Total Tayangan Halaman

Translate

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2013

F. Scott Fitzgerald dan Zelda Fitzgerald = Sebuah Romansa: Hidup, Cinta, dan Tragedi

"Show me a hero and I'll write you a tragedy", kalimat sarkastis ini diucapkan oleh F. Scott Fitzgerald, novelis asal Amerika Serikat. 

Apakah Anda pernah menonton The Great Gatsby yang diperankan Robert Redford dan kini dirilis ulang dengan Leonardo DiCaprio sebagai pemeran utamanya? Nah, kisah film tersebut merupakan adaptasi dari novel berjudul sama, The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald dan menjadi salah satu novel klasik Amerika.

Atau pernahkah Anda menonton film berjudul Midnight in Paris yang diperankan Owen Wilson? Nah, jika Anda pernah menonton film ini, Anda pasti ingat adegan di mana Owen Wilson yang bermimpi novelnya bisa diterbitkan secara ajaib ia bisa dibawa ke suatu tempat dan bertemu seniman-seniman dan penulis hebat masa lampau macam Salvador Dali, Ernest Hemingway, Gertrude Stein, dan pasangan suami istri F. Scott dan Zelda Fitzgerald.

Belum lama ini tersiar kabar catatan tulisan tangan F. Scott Fitzgerald dipublikasikan di internet. Dalam catatan tersebut tercantum rapi baik catatan kehidupan Fitzgerald, macam buku harian, hingga catatan mengenai pendapatan yang diterimanya dari penerbitan bukunya termasuk The Great Gatsby juga uang yang diperolehnya saat The Great Gatsby dibawa ke layar lebar. Namun meski ia terbilang terkoordinasi dalam membuat catatan seperti ini sayangnya gaya hidup pasangan Fitzgerald ini terbilang boros. 

Mereka lalu pergi ke Perancis di mana mereka bertemu Ernest Hemingway dan Gertrude Stein. Scott lantas bersahabat dengan Hemingway namun antara Hemingway dan Zelda ada permusuhan. Keduanya saling membenci dan mencela. Hemingway menganggap kegilaan Zelda-lah yang membuat suaminya sulit keluar dari kecanduannya akan alkohol. Sementara Zelda tak kalah benci pada Hemingway yang dianggapnya sok. Karena dekatnya hubungan Hemingway dengan Scott, suatu kali Zelda menuduh Scott dan Hemingway adalah homoseksual. Untuk menyanggah tuduhan Zelda itu maka Scott bermain dengan wanita penghibur sehingga menimbulkan kecemburuan pada Zelda. Pada suatu pesta Scott kembali membangkitkan kecemburuan Zelda dengan bersikap begitu akrab dan dekat dengan Isadora Duncan dan mengacuhkan Zelda sehingga Zelda sengaja menjatuhkan dirinya sendiri, terjun dari tangga di pesta itu. 

Kisah Zelda sendiri bagai kisah tragis para wanita cantik dalam mitologi Yunani. Sebagai anak bungsu dari Hakim di Alabama, hidup Zelda Sayre tak berkekurangan. Sementara Scott Fitzgerald lahir dari keluarga kelas menengah imigran Irlandia. Saat bertemu Zelda, Scott tergila-gila padanya. Mereka bertunangan tapi karena tak yakin Scott yang saat itu tak memiliki pekerjaan tetap bahkan novelnya ditolak oleh penerbit, bisa memenuhi kebutuhan finansialnya maka Zelda memutuskan hubungan mereka. Scott pulang ke rumahnya, menyelesaikan revisi novelnya lalu mengirimkan kembali ke penerbit, kali ini novelnya diterima dan novelnya ternyata laris manis. Scott kembali melamar Zelda dan kali ini Zelda menerimanya dan mereka pun menikah.

Tapi seiring waktu hubungan mereka memburuk. Saat di Paris, Zelda pernah berselingkuh dan meminta cerai dari Scott saat Scott tengah mengalami tekanan untuk menghasilkan novel yang sebagus novel terdahulunya, The Great Gatsby yang fenomenal. Permintaan cerai Zelda membuat Scott murka lalu mengurung Zelda hingga akhirnya tentara muda, selingkuhan Zelda meninggalkan Paris.

Di Paris Zelda mulai terobsesi pada balet. Saat masih belia Zelda memang pernah belajar menari. Sayangnya usia Zelda tak lagi memberi banyak kesempatan baginya untuk bersinar dalam seni tari, meski begitu Zelda terus berlatih hingga kelelahan. Keseimbangan mentalnya terganggu. Zelda pun mulai dirawat dan didiagnosa menderita schizoprenia, jenis gangguan jiwa yang membuat penderitanya mengalami halusinasi dan delusi.

Meski sempat keluar dari rumah sakit jiwa dan pasangan Fitzgerald ini kembali ke Amerika, kejiwaan Zelda kembali terganggu setelah kematian ayahnya hingga ia kembali dirawat di rumah sakit jiwa. Di sini ia mulai menulis Save Me the Waltz, sebuah novel sekaligus semi autobiografi mengenai kehidupannya dengan Scott Fitzgerald di Perancis. Saat membaca novel tulisan istrinya ini, Scott murka dan menuduh Zelda mencuri idenya karena ternyata Scott pun tengah menulis novel terbarunya, Tender Is the Night yang isinya tentang pernikahannya dengan Zelda. Scott memaksa Zelda merevisi Save Me the Waltz dan meminta dokter yang merawat Zelda untuk melarangnya menulis lagi.

Pada kenyataannya Scott ternyata kerap mencuri kisah dari buku harian Zelda untuk dijadikan bahan novel-novelnya, bahkan sejak novel pertamanya, This Side of Paradise. Dalam novel terbaiknya, The Great Gatsby, Scott bahkan menggunakan kalimat yang diucapkan Zelda saat melahirkan putri semata wayang mereka, Frances Scott "Scottie" Fitzgerald sebagai salah satu dialog di novelnya itu.

Saat diminta me-review novel The Beautiful And Damned karya suaminya, Zelda mengungkapkan bahwa Scott telah mencuri buku hariannya dan menjadikan kisah-kisah dalam buku hariaannya itu sebagai bahan cerita di novelnya. 

Setelah novel keempatnya, Tender Is the Night yang seperti novel semi autobiografi Zelda, Save Me the Waltz, mengadopsi kisah dalam pernikahan mereka, gagal di pasaran, kehidupan pasangan Fitgerald kian sulit. Sementara Zelda dirawat di rumah sakit jiwa, Scottie, anak mereka masuk ke sekolah berasrama, Scott mulai mencoba peruntungan di Hollywood. Ia mendapat kontrak 1000 dolar seminggu dari perusahaan film MGM. Di Hollywood ini Scott tanpa sepengetahuan Zelda terlibat affair dengan seorang kolumnis film bernama Sheilah Graham. Ia bahkan meninggal dunia pada 21 Desember 1940 di apartemen Sheilah karena serangan jantung. Tujuh tahun tiga bulan kemudian Zelda Fitzegerald juga meninggal dunia menyusul suaminya saat rumah sakit jiwa tempatnya dirawat mengalami kebakaran. Ia tewas bersama delapan wanita lainnya di rumah sakit jiwa tersebut.

1. Francis Scott Fitzgerald
Terlahir dengan nama Francis Scott Key Fitzgerald pada 24 September 1896 di Saint Paul, Minnnesota dari pasangan kelas menengah imigran Irlandia - Katolik. Namanya diambil dari nama sepupu keduanya yang terkenal, Francis Scot Key yang tiga kali menggubah Lagu Kebangsaan. Fitzgerald diberi nama tersebut sebagai bentuk kebanggaan atas leluhur dari ayahnya. Nama Scott juga diambil dari nama kakak perempuannya, Louis Scott, satu dari dua kakak perempuannya yang meninggal tak lama sebelum kelahirannya.

Scott pernah menulis tentang kematian dua kakak perempuannya ini yang membuatnya menjadi seorang penulis, "Well, tiga bulan sebelum aku lahir, ibuku kehilangan dua orang anaknya.... Kurasa sejak itulah aku mulai menjadi penulis."

Meski sepupu keduanya memberi kebanggaan bagi keluarga besar Fitzgerald tak demikian halnya dengan seorang sepupu Scott lainnya, Mary Surratt yang dihukum gantung pada 1865 karena dianggap ikut dalam konspirasi pembunuhan Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln.

Edward Fitzgerald, ayah Scott semula merupakan pengusaha furnitur di St. Paul tapi setelah gagal ia pun beralih profesi sebagai salesman di Procter & Gamble di New York. Sedangkan nama ibu Scott adalah Mollie (McQuillan). Keduanya merupakan penganut Katolik.

Scott melewati sebagian besar fase pertama masa kecilnya di Buffalo, New York namun antara Januari 1901 dan September 1903, ia sempat tinggal di Syracuse, New York sebelum akhirnya kembali ke Bufallo, New York hingga tahun 1908.

Scott disekolahkan di sekolah Katolik, 1st Holy Angels Convent (1903-1904) yang terletak di Buffalo bagian Barat, kini sekolah tersebut sudah ditutup. Setelah itu Scott melanjutkan sekolahnya di Nardin Academy dari 1905-1908. Sejak sekolah, Scott sudah menunjukkan minatnya dalam dunia sastra.

Pada 1908 Edward, ayah Scott dipecat dari Procter & Gamble sehingga ia harus membawa keluarganya kembali ke Minnesota. Scott lantas melanjutkan pendidikan formalnya di St. Paul Academy di tanah kelahirannya, St. Paul dari 1908-1911. Di sini, tulisan pertamanya, sebuah cerita detektif dipajang di koran sekolahnya. Saat itu ia baru berumur tiga belas tahun.

Saat berumur 15 tahun, Scott disekolahkan ke sekolah Katolik bergengsi, Newman School, sebuah sekolah persiapan menuju universitas, di Hackensack, New Jersey. Di sini ia bertemu dengan Bapa Sigourney Fay yang menyadari bakat besar Scott dalam menulis dan mendorong Scott untuk mewujudkan ambisinya dalam dunia sastra.

Lulus dari Newman School, Scott memutuskan masuk Universitas Princeton untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penulis. Di sini ia bertemu dan kemudian bersahabat dengan Edmund Wilson (dari angkatan 1916) yang di kemudian hari menjadi penulis dan kritikus sastra. Setelah kematian Scott, Zelda mengirimkan novel Scott terakhir Scott yang belum selesai ditulis, The Love of the Last Tycoon pada Edmund Wilson untuk diedit dan menjadikan buku tersebut sebagai salah satu karya peninggalan F. Scott Fitzgerald. Selain Wilson, di Princeton ini, Scott juga bertemu dan berteman dengan John Peale Bishop (dari angkatan 1917 yang seangkatan dengan Scott). Di masa ini Scott mengasah bakatnya dengan menulis naskah dan lirik untuk drama musikal the Princeton Triangle Club. Ia juga menjadi kontributor di majalah humor Princeton Tiger dan Nassau Literary Magazine. 

Kegiatan menulisnya mempengaruhi nilai akademisnya dan membuatnya mendapat masa percobaan (academic probation). Pada 1917 Scott memilih drop out dari kuliahnya dan bergabung dalam angkatan bersenjata Amerika Serikat dan diangkat sebagai letnan dua di infanteri. Khawatir bilamana ia tewas dalam pertempuran, Scott bergegas menulis novel pertamanya, "The Romantic Egotist" dan mengirimkan novelnya ini ke perusahaan penerbitan Charles Scribner's Sons, sayang novelnya ditolak meski mendapat catatan atas keasliannya dan pujian ini yang mendorong Scott dalam berkarya di masa mendatang.

Pada Juni 1918 Scott dikirim ke Camp Sheridan, dekat Montgomery, Alabama. Di sinilah ia bertemu dan langsung jatuh cinta pada Zelda Sayre, putri dari hakim Pengadilan Tinggi Alabama.

2. Zelda Sayre
Zelda Sayre lahir pada 24 Juli 1900 di Montgomery, Alabama. Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Ibunya, Minerva Buckner "Minnie" Machen (1860-1958) menamainya Zelda dari nama dua tokoh cerita. Yang pertama cerita karangan Jane Howard "Zelda : A Tale of the Massachusetts Colony" (1866) dan yang kedua adalah karya dari Robert Edward Francillon "Zelda Fortune" (1874). Tokoh Zelda dalam kedua kisah tersebut merupakan seorang gipsi.

Sebagai anak bungsu, ia sangat dimanja ibunya namun ayahnya, Anthony Dickinson Sayre (1858-1930) - seorang hakim Pengadilan Tinggi Alabama dan pemimpin ahli hukum Alabama - adalah orang yang tegas dan disiplin.

Berbeda dengan latar belakang keluarga Scott yang berasal dari kelas menengah asal Irlandia, sementara leluhur Zelda merupakan pendatang pertama yang menetap di Long Island kemudian pindah ke Alabama sebelum Perang Sipil. Paman Zelda, John Tyler Morgan, merupakan anggota senat dan kakek dari pihak ayahnya, Willis Benson Machen adalah senator Amerika Serikat dari Kentucky.

Zelda memiliki satu kakak laki-laki, Anthony Dickinson Sayre, Jr., dan empat orang kakak perempuan. Saat kecil, Zelda sudah luar biasa aktif. Ia suka menari, ia berlatih balet dan menyukai kegiatan di luar ruangan. Ia sangat cemerlang namun tak tertarik dengan pelajaran-pelajarannya sementara kegiatan baletnya berlanjut hingga sekolah lanjutan atas. Sebagai remaja, Zelda terbilang cukup "liar" untuk anak gadis terutama di masa itu. Ia peminum, perokok, dan kerap menghabiskan seluruh waktunya bersama anak laki-laki. Kegiatan tari Zelda tak berkembang sementara gaya hidupnya yang lebih sering mendapat sorotan. Sebuah surat kabar pernah mengomentari salah satu penampilan tarinya dengan mengutip perkataannya sendiri bahwa ia hanya peduli pada "pria dan renang." Pernah ada rumor yang mengatakan bahwa ia pernah berenang tanpa mengenakan sehelai benang pun. Meski tingkah Zelda yang 'binal' merusak status sosialnya sebagai wanita dari daerah Selatan dan mengejutkan orang-orang di sekitarnya tapi reputasi ayahnya tetap aman. Gaya hidup hedonis Zelda agaknya terlihat jelas dari kalimat di bawah foto kelulusannya dari sekolah menengah tingkat atas: 
Mengapa kita harus bekerja, bila
kita bisa meminjam
mari pikirkan saja hari ini dan tak perlu
khawatirkan hari esok.

Suatu kali Zelda bertemu dengan tentara muda, letnan dua infanteri F. Scott Fitzgerald yang terpesona akan kecantikannya.

3. Pernikahan
Sebagai seorang gadis cantik dan populer, banyak pria yang tertarik pada Zelda Sayre dan persaingan ini membuat Scott lebih gigih untuk menaklukkan hati Zelda. Pada 7 September, Scott mencatat bahwa ia telah jatuh cinta. Pada siapa? Tentu saja pada putri bungsu hakim Anthony Dickinson Sayre.

Tiap hari Scott menelpon Zelda dan saat libur ia datang ke Montgomery untuk menemui Zelda. Pertemuan pertama mereka di stasiun kereta (belakangan Scott menggunakannya di "The Great Gatsby"). Scott mengatakan pada Zelda tentang rencananya untuk terkenal. Zelda yang telah memuja Scott memperlihatkan buku hariannya yang di kemudian hari diklaim Zelda hilang tak lama setelah pernikahan mereka tapi saat membaca novel-novel karya Scott, ia merasa tak asing dengan ceritanya karena Scott rupanya telah mengambil kisah-kisah dalam buku harian Zelda sebagai bahan novelnya.

Di sela-sela kisah romantikanya dengan Zelda terjalin, Scott sempat merevisi novelnya yang pernah ditolak penerbit dan berharap kali ini ia akan sukses, tak dinyana novel revisinya ini pun ditolak oleh Scribners untuk kali kedua. 

Perang berakhir pada 1918 tanpa sekalipun Scott sempat diterjunkan ke medan perang dan pada 14 Februari 1919 Scott dipecat dari militer, ia pergi ke New York mencoba mencari pekerjaan yang cukup bagus sehingga ia bisa menikahi Zelda. Ia mendapat pekerjaan di perusahaan advertising. Saat di New York ia tinggal di 200 Claremont Avenue.

Scott dan Zelda masih saling berkirim surat dan pada Maret 1920 Scott mengirim cincin ibunya untuk melamar Zelda. Namun hubungan mereka ini tak mendapat persetujuan baik dari keluarga maupun keluarga Zelda. Keluarga Zelda tak menyukai kebiasaan Scott menenggak minuman keras ditambah lagi mereka tak menyukai Scott karena beragama Katolik. 

Sementara itu usaha Scott untuk mendapat kesuksesan di bidang periklanan belum juga membuahkan hasil. Zelda merasa tak yakin bisa hidup dengan gaji Scott yang kecil sehingga ia memutuskan pertunangan mereka.

Setelah diputuskan Zelda, Scott kembali ke rumah orangtuanya di 599 Summit Avenue di St. Paul untuk merevisi novelnya, The Romantic Egoist dan mengubah judulnya menjadi This Side of Paradise yang berkisah tentang generasi pasca Perang Dunia Pertama. Kondisi finansial Scott yang parah saat itu membuatnya sampai mengambil pekerjaan memperbaiki mobil.

Bintang F. Scott Fitzgerald mulai bersinar. Novelnya kali ini diterima Scribner's pada musim gugur 1919. Merasa gembira, pada November, Scott langsung pergi ke Montgomery untuk mengabarkan hal ini pada Zelda. 

Setelah novel pertama Scott ini diterima oleh penerbit, Zelda menerima kembali lamaran Scott. Selagi This Side of Paradise belum diterbitkan, pada musim gugur sampai musim dingin 1919 Scott menulis beberapa cerita untuk majalah-majalah. Melalui agen Harold Ober di antara kegiatan menulis novel, ia juga menulis kisah-kisah fiksi populer yang menghasilkan banyak uang. Kebanyakan tulisan Fitzgerald ini dikirimkan ke The Saturday Evening Post hingga Scott dijuluki "Post Writer" - Penulis Post.

This Side of Paradise diterbitkan pada 26 Maret 1920. Dalam semalam Scott yang kala itu berumur dua puluh empat tahun menjadi selebriti baru. Zelda tiba di New York pada 30 Maret dan pada 3 April 1920 F. Scott Fitzgerald dan Zelda Sayre melangsungkan pernikahan mereka dalam sebuah pesta pernikahan sederhana di Katedral St. Patrick.

Kesuksesan This Side of Paradise membawa Scott dan Zelda menjadi selebritis New York. Pasangan Fitgerald ini menjalani hidup glamour. Mereka memilih tinggal di Baltimore Hotel dan Commodore Hotel. Tingkah mereka selalu saja menjadi pemberitaan salah satunya adalah aksi Zelda yang suatu kali pernah menceburkan diri ke air mancur di Union Square. Dorothy Parker pernah menceritakan saat pertama kali bertemu pasangan Fitzgerald ini, ia melihat mereka duduk di atas atap taxi. Tak ayal tingkah mereka ini selalu menjadi perbincangan. Meski begitu, kebebasan dan pancaran kemudaan yang mereka tampilkan, kehidupan yang tanpa beban membuat banyak orang ingin bertemu mereka. Meski kehidupan sosial mereka dipenuhi dengan alkohol namun koran-koran New York mentahbiskan Zelda dan Scott Fitzgerald sebagai ikon muda dan sukses dari generasi Jazz Age, generasi baru pasca Perang Dunia Pertama yang muncul pada 1920-an dan berakhir pada masa Great Depression - Depresi Berat-
yang melanda Amerika dan dunia akibat krisis ekonomi parah. Di masa Jazz Age ini musik jazz dan dansa menjadi populer. Jazz Age bukan hanya melanda Amerika Serikat saja tapi juga Inggris dan Perancis.

Pada Hari Valentine 1921, Scott tengah mengerjakan novel keduanya, The Beautiful and Damned saat Zelda mengetahui bahwa ia hamil. Mereka melakukan kunjungan pertama mereka ke Eropa sebelum akhirnya memutuskan tinggal di rumah keluarga Scott di St. Paul, Minnesota hingga bayi mereka lahir.

Bayi perempuan mereka lahir pada 26 Oktober 1921 dan diberi nama Frances "Scottie" Fitzgerald. Saat mengetahui bayinya perempuan, Zelda mengatakan, "Aku senang ia perempuan. Kuharap akan menjadi anak perempuan yang cantik dan bodoh - itu adalah hal terbaik bagi seorang gadis di dunia ini, cantik tapi sedikit bodoh." Kalimat Zelda ini digunakan oleh Scott dalam dialog tokohnya, Daisy Buchanan di The Great Gatsby saat melahirkan bayi perempuannya.

Zelda tak pernah tertarik dengan pekerjaan rumah tangga sehingga pasangan muda ini mempekerjakan seorang pengasuh anak untuk mengasuh putri semata wayang mereka. Mereka juga mempekerjakan dua orang pekerja untuk membersihkan rumah dan mencuci baju. 

Di awal 1922 Zelda lagi-lagi menyadari kalau ia mengandung anak keduanya tapi ia tak pernah melahirkan anak keduanya. Ini sehingga muncul dugaan ia telah menggugurkan kandungannya. Pada bulan Maret Scott mencatat dalam jurnalnya, "Zelda dan kegugurannya." Kejadian ini juga turut menjadi bagian dalam novel kedua Scott, The Beautiful and Damned di mana tokoh utama wanitanya, Gloria merasa yakin kalau ia tengah hamil kemudian tokoh prianya, Anthony menyarankannya untuk menggugurkan anaknya tersebut tapi kemudian bagian usulan Anthony ini dihapus karena pilihan aborsi ini akan merusak image dari Gloria, si tokoh wanita.

Sewaktu The Beautiful and Damned akan diterbitkan, Zelda diminta New York Tribune untuk memberikan review atas novel terbaru suaminya ini. Dalam kesempatan inilah meski dibalut dengan canda tapi Zelda menyatakan bahwa Scott telah mencuri buku hariannya dan menggunakannya sebagai materi untuk novelnya. 

Pernyataan ini menimbulkan perdebadatan di kalangan akademisi yang sampai pada kesimpulan bahwa Zelda merupakan kolaborator Scott secara de facto. Dari pernyataannya itu pula Zelda mendapat banyak tawaran dari majalah-majalah lain. Pada Juni, Zelda Fitzgerald menulis artikel "Eulogy On the Flapper" yang diterbitkan di Majalah Metropolitan. Nancy Milford, penulis biografi Zelda Fitzgerald menyatakan bahwa essai karya Zelda Fitzgerald itu merupakan suatu bentuk pertahanan Zelda terhadap eksistensinya sendiri.

Kegiatan tulis menulis Zelda terus berlanjut. Ia menulis beberapa artikel dan cerita pendek. Ia juga membantu Scott menulis naskah drama The Vegetable. 

Pada musim gugur 1922 kelurga kecil ini pindah ke Great Neck, Long Island agar lebih dekat dengan Broadway. Keuangan Fitzgerald mulai bermasalah. Mereka dililit banyak hutang. 

Meskipun Scott memiliki hasrat besar dalam menulis novel, pada kenyataannya hanya novel pertamanya saja yang terbilang sukses tapi seiring waktu dengan gaya hidup mewah pasangan Fitzgerald ini sebagai selebriti tentu saja keadaan finansial mereka kian memburuk. Scott sampai meminjam uang pada agennya, Harold Ober dan editornya di Scribner, Maxwell Perkins. Ketika Ober memutuskan tak lagi mau memberi bantuan finasial untuknya, Scott memutuskan hubungan dengan agennya sekaligus teman lamanya ini. Tapi belakangan Scott dengan sepenuh hati meminta maaf dengan menulis sebuah cerita pendek berjudul "Financing Finnegan".

Scott mencoba menulis beberapa cerita pendek untuk memberesi tagihan-tagihannya tapi karya-karyanya tak terlalu berhasil. Sebuah karya satir politik tulisannya yang berjudul "From President to Postman" gagal. Sementara dalam tekanan seperti ini kecanduan Scott akan alkohol semakin meningkat. 

4. Kehidupan di Paris
Dalam keadaan tertekan atas beban finansialnya, pasangan Fitzgerald ini memutuskan pergi ke Paris pada 1924.

Perubahan suasana ini memberikan inspirasi baru bagi Scott untuk menulis. Ia bersiap menulis novel terbarunya yang pada akhirnya menjadi novel terbaiknya, The Great Gatsby. 

Paris merupakan fase paling berpengaruh dalam perkembangan Fitzgerald. Setiba di Paris mereka tinggal di French Riviera. Selagi Scott tengah menulis The Great Gatsby, istrinya, Zelda bertemu dan memiliki hubungan dekat dengan pria lain. Seorang pilot muda asal Perancis, Edouard Jozan. Keduanya sering menghabiskan waktu petang mereka dengan berenang di pantai dan malamnya berdansa di kasino. 

Enam minggu kemudian, Zelda meminta cerai dari Scott. Tentu saja hal ini menerbitkan amarah Scott, ia mengunci Zelda di rumah mereka sampai Zelda melupakan permintaan cerainya. Sementara itu Jozan sama sekali tak tahu kalau Zelda telah meminta cerai dari Scott. Tak lama kemudian Jozan meninggalkan Riviera dan tak pernah lagi bertemu dengan pasangan Fitzgerald ini. 

Belakangan pada Jozan mengatakan pada Milford, penulis biografi Zelda, "Mereka berdua sama-sama membutuhkan drama, mereka menciptakan drama itu dan sebisanya mereka menjadikan diri mereka sebagai korban dalam imajinasi mereka yang tak jelas dan tak sehat itu." 

Dalam "A Life In Letters" terdapat surat Scott kepada Ludlow Fowler yang menyinggung insiden Jozan ini. Ia mengatakan ilusinya yang hilang dalam The Great Gatsby sebagai kehilangan akan keyakinannya pada Zelda, buku tersebut melukiskan aspek penting dalam dramatisasi akan cintanya dan Zelda, hubungan dan perpecahan mereka, pemulihan keadaan finansial dan akhirnya penghianatan dalam insiden Jozan. "Aku merasa sudah tua juga, musim panas ini... terbebani oleh novel ini - hilangnya ilusi-ilusi seolah memberikan beberapa warna pada dunia dan kau tak lagi peduli apa yang benar dan mana yang salah selama mereka berperan dalam menciptakan keajaiban." 

Setelah pertengkaran itu pasangan ini tetap bisa tampil di hadapan kawan-kawannya dan terlihat bahagia. Namun di bulan September, Zelda mengalami overdosis obat tidur. Pasangan ini tak pernah membicarakan insiden ini dan menolak membahas soal apakah overdosis itu adalah upaya Zelda bunuh diri atau bukan. Scott memilih untuk berkonsentrasi pada novelnya dan akhirnya pada Oktober ia berhasil menyelesaikan The Great Gatsby. Tapi kegetiran Scott terlihat dalam untaian kalimat di buku catatannya, "September 1924 itu, aku tahu sesuatu telah terjadi dan takkan pernah bisa diperbaiki." 

The Great Gatsby masih berupa draft saat insiden Josan bulan Juli 1924 itu, ketikannya baru diserahkan ke Scribner's pada akhir Oktober.

Mereka berusaha memperbaiki hubungan mereka sekaligus merayakan selesainya novel The Great Gatsby ini dengan melakukan wisata ke Roma dan Capri tapi nyatanya mereka tetap tak bisa menemukan kebahagiaan itu malahan Zelda terserang colitis dan pada saat sakit inilah Zelda mulai melukis.

Sekembalinya ke Paris, mereka berkenalan dengan penulis muda berbakat, Ernest Hemingway. Lewat Hemingway-lah pasangan Fitzgerald ini bisa bertemu dan berkenalan dengan komunitas ekspatriat dari Amerika di Paris seperti Gertrude Stein, Alice B. Toklas, Robert McAlmon dan yang lainnya. Scott masuk dalam kelompok Lost Generations, istilah yang dipopulerkan Gertrude Stein bagi anak-anak muda pasca Perang Dunia Pertama. Selain Scott ada beberapa nama seniman besar lain dalam jajaran Lost Generations ini di antaranya Ernest Hemingway dan T.S. Eliot.

Hubungan Scott dan Hemingway sangat dekat dan mereka menjadi teman akrab tapi tidak demikian halnya dengan Zelda. Sejak pertemuan pertama baik Zelda maupun Hemingway saling tak menyukai satu sama lain. Secara terang-terangan Zelda meledek penampilan Hemingway dan menyebut Hemingway "sok" dan sebaliknya Hemingway bahkan mengatakan pada Scott bahwa istrinya ini gila. Tapi agaknya Scott tak bisa membantah pendapat Hemingway atas istrinya karena Zelda tanpa malu mengisahkan cerita perselingkuhannya dengan Jozan pada Hemingway dan istrinya Hadley. Namun mengenai akhir dari kisah perselingkuhannya dengan Jozan ini baik Scott maupun Zelda tak menceritakan secara sejujurnya. Mereka mengatakan bahwa affair tersebut berakhir ketika Jozan memutuskan bunuh diri padahal kenyataannya Zelda-lah yang berusaha bunuh diri hingga overdosis obat tidur.

Keakraban Scott dengan Hemingway membuat Zelda meledek Scott dan mengatakan Scott seorang homoseksual dan memiliki hubungan sejenis dengan Hemingway. Untuk membuktikan kejantanannya bahwa orientasi seksualnya masih normal, Scott tidur dengan seorang PSK dan Zelda menemukan kondom yang dibeli Scott dan membuat Zelda cemburu. Tambahan lagi di suatu pesta Scott mengacuhkannya dan terlihat sangat akrab berbincang dengan Isadora Duncan, penari jenius yang terkenal tak suka mengenakan alas kaki saat menari, dibakar cemburu, Zelda nekad menjatuhkan dirinya sendiri dari atas tangga saat pesta itu.

4. Zelda dan Schizophrenia
Kesuksesan Scott sebagai penulis menerbitkan perasaan dalam diri Zelda untuk menunjukkan eksistensinya. Dalam usia 27 tahun Zelda mulai terobsesi dengan balet, tarian yang sebenarnya sudah cukup akrab dengannya karena ia sudah belajar balet sejak kecil dan ia pernah mendapat pujian atas bakat menarinya ini saat masih kecil tapi sayangnya Scott tak mendukung hasrat istrinya menjadi penari profesional dan menganggapnya buang-buang waktu saja.

Nyatanya memang dengan usia Zelda yang 27 tahun ini terbilang terlambat untuk secara total terjun sebagai penari profesional, namun Zelda yang sudah terobsesi tak mau undur dan setiap hari berlatih secara ekstrem. Ia berlatih tari delapan jam setiap hari yang mengakibatkan kelelahan secara fisik dan psikis. 

Impian Zelda menjadi penari profesional nyaris terwujud pada September 1929 kala ia diundang untuk bergabung dengan sekolah balet San Carlo Opera Ballet Company di Naples tapi justru saat impiannya ini sudah di depan mata, Zelda justru merasa gamang dan menolak tawaran ini. 

Pada 1930 Zelda masuk sanatorium di Perancis setelah selama sebulan menjalani observasi, pengobatan dan konsultasi dengan salah satu psikiater terkemuka di Eropa, Dokter Eugen Bleuler yang kemudian mendiagnosa Zelda menderita skizophrenia yang mana penderitanya kerap mengalami gangguan halusinasi dan delusi. Karena menolak dirawat di rumah sakit di luar Paris, maka Zelda akhirnya dipindahkan ke sebuah klinik di Montreux, Swiss. Namun kemudian Zelda dipindah lagi ke sebuah panti rehabilitasi jiwa di Prangins di tepi Danau Geneva. Pada September 1931 Zelda keluar dari panti rehabilitasi ini dan bersama Scott pulang ke Montgomery, Alabama karena ayahnya, Hakim Sayre tengah sekarat. Scott mengumumkan bahwa ia akan pergi ke Hollywood dan mertuanya itu meninggal dunia saat Scott sudah pergi ke Hollywood. Sepeninggal ayahnya, kejiwaan Zelda kembali terganggu, ia pun kembali harus masuk ke klinik rehabilitasi mental.

Pada 1932 Zelda dirawat di klinik Phipps di Rumah Sakit John Hopkins di Baltimore. Selagi dirawat kreativitas Zelda malah berkembang. Pada enam minggu pertamanya di klinik, dia menulis novel pertama sekaligus terakhirnya, Save Me the Waltz dan mengirimkannya ke Maxwell Perkins, editor di Scribner's, penerbit yang biasa menerbitkan novel-novel Scott.

Saat Scott membaca naskah novel Zelda, ia amat murka. Save Me the Waltz merupakan semi autobiografi yang mengisahkan kehidupan rumah tangga Fitzgerald. Save Me the Waltz mengisahkan seorang putri hakim dari daerah Selatan, seperti Zelda, yang bernama Alabama Beggs yang menikah dengan David Knight, seorang pelukis terkenal. Pasangan ini tinggal di Connecticut dan kemudian tinggal di Perancis, seperti yang terjadi pada Scott dan Zelda Fitzgerald. Namun seperti Zelda, tokoh wanita dalam novelnya ini, Alabama Beggs melarikan kekecewaannya terhadap pernikahannya ke balet. Meski ia dikatakan tak memiliki peluang tapi ia terus berlatih keras hingga akhirnya tiga tahun kemudian ia berhasil menjadi penari utama di perusahaan opera. Tapi Alabama jatuh sakit karena kelelahan. Kisah dalam novel ini ditutup dengan kembalinya pasangan ini ke keluarga sang tokoh utama wanita di daerah Selatan karena ayah si wanita tengah sekarat. Novel ini menggambarkan perjuangan
Alabama seperti juga yang dirasakan Zelda yang berusaha menunjukkan eksistensinya demi mendapatkan respek dari suaminya.

Membaca novel istrinya ini, Scott berang dan menganggap Zelda mencuri materi untuk novel terbarunya, Tender Is the Night yang rupanya juga mengambil kisah pernikahan mereka dan kehidupan mereka saat di Perancis. Scott lalu memaksa Zelda merevisi beberapa bagian dalam novelnya. Ia juga meyakinkan para dokter di klinik kejiwaan tempat istrinya dirawat agar tak lagi menulis apapun termasuk mengenai hubungan mereka yang disebut Scott sebagai "materi"-nya.

Tender Is the Night sendiri baru diterbitkan pada 1934. Keberhasilan The Great Gatsby membuat ekspektasi yang dibebankan pada Scott untuk novel berikutnya sangatlah besar. Karenanya Tender Is the Night memunculkan perhatian besar. Opini terhadap novel terbaru Scott ini campur baur, namun banyak yang menganggap novel Scott kali ini tak sesuai dengan harapan mereka. 

Tender Is the Night yang mengambil setting cerita di Perancis tahun 1920-an ini berkisah tentang Dick Diver, psikiatri brilian Amerika yang menikah dengan pasien gangguan mental yang kaya raya. Penjualan novel ini tak sebaik seperti yang diharapkan. Meski tema dan latar kisah novel karya Scott dan Zelda ini bisa dibilang serupa karena memang mengisahkan pernikahan dan kehidupan mereka saat di Paris namun gaya bahasa Zelda dinilai tak seperti Scott. Gaya menulis Zelda dipenuhi kata-kata yang berbunga-bunga dan metafora yang kompleks. Save Me the Waltz juga dinilai lebih sensual menurut pengamat sastra, Jacqueline Tavernier - Courbin. Sama seperti Tender Is the Night karya Scott, novel Zelda ini pun penjualannya tak terlalu menggembirakan. Cemoohan Scott yang menuduhnya melakukan plagiat dan menganggapnya sebagai "penulis kelas tiga" membuyarkan semangatnya. Save Me the Waltz menjadi satu-satunya novel karya Zelda. Menjelang ajalnya Zelda sempat menulis sebuah novel lain tapi tak sempat diselesaikannya. 

Meski Zelda tak pernah lagi menulis tapi ia aktif melukis. Sepanjang pertengahan tahun 1930-an, Zelda menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit jiwa. Selama itu pula ia rajin melukis dan pada 1934 lukisannya dipamerkan. Namun dalam buku tamu, Zelda mengungkapkan kekecewaannya atas respon yang diterimanya terhadap karya seninya. The New Yorker bahkan menggambarkan lukisan-lukisannya itu hanya merupakan sisa-sisa dari apa yang disebut Jazz Age. 

Pada 1936 kejiwaan Zelda semakin buruk. Scott lalu memindahkannya ke Highland Hospital di Asheville, Carolina Utara. Sementara Scott kembali ke Hollywood. Ia mendapat kontrak dari perusahaan film televisi MGM sebesar seribu dollar seminggu, nilai yang amat fantastis pada masa itu. Di masa inilah, tanpa sepengetahuan istrinya, Scott menjalin affair dengan kolumnis gosip di Hollywood, Sheilah Graham. 

Sekali waktu Scott pernah bertengkar dengan Sheilah pada 1938. Scott lantas pergi ke Asheville menemui istrinya. Semula Zelda bersama grupnya di rumah sakit berencana pergi ke Kuba tapi Zelda ketinggalan. Akhirnya Scott dan Zelda memutuskan pergi ke sana sendiri. Tapi ternyata perjalanan itu menjadi malapetaka. Sejak itu Scott tak pernah lagi menemui Zelda hingga akhir hayat mereka. Kemarahannya pada Zelda bertambah saat putri semata wayang mereka, Scottie dikeluarkan dari sekolah asramanya pada 1938 dan Scott menyalahkan Zelda untuk hal ini. Belakangan Scottie akhirnya diasuh keluarga Ober, agen dari Scott namun Scott tetap menjalankan fungsinya sebagai ayah melalui surat dan berusaha tetap memperhatikan pendidikan Scottie tambahan pula nama besar Scott tetap berguna untuk nilai sosial putrinya.

5. Kematian
Pada 1939 MGM mengakhiri kontraknya dengan Scott. Lepas dari MGM, Scott tetap menulis skenario dan menjadi penulis lepas. Ia mendapat banyak uang saat masih bekerja untuk MGM yang memungkinkannya melunasi hutang-hutangnya namun karena masa depresi hebat yang melanda saat itu, Scott tetap tak bisa menabung. 

Sementara itu Scott yang sudah menjadi pecandu alkohol sejak masih sekolah ini makin dalam tenggelam dalam kecanduannya terhadap alkohol. Akibat kebiasaannya menenggak minuman ini menimbulkan masalah kesehatan bagi Scott sejak akhir 1930-an. Scott menderita tuberkulosis yang menurut Arthur Mizener, penulis biografinya, Scott terserang tuberkulosis ringan pada 1919 dan 1929. Namun yang merenggut nyawa Scott bukanlah penyakit ini.

Di akhir 1930-an Scott sempat dua kali mendapat serangan jantung. Serangan pertama dialaminya saat di Toko Minuman Keras Schwab. Dan serangan jantung keduanya adalah di malam 20 Desember 1940, saat itu ia dan Sheilah Graham tengah menghadiri pementasan perdana This Thing Called Love yang dibintangi Rosalind Russell dan Melvyn Douglas. 

Sehari kemudian, pada 21 Desember 1940 Scott kembali terkena serangan jantung yang kali ini merenggut nyawanya. Ia tewas di apartemen kekasihnya, Sheilah Graham.

Pemakamannya dihadiri sekitar 20-30 orang. Salah seorang pelayat, Dorothy Parker di antara isakannya menggumamkan kalimat yang dikutipnya dari novel laris Scott, The Great Gatsby. Putri semata wayangnya, Frances "Scottie" Fitzgerald Lanahan Smith yang saat itu berusia 19 tahun dan editornya, Maxwell Perkins turut menghadiri pemakamannya. Sementara istrinya, Zelda Fitzgerald tidak menghadiri pemakamannya di Rockville, Maryland. 

Zelda sebenarnya telah keluar dari Ashville pada Maret 1940 setelah tak ada perkembangan selama dirawat. Saat itu usianya sudah 40 tahun. Namun ia tidak kembali pada Scott yang saat itu masih hidup bersama kekasihnya, Sheilah Graham. Meski begitu mereka masih rajin saling berkirim surat sampai Scott meninggal karena serangan jantung pada 21 Desember 1940. 

Sebelum wafat, Scott tengah mengerjakan novel terakhirnya, The Love of the Last Tycoon. Setelah Zelda membaca manuskrip pekerjaan suaminya yang belum selesai ini, ia menulis surat ke kritikus sastra, Edmund Wilson, yang pernah menjadi kawan Scott saat kuliah di Princeton. Wilson setuju mengedit karya terakhir F. Scott Fitzgerald ini.

Usai membaca novel terakhir suaminya yang belum usai itu, Zelda pun memutuskan mulai menulis lagi. Ia menulis novel barunya yang diberinya judul "Caesar's Things." Pada Agustus 1943 ia kembali harus masuk ke Highland Hospital, Ashville, namun ia masih tetap mengerjakan novelnya selama dirawat. Seperti ia tak bisa menghadiri pemakaman Scott, ia juga tak bisa menghadiri pernikahan putrinya, Scottie.

Suatu malam pada 10 Maret 1948 terjadi kebakaran di rumah sakit tempat Zelda dirawat. Api berkobar dari dapur rumah sakit dan dengan cepat menyebar hingga melalap sayap utama rumah sakit. Sembilan orang wanita tewas dalam kebakaran ini termasuk di antaranya Zelda Fitzgerald yang terkunci dalam sebuah ruangan, tengah menanti terapi kejut listrik.

Seperti suaminya, novel terakhir Zelda pun tak berhasil dirampungkan karena maut keburu menjemputnya. Novel terakhir Zelda ini tak pernah dipublikasikan.

Scott dan Zelda Fitzgerald dimakamkan di Rockville, Maryland. Sebenarnya makam mereka tidak di komplek pemakaman keluarganya, namun berkat usaha putri mereka, Scottie yang berhasil membujuk keluarga besar ayahnya, maka mereka akhirnya bisa juga dikuburkan bersama keluarga Fitgerald lainnya di Pemakaman Katolik Santa Maria. Pada batu nisan mereka terdapat kalimat terakhir dari The Great Gatsby: "So we beat on, boats against the current, borne back ceaselessly into the past." 

Usai kematian kedua orangtuanya, Scottie, putri semata wayang mereka dengan bijak tak ingin menyalahkan satu pun dari kedua orang tuanya. Ia tak sependapat bila dikatakan kecanduan ayahnya terhadap alkohol-lah yang menyebabkan ibunya sampai harus masuk ke rumah sakit jiwa. Begitu pun, ia tak setuju bila dikatakan ibunya-lah yang telah membuat ayahnya kecanduan alkohol.

Sejak 1939 hingga akhir hayatnya di 1940, Scott menulis cerita dan mengolok-olok dirinya sendiri melalui karakter ciptaannya, Pat Hobby. Sebanyak tujuh belas cerita pendeknya lalu dijadikan satu dan diterbitkan dengan judul "Kisah-kisah Pat Hobby", kumpulan cerita pendeknya ini menuai banyak komentar positif. Kisah-kisah Pat Hobby lalu ditampilkan dalam majalah The Esquire sejak Januari 1940 hingga Juli 1944 walau sang penulisnya telah tiada.

Di saat-saat akhir hidupnya, Scott merasa kecewa dengan hidupnya. Ia merasa telah melakukan banyak kesalahan. Rasa frustasinya semakin dalam saat melihat karir menulis sahabatnya, Ernest Hemingway melesat. Scott wafat dengan membawa rasa kekecewaannya itu tapi tak lama usai kematian dirinya dan istrinya, Zelda, keingintahuan publik terhadap pasangan Fitzgerald ini meningkat. F. Scott Fitzgerald disejajarkan dengan deretan penulis-penulis berbakat dan terkenal dari Amerika. Bahkan novelnya, The Great Gatsby dinobatkan sebagai salah satu dari karya sastra klasik Amerika dan pada abad ke-21 novel ini sudah dicetak jutaan kali dan menjadikan The Great Gatsby sebagai novelnya yang paling laris. The Great Gatsby bahkan menjadi bacaan wajib di banyak Sekolah Menengah Atas. Saat The Great Gatsby diterbitkan pertama kali, T.S. Eliot, sastrawan asal Amerika yang hijrah ke Inggris bahkan sampai memuji dan menulis surat untuk Scott. Novel ini juga telah berkali-kali pula diadaptasi ke dalam film dan yang terbaru adalah film The Great Gatsby besutan Baz Luhrmann dengan pemeran utamanya, Leonardo di Caprio sebagai Jay Gatsby di mana film ini menjadi film pembuka di Festival Film Cannes pada 15 Mei 2013 yang lalu.

New York Times dalam editorialnya usai kematian Scott menuliskan pujian atas F. Scott Fitzgerald dan menyatakan F. Scott Fitzgerald jauh lebih baik dari yang diketahuinya seraya menambahkan betapa lewat karyanya ia telah mempengaruhi sebuah generasi. Scott bahkan dinilai telah menginterpretasi dan memandu generasi tersebut.

Adapun Zelda Fitzgerald, setelah buku biografinya karya Nancy Milford diterbitkan banyak yang memandang bahwa Zelda Fitzgerald berperan serta dalam karir kepenulisan suaminya. Bahkan tindakan arogansi suaminya yang mengontrol karir menulisnya, membuat Zelda Fitzgerald pada 1970-an sebagai ikon pergerakan wanita yang mendobrak tekanan dari budaya patriarki.

Walau Zelda mengalami gangguan jiwa namun Zelda dianggap sebagai seniman multi talenta. Ia dikenal sebagai penari, penulis dan pelukis. Banyak lukisan-lukisan yang dihasilkannya saat ia dirawat di klinik rehabilitasi mental dan lukisan-lukisan ini pada 1950-1960-an dikubur oleh ibunya karena tak menyukainya dan menganggapnya sebagai aib bagi keluarga mereka. Tapi belakangan para peneliti seni mulai mengumpulkan karya-karya seni Zelda Fitzgerald dan bahkan lukisan-lukisannya ini dipamerkan di Amerika Serikat dan Eropa.

Pada 1989 dibuka museum F. Scott dan Zelda Fitzgeraled di Montgomery, Alabama. Museum ini adalah rumah yang mereka sewa pada 1931-1932. Museum ini merupakan salah satu dari sedikit tempat yang menyimpan lukisan-lukisan Zelda.

Nama Zelda juga diabadikan sebagai nama jalan di tanah kelahirannya, Montgomery, Alabama. Jalan tersebut bernama Zelda Road.

Selasa, 30 April 2013

T.S. Eliot = Keabadian Dalam Butir- butir Kata

Thomas Stearns Eliot atau T.S. Eliot merupakan tokoh kesusastraan dunia asal Amerika namun kemudian ia hijrah dan menjadi warga negara Inggris. Ia membawa tingkatan baru dalam dunia puisi. Salah satu puisi terbaiknya, Four Quartets mengantarkannya sebagai peraih hadiah Nobel bidang sastra pada tahun 1948. Di tahun yang sama ia juga mendapat gelar kehormatan, Order of Merit yang dianugrahkan langsung oleh Raja George VI dari Kerajaan Inggris Raya.

Selain menulis puisi, Eliot juga piawai menulis naskah drama. Salah satu naskah dramanya, The Cocktail Party mendapat penghargaan Tony Award pada 1950.

Puisi-puisi Eliot terbilang sebagai puisi yang sulit namun memiliki makna yang dalam. Bahkan puisi-puisinya menjadi bahan perdebatan hingga kini.

Kehidupan pribadi Eliot sendiri bisa dibilang serumit puisi-puisinya. Ia terlahir dari pasangan imigran Inggris di Amerika Serikat. Ia tumbuh besar di Amerika Serikat tapi rupanya dalam hatinya tetap melekat rasa cinta pada tanah leluhurnya.

Ia menempuh pendidikan di beberapa universitas ternama dunia. Harvard, Sorbonne, dan Merton College, Oxford merupakan universitas-universitas tempat ia menyelesaikan pendidikannya di bidang filosofi.

Rasa cintanya pada Inggris membuatnya memilih untuk menetap di tanah leluhurnya ini dimulai saat ia kuliah di Merton College, Oxford tapi ia tak menyukai kehidupannya di Oxford.

Ia jatuh cinta pada wanita Inggris yang membuatnya makin mantap memilih Inggris sebagai negara barunya tapi sedihnya pernikahannya tidak bahagia. Istrinya selingkuh, ia lalu meninggalkan istrinya dan kembali ke Amerika tapi ia akhirnya kembali ke Inggris. Ia dan istrinya tak pernah bercerai meski mereka hidup terpisah. Setelah istrinya meninggal, ia menikah lagi dengan bekas sekretarisnya yang berumur 30 tahun sementara usianya sendiri saat itu sudah 68 tahun. Tapi pernikahannya kali ini lebih baik dari yang pertama meski ia tak memiliki anak dari dua pernikahannya tersebut.

Sementara perjalanan karirnya pun terbilang unik. Ia memang seorang penulis puisi berbakat. Piawai pula dalam menulis naskah drama. Ia juga pernah menjadi direktur sebuah perusahaan penerbitan. Dalam catatan karirnya ia pernah menjadi kepala sekolah dan bahkan pernah pula menjadi pegawai bank.

Kejeniusan Eliot dalam merangkai kata bukan sekadar bentuk kecintaannya pada bahasa, tapi ia mampu menantang nalar dan alam pikirnya membentuk sebuah karya yang penuh kompleksitas bahasa.

1. Masa Kecil dan Pendidikan

Thomas Stearns Eliot lahir pada 26 September 1888 di St. Louis, Missouri. Ia berasal dari keluarga kelas menengah asal New England tapi kemudian pindah ke St. Louis, Missouri. Ayah Eliot, Henry Ware Eliot (1843-1929) adalah seorang pengusaha sukses di St. Louis sedangkan ibunya, Charlotte Champe Stearns (1843-1929) merupakan seorang penulis puisi dan pekerja sosial, yang pada awal abad 20 merupakan sebuah profesi baru. Saat melahirkan Thomas Eliot, kedua orang tuanya sudah berusia 44 tahun dan Eliot merupakan anak terakhir mereka dari enam anak mereka yang berhasil tetap hidup. Itu sebabnya jarak usia Thomas Eliot dengan kakak-kakaknya terpaut jauh. Ia memiliki empat orang kakak perempuan yang usianya dengan mereka terpaut antara sebelas dan sembilan belas tahun. Sementara satu-satunya kakak lelakinya delapan tahun lebih tua darinya. Keluarga dan teman-temannya kerap memanggilnya dengan nama Tom. Namanya diambil dari nama kakeknya dari pihak ibu, Thomas Stearns.

Ada dua faktor yang diperkirakan mempengaruhinya dalam dunia kesusastraan. Faktor yang pertama adalah kondisi fisik Eliot yang terbilang lemah. Ia menderita penyakit hernia yang membuatnya tak bisa melakukan aktifitas fisik sehingga membuatnya terasing secara sosial dari teman-teman sebayanya. Kondisi keterasingannya inilah yang menumbuhkan kecintaannya pada dunia kesusastraan. Kabarnya begitu ia mulai belajar membaca, ia langsung terobsesi dengan buku dan terpesona oleh kisah-kisah fiksi seperti The Wild West atau cerita legendaris Tom Sawyer karya Mark Twain yang terkenal itu. Dalam memoar T.S. Eliot, seorang teman Eliot, Robert Sencourt mengatakan bahwa Eliot muda "kerap duduk melingkar di tepi jendela sambil membaca buku memberinya impian yang bagaikan obat baginya melawan rasa sakit terhadap hidupnya."

Faktor kedua Eliot menyebut kota tempatnya lahir dan tumbuh besar sangat berperan dalam memberika visi bagi karir kepenulisannya. "Pengaruh St. Louis bagiku lebih dalam dibanding lingkungan manapun yang pernah kutinggali. Bagiku pasti ada pengalaman berbeda yang dialami seorang anak yang tinggal di dekat sungai besar dengan yang tidak. Aku sendiri menyadari betapa beruntungnya aku lahir di sini dan bukannya di Boston, New York atau London," demikian ungkapan Eliot. Dari sini bisa terlihat betapa masa kecil Eliot memainkan peranan dalam karir kesusastraan Eliot dan kedua faktor tersebut, kondisi tubuhnya saat kecil juga lokasi tempatnya tumbuh besar sangat mempengaruhinya.

Pada tahun 1898 hingga 1905 Eliot masuk Smith Academy, di sini ia belajar berbagai bahasa di antaranya Latin, Yunani Kuno, Perancis, dan Jerman. Ia mulai menulis puisi saat berumur empat belas tahun di bawah pengaruh Rubaiyat of Omar Khayyam karya Edward Fitzgerald, sebuah terjemahan atas puisi karya Omar. Khayyam. Namun Eliot kemudian merasa puisi-puisinya itu terlalu menyedihkan sehingga ia menghancurkan puisi-puisinya tersebut.

Tahun 1905 agaknya merupakan awal dari sejarah karir menulisnya. Di tahun ini puisi-puisi dan cerita pendek karyanya mulai dipublikasikan. Puisi pertamanya yang dipublikasikan adalah "A Fable For Feasters" oleh Smith Academy Record pada Februari 1905. Puisi ini ditulisnya sebagai tugas sekolah. Puisinya yang paling tua yang masih berupa manuskrip dan tak memiliki judul kembali dipublikasikan oleh Smith Academy Record pada April 1905 tapi kemudian puisi ini direvisi dan diberi judul "Song" diterbitkan ulang di The Harvard Advocate, majalah mahasiswa Universitas Harvard. Selain puisi ada pula tiga cerita pendeknya yang dipublikasikan pada tahun 1905 yaitu: "Birds of Prey", "A Tale of a Whale", dan "The Man Who Was King". Yang disebut terakhir itu merupakan hasil eksplorasinya terhadap Kampung Igorot saat mengunjungi World's Fair of St. Louis tahun 1904.

Setelah lulus Eliot masuk Milton Academy di Massachusetts dan di sini ia bertemu Scofield Thayer yang di kemudian hari menerbitkan salah satu puisi terkenalnya, The Waste Land. Thayer pula yang di kemudian hari memperkenalkan Eliot dengan Vivienne Haigh-Wood yang kelak menjadi istri pertama Eliot.

Usai itu Eliot belajar filosofi di Harvard College dari tahun 1906-1909 dan mendapatkan gelar sarjananya hanya dalam waktu tiga tahun padahal umumnya membutuhkan waktu empat tahun.
Harvard memiliki banyak peranan dalam sejarah kehidupan Eliot. Walau ia sempat melanglang buana mendalami ilmu filosofi tapi berkali-kali ia kembali ke Harvard baik sebagai mahasiswa atau sebagai pengajar. Saat ia sudah menjadi warga negara Inggris pun ia sempat mendapat panggilan dan kembali ke Harvard sebagai pengajar. Beberapa puisinya juga sempat dipublikasikan dalam The Harvard Advocate.

Ia sempat menjadi asisten filosofi di Harvard selama setahun yaitu pada 1909-1910. Usai itu ia pergi ke Paris dan belajar filosofi di Sorbonne dari 1910-1911. Di sini ia mendapat kuliah dari Henry Bergson dan ia membaca puisi bersama Alain-Fournier.

Setelah setahun di Sorbonne, Eliot kembali ke Harvard pada 1911 untuk mempelajari filosofi India dan Sansekerta selama tiga tahun sejak 1911 sampai 1914.

Pada 1914 Eliot mendapat beasiswa di Merton College, Oxford. Ia sempat mengunjungi Margburg, Jerman dan berencana mengambil program musim panas tapi niatnya batal karena terjadi Perang Dunia Pertama sehingga ia kembali ke Oxford. Pada masa itu banyak mahasiswa Amerika yang kuliah di Oxford.

Eliot tak terlalu menyukai kehidupannya di Oxford, hal ini diungkapkannya dalam suratnya kepada Conrad Aiken, novelis Amerika yang dikenalnya saat kuliah di Harvard.

Setelah meninggalkan Oxford, Eliot lebih banyak menghabiskan waktunya di London. Di sinilah Eliot berkenalan dengan Ezra Pound yang membantu Eliot pada masa awal karirnya dengan mempromosikan Eliot di acara-acara sosial dan pertemuan sastra.
Eliot sangat menikmati kehidupannya di London dan selama berada di Inggris, Eliot sebisa mungkin menghindari Oxford.

2. Pernikahan dan Kewarganegaraan Inggris

Eliot akhirnya meninggalkan Merton dan pada tahun 1915 ia mengajar sastra di Birkbeck, Universitas London.

Pada April 1915 Eliot berkenalan dengan seorang guru privat wanita bernama Viviene Haigh-Wood. Tak lama dari perkenalan ini, mereka melangsungkan pernikahan mereka di Kantor Catatan Sipil Hampstead pada 26 Juni 1915.

Pasangan pengantin baru ini tinggal di flat seorang filosofer bernama Bertrand Russell. Muncul rumor bahwa Russel tertarik pada Vivienne dan mereka terlibat affair tapi kebenaran dari berita ini tak pernah diketahui.

Pernikahan Eliot dan Vivienne ternyata tak bahagia salah satunya adalah karena masalah kesehatan Vivienne. Dalam suratnya kepada Ezra Pound, Vivienne memberitahu beberapa gejala penyakitnya antara lain: temperaturnya tinggi, kelelahan, insomnia, dan migrain. Hubungan mereka makin renggang terlebih Vivienne kerap dikirim jauh oleh Eliot dan dokternya dengan harapan kesehatannya akan membaik, dan selama itu Eliot makin menjauh dari istrinya. Hubungan mereka ini menjadi dasar dari drama tahun 1984 berjudul Tom and Viv dan pada 1994 drama ini diangkat menjadi sebuah film.

Pada 1916 Eliot menyelesaikan disertasi doktoralnya, Knowledge and Experience in the Philosophy of F.H. Bradley, di Harvard tapi sayangnya disertasinya gagal mendapat hasil yang mengesankan. Eliot pergi ke Amerika Serikat seorang diri tanpa membawa Vivenne, dan setelah kunjungan singkatnya ke Amerika sekaligus menjenguk keluarganya, Eliot kembali ke London dan mengajar di Birkbeck College, Universitas London.

Pernikahannya yang tak bahagia ini lalu mendasari puisi Eliot yang kemudian sangat terkenal berjudul The Waste Land. Hal ini diungkapkan Eliot saat berumur enam puluhan. Ia mengatakan, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mencintai Vivienne karena ia berharap dengan begitu ia jadi memiliki alasan kuat untuk tetap bertahan di Inggris. Dan ternyata Vivienne atas pengaruh Ezra Pound juga meyakinkan dirinya sendiri bahwa demi puisi ia akan membuat Eliot tetap tinggal di Inggris. Tapi nyatanya pernikahan itu tak memberikan kebahagiaan bagi keduanya. "Bagi Vivienne, pernikahan ini tidak memberikan kebahagiaan. Bagiku, pernikahan ini membawa kebuntuan pikiran yang akhirnya melatarbelakngi munculnya The Waste Land", demikian asumsi Eliot atas pernikahannya.

Meski pernikahannya tak memberikan kebahagiaan seperti yang diharapkannya tapi rupanya hal itu tak mengikis kecintaannya pada Inggris. Pada 29 Juni 1927 Eliot menjadi penganut Anglikan, agama resmi di Inggris dan pada November 1927 ia mendapatkan kewarganegaraan Inggris. Namun secara spesifik ia mengidentifikasikan agamanya sebagai Anglo-Catholic. Sekitar tiga puluh tahun lamanya Eliot mengomentarii pandangan agama yang dianutnya adalah perpaduan antara Katolik secara pola pikir dengan warisan nilai-nilai Calvinist dan temperamen seorang Puritan.

Peter Ackroyd, salah seorang penulis biografi Eliot berpendapat ada dua alasan yang melatari keputusan Eliot berpindah agama. Pertama: Gereja Inggris menawarkan harapan bagi Eliot dan menurut Ackroyd, Eliot memang membutuhkan tempat yang bisa menentramkannya. Alasan kedua adalah karena Anglikan bisa membantu Eliot lebih memahami komunitas dan kebudayaan Inggris.

Sementara itu pernikahan Eliot makin memburuk. Ketika Harvard menawarinya beasiswa profesor Charles Eliot Norton untuk menjadi untuk tahun ajaran 1932-1933, Eliot langsung menerimanya dan meninggalkan Vivienne di Inggris. Setelah kembali ke Inggris, Eliot mengatur perpisahannya dengan Vivienne secara resmi. Meski begitu mereka tidak pernah bercerai. Eliot berusaha menghindari setiap pertemuan dengan Vivienne. Sementara pada 1938 Vivienne dirawat di rumah sakit jiwa Northumberland House, Stoke Newington dan ia tetap berada di sana hingga akhir hayatnya. Eliot sendiri, walau masih merupakan suaminya secara sah tapi tak pernah mengunjunginya. Sepanjang masa itu hanya dua kali Eliot menemui Vivienne yaitu pada 1932 saat ia akan pergi ke Amerika Serikat dan tahun 1947 pada saat kematian Vivienne. Saat itu kabarnya sepanjang 1930-1957 Eliot menjalin hubungan dengan Mary Trevelyan dari Universitas London dan Mary sangat ingin menikah dengan Eliot tapi tak
pernah terjadi.

Pernikahan kedua Eliot terjadi pada 10 Januari 1957. Saat itu Eliot yang sudah berumur 68 tahun menikahi Esme Valerie Fletcher yang baru berusia 30 tahun. Meski rentang usia keduanya ini sangat jauh tapi rupanya pernikahan keduanya ini lebih memberinya kebahagian dibanding pernikahan pertamanya karena tak seperti saat menikahi Vivienne, kali ini Eliot sangat mengenal Fletcher yang rupanya tak lain adalah sekretarisnya di Faber and Faber sejak Agustus 1949. Upacara pernikahan mereka berlangsung di gereja pukul 6.15 pagi, waktu yang sangat tak umum dan terlalu pagi untuk upacara pemberkatan pernikahan, dan rupanya mereka memang sengaja ingin merahasiakan pernikahan mereka dengan tak ada yang menghadiri pernikahan mereka inii kecuali orangtua pengantin wanita saja.

3. Kematian dan Karya-karya Monumental

Menjelang akhir hidupnya, pada awal 1960-an kesehatan Eliot mulai memburuk, meski begitu ia tetap bekerja sebagai editor di Wesleyan University Press dan mencari puisi-puisi baru di Eropa untuk diterbitkan.

Pada 4 Januari 1965 Eliot menghembuskan nafas terakhirnya. Selama beberapa tahun, Eliot memang mengalami masalah kesehatan yang disebabkan oleh kebiasaannya merokok. Eliot memang dikenal sebagai perokok berat dan kerap kali harus dirawat karena menderita bronkhitis sebelum akhirnya ia menderita emphysema atau pembengkakan pada paru-parunya.

Jazad Eliot dikremasi di Krematorium Golders Green dan sesuai permintaannya sebelum wafat, abunya disimpan di Gereja St. Michael di East Coker yang merupakan kampung halaman leluhurnya sebelum hijrah ke Amerika.

Sebuah piagam untuk memperingatinya dan tercantum kutipan dari puisinya berjudul "East Coker" yang berbunyi: "In my beginning is my end. In my end is my beginning."

Pada 1967, dua tahun peringatan kematiannya, Eliot mendapat penghormatan dengan pemasangan sebuah batu besar pada ubin di Poets' Corner (Pojok Puisi) di Westminster Abbey, London. Batu tersebut dipotong oleh desainer keramik Reynolds Stone yang di atasnya terpahat tanggal lahirnya juga gelar kehormatan, Order of Merit yang dianugrahkan Raja George VI pada 1948. Tertera pula kutipan dari puisinya "Little Gidding" yang berbunyi: "the communication / of the dead is tongued with fire beyond / the language of the living."

Selain itu di kota kelahirannya pun Eliot mendapat apresiasi besar dan ia termasuk dalam jajaran bintang di St. Louis Walk of Fame.

Nama Eliot juga diabadikan sebagai nama di Universitas Kent di Inggris, Eliot College.

Setelah kematian Eliot, istri keduanya, Valerie mendedikasikan waktunya untuk melestarikan hasil karya Eliot. Ia mengedit dan memberikan keterangan/catatan pada The Letters of T. S. Eliot dan sebuah faksimile draft puisi Eliot, The Waste Land.

Dari dua kali pernikahannya, Eliot tidak dikaruniai anak. Valerie Eliot meninggal dunia pada 9 November 2012 di rumahnya di London.

Pada 1946 sampai 1957 sebelum menikahi Valerie, Eliot pernah tinggal satu flat dengan temannya, John Davy Hayward. Dia-lah yang mengupulkan dan merapikan naskah-naskah Eliot dan ia mentahbiskan dirinya sebagai "Penjaga arsip Eliot". Selain itu Hayward juga menyimpan versi awal puisi Eliot, Prufrock. Setelah kematian Eliot, ia mempublikasikan karya Eliot dengan judul: Poems Written in Early Youth (Puisi-puisi yang Ditulis di Masa Muda). Meskipun pada 1957 Eliot dan Hayward tak lagi tinggal bersama tapi Hayward tetap menyimpan karya-karya Eliot tersebut yang kemudian diwariskannya kepada King's College, Cambridge pada 1965.

Untuk ukuran penyair besar, puisi-puisi Eliot tidak terlalu banyak dan ternyata hal ini sangat disadarinya pada awal karirnya. Ia pernah menulis untuk J.H. Woods, salah satu profesornya di Harvard, "Reputasiku di London dibangun di atas sebuah syair dalam edisi kecil dan secara berkesinambungan menerbitkan dua atau tiga puisi lain dalam setahun. Masalahnya, puisi-puisi itu haruslah sempurna sehingga akan tetap abadi."

Puisi-puisi Eliot bisa dibilang merupakan perkembangan jiwanya. Dimulai dari Prufrock (1917) hingga Four Quartets (1943) merefleksikan perkembangan nilai Kristiani sang penulis. Sementara The Waste Land (1922) yang bisa dibilang termasuk karya-karya awalnya secara esensi bisa dibilang berjiwa negatif yang mana puisi tersebut mengekspresikan kengerian (horor) yang berasal dari pencarian sang penulis menuju dunia yang lebih tinggi dan bercahaya. Dalam Ash Wednesday (1930) dan The Four Quartets, dunia yang lebih tinggi itu menjadi lebih jelas. Walaupun Eliot tak bermaksud menulis puisi religius tapi nyatanya kerap kali tulisannya memang tak lepas dari kisah religius seperti drama-dramanya antara lain Murder in the Cathedral (1935) dan The Family Reunion (1939).

- The Love Song of J. Alfred Prufrock
Prufrock merupakan kumpulan puisi pertama Eliot yang diterbitkan pada 1917.
Pada 1915, Ezra Pound yang sangat membantu Eliot di awal karirnya dengan memperkenalkannya ke mana-mana, saat ia menjadi editor majalah Poetry (Puisi) merekomendasikan naskah Eliot pada Harriet Monroe, sang pendiri majalah tersebut. Eliot menulis sebagian besar puisi dalam kumpulan puisinya ini saat berumur dua puluh dua tahun. Puisinya ini sangat mengejutkan karena masa itu yang tengah populer dan dipuja adalah Georgian Poetry (Puisi gaya Georgia) yang berasal dari Romantic Poets (Puisi-puisi Romantis) di abad sembilan belas.

- The Waste Land
The Waste Land diterbitkan pada Oktober 1922, Eliot mendedikasikannya untuk il miglior fabbro ("seniman yang lebih baik) mengacu pada Ezra Pound, kawannya yang telah mengedit dan memperjelas isi dari puisi Eliot yang aslinya lebih panjang disederhanakan menjadi lebih pendek seperti yang terlihat dalam terbitannya yang beredar.

The Waste Land ditulis di masa-masa sulit pernikahan Eliot dengan Vivienne. Baik Eliot dan Vivienne sama-sama mengalami gangguan kecemasan. Puisi ini juga kerap dianggap sebagai representasi kekecewaan generasi pasca-perang. Sebelum puisi ini diterbitkan dalam bentuk kumpulan pusi pada Desember 1922, Eliot tengah berusaha keluar dari keputusasaan sebagaimana yang diungkapkannya dalam suratnya untuk Richard Aldington pada 15 November 1922, "Sebagaimana The Waste Land, masa lalu terlalu jauh untuk kupikirkan dan kini aku merasa tengah menuju ke gaya dan bentuk yang baru."

The Waste Land memberikan sentuhan dalam kesusastraan modern. Kebetulan pula di tahun yang sama novel brilian 'Ulysses' karya James Joyce yang tak lain juga merupakan kawan Eliot, diterbitkan.

Ada beberapa kalimat dalam The Waste Land yang amat terkenal di antaranya: "April is the cruellest month"; "I will show you fear in a handful of dust"; dan "Shantih Shantih Shantih", yang diambilnya dari bahasa Sansekerta sebagai penutup puisinya.

- The Hollow Men
The Hollow Men muncul pertama kali pada 1925. Kritikus Edmund Wilson menganggapnya sebagai "Titik nadir dari fase keputusaan dan kesepian yang sama ekspresifnya seperti The Waste Land".

Bait yang populer dari The Hollow Men adalah:
This is the way the world ends
Not with a bang but a whimper.

- Ash Wednesday
Ash Wednesday merupakan puisi panjang pertama yang ditulis Eliot setelah memeluk agama Anglikan pada 1927. Ash Wednesday dipublikasikan pada 1930 setelah melalui beberapa kesulitan sebelum akhirnya mencapai kesepakatan. Ash Wednesday merupakan puisi dengan nuansa rohani dan aspirasi spiritual Eliot setelah ia menganut agama Anglikan.

Ash Wednesday banyak mendapat pujian dari kritikus seni bahkan menurut Edwin Muir, Ash Wednesday merupakan puisi "yang paling sempurna." Meski mendapat banyak pujian tapi tak sedikit pula yang tak menerima dengan baik puisi Eliot ini.

- Old Possum's Book of Practical Cats
Terbit pertama kali pada 1939. Di edisi pertama ini ada ilustrasi sang penulisnya di sampulnya. "Old Possum" merupakan nama julukan yang diberikan Ezra Pound untuk Eliot.

Pada 1954 komposer Alan Rawsthorne membuat sebuah karya orkestra berjudul Practical Cats yang diantaranya mengambil enam puisi dalam kumpulan puisi ini. Setelah kematian Eliot buku ini diadaptasi menjadi sebuah pertunjukan musikal oleh Andrew Lloyd Webber dengan judul Cats. Drama musikal tersebut pertama kali ditampilkan di London's West End pada 1981 dan setahun kemudian ditampilkan dalam panggung Broadway.

- Four Quartets
Four Quartets terdiri dari empat puisi panjang yang sebelumnya diterbitkan secara terpisah. Burnt Norton (1936); East Coker (1940); The Dry Salvages (1941); dan Little Gidding (1942). Tiap puisi terdiri atas lima bagian. Setiap puisi merupakan meditasi atas alam dan masa dalam sudut pandang secara -teologis, historis, dan fisik- dan semua ini berhubungan dengan kondisi umat manusia. Keempat puisi ini merupakan representasi dari empat unsur utama kehidupan: udara, tanah/bumi (earth), air,  dan api.

Burnt Norton merupakan puisi meditasi yang diawali dengan seorang narator mencoba untuk memfokuskan diri pada kekinian sementara alam meditasi membawanya melangkah menyusuri taman sambil memfokuskan diri pada gambaran dan suara-suara seperti burung, mawar, awan, dan kolam yang kosong. Meditasi itu lalu memimpin si narator untuk mencapai "titik" dimana ia akan mengalami suatu "anugrah". Di sesi akhir, sang narator mengkontemplasi seni ("kata-kata" dan "musik").

Simak beberapa kalimat dalam puisi ini yang diucapkan sang narator yang membawa pada sebuah perenungan:
"Words strain, / Crack and sometimes break, under the burden (of time), under the tension, slip, slide, perish, decay with imprecision, will not stay in place, / Will not stay still".

Dan kalimat konklusi sang narator:
"Love is itself unmoving, / Only the cause and end of movement, / Timeless, and undesiring."

East Cooker melanjutkan penjelasan akan makna dari waktu. Simak kalimat mengesankan dalam puisi ini, solusi dari Eliot untuk keluar dari kegelapan:
"I said to my soul, be still, and wait without hope."

The Dry Salvages merupakan elemen dari air melalui gambaran sungai dan laut. Dalam puisi ini terdapat kalimat kontradiktif : "The past and future / Are conquered, and reconciled."

Little Gidding, element dari api merupakan yang paling antologis dari keempat puisi dalam Quartets ini. Dalam puisi ini Eliot berimajinasi bertemu Dante saat pengeboman Jerman. Dengan kalimat permulaan dalam Quartets : "Houses / Are removed, destroyed" menjadi pengalaman penuh kekerasan yang dihadapi setiap hari namun dalam puisi ini untuk pertama kalinya Eliot membicarakan Cinta sebagai kekuatan di balik setiap pengalaman. Dan Quartets pun diakhiri dengan sebuah kalimat penegasan dari Julian of Norwich: "All shall be well and / All manner of thing shall be well."

Four Quartets tak bisa dipahami tanpa pengenalan akan pemikiran, tradisi, dan sejarah Kristen. Eliot menggabungkan teologi, seni, simbolisasi dan bahasa pada tokoh-tokoh seperti Dante, Yohanes dari Salib, dan Julian dari Norwich. "Persekutuan lebih dalam" tampil di East Coker, "hints and whispers of children, the sickness that must grow worse in order to find healing."

Four Quartets bisa dibilang merupakan puisi terbaik Eliot dan Eliot sendiri yang menyatakan bahwa Four Quartet merupakan mahakarya-nya. Four Quartets pula yang telah mengantarkannya meraih Nobel untuk Sastra yang diterimanya di Stockholm pada 1948. Dengan ini Eliot dianggap sebagai pionir yang telah membentuk dunia puisi modern di masa sekarang ini.

Selain puisi ada pula beberapa naskah drama karya Eliot yang monumental dan mendapat perhatian kritikus. Eliot memang dikenal sebagai pengritik sekaligus penggemar penulis-penulis drama era Elizabethan dan Jacobean. Dalam The Waste Land ia bahkan menyindir beberapa tokoh drama terkenal seperti Webster, Thomas Middleton, William Shakespeare, dan Thomas Kyd.

Pengalihan kreatifitas kata Eliot dari puisi menuju drama telah diungkapkan Eliot setelah diterbitkannya The Waste Land pada 1922. Ia menyatakan bahwa ia ingin melangkah ke "bentuk dan gaya yang baru."

Pada 1934 drama karya Eliot "The Rock" ditampilkan untuk kepentingan gereja di Keuskupan London. George Bell, Uskup Chichester turut membantu dengan memperkenalkan Eliot pada E. Martin Browne yang kemudian memproduksi The Rock, setelah itu Eliot menulis naskah drama lain untuk Canterbury Festival pada 1935. Naskah inilah yang merupakan salah satu naskah drama Eliot yang fenomenal, "Murder in the Cathedral - Pembunuhan di Katedral" yang berkisah mengenai kematian seorang martir, Thomas Becket.

Peter Ackroyd, penulis biografi Eliot mengatakan, "bagi Eliot Murder in the Cathedral dan kesuksesan di panggung drama menawarkan keuntungan ganda; ia bisa mempraktekan kemampuannya menulis puisi sekaligus memberinya kenyamanan untuk jiwa religius-nya."

Beberapa karya drama terkenal Eliot lainnya adalah: The Family Reunion (1939) yang juga merupakan drama bernuansa rohani, The Cocktail Party (1949) yang mendapat penghargaan Tony Awards pada 1950, The Confidential Clerk (1953), dan The Elder. Statesman (1958).

Mengenai metodenya dalam menulis naskah,  Eliot menjelaskan, "Jika aku sudah siap untuk menulis, aku akan mulai dengan memilih kejadiannya. Aku mengatur situasi emosinya, dengan begitu maka karakter-karakter dan plotnya akan muncul. Setelah itu baris-baris puisi pun bisa tampil, bukan murni berasal dari dorongan hati melainkan dari alam bawah sadar yang terstimulasi."

Karya-karya Eliot memang tak terlalu banyak tapi justru karya-karyanya yang tak terlampau banyak itu justru mengantarkannya pada keabadian dalam kesempurnaan kata.

Selasa, 23 April 2013

Grace Kelly = Putri Monaco

Bagi penggemar film lawas pastinya tak asing dengan nama Grace Kelly. Karir akting Grace Kelly sangat singkat padahal aktingnya terbilang cemerlang dan sempat meraih piala Oscar, penghargaan paling bergengsi bagi insan film dunia. Namun perjalanan karirnya di dunia film hanya lima tahun dan hanya membintangi sebelas judul film saja karena ia menikah dengan Pangeran Rainer III dari Monaco pada bulan April 1956 sehingga ia harus mengakhiri karir aktingnya.

Pernikahan Grace Kelly dengan Pangeran Rainier sempat dinobatkan sebagai The Wedding of the Century. Dari pernikahan tersebut, pasangan kerajaan ini dianugrahi dua putri dan seorang putra, Pangeran Albert yang kini menjadi pemimpin kerajaan Monaco.

Sayangnya kebahagiaan keluarga kerajaan kecil di dekat Perancis ini harus terkoyak saat Putri Grace mengalami kecelakaan yang akhirnya merenggut nyawanya dalam usia 52 tahun.

I. Garis Keluarga

Grace Patricia Kelly lahir pada tanggal 12 November 1929 di Philadelphia, Amerika Serikat. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertamanya bernama Margaret Katherine dan lebih dikenal dengan nama Peggy sementara kakak keduanya, John Brendan, Jr., atau yang biasa dipanggil Kell merupakan atlit dayung dan pernah menjadi anggota DPRD di kota mereka, Philadelphia. Sedangan adik bungsu Grace yang usianya hanya terpaut tiga setengah tahun darinya bernama Elizabeth Anne yang memiliki nama panggilan Lizanne.

Keluarga Kelly bisa dibilang merupakan keluarga terpandang. Ayah Grace bernama John "Jack" Brendan Kelly merupakan keturunan Irlandia dan penganut Katolik Roma. Ia anak bungsu dari 10 bersaudara dari pasangan John Henry Kelly dan Mary Costello.

Jack memiliki seorang saudara perempuan bernama Grace yang mati muda. Pada saat pembaptisan putri sulungnya, Margaret pada tahun 1925, Mary Costello, ibunda Jack menyatakan kekecewaannya saat mengetahui cucu perempuannya tak dinamai Grace sebagai kenangan terhadap putri bungsunya yang mati muda itu.

Saat ibunya meninggal setahun kemudian, Jack berjanji akan menamai putrinya yang berikut dengan nama Grace. Namun anak keduanya laki-laki sehingga ia baru bisa mewujudkan janjinya dan permintaan terakhir ibunya itu pada anak ketiganya, Grace Patricia Kelly.

Jack merupakan 'pahlawan' kota Philadelphia karena berhasil meraih tiga medali emas Olimpiade untuk cabang olahraga dayung (dua medali emas di Olimpiade Antwerpen sedangkan satu medali lagi diraihnya pada Olimpiade Paris).

Bakat Jack ternyata bukan hanya di bidang olahraga dayung. Perusahaan konstruksinya merupakan perusahaan terbesar di East Coast dan perusahaannya inilah yang menjadikannya kaya raya.

Di bidang politik, Jack merupakan anggota Partai Demokrat dan pada tahun 1935 ia pernah mencalonkan diri sebagai walikota Philadelphia. Sayangnya perolehan suaranya kalah tipis dari saingannya dan merupakan selisih suara paling tipis dalam sejarah Partai Demokrat untuk pemilihan walikota. Namun hal ini tak mengakhiri karir politik Jack. Beberapa tahun kemudian ia melayani di Komisi Fairmount Park dan selama Perang Dunia ke-2 ia ditunjuk oleh Presiden Franklin Roosevelt sebagai Direktur Nasional Kebugaran Fisik.

Ibunda Grace rupanya juga penggemar olahraga seperti suaminya. Bila Jack, ayah Grace merupakan keturunan Irlandia dan penganut Katolik Roma, ibunda Grace bernama Margaret Katherine Majer merupakan keturunan Jerman. Kakek dan nenek Grace dari pihak ibunya ini, Carl Majer dan Margaretha Berg merupakan orang Jerman dan penganut agama Kristen Protestan Lutheran. Margaret, ibu Grace baru menjadi Katolik setelah menikah dengan Jack Kelly.

Sebelum menikah, Margaret Majer merupakan mahasiswi bidang olahraga di Universitas Temple. Setelah lulus ia bekerja di bidang Pendidikan Olahraga dan di kemudian hari ia menjadi wanita pertama yang pernah mengepalai Departemen Pendidikan Olahraga di Universitas Pennsylvania.

Jiwa olahragawan keluarga Kelly ini rupanya menurun pada John Jr., kakak laki-laki Grace. Pada tahun 1947 John Jr., memenangkan James E. Sullivan Award sebagai atlit amatir terbaik. Seperti ayahnya, John juga menekuni olahraga dayung. Pada 27 November 1956 di Olimpiade Melbourne, tujuh bulan setelah pernikahan Grace, ia meraih medali perunggu yang diberikannya untuk adiknya sebagai hadiah pernikahannya dengan pangeran Rainier III dari Monaco.

Seperti ayahnya, John juga terjun ke dunia politik. Ia pernah menjadi anggota dewan kota dan namanya bahkan diabadikan sebagai nama jalan di Philadelphia, Kelly Drive.

Bila ayah dan kakaknya merupakan atlit dayung berprestasi, lain halnya dengan dua orang paman Grace yang berkecimpung dalam dunia seni peran. Bahkan salah seorang paman Grace merupakan penulis naskah yang pernah memenangkan Pulitzer, penghargaan untuk dunia sastra yang gengsinya setara dengan Nobel.

Adalah Walter C. Kelly (1873 - 1939) kakak tertua Jack Kelly, ayah Grace baru dikenal secara luas setelah The Virginia Judge difilmkan pada tahun 1930 oleh MGM dan dirilis ulang oleh Paramount pada tahun 1935. Sedangkan seorang paman Grace yang lainnya, George Kelly (1887-1974) agak nyeleneh. Ia seorang homoseksual dan karena perilaku seksualnya ini, ia dikucilkan keluarganya. Meski begitu ia merupakan penulis naskah yang brilian. Pada tahun 1920 ia merupakan penulis naskah yang dramatis dan sebagai sutradara untuk sebuah drama komedi. Pada tahun 1926 ia mendapatkan Penghargaan Pulitzer untuk kategori drama atas karyanya yang berjudul Craig's Wife.

Saat Grace Kelly memutuskan terjun di dunia seni peran, ia pernah memerankan naskah karya pamannya, George Kelly untuk audisi.

II. Karir Akting

Minat Grace terhadap dunia seni peran sudah tumbuh sejak di sekolah. Saat bersekolah di Ravenhill Academy, sebuah sekolah Katolik yang prestisius dan sekolah ini khusus untuk anak-anak perempuan, Grace bersama ibu dan saudara-saudara perempuannya pernah mengikuti peragaan busana di sebuah acara sosial lokal. Pada tahun 1942 ia pernah menjadi pemeran utama di sebuah pagelaran yang diselenggarakan oleh East Falls Old Academy Players. Saat itu usia Grace baru dua belas tahun.

Ketika SMU di Stevens School, sebuah sekolah privat kecil di Walnut Lane, Northwest Philadelphia yang berdekatan dengan pemukiman imigran Jerman, Germantown, Grace juga berakting dan menari. Saat lulus dalam buku kelulusannya, ia mencantumkan nama Ingrid Bergman sebagai aktris favoritnya dan Joseph Cotten merupakan aktor favoritnya. Di bagian "Stevens' Prophecy"- 'Ramalan Steven' di buku kelulusan menuliskan "Miss Grace P. Kelly - seorang bintang panggung dan layar lebar terkenal".

Bakat akting Grace Kelly memang memukau tapi tak demikian dengan pelajaran Matematika. Untuk mata pelajaran berhitung ini nilai Kelly rendah sehingga ia ditolak masuk ke Bennington College pada bulan Juni 1947. Kelly sendiri lebih suka menjadikan akting sebagai pilihan karirnya meski keputusannya ini tak disetujui oleh orangtuanya. Ayah Kelly malah menganggap akting hanya 'setingkat di atas PSK'. Namun Kelly tak menghiraukan kecemasan dan keberatan keluarganya dan merasa yakin untuk mengejar impiannya di panggung teater.

Kelly lalu mengikuti audisi di American Academy of Dramatic Arts di New York. Untuk audisi ini Kelly memilih naskah karangan pamannya sendiri, George Kelly yang ditulis pada tahun 1923 berjudul The Torch-Bearers. Sebenarnya kuota untuk siswa di semester itu sudah terisi tapi Kelly tetap mendapat kesempatan melakukan wawancara dengan kepala penerimaan siswa baru, Emile Diestel dan ia diterima karena hubungan kekeluargaannya dengan George, pamannya.

Selama bersekolah di sekolah akting ini, Kelly tinggal di Manhatan's Barbizon Hotel for Women, sebuah kawasan prestisius yang melarang kunjungan pria di atas jam 10 malam. Selama masa ini, Kelly menyambi kerja sebagai model untuk membiayai kuliahnya. Kelly merupakan siswi yang rajin. Ia suka menggunakan tape recorder untuk berlatih dan menyempurnakan suaranya.

Pada usianya yang ke-19 untuk ujian kelulusannya ia memainkan The Philadelphia Story dan berperan sebagai Tracy Lord. Di kemudian hari, The Philadelphia Story juga akan menjadi drama terakhirnya sebelum ia menikahi Pangeran Rainier dari Monaco dan berhenti dari dunia seni peran yang membesarkan namanya.

Debut Grace Kelly di panggung Broadway adalah saat ia memerankan Strindberg's The Father dengan lawan mainnya Raymond Massey. Sementara debut Kelly di televisi adalah sebagai Bethel Merriday dalam drama adaptasi dari novel Sinclair Lewis. Dan film televisi ini merupakan yang pertama dari hampir enam puluh program televisinya. Seperti kebanyakan bintang seni peran, Grace Kelly pun mulai merambah ke ke layar lebar. Debut film layar lebar Kelly terjadi pada tahun 1951, waktu itu ia memang hanya mendapat peran kecil dalam film Fourteen Hours. Sayang aksinya di Fourteen Hours ini tak mendapat perhatian dari para kritikus sehingga ia tak mendapatkan peran lain untuk film layar lebar. Sementara itu ia tetap beraksi di panggung teater dan televisi. Namun Kelly memiliki masalah dengan suaranya yang kurang kuat sementara 'kekuatan vokal' amat penting di atas panggung sehingga muncul pemikiran karirnya di pangung teater tak akan lama.

Bintang Kelly mulai bersinar kala ia mendapat peran di High Noon. Ia tengah tampil di Colorado's Elitch Gardens ketika datang telegram untuknya dari seorang produser Hollywood, Stanley Kramer yang menawarinya sebuah peran di High Noon dengan lawan main Gary Cooper. Kabarnya Kelly terlibat hubungan asmara dengan Gary Cooper yang terpesona dengan Kelly dan mengatakan bahwa Kelly "berbeda dengan aktris-aktris lainnya."

Sementara itu rupanya akting Kelly juga telah menarik perhatian John Ford, seorang sutradara yang kemudian menawarinya bermain dalam film Mogambo yang akan diproduksi perusahaan film televisi terkenal, MGM. Film ini mengambil setting hutan luas Afrika. Bayaran Kelly untuk film ini relatif kecil hanya $850 seminggu. Tapi Kelly menandatangani kontrak untuk 7 tahun dengan dua syarat: pertama. Setiap dua tahun sekali ia bisa mendapat cuti untuk bermain di teater dan syarat kedua, ia boleh tinggal di New York.

Dua bulan kemudian pada November 1952 Kelly dan rombongan pemain Mogambo tiba di Nairobi, Kenya untuk memulai produksi film tersebut. Belakangan hari Kelly mengungkapkan pada seorang kolumnis Hollywood, Helda Hopper, "Ada tiga hal yang membuatku tertarik pada Mogambo. John Ford, Clark Gable, dan perjalanan ke Afrika dengan ongkos ditanggung penuh. Seandainya saja Mogambo dibuat di Arizona, aku tidak akan mau melakukannya."

Di Mogambo, Kelly berperan sebagai Linda Nordley dan lewat perannya ini ia mendapatkan Golden Globe untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik dan ia juga mendapatkan nominasi pertamanya dari Academy Award, penghargaan paling bergengsi untuk insan perfilman Hollywood.

Usai meraih kesuksesan bersama Mogambo, Kelly bermain untuk film televisi lainnya berjudul The Way of an Eagle bersama Jean-Pierre Aumont sebelum ikut casting untuk sebuah film adaptasi dari drama Broadway karya Frederick Knott berjudul Dial M for Murder yang akan disutradarai oleh Alfred Hitchcock. Dan ternyata Hitchcock akan menjadi mentor terakhir Kelly. Bahkan hubungan kerjasama mereka terus berlanjut setelah Dial M for Murder. Saat Kelly menikah dan mengakhiri karir aktingnya, menjelang saat-saat akhir hidupnya, Kelly sempat tergoda dengan tawaran Hitchcock untuk kembali ke dunia film sayangnya rakyat Monaco tak mengijinkan Sang Putri kembali ke dunia akting.

Usai Dial M for Murder, Kelly bermain untuk film berikutnya, The Bridges at Toko-Ri pada bulan Januari 1954 dengan lawan main William Holden. Di sini ia berperan sebagai Nancy, istri dari Harry yang diperankan oleh Holden. The New Yorker menulis chemistry antara Kelly dan Holden dan memberi catatan bagi penampilan Kelly yang "cukup percaya diri."

Kelly menolak film On the Waterfront yang sedianya ia akan bermain bersama Marlon Brando, akhirnya peran itu diambil Eva Marie Saint yang kemudian membawanya memenangkan Academy Award.

Kelly menolak film On the Waterfront dan lebih memilih Rear Window yang akan disutradarai Alfred Hitchcock. Rupanya Kelly sudah mendengar tentang Rear Window ini sejak pembuatan Dial M for Murder.

"Saat pembuatan Dial M for Murder, dia (Hitchcock) duduk dan menceritakan padaku tentang Rear Window sepanjang waktu, bahkan sebelum kami mendiskusikan keterlibatanku dalam film ini."

Kolaborasi Kelly dan Hitchcock kembali mendapat sambutan positif. Saat film ini ditayangkan pada Oktober 1954, lagi-lagi Kelly mendapat pujian.

Untuk mendapatkan peran Georgie Elgin di The Country Girl, Kelly sampai mengancam MGM, studio televisi tempatnya bernaung, dan ancaman Kelly membuahkan hasil. Di film ini Kelly bertemu kembali dengan William Holden. Dalam film ini Kelly berperan sebagai istri Bing Crosby, penyanyi yang kecanduan alkohol. Sementara Holden berperan sebagai pria yang amat mencintai Kelly dan meminta Kelly meninggalkan suaminya dan hidup bersamanya.

Lewat The Country Girl ini Kelly dinominasikan sebagai Aktris Terbaik untuk Academy Award. Pesaing utamanya saat itu Judy Garland yang mendapat banyak pujian atas comeback-nya di film A Star Is Born. Di film tersebut Garland bukan hanya memerankan seorang aktris dan penyanyi tapi ia juga berperan sebagai istri seorang bintang film yang kecanduan alkohol. Jadi sedikit mirip dengan peran Kelly di The Country Girl. Kelly telah memenangkan New York Critics Circle Award, penghargaan dari kritikus film, sebagai aktris terbaik atas penampilannya di tiga film pada tahun 1954 (Rear Window, Dial M For Murder, dan The Country Girl). Sementara baik Kelly maupun Garland sama-sama memenangkan Golden Globe Awards atas penampilan gemilang mereka.

Persaingan Kelly dengan Garland kala itu sangat sengit. Pada malam penganugerahan Academy Awards, 30 Maret 1955, Garland tak bisa menghadiri acara karena ia habis melahirkan namun kamera televisi NBC dipasang di ruang perawatannya di rumah sakit sehingga ia bisa langsung menyampaikan pidato kemenangannya apabila ia memenangkan Piala Oscar. Tapi ketika William Holden menyebut nama Grace Kelly sebagai pemenaang Academy Awards, para teknisi langsung membongkar jaringan kamera di kamar Garland tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara Garland sendiri kabarnya tak bisa menerima kemenangan Kelly yang diungkapkannya beberapa tahun kemudian. "Aku tak bisa menerima Grace Kelly begitu saja membawa Piala Oscar-ku."

Film ketiga sekaligus film terakhir Kelly bersama Alfred Hitchcock adalah To Catch a Thief. Di sini Kelly bermain bersama Cary Grant yang sangat memujanya. Beberapa tahun kemudian, saat ditanya siapakah aktris favoritnya, Grant mengatakan tanpa bermaksud merendahkan Ingrid Bergman, tapi dibanding Bergman, ia lebih menyukai Kelly.

III. Pernikahan

Pada bulan April 1955 Kelly mengepalai delegasi Amerika Serikat di Festival Film Cannes. Saat itulah ia diundang untuk ikut berpartisipasi dalam acara sesi foto di Istana Monaco bersama Pangeran Rainier III. Setelah terjadi beberapa kali penundaan dan masalah, akhirnya Kelly bertemu juga dengan Pangeran Monaco tersebut.

Hubungan Grace Kelly dengan Pangeran Rainier III makin akrab saat Kelly mendapat peran di The Swan di mana ia harus menjadi seorang putri. Untuk mendukung perannya itu, ia secara pribadi melakukan korespendensi dengan pangeran dari Monaco tersebut.

Pada bulan Desember 1955 Pangeran Rainier datang ke Amerika. Secara resmi kedatangannya itu disebut sebagai sebuah kunjungan saja tapi banyak yang memperkirakan bahwa kunjungannya itu adalah upayanya mencari seorang istri. Rupanya ada sebuah perjanjian antara Monaco dan Perancis pada tahun 1918 yang merupakan buntut dari Krisis Suksesi Monaco pada tahun 1918. Perjanjian tersebut menyatakan bahwa jika Rainier tidak bisa memiliki anak sebagai penerusnya maka Monaco akan diambil alih oleh Perancis.

Dalam konferensi pers, Rainier menyanggah bahwa kedatangannya adalah untuk mencari istri. Tapi kenyataannya dalam kunjungannya ke Amerika itu, Rainier menemui Kelly dan keluarganya dan tiga hari kemudian sang pangeran mengajukan lamaran. Kelly menerima lamarannya dan dimulailah persiapan pernikahan yang oleh pers disebut sebagai "Pernikahan Abad ini" (The Wedding of the Century).

Pertunangan Kelly dengan pangeran dari Monaco menjadi berita besar. Dengan pernikahan ini Kelly harus siap mengakhiri karirnya di dunia film.

Sementara itu persiapan pernikahan akbar ini terus menjadi sorotan. Untuk peristiwa besar ini, Kerajaan Monaco pun dicat dan didekorasi ulang. Pemberkatan pernikahan ditetapkan akan digelar pada 19 April 1956.

Pada 4 April 1956 Kelly dan rombongan besarnya mulai meninggalkan Pelabuhan New York. Rombongan Kelly termasuk keluarganya, pengiring pengantin, dan anjing pudelnya dan bawaan mereka tak tanggung-tanggung, sampai delapan puluh koper lebih yang ikut berlayar bersama kapal laut menuju French Riviera.

Untuk meliput pernikahan akbar ini ada sekitar 400 reporter yang melamar untuk ikut berlayar dan meliput peristiwa besar tersebut tapi sebagian besar ditolak. Sementara itu lebih dari 20.000 orang berderet di jalanan untuk menyambut sang putri.

Di tahun yang sama, studio film MGM merilis film terakhir Kelly, sebuah drama komedi musikal berjudul High Society yang dibuat berdasarkan drama komedi Philadelphia Story. Dalam film tersebut salah satu adegannya Kelly berduet dengan Bing Crosby (lawan mainnya di The Country Girl yang mengantarkannya meraih Oscar) menyanyikan "True Love" karya Cole Porter.

Untuk memenuhi ketentuan hukum Perancis dan aturan Gereja Katolik, Kelly dan Rainier menggelar upacara pernikahan sipil dan gereja. Upacara pernikahan sipil yang berlangsung selama 40 menit itu diselenggarakan pada 18 April 1956 bertempat di Palace Throne Room dan upacara ini disiarkan ke penjuru Eropa. Sehari kemudian digelar upacara pemberkatan pernikahan di Gereja Katedral Saint Nicholas, Monaco. Gaun pernikahan Kelly dirancang oleh Helen Rose, pemenang Academy Award dari MGM. Untuk membuat gaun pengantin ini, Rose bekerja selama enam minggu bersama 36 penjahit. Sedangkan gaun untuk pengiring pengantin dirancang oleh Joe Allen Hong dari rumah mode Neiman Marcus setelah Lawrence Marcus mengunjungi Monaco. Sebanyak 600 tamu undangan hadir di antaranya bintang-bintang Hollywood seperti David Niven dan istrinya, juga ada Gloria Swanson, Ava Gardner. Hadir pula kaum bangsawan Eropa seperti Lady Kenmare, Aimee de Heeren, Lady Diana Cooper, dan Aga Khan III.
Sekitar 30 juta orang diperkirakan turut menyaksikan upacara pernikahan besar ini melalui televisi. Usai upacara pernikahan, pasangan kerajaan ini langsung berbulan madu di Mediterania dengan menggunakan yacht milik Rainier, Deo Juvante II.

Frank Sinatra sedianya juga diundang tapi di menit terakhir dibatalkan karena khawatir akan membuat gusar sang pengantin wanita di hari pernikahannya.

Sembilan bulan dan empat hari usai pernikahan, Putri Grace melahirkan anak pertamanya, Putri Caroline Louise Marguerite pada 23 Januari 1957. Kelahiran Putri Caroline ini disambut oleh 21 kali tembakan salvo dan hari itu diumumkan sebagai hari libur nasional, perjudian diliburkan selama sehari, dan sampanye dibagikan secara gratis.

Setahun kemudian lahir sang putra mahkota, Pangeran Albert pada 14 Maret 1958 yang disambut dengan 101 tembakan salvo.

Anak ketiga mereka, Putri Stephanie Marie Elizabeth lahir pada 1 Februari 1965.

Setelah menikah, Pangeran Rainier melarang film-film Kelly ditampilkan. Hingga akhir hayatnya Putri Grace tak pernah lagi bermain film. Meski begitu ia pernah tampil di panggung membacakan puisi dan pernah pula menjadi narator untuk film dokumenter, The Children of Theater Street. Ia juga sempat menjadi narator untuk film televisi, The Poppy Is Also a Flower, produksi stasiun televisi ABC.

Sempat suatu kali di tahun 1962 Hitchcock menawari Kelly sebuah peran utama di filmnya yang berjudul Marnie. Kelly merasa tertarik tapi rakyat Monaco menentang keikutsertaannya dalam film tersebut karena di film itu sang putri akan berperan sebagai seorang kleptomania. Sang putri pun memikirkan ulang dan akhirnya menolak film tersebut.

Tawaran untuk bermain film kembali datang pada tahun 1977. Kali ini sutradara Herbert Ross yang mencoba meyakinkan Putri Grace untuk berperan di filmnya, The Turning Point. Tapi kali ini Pangeran Rainier yang menentang ide tersebut.

Meski tak pernah lagi terlibat dalam dunia akting, tapi Putri Grace sangat peduli terhadap seniman di Monaco. Untuk mendukung para seniman lokal didirikanlah Princess Grace Foundation. Selain itu Putri Grace juga sangat mendukung pemberian ASI untuk bayi. Bahkan ia menjadi pesohor pertama yang mendukung dan berbicara untuk La Leche League, sebuah organisasi yang menganjurkan pemberian ASI. Putri Grace juga merancang pesta Natal tahunan untuk anak-anak yatim piatu di Monaco. Putri Grace juga dikenal sangat menyukai bunga dan Garden Club didirikan sebagai refleksi atas kecintaan sang putri pada bunga.

IV. Kematian

Pada 13 September 1982 saat tengah menyetir bersama putri bungsunya, Putri Stephanie menuju Monaco dari rumah peristirahatan mereka, Roc Agel yang terletak di pesisir Perancis, Putri Grace tiba-tiba terkena stroke sehingga mobil yang dikendarainya, Rover P6 jatuh ke jurang. Saat diangkat dari rongsokan mobilnya, Putri Grace masih hidup tapi ia menderita luka-luka yang sangat serius dan dalam keadaan koma. Ia langsung dilarikan ke Monaco Hospital tapi hidupnya tak bisa diselamatkan. Ia meninggal sehari kemudian dalam keadaan koma. Putri Grace meninggal dalam usianya yang ke-52 tahun. Sementara Putri Stephanie yang juga ada dalam mobil naas tersebut selamat dan hanya menderita luka ringan.

Setelah kematiannya, nama Monaco Hospital pada tahun 1985 diubah menjadi Centre Hospitalier Princesse Grace yang dalam bahasa Inggris berarti The Princess Grace Hospital Centre - Rumah Sakit Pusat Putri Grace.

Jazad Putri Grace dimakamkan pada 18 September 1982 di makam keluarga Grimaldi setelah sebelumnya diadakan misa requiem di Gereja Katedral Saint Nicholas, Monaco. Sekitar 400 orang menghadiri pemakamannya di antaranya perwakilan dari negara-negara tetangga dan ada pula keluarga bangsawan Eropa. Salah satu tamu yang datang adalah Putri Diana yang mewakili Keluarga Kerajaan Inggris. Sementara dari komunitas film hadir Cary Grant.

Dalam eulogi-nya, James Stewart mengatakan:

"Anda tahu, saya sangat menyukai Grace Kelly. Bukan karena ia seorang putri, bukan karena ia seoang aktris, bukan pula karena ia adalah temanku, tapi aku menyukainya karena ia adalah wanita terbaik yang pernah kujumpai. Grace membawa ke dalam hidupku seperti ke dalam hidup Anda sekalian, kelembutan, cahaya hangat yang memancar setiap kali aku melihatnya, dan setiap kali aku melihatnya merupakan liburan. Tak disangsikan, aku akan merindukannya, Tuhan melindungimu, Putri Grace."

Pada saat Pangeran Rainier, yang tak pernah menikah lagi, meninggal dunia pada tahun 2005, jazadnya dimakamkan di sisi istri yang dicintainya, Putri Grace.

Setelah kematian Pangeran Rainier, maka Pangeran Albert II, putra dari Kelly dan Rainier, yang kini memimpin kerajaan mini Monaco.