Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 09 Oktober 2010

Mendeskripsi Wajah

Deskripsi mungkin terlihat sepele tapi bagi penulis deskripsi sebenarnya merupakan unsur yang penting. Lewat deskripsi, si penulis bisa mewujudkan visualisasi dalam benaknya kepada para pembacanya sehingga menjadi jauh lebih nyata. Semakin hebat seorang penulis dalam mendeskripsikan sesuatu, maka semakin jelas pula visualisasi di benak si penulis itu ditangkap oleh para pembacanya sehingga terjalin ikatan tak nyata antara si penulis dengan pembacanya lewat apa yang ditulisnya itu. Karena itu pulalah, dalam usahaku untuk menjadi penulis sungguhan, aku kerap berlatih mendeskripsikan apa yang ada dalam benakku agar tergambar dengan jelas dalam benak orang-orang yang membaca tulisanku. Tapi berhubung aku masih merupakan penulis kacangan, deskripsiku tentu saja masih berantakan seperti sebuah lukisan abstrak tanpa nilai seni.

Aku sendiri paling suka mendeskripsikan wajah dibanding menggambarkan keadaan sebuah ruangan. Bagiku wajah lebih memiliki banyak nilai yang bisa dideskripsikan dibanding ruangan yang umumnya terdiri dari kursi atau mungkin juga ada seperangkat sofa. Lalu di sudut ruangan, misalnya, terdapat sebuah lemari buku yang penuh dengan beragam buku berderet dengan rapinya sementara di dekat jendela ada satu-dua pot tanaman berisi tanaman yang tak kuketahui dengan jelas namanya namun gerumbulan dedaunan hijau yang menggantung di batang-batang tanaman itu terlihat segar sehingga membuat ruangan yang tampak suram itu sedikit lebih ceria dan hidup. Tak jauh dari lemari buku itu terdapat sebuah meja kerja besar yang terbuat dari kayu mahoni, mungkin, karena aku tak pernah tahu apa bedanya kayu mahoni dan jati, dengan kursi besar empuk yang kelihatannya nyaman untuk bukan hanya diduduki tapi bila kita ketiduran di kursi itu. Di atas meja terdapat beberapa lembar kertas kerja yang tertumpuk rapi sementara di dekat tumpukan kertas itu ada beberapa bingkai foto yang mungkin merupakan foto si empunya meja kerja berkayu mahoni itu dan bingkai lainnya mungkin merupakan foto keluarganya.

Bagiku deskripsi bisa menjadi hal paling menarik dalam membuat sebuah tulisan contohnya untuk fiksi. Aku kerap suka bermain-main dengan deskripsi dan tak jarang akibat kesukaanku dengan deskripsi, tulisanku pun jadi melebar melebihi batas halaman yang seharusnya. Tapi dengan deskripsi terkadang aku berhasil melepaskan diri dari kebuntuan saat menulis meski tak jarang pula deskripsiku malah makin membuatku makin terjebak dalam writer's block

Namun seperti kata Arswendo Atmowiloto yang menyatakan bahwa Menulis itu Gampang, kuingat  beliau pernah menyarankan dalam bukunya itu untuk melepaskan kebuntuan cobalah untuk mendeskripsikan sesuatu contohnya wajah si tokoh dalam imajinasi si penulis. Saran yang kemudian sering kuturuti meski tak selalu menjaminku untuk bisa menghasilkan suatu tulisan yang lebih bermutu tapi aku paling suka mendeskripsikan wajah meski sebenarnya tipe wajah manusia tak terlalu beragam. 

Dari tulisan-tulisan fiktif yang kubaca kerap seseorang digambarkan memiliki wajah bulat telur atau oval atau tirus. Bahkan ada pula yang menggambarkan bentuk wajah kotak, meski aku tak terlalu paham seperti apa bentuk wajah kotak itu, apakah sekotak Spongebob Squarepants? Ada pula yang melukiskan wajah tokoh imajinatifnya berbentuk hati. Lagi-lagi aku tak paham seperti apa wajah berbentuk hati itu. Di dalam cerita-cerita penulis Inggris kerap kubaca deskripsi si penulis tentang tokohnya berwajah aristokrat. Meski aku tak tahu seperti apa wajah bergaya aristokrat itu, tapi aku selalu membayangkan Jacqueline Kennedy, istri dari Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy yang tewas terbunuh di Dallas, Texas pada 22 November 1963. Entah apakah gambaranku ini tepat, tapi aku menganggap Jackie memiliki wajah bergaya aristokrat seperti dalam bayanganku.

Meski bentuk wajah manusia tak terlalu beragam, tapi mungkin karena wajah merupakan identitas sebuah pribadi jadi deskripsi wajah merupakan hal paling menarik dalam sebuah tulisan terutama untuk kisah-kisah fiktif atau narasi, prosa, puisi, atau entah apalagi istilahnya. Wajah bagiku merupakan gambaran sempurna Sang Pencipta bagi ciptaan-Nya untuk membedakan antara satu pribadi dengan pribadi lainnya meski terkadang ada pula wajah yang memiliki kemiripan identik seperti pada anak kembar tapi toh tetap saja ada titik yang bisa membedakan wajah di antara kembar paling identik sekalipun.

Wajah merupakan anatomi paling unik. Tak ada satupun orang yang bisa melihat wajahnya sendiri selain dengan bercermin tapi justru wajah mendapatkan perhatian paling istimewa dari si empunya. Mungkin karena wajah merupakan identitas seseorang maka wajah mendapatkan apresiasi yang lebih dibanding bagian tubuh lainnya. Mungkin hal ini pula yang membuat para pengusaha kosmetik berlomba-lomba menciptakan berbagai macam kosmetik untuk mempercantik wajah si empunya. Mulai dari alis yang terletak di bagian atas penampang wajah hingga ke bibir yang menjadi bagian bawah wajah. Bahkan tak jarang, khususnya bagi kaum Hawa, tak peduli seberapapun mahalnya sebuah produk kosmetik, demi mempercantik identitasnya, maka para empunya wajah ini rela merogoh koceknya sedalam mungkin demi membuat tampilan identitasnya secantik dan semenarik mungkin. 

Mungkin karena perawatan demi memperlihatkan kecantikan ini pulalah yang membuat para penyelenggara acara kontes kecantikan memberikan jumlah hadiah yang sangat fantastis dibanding perlombaan menulis yang nilainya kerap kurasa tak sebanding dengan sakitnya kepala yang diderita seorang penulis saat mencoba menuangkan idenya. Bayangkan pula, tak jarang seorang penulis sampai merelakan waktu-waktu tidurnya demi menuangkan ide yang ada di benaknya sementara si ratu kecantikan (bukannya mengecilkan) hanya perlu menjaga wajahnya yang pastinya sudah cantik dari sana-nya dengan perawatan wajah yang harganya memang super fantastis. Atau mungkin pula karena kontes-kontes kecantikan jauh lebih memiliki nilai jual dibanding perlombaan-perlombaan menulis sehingga hadiah yang bisa ditawarkan dalam sayembara-sayembara menulis tak sefantastis hadiah yang diberikan oleh penyelenggara kontes-kontes kecantikan yang pastinya dengan mudahnya bisa menyedot sponsor-sponsor berdana besar.

Aku sendiri suka sekali mengamati beragam macam bentuk wajah orang dan kerap belajar mendeskripsikan wajah yang kusaksikan dalam benakku itu. Aku suka menggambarkan bentuk mata seseorang yang bisa kulukiskan dengan gambaran sebagai si mata sayu, sendu; si mata bulat atau si mata bintang yang di dalam matanya terlihat binar-binar cantik laksana pijaran bintang. Begitu banyak yang bisa dideskripsikan dari sebentuk wajah. Selain fisik yang menghiasi wajah ada satu hal penting yang lebih bernilai dan mampu memberi jiwa dalam sebuah tulisan agar terlihat hidup dan nyata. Ekspresi. Dan hanya wajahlah, satu-satunya bagian tubuh yang mampu memberikan gambaran ekspresi paling sempurna. Mungkin gerak tubuh bisa pula menggambarkan ekspresi seseorang tapi ekspresi wajah, bagiku, jauh lebih sempurna dibanding gerak tubuh.

Saat seseorang tersenyum, kita bisa menangkap kesan ramah dari ekspresi orang tersebut. Kehangatan yang terpancar dari wajahnya bisa kita rasakan. Dan saat melihat wajah murung seseorang, kita bisa memahami gejolak hati si empunya wajah yang mungkin tengah dilanda gelombang kesedihan hingga membuatnya terlihat murung. Karena itu bukanlah hal yang berlebihan bila ada ungkapan yang menyatakan bahwa wajah merupakan pancaran jiwa seseorang. 

Namun bukan berarti wajah tak bisa memperlihatkan warna abstrak. Ada kalanya wajah bisa menampilkan kepalsuan yang tak sesuai dengan jiwa si pemiliknya. Ada kalanya jiwa yang sedih tak seirama dengan warna wajah yang menampilkan senyum cerah demi menutupi rasa mengharu biru yang menyelimuti hati si empunya. Atau ada kalanya pula senyum yang terpasang tak sepenuhnya memperlihatkan kehangatan seperti yang seharusnya tercipta dari sebentuk senyum. Ada kalanya senyum yang tampak dari sebentuk wajah hanyalah merupakan senyum kepalsuan tak berjiwa meski kehangatan dari senyum itu jelas terlihat.

Wajah memang sejatinya merupakan pancaran jiwa seseorang meski kenyataannya wajah bisa pula menipu. Sebentuk wajah yang terlihat pemalu dan tampak penakut, ternyata bisa jadi memiliki jiwa yang penuh dengan kemarahan dan kebencian. Jiwa yang kemudian membawa si wajah penakut dan pemalu itu menjadi sosok psikopat berhati dingin yang mengerikan. Atau ada pula wajah yang tampak keras dan pemberani tapi nyatanya jiwanya tak seberani seperti apa yang tergambar dari wajahnya. Wajah bisa menipu. Tapi wajah tetap merupakan bagian paling menarik dari sebuah gambaran kehidupan bahkan dalam kisah fiktif sekalipun.

Membicarakan wajah aku jadi teringat sebuah artikel lama yang pernah kubaca mengenai film lawas yang dibintangi Joanne Woodward berjudul "Three Faces of Eve" yang diambil dari kisah nyata mengenai seorang wanita yang menderita gangguan kepribadian ganda. Si tokoh yang nama aslinya Chris Sizemore ini memiliki tiga kepribadian ganda yang paling utama yang oleh psikiaternya dinamai White Eve yang bersifat pendiam, pemalu, dan kelihatan saleh. Alter keduanya bernama Black Eve yang memiliki kebalikan sifat dari White Eve. Ia merupakan wanita sombong yang suka ribut, tak bertanggung jawab dan bahkan pernah mencekik anaknya sendiri. Alter yang ketiga bernama Jane merupakan perpaduan dari kedua alter (kepribadian) ini.

Di dalam film yang sukses mengantarkan Woodward meraih Oscar ini, ia berperan sebagai wanita dengan tiga kepribadian ganda itu. Aku sendiri belum pernah menonton film ini meski aku ingin sekali menontonnya tapi sayangnya aku belum berhasil menemukan film ini. Dalam film ini, Woodward harus bisa menunjukkan pribadi yang berbeda dalam satu pribadi sehingga dengan kerlingan mata saja, penonton bisa mengetahui pribadi mana yang tengah mengambil alih jiwa si empunya. Peran yang luar biasa tentu saja, tapi lewat kisah ini bisa terungkap betapa wajah memang merupakan ekspresi paling sempurna dari Sang Maha Pencipta tak heran wajah selalu menjadi inspirasi sepanjang jaman. 

2 komentar:

Grace Receiver mengatakan...

Karena wajah juga, lukisan Monalisa dengan senyumnya yang misterius bisa terus diapresiasi sampai melewati beberapa dekade.

alice in wonderland mengatakan...

hmm aku paling sulit untuk menulis deskripsi tentang apapun juga, padahal aku suka karya fiksi yang bisa menggambarkan sesuatu dengan detil... menurutku deskripsi yang membuat orang menikmati deskripsi itu keren banget^^