Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 09 Juli 2013

Mesir di Antara Revolusi, Militer, Dan Ikhwanul Muslimin

Mesir merupakan salah satu negara dengan sejarah peradaban tertua di dunia, tapi sayangnya belakangan ini berita mengenai Mesir jauh dari segala kesan beradab.

Sejak tergulingnya Presiden Husni Mubarak tahun 2011 lalu, Mesir senantiasa bergejolak. Runtuhnya rezim Mubarak yang dianggap korup dan terpilihnya Muhammad Mursi sebagai Presiden menggantikan Mubarak, ternyata tak mampu meredam gejolak tapi justru makin membuat Mesir membara.

Revolusi dan militer agaknya merupakan dua kalimat ajaib yang senantiasa mengiringi perjalanan sejarah Mesir modern. Dan di antaranya ada Ikhwanul Muslimin yang juga memiliki peran besar dalam sejarah modern Mesir.

Dimulai pada musim semi 1919 Mesir atas prakarsa Saad Zaghlul, pemimpin gerakan nasionalis yang dikucilkan Inggris di Malta melakukan revolusi pertama yang berhasil mengusir Inggris dan memproklamirkan kemedekaannya pada 22 Januari 1922. Namun Inggris rupanya masih tetap memegang kendali dan menjadikan Mesir sebagai negara boneka. Mesir saat itu masih berupa monarki dengan Raja Farouk sebagai penguasanya.

Raja Farouk yang sewenang-wenang tanpa memikirkan kehidupan rakyatnya dengan gaya hidup mewahnya dan kesukaannya berbelanja ke Eropa makin dibenci rakyat Mesir saat seluruh kota Alexandria, ibukota lama Mesir, mengalami pemadaman lampu usai terjadinya pengeboman oleh tentara Italia pada masa Perang Dunia Kedua, seluruh ruangan di istana Raja Farouk justru terang benderang.

Rakyat Mesir kembali melakukan revolusi pada 1952. Rakyat turun ke jalan-jalan di Kairo dan sejumlah kota lain, kejadian yang dikenal dengan sebutan Black Saturday ini akhirnya berhasil menggulingkan Raja Farouk dari tampuk kekuasaannya lewat aksi kudeta militer pada 23 Juli 1952. Kudeta militer ini diprakarsai oleh sejumlah perwira muda Angkatan Darat dan dipimpin Letkol Gamal Abdul Nasser yang kelak menjadi Presiden Mesir yang paling terkenal. Di bawah kepemimpinan Nasser, Inggris dan Perancis yang menguasai Terusan Suez sampai berang tatkala Nasser menasionalisasi Terusan yang menghubungkan jalur perdagangan antara Asia dan Eropa dan membawa keuntungan besar bagi Mesir itu. Ia juga melakukan megaproyek Bendungan Aswan yang terkenal itu dengan bantuan Soviet.

Militer di masa pemerintahan Gamal Abdul Nasser sangat kuat sehingga menimbulkan kekecewaan di kubu Ikhwanul Muslimin yang sebenarnya bersama-sama militer menumbangkan rezim monarki dan membentuk Mesir menjadi negara republik.

Ikhwanul Muslimin (IM) yang sakit hati atas pengkhianatan militer ini melakukan upaya pembunuhan terhadap Presiden Gamal Abdul Nasser pada 1954 tapi upaya itu gagal yang mengakibatkan posisi militer makin kuat. Salah seorang tokoh IM, Sayid Qutub mati digantung, tindakan represi terhadap IM ini membuat pendukung IM melarikan diri dari Mesir dan tersebar ke berbagai negara teluk.

Kematian Nasser akibat penyakit jantung pada 28 September 1970 mengantarkan Anwar Sadat, yang masih merupakan tokoh militer, menjadi presiden menggantikan Nasser. Di periode ini, Ikhwanul Muslimin kembali berbaikan dengan militer. Untuk mengokohkan posisinya, Sadat meminta bantuan IM memukul loyalis Nasser. Tapi kebersamaan militer dan Ikhwanul Muslimin tak berlangsung lama.

Pada masa pemerintahan Sadat sempat terjadi gejolak demonstrasi akibat dinaikkannya harga roti, makanan pokok rakyat Mesir sehingga memicu terjadinya peristiwa yang dikenal dengan nama Intifada Roti 1977. Untuk mengendalilkan keadaan, militer pun kembali turun tangan.

Keretakan antara militer dengan Ikhwanul Muslimin terjadi setelah Sadat melakukan kunjungan ke Yerusalem pada 1977 dan menandatangi perjanjian damai dengan Israel pada 1979 di Camp David. Tindakan ini dianggap sebagai pengkhianatan oleh Ikhwanul Muslimin. Untuk membalas dendam atas pengkhianatan Sadat ini, pada 1981 seorang aktivis Islam menyusup ke tubuh militer dan membunuh Sadat.

Usai kematian Sadat, tokoh militer lain masih tetap menjadi pilihan sebagai penguasa Mesir dan Husni Mubarak yang terpilih. Sepanjang masa pemerintahan Mubarak sejak 1981-2011 hubungan militer dan Ikhwanul Muslimin tetap bagai api dalam sekam.

