Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 05 Desember 2015

Resensi Novel : Sorgum Merah

Resensi Novel : Sorgum Merah

Penulis : Mo Yan
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Tebal : 548 halaman
ISBN : 978-602-290-006-1

Novel ini berkisah mengenai kehidupan sebuah keluarga dalam tiga generasi. Melalui tokoh "aku" yang hingga akhir tak terkuak identitas lengkapnya, mengalirlah kisah perjalanan hidup kakek dan ayahnya di jaman perang dengan bumbu kehidupan asmara mereka.

Sang ayah yang bernama Douguan masih berumur lima belas tahun saat mengikuti Komandan Yu Zhan'ao, ayah angkatnya yang belakangan terungkap bahwa ia adalah ayah kandungnya, berperang gerilya melawan penjajahan Jepang di Gaomi Timur.

Komandan Yu di masa-masa sebelum perang bisa dibilang merupakan bajingan kelas wahid. Ayahnya meninggal saat masih kecil. Sepeninggal ayahnya, ibunya memiliki hubungan dengan seorang pendeta Buddha. Ia tak menyukai pendeta Buddha tersebut. Suatu malam ia membunuh kekasih ibunya tersebut. Saat mengetahui kekasihnya tewas, ibu Yu Zhan'ao bunuh diri sehingga Yu menjadi yatim piatu. Ia pergi meninggalkan kampungnya dan bekerja serabutan menjadi tukang angkut peti mati dan tandu pengantin.

Saat menjadi tukang angkut tandu pengantin inilah ia bertemu dengan Dai Fenglian, gadis cantik yang akan dinikahkan dengan Shan Bianlang, anak keluarga kaya pengusaha arak yang menderita lepra. Tanpa sengaja Zhan'ao memegang kaki mungil Fenglian yang diikat, sebuah tradisi "kejam" di masa lalu yang mengharuskan anak perempuan diikat kakinya agar kakinya mungil dan cantik. Kejadian tak sengaja ini ternyata menerbitkan perasaan saling menyukai di antara keduanya.

Demi membebaskan wanita yang dicintainya dari tragedi hidup bersama penderita kusta, Zhan'ao membunuh Shan Bianlang dan ayahnya, Shan Tingxiu. Saat itu Fenglian tengah berada di rumah orangtuanya. Namun tetap saja ia menjadi tersangka utama atas kematian suami dan mertuanya. Dalam pengadilan yang kacau balau, akhirnya Fenglian lolos dari jerat hukum, kecurigaan dialihkan ke Leher Berbintik, ketua bandit yang sangat ditakuti. Di kemudian hari Zhan'ao membunuh Leher Berbintik.

Kematian suami dan mertuanya membuat Fenglian kini menjadi pemilik penyulingan arak keluarga Shan. Dalam menjalankan usaha ini ia dibantu Paman Arhat yang sudah lama bekerja untuk keluarga Shan. Saat tentara Jepang datang ke Gaomi Timur Laut, Paman Arhat yang setia ini tewas dikuliti tentara Jepang.

Hubungan Fenglian dan Zhan'ao mengalami kerikil saat Zhan'ao selingkuh dengan Gairah, gadis pelayan Fenglian. Zhan'ao memilih pergi dan tinggal bersama Gairah di desa tetangga yang bernama Celah Air Garam. Fenglian pun membalas perbuatan Zhan'ao. Ia menjalin hubungan dengan Mata Hitam, pemimpin genk, Kelompok Besi. Mendengar hal ini, Zhan'ao pergi menemui Mata Hitam dan bertarung, hasilnya keduanya seimbang. Fenglian yang terharu memilih kembali bersama Zhan'ao namun menolak tinggal satu atap dengan Gairah, madunya.

Kedamaian di Gaomi Timur Laut terusik saat tentara Jepang datang. Sebelumnya, tentara Jepang terlebih dahulu membantai penduduk di Celah Air Garam. Dalam pembantaian ini, Gairah yang tengah mengandung bersama putrinya menjadi korban kekejaman tentara Jepang. Zhan'ao saat itu tengah berada di rumah Fenglian.

Zhan'ao kemudian membentuk pasukan gerilya-nya melawan Jepang. Douguan, putranya dengan Fenglian yang masih belia turut mendampingi ayahnya berperang gerilya. Dalam sebuah pertempuran yang sangat heroik, pasukan Zhan'ao semuanya tewas. Hanya ia dan Douguan yang selamat. Dalam pertempuran itu, Fenglian turut tewas saat tengah mengantarkan makanan untuk pasukan Zhan'ao. Kematian Fenglian ini menimbulkan kesedihan mendalam bagi Zhan'ao. Hubungannya dengan Fenglian yang belakangan dihiasi perselisihan akibat perselingkuhan keduanya seolah sirna. Menatap jazad Fenglian dengan senyum tersungging di wajahnya yang cantik dan muda membuat Zhan'ao tersadar, Fenglian adalah cinta sejatinya.

Perang makin keras. Zhan'ao bukan hanya berperang dengan Jepang, tapi belakangan ia juga terlibat perang dengan pasukan lainnya. Dalam masa sulit ini ada kisah di mana Douguan dan pasukan kecilnya harus bertempur melawan kumpulan anjing yang memakan bangkai nyawa manusia yang tewas dalam pertempuran. Saat itu Zhan'ao tengah sakit keras. Nyawa Douguan sendiri nyaris berakhir saat bertempur dengan salah satu anjing terpintar dalam kumpulan itu.

Dalam masa-masa perang ini Douguan menemukan wanita yang nantinya akan menjadi jodohnya. Namun perang pula yang sempat memisahkan keduanya. Tak dikisahkan bagaimana akhirnya keduanya bertemu kembali, namun pembaca bisa diyakini mereka akhirnya bersatu lewat tutur tokoh "aku" yang merupakan anak dari mereka.

Meski di bagian-bagian akhir novel ini berisi beberapa kisah-kisah mitos yang terasa aneh, namun secara keseluruhan cerita dalam novel ini sangat menawan. Dengan gaya tutur yang menarik, kita takkan bosan untuk membaca hingga akhir. Penokohan yang kuat dan diksi yang menarik menjadi salah satu daya pikat dari novel ini. Salah satu yang juga istimewa dalam novel ini, menurutku, adalah kemampuan Mo Yan mengisahkan keindahan dan keluhuran cinta sama fasihnya dengan kekejaman dan kerakusan manusia akan nafsu dan kuasa yang tak kekal. Beberapa kalimat bisa sangat puitis seperti di halaman 453 "matahari terbenam menerangi awan sore dan menyinari tanah hitam yang merintih...", tapi di bagian lain, Mo Yan bisa saja menggunakan kalimat yang sedikit vulgar namun tetap memiliki keindahan kata yang memikat. Di bagian akhir, Mo Yan menyisipkan kisah tragis dalam perang di manapun, pahlawan perang yang pada akhirnya harus mati di tangan bangsanya sendiri. Lewat kisah seorang tua bernama Geng Tua, yang mengalami delapan belas tusukan oleh tentara Jepang, namun ia tetap hidup secara ajaib, setelah perang usai, ia malah terabaikan. Hidup lewat belas kasih pemerintah. Namun suatu hari jatah ransum-nya tiba-tiba saja terhenti. Saat ia menuntut hak-nya ke gedung komite, ia diabaikan hingga akhirnya mati kedinginan di depan gedung komite.

Tidak ada komentar: