Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 25 Juni 2013

Resensi Novel: Burung-Burung Manyar - Y.B. Mangunwijaya

Setadewa seorang peranakan Indo Belanda tapi juga berdarah ninggrat Jawa, anak kapten KNIL, mantan anggota NICA yang anti republik, meski begitu jiwanya toh tetap asli nasionalis Indonesia. Pengkhianatannya terhadap Republik tak sepenuhnya berupa aksi khianat jika semua berdasar pada nalar logika realistis. 

Loitenant Brajabasuki yang kemudian naik pangkat jadi Kapiten adalah anggota KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger - Tentara Kerajaan Hindia Belanda) lulusan Akademi militer Breda di Nederland, Belanda, berdarah asli ningrat keraton Mangkunegara tapi tak suka dinding keraton yang kaku dan lebih suka kebebasan Eropa dan mencintai lalu menikahi wanita Eropa, Marice yang kelahiran Utrecht, Belanda, namun menurut kawan-kawan sepermainan Setadewa yang dipanggil Teto, maminya ini mesti tak asli totok Belanda karena kulitnya yang putih langsep tidak merah totol-totol seperti noni-noni Belanda umumnya. Lucunya walau Brajabasuki yang merupakan keturunan keraton tapi tak suka dengan kehidupan keraton, justru Marice, istrinya yang Belanda inilah yang justru lebih suka dengan kunjungan ke keraton. Tambahan lagi Marice juga suka dengan segala hal berbau klenik bahkan hafal dengan primbon-primbon Jawa.

Setadewa atau Teto agaknya menuruni sifat bebas ayahnya yang bukan hanya merasa tersiksa dengan acara kunjungan ke istana terlebih ia tak suka dengan sebutan Raden Mas Sinyo yang dilabeli para abdi istana untuknya yang dinilainya aneh. Teto kecil juga tak seperti sinyo-sinyo Belanda yang bersepatu dengan baju rapi terkanji, Teto malah lebih suka bergaul dengan anak-anak kampung, menjadi anak kolong yang suka berenang di selokan tangsi di Magelang, tak peduli kotornya air selokan itu dan malah merasa nikmat dan segar, setelah itu bersama anak-anak kolong lainnya keluyuran tanpa sepatu sambil berseru-seru mengiringi pasukan KNIL yang lewat lengkap dengan tamburnya.

Kehidupan tenang Teto berantakan saat Jepang masuk ke Hindia. Rumahnya diambil Kenpeitai, ayahnya sempat jadi buron Jepang dan akhirnya masuk perangkap dan ditangkap Kenpeitai sementara ibunya dipaksa jadi gundik Kepala Kenpeitai kalau tidak suaminya akan dibunuh. 

Nyatanya Kenpeitai mengingkari janji itu, usai kekalahan Jepang di Perang Dunia Kedua, suasana kacau balau akibat kevakuman kekuasaan, Brajabasuki sempat dibebaskan Kenpeitai tapi entah bagaimana ia ditangkap kembali dan dibunuh sehingga Marice yang shock menderita gangguan jiwa dan masuk ke rumah sakit jiwa. Kondisi ini membuat Teto benci pada Jepang termasuk para tokoh perjuangan Indonesia macam Soekarno yang begitu tunduk hormat pada Jepang. Akibatnya Teto tak setuju dengan pemikiran kemerdekaan, baginya bagaimana bisa sebuah negeri yang rakyatnya selalu tunduk dan serba tak punya karakter ini bisa menjadi bangsa merdeka. 

Dalam masa-masa sulit ini, terpisah dari orangtuanya, Teto dirawat oleh keluarga Antana. Nyonya Antana masih memiliki hubungan dengan Keraton. Ia tidak berdarah asli ningrat, namun sebagai anak angkat, ia diperkenankan mendapat perlakuan sama seperti pangeran dan puteri Keraton lainnya. Keluarga Antana memiliki seorang anak perempuan bernama Larasati yang selalu berbeda pendapat dengan Teto soal kemerdekaan. Larasati amat memuja Soekarno dan tokoh-tokoh pejuang lainnya sementara Teto sebaliknya. Larasati amat yakin negeri mereka akan merdeka dan menjadi negara baru sementara Teto tidak yakin bangsa kuli yang selalu tunduk dan takluk pada penguasa asing ini bisa merdeka dan berdikari penuh.

Usai kekalahan Jepang, sekutu masuk menggusur Jepang dan mengembalikan Hindia pada Belanda tapi rakyat yang sudah memproklamirkan kemerdekaannya ini tak lagi sudi takluk pada imperialis, mereka melawan dan membentuk pasukan bersenjata sendiri, Tentara Rakyat Indonesia. Di masa keadaan serba kacau ini, Teto memilih bergabung dengan NICA - Netherlands Indies Civil Administration, tentara bayaran Belanda. Tapi jelas alasan Teto di sini bukanlah karena bayarannya namun lebih karena ingin membalas dendam atas apa yang terjadi pada orangtuanya.

Selama di NICA, ia berada dalam perlindungan Mayor Verbruggen, teman ayahnya saat masih sama-sama di Akademi Militer di Breda, Netherland, Verbruggen rupanya juga mantan kekasih Marice, ibunda Teto bahkan sempat melamarnya tapi ditolak, dan Marice malah memilih pria Inlander berdarah ningrat Jawa, Brajabasuki, ayah Teto. 

Meski Belanda menjalani agresi militernya dan sempat menduduki Yogyakarta bahkan menawan tokoh-tokoh utama pemimpin perjuangan Indonesia, tapi rupanya tak mampu membuat Belanda dapat bertahan lama di negeri republik baru ini. Belanda dan NICA di ujung tanduk terutama setelah Jenderal Spoors yang merasa sudah kalah bunuh diri membuat kondisi NICA makin parah. Keberadaan Belanda di republik baru ini tak bisa bertahan lama. 

Kepergian Belanda dari Indonesia membuat Teto pun hengkang keluar dari tanah airnya. Bertahun-tahun lama setelah Indonesia merdeka. Teto kembali ke tanah air saat Indonesia sudah jauh berbeda. Usianya pun sudah empat puluh tahun lebih. Teto yang sudah menjadi doktor matematika dan komputer, yang dibayarnya dengan melepaskan kewarganegaan Indonesianya, kembali ke tanah air sebagai manajer divisi produksi Pacific Oil Wells Company, perusahaan minyak multinasional. Dalam pekerjaannya ini Teto menemukan kecurangan yang bisa merugikan Indonesia. Pilihan yang dimilikinya, diam dan posisinya tetap aman ataukah mengungkapkannya dengan resiko ia akan dipecat. Nyatanya walau ia merupakan anak kapiten KNIL, mantan NICA tapi darahnya tetaplah Indonesia. Nuraninya tak bisa membiarkan negeri leluhurnya dirugikan walau akibatnya ia dipecat dari jabatannya. 

Sementara itu Marice, ibunda Teto sudah lama meninggal dan dikuburkan di dekat rumah sakit jiwa tempatnya dirawat. Teto beberapa kali sempat datang ke tanah air menjenguk ibunya yang tak pernah bisa pulih. Ia tak memiliki siapapun lagi di tanah air, tapi sebenarnya ia merasa masih memiliki ikatan dengan seseorang. Larasati yang biasa dipanggil Atik. Cintanya pada Atik tak pernah pudar. Polemik di sekitar masa kemerdekaan telah memisahkan mereka. Atik yang pro kemerdekaan dan pemuja Soekarno bahkan sempat bekerja untuk Perdana Menteri Syahrir saat Indonesia masih berupa negara republik serikat, tak sejalan dengan Teto yang memilih menjadi tentara NICA, yang bagi pejuang Indonesia dianggap sebagai pengkhianat. Teto berhasil menemukan Atik tapi Atik sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Meski begitu rupanya api cinta di antara mereka tidak pernah padam. Perasaan cinta Atik pada Teto pun rupanya masih tetap menyala hanya sayangnya mereka dibawa pada
kenyataan bahwa cinta tak selalu harus saling memiliki.

Novel ini terbilang berani dengan menjadikan seorang yang bisa disebut pengkhianat bangsa sebagai tokoh utama, protagonis pula. Tapi justru novel ini selayaknya membuka mata kita dari segala macam bentuk kepicikan nan sempit dalam menilai nasionalisme seseorang. Simak ucapan menarik Mayor yang kemudian menjadi Letkol Verbruggen, atasan, mantan kekasih ibunda Teto yang walau bandit tapi memiliki hati dan jiwa seluhur-luhurnya seorang yang berbudi. "Apa jeleknya jadi maling? Daripada jadi politikus?", begitu sindiran Verbruggen yang menurut Teto merupakan orang yang bermoncong meriam tetapi jiwanya jip, sanggup dan ikhlas memberi tempat untuk melaju dan ke mana saja.

Membaca novel ini, kita seperti disadarkan kembali apa artinya merdeka dan betapa yang paling terutama adalah karakter bangsa. "Suatu bangsa yang sudah berabad-abad hanya membungkuk dan minder harus dididik dahulu menjadi kepribadian. Barulah kemerdekaan datang seperti buah durian yang jatuh karena sudah matang." Tidakkah kalimat ini membuat kita mempertanyakan kembali, inikah sebab musabab segala problematik carut marut negara kita yang walau sudah enam puluh delapan tahun (17 Agustus nanti) menyatakan diri sebagai republik baru, negeri merdeka dan berdaulat tapi nyatanya rakyatnya masih jauh dari berdaulat, korupsi makin marak sementara rakyatnya kian melarat? Para elitnya ramai berpesta di tengah rakyat yang hanya bisa menangis sambil terus bermimpi. 

Meski pesimis akan nasib republik yang terlalu dini memaksa diri berdikari, tapi toh terlihat pula kekaguman bahkan kegentaran si tokoh utama anak KNIL ini menghadapi para pemimpin republik muda yang memperlihatkan kepercayaan diri tinggi, jauh dari kesan minder berhadapan dengan tokoh-tokoh utama dunia dalam konferensi tingkat dunia mempermalukan Belanda habis-habisan. 

Melalui novel ini kita bisa mendapat banyak pelajaran untuk menjadi bangsa sejati. Memahami nilai tanah air sejati. "Maka kupikir, tanah-air adalah di mana tidak ada kekejaman antara orang dengan orang. Kalau adat atau kebiasaan suatu nasion kejam, kukira lebih baik jangan punya tanah-air saja." Lucunya kalimat ini justru diungkapkan oleh seorang anggota Polisi Militer Belanda yang juga merasa tak memiliki tempat lagi di Belanda dan usai dari Hindia memutuskan pindah ke Australia. Ada satu bagian menarik yang agaknya bisa pula mendewasakan kita sebagai sebuah negara yang sejati-jatinya merdeka bukan dalam arti harafiah mental tapi juga merdeka dalam kebesaran dan kearifan jiwa. 

"Ah, mengapa ada manusia kalah? Bolehkah tanpa berkhayal hampa kita mendambakan suatu dunia sesudah perang kemerdekan ini, menghapus dua kata 'kalah dan menang' itu dari kamus hati dan sikap kita?..., pada hakekatnya manusia diciptakan hanya untuk menang. Ataukah itu gagasan yang hanya mungkin timbul, karena yang punya gagasan itu ada di pihak yang menang? Sementara manusia yang kalah akan berkesimpulan lain, sebab beranjak dari pikiran atau pengkhayatan yang lain juga, ialah, bahwa manusia pun hakekatnya adalah kekalahan konstruksi absurd, bahan tertawaan, batu tindasan. Mungkinkah kalah dan menang itu diganti oleh satu konsep saja, unsur-unsur harmoni, kendati tempatnya bertentangan?"

Selasa, 11 Juni 2013

Review Novel : The Scarlet Letter - Nathaniel Hawthorne

Kisah Scarlett Letter ini menceritakan tentang seorang wanita bernama Hester Prynne yang dipenjara karena berzinah dan suatu hari di musim panas, ia bersama bayi hasil perzinahannya dipermalukan di atas sebuah panggung yang memang dimaksudkan masyarakat New England masa itu, untuk mempermalukan sang pendosa berat.

Hester Prynne merupakan imigran Inggris yang dikirim suaminya untuk pergi lebih dulu dan bergabung dengan komunitas Puritan di Boston. Sementara dua tahun berlalu, sang suami tak kunjung ada beritanya. Tiba-tiba Hester mengandung sehingga ia dihakimi atas dosa perzinahan. Ia diharuskan mengenakan kain dengan huruf A besar berwarna merah menyala di dadanya. Huruf A untuk Adultery atau Pezinah sehingga siapapun yang melihat sulaman huruf merah menyala di dadanya itu akan segera mengetahui alasan utamanya disebut sebagai si pendosa.

Di atas panggung hukuman ini Hester dengan huruf A merah menyala di dadanya tersebut dan disaksikan pandangan mencemooh, mencela, dan menghakimi dari penduduk sekitar diadili petinggi dan rohaniwan setempat yang menuntutnya untuk menyebutkan nama si pria yang telah turut berzinah dengannya. Namun Hester sambil menggendong bayinya tetap bertahan dan tak pernah mengungkapkan nama pria tersebut.

Walau mendapat tatapan cemooh dari masyarakat sekitar yang menontonnya, tapi Hester demi harga dirinya berusaha tetap tenang dan memperlihatkan keangkuhan yang anggun sebagai seorang narapidana. Namun ketenangannya nyaris runtuh saat matanya melihat sosok seorang pria yang amat dikenalnya di antara kerumunan penontonnya. Rupanya pria ini merupakan suaminya yang tak pernah ada kabar beritanya itu.

Ternyata suaminya selama ini mengalami musibah dalam perjalanannya untuk menyusul istrinya. Suaminya merupakan seorang pria tua yang memiliki cacat fisik ini adalah seorang ilmuwan yang selama perjalanannya ke New England ternyata mendapat tambahan ilmu pengobatan dari suku Indian.

Melihat istrinya berada di panggung hukuman karena dosa perzinahan sementara sang istri lebih rela menanggung aib dan noda itu seorang diri dengan bersikeras tak mau menyebutkan nama pria yang telah melakukan dosa besar itu bersamanya membuat sang suami bertekad menemukan si pria itu dan berniat membalas dendam pada mereka berdua dengan caranya sendiri.

Sang suami menemui Hester dan bayinya di penjara dengan menggunakan nama lain. Di sini ia memaksa Hester untuk tak pernah mengungkapkan pada siapapun bahwa ia adalah suaminya. Seperti Hester terus menyimpan nama pria misteriusnya, sang suami memaksa Hester harus pula menyimpan rahasia akan identitasnya. Ia tak memaksa Hester mengungkapkan jati diri si pria misteriusnya itu karena ia bertekad akan menemukannya sendiri. 

Roger Chillingworth, identitas baru mantan suaminya di kemudian hari menjadi mimpi buruk bagi Hester.

Roger akhirnya berhasil mengetahui pria yang telah berselingkuh dengan istrinya tersebut. Ia bersikap sebagai sahabat pria itu tapi sebenarnya ia terus menyiksa batin pria itu yang memang sudah tersiksa oleh rasa bersalah dan ketakberdayaannya untuk mengungkapkan dosanya.

Sementara Hester setelah keluar dari penjara hidup hanya berdua dengan putri kecilnya yang dinamainya Pearl di sebuah pondok yang letaknya terasing dari komunitas lainnya. Namun kemampuan menyulam Hester membuat Hester bisa diterima kembali dalam komunitas meski tak seutuhnya. Ketabahan Hester dalam menjalani hukuman dosanya yang sepertinya harus ditanggungnya seumur hidup, mengenakan sulaman huruf A merah menyala di dadanya, membawa noda dan aib-nya itu di setiap langkah kehidupannya, ternyata mulai mendapat simpati dari masyarakat sekitar yang semula begitu keras padanya.

Suatu kali Hester mengetahui bahwa petinggi di daerahnya berniat memisahkannya dengan anaknya. Mereka berpendapat bahwa Hester si pendosa ini takkan dapat memberikan pendidikan moral yang baik bagi putri kecilnya, Pearl.

Hester tak rela dipisahkan dengan putrinya yang kini sudah berumur tujuh tahun. Ia meminta bantuan Arthur Dimmesdale, pendeta muda yang sangat dipuja dan dihormati masyarakat di sana. Berkat kata-kata Pendeta Dimmesdale akhirnya putri Hester tak jadi direnggut darinya.

Arthur Dimmesdale sendiri memiliki luka dan beban sendiri. Sebagai rohaniwan muda, ia sangat dipuja masyarakat Puritan di sana, tapi rupanya Dimmesdale memiliki sebuah noda dosa yang mengikis kesehatan fisik dan mentalnya dari hari ke hari. Noda dosanya ini demikian menyiksanya hingga sebagai pertobatannya ia menyiksa dirinya sendiri dengan puasa, pantang bahkan mendera tubuhnya dengan cambuk. 

Menjelang akhir cerita, Hester menyusun rencana untuk melarikan diri dengan pria misteriusnya dan membangun kehidupan baru bersama putri kecil mereka, Pearl. Tapi rencana mereka ini diketahui Roger Chillingworth. 

Mereka akhirnya tak pernah bisa melarikan diri seperti rencana mereka, tapi pria misterius yang merupakan ayah biologis Pearl akhirnya mengakui dosanya di atas panggung hukuman. Rupanya pula meski ia bersikap pengecut dengan membiarkan Hester sambil mendekap bayi mereka berdiri di panggung kehinaan itu tujuh tahun sebelumnya, tapi ia sudah membayar upah dosanya jauh lebih berat. Seperti Hester yang mengenakan kain bersulam huruf A merah menyala di dadanya, ternyata pria ini pun mengenakan huruf yang sama di dadanya walau tersembunyi di balik jubahnya dan tak secara terang-terangan terlihat seperti milik Hester, namun huruf A di dada pria ini bukanlah terbuat dari kain seperti Hester, melainkan ia mematrinya di dalam daging di dadanya sendiri.

Dalam bab pembukaan novel ini, sang penulis Nathaniel Hawthorne mengisahkan asal usul kisah di balik novelnya ini yang bersetting kehidupan kaum Puritan New England yang memiliki aturan keras terhadap norma-norma dan menegaskan bahwa kisah dalam novelnya ini merupakan kisah nyata yang secara garis besar ditulisnya berdasarkan dari dokumen yang ditemukannya di Kantor Pabean tempatnya bekerja. 

Sang penulis ini sendiri sebenarnya merupakan keturunan salah satu keluarga Puritan tertua di New England, bahkan leluhurnya, William Hawthorne dan putranya, John merupakan tokoh terkemuka yang membantai kaum Quaker dan tukang sihir di akhir abad ke-17, tapi Hawthorne malah merasa tindakan-tindakan leluhurnya yang dianggap agung dan mulia ini justru membebaninya akan perasaan bersalah pada kelompok-kelompok yang telah dibantai leluhurnya tersebut, karenanya ia sangat mengkritisi kemunafikan kaum Puritan yang jelas tergambar dalam tulisannya ini.

Pada bab penutup, si penulis menyampaikan pesan moral dari novelnya ini adalah betapa pentingnya menjunjung nilai-nilai kejujuran. Karena akar dari segala tragedi dari tulisannya ini adalah ketidakjujuran yang menciptakan kesengsaraan para tokohnya.

Akan hal dosa para tokohnya tak sepenuhnya membuat pembaca berhak menghakimi karena penghakiman sejati adalah milik Tuhan dan hanya Tuhan pulalah yang berhak menghukum. Hal ini tergambar dari tokoh Roger Chillingworth yang merasa berhak menghukum dan menyiksa si pendosa tapi sebenarnya pula ia tak lebih baik dari si pendosa itu sendiri. Dan di mata surga, menurut kata-kata si penulis, kita semua adalah pendosa.

Hawthorne si penulis juga menyampaikan betapa tipisnya beda cinta dan benci dan bahkan menurutnya, mungkin kebencian dan cinta pada dasarnya sama.

Novel Scarlet Letter ini dianggap sebagai karya terbaik Nathaniel Hawthorne. Scarlet Letter bahkan ditahbiskan sebagai salah satu karya sastra klasik Amerika.