Total Tayangan Halaman

Translate

Sabtu, 01 Juli 2017

Kisah Si Pohon Besar

Sebatang pohon besar, berdiri anggun menatap langit. Meski tak seluas langit namun si pohon besar memiliki kuasa atas hidup makhluk-makhluk kecil yang bernaung padanya. 

Ada rumput-rumput kecil, ilalang dan beberapa rumpun-rumpun tanaman merambat yang menikmati keteduhan dari kerimbunan dedaunan si pohon besar namun tetap mendapat limpahan sinar sang surya demi proses fotosintesisnya. 

Pun ada cacing-cacing dalam tanah yang menikmati gemburnya tanah di sekitar akar-akar gemuk si pohon besar. Seperti gemuknya akar-akar itu, demikian pula cacing-cacing tanah yang begitu menikmati kekayaan unsur hara dari tanah gembur tempat si pohon besar berpijak.

Hei, lihat! Ada pula sarang semut di sana... wuih... semut-semut besar dan kecil begitu nyaman membangun sarang bagi ratu mereka. Hiiii... gatal sekujur badan melihat koloni makhluk kecil yang giat bekerja ini. 

Seperti semut, burung-burung pun gemar membangun sarang di atas dahan-dahan kokoh si pohon besar. Meski terkadang si anak kost ini nakal, mematuk-matuk induk semangnya, namun si induk semang merasa terhibur tatkala mendengar senandung merdu burung-burung yang menumpang di dahannya.

Si pohon besar bersahabat dengan angin. Terkadang angin sepoi-sepoi berhembus, membisikkan rayuan maut yang membuat daun-daun rimbun si pohon besar terlena, melengut seperti anak kecil menikmati gula-gula. 

Hujan juga sahabat si pohon besar. Seperti angin sepoi-sepoi yang lembut mengipasi kegerahan si pohon besar disengat sinar mentari, rinai lembut air hujan yang menetesinya membuat dedaunan hijaunya riuh berpesta. 

Namun seperti musuh dalam selimut, terkadang angin dan hujan berkolaborasi, bersekutu dengan petir dan halilintar, mencoba menaklukkan si pohon besar yang tetap berdiri anggun menatap langit. 

Berkali-kali kolaborasi angin dan hujan tak membuahkan hasil. Si pohon besar tetap tegak berdiri. Sementara kumpulan makhluk hidup di sekitar si pohon besar bersyukur atas ketangguhan si pohon besar. 

Namun seperti Korea Utara yang mengerut ketakutan tatkala saudara kandungnya, Korea Selatan bersekutu menggelar latihan perang bersama paman dari negeri nun jauh di seberang samudra, Amerika Serikat, begitu pula si pohon besar. Namun tak seperti Korea Utara yang lantas ngamuk tak jelas dan sok pamer membuang rudal, syukur-syukur kalau berhasil sehingga membuat negeri matahari terbit, tetangganya itu ikut ketar-ketir, lha, kalau rudal-nya malah seperti kerupuk bantet, bukannya melesat perkasa malah seperti balon kempes, sambil mengeluarkan bunyi pssssstttttt..., bukannya malah bikin malu saja? 

Ah, si pohon besar ini mungkin keturunan bangsawan sehingga ia emoh mengikuti tingkah kekanakan bocah ingusan, berponi lucu, anak sekaligus cucu pemimpin besar negeri ginseng bagian utara itu. Si pohon besar berjiwa anggun dan aristokrat. Ia percaya bahwa segala sesuatu ada masanya. 

Dan ternyata masanya itupun tiba juga. 

Seperti pemanah amatir yang bila terus-menerus berlatih nyatanya berhasil pulalah menembak seekor rusa yang berlari kencang. Demikian pun kolaborasi angin dan hujan di malam gelap basah berangin itu. Sesekali kilatan petir dan halilintar menghiasi langit, menambah efek dramatis seperti di panggung Broadway kala menampilkan Romeo yang memilih bunuh diri karena mengira Juliet, pujaan hatinya telah wafat. 

Si pohon besar tumbang, menimpa beberapa rumput kecil di bawahnya juga beberapa bagian tanaman merambat di sekitar ikut tertindih tubuh besarnya. Semua kehidupan di sekitar si pohon besar seketika nyaris terhenti. 

Namun seperti roda pedati yang terus berputar. Ternyata kehidupan terus berjalan. Life must go on

Kehidupan di sekitar si pohon besar kacau-balau, namun berusaha move on, tak mau menangis berlebihan meratapi tumbangnya si pohon besar. Mereka mencari kehidupan baru di tempat yang lain. 

Sementara si pohon besar rebah dengan anggunnya sambil tetap memandangi langit.

Jumat, 30 Juni 2017

Demi Sebuah Mimpi

Tak ada pesta yang tak berakhir. Tak ada perpisahan tanpa perjumpaan. Tawa mendampingi pertemuan namun tangis acap mengiringi perpisahan. Namun perpisahan tak selalu berarti akhir. Karena garis akhir adalah juga garis awal. 

Tak terasa Juni berakhir. Tantangan menulis random yang awalnya kuikuti secara iseng saja ternyata telah mengikatku menjadi lebih disiplin dalam menulis. Membaca karya teman-teman dalam tantangan ini membuka wawasanku betapa mimpi tak selalu absurd. 

Lega karena nyatanya sampai juga di garis finish, meski terseok-seok dan kerap dikejar-kejar sahabatku yang begitu rutin menulis bahkan saat hari baru saja berganti, ia sudah menyetor tulisan baru. Namun lega ini bercampur rasa aneh dalam hati, mungkin euforia, hingga saat sahabatku mengajakmu untuk tetap menulis setiap hari, kebiasaan yang mulai terbentuk berkat tantangan ini, aku langsung bilang yes, meski di hari-hari mendatang, mungkin kemalasanku kembali datang. 

Mengejar mimpi memang tak mudah seperti syair lagu Hero yang dilantunkan Mariah Carey. "Lord knows dreams are hard to follow, but don't let anyone tear them away. Hold on there will be tomorrow, in time you'll find your way...."

Lewat tantangan ini kebiasaan baru mulai terbentuk. Semoga saja kebiasaan baru ini melekat kuat dalam diriku untuk terus menulis. Seperti Isadora Duncan yang mengabdikan hidup dan matinya untuk terus menari, bahkan tewas secara mengenaskan akibat tercekik syal-nya, namun saat ajal menjelang itu pun ia terlihat seolah tengah menari. 

Tidak, aku tak berharap menemui akhir tragis seperti Isadora Duncan. Namun sejak lama aku berharap bisa mengabdikan hidup dan matiku untuk menulis. Seperti Isadora Duncan yang tak bisa meninggalkan tarian, semoga pula aku memiliki tekad kuat untuk terus membiarkan jemariku menarikan seluruh alam pikirku ke dalam bentuk nyata tulisan.

Kamis, 29 Juni 2017

Tentang Menulis

Tinggal dua hari lagi, kata sahabatku mengingatkan tantangan menulis random ini. Dalam hati lega akhirnya meski terseok-seok, dan kerap diingatkan sahabatku untuk terus menulis dan tidak menyerah, bahkan dilarang mati sebelum bulan Juni ini berakhir, akhirnya hampir sampai di garis finish

Sewaktu pertama kali sahabatku mengabarkan tantangan ini, seperti biasa secara impulsif aku bersemangat, namun seperti balon yang ditiup ngos-ngos-an, sekejap pula semangat itu mengempis. Tapi seperti biasa, sahabatku seperti seorang sais pedati, memecutku untuk kembali menggerakkan langkah. 

Aku sendiri tak mengira bisa sampai sejauh ini. Mengingat biasanya meski sangat suka menulis, namun aku suka menggantung tugas, sampai-sampai sahabatku kerap gemas menunggu novelku yang tak pernah usai. Dia bahkan pernah meledekku, jangan-jangan aku keburu mati sebelum menyelesaikan novelku seperti Suzue Miuchi, penulis komik Topeng Kaca yang membuatku gemas karena sampai sekarang belum ada kelanjutan ceritanya padahal belum ada kata The End, diduga penulisnya keburu meninggal. 

Rasanya aku pernah mendengar istilah Pengarang sudah mati. Entah apa maksudnya. Tapi menurutku seperti phoenix yang membakar diri demi keabadian, begitulah seorang penulis. Berharap mencapai keabadian lewat tokoh-tokoh ciptaannya. Seperti seorang ibu, mungkin ada penulis yang dengan mudah melahirkan bayinya (karakter ciptaannya) secara normal namun tak sedikit pula rasanya pengarang yang mungkin menahan sakit dan terpaksa melahirkan "bayinya" secara caesar. 

Seperti pernah kusampaikan, bagiku penulis itu seperti penderita schizophrenia di mana pikirannya begitu penuh dan kerap terlalu asyik dengan dunianya seperti anak autis. Tapi penulis memang profesi menyedihkan pula, sebenarnya. Meski alam pikirannya demikian bising dengan percakapan berbagai tokoh-tokoh imajinatif-nya, namun si penulis tetap saja seorang diri menyusuri jalan sunyi, menjadikan tokoh imajinasinya sebagai pribadi nyata, mengosongkan pikirannya dan mengalihkannya ke atas kertas putih. Mengupas setiap lapisan kulit emosinya. Tidak membiarkan emosi pribadinya terlibat tapi tetap perlu meletakkan emosi dalam ceritanya. 

Kembali ke soal sahabatku dan kegeramannya pada ketidakdisiplinanku menulis. Rasanya pernah dia meledekku, atau mungkin aku yang meledek diri sendiri, entahlah ingatan ini terlalu samar, dan mengatakan jangan-jangan saat menjadi hantu aku justru bisa jauh lebih baik dalam bercerita dan mampu menyelesaikan novelku.

Ah... sudahlah... menulis adalah soal rasa dan rasanya cukup ini sajalah dulu yang kutulis di hari ke dua puluh sembilan di bulan Juni ini😉

Rabu, 28 Juni 2017

Bahasa....

Beberapa minggu lalu saat tengah menghadiri misa, tak biasanya konsentrasiku terpecah oleh percakapan dua orang di sebelahku. Bukan bermaksud ingin menguping, karena nyatanya percakapan dua orang di sebelahku itu memang tak kupahami bahasanya. Ya, mereka bercakap-cakap entah menggunakan bahasa dari belahan bumi bagian mana. Bahasa mereka sangat asing sekaligus menarik minat sensor syaraf telingaku.

Entah mengapa, sensor dalam syaraf telingaku memang mudah tertarik saat mendengar bahasa asing yang tak kukenal. Saat kecil aku malah pernah bermimpi bisa menguasai berbagai bahasa asing dari berbagai negara. Lagi-lagi, namanya mimpi, tak selalu menjadi nyata. 

Aku memang sangat tertarik pada bahasa. Bagiku bahasa adalah sebuah tanda peradabaan manusia. Setiap makhluk hidup memang memiliki cara berkomunikasi masing-masing. Bahkan ikan pesut di Gelanggang Samudra Ancol pasti memiliki gaya komunikasi dalam komunitasnya. Bahkan pepohonanpun pasti memiliki cara berkomunikasi dengan kaumnya, mungkin lewat gesekan angin atau entahlah, aku bukan pakar botani. 

Namun berbeda dengan makhluk lainnya, hanya manusia sebagai makhluk termulia dari seluruh ciptaan di bumi yang memiliki bahasa sebagai lambang peradabannya. 

Seperti makhluk hidup yang tumbuh dan berkembang, demikian pula dengan bahasa. Bahasa sangat unik. Bukan benda cair namun kerap mampu mencairkan kebekuan suasana. Tak memiliki lidah api namun mampu membakar hati bahkan hutan seluas amazon. Tak berwujud namun mampu menggerakkan seorang pemalas sekalipun. 

Bahasa sekalipun tak memiliki rupa namun selalu berkembang. Selalu mengalami pembaharuan seiring perkembangan jaman. Abadi bersama masa. 

Kembali ke soal perbincangan dua orang di sebelahku. Alhasil bukan saja memecah konsentrasiku, mereka juga telah menggelitik rasa penasaranku. Belum sempat aku bertanya bahasa apa yang mereka gunakan, namun mereka sudah terlebih dulu pergi bahkan sebelum iring-iringan pastor bergerak keluar. Ah... akhirnya aku menundukkan doa sebelum pulang sambil otakku terus berputar mengira-ngira asal bahasa yang mereka gunakan tadi.