapi keberatan Pangeran Young Chin. Menyadari posisi Kerajaan Joseon yang sudah rapuh, bahkan Han Chang Su berani bersikap kurang ajar terhadap Pangeran Young Chin. Namun keberuntungan ada di pihak Deokhye. Tunangan yang sudah siap dinikahkan dengannya tiba-tiba saja sakit dan meninggal dunia. Untuk sementara Pangeran Young Chin merasa lega. Tapi kelegaan itu tak berlangsung lama. Han Chang Su yang masih belum puas kembali datang ke kediaman Pangeran Young Chin dan mengumumkan pertunangan Putri Deokhye dengan seorang pemuda Jepang bernama Tso Takeyuki. 

Asal usul Tso Takeyuki sebenarnya cukup kelam. Ada desas-desus yang mengatakan bahwa orangtua Takeyuki adalah seorang pencuri. Saat mengetahui hal ini, Deokhye merasa sedikit tersinggung. Ia berpikir karena ia hanyalah seorang anak selir, maka jodoh yang diberikan untuknya pun bukanlah seorang anggota keluarga kerajaan. Takeyuki sudah menjadi yatim piatu sejak kecil. Takeyuki lalu diadopsi oleh Tso Sikemochi. Namun Takeyuki dijaga oleh Sadako, kakak Ratu Daisho. 

Tso Takeyuki sebenarnya tulus ingin membina rumah tangga yang bahagia bersama Deokhye. Ia memenuhi apapun keinginan Deokhye asalkan istrinya ini bahagia. Bahkan meskipun Deokhye tak bersedia mengenakan kimono dan menyediakan menu makanan Korea demi membuat Deokhye bahagia. Tapi Deokhye yang sejak awal merasa terhina dengan pernikahan politik ini tak lantas menerima uluran kasih yang ditawarkan Takeyuki ini. Ia tetap bersikap dingin dan menjaga jarak hingga membuat Takeyuki frustasi. Suatu hari Takeyuki membuat dirinya sendiri mabuk. Dalam keadaan mabuk ini, ia mencurahkan seluruh perasaan frustasinya dan niat tulusnya pada Deokhye. Setelah mendengar pernyataan tulus Takeyuki yang diucapkannya dalam keadaan mabuk ini, perasaan Deokhye pun mulai mencair. Ia bersimpati dan menerima ketulusan Takeyuki. Mereka kemudian berlibur ke tempat di mana Takeyuki pernah menghabiskan masa kecilnya. Dari sini Deokhye mulai bisa mengenal Takeyuki. Sama seperti Deokye, rupanya Takeyuki juga suka membaca dan membuat puisi. Harapan Takeyuki untuk memiliki rumah tangga yang bahagia bersama Deokhye nyaris terpenuhi. Pada tahun 1932 putri semata wayang mereka lahir. Takeyuki menamainya Tso Masae. Namun Deokhye lebih suka memanggil putrinya dengan nama Korea, Jeong Hye. 

Saat masih kecil, Jeong Hye sangat akrab dengan Deokhye, ibunya. Setiap hari Deokhye mengajari Jeong Hye bahasa dan tata krama Joseon. Ia juga kerap menceritakan pada Jeong Hye mengenai negeri asalnya. Ia mengisahkan tentang jatidirinya yang adalah putri dari Kerajaan Joseon. Ia juga menceritakan keindahan taman di Istana Chang Deok yang sangat dirindukannya. Jeong Hye yang masih sangat kecil ini pun selalu menyatakan kebanggaannya terhadap ibunya yang adalah putri Kerajaan Joseon dan karena tertarik dengan kisah-kisah ibunya mengenai Korea, Jeong Hye pun berujar, "Ah... aku juga ingin sekali pergi ke negera Ibu." 

Jeong Hye adalah segala-galanya bagi Deokhye. Namun di dalam hatinya ia selalu khawatir bila suatu hari nanti Jeong Hye akan datang padanya dan mengatakan bahwa ia benci dengan darah Korea yang diwariskannya. Dalam kegelisahannya ini, penyakit kejiwaan yang telah lama diderita Deokhye kembali muncul. Ia kerap berjalan dalam tidur. 

Kekhawatiran Deokhye menjadi kenyataan. Setelah Jeong Hye mulai masuk sekolah, ia diledek oleh teman-temannya karena memiliki darah campuran Jepang-Korea. Jeong Hye pulang sekolah sambil menangis. Saat Deokhye ingin menghiburnya, Jeong Hye malah berteriak memakinya dan menyalahkan Deokhye karena berdarah Korea. Bukan hanya itu saja, Jeong Hye tak lagi suka bila dipanggil dengan nama Jeong Hye karena nama ini adalah nama Korea. Ia lebih suka dipanggil dengan nama Masae. Tso Masae. Tapi Deokhye terus saja memanggilnya Jeong Hye sehingga Jeong Hye sangat membenci Deokhye. 

Semakin hari Jeong Hye makin menjauh dari Deokhye. Hal ini tentu saja membuat Deokhye sedih. Terlebih lagi Takeyuki malah menyalahkan Deokhye yang terus memanggil putri mereka dengan nama Jeong Hye padahal putri mereka ini tak suka dipanggil dengan nama itu. Takeyuki juga kerap jengkel dengan sikap Deokhye yang seolah masih merupakan putri Kerajaan Joseon. Deokhye bahkan pernah menampar seorang pelayan. Kini dengan krisis ekonomi yang menimpa Jepang pasca Perang Dunia Kedua, Takeyuki merasa kesulitan menghadapi Deokhye. 

Saat Jepang kalah di Perang Dunia Kedua, Jeong Hye makin membenci ibunya. Ia marah karena teman-teman sekolahnya menuduhnya yang berdarah campuran adalah mata-mata yang menyebabkan Jepang kalah. Jeong Hye menangis, ia mengatakan bahwa ia sendiri sebenarnya berdoa agar Jepang menang perang tapi yang terjadi adalah sebaliknya dan ia merasa kekalahan Jepang ini bukan disebabkan oleh dirinya. Lain halnya dengan Deokhye. Saat mendapat kabar Jepang kalah perang, Deokhye justru girang bukan kepalang. Ia berharap kekalahan Jepang di Perang Dunia ini akan membuat kemerdekaan Korea, negaranya bisa segera terwujud. Ia berharap bisa secepatnya pergi dari Jepang kembali ke negerinya. 

Kondisi kejiwaan Deokhye yang sudah lama bermasalah makin parah dengan semua keadaan ini. Ia merasa kesepian. Deokhye berharap ada yang bisa memahaminya dan orang itu seharusnya adalah Bok Sun, tapi sudah lama Bok Sun menghilang. Saat Deokhye tengah mengandung, tiba-tiba saja Han Chang Su datang dan meminta Bok Sun membantu di rumah Pangeran Young Chin karena pelayan yang biasa melayani di sana mendadak harus pergi. Awalnya Deokhye tak mengijinkan Bok Sun pergi tapi akhirnya ia harus mengalah dan membiarkan Bok Sun pergi. Namun Bok Sun ternyata bukan dikirim ke tempat Pangeran Young Chin. Rupanya Bok Sun sengaja dipisahkan oleh Han Chang Su dari Putri Deokhye. Bahkan orang yang ditugaskan menjemput Bok Sun tega memperkosanya dan setelah itu membiarkan Bok Sun menggelandang mencari pekerjaan dan tempat tinggal. 

Suatu hari Takeyuki harus pergi ke suatu tempat. Di rumah hanya ada Deokhye. Kesempatan ini digunakan Deokhye untuk membawa Jeong Hye kabur ke Korea bersamanya. Kepada pelayan, ia mengatakan ingin membuat sendiri makanan untuk putrinya. Deokhye memasukkan obat tidur ke dalam makanan yang disantap Jeong Hye dengan maksud saat Jeong Hye tertidur maka ia bisa membawa Jeong Hye ke kapal dan kabur bersamanya ke Korea. Tapi aksinya ini ketahuan oleh pelayan yang menemukan bungkus obat tidur di dapur. Hal ini segera dikabarkan ke Takeyuki. Tentu saja Takeyuki sangat marah dan saat Jeong Hye tersadar pun, ia jadi marah dan tak mau lagi berada di dekat ibunya. Bahkan ia menuduh Deokhye adalah ibu yang kejam yang sampai hati berniat membunuhnya. Deokhye amat sedih, ia menyatakan bahwa ia sama sekali tak bermaksud membunuh Jeong Hye, ia hanya ingin membuat Jeong Hye tertidur agar bisa dibawa kabur ke Korea tapi Jeong Hye makin marah dan menyatakan bahwa ia takkan pernah sudi menginjakkan kakinya ke Korea. 

Penolakan dari putrinya benar-benar membuat Deokhye tak tahan. Terlebih Takeyuki dengan kasar malah memakinya karena berniat membawa kabur putri mereka ke Korea. Hati Deokhye benar-benar terluka. Tanpa pikir panjang Deokhye meminum semua obat tidur yang masih tersisa di kamarnya. Ia berpikir apa perlunya lagi hidup? 

Takeyuki yang tiba-tiba masuk terkejut. Ia memaksa Deokhye mengeluarkan kembali obat tidur yang ada di dalam mulutnya. Takeyuki yang sebenarnya sangat ingin membangun rumah tangga yang bahagia bersama Deokhye sangat sedih dan kecewa karena rumah tangga mereka justru diterpa masalah seperti ini. 

Musim gugur 1946, Takeyuki menjual rumahnya. Kekalahan Jepang telah mengubah kondisi perekonomian semua warga Jepang. Takeyuki bahkan tak lagi sanggup menggaji pelayan. Ia juga terpaksa membuang beberapa barang di rumahnya. Tanpa pelayan, tak ada lagi yang bisa mengurus rumah tangga sementara Deokhye yang mengalami gangguan jiwa sama sekali tak bisa diharapkan untuk membantunya. Sedangkan Jeong Hye, putri mereka masih SMP. Takeyuki tak sanggup harus mengurus Deokhye sementara kondisi ekonominya pun terus menurun. Maka Takeyuki memutuskan memasukkan Deokhye ke dalam rumah sakit jiwa. Kegetiran dan kepahitan hidupnya sedikit demi sedikit mengikis nyala kehidupan dalam jiwa Deokhye. Dalam pikirannya ia masih terus teringat pada putrinya tapi sedihnya Jeong Hye tak pernah sekalipun mengunjungi ibunya. Adapun Takeyuki telah menikah dengan wanita lain. Takeyuki sempat datang mengunjungi Deokhye tapi sinar mata Deokhye tetap terlihat kosong. Saat itu Takeyuki menangis dan mengatakan pada Deokhye bahwa ia akan menceraikan Deokhye. Tapi Deokhye tetap bergeming. Pun saat Takeyuki memeluknya. Satu-satunya ekspresi darinya adalah saat Takeyuki beranjak keluar, barulah Deokhye mengeluarkan suara. Ia memanggil Jeong Hye, nama putri mereka. Jeong Hye rupanya yang selalu mengisi hati Deokhye yang sudah kosong. Tapi hingga akhir hayatnya Jeong Hye tak pernah datang menemui ibunya. 

Setelah menjenguk Deokhye, perasaan Takeyuki sendiri makin tak menentu. Ia merasa bersalah. Ia berpikir dirinyalah yang menjadi penyebab Deokhye terpisah dari Masae padahal dalam hatinya Deokhye tak pernah bisa melupakan putri semata wayangnya ini. Dan walaupun Takeyuki menikah lagi, namun dalam hatinya tak mampu menghapus nama Deokhye sehingga ia menulis sebuah puisi. Dalam puisinya itu ia menulis: Untuk Istri Koreaku. 

Jeong Hye di kemudian hari dikabarkan telah menikah. Deokhye tentu saja tak bisa menghadiri pernikahan itu. Tapi tak lama setelah kabar pernikahannya muncul berita bahwa Jeong Hye ditemukan bunuh diri di Gunung Komatake. 

Adapun Deokhye bertahun-tahun terlupakan di dalam rumah sakit jiwa hingga suatu hari seorang wartawan Korea menemuinya di sana dan memberitakan nasib tragis putri terakhir Dinasti Joseon ini. 

Suatu hari Bok Sun yang terpaksa menggunakan identitas palsu dengan nama Jepang demi bisa mendapat pekerjaan dan tempat tinggal mendengar kabar mengenai sang Putri yang dirawat di rumah sakit jiwa ini. Ia lalu melamar kerja sebagai petugas kebersihan di rumah sakit tersebut demi bisa bertemu sang Putri. Namun sang Putri yang terlalu banyak menerima kepahitan dan kegetiran dalam hidupnya sudah tak lagi mengenali Bok Sun. Sang Putri sudah kehilangan ingatan. Bok Sun yang iba melihat nasib junjungannya yang tragis ini berniat membebaskan sang Putri. Maka ia bersama kelompok gerakan kemerdekaan yang anggotanya sudah menyusut karena putus asa tak bisa memperjuangkan kemerdekaan Korea dari penjajahan Jepang, mengatur rencana untuk menculik Putri Deokhye dari rumah sakit dan membawanya kembali ke Korea. Kelompok gerakan rahasia ini diketuai oleh Park Mu Young. Sebenarnya Park Mu Young ini adalah Kim Jang Han, anak laki-laki yang dipilih Raja Kojong sebagai tunangan Putri Deokhye. Setelah Raja Kojong wafat, Kim Jang Han diganti identitasnya namun oleh pelindungnya ia tetap dipersiapkan sebagai pelindung sang Putri. Bahkan ia diperintahkan untuk "menjaga sang Putri sekuat tenaga hingga kekuatanmu benar-benar habis." (hlm. 168). 

Saat Putri Deokhye ditetapkan akan menikahi Tso Takeyuki, sebenarnya kelompok Park Mu Young sudah dipersiapkan untuk menculik sang Putri tapi sayangnya rencana mereka gagal, beberapa anggota mereka bahkan tewas ditembak penjaga yang mengawasi kediaman Takeyuki yang digunakan sebagai tempat upacara pernikahan tersebut. Meski dibayang-bayangi kegagalan itu, namun Park Mu Young tetap bertekad untuk menyelamatkan sang Putri. Dalam hati Park Mu Young, ia tak pernah melupakan sang Putri walau kondisi sang Putri sendiri memprihatinkan. Putri Deokhye tak lagi mengenali siapapun. Bahkan ia pun tak lagi mengenali Bok Sun. Namun saat sang Putri melihat Park Mu Young, ada sesuatu yang melintas dalam ingatannya. Dari tatapan sang Putri, Park Mu Young dapat melihat bahwa sang Putri mengenalinya. Ia mengenali Mu Young, si anak laki-laki yang pernah ditetapkan Raja Kojong sebagai tunangannya. Kim Jang Han. 

**** 

Gaya bertutur dalam novel ini cukup menarik. Di bagian-bagian awal mungkin agak sedikit membingungkan tapi cukup menjelaskan kondisi Korea yang semula berada dalam kekuasaan Rusia tapi lewat sebuah perjanjian politik, Rusia kemudian menyerahkan Kerajaan Korea kepada Kekaisaran Jepang. Beberapa fakta sejarah disisipkan dalam beberapa kejadian fiktif rekaan penulisnya dengan kekuatan kata-kata bernada puitik menurutku menjadi kekuatan dalam novel ini. Hal menarik lainnya dalam novel ini, menurutku, adalah dialog-dialog khas penulis Korea yang memang pandai menciptakan kalimat bernada puitis yang mampu menguras emosi dan air mata pembacanya, menangisi nasib tragis sang Putri. Ada beberapa dialog yang sangat berkesan bagiku. Salah satunya adalah kalimat yang diucapkan oleh Deokhye saat hatinya gelisah memikirkan apa yang akan terjadi saat Jeong Hye, putrinya sudah cukup besar nanti dan mungkin takkan menyukai jatidirinya yang separuh Jepang dan separuh Korea. 

"Meskipun terhempas angin, aku harus dapat bangkit kembali." (hlm. 270). 

Dialog lainnya yang juga kusuka adalah dialog dalam halaman 175. Dialog ini diucapan oleh Pangeran Young Chin. Saat itu Pangeran Young Chin memberitahu Deokhye mengenai keputusan yang sudah ditetapkan bagi Deokhye untuk menikah dengan seorang pria Jepang. Saat itu Deokhye sangat marah dan tak menerimanya. Ia tak mau mengalami "pernikahan politik" seperti yang dialami oleh kakaknya ini. Namun Pangeran Young Chin yang tak memiliki kuasa hanya bisa menghibur adiknya. Ia berkata, "Sedalam-dalamnya air, pasti akan ada jalan untuk kembali. Sesuatu yang hancur pun, pasti ada caranya juga untuk memperbaikinya kembali." 

Salah satu kalimat yang juga menarik bagiku adalah kenangan Takeyuki mengenai tulisan ayahnya yang ditinggalkan oleh ibunya. 

"Kalau memulai sesuatu dengan kejujuran pasti akan menemukan jalan yang baik. Namun, kalau tidak memulai dengan berlaku jujur, kau tidak akan pernah pergi ke mana pun." (hlm. 237).