Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 27 Maret 2010

A New Hope .....

Belakangan ini meski banyak yang berlintasan dalam benakku tapi entah kenapa rasanya sulit sekali mengungkapkan semua isi kepalaku tersebut ke dalam tulisan seperti biasanya. Setiap kali ingin menulis, otakku malah serasa buntu. Problem writers block ku makin menjadi setelah menyaksikan tayangan perdana musim F1 2010 ini di Bahrain 2 minggu lalu yang super duper membosankan.

Padahal sebelum musim balap 2010 ini dimulai, aku menunggu balapan perdana tersebut dengan antusiasme yang amat sangat tinggi. Bukan hanya karena kembalinya sang juara dunia tujuh kali ke ajang F1 yang memang sudah sangat lama kurindukan aksinya di atas trek sejak balapan F1 terakhirnya di Sao Paolo Brazil pada 22 Oktober 2006.  Musim balap 2010 ini kurasa makin istimewa karena untuk kali pertama Jenson Button akhirnya bisa mengendarai mobil dengan nomor satu yang menjadi haknya karena berhasil meraih gelar juara dunia musim lalu .

Saat sesi kualifikasi ketegagangan ala F1 masih sempat terasa terlebih saat kedua jagoanku, Schumi dan Button saling berjibaku demi menjaga peluang mereka untuk lolos ke Q3. Meski sedikit kecewa setelah Schumi dan Button hanya mampu meraih waktu tercepat ketujuh dan kedelapan tapi secercah harapan sempat muncul saat di tikungan pertama pada awal lap, Schumi berhasil menyalip Webber hingga membuat posisinya naik satu tingkat begitu pun dengan Button. Tapi yang terjadi kemudian, sepanjang lomba terasa membosankan. Aku makin malas menonton dan langsung segera mengganti channel tv-ku setelah Vettel mengalami masalah busi di mobilnya sehingga ia yang sukses meraih pole dan tampil mendominasi sepanjang setengah balapan harus merelakan tempatnya direbut Alonso yang memulai debutnya bersama Ferrari.

Tak perlu lagi membahas masalah Bahrain yang telah berlalu. Hidup terus berjalan. Schumi dan Button bersama tim mereka masing-masing yang meski berbeda tapi sama-sama disupport oleh mesin Mercedes menampakkan peningkatan performa menjelang GP Australia besok. Sepanjang tiga sesi tes, Button memperlihatkan kekonsistenannya. Meski ia tak menjadi yang terkencang tapi catatan waktu Button tampak menjanjikan. Di sesi latihan bebas pertama, Jenson menjadi yang terkencang ketiga di belakang Kubica dan Rosberg. Sementara Schumi yang saat balapan di Bahrain 2 pekan lalu menyatakan bahwa ia masih belum menemukan performa balapnya mengingat ia telah empat tahun vakum, di sesi latihan bebas pertama catatan waktunya berada di urutan ke-12.

Tapi di sesi latihan bebas kedua, Schumi berhasil mencatat waktu tercepat ketiga dibelakang Hamilton dan Button sebelum kemudian digeser oleh Webber ke posisi keempat. Di sesi latihan bebas ketiga, Schumi berhasil menjadi yang terkencang ketiga di belakang Webber dan Alonso, sementara Button berada di urutan keenam di belakang Rosberg. Hasil yang cukup menjanjikan untuk race pada Minggu besok meski lomba di Australia masih dibayang-bayangi oleh GP Bahrain yang membosankan mengingat belum dicabutnya aturan pelarangan mengisi bahan bakar selama lomba.

Karena aku sudah penasaran banget dengan hasil kualifikasi GP Australia, jadi daripada harus menunggu jam dua belas malam (kayak Cinderella aja ) untuk melihat siaran tundanya di tv jadi aku mengintip hasil akhir kualifikasi dari grand prix.com. Hasilnya membuatku tersenyum senang. Meski Button tak berhasil meraih catatan waktu terbaik begitu pun dengan Schumi tapi cukup puas juga melihat Button berhasil menjadi yang terkencang keempat di belakang Alonso yang besok akan mengisi grid ketiga di belakang Webber yang masih kalah kencang dari Vettel yang kembali berhasil meraih pole dan berharap mimpi buruknya di Bahrain takkan terulang di Melbourne esok.

Sementara Schumi kembali akan memulai balapan dari grid ketujuh di belakang rekan setimnya, Rosberg yang meraih posisi keenam. Sedangkan Lewis Hamilton, rekan setim Button yang sempat mencatatkan waktu tercepat di sesi latihan bebas kedua gagal melewati Q2 dan akan memulai balapan besok dari urutan ke-11.

Jadi ga sabar lagi deh nonton balapan di Melbourne besok, meskipun Red Bull berhasil memperlihatkan kembali dominasinya dan Alonso masih membayangi duo Red Bull dan memiliki semangat tinggi setelah berhasil meraih kemenangan pertamanya bersama Ferrari di Bahrain tapi siapa tahu, Jenson Button bisa tampil gemilang dan berhasil mencuri kemenangan atau minimal podium deh

Senin, 08 Maret 2010

The British Young Guns

 
pic taken from here

Entah kebetulan ataukah takdir, Jenson Button akhirnya berhasil meraih gelar juara dunianya bersama Mercedes. Padahal selama ini ia telah melalang buana di jagat F1 bahkan sempat menjadi kandidat juara dunia bersama Honda. Tapi akhirnya Mercedes yang menjadi pemasok mesin Brawn GP, tempatnya bernaung musim lalu yang akhirnya mengantarnya meraih gelar impian itu. Sebenarnya pula sebelum Jenson memulai debut F1 nya bersama Williams, mobil F1 pertama yang pernah dijajal Jenson adalah McLaren-Mercedes. Kesempatan itu diperoleh Jenson setelah ia tampil gemilang di Formula Ford 1998 sehingga membawanya masuk ke dalam Autosport Young Driver of The Year Award yang hadiahnya adalah menjajal mobil F1 McLaren-Mercedes. Tahun ini Button akhirnya menjadi pebalap McLaren-Mercedes mendampingi Lewis Hamilton yang telah menjalani tiga musim bersama McLaren-Mercedes dan berhasil meraih gelar juara dunianya, di musim keduanya di F1 dan McLaren-Mercedes. Hamilton yang merupakan anak emas Ron Dennis, ex bos McLaren yang telah memimpin tim Silver Arrows ini sejak awal tahun 1980-an telah tampil mengesankan sejak debutnya di F1 dan sempat membuat juara dunia dua kali yang menjadi team mate-nya saat itu frustasi. Akankah Button yang tahun ini mendampingi Hamilton juga dibuat frustasi seperti Alonso? Entahlah, yang jelas, kedua pembalap ini merupakan kebanggaan Inggris dan bersama tim yang bermarkas di Inggris, mereka pastinya akan memberikan seluruh totalitas mereka untuk meraih gelar dunia kedua mereka.


9. Lewis Hamilton
 
pic taken from here

Keberadaan pembalap yang lahir dengan nama lengkap Lewis Carl Davidson Hamilton ini bisa dibilang fenomenal. Ia hampir saja meraih gelar dunia pada debutnya dan membuat juara dunia dua kali merasa frustasi dengan keberadaannya. Ia akhirnya berhasil meraih gelar juara dunianya di tahun keduanya di F1 lewat drama menegangkan di GP Brazil 2008. Tahun ketiganya di F1 tak secemerlang dua tahun sebelumnya tapi itu lebih disebabkan karena lambatnya pengembangan yang dilakukan tim pada balapan-balapan di awal musim. Tahun ini ia memiliki team mate baru dan bersiap untuk memulai pertarungan merebut kembali gelarnya yang melayang di musim lalu yang direbut oleh pebalap yang kini menjadi team mate barunya itu.

Lewis Carl Davidson Hamilton lahir pada 7 Januari 1985 di Stevenage, Hertfordshire, Inggris. Orang tuanya telah bercerai sejak ia masih balita. Ia dan adiknya, Nicolas kemudian dirawat dan dibesarkan oleh ayahnya, Anthony Hamilton yang selalu hadir di setiap balapannya dan menjadi sumber motivasinya dalam meraih hasil maksimal dan saat ia mengalami kesulitan, sang ayah mampu memberinya penghiburan dan memberinya kekuatan untuk bangkit kembali. Meski ayahnya sebenarnya sangat takut dengan profesi yang dipilih putra sulungnya ini tapi akhirnya sang ayah merestui pilihan karir sang anak. Itulah sebabnya Lewis kemudian memilih cat warna kuning terang di helmnya agar sang ayah dapat segera mengenali dan memantaunya di antara puluhan helm lain yang melaju kencang di sirkuit.

Sejak awal, semua pihak yang terkait dengan F1 tahu bahwa Lewis merupakan aset berharga yang telah dibina Ron Dennis dan McLaren sejak Lewis masih merupakan bocah berumur 13 tahun. Sebelum memilih pembalap Polandia, Robert Kubica untuk mengisi kursi balap di BMW-Sauber, Mario Theissen bos tim yang bermarkas di Hinwill, Swiss itu sempat meminta ijin Ron untuk mengontrak Lewis sebagai pembalapnya tapi Ron menolaknya. Lewis memang merupakan telur emas Ron Dennis dan tentu saja Ron lebih suka telur emas ini menetas di tim yang dipimpinnya.

Meski bakat balap Lewis sudah santer terdengar di seantero paddock F1, tapi kehadirannya di tim yang bermarkas di Woking itu pada 2007 sempat menimbulkan keraguan mengingat Lewis harus memulai debutnya bersama seorang pembalap berbakat asal Spanyol yang tengah berada di puncak rasa percaya dirinya setelah sukses meraih gelar dunia keduanya.  Tapi setelah musim berjalan, justru Lewis, sang debutan yang justru membuat sang juara dunia dua kali itu merasa frustasi. Sementara Lewis tampil konsisten yang membawanya menjadi pemimpin klasemen dan hampir membuat catatan sejarah baru, meraih gelar juara dunia di debut F1 nya, tapi sayangnya Lewis mengalami kendala di lap awal GP terakhir musim itu sehingga ia gagal meraih gelar dunia.

Berbeda dengan rookie pada umumnya, Lewis terlihat sangat tenang dan penuh percaya diri. Sekalipun ia bersanding dengar juara dunia dua kali, ternyata hal itu sama sekali tak membuatnya gentar. Bahkan ia berhasil meraih empat kemenangan, jumlah yang sama yang diraih oleh Fernando Alonso, sang juara dunia dua kali yang menjadi team mate-nya itu. Penampilan Lewis yang istimewa ini membuat semua pihak akhirnya mengakui bahwa Ron memang tak salah menginvestasikan semua dukungan baik finansial maupun moral kepada anak sulung Anthony Hamilton ini.

Memang tak salah bila Alonso merasa tim bersikap tak adil terhadap dirinya mengingat jalinan istimewa antara Ron dan Hamilton yang sudah seperti ayah dan anak itu. Tak heran pula bila kemudian Alonso dihingapi paranoia berlebihan dan di dalam otaknya telah ter-mind set bahwa karena Lewis merupakan anak emas Ron maka apapun yang terjadi, ia takkan bisa meraih posisi yang seimbang dengan Lewis.

Padahal kalau saja Alonso lebih tenang menghadapi masalah mengenai hubungan istimewa antara Ron dan Lewis ini, hari-harinya bersama McLaren Mercedes pastinya takkan segetir yang dialaminya terlebih ia merupakan juara dunia dua kali sehingga memiliki nilai lebih tapi bukan berarti ia bisa menggertak Ron yang telah sangat berpengalaman dalam membawa McLaren ke tingkat seperti sekarang ini, dengan menggunakan predikat juara dunia dua kalinya itu. Toh McLaren juga cukup mengapresiasi keinginan pembalap pujaan rakyat Spanyol ini saat ia mengeluhkan masalah mengenai rem nya dan menuruti kehendaknya dengan memberikan rem yang diinginkannya yang katanya mirip dengan rem di timnya sebelumnya yang telah mengantarkannya meraih dua gelar juara dunia. Tapi sayangnya Alonso tak bisa memaksimalkan semuanya itu dan ia masih tetap tak bisa membendung Lewis.

Kecemerlangan Lewis memang pantas dicemburui Alonso yang merasa seharusnya tim lebih memberi dukungan penuh padanya dan bukan pada si debutan meski ia merupakan anak emas bos tim, terlebih pengembangan mobil McLaren hingga tampil spektakuler merupakan hasil dari sumbangsihnya karenanya sudah sepantasnya ia mendapat dukungan penuh dari tim apalagi ia merupakan juara dunia dua kali. Kecemburuan Alonso ini kemudian malah membawa The Spaniard makin terpuruk dalam jurang keputusasaan di tengah hingar bingar kebahagiaan tim melihat anak emas mereka. Dalam kecemburuannya yang buta itu, Alonso malah membuat keberadaannya di tim makin terasing setelah akibat ancaman yang dilancarkannya pada sang bos membuat timnya mendapat hukuman berat. Seluruh poin yang didapat tim pada musim itu dicoret plus denda 100 juta dolar Amerika karena berkat email Alonso dengan Pedro De la Rossa, test driver McLaren yang kebetulan senegara dengan Alonso, terkuaklah kebenaran bahwa McLaren terbukti terlibat dalam masalah spionase antara tim Silver Arrows dengan tim kuda jingkrak asal Maranello yang menghebohkan F1 di awal musim 2007.

Ironisnya, pertikaian antara Alonso dengan Ron Dennis dan McLaren justru membuat keberadaan Lewis justru makin mantap di dalam tim tersebut. Sementara akibat ulah Alonso di Hungaria yang berujung pada hukuman berat yang diterima tim justru membuat sang juara dunia makin tak mendapat tempat di dalam tim sedangkan Lewis malah makin dicintai oleh timnya yang kemudian membuatnya makin melaju menuju perebutan gelar dunia.

Meski Lewis sempat dipersulit rekan setimnya di sesi kualifikasi GP Hungaria tapi tak membuat laju pembalap yang pernah satu tim dengan Ashley Young di tim sepak bola sekolah ini terhenti. Ia bahkan sukses meraih kemenangan di sirkuit Hungaroring itu sementara rekan setimnya yang mendapatkan penalti turun 5 posisi saat start akibat aksi ngambeknya di pit saat kualifikasi itu hanya mampu finish di urutan keempat. Tapi sayangnya akibat insiden ngambeknya Alonso yang ngendon di pit selama lebih kurang 10 detik yang akhirnya membuat Lewis tak bisa membuat catatan waktu yang maksimal, membuat tim yang kena getahnya. Sepuluh poin yang didapat Lewis setelah berhasil meraih kemenangan dan lima poin yang didapat Alonso dihapuskan. Tim pun gagal meraup lima belas poin yang diperoleh dua pembalapnya tersebut.

Akibat perseteruan rekan setimnya dengan bos timnya itu bahkan juga dirasakan oleh ayah Lewis yang dicuekin oleh Jese Luis Alonso, ayah dari Fernando Alonso. Kabarnya Senor Jose Alonso sampai tiga kali mengacuhkan uluran tangan Mr. Anthony Hamilton pun ketika Alonso Jr. memenangkan grand prix, Alonso senior tak mengindahkan ucapan selamat Hamilton senior hingga membuat ayah Lewis terpaksa memasukkan kembali tangannya yang terulur itu ke dalam saku pantalon hitamnya. 

Meski genderang perang yang ditabuh rekan setimnya itu mulai merembet ke ayahnya tapi Lewis tetap tenang dan fokus. Hasilnya, di GP China Lewis bahkan jauh lebih kencang 0.3 detik dari rekan setimnya yang berbahan bakar lebih ringan darinya. Sayangnya, Lewis harus retired di lap 30dan gagal menyelesaikan lomba setelah ban belakangnya meletus sementara rekan setimnya yang akhirnya meraih finish kedua di belakang Kimi Raikkonen yang makin mendekati perolehan poin Lewis dan Alonso di klasemen pembalap.

Di GP Brazil sebagai race penutup musim, Lewis hanya perlu finish di tempat kelima untuk merebut gelar dunia pertamanya dan mencatat sebuah sejarah baru tapi sayangnya saat start, girboks Lewis macet sehingga startnya tak berjalan mulus sementara Kimi Raikkonen, kompetitor terberatnya dalam meraih gelar dunia musim itu melesat mulus. Gelar dunia Lewis di tahun pertamanya pun terpaksa terbang ke tangan pembalap Finlandia itu setelah Lewis hanya berhasil finish keenam. Meski timnya berusaha mengajukan gugatan terhadap mobil Williams dan BMW-Sauber yang dianggap menyalahi regulasi tak berbuahkan hasil. Padahal kalau saja tuntutan tim McLaren ini dikabulkan, maka urutan finish Lewis pun bisa naik ke tempat keempat dan hasil ini lebih dari cukup untuk membuatnya meraih gelar dunia. Walaupun gagal meraih gelar dunia di tahun pertamanya, namun hasil yang diraih Lewis di musim perdananya di F1 tersebut layak mendapatkan apresiasi. Tak heran bila kemudian Lewis dipilih oleh sebagian besar pembaca F1 Racing dalam berbagai kategori penghargaan yang di antaranya adalah penghargaan sebagai Rookie of The Year dan Man of The Year mengalahkan Alonso dan Raikkonen.

Penampilan luar biasa Lewis di tahun pertamanya sebagai pembalap F1 itu dengan serta merta membawa Lewis menjadi selebriti baru. Tak heran bila kemudian berbagai gosip mengenai dirinya mulai merebak seperti hubungannya dengan beberapa wanita cantik seperti Dio, penyanyi wanita yang bersuara khas. Bahkan Lewis sempat pula dikabarkan menjalin hubungan dengan salah satu pemegang saham terbesar di McLaren sebelum akhirnya Lewis menjalin hubungan dengan Nicole Scherzinger, salah satu personil Pussycat Dolls, namun hubungan mereka pun akhirnya berakhir beberapa bulan yang lalu.

Dengan kesuksesan Lewis, otomatis pundi-pundi uangnya pun ikut meningkat, sehingga Lewis yang yang sebelum terjun di balapan F1 pernah bekerja di sebuah kafe di Tewin Wood, Hertfordshire ini menjadi target petugas pajak hingga akhirnya Lewis memilih kabur dan menetap di Swiss untuk menghindari para petugas pajak di negaranya.

Gagal meraih gelar di musim pertamanya tak mengendurkan semangat Lewis pada musim berikutnya. Malah ia makin bersemangat untuk meraih gelar juara dunia. Pada 2008 Lewis kembali bersaing ketat dengan pembalap Ferrari yang kali ini adalah Felipe Massa. Meski tampil luar biasa sejak awal musim tapi tak membuat Lewis bisa meraih gelar dunianya dengan mudah. Bahkan seperti pada musim sebelumnya, kali ini pun Lewis harus bertarung dengan Massa hingga di GP terakhir yang lagi-lagi diselenggarakan di Brazil. Dan seperti tahun sebelumnya, kali ini pun Lewis kembali hanya perlu finish kelima untuk memastikannya meraih gelar juara dunia.

Dengan dibayang-bayangi mimpi buruknya di musim lalu, Lewis memulai startnya yang kali ini berjalan mulus. Tapi Felipe Massa yang mendapat dukungan penuh dari sebagian besar penonton yang memadati sirkuit Interlagos itu pun tampil luar biasa dengan mendominasi sepanjang balapan. Mendekati akhir race, mendung tebal mulai menggayuti langit Sao Paolo, Massa di tengah tempik sorak para pendukungnya akhirnya sukses finish pertama sementara Lewis masih berada di P6 di belakang Toyota-nya Timo Glock. Kemenangan Massa membuat kubunya bersorak, mengira gelar dunia berhasil diraih pemuda Brazil ini tapi hanya beberapa detik menjelang garis finish, mobil Glock bermasalah hingga akhirnya Lewis sukses mengambil tempat pembalap Toyota itu dan mengantarnya meraih finish kelima, posisi yang dibutuhkannya untuk meraih gelar dunia. Sukaria yang sebelumnya menghinggapi kubu Massa berubah menjadi duka sementara seisi pit McLaren ganti bersorak melihat jagoannya sukses merebut gelar dunia pertamanya di musim keduanya di F1.

Lewis bisa dibilang merupakan kartu as Ron Dennis yang akhirnya menyelamatkan wajahnya dari semua kasus memalukan sehubungan dengan kasus spionase yang dilakukan timnya terhadap Ferrari pada 2007. Kredibilitas bos tim McLaren yang pandai mengolah kata itu makin memburuk setelah timnya terbukti bersalah dan dianggap berbohong setelah email antara dua pembalap Spanyolnya diperiksa FIA. Berkat kesuksesan Lewis meraih gelar dunia telah membuat Ron akhirnya bisa pensiun dengan senyum lebar. Kasus memalukan yang menimpa timnya pada musim sebelumnya berhasil ditutupi oleh euforia keberhasilan 'anak asuhnya' merebut gelar dunia. Gelar yang telah sembilan tahun dinanti timnya setelah terakhir kali mereka sukses meraih gelar dunia lewat Mika Hakkinen pada 1999.

Tahun lalu penampilan Lewis tak segemilan dua tahun sebelumnya tapi itu diakibatkan pengembangan mobil yang dilakukan oleh timnya agak terlambat karena mereka seperti pesaingnya di Maranello memilih untuk berkonsentrasi pada perebutan gelar tahun 2008. Lewis pun harus pasrah ketika gelarnya akhirnya harus lepas dari tangannya dan direbut oleh rekan senegaranya, Jenson Button yang tampil gemilang dengan mendominasi paruh pertama musim 2009 lalu.

Lewis sempat kembali dihadapi insiden sehubungan dengan finishnya pada balapan pembuka musim lalu di Albert Park, Melbourne yang berujung dengan pemecatan salah satu petinggi McLaren yang telah 'memaksa' Lewis untuk membohongi stewart untuk mengamankan podiumnya yang berhasil diraihnya setelah Trulli yang seharusnya meraih podium ketiga itu terkena penalti sehingga Lewis yang finish keempat naik menggantikan Trulli tapi setelah pemeriksaan di akhir lomba, hasil yang diraih Lewis di GP Australia pun dihapuskan.

Walau secara keseluruhan musim 2009 lalu tak menggembirakan Lewis namun ia berhasil mencuri dua kemenangan di GP Hungaria dan Singapore.

Tahun ini, kedua juara dunia baru asal Inggris ini akhirnya harus saling bersaing sebagai rekan setim setelah Button resmi bergabung dengan tim Silver Arrows membuat musim ini pasti akan makin seru terlebih Mercedes yang telah lama menjadi dapur pacu McLaren ternyata juga akan memasok mesin untuk Brawn GP yang telah dibelinya dan kini berganti nama menjadi Mercedes GP. Dan di tim tersebut telah diperkuat dua orang pembalap yang juga tak bisa dipandang sebelah mata. Michael Schumacher yang telah memperlihatkan kemampuannya dengan meraih tujuh gelar dunia berpasangan dengan Nico Rosberg, putra juara dunia asal Finlandia, Keke Rosberg merupakan pembalap yang juga dianggap sangat berbakat. Kedua pembalap Jerman yang dipercaya menjadi ujung tombak Mercedes GP melawan dua pembalap Inggris yang tengah berada di performa terbaik mereka dan memilih semangat tinggi untuk merebut gelar dunia keduanya. Dan keempat pembalap hebat ini didukung oleh pemasok mesin handal, Mercedes. Selain harus melawan para pesaing mereka di tim-tim lain, tentunya keempat pembalap Mercedes ini juga akan saling membuktikan diri sebagai pembalap yang paling bisa mengoptimalkan mesin Mercedes mereka. Lantas siapakah yang akan menjadi pembalap Mercedes yang paling unggul? Kita tunggu saja. Toh, musim balap F1 akan dimulai beberapa minggu lagi.

Debut               : Australia 2007
Start                 : 52
Juara Dunia      : 2008 (bersama McLaren-Mercedes)
Poin                 : 256
Menang            : 11
Pole                 : 17
Fastest Lap      : 3

(Data sampai GP Abu Dhabi 2009)

10. Jenson Button

 
pic taken from here

Berbeda dengan juara-juara dunia lainnya, perjalanan karir pembalap yang bernama lengakap Jenson Lyons Button di F1 ini bisa dibilang super kompleks. Seperti nilai tukar mata uang yang bergerak fluktuatif, karir F1 Jenson pun bergerak turun naik. Di satu musim ia bisa sangat cemerlang tapi di musim berikutnya ia tampil sangat buruk sehingga membuatnya menjadi juara dunia yang tidak terlalu diperhitungkan tahun ini. Dengan kembalinya Michael Schumacher bersama tim besutan sahabatnya, Ross Brawn yang telah membantu Schumi meraih tujuh gelar dunianya dan juga membuat Jenson meraih gelar dunianya tahun lalu, persaingan di F1 makin ramai dengan empat juara dunia saling bertarung bersama pembalap-pembalap muda berbakat lainnya yang juga sangat bernafsu untuk merebut gelar dunia dari tangan Jenson.

Seperti kebanyakan pembalap single seater lainnya, karir balap Jenson pun berawal dari karting yang ditekuninya saat ia masih berumur 8 tahun. Bakat balap Jenson langsung terlihat setelah ia menjadi pembalap terbaik British Cadet Kart Championship pada tahun 1991. Enam tahun kemudian pembalap yang lahir pada 19 Januari 1980 ini menjadi pembalap termuda yang memenangi European Super A Championship.

Selepas dari karting, Jenson pun naik kelas ke British Formula Ford Championship pada 1998. Bakat balap Jenson di ajang ini mulai terlihat saat ia berhasil meraih peringkat ke-3 klasemen berkat dua kemenangan yang diraihnya. Kesuksesannya ini membuat Jenson masuk dalam Autosport Young Driver of The Year Award dan ia pun mendapatkan hadiah menjajal mobil F1 McLaren-Mercedes di Silverstone yang kala itu dalam keadaan becek. Jenson hanya menjalani 12 dari 20 lap yang seharusnya dijalinya karena ban basahnya mulai terasa panas sehingga tak bisa membuat mobilnya lebih cepat. Tentu saja Jenson membuat melongo orang-orang McLaren saat ia keluar dari mobil dan mengatakan percuma saja menyelesaikan seluruh 20 lap itu. Apa yang dikemukakan Jenson memang tepat. Untuk apa menjalani lebih banyak lap jika hasilnya tak bisa maksimal?

Tapi bakat Jenson sempat membuat Alain Prost kemudian mengontaknya dan memintanya melakukan test bersama tim juara dunia F1 empat kali itu. Hasil test Jenson sangat mengesankan. Ia jauh lebih kencang dari pembalap kawakan asal Perancis, Jean Alesi yang membalap untuk Prost. Meski hasil test Jenson mengesankan tapi tak serta merta Prost menyodorkan kursi balap F1 untuk Jenson. Bahkan Jenson mengatakan bahwa Prost tak pernah mengatakan untuk apa test yang dilakukan terhadapnya itu.

Pada awal tahun 2000 akhirnya Frank Williams yang mengontak Jenson dan memintanya untuk melakukan test bersama Williams. Awalnya Jenson ditest untuk menjadi test driver tim yang bermarkas di Groove itu. Tapi ternyata Jenson jauh lebih kencang dari Bruno Junqueira, tester Williams yang lebih berpengalaman darinya. Frank pun terkesan sehingga langsung memberikan kursi pebalap reguler untuk Jenson mendampingi Ralf Schumacher. Ketika Ralf diberitahu oleh Frank bahwa Jenson lah yang telah dipilih mendampinginya untuk musim balap 2000, Ralf tersenyum dan mengatakan bahwa ia telah menduganya saat melihat betapa kencangnya putra John Button itu saat melakukan test.

Pada debutnya bersama Williams, pembalap yang hobi bersepeda ini tampil cemerlang dan tak ada yang meragukan bakat pemuda dari Frome, Somerset, Inggris ini. Meski belum berhasil meraih kemenangan ataupun podium di debutnya ini, Jenson berhasil menempati peringkat ke-8 klasemen pembalap. Sayangnya meski Jenson tampil luar biasa dan memiliki prospek yang cerah, namun berhubung Sir Frank, bosnya telah memiliki kontrak dengan pembalap lain maka Jenson pun terpaksa dibuang ke Renault yang kala itu masih bernama Benetton-Renault.

Di tahun pertamanya bersama Renault, penampilan Button yang cemerlang di tahun sebelumnya seperti tak berbekas. Ia habis dilumat rekan setimnya yang lebih berpengalaman. Tapi berkat usaha dan kerja keras Button yang tak pernah ragu untuk belajar bahkan tak malu untuk belajar dari kehebatan rekan setimnya dalam menyeting mobil, akhirnya Button mulai terlihat lebih baik dan sempat mengalahkan Giancarlo Fisichella, rekan setimnya itu sehingga ia dipertahankan satu musim berikutnya di tim Perancis tersebut.

Setelah menjalani satu musim yang sangat buruk, Jenson kembali memperlihatkan bakat yang telah mempesona Frank dan publik F1 di awal milenium ini dan tampil perkasa mengalahkan Jarno Trulli, team mate barunya yang menggantikan Giancarlo Fisichella yang hijrah ke Jordan.

Di musim keduanya bersama Renault ini tepatnya di GP Malaysia 2002 Jenson hampir saja meraih podium pertamanya. Ia tampil luar biasa bahkan Michael Schumacher saja tak bisa merebut tempat ketiga dari tangan Button. Sayangnya masalah suspensi di lap terakhir membuat Jenson keteteran sehingga Schumi akhirnya berhasil menyalipnya dan Jenson pun harus puas finish di tempat keempat di belakang jagoan Ferrari itu. Namun keberhasilan Jenson meraih tempat keempat itu pun sebenarnya sangat berarti bagi tim karena ternyata hasil lima poin yang didapat Jenson merupakan poin konstruktor Renault yang pertama sejak tim Perancis itu terakhir kali meraih poin konstruktor lewat Derek Warwick yang finish keenam di Spa 1995.

Namun, lagi-lagi penampilan gemilang yang diperlihatkan Jenson tak membuatnya dipertahankan dalam tim. Di akhir musim 2002, Flavio Briatore, bosnya di Renault telah menetapkan untuk mendepak Jenson demi memberi tempat bagi anak asuhnya, Fernando Alonso yang pernah dititipkan Flavio di Prost dan pada musim 2002 menjadi test driver Renault. Banyak yang menyayangkan keputusan Flavio tersebut. Kebanyakan beranggapan seharusnya Flavio mendepak Trulli yang tampil buruk dibanding Jenson dan membiarkan Jenson bersanding dengan Alonso. Tapi berhubung Trulli juga merupakan salah satu pembalap yang dimanajeri oleh Flavio maka otomatis Flavio lebih suka memberi tempat untuk pembalap asuhannya sendiri daripada untuk pembalap lain.

Untungnya berkat penampilan luar biasa Jenson sepanjang musim 2002, walaupun ia didepak Renault, banyak tim yang tertarik dan menawarkan kursi balap untuknya di antaranya Jaguar, Toyota, dan BAR yang baru saja berganti kepemimpinan dari Craig Pollock yang tak mampu memberikan hasil optimal bagi tim koalisi pabrik tembakau Inggris-Amerika ini ke tangan David Richards yang sukses dengan tim Prodrive-nya di rally. Kesungguhan Richards dan komitmen Honda sebagai pemasok mesin di tim BAR yang akhirnya membuat Button tertarik dan memutuskan melabuhkan hatinya pada tim yang dibangung di penghujung abad 21 ini. Saat itu BAR merupakan tim yang kacau balau dan banyak yang menyayangkan keputusan Button tapi kemudian Button memperlihatkan pada publik bahwa pilihannya itu tak salah.

Di awal penampilan Button dengan BAR, ia telah mengalami kekacauan di pit saat GP Australia 2003 yang kemudian memicu perseteruan antara dirinya dengan Jacques Villeneuve, rekan setimnya yang telah ada di BAR sejak tim itu didirikan. Perang mulut antara JB dan JV kerap terjadi sehingga menjadi bahan berita yang menarik bagi para kuli tinta. JV yang berlidah tajam bahkan meledek Button tak lebih dari sekadar anggota boy band, julukan yang dilekatkan JV pada JB yang mungkin didasari oleh wajah tampan Button. Tapi justru karir si anggota 'boy band' ini justru jauh lebih cemerlang dari juara dunia 1997 itu. Perolehan poin JB jauh lebih banyak daripada JV. Jenson meraih17 poin sementara JV yang lebih banyak menarik wartawan karena ocehannya itu hanya mampu meraup 6 poin saja. Tak ayal pada akhir musim JV pun terdepak dari tim terlebih hubungannya pun tak harmonis dengan David Richards, bos tim BAR-Honda yang menggantikan Craig Pollock yang juga merupakan sahabat sekaligus manajer JV.

Di tahun 2004, tahun keduanya bersama BAR, Button tampil luar biasa dan berhasil meraih juara ketiga di konstruktor pembalap di belakang Michael Schumacher dan Rubens Barrichello. Di tahun inilah Jenson akhirnya berhasil meraih podium sekaligus pole pertamanya.

Saat GP San Marino di Imola, JB sukses tampil tercepat di sesi kualifikasi yang kemudian mengantarnya meraih pole pertamanya tapi sayangnya di race JB harus mengakui kehandalan Michael Schumacher dan ia pun harus puas dengan finish di tempat kedua.

Secara keseluruhan, penampilan Jenson di musim itu sangat luar biasa meski ia masih belum berhasil meraih satu pun kemenangan. Salah satu aksi luar biasa Button di tahun 2004 itu adalah saat ia menyalip Alonso di Hockenheim. Kala itu, Jenson harus start dari P13 akibat penalti turun 10 grid yang didapatnya karena mengganti mesin Honda RA 004E V10-nya yang rusak saat latihan bebas. Namun di race, Jenson tampil luar biasa hingga menjelang lap-lap terakhir Jenson menghadapi kendala dengan tali helmnya yang longgar sehingga saat ia tengah melaju kencang, tali helmnya membuat lehernya tercekik. Praktis, Jenson pun harus membalap dengan satu tangan karena tangannya yang lain harus memegangi tali helmnya. Tapi meski harus menyetir dengan satu tangan, Jenson berhasil menyalip Alonso di lap 51. Aksi luar biasanya itu pun menjadi aksi manuver overtaking terbaik musim itu.

Berkat penampilan cemerlangnya di musim 2004 itu, Jenson pun kembali menjadi hot properti yang diincar banyak tim-tim papan atas. Bahkan Ron Dennis pun sempat mendekati John Byfield dari Essentially Sport yang merupakan manajer Button. Tapi Jenson memilih tim yang telah memberinya pintu masuk ke F1 dan akibat tindakan main matanya dengan Williams itu, perseteruan mengenai masalah kontrak antara BAR dan Williams pun mengemuka yang membuat nama Jenson pun tercemar.

Sayang memang, keberhasilan Button di tahun 2004 itu harus ternoda oleh masalah kontrak antara dirinya dengan BAR dan Williams. Jenson pun menjadi bulan-bulanan media dan banyak menderima cercaan terlebih pada tahun berikutnya ketika ia sudah bisa dipastikan bergabung dengan Williams ia malah memilih untuk tinggal bersama BAR-Honda. Plin-plan? Mungkin. Tapi sepertinya Jenson hanya ingin memastikan bahwa tim yang dipilihnya ini memang memiliki kualitas yang mampu mengantarkannya menjadi juara dunia.

Setelah musim yang luar biasa pada 2004, penampilan BAR-Honda dan Jenson pada tahun 2005 sedikit menurun. Fernando Alonso bersama Renault-nya tampil lebih cemerlang dan menenggelamkan Jenson kembali. Namun di Imola, Jenson berhasil meraih podium ke-3 tapi sayangnya usahanya harus terbuang sia-sia. Button dan rekan setimnya, Takuma Sato yang sukses finish kelima didiskulaifikasi dan dilarang ikut di dua balapan berikutnya karena tangki bahan bakar di mobil mereka dianggap ilegal dan menyalahi regulasi.

Pada musim 2006 di tengah hiruk pikuk perebutan gelar dunia antara Michael Schuamcher dan Fernando Alonso, Button sempat mencuri perhatian saat ia akhirnya berhasil menjuarai Grand Prix pertamanya di Hungaria. Saat itu Jenson tak terlalu berharap banyak terlebih ia harus memulai startnya di P14. Jenson yang bersikap nothing to lose tetap membalap dengan tenang dan halus seperti biasanya hingga akhirnya ia mulai melihat kesempatan meraih kemenangan pertamanya saat Alonso mengalami masalah setelah keluar dari pit lalu Michael Schumacher pun mengalami kendala dengan F2006-nya. Jenson tetap berusaha tenang dan tidak membuat kesalahan hingga akhirnya ia berhasil menjadi yang pertama melintasi garis finish di bawah kibaran chequerred flag. Jenson dan seluruh kru BAR Honda pun gegap gempita menyambut kemenangan pertama Jenson yang juga merupakan kemenangan tim.

Namun pada 2007 kehadiran Lewis Hamilton yang fenomenal ditambah buruknya performa mobilnya kembali menenggelamkan Button yang semula merupakan pujaan publik Inggris dan diharapkan menjadi suksesor peraih gelar dunia dari Inggris yang berakhir sejak Damon Hill meraih gelar juara dunianya bersama Williams-Renault pada 1996. Kehadiran Hamilton dan Button bagaikan dua sisi mata uang yang bertolak belakang. Lewis tampil cemerlang dan bahkan sukses meraih gelar dunianya pada 2008 sementara Button harus berkutat dengan tunggangannya yang sangat payah tapi Button tak lagi memiliki banyak pilihan sehingga ia sempat putus asa. Kehadiran Ross Brawn, ex technical director Ferrari ke Honda sempat membuat Button dan seluruh kru di Honda kembali memiliki secercah harapan. Tapi Brawn telah memutuskan bahwa tim akan berkonsentrasi dengan tunggangan mereka untuk musim berikutnya yaitu 2009 sehingga Button tak bisa berharap banyak dengan tunggangannya di tahun 2008 itu, tahun di mana rekan senegaranya meraih gelar dunia.

Balapan terbaik Jenson di musim 2008 itu mungkin hanyalah di GP Spanyol di mana ia berhasil finish keenam setelah mengawali balapan dari grid ke-13. Di GP Singapore pun Jenson berhasil meraih hasil yang lebih baik dengan finish di P9 mengingat mobilnya yang selalu didera masalah reabilitas sehingga lebih sering mengalami gagal finish.

Krisis ekonomi global hampir saja meluluhlantakkan semua impian dan harapan Button ketika Honda akhirnya harus menyerah dengan kesulitan finansial yang harus ditanggung untuk mendanai tim F1 mereka sehingga mereka memilih untuk mundur dari F1 hanya beberapa bulan menjelang musim 2009 dimulai. Tentu saja hal ini membuat Jenson dan seluruh kru yang terlibat di tim Honda sangat kecewa karena itu berarti usaha mereka yang telah merelakan satu musim demi membangun mobil yang lebih kompetitif untuk musim 2009 menjadi sia-sia karena mereka kemungkinan tak bisa turun di musim 2009 itu.

Keputusan Honda itu pun pastinya membuat Jenson Button sangat kecewa karena ia harus kehilangan kesempatannya untuk meraih gelar dunia. Ia mungkin terpaksa harus pensiun dari F1 karena tak ada tim yang berminat padanya setelah dua kasus Buttongate yang dibuatnya. Dan yang paling menyakitkan ia telah merelakan satu musim berlalu dengan memacu mobil yang sangat payah dengan harapan bisa tampil lebih baik di musim berikutnya tapi keputusan mundurnya Honda dari F1 itu membuat Jenson kemungkinan harus pergi dari F1 tanpa pernah bisa membuktikan bahwa ia benar-benar layak menjadi juara dunia.

Jenson kala itu mungkin seperti tengah melangkah di lorong gelap tak berujung. Tapi untungnya di ujung lorong itu kemudian ia melihat secercah sinar tipis yang kembali memberikan harapan di dalam hatinya. Ross Brawn yang telah bergabung bersama Honda selama setahun dan telah ikut serta dalam pengembangan mobil mereka untuk 2009 tentu saja tak rela bila semua hasil jerih payah mereka harus berakhir tanpa sempat tampil di panggung spektakuler Formula One. Brawn akhirnya menjadi penyelamat tim dengan membeli tim pabrikan Jepang ini dan melabeli tim barunya ini dengan namanya. Brawn GP. Nama baru yang bukan hanya memberikan harapan akan sebuah perubahan.

Ketika Brawn GP memulai debutnya pada 2009 tak ada satupun yang menyangka kalau tim bekas Honda ini mampu tampil luar biasa. Publik dan seisi paddock F1 baru terperangah ketika Jenson Button dan Brawn GP tampil mendominasi di tujuh balapan awal musim 2009 itu. Setelah meraih dua kemenangan di GP Australia dan Malaysia, langkah Jenson untuk merebut tujuh kemenangan beruntun di awal musim terpotong di GP China yang berhasil dimenangkan oleh Sebastian Vettel yang tampil cantik di atas sirkuit Shanghai yang licin akibat hujan itu sehingga Button harus mengakui kehandalan jagoan baru Red Bull itu. Dominasi Jenson kembali berlanjut di Bahrain hingga Turki.

Namun setelah tampil gemilang di paruh pertama musim 2009, Button agak mengendur di pertengahan musim. Tapi berkurangnya performa Button saat itu bukan karena Jenson telah kehilangan kekuatan ajaibnya yang menghipnotis publik pecinta F1 di balapan-balapan awal. Menurunya performa Jenson saat itu juga disebabkan membaiknya penampilan tim-tim lawan yang telah berhasil melakukan pengembangan hingga bisa membendung dominasi Super Jenson.

Meski Jenson gagal meraih kemenangan di pertengahan hingga akhir musim, tapi penampilan Jenson bisa dibilang sangat konsisten. Hanya satu kali ia gagal finish yaitu di GP Belgia karena mengalami kecelakaan di lap pertama. Tapi di luar GP Belgia, Jenson selalu tampil konsisten dan menjaga agar peluangnya untuk meraih gelar dunia tak hilang. Walau rekan setimnya, Rubens Barrichello sempat mencuri dua kemenangan di Valencia dan Monza sehingga membuatnya menjadi kandidat terkuat Jenson dalam meraih gelar dunia sementara Jenson hanya mampu meraih podium kedua di belakang rekan setimnya di di GP Italia, tapi akhirnya Jenson berhasil meraih gelar dunianya di hadapan publik senegara rekan setimnya.

Di GP Brazil, dengan makin tingginya ketegangan dan beban berat yang harus ditanggung Jenson akhirnya Jenson layaknya seorang juara dunia sejati berhasil keluar dari tekanan yang ditujukan padanya itu. Selama balapan di sirkuit Interlagos itu, Jenson tampil tenang dan berusaha untuk tak membuat kesalahan sekecil apapun yang bisa membuyarkan mimpinya. Meski finish di tempat kelima, tapi Jenson berhasil menggondol gelar juara dunia yang merupakan mimpi semua pembalap di dunia. Usaha dan kerja keras Jenson akhirnya terbayarkan. Tapi Jenson tak mengendurkan semangatnya saat tampil di GP terakhir di Abu Dhabi meski ia telah berhasil meraih gelar. Ia tetap memperlihatkan performa terbaiknya sehingga meski ia tak berhasil memenangi balapan namun ia sukses meraih podium ketiga di belakang Vettel dan Webber. Kalau saja lap di Abu Dhabi itu ditambah sedikit lagi, bukan tak mungkin Jenson akan berhasil merebut tempat Webber.

Keberhasilan Button dalam meraih gelar dunia memang luar biasa. Meski jalan yang harus ditempuhnya sangat sulit dan berliku tapi akhirnya ia berhasil mencapai mimpinya itu. Tak heran bila kemudian usahanya itu mendapat apresiasi dari negaranya yang kemudian menganugerahinya gelar kebangsawanan pada awal tahun ini berkat kontribusinya di dunia motorsport yang telah mengharumkan negaranya pula. Sebuah jalan bernama Jenson Avenue di tempat kelahirannya, di Frome memakai nama Jenson sebagai bentuk apresiasi warga kota tersebut terhadap pembalap muda ini. Nama Jenson juga diabadikan untuk sebauh jembatan yang menghubungi sungai Frome, jembatan tersebut bernama The Jenson Button Bridge.

Musim ini, Button bergabung bersama McLaren mendampingi rekan senegaranya, Lewis Hamilton sehingga menciptakan tim yang benar-benar Inggris. Tentu saja dengan semakin ketatnya persaingan di musim balap 2010 ini ditambah selain harus mengalahkan lawan-lawannya di tim lain, terlebih Jenson harus mengalahkan rekan setimnya, Lewis Hamilton. Tapi Jenson telah banyak mengalami masa-masa yang sukar dan suram tapi ia selalu berhasil bangkit dari musim yang buruk. Jadi walaupun peluang Jenson dalam mempertahankan gelar dunianya musim ini dipandang sebelah mata tapi Jenson yang selalu bisa tampil memukau di saat yang tak pernah bisa diduga oleh siapapun ini pastinya akan kembali menunjukkan bahwa ia layak menjadi juara dunia terlebih tim yang didukungnya tahun ini bukanlah tim kacangan yang tak tahu bagaimana cara meraih kemenangan. Siapa tahu pula, tahun ini, Jenson yang seperti Graham Hill belum pernah menjuarai GP di negerinya sendiri ini akhirnya berhasil meraih kemenangan di hadapan publiknya mengingat sirkuit Silverstone yang menjadi tuan rumah perhelatan GP Inggris (jika tahun ini masih menggunakan sirkuit ini) bukanlah sirkuit yang asing bagi Jenson karena rumahnya terletak tak jauh dari sirkuit yang merupakan bekas landasan kapal terbang pada masa perang dunia kedua ini.

Kemampuan Jenson dalam mempertahankan gelarnya musim ini memang masih dipertanyakan tapi tahun lalu pun tak ada yang menyangka kalau Jenson mampu tampil mendominasi di awal musim dan sukses meraih gelar juara dunia pertamanya jadi siapa tahu tahun ini pun Jenson akan mampu membalikkan semua pandangan miring terhadapnya. Dengan kembalinya Michael Schumacher ke F1 tentu saja musim ini pastinya akan tambah menarik sehingga tak sabar rasanya menanti F1 yang akan dimulai dua minggu lagi. Aku pribadi sih berharap Jenson bisa kembali tampil cemerlang dan berhasil membuktikan bahwa ia benar-benar layak menyandang gelar juara dunia yang direbutnya musim lalu. Go Jenson !!!!!!


Debut               : Australia 2000
Start                 : 171
Juara Dunia      : 2009 (bersama Brawn-Mercedes)
Poin                 : 327
Menang            : 7
Pole                 : 7
Fastest Lap      : 2

(Data sampai GP Abu Dhabi 2009)

Sabtu, 06 Maret 2010

Schumacher fired up for season opener

Source : www.autosport.com

By Pablo Elizalde

Michael Schumacher says he feels like a kid waiting for Christmas ahead of the first race of the season in Bahrain next weekend.

The 41-year-old German is returning to grand prix racing after having retired from the sport at the end of 2006.

Having raced in F1 over three years ago, the seven-time champion says he cannot wait to start competing again.

"Finally the season will start! I feel like a child looking forward to Christmas," said Schumacher in a team preview. "The decision to make my comeback feels like a long time ago now and I can hardly wait for the season to get underway in Bahrain.

"It's funny to think that I will be competing in Formula 1 again when just a few months ago, I would have declined the opportunity categorically. But sometimes things change and the right circumstances come together. I feel fresher than I have for many years.

"I am perfectly prepared physically and most importantly, my energy is back completely. When I retired from racing in 2006, my batteries were simply empty. Now they are totally recharged and I am ready for the challenge. It is the competition at the highest level that only Formula 1 offers which has provided the temptation for me."

Schumacher believes his Mercedes GP team should be competitive in Bahrain, although he admits it is hard to make predictions.

"It is always difficult to predict the form in pre-season testing, this year more than ever, but the final test in Barcelona proved to us that we should be competitive," he said.

"We know that we will have more new parts in Bahrain which should bring extra performance to the car. It's important to be in the leading group from the start of the season and I am confident that we will be there."

Team-mate Nico Rosberg is also confident his team will be strong at Sakhir, despite pre-season testing not having been perfect.

"The build-up to a new Formula 1 season is always an exciting time, particularly when you have a new team to settle into and a brand new car to get used to," he said. "It has been a really nice process integrating into Mercedes GP.

"Everyone has been very welcoming and I feel very much at home here already. Our pre-season testing programme has gone pretty well in February.

"We did have some concerns that we were not able to find the right direction to extract the maximum potential from the car but by working hard, we were able to find our way and ended testing on a high.

"We also have a good upgrade coming for Bahrain which should develop the car further and so I am quite optimistic that we will do well. Bahrain is a track which I really enjoy so it should be a good start to the season all in all."

Team boss Ross Brawn admitted, however, there was still work to do before the W01 car is fully ready.

"We had a strong pre-season testing programme with the MGP W01 but we have not quite reached the level of preparation that we would have liked prior to Bahrain," Brawn said.

"The car shows promise and we have a strong development programme planned for the season but there is a lot of hard work ahead to ensure that we will be in the fight for the title. I am very pleased with how our new drivers Michael and Nico have settled into the team and developed a close working relationship."

The full 2010 Formula 1 entry list

Source : www.autosport.com

Wednesday, March 3rd 2010, 21:09 GMT

1 Jenson BUTTON (GBR) VODAFONE McLAREN MERCEDES (GB)
2 Lewis HAMILTON (GBR) VODAFONE McLAREN MERCEDES (GB)

3 Michael SCHUMACHER (D) MERCEDES GP PETRONAS FORMULA ONE TEAM
4 Nico ROSBERG (D) MERCEDES GP PETRONAS FORMULA ONE TEAM

5 Sebastian VETTEL (DEU) RED BULL RACING (AUT)
6 Mark WEBBER (AUS) RED BULL RACING (AUT)

7 Felipe MASSA (BRA) SCUDERIA FERRARI MARLBORO (I)
8 Fernando ALONSO (ESP) SCUDERIA FERRARI MARLBORO (I)

9 Rubens BARRICHELLO (BRA) AT&T WILLIAMS (GB)
10 Nico HÜLKENBERG (D) AT&T WILLIAMS (GB)

11 Robert KUBICA (POL) RENAULT F1 TEAM (FRA)
12 Vitaly PETROV (RUS) RENAULT F1 TEAM (FRA)

14 Adrian SUTIL (D) FORCE INDIA F1 TEAM (IND)
15 Vitantonio LIUZZI (I) FORCE INDIA F1 TEAM (IND)

16 Sébastien BUEMI (CH) SCUDERIA TORO ROSSO (I)
17 Jaime ALGUERSUARI (ESP) SCUDERIA TORO ROSSO (I)

18 Jarno TRULLI (I) LOTUS RACING (MAL)
19 Heikki KOVALAINEN (FIN) LOTUS RACING (MAL)

20 TBA HRT F1 TEAM (ESP)
21 Bruno SENNA (BRA) HRT F1 TEAM (ESP)

22 Pedro DE LA ROSA (ESP) BMW SAUBER F1 TEAM (CH)
23 Kamui KOBAYASHI (J) BMW SAUBER F1 TEAM (CH)

24 Timo GLOCK (DEU) VIRGIN RACING (GB)
25 Luca DI GRASSI (BRA) VIRGIN RACING (GB)


Note: The USF1 Team have indicated that they will not be in a position to participate in 2010.

Senin, 01 Maret 2010

The Williams Boyz

Dua pebalap Williams ini terbilang istimewa tapi penuh ironi. Yang satu merupakan pebalap berbakat yang tak diragukan kemampuannya tapi ia membutuhkan hampir seratus GP untuk meraih kemenangan. Sementara yang satunya merupakan putra juara dunia F1 dua kali yang sangat terkenal tapi ia membutuhkan waktu yang lama untuk meraih kepercayaan tim-tim F1 untuk memberikannya kesempatan membalap sehingga ia harus memulai balapannya di usia tiga puluh tahun lebih. Kedua-duanya mengalami musim yang cemerlang bersama Williams hingga sukses meraih gelar dunia tapi kemudian keduanya merasa kecewa dengan F1 sehingga memutuskan untuk mundur.

7. Nigel Mansel
pic taken from this site

Pebalap yang bernama lengkap Nigel Ernest James Mansell ini lahir pada 8 Agustus 1953 di Worcestershire, Inggris. Sepanjang karir F1nya Nigel Mansell mencatat banyak prestasi gemilang tapi ia baru meraih kemenangan GP pertamanya di Brands Hatch, Inggris pada balapan ke-72 nya. Kepiawaian Mansell dalam membalap memang tak diragukan namun masalahnya ia selalu mengalami nasib buruk sehingga membutuhkan waktu yang amat lama untuk meraih kemenangan GP nya, hal inilah yang membuat kemampuan Mansell sempat dipertanyakan, tapi dominasinya di 1992 membuat semua pihak menyadari kehebatan The Lion ini.
Mansell memulai debut F1 nya bersama Lotus di Osterreichring yang menjadi tuan rumah GP Austria 1980. Hubungan Mansell dan Colin Chapman, sang bos Lotus bisa dibilang istimewa sehingga Mansell sangat mengagumi Chapman yang telah banyak membina banyak juara dunia F1 di antaranya. Chapman bagi Mansell merupakan bos tim terbaiknya karenanya ia merasa sangat kehilangan ketika Chapman meninggal pada tahun 1982. "The bottom dropped out of my world. Part of me died with him. I had lost a member of my family," ujar Mansell mengungkapkan rasa kehilangannya terhadap salah satu tokoh besar F1 ini. 

Sebenarnya saat melakukan tes untuk Lotus, Mansell tengah menderita sakit akibat kecelakaan antara dirinya dengan Andrea de Cesaris saat membalap di Formula 3 yang membuatnya harus masuk rumah sakit dan menyebabkan tulang belakangnya patah. Tapi Mansell yang telah berkali-kali mengalami kecelakaan saat balapan ini, meski harus menahan sakitnya mampu membuat catatan waktu yang mengesankan di sesi tesnya tersebut sehingga membuat Chapman terkesan. 

Namun kegagalan pada tunggangannya membuat Nige harus mengakhiri lomba. Ia kembali gagal memperlihatkan bakatnya pada balapan F1 ketiganya di Imola akibat kecelakaan. Dan di akhir musim demi memperlihatkan totalitasnya terhadap tim, Nige rela memberikan mobilnya untuk Mario Andretti yang merupakan pebalap utama di timnya agar Andretti dapat bersaing di klasemen pebalap dan loyalitas Mansell terhadap tim ini terbayarkan setelah ia mendapatkan kursi utama yang ditinggalkan Andretti saat di penghujung musim pebalap Amerika ini memutuskan untuk meninggalkan Lotus dan bergabung bersama Alfa-Romeo.

Namun saat musim balap 1981, Mansell terpaksa kehilangan debutnya bersama Lotus 88 di hadapan publiknya sendiri karena Lotus 88, karya inovatif Chapman gagal lulus uji FIA sehingga Mansell tak bisa balapan di depan publiknya sendiri di GP Inggris. Banyak yang mengatakan bahwa gagalnya Lotus 88 lebih disebabkan karena masalah politis yang dilakukan oleh para lawan Chapman untuk menghalangi inovasi terbaru Chapman sehingga tak bisa diturunkan.

Mansell baru berhasil meraih pole pertamanya di atas Lotus 95T di Dallas pada 1984 tapi kebersamaan Mansell bersama Lotus harus berakhir karena hubungan Mansell dengan Peter Warr, pengganti Chapman tak terlalu harmonis. Berbeda dengan Chapman, sang pendiri Lotus, Peter Warr, team manager Lotus yang menggantikan kepemimpinan Chapman sama sekali tak bisa menghargai Mansell sebagai seorang pebalap. Bahakn dengan sisinsya ia mengatakan bahwa Mansell takkan pernah bisa memenangkan Grand Prix, "He'll never win a Grand Prix as long as I have a hole in my arse," yakin Warr. Entah bagaimana rupa Warr ketika melihat kemenangan pertama Mansell bersama Williams di GP Belgia 1985.

Sebenarnya bukan karena Mansell tak cukup berbakat hingga belum berhasil meraih kemenangannya meski telah menjalani hampir seratus GP tapi nasib apes yang dialami Mansell membuat pebalap yang gaya membalapnya dibilang berani ini selalu saja gagal meraih kemenangan padahal kemenangan itu sudah di depan matanya seperti yang terjadi di GP Monaco 1984. Mansell sudah hampir meraih kemenangan terlebih secara mengejutkan ia berhasil menyalip Alain Prost di tengah trek yang basah dan memimpin balapan tapi sayangnya tak lama kemudian ia harus retired setelah ia kehilangan kendali atas mobilnya. 

Sebelumnya di Dallas, saat ia berhasil meraih pole pertamanya, pebalap yang memiliki dua labrador bernama Kizzy dan Abbey ini memiliki kesempatan besar untuk meraih kemenangan GP pertamanya kalau saja Lotusnya tak mengalami kegagalan transmisi di lap terakhir sehingga ia harus mendorong mobilnya agar bisa melintasi garis finish. Ia hanya bisa bersyukur karena masih bisa mendapatkan satu poin setelah finish di tempat keenam, tapi pastinya hasil itu sangat mengecewakan baginya. 

Meski Mansell sepertinya bukanlah pebalap yang disukai Dewi Fortuna tapi Frank Williams sangat terkesan padanya sehingga bos Williams tersebut langsung memberinya tempat ketika Mansell didepak dari Lotus dan digantikan Ayrton Senna.

Bersama Williams akhirnya Mansell berhasil meraih kemenangan pertamanya dan yang membuat kemenangannya ini makin terasa istimewa karena ia berhasil meraihnya di hadapan publiknya sendiri saat gelaran GP Eropa di Brands Hatch. Ia kembali meraih kemenangan di GP South Africa sehingga kepercayaan diri Mansell makin tinggi. 

Namun di musim 1986, Nelson Piquet masuk menggantikan Keke Rosberg. Meski Mansell telah berada di Williams lebih dulu tapi Piquet yang menjadi pebalap nomor satu Williams. Hubungan Mansell dengan rekan barunya ini tak sebaik dengan team mate-nya di musim sebelumnya. Terlebih The Brazilian yang satu ini secara terang-terangan menggambarkan Mansell sebagai, "an uneducated blockhead." Bukan itu saja, Piquet bahkan juga mengkritik Roseanne, istri Mansell. Namun Mansell tak mempedulikan mind game ala Piquet ini untuk menjatuhkan kepercayaan dirinya, sebaliknya Mansell malah sukses meraih lima kemenangan bahakn di Jerez ia tampil menekan Ayrton Senna dan berhasil finish kedua di belakang pebalap Brazil tersebut dengan selisih 0.014 detik, salah satu selisih waktu terdekat dalam sejarah Formula One.

Memasuki GP Australia di Adelaide persaingan merebut gelar dunia makin ketat. Tiga kandidat yaitu Mansell, Piquet dan Prost sama-sama memiliki peluang untuk meraih predikat juara dunia 1986. Mansell sendiri hanya butuh finish di tempat ketiga untuk memastikan gelar dunia jatuh ke tangannya tapi keberuntungan ternyata kembali enggan berpihak padanya. Menjelang 19 lap terakhir ban belakan Mansell pecah sehingga ia harus puas menjadi juara dunia di belakang Prost yang sukses meraih gelar dunia keduanya dari total empat gelar yang berhasil diraihnya sebelum ia pensiun pada akhir 1993. Namun meski Mansell gagal meraih gelar dunia, ternyata usahanya meraih simpati publik sehingga ia terpilih menjadi Personality of the Year versi BBC Sports.

Keapesan Mansell sehubungan dengan benda hitam bundar dari karet tersebut ternyata bukanlah keapesan satu-satunya. Beberapa kali Mansell harus mengalami nasib sial karena masalah ban. Setelah kesempatannya meraih gelar dunia lenyap di GP Australia 1986 akibat ban belakangnya meletus, tahun berikutnya Mansell lagi-lagi mengalami nasib apes sehubungan dengan bannya. Kali ini di GP Hungaria. Saat itu baut rodanya lepas sehingga akhirnya rekan setimnya, Piquet yang melenggang meraih kemenangan. Padahal di musim 1987 itu Mansell sudah hampir berhasil meraih gelar dengan mengantungi enam kemenangan, salah satunya adalah kemenangannya yang fenomenal di Silverstone ketika ia berhasil melumat rekan setimnya itu dengan mobil cadangan yang telah diseting sesuai dengan gaya pebalap Brazil tersebut.

Tapi impian Mansell untuk meraih gelar dunia kembali kandas ketika ia mengalami kecelakaan parah pada sesi kualifikasi GP Jepang yang untuk pertama kalinya diadakan di Suzuka. Kecelakaan tersebut membuat Mansell harus berbaring di rumah sakit dan tak bisa mengikuti balapan di GP terakhir di Adelaide, Australia. Sementara ia tengah berbaring di rumah sakit di Jepang, rekan setimnya, Piquet melenggang meraih gelar dunianya yang ketiga dan Mansell hanya bisa menatap kejadian itu lewat layar televisi dengan kekesalan yang menggumpal di dadanya.

Tahun 1988, Piquet meninggalkan Williams dan digantikan oleh Riccardo Patresse yang telah menggantikan Mansell di GP Australia. Dengan kepergian Piquet mestinya Mansell bisa memiliki peluang lebih besar untuk meraih gelar dunia tapi sayangnya, Honda ikut pergi meninggalkan Williams dan terbang ke McLaren sehingga penampilan Williams musim itu tidak terlalu mengesankan. Dengan masalah reabilitas yang mendera, Mansell hanya mampu menyelesaikan dua dari 14 balapan pada musim itu. 

Musim berikutnya, Mansell hijrah ke Ferrari. Mansell merupakan pebalap terakhir yang direkrut oleh Enzo Ferrari, bos sekaligus pendiri tim kuda jingkrak itu karena tak lama setelah itu, Ferrari meninggal dunia. 

Ada kejadian lucu yang terjadi pada Mansell di musim 1989 ini yaitu insiden di pit saat GP Portugal. Saat itu entah karena tak fokus atau karena Mansell terlalu serius menghadapi lomba, ia menghentikan mobilnya jauh dari garari di timnya. Mansell kemudian menyadari bahwa ia telah memarkir mobilnya di tempat yang salah tapi Mansell kemudian melakukan kesalahan fatal pertamanya. Menyadari ia telah salah parkir, Mansell pun memundurkan mobilnya (dan itu merupakan pelanggaran) sementara kru pit Ferrari tengah berlari menghampirinya. Karena kesalahannya memundurkan mobil di pit itu akhirnya ia terkena diskualifikasi. Keluar dari pit Mansell melakukan kesalahan fatal keduanya. Sekeluarnya dari pit, entah ia tak melihat atau tidak, yang jelas Mansell dianggap telah mengabaikan bendera hitam di garis start, kesalahannya makin bertambah setelah ia menabrak Senna yang tengah memimpin balapan. Akibatnya ia didiskualifikasi tidak boleh mengikuti balapan berikutnya di Jerez, Spanyol karena mengabaikan bendera hitam dan menabrak Senna.

Dan ternyata kekonyolan Mansell di pit itu bukanlah yang terakhir. Pada tahun 1991 masih di tempat yang sama yaitu di Estoril saat GP Portugal, Mansell lagi-lagi didiskualifikasi akibat kecerobohan yang dilakukan di pit tapi kali ini bersama tim Williams. Meski kecerobohan kali ini lebih disebabkan oleh kru Williams tapi tetap saja Mansell yang harus menanggungnya.

Waktu itu, kru Williams berniat mempersingkat waktu di pit agar Mansell bisa kembali ke trek dengan waktu yang tak terlalu lama terbuang di pit. Tapi karena ketergesa-gesaan kru Williams itu akibatnya malah fatal. Ban Mansell pun tak terpasang dengan baik sehingga ketika mobilnya baru saja berlalu, roda belakang kanan Williams-nya Mansell lepas dan menggelinding di tengah pit. Bodohnya, kru Williams segera menghampiri Mansell dan memasang ban yang lepas tersebut padahal ada aturan tak boleh mengutak-atik mobil di tempat yang tak seharusnya. Akibatnya lagi-lagi Mansell didiskualifikasi akibat kecerobohan kru Williams tersebut.

Saat bersama Ferrari inilah Mansell mendapat julukan Il Leone atau The Lion dari tifosi Ferrari karena gaya balap Mansell yang berani. Mansell memang merupakan pebalap yang terkesan tak takut mati. Gaya balapnya yang kelewat berani ini bahkan sempat membuat berang Mario Andretti saat mereka bertarung di CART sehingga Mario mengatakan bahwa Mansell merupakan rekan setimnya yang paling buruk dan aksi Mansell tersebut membuat Mario merasa kehilangan respeknya terhadap Mansell sebagai seorang pebalap. Masih sehubungan dengan gaya balapnya yang berani itu, Mansell sempat membuat Patrick Berger ngeper dan memakinya di GP Mexico1990 ketika ia menyalip mantan rekan setimnya di Maranello itu. "Kamu memang gila," maki Berger pada Mansell tapi aksi Mansell ini malah mendapat sambutan meriah.

Pada tahun 1990 ini Mansell berpasangan dengan Alain Prost yang telah merebut gelar dunianya pada detik-detik terakhir di GP Australia 1986. Dan ternyata Alain Prost pula yang telah membuatnya harus kehilangan kesempatan meraih gelar dunia keduanya di Williams. Meski hubungan Mansell dengan Prost tak seburuk seperti hubungannya dengan Piquet tapi Prost telah mengakibatkan Mansell dua kali merasa ingin mundur dari F1. Kehadiran Prost di Ferrari membuat Mansell merasa mendapat perlakuan tak adil dari Ferrari. Tim memberikan mobil yang lebih baik untuk Prost sehingga Mansell harus retired di depan publiknya sendiri di GP Inggris. Kekecewaan inilah yang membuat Mansell mengumumkan ingin mundur dari F1 tapi Williams yang merasa Mansell memiliki kualitas untuk menjadi juara dunia segera menarik Nige kemblai ke tim tersebut. Perkiraan Williams ternyata tak salah. 

Di musim keduanya bersama Williams, Mansell tampil luar biasa dan mendominasi musim 1992 tersebut dengan menjuarai 9 balapan dari 16 race dan sukses mencatat rekor 14 pole dalam satu musim, rekor yang belum terpecahkan hingga kini. Pada musim 1992 itu, FW 14B Mansell hanya sekali mengalami gagal mesin sementara rekan setimnya, Riccardo Patrese hanya memenangi dua race dan salah satu kemenangannya yaitu di GP Jepang, merupakan persembahan Mansell untuk rekan setimnya. Saat itu Mansell berhasil meraih pole dan tampil memimpin tapi ia sengaja melambatkan mobilnya demi membiarkan Patrese meraih kemenangan. Persis seperti yang dilakukan oleh Michael Schumacher yang memberikan kemenangan untuk Rubens Barrichello di GP USA 2004 sebagai tanda terima kasih mereka kepada rekan setimnya yang telah membantu dan mendukung mereka meraih gelar dunia.

Mansell sendiri sebenarnya sudah berniat membantu rekan setimnya itu meraih meraih kemenangan di Monza setelah ia berhasil meraih gelar dunianya di GP Hungaria. Sayangnya di Monza mereka berdua mengalami masalah dengan pompa hidrolik. Di Estoril, Portugal, Mansell juga ingin memberikan kemenangan bagi rekannya apalagi ia kembali berhasil meraih pole tapi sayangnya Patrese mengalami kecelakaan saat memperebutkan tempat ke-2 dengan Gerhard Berger yang membela McLaren-Honda.

Frank Williams, sang bos sendiri mengakui bahwa Mansell merupakan pebalap Williams yang paling sukses. Menurut Sir Frank, Mansell memiliki talenta yang jauh lebih tinggi dari yang dikira orang dan Mansell juga merupakan pebalap yang memiliki komitmen yang sangat tinggi dan sangat tangguh. Ketika meraih gelar dunianya pada 1992, Mansell sebenarnya tengah menderita patah kaki akibat kecelakaan yang dialaminya di musim sebelumnya tapi ia menyembunyikan hal itu karena takut kehilangan license-nya. Namun apa yang dilakukan Williams menjelang akhir musim 1992 membuat Mansell kecewa sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri. Williams saat itu dikabarkan telah mengontrak Prost dan tengah mendekati Senna pula. Tentu saja berita ini menyakitkan hati Mansell.

Pada 1993 Prost ternyata memang menjadi pebalap Williams bahkan berhasil meraih gelar dunia keempat sekaligus gelar dunia terakhirnya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pensiun dari F1 di akhir musim itu setelah mendengar Williams telah mengontrak Senna untuk tahun 1994. Ironis kan? Mansell pergi dari F1 karena Prost yang telah membuatnya merasa diperlakukan tak adil oleh Ferrari. Dan Prost memilih pensiun dari F1 karena Senna yang telah membuat hidupnya merana saat menjadi rekan setim Senna di McLaren.

Banyak yang menyayangkan keputusan Mansell tersebut dan berusaha menahannya tapi Mansell yang terluka telah kehilangan minatnya di F1. Bujukan Frank dan Bernie Ecclestone yang berusaha menahannya di F1 tak digubrisnya. Bahkan ia juga tak menanggapi tawaran Ron Dennis untuk bergabung dengan tim Silver Arrows tersebut. 

Kepergian Mansell ini bahkan membuat tabloid besar di Inggris, The Sun melancarkan aksi kampanye "Save Our Nige" terhadap Williams yang telah membiarkan Mansell pergi.

Kekecewaan dan sakit hati Mansell di F1 makin bertambah ketika di GP Australia jelas-jelas Senna sengaja menyenggol mobilnya sehingga ia tersingkir dari GP tapi semua seolah tak memperhatikan kelakukan The Brazilian itu sehingga Senna bebas dari hukuman, bahkan Frank sang bos timnya pun tak memprotes ulah Senna tersebut. Hal itu makin meneguhkan hati Mansell untuk meninggalkan F1 dan membalap di CART dan bergabung bersama tim Newman/Haas. Uniknya, Mansell yang bergabung dengan tim tersebut setelah meninggalkan F1 menggantikan tempat Michael Andretti yang meninggalkan CART untuk bergabung dengan tim McLaren F1.

Pada debutnya di ajang balap Amerika ini, Mansell langsung menorehkan rekor dengan menjadi rookie pertama yagn berhasil meraih pole dan memenangi balap pertamanya di CART. Bahkan pada debutnya ini, Mansell juga menjadi juara dunia CART, prestasi yang mengantarkan Mansell menerima berbagai penghargaan, salah satunya adalah Gold Medal dari Royal Automobile Club dan 1993 ESPY Award for Best Driver.

Setelah membalap selama dua musim di CART, Mansell kembali menderu di F1pada 1994 berkat campur tangan Bernie Ecclestone karena menganggap tak adanya juara dunia F1 yang bertarung setelah kematian Senna di Imola merupakan preseden buruk untuk F1 sehingga membujuk Mansell agar kembali membalap di F1 bersama Williams di GP Perancis menggantikan test driver Williams, David Coulthard. Tapi Mansell yang digaji lebih besar dari Damon Hill, team leader Williams saat itu, hanya membalap beberapa seri saja bersama tim asuhan Sir Frank ini dan Mansell absen secara mendadak di GP USA dan 4 race lainnya pada akhir 1994.

Pada tahun 1995 Mansell bergabung dengan McLaren karena meski kabarnya hubungan Ron Dennis dengan Mansell tak cukup baik, bahkan mereka tidak pernah saling bertatapan sehingga media memperkirakan hubungan keduanya takkan berlangsung lama. Tapi berhubung sponsor dari tim Silver Arrows ini menginginkan juara dunia dan saat itu ada dua juara dunia F1 yang berlaga yaitu Mansell dan Michael Schumacher yang baru meraih gelar dunia pertamanya bersama Benetton pada 1994. Tapi berhubung Schumi telah memiliki kontrak dengan Benetton untuk 1995 bahkan telah dipastikan akan bergabung dengan Ferrari pada 1996 membuat pilihan hanya tinggal pada Mansell saja. 

Sejak awal kebersamaan Mansell dengan McLaren ternyata tak cukup mulus. Karena tak muat di MP4/10-nya sehingga ia tak bisa memulai debutnya bersama McLaren. Mansell baru bisa turun di Imola. Tapi pada balapan keduanya bersama McLaren, Mansell merasa frustasi dengan tunggangannya. Merasa McLaren takkan mampu tampil kompetitif membuat Mansell memilih keluar dari tim tersebut setelah hanya membalap di dua race saja.

Setelah keluar dari F1 untuk kedua kalinya, Mansell sempat membalap di British Touring Car Championship dan saat ini dua putra Mansell, Leo dan Greg juga terjun ke dunia balap mengikuti jejaknya. Bahkan tahun lalu Greg sempat mencatat fastest lap pada sesi test di Silverstone bersama Renault untuk ajang World Series.

Debut               : GP Australia 1980
Start                 : 187
Juara Dunia      : 1992 (bersama Williams)
Poin                 : 482
Menang            : 31
Pole                 : 32
Fastest Lap      : 30


8. Damon Hill

pic taken from this site

Damon Graham Devereux Hill yang lahir pada 17 September 1960 di Hampstead, London ini merupakan satu-satunya putra juara dunia F1 yang berhasil meraih gelar dunia seperti sang ayah. Namun nama besar sang ayah tak serta merta membuat perjalanan karir putra juara dunia dua kali, Graham dan Bette Hill ini berjalan mulus. Seperti ayahnya yang terlambat memulai karir balapnya begitu pula dengan Damon. Bahkan meski menyandang nama besar sang ayah, Damon kesulitan mendapatkan kepercayaan dari tim-tim F1 sehingga ia baru memulai karir F1nya di usia tiga puluh dua. Hidup Damon Hill sendiri bisa dibilang tak seindah nama besar ayahnya.

Setelah ayahnya meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang pada 1975, kehidupan Damon yang beru berumur 15 tahun kala itu berubah drastis. Damon harus bekerja sebagai buruh dan kurir untuk membiayai sekolahnya sendiri. 

Karir balapnya dimulai di balapan motor pada umur 21 tahun. Namun ia merupakan putra juara dunia F1 dua kali tak membuatnya bisa dengan mudah mendapatkan kursi balap. Hill harus membiayai sendiri balapannya dengan gajinya sebagai buruh. Sedihnya, meski ia berhsil menjuarai 350cc clubmans's championship di Brands Hatch tapi ia dianggap tak memiliki potensi. Ibunya, Bette Hill yang menyadari bahayanya balapan motor, menganjurkan Hill untuk mengambil kursus balap mobil di Winfield Racing School di Perancis pada 1953. Dari sinilah Hill mulai mengikuti jejak sang ayah membalap di ajang single seater.

Meski Hill menjadi test driver Williams tapi Hill memulai debut balap F1nya bersama tim Brabham di GP Inggris 1982 menggantikan Giovanna Amati. Namun tim Brabham saat itu tengah mengalami kesulitan finansial sehingga tak bisa tampil kompetitif. Di GP pertamanya ini Hill menjadi yang terakhir menyentuh garis finish sementara Mansell yang tampil dominan musim itu meraih kemenangan bersama Williams.

Usai GP Hungaria, tim Brabham akhirnya harus menyerah dan tak bisa menyelesaikan seluruh balapan di musim itu.

Setelah tim Brabham ambruk dan Mansell memutuskan meninggalkan F1 pada akhir musim 1992, Hill pun diangkat menjadi pebalap reguler tim asuhan Sir Frank tersebut mendampingi Alain Prost pada 1993. Hebatnya untuk meraih tempatnya ini, Hill telah menyingkirkan pebalap-pebalap yang lebih kawakan darinya seperti Martin Brundle dan Mika Hakkinen. 

Tapi lucunya akibat kepergian Mansell di akhir tahun 1992 maka gelar dunia pun dibawanya pergi yang berarti membawa pergi juga urutan mobil no satu yang mestinya melekat pada mobil sang juara dunia sehingga Williams, tempat dimana Mansell meraih gelar dunianya mendapatkan nomor mobil nol (0) menggantikan nomor satu yang dibawa Mansell. Berhubung Prost yang menggantikan Mansell merupakan juara dunia tiga kali sehingga tak mungkin menggunakan nomor mobil dengan angka nol maka nomor zero (0) ini pun akhirnya diambil Damon. 

Uniknya, Damon harus dua kali memakai nomor zero alias nol ini. Tahun 1994, mobil Damon kembali harus berlabel dengan angka nol karena kali ini Alain Prost yang berhasil meraih gelar dunia di akhir musim 1993 mengikuti jejak Mansell, pergi meninggalkan F1. Dan Ayrton Senna yang menggantikan Prost sebagai juara dunia tiga kali tak mungkin menggunakan angka nol tersebut sehingga lagi-lagi Damon harus mengalah dan membiarkan mobilnya berlabel angka nol alias zero. 

Pada medio tahun 90-an ini, F1 memasuki babak baru terlebih setelah kematian Senna, juara dunia terakhir sebelum Mansell bergabung kembali bersama Williams, praktis tak ada juara dunia F1 sehingga perebutan mahkota juara dunia menjadi semakin menarik bagi pebalap-pebalap muda seperti Damon Hill dan Michael Schumacher. Dan memang masa pertengahan tahun 90-an itu banyak diwarnai dengan pertempuran antara Schumi dan Hill. 

Sebelum kematian Senna di Imola, Schumi telah tampil dominan dengan menjuarai tiga GP pembuka musim. Namun kematian Senna membuat Hill tampil cemerlang dan menjadi penantang serius Schumi dalam memperebutkan gelar. Persaingan makin sengit menjelang seri penutup di Adelaide, Australia setelah Hill berhasil meraih kemenangan di GP Jepang sehingga perolehan poinnya hanya selisih satu poin dari Schumi yang memuncaki klasemen pebalap. Schumi akhirnya berhasil meraih gelar dunia pertamanya pada tahun itu setelah insiden kecelakaan yang kontroversial antara dirinya dengan Hill. 

Patrick Head, partner Frank Williams yakin 100% bahwa kecelakaan itu memang disengaja Schumi sehingga ia bisa meraih gelar dunia pertamanya tapi komentator kawakan F1, Murray Walker yang juga merupakan pendukung sekaligus sahabat Hill menganggap bahwa kejadian itu merupakan kecelakaan yang tak disengaja oleh Schumi. Meski tak puas, tim Williams sendiri tak bisa menuntut gelar pertama Schumi tersebut karena mereka tengah bergulat dengan masalah hukum sehubungan kematian Senna di Imola pada awal musim itu. Hill sendiri secara terang-terangan menyalahkan Schumi dan menganggap kecelakaan tersebut memang disengaja oleh Schumi. 

Meski Hill gagal meraih gelar dunianya, namun insiden itu sepertinya membuat Hill dinobatkan sebagai Personality of The Year dari BBC Sport.

Namun insiden Adelaide itu sepertinya bukan satu-satunya insiden kontroversial yang terjadi antara Hill dan Schumi. Di Silverstone 1994, Schumi menyalip Damon saat warm-up lap dan mengabaikan bendera hitam. Tahun berikutnya gantian Damon yang beraksi terlalu berlebihan di GP Silverstone yang mengakibatkan mereka berdua keluar lintasan.

Di GP Belgia 1995, Schumi mendapat penalti karena telah memblok jalan Hill namun di Monza,  gantian Hill yang terkena penalti karena aksinya menabrak 'pantat' mobil Schumi sehingga mengakibatkan mereka berdua keluar lintasan. Pada tahun ini, Schumi kembali sukses meraih gelar dunia keduanya dengan dua balapan tersisa sementara Benetton, tempat di mana Schumi bernaung berhasil meraih gelar konstruktor. Kegagalan Hill menahan laju Schumi ini membuat para petinggi Williams tak puas dengan performanya sehingga berkembang berita bahwa tim memutuskan untuk menggantikan Hill dengan Heinz-Harald Frentzen. Tapi karena Hill masih memiliki kontrak satu tahun lagi dengan Williams membuat posisi Hill di tim tersebut masih aman hingga satu musim lagi.

Musim 1996 bisa dibilang merupakan musim terbaik Hill. Dengan hijrahnya Schumi ke Ferrari pada 1996, penampilan Benetton tak sesangar dua tahun sebelumnya sementara Ferrari tengah berkutat membangun The Winning Team. Namun Williams tampil dan kedua mobilnya merupakan yang terkencang di Formula One musim itu. Pada tahun 1996 ini, Hill mendapatkan team mate baru, Jacques Villeneuve yang juga merupakan anak pebalap legendaris F1 seperti dirinya, menggantikan David Coulthard yang berpaling hati ke McLaren. Di musim terakhirnya bersama Williams ini Hill sukses meraih gelar juara dunia semata wayangnya sehingga membuatnya menjadi satu-satunya anak juara dunia F1 yang berhasil meraih gelar dunia atas namanya sendiri. Di musim ini Hill berhasil menyabet 8 kemenangan dan di sesi kualifikasi pun ia mencatat hasil menggembirakan dengan selalu berada di barisan front row.

Di Monaco, tempat di mana ayahnya sukses meraih lima kali kemenangan, Hill sempat memimpin lomba sayangnya kegagalan mesin membuatnya gagal melanjutkan lomba dan terpaksa merelakan kemenangannya di tempat yang paling bersejarah untuk ayahnya itu kepada Olivier Panis yang sukses meraih kemenangan satu-satunya bersama tim Ligier. Di GP Jepang, Hill mendapat ancaman serius dari rekan setimnya, Jacques Villeneuve yang berhasil meraih pole pada balapan di negeri sakura tersebut tapi di race nasib Villeneuve kurang beruntung, ia gagal meneruskan lomba sementara Hill berhasil menyabet kemenangan yang sekaligus mengukuhkannya sebagai juara dunia 1996.

Keberhasilan Hill meraih gelar dunia ini membuatnya kembali mendapat penghargaan sebagai Personality of The Year dari BBC Sports dan membuatnya menjadi orang ketiga yang menerima penghargaan ini sebanyak dua kali. Dua orang sebelumnya adalah Nigel Mansell dan seorang petinju bernama Henry Cooper.

Meski Hill berhasil meraih gelar dunia tapi mengingat apa yagn telah terjadi pada tahun sebelumnya membuat Hill berpikir Williams tak menginginkannya terlebih tim Williams kelihatannya tak berniat mempertahankannya sehingga Hill meninggalkan tim tersebut. 

Dengan mengantongi gelar dunia, Hill sebenarnya memiliki penawaran dari McLaren dan Ferrari tapi Hill malah memilih Arrows, padahal tim yang dimotori oleh Tom Walkinshaw ini belum pernah memenangkan satu balapan pun dan hanya meraih satu poin pada tahun sebelumnya.

Sepanjang tahun 1997, Hill harus berkutat denga mobilnya yang tak kompetitif. Ia bahkan baru berhasil meraih poin untuk tim barunya ini di Silverstone. Hill kembali tampil gemilang di GP Hungaria ketika ia berhasil meraih P3 di sesi kualifikasi dan saat race ia berhasil menyalip rival utamanya, Michael Schumacher yang tengah kesulitan dengan Ferrarinya di turn 1. Hill bahkan sempat memimpin lomba sampai masalah hidraulik membuat Arrows-nya melambat sehingga disalip oleh ex rekan setimnya, Villeneuve dan harus puas finish di tempat kedua. Namun keberhasilan Hill itu ternyata sangat berarti bagi tim karena kesuksesan Hill tersebut merupakan podium pertama yang berhasil diraih tim ini sejak GP Australia 1995.

Hill hanya bergabung bersama Arrows selama satu musim lalu berpaling ke Jordan pada tahun 1998. Di tim inilah ia berpasangan deng Ralf Schumacher yang merupakan adik kandung dari rival utamanya. Sebenarnya berkat penampilan luar biasa Hill bersama tim yang tak kompetitif seperti Arrows sempat membuat McLaren tertarik dan hampir saja Hill bergabung dengan tim Silver Arrows tersebut tapi berhubung Ron Dennis lebih suka pebalap yang lebih muda sementara Hill saat itu sudah berusia 37 tahun sehingga Hill pun tercoret dari daftar. 

Di GP Belgia, Hill berhasil meraih podium utama, kemenangan pertama untuk timnya, Jordan sekaligus kemenangan pertamanya sejak ia pergi dari Williams. Tapi kemenangannya yang merupakan kemenangan terakhirnya di F1 tersebut ternyata merupakan hasil team order di mana Ralf 'dipaksa' merelakan kemenangannya untuk Hill yang merupakan team leader timnya dan Ralf harus puas finish kedua di belakang Hill. Tentu saja hasil ini membuat Michael Schumacher, seteru Hill yang notabene adalah kakak kandung rekan setimnya mencemoohnya. 

Pada musim keduanya bersama Jordan, ia berpasangan dengan Heinz-Harald Frentzen, orang yang telah menyebabkannya tersingkir dari Williams. Sementara Ralf Schumacher, bekas rekan setimnya hijrah ke Williams menggantikan Frenzy.

Hill sudah merencanakan untuk pensiun dari F1 pada akhir musim setelah kecelakaan GP Kanada, tapi kemenangan rekan setimnya, Frentzen di GP Perancis membuat Hill memutuskan untuk pensiun lebih cepat dari rencananya. Namun Jordan membujuk Hill agar tetap bertahan untuk GP Inggris. Hill setuju dan mengumumkan bahwa ia akan pensiun setelah race tersebut sehingga Jordan menyiapkan Jos Verstappen untuk menggantikan Hill jika ia benar-benar pensiun. Tapi setelah Hill meraih finish kelima di home race-nya itu, pebalap yang telah ubanan sejak umur 15 tahun sehingga ia selalu mengecat rambutnya saat masih berlaga di F1 ini akhirnya berubah pikiran mengenai rencana pensiunnya. 

Akhirnya Hill berhasil menyelesaikan seluruh balapan di musim itu dan bersama Frentzen ia membantu Jordan meraih posisi ketiga di klasemen konstruktor. Sayangnya di Suzuka, Jepang yang menjadi balapan terakhirnya, Hill gagal finish setelah ia melintir.

Kalau saja Hill memulai karir balapnya lebih cepat, bukan tak mungkin Hill akan mampu membuat lebih banyak lagi prestasi tapi sayangnya meski Hill menyandang nama besar ayahnya tak membuatnya bisa dengan mudah mendapatkan sponsor untuk membiayai balapannya sehingga ia harus memulai karir balap F1nya saat umurnya sudah menginjak kepala tiga. Hill sendiri menganggap Williams yang dikendarainya pada 1996 merupakan mobil terbaiknya karena di mobil ini ia benar-benar merasa nyaman. Di mobil-mobil sebelumnya Hill selalu merasa kesulitan karena kakinya tak muat atau jari-jarinya lecet di dalam tunggangannya. Tapi pada 1996 Hill mendapatkan mobil yang pas yang membuatnya nyaman sehingga mampu tampil perkasa dan sukses meraih gelar dunia.  

"Some people might think I got here because I had a sweet smile and a famous name," kata Hill sehubungan dengan nama besar sang ayah yang diembannya. "Well it wasn't like that. I was written off a lot during my career. The point I am making is that the fact I am at Williams is a measure of my determination to succeed. As for the team, it will naturally be more inclined to put its faith in someone who has actually done the job, rather than someone who claims he can do it."
Sir Frank Williams pun menganggap bahwa Hill merupakan salah satu pebalap Williams yang paling sukses di samping Mansell. Kepergian Hill pada akhir 1996 ternyata juga telah menimbulkan penyesalan dalam hati bos tim Williams tersebut karena telah melepaskannya.

Meski perjalanan karir Hill di F1 tidak terlalu panjang tapi ia telah membuktikan kemampuan dirinya dan berhasil lepas dari bayang-bayang nama besar ayahnya. Namun perjuangan Hill dalam kehidupannya di luar F1 pun ternyata cukup mengharukan. Hill dikaruniai oleh empat orang anak. Oliver, Joshua, Tabitha, dan Rosie. Namun Oliver, anak tertua Hill yang lahir pada 1 Februari 1998 ini menderita Down Syndrome. Keadaan putranya ini membuat Hill dan Georgia aktif terlibat dalam Down's Syndrome Association. Selain itu, Damon juga menjadi penyokong utama St. Josep's Specialist School and College, sebuah sekolah untuk anak-anak yang mengalami kesulitan dalam belajar dan autisme di Cranleigh, Surrey.

Namun Damon boleh berlega hati karena bakat balapnya menurun ke putra keduanya, Joshua yang pada tahun 2008 lalu telah terjun mengikuti jejak ayah dan kakeknya dan ikut berkompetisi di Formula Ford UK pada 2009.

Saat ini Damon Hill menjabat sebagai Presiden British Racing Drivers' Club menggantikan Jackie Stewart. Posisi ini sendiri telah diembannya sejak April 2006 lalu. Sejak ia menjabat sebagai presiden BRDC itu pula, maka ia terpaksa meninggalkan hobi bermain gitarnya. Padahal hobinya tersebut bukan sembarang hobi pengusir rasa jenuh selepas F1. Sejak muda Hill yang memang suka bermusik ini ternyata pernah membaut band musik dengan beberapa teman sekelasnya meski nama bandnya agak terdengar norak, "Sex, Hitler and the Hormones" (benar-benar norak, kan?) tapi setelah ia sukses di Formula One ternyata bakat musiknya ini sempat menarik hati beberapa pemusik terkenal sehingga ia pernah bermain bersama pemusik-pemusik terkenal tersebut, salah satunya adalah bersama George Harrison, salah satu personel The Beatles yang merupakan fans F1 dan penggemar Graham Hill, ayah Damon. Bahkan George Harrison mengatakan bahwa Graham Hill dan Jim Clark merupakan gentleman dan pria Inggris sejati.

Bahkan Hill sempat juga unjuk kebolehannya bermain gitar dengan tampil di "Demolition Man", opening track album Euphoria-nya Def Leppard ini. Namun Damon terpaksa meninggalkan hobi bermusiknya setelah ia terpilih sebagai presiden BRDC.


Debut               : GP Inggris 1992
Start                 : 122
Juara Dunia      : 1996 (bersama Williams)
Poin                 : 360
Pole                 : 20
Menang            : 22
Fastest Lap      : 19