Total Tayangan Laman

Translate

Rabu, 13 Oktober 2010

Dewi Dja = Wanita Bersahaja yang Mendunia

gbr dipinjam dari situs ini

Sosok wanita ini memang tak terlalu banyak diketahui publik Indonesia meski sebenarnya ia merupakan salah satu tokoh yang terkenal dalam sejarah seni terutama tari dan teater Indonesia. Ia bukanlah pejuang wanita yang memiliki kisah seheroik Tjut Nyak Dien ataupun Kartini yang terkenal sebagai salah satu pejuang wanita Indonesia dalam meraih kemerdekaan tapi ia memiliki andil dalam perjuangan Indonesia meraih kemerdekaannya. Ia bukanlah seorang terpelajar, pendidikan formalnya bahkan hanya sebatas sekolah rendah (SD) itupun tak tamat, tapi ia menjadi salah satu tokoh yang menyaksikan berdirinya Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat dan bahkan ia duduk berderet bersama para cendekiawan dan kaum terpelajar di New York pada tahun 1946 saat Bung Sjahrir berbicara di depan Dewan Keamanan PBB  untuk mendapatkan pengakuan dunia terhadap Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Namun meskipun ia tak sempat mengenyam pendidikan formal yang jauh lebih tapi ia merupakan wanita Indonesia pertama yang berhasil menembus dunia Hollywood. Ia bahkan diketahui menguasai banyak bahasa namun Dewi Dja pernah kehilangan kesempatan meraih peran dalam salah satu film Hollywood karena ia masih kurang fasih dalam bahasa Inggris, hal yang amat disesalkannya sehingga ketika anaknya, Ratna tidak melanjutkan perannya di dunia film di Hollywood, padahal sempat bermain bersama bintang ternama kala itu, Steve McQueen dan Dustin Hoffman dalam film "Papilon", membuat Dewi Dja amat menyesali keputusan anaknya yang sebenarnya fasih berbahasa Inggris tak seperti dirinya.  "Kesempatan luar biasa yang dibuang begitu saja," komentar sang ibu seperti yang ditulis Ramadhan K dalam buku biografi yang ditulisnya mengenai Dewi Dja berjudul "Gelombang Hidupku: Dewi Dja dari Dardanella". 

Dewi Dja lahir pada 1 Agustus 1914 di Yogyakarta dengan nama Misra yang kemudain berganti menjadi Soetidjah. Seperti yang diungkapkan oleh Ramadhan K, dunia seni dikenal Dewi Dja lewat kakek dan neneknya. Ia suka menguntit kakeknya, Pak Satiran dan memegang ujung kebaya neneknya, Bu Sriatun, berkeliling, ngamen, memetik siter.

Meski tak tamat sekolah rendah dan hidup dalam kemiskinan namun perjuangan hidupnya itu justru telah memperkaya hidupnya hingga ia tumbuh menjadi sosok luar biasa yang memiliki semangat nasionalisme tinggi meski ia terpaksa hidup di negeri orang, namun kecintaannya pada Indonesia, tanah tumpah darah, yang kelahirannya turut disaksikannya itu, tetap membara dalam darahnya. 

Awal mula bergabungnya Dewi Dja atau yang saat itu masih bernama Soetidjah dengan Dardanella dimulai saat ia bertemu dengan Pedro, seorang anak pemain sirkus Rusia yang berkeliling dunia. Saat itu Pedro bersama ibunya singgah di Karesidenan Besuki, di sinilah ia dan Soetidjah bertemu. Pedro kemudian menikahi Soetidjah dan mengajaknya bergabung dengan rombongannya yang kemudian diberi nama Dardanella. Saat bersama Dardanella barulah Soetidjah yang buta huruf belajar baca dan tulis huruf latin. Kala itu umurnya baru 14 tahun.

Semula Dewi Dja hanya mendapatkan peran kecil sebagai penari, bintangnya baru bersinar ketika bintang utama Dardanella, Miss Riboet jatuh sakit. Ia pun didaulat memerankan tokoh Soekaesih, peran yang biasa dimainkan oleh Miss Riboet. Saat itu Soetidjah baru berumur 16 tahun tapi ia berhasil memerankan peran itu dan mendapatkan apresiasi. Karir Soetidjah di dunia panggung pun mulai dikenal. Namanya bahkan disandingkan dengan dua tokoh wanita pemeran utama Dardanella, Miss Riboet dan Fifi Young. Soetidjah bahkan menjadi salah satu tokoh penting dalam kelompok Dardanella. Soetidjah kemudian dikenal dengan nama Dewi Dja atau kerap dipanggil Devi Dja.

Bersama kelompok Dardanella, Dewi Dja pun mendapatkan kesempatan melanglang buana mementaskan lakon teater. Saat itu pertama kali mentas di luar negeri, usia Dewi Dja baru 17 tahun, usia yang menurutnya lagi seger-segernya. Saat melanglang buana inilah, Dardanella mulai mengalami pergantian personil tapi Dewi Dja dan Pedro tetap bertahan. Berbagai negara pernah disinggahi Dewi Dja dan Dardanella. Mereka pernah tampil di Hongkong, New Delhi, Karachi, Baghdad, Basra, Beirut, Kairo, Yerusalem, Athena, hingga Roma. Saat di Rangoon penampilan mereka disaksikan oleh Jawaharlal Nehru yang kemudian menjadi Perdana Menteri pertama India. Rombongan Dardanella bahkan kabarnya sempat menginap di rumah Mahatma Gandhi, tokoh pejuang India yang terkenal di seluruh dunia. Selain di Asia, mereka pun sempat menjelalah hingga ke Eropa. Mereka tampil di Negeri Belanda, Swiss dan Jerman. 

Saat tampil di Munich, Jerman, perang dunia pecah sehingga menimbulkan kegelisahan di antara anggota kelompok kecil Dardanella yang telah berubah nama menjadi "The Royal Bali-Java Dance" ini. Pedro, sang pemimpin pun mengambil keputusan untuk menyebrang ke Amerika saat mereka di Belanda. Dengan menumpang kapal "Rotterdam" rombongan ini pun tiba di New York, Amerika. 

Di Amerika nama Dewi Dja makin berkibar terlebih nama kelompoknya menggunakan namanya, Devi Dja's Bali and Java Cultural Dancers. Bahkan penampilannya sempat diulas dalam sebuah surat kabar negeri adidaya itu.  Setelah lama di Amerika, mereka sempat ingin kembali ke tanah air tapi perang dunia kedua keburu pecah dan Jepang menduduki Indonesia sehingga mereka tertahan di Amerika tak bisa kembali ke tanah air. Tapi beberapa orang tetap berusaha untuk pulang sehingga rombongan yang semula -saat sebelum perang kemerdekaan RI- beranggotakan 150 orang kini menciut sampai tersisa belasan orang saja. Kehidupan di Amerika pun makin sulit sehingga Pedro dan Dewi Dja mendirikan sebuah niteclub bernama Sarong Room di Chicago tapi sayangnya pada 1946 niteclub mereka ini terbakar habis. 

Satu persatu kenyataan pahit harus dihadapi Dewi Dja. Bukan hanya harus kehilangan niteclub yang dibangunnya bersama suaminya. Ia juga mendapati suaminya main serong dengan salah satu anggota rombongan itu sehingga akhirnya mereka pun bercerai. 

Dewi Dja kemudian bertemu dengan seorang Indian bernama Acce Blue Eagle. Tapi pernikahan keduanya ini pun harus kandas di tengah jalan karena alasan konyol Acce yang tak suka istrinya bergaul dengan sesama masyarakat Indonesia di Amerika, padahal itu adalah dunia Dewi Dja. Apalagi saat itu kabar Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya telah pula terdengar di negeri Paman Sam itu. 

Dewi Dja kemudian hijrah ke Los Angeles. Di sini ia memiliki kesempatan berkenalan dengan sejumlah bintang terkenal Hollywood salah satunya adalah Greta Garbo dan Bing Crosby yang banyak membantu Dewi dalam memberikan kesempatan untuknya. Ia tampil menari di depan Claudette Colbert yang terpesona oleh gerak tangan dan kerling mata Dewi Dja sehingga hampir saja ia terpilih mendapatkan peran dalam salah satu film produksi Hollywood kalau saja kemampuan bahasa Inggrisnya sudah sempurna. 

Lepas dari Pedro yang kemudian meninggal dunia di Chicago pada 1952 dan lalu berpisah dengan Acce Blue Eagle, Dewi kemudian mendapatkan pendamping baru bernama Ali Assan dan mereka pun dikaruniai seorang putri pada 16 Desember 1954 yang diberi nama Ratna Assan. Tapi pernikahan Dewi dengan Ali Assan pun tak berlangsung lama. Dewi kembali harus mengalami perceraian. 

Dewi Dja yang memang sudah terkenal bersama Dardanella saat masih di tanah air diundang bersama sesama rekannya di Dardanella sehingga Dewi Dja yang meski tak tamat sekolah dasar tapi bisa duduk bersama Sutan Sjahrir dan H. Agus Salim menghadapi masyarakat terpelajar Amerika di Markas Besar PBB di New York. Oleh Bung Sjahrir, Dewi Dja diperkenalkan sebagai Duta Kebudayaan Indonesia di depan masyarakat 
Amerika. Bahkan H. Agus Salim pun pernah menulis resensi mengenai pertunjukkan Dewi Dja dan rombongannya ini di surat kabar "Pemandangan."

Saat Bung Karno yang setelah Indonesia merdeka didaulat menjadi Presiden pertama Indonesia ini berkunjung ke Amerika bersama Guntur, putranya, dijemput oleh Dewi Dja. Karena itulah ketika Dewi Dja mendapat kesempatan pulang ke tanah air, ia pun diterima oleh Presiden Soekarno di Istana Negara. Dalam kesempatan itu Bung Karno sempat menganjurkan Dewi Dja agar meninggalkan kewarganegaraan Amerika-nya tapi Dewi Dja meski sangat mencintai tanah air tak bisa melepaskannya karena tuntutan ekonomi. Namun walaupun begitu ia mengaku, "Di hati saya, Tanah Air saya tetap Indonesia." Dan itu benar-benar dibuktikannya. Ia terus berjuang memperkenalkan budaya Indonesia di negeri adikuasa itu.  

Dalam Rose Parade di Pasadena pada tahun 1970, Dewi Dja menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin rombongan Indonesia untuk turut dalam Rose Parade itu. Dalam berbagai kesempatan Dewi memang selalu memperkenalkan Indonesia di negeri Paman Sam itu lewat tari-tarian maupun makanan. Dewi Dja bahkan mendirikan sekolah tari di Amerika di mana muridnya kini memiliki banyak studio tari ternama di Hollywood. 

Pun ketika terjadi insiden yang menyeret beberapa pemuda dan pemudi Indonesia ke pengadilan di Los Angeles, Dewi Dja tampil membela para pemuda dan pemudi Indonesia ini sehingga akhirnya kasus ini terselesaikan dan mereka pun terbebas dari ancaman penjara. 

Dewi Dja meninggal di Los Angeles pada 19 Januari 1989 dan dimakamkan di Hollywood Hills, Los Angeles. 

Dewi Dja mungkin merupakan segelintir orang yang menyuarakan nasionalismenya dengan perbuatan nyata meski ia harus menggadaikan kewarganegaraan Indonesianya tapi itu sama sekali tak membuat kecintaannya pada tanah air luntur. Bahkan ia mewujudkan kecintaannya pada Indonesia dengan wujud nyata dan bukan hanya gembar gembor anak bangsa di tanah air yang menyatakan cinta tanah air tapi justru membuat negeri ini terpuruk lewat tingkah polah penggembosan kekayaan negeri ini demi kepentingan pribadi. Ia menunjukkan kecintaannya pada tanah air dengan tindakan nyata meski ia menyandang kewarganegaraan asing tapi nyatanya merah putih di dadanya jauh lebih nyata dibanding rakyat Indonesia di negerinya sendiri. Garuda di hatinya jauh lebih hidup dibanding garuda di dada kita yang lebih sering mempermalukan makna Garuda sebagai pemersatu bangsa!


gbr dipinjam dari situs ini

Sabtu, 09 Oktober 2010

Mendeskripsi Wajah

Deskripsi mungkin terlihat sepele tapi bagi penulis deskripsi sebenarnya merupakan unsur yang penting. Lewat deskripsi, si penulis bisa mewujudkan visualisasi dalam benaknya kepada para pembacanya sehingga menjadi jauh lebih nyata. Semakin hebat seorang penulis dalam mendeskripsikan sesuatu, maka semakin jelas pula visualisasi di benak si penulis itu ditangkap oleh para pembacanya sehingga terjalin ikatan tak nyata antara si penulis dengan pembacanya lewat apa yang ditulisnya itu. Karena itu pulalah, dalam usahaku untuk menjadi penulis sungguhan, aku kerap berlatih mendeskripsikan apa yang ada dalam benakku agar tergambar dengan jelas dalam benak orang-orang yang membaca tulisanku. Tapi berhubung aku masih merupakan penulis kacangan, deskripsiku tentu saja masih berantakan seperti sebuah lukisan abstrak tanpa nilai seni.

Aku sendiri paling suka mendeskripsikan wajah dibanding menggambarkan keadaan sebuah ruangan. Bagiku wajah lebih memiliki banyak nilai yang bisa dideskripsikan dibanding ruangan yang umumnya terdiri dari kursi atau mungkin juga ada seperangkat sofa. Lalu di sudut ruangan, misalnya, terdapat sebuah lemari buku yang penuh dengan beragam buku berderet dengan rapinya sementara di dekat jendela ada satu-dua pot tanaman berisi tanaman yang tak kuketahui dengan jelas namanya namun gerumbulan dedaunan hijau yang menggantung di batang-batang tanaman itu terlihat segar sehingga membuat ruangan yang tampak suram itu sedikit lebih ceria dan hidup. Tak jauh dari lemari buku itu terdapat sebuah meja kerja besar yang terbuat dari kayu mahoni, mungkin, karena aku tak pernah tahu apa bedanya kayu mahoni dan jati, dengan kursi besar empuk yang kelihatannya nyaman untuk bukan hanya diduduki tapi bila kita ketiduran di kursi itu. Di atas meja terdapat beberapa lembar kertas kerja yang tertumpuk rapi sementara di dekat tumpukan kertas itu ada beberapa bingkai foto yang mungkin merupakan foto si empunya meja kerja berkayu mahoni itu dan bingkai lainnya mungkin merupakan foto keluarganya.

Bagiku deskripsi bisa menjadi hal paling menarik dalam membuat sebuah tulisan contohnya untuk fiksi. Aku kerap suka bermain-main dengan deskripsi dan tak jarang akibat kesukaanku dengan deskripsi, tulisanku pun jadi melebar melebihi batas halaman yang seharusnya. Tapi dengan deskripsi terkadang aku berhasil melepaskan diri dari kebuntuan saat menulis meski tak jarang pula deskripsiku malah makin membuatku makin terjebak dalam writer's block

Namun seperti kata Arswendo Atmowiloto yang menyatakan bahwa Menulis itu Gampang, kuingat  beliau pernah menyarankan dalam bukunya itu untuk melepaskan kebuntuan cobalah untuk mendeskripsikan sesuatu contohnya wajah si tokoh dalam imajinasi si penulis. Saran yang kemudian sering kuturuti meski tak selalu menjaminku untuk bisa menghasilkan suatu tulisan yang lebih bermutu tapi aku paling suka mendeskripsikan wajah meski sebenarnya tipe wajah manusia tak terlalu beragam. 

Dari tulisan-tulisan fiktif yang kubaca kerap seseorang digambarkan memiliki wajah bulat telur atau oval atau tirus. Bahkan ada pula yang menggambarkan bentuk wajah kotak, meski aku tak terlalu paham seperti apa bentuk wajah kotak itu, apakah sekotak Spongebob Squarepants? Ada pula yang melukiskan wajah tokoh imajinatifnya berbentuk hati. Lagi-lagi aku tak paham seperti apa wajah berbentuk hati itu. Di dalam cerita-cerita penulis Inggris kerap kubaca deskripsi si penulis tentang tokohnya berwajah aristokrat. Meski aku tak tahu seperti apa wajah bergaya aristokrat itu, tapi aku selalu membayangkan Jacqueline Kennedy, istri dari Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy yang tewas terbunuh di Dallas, Texas pada 22 November 1963. Entah apakah gambaranku ini tepat, tapi aku menganggap Jackie memiliki wajah bergaya aristokrat seperti dalam bayanganku.

Meski bentuk wajah manusia tak terlalu beragam, tapi mungkin karena wajah merupakan identitas sebuah pribadi jadi deskripsi wajah merupakan hal paling menarik dalam sebuah tulisan terutama untuk kisah-kisah fiktif atau narasi, prosa, puisi, atau entah apalagi istilahnya. Wajah bagiku merupakan gambaran sempurna Sang Pencipta bagi ciptaan-Nya untuk membedakan antara satu pribadi dengan pribadi lainnya meski terkadang ada pula wajah yang memiliki kemiripan identik seperti pada anak kembar tapi toh tetap saja ada titik yang bisa membedakan wajah di antara kembar paling identik sekalipun.

Wajah merupakan anatomi paling unik. Tak ada satupun orang yang bisa melihat wajahnya sendiri selain dengan bercermin tapi justru wajah mendapatkan perhatian paling istimewa dari si empunya. Mungkin karena wajah merupakan identitas seseorang maka wajah mendapatkan apresiasi yang lebih dibanding bagian tubuh lainnya. Mungkin hal ini pula yang membuat para pengusaha kosmetik berlomba-lomba menciptakan berbagai macam kosmetik untuk mempercantik wajah si empunya. Mulai dari alis yang terletak di bagian atas penampang wajah hingga ke bibir yang menjadi bagian bawah wajah. Bahkan tak jarang, khususnya bagi kaum Hawa, tak peduli seberapapun mahalnya sebuah produk kosmetik, demi mempercantik identitasnya, maka para empunya wajah ini rela merogoh koceknya sedalam mungkin demi membuat tampilan identitasnya secantik dan semenarik mungkin. 

Mungkin karena perawatan demi memperlihatkan kecantikan ini pulalah yang membuat para penyelenggara acara kontes kecantikan memberikan jumlah hadiah yang sangat fantastis dibanding perlombaan menulis yang nilainya kerap kurasa tak sebanding dengan sakitnya kepala yang diderita seorang penulis saat mencoba menuangkan idenya. Bayangkan pula, tak jarang seorang penulis sampai merelakan waktu-waktu tidurnya demi menuangkan ide yang ada di benaknya sementara si ratu kecantikan (bukannya mengecilkan) hanya perlu menjaga wajahnya yang pastinya sudah cantik dari sana-nya dengan perawatan wajah yang harganya memang super fantastis. Atau mungkin pula karena kontes-kontes kecantikan jauh lebih memiliki nilai jual dibanding perlombaan-perlombaan menulis sehingga hadiah yang bisa ditawarkan dalam sayembara-sayembara menulis tak sefantastis hadiah yang diberikan oleh penyelenggara kontes-kontes kecantikan yang pastinya dengan mudahnya bisa menyedot sponsor-sponsor berdana besar.

Aku sendiri suka sekali mengamati beragam macam bentuk wajah orang dan kerap belajar mendeskripsikan wajah yang kusaksikan dalam benakku itu. Aku suka menggambarkan bentuk mata seseorang yang bisa kulukiskan dengan gambaran sebagai si mata sayu, sendu; si mata bulat atau si mata bintang yang di dalam matanya terlihat binar-binar cantik laksana pijaran bintang. Begitu banyak yang bisa dideskripsikan dari sebentuk wajah. Selain fisik yang menghiasi wajah ada satu hal penting yang lebih bernilai dan mampu memberi jiwa dalam sebuah tulisan agar terlihat hidup dan nyata. Ekspresi. Dan hanya wajahlah, satu-satunya bagian tubuh yang mampu memberikan gambaran ekspresi paling sempurna. Mungkin gerak tubuh bisa pula menggambarkan ekspresi seseorang tapi ekspresi wajah, bagiku, jauh lebih sempurna dibanding gerak tubuh.

Saat seseorang tersenyum, kita bisa menangkap kesan ramah dari ekspresi orang tersebut. Kehangatan yang terpancar dari wajahnya bisa kita rasakan. Dan saat melihat wajah murung seseorang, kita bisa memahami gejolak hati si empunya wajah yang mungkin tengah dilanda gelombang kesedihan hingga membuatnya terlihat murung. Karena itu bukanlah hal yang berlebihan bila ada ungkapan yang menyatakan bahwa wajah merupakan pancaran jiwa seseorang. 

Namun bukan berarti wajah tak bisa memperlihatkan warna abstrak. Ada kalanya wajah bisa menampilkan kepalsuan yang tak sesuai dengan jiwa si pemiliknya. Ada kalanya jiwa yang sedih tak seirama dengan warna wajah yang menampilkan senyum cerah demi menutupi rasa mengharu biru yang menyelimuti hati si empunya. Atau ada kalanya pula senyum yang terpasang tak sepenuhnya memperlihatkan kehangatan seperti yang seharusnya tercipta dari sebentuk senyum. Ada kalanya senyum yang tampak dari sebentuk wajah hanyalah merupakan senyum kepalsuan tak berjiwa meski kehangatan dari senyum itu jelas terlihat.

Wajah memang sejatinya merupakan pancaran jiwa seseorang meski kenyataannya wajah bisa pula menipu. Sebentuk wajah yang terlihat pemalu dan tampak penakut, ternyata bisa jadi memiliki jiwa yang penuh dengan kemarahan dan kebencian. Jiwa yang kemudian membawa si wajah penakut dan pemalu itu menjadi sosok psikopat berhati dingin yang mengerikan. Atau ada pula wajah yang tampak keras dan pemberani tapi nyatanya jiwanya tak seberani seperti apa yang tergambar dari wajahnya. Wajah bisa menipu. Tapi wajah tetap merupakan bagian paling menarik dari sebuah gambaran kehidupan bahkan dalam kisah fiktif sekalipun.

Membicarakan wajah aku jadi teringat sebuah artikel lama yang pernah kubaca mengenai film lawas yang dibintangi Joanne Woodward berjudul "Three Faces of Eve" yang diambil dari kisah nyata mengenai seorang wanita yang menderita gangguan kepribadian ganda. Si tokoh yang nama aslinya Chris Sizemore ini memiliki tiga kepribadian ganda yang paling utama yang oleh psikiaternya dinamai White Eve yang bersifat pendiam, pemalu, dan kelihatan saleh. Alter keduanya bernama Black Eve yang memiliki kebalikan sifat dari White Eve. Ia merupakan wanita sombong yang suka ribut, tak bertanggung jawab dan bahkan pernah mencekik anaknya sendiri. Alter yang ketiga bernama Jane merupakan perpaduan dari kedua alter (kepribadian) ini.

Di dalam film yang sukses mengantarkan Woodward meraih Oscar ini, ia berperan sebagai wanita dengan tiga kepribadian ganda itu. Aku sendiri belum pernah menonton film ini meski aku ingin sekali menontonnya tapi sayangnya aku belum berhasil menemukan film ini. Dalam film ini, Woodward harus bisa menunjukkan pribadi yang berbeda dalam satu pribadi sehingga dengan kerlingan mata saja, penonton bisa mengetahui pribadi mana yang tengah mengambil alih jiwa si empunya. Peran yang luar biasa tentu saja, tapi lewat kisah ini bisa terungkap betapa wajah memang merupakan ekspresi paling sempurna dari Sang Maha Pencipta tak heran wajah selalu menjadi inspirasi sepanjang jaman. 

Suzuka and Michael

Gambar dipinjam dari situs ini

GP Jepang selalu terasa istimewa terlebih ketika GP Jepang menjadi GP pemuncak musim balap di mana kerap kali hasil GP Jepang amat menentukan dalam perebutan gelar dunia. Bagiku GP Jepang memberikan dua kenangan berbeda tentang Michael Schumacher. 

Di tahun 2003 Michael berhasil lolos dari lubang jarum dan sukses meraih satu poin untuk mengantarnya menjadi juara dunia mengalahkan Kimi Raikkonen tapi tiga tahun kemudian, ketika Michael kembali harus berjibaku memperebutkan gelar dunia yang kali ini bersaing ketat dengan Alonso, Suzuka, sirkuit yang sebenarnya merupakan salah satu trek favorit Michael justru menghempaskan mimpinya untuk menggenapkan gelar kedelapannya sebelum ia pensiun di akhir musim 2006. 

Tahun ini Michael kembali ke ajang Formula One. Memang musim ini ia bukanlah salah satu kandidat peraih gelar dunia, tapi GP Jepang tetap terasa istimewa dan sepertinya merupakan salah satu tontonan wajib yang menarik untuk para penggemar F1 terlebih tahun ini, kondisi sirkuit Suzuka yang basah diguyur hujan hingga akhirnya tak bisa menggelar sesi kualifikasi pada hari Sabtu sebagaimana di GP lainnya hingga akhirnya sesi kualifikasi digeser ke hari Minggu beberapa saat sebelum balapan digelar. Keadaan yang sebenarnya hampir mirip saat GP Jepang pada tahun 2004. 

Waktu itu karena adanya badai, sesi kualifikasi pun akhirnya digeser ke hari Minggu dan kali ini pun sirkuit Suzuka mengalami kendala cuaca seperti pada enam tahun yang lalu. Kali ini akibat cuaca buruk bahkan saat sesi latihan bebas hari sabtu hanya dua pebalap saja yang sempat mencatatkan waktu yaitu Jaime Alguersuari dari Toro Rosso dan Timo Glock yang membela tim Virgin-Cosworth. (berita selengkapnya di sini). Akhirnya setelah dua jam setengah ditunda, FIA pun memutuskan untuk menggelar sesi kualifikasi pada hari Minggu, beberapa saat sebelum balapan. (beritanya di sini).

Saat GP Jepang 2004 itu Michael berhasil meraih pole dan sukses mempertahankan posisinya hingga akhir race. Tahun ini tentu saja berbeda bagi Michael meskipun secercah harapan tetap muncul mengingat Michael merupakan salah satu legenda The Rain Master tapi bila besok hujan yang tak terlalu membahayakan tetap mengguyur sirkuit Suzuka. Bila cuaca besok cerah, mungkin Suzuka takkan terlalu ramah bagi Michael seperti pada GP lainnya tapi mengingat musim balap tahun ini akan segera berakhir, rasanya memang lebih baik menunggu kiprah Michael tahun depan dimana tim Mercedes pastinya telah merampungkan tunggangan yang jauh lebih layak bagi sang juara dunia tujuh kali ini.

Sekadar mengenang sejarah, aku ingin mengulas saat GP Jepang memberikan dua kenangan yang tak terlupakan. Yang pertama adalah saat GP Jepang 2003. Saat itu Michael merupakan salah satu kandidat terkuat dalam meraih gelar dunia. Waktu itu ia tengah bersaing ketat dengan Kimi Raikkonen yang saat itu masih membalap untuk McLaren-Mercedes setelah Juan Pablo Montoya dari Williams yang tadinya juga merupakan kandidat kuat peraih gelar dunia didiskualifikasi di GP Kanada (kalau tak salah).

Michael kala itu hanya memerlukan nilai satu poin saja untuk memuluskan langkahnya merebut gelar dunia keenam-nya tapi langkahnya itu tidak semulus seperti yang diharapkan. Di sesi kualifikasi Michael hanya berhasil mencatatkan waktu tercepat ke-14 sementara Kimi berada di grid ke-2 di belakang rekan setim Michael kala itu, Rubens Barrichello. 

Meski saat itu Michael sudah berada di atas angin dengan bantuan Rubens yang berhasil menahan laju Kimi tapi Michael tetap berusaha meraih satu poin yang diperlukannya. Dan berkat tekad baja serta usaha pantang menyerah Michael, akhirnya dari grid ke-14 ia sukses finish kedelapan dan satu poin yang dibutuhkannya pun berhasil diraihnya, gelar dunia pun layak disandangnya. Perjuangan luar biasa dari seorang Michael Schumacher yang tak kenal menyerah dan tak pernah menggantungkan nasibnya pada orang lain. Michael tahu jelas bahwa berkat bantuan Rubens, ia bisa tenang melenggang meski tanpa meraih poin karena Rubens telah sukses menahan Kimi tapi Michael lebih suka meraih keberhasilan dengan tangannya sendiri sehingga meski terlihat mustahil ia tetap berjuang meraih satu poin yang dibutuhkannya sehingga ia tetap bisa berbangga  hati karena gelar dunia keenamnya berhasil direbut atas perjuangannya sendiri. 

Berbeda dengan tahun 2003, pada musim 2006, musim paling mengharu biru bagi penggemar Michael karena bukan saja musim ini merupakan musim terakhir setelah sang juara dunia tujuh kali itu mengumumkan pensiunnya di Monza, Italia tapi juga GP Jepang 2006 merupakan kenangan buruk yang sulit dilupakan bagi Michael dan para penggemarnya (rasanya). Setelah akhirnya Michael berhasil meraih puncak klasemen (untuk pertama kalinya di musim itu) dari tangan Alonso usai keberhasilannya menjuarai GP China dan hanya tersisa dua GP terakhir, Jepang dan Brazil. Michael saat itu benar-benar berada di atas angin. Suzuka seperti yang telah diketahui umum merupakan salah satu sirkuit favorit sekaligus sirkuit keberuntungan Michael dan Brazil pun bukanlah sirkuit yang menyulitkan untuk Michael (kecuali ketika ia terpaksa tersungkur pada GP Brazil 2003 akibat aqua planning). 

Peluang Michael untuk meraih gelar kedelapannya makin pasti setelah ia sukses meraih pole di Suzuka dan ia tetap terlihat perkasa di urutan pertama hingga bencana itu datang saat ia masuk pit. Semuanya semula terlihat baik-baik saja, tapi setelah ia selesai pit tiba-tiba mobil Michael meleduk, ia pun terpaksa retire, Alonso pun bersorak. Menjengkelkan memang, tapi semua itu kini sudah menjadi sejarah. Michael gagal meraih gelar kedelapannya di Suzuka, sirkuit yang sebenarnya merupakan salah satu sirkuit keberuntungannya. 

Selain di GP Jepang 2003, Michael juga berhasil meraih gelar dunia ketiganya di sirkuit kebanggaan publik rakyat negeri Sakura ini pada tahun 2000. Saat itu ia berhasil memenangi duel dengan Mika Hakkinen dan kemenangan itupun berhasil mengantarnya meraih gelar dunia pertamanya bersama Ferrari. Tapi GP Jepang 2006 telah mengubah semua kisah manis Michael bersama Suzuka. Tahun ini Michael memang tak bisa berharap terlalu banyak. Ia hanya perlu menikmati empat balapan (termasuk balapan di GP Jepang ini) yang tersisa pada musim ini untuk kembali menggebrak dengan tunggangannya yang baru bersama Mercedes musim depan. Bagi penggemar Michael, sepertinya mimpi buruk sudah hampir berakhir, saatnya untuk kembali merangkai mimpi indah dan harapan untuk kembali menyaksikan superioritas Michael Schumacher tahun depan. Semoga saja gelar dunia kedelapan bukanlah sekadar mimpi bagi Michael. 

gbr dipinjam dari f1chronicles