Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 21 Agustus 2010

Sejarah Michael di Spa Franchorchamps


Lupakan Hungaria yang telah lalu. Lupakan insiden antara Michael dan Rubens di Hungaroring. Lupakan juga grid penalti yang telah ditetapkan oleh steward di Hungaria pada Michael. Semua itu sudah menjadi kenangan, bagian masa lalu, pembelajaran atau apapun sebutannya yang akan mengiringi perjalanan hidup seorang Michael Schumacher, juara dunia F1 tujuh kali. 

Next stop adalah Spa Franchorchamps, Belgia. Sirkuit ini memiliki banyak kenangan bagi Michael Schumacher. Ia adalah pebalap tersukses di sirkuit ini selain Jim Clark. Di sirkuit ini semuanya berawal dan di sirkuit ini telah banyak kenangan manis yang telah diukir Michael. Grid penalti yang harus dijalani Michael minggu depan di sirkuit favoritnya ini tentu saja akan makin menambah beban beratnya yang terus saja mendapat hujatan akibat performannya di musim pertama masa kembalinya ia di F1. 

Lupakan penampilan buruk Michael selama musim ini. Waktu istirahat tiga minggu semoga berhasil memberikan waktu bagi Mercedes guna melakukan pengembangan yang diharapkan bisa sesuai bagi sang juara dunia tujuh kali ini agar ia bisa kembali memperlihatkan performanya dan membungkam semua ucapan miring dan negatif yang ditujukan padanya. Terlebih sang juara dunia ini telah menemukan apa yang telah menciptakan disharmoni antara dirinya dengan mobilnya yang telah membuat penampilannya jadi begitu buruk." Semoga saja hal itu bisa segera disikapi dan diakomodasi oleh tim untuk melakukan perbaikan dan pengembangan guna menciptakan mobil juara bagi sang juara.

Spa Franchorchamps sendiri diakui oleh Michael sebagai sirkuit favoritnya.
"Spa has always been my favourite race track and so for that reason alone, I am really looking forward to going back and racing there," he said. "It has been ages since I have last been there," begitu Michael, seperti yang kukutip dari Autosport .

Semuanya memang berawal dari sirkuit ini. Di Spa inilah publik F1 untuk pertama kalinya melihat sinar bintang baru F1 bernama Michael Schumacher. Dari sinilah semua sejarah itu bermula dan terus berlangsung hingga sekarang. Spa telah memberikan banyak kenangan manis bagi Michael Schumacher. Kemenangan pertamanya direbut di tempat ini, tempat dimana ia memulai debutnya. Dan di sirkuit ini pula ia meraih gelar dunia keenamnya.

Banyak sudah kenangan manis yang dirasakan Michael di sirkuit ini. Namun begitu Michael juga pernah mengalami pahitnya didiskualifikasi di sirkuit ini padahal saat itu ia telah tampil cemerlang. Di sirkuit ini pula ia pernah mengalami masa balapan tersingkat dalam karirnya pada tahun 2003 ketika balapannya harus berakhir akibat disundul oleh seorang pebalap muda asal Jepang.

