Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 11 Juni 2013

Review Novel : The Scarlet Letter - Nathaniel Hawthorne

Kisah Scarlett Letter ini menceritakan tentang seorang wanita bernama Hester Prynne yang dipenjara karena berzinah dan suatu hari di musim panas, ia bersama bayi hasil perzinahannya dipermalukan di atas sebuah panggung yang memang dimaksudkan masyarakat New England masa itu, untuk mempermalukan sang pendosa berat.

Hester Prynne merupakan imigran Inggris yang dikirim suaminya untuk pergi lebih dulu dan bergabung dengan komunitas Puritan di Boston. Sementara dua tahun berlalu, sang suami tak kunjung ada beritanya. Tiba-tiba Hester mengandung sehingga ia dihakimi atas dosa perzinahan. Ia diharuskan mengenakan kain dengan huruf A besar berwarna merah menyala di dadanya. Huruf A untuk Adultery atau Pezinah sehingga siapapun yang melihat sulaman huruf merah menyala di dadanya itu akan segera mengetahui alasan utamanya disebut sebagai si pendosa.

Di atas panggung hukuman ini Hester dengan huruf A merah menyala di dadanya tersebut dan disaksikan pandangan mencemooh, mencela, dan menghakimi dari penduduk sekitar diadili petinggi dan rohaniwan setempat yang menuntutnya untuk menyebutkan nama si pria yang telah turut berzinah dengannya. Namun Hester sambil menggendong bayinya tetap bertahan dan tak pernah mengungkapkan nama pria tersebut.

Walau mendapat tatapan cemooh dari masyarakat sekitar yang menontonnya, tapi Hester demi harga dirinya berusaha tetap tenang dan memperlihatkan keangkuhan yang anggun sebagai seorang narapidana. Namun ketenangannya nyaris runtuh saat matanya melihat sosok seorang pria yang amat dikenalnya di antara kerumunan penontonnya. Rupanya pria ini merupakan suaminya yang tak pernah ada kabar beritanya itu.

Ternyata suaminya selama ini mengalami musibah dalam perjalanannya untuk menyusul istrinya. Suaminya merupakan seorang pria tua yang memiliki cacat fisik ini adalah seorang ilmuwan yang selama perjalanannya ke New England ternyata mendapat tambahan ilmu pengobatan dari suku Indian.

Melihat istrinya berada di panggung hukuman karena dosa perzinahan sementara sang istri lebih rela menanggung aib dan noda itu seorang diri dengan bersikeras tak mau menyebutkan nama pria yang telah melakukan dosa besar itu bersamanya membuat sang suami bertekad menemukan si pria itu dan berniat membalas dendam pada mereka berdua dengan caranya sendiri.

Sang suami menemui Hester dan bayinya di penjara dengan menggunakan nama lain. Di sini ia memaksa Hester untuk tak pernah mengungkapkan pada siapapun bahwa ia adalah suaminya. Seperti Hester terus menyimpan nama pria misteriusnya, sang suami memaksa Hester harus pula menyimpan rahasia akan identitasnya. Ia tak memaksa Hester mengungkapkan jati diri si pria misteriusnya itu karena ia bertekad akan menemukannya sendiri. 

Roger Chillingworth, identitas baru mantan suaminya di kemudian hari menjadi mimpi buruk bagi Hester.

Roger akhirnya berhasil mengetahui pria yang telah berselingkuh dengan istrinya tersebut. Ia bersikap sebagai sahabat pria itu tapi sebenarnya ia terus menyiksa batin pria itu yang memang sudah tersiksa oleh rasa bersalah dan ketakberdayaannya untuk mengungkapkan dosanya.

Sementara Hester setelah keluar dari penjara hidup hanya berdua dengan putri kecilnya yang dinamainya Pearl di sebuah pondok yang letaknya terasing dari komunitas lainnya. Namun kemampuan menyulam Hester membuat Hester bisa diterima kembali dalam komunitas meski tak seutuhnya. Ketabahan Hester dalam menjalani hukuman dosanya yang sepertinya harus ditanggungnya seumur hidup, mengenakan sulaman huruf A merah menyala di dadanya, membawa noda dan aib-nya itu di setiap langkah kehidupannya, ternyata mulai mendapat simpati dari masyarakat sekitar yang semula begitu keras padanya.

Suatu kali Hester mengetahui bahwa petinggi di daerahnya berniat memisahkannya dengan anaknya. Mereka berpendapat bahwa Hester si pendosa ini takkan dapat memberikan pendidikan moral yang baik bagi putri kecilnya, Pearl.

Hester tak rela dipisahkan dengan putrinya yang kini sudah berumur tujuh tahun. Ia meminta bantuan Arthur Dimmesdale, pendeta muda yang sangat dipuja dan dihormati masyarakat di sana. Berkat kata-kata Pendeta Dimmesdale akhirnya putri Hester tak jadi direnggut darinya.

Arthur Dimmesdale sendiri memiliki luka dan beban sendiri. Sebagai rohaniwan muda, ia sangat dipuja masyarakat Puritan di sana, tapi rupanya Dimmesdale memiliki sebuah noda dosa yang mengikis kesehatan fisik dan mentalnya dari hari ke hari. Noda dosanya ini demikian menyiksanya hingga sebagai pertobatannya ia menyiksa dirinya sendiri dengan puasa, pantang bahkan mendera tubuhnya dengan cambuk. 

Menjelang akhir cerita, Hester menyusun rencana untuk melarikan diri dengan pria misteriusnya dan membangun kehidupan baru bersama putri kecil mereka, Pearl. Tapi rencana mereka ini diketahui Roger Chillingworth. 

Mereka akhirnya tak pernah bisa melarikan diri seperti rencana mereka, tapi pria misterius yang merupakan ayah biologis Pearl akhirnya mengakui dosanya di atas panggung hukuman. Rupanya pula meski ia bersikap pengecut dengan membiarkan Hester sambil mendekap bayi mereka berdiri di panggung kehinaan itu tujuh tahun sebelumnya, tapi ia sudah membayar upah dosanya jauh lebih berat. Seperti Hester yang mengenakan kain bersulam huruf A merah menyala di dadanya, ternyata pria ini pun mengenakan huruf yang sama di dadanya walau tersembunyi di balik jubahnya dan tak secara terang-terangan terlihat seperti milik Hester, namun huruf A di dada pria ini bukanlah terbuat dari kain seperti Hester, melainkan ia mematrinya di dalam daging di dadanya sendiri.

Dalam bab pembukaan novel ini, sang penulis Nathaniel Hawthorne mengisahkan asal usul kisah di balik novelnya ini yang bersetting kehidupan kaum Puritan New England yang memiliki aturan keras terhadap norma-norma dan menegaskan bahwa kisah dalam novelnya ini merupakan kisah nyata yang secara garis besar ditulisnya berdasarkan dari dokumen yang ditemukannya di Kantor Pabean tempatnya bekerja. 

Sang penulis ini sendiri sebenarnya merupakan keturunan salah satu keluarga Puritan tertua di New England, bahkan leluhurnya, William Hawthorne dan putranya, John merupakan tokoh terkemuka yang membantai kaum Quaker dan tukang sihir di akhir abad ke-17, tapi Hawthorne malah merasa tindakan-tindakan leluhurnya yang dianggap agung dan mulia ini justru membebaninya akan perasaan bersalah pada kelompok-kelompok yang telah dibantai leluhurnya tersebut, karenanya ia sangat mengkritisi kemunafikan kaum Puritan yang jelas tergambar dalam tulisannya ini.

Pada bab penutup, si penulis menyampaikan pesan moral dari novelnya ini adalah betapa pentingnya menjunjung nilai-nilai kejujuran. Karena akar dari segala tragedi dari tulisannya ini adalah ketidakjujuran yang menciptakan kesengsaraan para tokohnya.

Akan hal dosa para tokohnya tak sepenuhnya membuat pembaca berhak menghakimi karena penghakiman sejati adalah milik Tuhan dan hanya Tuhan pulalah yang berhak menghukum. Hal ini tergambar dari tokoh Roger Chillingworth yang merasa berhak menghukum dan menyiksa si pendosa tapi sebenarnya pula ia tak lebih baik dari si pendosa itu sendiri. Dan di mata surga, menurut kata-kata si penulis, kita semua adalah pendosa.

Hawthorne si penulis juga menyampaikan betapa tipisnya beda cinta dan benci dan bahkan menurutnya, mungkin kebencian dan cinta pada dasarnya sama.

Novel Scarlet Letter ini dianggap sebagai karya terbaik Nathaniel Hawthorne. Scarlet Letter bahkan ditahbiskan sebagai salah satu karya sastra klasik Amerika.

1 komentar:

Helvry Sinaga mengatakan...

review yang bagus...saya jadi ingin membacanya :)