Kepemerintahan Mubarak yang dinilai korup membuat demonstrasi kembali terjadi. Ada dua kali dalam masa pemerintahan Mubarak ini, militer melakukan intervensi atas permintaan Mubarak. Yang pertama pada 1986 saat terjadi pemberontakan terhadap Mubarak dan yang kedua adalah pada 25 Januari 2011 saat terjadi demonstrasi besar-besaran. Kewalahan menghadapi demonstrasi massa besar-besaran ini, Mubarak meminta bantuan militer tapi rupanya militer tak sepenuhnya berniat memenuhi permintaan Mubarak karena justru pada akhirnya militer justru membantu para demonstran dengan menumbangkan rezim Mubarak.

Tumbangnya Mubarak dan terpilihnya Muhammad Mursi dari Ikhwanul Muslimin membawa faksi Islam terbesar di Mesir ini akhirnya memegang peranan. Tapi masa pemerintahan Mursi, gejolak demonstrasi tak kunjung padam walaupun Mursi mendapatkan 51, 7% suara yang menjadikan Mursi sebagai Presiden sipil Mesir yang pertama lewat sistem pemilihan yang demokratis. Tapi ternyata pihak oposisi menganggap ada kecurangan. Selain itu oposisi juga tak suka dengan tindakan Mursi yang dianggap terlalu mengistimewakan Ikhwanul Muslimin yang menguasai seluruh segi legislatif hingga menimbulkan ketidakpuasan di pihak oposisi.

Kepemimpinan Mursi makin panas saat ia mengeluarkan dekrit yang memberikan kekuasaan terpusat pada dirinya sendiri pada 22 November 2012 sehingga menimbulkan anggapan Mursi berniat menjadi diktator baru. Akibatnya demonstrasi besar kembali terjadi. Mursi akhirnya mencabut dekrit itu pada 8 Desember 2012 tapi itu pun rupanya bara yang sudah terlanjur ini tak mudah dipadamkan.

Pada ulangtahun pertama pasca revolusi tumbangnya rezim Mubarak, demo besar-besaran terjadi dan kali ini agendanya adalah menggulingkan Muhammad Mursi. Sebuah ironi. Mursi harus tumbang persis seperti yang terjadi pada pendahulunya, Husni Mubarak dalam sebuah aksi kudeta militer.

Kini Mesir usai tumbangnya Mursi pun masih tetap membara. Bentrokan terus terjadi. Ketegangan bahkan makin meningkat sejak Sabtu kemarin usai dikabarkan Mohammed ElBaradei sebagai Perdana Menteri. Keputusan yang langsung ditentang kelompok sayap kanan Mesir karena menganggap ElBaradei terlalu liberal.

ElBaradei adalah peraih nobel perdamaian dan pernah menjabat sebagai ketua Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Meski mendapat sorotan di dunia internasional, ElBaradei justru bukan tokoh populis di negerinya sendiri. ElBaradei sendiri ikut serta memimpin oposisi melawan diktator Husni Mubarak.

Kondisi Mesir yang tak kunjung kondusif dikhawatirkan akan menciptakan perang saudara di negeri piramida ini. Sejauh ini kekerasan di Mesir telah menewaskan 36 orang dan 1000 orang dikabarkan terluka.

Bahkan pagi tadi waktu Mesir dikabarkan seorang pemuda tewas setelah dilempar dari menara setinggi 20 kaki oleh kelompok pendukung Mursi. Kesalahannya: ia bersama dua temannya merayakan tersingkirnya Mursi dari kursi kepresidenan. Pemuda berusia 19 tahun bernama Hamada Badr bersama dua temannya ini dikejar kelompok pendukung Mursi hingga terpojok ke menara tersebut. Setelah ketiganya dilempar ke bawah, mereka masih pula dipukuli ketika mereka sudah rebah terbaring di lantai. Badr tewas sementara dua temannya luka-luka.

Selain masalah kekerasan, pelecehan seksual saat aksi demonstrasi pun menjadi catatan buram dalam sejarah Mesir yang masih terus berjuang menegakkan demokrasi sejatinya. Walau menentang intervensi militer yang telah mencederai proses demokrasi tapi opini dunia rupanya tak sepenuhnya menentang bulat-bulat aksi kudeta militer tersebut. Entah kapan Mesir akan berhenti bergolak? Rakyat Mesir sepertinya hanya bisa berharap pada kebesaran jiwa para tokoh nasionalnya baik di kubu militer, oposisi, maupun faksi dari partai-partai Islam pendukung Mursi untuk berbesar jiwa meredam nafsu pribadi mereka akan kekuasaan demi keselamatan rakyat mereka sendiri dan masa depan negeri mereka. Karena politik pada dasarnya adalah seni berkompromi. Kompromi dalam memutuskan antara mengumbar atau menekan nafsu angkara atas kekuasaan dan kedua-duanya memiliki andil besar terhadap kelompok terbesar yang bernama rakyat.

Tidak ada komentar: