Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 30 April 2013

T.S. Eliot = Keabadian Dalam Butir- butir Kata

Thomas Stearns Eliot atau T.S. Eliot merupakan tokoh kesusastraan dunia asal Amerika namun kemudian ia hijrah dan menjadi warga negara Inggris. Ia membawa tingkatan baru dalam dunia puisi. Salah satu puisi terbaiknya, Four Quartets mengantarkannya sebagai peraih hadiah Nobel bidang sastra pada tahun 1948. Di tahun yang sama ia juga mendapat gelar kehormatan, Order of Merit yang dianugrahkan langsung oleh Raja George VI dari Kerajaan Inggris Raya.

Selain menulis puisi, Eliot juga piawai menulis naskah drama. Salah satu naskah dramanya, The Cocktail Party mendapat penghargaan Tony Award pada 1950.

Puisi-puisi Eliot terbilang sebagai puisi yang sulit namun memiliki makna yang dalam. Bahkan puisi-puisinya menjadi bahan perdebatan hingga kini.

Kehidupan pribadi Eliot sendiri bisa dibilang serumit puisi-puisinya. Ia terlahir dari pasangan imigran Inggris di Amerika Serikat. Ia tumbuh besar di Amerika Serikat tapi rupanya dalam hatinya tetap melekat rasa cinta pada tanah leluhurnya.

Ia menempuh pendidikan di beberapa universitas ternama dunia. Harvard, Sorbonne, dan Merton College, Oxford merupakan universitas-universitas tempat ia menyelesaikan pendidikannya di bidang filosofi.

Rasa cintanya pada Inggris membuatnya memilih untuk menetap di tanah leluhurnya ini dimulai saat ia kuliah di Merton College, Oxford tapi ia tak menyukai kehidupannya di Oxford.

Ia jatuh cinta pada wanita Inggris yang membuatnya makin mantap memilih Inggris sebagai negara barunya tapi sedihnya pernikahannya tidak bahagia. Istrinya selingkuh, ia lalu meninggalkan istrinya dan kembali ke Amerika tapi ia akhirnya kembali ke Inggris. Ia dan istrinya tak pernah bercerai meski mereka hidup terpisah. Setelah istrinya meninggal, ia menikah lagi dengan bekas sekretarisnya yang berumur 30 tahun sementara usianya sendiri saat itu sudah 68 tahun. Tapi pernikahannya kali ini lebih baik dari yang pertama meski ia tak memiliki anak dari dua pernikahannya tersebut.

Sementara perjalanan karirnya pun terbilang unik. Ia memang seorang penulis puisi berbakat. Piawai pula dalam menulis naskah drama. Ia juga pernah menjadi direktur sebuah perusahaan penerbitan. Dalam catatan karirnya ia pernah menjadi kepala sekolah dan bahkan pernah pula menjadi pegawai bank.

Kejeniusan Eliot dalam merangkai kata bukan sekadar bentuk kecintaannya pada bahasa, tapi ia mampu menantang nalar dan alam pikirnya membentuk sebuah karya yang penuh kompleksitas bahasa.

1. Masa Kecil dan Pendidikan

Thomas Stearns Eliot lahir pada 26 September 1888 di St. Louis, Missouri. Ia berasal dari keluarga kelas menengah asal New England tapi kemudian pindah ke St. Louis, Missouri. Ayah Eliot, Henry Ware Eliot (1843-1929) adalah seorang pengusaha sukses di St. Louis sedangkan ibunya, Charlotte Champe Stearns (1843-1929) merupakan seorang penulis puisi dan pekerja sosial, yang pada awal abad 20 merupakan sebuah profesi baru. Saat melahirkan Thomas Eliot, kedua orang tuanya sudah berusia 44 tahun dan Eliot merupakan anak terakhir mereka dari enam anak mereka yang berhasil tetap hidup. Itu sebabnya jarak usia Thomas Eliot dengan kakak-kakaknya terpaut jauh. Ia memiliki empat orang kakak perempuan yang usianya dengan mereka terpaut antara sebelas dan sembilan belas tahun. Sementara satu-satunya kakak lelakinya delapan tahun lebih tua darinya. Keluarga dan teman-temannya kerap memanggilnya dengan nama Tom. Namanya diambil dari nama kakeknya dari pihak ibu, Thomas Stearns.

Ada dua faktor yang diperkirakan mempengaruhinya dalam dunia kesusastraan. Faktor yang pertama adalah kondisi fisik Eliot yang terbilang lemah. Ia menderita penyakit hernia yang membuatnya tak bisa melakukan aktifitas fisik sehingga membuatnya terasing secara sosial dari teman-teman sebayanya. Kondisi keterasingannya inilah yang menumbuhkan kecintaannya pada dunia kesusastraan. Kabarnya begitu ia mulai belajar membaca, ia langsung terobsesi dengan buku dan terpesona oleh kisah-kisah fiksi seperti The Wild West atau cerita legendaris Tom Sawyer karya Mark Twain yang terkenal itu. Dalam memoar T.S. Eliot, seorang teman Eliot, Robert Sencourt mengatakan bahwa Eliot muda "kerap duduk melingkar di tepi jendela sambil membaca buku memberinya impian yang bagaikan obat baginya melawan rasa sakit terhadap hidupnya."

Faktor kedua Eliot menyebut kota tempatnya lahir dan tumbuh besar sangat berperan dalam memberika visi bagi karir kepenulisannya. "Pengaruh St. Louis bagiku lebih dalam dibanding lingkungan manapun yang pernah kutinggali. Bagiku pasti ada pengalaman berbeda yang dialami seorang anak yang tinggal di dekat sungai besar dengan yang tidak. Aku sendiri menyadari betapa beruntungnya aku lahir di sini dan bukannya di Boston, New York atau London," demikian ungkapan Eliot. Dari sini bisa terlihat betapa masa kecil Eliot memainkan peranan dalam karir kesusastraan Eliot dan kedua faktor tersebut, kondisi tubuhnya saat kecil juga lokasi tempatnya tumbuh besar sangat mempengaruhinya.

Pada tahun 1898 hingga 1905 Eliot masuk Smith Academy, di sini ia belajar berbagai bahasa di antaranya Latin, Yunani Kuno, Perancis, dan Jerman. Ia mulai menulis puisi saat berumur empat belas tahun di bawah pengaruh Rubaiyat of Omar Khayyam karya Edward Fitzgerald, sebuah terjemahan atas puisi karya Omar. Khayyam. Namun Eliot kemudian merasa puisi-puisinya itu terlalu menyedihkan sehingga ia menghancurkan puisi-puisinya tersebut.

Tahun 1905 agaknya merupakan awal dari sejarah karir menulisnya. Di tahun ini puisi-puisi dan cerita pendek karyanya mulai dipublikasikan. Puisi pertamanya yang dipublikasikan adalah "A Fable For Feasters" oleh Smith Academy Record pada Februari 1905. Puisi ini ditulisnya sebagai tugas sekolah. Puisinya yang paling tua yang masih berupa manuskrip dan tak memiliki judul kembali dipublikasikan oleh Smith Academy Record pada April 1905 tapi kemudian puisi ini direvisi dan diberi judul "Song" diterbitkan ulang di The Harvard Advocate, majalah mahasiswa Universitas Harvard. Selain puisi ada pula tiga cerita pendeknya yang dipublikasikan pada tahun 1905 yaitu: "Birds of Prey", "A Tale of a Whale", dan "The Man Who Was King". Yang disebut terakhir itu merupakan hasil eksplorasinya terhadap Kampung Igorot saat mengunjungi World's Fair of St. Louis tahun 1904.

Setelah lulus Eliot masuk Milton Academy di Massachusetts dan di sini ia bertemu Scofield Thayer yang di kemudian hari menerbitkan salah satu puisi terkenalnya, The Waste Land. Thayer pula yang di kemudian hari memperkenalkan Eliot dengan Vivienne Haigh-Wood yang kelak menjadi istri pertama Eliot.

Usai itu Eliot belajar filosofi di Harvard College dari tahun 1906-1909 dan mendapatkan gelar sarjananya hanya dalam waktu tiga tahun padahal umumnya membutuhkan waktu empat tahun.
Harvard memiliki banyak peranan dalam sejarah kehidupan Eliot. Walau ia sempat melanglang buana mendalami ilmu filosofi tapi berkali-kali ia kembali ke Harvard baik sebagai mahasiswa atau sebagai pengajar. Saat ia sudah menjadi warga negara Inggris pun ia sempat mendapat panggilan dan kembali ke Harvard sebagai pengajar. Beberapa puisinya juga sempat dipublikasikan dalam The Harvard Advocate.

Ia sempat menjadi asisten filosofi di Harvard selama setahun yaitu pada 1909-1910. Usai itu ia pergi ke Paris dan belajar filosofi di Sorbonne dari 1910-1911. Di sini ia mendapat kuliah dari Henry Bergson dan ia membaca puisi bersama Alain-Fournier.

Setelah setahun di Sorbonne, Eliot kembali ke Harvard pada 1911 untuk mempelajari filosofi India dan Sansekerta selama tiga tahun sejak 1911 sampai 1914.

Pada 1914 Eliot mendapat beasiswa di Merton College, Oxford. Ia sempat mengunjungi Margburg, Jerman dan berencana mengambil program musim panas tapi niatnya batal karena terjadi Perang Dunia Pertama sehingga ia kembali ke Oxford. Pada masa itu banyak mahasiswa Amerika yang kuliah di Oxford.

Eliot tak terlalu menyukai kehidupannya di Oxford, hal ini diungkapkannya dalam suratnya kepada Conrad Aiken, novelis Amerika yang dikenalnya saat kuliah di Harvard.

Setelah meninggalkan Oxford, Eliot lebih banyak menghabiskan waktunya di London. Di sinilah Eliot berkenalan dengan Ezra Pound yang membantu Eliot pada masa awal karirnya dengan mempromosikan Eliot di acara-acara sosial dan pertemuan sastra.
Eliot sangat menikmati kehidupannya di London dan selama berada di Inggris, Eliot sebisa mungkin menghindari Oxford.

2. Pernikahan dan Kewarganegaraan Inggris

Eliot akhirnya meninggalkan Merton dan pada tahun 1915 ia mengajar sastra di Birkbeck, Universitas London.

Pada April 1915 Eliot berkenalan dengan seorang guru privat wanita bernama Viviene Haigh-Wood. Tak lama dari perkenalan ini, mereka melangsungkan pernikahan mereka di Kantor Catatan Sipil Hampstead pada 26 Juni 1915.

Pasangan pengantin baru ini tinggal di flat seorang filosofer bernama Bertrand Russell. Muncul rumor bahwa Russel tertarik pada Vivienne dan mereka terlibat affair tapi kebenaran dari berita ini tak pernah diketahui.

Pernikahan Eliot dan Vivienne ternyata tak bahagia salah satunya adalah karena masalah kesehatan Vivienne. Dalam suratnya kepada Ezra Pound, Vivienne memberitahu beberapa gejala penyakitnya antara lain: temperaturnya tinggi, kelelahan, insomnia, dan migrain. Hubungan mereka makin renggang terlebih Vivienne kerap dikirim jauh oleh Eliot dan dokternya dengan harapan kesehatannya akan membaik, dan selama itu Eliot makin menjauh dari istrinya. Hubungan mereka ini menjadi dasar dari drama tahun 1984 berjudul Tom and Viv dan pada 1994 drama ini diangkat menjadi sebuah film.

Pada 1916 Eliot menyelesaikan disertasi doktoralnya, Knowledge and Experience in the Philosophy of F.H. Bradley, di Harvard tapi sayangnya disertasinya gagal mendapat hasil yang mengesankan. Eliot pergi ke Amerika Serikat seorang diri tanpa membawa Vivenne, dan setelah kunjungan singkatnya ke Amerika sekaligus menjenguk keluarganya, Eliot kembali ke London dan mengajar di Birkbeck College, Universitas London.

Pernikahannya yang tak bahagia ini lalu mendasari puisi Eliot yang kemudian sangat terkenal berjudul The Waste Land. Hal ini diungkapkan Eliot saat berumur enam puluhan. Ia mengatakan, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mencintai Vivienne karena ia berharap dengan begitu ia jadi memiliki alasan kuat untuk tetap bertahan di Inggris. Dan ternyata Vivienne atas pengaruh Ezra Pound juga meyakinkan dirinya sendiri bahwa demi puisi ia akan membuat Eliot tetap tinggal di Inggris. Tapi nyatanya pernikahan itu tak memberikan kebahagiaan bagi keduanya. "Bagi Vivienne, pernikahan ini tidak memberikan kebahagiaan. Bagiku, pernikahan ini membawa kebuntuan pikiran yang akhirnya melatarbelakngi munculnya The Waste Land", demikian asumsi Eliot atas pernikahannya.

Meski pernikahannya tak memberikan kebahagiaan seperti yang diharapkannya tapi rupanya hal itu tak mengikis kecintaannya pada Inggris. Pada 29 Juni 1927 Eliot menjadi penganut Anglikan, agama resmi di Inggris dan pada November 1927 ia mendapatkan kewarganegaraan Inggris. Namun secara spesifik ia mengidentifikasikan agamanya sebagai Anglo-Catholic. Sekitar tiga puluh tahun lamanya Eliot mengomentarii pandangan agama yang dianutnya adalah perpaduan antara Katolik secara pola pikir dengan warisan nilai-nilai Calvinist dan temperamen seorang Puritan.

Peter Ackroyd, salah seorang penulis biografi Eliot berpendapat ada dua alasan yang melatari keputusan Eliot berpindah agama. Pertama: Gereja Inggris menawarkan harapan bagi Eliot dan menurut Ackroyd, Eliot memang membutuhkan tempat yang bisa menentramkannya. Alasan kedua adalah karena Anglikan bisa membantu Eliot lebih memahami komunitas dan kebudayaan Inggris.

Sementara itu pernikahan Eliot makin memburuk. Ketika Harvard menawarinya beasiswa profesor Charles Eliot Norton untuk menjadi untuk tahun ajaran 1932-1933, Eliot langsung menerimanya dan meninggalkan Vivienne di Inggris. Setelah kembali ke Inggris, Eliot mengatur perpisahannya dengan Vivienne secara resmi. Meski begitu mereka tidak pernah bercerai. Eliot berusaha menghindari setiap pertemuan dengan Vivienne. Sementara pada 1938 Vivienne dirawat di rumah sakit jiwa Northumberland House, Stoke Newington dan ia tetap berada di sana hingga akhir hayatnya. Eliot sendiri, walau masih merupakan suaminya secara sah tapi tak pernah mengunjunginya. Sepanjang masa itu hanya dua kali Eliot menemui Vivienne yaitu pada 1932 saat ia akan pergi ke Amerika Serikat dan tahun 1947 pada saat kematian Vivienne. Saat itu kabarnya sepanjang 1930-1957 Eliot menjalin hubungan dengan Mary Trevelyan dari Universitas London dan Mary sangat ingin menikah dengan Eliot tapi tak
pernah terjadi.

Pernikahan kedua Eliot terjadi pada 10 Januari 1957. Saat itu Eliot yang sudah berumur 68 tahun menikahi Esme Valerie Fletcher yang baru berusia 30 tahun. Meski rentang usia keduanya ini sangat jauh tapi rupanya pernikahan keduanya ini lebih memberinya kebahagian dibanding pernikahan pertamanya karena tak seperti saat menikahi Vivienne, kali ini Eliot sangat mengenal Fletcher yang rupanya tak lain adalah sekretarisnya di Faber and Faber sejak Agustus 1949. Upacara pernikahan mereka berlangsung di gereja pukul 6.15 pagi, waktu yang sangat tak umum dan terlalu pagi untuk upacara pemberkatan pernikahan, dan rupanya mereka memang sengaja ingin merahasiakan pernikahan mereka dengan tak ada yang menghadiri pernikahan mereka inii kecuali orangtua pengantin wanita saja.

3. Kematian dan Karya-karya Monumental

Menjelang akhir hidupnya, pada awal 1960-an kesehatan Eliot mulai memburuk, meski begitu ia tetap bekerja sebagai editor di Wesleyan University Press dan mencari puisi-puisi baru di Eropa untuk diterbitkan.

Pada 4 Januari 1965 Eliot menghembuskan nafas terakhirnya. Selama beberapa tahun, Eliot memang mengalami masalah kesehatan yang disebabkan oleh kebiasaannya merokok. Eliot memang dikenal sebagai perokok berat dan kerap kali harus dirawat karena menderita bronkhitis sebelum akhirnya ia menderita emphysema atau pembengkakan pada paru-parunya.

Jazad Eliot dikremasi di Krematorium Golders Green dan sesuai permintaannya sebelum wafat, abunya disimpan di Gereja St. Michael di East Coker yang merupakan kampung halaman leluhurnya sebelum hijrah ke Amerika.

Sebuah piagam untuk memperingatinya dan tercantum kutipan dari puisinya berjudul "East Coker" yang berbunyi: "In my beginning is my end. In my end is my beginning."

Pada 1967, dua tahun peringatan kematiannya, Eliot mendapat penghormatan dengan pemasangan sebuah batu besar pada ubin di Poets' Corner (Pojok Puisi) di Westminster Abbey, London. Batu tersebut dipotong oleh desainer keramik Reynolds Stone yang di atasnya terpahat tanggal lahirnya juga gelar kehormatan, Order of Merit yang dianugrahkan Raja George VI pada 1948. Tertera pula kutipan dari puisinya "Little Gidding" yang berbunyi: "the communication / of the dead is tongued with fire beyond / the language of the living."

Selain itu di kota kelahirannya pun Eliot mendapat apresiasi besar dan ia termasuk dalam jajaran bintang di St. Louis Walk of Fame.

Nama Eliot juga diabadikan sebagai nama di Universitas Kent di Inggris, Eliot College.

Setelah kematian Eliot, istri keduanya, Valerie mendedikasikan waktunya untuk melestarikan hasil karya Eliot. Ia mengedit dan memberikan keterangan/catatan pada The Letters of T. S. Eliot dan sebuah faksimile draft puisi Eliot, The Waste Land.

Dari dua kali pernikahannya, Eliot tidak dikaruniai anak. Valerie Eliot meninggal dunia pada 9 November 2012 di rumahnya di London.

Pada 1946 sampai 1957 sebelum menikahi Valerie, Eliot pernah tinggal satu flat dengan temannya, John Davy Hayward. Dia-lah yang mengupulkan dan merapikan naskah-naskah Eliot dan ia mentahbiskan dirinya sebagai "Penjaga arsip Eliot". Selain itu Hayward juga menyimpan versi awal puisi Eliot, Prufrock. Setelah kematian Eliot, ia mempublikasikan karya Eliot dengan judul: Poems Written in Early Youth (Puisi-puisi yang Ditulis di Masa Muda). Meskipun pada 1957 Eliot dan Hayward tak lagi tinggal bersama tapi Hayward tetap menyimpan karya-karya Eliot tersebut yang kemudian diwariskannya kepada King's College, Cambridge pada 1965.

Untuk ukuran penyair besar, puisi-puisi Eliot tidak terlalu banyak dan ternyata hal ini sangat disadarinya pada awal karirnya. Ia pernah menulis untuk J.H. Woods, salah satu profesornya di Harvard, "Reputasiku di London dibangun di atas sebuah syair dalam edisi kecil dan secara berkesinambungan menerbitkan dua atau tiga puisi lain dalam setahun. Masalahnya, puisi-puisi itu haruslah sempurna sehingga akan tetap abadi."

Puisi-puisi Eliot bisa dibilang merupakan perkembangan jiwanya. Dimulai dari Prufrock (1917) hingga Four Quartets (1943) merefleksikan perkembangan nilai Kristiani sang penulis. Sementara The Waste Land (1922) yang bisa dibilang termasuk karya-karya awalnya secara esensi bisa dibilang berjiwa negatif yang mana puisi tersebut mengekspresikan kengerian (horor) yang berasal dari pencarian sang penulis menuju dunia yang lebih tinggi dan bercahaya. Dalam Ash Wednesday (1930) dan The Four Quartets, dunia yang lebih tinggi itu menjadi lebih jelas. Walaupun Eliot tak bermaksud menulis puisi religius tapi nyatanya kerap kali tulisannya memang tak lepas dari kisah religius seperti drama-dramanya antara lain Murder in the Cathedral (1935) dan The Family Reunion (1939).

- The Love Song of J. Alfred Prufrock
Prufrock merupakan kumpulan puisi pertama Eliot yang diterbitkan pada 1917.
Pada 1915, Ezra Pound yang sangat membantu Eliot di awal karirnya dengan memperkenalkannya ke mana-mana, saat ia menjadi editor majalah Poetry (Puisi) merekomendasikan naskah Eliot pada Harriet Monroe, sang pendiri majalah tersebut. Eliot menulis sebagian besar puisi dalam kumpulan puisinya ini saat berumur dua puluh dua tahun. Puisinya ini sangat mengejutkan karena masa itu yang tengah populer dan dipuja adalah Georgian Poetry (Puisi gaya Georgia) yang berasal dari Romantic Poets (Puisi-puisi Romantis) di abad sembilan belas.

- The Waste Land
The Waste Land diterbitkan pada Oktober 1922, Eliot mendedikasikannya untuk il miglior fabbro ("seniman yang lebih baik) mengacu pada Ezra Pound, kawannya yang telah mengedit dan memperjelas isi dari puisi Eliot yang aslinya lebih panjang disederhanakan menjadi lebih pendek seperti yang terlihat dalam terbitannya yang beredar.

The Waste Land ditulis di masa-masa sulit pernikahan Eliot dengan Vivienne. Baik Eliot dan Vivienne sama-sama mengalami gangguan kecemasan. Puisi ini juga kerap dianggap sebagai representasi kekecewaan generasi pasca-perang. Sebelum puisi ini diterbitkan dalam bentuk kumpulan pusi pada Desember 1922, Eliot tengah berusaha keluar dari keputusasaan sebagaimana yang diungkapkannya dalam suratnya untuk Richard Aldington pada 15 November 1922, "Sebagaimana The Waste Land, masa lalu terlalu jauh untuk kupikirkan dan kini aku merasa tengah menuju ke gaya dan bentuk yang baru."

The Waste Land memberikan sentuhan dalam kesusastraan modern. Kebetulan pula di tahun yang sama novel brilian 'Ulysses' karya James Joyce yang tak lain juga merupakan kawan Eliot, diterbitkan.

Ada beberapa kalimat dalam The Waste Land yang amat terkenal di antaranya: "April is the cruellest month"; "I will show you fear in a handful of dust"; dan "Shantih Shantih Shantih", yang diambilnya dari bahasa Sansekerta sebagai penutup puisinya.

- The Hollow Men
The Hollow Men muncul pertama kali pada 1925. Kritikus Edmund Wilson menganggapnya sebagai "Titik nadir dari fase keputusaan dan kesepian yang sama ekspresifnya seperti The Waste Land".

Bait yang populer dari The Hollow Men adalah:
This is the way the world ends
Not with a bang but a whimper.

- Ash Wednesday
Ash Wednesday merupakan puisi panjang pertama yang ditulis Eliot setelah memeluk agama Anglikan pada 1927. Ash Wednesday dipublikasikan pada 1930 setelah melalui beberapa kesulitan sebelum akhirnya mencapai kesepakatan. Ash Wednesday merupakan puisi dengan nuansa rohani dan aspirasi spiritual Eliot setelah ia menganut agama Anglikan.

Ash Wednesday banyak mendapat pujian dari kritikus seni bahkan menurut Edwin Muir, Ash Wednesday merupakan puisi "yang paling sempurna." Meski mendapat banyak pujian tapi tak sedikit pula yang tak menerima dengan baik puisi Eliot ini.

- Old Possum's Book of Practical Cats
Terbit pertama kali pada 1939. Di edisi pertama ini ada ilustrasi sang penulisnya di sampulnya. "Old Possum" merupakan nama julukan yang diberikan Ezra Pound untuk Eliot.

Pada 1954 komposer Alan Rawsthorne membuat sebuah karya orkestra berjudul Practical Cats yang diantaranya mengambil enam puisi dalam kumpulan puisi ini. Setelah kematian Eliot buku ini diadaptasi menjadi sebuah pertunjukan musikal oleh Andrew Lloyd Webber dengan judul Cats. Drama musikal tersebut pertama kali ditampilkan di London's West End pada 1981 dan setahun kemudian ditampilkan dalam panggung Broadway.

- Four Quartets
Four Quartets terdiri dari empat puisi panjang yang sebelumnya diterbitkan secara terpisah. Burnt Norton (1936); East Coker (1940); The Dry Salvages (1941); dan Little Gidding (1942). Tiap puisi terdiri atas lima bagian. Setiap puisi merupakan meditasi atas alam dan masa dalam sudut pandang secara -teologis, historis, dan fisik- dan semua ini berhubungan dengan kondisi umat manusia. Keempat puisi ini merupakan representasi dari empat unsur utama kehidupan: udara, tanah/bumi (earth), air,  dan api.

Burnt Norton merupakan puisi meditasi yang diawali dengan seorang narator mencoba untuk memfokuskan diri pada kekinian sementara alam meditasi membawanya melangkah menyusuri taman sambil memfokuskan diri pada gambaran dan suara-suara seperti burung, mawar, awan, dan kolam yang kosong. Meditasi itu lalu memimpin si narator untuk mencapai "titik" dimana ia akan mengalami suatu "anugrah". Di sesi akhir, sang narator mengkontemplasi seni ("kata-kata" dan "musik").

Simak beberapa kalimat dalam puisi ini yang diucapkan sang narator yang membawa pada sebuah perenungan:
"Words strain, / Crack and sometimes break, under the burden (of time), under the tension, slip, slide, perish, decay with imprecision, will not stay in place, / Will not stay still".

Dan kalimat konklusi sang narator:
"Love is itself unmoving, / Only the cause and end of movement, / Timeless, and undesiring."

East Cooker melanjutkan penjelasan akan makna dari waktu. Simak kalimat mengesankan dalam puisi ini, solusi dari Eliot untuk keluar dari kegelapan:
"I said to my soul, be still, and wait without hope."

The Dry Salvages merupakan elemen dari air melalui gambaran sungai dan laut. Dalam puisi ini terdapat kalimat kontradiktif : "The past and future / Are conquered, and reconciled."

Little Gidding, element dari api merupakan yang paling antologis dari keempat puisi dalam Quartets ini. Dalam puisi ini Eliot berimajinasi bertemu Dante saat pengeboman Jerman. Dengan kalimat permulaan dalam Quartets : "Houses / Are removed, destroyed" menjadi pengalaman penuh kekerasan yang dihadapi setiap hari namun dalam puisi ini untuk pertama kalinya Eliot membicarakan Cinta sebagai kekuatan di balik setiap pengalaman. Dan Quartets pun diakhiri dengan sebuah kalimat penegasan dari Julian of Norwich: "All shall be well and / All manner of thing shall be well."

Four Quartets tak bisa dipahami tanpa pengenalan akan pemikiran, tradisi, dan sejarah Kristen. Eliot menggabungkan teologi, seni, simbolisasi dan bahasa pada tokoh-tokoh seperti Dante, Yohanes dari Salib, dan Julian dari Norwich. "Persekutuan lebih dalam" tampil di East Coker, "hints and whispers of children, the sickness that must grow worse in order to find healing."

Four Quartets bisa dibilang merupakan puisi terbaik Eliot dan Eliot sendiri yang menyatakan bahwa Four Quartet merupakan mahakarya-nya. Four Quartets pula yang telah mengantarkannya meraih Nobel untuk Sastra yang diterimanya di Stockholm pada 1948. Dengan ini Eliot dianggap sebagai pionir yang telah membentuk dunia puisi modern di masa sekarang ini.

Selain puisi ada pula beberapa naskah drama karya Eliot yang monumental dan mendapat perhatian kritikus. Eliot memang dikenal sebagai pengritik sekaligus penggemar penulis-penulis drama era Elizabethan dan Jacobean. Dalam The Waste Land ia bahkan menyindir beberapa tokoh drama terkenal seperti Webster, Thomas Middleton, William Shakespeare, dan Thomas Kyd.

Pengalihan kreatifitas kata Eliot dari puisi menuju drama telah diungkapkan Eliot setelah diterbitkannya The Waste Land pada 1922. Ia menyatakan bahwa ia ingin melangkah ke "bentuk dan gaya yang baru."

Pada 1934 drama karya Eliot "The Rock" ditampilkan untuk kepentingan gereja di Keuskupan London. George Bell, Uskup Chichester turut membantu dengan memperkenalkan Eliot pada E. Martin Browne yang kemudian memproduksi The Rock, setelah itu Eliot menulis naskah drama lain untuk Canterbury Festival pada 1935. Naskah inilah yang merupakan salah satu naskah drama Eliot yang fenomenal, "Murder in the Cathedral - Pembunuhan di Katedral" yang berkisah mengenai kematian seorang martir, Thomas Becket.

Peter Ackroyd, penulis biografi Eliot mengatakan, "bagi Eliot Murder in the Cathedral dan kesuksesan di panggung drama menawarkan keuntungan ganda; ia bisa mempraktekan kemampuannya menulis puisi sekaligus memberinya kenyamanan untuk jiwa religius-nya."

Beberapa karya drama terkenal Eliot lainnya adalah: The Family Reunion (1939) yang juga merupakan drama bernuansa rohani, The Cocktail Party (1949) yang mendapat penghargaan Tony Awards pada 1950, The Confidential Clerk (1953), dan The Elder. Statesman (1958).

Mengenai metodenya dalam menulis naskah,  Eliot menjelaskan, "Jika aku sudah siap untuk menulis, aku akan mulai dengan memilih kejadiannya. Aku mengatur situasi emosinya, dengan begitu maka karakter-karakter dan plotnya akan muncul. Setelah itu baris-baris puisi pun bisa tampil, bukan murni berasal dari dorongan hati melainkan dari alam bawah sadar yang terstimulasi."

Karya-karya Eliot memang tak terlalu banyak tapi justru karya-karyanya yang tak terlampau banyak itu justru mengantarkannya pada keabadian dalam kesempurnaan kata.

Kamis, 25 April 2013

Mimpi Anak Negeri

Belum lama berselang peringatan Hari Kartini. Perayaan atau lebih tepatnya kenangan akan perjuangan R.A. Kartini terhadap emansipasi kaum perempuan. Saat itu Ibu Kartini menuntut kesetaraan bagi kaum wanita tanah air untuk mengenyam pendidikan seperti anak laki-laki.

Impian Kartini ini mungkin juga merupakan impian jutaan anak perempuan di Indonesia kala itu bahkan di masa kini pun masih banyak anak-anak perempuan yang bermimpi untuk bisa terus sekolah. Hingga kini pun masih banyak anak-anak perempuan yang terpaksa mengubur mimpinya bersekolah karena orang tuanya tak mampu. Tapi belum lama ini ada kisah pilu tentang seorang bocah laki-laki yang terpaksa putus sekolah dan menjadi tulang punggung keluarga dan merawat adik-adiknya seperti yang dialami Tasripin yang kisah pilunya belum lama ini ramai diulas media dan menjadi perbincangan pula di media sosial.

Ada banyak Tasripin-tasripin lain di Indonesia. Kemiskinan masih merupakan faktor utama tingginya angka anak putus sekolah di Indonesia. Tapi ada pula orangtua yang beranggapan bahwa anak perempuan tak perlu lah sekolah tinggi-tinggi, toh suatu hari nanti ia akan menikah. Tak sedikit pula orangtua yang lebih mengutamakan anak lelakinya untuk mendapat pendidikan sementara anak perempuannya hanya cukup sekadar bisa baca tulis saja. Anggapan yang benar-benar menyedihkan. Padahal seperti yang menjadi kegelisahan Kartini, wanita adalah yang paling mula dari pendidikan bagi seorang anak. Sebuah pemikiran yang amat beralasan dan bermakna. Ibulah yang selayaknya pertama kali memberi pendidikan bagi anaknya. Dan bagaimanakah sebuah bangsa bisa maju bila kaum ibunya dipaksa untuk hidup dalam kebodohan?

Masalah perempuan di masa modern ini memang jauh lebih kompleks tak lagi hanya sekadar pendidikan. Ada begitu banyak eksploitasi yang dilakukan terhadap kaum perempuan. Kekerasan dalam rumah tangga, menjadi korban kekerasan seksual bahkan menjadi korban perdagangan manusia (human traficking) merupakan masalah-masalah utama yang masih dihadapi kaum perempuan Indonesia.

Kompleksitas ini pulalah mungkin yang menjadi dasar dari aturan pemilu baru tentang kuota 30 % calon legislatif perempuan bagi tiap-tiap partai.

Aturan yang sebenarnya sangat bagus dan layak diapresiasi tapi partai-partai mengeluhkan sulitnya memenuhi kuota ini. Apa pasal?

Ada salah satu petinggi partai yang mengeluh bahwa perempuan di Indonesia kebanyakan lebih suka berdandan daripada berpolitik. Menyedihkan? Amat sangat menyedihkan memang. Padahal ada begitu banyak wanita Indonesia masa kini yang tak kalah hebat dengan kaum pria. Ada banyak profesi yang semula hanya lekat dengan kultur patriarki tapi kini sudah bisa dimasuki oleh kaum Hawa.

Lalu bagaimana bisa muncul pernyataan ini? Pernyataan ini bila ditilik lebih dalam mungkin memang ada benarnya. Wanita memang ditakdirkan untuk tampil cantik dan ada banyak anggota dewan yang memang cantik rupawan apalagi banyak kan anggota dewan yang berangkat dari dunia keartisan. Tanpa bermaksud menghakimi, memukul rata, atau apapun istilahnya. Tapi rasanya memang memuakkan melihat politisi-politisi cantik ini dengan penampilan bling-bling-nya, dandanan menor, tas dan gaun mewah yang harum semerbak dari sebotol parfum terkenal yang harganya bisa untuk menyekolahkan entah berapa puluh anak, dan kaki jenjangnya yang dibungkus high heels model mutakhir yang harganya bisa memberi makan entah berapa anak, hilir mudik di ruang dewan seolah tengah melenggok di atas catwalk, tapi tak pernah mencoba turun ke daerah kumuh konstituennya yang telah mengantarkannya ke kuil utama bernama gedung Dewan Perwakilan Rakyat.

Sebagai seorang perempuan tentunya aku sangat setuju dengan kuota 30 % keterlibatan kaum perempuan di dewan dengan harapan masalah-masalah yang dihadapi kaum perempuan Indonesia bisa diminimalisir atau bahkan tak ada lagi ketimpangan dan ketidakadilan terjadi terhadap kaum perempuan. Tapi tentunya bukan berarti kuota 30 % itu lantas membuat partai sembarang saja menempatkan calonnya hanya untuk memenuhi kuota tersebut.

Menyedihkan memang melihat minimnya politisi wanita yang setangguh kaum pria menyuarakan aspirasinya bukan hanya demi kemajuan kaum perempuan tapi untuk kejayaan negeri ini sepenuhnya. Rindu sebenarnya hati ini melihat anggota dewan yang bukan hanya sekadar mahir memoles diri, memoles kata, memoles rupa demi tampil cantik di depan kamera. Bila boleh memilih, aku lebih suka anggota dewan yang walau buruk rupa tapi memiliki keluhuran hati, budi, dan pikiran, berjuang sepenuh hati dan jiwanya demi kemajuan setiap anak bangsanya. Anggota dewan yang walaupun tubuhnya tak harum semerbak disemprot parfum terkenal tapi lebih rela keluar masuk kampung kumuh nan becek demi sepenuhnya memahami masalah rakyat daripada yang rapi necis dan lebih suka wara-wiri naik pesawat ke luar negeri pelesiran dengan uang rakyat tapi mengatasnamakannya demi kepentingan rakyat!

Terpenuhi atau tidaknya kuota 30 % itu, bagiku seharusnya setiap partai benar-benar serius dalam menjaring calon legislatif yang akan diajukannya. Untuk apa demi memenuhi kuota itu lantas tanpa mempertimbangkan kompetensi dan hanya sekadar mendulang suara lantas asal memasang figur beken yang memang biasa wara wiri di televisi seolah tengah memilih kontestan dalam ajang penghargaan figur terfavorit pilihan rakyat. Setiap orang memang memiliki hak untuk berpolitik. Tak ada yang salah dengan artis berpolitik tapi lalu tidakkah rakyat juga memiliki hak untuk mendapatkan calon wakilnya yang benar-benar kompeten dalam memberdayakannya dan bukan sekadar figur tenar yang biasa tampil di layar kaca. Bukankah nasib rakyatlah yang dipertaruhkan di sini?

Seorang politisi sebuah partai besar dan berkuasa di sebuah negara di Amerika Tengah pernah menyentil anggota partainya yang setelah menjadi partai berkuasa lantas lupa esensi dari politik.

Dunia politik memang identik seperti yang digariskan dalam teori Machiavelli tapi politisi negara di Amerika Tengah itu menyatakan bahwa politisi sejati adalah yang lebih suka berpanas-panas bersama rakyat mendengarkan aspirasi konstituennya daripada duduk nyaman dalam kantor ber-AC dan lebih menikmati bau tak sedap para buruh pabrik yang telah menempatkan mereka di jajaran terhormat kursi dewan rakyat. Lantas bagaimana dengan politisi Indonesia? Rupa Indonesia di mata dunia Internasional bukanlah tergambar dari kecantikan rupawan anggota dewannya tapi melalui kesejahteraan rakyatnya yang dilukiskan oleh anggota dewannya yang terhormat.

Selasa, 23 April 2013

Grace Kelly = Putri Monaco

Bagi penggemar film lawas pastinya tak asing dengan nama Grace Kelly. Karir akting Grace Kelly sangat singkat padahal aktingnya terbilang cemerlang dan sempat meraih piala Oscar, penghargaan paling bergengsi bagi insan film dunia. Namun perjalanan karirnya di dunia film hanya lima tahun dan hanya membintangi sebelas judul film saja karena ia menikah dengan Pangeran Rainer III dari Monaco pada bulan April 1956 sehingga ia harus mengakhiri karir aktingnya.

Pernikahan Grace Kelly dengan Pangeran Rainier sempat dinobatkan sebagai The Wedding of the Century. Dari pernikahan tersebut, pasangan kerajaan ini dianugrahi dua putri dan seorang putra, Pangeran Albert yang kini menjadi pemimpin kerajaan Monaco.

Sayangnya kebahagiaan keluarga kerajaan kecil di dekat Perancis ini harus terkoyak saat Putri Grace mengalami kecelakaan yang akhirnya merenggut nyawanya dalam usia 52 tahun.

I. Garis Keluarga

Grace Patricia Kelly lahir pada tanggal 12 November 1929 di Philadelphia, Amerika Serikat. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertamanya bernama Margaret Katherine dan lebih dikenal dengan nama Peggy sementara kakak keduanya, John Brendan, Jr., atau yang biasa dipanggil Kell merupakan atlit dayung dan pernah menjadi anggota DPRD di kota mereka, Philadelphia. Sedangan adik bungsu Grace yang usianya hanya terpaut tiga setengah tahun darinya bernama Elizabeth Anne yang memiliki nama panggilan Lizanne.

Keluarga Kelly bisa dibilang merupakan keluarga terpandang. Ayah Grace bernama John "Jack" Brendan Kelly merupakan keturunan Irlandia dan penganut Katolik Roma. Ia anak bungsu dari 10 bersaudara dari pasangan John Henry Kelly dan Mary Costello.

Jack memiliki seorang saudara perempuan bernama Grace yang mati muda. Pada saat pembaptisan putri sulungnya, Margaret pada tahun 1925, Mary Costello, ibunda Jack menyatakan kekecewaannya saat mengetahui cucu perempuannya tak dinamai Grace sebagai kenangan terhadap putri bungsunya yang mati muda itu.

Saat ibunya meninggal setahun kemudian, Jack berjanji akan menamai putrinya yang berikut dengan nama Grace. Namun anak keduanya laki-laki sehingga ia baru bisa mewujudkan janjinya dan permintaan terakhir ibunya itu pada anak ketiganya, Grace Patricia Kelly.

Jack merupakan 'pahlawan' kota Philadelphia karena berhasil meraih tiga medali emas Olimpiade untuk cabang olahraga dayung (dua medali emas di Olimpiade Antwerpen sedangkan satu medali lagi diraihnya pada Olimpiade Paris).

Bakat Jack ternyata bukan hanya di bidang olahraga dayung. Perusahaan konstruksinya merupakan perusahaan terbesar di East Coast dan perusahaannya inilah yang menjadikannya kaya raya.

Di bidang politik, Jack merupakan anggota Partai Demokrat dan pada tahun 1935 ia pernah mencalonkan diri sebagai walikota Philadelphia. Sayangnya perolehan suaranya kalah tipis dari saingannya dan merupakan selisih suara paling tipis dalam sejarah Partai Demokrat untuk pemilihan walikota. Namun hal ini tak mengakhiri karir politik Jack. Beberapa tahun kemudian ia melayani di Komisi Fairmount Park dan selama Perang Dunia ke-2 ia ditunjuk oleh Presiden Franklin Roosevelt sebagai Direktur Nasional Kebugaran Fisik.

Ibunda Grace rupanya juga penggemar olahraga seperti suaminya. Bila Jack, ayah Grace merupakan keturunan Irlandia dan penganut Katolik Roma, ibunda Grace bernama Margaret Katherine Majer merupakan keturunan Jerman. Kakek dan nenek Grace dari pihak ibunya ini, Carl Majer dan Margaretha Berg merupakan orang Jerman dan penganut agama Kristen Protestan Lutheran. Margaret, ibu Grace baru menjadi Katolik setelah menikah dengan Jack Kelly.

Sebelum menikah, Margaret Majer merupakan mahasiswi bidang olahraga di Universitas Temple. Setelah lulus ia bekerja di bidang Pendidikan Olahraga dan di kemudian hari ia menjadi wanita pertama yang pernah mengepalai Departemen Pendidikan Olahraga di Universitas Pennsylvania.

Jiwa olahragawan keluarga Kelly ini rupanya menurun pada John Jr., kakak laki-laki Grace. Pada tahun 1947 John Jr., memenangkan James E. Sullivan Award sebagai atlit amatir terbaik. Seperti ayahnya, John juga menekuni olahraga dayung. Pada 27 November 1956 di Olimpiade Melbourne, tujuh bulan setelah pernikahan Grace, ia meraih medali perunggu yang diberikannya untuk adiknya sebagai hadiah pernikahannya dengan pangeran Rainier III dari Monaco.

Seperti ayahnya, John juga terjun ke dunia politik. Ia pernah menjadi anggota dewan kota dan namanya bahkan diabadikan sebagai nama jalan di Philadelphia, Kelly Drive.

Bila ayah dan kakaknya merupakan atlit dayung berprestasi, lain halnya dengan dua orang paman Grace yang berkecimpung dalam dunia seni peran. Bahkan salah seorang paman Grace merupakan penulis naskah yang pernah memenangkan Pulitzer, penghargaan untuk dunia sastra yang gengsinya setara dengan Nobel.

Adalah Walter C. Kelly (1873 - 1939) kakak tertua Jack Kelly, ayah Grace baru dikenal secara luas setelah The Virginia Judge difilmkan pada tahun 1930 oleh MGM dan dirilis ulang oleh Paramount pada tahun 1935. Sedangkan seorang paman Grace yang lainnya, George Kelly (1887-1974) agak nyeleneh. Ia seorang homoseksual dan karena perilaku seksualnya ini, ia dikucilkan keluarganya. Meski begitu ia merupakan penulis naskah yang brilian. Pada tahun 1920 ia merupakan penulis naskah yang dramatis dan sebagai sutradara untuk sebuah drama komedi. Pada tahun 1926 ia mendapatkan Penghargaan Pulitzer untuk kategori drama atas karyanya yang berjudul Craig's Wife.

Saat Grace Kelly memutuskan terjun di dunia seni peran, ia pernah memerankan naskah karya pamannya, George Kelly untuk audisi.

II. Karir Akting

Minat Grace terhadap dunia seni peran sudah tumbuh sejak di sekolah. Saat bersekolah di Ravenhill Academy, sebuah sekolah Katolik yang prestisius dan sekolah ini khusus untuk anak-anak perempuan, Grace bersama ibu dan saudara-saudara perempuannya pernah mengikuti peragaan busana di sebuah acara sosial lokal. Pada tahun 1942 ia pernah menjadi pemeran utama di sebuah pagelaran yang diselenggarakan oleh East Falls Old Academy Players. Saat itu usia Grace baru dua belas tahun.

Ketika SMU di Stevens School, sebuah sekolah privat kecil di Walnut Lane, Northwest Philadelphia yang berdekatan dengan pemukiman imigran Jerman, Germantown, Grace juga berakting dan menari. Saat lulus dalam buku kelulusannya, ia mencantumkan nama Ingrid Bergman sebagai aktris favoritnya dan Joseph Cotten merupakan aktor favoritnya. Di bagian "Stevens' Prophecy"- 'Ramalan Steven' di buku kelulusan menuliskan "Miss Grace P. Kelly - seorang bintang panggung dan layar lebar terkenal".

Bakat akting Grace Kelly memang memukau tapi tak demikian dengan pelajaran Matematika. Untuk mata pelajaran berhitung ini nilai Kelly rendah sehingga ia ditolak masuk ke Bennington College pada bulan Juni 1947. Kelly sendiri lebih suka menjadikan akting sebagai pilihan karirnya meski keputusannya ini tak disetujui oleh orangtuanya. Ayah Kelly malah menganggap akting hanya 'setingkat di atas PSK'. Namun Kelly tak menghiraukan kecemasan dan keberatan keluarganya dan merasa yakin untuk mengejar impiannya di panggung teater.

Kelly lalu mengikuti audisi di American Academy of Dramatic Arts di New York. Untuk audisi ini Kelly memilih naskah karangan pamannya sendiri, George Kelly yang ditulis pada tahun 1923 berjudul The Torch-Bearers. Sebenarnya kuota untuk siswa di semester itu sudah terisi tapi Kelly tetap mendapat kesempatan melakukan wawancara dengan kepala penerimaan siswa baru, Emile Diestel dan ia diterima karena hubungan kekeluargaannya dengan George, pamannya.

Selama bersekolah di sekolah akting ini, Kelly tinggal di Manhatan's Barbizon Hotel for Women, sebuah kawasan prestisius yang melarang kunjungan pria di atas jam 10 malam. Selama masa ini, Kelly menyambi kerja sebagai model untuk membiayai kuliahnya. Kelly merupakan siswi yang rajin. Ia suka menggunakan tape recorder untuk berlatih dan menyempurnakan suaranya.

Pada usianya yang ke-19 untuk ujian kelulusannya ia memainkan The Philadelphia Story dan berperan sebagai Tracy Lord. Di kemudian hari, The Philadelphia Story juga akan menjadi drama terakhirnya sebelum ia menikahi Pangeran Rainier dari Monaco dan berhenti dari dunia seni peran yang membesarkan namanya.

Debut Grace Kelly di panggung Broadway adalah saat ia memerankan Strindberg's The Father dengan lawan mainnya Raymond Massey. Sementara debut Kelly di televisi adalah sebagai Bethel Merriday dalam drama adaptasi dari novel Sinclair Lewis. Dan film televisi ini merupakan yang pertama dari hampir enam puluh program televisinya. Seperti kebanyakan bintang seni peran, Grace Kelly pun mulai merambah ke ke layar lebar. Debut film layar lebar Kelly terjadi pada tahun 1951, waktu itu ia memang hanya mendapat peran kecil dalam film Fourteen Hours. Sayang aksinya di Fourteen Hours ini tak mendapat perhatian dari para kritikus sehingga ia tak mendapatkan peran lain untuk film layar lebar. Sementara itu ia tetap beraksi di panggung teater dan televisi. Namun Kelly memiliki masalah dengan suaranya yang kurang kuat sementara 'kekuatan vokal' amat penting di atas panggung sehingga muncul pemikiran karirnya di pangung teater tak akan lama.

Bintang Kelly mulai bersinar kala ia mendapat peran di High Noon. Ia tengah tampil di Colorado's Elitch Gardens ketika datang telegram untuknya dari seorang produser Hollywood, Stanley Kramer yang menawarinya sebuah peran di High Noon dengan lawan main Gary Cooper. Kabarnya Kelly terlibat hubungan asmara dengan Gary Cooper yang terpesona dengan Kelly dan mengatakan bahwa Kelly "berbeda dengan aktris-aktris lainnya."

Sementara itu rupanya akting Kelly juga telah menarik perhatian John Ford, seorang sutradara yang kemudian menawarinya bermain dalam film Mogambo yang akan diproduksi perusahaan film televisi terkenal, MGM. Film ini mengambil setting hutan luas Afrika. Bayaran Kelly untuk film ini relatif kecil hanya $850 seminggu. Tapi Kelly menandatangani kontrak untuk 7 tahun dengan dua syarat: pertama. Setiap dua tahun sekali ia bisa mendapat cuti untuk bermain di teater dan syarat kedua, ia boleh tinggal di New York.

Dua bulan kemudian pada November 1952 Kelly dan rombongan pemain Mogambo tiba di Nairobi, Kenya untuk memulai produksi film tersebut. Belakangan hari Kelly mengungkapkan pada seorang kolumnis Hollywood, Helda Hopper, "Ada tiga hal yang membuatku tertarik pada Mogambo. John Ford, Clark Gable, dan perjalanan ke Afrika dengan ongkos ditanggung penuh. Seandainya saja Mogambo dibuat di Arizona, aku tidak akan mau melakukannya."

Di Mogambo, Kelly berperan sebagai Linda Nordley dan lewat perannya ini ia mendapatkan Golden Globe untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik dan ia juga mendapatkan nominasi pertamanya dari Academy Award, penghargaan paling bergengsi untuk insan perfilman Hollywood.

Usai meraih kesuksesan bersama Mogambo, Kelly bermain untuk film televisi lainnya berjudul The Way of an Eagle bersama Jean-Pierre Aumont sebelum ikut casting untuk sebuah film adaptasi dari drama Broadway karya Frederick Knott berjudul Dial M for Murder yang akan disutradarai oleh Alfred Hitchcock. Dan ternyata Hitchcock akan menjadi mentor terakhir Kelly. Bahkan hubungan kerjasama mereka terus berlanjut setelah Dial M for Murder. Saat Kelly menikah dan mengakhiri karir aktingnya, menjelang saat-saat akhir hidupnya, Kelly sempat tergoda dengan tawaran Hitchcock untuk kembali ke dunia film sayangnya rakyat Monaco tak mengijinkan Sang Putri kembali ke dunia akting.

Usai Dial M for Murder, Kelly bermain untuk film berikutnya, The Bridges at Toko-Ri pada bulan Januari 1954 dengan lawan main William Holden. Di sini ia berperan sebagai Nancy, istri dari Harry yang diperankan oleh Holden. The New Yorker menulis chemistry antara Kelly dan Holden dan memberi catatan bagi penampilan Kelly yang "cukup percaya diri."

Kelly menolak film On the Waterfront yang sedianya ia akan bermain bersama Marlon Brando, akhirnya peran itu diambil Eva Marie Saint yang kemudian membawanya memenangkan Academy Award.

Kelly menolak film On the Waterfront dan lebih memilih Rear Window yang akan disutradarai Alfred Hitchcock. Rupanya Kelly sudah mendengar tentang Rear Window ini sejak pembuatan Dial M for Murder.

"Saat pembuatan Dial M for Murder, dia (Hitchcock) duduk dan menceritakan padaku tentang Rear Window sepanjang waktu, bahkan sebelum kami mendiskusikan keterlibatanku dalam film ini."

Kolaborasi Kelly dan Hitchcock kembali mendapat sambutan positif. Saat film ini ditayangkan pada Oktober 1954, lagi-lagi Kelly mendapat pujian.

Untuk mendapatkan peran Georgie Elgin di The Country Girl, Kelly sampai mengancam MGM, studio televisi tempatnya bernaung, dan ancaman Kelly membuahkan hasil. Di film ini Kelly bertemu kembali dengan William Holden. Dalam film ini Kelly berperan sebagai istri Bing Crosby, penyanyi yang kecanduan alkohol. Sementara Holden berperan sebagai pria yang amat mencintai Kelly dan meminta Kelly meninggalkan suaminya dan hidup bersamanya.

Lewat The Country Girl ini Kelly dinominasikan sebagai Aktris Terbaik untuk Academy Award. Pesaing utamanya saat itu Judy Garland yang mendapat banyak pujian atas comeback-nya di film A Star Is Born. Di film tersebut Garland bukan hanya memerankan seorang aktris dan penyanyi tapi ia juga berperan sebagai istri seorang bintang film yang kecanduan alkohol. Jadi sedikit mirip dengan peran Kelly di The Country Girl. Kelly telah memenangkan New York Critics Circle Award, penghargaan dari kritikus film, sebagai aktris terbaik atas penampilannya di tiga film pada tahun 1954 (Rear Window, Dial M For Murder, dan The Country Girl). Sementara baik Kelly maupun Garland sama-sama memenangkan Golden Globe Awards atas penampilan gemilang mereka.

Persaingan Kelly dengan Garland kala itu sangat sengit. Pada malam penganugerahan Academy Awards, 30 Maret 1955, Garland tak bisa menghadiri acara karena ia habis melahirkan namun kamera televisi NBC dipasang di ruang perawatannya di rumah sakit sehingga ia bisa langsung menyampaikan pidato kemenangannya apabila ia memenangkan Piala Oscar. Tapi ketika William Holden menyebut nama Grace Kelly sebagai pemenaang Academy Awards, para teknisi langsung membongkar jaringan kamera di kamar Garland tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara Garland sendiri kabarnya tak bisa menerima kemenangan Kelly yang diungkapkannya beberapa tahun kemudian. "Aku tak bisa menerima Grace Kelly begitu saja membawa Piala Oscar-ku."

Film ketiga sekaligus film terakhir Kelly bersama Alfred Hitchcock adalah To Catch a Thief. Di sini Kelly bermain bersama Cary Grant yang sangat memujanya. Beberapa tahun kemudian, saat ditanya siapakah aktris favoritnya, Grant mengatakan tanpa bermaksud merendahkan Ingrid Bergman, tapi dibanding Bergman, ia lebih menyukai Kelly.

III. Pernikahan

Pada bulan April 1955 Kelly mengepalai delegasi Amerika Serikat di Festival Film Cannes. Saat itulah ia diundang untuk ikut berpartisipasi dalam acara sesi foto di Istana Monaco bersama Pangeran Rainier III. Setelah terjadi beberapa kali penundaan dan masalah, akhirnya Kelly bertemu juga dengan Pangeran Monaco tersebut.

Hubungan Grace Kelly dengan Pangeran Rainier III makin akrab saat Kelly mendapat peran di The Swan di mana ia harus menjadi seorang putri. Untuk mendukung perannya itu, ia secara pribadi melakukan korespendensi dengan pangeran dari Monaco tersebut.

Pada bulan Desember 1955 Pangeran Rainier datang ke Amerika. Secara resmi kedatangannya itu disebut sebagai sebuah kunjungan saja tapi banyak yang memperkirakan bahwa kunjungannya itu adalah upayanya mencari seorang istri. Rupanya ada sebuah perjanjian antara Monaco dan Perancis pada tahun 1918 yang merupakan buntut dari Krisis Suksesi Monaco pada tahun 1918. Perjanjian tersebut menyatakan bahwa jika Rainier tidak bisa memiliki anak sebagai penerusnya maka Monaco akan diambil alih oleh Perancis.

Dalam konferensi pers, Rainier menyanggah bahwa kedatangannya adalah untuk mencari istri. Tapi kenyataannya dalam kunjungannya ke Amerika itu, Rainier menemui Kelly dan keluarganya dan tiga hari kemudian sang pangeran mengajukan lamaran. Kelly menerima lamarannya dan dimulailah persiapan pernikahan yang oleh pers disebut sebagai "Pernikahan Abad ini" (The Wedding of the Century).

Pertunangan Kelly dengan pangeran dari Monaco menjadi berita besar. Dengan pernikahan ini Kelly harus siap mengakhiri karirnya di dunia film.

Sementara itu persiapan pernikahan akbar ini terus menjadi sorotan. Untuk peristiwa besar ini, Kerajaan Monaco pun dicat dan didekorasi ulang. Pemberkatan pernikahan ditetapkan akan digelar pada 19 April 1956.

Pada 4 April 1956 Kelly dan rombongan besarnya mulai meninggalkan Pelabuhan New York. Rombongan Kelly termasuk keluarganya, pengiring pengantin, dan anjing pudelnya dan bawaan mereka tak tanggung-tanggung, sampai delapan puluh koper lebih yang ikut berlayar bersama kapal laut menuju French Riviera.

Untuk meliput pernikahan akbar ini ada sekitar 400 reporter yang melamar untuk ikut berlayar dan meliput peristiwa besar tersebut tapi sebagian besar ditolak. Sementara itu lebih dari 20.000 orang berderet di jalanan untuk menyambut sang putri.

Di tahun yang sama, studio film MGM merilis film terakhir Kelly, sebuah drama komedi musikal berjudul High Society yang dibuat berdasarkan drama komedi Philadelphia Story. Dalam film tersebut salah satu adegannya Kelly berduet dengan Bing Crosby (lawan mainnya di The Country Girl yang mengantarkannya meraih Oscar) menyanyikan "True Love" karya Cole Porter.

Untuk memenuhi ketentuan hukum Perancis dan aturan Gereja Katolik, Kelly dan Rainier menggelar upacara pernikahan sipil dan gereja. Upacara pernikahan sipil yang berlangsung selama 40 menit itu diselenggarakan pada 18 April 1956 bertempat di Palace Throne Room dan upacara ini disiarkan ke penjuru Eropa. Sehari kemudian digelar upacara pemberkatan pernikahan di Gereja Katedral Saint Nicholas, Monaco. Gaun pernikahan Kelly dirancang oleh Helen Rose, pemenang Academy Award dari MGM. Untuk membuat gaun pengantin ini, Rose bekerja selama enam minggu bersama 36 penjahit. Sedangkan gaun untuk pengiring pengantin dirancang oleh Joe Allen Hong dari rumah mode Neiman Marcus setelah Lawrence Marcus mengunjungi Monaco. Sebanyak 600 tamu undangan hadir di antaranya bintang-bintang Hollywood seperti David Niven dan istrinya, juga ada Gloria Swanson, Ava Gardner. Hadir pula kaum bangsawan Eropa seperti Lady Kenmare, Aimee de Heeren, Lady Diana Cooper, dan Aga Khan III.
Sekitar 30 juta orang diperkirakan turut menyaksikan upacara pernikahan besar ini melalui televisi. Usai upacara pernikahan, pasangan kerajaan ini langsung berbulan madu di Mediterania dengan menggunakan yacht milik Rainier, Deo Juvante II.

Frank Sinatra sedianya juga diundang tapi di menit terakhir dibatalkan karena khawatir akan membuat gusar sang pengantin wanita di hari pernikahannya.

Sembilan bulan dan empat hari usai pernikahan, Putri Grace melahirkan anak pertamanya, Putri Caroline Louise Marguerite pada 23 Januari 1957. Kelahiran Putri Caroline ini disambut oleh 21 kali tembakan salvo dan hari itu diumumkan sebagai hari libur nasional, perjudian diliburkan selama sehari, dan sampanye dibagikan secara gratis.

Setahun kemudian lahir sang putra mahkota, Pangeran Albert pada 14 Maret 1958 yang disambut dengan 101 tembakan salvo.

Anak ketiga mereka, Putri Stephanie Marie Elizabeth lahir pada 1 Februari 1965.

Setelah menikah, Pangeran Rainier melarang film-film Kelly ditampilkan. Hingga akhir hayatnya Putri Grace tak pernah lagi bermain film. Meski begitu ia pernah tampil di panggung membacakan puisi dan pernah pula menjadi narator untuk film dokumenter, The Children of Theater Street. Ia juga sempat menjadi narator untuk film televisi, The Poppy Is Also a Flower, produksi stasiun televisi ABC.

Sempat suatu kali di tahun 1962 Hitchcock menawari Kelly sebuah peran utama di filmnya yang berjudul Marnie. Kelly merasa tertarik tapi rakyat Monaco menentang keikutsertaannya dalam film tersebut karena di film itu sang putri akan berperan sebagai seorang kleptomania. Sang putri pun memikirkan ulang dan akhirnya menolak film tersebut.

Tawaran untuk bermain film kembali datang pada tahun 1977. Kali ini sutradara Herbert Ross yang mencoba meyakinkan Putri Grace untuk berperan di filmnya, The Turning Point. Tapi kali ini Pangeran Rainier yang menentang ide tersebut.

Meski tak pernah lagi terlibat dalam dunia akting, tapi Putri Grace sangat peduli terhadap seniman di Monaco. Untuk mendukung para seniman lokal didirikanlah Princess Grace Foundation. Selain itu Putri Grace juga sangat mendukung pemberian ASI untuk bayi. Bahkan ia menjadi pesohor pertama yang mendukung dan berbicara untuk La Leche League, sebuah organisasi yang menganjurkan pemberian ASI. Putri Grace juga merancang pesta Natal tahunan untuk anak-anak yatim piatu di Monaco. Putri Grace juga dikenal sangat menyukai bunga dan Garden Club didirikan sebagai refleksi atas kecintaan sang putri pada bunga.

IV. Kematian

Pada 13 September 1982 saat tengah menyetir bersama putri bungsunya, Putri Stephanie menuju Monaco dari rumah peristirahatan mereka, Roc Agel yang terletak di pesisir Perancis, Putri Grace tiba-tiba terkena stroke sehingga mobil yang dikendarainya, Rover P6 jatuh ke jurang. Saat diangkat dari rongsokan mobilnya, Putri Grace masih hidup tapi ia menderita luka-luka yang sangat serius dan dalam keadaan koma. Ia langsung dilarikan ke Monaco Hospital tapi hidupnya tak bisa diselamatkan. Ia meninggal sehari kemudian dalam keadaan koma. Putri Grace meninggal dalam usianya yang ke-52 tahun. Sementara Putri Stephanie yang juga ada dalam mobil naas tersebut selamat dan hanya menderita luka ringan.

Setelah kematiannya, nama Monaco Hospital pada tahun 1985 diubah menjadi Centre Hospitalier Princesse Grace yang dalam bahasa Inggris berarti The Princess Grace Hospital Centre - Rumah Sakit Pusat Putri Grace.

Jazad Putri Grace dimakamkan pada 18 September 1982 di makam keluarga Grimaldi setelah sebelumnya diadakan misa requiem di Gereja Katedral Saint Nicholas, Monaco. Sekitar 400 orang menghadiri pemakamannya di antaranya perwakilan dari negara-negara tetangga dan ada pula keluarga bangsawan Eropa. Salah satu tamu yang datang adalah Putri Diana yang mewakili Keluarga Kerajaan Inggris. Sementara dari komunitas film hadir Cary Grant.

Dalam eulogi-nya, James Stewart mengatakan:

"Anda tahu, saya sangat menyukai Grace Kelly. Bukan karena ia seorang putri, bukan karena ia seoang aktris, bukan pula karena ia adalah temanku, tapi aku menyukainya karena ia adalah wanita terbaik yang pernah kujumpai. Grace membawa ke dalam hidupku seperti ke dalam hidup Anda sekalian, kelembutan, cahaya hangat yang memancar setiap kali aku melihatnya, dan setiap kali aku melihatnya merupakan liburan. Tak disangsikan, aku akan merindukannya, Tuhan melindungimu, Putri Grace."

Pada saat Pangeran Rainier, yang tak pernah menikah lagi, meninggal dunia pada tahun 2005, jazadnya dimakamkan di sisi istri yang dicintainya, Putri Grace.

Setelah kematian Pangeran Rainier, maka Pangeran Albert II, putra dari Kelly dan Rainier, yang kini memimpin kerajaan mini Monaco.

Kamis, 18 April 2013

Perjalanan Terakhir Si Wanita Besi

Awan kelabu dan mendung yang menggayuti langit London, Inggris pada Rabu kemarin mengiringi prosesi upacara pemakaman Margaret Thatcher, mantan Perdana Menteri Inggris paling berpengaruh di negeri kerajaan itu pada abad 20. Proses pemakamannya ini telah menjadi bahan perdebatan di Inggris sejak berita kematiannya pada Senin, 8 April 2013 akibat stroke merebak.

Ribuan orang berdiri di sepanjang jalan mengikuti jalannya prosesi pemakaman satu-satunya Perdana Menteri wanita Inggris ini. Baik para pemrotes yang anti-Thatcher maupun pendukung wanita berjuluk Iron Lady ini berbaur dalam kerumunan. Ironi muncul ketika beberapa orang berteriak mencemooh kala peti jenazah yang dibawa oleh kereta meriam yang dihela oleh pasukan berkuda King's Troop Royal Horse Artileri ini lewat. Ada juga yang membawa plakat bertuliskan "Boo!" untuk mencemooh mantan Perdana Menteri dengan masa jabatan terlama ini. Tapi ada pula yang bertepuk tangan dan melemparkan bunga ke arah iringan prosesi peti jenazah Lady Thatcher.

Sedikitnya 230 orang tamu penting dari 170 negara  menghadiri upacara pemakaman yang dilangsungkan di Katedral St. Paul termasuk di antaranya 30 anggota kabinet Thatcher dan 32 anggota kabinet saat ini. Di antara tamu hadir pula 50 orang yang terlibat dengan Kepulauan Falkland termasuk di dalamnya para veteran perang antara Inggris melawan Argentina untuk merebut Falkland tahun 1982. Tapi Duta Besar Argentina untuk Inggris, Alicia Castro menolak hadir.

Di antara para tamu hadir pula mantan wakil presiden Amerika Serikat, Dick Cheney dan mantan menteri luar negeri Amerika Serikat, Henry Kissinger. Tapi sayangnya President Obama tak mengirimkan satupun pejabat senior dari pemerintahannya saat ini.

F.W. de Klerk, mantan presiden Afrika Selatan (Presiden Afrika Selatan yang berkulit putih) juga tampak hadir dalam deretan tamu. Dari partai oposisi, hadir pula Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris dari Partai Buruh beserta Ed Miliband, pemimpin Partai Buruh saat ini.

Upacara pemakaman yang disebut "upacara seremonial" atau satu tingkat di bawah upacara kenegaraan yang diperuntukkan hanya bagi anggota kerajaan, setidaknya melibatkan sekitar 4000 orang petugas polisi yang menjaga ketat selama upacara berlangsung dan 700 personil militer turut serta dalam upacara dengan melepaskan tembakan penghormatan yang ditembakkan dari Menara London setiap menitnya hingga peti jenazah tiba di Katedral St. Paul. Demi menghormati wanita yang sangat memegang teguh pendiriannya demi kecintaannya pada negaranya ini, lonceng Big Ben di kota London yang terkenal itu tidak dibunyikan.

Upacara pemakaman yang hanya berlangsung selama 55 menit ini menggunakan kata sandi True Blue, warna yang identik dengan Partai Konservatif, partainya Margareth Thatcher ini sebelumnya menciptakan banyak perdebatan. Bahkan tak sedikit anti Thatcher yang dipimpin kelompok kiri dan orang-orang yang tak menyukai kebijakannya di antaranya pasar bebas dan poll tax atau pajak perseorangan.

Saat berkuasa selama sekitar sebelas tahun sepanjang periode 1979-1990, Margareth Thatcher dikenal sebagai sosok yang tegas dan berpendirian kuat. Ia tak gentar dengan ancaman serikat pekerja tambang yang mengancam akan melakukan mogok massal. Ia merupakan sosok yang dikenal tak kenal kompromi. Ia tak mau berkompromi dengan kelompok pemberontak IRA hingga menyebabkan dirinya dan suaminya, Denis Thatcher sebagai sasaran saat hotel tempat mereka menginap dibom kelompok radikal IRA. Kekukuhannya kembali diperlihatkannya saat menghadapi serangan Argentina atas kepulauan Falkland.

Di antara berbagai kebijakannya yang kontroversial, Lady Thatcher berhasil mengangkat ekonomi Inggris dari keterpurukan Depresi Besar yang melanda dunia. Bahkan sistem privatisasinya ditiru oleh berbagai dunia. Ia dinilai sebagai figur yang telah mengubah wajah Inggris dan mengembalikan kejayaan Inggris.

Namun Lady Thatcher yang telah memenangkan tiga kali pemilu ini akhirnya ditikam oleh orang-orang dalam partainya sendiri. Ia "dipaksa" mundur dari jabatan Perdana Menteri. Sejak "penurunannya" partai Konservatif  malah terpuruk yang menguntungkan partai oposisi, Partai Buruh. Namun saat ini Partai Konservatif kembali memegang tampuk kekuasaan lewat Perdana Menteri Inggris saat ini, David Cameron yang tak seperti pendahulunya di partainya yang anti Thatcherism, sebaliknya Cameron memilih untuk belajar dari kepemimpinan Margaret Thatcher.

Mengenai opini yang terpecah sehubungan upacara pemakaman Lady Thatcher yang dianggap sebagai tokoh yang paling memecah belah negara tersebut, David Cameron berpendapat bahwa bagaimanapun Margaret Thatcher merupakan salah satu tokoh penting di dunia sehingga sudah seharusnyalah ia mendapatkan upacara pemakaman yang layak. Ia juga mengkritik sikap mereka yang malah berpesta atas kematian wanita yang merupakan arsitek dari berakhirnya Perang Dingin ini sebagai hal yang tak sepantasnya.

Upacara pemakaman yang dihadiri Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philips ini pada Rabu, kemarin berlangsung hikmat dipimpin langsung oleh Uskup London, Rev. Richard Chartres.

Lady Thatcher sebelumnya menyatakan tak mau ada eulogi dalam upacara pemakamannya. Karenanya upacara pemakamannya banyak diisi doa dan lagu pujian. Lagu himne berjudul "I Vow to Thee, My Country" turut mewarnai upacara pemakaman di Katedral St. Paul. Lagu yang memompa semangat patriotisme dan nasionalisme ini agaknya sangat pas mengingat betapa seorang Margaret Thatcher sangat mencintai kejayaan Inggris dan menyatakan sedih bila Inggris terpuruk. Dan semangat nasionalismenya ini sangat nyata saat ia mengirimkan kapal-kapal perang Inggris mengarungi Samudra Atlantik demi menghadapi serangan Argentina di Kepulauan Falkland. Saat ia berhasil memukul kalah pasukan Argentina, ia berteriak dengan penuh kemenangan, "Great Britain is great again".

Saat peti jenazah memasuki bagian dalam gereja Katedral, kelompok paduan suara menyanyikan lagu yang salah satu bait refrain-nya berbunyi demikian: "Kita tak membawa apapun ke dunia ini, dan tentunya kita tak membawa apapun saat kita pergi meninggalkan dunia ini. Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil". Kalimat ini diambil dari Kitab Ayub dalam Alkitab.

Upacara dimulai dengan kutipan dari "Four Quartets" karya T.S. Eliot dan diakhiri dengan kalimat dari kumpulan Kalimat Bijak "Intimations of Immortality" yang mana salah satu barisnya berbunyi : "Hal yang kulihat kini tak terlihat lagi."

Usai upacara selesai, mobil jenazah mengantarkan peti berisi jenazah Margaret Thatcher ke rumah sakit di Chelsea sebelum dilakukan kremasi secara tertutup dan hanya dihadiri oleh pihak keluarga saja.

From ash to dust. Betapapun besarnya polemik dan kontroversi di sekitar Margaret Thatcher, namun seperti yang dikemukakan oleh Uskup London, bagaimanapun juga Margaret Hilda Thatcher adalah seorang manusia. "She is one of us, subject to the common destiny of all human beings."

Rabu, 17 April 2013

The Iron Lady Menuju Tempat Peristirahatan Terakhirnya

Berita kematian Margaret Thatcher pada Senin, 8 April 2013 lalu bukan hanya menyentak dunia tapi juga telah membawa perdebatan panjang. Margaret Thatcher merupakan Perdana Menteri Inggris pada periode 1979-1990. Di masa pemerintahannya ada beberapa kebijakan wanita yang dijuluki The Iron Lady ini yang kontroversial. Meski begitu kebijakannya mampu mengangkat ekonomi Inggris dari keterpurukan dan ia pulalah yang telah mengubah wajah Inggris hingga seperti saat ini.

Saat ia duduk pertama kali sebagai Perdana Menteri, perekonomian Inggris tengah suram dan kekuasaan serikat buruh sangat kuat mencengkram sementara produktivitas terbilang rendah dan Inggris sangat tak diperhitungkan dibanding negara-negara sekawasannya seperti Perancis dan Jerman. Margareth Thatcher membuat gebrakan dengan kebijakan pasar bebas-nya yang membuat geram serikat buruh. Saat diancam oleh buruh dari pertambangan batubara, Thatcher tak gentar sekalipun. Begitu pula saat ia dihadapi masalah pelik sehubungan sengketa Falklands antara Inggris dan Argentina (pihak Argentina menyebut kepulauan Falklands dengan Malvinas). Saat itu Thatcher dinasehati untuk melakukan diplomasi daripada serangan militer. Dan nasehat ini diberikan oleh sekutu terbaiknya, Ronald Reagan yang saat itu merupakan Presiden Amerika Serikat. Alih-alih menuruti saran itu, Thatcher malah dengan berani menghadapi intimidasi militer Argentina dengan memberikan perintah menenggelamkan kapal selam Argentina. Namun berkat keputusan berani Thatcher inilah yang membawanya kembali terpilih untuk kedua kalinya.

Namun baik di masa pemerintahannya maupun saat kematiannya, ia menjadi figur yang paling memecah belah negeri kerajaan itu seperti yang dikemukakan oleh 59% responden dalam poling ComRes dan 60% menyatakan bahwa upacara pemakamannya yang akan diselenggarakan hari ini tak seharusnya didanai oleh pembayar pajak.

Saat berita kematian Baroness Margaret Thatcher disiarkan, beberapa orang malah menyambutnya dengan sukacita. Bahkan kabarnya lagu-lagu anti Thatcher melesat ke posisi puncak. Dan pada Sabtu, 13 April 2013 lalu sebanyak 1.500 orang rencananya akan menghadiri pesta "kematian Thatcher" yang sudah direncanakan para pembenci-nya selama belasan tahun. Tapi cuaca ternyata tak mendukung rencana mereka. Padahal sejumlah personil polisi telah bersiaga, bahkan tak kurang walikota London mengkhawatirkan aksi ini akan menjadi kerusuhan massal nyatanya tak terbukti. Angin dingin dan hujan membuat 'pesta besar' yang sedianya akan dihadiri ribuan orang jadi hanya ratusan orang saja yang datang dan tak menimbulkan kerusuhan seperti yang ditakuti.

Hari ini saat pemakaman Lady Thatcher, kelompok pembencinya kabarnya akan melempari telur, batubara atau susu dan sebanyak 7800 orang menyatakan tekad mereka untuk menghadiri acara yang disebut "Maggie good riddance party" di luar gereja Katedral Santo Paulus yang juga merupakan tempat upacara pemakaman Baroness Margaret Thatcher of Kesteven.

Meski begitu dikabarkan sekitar 2300 orang akan menghadiri pemakaman dan sekitar 4000 personil polisi akan berjaga. Upacara pemakaman ini akan dihadiri oleh Ratu Elizabeth II dan Duke of Edinburg. Selain itu sejumlah tokoh dunia juga akan menghadiri pemakaman. Namun beberapa negara seperti Amerika Serikat tak mengirimkan pejabat seniornya dari pemerintahannya saat ini. Delegasi Amerika Serikat akan dipimpin oleh George Shultz, pejabat di masa pemerintahan Ronald Reagan dan James Baker yang melayani di masa Reagan dan George Bush senior. Kabarnya mantan wakil presiden Amerika Serikat, Dick Cheney dan mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Henry Kissinger juga akan menghadiri upacara pemakaman ini.

Sementara Argentina yang diwakili oleh Duta Besarnya di London menyatakan tidak akan menghadiri pemakaman wanita yang oleh Uni Soviet disebut "Iron Lady" ini.

Upacara pemakaman Margaret Thatcher ini dinilai sebagai salah satu upacara pemakaman terbesar di Inggris bagi seorang Perdana Menteri. Terakhir kalinya Inggris menggelar upacara pemakaman sebesar ini adalah saat pemakaman Churchil pada 1965.

Walaupun upacara pemakaman ini bukanlah pemakaman kerajaan tapi upacara yang disebut sebagai pemakaman seremonial dengan penghormatan militer penuh ini tak ubahnya seperti upacara pemakaman kenegaraan yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi anggota kerajaan. Sekitar lebih dari 800 anggota militer akan mengiringi upacara pemakaman ini diiringi tembakan penghormatan yang akan ditembakkan dari Menara London setiap menit sepanjang prosesi hingga peti jenazah Margaret Thatcher yang sejak Selasa kemarin disemayamkan di Istana Westminster dekat gedung parlemen menuju Katedral St. Paul.

Rencananya peti jenazah Margaret Thatcher yang diselimuti bendera Inggris akan dibawa dari Westminster Palace dengan mobil jenazah melewati Trafalar Square menuju Gereja St. Clement Danes dan dari sana peti jenazah akan dibawa oleh kereta jenazah menuju Katedral St. Paul.

St. Paul merupakan gereja Katedral berusia 300 tahun yang amat bersejarah. Di tempat ini pula Duke of Wellington dan Winston Churchill dimakamkan. Tentu tak bisa dilupakan pula bahwa gereja ini adalah tempat dimana upacara pernikahan Pangeran Charles dan Lady Diana Spencer dilangsungkan.