Senin, 07 Desember 2009

The Runner Up


Red Bull Renault : 153.5 poin

pic taken from :www.gtmodels.co.uk

Pengembangan Ferrari dan McLaren yang agak lambat tahun ini mungkin berpengaruh besar bagi Brawn dan Red Bull. Seperti Brawn GP yang tampil mengesankan, tim minuman berenergi ini pun sangat spektakuler. Tim ini pula lah yang mampu menghadang dominasi Brawn GP dan Jenson Button di race-race awal musim ini.

Berbeda dengan Brawn GP yang di pertengahan hingga akhir musim agak melemah, si banteng merah ini malah semakin perkasa. Sayangnya, perolehan poin Brawn sudah tak dapat lagi terkejar. Hanya membutuhkan lima poin di GP Brazil bagi Brawn GP untuk memastikan gelar juara dunia konstruktor jatuh ke tangan mereka dan setelah pembalap andalan Brawn GP pun berhasil mengunci gelar juara dunianya maka yang tersisa hanya tempat kedua konstruktor dan pembalap.

Demi menghindari kesuksesan besar bagi Brawn GP, mereka berhasil mengantar pembalap muda mereka, Sebastian Vettel merebut juara dua dari tangan pembalap Brawn, Rubens Barrichello.

Jika di awal musim Brawn GP tampil mendominasi dengan mencatat kemenangan beruntun maka Red Bull menutup akhir musim dengan mencetak hattrick di tiga GP penutup. Brawn GP boleh berpesta untuk gelar ganda mereka dan Red Bull pun pantas bersuka untuk keberhasilan mereka merebut gelar ganda di tempat kedua. Ya, setidaknya masih ada hari esok dan dengan perkembangan mereka di akhir musim, boleh jadi musim depan bisa menjadi milik mereka.

3. Sebastian Vettel : 84 poin
Fastest lap : GP Inggris, Belgia, & Abu Dhabi
Pole : 4 (GP China, Turki, Inggris, & Jepang)


pic taken from :www.topnews.in

Sejak kemenangan Sebastian Vettel bersama Torro Rosso tahun lalu di Italia, publik sudah mentahbiskannya pembalap Jerman ini sebagai the next Schumi terlebih kepiawaiannya di atas trek basah Monza persis seperti sang juara dunia tujuh kali itu yang terkenal dengan sebutan the rain master. Tahun ini, membela "kakak" Torro Rosso, Red Bull, Vettel kembali membuktikan kepiawaiannya kembali di atas trek basah Shanghai, di mana ia berhasil memecah dominasi Jenson Button dengan meraih pole sekaligus menjuarai GP China dan semakin mentahbiskannya sebagai the next Schumi.

Seperti Schumi yang senantiasa haus akan kemenangan begitu pun dengan Vettel yang merupakan rekan setim Schumi di ajang Race of Champions (ROC) dan seperti Schumi, Vettel pun tak kenal menyerah. Sebelum GP Brazil, orang-orang masih menganggap Rubens sebagai pesaing berat Jenson dalam merebut gelar dunia. Tapi Vettel yang tak kenal menyerah berhasil menjuarai GP Jepang dan membuka peluangnya dalam perebutan gelar meski tipis. Di sesi kualifikasi, sementara rekan setimnya merebut P2, ia malah gagal menembus Q2 dan harus memulai start di P 16, di belakang Liuzzi. Sementara Rubens Barrichello yang merupakan pesaing terdekat Jenson meraih pole. Namun seperti yang sudah semua ketahui, kehadiran safety car yang membuat strategi pit Rubens gagal sehingga pembalap Brazil itu hanya mampu finish di tempat kedelapan dengan tambahan satu poin membuka peluang bagi Vettel -yang finish di tempat keempat di depan Jenson Button, sang juara dunia baru- dalam perebutan tempat kedua di klasemen konstruktor.

Di GP Abu Dhabi, nasib apes malah berbalik menimpa Rubens Barrichello. Di start, pembalap kedua Brawn GP itu bersinggungan dengan rekan setim Vettel sementara Vettel sendiri melenggang mulus membuntuti pole sitter, Lewis Hamilton. Dewi Fortuna kemudian mulai berpihak pada pembalap muda Jerman ini. Lewis harus mengakhiri balapannya karena masalah rem sehingga memuluskan langkah Vettel menutup musim ini dengan kemenangan keempatnya tahun ini.

Tahun ini memang Vettel masih belum berhasil meraih gelar dunia tapi semua orang tahu hanya masalah waktu bagi pembalap Jerman ini untuk meraih mahkota kebanggaan para pembalap itu.

4. Mark Webber : 69.5 poin
Fastest lap : GP Hungaria, Jepang, & Brazil
Pole : GP Jerman


pic taken from : www.guardian.co.uk

Sejak debutnya pada tahun 2002 bersama tim Minardi yang dibeli Paul Stodart dari Giancarlo Minardi yang terpaksa menjual tim ini karena kanker, keberhasilan Webber finish di tempat ke lima di balapan perdananya di GP Australia, sudah membuat publik terkesan pada pembalap jangkung ini terlebih etos kerja pembalap Australia ini disebut-sebut setinggi Michael Schumacher.

Namun sayangnya, Webber selalu saja terdampar di tim yang tengah berkutat meraih eksistensi diri sehingga tak berhasil memperlihatkan potensi Webber.
Dan mungkin tahun ini merupakan awal dari pembuktian seorang Mark Webber. Meski ia hanya mampu meraih posisi ke empat di klasemen tapi Mark Webber tak bisa dipandang sebelah mata. Dengan dukungan sumber daya yang dimiliki Red Bull, bukanlah hal yang konyol, bila Webber memimpikan gelar dunia.

Senin, 30 November 2009

Double Title for the Debutante


Balapan F1 tahun ini telah berakhir. Seperti roda yang berputar, begitu pun halnya dengan balapan F1 tahun ini. Banyak kejadian-kejadian tak terduga terjadi sejak balapan dimulai di Australia dan bersama matahari yang tenggelam di Abu Dhabi, sirkus F1 tahun ini pun berakhir. Dan aku sebagai seorang penggemar F1 ingin mencoba membuat sebuah review mengenai tim dan pembalap yang telah meramaikan panggung F1 setahun ini.

Brawn-Mercedes : 172 poin

pic taken from : www.topgear.com

Pencapaian Brawn GP sebagai debutan tahun ini memang bisa dibilang spektakuler. Padahal sebelum GP Australia dimulai, nasib tim ini masih tak menentu usai Honda, pemilik tim ini memutuskan mengundurkan diri dari F1 hingga akhirnya Ross Brawn, ex techincal director Ferrari yang sempat menyepi sejenak setelah keluar dari Ferrari membeli tim ini.

Setiap orang tahu siapa Ross Brawn, mekanik kesuksesan Michael Schumacher dalam merebut tujuh gelarnya dan salah satu pahlawan Ferrari yang turut membantu tim kuda jingkrak mereguk masa-masa keemasannya.

Kali ini Ross Brawn dengan namanya sendiri terpampang pada tim asuhannya kembali memperlihatkan kepiawaiannya dalam menciptakan bintang baru. Di tangannya, tim Honda yang pada awal kemunculannya di F1 ingin mengulang kesuksesan mereka merebut gelar dunia tapi hingga mereka pensiun, sukses yang mereka harapkan tak kunjung mereka dapatkan, justru setelah tim ini berganti nama tanpa embel-embel nama salah satu pabrikan mobil terbesar asal Jepang itu, malah berhasil meraih gelar ganda.
Tim Brawn memang debutan di F1 tapi tim ini sebelum berganti wajah menjadi Brawn GP sudah seperti lelucon di F1.

Awalnya, tim ini berdiri atas prakarsa Craig Pollock, manager Jacques Villeneuve, juara dunia 1997 dengan dukungan kuat dari dua pabrikan tembakau Inggris dan Amerika, BAT. Tim dengan berbiaya besar ini digadang-gadang merupakan tim Ferrarinya Jacques. Ya, Jacques memang ingin sekali memiliki tim yang sepenuhnya mendukungnya seperti Ferrari terhadap Schumi. Tapi bertahun-tahun, tim ini tak juga memperlihatkan hasil memuaskan sementara dana yang dikeluarkan sudah sangat banyak. Akhirnya, Pollock ditendang dan Jacques yang tak akur dengan David Richards, pengganti Pollock pun segera mengikuti jejak mantan managernya itu. Akibat peraturan anti rokok di F1 maka BAT pun cabut dan Honda yang sudah menyuplai tim ini sejak lama segera mengambil alih. Sayangnya nama besar Honda tak mampu membuat tim ini bersinar hingga akhirnya Honda pun memutuskan melepas tim ini dan kemudian Ross Brawn membeli tim ini dan membuat sejarah baru di F1.

From zero to hero. Begitulah suratan bagi tim debutan ini. Para kru tim yang hampir putus asa kehilangan pekerjaan ketika Honda memutuskan keluar dari F1 tapi di akhir musim ini, mereka berpesta merayakan kesuksesan mereka meraih gelar dunia konstruktor dan pembalap.

Berbekal diffuser ganda, tim ini mampu membelalakkan mata jutaan penggemar F1 di seluruh dunia dengan tampil mendominasi di race-race pada awal musim. Para pesaing mereka yang semula mengecam diffuser ganda mereka tapi kemudian berbalik mengadopsi diffuser ganda milik mereka setelah FIA melegalkannya. Di pertengahan musim keperkasaan mereka sedikit melemah seiring dengan kemajuan yang berhasil dibuat tim-tim lawan mereka yang memiliki budget lebih besar namun hal itu ternyata tak mampu menghalangi mereka mencatat sejarah baru. Di Brazil dengan menyisakan satu seri, mereka berhasil mengawinkan gelar dunia konstruktor dan pembalap.

1. Jenson Button : 95 poin
Fastest lap : GP Malaysia & Turki
Pole : 4 (Australia, Malaysia, Spanyol, & Monaco)


Akhirnya penantian Jenson terbayar sudah. Bertahun-tahun ia mengalami masa pasang surut sepanjang karirnya di F1, tapi tahun ini Jenson membuktikan bahwa ia bisa meraih gelar juara dunia. Dan ia pantas menyandang gelar juara dunia itu. Ia memang hanya memenangi enam GP tapi bukan berarti ia tak layak menjadi juara dunia. Ia memang sempat melemah di pertengahan musim tapi bukan berarti semangatnya untuk meraih juara dunia memudar. Ia tetap menjaga konsistensinya. Ia hanya sekali gagal finish yaitu di GP Belgia, di mana ia terpaksa mengakhiri balapannya lebih cepat setelah mengalami tabrakan dengan rookie dari Renault, Roman Grosjean dan juara dunia tahun lalu, Lewis Hamilton. Dua kali ia sempat gagal menembus Q2 yaitu di GP Belgia dan Brazil dan secara statistik penampilannya di kualifikasi memang kalah dari rekan setimnya tapi konsistensinya di balapan membuatnya lebih unggul dari rekan setimnya yang lebih senior itu.

Apapun ucapan orang, sikap skeptis mereka yang meragukan pembalap Inggris ini namun satu hal yang pasti, Jenson telah membuktikan kemampuannya. Dan jangan lupa pula, meski di pertengahan hingga akhir musim, lawan-lawannya melesat lebih kencang darinya, namun hanya ia yang berhasil meraih kemenangan terbanyak musim ini.
Tak dipungkiri, untuk menjadi juara dunia, skill seorang pembalap harus sangat mumpuni, namun jangan lupakan pula faktor keberuntungan dan konsistensi dari si pembalap. Dan terutama adalah konsistensi.

Sejak kemenangannya di Turki, memang penampilan Jenson Button sedikit melemah tapi ia tetap memperlihatkan konsistensinya. Ia terus berjuang meraih poin demi poin hingga di Brazil, dengan menyisakan satu seri, di usianya yang ke-29 tahun, di tahunnya yang kesembilan di F1, Jenson Button berhasil meraih gelar juara dunia pertamanya.

2. Rubens Barrichello : 77 poin
Fastest Lap : GP China & Spanyol
Pole : 1 (Brazil)
pic taken from : sport.in.msn.com

Malang memang nasib Rubens Barrichello. Bertahun-tahun ia hanya mampu menjadi pendamping Schumi meraih gelar dunia, dan ketika tahun ini ia menjadi kompetitor berat Jenson dalam merebut gelar dunia hingga di GP Brazil tapi strategi pitnya yang tak berjalan sempurna bukan hanya ia gagal menjegal jalan Button merebut mahkota juara tapi posisi keduanya pun akhirnya lepas di penghujung musim.

Tak sedikit yang berpendapat bahwa Rubens jauh lebih baik dari Jenson karena penampilan Jenson yang melempem di pertengahan musim. Hanya keberuntungan saja mungkin yang belum menghampiri pembalap veteran asal Brazil ini. Hingga menjelang GP Brazil, ia merupakan pesaing terdekat Jenson Button, rekan setimnya tapi di akhir race, ia yang hanya mampu finish di tempat kedelapan bukan hanya kehilangan kesempatan meraih gelar juara dunia tapi posisi keduanya pun terancam oleh Vettel, jagoan Red Bull, yang kemudian benar-benar berhasil merebut juara kedua dari tangan Rubens di GP Abu Dhabi.

Memang tak dapat ditampik, Rubens merupakan pembalap yang bagus. Bahkan seorang Michael Schumacher pun mengakui peran pembalap gaek Brazil ini dalam meraih lima gelar juara dunianya. Karena itu meski ia gagal meraih gelar juara dunia tahun ini, tak menghalangi seorang Frank Williams untuk merekrut pembalap tertua di F1 tahun ini untuk memperkuat skuad tim Willi ini tahun depan sekaligus berharap sang sepuh ini mampu menjadi mentor bagi bintang muda Williams asal Jerman, Nico Hulkenberg.

Sabtu, 28 November 2009

The Selfish City

         

   pic taken from here

Pertama harus kuungkapkan bahwa tulisanku ini memang merupakan refleksi kejengkelanku atas beberapa hal tapi aku merasa bahwa pangkal dari semuanya ini adalah karena pembangunan yang seringkali hanya memikirkan kelompok berada meski harus kutekankan bahwa tulisanku ini tanpa maksud untuk menghakimi atau mendiskreditkan kelompok ataupun pemda DKI yang berurusan dengan pembangunan di Jakarta.

Sudah hampir berbulan-bulan, aku dibuat jengkel oleh pembangunan jalan di daerah menuju kantorku. Kejengkelanku pertama karena akibat pembangunan itu, jalanan jadi terkesan semrawut, motor dan mobil seenaknya saja melintas di putaran dekat proyek pembangunan jalan yang bukan hanya bisa membahayakan si pengemudi itu sendiri tapi terutama nyawa orang lain terlebih pejalan kaki yang melintas jadi sulit sekali menyeberang jalan karena mobil atau motor yang melintas seenaknya itu.

Kedua, pembangunan jalan itu kuanggap diskriminatif karena hanya memikirkan jalan untuk para pengguna mobil sementara setapak jalan kecil yang semula masih ada untuk pejalan kaki ditiadakan demi memberikan space yang lebih luas bagi kendaraan-kendaraan bermotor. Ketiga, aku sangat prihatin melihat akibat pembangunan jalan itu, kelangsungan hidup eceng gondok di kali dekat jalan jadi terancam, bahkan kulihat banyak eceng gondok yang diangkat dari kali dan dibiarkan tergeletak di dekat jalan sehingga eceng godok itu mati.

Bukannya aku anti pembangunan. Aku juga suka melihat Jakarta menjadi cantik tapi aku lebih suka bila pembangunan yang dilakukan pemda DKI bukan hanya terlihat cantik seperti boneka Barbie yang cantik tapi tak berjiwa.

Entah apakah egois merupakan keharusan bagi sebuah kota untuk menjadi kota metropolitan dan Jakarta yang telah menjadi kota megapolitan terlihat cantik terlebih saat malam ketika lampu-lampu kota berkelap-kelip menghias kota namun kecantikan itu ternyata harus menumbalkan pihak lain. Seperti seorang wanita, aku tak bermaksud menyalahkan para wanita yang ingin tampil cantik, tapi ternyata demi memuaskan keinginan para wanita untuk tampil cantik, ternyata para produsen kosmetik kerap menggunakan binatang sebagai sarana untuk mengetes sifat-sifat kimiawi dalam kosmetik tersebut yang kerap meski tak membunuh binatang yang dijadikan bahan percobaan itu tapi akibat efek samping dari bahan-bahan kimiawi tersebut telah membuat binatang itu cacat atau mungkin merusak organ dalam si binatang tersebut. Lalu apakah artinya kecantikan itu? Mungkin berkat kosmetik itu kita menjadi pusat perhatian dan banyak orang yang mengagumi kecantikan kita, tapi kecantikan kita itu ternyata telah menyebabkan kematian makhluk hidup lainnya? Tidakkah nurani kita kemudian akan terusik ketika kita melihat cermin, mengagumi kecantikan kita tapi cermin itu malah menampilkan sosok pembunuh dalam diri kita?

Apa artinya kecantikan itu bila kemudian kita kehilangan nurani? Hanya demi terlihat modis dan berkelas dengan menenteng tas kulit sementara sepatu kulit makin memperlihatkan kaki indah kita, ditambah balutan mantel-mantel bulu membuat penampilan kita semakin wah, tapi tidakkah terpikir dalam benak kita, untuk membuat penampilan kita menjadi wah itu bahkan kita bukan hanya telah membunuh buaya, harimau, atau apapun yang kulitnya bisa digunakan untuk sepatu, tas atau mantel-mantel itu, tapi kita juga telah merusak ekosistem alam padahal Tuhan memberikan bumi ini bagi kita bukan untuk kita hancurkan.

Begitulah kecantikan kota Jakarta menurut pandanganku saat ini. Seperti kukatakan sebelumnya, bukannya aku anti pembangunan tapi bukankah arti pembangunan pada dasarnya adalah untuk kesejahteraan bersama? Tapi kenyataannya pembangunan di Jakarta sepertinya hanya mensejahterakan golongan tertentu saja. Lihat saja, betapa gencarnya pembangunan rumah-rumah mewah, apartemen, atau mal-mal sementara beberapa kelompok miskin kota berkutat dalam kemiskinannya di daerah-daerah kumuh yang boro-boro memikirkan tinggal di griya-griya mewah itu, untuk membayar rumah kontrakan sepetaknya yang hanya sebesar kamar mandi di apartemen mewah itu saja sudah cukup menyulitkan terutama bagi buruh borongan yang penghasilannya tak menentu, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang sulit sekarang ini, seringkali karyawan borongan harus ngendon di rumah karena tak ada barang yang artinya, ia harus mencari akal untuk mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup dan membayar kontrakannya. Jadi jelaslah pembangunan rumah-rumah mewah itu tak benar-benar mencakup setiap aspek masyarakat kota Jakarta.

Padahal banyak ahli yang memperkirakan bahwa Jakarta akan tenggelam suatu hari nanti, tapi kok ya pemda dalam hal ini (ya, sebenarnya sih aku tak bermaksud menyalahkan pemda tapi bukankah memang pemda yang memiliki kebijakan mengenai tata ruang dan pembangunan di ibukota republik ini?) sepertinya tak peduli. Bahkan kutahu, ada sebuah kompleks perumahan mewah yang dibangun di atas lahan hutan lindung. Kok bisa ya hutan lindung digunakan untuk membangun perumahan mewah begitu? Bukankah hutan lindung itu mestinya merupakan daerah yang dilindungi karena bukan hanya demi ekosistem di sekitar hutan lindung itu yang artinya bukan hanya melibatkan flora ataupun fauna di hutan lindung itu tapi juga manusia yang tinggal di sekitar hutan lindung itu. Buktinya begitu perumahan mewah itu dibangun, banjir tak henti-hentinya melanda rumah-rumah masyarakat menengah ke bawah yang tinggal di sekitar perumahan mewah yang dibangun di atas lahan hutan lindung itu. Kalau begitu, bagaimana pemda bisa melindungi masyarakatnya jika hutan lindungnya saja tak dapat dilindungi keberadaannya?

Di sisi lain pembangun jalan pun seringkali tak memperhatikan keberadaan para pejalan kaki. Seperti yang kukemukakan di atas demi menambah space bagi jalan yang akan dilintasi kendaraan bermotor sampai-sampai area pejalan kaki dibabat sehingga para pejalan kaki kesulitan. Padahal, ketika area pejalan kaki itu masih ada pun, para pejalan kaki seringkali dibuat jengkel dengan ulah pengemudi sepeda motor yang suka seenaknya merebut lahan yang diperuntukkan bagi pedestrian itu. Padahal, pengemudi sepeda motor sudah enak karena tak perlu menggunakan kakinya seperti para pedestrian tapi kok ya tega, membuat para pejalan kaki makin kesulitan?

Aku sendiri kadang suka berjalan di jalan setapak itu sebelum jalanan itu dibabat untuk pelebaran jalan, dan seringkali aku dibuat jengkel dengan sepeda motor yang tiba-tiba nyelonong saja, bahkan pernah aku hampir keserempet, dan ketika aku mendumal, si pengemudi sepeda motor itu malah memelototkan matanya. Bukan main panasnya hatiku bila melihat pengemudi motor yang egois seperti itu. Dan lebih kesalnya lagi ketika kuceritakan mengenai masalah ini kepada ibuku, beliau hanya tersenyum dan berkata, "ya, itulah Jakarta." Apakah maksudnya Jakarta itu setiap orang bisa bertindak seenaknya saja tanpa memikirkan kepentingan orang lain? Apakah untuk menjadi masyarakat teladan ibukota nusantara ini, kita harus menjadi pribadi yang egois begitu? Itukah artinya kalimat, 'ya, itulah Jakarta' itu?

Padahal, jika pemda benar-benar serius ingin menciptakan kota yang hijau, bersih, sehat, dan bermartabat itu, mestinya pemda lebih memperhatikan kawasan pedestrian dalam proyek pembangunan jalannya dan mestinya pemerintah lebih menggerakkan rakyatnya untuk melakukan gaya hidup sehat salah satunya dengan berjalan kaki bila jarak yang ingin ditempuh tak terlalu jauh dan terlalu mengandalkan kendaraan bermotornya yang meski nyaman dan tak melelahkan kaki tapi karbondioksida yang dikeluarkan kendaraannya itu telah berkontribusi dalam penghancuran bumi ini. Jika lebih banyak yang berjalan kaki, bukankah kota yang hijau, bersih, sehat, dan bermartabat itu dengan serta merta dapat terwujud.

Jakarta yang hijau, bersih, dan asri pastinya menjadi dambaan setiap warganya tapi kecantikan fisik Jakarta mestinya juga dibarengi dengan kecantikan jiwa para warganya. Sebagai warga ibukota republik ini mestinya masyarakat Jakarta lebih bermartabat dan tak seenaknya saja seolah keegoisan merupakan ciri masyarakat modern perkotaan. Mestinya pula pemerintah kota lebih arif dalam melakukan pembangunan kota agar kelangsungan kota ini tetap lestari dan pada akhirnya pembangunan dapat sungguh-sungguh dirasakan manfaatnya bagi semua kelompok di ibukota ini sehingga setiap warga Jakarta dapat sungguh-sungguh merasa bahwa kota ini benar-benar milik kita bersama. Jika sudah begitu, masih adakah yang bertanya, 'Jakarta siapa yang punya?'

pic taken from here


Senin, 16 November 2009

Button holds talks with McLaren in Woking


Source: www.planet-f1.com

McLaren have confirmed that Jenson Button was given a tour of their Woking factory on Friday, prompting fevered speculation that he is on the verge of leaving Brawn to become Lewis Hamilton's new team-mate.

According to The Guardian, Button and his manager Richard Goddard were shown around the facility by McLaren boss Martin Whitmarsh on Friday afternoon and 'a contract could be signed as early as next week if terms can be finalised, creating the first team with two world champions competing alongside each other since Ayrton Senna and Alain Prost were team-mates at McLaren in 1989.'

A spokesman for McLaren told the newspaper that "having just arrived at Heathrow, Jenson made a small detour to Woking to say hello" while The Daily Mail claims that talks between the two parties continued well past closing time for the factory and were described as "very positive."

Brawn GP, though, are not out of the loop as Goddard has also talking to the team about a new deal for 2010 but as yet nothing has been agreed.

Goddard added: "As I've said many times before, Jenson wants to drive a car which is capable of winning the next World Championship.

"We've been talking about possible terms for 2010 with Brawn for months and we're not being difficult or unreasonably expensive in our demands for Jenson.

"In fact we've given up quite a lot of negotiating ground in our discussions with them.

"I think it's also important that Jenson wants to feel valued in whatever situation he finds himself next season."

However, Button is not the only potential McLaren driver who has visited Woking in recent weeks. Early this week, Kimi Raikkonen's management team went to McLaren's Technology Centre as guests of team boss Martin Whitmarsh.

Yet, according to The Guardian, 'It is understood that Button has moved to the top of McLaren's wish-list over the past couple of months, with Whitmarsh and his fellow directors impressed by his tenacity in regaining his form to round off the season with two outstanding drives in the Brazilian and Abu Dhabi grands prix.

'McLaren have made Raikkonen their second choice if the Button approach fails, with Nick Heidfeld third favourite.'