Total Tayangan Laman

Translate

Senin, 01 Februari 2010

Banteng Muda Torro Rosso

Scuderia Torro Rosso - Ferrari : 8 poin

Pic taken from here

Berbeda dengan musim 2008, di mana Torro Rosso untuk pertama kalinya berhasil menjuarai balapan, tahun 2009 tandukan banteng muda ini tak mampu menggetarkan jagad F1. Waktu itu, lewat Sebastian Vettel, Torro Rosso, yang merupakan bekas tim Minardi, tim gurem yang tak pernah meraih kemenangan sepanjang keikutsertaannya di F1, tapi di GP Italia 2008, Torro Rosso berhasil memenangi GP pertama mereka dan membuat publik mulai tertarik pada si banteng merah ini.

Musim 2009, setelah Sebastian Vettel naik kelas, dan membalap untuk 'kakak' Torro Rosso, Red Bull, bisa dibilang keberadaan Torro Rosso tak lagi sespektakuler musim 2008 itu meski tim ini diperkuat oleh Sebastian Bourdais, si jawara Champcar.

Di pertengahan musim, Bourdais yang tak memperlihatkan hasil mengesankan akhirnya digantikan oleh Jaime Alguersuari. Tapi penampilan Alguersuari ternyata tak cukup mengesankan juga yang mampu membuat Torro Rosso berkilat.

Secara keseluruhan, penampilan Torro Rosso memang tak bisa dikatakan bagus. Hal ini berbeda sekali dengan penampilan 'kakak' mereka yang berhasil meraih posisi sebagai runner up, sangat kontras dengan posisi mereka sebagai juru kunci dan hanya mampu meraih 8 poin dari 18 seri balapan.

23. Sebastian Buemi : 6 poin

Pic taken from here

Sebagai pengganti Vettel, penampilan Buemi memang tak terlalu sebrilian Vettel tapi perolehan yang dicapainya hingga akhir musim tak terlalu buruk juga. Tiga kali ia berhasil lolos hingga Q3. Pada balapan pembuka di Melbourne, ia berhasil meraih dua poin pertama setelah Trulli terkena penalti. Di GP China ia berhasil meraih P 10 di sesi kualifikasi dan di race ia sukses naik 2 peringkat sehingga layak mendapatkan satu poin yang tersisa.

Di Suzuka, Jepang, ia kembali berhasil lolos Q3 dan memulai start di posisi ke-10 tapi tak seperti di GP China, di Jepang ia harus mengakhiri balapannya lebih cepat karena mobilnya mengalami masalah. Namun keberuntungannya kembali bersinar di GP Brazil di mana ia lagi-lagi sukses lolos ke Q3 dah berhasil meraih posisi start di P 6 namun sayangnya ia tak berhasil mempertahankan posisinya, melorot 1 posisi akhirnya ia hanya berhasil finish di P7, tambahan dua poin untuknya.

Di GP penutup pun ia sukses meraih satu poin terakhir untuk musim 2009 menggenapkan perolehan poin keseluruhannya menjadi 6 poin dan membuatnya berada di peringkat ke-16 klasemen pembalap. Hasil yang menjanjikan bagi Buemi untuk menyongsong musim 2010.

24. Sebastian Bourdais : 2 poin

Pic taken from here

Sebelum masuk ke F1, nama Bourdais sebagai jawara Champ car sangat menjanjikan. Tak dinyana, karir F1 Bourdais malah hanya seumur jagung.

Seperti musim 2008, penampilan Bourdais di 2009 juga tak terlalu mengesankan. Tiga kali ia gagal finish yaitu di GP Spanyol, Inggris, dan Jerman. Meski kegagalannya di GP Inggris dan Jerman lebih disebabkan karena masalah teknik. di Turki, ia terlihat kepayahan dengan mobilnya sehingga ia menjadi yang paling buncit melibas garis finish. Sementara di Malaysia, ia tak berhasil memanfaatkan kesempatan ketika rekan setimnya mengalami kesulitan. Di negeri Melayu itu, ia hanya mampu finish di urutan ke-10, di belakang Felipe Massa.

Di Australia ia cukup beruntung. Seperti rekan setimnya, Bourdais pun turut diuntungkan dengan penalti yang diterima Trulli sehingga posisi finishnya dinaikkan menjadi ke-8, ia pun sukses meraih satu poin pertamanya di race pembuka. Keberuntungan kembali menaunginya di Monaco. Lagi-lagi ia sukses merebut satu poin sehingga ketika ia didepak oleh timnya dan posisinya digantikan Jaime Alguersuari, ia telah berhasil mengumpulkan dua poin dari 9 kali penampilannya di musim 2009.

25. Jaime Alguersuari : 0 poin

Pic taken from here

Menggantikan Sebastian Bourdais di GP Hungaria, Alguersuari hanya mampu meraih tempat paling buncit di start namun di race ia berhasil finish di depan rekan setimnya. Di GP Eropa, ia cukup beruntung karena posisi juru kunci diemban pembalap Ferrari, Luca Badoer yang menggantikan Massa. Di Hungaria, ia berhasil finish di depan rekan setimnya dan di Valencia, ia juga beruntung, meski ia tak sukses menangguk poin, tapi ia berhasil membawa mobilnya hingga ke garis finish sementara rekan setimnya harus lebih cepat mengakhiri balapan setelah mengalami masalah dengan remnya.

Di Belgia, keberuntungan Alguersuari mulai memudar. Di awal lap ia sudah harus terlibat kecelakaan sehingga balapannya pun harus segera berakhir. Kesialannya kembali terulang di GP Italia dan Jepang. Di Jepang, lagi-lagi ia mengalami kecelakaan dan di Italia, balapannya harus berakhir karena masalah gearbox. Hingga akhir musim, Alguersuari tak berhasil meraih satu poin pun.



1 komentar:

MATA HATI mengatakan...

kereeeen postingnya sob