Total Tayangan Laman

Translate

Senin, 20 Desember 2010

RBR - Renault : Road To The Double World Champion

Red Bull Racing-Renault : 498 points

foto ini dipinjam dari situs ini

Drivers:
Sebastian Vettel : 256 points
Mark Webber   :  242 points

Setelah tahun lalu gagal bersaing dengan Brawn GP dalam perebutan gelar dunia ternyata tak membuat Red Bull Racing patah arang. Mereka berhasil menyelesaikan PR musim dingin dengan amat baik dan behrasil mempersembahkan tunggangan yang luar biasa di sepanjang musim 2010 ini. Terbukti mereka berhasil menempatkan kedua pebalap mereka sebagai pole sitter di 15 sesi qualifying dari total 19 sesi yang digelar pada musim ini. Meskipun saat race, kedua pebalap mereka kerap gagal meraih podium utama tapi secara keseluruhan Red Bull tampil amat kompetitif hampir di sepanjang race.

Meski begitu penampilan tangguh RBR ini ternyata memiliki kelemahan juga di atas trek terutama saat basah, terbukti di GP Australia dan China, misalnya, di mana Jenson Button dari McLaren berhasil merebut podium utama dari Sebastian Vettel yang berhasil menggebrak di dua sesi awal pembuka musim balap 2010 ini dengan menjadi yang terkencang di dua sirkuit itu pada sesi qualifying.

First dream on Sakhir, Bahrain

Vettel diapit duo Ferrari usai sesi qualifying

 Untuk pertama kalinya sirkuit Sakhir di Bahrain dipercaya menjadi race pembuka pada musim 2010 ini. Di race pembuka ini keperkasaan Red Bull memang belum nampak. Di sesi latihan bebas pertama Mark Webber hanya mampu mencatat waktu tercepat ke-9 sementara Sebastian Vettel berada di urutan ke-13, kalah kencang dari Nico Hulkenberg, rookie Williams-Cosworth. Di sesi kedua pun catatan waktu yang ditorehkan kedua pebalap RBR belum tampak spektakuler. Pada sesi latihan bebas kedua ini, ganti Vettel yang jauh lebih kencang dari rekan setimnya. Vettel berhasil menjadi yang tercepat kelima di belakang Jenson Button dengan catatan waktu 1:56.459 sementara Webber hanya mampu berada di urutan ke-17 di belakang Jaime Alguersuari yang membalap untuk Toro Rosso-Ferrari. Tapi seiring waktu, RBR berhasil membenahi kinerja dua tunggangan mereka sehingga pada sesi latihan bebas ketiga, catatan waktu kedua peblap mereka jauh lebih baik. Di sesi latihan yang terakhir ini Webber berhasil menjadi yang terkencang ketiga sementara Vettel berada di belakang Michael Schumacher yang kembali ke kancah pertarungan F1 lewat tim Mercedes GP.

Red Bull akhirnya bisa sedikit tersenyum di sesi qualifying setelah pebalap muda mereka, Sebastian Vettel yang mereka rekrut dari "saudara" mereka, Toro Rosso pada 2009 lalu berhasil menjadi yang terkencang di sesi qualifying dengan torehan waktu 1:54.101 sementara Mark Webber berada di urutan ke-6 dengan catatan waktu 1:55.284.

Sayangnya hasil bagus di sesi qualifying ini tak berhasil dipertahankan. Posisi Sebastian Vettel malah melorot di urutan ke-4 sementara Fernando Alonso yang memulai debutnya bersama Ferrari tahun ini sukses merajai Sakhir, Bahrain dan merebut podium pertamanya untuk tim Kuda Jingkrak itu. Webber sendiri hanya berhasil finish di urutan ke-8 tepat di belakang Michael Schumacher dan Jenson Button. Meski hanya berhasil meraup empat belas poin dari race pertama ini, tapi Red Bull tetap optimis, jalan menuju gelar dunia masih terbentang jauh di depan.

Fooled by rain
Kalau saja Webbo bisa lebih kencang, ia pasti takkan cemberut
 (gbr diambil dari situs ini)

Optimisme Red Bull itu memang bukan sekadar mimpi kosong belaka terlebih di race berikutnya di Melbourne, Australia, lagi-lagi pebalap favorit mereka, Sebastian Vettel kembali berhasil meraih pole dan tampil sangat kompetitif di tiga sesi qualifying. Kesuksesan itu makin terasa manis setelah Webber berhasil menjadi pebalap tercepat kedua sehingga RBR akan memulai balapan dari front row.

Di sesi latihan bebas sebenarnya catatan waktu Webber jauh lebih kencang dari Vettel, bahkan pebalap Australia ini menjadi pebalap tercepat di sesi latihan terakhir pada hari Sabtu, beberapa saat sebelum sesi qualifying. Tapi hal ini tak mengurangi harapan besar di kubu RBR untuk menyaksikan kedua pebalap mereka bisa mempertahankan posisi satu-dua mereka hingga akhir race. Tak penting siapa yang menang sepanjang kedua pebalap ini bisa tampil kompetitif dan membawa RBR menuju puncak tertinggi. Bagaimanapun balapan baru berlangsung dua seri dan jalan menuju perebutan gelar masih amat jauh.

Tapi lagi-lagi optimisme RBR yang membubung itu kembali terhempaskan. Kali ini cuaca yang membuat impian indah kubu RBR ini buyar. Hujan yang mengguyur sirkuit Albert Park sejak awal race menjadi pengganjal kedua pebalap RBR untuk merajai sirkuit di Melbourne ini. Sebastian Vettel yang tampil perkasa di sesi qualifying bahkan terpaksa kandas di lap 25 dan gagal melanjutkan lomba karena mengalami masalah dengan remnya setelah sempat melintir sebelum balapannya benar-benar berakhir.

Sementara Webber lagi-lagi meraih hasil finish yang tak terlalu menggembirakan. Mendekati lap-lap akhir, ia terlibat dalam perebutan posisi keempat dengan Alonso dan Hamilton. Di dua lap terakhir, Hamilton yang terlalu bernafsu untuk merebut tempat Alonso malah tergelincir dan menyeret Webber sehingga posisi mereka berdua malah melorot jauh. Hamilton masih beruntung karena bisa finish di P6 sementara Webber terpaksa harus puas hanya meraih dua poin untuk RBR setelah finish di urutan ke-9 di belakang Rubens Barrichello sementara bintang di Albert Park pada hari MInggu, 28 Maret 2010 ini adalah Jenson Button yang sukses dengan strategi ban basahnya dan mengantarkannya meraih kemenangan pertamanya di musim 2010 sekaligus kemenangan pertamanya untuk tim barunya, McLaren-Mercedes.

Sejauh ini RBR masih juga belum berhasil meraih podium tapi hal itu tak mengendurkan semangat skuad Red Bull Racing.

The first from everything
Smileeeeeeee.....
(gbr dipinjam dari situs ini)

Tak mau tenggelam terlalu lama dalam kesedihan akibat hasil buruk yang mereka raih di dua seri pembuka musim, RBR berusaha bangkit kembali di race berikutnya yang berlangsung di Malaysia. Kedua pebalap mereka tampil cukup kompetitif di sesi latihan. Meski Vettel hanya mampu menjadi yang terkencang kedua di sesi latihan kedua tapi pada sesi latihan ketiga harapan kembali membubung di kubu Red Bull setelah Webber berhasil menjadi yang tercepat di sesi latihan terkahir itu sementara Vettel pun tampil baik dengan menjadi yang terkencang ke-3 di belakang Lewis Hamilton.

Keperkasaan Webber di sesi latihan terakhir itu ternyata berlanjut hingga sesi qualifying di mana ia sukses meraih pole dengan catatan waktu 1:49.327 sementara rekan setimnya, Vettel berada di grid ketiga, selisih 0.116 detik dari Nico Rosberg yang meraih grid kedua di belakang Webber.

Meski hanya meraih grid ke-3 tapi tak membuat kepercayaan diri Vettel merosot. Terbukti saat race ia akhirnya berhasil membuka kemenangan pertama RBR untuk musim 2010 ini. Vettel finish terdepan diikuti oleh Webber dan Rosberg. Red Bull pun berpesta dengan tambahan 43 poin di klasemen. Posisi Vettel di klasemen pun naik ke urutan kedua dengan total 37 poin berkat tambahan 25 poin yang diraihnya, selisih dua poin dari Felipe Massa yang bertengger di puncak klasemen menggantikan Alonso yang melorot ke urutan ke-3 setelah mobilnya gagal melanjutkan lomba di lap 54.

Again, fooled by rain
Gagal maning... gagal maning....
 (gbr dicomot dari situs ini)

Kemenangan satu-dua yang diraih Red Bull di Sepang, Malaysia membuat kubu RBR memiliki tambahan semangat dalam menghadapi race berikutnya yang akan digelar di Shanghai, China. Di negeri tirai bambu ini RBR bersaing ketat dengan McLaren-Mercedes sejak sesi latihan pertama. Di dua sesi latihan hari Jum'at, pebalap McLaren menjadi yang terkencang. Jenson tercepat di sesi latihan pertama sementara Hamilton menjadi yang terkencang di sesi latihan bebas kedua. Tapi pada hari Sabtu, RBR membalikkan keadaan. Di sesi latihan bebas terakhir Red Bull tampil perkasa lewat Mark Webber yang meraih catatan waktu tercepat, unggul 0.241 detik dari Hamilton yang menempati urutan tercepat kedua di belakang Webber sementara Vettel membuntuti Hamilton di urutan ketiga. Namun Vettel masih lebih cepat 0.056 detik dari Button yang meraih urutan tercepat ke-4 dengan 1:35.747.

Keperkasaan Red Bull itu kembali berlanjut hingga sesi qualifying. Kali ini Vettel yang berhasil menjadi yang tercepat dengan waktu 1:34.558, ia lebih cepat 0.248 detik dari rekan setimnya, Mark Webber yang menempati grid ke-2 sementara dua pebalap McLaren, saingan berat mereka di sesi latihan, Jenson Button hanya bisa meraih urutan ke-5 sedangkan Hamilton menempati grid ke-6 di belakang rekan setimnya.

Sayangnya hujan yang mengguyur sirkuit Sinopec di Shanghai, China ini mengandaskan impian Red bull untuk melanjutkan sukses mereka seperti di Malaysia. Posisi satu-dua yang mereka raih di sesi qualifying jadi berbalik ke kubu McLaren. Seperti di Australia, hujan memberikan keuntungan bagi McLaren. Jenson button yang sukses meraih kemenangan di Australia yang diguyur hujan, kembali memetik kemenangan di China berkat strategi tyre management McLaren yang gemilang. Sementara McLaren berpesta dengan kemenangan satu-dua yang diraih pebalap mereka, RBR malah harus mengerutkan keningnya setelah Vettel hanya mampu finish di P6 sementara Webber ada di urutan ke-8.

Banteng merah berpesta di negeri matador
Si baju merah di antara serdadu banteng merah
(gbr dipinjam dari situs ini)

Meski meraih hasil buruk di Shanghai, China tapi Red Bull kembali menunjukkan mental juaranya dengan tak mau larut dalam kegagalan. Memasuki sesi latihan pertama di Catalunya, Spanyol, Red Bull masih bertengger di urutan tercepat ke-4 dan 5 sementara posisi puncak kembali ditempati kubu McLaren lewat Hamilton yang sukses mencatatkan waktu tercepat pertama diikuti oleh Button di urutan kedua dan yang tak diduga, Michael Schumacher menjadi yang terkencang ke-3 diikuti oleh Webber dan Vettel di urutan keempat dan lima. Tapi di dua sesi latihan berikutnya, RBR mulai membalas sakit hati mereka ke tim Silver Arrows ini.

Di dua sesi latihan berikutnya Vettel tampil meraja sehingga meniupkan kembali optimisme Red Bull untuk meraih kemenangan di negeri matador ini terlebih Webber pun tampil kompetitif. Meski di sesi latihan bebas Webber hanya mampu berada di urutan terkencang kedua di belakang Vettel tapi ia berhasil membalas di sesi qualifying dengan meraih pole, unggul 0.106 detik dari rekan setimnya, Vettel yang berada di urutan kedua setelah hanya mampu mencatatkan waktu 1:20.101.

Saat race, tanpa banyak hambatan, Webber berhasil mempertahankan posisinya hingga finish. Kemenangan Webber ini membawa posisinya di klasemen naik ke peringkat ke-4 setelah sebelumnya berada di urutan ke-8. Sementara Vettel yang finish di urutan ketiga di belakang Alonso pun bherasil menaikkan posisinya di klasemen ke urutan ketiga setelah Lewis Hamilton gagal finish saat balapan hanya menyisakan beberapa lap lagi. Perolehan poin RBR di klasemen konstruktor pun berasing ketat dengan Ferrari yang berada di urutan kedua, selisih 3 poin dari RBR sementara McLaren-Mercedes masih berada di puncak klasemen dengan keunggulan tipis 6 poin dari RBR.

Nothing can't stop us, now

hei, yang menang kan Webber koq Kubica yang maju?
(gambar dari situs ini)

Judul lagu yang pernah dipopulerkan Rick Price ini kiranya cocok untuk menggambarkan kehebatan RBR di GP Monaco yang penuh drama. Berbagai kecelakaan yang terjadi sejak start dimulai hingga balapan hampir berakhir membuat Safety Car rajin keluar masuk memimpin balapan, namun meskipun balapan di Monaco ini penuh drama tapi rupanya hal itu tak bisa menghentikan Red Bull untuk kembali meraih podium 1-2 di sirkuit jalan raya ini.

Di sesi latihan bebas, meskipun kedua pebalap RBR ini tak berhasil menjadi yang tercepat di sesi qualifying, lagi-lagi RBR kembali meraih pole lewat Mark Webber sementara Vettel berada di urutan ketiga di belakang Robert Kubica.

Seperti yang telah diungkapkan di atas, meski balapan di Monaco dipenuhi drama yang membuat Safety Car mondar-mandir di sirkuit tapi hal ini tak bisa menghentikan RBR untuk berpesta. Mark Webber pun menjadi pebalap pertama yang melintas garis finish diikuti oleh Vettel dan Kubica.

RBR Sunday Heat
"Seb, jalannya liat-liat donk!," omel Webbo
(gambar dipinjam dari situs ini)

For becoming world champion, you have to beat your team mate, first. Agaknya petuah ini amat berarti bagi kedua pebalap RBR ini. Kesuksesan Webber meraih podium pertama di Monaco membuatnya bertengger di posisi puncak klasemen pebalap diikuti oleh rekan setimnya, Sebastian Vettel. Agaknya hal ini makin memanaskan persaingan antara kedua pebalap RBR ini. Kedua pebalap yang memiliki kans sama besar untuk mencatatkan sejarah baru dalam karir balap mereka terlebih RBR yang merupakan tim paling demokratis di F1 2010 ini tak pernah memberlakukan team order untuk mendukung salah satu pebalapnya membuat keduanya saling bersaing keras bukan hanya untuk memenangi balapan tapi juga untuk meraih gelar dunia pertama mereka.

Persaingan antar rekan setim yang terjadi di kubu RBR ini memang bukanlah yang pertama di F1. Senna-Prost yang meski saling berseteru dan berusaha saling mengalahkan ini pernah membawa McLaren mencapai puncak kesuksesannya pada tahun 1980-an. Keduanya sama-sama berbakat dan persaingan keduanya memberikan dampak positif bagi McLaren karena dengan persaingan mereka maka mereka saling berusaha mengoptimalkan talenta mereka yang akibatnya masing-masing memberikan seluruh kemampuan mereka untuk membawa tim mereka meraih kemenangan. Tapi persaingan antar rekan setim seperti ini bisa juga berdampak negatif bagi tim. Dan hal itu terjadi di GP Turki 2010 ini.

Sengitnya persaingan kedua pebalap RBR ini sudah tampak di sesi latihan bebas. Pada latihan bebas kedua Webber menempati urutan tercepat kedua di belakang Jenson Button, unggul 0.212 detik dari Vettel yang mencatatkan waktu tercepat ketiga di belakang Webber. Tapi di sesi latihan bebas ketiga, ganti Vettel yang tampil menjadi pebalap tercepat sementara Webber berada di urutan tercepat keempat di belakang Hamilton.

Pertempuran kedua pebalap RBR ini makin memanas di sesi qualifying. Sebastian Vettel sukses merajaiQ1 dan Q2. Di Q1 Vettel mencatatkan waktu tercepatnya 1:27.067 sementara di Q2 catatn waktunya 1:26.729. Tapi di Q3 Webber berhasil menghempaskan Vettel. Ia tampil jauh lebih kencang dan berhasil meraih pole sementara catatan waktu Vettel hanya bisa menempatkannya di urutan ketiga di belakang Hamilton.

Saat race, Vettel yang penuh percaya diri berhasil menggeser Hamilton ke posisi ketiga sementara ia berhasil naik satu posisi ke urutan kedua mendekati rekan setimnya yang masih nyaman di posisi terdepan. Menyadari tunggangannya amat kencang dan memiliki peluang untuk menyalip rekan setimnya, Vettel pun terus menekan Webber dan berusaha untuk menyalipnya. Peluang itu nyaris berhasil diraih pemuda asal Jerman ini, sayangnya ia terlalu bernafsu untuk sesegera mungkin menyingikrkan rekan setimnya sementara rekan setimnya tak rela posisinya diambil semudah itu oleh Vettel akibatnya kedua pebalap RBR ini malah bertabrakan. Vettel harus menelan pil pahit akibat usahanya yang terlalu gegabah itu. Ia gagal melanjutkan lomba dan gagal mendapat tambahan poin untuk klasemen kejuaraan dunia sementara rekan setimnya meski terpaksa merelakan kemenangan kepada Hamilton yang memetik keuntungan dari "perang saudara" RBR ini diikuti oleh Jenson Button yang meraih podium kedua, sementara Webber meski sempat terpaksa masuk pit kembali untuk mengganti sayap mobilnya masih bisa sedikit terhibur setelah berhasil finish ketiga di belakang duo McLaren yang ganti berpesta berkat "kudeta" Vettel yang gagal.


 

Time After Time
"Ciluk baa," kata Webbo. "Ssst, lagi difoto nih , gaya yang bener donk," seru Vettel
 (foto ini dicomot dari situs ini nih).

Setelah insiden "perang saudara" di Istanbul, Turki, RBR seperti biasa tak ingin terus larut atas hasil mengecewakan yang diraih mereka di Turki. Mereka lebih memilih untuk fokus pada race selanjutnya di Kanada. Vettel dan Webber pun tetap berusaha untuk berkepala dingin demi menghindari insiden Turki kembali terulang.

Di sesi latihan bebas pertama RBR tak terlalu memperlihatkan keperkasaannya. Vettel hanya mampu mencatatkan waktu tercepat kelima sementara Webber berada di urutan tercepat ke-14. Tapi di sesi latihan bebas kedua, Vettel kembali membawa RBR ke dalam arena persaingan dengan menjadi yagn tercepat sementara Webber menempati urutan tercepat keempat. Pada sesi latihan bebas yang terakhir, Webber menjadi pebalap tercepat kedua setelah Hamilton sementara Vettel ada di urutan kelima di belakang Michael Schumacher. Dengan hasil ini, RBR tetap optimis bisa meraih hasil optimal di race sebagai ganti hasil buruk yang mereka raih di Turki.

Peluang RBR untuk merajai GP Kanada hampir saja tercipta tapi sayangnya catatan waktu kedua pebalapnya pada sesi akhir Q3 berhasil dikalahkan oleh Lewis Hamilton yang sukses meraih pole dengan waktu 1:15.105 sementara Webber yang mencatatkan waktu 1:15.373 hanya bisa menempatkannya di urutan kedua diikuti oleh rekan setimnya Vettel yang meraih grid ke-3 dengan 1:15.420.

Kanada rupanya merupakan milik Hamilton. Selepas start ia tetap tangguh berada di posisi terdepan yang berhasil dipertahankannya hingga akhir race. RBR yang berharap bisa membayang-bayangi langkah Hamilton untuk meraih kemenangan rupanya tak berjalan mulus. Mereka bukan saja tak berhasil menghadang langkah Hamilton untuk meraih kemenangan, kedua pebalap mereka bahkan tak mampu mempertahankan posisi dua dan tiga yang mereka raih saat sesi qualifying. Kanada rupanya benar-benar milik McLaren. Setelah Hamilton tampil superior di posisi terdepan, rekan setimnya, Button pun mengikuti langkah suksesnya. Ia berhasil menyalip Vettel dan meraih podium kedua di belakang rekan setimnya. Sementara Vettel harus puas dengan tambahan 12 poin setelah hanay bisa finish di urutan keempat di belakang Alonso. Begitu pula dengan Webber yang finish kelima tepat di belakang rekan setimnya ini dan hanya mendapatkan tambahan sepuluh poin. Hasil yagn tak terlalu mengesankan untuk RBR tapi Red Bull takkan berdiam diri. Mereka pastinya akan membalas di race selanjutnya di Valencia.

Gives You Wings
Ayo, yang minumnya kelar duluan, jadi juara dunia!
 (foto lucu ini nemu dari situs ini)

Pembalasan RBR atas hasil buruk yang mereka terima di Kanada terwujud di Valencia. Peluang pembalasan dendam RBR ini sudah terlihat sejak sesi latihan bebas. Seperti biasa penampilan kedua pebalap RBR di sesi latihan bebas sangat kompetitif. Meski di latihan bebas pertama Vettel dan Webber masing-masing hanya mampu mencatat waktu tercepat keenam dan ketujuh tapi di sesi latihan bebas kedua dan ketiga RBR memperlihatkan superioritas mereka. Di sesi latihan bebas kedua Vettel memang masih kalah cepat 0.056 detik dari Alonso yang meraih posisi terdepan tapi di sesi latihan bebas ketiga atau yang terakhir, Vettel berhasil membalikkan keadaan dengan menjadi yang terkencang pertama sementara rekan setimnya, Mark Webber berada di urutan ketiga, selisih 0.261 detik dari Vettel. Begitu pun di sesi qualifying, Vettel kembali berhasil meraih pole dengan waktu 1:37.587 diikuti oleh rekan setimnya di urutan kedua. Catatan waktu Webber lebih lambat 0.075 detik dari Vettel.

Kegemilangan Vettel terus berlanjut hingga di race. Ia berhasil mempertahankan posisinya hingga akhir race sementara rekan setimnya gagal melanjutkan lomba setelah mengalami kecelakaan hebat dengan Heikki Kovalainen di lap 8. Kecelakan yang membuat RBR-nya Webber terjun bebas menerjang Lotus-Cosworth-nya Kovalainen ini sendiri menimbulkan kekacauan di trek. Setelah kecelakan Webber ini, Safety Car pun keluar dan kekacauan ini pun terjadi yang melibatkan banyak pebalap di antaranya Button, Barrichello, Hulkenber, Kubica, Petrov, Sutil, Liuzzi, Buemi, dan De la Rossa mendapatkan penalti 5 detik. Sebelumnya Hamilton pun terkena drive through penalty namun ia tetap berhasil mempertahankan posisi keduanya setelah ia menjalani hukumannya dan sukses finish kedua di belakang Vettel akibat lamanya Button tertahan di belakang Kobayashi yang akhirnya berhasil finish ketiga di belakang rekan setimnya setelah pebalap Jepang itu masuk pit.

Habis Gelap Terbitlah Terang
"Lagi bokek nih, jual yang mana dulu, ya?", tanya Webber
(foto lucu Webbo ini dari situs ini nih)

Ungkapan ini sepertinya benar-benar cocok menggambarkan keberhasilan Webber di Silverstone setelah ia mengalami nasib buruk di Valencia di mana RBR-nya sampai melayang sebelum akhirnya terhempas menerjang Lotus-nya Heikki. Bila di Valencia, Webber dinaungi nasip apes maka di Silverstone ganti rekan setimnya, Vettel yang harus dirundung nasib buruk.

Di sesi latihan bebas, seperti biasa kedua pebalap RBR ini memperlihatkan superioritas RBR-Renault mereka. Keduanya bergantian merajai sesi latihan bebas. Di latihan bebas pertama Vettel menjadi yang tercepat dan Webber yang di sesi latihan bebas pertama hanya berada di urutan keempat tercepat membalasnya di sesi latihan bebas kedua. Ia tampil gemilang dengan waktu terepat 1:31.234 diikuti oleh Alonso dan Vettel di urutan ketiga dengan waktu 1:31.875.

Pada latihan bebas terakhir keduanya tampil meyakinkan dengan Vettel yang berhasil menjadi pebalap tercepat pertama diikuti oleh Webber di urutan kedua. Hal ini terus berlanjut hingga sesi qualifying di mana Vettel sukses meraih pole-nya yang kelima untuk musim ini dengan waktu 1:29.615 sementara Webber menguntit di belakangnya selisih tipis 0.143 detik dari Vettel.

Tapi kegemilangan Vettel tak berlanjut di race. Sebaliknya rekan setimnya yang malah tampil luar biasa di sirkuit yang pernah menjadi landasan pesawat terbang di masa Perang Dunia kedua ini. Webber meraih kemenangan ketiganya di musim ini sementara Vettel harus puas hanya mampu finish di urutan ketujuh di belakang Kamui Kobayashi dari Sauber-Ferrari.

Private Emotion
Lho, mukanya koq pada gelap semua?
 (gambar dipinjam dari situs ini nih)

Menghadapi GP Jerman tentunya terasa sangat istimewa bagi Vettel yang merupakan pebalap muda asal negeri yang juga merupakan negara asal juara dunia tujuh kali, Michael Schumacher ini. Tampil di depan publik sendiri tentunya memberikan suntikan semangat tersendiri bagi Vettel dan pebalap asal Jerman lainnya seperti Michael Schumacher, Rosberg Jr., Hulkenberg, Sutil, dan Glock. Terlebih dengan hasil buruk yang diraih Vettel di Inggris tentunya membuatnya sangat ingin menebusnya di tanah kelahirannya ini.

Pada sesi latihan bebas pertama, seorang pebalap Jerman, tapi bukan Vettel tampil menggebrak sebagai pebalap tercepat. Sementara Vettel hanya berada di urutan ke-11 selisih 3.034 detik dari Adrian Sutil yang tampil sebagai pebalap tercepat pertama di sesi latihan bebas pertama ini dengan waktu 1:25.701. Sementara Mark Webber, rekan setim Vettel pun catatan waktunya tak terlalu memuaskan setelah hanya mampu berada di urutan tercepat ke-14 dengan waktu 1:29.048.

Vettel bangkit di sesi latihan bebas kedua. Meski ia masih kalah cepat 0.029 detik dari Alonso yang berada di urutan pertama tapi Vettel berhasil membalikkan keadaan di sesi latihan bebas ketiga di mana ia sukses menjadi yang tercepat di sesi latihan bebas terakhir ini diikuti oleh Alonso di tempat kedua dan Webber di urutan ketiga, selisih 0.605 detik dari Vettel yang mencatat waktu 1:15.103.

Di sesi qualfiying Vettel tampil makin percaya diri. Ia kembali sukses meraih pole dengan waktu 1:13.791 diikuti oleh Alonso di tempat kedua sementara Webber berada di urutan keempat di belakang Felipe Massa. Hasil ini tentu saja bukan hanya menggembirakan Vettel tapi juga para pendukungnya yang pastinya berharap pemuda Jerman ini bisa memenangi race di negerinya sendiri.

Tapi sayangnya selepas start, Vettel harus kehilangan posisinya yang diambil oleh Alonso. Meski ia telah menggeber RBR-nya hingga berhasil meraih fastest lap tapi ia akhirnya harus mengakui keunggulan Ferrari. Ia pun harus puas finish di urutan ketiga di hadapan publiknya sendiri sementara Ferrari berpesta setelah dua pebalapnya meraih kemenangan satu-dua. Bagaimanapun hasil yang diraih Vettel masih jauh lebih baik dibanding rekan setimnya, Webber yang mengalami akhir pekan yang tak terlalu menggembirakan setelah ia hanya bisa finish keenam di belakang Jenson Button.

Points of Authority
"wee, akhirnya bisa nyolong podium pertama dari Seb," ledek Webbo
 (foto aneh Webbo ini ada di situs ini)

Setelah meraih hasil yang tak terlalu menggembirakan di Hockenheim, RBR berhasil mengembalikan posisi mereka di Budapest, Hungaria yang menjadi saksi superioritas RBR. Sejak sesi latihan bebas, RBR sudah tampil perkasa dan menggentarkan rival-rivalnya. Sebastian Vettel tampil merajalela di sesi latihan bebas pertama dan kedua sementara di sesi latihan bebas ketiga, gantian Webber yang tampil sebagai pebalap tercepat pertama dengan waktu 1:19.574 sedangkan Vettel yang kalah 0.484 detik berada di urutan tercepat kedua di belakang Webber.

Di sesi qualifying persaingan antar rekan setim RBR ini kembali terjadi. Tapi kali ini Vettel yang memenangi pertempuran. Ia meraih pole-nya yang ketujuh di musim ini dengan torehan waktu 1:18.773 sementara Webber berada di urutan kedua di belakangnya selisih 0.411 dari Vettel. Tapi sayangnya lagi-lagi Vettel harus kehilangan posisi terdepannya saat race. Rekan setimnya melibas dan merebut posisinya disusul oleh Alonso sementara Vettel meskipun ia sudah menggeber tunggangannya semaksimal mungkin hingga ia meraih fastest lap di lap terakhir tapi hal itu tak mampu membawanya merebut kembali posisinya yang direbut rekan setimnya. Ia pun terpaksa puas hanya menghuni podium ketiga di belakang rekan setimnya, Webber dan Alonso.

Dust In The Rain
"Seb, diledekin tuh sama Webbo," kata orang di sebelah Vettel
(gambar ini ketemu dari situs ini)

Setelah hanya mampu meraih podium ketiga di Hungaria, persaingan Vettel di klasemen pebalap makin ketat. Memasuki GP Belgia ia hanya terpaut 6 poin dari Hamilton yang berada di urutan kedua klasemen sementara rekan setim Vettel makin kokoh di posisi puncak klasemen dengan 161 poin, unggul 10 poin dari Vettel yang menghuni tempat ketiga dengan total 151 poin. Untuk meraih hasil yang lebih baik, tak ada kata lain bagi Vettel selain meraih kemenangan di GP Belgia agar dapat meraih poin maksimal. Tapi sayangnya pencapaian Vettel di Spa Franchorchamps tak terlampau menggembirakan.

Sejak latihan bebas catatan waktu Vettel meski masih kompetitif tapi tak terlalu istimewa dibanding Mark Webber, rekan setimnya yang meskipun di sesi latihan pertama dan kedua catatan waktunya tak terallau mengesankan tapi berhasil menutup sesi latihan terakhir sebagi yang tercepat pertama denganw aktu 1:46.106 sementara Vettel berada di urutan tercepat ketiga di belakagn Hamilton dengan waktu 1:46.396.

Di sesi qulaifying kembali rekan setim Vettel yang tampil lebih gemilang. Webber mencatatkan waktu tercepat 1:45.778 yang berhasil mengantarkannya meraih pole ke-12 RBR musim ini sementara Vettel berada di urutan keempat, kalah kencang dari Hamilton dan Kubica yang meraih P2 dan P3 tapi ia masih lebih kencang 0.079 detik dari Button yang hanya mampu mencatat waktu tercepat 1:46.206 di sesi latihan terakhir sehingga hanya menempatkannya di P5 tepat di belakang Vettel.

Saat race nasib apes rupanya masih betah menggelayuti pebalap muda Jerman ini. Di tengah sirkuit yang basah diguyur hujan, Vettel kembali melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan kecelakaan antara dirinya dengan Jenson Button sehingga mengakibatkan juara dunia 2009 ini gagal melanjutkan lomba di lap 15 sementara Vettel masih bisa melaju meski ia terpaksa harus kehilangan banyak waktu dan walau ia sudah berjuang keras hingga akhir race, tapi ia hanya berhasil finish di urutan ke-15 yang artinya ia gagal meraih tambahan satu poin pun. Sementara rekan setimnya, Webber masih lebih beruntung walaupun ia harus kehilangan posisi pertamanya yang direbut Hamilton tapi ia masih bisa tersenyum di atas podium kedua. Tentu saja hasil di Spa Francorchamps ini tak menggembirakan kubu RBR tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain memperbaiki kinerja mereka agar dapat meraih hasil yang lebih baik di Monza, Italia.

Red Bull vs Prancing Horse
"Ya ampun, koq Ferrari bisa kenceng sih?", seru Vettel
 (gbr diambil dari situs ini)

Hasil buruk yang diraih RBR pada dua minggu sebelumnya di Belgia memacu RBR untuk tampil lebih baik di Monza, Italia. RBR kembali memperlihatkan "tanduk"-nya di sesi latihan bebas terakhir menjelang sesi qualifying GP Italia. Di tiga sesi latihan bebas catatan waktu Vettel pun bisa dibilang menjanjikan. Pada sesi latihan bebas pertama meski ia masih kalah kencang dari Button yang merajai sesi latihan bebas tapi catatan waktu yang diraih Vettel tak terlalu buruk. Dan itu terbutkti di sesi latihan bebas kedua dimana Vettel berhasil mengembalikan dominasi RBR dengan menjadi pebalap terkencang. Pada sesi latihan bebas ketiga atau yang terakhir, Vettel kembali hanya berhasil mencatatkan waktu tercepat kedua dengan waktu 1:22.545 kali ini ia kalah dari pebalap McLaren lainnya, Hamilton yang mencatatkan waktu tercepat 1:22.498.

Tapi di sesi qualifying, kejutan justru datang dari tim tuan rumah, Ferrari yang berhasil meraih pole lewat Alonso disusul oleh Button dan Massa sementara Webber hanya mampu meraih waktu tercepat keempat dengan waktu 1:22.433. Vettel sendiri hanya mampu meraih P6 dengan waktu 1:22.675 kalah cepat 0.052 detik dari Hamilton yang berada di P5.

Saat race meski sempat terjadi pergantian posisi antara Button dan Alonso tapi di akhir race posisi 1-3 tak berbeda dengan hasil di sesi qualifying. Yang istimewa meskipun Vettel gagal meraih podium tapi ia berhasil naik 2 posisi dan ia pun masih bisa tersenyum tipis setelah berhasil finish keempat sedangkan Webber bertukar posisi dengan Vettel setelah hanya mampu finish keenam, turun 2 posisi dari hasil yang didapatnya saat qualifying.

When The Sun Falls Down
Biar kalah yang penting gaya
(foto Webber mejeng ini ada di situs ini)

Memasuki race di GP Singapore, RBR berhasil mengemblaikan dominasinya pada saat sesi latihan bebas. Di sesi latihan bebas pertama, Mark Webber tampil sebagai pebalap tercepat dengan 1:54.589 diikuti oleh Michael Schumacher di tempat kedua selisih 0.119 detik dari Webber. Sementara Vettel berada di urutan tercepat keempat dengan 1:55.137. Tapi di dua sesi latihan berikutnya, ganti Vettel yang tampil merajalela. Pada sesi latihan bebas kedua Vettel menjadi yang tercepat dengan waktu 1:46.660 sementara rekan setimnya berada di urutan kedua, kalah kencang 0.627 detik dari Vettel. Di sesi latihan bebas ketiga Vettel kembali menjadi yang terkencang dengan waktu 1:48.028 diikuti oleh Alonso dan Hamilton di urutan kedua dan ketiga, sedangkan Webber berada di urutan tercepat keenam, selisih 1.184 detik dari rekan setimnya.

RBR melalui Vettel masih tampil gemilang saat sesi qualifying. Di sesi penentuan sebelum race ini, Vettel mencatat waktu tercepat 1:45.457 tapi sayangnya catatan waktu yang ditorehkan Vettel ini dipatahkan oleh Alonso yang tampil lebih kencang 0.067 detik darinya dan berhasil meraih pole sementara Vettel harus puas memulai start dari grid kedua di samping Alonso. Sedangkan Mark Webber barada di urutan kelima, ia lebih lambat 0.053 detik dari Button yang berada di urutan keempat dengan waktu 1:45.944.

Saat race ternyata Alonso dan Ferrari tak mampu terpatahkan oleh Vettel yang akhirnya harus puas finish di urutan kedua di belakang Alonso sementara Webber berhasil naik 2 posisi dan finish ketiga tepat di depan Jenson Button. Meski tak berhasil meraih podium utama tapi keberhasilan Vettel dan Webber meraih podium kedua dan ketiga cukup menggembirakan kubu RBR sebagai bekal tambahan semangat tim menuju race berikutnya di Suzuka, Jepang.

RBR Wheel On Fire
"S u z u k a... dibaca apa, Webbo?"
(foto aneh Vettel ini dari situs ini)

Menjelang GP Jepang persaingan di antara kedua pebalap RBR kian memanas. Keduanya memiliki kans untuk meraih gelar dunia pertama mereka meskipun Webber yang memiliki peluang lebih besar dengan posisinya di puncak klasemen pebalap. Persaingan kedua pebalap RBR ini sduah terasa sejak sesi latihan bebas. Vettel tampil meraja di sesi latihan bebas pertama dan kedua sementara Webber menguntit di belakangnya. Akibat cuaca yang amat buruk, sesi latihan bebas ketiga pun ditiadakan dan hanya dua pebalap saja yang sempat mencatatkan waktu yaitu Jaime Alguersuari dari Toro Rosso dan Timo Glock yang tampil di bawah bendera tim Virgin-Cosworth.

Cuaca buruk yang melanda sesi latihan terakhir ternyata terus berlanjut hingga sesi qualifying sehingga FIA pun akhirnya memutuskan untuk mengundurkan sesi kualifikasi ke hari Minggu pagi, beberapa jam saja sebelum race. Tapi rupanya semua kekacauan akibat cuaca itu tak mempengaruhi RBR untuk tampil mendominasi baik di sesi qualifying maupun saat race.

Seperti di sesi latihan bebas, di sesi qualifying pun Vettel tampil luar biasa dan berhasil meraih pole-nya yang ke-8 di musim ini. Ia mencatakan waktu 1:30.785 unggul 0.068 detik dari rekan setimnya, Mark Webber yang akan memulai balapan di grid kedua berdampingan dengan Vettel sementara di tempat ketiga ada Lewis Hamilton yang mencatat waktu 1:31.169.

Saat race kedua pebalap RBR ini melesat tak terbendung oleh pebalap lain di belakang mereka. Vettel terus memimpin hingga akhir race sementara Webber akhirnya finish di urutan kedua di belakang rekan setimnya sedangkan Hamilton terpaksa turun dua posisi setleah hanya berhasil finish kelima. Podium ketiga akhirnya diraih Alonso diikuti Jenson Button yang finish keempat di belakang pebalap Ferrari ini. Tambahan 43 poin bagi Red Bull pun makin mengukuhkan RBR di puncak klasemen konstruktor sementara Vettel makin memperkecil jarak perolehan poinnya dari rekan setimnya di klasemen pebalap.

Torn
Ini foto pebalap F1 apa pelatih ikan pesut, ya?

Kesuksesan RBR di Jepang sebenarnya masih bisa berlanjut di Korea setelah Vettel kembali berhasil meraih pole diikuti oleh rekan setimnya yang meraih P2 di belakangnya. Tapi berbeda dengan saat GP Jepang dimana cuaca buruk terjadi menjelang sesi kualifikasi dimulai. Kali ini hujan deras justru turun ketika race sehingga keadaan di sirkuit kacau balau dan balapan pun sempat ditunda akibat keadaan sirkuit saat itu dinilai bisa membahayakan keselamatan para pebalap.

Kesialan RBR dimulai ketika Mark Webber harus retire di lap 18 akibat kecelakan yang turut menyeret Nico Rosber dari Mercedes GP. SEmentara Vettel kala itu masih tangguh sebagai race leader meskipun mendapat ancaman dari Alonso dan Hamilton yang menguntit di belakangnya. Mimpi Vettel untuk mengukir hasil manis seperti di Jepang pun buyar setelah kegagalan mesin menimpanya di lap 45 sehingga ia terpaksa harus mengakhiri balapan tanpa meraup satu poin pun. Kubu RBR pun berkabung dalam duka setelah kedua pebalap mereka gagal melanjutkan lomba dan mereka pun batal mendapatkan tambahan poin. Sementara pesaing mereka, Ferrari justru bertempik sorak kala tungangan Vettel meleduk sehingga pintu bagi pebalap baru mereka, Alonso untuk meraih kemenangan di gelaran perdana GP Korea ini pun terbuka lebar. Di belakang Alonso, pebalap McLaren, Hamilton pun bersorak karena berhasil finsih kedua diikuti oleh Massa yang meraih podium ketiga. Sementara hasil baik pun dipetik Michael Schumacher yang sukses finish keempat di belakang Massa.

Kesalahan Webber di Korea ini pun harus dibayar mahal oleh pebalap Australia ini karena ia terpaksa kehilangan kesempatan meraih gelar dunia pertamanya setelah posisinya di puncak klasemen diambil alih oleh Alonso berkat kemenangannya di negeri ginseng ini.

Have a Little Faith
Lho, Vettel, kenapa tuh Alonso sama Webbo murung?
(gambar tragis ini dicomot dari situs ini)

Setelah mengalami mimpi buruk di Korea, kubu RBR memperlihatkan mental juara mereka dengan tak membiarkan hasil buruk di Korea itu mempengaruhi mereka. Buktinya di Sao Paolo mereka berhasil bangkit kembali dan tampil mendominasi di sepanjang sesi latihan bebas pertama dan kedua. Di dua sesi latihan bebas hari Jum'at itu seperti biasa Vettel tampil sebagai pebalap tercepat diikuti oleh Mark Webber, rekan setimnya. Pada sesi latihan bebas yang terakhir pada hari Sabtu, Vettel masih kalah kencang 0.309 detik dari Kubica yang berhasil mencatatkan waktu tercepat 1:19.191 sementara Webber berada di urutan ke-11 tepat di depan Michael Schumacher.

Saat sesi final qualifying kejutan justru datang dari rookie Williams, Nico Hulkenberg yang sukses meraih pole pertamanya dengan waktu tercepat 1:14.470, ia lebih kencang 1.049 detik dari Vettel yang meraih P2 sementara Webber menguntit Vettel di P3 dengan catatan waktu 1:15.637. Harapan RBR untuk kembali meraih poin maksimal pun kembali terbuka lebar untuk memantapkan mereka meraih gelar dunia pertama mereka.

Harapan RBR tersebut menjadi kenyataan. Saat race Vettel berhasil tampil gemilang dan finish di urutan terdepan diikuti Mark Webber dan Alonso di tempat kedua dan ketiga. Keberhasilan kedua pebalap RBR ini pun mengukuhkan Red Bull Racing sebagai juara dunia konstruktor 2010 sementara pesaing terdekat RBR di klasemen konstruktor, McLaren hanya berhasil mengumpulkan 22 poin setelah kedua pebalap mereka hanya mampu finish di urutan keempat lewat Hamilton dan Jenson Button di tempat kelima. Di sisi lain kemenangan Vetel ini makin memantapkan posisinya di klasemen pebalap meskipun rekan setimnya, Webber memiliki kans yang lebih besar untuk meraih gelar dunia. Tapi ternyata kondisi ini tetap tak membuat RBR memberlakukan team order terhadap Vettel agar memberikan dukungan sepenuhnya pada Webber untuk menghambat laju Alonso yang memiliki kans lebih besar untuk meraih gelar dunia ketiganya mengingat ia hanya perlu finish kelima di GP terakhir di Abu Dhabi.

Make It Happen
"Yes, juara dunia nih!," seru Vettel
 Sebagai GP terakhir, Abu Dhabi menyajikan segala yang diperlukan untuk membuat tampilan race terakhir ini menjadi ajang yang paling menarik. Meskipun RBR telah meraih gelar dunia konstruktor di GP Brazil tapi pastinya akan lebih istimewa bila salah satu dari pebalap mereka sukses meraih gelar dunia pebalap mengingat kedua pebalap mereka memiliki peluang yang sama besar untuk bisa meraih gelar dunia pertama bagi keduanya walaupun kans itu bergantung pada hasil akhir yang bisa diraih pebalap Ferrari, Alonso yang masih bernafsu untuk menambah koleksi dua gelar dunia yang telah diperolehnya pada tahun 2005 dan 2006.

RBR sebenarnya bisa lebih tenang bila saja memberikan dukungan sepenuhnya pada Mark Webber yang memiliki kans lebih besar dari Vettel untuk meraih gelar dunia pertamanya, menggenapkan gelar dunia konstruktor yang telah mereka raih di Sao Paolo tapi ternyata RBR memiliki skenario yang berbeda. Mereka lebih suka membiarkan kedua pebalap mereka bersaing secara adil. Meskipun Vettel memiliki peluang yang jauh lebih kecil dibanding Webber tapi ia datang ke Yas Marina dengan kepercayaan diri penuh.

Di sesi latihan bebas pertama Vettel telah memperlihatkan determinasinya yang tak surut oleh berbagai spekulasi di bursa taruhan. Ia tampil sebagai pebalap terkecang sementara rekan setimnya ada di urutan tercepat keempat dan pesaingnya dalam perebutan gelar, Alonso ada di urutan keenam. Di sesi latihan bebas kedua Vettel hanya mampu mencatatkan waktu tercepat kedua di belakang Hamilton sementara Alonso ada di urutan tercepat ketiga dan Webber di urutan keempat. Tapi di sesi latihan bebas terakhir Vettel kembali tampil meraja sebagai pebalap tercepat dengan waktu 1:40.696 lebih cepat 0.133 detik dari Webber yang berada di urutan kedua sementara Alonso ada di urutan keempat.

Dominasi Vettel ternyata berlanjut hingga sesi qualifying dimana Vettel sukses meraih pole-nya yang kesepuluh di tahun ini dari total 19 race yang digelar musim ini sementara Mark Webber hanya mampu meraih P5 di belakang Jenson Button. Namun meski Vettel berhasil meraih pole tapi peluangnya untuk meraih gelar dunia pertamanya masih terhambat oleh Alonso yang berhasil meraih P3 dan tanpa perlu usaha sekeras Vettel yang harus memenangkan balapan di Abu Dhabi ini, Alonso hanya perlu finish minimal di urutan kelima untuk memastikan gelar dunia jatuh ke tangannya.

Kendati Vettel sebagi pebalap muda masih kerap melakukan kesalahan pada balapan-balapan sebelumnya yang berakibat merugikan dirinya sendiri tapi di balapan penentu ini, Vettel berhasil memperlihatkan kualitasnya sebagai pebalap papan atas. Sepanjang race ia tampil tenang dan memilih untuk bersikap nothing to lose saja dan hanya memfokuskan diri untuk tampil sebaik-baiknya tanpa perlu membebani dirinya dengan tuntutan untuk meraih gelar dunia.

Balapan makin menegangkan setelah posisi Vettel sebagai race leader sempat diambil alih oleh Hamilton dan Button sementara pesaing terdekat Vettel sendiri masih berkutat di belakang Vitaly Petrov, rookie dari Renault, tim yang mengantarkan Alonso meraih dua gelar dunia.

Setelah melewati perjuangan dan kerja keras akhirnya RBR dan Vettel pun berpesta saat Vettel berhasil meraih kemenangan di race terkahir musim balap 2010 ini terlebih kemenangan Vettel ini pun ternyata mengukuhkannya sebagai juara dunia 2010 mengalahkan Alonso yang akhirnya hanya bisa finish di urutan ketujuh di belakagn Petrov yang melakukan pertahanan dengan gemilang dari gempuran pebalap sekelas Alonso meskipun ia hanya seorang rookie. Sementara pesaing terdekat Vettel yang lainnya sekaligus rekan setimnya, Mark Webber finish di urutan ke-8 tepat di belakang Alonso dan mengantarkan pebalap Australia ini berada di urutan ketiga klasemen pebalap.

Kamis, 09 Desember 2010

Indonesia & Philippine = The Sister Country?

Awalnya aku hanya berniat membaca-baca tentang kepemimpinan beberapa diktator salah satunya tentu saja Ferdinand Marcos dan Soeharto tapi akhirnya aku malah dapat ide baru untuk menulis persamaan antara Filipina dan Indonesia karena selain pernah sama-sama dipimpin oleh diktator yang keduanya terpaksa harus tumbang oleh aksi kekuatan massa, ternyata ada banyak kesamaan lain dari kedua negara ini.

1. Negara Kepualauan
Kedua negara ini sama-sama dikenal sebagai negara kepulauan. Secara geografis letak kedua negara ini bisa dibilang bertetangga. Gugusan pulau-pulau yang tergabung dalam kesatuan negara Filipina ini terletak di bagian atas dari pulau Sulawesi yang menjadi salah satu pulau besar di Indonesia. Sama seperti Indonesia yang terdiri dari gugusan pulau-pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, Filipina pun ditunjang oleh gugusan pulau-pulau besar dan kecil. Bila di Indonesia memiliki lima pulau besar utama seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua yang masih pula ditambah beberapa pulau-pulau yang meski tak sebesar lima pulau utama tersebut diatas tapi juga amat dikenal seperti Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan masih banyak lagi pulau-pulau kecil lain di Indonesia yang makin menambah keindahan dan kekayaan khazanah nusantara ini. Sementara itu meski Filipina tak memiliki pulau sebanyak Indonesia, tapi di Filipina pun dikenal dua pulau besar utama seperti Luzon yang terletak di bagian utara Filipina dan Mindanao yang berada di bagian selatan. Di antara kedua pulau besar ini terdapat beberapa pulau kecil yang tersebar diantaranya adalah Palawan, sebuah pulau di Filipina yang keindahan alamnya sudah terkenal di seluruh dunia, seperti Bali dan beberapa pulau lain di Indonesia. 

Kesamaan geografis ini membuat kedua negara ini selain dianugrahi keindahan dan kekayaan alam tapi ternyata juga menempatkan kedua negara ini dalam posisi alam yang riskan bencana. Seperti Indonesia ternyata Filipina pun berada di kawasan ring of fire yang berarti kedua negara ini terkadang harus menghadapi bencana seperti angin topan maupun tsunami yang beberapa tahun ini kerap memberikan dampak yang serius bagi Indonesia. 

2. Basis Agama yang Kuat
Sudah bukan rahasia umum memang bahwa Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, basis agama Islam di Indonesia memang sangat kuat. Hal yang hampir sama pun berlaku di Filipina, hanya bedanya, sebagai bekas negara jajahan Spanyol, Filipina merupakan negara berpenduduk Katolik Roma terbesar di Asia Tenggara di samping Timor Leste yang baru memerdekakan diri dari Indoneisa usai referendum pada 1999. Hal ini membuat peran pemimpin agama di kedua negara ini amat penting, pun dalam pemerintahan.

Ketika terjadi people power pertama yang berhasil menjatuhkan Marcos dari tampuk kekuasaan, peran gereja Katolik lewat Kardinal Sin amat besar dalam membawa Filipina menuju babak politik baru bersama Corazon Aquino yang kemudian ditahbiskan sebagai presiden baru menggantikan Marcos. Dan bersama Aquino pula, Kardinal Sin mengawal proses demokrasi di negara asal Christian Bautista ini. Ketika Joseph Estrada, presiden Filipina yang menggantikan Fidel Ramos memperlihatkan indikasi yang bisa mematikan demokrasi di Filipina dan menunjukkan tanda-tanda ke masa pemerintahan Marcos jilid II, maka kedua pilar demokrasi di Filipina ini, Kardinal Sin dan Ny. Corazon Aquino langsung turun ke jalan kembali yang berujung pada pemasgulan Estrada dan pengangkatan Gloria Macapagal-Arroyo sebagai presiden wanita kedua di Filipina. 

Hal yang tak berbeda jauh ini pun terjadi di Indonesia. Ketika Indonesia baru saja beranjak menuju pintu reformasi usai lengsernya Soeharto setelah berkuasa selama 32 tahun, politik Indonesia bisa dibilang kacau balau dan perpecahan pun mulai timbul, terutama saat menuju pemilu paling demokratis pertama kalinya di bumi pertiwi ini sejak pemilu tahun 1955. Kala itu terjadi pertikaian di tubuh dewan rakyat saat harus memutuskan untuk memilih presiden yang saat itu masih dipilih oleh MPR/DPR dan tak langsung seperti saat ini. Situasi saat itu dikatakan amat panas dan bahkan masyarakat dikenalkan oleh istilah politik baru yaitu politik dagang sapi yang intinya untuk menjegal salah satu calon presiden berdasarkan gender. Kelompok poros tengah yang merupakan kumpulan partai Islam muncul yang tujuan utamanya, katanya untuk menjembatani perselisihan tajam ini. Lewat ide dari pemimpin poros tengah ini pun muncul sebuah nama yang dianggap bisa menjembatani pertikaian tajam di antara tubuh dewan rakyat yaitu Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa Gus Dur. Ternyata memang pilihan ini bisa diterima oleh semua pihak meski akhirnya Gus Dur malah dilengserkan di tengah jalan justru oleh orang-orang yang telah mengangkatnya itu. 

Nama Gus Dur sendiri sebenarnya memang sudah amat dikenal di Indonesia. Ia adalah anak dari Wahid Hasyim, salah satu tokoh pergerakan perjuangan Indonesia dan cucu dari Hasyim Asyari, pendiri organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama atau NU. Meski tak sampai memimpin aksi massa di jalanan pada aksi people power seperti yang dilakukan oleh Kardinal Sin, tapi Gus Dur menjadi salah satu dari empat tokoh nasional yang dipercaya para pemuda saat itu untuk membawa bangsa ini menuju babak reformasi diantaranya Megawati Soekarnoputri, Sultan Hamengkubuwono X, Amien Rais, dan Gus Dur sendiri.

Namun begitu dengan diangkatnya Gus Dur sebagai Presiden Repulik Indonesia yang keempat, maka ia merupakan ulama pertama yang menjadi presiden di negeri ini. Meski usia pemerintahan Gus Dur amat singkat, tapi beliau telah berhasil memberikan landasan untuk memperbaiki tatanan berbangsa dan bernegara di negeri ber-Bhinneka Tunggal Ika ini yang telah hancur lebur oleh sistem politik semasa Orde Baru. Walaupun Gus Dur merupakan salah satu tokoh besar bahkan pemimpin salah satu kelompok massa muslim terbesar di negeri ini, tapi Gus Dur lebih mengutamakan sikap tenggang rasa dan tepo seliro yang merupakan ciri utama peninggalan leluhur negeri majemuk ini. Tak heran bila kemudian Gus Dur dianggap tokoh pemersatu bangsa meski tindak langkahnya tak jarang menuai kontroversi. 

Bagi kelompok Tionghoa, peran Gus Dur dalam menetapkan hari raya Imlek sebagai hari besar nasional merupakan sebuah lompatan besar yang amat penting dalam membangun kesatuan dan persatuan seperti yang diharapkan oleh para pendiri negeri ini. Bahkan secara terbuka Gus Dur pernah mengungkapkan bahwa ia sebenarnya memiliki darah Tionghoa. Gus Dur mengaku merupakan keturunan dari Tan Kim Han yang menikahi Tan A Lok, saudara kandung dari Raden Patah atau yang juga memiliki nama Tan Eng Hwa. Raden Patah yang dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai pendiri kerajaan Demak ini dan Tan A Lok adalah anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V, raja terakhir kerajaan Majapahit. Kisah asal usul Raden Patah ini pun sebenarnya cukup rumit dan memimiliki berbagai versi. Dalam salah satu versi dikisahkan bahwa bahwa Raden Patah memang merupakan anak dari Raja Brawijaya dengan seorang selir Cina tapi karena sang permaisuri, Ratu Dwarawati yang berasal dari Campa ini merasa cemburu, maka Raja Brawijaya memberikan selirnya ini kepada putra sulungnya Arya Damar setelah melahirkan Raden Patah. Sementara pada kisah lain dikisahkan bahwa setelah melahirkan Raden Patah atau yang saat muda dipanggil dengan nama Jin Bun, selir Cina yang adalah ibu Raden Patah ini kemudian diberikan kepada kepada seorang pria peranakan Cina lainnya bernama Swan Liong di Palembang. Tapi yang kita ingin bahas bukanlah sejarah tentang Raden Patah dan berbagai versi kisah sekitar selir Cina yang adalah ibunya ini jadi kita beralih kembali ke Gus Dur.

Meski kepemimpinan Gus Dur hanya seumur jagung dan di masa kepemimpinannya, kerap kali terjadi polemik antara Gus Dur dengan lembaga tinggi rakyat, DPR, namun kehadiran Gus Dur telah memberi warna baru dalam sejarah Indonesia. Sebagai seorang ulama pertama yang menjadi presiden di negeri multi etnis ini, peran Gus Dus dalam kelompok lintas etnis, ras, agama, dan golongan telah menjadi tonggak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negara yang seharusnya menghargai kemajemukan bangsanya ini. Tak heran bila pada saat kematiannya, kepergian Gus Dur bukan hanya menjadi duka mendalam bagi masyarakat muslim khususnya masyarakat NU tapi juga telah menjadi duka bagi seluruh negeri ini karena seorang pendekar demokrasi yang selalu berjuang menyuarakan persatuan dalam kemajemukan bangsa tak hanya lewat kata tapi juga perbuatannya ini telah pergi di saat negeri ini belum sepenuhnya memahami arti persatuan dan kesatuan itu sendiri. Padahal pula jalan menuju persatuan dan kesatuan seperti yang diharapkan oleh para pendiri bangsa ini masih jauh dan sepertinya hanya Gus Dur, tokoh nasional masa kini yang benar-benar memahami arti Bhinneka Tungga Ika itu bagi keutuhan dan kedaulatan sejati bangsa ini. 

3. Buruh Migran
Seperti halnya Indonesia, ternyata Filipina pun merupakan penyuplai tenaga kerja yang harus mengais rejeki di negeri orang. Hanya bedanya nasib buruh dari Filipina masih jauh lebih baik dari para TKI yang kerap mengisahkan cerita-cerita pilu seperti disiksa dan bahkan tak jarang yang harus pergi ke negeri orang hanya untuk mengantar nyawa meski sebenarnya berniat untuk memperbaiki nasib hidupnya. Semua itu karena pemerintah Filipina jauh lebih tanggap dan piawai dalam mengurus permasalah seputar buruh asal negaranya dibanding negeri ini yang sebenarnya lebih dulu merdeka dari semua negara di kawasan Asia Tenggara ini. Bahkan berkat penghargaan dan perhatian pemerintahnya, tenaga kerja-tenaga kerja Filipina lebih mendapatkan apresiasi dari negara penerima tenaga mereka dibanding yang diterima tenaga kerja-tenaga kerja asal Indonesia. Tak perlu jauh-jauh, masyarakat Indonesia-nya sendiri pun kerap lebih memandang rendah para TKI ini padahal pastinya  bukannya mau mereka untuk bekerja sebagai pembantu di negeri orang  kalau saja pemerintah negeri ini memiliki kemampuan dalam menyediakan lahan pekerjaan bagi mereka sehingga mereka tak perlu pergi ke negeri orang hanya untuk menghadapi penghinaan, disiksa, diperkosa dan lebih parah harus mengalami kematian. 

4. Duet Diktator
Ini yang paling menarik. Ternyata Marcos, diktator Filipina ini memiliki banyak kesamaan dengan Soeharto, bukan hanya dalam hal kepemimpinan diktatornya tapi juga kebijakan-kebijakannya. Yang berbeda hanyalah nasib akhir mereka.

Kita mulai dari tahun 1965. Di Indonesia setelah terjadi peristiwa berdara 30 September 1965, seperti yang telah kita semua ketahui lewat buku-buku PSPB (hayo, ada yang masih ingat singkatan apakah ini?), ataupun lewat film tentang G30S yang sampai ngelotok di kepala, smpai-sampai saking udah hafalnya, aku tak perlu belajar lagi ketika ada ulangan tentang sejarah ini, dan meskipun tak belajar, aku berhasil mendapatkan nilai sempurna, alias 100 untuk ulangan ini. Dan itu bukan karena otakku yang cerdas, tapi karena aku selalu menonton film ini setiap tahun (berhubung saat itu hanya ada satu saluran televisi sehingga tak ada pilihan acara lainnya dan DVD saat itu belum diciptakan apalagi film-film bajakan DVD belum beredar pula saat itu) hingga mau tak mau pasti hafal setiap detilnya. 

Seperti yang sudah diketahui oleh semua masyarakat Indonesia bahwa kejadian di malam berdarah 30 September 1965 itu telah membawa Soeharto menuju babak baru dalam sejarah bangsa Indonesia. Untuk mengatasi keadaan yang bergejolak saat itu, seperti yang dikisahkan dalam pelajaran-pelajaran sejarah masa Orde Baru, Soekarno, presiden Indonesia kala itu akhirnya memberikan mandat kepada Soeharto untuk mengamankan negara. Meski saat itu Soekarno masih merupakan Presiden RI yang sah, tapi kredibilitasnya mulai merosot sehubungan dengan kedekatan Soekarno dengan PKI, partai komunis yang dianggap merupakan otak dibalik insiden pembantaian tujuh Jenderal di malam 30 September itu. Soekarno yang visioner ini sebenarnya memiliki ide visioner namun kontroversial dan menimbulkan pertentangan yaitu Nasakom alias menyatukan kelompok Nasionalis, Islam, dan Komunis sehingga visi ini justru menjadi bumerang bagi Soekarno. 

Langkah politik Soeharto kian laju ketika Soekarno mengeluarkan surat perintah yang terkenal dengan sebutan Supersemar alias Surat Perintah Sebelas Maret pada 1966 (naskah yang samapi kini kabarnya masih diselimuti misteri) yang memberikan otoritas penuh pada Soeharto untuk melakukan berbagai tindakan demi menertibkan keadaan. Tapi kabarnya, Bung Karno sempat marah besar atas tindakan Soeharto yang dinilai telah kebabablasan ketika Soeharto yang dengan pandainya pintar memainkan peranan dalam menggugah emosi rakyat sehubungan peristiwa berdarah di malam 30 September dimana lewat dua surat kabar yang hanya diijinkan oleh Soeharto dan Angkatan Darat, salah satunya adalah media Angkatan Darat yang mengisahkan secara berlebihan mengenai penyiksaan di malam berdarah 30 September 1965 itu dimana dikabarkan bahwa para Jenderal itu disiksa, matanya dicungkil dan kemaluannya disilet, tapi ternyata setelah divisum, para dokter yang memeriksa kala itu tak mendapati ciri-ciri fisik akibat kekerasan mengerikan seperti yang dikisahkan itu, tapi tentu saja pada masa Orde Baru, laporan visum para dokter ini tak pernah tersingkap ke dunia luar. Aku pun baru mengetahuinya lewat program Mata Najwa di Metro TV beberapa minggu yang lalu. Dengan cerdiknya Soeharto berhasil membakar emosi rakyat dan menggunakan kesempatan itu dengan melakukan aksi pembunuhan besar-besaran. Semua orang yang dinilai terlibat dalam partai politik haram bernama PKI dibunuh tanpa sempat mendapatkan hak mereka untuk membela diri mereka dan membuktikan bahwa mereka tidak bersalah karena tanpa sempat diadili mereka dibunuh dan rakyat pun secara membabi buta seolah benar-benar dibutakan tanpa perasaan membunuh orang-orang yang mungkin merupakan tetangganya dan mungkin pula sebelum kejadian ini memiliki hubungan yang baik. 

Demi membersihkan bumi pertiwi dari kelompok komunis ini yang menurut istilah (lagi-lagi) dalam pelajaran PSPB, 'membersihkan komunis hingga ke akar-akarnya', Soeharto telah membawa bangsa ini menuju masa-masa paling kelam dalam sejarah Indonesia. Bila peristiwa berdarah di malam 30 September yang katanya dilakukan oleh PKI itu menewaskan hanya tujuh Jenderal ditambah seorang putri Jenderal bernama Ade Irma Soeryani dan mungkin beberapa orang lagi, tapi Soeharto lewat aksinya demi 'penertiban keamanan' ini telah membunuh ratusan jiwa rakyat Indonesia. Menurut wikipedia sedikitnya setengah juta jiwa bangsa ini melayang akibat dibunuh dalam aksi "pembersihan" ini sementara 1.5 juta orang ditahan, namun jumlah ini tak bisa dianggap angka yang sebenarnya karena menurut laporan dalam sebuah kawat diplomatik CIA yang terus memantau Indonesia sehubungan dengan merapatnya Soekarno ke blok Soviet sehingga mencemaskan Amerika Serikat, dikatakan bahwa angka yang tepat tak bisa diketahui secara pasti karena ciri bangsa ini yang suka melebih-lebihkan. Meski jumlah pastinya sukar didapat secara tepat namun yang jelas aksi pembantaian massal terhadap rakyat bumi pertiwi ini sendiri merupakan masa paling kelam dalam sejarah negeri ini sejak masa kemerdekaan. Selain bangsa ini harus menyaksikan banyak jiwa yang melayang tanpa pernah menjalani proses pengadilan yang semestinya didapat oleh seorang warga negara dari negara yang merdeka dan berdaulat, banyak pula yang harus ditahan yang juga tanpa harus menjalani proses pengadilan yang merupakan hak mereka sebagai warga negara. Bahkan ada pula banyak jiwa yang harus kehilangan masa depan dan haknya sebagai warga negara Indonesia sebagaimana diatur dalam UUD 1945 yang merupakan landasan konstitusional negeri ini, dimana negara memiliki kewajiban untuk melindungi setiap warga negaranya, namun karena stigma komunis yang dilekatkan secara tak adil pada mereka karena mereka tak memiliki hak untuk membuktikan diri bahwa mereka tak bersalah dan tak terlibat dalam kelompok itu, para keturunan orang-orang yang dinilai memiliki hubungan dengan PKI ini harus kehilangan kesempatan mereka menjalani kehidupan mereka sebagai warga negara bangsa ini. Mereka tak bisa mengenyam pendidikan secara adil seperti warga negara lainnya bahkan mereka pun tak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan karena label komunis yang dilekatkan secara tak adil pada mereka ini. Padahal jelas-jelas di dalam pembukaan UUD '45, para pendiri bangsa ini dengan jelas memberikan mandat kepada para pemimpin negara ini untuk mencerdaskan anak bangsa!

Melihat pertumbahan darah terjadi antar sesama masyarakat Indonesia sendiri ini membuat Soekarno berusaha untuk mengambil alih kendali. Presiden yang orasinya kerap mampu menghipnotis rakyat Indonesia ini mencoba menenangkan keadaan dan meminta masyarakat untuk menghentikan aksi pembantaian ini tapi ternyata keadaan ini sudah diluar kendali Soekarno. Rakyat malah tak menanggapi lagi kata-kata Soekarno hingga secara terorganisir Soekarno pun akhirnya kehilangan kekuasaannya setelah MPR menolak pertanggung jawabannya dan memberikan jabatan kepresidenan kepada Soeharto. 

Sepanjang masa 32 tahun pemerintahan Seoharto ini dinilai banyak sekali terjadi kasus-kasus pelanggaran HAM seperti peristiwa Tanjung Priok. Entah berapa banyak nyawa yang melayang akibat kebijakan politik Soeharto dan Orde Baru-nya di Aceh, Irian Jaya (Papua Barat), dan Timor Timur. Belum lagi aksi-aksi penculikan, penahanan, dan bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru terhadap tokoh-tokoh yang dinilai bersebrangan dengan kebijakan politik Orde Baru ini makin menambah daftar catatan buruk sejarah yang ditinggalkan Soeharto bagi bangsa ini. Puncaknya kasus rasial terhadap etnis Tionghoa pada medio Mei 1998 dan tragedi Semanggi yang menewaskan beberapa orang mahasiswa Trisakti dalam aksi reformasi makin mengeruhkan nama pemimpin Orde Baru ini di ujung masa kepemimpinan Presiden RI kedua yang berjuluk Bapak Pembangunan ini. 

Meski memiliki deretan catatan buruk sepanjang masa 32 tahun kepemimpinan Soeharto sehubungan dengan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme dan aksi-aksi pelanggaran HAM yang dilakukannya di sepanjang masa pemerintahannya ini, namun tak bisa pula dipungkiri bahwa Soeharto dan Orde Baru memiliki jejak sejarah yang berarti bagi bangsa ini di bidang pembangunan dimana Soeharto sukses membawa negeri ini keluar dari inflasi yang super tinggi yang diwarisinya dari pemerintahan Orde Lama. Dengan bantuan pihak asing lewat hutang-hutan luar negerinya, Soeharto dan Orde Baru sukses membawa negeri ini menuju tingkat pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan, bahkan Indonesia kala itu sempat dimasukkan sebagai salah satu macan Asia yang siap berdiri sejajar dengan negara-negara maju. Namun sayangnya semua keberhasilan ekonomi ini tak ditunjang dengan landasan ekonomi yang sekuat seperti yang tampak karena di bawah semua pembangunan spektakuler yang dilakukan Soeharto dan pemerintahan Orde Baru-nya ini, praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme perlahan-lahan menggerogoti sistem ekonomi dan politik negara ini. 

Pembangunan pesat yang dilakukan Soeharto dan pemerintahan Orde Baru-nya ini sendiri tak bisa sepenuhnya dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Pembangunan yanag pesat ini hanya bisa dinikmati oleh masyarakat yang berada di pulau-pulau Indonesia bagian barat saja sementara masyarakat Indonesia di belahan Timur masih mengalami keterbelakangan ekonomi meski hasil bumi mereka pun tak luput dikerok oleh investor-investor asing dan pemerintah pusat. Tak heran ketika rezim Orde Baru tumbang, perasaan ketidakadilan yang dirasakan ini membuat kelompok-kelompok separatis di belahan bumi timur Indonesia ini sangat gencar ingin memerdekakan diri. 

Akibat praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme yang merajalela membuat pembangunan yang dilakukan Soeharto yang seyogyanya membuatnya bisa dicatat dalam sejarah Indonesia dengan tinta emas ini, malah membawa Indonesia menuju keterpurukan ekonomi yang lebih dalam. Praktek KKN membuat pembangunan pesat yang dilakukan Soeharto dan Orde Baru tak sekokoh seperti yang tampak. Terbukti dengan adanya hantaman gelombang krisis moneter yang menimpa Asia Tenggara khususnya, membuat perekonomian Indonesia luluh lantak. Bahkan Indonesia terbilang lambat pulih dari keterpurukan krisis moneter ini dibanding negara-negara tetangganya seperti Thailand, Malaysia, atau Singapura.

Efek domino akibat keruntuhan ekonomi ini pun berimbas pada kekuasaan Soeharto yang akhirnya tumbah oleh gelombang emosi masyarakat yang terpendam selama tiga puluh dua tahun masa kepemimpinannya. Emosi yang disebabkan oleh ketidakmampuannya dalam menerapkan asas adil merata, yang selalu didengan-dengungkannya dalam Penataran P4 (ayo, ada yang masih ingat singkatan ini?) yang wajib dijalani setiap siswa semasa Orde Baru mulai SD sampai perguruan tinggi. Emosi yang disebabkan oleh ketidakcakapannya dalam memaknai arti sebenar-benarnya pasal 28 dari UUD'45 (ayo, siapa yang tahu isi pasal ini?), padahal setiap murid diwajibkan untuk menghafal setiap pasal dalam UUD'45 ini sampai ngelotok di otak berkat kebijakannya yang terus menggenjot semangat "kebangsaan" dengan cara kewajiban mengikuti P4 dan lewat pelajaran PMP yang kini telah berganti nama menjadi PPKn.

Memang tak ada gading yang tak retak. Pun seorang Soeharto, sang bapak pembangunan yang dianggap telah memiliki sederet jasa bagi bangsa ini namun seperti yang diungkapkan Gus Dur, jasa Soeharto memang tak bisa ditampik amat besar bagi bangsa ini, tapi juga jangan lupa dosa bapak pembangunan ini pun sama besarnya dengan "jasa"nya itu bagi negara kesatuan Republik Indonesia ini. Jadi, apakah Soeharto pantas mendapatkan gelar pahlawan negara? Kalau aku pribadi sih sebenarnya termasuk yang kontra, tapi berhubung negara ini merupakan negara demokrasi yang menjamin setiap orang berhak berpendapat jadi sah-sah saja jika masih ada juga yang beranggapan bapak pembangunan ini layak mendapat gelar pahlawan dan tugas para pemimpin bangsa inilah untuk mengakomodir setiap pendapat anak bangsanya ini. 

Namun kalaupun Seoharto dianggap pantas menyandang gelar pahlawan, maka tugas para pemimpin inilah untuk menyajikan kebenaran sejarah dan jangan pernah membelok-belokkan sejarah. Jasa Soeharto memang  jangan dilupakan, tapi juga jangan pernah mengingkari dosa-dosa politik Soeharto terhadap bangsa ini. Karena seperti kata Bung Karno, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai sejarahnya!" Jadi jangan dulu kita berharap untuk mendapatkan penghargaan dari bangsa lain, bila kita sendiri tak memiliki kemampuan dalam menegakkan sejarah negeri ini secara sebenar-benarnya. 

Contohlah Jerman Barat. Setelah Hitler dan Nazi runtuh yang menandai akhir perang dunia kedua, Jerman benar-benar berada di titik nadir. Negara mereka hancur lebur. Mereka bukan hanya harus menanggung dosa-dosa politik Hitler dan Nazir tapi jug amereka harus menanggung beban hutang perang yang diakibatkan oleh Hitler. Tapi dengan tekad yang kuat, Jerman khususnya Jerman Barat berhasil bangkit dan mampu menyejajarkan diri dengan negara-negara maju lainnya. Mereka bangkit dari keruntuhan dan kehinaan yang disebabkan oleh Hitler tapi mereka juga tak pernah melupakan sejarah kelam bangsa mereka di masa perang dunia kedua. Mereka tak berusaha menutupi noda hitam dalam sejarah negara mereka dengan cara membelokkan sejarah kelam ini kepada generasi penerusnya. Bahkan lewat sebuah artikel yang pernah kubaca, ada sebuah perpustakaan nasional di Jerman yang kabarnya membiarkan tanda-tanda bekas kehancuran akibat perang dunia kedua yang dicetuskan oleh Hitler itu pada bangunannya sehingga siapapun yang singgah ke sana bisa melihat tanda sejarah itu sebagai sebuah peringatan bagi generasi berikutnya agar tak lagi terjebak dalam kesalahan yang sama karena tanpa adanya sejarah maka peradaban manusia akan musnah dengan sendirinya. Bangsa ini memang bukan bangsa pendendam, tapi bukan berarti pula bangsa ini bangsa keledai yang bebal yang selalu saja terjebak dalam kesalahan yang sama. Untuk itulah sejarah ditulis, agar kesalahan itu tak terus menerus diulangi. Karena seperti kata pepatah, "Hanya orang bebal saja yang suka terjatuh dalam lubang yang sama." Bahkan keledai yang paling bebal sekalipun, pastinya tak mau terperosok ke dalam lubang yang sama berulang kali, apalagi manusia yang memiliki akal budi.

Sekarang kita bahas tentang Ferdinand Marcos. Seperti Soeharto, semua kisah kepemimpinan Marcos pun dimulai di tahun 1965 di mana ia berhasil mengalahkan Diosdado Macapagal dalam pemilu sehingga Macapagal yang saat itu masih merupakan Presiden Filipina, memutuskan untuk mengundurkan diri dari politik karena kecewa atas kekalahannya. 

Lucunya, kebijakan rezim Marcos pun ternyata memiliki nama yang secara harafiah memiliki arti yang sama dengan Orde Baru-nya Soeharto yaitu New Society atau dalam bahasa Filipina disebut Bagong Lipunan. Meski bukan berasal dari kalangan militer seperti Soeharto, tapi dengan cerdiknya Marcos berhasil menggandeng kekuatan militer untuk memperkokoh masa kepemimpinannya dengan penerapan martial law-nya, mempersempit ruang gerak para pengkritisi kebijakannya dengan menjebloskan mereka ke dalam tahanan bahkan ada pula yang kehilangan nyawanya seperti yang terjadi pada Benigno Aquino, serta menyuburkan iklim KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) dengan memperkaya keluarga dan kelompoknya. Padahal seperti Soeharto, masa awal kepemimpinan Marcos pun sebenarnya bisa dibilang sangat baik lewat program pembangunan yang dilakukannya dengan membangun jalan, jembatan, dan berbagai pekerjaan publik lainnya. Ia juga menggerakkan penambahan kekuatan listrik sebesar satu juta kilowatt serta menyalurkan air bersih ke delapan wilayah dan 38 lokasi. Seperti program Soeharto dengan ABRI masuk desa-nya, Marcos pun menggerakkan angkatan bersenjata Filipina AFP (Armed Forces of the Philippine) untuk membantu pembangunan jalan yang kini dikenal dengan nama North Luzon Expressway

Atas kiprahnya di masa awal kepemimpinannya ini, maka dengan mudahnya Marcos berhasil meraih kembali kursi kepresidenan untuk periode kedua. Tapi sayangnya kepemimpinan Marcos berubah menjadi tiran. Di masa kepemimpinan penuh keduanya ia langsung menerapkan martial law yang mengebiri proses demokrasi di Filipina. Seperti Soeharto, Marcos pun melakukan silence politic dengan memberangus media dan memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi orang-orang terdekat dan keluarganya untuk melakukan praktek korupsi sehingga menjadikan Marcos sebagai kepala negara terkorup kedua di Asia Tenggara setelah Soeharto berdasarkan Transparency International. 

Lucunya lagi ternyata menurut para lawan politinya, Marcos pun kerap menggunakan issue komunis untuk menjegal lawan-lawan politiknya demi mempertahankan kekuasaannya. Bukankah hal ini pun serupa yang dilakukan Soeharto yang selalau menggunakan issue komunis untuk menghancurkan para penentangnya?

Ajaibnya masa selama 21 tahun pemerintahan Marcos yang berkat bantuan dana bantuan ekonomi dari Amerika Serikat dan juga hutang-hutang luar negerinya untuuk pembangunan sekolah, rumah sakit, dan berbagai infrastruktur membuat pencapaian Marcos dalam bidang pembangunan ini dinilai jauh lebih berhasil dibanding para suksesornya sekalipun mereka digabungkan jadi satu. Kesuksesan Marcos ini pun serupa dengan Soeharto yang sukses dalam program pembangunannya yang membuat banyak rakyat (khususnya yang senior) kerap merindukan masa-masa pemerintahan Soeharto yang meski korup dan otoriter tapi berhasil menekan harga semurah mungkin sehingga mampu dijangkau oleh daya beli masyarakat Indonesia. 

Meski akhir hidup kedua diktator ini jauh berbeda tapi kedua-duanya sama-sama digerogoti penyakit hingga akhir hayat mereka sejak mereka digulingkan dari tampuk kekuasaan lewat aksi massa yang juga dikenal dengan sebutan people power. Namun bila dibandingkan hidup Soeharto yang jauh lebih baik, nasib akhir Marcos malah mengenaskan. Ia bukan hanya terpaksa kehilangan takhta kekuasaannya tapi ia dan keluarganya bahkan terpaksa tunggang langgang melarikan diri ke luar negeri setelah dijungkalkan oleh aksi people power pimpinan janda lawan politik yang tewas terbunuh pada masa pemerintahannya, Ny. Corazon Aquino. Dan tragisnya setelah ia kehilangan kekuasaan, ia malah ditinggalkan oleh kroni-kroninya. Di dalam negeri, di akhir kekuasaannya ia dikhianati oleh Menteri Pertahanan-nya Juan Ponce Enrile dan Kepala Staff-nya Fidel Ramos yang meninggalkan Marcos begitu masa kediktatorannya menuju titik akhir dan mereka segera mencari perlingdungan di belakang revolusi People Power 1986. Bahkan Marcos yang selama masa pemerintahannya dikenal sebagai antek Amerika Serikat, tapi sasat ia terpaksa lari meninggalkan tanah airnya, negara adidaya ini malah menutup rapat pintunya dan alih-alih membeirkan perlindungan, pemerintah negara adidaya ini bahkan tanpa kenal ampun tetap memaksa Marcos diadili meski si diktator ini sudah menjadi pesakitan.

Meski sama-sama menjalani pemerintahan represif dan sama-sama digulingkan oleh kekuatan massa tapi akhir hiudp Soeharto bisa dibilang jauh lebih beruntung dari Marcos. Meski di akhir masa pemerintahannya, Soeharto pun mengalami sakitnya dikhianati oleh orang-orang yang semula dekat dan berada dalam lingkaran kekuasaannya tapi Soeharto tak perlu lari tunggang langgang bersama keluarganya meninggalkan negerinya untuk mencari perlindungan seperti yang dialami Marcos. Bahkan ia masih sempat meyerahkan tampuk kekuasaan kepada wakilnya dengan tata cara seremonial kenegaraan sehingga bisa dibilang turunnya Soeharto jauh lebih bermartabat dan dengan keadaannya yang sakit-sakitan justru pada akhirnya malah menguntungkannya karena hingga akhir hayatnya demi nilai kemanusiaan, pemimpin Orde Baru ini tak pernah diseret ke pengadilan hingga akhir ajalnya.

5. Duet Female President
Kesamaan berikutnya adalah kedua negara ini pernah dipimpin oleh presiden perempuan yang merupakan putri dari mantan presiden negara masing-masing. Dan lucunya kedua presiden perempuan ini sama-sama bertubuh mungil dan sama-sama bersuamikan pengusaha dan keduanya sebelum menjadi presiden merupakan wakil presiden wanita pertama di negaranya masing-masing hingga akhirnya naik takhta ke kursi kepresidenan setelah presiden masing-masing negara ini dilengserkan.

Gloria Macapagal-Arroyo merupakan putri dari mantan presiden Filipina, Diosdado Macapagal yang mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia politik setelah kalah dalam pemilu 1965 dari Ferdinand Marcos. Gloria Macapagal-Arroyo memang bukan presiden wanita pertama di Filipina tapi kiprahnya di dunia politik Filipina yang pastinya sama rumitnya dengan dunia politik di Indonesia ini tak bisa dipandang sebelah mata. Berkali-kali ia menghadapi hadangan dari lawan-lawan politiknya bahkan issue korupsi pun kerap menderanya sehingga menggoyang kursi kepresidenannya tapi semua usaha para lawan politiknya itu selalu saja bisa diredamnya. Bahkan pada 2005 Arroyo terpilih sebagai wanita keempat yang paling berkuasa di dunia oleh Majalah Forbes. 

Gloria Macapagal yang sebelumnya merupakan wakil presiden naik ke kursi kepresidenan setelah presiden saat itu, Joseph "Erap" Estrada dilengserkan oleh aksi people power jilid II pada 2001. Kepemimpinan Arroyo kembali beralnjut setelah berhasil memenangkan pemilu 2004 meski belakangan Arroyo dianggap melakukan kecurangan pada pemilu 2004 itu sehingga membuat sepuluh menteri dalam kabinetnya mengundurkan diri dan menghimbau agar Arroyo ikut mengundurkan diri, seruan yang juga didukung oleh Corazon Aquino, wanita yang telah mengantar Arroyo menuju kursi kepresidenan. 

Seperti Megawati yang menghadapi berbagai kemelut dalam pemerintahannya, Arroyo pun menghadapi berbagai issue krusial dalam pemerintahannya. Pada 27 Juli 2003 ia menghadapi pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok militer yang dikenal dengan istilah pemberontakan Oakwood namun akhirnya aksi pemberontakan yang dilakukan oleh lebih dari 300 perwira muda dan tentara dari Angkatan Bersenjata Filipina ini akhirnya bisa diakhiri secara damai. 

Selain itu masalah kelompok separatis Moro pun menjadi salah satu gejolak dalam masa kepemimpinan Arroyo. Namun meskipun Arroyo merupakan seorang presiden wanita dan bertubuh mungil, tapi ia sangat cerdik dalam memainkan perannya di peta politik Filipina. Pada pemilu 9 Juni 2010 Benigno "Noynoy" Aquino, putra dari Benigno dan Corazon Aquino akhirnya terpilih sebagai presiden baru Filipina menggantikan Arroyo. 

Sementara di Indonesia, Megawati Soekarno Putri merupakan wakil presiden dan presiden wanita pertama di Indonesia. Seperti Arroyo, Megawati pun sebelum menjadi presiden merupakan wakil presiden. Setelah Gus Dur atau Abdurrahman Wahid tersingkir oleh pertikaian politik antara dirinya dengan DPR, maka Megawati pun didaulat naik takhta ke kursi kepresidenan menggantikan Gus Dur. Bedanya bila Estrada dilengserkan oleh rakyat akibat korupsi sementara Gus Dur meski sempat didera issue korupsi yang dikenal dengan istilah 
Buloggate namun lengsernya ia dari kursi kepresidenan lebih disebabkan oleh kekisruhan politik antara dirinya dengan lembaga rakyat alias DPR.

Seperti yang sudah diketahui Megawati merupakan putri sulung dari presiden pertama republik ini, Ir. Soekarno. Kiprahnya dalam politik sudah cukup panjang. Di masa Orde Baru ia sempat harus menghadapi perlakuan tak adil ketika kemenangannya sebagai ketua umum partai oposisi, PDI dianggap tak sah dan bahkan terjadi insiden berdarah yang dikenal dengan insiden 27 Juli 1996. Bahkan di masa reformasi meskipun partainya yang kala itu telah berganti menjadi PDI-P atau Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menang mutlak tapi ia dihadang oleh issue gender sehingga batal menjadi presiden meski akhirnya ia berhasil juga meraih kursi kepresidenan itu setelah Gus Dur mundur. 

Saat menjadi presiden, Megawati pun didera banyak masalah internal maupun internasional. Bila di Filipina Arroyo harus berhadapan dengan kelompok separatis Moro, maka pemerintahan Megawati pun tak sepi didera oleh aksi kelompok Islam garis keras yang dipimpin oleh dua warga negara Malaysia, Noordin M. Top dan DR. Azahari yang keduanya akhirnya tewas di tangan kepolisian Republik Indonesia. 

Sayangnya, tak seperti Arroyo yang berhasil mempertahankan kekuasaannya di pemilu berikutnya, Megawati meski memiliki basis pendukung yang kuat dan loyal namun pada pemilu 2005 Mega kalah suara dari bekas menteri dalam kabinetnya, Susilo Bambang Yudhoyono yang masih menjadi Presiden RI hingga saat ini.

Rabu, 17 November 2010

Michael Still The Best


gambar dipinjam dari situs ini

Berlebihankah judul di atas? Untuk penggemar Michael Schumacher seperti aku, judul di atas tentu saja tak berlebihan. Dan ternyata hal ini pun dikemukakan oleh para bos tim F1 yang tetap menyatakan bahwa Michael tetap layak untuk bertahan di F1 musim depan meskipun penampilannya di musim pertama comeback-nya di F1 ini tak sebagus seperti yang diharapkan. 

Buruknya performa Mercedes dan Michael musim ini memang telah membuat Michael yang sepanjang karirnya telah kenyang oleh sejuta puja puji dan caci maki oleh kelompok "pembencinya" menjadi olok-olok tanpa akhir terlebih aksi rekan setimnya ternyata jauh lebih baik dibanding juara dunia tujuh kali ini. Tapi semua penampilan buruk Michael di musim ini sebenarnya memiliki penjelasan masuk akal yang bisa dipertanggungjawabkan meskipun bagi kelompok anti Schumi terkesan sebagai alasan juara dunia tujuh kali ini. 

Di penghujung musim ini Michael menutup penampilan "perdana"-nya ini dengan retired saat balapan baru dimulai melengkapi keapesannya sepanjang musim ini meski perolehan Michael di klasemen masih berada di kisaran top ten. Dengan total 72 poin, Michael menutup akhir musim ini dengan bertengger di posisi ketujuh klasemen dan bersama rekan setimnya ia telah mengantarkan Mercedes di musim pertama comeback-nya tim ini setelah puluhan tahun menyepi dari F1 dan hanya menjadi penyuplai mesin saja, berada di posisi keempat dengan 214 poin, tepat di atas Renault yang hanya mengantongi 163 poin. 

Tentu saja buruknya penampilan Michael dan juga mengenai masalah umur Michael yang tak lagi bisa dibilang muda menjadi tanda tanya keikutsertaannya kembali di musim depan. Sebagai fans berat Schumi tentu saja aku amat berharap Michael tetap bertahan di F1 musim depan dan semoga saja tahun depan Mercedes bisa memberikan tunggangan yang jauh lebih kompetitif untuk sang juara dunia tujuh kali ini. 

Tapi ternyata polemik mengenai keikutsertaan Michael kembali di F1 musim depan ini justru mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para bos tim. Meski musim ini raport Michael jeblok tapi rupanya hal itu tak membuat para bos tim meragukan kemampuan sang superstar ini. Buktinya mereka malah menyatakan bahwa hal yang bodoh bila mencoret nama Michael musim depan. 

Meski keputusan Michael untuk kembali terjun ke F1 di musim ini sempat dipertanyakan oleh sebagian pihak terlebih setelah penampilan Schumi musim ini ternyata jauh lebih buruk dari yang dibayangkan di awal musim tapi Horner, sporting director RBR berpendapat bahwa keputusan Michael kembali ke F1 adalah hal yang patut dihargai. 

Christian Horner berujar, " Ia (maksudnya Michael) tidak berada di mobil terbaik (musim ini) dan saya yakin ia (Michael) pastinya tak puas dengan penampilannya musim ini, tapi ia adalah seorang pejuang yang tangguh dan saya pikir adalah hal yang bagus dengan kembalinya Michael di F1. Akan lebih menarik melihatnya di mobil yang jauh lebih cepat berada di belakang mobil kami, dan aku berharap bisa melihatnya lagi tahun depan. It makes me feel young." (ungkapan Horner yang secara garis besarnya kuterjemahkan seperti ini kukutip dari crash).

Hal senada pun diungkapkan oleh petinggi McLaren, Martin Whitmarsh dan Adam Parr dari Williams. Whitmarsh malah menyatakan bahwa dengan pencapaian Michael selama ini (tujuh gelar dunia dan telah memenangi puluhan race) telah membuktikan keistimewaan Michael. Musim ini memang prestasi Michael jeblok tapi Whitmarh meyakini bahwa adalah bodoh bila meremehkan Michael dan menganggapnya tak mampu tampil kompetitif di musim depan. (yeah, go Michael !)

Sementara Adam Parr, petinggi Williams menyatakan pujiannya pada Michael sebagai juara dunia tujuh kali merupakan pebalap yang pastinya amat bertalenta dan merupakan pebalap yang luar biasa dan hal itu tak bisa dipungkiri dengan pencapaian yang telah ditorehkan Michael selama karirnya di F1 sekalipun prestasinya musim ini tak sebaik seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Kejamnya Yas Marina....

gambar dipinjam dari situs ini.

Sejujurnya aku sangat menikmati balapan di Abu Dhabi sebagai pemuncak musim ini sekaligus memastikan diri bisa menyaksikan wajah muram Alonso yang geram bukan main pada Petrov karena telah menghadangnya di sepanjang pertengahan race sehingga ia urung meraih gelar dunia ketiganya. He... he... sorry aja nih buat penggemar Alonso tapi aku benar-benar menikmati wajah kelam Alonso yang pastinya jengkel bukan main setelah ia hanya berhasil finish di urutan ketujuh di belakang Petrov, si rookie Renault, bekas timnya yang telah mengantarkannya meraih dua gelar dunia.

Meskipun di awal race aku agak kecewa melihat Michael Schumacher, jagoan favoritku (biarpun udah gaek and sepanjang musim ini prestasinya tak terlalu berkilau, tapi bagiku Michael still the best) terpaksa retired akibat spin ketika ia tengah berusaha menjaga posisinya dari serangan team mate-nya Rosberg jr., dan seolah masih belum cukup penderitaan Michael melihat ia harus kehilangan posisinya di race terakhir pada musim pertama comeback-nya ke F1 ini, setelah mobilnya spin ia masih harus menghadapi terjangan mobil Force India-nya Liuzzi yang mendarat di atas Mercedes-nya Michael. Hampir saja aku terkena serangan jantung, ngeri membayangkan kepala Michael gepeng dilindas Force India-nya Liuzzi, tapi untungnya Michael telah berhasil menyelamatkan diri dari mobilnya tanpa cedera dan untungnya pula wajahnya meski telah beranjak tua tapi masih terlihat "normal" tanpa ada setitikpun luka. 

Sedih memang melihat Michael harus mengakhiri musim pertama comeback-nya ke F1 ini dengan cara tragis seperti itu, tapi apa mau dikata. Toh Michael dengan besar hati telah menyadari bahwa mobilnya musim ini tak  bisa tampil kompetitif untuk bisa bersaing dengan tim-tim papan atas lainnya dalam perebutan gelar. Michael pun harus puas berada di urutan kesembilan di klasemen dengan total 72 poin sementara rekan setimnya, Nico Rosberg yang jauh lebih muda dan lebih beruntung di musim ini berada di urutan ketujuh dengan total 142 poin berkat dua atau tiga kali finish di urutan ketiga sementara posisi finish terbaik Michael adalah di posisi keempat saat GP Spanyol.

Balapan di Yas Marina minggu kemarin yang telah menahbiskan Vettel sebagai juara dunia baru itu bisa dibilang penuh ironi. Jujur, aku memang lebih suka Vettel yang jadi juara dunia daripada Alonso (he...he... sorry lagi nih buat fansnya Alonso) tapi sebelum GP Abu Dhabi aku berpikir bahwa peluang Vettel amat kecil untuk meraih gelar dunia sehingga aku amat sangat berharap Vettel dan Red Bull bisa bertindak bijak dengan mendukung Webber sepenuhnya, mengingat pebalap asal Australia ini memiliki kans yang jauh lebih besar dalam menjegal Alonso untuk meraih gelar dunia ketiganya. Tapi ternyata Red Bull yang sepertinya merupakan satu-satunya tim F1 paling demokratis ini tak terlalu hirau dengan hitung-hitungan taktis itu sehingga mereka tetap tak memberi perintah pada Vettel untuk "mengalah" pada Webber seperti yang pastinya akan dilakukan oleh Ferrari ataupun McLaren bila salah satu pebalapnya memiliki kans yang jauh lebih besar untuk meraih gelar. 

Vettel memang beruntung berada di tim yang tak pernah sekalipun menerapkan team order itu di sepanjang musim ini sehingga membuat musim 2010 ini menjadi lebih menarik (terlebih saat melihat "perang saudara" ala Red Bull di GP Turki). Meski Vettel seringkali melakukan kesalahan sehingga ia harus kehilangan beberapa balapan yang mestinya bisa dimenanginya tapi di Yas Marina, Vettel telah berhasil membalikkan keadaan. Saat datang ke Abu Dhabi meski Vettel pastinya amat berhasrat meraih gelar dunia tapi ia sebisa mungkin tak terlalu menghiraukan hal ini dan lebih memilih untuk fokus ke balapan dan meraih hasil sebaik mungkin dan membiarkan urusan selebihnya kepada Tuhan, Sang Sutradara kehidupan. 

Ia sadar posisinya tak terlalu menguntungkan dibanding Alonso yang pastinya datang dengan kepercayaan diri berlebih. Alonso memiliki peluang yang jauh lebih besar dibanding Vettel, ia hanya perlu finish keempat sehingga biarpun Vettel menjadi juara GP, gelar dunia tetap bisa direbutnya. Keuntungan Alonso lainnya adalah sikap tebang pilih yang dilakukan Red Bull yang lebih mendukung Vettel (sebagai pebalap Jerman mengingat Helmut Kohl, orang kepercayaan big boss Red Bull, Dieter Mateschitz yang telah berhasil meyakinkan sang big boss untuk terjun ke F1 sehingga terbentuk tim Red Bull Racing ini adalah orang Jerman) sekalipun Webber memiliki peluang yang jauh lebih besar dari Vettel, kekisruhan dan kebijakan "pilih kasih" ala RBR ini sebenarnya bisa amat menguntungkan Alonso terlebih bila tunggangan Webber di Abu Dhabi sama baiknya dengan Vettel, bukan tak mungkin persaingan sengit antar kedua pebalap RBR itu bisa berakhir seperti di Turki dan hal itu pastinya akan sangat menguntungkan Alonso tapi sayangnya semua skenario itu tak terjadi. Vettel meraih pole sementara Webber hanya bisa puas memulai balapannya di grid ke-5 tepat di belakang Jenson Button. 

Kepercayaan diri Alonso pastinya makin berlebih setelah ia berhasil mengukuhkan diri sebagai yang tercepat ketiga di sesi qualifying. Ia tak perlu terlalu keras menggeber Ferrarinya mengingat ia hanya butuh finish keempat untuk mengamankan gelar dunia agar menjadi miliknya. Yang perlu dilakukannya adalah tetap menjaga posisinya agar tak merosot dari posisi keempat dan membiarkan saja Vettel menggeber Red Bull-nya sambil berharap RBR-nya Vettel meledug akibat overheating terlebih mendekati lap-lap akhir menguar kabar daya tahan Red Bull dipertanyakan. Tapi sayang seribu sayang, lagi-lagi semua harapan Alonso musnah. RBR-nya Vettel ternyata masih tangguh hingga mobilnya melibas garis finish sementara Alonso yang bukan hanya tak berhasil mempertahankan posisinya setidaknya di urutan keempat malah terhalang oleh rookie asal Rusia, Vitaly Petrov yang membela bekas tim Alonso, Renault sehingga membuat juara dunia dua kali asal Spanyol itu malah jadi frustasi karena tak jua berhasil menyingkirkan si rookie ini (tadinya aku malah ingin memberi judul Vitaly Saved Vettel's Victory karena kebrilianannya Vitaly dalam menghadang Alonso) sehingga alih-alih membuat si rookie ngeper, malah juara dunia dua kali itu yang lebih sering melebar dan ketangguhan Vitaly dalam mempertahankan posisinya telah membuat pujaan rakyat Spanyol itu uring-uringan dan geram (lucu juga sih melihat ekspresi Alonso yang mengepalkan tinjunya pada Vitaly saat race usai). 

Bila dilihat secara keseluruhan, Yas Marina memang penuh ironi. Vettel yang semula tak memiliki peluang tapi ternyata berhasil membalikkan keadaan dan membuatnya unggul empat poin dari Alonso. Ironi kedua adalah Vettel yang dianggap-anggap sebagai Baby Schumi (aku sendiri tak suka dengan istilah ini) akhirnya berhasil meraih gelar dunia pertamanya (dan satu yang kusuka dari Vettel adalah ekspresinya di podium dalam meluapkan kegembiraannya hampir menyerupai Michael) sementara Schumi, sang juara dunia tujuh kali asal Jerman itu gagal melanjutkan lomba dan harus mengakhiri balapannya padahal balapan baru saja dimulai. 

Ya, musim ini memang merupakan musimnya Red Bull dan Vettel. Congratulation for Vettel and Red Bull. Seperti yang Michael bilang, " He (Vettel) deserves to win". Vettel memang layak dapat bintang (minjam istilah salah satu minuman nih, he...he...). Gempitanya Red Bull dan Vettel telah menutup musim 2010 ini dan kini saatnya mulai bersiap untuk tahun depan. Alonso sendiri telah memproklamirkan akan memberikan yang jauh lebih baik di musim depan. Seperti kata-kata Arnold di Terminator, Alonso berujar, "We will back" dan menjanjikan akan menjadi tim yang lebih tangguh di musim depan. Sementara Webber yang kecewa karena gagal meraih gelar dunia dan tak mendapatkan dukungan sepenuhnya dari tim-nya mengungkapkan kalimat penuh filosofi, "What doesn't kill you makes you stronger" (lihat berita sepenuhnya di sini).

Ya dengan hasil akhir di GP Abu Dhabi ini memang membuat F1 tahun depan layak dinanti. Terlebih setelah hengkangnya Schumi hingga ia kembali lagi ke F1 juara dunia F1 selalu bergantian sepanjang tahun. Di musim 2007, tahun pertama setelah Michael menyatakan diri pensiun dari F1, juara dunia baru muncul dari Ferrari, tim bekas Schumi lewat Kimi Raikkonen. Dan tahun berikutnya Lewis Hamilton yang telah menghentak dunia sejak kemunculan perdananya di F1 lewat bakat dan pertikaiannya dengan rekan setimnya yang telah mengantongi dua gelar dunia sehingga membuat sang juara dunia dua kali itu tak betah di tim berjuluk Silver Arrows ini, akibatnya ia pun hengkang ke tim lamanya sambil menanti kesempatan untuk hijrah ke tim papan atas yang jauh lebih baik. 

Berikutnya yang berhasil menorehkan sejarah adalah Jenson Button yang sukses meraih gelar dunia pertamanya bersama Brawn GP yang sempat membuat dunia tercengang dengan dominasi mereka di awal musim tahun lalu. Dan kini, sejarah kembali mencatat juara dunia baru asal Jerman. Sebastian Vettel, bintang musim ini. Bagaimana dengan musim depan? Apakah akan ada juara dunia baru lagi ataukah juara-juara dunia lainnya kembali bersemangat untuk menambah deret panjang gelarnya? Dan yang lebih utama adalah apakah musim depan The Phenomenon, Michael Schumacher yang telah sukses mengantongi tujuh gelar dunia dan telah memecahkan banyak rekor sepanjang karirnya mampu memperlihatkan kembali pesonanya di sirkuit dan berhasil membawa Mercedes kembali merajai F1? Untuk itulah F1 musim depan layak dinanti. Jadi siapa bilang F1 tak menarik?