Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 28 Mei 2011

Audrey Hepburn = Life Through War

Tag dari Selvia Lusman.

Bagi penggemar film, khususnya film-film klasik, pastinya nama Audrey Hepburn tak asing. Begitu banyak film-film Audrey Hepburn yang hingga saat ini masih dikenang para penikmat film seperti Breakfast at Tiffany's dan Roman Holiday. Audrey Hepburn, aktris cantik yang pada masa itu kerap menjadi ikon mode dunia juga terkenal sebagai duta UNICEF, profesi yang ditekuninya hingga akhir hayatnya.

Di balik wajah cantiknya, Audrey Hepburn memiliki masa kecil yang amat kelam. Ia hidup di masa perang dunia kedua, di mana hal ini sebagian besar mempengaruhi pandangannya sehingga ia hingga akhir hayatnya terlibat secara penuh sebagai duta UNICEF. Audrey merupakan gambaran sempurna dunia bintang glamour Hollywood namun rela meninggalkan gaya hidup glamour ala bintang dan mengabdikan sisa hidupnya sebagai duta UNICEF demi menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak miskin di negara-negara yang lebih baik bagi anak-anak miskin di negara-negara yang tingkat kehidupannya masih jauh dari sejahtera. 

Audrey Hepburn lahir pada tanggal 4 Mei 1929 di Ixelles, Belgia dengan nama Audrey Kathleen Ruston. Ayahnya, Joseph Victor Anthony Ruston (1889-1980) adalah keturunan Irlandia sementara ibunya, Ella, baroness van Heemstra (1900-1984) adalah seorang bangsawan Belanda. Kakek Audrey, Aarnoud Jan Anne Aleid, baron van Heemstra (1871-1957) pernah menjadi gubernur Dutch Guiana. Belakangan, ayah Audrey menambahkan nama belakangnya dengan nama keluarga dari neneknya, Kathleen Hepburn sehingga nama belakang Audrey pun berubah menjadi Hepburn-Ruston.

Ibu Audrey, Ella sebelum menikah dengan ayah Audrey pernah menikah dengan seorang bangsawan Belanda, Jonkheer Hendrik Gustaaf Adolf Quarles van Ufford (1854-1955). Dari pernikahan pertamanya ini, ia dikaruniai dua orang anak, Jonkheer Arnoud Robert Alexander "Alex" Quarles van Ufford dan Jonkheer Ian Edgar Bruce Quarles van Ufford.

Meskipun Audrey lahir di Belgia, namun Hepburn memiliki kewarganegaraan Inggris. Ayah Audrey bekerja sebagai agen asuransi di perusahaan Inggris sehingga Audrey dan keluarganya seringkali melakukan perjalanan antara Brussel, Inggris dan Belanda. Audrey sendiri saat kecil bersekolah di Inggris. Sejak tahun 1953-1938 Audrey bersekolah di "Miss Ridgen's School", sebuah sekolah keputrian di Elham, Kent yang terletak di bagian tenggara Inggris.

Pada tahun 1953 orang tua Audrey bercerai karena ayahnya menjadi simpatisan Nazi. Ayahnya lalu meninggalkan Audrey dan ibunya. Perpisahan orang tuanya disebut Audrey sebagai masa paling traumatis dalam hidupnya. Meski ayahnya telah menelantarkannya namun Audrey tetap menyayangi ayahnya. Ia bahkan membantu ayahnya secara finansial hingga akhir hayatnya dan dengan bantuan Palang Merah, ia memindahkan ayahnya ke sebuah tempat di Dublin, Irlandia.

Pada tahun 1939 seiring dengan meletusnya Perang Dunia II, ibu Audrey membawanya beserta kedua kakak tirinya pindah ke rumah kakek mereka di Amheim, Belanda karena mengira Belanda aman dari serangan Jerman. Namun ternyata pada tahun 1940 Jerman menginvasi Belanda. Selama masa pendudukan Jerman, Audrey menggunakan nama Edda van Heemstra, nama ini merupakan modifikasi dari nama ibunya, Ella karena ibunya merasa nama Audrey terlalu berbau Inggris dan hal ini amat berbahaya karena bisa menarik perhatian tentara Jerman yang bukannya tak mungkin akan berujung pada penahanan atau bahkan deportasi.

Di Amheim, Audrey belajar di Konservatorium Amheim dan di samping mendapatkan pelajaran sesuai kurikulum sekolah, ia juga belajar balet. Pada tahun 1944 Audrey mulai menjadi ballerina dan sering tampil secara sembunyi-sembunyi untuk mengumpulkan dana bagi gerakan bawah tanah melawan Nazi.

Setelah sekutu mendarat di mana peristiwa ini dikenal dengan istilah "D-day" pada tahun 1944 ternyata keadaan di Belanda malah makin buruk. Tentara Jerman yang sudah hampir kalah perang melawan sekutu memblokir jalur suplai sehingga banyak yang mati kelaparan dan kedinginan di jalan. Kondisi ini masih pula ditambah dengan aksi kekerasan di mana penembakan terhadap masyarakat lokal di mana kerap terjadi. Keadaan yang memprihatinkan ini pun menimpa keluarga Audrey. Hepburn dan beberapa orang lainnya sampai membuat kue dan biskuit dengan tepung yang berasal dari bunga tulip. Bahkan Audrey yang saat itu masih amat belia ini harus menyaksikan paman dan sepupu ibunya ditembak oleh orang Jerman. Sementara Audrey sendiri akibat perang mengalami kekurangan gizi. Ia bahkan sampai menderita anemia akut dan gangguan pernafasan.

Salah satu cara Audrey melewati waktu adalah dengan menggambar. Ketika Belanda akhirnya berhasil dibebaskan dari pendudukan Jerman, truk-truk dari PBB pun segera masuk untuk memberikan bantuan makanan bagi rakyat di sana. Dalam sebuah wawancara, Audrey mengatakan bahwa ia menghabiskan sekaleng condensed milk sehingga ia jatuh sakit akibat ia menaruh terlalu banyak gula di oatmeal-nya.

Pengalamannya saat perang inilah yang mendasari Audrey untuk terlibat dengan UNICEF. "I can testify to what UNICEF means to children, because was among these who received food and medical relief right after World War II," ujarnya menjelaskan mengapa UNICEF amat berarti bagi anak-anak yang pernah mengalami kelaparan akibat perang seperti dirinya. Belakangan Audrey menemukan pengalaman yang dialaminya saat perang ternyata sama seperti dirinya. Belakangan Audrey menemukan pengalaman yang dialaminya saat perang ternyata sama seperti yang dirasakan oleh Anne Frank yang tertuang dalam buku hariannya pada tahun 1946 yang kemudian diterbitkan. Saat buku harian Anne Frank ini akan difilmkan pada tahun 1959 dengan judul "The Diary of Anne Frank" kakek Anne, Otto Frank sempat meminta Audrey untuk memerankan cucunya di film itu namun ia menolaknya karena ia lahir di tahun yang sama dengan Anne sehingga otomatis saat film itu dibuat usianya sudah 30 tahun dan ini tentu saja tak cocok dengannya yang dinilai sudah terlalu tua untuk berperan sebagai seorang remaja. Peran Anne Frank kemudian jatuh kepada Millie Perkins.

Setelah perang usai, Audrey meninggalkan Konservatorium Amheim pada tahun 1945 dan pindah ke Belanda. Di sini ia belajar balet pada Sonia Gaskell yang kemudian memperkenalkan Audrey pada Marie Rambert. Hepburn lalu pergi ke London untuk belajar di sekolah balet Rambert yang juga merupakan guru dari pebalet pria, Vaslav Nijinsky. Saat itu Audrey bekerja sampingan sebagai model.

Semula Audrey bermaksud serius menekuni balet dan ingin menjadikan balet sebagai pilihan kariernya hingga ia pun bertanya pada Rambert mengenai masa depannya senagai balerina. Rambert menjawab bahwa Hepburn bisa terus menari dan masa depannya cerah. Namun malnutrisi yang diderita Audrey akibat perang bisa menjadi penghalang bagi Audrey untuk menjadi prima ballerina (penari balet utama). Audrey yang frustasi dengan pernyataan Rambert ini kemudian mengalihkan pandangannya ke dunia akting. Saat itu kehidupan ekonomi keluarga Audrey amat sulit. Ibu Audrey bahkan sampai harus melakukan pekerjaan kasar. Dan Audrey yang butuh uang melihat akting sebagai karier yang cerah terlebih bayaran untuk berakting tiga poundsterling lebih besar dibanding menari balet.

to be continued....

Berikutnya Audrey mulai merambah ke Hollywood dan meraih kesuksesan.

* Gambar dipinjam dari sini.

Sabtu, 14 Mei 2011

Rekam Jejak Michael Schumacher di GP Spanyol

Penampilan Schumacher di GP Turki kemarin memang tak berjalan sebaik yang diharapkan. Namun semua itu kini sudah berlalu. Perhatian semua pebalap F1 dan publik pecinta olahraga motorsport ini kini beralih ke race selanjutnya di Barcelona, Spanyol. 

Fernando Alonso boleh saja menjadi pebalap kebanggaan rakyat Spanyol, tapi hingga saat ini Michael Schumacher merupakan pebalap tersukses di sepanjang sejarah perhelatan grand prix F1 di negeri matador ini. Michael Schumacher merupakan pebalap yang paling banyak meraih kemenangan di GP Spanyol ini. Ayah Mick dan Gina Schumacher ini tercatat telah memenangi GP Spanyol sebanyak 6 kali  sementara kebanyakan pebalap macam Mansel, Stewart, Prost, dan bahkan Hakkinen hanya mampu meraih tiga kali kemenangan di GP Spanyol ini. Sementara Senna, pebalap Brazil yang telah melegenda hanya berhasil meraih dua kali kemenangan saja di negeri matador ini. 

Tahun lalu di saat Michael Schumacher habis-habisan dicerca akibat terus menerus dikalahkan oleh rekan setimnya yang lebih muda, juara dunia tujuh kali ini berhasil melakukan serangan balik pertamanya di tahun lalu atas rekan setimnya yang lebih muda itu di GP Spanyol ini setelah tim Mercedes melakukan perubahan dengan memperpanjang wheel base mobilnya. 

Kini dengan hasil buruk yang diraih Schumi di empat balapan perdana musim ini, tentu saja ia berharap bisa kembali memetik hasil mengesankan di salah satu sirkuit keberuntungannya ini. 

Sekadar refreshing menjelang GP Spanyol yang akan diselenggarakan pekan depan, tak ada salahnya bila menyimak kembali kiprah Michael Schumacher di GP Spanyol. 

Balapan perdana Michael Schumacher di GP Spanyol sebagai pebalap F1 setelah ia memulai debutnya yang gemilang bersama Benetton, Schumi langsung "diculik" oleh Benetton. Sebagai rookie kala itu, penampilan Michael di GP Spanyol 1991 ini cukup mengesankan. Saat itu Gerhard Berger dari McLaren-Honda meraih pole sementara Michael Schumacher, si anak baru ini meraih P5 di sesi kualifikasi. Saat race, menjelang akhir lap 1 Schumacher bertarung dengan para pebalap kawakan kala itu yakni Ayrton Senna, Nigel Mansell, dan Jean Alesi untuk memperebutkan posisi ketiga. Menjelang akhir lap pertama, Michael mengejutkan Mansell karena berhasil merebut posisi ketiga. Hujan yang turun membasahi sirkuit Catalunya kala itu sempat memberikan tontonan dramatis yang menarik kala Senna melintir di tikungan terakhir hingga membuat posisinya melorot dari P2 ke urutan ke-5 sementara Schumi berhasil menyalip Prost untuk merebut P3 dan memberikan tekanan pada Berger yang harus kehilangan posisinya sebagai race leader karena "dicuri" oleh Mansell. Pertarungan berakhir setelah Schumi melintir saat mencoba menyalip Berger dan membuat posisinya melorot ke urutan ke-6 sementara Berger pun mengalami akhir pekan yang tak menyenangkan karena tak lama ia terpaksa mengakhiri balapannya karena mobilnya mengalami kegagalan elektronik. 

Untuk balapan F1 perdananya di GP Spanyol, finish ke-6 tidaklah terlalu buruk bagi Schumi. Terbukti di masa-masa mendatang, GP Spanyol menorehkan banyak kenangan manis bagi pebalap Jerman ini.

Di tahun penuh pertamanya bersama Benetton, Schumi mencatat hasil yang cukup menggembirakan. Di sesi kualifikasi ia berhasil meraih P2, kalah kencang dari Nigel Mansell yang membalap bersama Williams-Renault. Musim itu Mansell dan Williams memang amat luar biasa dan nyaris tak terkalahkan.

Start berlangsung di atas trek yang basah oleh hujan dan memberikan suguhan menarik bagi penonton. Jean Alesi dari Ferrari melakukan start yang bagus dan berhasil melakukan lompatan dari posisi 8 saat start menuju urutan ke-3 menggusur Senna dan membuat pebalap Brazil itu melorot ke urutan ke-7. Sementara Schumi pun harus kehilangan posisi keduanya yang "disabotase oleh Patrese. Namun di lap ke-7 Schumi berhasil memenangi pertarungan melawan Alesi hingga membuat Berger pun ingin mengikuti jejaknya dan mencoba menyalip Alesi. 

Di lap 20 Patrese melintir dan membuat Michael berhasil merebut posisi kedua di belakang Mansell. Di belakang Schumi menyusul Senna, Berger, Capelli, dan Alesi. Saat pit, Alesi berhasil menyalip Capelli dan saat kembali ke trek ia pun sukses merebut P4 dari Berger dan Schumi menjadi target Alesi yang berikutnya. Namun ia terlalu terburu-buru. Schumi berhasil mempertahankan posisinya di urutan kedua tepat dibelakang Nigel Mansell yang berhasil meraih kemenangan keempatnya di musim itu sementara Alesi cukup puas meraih podium ketiga di belakang Schumi. 

Di musim ini Williams merupakan skuad terkuat kala itu lewat duet Alain Prost dan Damon Hill. Di sesi kualifikasi Prost sukses merebut pole disusul rekan setimnya, Hill di urutan kedua sementara Schumacher hanya mampu merebut P4 tepat di belakang Senna. Namun saat start, Hill berhasil menyalip Prost. 

Balapan Hill berhakhir di lap 41 akibat kegagalan mesin membuat posisi Prost posisi pertama tetap aman hingga akhir race. Sementara pertarungan di tempat kedua amat ketat antara Schumacher dan Senna, namun pertarungan itu akhirnya dimenangkan Senna (McLaren-Ford) setelah Schumi melintir keluar trek di tikungan akhir. Schumi pun cukup puas merebut podium ketiga di belakang Prost dan Senna. Meski hanya berhasil merebut podium ketiga namun Michael berhasil mencatat fastest lap yang ditorehkannya di lap 61.

Awal masa keemasan Michael Schumacher. Di musim 1994 ini Schumi bersama Benetton tampil cemerlang. Di empat seri perdana musim itu sebelum GP Spanyol, Schumacher berhasil meraih kemenangan membuatnya berada di puncak klasemen. Awal dominasi Schumacher ini sempat meresahkan Senna yang hengkang dari McLaren dan bergabung dengan Williams di awal tahun 1994 itu dan menyebabkan Prost memilih mengundurkan diri dari F1 karena kecewa atas keputusan Williams merekrut seteru abadinya, Senna. 

Duka akibat kematian Senna di Imola, awal Mei tahun itu, masih terasa menggayuti menjelang GP Spanyol yang kala itu digelar pada akhir Mei. 

Sementara itu Schumi dan Benetton masih tampil luar biasa dan berhasil meraih pole disusul Damon Hill yang menjadi pengharapan kubu Williams yang masih berduka akibat kematian tragis Senna, dan Mika Hakkinen yang memulai awal kemitraannya dengan McLaren mengisi grid ketiga. 

Saat race, Schumi mengalami masalah. Transmisinya stuck di gigi lima. Menyadari ia mengalami masalah yang serius, Michael pun mencoba beradaptasi dengan mengubah gaya menyetirnya. Pengalamannya saat ia bertanding di ajang World Sports Car bersama tim Sauber amat membantunya dalam mengontrol mobil. Keadaan ini membuat Michael cukup puas dengan merebut podium kedua di belakang Hill yang berhasil meraih kemenangan dan memberikan penghiburan bagi kubu Williams. Tentu saja kemenangan Hill ini menjadi momen emosionil bagi tim Williams mengingat pebalap terbaik mereka, Ayrton Senna tewas hanya beberapa minggu sebelum GP Spanyol tersebut. 

Menjelang GP Spanyol 1995 pertarungan memperebutkan gelar dunia antara Schumacher dan Hill berlangsung ketat. Pada awal musim, Schumacher berhasil meraih kemenangan di Brazil namun upayanya mempertahankan gelar dunia tak mudah karena Damon Hill memberikan perlawanan kuat. Di dua race menjelang GP Spanyol, yaitu di GP Argentina dan San Marino, Hill berhasil menyabet dua kemenangan berturut-turut hingga Schumacher harus membalasnya di GP Spanyol. 

Usaha Schumacher untuk merebut kembali posisi di puncak teratas klasemen pebalap dari tangan Hill terbuka lebar setelah pebalap Benetton ini berhasil meraih pole disusul duet Ferrari, Jean Alesi dan Gerhard Berger sementara Damon Hill hanya mampu merebut P5 di belakang rekan setimnya, David Coulthard yang menyabet P4. 

Balapan Schumacher tak mengalami hambatan berarti. Ia tampil solid dan terus memimpin hingga akhir race terlebih setelah pesaingnya di klasemen pebalap, Hill mengalami masalah dengan gearbox-nya di final lap hingga akhirnya ia terpaksa merelakan podium kedua kepada Johnny Herbert, rekan setim Schumi dan cukup puas bisa finish di urutan keempat tepat di belakang Berger yang mengisi podium ketiga. 

Kemenangan Schumi tersebut membawanya kembali berada di posisi puncak klasemen pebalap dengan 24 poin, selisih tipis atas Hill yang mengumpulkan 23 poin. 

Tahun pertama Schumi bersama Ferrari. Di musim ini Michael kembali mengalami pertarungan sengit dengan Hill. Musim itu Williams-Renault tampil luar biasa dan bukan tandingan Ferrari. Sebelum GP Spanyol, duet Williams, Hill dan Villeneuve saling bergantian meraih kemenangan sementara Schumi yang telah merebut dua gelar dunia belum memenangi satu kemenangan pun. 

Di sesi kualifikasi duet Williams kembali merajalela. Hill sukses meraih pole disusul rekan setimnya, Jacques Villeneuve, sementara Schumi berada di grid ketiga. Namun keberuntungan mulai berpihak kepada Michael. Saat race, hujan mengguyur sirkuit, Michael yang terkenal dengan julukan Regenmeister atau dalam bahasa Inggrisnya Rainmaster ini tampil cemerlang. Meski startnya jelek namun Schumi akhirnya berhasil menyalip Villeneuve dan meraih kemenangan pertamanya untuk Ferrari. Sementara Hill yang meraih pole, saat start sempat melintir dua kali hingga membuat posisinya melorot ke urutan ke-8 dan memaksa pebalap Inggris itu akhirnya retired di lap sepuluh.

Setelah Hill "terusir" dari Williams meski ia telah berhasil mempersembahkan gelar dunia pertamanya dan satu-satunya membuat posisi Villeneuve di tahun keduanya bersama tim asal Inggris itu makin kokoh. Pebalap Kanada itu memimpin puncak klasemen berkat dua kemenangannya di Brazil dan Argentina sementara rekan setimnya yang baru, Heinz-Harald Frentzen meraih kemenangan di GP San Marino. Sementara Schumacher baru meraih satu kali kemenangan di Monaco, dua pekan sebelum GP Spanyol. 

Sayangnya momen kemenangan yang telah diraih Schumi di Monaco tak berlanjut di Spanyol. Di sesi kualifikasi ia terpaksa mengakui keunggulan Williams yang berhasil menyabet pole lewat Villeneuve disusul rekan setimnya, Frentzen di urutan kedua sementara Schumi harus puas mengisi grid ke-7 di belakang Berger yang musim itu tampil membela bekas timnya, Benetton-Renault.

Saat balapan, start Schumi amat gemilang dan berhasil melompat dari grid ke-7 menuju P2 namun sayangnya Ferrari-nya kala itu tak mampu menandingi Williams-Renault milik Villeneuve. Di lap 13 ia ketinggalan sekitar 20 detik dari Villeneuve yang tampil tangguh hingga akhir race dan merebut kemenangan sementara Schumi terpaksa puas finish di urutan ke-4 di belakang Olivier Panis dan Jean Alesi.

Schumi akhirnya berhasil melakukan "pembalasan" atas Villeneuve dengan meraih kemenangan di negeri Villeneuve, Kanada.

Di musim ini upaya Michael meraih gelar dunia ketiganya mendapat hambatan dari Mika Hakkinen yang tampil solid bersama McLaren-Mercedes. Di sesi kualifikasi Michael terpaksa mengakui keunggulan tim asuhan Ron Dennis itu yang menempatkan dua pebalapnya di posisi teratas. Mika meraih pole disusul rekan setimnya, Coulthard sementara Schumi mengisi grid ketiga di belakang duo McLaren itu. 

Selepas start Mika Hakkinen melesat di urutan terdepan dan tak tertandingi. Michael pun harus puas meraih podium ketiga di belakang Mika dan DC mengingat duet McLaren itu terlalu tangguh. 

Pertarungan memperebutkan gelar dunia antara Schumi dan Mika kembali berlanjut di musim 1999 ini. Schumi yang sangat berambisi meraih gelar dunia pertamanya untuk Ferrari (dua gelar sebelumnya direbut bersama Benetton pada 1994 dan 1995) sementara Mika pun amat bersemangat mempertahankan gelar dunianya yang berhasil direbutnya di akhir tahun 1998. 

Sebelum GP Spanyol, Schumi telah mengantongi dua kemenangan yakni di San Marino dan Monaco sementara Mika baru meraih satu kemenangan di Brazil. 

Mika membuka peluang meraih kemenangan di Spanyol setelah ia berhasil meraih pole disusul Eddie Irvine, rekan setim Schumi sementara Schumi hanya mampu meraih P4 di belakang DC. Saat race, duet McLaren kembali tampil dominan. Mika lagi-lagi sukses meraih kemenangan Spanyol. Kemenangan keduanya di Spanyol dari total tiga kemenangan yang ditorehkannya di sirkuit Catalunya ini. Sementara Schumi meski sukses mencatat fastest lap tapi ia lagi-lagi harus puas hanya meraih podium ketiga di belakang duet McLaren itu. 

Memasuki musim 2000, Schumi dan Ferrari tampil mengesankan dengan meraih kemenangan di tiga race perdana yakni di Australia, Brazil, dan San Marino. Di race keempat yang berlangsung di Inggris, McLaren melakukan serangan balik lewat DC yang sukses meraih kemenangan. 

Peluang Schumi untuk kembali menjuarai GP Spanyol terbuka setelah ia sukses meraih pole disusul Mika Hakkinen di P2 sementara Rubens Barrichello, rekan setim Schumi yang baru di Ferrari menggantikan Irvine yang hengkang ke Jaguar mengisi grid ke-3 disusul DC di urutan ke-4. 

Pole yang diraih Schumi itu merupakan pole pertamanya di musim itu. Perang strategi ban terasa kental mewarnai GP Spanyol ini. Mika yang gagal merebut pole memilih bahan bakar yang lebih berat dari beban normal. Michael sebenarnya bisa saja menjuarai GP Spanyol musim itu kalau saja ia tak mengalami masalah di pit. 

Selepas start meski mobilnya melambat namun ia berhasil menghadang laju Hakkinen dan mempertahankan posisinya sebagai race leader tapi petaka mulai menimpanya saat ia masuk pit. Kala itu ia meninggalkan gap 3 detik di depan Hakkinen. Namun pitnya berantakan. Saat itu sebenarnya selang pengisi bahan bakar di mobil Schumi sudah dicabut sehingga pebalap Jerman ini pun segera melaju untuk kembali ke trek namun ternyata salah satu kru pit Ferrari, Nigel Stepney masih belum dalam posisi siap hingga akhirnya ia terjatuh dan hampir tergilas ban belakang Schumi. Ia pun segera dilarikan ke bagian medis dan untungnya ia tak mengalami luka yang serius. 

Pit pertama Schumi yang berantakan itu membuat Mika berhasil memperpendek jarak dengannya. Di lap 41 Schumi dan Mika masuk pit berbarengan. Lagi-lagi Schumi harus mengalami pit yang berantakan. Ia mengalami masalah yang mengakibatkannya tertahan di pit hingga 17 detik sementara Mika hanya membutuhkan waktu 10 detik di pit. 

Kemenangan sudah hampir pasti direbut Mika. Sementara balapan Schumi hari itu benar-benar kacau balau. Bahkan ia sampai berseteru dengan adik kandungnya sendiri, Ralf Schumacher. Di lap 51 Ralf mencoba menyalip Schumi tapi kakaknya itu langsung memblokir jalannya. Perseteruan keduanya ini dimanfaatkan oleh Rubens yang langsung menyalip mereka. Akibat kelakuan Michael ini sempat terjadi perang dingin antara dua Schumacher bersaudara ini. 

Kebocoran ban yang dialami Michael memaksanya kembali ke pit dan kembali ke trek di urutan ke-5 tepat di belakang adiknya, Ralf sementara Mika meraih kemenangan pertamanya di musim itu sekaligus menandai kemenangan ketiganya di GP Spanyol. 

Di sesi kualifikasi Michael sukses meraih pole dan seharusnya ia bisa terus memimpin kalau saja mobilnya tak mengalami mysterious tyre vibration usai pit keduanya hingga membuat Mika Hakkinen melaju merebut posisinya sebagai race leader. Tapi ternyata dewi fortuna masih bermurah hati pada Michael. Di lap terakhir tiba-tiba saja mobil Mika meleduk dan Schumi yang berada sedetik di belakang Mika pun langsung melaju menuju podium pertama meninggalkan Mika yang jengkel setengah mati. Posisi Mika pun langsung melorot ke urutan ke-9 dan gagal mendapatkan tambahan poin (tahun itu poin hanya diberikan kepada urutan finish dari satu hingga posisi enam saja). 

Salah satu musim tersukses Michael bersama Ferrari. Menjelang GP Spanyol, Schumi sudah tampil dominan sejak race pembuka musim di Australia. Hanya di Malaysia saja ia kehilangan kesempatan meraih kemenangan yang akhirnya direbut oleh adik kandungnya sendiri, Ralf Schumacher. 

Tahun 2002 sendiri sepertinya sudah ditakdirkan sebagai salah satu tahun tersukses Schumi dan Ferrari. Langkahnya tak terbendung. Di sesi kualifikasi Schumi berhasil meraih pole disusul Rubens di P2 dan Ralf di urutan ketiga. Namun saat race, Rubens terpaksa retire akibat masalah gear box sehingga memuluskan Schumi meraih kemenangan tanpa hambatan yang berarti. Podium kedua dan ketiga diisi oleh Juan Pablo Montoya dan David Coulthard. Secara total Michael menyabet 11 kemenangan di musim 2002 itu. 

Kebijakan Ferrari yang memilih menggunakan mobil tahun sebelumnya F2002 sempat membuat Ferrari keteteran di tiga race perdana awal musim. Ferrari sempat mencuri kemenangan di San Marino, dua pekan sebelum GP Spanyol. 

Di GP Spanyol, untuk pertama kalinya mobil baru FA2003-GA digunakan. Inisial GA merupakan penghargaan Ferrari untuk Gianni Agnelli, bos grup Fiat, induk perusahaan Ferrari, yang meninggal hanya beberapa saat sebelum peluncuran mobil baru tim asal Italia tersebut. 

Dengan mobil baru Ferrari itu, Schumi berhasil meraih pole disusul rekan setimnya, Barrichello di P2 dan Alonso di urutan ketiga. Posisi Schumi di tempat terdepan tak tergoyahkan hingga akhir race dan ia pun sukses meraih kemenangan disusul Alonso dan Barrichello di urutan kedua dan ketiga. 

Puncak masa keemasan Schumi dan Ferrari. Sejak awal musim Michael dan Ferrari meraih nilai sempurna. GP Spanyol di musim itu  merupakan race kelima dan berbekal dominasi F2004 dan Michael Schumacher di race-race sebelumnya, tim kuda jingkrak ini kembali tampil terlalu tangguh menjelang GP Spanyol. Di sesi kualifikasi, Michael meraih pole disusul Juan Pablo Montoya dan Takuma Sato di P2 dan P3 sementara rekan setimnya, Rubens Barrichello mengisi grid kelima di belakang Trulli. 

Saat race Michael sempat mendapat tekanan dari Trulli yang kala itu membela Renault tapi Michael Schumacher dan Ferrari saat itu terlalu tangguh. Ia berhasil mengatasi tekanan dan meninggalkan gap yang amat besar. Schumi finish di urutan pertama dengan selisih 13 detik lebih dari rekan setimnya, Barrichello yang finsih kedua disusul Jarno Trulli di tempat ketiga. Kemenangan Schumi ini merupakan kemenangan ke-6 nya di GP Spanyol dan menjadikannya sebagai pebalap tersukses di ajang GP Spanyol ini.

Salah satu musim tersulit Michael Schumacher dan Ferrari. Di musim ini FIA mengeluarkan regulasi baru dengan alasan membuat F1 jauh lebih menarik akibat dominasi Michael Schumacher dan Ferrari yang dinilai sebagian pihak membosankan. Nyatanya upaya FIA itu membuahkan hasil. Tahun 2005 bisa dibilang salah satu musim tersulit Schumi dan Ferrari. 

Aturan baru yang mengharuskan tiap tim tak boleh mengganti ban selama race nyatanya membuat Ferrari yang menjadi satu-satunya tim besar konsumen Bridgestone keteteran menghadapi para pengguna ban Michelin. 

Musim 2005 itu merupakan masa awal munculnya bintang muda Alonso dan Raikkonen sementara Schumi dan Ferrari terus berjibaku menghadapi payahnya Bridgestone dalam melakukan serangan atas Michelin. Serangkaian kekalahan demi kekalahan harus dialami Schumi dan Barichello sementara sebagian publik yang tak menyukai dominasi Schumi dan Ferrari akhirnya bersorak melihat sang juara dunia tujuh kali itu terseok-seok. 

Di sesi kualifikasi GP Spanyol, Schumi hanya mampu meraih grid ke-8 sementara Barrichello harus memulai balapan dari grid paling belakang, yaitu urutan ke-18. Saat race, Raikkonen yang meraih pole langsung memimpin, meski sempat mendapat hambatan dari Alonso namun ia tetap berhasil mempertahankan posisinya di urutan pertama hingga akhir race disusul Alonso yang finish kedua dan Trulli di tempat ketiga. Sementara Michael retired di lap 46 akibat puncture padahal ia sempat berada di urutan ketiga sebelum akhirnya kebocoran ban menghadangnya di dua lap menjelang balapan berakhir. Sedangkan Rubens Barrichello finish di urutan ke-9.

Setelah mengalami musim yang buruk, Ferrari dan Schumacher akhirnya bangkit kembali di tahun 2006 berkat aturan baru FIA yang kembali mengijinkan penggantian ban saat race. Namun musim ini Michael harus menghadapi serangan dari pebalap muda, Alonso yang telah sukses merebut gelar dunia pertamanya di musim 2005 bersama Renault.

Sebagai juara dunia asal Spanyol, pastinya membuat Alonso berniat meraih kemenangan di hadapan publiknya sendiri. Alonso sukses meraih pole disusul rekan setimnya, Giancarlo Fisichella di urutan kedua sementara Michael Schumacher mengisi grid ketiga.

Saat race Schumi akhirnya berhasil mendekati Alonso meski awalnya ia sempat tertahan di belakang Fisichella. Walau tak berhasil merebut posisi pertama dari tangan Alonso, namun Schumi cukup puas finish kedua disusul Fisichella di urutan ketiga.

Tahun pertama kembalinya Michael Schumacher ke arena Formula One setelah sempat berhenti dari F1 selama tiga tahun. Kali ini ia kembali bersama tim Mercedes dan berpasangan dengan pebalap muda Jerman, Nico Rosberg. 

Debut kedua Schumi di F1 ternyata tak berjalan sesuai harapan. Ia kewalahan menghadapi rekan setimnya dan seringkali keteteran hingga membuatnya menjadi bahan cercaan. Tapi menjelang GP Spanyol, timnya melakukan perubahan pada settingan mobil mereka dengan memperpanjang wheel base. Hasilnya Schumi pun  bisa sedikit bernafas lega dan melakukan serangan balik. 

Di sesi kualifikasi ia berhasil meraih grid ke-6 di belakang Jenson Button yang membalap untuk McLaren-Mercedes sementara rekan setimnya, Nico Rosberg berada di P8. Saat race, Schumi nyaris meraih podium tapi sayangnya mobilnya tak cukup kencang menghadapi laju Red Bull. Ia pun terpaksa puas finish di urutan ke-4 di belakang Webber, Alonso, dan Vettel sementara rekan setimnya, Nico Rosberg hanya mampu finish di urutan ke-13 dan gagal meraup poin.

sumber gambar : autoweek

Setitik Asa Bagi Schumacher

Perkembangan baru Mercedes menjelang GP Spanyol di Barcelona pekan depan telah membangkitkan kembali harapan Michael Schumacher yang remuk redam akibat hasil buruk yang didapatnya di GP Turki hari Minggu kemarin.

"While I was not happy with my weekend in Turkey, there have been clear signs of improvements for us as a team, which obviously push and re-boost my motivation even more," ujar peraih 91 kali kemenangan GP sepanjang karirnya di F1 ini.

"It's more than encouraging to see that the hard work of the team is starting to pay off. We are all determined to make progress," lanjut juara dunia tujuh kali ini memuji kerja keras yang dilakukan timnya. 

Michael yang sempat mencurahkan kekecewaannya kepada media Inggris, BBC usai balapan di Turki kini memiliki semangat lagi menghadapi balapan di Barcelona. Bagi Michael Schumacher, sirkuit Catalunya yang hingga tahun 2010 silam telah 52 kali menggelar perhelatan GP Spanyol ini merupakan salah satu sirkuit favorit Schumi. Tercatat Michael Schumacher merupakan pebalap tersukses yang telah meraih 6 kali kemenangan di sirkuit langganan ajang ujicoba pra musim balap setiap tahunnya. Di sesi terakhir ujicoba pra musim 2011 Michael bahkan sempat mencatatkan waktu tercepat di sirkuit ini. 

Michael sendiri mengungkapkan bahwa GP Spanyol yang biasanya merupakan balapan perdana di benua Eropa tiap tahunnya merupakan ajang yang amat berkesan bagi juara dunia tujuh kali ini mengingat begitu banyak kenangan manis yang diraihnya di GP Spanyol ini. Selain itu Sirkuit Catalunya di Barcelona ini sendiri bisa dibilang bagaikan rumah kedua bagi semua pebalap mengingat sirkuit ini kerap dijadikan sebagai tempat sesi ujicoba hingga membuat semua pebalap amat mengenal sirkuit ini. 

"The Spanish GP is traditionally where it really feels like the European season gets underway and holds a lot of good memories for me," ujar Schumi. Namun ia juga menyatakan bahwa meski sirkuit Catalunya sudah amat dikenal karena kerap dijadikan tempat sesi ujicoba namun dengan penggunaan KERS dan DRS serta ban Pirelli tak membuat overtaking jadi lebih mudah.

"Of course, we know the Circuit de Catalunya very well from testing, but it will be interesting to see the effect of KERS, the DRS and the Pirelli tyres on a track where overtaking is always difficult."

sumber gambar : berita-f1

Haug: Schumi Will Have "Fun" Again In Barcelona

Setelah curhatan terdalam Michael atas kekecewaannya di GP Turki, Minggu lalu hingga membuat juara dunia tujuh kali ini menyatakan tak lagi bisa merasakan "the big joy" dan menimbulkan spekulasi akan kelangsungan pebalap berumur 42 ini bersama Mercedes yang kontraknya baru akan habis akhir tahun depan.

Norbert Haug, sang bos di bagian motorsport Mercedes langsung merespon dengan menjanjikan bahwa Michael Schumacher akan kembali merasakan "kegembiraan" yang dirasanya telah hilang itu di balapan mendatang yang akan berlangsung di sirkuit Catalunya, Barcelona, Spanyol pekan depan.

Haug menyatakan untuk seorang pebalap sekelas Michael yang di masa silam telah menorehkan begitu banyak prestasi dalam sejarah F1 tentu saja membuat Michael dituntut lebih banyak dibanding pebalap lainnya. Dan ketika Michael gagal mewujudkan hasil seperti yang telah ditorehkannya di masa lalu, tentu saja hal ini membuat Michael menjadi bahan kritikan. "When success is missing, then criticism is a fact of life. When a seven-time world champion like Michael Schumacher doesn't achieve success, criticism rains down upon him," ujar Haug kepada Autosport.

"I understand why: people expect the very hightest level of performance from Michael and Mercedes, which is fully in line with our targets," lanjut bos Mercedes bidang motorsport ini.

Meski begitu Haug juga mengingatkan bahwa penampilan Michael di GP Turki hari Minggu lalu meski ia hanya mampu meraih urutan finish ke-12 dan gagal meraup poin namun sebenarnya penampilan Michael di Istanbul itu tak sepenuhnya buruk. Di sesi latihan bebas, catatan waktu Michael amat bagus, bahkan di sesi latihan bebas ketiga Michael memiliki kecepatan yang hampir setara dengan Red Bull-nya Vettel dan mencatat waktu tercepat kedua di belakang rekan senegaranya yang jauh lebih muda itu. Masih menurut Haug, sebenarnya saat race Michael telah memperlihatkan bahwa ia masih memiliki kecepatan yang bagus dan kalau saja ia tak mengalami insiden dengan Petrov di lap dua yang membuat Michael terpaksa masuk pit untuk mengganti sayap depan mobilnya, sebenarnya Michael bisa saja finish di urutan ke-6 atau tujuh.

Ross Brawn, team principal tim Mercedes pun memberikan komentar yang hampir sama dengan Haug dan menyatakan bahwa Michael hanya kurang beruntung saja karena sepanjang race ia harus terjebak dalam traffic di deretan tengah. 

Haug juga menambahkan bahwa ia tak terkejut dengan kekecewaan Schumi yang dinyatakannya kepada BBC saat akhir race di Turki. Pernyataan yang kemudian menimpulkan spekulasi bahwa Schumi tak lagi menikmati F1 dan bahwa Mercedes GP akan mempertimbangkan lagi keberadaan juara dunia tujuh kali ini di dalam tim mereka terlebih sebelumnya Haug sempat memuji-muji Paul di Resta, pebalap Irlandia yang merupakan pebalap binaan Mercedes dan kini menjadi rookie di tim Force India. Penampilan di Resta yang di tahun pertamanya di F1 ini memang cukup mengesankan hingga tak heran bila kemudian muncul perbincangan bahwa di Resta akan direkrut oleh tim Mercedes GP hingga membuat keberadaan Schumi di tim pabrikan Jerman ini mulai dipertanyakan.

Namun lewat media Autosport itu, Mercedes GP menyatakan bahwa tim ini tetap mendukung penuh Schumacher dan meyakini bahwa juara dunia tujuh kali ini masih memiliki kemampuan dan ia masih berharap pada pria yang telah menorehkan rangkaian kesuksesan yang luar biasa dalam sejarah F1. Haug pun menjanjikan bahwa Schumi akan bisa menemukan kembali "kegembiraan"-nya di Barcelona.

"I can understand that Michael didn't have much fun on Sunday, racing so hard for 12th position knowing that, without his clash, he could have done better. I'm convinced he will (have fun) in Barcelona," janji petinggi Mercedes ini.

sumber gambar dari: planetf1

Michael Schumacher Is Still A Fighter

Setelah mengalami akhir pekan yang berat di Istanbul di mana Michael Schumacher memulai balapan dari grid ke-8 sementara rekan setimnya berada di grid ke-3 di belakang duet Red Bull, padahal sebelumnya di sesi latihan bebas ketiga pada hari Sabtu pagi sebelum sesi kualifikasi, Michael Schumacher sempat memberikan harapan segar setelah ia berhasil mencatat waktu tercepat kedua di belakang rekan senegaranya, Sebastian Vettel yang kerap disebut-sebut sebagai pengganti Schumi. Namun sayangnya di sesi kualifikasi Michael gagal mengulang kesuksesannya di babak final latihan bebas itu dan hanya mampu mencatat waktu tercepat ke-8. 

Meski harus start dari grid ke-8 di belakang Petrov, Michael Schumacher yang terkenal memiliki catatan start yang sangat bagus sempat naik satu posisi menyalip Petrov hingga berada di P7, namun sayangnya di lap 2 ia dan Petrov sempat bersinggungan hingga membuat Michael terpaksa masuk pit untuk mengganti front wing mobilnya yang rusak. Michael sendiri setelah balapan dengan besar hati mengakui bahwa insidennya dengan Petrov itu merupakan kesalahannya sendiri.

Sekeluarnya dari pit, Michael kembali ke trek dan posisinya melorot ke urutan 22 namun perlahan Schumi berhasil menembus deretan tengah. Sayangnya meski Michael memiliki kecepatan dan walau ia telah berupaya melakukan berbagai usaha untuk meraih posisi yang lebih baik namun ia terpaksa harus puas hanya finish di urutan ke-12 dan gagal meraup poin sementara rekan setimnya, Nico Rosberg berhasil finish kelima.

Seusai balapan, Michael mengungkapkan kekecewaannya atas hasil yang dicapainya di GP Turki itu kepada media Inggris, BBC. Michael yang sejak kehadirannya kembali di arena F1 belum berhasil memperlihatkan performa gemilangnya seperti ketika ia berada di masa keemasaannya bersama Ferrari mengungkapkan kekecewaannya atas hasil buruk yang diraihnya dan menyatakan bahwa "the big joy" yang diharapkannya saat ia memutuskan kembali ke ajang balap Formula One kini tak lagi bisa dirasakannya."The big joy is not there right now," demikian ungkap sang juara dunia tujuh kali ini kepada BBC.

Pernyataan Michael ini amat kontras dengan ucapannya saat ia mengumumkan keputusannya untuk kembali ke arena F1 pada awal tahun 2010 silam. Kala itu Michael menyatakan keputusannya kembali ke F1 karena ia ingin kembali merasakan "kegembiraan" di F1 yang notabene adalah masa-masa keemasannya di F1. Namun sayangnya setelah setahun lebih ia kembali ke F1 Michael Schumacher belum jua berhasi menemukan "kegembiraan" seperti yang diharapkannya itu. Michael terus menerus didera masalah dan kerap harus berjibaku dengan pebalap-pebalap junior di tim papan tengah macam Kobayashi dan Petrov. 

GP Turki hari Minggu kemarin mungkin merupakan puncak dari kekecewaan Michael atas akumulasi hasil buruk yang diterimanya sejak kehadirannya kembali di F1. Masih di media yang sama, BBC, Michael menyatakan kekecewaannya itu. Ia mengaku telah berupaya keras melakukan banyak aksi namun semua usaha dan upayanya itu nihil. Ada begitu banyak aksi namun semuanya sia-sia. "There was lots of fighting and lots of action, but all for nothing," curhat sang juara dunia tujuh kali ini. "Mostly I was able to go forward but the big joy is not there right now," lanjut Michael yang hingga saat ini secara statistik masih merupakan pebalap tersukses dalam sejarah F1. 

Atas pernyataan Michael ini segera saja banyak pihak yang menilai ucapan Michael ini sebagai pertanda bahwa sang juara dunia tujuh kali ini sudah mulai putus asa dan mungkin sang pemegang rekor kemenangan terbanyak dalam sejarah F1 yakni 91 kali kemenangan GP ini akan mengakhiri kontraknya dengan Mercedes lebih cepat dari yang seharusnya seperti yang diramalkan oleh dua mancan rekan setim Schumacher.

David Coulthard, mantan rekan setim Michael yang di masa silam beberapa kali sempat terlibat dalam pertarungan seru dengan sang juara dunia tujuh kali ini, dalam tulisannya di media Inggris, The Daily Telegraph menyatakan bahwa Michael tidak lagi bisa menikmati F1 dan meski menurutnya Michael masih memiliki kualitas seperti ketika ia berhasil meraih tujuh gelar dunianya namun pebalap Skotlandia itu menganjurkan Michael untuk menyerah. DC, sapaan untuk mantan rekan setim Mika Hakkinen di McLaren-Mercedes ini, menyatakan bahwa apa yang dirasakan Michael saat ini adalah hal yang sama seperti yang dirasakannya menjelang akhir karir F1-nya bersama Red Bull hingga akhirnya ia memutuskan pensiun di awal tahun 2008. "I wasn't as competitive as I felt I should be, I wasn't enjoying the races as much as I used to, and then that's the moment."

Senada dengan DC, mantan rekan setim Schumi yang lain, Johnny Herbert yang sempat menjadi rekan setim Michael di Benetton pada tahun 1994 dan 1995 dalam tulisannya di surat kabar Abu Dhabi, The Nation juga mengungkapkan analisanya yang intinya menganjurkan Schumi untuk menyerah dan mundur dari F1.

Sama seperti pernyataan DC, Herbert yang dalam sejarah karir balapnya di F1 hanya mampu mengoleksi tiga kemenangan saja ini menyatakan bahwa Schumi sebenarnya masih amat fit dan belum kehilangan kemampuannya yang telah mengantarkannya meraih tujuh gelar dunia tapi masanya sudah berakhir. Menurut Herbert, saat ini merupakan era-nya pebalap muda dan standard di F1 kini sudah berbeda dengan di masa kejayaan Michael. "Schumacher has not lost any of his skill - the new generation of young drivers are just better than him. It is a case that the level required to win in F1 has gone up and he is not at that standard anymore," demikian pernyataan Herbert dalam kolomnya di The National.

Mengenai usianya yang telah memasuki 42 tahun yang kerap dianggap merupakan kenala bagi kembalinya performa Schumi seperti di masa kejayaannya, Herbert menampiknya dan menganggap bahwa di usianya yang sudah menginjak 42 tahun, Michael dinilainya masih amat fit dan dianggapnya masih tetap kencang tapi sekarang ini F1 bukan lagi merupakan masanya Schumi.

Herbert juga mengemukakan pandangannya bahwa tujuan Michael kembali ke F1 sebenarnya bukan hanya sekadar untuk membalap tapi ia meyakini Schumi memiliki ambisi untuk meraih gelar dunia lagi dan membawa Mercedes meraih kemenangan tapi sayangnya menurut Herbert ambisi itu gagal dicapai Michael dan karenanya ia mengaku akan terkejut bila Michael memutuskan untuk tetap bertahan.

Pernyataan dua mantan rekan setim Michael ini segera saja mendapat tanggapan dari Sabine Kehm, juru bicara resmi sang juara dunia tujuh kali itu mengungkapkan bahwa seharusnya mereka mengenal Michael jauh lebih baik. Michael memang kecewa dengan hasil balap di Istanbul hari Minggu kemarin tapi aksinya di GP Turki itu sekaligus memperlihatkan bahwa Michael masih merupakan seorang pebalap yang memiliki semangat juang yang tinggi. Michael still the fighter.

Sebagai salah seorang fans berat Michael Schumacher, tentu saja pernyataan Sabine Kehm ini menenangkanku dan mungkin fans Michael di seluruh dunia. Mungkin analisa DC dan Herbert ada benarnya, tapi mereka tentunya tak lupa, betapa buruknya hasil yang diraih Michael di tahun-tahun pertamanya bersama Ferrari tapi nyatanya Michael berhasil membawa Ferrari mengalami masa keemasannya di awal tahun 2000-an silam. 

Jaman memang sudah berubah. Di masanya dulu, Michael merupakan pebalap tangguh berkat berbagai sesi ujicoba yang dilakukannya dan tak ada yang menyangkal etos kerja dan tingkat disiplin Michael. Tapi di masa kini di mana sesi ujicoba konvensional mulai dibatasi demi penghematan biaya sehingga kemajuan teknologi menjadi jawaban untuk pengembangan kinerja tiap tim dan hal ini sepertinya belum bisa dijalani Michael dengan baik. Michael sempat diberitakan mengalami kesulitan dengan simulator, sistem ujicoba jaman teknologi untuk mengakali minimnya sesi ujicoba. 

Ya, di jaman play station ini Michael mungkin memang terlalu tua untuk bisa mengikuti perkembangan jaman dan beradaptasi dengan peranti teknologi yang begitu akrab dengan pebalap-pebalap muda masa kini macam rekan setimnya yang sekarang ini, tapi di setiap masa takkan ada yang bisa menyangkal bahwa setiap usaha dan kerja keras layak mendapatkan imbalan. Aku pribadi yakin Michael yang memiliki semangat juang tinggi takkan menyerah dengan kekurangannya dalam beradaptasi dengan jaman teknologi ini, dan karenanya aku berharap Michael bisa mencatat kemenangan lagi dan kali ini bersama Mercedes.  

Dan Mr. Coulthard, memang benar di empat balapan perdana musim ini penampilan Mr. Schumacher amat buruk tapi sebagai pebalap tentunya Coulthard tak lupa bahwa pertarungan di musim ini masih amat panjang. Masih ada banyak race yang harus ditempuh di musim ini. Aku pribadi berharap Michael tak menyerah karena yang membuatku menjadi salah satu penggemar berat Schumi adalah karena daya juangnya yang tinggi  dan tak pernah mengenal kata menyerah. His great spirit that makes me admire him so much. So, please Michael, don't ever give up. Kalaupun Michael akhirnya harus kembali pensiun mengingat usianya yang tak lagi muda, aku sungguh berharap bisa melihat Michael kembali meraih kemenangan dan melompat di podium tertinggi seperti kebiasaannya selama ini. 

sumber gambar dari f1fanatic