Berikut adalah masa-masa di mana Spa pernah memalingkan wajahnya terhadap pebalap kesayangannya ini:
  • Spa, Belgia 1994. Michael start dari grid ke-2 dan berhasil menjuarai balapan tapi sayangnya ia didiskualifikasi karena penggunaan peranti ilegal pada skidblock di mobilnya. Dan ini mestinya bukanlah kesalahan yang harus ditimpakan pada Michael. 
  • GP Belgia 1998. Kali ini Michael memulai balapannya dari grid ke-4. Seperti biasanya penampilan Michael di sirkuit favoritnya ini pun bisa dibilang mengesankan. Ia berhasil memimpin balapan tapi tabrakan yang terjadi antara dirinya dengan Hakkinen akhirnya mengandaskan mimpinya untuk kembali mengukir sejarah manis di sirkuit yang paling menantang skill para pebalap ini. Kemenangan akhirnya direbut oleh seterunya, Damon Hill sementara adik kandungnya, Ralf Schumacher berhasil meraih podium kedua.
  • Belgia 2000. Michael sebenarnya sudah tampil cemerlang. Ia start dari P4 dan berduel dengan Hakkinen untuk meraih tampuk kepemimpinan lomba tapi di sirkuit keberuntangannya ini, ternyata Michael harus menyerah kalah dan mengakui keunggulan Mika saat The Flying Finn itu berhasil memenangkan duel di Les Combes. Michael pun harsu puas berada di podium kedua di belakang Hakkinen sementara adik Michael mendampinginya di podium ketiga.
  • Spa 2005. Salah satu musim tersulit bagi Michael. Ferrari dan Bridgestone benar-benar kalah saing dengan tim-tim pengguna Michellin, pabrikan ban pesaing Bridgestone. Ferrari sebagai satu-satunya tim besar pengguna Bridgestone rupanya tak berhasil mendapatkan hak istimewa itu karena pasokan Bridgestone ternyata tak berhasil menciptakan harmoni bagi paket F2005. Setelah kejadian memalukan di Indianapolis di mana tim-tim pengguna Michellin memboikot lomba dan akhirnya Michael dan Ferrari berhasil tampil "gemilang" lagi, Michael berharap bisa meraih penampilan terbaiknya kembali di Spa terlebih saat itu hujan tengah mengguyur Spa, kondisi yang biasanya amat mendukung performa Michael dan Bridgestone. Namun apa mau dikata, balapan baru saja berlangsung beberapa lap ketika Michael yang memulai balapan dari grid ke-6 tiba-tiba diseruduk oleh BAR-nya Sato. Tentu saja hasil itu membuat Michael kecewa dan geram pada pebalap Jepang ini tapi apa mau dikata, balapannya harus berakhir dan itulah yang benar-benar terjadi.
Itulah masa-masa ketika Michael tak mengalami disharmoni dengan Spa Franchorchamps. Tapi berikut ini adalah catatan sejarah dimana Michael dan Spa seperti satu kesatuan yang sulit dipisahkan. 
  • Spa, Belgia 1991. Di sinilah sejarah itu bermula. Michael dan Spa Franchorchamps. Balapan Michael memang harus berakhir tanpa hasil. Ia harus retire saat balapan baru saja dimulai, tapi di sinilah bakat besar Michael menjadi perbincangan. Di kualifikasi ia berhasil mengalahkan rekan setimnya yang jauh lebih senior dan berpengalaman . Padahal Michael mengaku tak mengenal sama sekali sirkuit ini. Pengenalannya dengan Spa dilakukan di atas sepeda sewaan. Dengan sepeda sewaan, Michael mengeliling trek, mengenal setiap kontur dan tikungan, membayangkan dirinya tengah berada di atas mobil balap F1, melibas setiap tikungan layaknya seorang juara dunia. Usahanya itu ternyata tak sia-sia. Pada penampilan perdananya itu ia tampil mengesankan saat kualifikasi dan berhasil menyabet grid ke-7. Hal itu pula yang rupanya menarik minat Flavio Briatore, bos tim Benetton untuk menculiknya di balapan berikutnya. Balapannya sendiri akhirnya dimenangkan oleh Senna tapi itulah awal di mana Senna harus mulai mewaspadai kehadiran bintang baru bernama Michael Schumacher yang kelak berhasil mencatatkan dirinya menjadi sejarah F1 sejajar dengan bintang asal Brazil ini.
  • Spa 1992. Setelah balapan pertamanya dengan Jordan berhasil memukau dunia. Di pertemuan kedua Michael dengan Spa Franchorchamps, Michael kembali mencatat sejarah baru bagi perjalanan karirnya. Ia akhirnya berhasil meraih kemenangan pertamanya di sirkuit tempat ia memulai debutnya ini. Kemenangan pertamanya dari rentetan kemenangan berikut yang akan mengiringi di sepanjang karirnya.
  • Spa 1993. Kali ini Michael memang hanya mampu finish di urutan kedua di belakang Hill tapi usahanya dalam meraih podium kedua itu sangat luar biasa bagi seorang bintang muda seperti dirinya. Untuk mencapai podium kedua itu, Michael harus bertempur melawan bintang-bintang F1 yang jauh lebih berpengalaman darinya. Dua juara dunia ditaklukkannya. Senna dan Prost. Hasilnya dari grid ketiga Michael sukses melaju menuju podium kedua.
  • Spa 1995 merupakan salah satu penampilan brilian seorang Michael Schumacher. Dari grid ke-16 ia berhasil melaju hingga meraih podium tertinggi. Sayangnya kebrilianan Michael ini harus ternoda oleh aksi kerasnya yang dinilai memblok Hill. Sepanjang karir balapnya sendiri, persaingan antara Hill dan Schumi memang amat panas dan tentu saja kisah persaingan mereka yang sengit selalu saja menarik. Bukankah semangat kompetitif yang telah ditampilkan oleh Schumi dan Damon itulah yang telah membuat F1 menjadi segar dan menarik?
  • Spa 1996 kembali menjadi bukti kepiawaian Michael. Ia memulai balapannya dari grid ke-3 dan behraisl menyalip Jacques Villeneuve dari Williams yang berhasil meraih pole di Eau Rouge saat balapan tinggal menyisakan dua belas lap lagi. Salah satu kemenangan terbaik Michael.
  • Spa, Belgia 1997, The Amazing Michael Schumacher kembali tampil perkasa di sirkuit keberuntugannya ini. Saat itu sepertinya takdir memang telah berpihak pada Michael Schumacher. Ia start dari grid ke-3 sementara Villeneuve kembali meraih pole tapi berkat hujan yang turun, Michael "The Rain Master" kembali memperlihatkan kepiawaiannya di atas trek basah. Hill dan Villenueve pun terpaksa harus mengakui keunggulan Michael di sirkuit favoritnya ini di atas trek basah, kondisi yang juga merupakan kondisi favoritnya. 
  • Spa 2002, salah satu musim terbaik Michael Schumacher. Setelah sukses merajai sesi kualifikasi, Michael kembali tampil perkasa di race. Kemenangannya di Spa itu pun menjadi catatan rekor baru bagi Michael dan F1 karena kemenangannya itu ternyata juga menjadi kemenangan kesepuluhnya dalam semusim memecahkan rekor sembilan kali menang dalam satu musim yang ditorehkan Nigel Mansel bersama Williams.
  • Spa, Belgia 2004. Kali ini Michael memang tak berhasil merajai Spa seperti sebelumnya. Di sesi kualifikasi ia hanya mampu mencatat waktu tercepat kedua. Dan di race pun ia tak berhasil merebut posisi pertama dari tangan Kimi seihngga ia harus finish di urutan kedua di belakang pebalap Finlandia itu. Namun hasil itu sudah cukup baginya untuk mengunci gelar juara dunianya yang keenam di sirkuit keberuntungannya ini.
 Jika dibilang Belgia merupakan sirkuit keberuntungan Michael sepertinya memang tak salah mengingat banyaknya hasil spektakuler yang berhasil dicatat Michael di sirkuit ini. Aku sendiri sampai sekarang masih berpendapat seandainya saja Belgia masuk ke dalam kalender balap 2006, kurasa bukannya tak mungkin pencapaian Michael di tahun itu bisa jauh lebih baik dan kurasa pula bukannya tak mungkin bila Michael berhasil merebut gelar dunia kedelapannya pada musim itu, seandainya saja Belgia masuk dalam kalender balap musim 2006 itu. Tapi siapa yang tahu juga? Semua itu memang merupakan rahasia langit yang takkan pernah tersibak karena semua itu tak pernah terjadi.

Minggu depan, Spa kembali mengisi kalender balap F1. Dengan berbagai catatan manis yang berhasil ditorehkan Michael di atas sirkuit ini, semoga saja Spa Franchorchamps bisa mengembalikan Michael ke puncak masa keemasannya. Terlebih di saat Michael tengah terpuruk di sepanjang musim ini, Spa memberikan harapan yang amat besar bagi Michael dan juga jutaan penggemarnya yang rindu melihat jagoannya ini kembali tampil perkasa merajai jagat Formula One. Dan Spa Franchorchamps merupakan tempat bersejarah yang memiliki nilai historis yang amat tinggi bagi seorang Michael Schumacher. Karenanya tak berlebihan bila semua penggemar Michael berharap bisa melihat kembali kialu bintang bernama Michael Schumacher itu kembali bercahaya di atas sirkuit yang telah menampilkan kilauan cahayanya untuk pertama kalinya pada sembilan belas tahun yang lalu itu.


Sumber gambar : telegraph.co.uk


New Hope for Button

 Jenson are going to be number one again
Buruknya penampilan McLaren pada beberapa balapan dan puncaknya di GP Hungaria dua minggu yang lalu, rupanya membuat tim Silver Arrows itu segera berbenah diri. Waktu jeda tiga minggu sejak GP Hungaria hingga GP Belgia minggu depan pun segera dimanfaatkan sebaiknya oleh tim besar asal Inggris ini. Pengembangan yang dilakukan McLaren pun tentu saja menggembirakan bagi kedua pebalapnya khususnya Jenson Button, juara dunia tahun lalu yang baru mengoleksi dua kali kemenangan pada musim ini yakni di GP Australia dan China.

Perubahan dan perbaikan yang dilakukan timnya rupanya telah menerbitkan harapan baru bagi Button dalam menghadapi GP Belgia yang akan berlangsung minggu depan. Optimisme itu disampaikan Button pada Jum'at kemarin. (Beritanya disadur dari sini). Ia mengakui bahwa penampilan timnya pada di Hungaria, dua minggu lalu memang tidak mengesankan, namun hal itu menjadi cambuk bagi seluruh personil di timnya untuk berbenah dan kembali tampil menggebrak dengan kekuatan yang sepantasnya dimiliki oleh tim sebesar McLaren. Ia menjanjikan bahwa kekuatan mereka untuk kembali tampil di garis terdepan secepatnya.

Optimisme Button itu pun didukung oleh Martin Whitmarsh, bos tim McLaren yang mengakui betapa mengecewakannya hasil yang diperoleh di Hungaria sehingga mereka pun terpacu untuk bekerja lebih keras lagi, melakukan pengembangan agar bisa memiliki kekuatan yang sempat mereka perlihatkan di awal musim. Terlebih lewat pengembangan yang dilakukan belakangan ini, tim telah berhasil melakukan pengembangan dalam masalah downforce.
Withmarsh juga menegaskan bahwa timnya telah mendapatkan banyak data yang berharga sebagai bahan evaluasi selama sesi latihan di Hungaria untuk pengembangan sebagai persiapan dalam menghadapi kompetisi berikutnya di Spa, Belgia.

McLaren juga telah bekerja keras selama musim panas dalam memperbaiki wind tunnel mereka guna membantu pengembangan mobil agar dapat bersinergi dengan penampilan mobil-mobil mereka saat di sirkuit.
Withmarsh sendiri meyakini akan memetik hasil yang lebih baik di Spa dibanding seperti pencapaian mereka di Hungaria terlebih menurutnya sirkuit Spa dan Monza lebih sesuai dengan kinerja mobil mereka dibandingkan Hungaroring.

Ya, semoga saja McLaren benar-benar bisa kembali meraih penampilan terbaiknya dan kembali memberikan perlawanan menghadapi kekuatan Red Bull dan Ferrari yang telah mulai bangkit. Dan tentu saja, harapan ini semoga bukan menjadi harapan kosong bagi Jenson Button, sang juara dunia bertahan.

sumber gambar dari: guardian.co.uk

Sabtu, 07 Agustus 2010

Good Time, Bad Time - Track Record Michael di GP Hungaria

Keapesan yang harus diterima Michael di GP Hungaria kemarin sebenarnya bukanlah yang pertama dalam karir balapnya yang cemerlang. Hungaroring sepertinya memang bukanlah salah satu sirkuit keberuntungan Michael Schumacher meski pada tahun 2001 ia berhasil merebut gelar dunia ke-4 nya di sirkuit ini tapi di sirkuit ini pula ia pernah dipermalukan oleh calon penantangnya, Fernando Alonso yang sukses meraih kemenangan pada 2003 sementara Michael yang keteteran dengan Ferrari GA2003 di P8 terpaksa merelakan diri untuk dioverlap satu kali oleh pebalap Spanyol itu.

Berikut adalah catatan mengenai masa-masa manis dan pahit Schumi di Hungaroring sepanjang karirnya di F1. 



Bad moments:
  • GP Hungaria 1992. Tahun debut Michael di F1. Setelah tampil gemilang bersama Jordan di Belgia, tim Benetton langsung menculik pebalap Jerman ini sehingga setelah tampil memukau di GP perdananya bersama Jordan, Michael pun langsung mengganti seragamnya dari Jordan ke Benetton pada balapan berikutnya. Namun sejak awal, GP Hungaria tak terlalu bersikap manis pada pebalap kelahiran  3 Januari 1969 ini. Di tahun debutnya ini ia memulai start di P4 tapi ia gagal menyelesaikan lomba setelah bertabrakan dengan Brundle yang mengakibatkan sayapnya hancur berantakan seberantakan balapannya saat itu.
  • Hungaria 1993, Michael memulai start di P3 tapi lagi-lagi ia gagal menyelesaikan lomba akibat masalah engine. Bahkan ia sempat spin dua kali sebelum mengakhiri balapannya di lap 26. Sementara Damon Hill, pesaing Michael berpesta di podium pertama yang diikuti oleh Patrese dan Berger yang masing-masing mengisi podium kedua dan ketiga.  
  • Di Hungaria 1995 masalah fuel pump menghempaskan impian Michael meraih hasil yang lebih baik setelah pada sesi kualifikasi ia hanya mampu mencatatkan waktu tercepat ketiga. Peluang Michael untuk menjuarai GP Hungaria 1995 sebenarnya cukup besar meski tak ada yang tahu bila ia tak mengalami masalah dengan fuel pump-nya yang membuat balapannya berakhir di lap 73, apakah ia akan bisa mengalahkan Damon Hill yang akhirnya kembali sukses finish di urutan pertama. Yang jelas kejadian itu kembali menambah kenangan buruk Michael di GP Hungaria.
  • Balapan Michael di Hungaria 1996 bisa saja menjadi salah satu kenangan manis untuknya kalau saja ia tak mengalami gangguan pada TCU (Throttle Control Unit) yang membuatnya harus retire di lap 70. Ia sendiri sebenarnya berhasil meraih pole saat kualifikasi tapi akibat masalah gas itu, posisinya jadi melorot, podium pun gagal diraihnya.
  • Di Hungaria 1997 kembali Michael meraih pole di sirkuit Hungaroring ini tapi strategi 3 stopnya ternyata tak berjalan sebaik yang diharapkannya sehingga ia pun harus puas dengan finish di tempat keempat di belakang Villeneuve, Hill, dan Herbert.
  • Hungaria 2000 merupakan duel klasik antara Michael dengan seteru abadinya, Mika Hakkinen. Michael sendiri sukses merebut pole tapi sayangnya saat lomba ia kalah duel dengan Mika sehingga hanya mampu meraih P2 di belakang Mika.
  • Pada GP Hungaria 2002 Michael menjalankan perannya sebagai pelindung rekan setimnya dengan baik. Ia hanya sukses meraih P2 di sesi kualifikasi dan ia tetap mempertahankan posisiny itu sambil terus melindungi Rubens dari gempuran lawan mereka dan Michael sukses menjalankan perannya sebagai pelindung Rubens yang kemudian sukses menjuarai balapan sementara Michael cukup bahagia dengan finish kedua di belakang Rubens.
  • Hungaria 2003. Ya, di sinilah Michael dipermalukan untuk pertama kalinya oleh seorang pebalap muda asal Spanyol, Fernando Alonso. Balapannya saat itu tak berjalan baik. Ia harus memulai start dari grid 8 dan sepanjang balapan keteteran menjaga posisinya agar tetap di P8 untuk menjaga kesempatannya tetap meraih poin. Dan akhirnya Michael pun harus rela dioverlap Alonso satu kali setelah stewart mengibaskan bendera biru yang menandakan Michael harus memberi jalan pada pemimpin lomba yaitu Alonso. Kejadian itu tentu saja membuat media bersorak kegirangan melihat seorang Michael Schumacher tak berdaya menghadapi pemuda Spanyol itu dan terpaksa harus menekan egonya untuk memberikan jalan pada Alonso yang saat itu merajai Hungaroring. Michael pun akhirnya cukup bersyukur dengan finish di P8 dan meraih satu poin yang tersisa.
  • Di GP Hungaria 2005 Michael kembali sukses merebut pole. Ia sempat memimpin balapan dan menahan Kimi sayangnya usai pit keduanya ia harus kehilangan posisinya dan hanya bisa puas dengan meraih podium kedua di belakang pebalap Finlandia itu sementara adik kandungnya, Ralf Schumacher membuntutinya di P3.  
Good moments:
  • Hungaria 1994, Michael sukses meraih pole dan mempertahankan posisinya hingga akhir race dan bahkan ia berhasil memperlihatkan manuver hebatnya mengatasi traffice untuk merebut kemenangan.
  • Di Hungaria 1998 Michael hanya mampu meraih P3 saat sesi kualifikasi tapi berkat strategi tiga pitnya yang brilian dan didukung performa yang maksimal akhirnya Michael berhasil menjuarai balapan dan mempecundangi Mika dan Coulthard yang pada start mengisi front row. DC akhirnya harus puas finish kedua di belakang Michael sementara Mika hanya mampu finish di P8 dengan selisih satu lap dari Michael Schumacher.
  • Hungaria 2001. Lagi-lagi Michael hanya sukses meraih urutan tercepat ketiga di sesi kualifikasi tapi berkat performa Ferrari ditambah skill balap Michael, ia pun sukses meraih kemenangan yang diikuti oleh rekan setimnya di belakangnya. Keperkasaan Ferrari yang berhasil finish 1-2 makin manis dengan keberhasilan Michael mempertahankan gelar dunia keempatnya di sirkuit yang letaknya tak terlalu jauh dari sungai Danube ini.
  • Hungaria 2004 memperlihatkan keperkasaan Michael dan Ferrari. Memulai balapan dari pole, Michael sukses menjaga posisinya sebagai pemimpin balapan hingga akhir race. Kemenangan ke-12 nya dari 13 balapan pada musim itu. Satu-satunya yang lepas dari sepanjang 13 balapan musim itu adalah kegagalannya di GP Monaco di mana ia ditabrak oleh Juan Pablo Montoya saat berparade dalam kawalan Safety Car di terowongan Monte Carlo. Akhirnya Jarno Trulli tampil meraih kemenangan tunggalnya di sepanjang karirnya di F1.
  • Di Hungaria 2006 Michael memang tak sukses meraih kemenangan tapi aksinya yang luar biasa dalam mengatasi segala aral melintang yang harus dihadapinya sepanjang lomba hari itu hingga akhirnya ia hanya mampu meraih P8 tetap membuat kejadian ini sebagai salah satu kenangan manis sekaligus getir untuknya di Hungaria. GP Hungaria 2006 itu sendiri merupakan balapan terpanas musim itu. Michael dan Alonso yang saling bersaing dalam perebutan gelar dunia sama-sama terkena grid penalty. Posisi yang diambil Alonso di kualifikasi jauh lebih baik dari Michael Schumacher yang terpaksa memulai balapannya dari grid ke-11. Harapan Michael untuk merebut posisi kepemimpinan klasemen dari Alonso terbuka ketika pada lap 51 Alonso terpaksa retire akibat masalah mur rodanya yang tak terpasang sempurna saat pit. Namun sayangnya, Michael gagal memanfaatkan peluang itu karena ia tengah keteteran mengatasi mobilnya. Ia pun terpaksa harus puas dengan finish di P8 dan meraup satu poin. Akhirnya yang berhasil tampil sebagai juara di balapan Hungaria yang kacau balau itu adalah Jenson Button. Tapi aku sendiri tak tahu kejadiannya, karena begitu balapan Michael kacau balau dan ia sempat retire setelah bersinggungan dengan Giancarlo Fisichella menjelang akhir-akhir race, tapi untungnya catatan waktu Michael cukup untuk membuatnya tercatat finish di P8. Tapi aku keburu mengira balapan Michael telah berakhir sehingga aku sudah mematikan tv-ku. Aku baru tahu Jenson akhirnya berhasil merebut kemenangan pertamanya itu dari sahabatku yang mencoba menghiburku atas hasil buruk yang harus diterima Michael. Tapi sudah terlambat karena ketika kunyalakan tv kembali semua seremonial di podium telah berakhir. Dan ekspresi Jenson dalam meraih kemenangan pertamanya itu baru kulihat lewat surat kabar esok paginya. Moment paling aneh untukku. Di satu sisi aku kecewa karena kegagalan Michael memanfaatkan peluangnya untuk meraih posisi teratas di klasemen dari tangan Alonso dan membuka peluangnya untuk merebut kembali gelar dunianya yang dicuri Alonso pada tahun sebelumnya, tapi di satu sisi aku senang karena Button akhirnya berhasil meraih kemenangan pertamanya. Aku sendiri menempatkan moment ini sebagai salah satu kenangan yang manis untuk Michael di GP Hungaria karena meski ia gagal meraih kemenangan dan gagal merebut posisi Alonso sebagai pemimpin klasemen, tapi ia berhasil mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dari Alonso yang harus retire dan gagal meraih satu poin pun.

 sumber gambar dari : guardian.co.uk dan  carversation

Attonement Year...?

 
GP Hungaria kemarin sepertinya merupakan titik kulminasi bagiku untuk membenci F1. Semula aku menganggap F1 merupakan olahraga terbaik sedunia. Tak peduli bagaimana membosankannya F1 saat Michael pensiun, aku tetap menonton olahraga ini karena F1 bagiku merupakan sebuah olahraga super komplit yang memadukan antara teknologi, kemampuan (skill) individu seseorang, kerjasama tim dalam membangun sebuah mobil juara, dan yang paling utama memperlihatkan keberanian seseorang dalam melakukan aksi namun keberanian yang bukan tindakan sok berani tapi tolol. 

Sudah bukan rahasia dan aku takkan bermunafik ria bila aku mengakui diriku sebagai penggemar Michael Schumacher. Jadi sudah pasti aku gembira ketika Michael akhirnya kembali turun membalap membela tim yang dipimpin oleh Ross Brawn, sahabat sekaligus rekan seperjuangan Michael dalam memberikan Michael tujuh gelar dunia. Sebagai penggemar Michael tentu aku sedih dan kecewa melihat performa Michael dan Mercedes ternyata jauh dari apa yang kubayangkan. Michael dan Mercedes-nya bukan hanya kalah tanding melawan rival-rivalnya di tim lain, tapi ia terus menerus harus menanggung malu dilumat rekan setimnya, padahal selama ini Michael lah yang selalu berhasil menghancurkan rekan setimnya.

Seolah perasaan haru biruku melihat Michael harus terseok-seok di hampir sepanjang lomba musim ini masih belum cukup, stewart GP Hungaria masih pula menambah kesulitan Michael dengan mengganjar penalti 10 grid untuk Michael di GP Belgia nanti atas aksi Michael terhadap Rubens yang dinilai berbahaya. Hukuman yang super konyol!!!

Bukan rahasia umum jika di sepanjang masa keemasan Michael, banyak yang tak suka dengan keperkasaan Michael di masa lalu meski tak sedikit pula yang mengagumi bakat dan kepiawaiannya di atas sirkuit. Berbagai pihak selalu saja mengomentari tindakan-tindakan kotor yang dilakukan Michael di masa lalu, padahal apa yang mereka anggap tindakan kotor itu sepertinya juga kerap dilakukan oleh pebalap-pebalap besar lainnya, seperti Senna, namun mengapa yang justru paling dibenci justru Michael Schumacher?

Michael memang seorang ambisius yang takkan pernah mau bersikap ramah pada siapapun di atas trek. Lha, dia kan pebalap, untuk apa pula ia bersikap ramah pada lawannya di trek, dan kuyakin semua pebalap pastinya akan berusaha sekeras mungkin untuk menjaga posisinya dari lawannya. Siapapun dia. Entah Senna, Prost, Mansell, Rosberg, Piquet, Montoya, Raikkonen, Villeneuve, Hill junior dan senior, atau juga Hamilton.

Di sepanjang sejarah F1 pun bukan hanya Michael seorang yang merupakan pebalap ambisius dan kerap bertindak keras di atas sirkuit. Bahkan tak jarang pula Michael mengalami nasib apes saat ditabrak pebalap lainnya. Namun mengapa saat Michael ditabrak, media dan semua pembencinya malah bersorak tapi ketika Michael melakukan aksi yang keras terhadap pebalap lain, semua justru saling berlomba untuk mengomentari betapa kotor dan tak sportifnya juara dunia tujuh kali ini. Bahkan beberapa juara dunia pun ikut berkomentar miring seolah aksi mereka di atas trek sebersih kertas putih. 

Tahun ini Michael harus memulai debutnya kembali di F1 dengan cara yang pastinya takkan pernah diharapkannya. Mobilnya di luar dugaan ternyata tak mampu mengimbangi kemampuan balapnya. Dan keadaan Michael itu sudah otomatis menjadi kabar sukacita bagi semua kelompok ABS (Asal Bukan Schumi) yang muncul kala Michael di puncak kejayaannya bersama Ferrari. Ketika Michael dilibas bukan hanya oleh rekan setimnya yang jauh lebih muda tapi juga oleh pebalap muda tim-tim papan tengah lainnya, semua pihak pun berkomentar seolah juara dunia tujuh kali ini telah kehilangan kemampuan balapnya, padahal semua pihak yang mengenal F1 tentunya tahu bahwa seorang pebalap hebat sekalipun memerlukan mobil yang hebat yang bisa sesuai dengan gaya balapnya dan MGP W01 milik Michael sama sekali tak sesuai dengan gaya balap Michael sehingga juara dunia tujuh kali ini agak kesulitan dalam beradaptasi dengan tunggangannya ini. 

Belum cukup dengan kesulitan Michael mengatasi mobilnya yang tak sesuai dengan gayanya itu, ia terus menerus didera oleh regulasi-regulasi konyol tahun ini. Di GP Eropa akibat regulasi, Michael harus tertahan di pit sehingga ia harus kehilangan banyak waktu dan akhirnya harus puas finish di P15. Dan di GP Hungaria kemarin, Michael kembali harus menjadi korban dari regulasi tak jelas tahun ini. Aksi Michael dinilai membahayakan sehingga ia mendapat hukuman penalti 10 grid, padahal bila dirujuk lebih runut, banyak pebalap lain yang melakukan aksi yang jauh lebih berbahaya dari Michael.
 
Ingat bagaimana sengitnya Vettel dan Webber mencoba saling menjegal di GP Turki kemarin, tapi kenapa tak satupun dari mereka terkena hukuman? Apakah F1 tahun ini masih kurang membosankan dengan aturan larangan pengisian bahan bakar sehingga membuat F1 tahun ini agak miskin strategi pit seperti tahun-tahun sebelumnya, sampai-sampai muncul aturan bagi pebalap untuk melakukan overtaking secara halus dan tak boleh bersinggungan seperti yang terjadi pada Michael dan Rubens di GP Hungaria lalu? Super konyol!!!! Apa artinya F1 jaman sekarang harus seperti parade mobil balap yang membosankan seperti yang terjadi di GP Bahrain pada awal musim ini, di mana ke-24 pebalap tak ubahnya seperti kumpulan orang tolol yang hanya mengitari sirkuit sebanyak puluhan kali putaran lalu di akhir race?????

Tahun ini Michael memang tengah terpuruk tapi bukan berarti Michael telah kehilangan kemampuannya! Mengapa kita tak menunggu tahun depan saja di mana Michael pastinya telah berkontribusi pada tim untuk menciptakan mobil yang jauh lebih sesuai dengan gaya balapnya, pada saat itu rasanya barulah fair bila semua mengomentari Michael. 

Lucunya keterpurukan Michael tahun ini sepertinya menjadi justifikasi bagi siapapun untuk mengata-ngatai juara dunia tujuh kali ini. Tak terkecuali mantan rekan setimnya, Irvine yang merasa jauh lebih pintar dari Michael padahal semua juga tahu bagaimana dulu Michael melumat Irvine tanpa ampun. Atau sudah lupakah Irvine, bagaimana briliannya usaha Michael menghadang Mika Hakkinen, kompetitor Irvine dalam perebutan gelar dunia 1999 di Malaysia? Namun meski telah dibantu seorang Michael Schumacher toh Irvine akhirnya tetap saja tak mampu merebut gelar dunia dari tangan Mika Hakkinen. Jadi atas dasar apa ia bisa mengomentari Michael yang bahkan tak pernah bisa dikalahkannya itu????
 
Tahun ini memang merupakan tahun tersulit seorang Michael Schumacher, tapi kumohon jangan dulu coret Michael dari list tahun depan. Biarkan Michael kembali menampilkan performanya yang brilian itu tahun depan dengan regulasi yang jauh lebih waras dari tahun ini juga dengan tunggangan yang jauh lebih kompetitif di mana ia turun berperan dalam pengembangannya. Dan saat itu tiba, biarlah dunia kembali melihat seorang Michael Schumacher yang dulu. Michael Schumacher yang telah menghenyakan dunia dengan segala pencapaian dan berbagai rekor yang dipecahkannya. Dan saat itu pula dunia akan menyadari bahwa Michael Schumacher masih merupakan Michael Schumacher yang dulu. 
 
Tapi sebelum masa itu tiba, biarlah tahun ini Michael menjalani tahun ini tanpa ada intrik pembalasan dendam atau korban kebencian beberapa pihak yang memang tak menyukai sepak terjangnya di masa lalu. Toh manusia tak ada yang sempurna. Seorang Senna pun pernah melakukan tindakan tercela (aksi kotor, meminjam istilah kelompok yang selalu mendiskreditkan Michael) pada Prost dan Mansell dan bahkan hampir membuat Prost celaka. Tapi bukankah Senna justru dipuja oleh para penggemarnya sebagai pebalap terbaik sepanjang massa? Semua yang menyukai F1 pastinya tahu betapa sengitnya persaingan di atas trek dan bukanlah sesuatu yang baru bila seorang pebalap berusaha sekuat tenaga untuk menjaga posisinya, siapapun orangnya pasti takkan rela bila ia harus memberikan begitu saja posisinya pada lawannya.

Dan sampai tahun depan tiba, aku takkan berhenti berharap bila Michael kembali bersinar seperti dulu. Next year, I believe Michael will strikes back again!!!

 
sumber gambar dari: mercedesbenzblog

Tragedi Hungaroring

Tak banyak yang bisa dibicarakan dari GP Hungaria yang lalu, bagiku selain mengomentari penampilan Red bull yang makin tangguh meskipun tak berhasil finish 1-2 akibat penalti yang diterima Sebastian Vettel gara-gara birokrasi regulasi pit stop dan safety car yang keluar akibat serpihan sidepod entah dari mobil siapa, karena aku memang tak menonton balapan secara penuh, aku terkadang mengganti-ganti channel tv, mencari-cari acara lain yang jauh lebih menarik dibanding F1.

Ya, menyedihkan memang apa yang harus dialami Vettel. Dua kali ia berhasil menyabet posisi pole sitter tapi dua kali pula ia kecolongan. Pertama di GP Inggris, ia harus merelakan posisi terdepan miliknya pada rekan setimnya, Mark Webber; keteteran hampir sepanjang lomba gara-gara puncture, dan akhirnya terpaksa finish di P7. Lalu di GP Jerman, seminggu sebelum GP Hungaria, Vettel kembali meraih pole tapi lagi-lagi ia harus kehilangan posisinya akibat terlalu sibuk menanggapi Alonso tanpa menyadari tiba-tiba saja Felipe massa, rekan setim Alonso menyodok dan merebut posisinya, dan setelah sudah berjalan jauh, Massa harus memberikan posisinya kepada rekan setimnya atas perintah tim sementara Vettel harus puas finish di tempat ketiga di belakang duo Ferrari itu.

Lalu di GP Hungaria kemarin, kembali Vettel meraih pole. Ia sendiri sudah memberikan peringatan bahwa ia takkan mau lagi melakukan kebodohan dan membiarkan posisinya dicuri siapapun. Ia takkan lagi mau terprovokasi oleh tindakan kedua rivalnya, rekan setimnya sendiri dan Alonso. Ia berniat untuk melakukan startnya dengan mulus dan mempertahankan posisi terdepannya hingga akhir race. Tapi apa mau dikata, strategi pitnya yang muncul mendadak seiring dengan kehadiran safety car di trek membuat semuanya jadi kacau balau.

Selagi ia mengganti ban mobilnya, rekan setimnya berhasil merebut posisinya sebagai pemimpin lomba. Tapi mengingat rekan setimnya itu belum masuk pit untuk mengganti ban, maka ia masih memiliki peluang untuk meraih kembali posisinya itu. Namun ternyata ia malah terkena drive through penalty akibat proses ia masuk pit menyalahi regulasi. Ia pun harus menjalani hukumannya itu di lap 32, dan Alonso yang menguntit di belakangnya, tanpa membuang kesempatan, langsung menerobos merebut posisi keduanya selagi ia tengah menjalani hukumannya. Maka Vettel pun lagi-lagi harus puas berada di podium ketiga, sementara rekan setimnya dan pebalap Ferrari itu berpesta di atas kemalangannya.

Lain Vettel lain lagi nasib Lewis Hamilton yang terpaksa kehilangan posisinya sebagai pemimpin klasemen setelah terpaksa harus retire akibat masalah transmisi di mobilnya. Tak satu pun poin yang berhasil direbutnya di sirkuit bernama Hungaroring ini. McLaren pun hanya bisa berharap dari Jenson Button yang di sesi kualifikasi gagal menembus Q2 dan akhirnya harus puas memulai balapan dari grid ke-11. Gagalnya rekan setimnya menyelesaikan lomba, pun tak bisa dimanfaatkan oleh Button untuk meraih hasil optimal. Ia pun hanya bisa puas finish di P8.

Sementara itu juara dunia tujuh kali, Michael Schumacher lagi-lagi harus menelan pil pahit. Di sesi kualifikasi ia kembali gagal menembus Q2 dan hanya mencatatkan waktu tercepat ke-14. Meski begitu, optimisme tetap menaungi pebalap legendaris asal Jerman ini mengingat startnya selalu bagus.

Meski start Michael di Hungaria ternyata tak secemerlang sebelumnya, tapi Schumi seperti biasa mampu memperbaiki posisinya saat start. Ia berhasil naik satu posisi hingga ia akhirnya bisa menempel di belakang Button. Kesempatan Michael untuk meraih hasil lebih baik dari rekan setimnya yang sepanjang pertengahan lomba musim ini lebih baik dari dirinya, muncul ketika rekan setimnya itu harus retire setelah stall di pit usai mengganti ban-nya. Michael pun sempat memiliki peluang meraih poin tapi sayangnya ia masih belum bisa mengoptimalkan kinerja MGP W01 miliknya sehingga ia pun lagi-lagi harus menjadi bulan-bulanan lawannya dan media.

Setelah terpaksa kalah bertarung dari pebalap BMW Sauber-Ferrari, Kamui Kobayashi, Michael menghadapi gempuran dari mantan rekan setimnya yang dulu selalu berhasil dilumatnya, Rubens Barrichello. Kali ini tunggangan Rubens ternyata jauh lebih baik dari miliknya sehingga meski Michael telah melakukan segala daya upaya yang bisa dilakukannya sebagai seorang master di dunia Formula One, namun akhirnya ia pun harus menyerah menghadapi kekuatan Williams-Cosworth milik Rubens. Akibatnya Michael pun gagal meraih poin setelah hanya mampu finish di P11. Dan bukan itu saja. Atas aksinya dalam menghambat Rubens ternyata membuat steward mengganjarnya dengan penalti turun 10 grid di GP Belgia nanti. Hukuman yang konyol, mengingat aksi Michael terhadap Rubens sebenarnya merupakan aksi yang biasa terjadi dalam balapan F1 dan setiap pebalap pernah melakukan aksi-aksi seperti itu dalam menahan laju lawan tapi lucunya malah Michael mendapat ganjaran atas perbuatan yang biasa dilakukan oleh semua pebalap.

sumber gbr dari: bbc.co.uk