Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 07 Mei 2013

Kejahatan Kemanusiaan, Sebuah Repetisi


Benjamin Franklin, Presiden Amerika Serikat tewas ditembak pada 17 April 1790 di Philadelphia dalam usia 84 tahun. Ia dibunuh karena upayanya menghapuskan sistem perbudakan yang merupakan hal yang umum di abad ke-18. Berpuluh-puluh manusia dari daratan Afrika dibawa dengan kapal laut untuk dijadikan budak di Amerika dan Eropa. Namun bagi Franklin hal ini merupakan kejahatan kemanusiaan.

Pada 1789 ia menulis dan mempublikasikan beberapa essai yang menentang praktek perbudakan ini. Franklin bukan hanya memperjuangkan pembebasan perbudakan ini tapi ia juga mengupayakan agar budak-budak dari Afrika ini mendapatkan kembali hakikat mereka sebagai manusia dan memperjuangkan hak mereka untuk menjadi warga negara yang artinya mereka memiliki identitas yang semestinya sebagai manusia.

Usaha Franklin untuk melepaskan belenggu perbudakan melewati jalan panjang berliku. Pada 3 Februari 1790 petisi pembebasan perbudakan ditandatangani. Tapi petisi itu baru bisa dibawa ke senat pada 15 Februari 1790. Tindakan Franklin untuk memuliakan derajat kemanusiaan ini tentu saja mendapat tentangan dari banyak pihak. Hingga akhirnya keberanian Franklin berakhir di ujung bedil. Ia tewas tapi semangat dan nilai-nilai luhurnya terhadap kemanusiaan itu tetap menyala.

Seabad kemudian muncullah tokoh yang memiliki kemurnian pikiran dan jiwa seperti Franklin yang akhirnya bisa mewujudkan harapan Franklin. Ia adalah Abraham Lincoln. Terlahir dari keluarga miskin tapi Lincon bisa mendapat pendidikan yang baik hingga ia menjadi seorang ahli hukum dan pemimpin partai. Bukan itu saja pencapaiannya. Pada 1830 ia menjadi legislator negara bagian Illinois dan menjadi anggota Majelis Rendah atau House of Representatives selama tahun 1840an. Puncak karirnya adalah saat ia menjadi memenangkan nominasi sebagai Presiden dari Partai Repblik pada 1860. Namun karena ia sangat menentang perbudakan, isu yang amat sensitif dan ditentang masyarakat dari daerah Selatan yang pengusaha-pengusaha kapas di sana banyak mendapatkan keuntungan dengan sistem perbudakan dan merasa dirugikan bila perbudakan dihapuskan tak rela memberi dukungan pada Lincoln. Meski begitu Lincoln mendapat dukungan penuh dari daerah Utara.

Perjuangan Lincoln memperjuangkan kesetaraan bagi tiap manusia termaktub dalam Proklamasi Emansipasi - Emansipation Proclamation pada 1863 dan tak hanya sampai di situ, ia bahkan mendorong konstitusi Amerika Serikat untuk mengesahkan Amandemen ketiga belas yang akhirnya berhasil membebaskan perbudakan di seluruh Amerika Serikat pada Desember 1865. Tindakan Lincoln menghapuskan perbudakan ini berujung pada meletusnya Perang Sipil pada 12 April 1861. Perang saudara ini berlangsung selama empat tahun, tiga minggu dan enam hari. Pada 9 Mei 1865 tercapai deklarasi perdamaian antara kubu Utara (Union) yang merupakan kubu Lincoln dengan Selatan (Konfederasi) dengan kemenangan besar terjadi di pihak Utara atau pasukan Union. Dengan kemenangan kubu Lincoln maka upaya Lincoln memperjuangkan kesetaraan demi pemuliaan harkat dan martabat manusia sendiri pun berhasil. Perbudakan dihapuskan tapi pejuangan Lincoln demi nilai-nilai luhur kemanusiaan ini berakibat pada kematiannya. Abraham Lincoln tewas dibunuh John Wilkes Booth, seorang mantan aktor yang menjadi pendukung dan partisan kubu Konfederasi pada 14 April 1865.

Dua tokoh besar telah rela mengorbankan nyawanya demi kemuliaan nilai-nilai kemanusiaan tapi ironisnya masih ada saja ada pribadi yang lebih suka menghinakan harkat dan martabatnya sebagai manusia dengan merendahkan harkat dan manusia lainnya.

Sudah ratusan tahun berselang sejak perjuangan Franklin dan Lincoln tapi ternyata praktek perbudakan itu tak sepenuhnya terhapus. Jum'at kemarin hanya berselang dua hari dari peringatan Hari Buruh sedunia, muncul berita di Tangerang, Banten terjadi praktek perbudakan dan penganiayaan terhadap 34 orang buruh di pabrik pembuatan panci dan kuali aluminium.

Sebelum bekerja, mereka dijanjikan upah besar sesuai dengan aturan Upah Minimum Kota Tangerang sebesar 2,2 juta rupiah, tapi saat di sana dikatakan bahwa mereka hanya akan dibayar sebesar tujuh ratus ribu rupiah per bulan. Namun pada kenyataannya upah sebesar tujuh ratus ribu rupiah itu pun tak dibayarkan selama tujuh bulan. Bukan hanya tak digaji, bahkan para buruh tersebut kerap mengalami penyiksaan bila mereka melakukan kesalahan. 

Pabrik tersebut sudah beroperasi sejak tahun 2000 dan menurut kesaksian para buruh di sana, ada keterlibatan dari oknum aparatur negara seperti kepala desa atau lurah di sana, Brimob dan TNI. Dalam keterangan yang dihimpun oleh Komnas HAM dari tetangga sekitar pabrik juga menyatakan bahwa kerap terlihat keberataan oknum aparat keamanan negara. Namun hal ini dibantah keras oleh pihak kepolisian yang menyatakan tak ada fakta keterlibatan anggotanya dalam kasus perbudakan di Tangerang ini. Polisi saat ini masih mendalami keterlibatan lurah atau kepala desa dalam kasus ini. 

Berita perbudakan ini bukan hanya mengejutkan tapi juga merupakan tamparan bagi pemerintah republik ini. Betapa kemiskinan kerap kali dimanfaatkan segelintir pihak untuk menista nilai kemanusiaan dan memperlakukan manusia lain secara tak layak. Juga merupakan tamparan bagi pemerintah betapa bobroknya mental aparatur negara dan betapa nilai-nilai luhur ini begitu mudahnya dihancurkan atas nama keagungan nilai materi. Jika benar ada keterlibatan oknum aparat penegak hukum dan keamanan negera maka betapa ironisnya negeri hukum ini. Aparat penegak hukum dan keamanan yang seyogyanya mengayomi dan melindungi rakyat malah turut andil dalam praktek yang mendegradasi nilai moral dan kehormatan nilai-nilai kemanusiaan. 

Perbudakan di abad ke-21, abad yang dinilai sebagai abad teknologi. Abad yang mungkin juga bisa dimaknai puncak peradaban manusia menjelajah kemampuan berpikirnya menembus titik limit tertinggi untuk menguasai alam semesta. Tapi ironisnya ternyata di abad serba canggih ini masih ada pula yang tega menggadaikan nuraninya demi sebuah keangkuhan diri bertakhta di atas singgasana materi dengan mengorbankan nilai-nilai luhur kemanusiaan. 

Dalam prakteknya memang meski perbudakan sudah terhapuskan namun walau tak setelanjang aksi perbudakan di pabrik di Tangerang, masih ada aksi perbudakan dalam wajah berbeda, seperti upah murah dan minimnya jaminan keselamatan dan kesejahteraan pekerja. Dan semua ini bermuara pada masih banyaknya rakyat miskin di negeri ini. Kemiskinan seharusnya bukanlah suatu kehinaan dan tak seharusnya pula kemiskinan menjadi dalil bagi pihak manapun untuk menista nilai-nilai kemanusiaan. Sebaliknya kekayaan materi bukan pula suatu kemuliaan yang mentahbiskan pihak manapun merasa berhak untuk menginjak nilai-nilai luhur kemanusiaan dalam pemuliaannya di atas singgasana gelimang harta materi dengan mengoyak-ngoyak hakikat luhur manusia lain. Karena pada dasarnya manusia yang mencapai kemuliaan adalah dia yang dapat menghargai manusia lain dan tanpa itu manusia tersebut takkan dapat mencapai kemuliaannya sebagai sebuah karya agung Sang Pencipta.

Tidak ada komentar: