Total Tayangan Laman

Translate

Kamis, 05 Desember 2013

Resensi Novel : Burung-Burung Rantau - Y.B. Mangunwijaya

Letnan Jenderal Wiranto adalah seorang purnawirawan berhati luhur sederhana, lahir dari keluarga sederhana yang awalnya berniat menjadi guru SD tapi perang membuat jalan hidupnya berbeda, ia malah menjadi tentara dan karirnya meroket dalam dunia ketentaraan, ia turut andil dalam membasmi pemberontakan saat republik muda ini belum lama berdiri. Karir pesat yang diraihnya, Letjen Wiranto selalu mengatakan bahwa sebenarnyalah ia hanya orang udik yang didorong ke atas hingga ia menduduki berbagai jabatan bergengsi, di antaranya sempat menjadi duta besar di London, Inggris, dan terakhir menjadi Komisaris Bank Pusat Negara. Sang Letjen mantan duta besar dan Komisaris Bank Pusat Negara ini memiliki seorang istri yang menurut putri bungsunya adalah wanita yang cantik tapi sayang-tidak-peka-humor, Serafin Yuniati, peranakan Jawa-Kawanua, Manado. Mereka berdua merupakan manusia konvensional, generasi kemerdekaan yang hidupnya sarat perjuangan dan revolusi dengan lima orang anak pascakemerdekaan yang kesemuanya saling bertentangan satu sama lain, menjelajah dunia dengan cara mereka masing-masing. Kelimanya merupakan burung-burung rantau yang tak lagi merasa terikat sebagai orang Indonesia, walau tak pernah menampik, dan bukannya tidak nasionalis, dalam tubuh mereka mengalir darah Indonesia dalam hal ini Jawa-Manado, namun mereka adalah manusia-manusia Pascaindonesia.

Putri pertama pasangan Letjen Wiranto dan Yuniati adalah Anggraini Primaningsih atau lebih akrab disapa Anggi, seorang wanita karir, pengusaha sukses yang serba mandiri, fleksibel dan lihai dalam membuat celah peluang demi kepentingannya pribadi, membuat bingung orangtuanya, tak tahu darimana bakat bisnisnya itu menurun. 

Anak kedua mereka sekaligus putra sulung adalah Wibowo Laksono atau Bowo, doktor fisika-nuklir, anak kesayangan Yuniati yang lebih suka menetap di Jenewa, Swiss, bekerja di laboratorium internasional CERN dan menikah dengan seorang wanita Yunani, Agatha Anaxopoulos.

Letkol Candra Sucipto, anak ketiga pasangan Wiranto-Yuniati adalah pilot pesawat tempur. Menurut Neti, adiknya, Candra jiwanya memang batu kasar seperti Bima Werkudara, tetapi pada dasarnya hatinya intan. Di awal-awal kisah Candra memang terlihat kasar dan jiwanya yang seorang pilot pesawat tempur nyata tergambar dengan semangat meledak-ledak ingin menghancurkan segala macam yang dibenci, seperti ketika adik bungsunya, Edi meninggal karena jerat narkoba. Saat mendapat kesempatan bergabung dalam sebuah aksi penyergapan ke jantung sindikat narkoba di Bogota, bersama pasukan anti narkoba Amerika, dalam percakapannya dengan ayahnya, Candra mengungkapkan gejolak emosinya, darahnya terasa mendidih, ungkapnya, saat teringat nasib malang Edi, adiknya yang meninggal akibat kekejaman para gembong-gembong narkoba itu yang tega menjerat hidup anak-anak muda labil macam Edi, adik bungsunya itu. 

Meski terkesan keras dan serba suka sembarang hantam, tapi Candra juga terlihat merupakan kakak yang bijak dan sangat menyayangi adik perempuannya, Marineti Dianwidhi, yang memiliki nama panggilan Neti. Setelah kematian Edi, praktis Neti menjadi anak bungsu pengganti Edi yang malang itu. Sebenarnya pula Neti yang paling terluka akibat kematian Edi, adik bungsunya. Terlebih mereka berdua sangat dekat sejak kecil. Dan sejak kecil pula, Edi sudah terlihat pribadinya paling lembut dan halus dibanding kakak-kakaknya. Neti bisa dibilang sudah bagai orangtua bagi Edi mengingat ayah dan ibu mereka yang sangat sibuk. Bahkan Neti seorang yang hadir di saat terakhir Edi menghembuskan nafas terakhirnya. Di atas pangkuan Neti, kakaknya seorang yang paling memahaminya, Edi malang itu menemui ajalnya.

Sebuah kesalahan fatal Wiranto adalah sebagai ayah ia kurang memahami kelembutan jiwa dan hati putra bungsunya yang malang itu kala di suatu hari Edi yang gemar menggambar membuat sebuah lukisan wajah Karl Marx, tokoh pencetus paham komunisme membuat Wiranto, ayahnya berang bukan main dan merobek-robek gambar coretan tangan putra bungsunya yang begitu terluka atas perbuatan ayahnya. 

Sebagai panglima perang, Wiranto begitu hebat gagah membasmi gerakan-gerakan pemberontakan di pedalaman nusantara yang menggerogoti perjalanan awal republik muda ini, tapi justru terhadap anak-anaknya sendiri Wiranto memang tak berdaya sama sekali. Tanpa disadarinya, saat merobek-robek lukisan wajah Karl Marx karya anak bungsunya itu, ia telah pula merobek-robek hati putra bungsunya yang hatinya kelewat lembut dan halus itu, hal yang baru terakhir disadarinya, tapi sayangnya terlambat, anaknya yang berjiwa labil itu mencetuskan pemberontakannya dalam jeratan narkoba yang memberinya dunia ilusi semu berujung pada kematiannya. Duka dan sesal yang harus ditanggung seluruh anggota keluarga Wiranto. 

Meski senantiasa dibayangi kenangan sendu akan Edi, tapi hidup menawarkan pula segala macam keindahan dalam kesedihan. Marineti Dianwidhi, anak keempat sekaligus putri bungsu keluarga Letjen Wiranto, sarjana antropolog dan tengah melanjutkan ke jenjang S2, yang merupakan tokoh sentral dari novel ini melalui sikap cerianya yang suka menggoda ibunya yang cantik-tapi-sayang-tidak-peka-humor itu. 

Neti, anak manja tapi juga sangat dewasa bertanggung jawab, memilih menjadi sosiawati, atas inisiatif pribadi, seorang diri menjadi guru anak-anak keluarga kumuh di bawah jembatan, walau ia akui aksi sosialnya itu tak sepenuhnya murni melainkan didasari rasa sakit hatinya akibat kematian adiknya yang malang tapi toh pada akhirnya Neti benar-benar menghayati sepenuhnya tindakan mulianya ini.

Kegiatan sosialnya ini pula yang membawa Neti berjumpa dengan Gandhi Krishnahatma, seorang pemuda asal Punjab, India dari kalangan Brahmana yang selalu terikat pada karma, dalam sebuah konferensi untuk pekerja sosial antar negara Asia di India. Nama Gandhi itu memang diberikan orangtuanya karena ia dilahirkan di hari ulangtahun Mahatma Gandhi dan tentunya dengan harapan ia memiliki kebijakan hati seperti Mahatma Gandhi. Nyatanya pula, meski sebagai seorang pemuda dari kalangan atas dengan kekayaan melimpah, tapi Krish, panggilan Neti untuk sahabatnya dari India ini, memiliki hati yang amat mulia seperti Mahatma Gandhi, tokoh perjuangan perdamaian India yang justru menemui ajalnya di tangan seorang penganut Hindu fanatik. Kelembutan hati pemuda Punjab inilah yang membuat Neti jatuh hati. Mereka kembali bertemu saat pesta pernikahan Bowo - Agatha di Yunani. Dalam perjalanan wisata ke beberapa tempat wisata terkenal di Yunani bersama Krish dan Candra, usai pernikahan Bowo-Agatha, perasaan Neti terhadap Gandhi Krishnahatma, ilmuwan mikro biologi yang tengah mempersiapkan diri untuk jadi doktor bioteknologi di Heidelberg ini pun makin dalam. Tapi kendalanya adalah suasana muram India yang senantiasa terikat aturan kasta dan karma, membuat perasaan Neti gamang. 

Di samping itu, walau tak memperlihatkan penolakan, Yuniati, ibunda Neti yang cantik tapi tidak peka humor itu, menghadapi dilema, di satu sisi, ia gembira karena ternyata toh putri bungsunya yang selalu berikrar tak ingin menikah ini, akhirnya bisa juga jatuh cinta, tapi di sisi lain, latar belakang pria yang telah mengharu-biru perasaan putrinya terlalu rumit. Krish, memang merupakan putra dari pengusaha media Punjab yang kaya raya, tapi Krish adalah seorang duda beranak satu, belum lagi India, negeri asalnya yang diikat oleh pembagian nasib bernama kasta dan karma, membuat hati masygul. Namun pada akhirnya semua kegelisahan dan kegamangan itu terjawab. Krish yang senantiasa terikat oleh karma, nyatanya tak bisa menolak desakan orangtuanya untuk menikahi seorang kerabatnya yang telah dijodohkannya dan disebut sebagai karmanya. Meski pedih, tapi toh Neti adalah Neti, gadis manja, putri bungsu Letjen Wiranto, hidupnya terus berjalan, dan ia justru bisa menemukan kekuatannya di tengah kawasan kumuh di kolong jembatan bersama anak-anak malang secara ekonomi tapi tak mampu memudarkan semangat, keceriaan masa kanak-kanak, dan wanita-wanita sederhana yang walau sikap dan perilakunya tak seelegan, seanggun ibu-ibu pejabat, tapi toh hati mereka sebenarnya murni indah. Mereka yang sebenarnya adalah juga burung-burung rantau kehidupan.

Catatan: Sebagai sebuah novel filsafat, tentu saja pembaca akan dibawa pada kedalaman kata yang mungkin akan membuat kening berkerut dalam, meski begitu, jalan ceritanya cukup ringan mengalir membawa para pembacanya hanyut pada kedalaman berpikir para tokohnya. Perpaduan berpikir antara kaum teknokrat yang digambarkan melalui tokoh Candra, si pilot pesawat tempur itu dan Bowo, abangnya yang profesor fisika nuklir dan astro-fisika dengan pandangan humanis Neti, si antropolog sekaligus sosiawati, juga tak kalah mengesankan, yang disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami sehingga mampu menggugah hati dan pikiran kita. Belum lagi pemilihan kata-kata khas Y.B. Mangunwijaya yang lugas membuat novel ini makin menarik seperti dalam halaman 55 dalam kenangan Neti akan percakapannya dengan almarhum adiknya, Edi:

"Kaukira manusia berbakat untuk melupakan masa lampau? Aku tidak mudah, mungkin orang lain bisa?" 

Percakapan antara Neti dengan ayahnya di makam Edi, membahas soal korban dan pelaku, dalam halaman 56:

"Anehnya, dalam manusia tokoh pelaku dan sosok korban sulit dibedakan satu dari yang lain. Dalam hal ini memang benar kau: kita bukan hanya boneka wayang yang digerak-gerakkan oleh Ki Dalang, tetapi pelaku otonom seratus persen tidak juga."

Simak juga kalimat menarik dalam halaman 87 mengenai pemikiran Neti yang membuat abangnya, Candra, si pilot pesawat tempur spontan mengingatkan Neti bahwa pemikirannya itu berbahaya dan salah-salah bisa menyebabkan perang saudara:

'Pernah dalam suatu anggar pendapat dengan Mas Candra sang pilot ulung itu, abangnya marah karena Neti mengungkapkan pengamatannya, bahwa rupa-rupanya ada keharusan faktual, bahkan mungkin prinsipial, pesawat hanya dapat lepas bila ada landasan, landasan yang stabil dari beton bertulang atau batu beraspal. Teori-teori yang bertebaran memang mengingkari, tetapi kenyataan menunjukkan betapa kemajuan masyarakat kalangan atas hanya dapat lepas meninggi ke udara apabila ada lempeng-lempeng masyarakat lain yang terpaksa mau diinjak roda-roda pesawat.'

"Sejarah bukan monopoli satu-dua bangsa."

"Kematian diganti kehidupan yang tumbuh dalam benih dunia lain, seperti manusia pun demikian"

"Berpolitik adalah merealisasikan diri selaku manusia yang bertanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga maupun masyarakat."

Pemaparan mengenai manusia yang pada dasarnya tak memiliki apa-apa selain akal budinya, seperti yang disampaikan dalam halaman 238 pun tak kalah menarik menggugah daya pikir:

"... betapa manusia adalah satu-satunya makhluk dunia yang serba kurang. Menghadapi burung dia tidak bisa terbang. Menghadapi ikan dia tidak bisa menang berenang dalam air. Berpacu dengan kuda dia kalah. Melawan badak dia lemah; kemampuan tubuh untuk dapat menembus tanah nyaris nol bila disuruh melawan tikus atau ular. Tetapi manusia punya otak, dan inilah yang dimanfaatkan sampai sel dan sarafnya setuntas mungkin,...."

Tidak ada komentar: