Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 29 Mei 2010

Mitos...? (bagian 2): Erau

Hai... Aku mau melanjutkan ceritaku yang waktu itu belum selesai.

Di Samarinda ada acara yang menurutku unik sekali, diadakan setahun sekali. Namanya ERAU. Acara ini adalah perayaan dengan memotong dan membuang kepala naga ke sungai Mahakam (tapi bukan kepala betulan yang mereka buat tapi naga-nagaan yang terbuat dari ikatan rotan yang dibentuk menyerupai naga). Uniknya lagi, setiap orang yang lewat di daerah itu yang mereka sebut Tenggarong (Dahulu tempat ini adalah Kutai lama. Di tempat ini banyak penduduk aslinya.), setiap orang yang lewat pasti disiram air sungai Mahakam. Siapa pun yang disiram tidak boleh marah. Penduduk Tenggarong meyakini air sungai Mahakam adalah air suci (seperti orang India yang mempercayai bahwa sungai Gangga itu suci). Mitos yang berkembang di sini mengatakan, kalau orang yang datang ke tempat ini dan sudah meminum air Mahakam pasti kelak akan datang kembali. Kupikir ini sama seperti kota Barcelona saja. Siapa yang meminum air di kota itu pasti akan kembali lagi dan merindukan kota itu.

Tenggarong adalah tempat di mana terdapat museum yang memuat peninggalan kerajaan Kutai lama dengan penduduk aslinya yang masih bertahan. Jika sedang ada perayaan Erau, banyak juga turis yang berdatangan. Biasanya pemotongan kepala naga dilakukan oleh walikota setempat dan para ketua adat. Tahun lalu, sewaktu aku datang ke acara ini, aku sedang flu berat. Tapi karena aku belum pernah melihat acara itu, aku memaksa suamiku untuk mengantarku ke Tenggarong. Alhasil, bajuku basah semua disiram air sungai Mahakam, tapi aku tidak marah, sebab ini adalah salah satu ritual acara adat di sana. Berhubung aku waktu itu tengah flu berat dan bajuku basah, aku terpaksa pulang ke rumah meski belum sampai ke tujuan. Selain karena berdesakan (sebab banyak sekali orang yang ingin ikut ambil bagian), aku selama dalam perjalanan menuju ke lokasi kerajaan Kutai terus disirami air oleh orang-orang yang menyiram para tamu yang datang dengan air sungai. Sebenarnya asyik juga disirami begitu tapi karena aku terus batuk, suamiku memutuskan agar kami tidak melanjutkan ke acara Erau. Menyedihkan, tapi ini demi kesehatanku juga. Tapi yang pasti tahun ini aku pasti menonton acara Erau. Hehe...

Sabtu, 22 Mei 2010

Mengenang Ce Bing Hua

Kali ini aku mau bercerita tentang famili suamiku. Aku mengenalnya baru sebentar. Menurut istilah orang zaman dulu, baru seumur jagung. Hehe... Tapi banyak pelajaran yang kutangkap dari hidupnya. Sebelum kulanjutkan, kuberi tahu dulu bahwa orang yang ingin kuceritakan ini sudah meninggal dunia. Dia meninggal pada awal bulan Pebruari 2010 karena penyakit kanker hati. 
 
Tadinya semua anggota keluarga tidak tahu kalau penyakit yang dideritanya adalah penyakit kanker hati. Keluarganya hanya tahu bahwa dia punya penyakit maag dan lambung yang akut. Gejala yang ia keluhkan mirip gejala sakit maag. Selama ini dia juga berpikir bahwa penyakitnya cuma penyakit maag seperti yang selama ini dideritanya. Ternyata sewaktu terakhir dia menjalani CT Scan, penyakitnya ternyata kanker hati stadium akhir. Tidak ada harapan lagi. 
 
Yang membuatku salut pada dirinya, dia tidak pernah menunjukkan penderitaan karena penyakitnya di depan anak-anaknya. Sewaktu aku berkunjung ke rumahnya sebelum dia meninggal, aku masih melihatnya seperti orang yang sehat. Sebagaimana mestinya orang sehat, dia masih memasak untuk anak-anaknya dan suaminya, mencuci baju, membereskan rumahnya, dan dia bahkan masih sempat membuat kue-kue kering untuk hari raya Imlek (Sewaktu hari raya Imlek, aku dan keluarga mengenang dirinya sambil makan kue-kue kering buatannya). 
 
Tidak ada yang menyangka kalau dia itu mengidap penyakit kanker hati stadium akhir dan waktu yang dimilikinya bersama anak-anak dan suaminya sangat pendek. Hanya berjarak lebih kurang tiga minggu dari waktu dokter memberitahu bahwa dia mengidap penyakit kanker. Selama dia sakit, tak sekali pun ditunjukannya sakitnya. Padahal dia pernah bercerita padaku bahwa perutnya sakit sekali. Pada waktu itu aku melihatnya meneteskan air mata. Aku saat itu tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Aku hanya dapat berkata, "Ya, Ce."
Kulihat semangat juangnya untuk hidup sangat kuat. Dia ingin hidup untuk anak-anak dan suaminya, tapi Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Dia meninggal dunia di Surabaya sewaktu dalam pengobatan di rumah sakit. Orang tuanya sampai sekarang belum bisa menerima kepergian almarhumah sebab sejak dia meninggal sampai sekarang, mamanya belum pernah berziarah ke kuburnya. Kalau aku datang berkunjung ke rumah mamanya (bibi suamiku), Beliau pasti bercerita tentang anaknya yang meninggal itu. Dia akan bercerita tentang kepedihan hatinya melihat anaknya pergi lebih dulu daripada Beliau. Beliau juga sering bercerita tentang masa kecil anaknya itu.

Aku lalu bertanya mengapa waktu anaknya di rumah duka dan saat dikubur, Beliau tidak datang. Beliau menjawab bahwa hatinya pedih, tidak sanggup melihat peti mati anaknya. Rasanya, kalau boleh Beliau ingin ikut dengan anaknya. Sampai sekarang kalau aku berkunjung ke rumahnya, Beliau masih sering bercerita tentang almarhumah sambil meneteskan air matanya. Yang bisa kupetik dari kejadian ini adalah semangat juang sepupu suamiku dan sikap tidak menyerah pada penyakitnya sampai ke detik terakhir hidupnya. Walau hanya sepintas waktu yang almarhumah miliki, tapi waktu sedikit itu dia manfaatkan untuk mencurahkan kasih sayang dan baktinya untuk orang tua, anak-anak dan suaminya dan kenangan tentang hidupnya hanya lewat cerita orang tua, anak-anak, dan suaminya. Meski begitu, tetap abadi. Selamat jalan, Ce Bing Hua.

Rabu, 19 Mei 2010

Isabella of France

pic taken from here

Tag dari Selvia Lusman

Ketika temanku, Selvia memberikan tag ini, aku sebenarnya tak terlalu tahu siapa itu Isabella of France, tapi ia meyakinkanku bahwa tokoh yang satu ini benar-benar seorang wanita yang luar biasa. Dan setelah aku membaca mengenai wanita yang lahir di Paris namun tanggal lahirnya tak bisa diketahui dengan pasti ini, aku benar-benar setuju dengan pendapat sahabatku itu.

Sejak masih bayi, takdir Isabella telah ditetapkan. Ia oleh orang tuanya yang adalah raja dan ratu Perancis telah ditunangkan oleh putra mahkota kerajaan Inggris, Edward II. Pertunangan Isabella dengan Edward II diharapkan dapat memperbaiki hubungan kedua negara ini yang berkali-kali mengalami konflik terlebih setelah kedua negara saling mengklaim atas Anjou, Normandia, dan Aquitaine. 

Calon suami Isabella yaitu Edward II sebenarnya bukanlah seorang pria yang tidak menarik, bahkan Edward II digambarkan merupakan pria sempurna dengan penampilan fisik yang sangat menarik dan merupakan pria yang akan digandrungi oleh setiap makhluk berjenis kelamin wanita. Edward II dikenal merupakan pria yang tampan, tinggi, atletis dan mewarisi takhta salah satu kerajaan besar yang memiliki pengaruh sangat luas di dunia. Dengan semua yang dimiliki oleh Edward baik penampilan fisik maupun kekuasaan yang akan diraihnya bila ia naik takhta pastinya akan membuat Edward sebagai pria idaman setiap wanita di muka bumi ini. Tapi masalahnya ternyata Edward adalah seorang gay. Namun Isabella tak memiliki pilihan dan kekuatan untuk menolak perjodohan mereka yang telah ditetapkan oleh kedua orang tua mereka ini terlebih Isabella baru mengetahui perilaku seks Edward II yang menyimpang itu setelah mereka telah menikah dan Isabella telah melahirkan putra dan putri untuk Edward sebagai penerus takhta kerajaan Inggris.

Isabella yang kecewa dengan suaminya karena suaminya lebih memilih kekasih prianya, Hugh Despenser the younger, putra dari Hugh le Despenser yang memiliki gelar kebangsawanan sebagai Earl of Winchester dan merupakan kepala penasihat raja Edward II, suami dari Isabella sendiri. Isabella yang muak dan jijik terhadap suaminya dan Despenser kemudian berhasil menjatuhkan Edward II yang notabene adalah suaminya dari takhta kerajaan. Sepak terjang Isabella ini mungkin yang membuatnya dijuluki sebagai she-wolf of France atau serigala betina dari Perancis. 

Sebenarnya Edward dan Isabella merupakan pasangan yang serasi. Bila Edward digambarkan sangat tampan dan sempurna maka Isabella kabarnya juga merupakan wanita yang sangat cantik. Sampai-sampai Geoffrey of Paris menggambarkan kecantikan Isabella sepertinya tak tertandingi di seantero Eropa. Entah apakah ucapan Geoffrey of Paris itu hanya sekadar basa-basi terhadap keluarga kerajaan atau bukan, yang jelas kabarnya ayah Isabella dan kakak laki-laki Isabella merupakan pria-pria paling tampan dalam literatur sejarah mereka.

Isabella sendiri digambarkan lebih mirip ayahnya daripada ibunya, Ratu Joan I of Navarre yang gempal dan memiliki kulit cerah. Berdasarkan gambaran ini bisa diindikasikan bahwa Isabella merupakan wanita dengan tubuh kurus dan berkulit pucat seperti ayahnya, Raja Philip IV dari Perancis.

Atas desakan Paus Boniface VIII, awalnya pernikahan antara Isabella dan Edward II sempat hampir diputuskan untuk dilangsungkan lebih cepat dari waktu yang telah disepakati tapi karena kedua pihak kerajaan besar itu tak bisa menyelesaikan perselisihan atas kontrak pernikahan kedua putra dan putri mereka ini, maka upaya pernikahan keduanya hampir saja batal. Raja Inggris, Edward I yang adalah ayah Edward II beberapa kali berupaya untuk membatalkan pertunangan putranya dengan putri kerajaan Perancis tersebut karena perselisihannya dengan kerajaan Perancis seringkali tak memiliki titik temu. Namun pernikahan Isabella dan Edward II akhirnya tetap terselenggara setelah Edward I wafat pada 1307. 

Pada 25 Januari 1308 Isabella dan Edward II akhirnya menikah di Boulogne-sur-Mer. Saat itu Isabella baru berumur sekitar 12 tahun.

Dari pernikahannya dengan Edward II, Isabella dikaruniai empat orang anak dan satu kali Isabella mengalami keguguran. Keempat anak Isabella dan Edward II itu adalah: 
- Edward III of Windsor, putra mahkota kerajaan Inggris ini lahir di akhir perang sipil Inggris pada 1312 dan menjadi suksesor penerus takhta Edward II setelah Edward II dijatuhkan dari takhtanya oleh Isabella dan Mortimer.
- John of Eltham atau Earl of Cornwall adalah putra kedua Isabella dan Edward II yang lahir pada 1316.
- Eleanor of Woodstock lahir pada 1318. Ia kemudian menikah dengan Duke Reinoud II of Guelders.
- Joan, putri bungsu Isabella dan Edward yang lahir pada 1321 ini kemudian dikenal sebagai Joan of the Tower. Ia menikah dengan David II, raja Skotlandia.
Meskipun Isabella telah melahirkan empat orang anak untuk Edward II, ternyata semua itu tetap tak mampu menghilangkan perilaku seks menyimpang  sang raja yang lebih menyukai sesama jenisnya. Kekasih-kekasih pria sang raja di antaranya adalah Piers Gaveston dan Hugh le Despenser the younger. 

Hubungan Isabella dengan suaminya mulai memburuk pada 1320 di mana keduanya mulai saling tak menyukai satu sama lain. Pada 1321, saat Isabella tengah mengandung putri bungsu mereka, ia memohon pada suaminya agar membuang Despenser dari kerajaan Inggris. Edward saat itu memang memenuhi permintaan istrinya yang tengah mengandung. Despenser pun diasingkan tapi setahun kemudian Edward memanggil Despenser kembali. Tindakan Edward itulah yang kemudian membuat Isabella merasa jijik pada suaminya dan Despenser hingga membuat Isabella mulai menentang suaminya. 

Meski tak diketahui dengan pasti kapan tepatnya, tapi kemudian Isabella mulai menjalin hubungan dengan Roger Mortimer, 1st Earl of March. Pria bangsawan ini telah menentang Raja Edward II sejak 1318 saat ia bergabung dengan kelompok oposisi yang ingin menjatuhkan kekuasaan sang raja dan ayah dan anak Despenser. Namun pada bulan Januari 1322 di Shrewsbury, Mortimer dipaksa menyerah kepada sang raja sehingga ia pun pun diasingkan di Menara London. Namun atas bantuan Isabella, Mortimer berhasil dibebaskan dari Menara London dan Mortimer pun melarikan diri ke Perancis. Dengan kaburnya Mortimer, ia pun menjadi buronan sang raja yang memerintahkan penangkapan Mortimer hidup ataupun mati pada Agustus 1323.

Ketika kakak Isabella, Raja Charles IV dari Perancis merampas kekuasaan Edward II di Gascony pada 1325, hubungan Inggris dan Perancis kembali memburuk terlebih Edward II, sang raja Inggris menolak untuk memberikan penghormatan kepada raja Perancis di wilayah Gascony tersebut. Setelah beberapa usaha Edward yang terburu-buru untuk meraih kembali kekuasannya itu mengalami kegagalan, akhirnya ia mengirimkan istrinya sendiri yang notabene adalah adik dari raja Perancis untuk menjadi juru damai antara dirinya dengan kerajaan Perancis. Tentu saja keputusan Edward ini disambut gembira oleh Isabella yang akhirnya bisa melepaskan diri dari suaminya dan Despenser yang membuatnya merasa jijik. 

Pada Maret 1325 Isabella tiba di Perancis. Kedatangan Isabella ke Perancis ini ternyata menjadi keputusan paling ceroboh yang diambil oleh Edward II karena dengan kehadiran Isabella di Perancis ini ternyata membuat beberapa bangsawan yang ingin menjatuhkan Edward dari tahtanya bisa menggabungkan kekuatan di bawah kepemimpinan Isabella, istrinya sendiri.

Isabella bersama Mortimer, yang diketahui merupakan kekasih gelap Isabella kemudian membentuk kekuatan untuk melawan Edward II. Mengetahui tindakan yang dilakukan istrinya itu, tentu saja Edward sangat marah dan memaksa Isabella untuk kembali ke Inggris tapi kakak Isabella, Raja Charles menjawab permintaan raja Inggris itu dengan sinis. Ia mengatakan, "Ratu memiliki kebebasan untuk datang dan pergi sesuai dengan kehendaknya sendiri. Dan sang ratu memiliki kebebasan jika ia ingin kembali (ke Inggris). Tapi jika ia lebih suka berada di sini (Perancis) maka aku takkan memaksanya untuk pergi dari sini karena ia adalah adikku." Dan Isabella tentu saja dengan tegas menyatakan bahwa ia tak akan kembali ke Inggris sebelum Despenser disingkirkan.

Pemberontakan Isabella terhadap Raja Edward II pun dimulai. Pada 31 Mei 1325, Isabella menyetujui kesepakatan damai antara Perancis dengan Inggris. Kesepakatan damai itu tentu saja menguntungkan Perancis dan mewajibkan Edward untuk memberikan penghormatan di daerah Perancis tersebut kepada Raja Charles, kakak Isabella sendiri. Tentu saja Edward menolak untuk mematuhi perjanjian damai itu dan ia malah mengirimkan putranya untuk melakukan hasil keputusan perjanjian damai yang telah disepakati oleh Isabella, istrinya itu. Tapi ternyata lagi-lagi Edward melakukan tindakan yang keliru. Keputusannya mengirimkan putranya ke Perancis ternyata makin membahayakan keberadaan dirinya karena kepergian putranya ke Perancis membuat kubu Isabella makin kuat berkat kehadiran putra makhotanya, Edward III. 

Meski begitu, ternyata di dalam rombongan Isabella terdapat orang-orang yagn masih loyal pada Edward. Mereka akhirnya dikembalikan ke Inggris oleh Isabella pada 23 Desember. Lewat merekalah, Raja Edward II mendengar berita mengenai hubungan antara istrinya dengan Roger Mortimer. Namun yang paling mengejutkan sang raja adalah berita bahwa Isabella dan Mortimer tengah merencanakan invasi ke Inggris.

Edward pun segera melakukan persiapan untuk menghadapi rencana invasi yang akan dilancarkan istrinya. Sebenarnya secara mental Edward telah kalah oleh istrinya. Banyak dari orang-orang terdekatnya berpihak pada Isabella, istrinya. Putranya yang akan meneruskan takhtanya menolak untuk berada di pihaknya dan memilih untuk selalu mendampingi Isabella, ibunya. Bahkan dengan tegas putranya menyatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan ibunya dan ia akan selalu berada mendampingi ibunya menghadapi masa-masa sukar. 

Sementara itu saudara Edward II sendiri, Earl of Kent menikahi Margaret Wake yang adalah sepupu dari Mortimer. Dan bangsawan-bangsawan lain yang dikenal dekat dengannya seperti John de Cromwell dan Earl of Richmond juga memilih untuk berada di pihak Mortimer. 

Pada September 1326 akhirnya Mortimer dan Isabella benar-benar datang menginvasi Inggris namun Edward sangat terkejut karena ternyata jumlah pasukan Mortimer dan Isabella dan sebanyak dugaannya. Keadaan ini membuat Edward senang dan berpikir ia akan bisa memetik kemenangan dengan mudah. Ia pun segera memerintahkan untuk mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya untuk menghadapi serangan Isabella dan Mortimer. Namun Edward kembali harus mengalami kekecewaan karena ternyata banyak yang menolak untuk mendukungnya berperang melawan sang ratu dan Mortimer. 

Salah satu yang menolak untuk membantu sang raja adalah Henry Lancaster. Ia bahkan mengabaikan surat perintah dari sang raja. Sebaliknya ia malah memperlihatkan kesetiannya terhadap sang ratu dengan mengerahkan pasukannya merampas kekayaan Despenser dari tempat persembunyiannya di Leicester Abbey dan bergabung dengan Mortimer.

Dukungan bagi kelompok sang ratu dan Mortimer pun makin bertambah dan tak terbendung hingga akhirnya pasukan sang raja menyerah kalah. Sang raja dan duo Despenser yang telah ditinggalkan oleh pasukannya pun akhirnya meninggalkan London pada 2 Oktober 1326. Semula sang raja hendak melarikan diri dan mengungsi ke Gloucester pada 9 Oktober tapi kemudian ia malah terbang ke South Wales untuk mempertahankan tanah Despenser. Namun Edward yang telah kehilangan pamornya tak mampu lagi mengendalikan pasukannya hingga akhirnya pada 31 Oktober ia ditinggalkan para pegawainya yang meninggalkannya hanya bersama duo Despenser dan beberapa pelayan.

Edward yang sepanjang kepemimpinannya yang singkat yang hanya sembilan belas tahun 197 hari , ia mulai memerintah sebagai raja Inggris sejak 7 Juli 1307-20 Januari 1327 dan pengangkatannya sebagai raja dilakukan pada 25 Februari 1308. Sepanjang kepemimpinannya itu, Edward II meninggalkan warisan sejarah sebagai raja yang dinilai tidak cakap dalam memimpin dan seringakali mengalami kekalahan dalam peperangan. Ia juga dinilai terlalu dekat dengan keluarga Despenser yang dinilai korup sehingga menimbulkan sikap antipati dari para bangsawan yang ingin menjatuhkannya dari takhta terlebih ia dinilai tak pernah mempedulikan tuntutan moral atas sikap homoseksualnya. 
Dengan kekalahan yang dialami sang raja, maka nasib para pengikutnya pun bisa ditebak tak berakhir dengan happy ending. Pada 15 Oktober, John le Marshal yang merupakan mata-mata Despenser ditangkap oleh rakyat banyak dan tanpa melalui persidangan, ia dihukum gantung. Nasibnya pun diikuti oleh pengikut Edward II yang lain seperti bendahara Edward II, Walter de Stapledon Bishop of Exeter dan dua orang menteri lain yang merupakan orang dekat Edward dan duo Despenser.

Pada 27 Oktober, Hugh le Despenser senior menghadapi tuduhan keterlibatannya dalam pemerintahan ilegal putranya dan memperkaya dirinya sendiri dengan memeras orang lain, merampas milik gereja dan ikut terlibat dalam eksekusi ilegal terhadap Earl of Lancaster. Atas semua tuduhan itu, Despenser senior pun akhirnya menemui ajalnya di tiang gantungan di Bristol Gallows.

Sementara itu Henry of Lancaster dikirim ke Wales untuk menangkap raja dan Despenser junior. Pada 16 November 1326, raja Edward II, Despenser, dan pasukannya ditangkap di luar kota dekat Tonyrefail, di mana di tempat itu kini terdapat monumen untuk memperingati kejadian bersejarah tersebut. Para tentara yang ditangkap bersama raja dan Despenser akhirnya dilepaskan namun Despenser dibawa menghadap Isabella di Hereford sedangkan Raja Edward II dibawa oleh Lancaster sendiri ke Kenilworth. 

Pada Januari 1327, Edward diturunkan dari takhtanya. Edward kabarnya kemudian dibunuh oleh Mortimer yang kemudian secara de facto menjadi pemimpin Inggris namun Mortimer pun kemudian mengalami nasib yang sama buruknya dengan Edward II. Atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan dan berbagai kejahatan lainnya, akhirnya Mortimer pun dihukum gantung di Tyburn.

Setelah Edward II dilengserkan maka Edward III, putranya dengan Isabella of France pun naik takhta menggantikan ayahnya. Edward III sendiri tak seperti ayahnya yang dinilai tak mampu menjalankan pemerintahannya. Raja Edward III dicatat dalam sejarah sebagai salah satu raja Inggris yang paling sukses di abad pertengahan. Ia berhasil merestorasi pemerintahan ayahnya yang kacau balau dan menjadikan militer Inggris sebagai kekuatan militer yang tangguh di Eropa.

Akhir kata, Isabella memang tak menjadi ratu menggantikan suaminya tapi Isabella memiliki peranan penting dalam menjatuhkan kekuasaan suaminya sendiri yang memiliki perilaku seks yang menyimpang dan tak cakap dalam memimpin. Di samping itu Isabella mampu membawa putranya menjadi salah satu raja Inggris yang sangat berpengaruh dalam sejarah negara tersebut. Isabella sepertinya ditakdirkan sebagai istri dari seorang raja yang gay namun daripada meratapi nasibnya itu, ia berjuang bangkit dan menunjukkan kekuatannya. Nyatanya ia berhasil membalikkan takdir tersebut dan membuatnya menjadi salah seorang wanita yang sangat berpengaruh dalam sejarah kerajaan Inggris dan Perancis di abad pertengahan itu.

Rabu, 12 Mei 2010

Sonia Gandhi = The Italian With Indian Passion

 pic taken from here
Setelah kematian Indira Gandhi dan kedua putranya , maka perjalanan politik dinasti Gandhi pun dilanjutkan oleh Sonia Gandhi, menantu Indira dan janda Rajiv Gandhi yang tewas dibunuh oleh Thenmuli Rajaratnam yang merupakan salah satu anggota kelompok separatis Tamil dari Srilanka. Saat itu, Thenmuli mengalungi rangkaian bunga ke leher Rajiv tanpa diketahui sebelumnya bahwa ternyata rangkaian bunga yang dikalungkan ke leher sang perdana menteri itu ternyata berisi bom yang kemudian menewaskan Rajiv Gandhi.

Kematian suaminya membuat Sonia yang semula memilih menjadi ibu rumah tangga yang menjaga suami dan keluarganya dari incaran publik akhirnya harus tampil membawa nama Gandhi kembali ke peta percaturan politik India. Namun sayangnya, Sonia memiliki kendala dalam politik India sehubungan dengan asal usulnya yang merupakan orang asing. 

Sonia Gandhi lahir di Lusiana, sebuah kota kecil di Italia pada 9 Desember 1946 dengan nama lengkap Edvige Antonia Albina Maino. Ia merupakan anak dari Stefano dan Paola Maino. Ia tumbuh besar di Orbassano, sebuah kota di Italia yang terletak tak jauh dari Turin. Seperti orang Italia pada umumnya yang sangat erat memeluk agama Katolik, Sonia pun dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katolik yang sangat kuat. Ayah Sonia yang adalah seorang kontraktor bangunan meninggal pada 1983. Sementara ibu Sonia dan dua adik perempuannya tinggal di dekat Orbassano, Italia.

Sonia bertemu dengan Rajiv Gandhi saat ia melanjutkan sekolahnya di kota Cambridge. Rajiv saat itu juga terdaftar di Universitas Cambridge, namun mereka tak berada di sekolah yang sama. Pertemuan mereka terjadi di sebuah restoran Yunani di kota itu pada 1965. Setelah tiga tahun menjalin hubungan akhirnya keduanya memutuskan menikah. Setelah menikah dengan Rajiv, Sonia yang merupakan wanita Italia ini pun pindah ke India mengikuti suaminya dan tinggal di kediaman Perdana Menteri India yang notabene adalah mertuanya.

Pada 1970, Sonia melahirkan putra pertama mereka yang kemudian diberi nama Rahul Gandhi. Dua tahun kemudian yaitu pada 1972, Sonia melahirkan anak keduanya, Priyanka Gandhi. Saat itu keluarga kecil ini belum berminat terjun ke dunia politik meskipun Rajiv menuruni garis politik kakeknya, Jawaharlal Nehru. Tak seperti adiknya, Sanjay yang meneruskan garis politik keluarga Gandhi, Rajiv malah lebih memilih bekerja sebagai pilot di sebuah maskapai penerbangan sementara Sonia, istrinya, menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga biasa dan mereka sebisa mungkin menghidar dari hingar bingar politik.

Namun setelah kematian adiknya dalam sebuah kecelakaan pesawat, membuat Rajiv harus keluar dari "persembunyian"-nya dan melanjutkan garis politik dinasti Gandhi. Rajiv pun mulai masuk dunia politik pada 1981 dan berhasil meraih kursi perdana menteri pada 1984. Sementara itu Sonia meski dengan keberhasilan suaminya meraih kursi perdana menteri, mulai tampil ke depan publik. Bahkan pada 1984, Sonia secara aktif ikut berkampanye demi mendukung suaminya. Lawannya saat itu pun bukanlah seorang yang bisa dipandang remeh karena ternyata lawannya saat itu adalah Maneka Gandhi, janda Sanjay Gandhi yang tak lain merupakan iparnya sendiri.

Sayangnya karir politik Rajiv ternoda oleh skandal Bofors yang mencuat pada 1980-an. Rajiv dan beberapa petinggi pemerintahan dituduh terlibat dalam skandal korupsi yang dinilai paling buruk dalam sejarah India. 

Ottavio Quattrochi yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam skandal ini dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Rajiv dan Sonia. Bahkan kabarnya Ottavio yang merupakan pengusaha Italia ini merupakan teman Sonia Gandhi, istri Rajiv dan ia sering mengunjungi kediaman meski Perdana Menteri Rajiv Gandhi. Hal inilah sepertinya yang membuat keterlibatan Rajiv dalam skandal korupsi ini tak bisa disangkal. Akibat skandal ini, Rajiv pun harus membayar mahal dengan kekalahannya dalam pemilu pada 1989. Tragisnya dua tahun setelah kekalahannya di pemilu, Rajiv harus menemui ajalnya di tangan kelompok pemberontak Tamil pada 21 Mei 1991.

Kematian suaminya, awalnya tak serta merta langsung menyeret Sonia ke dalam dunia politik secara penuh. Namun setelah partai politik yang telah mengantarkan mertua dan suaminya meraih kursi perdana menteri, mengalami kekalahan pada pemilu 1996 dan kondisi salah satu partai politik terbesar di Inida itu di ambang kehancuran, tak urung membuat Sonia akhirnya bersedia melanjutkan karir politik dinasti Gandhi. 

Hanya setahun setelah Sonia masuk ke dalam Partai Kongres Nasional India, nama besar Gandhi langsung mengantarkan Sonia menjadi ketua umum partai pada 1998.

Karir politik Sonia pun segera melesat. Berkat kemenangannya pada pemilu 2004, ia hampir saja meraih kursi perdana menteri yang artinya kalau saja Sonia berhasil meraih jabatan tersebut, maka ia akan menjadi Perdana Menteri India pertama yang merupakan keturunan asing dan beragama Katolik Roma. Tapi tentu saja lawan-lawan politiknya tak bisa menerima keadaan ini. Mereka pun menyerangnya dengan mempermasalahkan kewarganegaraannya yang telah lama didengungkan untuk menghambat karir politik Sonia sejak pemilu 1980.

Asal usul Sonia memang kerap menjadi polemik dan perdebatan untuk menjatuhkan karir wanita berdarah Italia ini. Bahkan dalam partainya sendiri, Sonia kerap mendapat tentangan dari rekan-rekannya separtai sehubungan dengan darah Italia-nya itu. 

Pada Mei 1999, di awal masa kepemimpinan Sonia di Partai Kongres, ia mendapat pertentangan keras dari tiga tokoh senior partai politik besar tersebut sehubungan dengan asal usulnya yang adalah warga asing meskipun Sonia bukanlah orang berdarah asing pertama yang berhasil meraih kursi kepemimpinan di partai tersebut, karena ternyata Sonia adalah orang keturunan asing kelima yang menjadi pemimpin salah satu partai besar di India itu.

Polemik mengenai asal usulnya ini sempat membuat Sonia berencana untuk mundur dari kedudukannya sebagai ketua umum partai tapi akibatnya sungguh luar biasa. Berbagai dukungan dari simpatisan partai mengalir untuk Sonia sehingga membuat tiga tokoh senior tersebut akhirnya membelot dari Partai Kongres Nasional.

Mengenai kewarganegaraan Italia Sonia, menurut salah satu petinggi senior di Partai Kongres, sebenarnya Sonia telah menyerahkan pasport Italia-nya ke Kedutaan Italia pada 27 April 1983. Dan hukum di Italia sejak 1992 tak mengakui kewarganegaraan ganda sehingga sebenarnya Sonia secara otomatis telah melepaskan kewarganegaraan Italia-nya dan menjadi warga negara India karena Sonia saat telah menyerahkan pasport Italia-nya itu telah melepaskan kewarganegaraan Italia-nya dan tak pernah mengajukan permintaan untuk meraih kewarganegaraan ganda. Jadi secara hukum, sebenarnya Sonia dan anak-anaknya adalah warga negara India.

Ketika Italia pada 1992 membuka kesempatan bagi warga negara Italia yang kehilangan kewarganegaraan mereka sebelum tahun 1992 untuk mendaftarkan kembali kewarganegaraan mereka sebagai warga negara Italia. Pendaftaran ulang tersebut dibuka pemerintah Italia sampai tanggal 31 Desember 1992. Dan tak ada keterangan ataupun bukti yang menunjukkan bahwa Sonia mengajukan kembali permintaan kewarganegaraan Italia-nya sampai batas waktu yang ditentukan sehingga bisa dianggap Sonia sebenarnya telah melepaskan kewarganegaraan Italia-nya.

Namun pada saat pemilu 1983 Sonia masih terdaftar sebagai warga negara Italia sehingga kemunculan namanya dalam daftar pemilu di New Delhi menjadi polemik dalam karir politiknya saat itu. Terlebih hukum India menyatakan bahwa hanya warga negara India saja yang bisa masuk dalam daftar pencalonan pemilu dan India juga dikenal tak mengakui kewarganegaraan ganda.

Tragisnya ketika nama Sonia muncul dalam daftar pemilu 1983, tahun itu Sonia sebenarnya telah mendapatkan kewarganegaraan India-nya tapi sayangnya waktunya tak bertepatan dengan batas waktu pendaftaran untuk pemilu yang berakhir pada Januari 1983 sementara Sonia baru mendapatkan kewarganegaraan India pada April 1983.
Pada pemilu 2004 Sonia akhirnya bukan hanya terpilih sebagai ketua umum partainya tapi ia juga terpilih sebagai pemimpin dari 15 partai koalisi yang bergabung di bawah nama United Progressive Alliance (UPA atau kerap dikenal dengan nama UP saja) mengalahkan gabungan partai pemerintah BJP yang dipimpin oleh National Democratic Alliance (NDA). Kemenangan Sonia itu membuat kubu NDA kembali menyerangnya dengan masalah asal usul Sonia yang adalah orang asing.
Kesuksesan Sonia itu seharusnya bisa mengantarkannya meraih kursi perdana menteri India meneruskan garis suksesi kekuasaan politik dari leluhur keluarga suaminya yang dimulai oleh Jawaharlal Nehru dan dilanjutkan oleh mertuanya, Indira Gandhi, dan berakhir di tangan suaminya sendiri, Rajiv Gandhi. Kalau saja Sonia adalah asli India, mungkin ia bisa kembali melanjutkan kekuasaan politik dinasti Gandhi yang berakhir di tangan suaminya. Tapi sayangnya, karena asal usul Sonia yang berasal dari Italia dan bukan asli India ini kerap membuat karir politik Sonia tak berjalan dengan mulus meski ia telah mengantongi nama besar Gandhi yang masih memiliki kekuatan dalam politik India. 

Menyadari sulitnya mengatasi persoalan mengenai asal usulnya sebagai orang asing yang kerap menjadi senjata bagi lawan-lawan politiknya untuk menjegalnya, maka Sonia pun akhirnya melepaskan kursi kepemimpinan di partainya yang secara otomatis melepaskan pula kesempatannya untuk meraih kursi perdana menteri dan mencatat sejarah baru di India. Sebagai gantinya, pada 18 Mei, Sonia mengajukan seorang ekonom, Dr. Manmohan Singh untuk menduduki kursi perdana menteri.

Di bawah kepemimpinan Sonia, wanita asing keturunan Italia ini ternyata mampu mengembalikan partainya meraih suara yang mendekati suara mayoritas pada pemilu 2009 dan mengantarkan Manmohan Sing meraih kursi Perdana Menteri. Meski ia sendiri gagal meraih kursi Perdana Menteri namun peran Sonia dalam partainya seharusnya mendapatkan apresiasi mengingat sebelum ia bergabung, partai politik tersebut mengalami masa suram setelah suami Sonia, Rajiv Gandhi tewas terbunuh. Dan kehadiran Sonia telah membangkitkan kembali trah dinasti Gandhi yang hampir saja terkubur bersama tragedi yang menimpa Indira dan Rajiv Gandhi, dan Sonia telah pula mengantarkan partainya kembali menjadi parti besar dalam peta percaturan politik India. 

Ia memang bukanlah orang India asli, tapi tak semestinya kecintaannya pada negara tersebut diragukan terlebih ia ternyata telah memilih untuk menjadi warga negara India dan melepaskan kewarganegaraan Italia-nya. Jadi meski dalam tubuhnya mengalir darah Italia tapi sepertinya ia telah memutuskan untuk menjadikan India sebagai tanah tumpah darahnya yang akan selalu dicintainya meski ia tak sepenuhnya diterima oleh beberapa warga India tersebut terutama oleh kelompok-kelompok lawan politiknya.

Garis politik keluarga Gandhi kini dilanjutkan oleh Rahul Gandhi, putra Sonia dan Rajiv Gandhi. Sementara Priyanka Gandhi, putri Sonia dan Rajiv, sepertinya pilihan karirnya tak terlalu jauh juga dari dunia politik. Priyanka meski tak meraih kursi dalam pemerintahan tapi keterlibatannya sebagai manajer kampanye Partai Kongres membuatnya tak terlalu jauh dari dunia politik dan tak menuntup kemungkinan ia akan menjadi  penerus politik dalam dinasti Gandhi bersaing dengan kakaknya Rahul yang karir politiknya di India sepertinya makin mantap.  

Sepertinya hanya tinggal tunggu waktu saja melihat nama Gandhi kembali mewarnai peta politik India dan mungkin saja salah satu dari anak Sonia dan Rajiv itu berhasil melanjutkan suksesi kepemimpinan India sebagai Perdana Menteri seperti kakek buyut, nenek, dan ayah mereka yang telah lebih dulu meraih kursi kepemimpinan tertinggi di India itu. 

Rabu, 05 Mei 2010

Indira Gandhi = The Dynasty of Fate

pic taken from here

Rasanya hampir semua orang yang suka membaca mengenai tokoh politik pasti tahu atau setidaknya pernah mendengar tentang keluarga politikus India ini. Adalah Indira Gandhi, wanita bertangan besi yang pernah dua kali meraih kursi Perdana Menteri India yang memulai Dinasti Gandhi dalam percaturan politik India ini. 

Indira Gandhi yang lahir di Allahabad pada 19 November 1917 ini sebenarnya merupakan anak satu-satunya Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri India yang pertama. Nama Gandhi di belakang nama Indira didapatnya dari suaminya, Feroze Gandhi. Namun suami Indira ini tak ada hubungan keluarga dengan tokoh perjuangan India yang terkenal, Mahatma Gandhi. Indira kemudian menggunakan nama Gandhi di belakang namanya adalah karena alasan politis juga, mengingat nama Gandhi bukan hanya terkenal di negaranya saja tapi juga sudah meluas hingga ke dunia internasional meski sebenarnya nama ayah Indira, Jawaharlal Nehru juga bukanlah nama yang bisa dipandang sebelah mata dalam peta politik India dan dunia.

Sebagai anak semata wayang Jawaharlal Nehru, Indira sering diajak ayahnya menghadiri acara-acara politik sehingga memunculkan sedikit demi sedikit kecintaan Indira pada dunia politik terlebih Indira sepertinya mewarisi bakat politik ayahnya. Indira meski seorang wanita tapi kepiawaiannya dalam menghadapi lawan-lawan politiknya tak bisa dipandang sebelah mata sehingga Indira dinilai sebagai seorang pemikir dan ahli strategi politik yang brilian.

Ketika ayahnya meninggal pada 1964, Indira sebagai anak satu-satunya Jawaharlal Nehru pun didesak untuk menjalani karir di dunia politik mengikuti jejak ayahnya. Karir politik Indira pun melesat kencang bak meteor. Ia langsung terpilih sebagai anggota di partai ayahnya, Partai Kongres Nasional India dan ditunjuk sebagai salah satu menteri dalam kabinet Perdana Menteri Lal Bahadur Shastri. 

Ketika Shastri wafat pada 1966, Indira pun dengan mudahnya berhasil menggantikan posisi Shastri sebagai pemimpin partai untuk menuju kursi Perdana Menteri yang kemudian berhasil diraih Indira.
Sebagai anak dari Perdana Menteri pertama India, tentu saja Indira merupakan aset penting untuk menarik massa tapi sebagai wanita, tentu saja ia tak diharapkan bisa berbicara lebih banyak dalam dunia politik yang umumnya dikuasai oleh kaum laki-laki. Karena itulah, pada awalnya, ketika Indira ditempatkan di posisi tertinggi dalam pemerintahan India itu, Indira diharapkan hanya menjadi pemimpin yang pasif layaknya sebuah boneka. Tapi ternyata Indira tak sudi hanya menjadi boneka saja. Indira dengan kapasitas dan bakat politik yang diwarisinya dari ayahnya memang mestinya bisa berbicara lebih banyak demi kemajuan bangsanya dan tak rela hanya menjadi pemimpin boneka saja. Meski ia seorang wanita, Indira berniat memperlihatkan bahwa seorang pemimpin wanita sekalipun mampu memperlihatkan kemampuan politik yang tak kalah cemerlang dari para politikus pria. Dan tak semestinya seorang wanita hanya dijadikan sebagai "boneka" penghias saja.

Nyatanya perjalanan politik Indira memperlihatkan bahwa sebagai seorang wanita, Indira telah menjalankan perannya sebagai pemimpin yang bisa membuat gentar lawan-lawan politiknya. Indira bahkan berhasil mengkonsolidasi kekuatan politiknya dengan menggunakan berbagai instrumen kekuasaan yang dimilikinya sebagai seorang perdana menteri.

Sebagai seorang wanita, Indira dalam menjalankan pemerintahannya tak pernah memperlihatkan kelemahan yang kerap kali diidentikkan kepada kaum Hawa. Indira seolah ingin memperlihatkan bahwa seorang wanita seharusnya memiliki peran yang sejajar dengan kaum pria dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam dunia politik yang telah lama didominasi oleh kaum Adam itu. 

Di bawah kepemimpinannya, Indira tak memperlihatkan sikap lembek yang bisa menjadi alat bagi lawan poltiknya untuk menjatuhkannya. Karenanya dalam menghadapi kaum separatis yang hendak memisahkan diri dari India, Indira tak segan-segan mengambil tindakan tegas meski akhirnya tindakannya itu berujung pada maut. 

Ketika menghadapi serangan dari lawan-lawan politiknya pun Indira menjalankan aksi politiknya secara keras seperti ketika ia diserang oleh lawan-lawannya karena ia dianggap melakukan kecurangan saat pemilu 1971. Indira hampir saja tersingkir karena kasus kecurangan ini, tapi Indira langsung mengambil manuver politik yang meski sarat kontroversi tapi berhasil menyelamatkan kedudukannya. Tindakan Indira ini memang berhasil menghancurkan kekuatan politik para lawannya tapi sayangnya, aksinya itu harus juga mengorbankan kebebasan sipil. Politik memang tak bisa dinilai hanya dengan satu sisi saja. Memang langkah Indira ini bisa sangat menyudutkannya tapi semua itu sepertinya memang harus ditempuh oleh Indira untuk menghadapi lawan-lawan politiknya meski sikap yang diambil Indira harus menciderai hak rakyat sipil. Tapi itulah politik. 

Dengan menyatakan negara dalam keadaan darurat, maka Indira memiliki kekuatan politik terlebih setelah ia membuat lawan-lawan politiknya dipenjarakan dan menghentikan operasi koran-koran yang didukung oleh pihak oposisi dalam pemerintahannya. Indira juga membubarkan lembaga legislatif yang dikontrol oleh pihak oposisi untuk jangka waktu yang tak terbatas dan mendesak parlemen untuk mengamandemen perundang-undangan yang kesemuanya menciptakan perdebatan keras atas keputusan politik yang diambil Indira ini.

Namun sebagai manusia biasa yang tak lepas dari kesalahan, begitu pula dengan Indira yang salah menginterpretasikan kepopulerannya. Indira yang sangat percaya diri saat menghadapi pemilu 1977 ternyata harus menelan pil pahit saat kalah dalam pemilu tersebut. Namun kali ini, di luar dugaan semua pihak, Indira ternyata bersedia untuk mundur tanpa banyak keberatan. Mengalah untuk menang, begitu sepertinya langkah politik yang diambil Indira saat itu. Indira memilih untuk mematuhi hasil pemilu. Namun saat terdepak dari kursi kepemimpinan itu, Indira kembali menggalang kekuatan politik bagi dirinya sendiri yang akhirnya dengan kekuatan politik yang digalangnya itu, ia berhasil kembali meraih kursi Perdana Menteri kembali pada 1980. Tapi masa kepempinannya yang kedua tak berlangsung lama karena ia tewas dibunuh pada 1984 oleh pengawalnya yang ternyata merupakan kelompok Sikh, kelompok separatis yang diperangi oleh Indira karena ingin menjadikan Punjab merdeka.

Aksi pembunuhan yang dilakukan oleh dua pengawal Indira itu bermula ketika pemimpin kelompok Sikh, Jarnail Singh Bhindranwale memproklamirkan kemerdekaan Sikh. Indira khawatir pergerakan Sikh akan mendapat dukungan dari Pakistan sehingga ia pun mengambil keputusan tegas untuk menumpas kelompok separatis Sikh sebelum makin menggerogoti pemerintahannya. 

Maka pada Juni 1984, Indira pun memerintahkan sebuah operasi penyerangan terhadap kuil suci umat Hindu Sikh karena diduga di tempat itu, Jarnail Singh dan para milisi pendukungnya menyembunyikan senjata mereka. Bentrokan antara militer dan kelompok Sikh pun tak bisa dihindari sehingga akhirnya pertempuran di kuil suci itu pun terjadi dan menyebabkan 83 tentara dan 493 anggota kelompok Sikh tewas. Operasi tersebut dikenal dengan nama Operation Blue Star.

Serangan yang dilancarkan Indira itu ternyata menimbulkan akibat yang fatal bagi Indira. Dua orang penjaga Indira yang ternyata merupakan orang Sikh melakukan pembalasan dendam atas operasi militer yang dilakukan Indira tersebut. 

Pada 31 Oktober 1984, Indira tewas ditembak oleh dua orang Sikh, penjaganya itu. Salah seorang dari penyerang Indira juga tewas setelah terkena tembakan dari penjaga Indira yang lain sementara satu orang lainnya menemui ajalnya di tiang gantungan pada 1988. Indira sendiri langsung dilarikan ke All India Institute for Medical Sciences (AIIMS) di New Delhi, tapi sayangnya tak lama setelah ia tiba di rumah sakit itu, Indira menghembuskan nafas terakhirnya.

Kematian Indira yang disebabkan oleh dua orang Sikh penjaganya itu pun menimbulkan reaksi kemarahan rakyat India terhadap orang Sikh. Gelombang massa anti Sikh di New Delhi pun meluas dan mengakibatkan hampir 2000 orang Sikh yang tak berdosa tewas terbunuh oleh gelombang kerusuhan anti Sikh itu.

Meskipun sepak terjang Indira yang keras terhadap lawan-lawan politiknya menimbulkan musuh dalam selimut terhadap dirinya dan beberapa keputusannya terutama ketika ia menetapkan negara dalam keadaan darurat untuk menghindari pemecatannya dari kursi Perdana Menteri dinilai sarat kontroversi dan bisa mencoreng karir politiknya namun Indira memiliki basis pendukung yang kuat dan nama Indira sangat populer terutama di kalangan anak muda dan kelompok masyarakat miskin. Tak heran meski kebijakan Indira itu sangat kontorversif namun nama Indira tetap menjadi magnit bagi kebanyakan rakyat India untuk memberikan dukungan mereka kepada keluarga Gandhi yang menjadi penerus Indira.
Langkah politik Indira kemudian dilanjutkan oleh dua orang putranya, Sanjay dan Rajiv. Namun sayangnya, Sanjay Gandhi, putra kedua Indira tewas dalam kecelakaan pesawat pada 23 Juni 1980. Sementara Rajiv yang semula tak berminat menceburkan dirinya ke dalam dunia politik, namun setelah kematian adiknya membuat Rajiv harus melanjutkan dinasti politik Gandhi yang telah dirintis oleh Nehru, kakeknya dan melanjutkan perjalanan politik ibunya setelah sang bunda tewas terbunuh. Tragisnya Rajiv memiliki garis hidup yang hampir serupa dengan ibunya. Ia berhasil meraih kursi perdana menteri pada 1984, tahun yang sama ketika ibunya tewas terbunuh. Dan akhir hidup Rajiv ternyata harus pula mengikuti garis hidup ibunya. Pada Mei 1991, Rajiv Gandhi tewas dibunuh oleh kelompok separatis Tamil dari Srilanka.