Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 12 Agustus 2014

Wisata Keliling Museum : Oleh-oleh Dari Museum Sejarah Jakarta

Liburan selalu menjadi saat-saat yang amat dinantikan bukan hanya oleh pelajar tapi juga para pekerja. Rutinitas dan tumpukan tugas kadang membuat pikiran dan tubuh terasa penat. Berlibur jadi saat bagi tubuh dan pikiran mendapatkan pelepasan dari segala kepenatan itu dengan harapan setelah berlibur dengan pikiran dan tubuh yang terasa lebih segar memberi energi baru untuk kembali memulai aktivitas sehari-hari. Selain itu liburan juga merupakan saat istimewa bagi orang tua bersama anak-anaknya, mengingat sehari-hari orang tua kerap disibukkan dengan pekerjaannya sehingga tak terlalu banyak waktu yang dimilikinya untuk bersama anak-anaknya. Itu pula sebabnya, berlibur dewasa ini menjadi salah satu agenda wajib sampai-sampai disiapkan budget khusus untuk berlibur. 

Di Jakarta sendiri ada banyak tempat wisata yang bisa dijadikan pilihan sebagai tempat mengisi liburan. Umumnya mall yang memang banyak tersebar di Jakarta menjadi pilihan sebagai tempat berlibur tapi kerap kali keluar masuk mall menjadi hal yang membosankan. Nah, bila bosan berlibur di mall atau tempat-tempat liburan pada umumnya, kenapa tidak mencoba berlibur ke museum? 

Dewasa ini berlibur ke museum sepertinya sudah menjadi budaya yang amat menggembirakan. Berlibur ke museum bukan hanya memberikan nilai rekreasi tetapi juga ada nilai-nilai edukasi budaya dan sejarah yang bisa digunakan bagi orang-orang tua untuk memberikan nilai-nilai pendidikan bagi putra-putrinya. 

Beberapa waktu lalu, aku bersama sahabat-sahabatku menyempatkan diri mengisi liburan kami dengan mengunjungi Museum Sejarah Jakarta atau dikenal juga dengan nama Museum Fatahillah dan Museum Gajah alias Museum Nasional. Sebenarnya kami berniat mengunjungi beberapa museum tapi sayangnya kami baru bisa menyempatkan diri ke dua museum ini saja. Untuk yang pertama akan kubahas adalah Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah di kawasan wisata kota tua Jakarta. 

Pertama kali aku berkunjung ke Museum Jakarta adalah saat aku masih sekolah jadi rasanya sudah lama sekali. Kesan pertamaku saat itu, museum adalah tempat yang sangat suram dan sunyi dengan hanya sedikit pengunjung. Tapi saat aku kembali berkunjung ke Museum Fatahillah saat liburan kemarin, terus terang aku cukup terkejut karena ternyata pengunjungnya kini lumayan banyak. Antrian untuk masuk bahkan lumayan panjang. Hal ini bisa dimaklumi, karena lantai 1 dan lantai 2 museum dibatasi hanya 500 orang dalam waktu bersamaan sehingga antrian di luar jadi lumayan panjang. Untung saat kami datang, meski hari sudah cukup terang tapi belum terlalu terik, jadi meski harus mengantri lama tak sampai membuat kami kepanasan apalagi dehidrasi. Halaman museum pun kini menjadi jauh lebih luas. Sayangnya di halaman museum yang luas ini banyak diisi oleh pedagang-pedagang kaki lima, padahal kalau saja halaman luas museum ini tak terlalu banyak diokupasi para PKL, pengunjung museum pasti bisa lebih leluasa menikmati kunjungan ke museum ini. 

Untuk masuk ke dalam museum, harga tiketnya tak terlalu mahal. Anak-anak hanya perlu membayar dua ribu rupiah saja, mahasiswa hanya perlu membayar tiga ribu rupiah sedangkan untuk umum (dewasa) dikenai tiket seharga lima ribu rupiah. Bagi wisatawan asing dikenai biaya masuk sebesar sepuluh ribu rupiah. Harga yang sangat bersahabat. Berlibur tanpa harus membuat kantong bolong 

Setelah masuk ke dalam museum, setiap pengunjung diminta mengganti alas kakinya dengan sandal yang disiapkan oleh pihak museum. Kebijakan ini memang terbilang baru. Sejak bulan Maret 2014 setiap pengunjung yang memasuki bangunan utama Museum Sejarah Jakarta diharuskan mengenakan alas kaki yang telah disediakan oleh pihak museum. Hanya saja menurut pendapat pribadiku, alas kaki yang disediakan pihak museum memang kurang terasa nyaman. Selain kotor, alas kaki yang kudapat terasa sedikit lengket sehingga terus terang, aku pribadi jadi tak terlalu menikmati acara jalan-jalan keliling Museum Sejarah Jakarta ini. 

Museum Sejarah Jakarta yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat ini di masa penjajahan Belanda merupakan balai kota yang disebut Staadhuis. Pada 10 Maret 1974 gedung balaikota peninggalan Belanda ini diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta oleh Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta kala itu. Luas gedung ini sekitar lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung ini dibangun pada 1620 oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen. Gambar foto sang Gubernur Jenderal ini bisa kita jumpai di dalam museum ini. Salah seorang sahabatku yang mengira semua orang Belanda biasanya memiliki nama tengah van, sama sekali tak mengira jika sang Gubernur Jenderal ini merupakan orang Belanda, karena nama Coen di belakangnya itu, malah seorang sahabatku ini mengira ia adalah salah seorang Tionghoa 

Masuk ke dalam museum, di bagian kiri pintu masuk terdapat sebuah lukisan besar karya pelukis Indonesia S. Sudjojono yang mengisahkan penyerangan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung ke Batavia. 

Di ruangan sebelahnya terdapat replika Gereja Belanda lama yang di masa lalu terletak di samping gedung balai kota, kini Gereja Belanda lama ini dijadikan sebagai gedung Museum Wayang yang terletak tepat di samping Gedung Museum Sejarah Jakarta. Arsitektur Gedung Gereja Belanda lama ini cukup menarik. Dengan kubah bulat ala gedung-gedung gereja Ortodoks yang biasanya terdapat di negara-negara Eropa Timur seperti Rusia sedangkan Belanda merupakan bagian dari Eropa Barat. 

Di ruangan selanjutnya terdapat pula maket-maket kota Batavia dan alur perdagangan Batavia dengan pedagang-pedagang Portugis. Ada pula keterangan mengenai sejarah Meriam Sijagur yang merupakan salah satu ikon dari Museum Sejarah Jakarta ini. Di mana dituliskan bahwa Meriam Sijagur dibuat dan dikirimkan dari Makao atas pesanan Portugis. Sijagur sendirimemiliki bentuk yang cukup unik (kalau tak mau dibilang nyeleneh) yang mana bentuknya ini memiliki makna pelambang kesuburan yang dalam bahasa Portugis berarti mano in piga. Meriam Sijagur memiliki berat 3,5 ton dengan panjang lebih dari 3 meter. 

Di ruangan lainnya terdapat patung besar Pangeran Jayakarta atau Fatahillah yang merebut Sunda Kelapa dan menamainya Jayakarta, cikal bakal dari sejarah terbentuknya kota Jakarta. 

Beranjak sedikit dari sana terdapat batu-batu prasasti di antaranya Prasasti Tugu. Di bagian lain ruangan terdapat keterangan mengenai Prasasti-prasasti bersejarah seperti Prasasti Kebon Kopi dan Prasasti Ciareuteun. 

Di lantai dua yang di masa lalu mungkin merupakan gedung pengadilan di Batavia. Di lantai ini lebih banyak dipamerkan keramik-keramik dari Jepang dan Tiongkok. Tapi sebagian besar yang dipamerkan di lantai ini adalah barang-barang kayu seperti meja, tempat tidur, dan lemari dari jaman Belanda. Yang paling menarik perhatian adalah sebuah meja bulat besar dengan diameter 2,25 meter tanpa sambungan. Ada pula sebuah cermin besar dengan bingkai kayu yang sangat kokoh. Seorang sahabatku, Selvia Lusman mengajak berfoto di dekat cermin ini, tapi aku dan sahabatku lainnya yang sama-sama penakut tak menyetujui usul ini. Karena terus terang saja, cermin itu memang terlihat seperti cermin-cermin dalam film horor. Sementara menurut Selvia, cermin besar itu seperti cermin yang ada di film Harry Potter And The Sorcerer's Stone

Di ruangan ini banyak terdapat furnitur yang sangat menarik. Di antaranya ada sebuah lemari kaca besar. Saat mengambil foto di dekat lemari kaca ini, sahabatku, Selvia Lusman, bahkan dengan gaya bak fotografer kawakan, berhasil mengambil foto seolah-olah kami tengah berada di depan sebuah gedung pencakar langit dan bukannya di depan sebuah lemari kaca besar  

Pada bagian samping lemari kaca besar ini terdapat sebuah ukiran kepala, entah apakah itu kepala dari tokoh mitologi atau bukan, tapi ukiran tersebut juga cukup menarik. Sebagian besar furnitur peninggalan Belanda ini memang banyak dihiasi oleh ukiran-ukiran tokoh mitologi Yunani. Di antaranya sebuah partisi yang terbuat dari logam, ada yang dihiasi ukiran seperti medusa, tokoh mitologi Yunani yang terkenal dengan rambut-rambut ularnya dan siapapun yang melihatnya akan berubah menjadi batu. Sebuah partisi logam lainnya juga terdapat ukiran seperti seorang serdadu Romawi. 

Puas berkeliling di lantai dua, kami kembali ke lantai bawah menuju pintu keluar yang mengarah ke halaman belakang museum. Di bagian bawah dekat pintu keluar ini terdapat deretan lukisan-lukisan yang menggambarkan keadaan Batavia atau Jakarta tempo dulu. Di antaranya ada lukisan taman pemakaman yang terdapat di daerah Tanah Abang, kawasan ini kemudian menjadi Museum Taman Prasasti yang memajang nisan-nisan bekas pemakaman orang-orang Belanda dan beberapa tokoh tanah air, di antaranya nisan istri dari Raffles selain itu ada juga tokoh dari tanah air seperti Soe Hok Gie. Rencananya kami juga ingin mengunjungi museum tersebut tapi sayang, waktu kami tak cukup. Semoga saja di lain waktu kami bisa mengunjungi museum ini. 

Di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta ada sebuah patung Hermes, salah satu tokoh mitologi Yunani. Dulunya patung ini menghiasi jembatan di kawasan Harmoni, tapi suatu hari patung ini sempat hilang dicuri. 

Setelah selesai berkeliling museum dan puas berfoto-foto ria, tanpa terasa rupanya sudah tengah hari, perut kami sudah keroncongan, maka kami pun memutuskan mencari tempat makan untuk memuaskan cacing-cacing di perut kami. Perjalanan mengunjungi Museum Sejarah Jakarta pun berakhir. Selanjutnya aku akan membahas perjalanan kami menuju Museum Nasional alias Museum Gajah 

Tidak ada komentar: