Total Tayangan Laman

Translate

Rabu, 28 April 2010

Corazon Aquino = The Saint of Democracy

pic taken from here

Jika Indonesia memiliki Alm. Gus Dur sebagai penjaga pilar proses demokrasi bangsa yang dikenal sangat lantang bersuara dalam membela proses domokratisasi di Indonesia maka Corazon "Cory" Aquino mungkin merupakan pilar penjaga demokrasi di Filipina.

Corazon "Cory" Aquino semula hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa dengan 6 orang anak, namun sejak kematian suaminya, Benigno Aquino Jr., atau yang kerap dikenal dengan panggilan Ninoy Aquino, garis hidup Cory pun berubah. Ia yang sebelumnya hanya berada di belakang layar dengan mendukung penuh karir politik suaminya, namun setelah suaminya tewas terbunuh oleh Marcos, diktator di negaranya, membuatnya menjadi orang yang berdiri di garis paling depan dalam menegakkan demokrasi di Filipina dan menjadi penantang berat Ferdinand Marcos, Presiden Filipina yang dianggap sebagai diktator dan dalang utama di balik pembunuhan Ninoy, suami Cory.

Meski Cory berada di belakang layar, namun dunia politik sebenarnya bukanlah merupakan hal yang asing bagi wanita yang lahir dengan nama lengkap Maria Corazon Sumulong Cojuangco ini. Cory yang lahir pada tanggal 25 Januari 1933 ini merupakan anak keenam dari delapan bersaudara. Ayahnya, Don Jose Cojuangco adalah seorang warga Filipina keturunan Chinese yang kaya raya sementara ibunya, Donna Demeteria Sumulong merupakan warga Filipina asli. Kakeknya dari pihak ibu, Juan Marquez Sumulong merupakan seorang senator di Filipina. Sedangkan keluarga dari pihak ayahnya merupakan pengusaha terkenal di Filipina. Neneknya dari pihak ayah, Dona Tecla merupakan seorang pengusaha wanita yang amat disegani. Nenek Cory ini dikenal sebagai wanita yang amat tangguh dan tak kenal menyerah saat menghadapi masalah yang menimpa keluarga dan anak-anaknya. Keteguhan neneknya inilah yang kiranya menurun pada Corazon Cojuangco-Aquino ini. Dona Tecla, nenek Cory ini juga merupakan salah satu keturunan dari Magat Salamat, salah satu putra Rajah Lakandula yang sangat terkenal di Filipina. (Kisah Rajah Lakandula selengkapnya bisa dilihat di sini).

Saat Cory melanjutkan kuliahnya di New York, Amerika pada 1948 ia sempat menjadi salah satu tenaga sukarelawan untuk Thomas Dewey dari Partai Republik saat berkampanye untuk kursi kepresidenan Amerika Serikat melawan kandidat dari partai Demokrat, Presiden Harry Truman. 

Setelah lulus dari sekolahnya di New York, Cory kemblai ke Filipina dan ia melanjutkan kuliahnya di Far Eastern University mengambil jurusan Hukum tapi ia tak menyelesaikan kuliah hukumnya karena ia kemudian menikah dengan seorang bintang politik Filipina yang tengah bersinar, Benigno Aquino Jr. Pernikahan Corazon dengan Ninoy ini dianugrahi empat orang putri dan seorang putra. Bahkan putra semata wayang mereka, Benigno Aquino III atau yang kerap dipanggil Noynoy kini mengikuti jejak karir politik kedua orang tuanya. 

Dalam sekejap karir politik Ninoy melesat kencang terlebih ia sangat lantang menentang Ferdinand Marcos, diktator Filipina yang tengah berkuasa saat itu. Sementara Cory menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dan istri yang selalu mendukung karir politik suaminya dari balik layar.

Keberanian dan sikap vokal Ninoy tentu saja membuat pihak penguasa gerah terlebih pada pemilu 1973, Ninoy menjadi kandidat kuat Ferdinand Marcos dalam merebut takhta kepresidenannya. Marcos yang takut dengan popularitas Ninoy yang semakin kuat mengancam posisinya pun segera mengambil tindakan untuk menghentikan langkah Ninoy dengan menahannya dan menyatakan negara dalam keadaan darurat perang. Selama masa penahanan itu, Ninoy menyatakan bahwa ia mendapatkan kekuatan untuk melewatinya berkat doa dan kekuatan yang diberikan oleh istrinya, Cory. 

Atas campur tangan Jimmy Carter, Presiden Amerika Serikat yang merupakan sekutu Marcos akhirnya Marcos mengijinkan Aquino dan keluarganya meninggalkan Filipina menuju Amerika Serikat di mana Aquino akan mendapatkan pengobatan. Di Amerika, keluarga Aquino tinggal di Boston dan selama masa tiga tahun pengasingannya di Amerika itu, Aquino menyatakan bahwa tiga tahun itu merupakan masa-masa paling membahagiakan dalam pernikahan dan kehidupan keluarganya.

Pada 21 Agustus 1983, seorang diri Ninoy kembali ke Filipina dari pengasingannya di Amerika. Namun kembalinya Aquino tentu saja tak diinginkan oleh Marcos sehingga ia pun mengatur pembunuhan terhadap lawan politiknya ini sebelum Aquino menjejakkan kakinya lebih lama di bumi Filipina. Ninoy Aquino yang baru saja melangkahkan kakinya di Bandara International Manila inipun langsung roboh tertembus peluru yang ditembakkan oleh penembak yang diutus Marcos. Nama Ninoy kini diabadikan sebagai nama Bandara Internasional tersebut untuk mengenang dan menghormatinya. Corazon Aquino pun kembali ke Filipina beberapa hari kemudian untuk mengurus upacara pemakaman suaminya. Lebih dari dua juta orang Filipina mengiringi proses pemakaman Ninoy tersebut, kumpulan massa terbanyak yang mengiringi proses pemakaman dalam sejarah Filipina dan dunia.

Setelah kematian suaminya, Corazon Aquino pun menjelma dari ibu rumah tangga yang berada di belakang suaminya menjadi sosok wnaita tangguh yang senantiasa hadir dan aktif dalam berbagai aksi demonstrasi menentang rezim Marcos. Janda Aquino ini pun dianggap sebagai tokoh yang tepat untuk menyatukan kelompok oposisi dan menentang pemerintahan otoriter Marcos.

Awalnya Cory enggan menjadi pemimpin pergerakan pro demokrasi di negaranya tersebut tapi setelah Don Joaquin "Chico" Roces, seorang tokoh terkemuka Filipina yang yakin bahwa Cory adalah tokoh yang tepat yang dapat menyatukan rakyat Filipina untuk meruntuhkan kekuasaan Marcos berhasil menggerakkan rakyat Filipina untuk mengumpulkan satu juta tanda tangan demi mendesak Cory untuk menantang sang diktator, akhirnya Cory pun menerima permintaan rakyat ini dan menerima takdir barunya, menjadi pemimpin pergerakan demokrasi di negaranya dan melanjutkan perjuangan suaminya.

Bersama Salvador "Doy" Laurel yang merupakan sahabat Ninoy, suaminya, Cory pun melangkah maju dalam pemilu presiden. Awalnya Laurel sebenarnya berniat maju sebagai capres melawan Marcos tapi setelah mendapat masukan dari berbagai pihak dan menyadari bahwa posisinya tak sekuat Cory di mata rakyat Filipina akhirnya berkat bujukan dari Uskup Agung Manila, Kardinal Sin, ia pun bersedia menjadi calon wakil presiden mendampingi Cory yang akan maju menjadi presiden Filipina melawan Marcos. 

Menghadapi Cory, berbagai cara dilakukan Marcos untuk mendiskreditkannya. Ia menuding Cory didukung oleh kelompok komunis dan telah mengadakan kesepakatan untuk membagi kekuasaan dengan kelompok komunis tersebut. Tapi Cory yang tak gentar dengan intrik-intrik yang dilakukan oleh Marcos dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak mengadakan kesepakatan apapun dan bahkan ia berjanji tidak akan menaruh satupun dari anggota kelompok komunis dalam kabinetnya nanti. Marcos lalu kembali menyerang Cory dan menuduh Cory memainkan "political football" dengan Amerika Serikat dan akan membiarkan keberadaan militer Amerika Serikat di Filipina yaitu di Clark Air Base dan Subic Naval Base. Bahkan Marcos juga menyerang Cory dengan masalah gender dan menyebut Aquino "hanyalah seorang wanita" dan tempat yang pantas untuknya adalah di kamar tidur. Menghadapi isu gender tersebut, Cory pun membalas Marcos dengan tak kalah pedas dan dengan setengah menyindir Cory mengatakan, "mungkin 'wanita' terbaiklah yang akan memenangkan pemilihan ini."

Kurangnya pengalaman Cory dalam pemerintahan pun tak luput menjadi senjata Marcos untuk menyerangnya dengan menyatakan bahwa negara akan berada dalam bahaya besar dengan membiarkan seorang wanita yang tak memiliki pengalaman politik seperti Cory Aquino menjadi seorang presiden. Kali ini dengan cerdik Cory kembali membalas Marcos secara telak. Ia setengah menyindir mengatakan bahwa ia memang tidak memiliki pengalaman dalam hal menipu, berbohong kepada publik, korupsi, dan bahkan membunuh lawan politiknya.

Meskipun Cory sangat populer dan mendapat dukungan dari rakyat Flipina tapi ternyata dengan kecurangan yang dilakukan oleh pihak Marcos dalam pemilu yang diselenggarakan pada 7 Februari 1986 itu, Marcos dinyatakan kembali berhasil meraih kursi kepresidenan mengalahkan Corazon Aquino. Namun kecurangan yang dilakukan Marcos ini ternyata menjadi titik balik perjuangan rakyat Filipina untuk menjatuhkannya dari kursi kekuasaan yang diembannya selama dua puluh tahun. Kecurangan Marcos itu menimbulkan reaksi negatif bukan hanya dari negaranya saja tapi juga dari dunia internasional. 

Aquino pun kemudian menggerakkan rakyatnya untuk melakukan aksi long march terbesar yang disebutnya sebagai People's Victory Rally atau dalam bahasa Filipina disebut "Tagumpay ng Bayan". Bukan itu saja, Cory bahkan mengajak rakyat Filipina untuk memboikot produk-produk dari perusahaan yang dimiliki oleh kroni-kroni Marcos. Aksi gerakan people power yang dilakukan Cory itu akhirnya berhasil menumbangkan rezim Marcos. Atas aksinya itu majalah TIME menjuluki Aquino sebagai "Saint of Democracy." Dan pada tahun 1986 majalah TIME menganugerahinya sebagai "Woman of the Year." Pada 1999, meskipun Cory sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden Filipina namun atas aksinya yang tetap kritis menjaga demokrasi tetap berjalan di negerinya membuat TIME menganugerahinya sebagai salah satu dari dua puluh tokoh yang paling berpengaruh di Asia di abad ke-20. Dan pada 2006 kembali TIME memberikan penghargaan padanya sebagai salah satu dari 65 pahlawan Asia.

Amerika Serikat yang selama Marcos masih berada di puncak kekuasaannya merupakan "sahabat" Marcos yang paling setia pun berbalik menjadi pendukung Aquino. Bahkan karena kecurangan yang dilakukan Marcos pada pemilu 1986 yang telah mencoreng citra demokrasi sementara Amerika Serikat selama ini menganggap dirinya sebagai dewa demokrasi membuat senat negara adikuasa itu mengutuk tindakan curang yang dilakukan Marcos dalam mempertahankan kekuasaannya itu. Namun yang sebenarnya adalah Amerika Serikat yang menyadari bahwa kekuasaan Marcos hanya tinggal menghitung waktu saja sehingga negara besar itu mulai mengalihkan dukungan pada pemimpin oposisi terbesar di Filipina yaitu Aquino dengan harapan dapat melanjutkan "kerjasama" yang selama ini telah terjalin antara AS dengan Marcos tapi Aquino dengan tegas menolak penawaran pembagian kekuasaan seperti yang diajukan oleh Philip Habib, diplomat yang dikirim oleh Presiden Ronald Reagan. 

Empat jam setelah Philip Habib terbang kembali ke AS dari Manila, Marcos pun "tumbang." Saat ia telah terguling dari singgasananya, Marcos berpikir Amerika masih merupakan "sahabat" sejatinya sehingga ia melarikan diri ke Hawaii untuk mencari perlindungan. Tapi ternyata Marcos harus menelan kekecewaan karena ternyata sahabat sejatinya itu hanya benar-benar menjadi sahabatnya saat ia masih memiliki kekuasaan.

Bahkan Amerika Serikat atas permintaan Jaksa Agung Filipina menyeret Marcos ke pengadilan AS dengan tuduhan korupsi dan pelanggaran HAM yang dilakukannya saat masih berkuasa. Berbaliknya sikap AS yang semula merupakan sahabatnya dan kini menjadi lawannya inilah yang kemudian membuat Marcos stress berat sehingga ia jatuh sakit. Tapi keadaannya yang terbaring lemah karena sakit itu ternyata tak bisa membuatnya terhindar dari tuntutan hukum. Amerika Serikat yang seolah tak teringat masa-masa manis persahabatan mereka sebelumnya, saat kekuasaan masih melekat kuat dalam cengkeraman Marcos tetap menyeret Marcos meski kondisi sang diktator itu terbaring lemah di atas tempat tidur dengan selang-selang infus meliliti tubuhnya. Keadaan Marcos itu ternyata tak membuat pengadilan AS mengurungkan panggilan hukum terhadap Marcos sehingga Marcos yang tengah terbaring di atas tempat tidur tetap dipaksa untuk menghadiri persidangan di negara yang sempat menjadi kolega terbaiknya itu.
Bayangkan saja, berapa banyak terdakwa koruptor yang selalu memakai dalih sakit untuk menghindari persidangan di Republik ini?

Marcos pun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di negeri adidaya yang sekali waktu dulu pernah menjadi "sahabat" terbaiknya. Dalam keadaan telah menjadi mayat pun, Marcos masih harus menghadapi kenyataan pahit lainnya. Rakyat Filipina yang telah muak selama masa kediktatoran Marcos menolak jasad sang tiran untuk kembali ke tanah airnya dan dimakamkan di sana.

Berbanding terbalik dengan keadaan Marcos, lawan Marcos, janda Benigno Aquino yang tewas dibunuhny itu malah makin bersinar. Aquino berhasil meraih kursi kepresidenan Marcos dan menjadi presiden wanita pertama di negeri tetangga Indonesia itu. Begitu menduduki kursi kepresidenan, tentu saja hal pertama yang dilakukan oleh Aquino adalah memperbaiki keadaan konstitusional Filipina dengan melakukan penghapusan konstitusi 1973 yang menjadi kekuatan Marcos selama masa darurat perang yang ditetapkannya dan menjadi salah satu dalih yang digunakan Marcos untuk membunuh suami Cory Aquino. Berbagai ketetapan pun dilakukan Aquino untuk mencegah agar para "loyalis" Marcos yang merupakan antek-antek sang diktator agar tak bisa melakukan serangan balik dan mengembalikan kediktatoran Marcos. Berbagai reformasi di bidang hukum dan politik pun dilakukan oleh Aquino.

Lewat reformasi di bidang hukum yang dilakukan Aquino, ia memberikan landasan yang kuat untuk kebebasan sipil, HAM, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Filipina. Dan di bidang reformasi ekonomi yang dilakukan oleh Aquino pun bisa dibilang sangat mengesankan bagi wanita yang semula hanya seorang ibu rumah tangga ini.

Saat Aquino menjadi presiden, ia mewarisi hutang yang sangat besar dari masa kedikatatoran Marcos. Sebagai langkah penyelamatan bagi ekonomi negaranya, Aquino pun memfokuskan perhatian dan energinya untuk merevitalisasi dan memperbaiki perekonomian negaranya yang merosot. Salah satu aksinya yang dinilai gemilang  dalam penyelamatan perekonomian di negaranya itu adalah ketika ia membongkar berbagai praktik monopoli yang dilakukan oleh Marcos saat masih berkuasa. Aquino pun segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi hutang luar negeri Filipina sebesar 26 milyar dolar Amerika yang diwarisinya dari pendahulunya itu. 

Meski langkah Aquino dalam melakukan penyelamatan perekonomian negaranya dinilai tidak populer tapi ia berkeras dan menyatakan bahwa ia harus mengambil langkah yang tepat untuk menyelamatkan perekonomian Filipina dan salah satu hal yang penting itu adalah meraih kembali kepercayaan dari para investor dan komunitas internasional. Terbukti selama masa pemerintahan Aquino, pertumbuhan ekonomi Filipina berkembang secara positif. Pada awal masa pemerintahannya, Aquino berhasil meraih pertumbuhan ekonomi sebesar 3,4%. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Filipina di bawah pemerintahan Aquino adalah sekitar 3,8% yaitu selama tahun 1986 sampai 1992.

Namun seperti setiap segi kehidupan memiliki dua sisi selayaknya mata uang, begitu pula dengan kepemimpinan Aquino. Keberhasilannya di bidang reformasi politik, hukum, dan ekonomi ternyata tak membuat aksinya dalam reformasi agraria mendapat tanggapan yang positif. Aquino yang merupakan keturunan dari tuan tanah di Filipina yang kaya raya mendapatkan banyak kritikan atas tindakannya meratifikasi UU 1987. Bahkan tiga minggu setelah rencana ratikifasi UU itu tersiar, para petani dan pekerja di bidang agraria melakukan long march untuk memprotes kebijakan ratifikasi tersebut. Bahkan proses demonstrasi yang seharusnya berjalan damai itu ternoda oleh aksi kekerasan yang dilakukan oleh Marinir Filipina ketika massa demonstran berusaha menerobos garis pertahanan polisi. Insiden berdarah yang kemudian dikenal dengan sebutan "Pembantaian Mendiola" itu menyebabkan 12 orang petani tewas sementara sembilan belas orang mengalami luka-luka. Akibat insiden berdarah ini, beberapa tokoh terkemuka dalam kabinet Aquino pun mengundurkan diri dan salah satunya adalah seorang senator yang progresif, Jose W. Diokno yang memilih untuk mundur dari jabatannya dalam pemerintahan Aquino.

Selama masa pemerintahannya, Aquino juga mendapatkan banyak hambatan dari kelompok ekstra kanan yang dipelopori oleh kelompok militer sementara di kelompok ekstra kiri Aquino menghadapi serangan dari kelompok komunis. Belum lagi menjelang dua tahun masa akhir pemerintahannya, Aquino harus menghadapi berbagai bencana alam yang menimpa negerinya seperti pada 1990 gempa bumi terjadi di Luzon yang menyebabkan 1600 orang meninggal. Pada 1991 giliran letusan gunung berapi yang meluluhlantakan ketentraman Filipina ketika Gunung berapi Pinatubo meletus sehingga menyebabkan 300 orang tewas. Letusan gunung berapi itu dianggap sebagai letusan terdahsyat kedua di sepanjang abad ke-20 ini. Belum lagi badai tropis dan angin taufan pernah pula turut menghantam Filipina yang menyebabkan banyak rakyat Filipina tewas dan terluka.

Meski beberapa bencana dan serangan dari beberapa kelompok membuat pemerintahan Aquino sedikit tersendat namun tak membuat popularitas Aquino menurun. Ia bahkan masih bisa melanjutkan masa kepemimpinannya ke periode dua tapi Aquino ternyata bukan orang yang haus akan kekuasaan. Aquino yang telah mendobrak dan melepaskan negerinya dari cengkeraman seorang tiran ini menunjukkan karakter sejatinya sebagai seorang pemimpin sejati yang sejatinya terus memberikan panutan yang positif bagi rakyatnya. Aquino ingin menjadi contoh bagi rakyat dan para pemimpin di negerinya bahwa jabatan kekuasaan tak semestinya menjadikan seseorang sebagai tiran. Ia ingin kekuasaan tak membuatnya menjadi lupa daratan dan menjadikannya sebagai seorang tiran seperti pendahulunya. Aquino tak inign melekat pada kekuasaan meski ia memiliki peluang untuk itu. Kebesaran hati inilah yang membuat Aquino memilih untuk memberikan kesempatan bagi pemimpin besar lainnya yang akan bisa membawa negerinya ke arah yang lebih baik. 

Awalnya Aquino mendukung Ramon V. Mitra, teman dari suaminya, Ninoy Aquino sekaligus juru bicara dewan perwakilan rakyat Filipina sebagai kandidat yang akan meneruskan kepemimpinannya dalam pemilu presiden 1992. Namun belakangan, Aquino mengalihkan dukungannya kepada Jenderal Fidel V. Ramos, teman seperjuangannya yang telah membantunya menjatuhkan imperium kekuasaan Marcos dan telah berjasa bagi Aquino dengan mengatasi berbagai usaha kudeta dan pemberontakan selama masa pemerintahan Aquino.

Namun Aquino belakangan kecewa dengan keputusan penerusnya itu yang berusaha mengamandemen UU 1987 yang memberikan pembatasan dalam kekuasaan seorang presiden. Bersama Uksup Agung Manila, Jaime Cardinal Sin yang senantiasa mendukung aksi Aquino dalam menegakkan demokrasi di negaranya itu , mereka pun kemudian memimpin aksi demonstrasi besar-besaran untuk menentang rencana Presiden Fidel Ramos itu.

Aquino berkali-kali harus mengalami kekecewaan terhadap para penerusnya yang selalu berusaha mengamandemen konstitusi 1987 sehingga membuatnya berkali-kali harus kembali turun ke jalan memimpin aksi demonstrasi.

Ketika Joseph "Erap" Estrada mantan aktor Filipina menjadi presiden Filipina, Aquino dan Kardinal Sin kembali turun ke jalan memimpin aksi demonstrasi menentang rencana Estrada untuk mengamandemen UU 1987 yang menurut Estrada dilakukannya untuk kepentingan aktifitas ekonomi dan investasi dan membantah bahwa rencana amandemennya itu sebenarnya merupakan usahanya untuk mempertahankan kekuasaannya. 

Pada 2000, Aquino bergabung dengan massa yang menuntut pemecatan Estrada dari jabatannya sebagai presiden karena banyaknya kasus korupsi yang disinyalir dilakukan oleh Estrada. Seperti ketika Aquino memimpin massa menjatuhkan Marcos, kali ini Aquino kembali berhasil membuat Estrada terusir dari jabatan kepresidenannya. Aquino kemudian mengajukan dukungannya kepada wakil presiden Estrada, Gloria Macapagal-Arroyo untuk menggantikan posisi Estrada.

Kini Estrada kembali mencoba peruntungannya meraih kursi kepresidenannya dengan mencalonkan dirinya kembali pada pemilu yang akan digelar Filipina pada 11 Mei mendatang. Kali ini Estrada akan menghadapi serangan dari Benigno "Noynoy" Aquino III, putra Aquino yang telah menyebabkannya melepaskan "takhta"nya hampir sepuluh tahun lalu itu.

Namun kembali Aquino harus mengalami kekecewaan pada orang yang didukungnya yaitu Arroyo ketika Arroyo dinilai melakukan kecurangan pada pemilu presiden pada 2004 sehingga Aquino kembali turun ke jalan memimpin aksi massa untuk menentang Presiden Arroyo.

Pada Juni 2009, dua bulan sebelum kematiannya, Aquino bahkan dengan keras menentang rencana Arroyo untuk mengamandemen Konstitusi 1987 dan menyebut rencana Arroyo itu sebagai "penyalahgunaan kekuasaan yang memalukan."

Sayangnya ketegaran Aquino dalam menegakkan demokrasi di negaranya harus berakhir. Pada 24 Maret 2008, keluarga Aquino dan seluruh rakyat Filipina terhenyak ketika dokter mendiagnosa sang ikon demokrasi Filipina ini menderita kanker usus. Aquino kini harus berjuang melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya dan berusaha untuk mempertahankan hidupnya. 
Namun sayangnya perjuangan Aquino melawan kanker selama satu setengah tahun itupun ternyata harus berakhir. Sang dewi pelindung demokrasi Filipina ini pun akhirnya kembali kepada Sang Penciptanya pada 1 Agustus 2009. Seluruh dunia pun tersentak dan merasa kehilangan tapi kehilangan yang paling berat tentu saja dirasakan oleh rakyat Filipina.

Ratusan hingga ribuan rakyat Filipina pun memenuhi jalan mengiringi kepergian bekas presiden mereka ini ke tempat peristirahatan terakhirnya yang berada tepat di samping makam suaminya, Ninoy Aquino. Yang mengharukan adalah ribuan rakyat Filipina itu mengiringi kepergian Aquino itu sambil melantukan "Bayan Ko", lagu perjuangan mereka saat meruntuhkan kediktatoran Marcos di bawah kepemimpinan wanita luar biasa bernama Maria Corazon Sumulong Cojuangco Aquino ini.

Mereka juga mengenakan kaus kuning untuk mengenang perjuangan Aquino ketika memimpin rakyat Filipina menjatuhkan rezim Marcos. Saat itu pita kuning menjadi lambang pendukung Aquino ketika bertempur melawan Marcos. Dan kini mereka pun mengikatkan pita kuning di sepanjang jalan-jalan utama sebagai bentuk kehilangan mereka atas sosok wanita yang telah membawa rakyatnya meraih kemerdekaan demokrasi dan juga sebagai bentuk solidaritas dan dukungan rakyat Filipina kepada keluarga Aquino yang tengah berduka. Bahkan para pengguna jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter asal Filipina pun memasang logo pita kuning di account mereka sebagai bentuk penghormatan mereka kepada pemimpin mereka ini.

Aquino memang wanita yang luar biasa. Bagiku pribadi ia merupakan tokoh pemimpin sejati yang tak haus akan kekuasaan dan tak membiarkan jiwanya habis digerus oleh kenikmatan semu bernama kekuasaan. Aquino yang sangat saleh dan teguh menjaga imannya ini bahkan di saat-saat sulitnya ketika suaminya mengalami tekanan dari penguasa tiran di negerinya hingga tewas terbunuh, Aquino memperlihatkan imannya dengan tetap teguh menyandarkan kekuatannya pada Sang Penguasa yang senantiasa memberikannya kekuatan untuk menghadapi saat-saat sulit dan memberikan keberanian baginya yang hanya seorang ibu rumah tangga untuk memimpin bangsanya meraih kemerdekaan sejati dari tangan seorang diktator. Tapi yang istimewa adalah Aquino ternyata tak lupa daratan ketika merasakan empuknya kursi kekuasaan itu. Ia masih ingat dan menyadari kekurangannya sehingga membuatnya mengambil keputusan untuk memberikan kesempatan bagi rakyatnya yang lain yang memiliki kemampuan untuk memimpin negerinya menggantikan dirinya dan memberikan hasil yang lebih baik bagi negeri yang dicintainya ini. 

Aquino juga memperlihatkan bahwa dirinya tidak pernah silau oleh pesona kekuasaan. Terbukti ketika ia telah turun dari kursi kepresidenan dan akan menghadiri upacara penobatan Fidel Ramos sebagai presiden menggantikan dirinya, ia memilih untuk mengendarai Toyota Crown putih sederhana yang dibelinya dengan uangnya sendiri daripada duduk nyaman dalam mobil mewah Mercedes Benz yang disediakan oleh pemerintah.

Tak heran bila kematian Cory Aquino meninggalkan kehilangan yang sangat besar bukan hanya bagi rakyat Filipina tapi juga bagi dunia yang kehilangan sosok seorang pejuang demokrasi sejati yang tak hanya pandai berkoar mengobarkan semangat untuk menjatuhkan sang diktator tapi ia juga ternyata mampu memperlihatkan bahwa kekuasaan bukanlah merupakan jabatan abadi bagi seseorang hingga akhirnya menciptakan tiran. Seseorang yang telah meraih kekuasaan seharusnya ingat bahwa kekuasaan absolut adalah milik Sang Pencipta dan tak seharusnya seorang pengusasa bertengger di kursi kekuasaan sebagai penguasa absolut. Karenanya seseorang yang ingin meraih kursi kekuasaan harus pula ingat bahwa kursi itu bukanlah miliknya selamanya karena ketika kursi itu telah berhasil diraihnya, sang penguasa juga harus bisa ingat bagaimana caranya untuk turun dari kursi kekuasaan itu.

Minggu, 25 April 2010

Mitos...? (bagian 1)

Sudah satu tahun lima belas hari aku tinggal di Samarinda, kalau dibilang betah atau tidak sepertinya aku terpaksa harus betah tinggal disini. Mungkin betah bukanlah kata yang tepat melainkan terbiasa. Ya, aku sepertinya sudah mulai bisa menerima kehidupan baruku di Samarinda dan terbiasa dengan kehidupan di sini yang sebenarnya sangat berbeda dengan kehidupanku ketika di Jakarta dulu. Dan itu karena ada suamiku disini… jadi terpaksa aku harus bisa terbiasa menjalani kehidupan di sini meski sebenarnya aku tak selalu merasa betah di tempat ini…

Seperti yang kuceritakan pada kisahku sebelumnya betapa terkejutnya diriku melihat ternyata magnit materialis-konsumerisme-kapitalis seperti yang kulihat di Jakarta telah juga merambah daerah yang kukira masih belum terjamah modernisasi ini, tapi ternyata perkiraanku salah. Gunung-gunung yang kuharap menjulang tinggi megah dan daerah yang kukira hijau ternyata berbeda jauh. Setiap hari saat aku berangkat kerja dan melewati deretan gunung-gunung batu bara yang telah gundul, rasanya gunung-gunung itu tiap harinya makin berkurang saja tingginya.

Saat tahun pertamaku di Samarinda, kulihat gunung-gunung batu bara itu meski sudah gundul tapi kulihat masih cukup tinggi sekarang setelah setahun berlalu, gunung batu bara yang kulihat setiap kali aku berangkat kerja itu kini tinggal separuhnya, malahan sudah hampir habis dan nyaris sudah rata dengan tanah. 

Kupikir kalau saja gunung-gunung itu bisa menangis, mungkin kita bisa mendengar tangisan pilunya ketika ketamakan manusia menghujam tubuhnya dan mengurasnya hingga tandas seperti itu.  Melihat keadaan yang seperti itu aku pun meringis sedih menyadari betapa serakah dan sadisnya manusia terhadap bumi yang sebenarnya merupakan penopang utama kehidupannya....

Di sini aku juga mendengar beberapa mitos. Ada dua mitos yang kudengar di sini. Katanya ada ular berkepala naga ... aku sendiri sih belum pernah melihat kebenaran dari mitos ini.... Konon sepanjang sungai Mahakam itu merupakan badan sang naga.... (cerita ini akan kulanjutkan secara terpisah nanti di kisah diary ku yang berikutnya).

Mitos kedua yang kudengar adalah mitos yang mengatakan bahwa kalau pada hari Jum'at ada yang menawari makanan dari ketan maka kita harus memakannya  karena kalau kita tidak memakannya maka kita akan tertimpa musibah. Aneh juga sih. Tapi menurut mitos yang kudengar itu, sekalipun kita tak menyukai rasanya setidaknya kita harus mencicipinya sedikit, kalau tak mau tertimpa musibah. Untungnya yang harus diterima adalah tawaran memakan ketan coba saja kalau yang ditawarin itu DURIAN, he...he... he... aku jadi ingat kakakku yang tak suka durian, bagaimana seandainya ia datang ke sini dan saat ditawarin buah yang beraroma pekat ini, maka walaupun harus menutup hidung dan menahan rasa mual akibat aroma durian yang menyengat pastinya ia harus mencicipi satu-satunya buah yang dibencinya itu. Aku jadi tertawa membayangkan adegan itu....

Ya, walaupun tempat ini masih tetap terasa asing bagiku, tapi sepertinya tempat ini ternyata masih memiliki banyak cerita yang bisa kukisahkan....

Schumi Juga Manusia

pic taken from here 

Sebagai seorang manusia tentunya Schumi memiliki kekurangan meski pada masa keemasannya Schumi tampil perkasa hingga tak sedikit yang mentahbiskannya sebagai titisan Zeus, pemimpin para dewa yang bersemayam di gunung Olympus.

Keberhasilan dan keperkasaan Schumi itu lah yang menyebabkan kemandulan Schumi dalam empat race di awal kembalinya ke ajang F1 ini menimbulkan kritikan tajam pada manusia super yang satu ini. Tapi seharusnya semua pihak yang mengkritiknya menyadari bahwa tiga tahun lamanya Schumi cuti dari balapan F1 dan F1 bukan lagi seperti F1 ketika ia masih bercokol di dalamnya. Terlebih dengan aturan dan regulasi baru yang sepertinya ikut pula menghambat masa adaptasinya kembali di F1.

Schumi memang hanya manusia yang memiliki berbagai kelemahan tapi bukan berarti Schumi tak bisa meraih kembali kesuksesan seperti di masa-masa keemasannya dulu. Sebagai seorang manusia tentunya Schumi memerlukan waktu untuk beradaptasi dan meraih kembali performanya yang telah dibiarkannya "tertidur" selama tiga tahun jadi mengapa harus menekan seorang Schumi dengan berbagai komentar miring dan pedas baginya hanya karena ia di satu waktu dulu pernah mendominasi ajang olahraga jet darat ini sehingga sempat membuat banyak pihak bosan dengan kemenangannya dan anehnya kini saat ia tengah mengalami masa paceklik kemenangan, banyak pihak yang justru mengkritik kemandulannya ini seolah mereka merindukan kemenangan seorang Super Schumy????!!!!

Apapun komentar miring dan pedas bagi Schumi menunjukkan bahwa seorang Schumi masih memiliki tempat istimewa di dunia F1 sehingga banyak pihak baik pemujanya maupun pengkritiknya mengharapkan kembalinya seorang Super Schumi yang pernah merajai ajang jet darat ini. Tapi berilah waktu bagi Schumi maka kemenangan itu pastinya akan kembali singgah pada dirinya karena seorang Schumi pastinya tak pernah lupa bagaimana cara memenangi balapan. Seorang Ecclestone saja mau bersabar dan menanti Schumi kembali menemukan performa balapannya untuk kemudian meraih kemenangan (berita lengkapnya di sini) jadi mengapa masih ada saja pihak yang meragukan seorang Schumi?

Meskipun faktor usia mungkin merupakan salah satu hal yang melemahkan Schumi dalam pertarungan di musim ini tapi pengalaman Schumi yang kaya dan kemampuannya dalam membangun tim tetap merupakan hal istimewa seorang Schumi dan tim manapun pastinya sangat berharap merasakan sentuhan magic seorang Schumacher hanya saja biarlah waktu yang bicara dan memberikan kesempatan bagi seorang Schumacher menunjukkan kembali sihirnya di dunia F1 yang sempat menyihir jutaan penggemarnya.

Dan walaupun di empat balapan awal musim ini, Schumi sepertinya keteteran dan kalah telak dari rekan setimnya yang jauh lebih muda tapi seharusnya para pengkritik Schumi melihat rekam jejaknya secara keseluruhan. Di sesi kualifikasi dan race mungkin Schumi memang terlihat melempem tapi bila dilihat dari sesi latihan, sebenarnya Schumi telah memperlihatkan kemampuannya yang brilian yang telah mengantarkannya meraih tujuh gelar dunia. Di sesi latihan bebas pertama di Bahrain yang merupakan GP pembuka awal musim, Schumi yang masih beradaptasi memang masih kalah dari Rosberg junior tapi di sesi latihan kedua, Schumi tampil gemilang dengan menjadi yang terkencang ketiga tak beda jauh dari rekan setimnya yang berada di urutan pertama. Begitu pun di sesi latihan ketiga meskipun ia masih kalah kencang dari rekan setimnya tapi perbedaannya tak terlalu mencolok.

Di sesi latihan kedua GP Australia, Schumi berhasil menjadi yang terkencang keempat di belakang Hamilton, Button, dan Webber sementara rekan setimnya hanya mampu mencatatkan waktu tercepat ke sepuluh. (Kehebatan Schumi selengkapnya bisa dilihat di sini). Dan keberhasilan Schumi itu kembali diperlihatkan di sesi latihan bebas ketiga dengan menjadi yang terkencang ketiga di belakang Webber dan Alonso sementara rekan setimnya berada di urutan kelima di belakang Vettel. Dan meskipun di sesi kualifikasi, Schumi hanya mampu meraih P7 di belakang rekan setimnya yang ada di grid ke-6, Schumi sebenarnya bisa saja meraih hasil yang lebih baik mengingat sepanjang sesi latihan bebas ia mencatatkan waktu yang kompetitif tapi sayangnya insiden di lap pertama ketika ia bersenggolan dengan Alonso sehingga ia harus kembali ke pit untuk mengganti sayapnya yang patah mengandaskan kesempatannya meraih kemenangan pertamanya. Haug, petinggi Mercedes pun meyakini kemungkinan Schumi meraih kemenangan pertamanya musim ini di Australia kalau saja ia tak bersenggolan dengan Alonso di lap pertama. (Berita selengkapnya bisa dibaca di sini).

Pada pergelaran GP Malaysia, seminggu setelah perhelatan GP Australia, Schumi masih juga memperlihatkan kansnya untuk meraih hasil optimal. Di dua sesi latihan bebas ia memang masih kalah kencang dari rekan setimnya namun waktunya masih bisa dibilang kompetitif sehingga di sesi latihan ketiga, Schumi memperlihatkan ia sedikit lebih kencang dari rekan setimnya. (Hasil lengkapnya di sini).

Walaupun hasil akhir sesi kualifikasi GP Malaysia menempatkan Schumi di posisi ke-8 sementara rekan setimnya menghuni grid ke-2 yang artinya berada di front row pada race di Malaysia tapi ingat juga ketika Schumi melibas trek Sepang yang basah diguyur hujan di sepanjang sesi kualifikasi, Schumi bahkan sempat menjadi yang terkencang pada sesi kualifikasi ke-2. Bukankah hal ini membuktikan kepiawaian Schumi belum sepenuhnya punah? Sayangnya di race, Schumi terpaksa retired karena masalah mur di rodanya.

Memang Schumi masih kerap mengalami nasib apes saat race tapi bukan berarti itu menjadi justifikasi bahwa performa Schumi telah menurun. Mungkin yang diperlukan oleh Schumi adalah waktu. Waktu untuk membuktikan bahwa Schumi masih memiliki kekuatan untuk memperlihatkan pesonanya yang sempat mengharu biru jagat F1. Jadi berilah Schumi waktu dan tetaplah bersabar menanti kilauan bintang seorang Schumacher kembali menyinari galaksi Formula One.

So I always keep my eyes on Super Schumi coz I believe he still the star that never lost his shines....

Rabu, 21 April 2010

Megawati Soekarno Putri = Live by Destiny

Jauh sebelum masyarakat Indonesia dewasa ini melihat keteguhan hati seorang Megawati Soekarno Putri memilih posisinya di dalam pemerintahan, ayahnya, Ir. Soekarno yang juga merupakan salah satu tokoh pendiri bangsa Indonesia sekaligus presiden pertama republik ini telah lebih dulu menyadari ketegaran hati putri sulungnya ini. Pada penulis biografinya, Cindy Adams, Presiden Soekarno cukup banyak menceritakan mengenai putrinya, Megawati yang meski pendiam tapi memiliki keteguhan hati yang sulit untuk digoyahkan.

Meski Megawati merupakan putri seorang tokoh penting dalam politik sekaligus sejarah Indonesia tapi kehadiran Megawati dalam dunia politik tak semudah membalikkan telapak tangan. Ketika Orde Baru menumbangkan kekuasaan ayahnya, kehidupan politik keluarga proklamator Indonesia itu pun dikontrol oleh pihak penguasa sehingga keluarga Soekarno tak memiliki kebebasan dalam berpolitik.

Meskipun saat kuliah, Megawati sudah terlibat dalam organisasi kemahasiswaan namun karir politik Megawati baru dimulai ketika ia masuk ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada 1987. PDI sendiri merupakan partai hasil fusi (gabungan) beberapa partai yang memiliki kesepahaman garis politik yang merupakan kebijakan dari pemerintah Orde Baru ketika berkuasa yang menggabungkan berbagai partai yang sepaham sehingga hanya terdapat tiga partai politik saja yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Golongan Karya (Golkar). Salah satu partai yang difusi ke dalam tubuh PDI adalah Partai Nasional Indonesia (PNI) yang salah satu pendirinya adalah Ir. Soekarno alias ayahanda Megawati sendiri.

Keikutsertaan Megawati yang awalnya merupakan ibu rumah tangga ini hingga akhirnya terjun ke dalam dunia politik melalui PDI pada 1987 menurut suaminya, Taufik Kiemas, seperti yang sering diucapkannya dalam wawancara di media adalah merupakan takdir. Takdir seorang Megawati yang telah digariskan menjadi putri seorang Soekarno, mengalami berbagai hal dalam perannya sebagai putri Soekarno baik suka maupun duka hingga takdir itu pulalah yang kemudian mengantarkannya meneruskan karir politik ayahnya yang meninggal dalam kondisi sebagai tahanan rumah oleh pemerintah Orde Baru. Dan perjalanan takdir itu kemudian membawa Megawati melewati berbagai kerikil hingga akhirnya ia berhasil menjadi presiden wanita pertama di Republik Indonesia ini.

Terlahir dengan nama Diah Permata Megawati Setiawati Soekarno Putri pada 23 Januari 1947 di Yogyakarta, Megawati yang merupakan anak kedua sekaligus putri sulung presiden Soekarno dan Fatmawati yang menjahit Sang Saka Merah Putih untuk dikibarkan pada hari Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 ini sejak lahirnya kiranya telah ditetapkan sebagai seorang pemimpin. Kabarnya saat kelahirannya, hujan deras turun dengan lebatnya sehingga nama Megawati pun dianugerahkan kepadanya, nama yang diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya "awan." Kabarnya, Biju Patnaik, seorang tokoh dari India yang telah mengusulkan nama itu kepada Soekarno.

Keadaan politik yang tak menentu juga sepertinya selalu mengiringi takdir seorang Megawati. Saat ia lahir, politik di Indonesia tengah tak menentu. Indonesia yang sebenarnya telah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 mendapat pertentangan dari Belanda yang tak mengakui kemerdekaan dan kedaulatan negeri jajahannya ini yang telah dikabarkan ke seluruh dunia lewat siaran radio. Belanda pun melancarkan agresi militernya hingga dua kali. Agresi militer pertama yang terjadi pada 21 Juli 1947 yang menyebabkan Soekarno dan Mohammad Hatta harus mengungsi ke Yogyakarta dan menjadikan Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia.

Setahun kemudian, ketika Megawati bahkan belum genap berusia dua tahun, kondisi politik Indonesia kembali bergolak. Berawal dari penyerangan terhadap Yogyakarta yang telah menjadi ibukota RI, agresi militer belanda yang kedua pun meletus pada 19 Desember 1948. Akibatnya ibukota Indonesia pun kembali harus berpindah dari Yogyakarta ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Karena Bung Karno dan Bung Hatta ditahan Belanda maka kepemimpinan negara pun diserahkan kepada pejabat presiden darurat, Syafruddin Prawiranegara. Pada 1950 barulah Jakarta kembali menjadi ibukota Republik Indonesia.

Sebagai putri dari presiden pertama Republik Indonesia tentu saja Megawati memiliki keuntungan karena bisa belajar langsung dari tokoh utama pergerakan kemerdekaan Indonesia ini. Tapi sebagai putri pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia, tentunya kehidupan Megawati pun tak selamanya berjalan semulus sutera. Berbagai masalah dan kendala harus dihadapinya sehubungan dengan kegiatan politik ayahnya.

Saat kekuasaan ayahnya terguling akibat peristiwa berdarah pada malam 30 September 1965 yang ditengarai dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia sehingga memicu pergolakan politik di Indonesia, Megawati dan keluarga Presiden Soekarno lainnya mengalami masa-masa sulit dalam masa pemerintahan Orde Baru yang menggantikan kekuasaan ayahnya.

Ir. Soekarno saat itu masih berusaha untuk memadamkan emosi massa akibat pembantaian para Jenderal di malam kelam 30 September itu dengan mengangkat Soeharto untuk mengatasi kekacauan yang melanda negeri akibat peristiwa yang kemudian dikenal dengan peristiwa G30S/PKI itu. Namun siapa sangka bila ternyata hal itu tak mampu mempertahankan kepemimpinan Soekarno sebagai presiden RI. Soekarno yang dalam setiap orasinya terkenal mampu membakar semangat rakyat itu ternyata gagal meyakinkan anggota MPRS yang menolak pidato pertanggungjawabannya yang diberinya judul Nawaksara sebagai Presiden sekaligus mandataris MPR.  Pidato lengkap Presiden Soekarno berjudul Nawaksara itu bisa dilihat di sini. Karir politik Soekarno pun berada di ujung tanduk. Kursi kepresidenannya pun kemudian jatuh ke tangan Soeharto yang telah diangkatnya untuk memulihkan keadaan negeri lewat Surat Perintah Sebelas Maret yang terkenal itu yang hingga kini masih terdapat kontroversi sehubungan dengan kabar yang mengatakan ada lembaran yang hilang dalam naskah supersemar itu.

Pada 12 Maret 1967 Soeharto pun diambil sumpahnya sebagai pejabat presiden di Istora Senayan dan pada tahun 1968 Soeharto resmi ditetapkan sebagai Presiden ke-2 Republik Indonesia menggantikan Ir. Soekarno.

Kehidupan Megawati dan keluarga Bung Karno lainnya pun berubah setelah kekuasaan ayahnya tumbang. Bung Karno, ayah Megawati bahkan dikenai tahanan rumah oleh penguasa yang baru dan tokoh proklamator itu tragisnya harus menemui ajalnya pada 21 Juni 1969 dalam statusnya sebagai tahanan rumah.

Larangan untuk menyebarkan ajaran Soekarno atau yang dikenal dengan istilah desoekarnoisasi, makin mempersulit keadaan Megawati dan keluarga Soekarno lainnya. Megawati yang gemar berkebun sehingga memilih jurusan agrikultur di Universitas Padjajaran harus mengalami nasib pahit karena ia terpaksa dropped out dari universitas tersebut pada 1967. Tahun 1970 setahun setelah Bung Karno, ayah Megawati wafat, Megawati berhasil masuk ke Universitas Indonesia. Kali ini ia memilih disiplin ilmu Psikologi tapi dua tahun kemudian Megawati lagi-lagi harus dropped out.

Namun nama besar ayahnya yang masih memiliki tempat istimewa di hati kebanyakan rakyat Indonesia tak mampu menghalangi usaha pemerintah Orde Baru untuk menjegal karir politik Megawati saat ia bergabung dengan PDI pada 1987 dan sukses meraih kursi sebagai anggota DPR bersama partai politik tersebut. Megawati bahkan terpilih sebagai ketua umum PDI, menggantikan Suryadi pada Kongres Nasional yang dilakukan PDI pada Desember 1993 namun lagi-lagi pihak penguasa berusaha untuk menjegal kiprah politik ibu tiga orang anak ini. Dengan campur tangan pemerintah saat itu, PDI pimpinan Suryadi mengadakan kongres di Medan untuk membatalkan hasil kongres sebelumnya yang telah menetapkan Megawati sebagai ketua umum partai yang baru. Akibatnya PDI pun terbelah dan puncaknya adalah penyerangan terhadap kantor pusat PDI di Jakarta pada 27 Juli 1996 yang dilakukan oleh pihak pendukung Suryadi (yang kabarnya didukung oleh pemerintah) sehingga mengakibatkan banyak korban berjatuhan. Namun pemerintah saat itu malah menuding kekacauan yang terjadi di kantor pusat PDI itu merupakan ulah dari PRD dan menangkap tokoh-tokoh organisasi tersebut.

Dengan dualisme kepemimpinan di tubuh PDI, pemerintah memilih PDI pimpinan Suryadi lah sebagai partai politik yang resmi sehingga PDI pimpinan Mega tak bisa mengikuti pemilu 1997. Megawati dan para pendukungnya pun untuk membalaskan kekecewaan mereka mengalihkan suara dan dukungan mereka kepada PPP (Partai Persatuan Pembangunan) untuk melawan hegemoni kekuasaan Orde Baru.

Alih-alih menghancurkan karir politik Mega, peristiwa berdarah yang kemudian dikenal dengan sebutan tragedi 27 Juli itu malah membuat nama Mega makin meluas dan menimbulkan simpati publik terhadap putri presiden pertama RI ini.

Pada pertengahan 1997, Indonesia mulai terkena imbas dari krisis finansial yang melanda negara-negara Asia. Pada akhir Januari 1998 nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika merosot sangat tajam. Rupiah bahkan sampai menembus angka 15.000 dari Dollar Amerika padahal sebulan sebelumnya, pada Desember 1997 Rupiah masih berada di kisaran 4000. Situasi politik Indonesia kembali memanas.

Keadaan ekonomi yang kacau kemudian membangkitkan emosi publik terhadap pemerintah Orde Baru yang dinilai telah menghancurkan pondasi perekonomian bangsa dengan banyaknya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sehingga membuat perekonomian negara hancur lebur.

Demonstrasi yang sangat jarang terjadi saat Orde Baru tengah berada di puncak kekuasaannya pun mulai merebak. Kekuasaan Soeharto yang baru saja kembali terpilih sebagai Presiden Indonesia pada 1998 untuk masa jabatannya yang ke-6 (Soeharto terpilih sebagai Presiden RI pada 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998) berada di ambang batas. Suhu politik makin memanas setelah terjadi penembakan yang menewaskan beberapa mahasiswa Trisakti (kasusnya hingga kini pun tak jelas) yang kemudian memicu gelombang demonstrasi besar-besaran dan berujung pada kerusuhan rasial terhadap sekelompok minoritas etnis Tionghoa.

Kekacauan sosial yang sudah tak terkendali itu akhirnya menghancurkan tahta kekuasaan Soeharto yang akhirnya harus takluk dengan desakan dari masyarakat luas yang menuntutnya turun dari takhta kepresidenan yang telah didudukinya selama tiga puluh dua tahun (masa total kepemimpinannya sejak ia diangkat sebagai pejabat pengganti Presiden akibat kekacauan massal usai tragedi G30S/PKI). Soeharto pun terpaksa melepaskan jabatan kepresidenannya yang disebutnya dengan istilah lengser keprabon. Jabatan presiden kemudian diserahkan kepada wakilnya, B.J. Habibie. Sementara itu kekuatan politik Megawati makin kuat. Ia bersama Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Amien Rais, dan Sultan Hamengkubuwono X yang melakukan pertemuan di Ciganjur dianggap sebagai tokoh reformasi.

Pada Oktober 1998, para pendukung Megawati mengadakan Kongres Nasional membentuk sebuah partai baru yang kemudian diberi nama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) untuk membedakan PDI pimpinan Mega dengan PDI di bawah kepemimpinan Suryadi. Megawati otomatis terpilih sebagai ketua umum dari partai baru ini dan ia juga ditetapkan partai sebagai kandidat presiden dalam pemilu yang akan diselenggarakan pada 1999.

Partai PDI-P pimpinan Megawati yang telah meraih simpati rakyat terutama sejak peristiwa 27 Juli itu berhasil meraih suara mayoritas dalam pemilu 1999. Tapi keberhasilan PDI-P meraih suara terbanyak dalam pemilu 1999 itu ternyata tak membuat langkah Megawati untuk meraih kursi kepresidenan menjadi mulus karena konstitusi Indonesia saat itu. Presiden dan wakil presiden baru akan ditetapkan oleh anggota-anggota MPR/DPR terpilih.

Wacana untuk menjegal langkah Megawati sebagai presiden wanita Indonesia yang pertama pun mulai merebak ke dalam tubuh lembaga wakil rakyat itu yang tak bisa menerima keberadaan wanita sebagai seorang pemimpin bangsa. Keadaan di lembaga wakil rakyat itu pun kabarnya sempat memanas hingga akhirnya kelompok poros tengah pimpinan Amien Rais mengajukan nama Abdurrahman Wahid atau yang lebih sering dikenal dengan panggilan Gus Dur sebagai opsi untuk menyatukan perselisihan dan dianggap bisa diterima oleh semua pihak.

Gus Dur pun terpilih sebagai Presiden RI ke-4 lewat voting yang dilakukan oleh angota MPR/DPR dengan perolehan total 373 suara sementara Megawati kalah tipis dengan hanya meraih 313 suara. Keesokannya voting untuk memilih wakil presiden pun dilaksanakan. Seolah untuk mengobati kekecewaan rakyat akibat ulah anggota wakil rakyat yang telah menjegal Megawati sebagai pimpinan partai pemenang pemilu menuju kursi kepresidenan, kali ini kebanyakan wakil rakyat memberikan suaranya kepada Mega untuk kursi wakil presiden dengan perolehan total 396 suara mengalahkan Hamzah Haz yang hanya mengumpulkan 284 suara.

Pemerintahan baru Gus Dur-Mega ternyata tak mampu berjalan dengan mulus terutama dengan pertikaian antara Gus Dur dengan DPR membuat pemerintahan baru ini mengalami banyak kendala. Pasang bongkar kabinet pun kerap terjadi sehingga pemulihan perekonomian berjalan lambat sementara suhu politik pun sering memanas akibat pertikaian antara presiden dengan DPR.

Pertikaian antara Gus Dur dan DPR pun mencapai puncaknya ketika Gus Dur mengatai lembaga wakil rakyat itu seperti kelompok taman kanak-kanak. Berbagai friksi itu akhirnya membuat Gus Dur terlempar dari kursi kepresidenan. Megawati sebagai wakilnya kemudian diangkat menjadi presiden RI yang ke-5 menggantikan Abdurrahman Wahid pada 2001.

Namun pemerintahan Megawati pun tak berjalan dengan mulus. Megawati menghadapi banyak tekanan sehingga dalam masa pemerintahannya yang hanya tiga tahun itu memicu berbagai komentar miring terutama sehubungan dengan sikapnya yang lebih banyak memilih diam.

Sikap diam Megawati ini justru menjadi senjata bagi para lawan politiknya untuk memojokkannya sehingga membuat pamor Mega pun makin menyusut hingga akhirnya pada pemilu 2004 Megawati dikalahkan oleh bekas menterinya, Susilo Bambang Yudhoyono dalam putaran kedua pemilihan presiden pada 20 September 2004. Megawati pun secara konsisten memilih untuk menjadi pihak oposisi yang diharap dapat bersikap kritis dalam menyikapi kebijakan pemerintah dibanding berkoalisi dalam pemerintahan.

Lima tahun menjadi pihak oposisi ternyata tak mampu mengangkat nama Megawati kembali seperti pada akhir tahun 1990-an. Megawati lagi-lagi harus menelan pil pahit dengan kekalahannya yang kedua kali pada pemilu 2009 yang kembali mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI untuk masa jabatannya yang kedua.

Meski gagal dalam pemilu 2009 itu, Megawati ternyata masih memiliki tempat istimewa di hati para pendukungnya. Dalam kongres PDI-P di Bali beberapa waktu yang lalu, Megawati ternyata kembali terpilih sebagai ketua umum salah satu partai besar yang menganggap sebagai partainya wong cilik itu. Dalam kesempatan itu pula Megawati kembali menegaskan posisi dari partainya yang memilih untuk berada di luar kekuasaan pemerintahan.

Meski banyak yang meragukan kemampuan intelektual Megawati namun tak ada satupun yang bisa menggoyahkan keyakinan wanita yang satu ini. Hal ini mungkin bisa dianggap kekurangan bagi sekelompok orang tapi bagi sebagian orang lainnya, keteguhan hati Megawati bisa jadi merupakan nilai lebih yang dipandang perlu bagi seorang pemimpin.

Takdir telah menetapkan Megawati sebagai anak dari Presiden pertama Republik ini. Berkat nama besar ayahnya, Megawati telah merasakan berbagai hal baik yang menguntungkan maupun yang merugikannya. Namun takdir itu pula kiranya yang telah membentuk Megawati menjadi sosok wanita yang tangguh, setangguh batu karang.

* Gambar dipinjam dari sini.

Minggu, 18 April 2010

Heaven's Tear on Sunday

Kesel, jengkel, gemas, entah apalagi istilah yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku saat ini. Aku merasa konyol sekaligus bodoh. Rasanya tak henti-hentinya kumaki diriku atas kebodohanku ini. Bagaimana mungkin aku yang telah menanti race di Shanghai hari ini justru bisa melupakannya hingga akhirnya melewatkan race itu ?

Biasanya memang aku lebih sering diingatkan oleh sahabatku yang tahun ini memilih untuk menyepi dari hingar bingar deru mesin F1 setelah jagoannya beralih sejenak ke ajang Rally. Aku yang biasa "termanjakan" dengan informasi-informasi F1 dari sahabatku kini harus belajar untuk "mandiri" dalam memenuhi semua rasa penasaranku sehubungan dengan F1, meski terkadang, aku tetap mengusiknya dengan memintanya mencari tahu berbagai hal mengenai yang tengah berlangsung di F1. Karena itulah hari ini aku benar-benar lupa kalau GP Shanghai berlangsung siang hari dan bukannya malam hari seperti yang ada dalam pikiranku, akibatnya ketika aku menyalakan TV jam empat sore tadi, aku hanya bisa melongo tatkala melihat Hilbram dan entah siapa komentatornya mengakhiri acara bincang-bincangnya sementara daftar kerabat kerja mulai terpampang di layar televisi yang artinya acara race sudah berakhir .

Beberapa waktu kemudian, barulah kulihat dari running text Metro TV memberitahu bahwa Jenson Button menjuarai GP China ini. Perasaanku tambah campur baur. Yang ada di benakku adalah berbagai skenario balapan yang pastinya sangat seru mengingat pada sesi qualifying Sabtu, Jenson hanya berhasil meraih P5 sementara Vettel yang perkasa di GP Malaysia kemarin dan telah sukses meraih tiga kali pole position musim ini termasuk di GP China ini bagaimana bisa posisinya diambil oleh Jenson? Lalu siapakah yang ada di belakang Jenson dan bagaimana pula dengan penampilan Michael Schumacher, my hero?

Semua penasaran itu akhirnya terjawab setelah aku membuka berbagai web F1 untuk mendapatkan informasi semendetail mungkin demi memenuhi rasa penasaranku dan mengobati kejengkelanku karena sampai lalai melewatkan GP China ini. Benar saja, semua laporan di web F1 yang kubuka menginformasikan GP China berlangsung dalam keadaan yang amat kacau akibat hujan turun. Dan hal ini membuatku makin dalam menyesali ketololanku yang sampai melewatkan aksi yang pastinya sangat seru ini.

Gembira memang hatiku tatkala melihat berita Jenson Button berhasil meraih kemenangan keduanya pada musim ini yang keduanya diraih dalam keadaan basah, membuktikan Jenson Button layak menyandang gelar sebagai "The Rain Master". Terlebih keberhasilan Jenson di dua seri yang dimenanginya ini, yakni di GP Australia dan China ini berkat strategi gemilangnya bersama tim McLaren dalam membaca situasi sehingga bisa memilih ban yang tepat untuk kondisi balapan saat itu.

Namun di sisi lain, aku ingin menangis saja rasanya karena jengkel tak bisa menyaksikan langsung kejadian tersebut. Terlebih setelah kudapati Michael Schumacher yang telah lama dikenal sebagai "The Rain Master" kembali terseok dengan finish di urutan kesepuluh dan lagi-lagi hanya berhasil meraih satu poin yang tersisa. So sad Schuey ....

Anehnya bila kuingat-ingat, di GP Australia saat Jenson meraih kemenangan pertamanya di musim ini aku pun harus kehilangan setengah balapan karena mati lampu dan kali ini pun saat Jenson meraih kemenangannya kembali di sirkuit yang basah, aku bahkan harus kehilangan momen itu karena tak menyaksikan sama sekali aksi briliannya dimana Jenson sendiri menganggap kemenangannya di GP China ini merupakan kemenangan terbaiknya (berita selengkapnya di sini). Semoga saja kemenangan Jenson itu bukan karena aku tak menyaksikannya secara langsung (meski lewat layar kaca) yang dengan kata lain aku merupakan pembawa sial bagi Jenson sehingga sebaiknya aku tak menonton GP agar Jenson bisa menang terus sepanjang musim . He...he... Sedih aja kalau ternyata anggapan ini terbukti benar karena berarti aku harus melewatkan semua race di musim ini agar Jenson bisa meraih kemenangan dan akhirnya berhasil mempertahankan gelar juara dunianya

Yah, karena aku tak menyaksikan langsung balapannya jadi tak ada alasan bagiku untuk berlama-lama menyusun kata. Yang jelas suasana hatiku kali ini benar-benar tak menentu saja. Senang, jengkel, geram, gembira, dan gemas rasanya campur baur seperti gado-gado saja. Semoga saja di race yang akan datang, aku tak sampai melewatkannya lagi dan semoga juga balapan berikutnya aku bisa kembali melihat keberhasilan Jenson meraih kemenangan yang artinya mematahkan dugaanku bahwa aku merupakan pembawa sial bagi Jenson. Ya kalaupun Jenson gagal di balapan yang akan datang, minimal ia bisa meraih hasil yang cukup memuaskan. Kalau bisa sih, semoga di balapan berikutnya nanti, Michael Schumacher bisa kembali cemerlang seperti di masa-masa lalu sebelum ia meninggalkan F1 dan sukses meraih kemenangannya kembali meski tak mampu bersaing dalam perebutan gelar juara dunia tapi seandainya ia berhasil mencuri satu, dua, tiga, atau mungkin lima kemenangan di musim ini, rasanya itu sudah cukup bagi seorang Jenderal tua seperti Schumi yang akan menjadi kenangan manis bagi hari tuanya saat ia benar-benar lengser keprabon dari singgasana F1

Buat yang melewatkan GP China seperti aku, hasil result race hari ini bisa dilihat di sini nih.

Kamis, 15 April 2010

Queen Elizabeth II = Queen With The Heart


pic taken from here

Ketika Putri Diana wafat dalam sebuah kecelakaan mobil di Paris, Ratu Elizabeth mendapat banyak cemoohan karena sikapnya yang cenderung terkesan dingin terhadap mantan menantunya ini. Karena kerasnya desakan publik (masyarakat Inggris), akhirnya Sang Ratu pun memberikan ijin untuk mengibarkan bendera setengah tiang di kantor-kantor pemerintah dan istana Buckhingham. Sikap Ratu Elizabeth II yang kaku pun kerap dianggap sebagai salah satu faktor yang menyebabkan hidup Putri Diana selama di istana sangat menderita hingga menderita bulimia.

Namun di balik sikap kaku dan konvensional Sang Ratu sebenarnya terdapat sosok seorang wanita hangat yang harus terlihat tangguh dan kuat. Sosok wanita yang menjadi tangguh lewat tempaan sang waktu.

Saat dilahirkan lewat operasi caesar pada 21 April 1926, Elizabeth yang bergelar Her Royal Highness Elizabeth of York ini berada di urutan ketiga dari garis penerus tahta kerajaan Inggris di belakang ayah dan pamannya, Pangeran Edward.

Tak ada yang mengira bahwa Elizabeth akan mencapai tahta kerajaan sebagai seorang ratu mengingat pewaris utama tahta kerajaan adalah Pangeran Edward dan semua orang meyakini kalau Prince of Wales tersebut suatu hari nanti akan menikah dan memiliki putra mahkota yang akan meneruskan tahta kerajaan.Tapi sejarah ternyata ingin mengukir catatan yang berbeda.

Setahun setelah naik tahta menggantikan Raja George V yang mangkat, Edward ternyata tak bisa mengingkari cintanya terhadap seorang janda asal Amerika sehingga sang raja muda ini memilih untuk melepaskan tahtanya. Kisah yang romantis bila saja jalinan cerita ini merupakan sebuah novel. Karena keputusan Edward yang lebih melepaskan tahtanya itulah maka takdir Elizabeth berjalan ke arah yang berbeda. Ayahnya, Pangeran Albert yang semula bergelar Duke of York pun akhirnya naik tahta menggantikan saudaranya dan menjadi raja George VI.

Dengan naik tahtanya sang ayah, maka Elizabeth pun otomatis menjadi putri mahkota yang akan mewarisi tahta kerajaan dari ayahnya. Catatan sejarah Elizabeth Alexandra Mary pun mulai berubah. Ia bukan lagi Princess of York yang berada di garis ketiga penerus tahta. Ia kini bergelar Her Royal Highness The Princess Elizabeth.

Elizabeth kecil dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kakeknya, Raja George V terlebih ketika Elizabeth mendampingi kakeknya saat kakeknya sakit pada tahun 1929. Selain itu, Elizabeth yang oleh orang-orang dekatnya memiliki panggilan kesayangan "Lilibet" ini juga sangat dekat dengan adik satu-satunya, Putri Margareth yang lahir pada 1930.

Saat kecil, Elizabeth dan adiknya, Margareth mendapat pendidikan di rumah di bawah pengawasan ibu mereka dan seorang pengajar wanita bernama Marion Crawford yang kerap dipanggil "Crawfie". Mantan pengajarnya ini kemudian menulis buku berjudul "Little Princesses" yang mengisahkan mengenai masa kecil kedua putri kerajaan ini. Dalam buku tersebut diungkapkan kecintaan Elizabeth terhadap kuda dan anjing. Selain itu, buku tersebut juga menggambarkan bahwa Elizabeth merupakan orang yang sangat mengutamakan kerapian dan memiliki sikap yang bertanggung jawab.

Pernyataan Crawford itupun membuat banyak pihak mengemukakan pandangan mereka mengenai sang putri mahkota ini. Winston Churchill, mantan perdana menteri Inggris yang banyak membantu Elizabeth saat ia naik tahta menggantikan ayahnya dalam usianya yang masih sangat belia mengungkapkan betapa Elizabeth memiliki perhatian yang sangat besar terhadap anak-anak dan bayi. Sepupunya, Margareth Rhodes pun tak mau ketinggalan. Ia mengatakan bahwa Elizabeth itu merupakan seorang gadis kecil yang periang tapi juga memiliki sifat bijaksana dan baik hati.

Menyadari beban berat yang harus ditanggung putrinya sebagai pewaris tahta, kedua orang tua Elizabeth sangat berusaha memberikan masa kecil yang normal bagi Elizabeth agar ia bisa menikmati maka kecilnya sebagaimana mestinya. Karena itu pula ketika pada 1939 pemerintah Kanada menyatakan harapan mereka agar Elizabeth bisa ikut bersama kedua orang tuanya dalam kunjungan mereka ke Kanada, Raja George VI langsung menolak permintaan tersebut karena menganggap Elizabeth masih terlalu muda untuk melakukan kunjungan ke luar negeri yang memakan waktu lama.

Pada tahun 1934 Elizabeth bertemu dengan Pangeran Philip dari kerajaan Yunani dan Denmark tapi keduanya baru merasakan getar-getar cinta setelah mereka kembali bertemu di Royal Naval College di Dartmouth pada 1939 dan sejak pertemuan itu, mereka pun mulai saling berkirim surat. Saat itu Elizabeth masih berumur tiga belas tahun.

Elizabeth dan Philip akhirnya menikah pada 20 November 1947 setelah Perang Dunia II usai. Namun pernikahan mereka tidak bisa dibilang bebas dari kontroversi terlebih karena Philip merupakan bangsawan dari kerajaan asing meski ia bisa dibilang memiliki garis darah dengan kerajaan Inggris juga. Sebelum menikah Philip pun harus melepaskan gelar kebangsawanan Yunani dan Denmark-nya sehingga ia akhirnya menggunakan nama keluarga ibunya, Mountbatten di belakang namanya. Gelar kebangsawanan baru dari kerajaan Inggris pun diberikan kepada Philip yang kemudian menyadandang gelar Duke of Edinburgh dengan panggilan kehormatan His Royal Highness.

Selain gelar kebangsawanannya, Philip juga harus mengubah keyakinannya dari Yunani Ortodoks menjadi Kristen Anglikan yang dianut oleh kerajaan Inggris sejak jaman Raja Henry VIII.

Bukan hanya karena garis darah Philip saja yang rupanya menjadi kontroversi. Saudara-saudara perempuan Philip ternyata juga menjadi kerikil dalam hubungan antara Elizabeth dan Philip setelah diketahui bahwa saudara perempuan Philip menikah dengan bangsawan Jerman yang memiliki hubungan dengan Nazi yang telah mencetuskan Perang Dunia ke-2 dan hampir saja Inggris berhasil ditaklukkan Jerman setelah sebelumnya pasukan Hitler itu berhasil menaklukkan Perancis. Karena keterlibatan saudara-saudara perempuan Philip dengan Nazi itu pulalah yang menyebabkan ketiga saudari Philip yang masih hidup setelah perang dunia II dilarang untuk menghadiri pernikahan saudara laki-laki mereka dengan pewaris kerajaan Inggris Raya ini.

Selain tak dihadiri oleh ketiga saudari Philip, pesta pernikahan mereka pun tak dihadiri oleh bibi Elizabeth, Putri Mary yang menolak untuk menghadiri pesta pernikahan keponakannya tersebut karena saudara laki-lakinya, Duke of Windsor yang harus melepaskan kebangsawanannya pada 1936 karena masalah pernikahannya tak direstui itu ternyata juga tak diundang ke pesta pernikahan Elizabeth dan Philip.

Awalnya ibunda Elizabeth juga tak terlalu menyukai Philip, bahkan kabarnya ibu Elizabeth memberikan julukan Philip "The Hun" bagi menantunya itu tapi belakangan ibunda Elizabeth kepada penulis biografinya, Tim Heald mengatakan menantunya itu merupakan "The English gentleman."

Setahun setelah pernikahan mereka, Elizabeth melahirkan putra pertama mereka, Pangeran Charles yang lahir pada 14 November 1948. Putri Anne, anak kedua mereka lahir dua tahun kemudian yaitu pada 1950. Sementara Pangeran Andrew dan Edward lahir pada tahun 1959 dan 1963 saat Elizabeth telah diangkat menjadi Ratu.

Pada tahun 1951 kesehatan ayah Elizabeth, Raja George VI mulai memburuk sehingga Elizabeth pun mulai sering tampil di muka umum menggantikan peran ayahnya. Pada awal tahun 1952, Elizabeth dan suaminya, Pangeran Philip tengah berada di Kenya dan mereka direncanakan akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Australia dan New Zealand setelah kunjungan mereka di benua Afrika tersebut. Namun pada 6 Februari 1952 saat mereka tengah berada di Sagana Lodge, sekitar 100 mil dari Nairobi, Elizabeth mendapatkan berita mengenai kematian ayahnya. Elizabeth dan Philip pun segera kembali ke Inggris. Sang Ratu baru beserta keluarganya pun pindah ke Buckingham Palace.

Atas permintaan nenek Elizabeth, Ratu Mary yang meninggal pada 24 Maret 1953, maka penobatan Elizabeth sebagai Ratu dilaksanakan di Westminster Abbey pada 2 Juni 1953. Penobatan Elizabeth ini ditayangkan lewat televisi ke seluruh negara Persemakmuran yang berada di bawah kuasa Kerajaan Inggris Raya dan disaksikan oleh 20 juta orang di Inggris sementara 12 juta orang diperkirakan mengikuti acara penobatan Sang Ratu baru ini melalui radio.

Seiring dengan jaman yang kian berubah, Elizabeth yang lahir di masa di mana sistem monarki masih menjadi ciri dari banyak negara, namun kemudian sistem monarki di berbagai negara mulai berubah dan Inggris meski masih menganut sistem pemerintahan monarki pun tak bisa bersikap tiran, hal ini pulalah yang membuat Elizabeth harus bersikap fleksibel sesuai dengan perubahan jaman.

Pada tahun 1960-an dan 1970-an, pergolakan besar menentang kolonialisme merebak di Afrika dan Karibia. Lebih dari 20 negara menyatakan kemerdekaannya dari pemerintahan Inggris dan memilih untuk mendirikan negara yang merdeka dan berdaulat. Kebijaksanaan Elizabeth sebagai ratu pun mengalami berbagai macam cobaan. Pada 1965, Ian Smith, Perdana Menteri Rhodesia yang kini telah berganti nama menjadi Zimbabwe secara sepihak mendeklarasikan kemerdekaan dari Inggris. Hal ini menyebabkan Sang Ratu menyingkirkan Smith dari pertemuan formal dan komunitas internasional pun mengenakan sanksi terhadap Rhodesia, namun rezim Smith ternyata mampu bertahan selama sebelas tahun.

Meski mendapat banyak kritikan dan pertentangan dari kaum republikan di negara-negara persemakmuran yang berada di bawah wewenang kerajaan Inggris, namun toh beberapa negara persemakmuran memilih untuk tetap setia kepada Sang Ratu dan Kerajaan Inggris Raya.

Pada November 1999 Australia mengadakan referendum untuk menentukan masa depan negeri Kangguru itu, apakah akan tetap berada di bawah naungan Kerajaan Inggris ataukah melepaskan diri dari Inggris. Di tengah gencarnya harapan kaum republikan di negeri tersebut untuk bisa melepaskan diri sepenuhnya dari Kerajaan Inggris tapi ternyata rakyat Australia memilih untuk tetap tunduk di bawah perlindungan Sang Ratu dan Kerajaan Inggris Raya.

Sebelumnya pada akhir tahun 1970-an, Kanada sempat digoncangkan oleh semangat kaum republikan. Sang Ratu sendiri menunjukkan minatnya terhadap perdebatan konstitusional Kanada. Setelah mengadakan pembicaraan dan Ratu mendapatkan informasi yang selengkap-lengkapnya mengenai substansi dan politik Kanada sehubungan dengan konstitusional di negeri daun maple itu akhirnya solusi atas kekisruhan tersebut pun bisa tercipta. Peran Parlemen Inggris di konstitusi Kanada dicabut dan Kanada tetap berada di bawah perlindungan Kerajaan Inggris.

Dalam memoarnya, Pierre Trudeau, Perdana Menteri Kanada saat itu mengungkapkan kekagumannya terhadap Sang Ratu yang dalam setiap kesempatan tak hanya memperlihatkan keanggunannya di hadapan publik tapi ternyata Sang Ratu memiliki kebijaksanaan yang diperlihatkannya dalam percakapan pribadi dengannya.

Sepanjang perjalanan tahtanya, Sang Ratu telah mengalami berbagai macam hal yang menuntutnya untuk bersikap tegas namun tetap menjaga keanggunannya dan integritasnya sebagai seorang pemimpin tertinggi Kerajaan Inggris dan negara-negara persemakmuran yang berada di bawah naungannya. Ketidaktahuan rakyat mengenai pribadi Sang Ratu inilah yang kerap memojokkan Ratu dan keluarga kerajaan terutama ketika Sang Ratu diterpa berbagai masalah mengenai kehidupan pernikahan anak-anaknya.

Dalam setiap kesulitan yang dihadapinya, Ratu selalu memperlihatkan ketenangannya dan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Jauh sebelum mengalami goncangan hebat sehubungan dengan pernikahan putra tertuanya, Elizabeth bahkan harus menghadapi perang besar. Perang dalam arti yang sebenar-benarnya.

Ketika Perang Dunia II meletus pada September 1939, Elizabeth masih merupakan gadis remaja. Elizabeth dan Margareth diusulkan untuk diungsikan ke Kanada mengingat kekuatan Nazi yang semakin besar terlebih ketika pasukan Nazi Hitler berhasil menduduki Perancis. Inggris saat itu benar-benar berada di ujung tanduk. Keselamatan keluarga kerajaan terutama dua putri yang masih belia ini pun ikut terancam dengan pergerakan pasukan Hitler yang semakin dekat dengan ambisinya untuk menguasai Eropa dan dunia.

Namun ibunda Elizabeth yang memiliki nama seperti dirinya itu dengan tegas menolak usulan untuk mengungsikan kedua putrinya. "Anak-anakku tidak akan pergi tanpaku. Aku tidak akan pergi tanpa Raja dan Raja takkan pernah pergi meninggalkan negerinya," tegas sang ratu kala itu. Keteguhan ibundanya itu sepertinya menurun ke dalam diri Elizabeth. Dan lewat keteguhan ibunya saat itu, Elizabeth yang masih belia pun mendapat pelajaran berharga bahwa menjadi keluarga kerajaan bukan hanya mendapatkan hak-hak istimewa sebagai keluarga kerajaan, tapi hak-hak itu juga disertai dengan tuntutan tugas untuknya. Dan tugas utamanya adalah menjadi pelayan rakyat karena itu tak semestinya seorang raja meninggalkan rakyat di saat rakyat membutuhkan dukungan dan kekuatan dari pemimpinnya.

Pada 1940 dari Windsor Castle, suara Elizabeth untuk pertama kalinya mengudara lewat radio dalam acara BBC's Children's Hour. Elizabeth menyatakan, "Kita sama-sama mencoba untuk membantu para prajurit kita yang gagah berani baik di angkatan darat, laut, maupun udara, dan kita juga bersama-sama berusaha untuk mengatasi ketakutan dan kesedihan kita atas perang yang tengah terjadi. Kita semua tahu bahwa pada akhirnya perang ini akan berakhir dan semua akan kembali baik."

Keyakinan yang dikumandangkan Elizabeth tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Nazi dan Hitler tumbang. Pada hari kemenangan itu, Elizabeth dan adiknya, Margareth pun berbaur bersama kerumunan rakyat yang memadati jalan-jalan di London untuk merayakan kemenangan besar itu. Kenangan itu kiranya membekas dalam hati Elizabeth yang dalam sebuah wawancara mengisahkan pengalamannya saat itu di mana ia dan adiknya meminta ijin pada kedua orang tuanya agar boleh keluar dan menyaksikan keramaian perayaan tersebut bersama rakyat. Mereka sempat takut tak diberi ijin.

Elizabeth juga terkesan  ketika ia dan adiknya bergandengan tangan bersama orang-orang yang tak dikenal berjalan melewati Whitehall tanpa ada perbedaan status sosial mengenai dirinya dan rakyat kebanyakan. Semuanya menjadi satu dalam gelombang kegembiraan atas kemenangan besar tersebut.

Dua tahun kemudian saat ia genap berumur 21 tahun, ia melakukan debut kunjungan kenegaraannya. Bersama kedua orang tuanya ia melakukan kunjungan ke Afrika Selatan. Dan Elizabeth dalam acara yang disiarkan di radio ke seluruh negara-negara persemakmuran Inggris dari Afrika Selatan mengikrarkan komitmennya sebagai pelayan rakyat. Ia menyatakan akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani rakyat dan ia juga mengharapkan bantuan dan peran serta seluruh rakyat untuk membantunya dalam tugas-tugasnya tersebut untuk kemajuan kerajaan dan seluruh rakyat.

Demi janjinya itu pula dalam segala kesempatan Elizabeth selalu berusaha untuk memahami kehendak rakyatnya bahkan ketika ia dan keluarga kerajaan mendapat sorotan tajam dari media dan rakyat seperti pada tahun 1980-an ketika kritikan publik terhadap keluarga kerajaan sangat besar. Popularitas Elizabeth bahkan sempat menurun tajam ke titik terendah pada tahun 1990-an. Atas desakan publik akhirnya Ratu untuk pertama kalinya membayar pajak dan ia pun memberikan ijinnya membuka Buckingham Palace untuk umum. Kritikan terhadap Elizabeth dan keluarga kerajaan makin tajam dan mencapai puncaknya saat Putri Diana, bekas menantunya tewas dalam kecelakaan mobil di Paris. Ratu dianggap memiliki peran dan andil dalam kesulitan yang dihadapi Diana dan bahkan Ratu juga yang telah menganjurkan agar Diana dan Charles bercerai. Setahun setelah perceraiannya itu, ternyata Diana tewas dalam sebuah kecelakaan mobil dalam aksi kejar-kejaran dengan paparazi di sebuah terowongan di Paris. Ratu saat itu hanya bisa tertunduk di depan sorotan tajam jutaan pasang mata rakyat banyak yang datang untuk memberikan penghormatan dan menunjukkan kecintaan mereka terhadap Sang Putri yang telah terbuang.

Memang atas saran dari Ratu akhirnya keluarga pewaris pertama tahta kerajaan Inggris itu berakhir dengan perceraian. Tapi tindakan Ratu ini pun dilakukan untuk menyelamatkan wibawa keluarga kerajaan yang makin hancur akibat perseteruan putra mahkota dengan istrinya sehingga keluarga kerajaan menjadi santapan empuk media Inggris yang terkenal berlidah tajam. Elizabeth yang sejak kecil dididik untuk menjaga nama baik keluarga kerajaan karena merupakan simbol keagungan dan kebesaran dari Inggris Raya tentunya merasa pertikaian putra sulung dan menantunya itu cepat atau lambat akan merusak kredibilitas keluarga kerajaan yang pada akhirnya akan menimbulkan reaksi negatif terhadap kerajaan. Tentu saja sebagai seorang ratu sekaligus ibu, Elizabeth harus segera bertindak untuk menyelamatkan keluarga dan negaranya.

Tentunya Elizabeth tak berniat menyakiti hati menantunya, Diana yang telah menjadi putri yang sangat dicintai oleh banyak orang di seluruh dunia berkat kecantikan dan kepeduliannya terhadap orang-orang terbuang seperti penderita kusta dan cacat. Diana sendiri mengaku bahwa ia sebenarnya tak mengharapkan perceraian tapi pertikaiannya dengan suaminya yang telah memiliki wanita idaman lain bahkan sebelum pernikahan mereka itu memang sepertinya tak ada solusi yang lebih baik bagi mereka berdua selain perceraian.

Elizabeth juga pastinya tak menyangka bila pada 31 Agustus 1997, setahun setelah perceraiannya, bekas menantunya itu harus tewas terbunuh dalam kecelakaan mobil di Paris. Saat berita kematian mantan menantunya itu disampaikan, Ratu bersama putranya dan cucu-cucunya tengah berlibur di Balmoral. Sebagai seorang nenek, Elizabeth pun melakukan perannya dengan menjadi pelindung bagi kedua cucunya, Pangeran William dan Harry yang berduka atas kematian ibu mereka. Elizabeth menjaga kedua cucunya itu dari perhatian media yang dianggap telah membunuh Diana, ibu mereka dan menjaga mereka di Balmoral sehingga kedua pangeran itu bisa melepaskan kesedihan mereka secara pribadi.

Namun sikap Ratu dan keluarga kerajaan itu ternyata makin meningkatkan sikap antipati rakyat terhadap keluarga kerajaan. Rakyat yang tengah mengharu biru dan berduka atas kehilangan Putri tercinta mereka pun melampiaskan kemarahan mereka terhadap sang ratu sehingga atas anjuran Perdana Menteri saat itu, Tony Blair, Ratu pun akhirnya setuju juntuk tampil di televisi yang disiarkan ke seluruh dunia pada 5 September. Dalam kesempatan itu Ratu mengungkapkan kekagumannya pada bekas menantunya, Diana atas semua kontribusi dan peran yang telah dilakukan Diana. Elizabeth juga menguraikan perasaannya sebagai "seorang nenek" yang merasa perlu untuk melindungi cucu-cucunya, Pangeran William dan Harry. Penampilan Elizabeth itu akhirnya berhasil mencairkan kemarahan dan emosi publik setelah kematian Diana. Publik yang semula memusuhinya pun berbalik menghormatinya.

Perceraian putra sulungnya bukanlah satu-satunya yang terjadi di dalam keluarga kerajaan. Pada 28 April 1992 putri semata wayang Elizabeth, Putri Anne bercerai dari suaminya Mark Phillips yang dinikahinya pada 14 November 1973, padahal mereka telah dikarunia dua orang anak, Peter Phillips dan Zara Phillips. Putri Anne kemudian menikah lagi dengan Timothy Laurence pada 12 Desember 1992. Pangeran Charles pun usai kesedihan rakyat atas kematian mantan istrinya mereda pada 9 April 2005 melangsungkan pernikahan keduanya dengan kekasih hatinya sejak lama, Camilla Parker Bowles. Wanita yang telah menyebabkan keretakan dalam hubungannya dengan Diana.

Perceraian juga menimpa putra ketiga sang ratu, Pangeran Andrew yang bergelar Duke of York. Andrew dan Sarah Ferguson yang menikah pada 23 Juli 1986 itu pun tak bisa terlepas dari aib perceraian yang menimpa keluarga kerajaan. Perceraian mereka berlangsung tiga bulan sebelum perceraian Charles dan Diana tepatnya pada 30 Mei 1996. Keduanya dianugrahi dua orang putri, Beatrice dan Eugenie.

Namun untungnya di balik berbagai berita miring mengenai perceraian yang menimpa keluarga kerajaan terselip berita bahagia. Putra bungsu Elizabeth, Pangeran Edward yang bergelar Earl of Wessex yang lebih sering berkecimpung dalam dunia seni dan budaya akhirnya menikah pada 19 Juni 1999 dengan Sophie Rhys-Jones. Tentunya Elizabeth berharap pernikahan putra bungsunya ini bisa berlangsung lama seperti pernikahannya dengan Pangeran Philip dan tak berakhir dengan perceraian seperti yang menimpa anak-anaknya yang lain.

Jauh sebelum perceraian menimpa anak-anaknya, Elizabeth bahkan telah terlebih dulu harus menghadapi perceraian yang menimpa adik satu-satunya, Putri Margareth yang bercerai dari Earl of Snowdon pada 1978.

Dulu sekali saat persiapan penobatan Elizabeth sebagai Ratu setelah ayahnya, George VI meninggal dunia, Putri Margareth, adik Elizabeth mengatakan pada kakaknya keinginannya untuk menikahi Peter Townsend, seorang duda dari rakyat biasa dengan dua anak. Tentu saja hal ini bisa menimbulkan kegemparan bagi publik karena bukan hanya status Townsend tapi usia mereka pun terpaut cukup jauh. Townsend lebih tua enam belas tahun dari Margareth. Namun Elizabeth sangat menyayangi adik semata wayangnya ini, ia hanya meminta agar rencana pernikahan mereka itu ditunda selama setahun. Namun belakangan atas saran dari berbagai pihak akhirnya Margareth membatalkan rencanya untuk menikahi Townsend. Margareth kemudian menikah dengan Antony Armstrong, 1st earl of Snowdon. Sayangnya pernikahan mereka tak bisa berlangsung lama seperti kakaknya. Setelah bercerai dengan Armstrong, Margareth tidak menikah lagi.

Tahun 2002, tahun perayaan Golden Jubille-nya, Elizabeth harus kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Adiknya, Margareth meninggal dunia pada bulan Februari dan sebulan kemudian, pada bulan Maret, ibunda Elizabeth meninggal dunia menyusul putri bungsunya.

Ratu Elizabeth II telah menunjukkan kesetiaannya terhadap kerajaan Inggris. Dengan gaya aristokrat dan ketenangannya, Elizabeth telah melewati berbagai masalah dan badai yang menerpa hidupnya dan keluarganya. Namun Elizabeth tak pernah goyah oleh terpaan angin kencang itu. Sebaliknya, ia tetap kukuh berdiri. Dan seperti janjinya saat ia masih belia, ia melakukan semuanya demi pengabdiannya kepada rakyat yang sangat dicintainya itu. Tak heran bila kemudian Sang Ratu yang meski sempat mendapatkan kritikan tajam dan sorotan media namun tetap mendapat tempat yang istimewa di hati rakyatnya. Karena takdir yang tak terduga, Elizabeth bisa mencapai tahtanya sebagai seorang ratu dan Elizabeth tak berniat mengkhianati takdirnya itu untuk mengabdikan hidupnya sepenuhnya bagi rakyatnya.

Selasa, 13 April 2010

The Magic of Words


 "Words are the voice of the heart" - Confucius

Anne Sullivan, guru Helen Keller, penderita tiga cacat dalam usahanya untuk membuat Helen memahami setiap kata yang diejakannya di atas tangan Helen, tak pernah berhenti untuk mengajarkan Helen meski Helen bersikap memusuhinya bahkan Anne pun mendapatkan sikap skeptis dari kakak Helen sendiri yang menganggap usaha Anne sia-sia saja. Namun Anne tak pernah menyerah untuk menunjukan cahaya sejati bagi Helen agar Helen meski menderita tiga cacat, buta, bisu, dan tuli tak tersesat dalam dunia yang luas ini. Dan cahaya yang dimaksud oleh Anne adalah kata yang diharapkan Anne bisa membuka pintu hati Helen yang tertutup dari dunia sekitarnya. Kata-kata yang diejakan Anne di atas tangan Helen diharapkan bisa membangunkan Helen dari tidur panjangnya.

Usaha Anne pun akhirnya membuahkan hasil. Helen seperti mendapatkan kilatan petir yang menerangi seluruh hati dan jiwanya ketika Anne sambil memompakan air mengejakan kata "air (water)" ke atas tangan Helen. Dunia Helen yang selama ini diliputi kegelapan pun mulai menyeruakkan setitik cahaya.

Yang mengharukan adalah kata-kata Anne yang mengharukan pada Helen sebelum mendapatkan "pencerahan" itu. Anne mengatakan bahwa ia ingin menunjukkan sebuah dunia bagi Helen yang selama ini hidup dalam kegelapan itu dan dunia itu adalah dunia kata. Lewat kata kita bisa menjelajahi dunia walau kaki kita tak menjejak belahan dunia itu namun lewat kata-kata, kita bisa mengenal banyak tempat, kita bisa mengetahui banyak hal. Kata-kata merupakan kunci untuk menuju terang.

Aku tak tahu sejak kapan aku mengucapkan kata pertamaku tapi aku selalu ingat ketika aku berusaha untuk bisa membaca. Setiap buku seolah merupakan harta karun yang sangat berharga untukku sehingga aku betah berjam-jam lamanya melahap tiap kata di dalam "kotak harta karunku" itu. Ucapan Anne itu kiranya tepat karena lewat rangkaian kata aku jadi bisa mengetahui berbagai hal. Aku bisa mengenal banyak negara meski aku tak pernah menjejakkan kakiku ke negeri tersebut. Aku bisa bertemu banyak orang meski tak harus bertatapan muka. Lewat kata dunia bukan lagi merupakan misteri di dalam kegelapan. Bahkan lewat kata-kata yang terurai dalam buku-buku sejarah aku bisa mengetahui berbagai macam kejadian jauh sebelum aku lahir ke dunia ini.

Kata seringkali terasa seperti udara. Terasa tapi terabaikan. Kita tak pernah menyadari keberadaannya hingga saat kita kehilangannya. Sama seperti udara yang selalu kita rasakan, kita hirup dan seperti sudah menjadi bagian dari hidup itu sendiri sehingga kita tak menyadari keberadaannya hingga saat kita tak lagi bisa menghirup udara itu barulah kita merasakan kehilangan. Begitu pula dengan kata. Melekat erat pada lidah dan otak kita tapi terkadang kita tak sepenuhnya memahami kata-kata yang terucap itu sendiri. Kata-kata yang mestinya merupakan sebuah keajaiban dan pintu menuju terang seringkali menjadi pisau tajam yang menyayat hati hingga membuat orang lain terluka seperti yang diungkapkan oleh Ralph Waldo Emerson, "Words are alive; cut them and they bleed." 

Kata seringkali begitu mudahnya terucap dan sepertinya sangat bisa dipahami padahal sebenarnya kata yang terucap itu adalah misteri. Sepatah kata terkadang bisa membuat suasana seseorang yang semula suram menjadi cerah ceria tapi di lain waktu, sepatah kata dapat pula menghancurkan semangat seseorang menuju titik nadir terendah. Karena itu pula kiranya seorang raja besar sampai meminta pada Tuhan agar selalu mengawasi mulutnya dan berjaga pada pintu bibirnya. Dan seorang raja besar lainnya mengingatkan, "Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan."

Lewat kata-kata pula, mimpi seseorang dapat diceritakan dan bahkan dapat diwujudkan walau mungkin si pengucap kata tak pernah dapat melihat mimpinya terwujud seperti yang terjadi dengan mimpi seorang presiden Amerika Serikat yang bermimpi suatu saat seorang manusia akan bisa menjejakkan kakinya di bulan. Ia tak pernah melihat mimpinya itu terwujud karena ia telah tewas tertembak oleh seorang penembak misterius tapi berkat kata-katanya itu pula, sebuah mimpi yang lebih besar tercipta. Manusia bukan hanya bisa menjejakkan kakinya di bulan. Hasrat manusia untuk mengetahui rahasia antariksa luas bukan lagi menjadi hal mustahil yang tak dapat terwujud meski hingga kini manusia hanya bisa mengeksplor rahasia besar antariksa itu sepersekian bagian saja.

Kata-kata juga yang mampu membuat seorang Mao Tze Dong yang semula bukanlah siapa-siapa namun berhasil menguasai sebuah negara besar. Ia bahkan berhasil menyebarkan paham komunis yang diyakininya ke seluruh penjuru negeri tirai bambu yang begitu luas. Dalam catatan sejarah diketahui bahwa setelah pasukan komunis Mao berhasil mengusir pasukan nasionalis Kuomintang pimpinan Chiang Kai-Shek  dari daratan China menuju sebuah pulau yang kini menjadi negara kecil bernama Taiwan, Mao baru menyadari bahwa ternyata banyak dari rakyatnya masih menderita buta huruf.

Mao menyadari tugas untuk membuat rakyat China yang tersebar luas itu agar bisa melek huruf merupakan hal yang amat sangat sulit. Tapi ternyata Mao memiliki jurus jitu yang bisa membuatnya meraih dua keuntungan. "Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui," begitu mungkin kira-kira ungkapan yang tepat untuk ide Mao dalam membuat rakyatnya melek huruf sekaligus menyebarkan paham komunismenya.

Untuk mengatasi hal ini, ia memerintahkan setiap satu orang yang bisa baca tulis menuliskan ajaran-ajaran komunisme yang diyakininya itu dan mengajarkan satu orang yang buta huruf membaca dan menulis dari doktrin-doktrin komunismenya itu. Dan setelah si buta huruf itu akhirnya bisa membaca dan menulis, ia pun mengajarkan penderita buta huruf lainnya membaca dan menulis doktrin-doktrin komunisme tersebut dan begitu seterusnya. Berkat strategi Mao ini, bukan hanya penderita buta huruf berkurang di negerinya, tapi juga paham komunismenya makin berkembang luas hingga ke setiap sudut negeri China.

Sepatah kata bahkan bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawanya. Memang lidah merupakan sarana untuk mengecap dan mengucap itu kerap kali disebut lebih berbahaya dari sebilah pedang paling tajam sekalipun. Tapi sebuah kata-kata yang keliru ditafsirkan ternyata benar-benar bisa mengakibatkan nyawa orang lain melayang seperti yang terjadi pada sekelompok tentara Turki yang ditawan oleh Perancis saat perang di Timur Tengah pada 1799.

Sang Panglima besar, Napoleon Bonaparte saat itu sebenarnya berniat melepaskan 1200 tentara Turki yang ditawan pasukannya itu. Namun alih-alih melepaskan mereka, tentara Turki itu malah tewas terbunuh hanya karena Sang Panglima besar tengah menderita flu. Saat itu, Napoleon sambil diganggu batuk yang membuatnya jengkel tengah menginspeksi pasukannya. Di antara batuknya setengah bergumam sang Jenderal menggerutu dan mengatakan, "ma sacre tolix" yang artinya "batuk sialan". Tapi perwira pendamping sang Jenderal mengira bosnya mengatakan, "massacrez tour" yang artinya bunuh semua. Alhasil seluruh tawanan Turki yang berjumlah 1200 orang itu pun tewas dibunuh padahal semula sang Jenderal berniat melepaskan mereka tapi karena kesalahan dalam mendengar kata-kata sang Jenderal, seluruh pasukan Turki itu malah harus menemui ajal mereka.

Kata terkadang juga terasa tak ubahnya seperti air yang terkadang terasa lembut seperti tetesan air tapi ada kalanya deras menderu laksana debur ombak yang menghantam rasa dan jiwa seseorang. Kata adalah wujud dari peradaban manusia tapi terkadang manusia sendiri yang merendahkan martabat dan peradabannya dengan kata-kata tak beradab yang diucapkannya. Tapi kata bagiku adalah sebuah kunci bagi seseorang untuk meraih mimpinya. Lewat kata-kata baik yang diucapkan maupun yang ditulisnya, ia telah menularkan mimpi itu pada orang lain. Lewat kata-kata itu pula, misteri pikiran tak lagi terlalu sulit untuk dipahami. Lewat kata-kata pemikiran seseorang bisa memberikan inspirasi bagi orang lain.

Kerap sesaat sebelum tidur, ketika mataku setengah terpejam, aku suka sekali mengucapkan mimpiku dalam hening malam meski mungkin hanya bergaung dalam kamarku tapi pikiranku menyerapnya untuk memberikanku harapan bagi langkah kakiku pada hari baru yang siap menyongsong. Tak peduli betapapun konyolnya sebuah mimpi, kurasa alam semesta ini cukup luas untuk menampung setiap mimpi anak manusia. Jadi mengapa harus lelah bermimpi? Mengapa harus takut melangkah mewujudkan mimpi? Karena setiap kata yang terucap akan tetap bergaung di seluruh penjuru semesta dan hanya orang-orang yang mampu menangkap gaungnya itulah yang kiranya akan mencatatkan sebuah sejarah bagi hidupnya dan dunia.

Kata yang terangkum dalam bahasa mungkin merupakan sebuah tanda peradaban. Dan mungkin kemampuan dalam berbahasa ini pula yang membedakan manusia dari makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Mungkinkah itu pula yang menyebabkan manusia lebih suka berbicara daripada mendengarkan?


"Words without thoughts never to heaven go" - William Shakespeare.

Kamis, 08 April 2010

Aung San Suu Kyi = Lilin Yang Tak Pernah Padam

pic taken from here

"It is not power that corrupts but fear. Fear of losing power corrupts those who wield it and fear of the scourge of power corrups those who are subject to it."

Kalimat di atas adalah penggalan pidato Aung San Suu Kyi yang paling terkenal berjudul "Freedom From Fear 0 Bebas dari Ketakutan." Dari isi pidato itu jelas terlihat pandangan Suu Kyi betapa kerap kali ambisi terhadap kekuasaan seringkali menimbulkan ketakutan baik bagi orang yang memiliki kekuasaan itu sendiri yang takut kehilangan akan kekuasaannya yang pada akhirnya demi menmpertahankan kekuasaannya itu menciptakan ketakutan bagi orang lain (baca=rakyat).

Sebagai seorang yang telah menjalani lebih dari dua puluh tahun terakhir hidupnya ini sebagai tahanan rumah yang bahkan masih berlangsung hingga kini, Suu Kyi pastinya tahu apa artinya kekuasaan dan ketakutan yang diciptakan oleh kekuasaan itu sendiri. Demi mengatasi ketakutan terhadap kekuatan Suu Kyi, pemerintah junta militer telah menisbiskan hak berpolitik dan bahkan memberlakukan penahanan tanpa bukti hukum yang jelas terhadap perempuan pejuang hak demokrasi bagi rakyat Myanmar ini. Namun Suu Kyi sepertinya tak pernah gentar dengan kekuatan junta militer yang mencoba menekannya dan semua itu dilakukan Suu Kyi demi kecintaannya terhadap rakyatnya agar dapat merasakan kemerdekaan sejati di atas negaranya sendiri.

Seperti Benazir Bhutto, Suu Kyi juga terlahir dari keluarga dengan garis politik yang sangat kuat namun Suu Kyi meskipun memilih ilmu politik dalam pilihan studinya tak pernah terjun dalam politik praktis hingga saat ia kembali ke Myanmar untuk merawat ibunya yang sakit keras pada 1988. Saat itu tepatnya pada tanggal 8 Agustus 1988 terjadi pergerakan massa besar-besaran yang dipimpin oleh Jenderal Ne Win, pemimpin partai Sosialis yang menuntut penegakkan demokrasi di Myanmar. Gerakan demonstrasi tersebut berujung pada aksi kekerasan yang dilakukan oleh penguasa Myanmar.

Aksi demonstrasi itu sendiri kemudian menyadarkan Suu Kyi betapa selama ini rekan-rekan setanah airnya masih belum merasakan kebebasan berdemokrasi. Hal itu pulalah yang kemudian memicu Suu Kyi melakukan pengerahan massa di depan Pagoda Shwedagon pada 26 Agustus 1988 menuntut ditegakkannya pemerintahan demokratis di negaranya tersebut. Pada tahun itu pula Aung San Suu Kyi benar-benar terjun ke dunia politik dengan membangun partai politik bernama National League for Democracy (NLD) pada 27 September 1988.

Pada 1990 jalan bagi rakyat Myanmar untuk merasakan kebebasan berdemokrasi akhirnya hampir saja terwujud ketika pemerintahan junta militer mengadakan pemilihan umum. Suu Kyi dengan partainya, NLD pun ikut serta dalam pesta demokrasi tersebut dan berhasil memenangi pemilu dengan hasil mutlak tapi junta militer menganulir hasil pemilu tersebut. Dan alih-alih Suu Kyi menduduki kursi Perdana Menteri sesuai dengan hasil pemilu, Suu Kyi malah ditahan oleh pemerintah militer Myanmar.

Kekerasan dalam dunia politik sepertinya sudah menjadi garis hidup bagi keluarga Suu Kyi. Saat Suu Kyi berumur dua tahun yaitu pada 1947, ayahnya tewas dibunuh oleh musuhnya. Padahal di tahun itu, ayah Suu Kyi yang juga merupakan pendiri angkatan bersenjata Myanmar telah ikut berperan dalam negosiasi untuk meraih kemerdekaan Myanmar dari Inggris. Setelah kematian ayahnya, seorang diri ibu Suu Kyi merawat Suu Kyi beserta kedua kakak laki-lakinya, Aung San Lin dan Aung San Oo di Rangoon. Namun Aung San Lin, kakak laki-laki Suu Kyi yang paling dekat dengannya meninggal karena tenggelam saat berumur delapan tahun. Setelah kematian Aung San Lin, maka ibu Suu Kyi pun membawa kedua anaknya yang tersisa pindah ke Inya Lake. Di tempat inilah Suu Kyi bertemu orang-orang dengan berbagai macam latar belakang, pandangan politik, dan agama yang berbeda yang pastinya kelak mempengaruhi perjuangan Suu Kyi dalam menegakkan demokrasi di negaranya tersebut. Belakangan kakak Suu Kyi, Aung San Oo memilih untuk pindah ke San Diego, California dan menjadi warga negara Amerika Serikat.

Aung San Suu Kyi lahir pada 19 Juni 1945 di Rangoon. Nama Aung San Suu Kyi sendiri sebenarnya merupakan gabungan tiga nama dari ayah, ibu, dan neneknya. Aung San merupakan nama yang diambil dari nama ayahnya, Jenderal Aung San sementara Suu adalah nama neneknya, dan Kyi berasal dari nama ibunya, Khin Kyi yang juga merupakan tokoh politik terkemuka di Myanmar. Oleh para pengikut dan orang-orang yang mengaguminya, Suu Kyi juga kerap dipanggil Daw yang dalam bahasa Myanmar artinya bibi.

Saat Daw Khin Kyi, ibu Suu Kyi ditunjuk menjadi duta besar Myanmar untuk India dan Nepal pada 1960 maka Suu KYi pun mengikuti ibunya. Suu Kyi berhasil meraih gelarnya di bidang politik dari Lady Shri Ram College di New Delhi, India pada 1964. Suu Kyi kemudian melanjutkan pendidikannya di St Hugh's College, Oxford, tempat di mana Suu Kyi mendapatkan gelar sarjananya dalam bidang ilmu Filsafat, Politik, dan Ekonomi pada 1969.

Setelah lulus dari St Hugh's College, Suu Kyi pergi ke New York. Di sana ia tinggal bersama seorang sahabat keluarga dan ia sempat bekerja di PBB selama tiga tahun ketika ia tinggal di salah satu kota tersibuk di dunia itu. Saat itu Suu Kyi sudah sering saling berkirim surat dengan Dr. Michael Aris, seorang ilmuwan kebudayaan Tibet yang kemudian menikahi Suu Kyi pada 1972.

Setahun setelah pernikahan mereka, Suu Kyi melahirkan anak pertama mereka, Alexander Aris di London. Putra kedua mereka, Kim, lahir pada 1977.

Di samping menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dua orang anak, ternyata rasa haus Suu Kyi akan ilmu pengetahuan kembali membuatnya melanjutkan kuliahnya. Kali ini Suu Kyi memilih untuk mendalami pengetahuannya mengenai Asia dan Afrika di Universitas London. Pada 1985, Suu Kyi mendapatkan gelar doktor dari Universitas of  London.

Setelah Suu Kyi dikenai tahanan rumah oleh pemerintah militer Myanmar, awalnya Dr. Michael Aris masih bisa mengunjungi istrinya di Myanmar tapi setelah kunjungan Aris yang terakhir pada Natal 1995, pemerintah Myanmar membuat keputusan untuk menahan visa Aris sehingga ia tak bisa datang mengunjungi istrinya dan menganjurkan Suu Kyi yang pergi meninggalkan negaranya untuk bertemu dengan suami dan anak-anaknya. Tapi Suu Kyi tak berani meninggalkan Myanmar karena takut bila ia pergi meninggalkan negaranya itu maka ia takkan pernah bisa kembali ke tanah airnya tersebut sehingga mengakhiri perjuangannya bagi menegakkan demokrasi di negaranya itu.

Atas pertimbangan itu pula, Suu Kyi tak bisa mendampingi suaminya, Dr. Michael Aris ketika suaminya didiagnosa menderita kanker prostat hingga akhirnya suaminya meninggal pada 27 Maret 1999. Bahkan ketika Suu Kyi mendapatkan hadiah Nobel pada 1991 pun Suu Kyi tak bisa datang menghadiri acara penganugrahan tersebut sehingga ia diwakili oleh dua orang putranya. Uang dari hadiah Nobel sebesar 1,3 juta Dollar tersebut digunakan oleh Suu Kyi untuk memperbaiki tingkat kesehatan dan pendidikan bagi rakyat Myanmar.

Meski Suu Kyi selalu menerima perlakuan tak adil dari pemerintah militer Myanmar, namun ia selalu mengedepankan gaya perjuangan yang menentang kekerasan, mengadopsi filosofi Mahatma Gandhi dan tokoh-tokoh spiritual Buddha. Hal itu pulalah yang membuat Suu Kyi mendapatkan simpati luas dari seluruh penjuru dunia dan menganugerahinya dengan berbagai penghargaan. Namun hal ini kiranya tak mengendurkan sikap keras pemerintah militer Myanmar.

Pada 6 Mei 2002 berkat negosiasi yang dilakukan oleh PBB, pemerintah militer Myanmar sempat mengeluarkan pernyataan kebebasan bagi Suu Kyi. Juru bicara pemerintah Myanmar menyatakan bahwa hal itu dilakukan karena pemerintah militer Myanmar dan Suu Kyi yakin bahwa mereka bisa saling mempercayai satu sama lain tapi nyatanya pada 30 Mei 2003 pemerintah Myanmar melakukan penyerangan terhadap kelompok Suu Kyi di sebuah kampung kecil di sebelah utara Depayin yang menyebabkan banyak dari pendukung Suu Kyi terluka bahkan tewas terbunuh sementara Suu Kyi sendiri dilarikan oleh supirnya, Ko Kyaw Soe Lin tapi mereka akhirnya tertangkap di dekat Ye-U. Suu Kyi pun kemudian lagi-lagi dimasukkan ke dalam tahanan di penjara Insein di Rangoon.

Berkali-kali pemerintahan junta militer Myanmar di bawah tekanan dunia internasional bersikap seolah mereka telah memberikan kebebasan bagi Suu Kyi tapi nyatanya Suu Kyi tak pernah benar-benar bebas. Pada 3 Juli 2009 Sekjen PBB, Ban Ki Moon tiba di Myanmar untuk mengusahakan pembebasan terhadap Suu Kyi dan menekan junta militer agar menegakkan demokrasi di negara tersebut. Tapi setelah kembali dari Myanmar, Ban Ki Moon menyatakan kekecewaannya atas sikap pemimpin junta militer, Than Shwe yang tidak mengijinkannya menemui Suu Kyi.

Suu Kyi kembali menjadi pemberitaan media dunia ketika junta militer Myanmar lagi-lagi menahannya pada 13 Mei 2009 karena dianggap telah menyusupkan seorang pria asing di rumahnya. Pria berkewarganegaraan Amerika itu yang belakangan diketahui bernama John Yettaw sebenarnya ditampung oleh Suu Kyi di rumahnya demi rasa kemanusiaan karena pria itu telah berenang menyusuri Danau Inya. Meski pria itu memang berenang menuju rumahnya tapi Suu Kyi menyatakan bahwa ia sama sekali tak mengenal pria tersebut. Yettaw sendiri mengatakan alasannya berenang mengarungi Danau Inya menuju rumah Suu Kyi adalah untuk memperingatkan pejuang demokrasi Myanmar tersebut akan bahaya yang mengancam hidupnya.
Yettaw ditangkap oleh pemerintah Myanmar ketika kembali dari rumah Suu Kyi dengan cara yang sama seperti yang ditempuhnya untuk menemui Suu Kyi yaitu dengan berenang.

Akibat kedatangan Yettaw yang tak diundang tersebut, Suu Kyi terpaksa merayakan ulang tahunnya yang ke-64 di dalam tahanan.

Perjuangan Suu Kyi dalam meraih kemerdekaan berdemokrasi di negaranya sepertinya masih harus menempuh perjalanan yang panjang dan berliku. Terlebih belum lama ini muncul berita bahwa pemerintah junta militer Myanmar kembali melakukan manuver politik yang akan menisbikan hak berpolitik Suu Kyi dalam pemilu yang rencananya akan kembali digelar oleh pemerintah Myanmar namun waktu pelaksaan pemilu itu sendiri belum ditetapkan. Pemilu yang akan dilaksanakan ini merupakan pemilu pertama sejak pemilu pada tahun 1990 yang secara mutlak dimenangkan oleh Suu Kyi dan partainya NLD (Liga Pembebasan Nasional bagi Demokrasi).

Namun sekeras apapun tekanan junta militer terhadap Suu Kyi rupanya tak pernah mampu memadamkan api yang berkobar dalam dada Suu Kyi yang memilih takkan pernah menyerah untuk memperjuangkan kemerdekaan sejati bagi rakyatnya. Suu Kyi benar-benar merupakan wanita luar biasa yang meski seperti lilin yang nyalanya tak sebenderang mentari tapi ia adalah lilin yang tak pernah padam.