Total Tayangan Laman

Translate

Senin, 01 Maret 2010

The Williams Boyz

Dua pebalap Williams ini terbilang istimewa tapi penuh ironi. Yang satu merupakan pebalap berbakat yang tak diragukan kemampuannya tapi ia membutuhkan hampir seratus GP untuk meraih kemenangan. Sementara yang satunya merupakan putra juara dunia F1 dua kali yang sangat terkenal tapi ia membutuhkan waktu yang lama untuk meraih kepercayaan tim-tim F1 untuk memberikannya kesempatan membalap sehingga ia harus memulai balapannya di usia tiga puluh tahun lebih. Kedua-duanya mengalami musim yang cemerlang bersama Williams hingga sukses meraih gelar dunia tapi kemudian keduanya merasa kecewa dengan F1 sehingga memutuskan untuk mundur.

7. Nigel Mansel
pic taken from this site

Pebalap yang bernama lengkap Nigel Ernest James Mansell ini lahir pada 8 Agustus 1953 di Worcestershire, Inggris. Sepanjang karir F1nya Nigel Mansell mencatat banyak prestasi gemilang tapi ia baru meraih kemenangan GP pertamanya di Brands Hatch, Inggris pada balapan ke-72 nya. Kepiawaian Mansell dalam membalap memang tak diragukan namun masalahnya ia selalu mengalami nasib buruk sehingga membutuhkan waktu yang amat lama untuk meraih kemenangan GP nya, hal inilah yang membuat kemampuan Mansell sempat dipertanyakan, tapi dominasinya di 1992 membuat semua pihak menyadari kehebatan The Lion ini.
Mansell memulai debut F1 nya bersama Lotus di Osterreichring yang menjadi tuan rumah GP Austria 1980. Hubungan Mansell dan Colin Chapman, sang bos Lotus bisa dibilang istimewa sehingga Mansell sangat mengagumi Chapman yang telah banyak membina banyak juara dunia F1 di antaranya. Chapman bagi Mansell merupakan bos tim terbaiknya karenanya ia merasa sangat kehilangan ketika Chapman meninggal pada tahun 1982. "The bottom dropped out of my world. Part of me died with him. I had lost a member of my family," ujar Mansell mengungkapkan rasa kehilangannya terhadap salah satu tokoh besar F1 ini. 

Sebenarnya saat melakukan tes untuk Lotus, Mansell tengah menderita sakit akibat kecelakaan antara dirinya dengan Andrea de Cesaris saat membalap di Formula 3 yang membuatnya harus masuk rumah sakit dan menyebabkan tulang belakangnya patah. Tapi Mansell yang telah berkali-kali mengalami kecelakaan saat balapan ini, meski harus menahan sakitnya mampu membuat catatan waktu yang mengesankan di sesi tesnya tersebut sehingga membuat Chapman terkesan. 

Namun kegagalan pada tunggangannya membuat Nige harus mengakhiri lomba. Ia kembali gagal memperlihatkan bakatnya pada balapan F1 ketiganya di Imola akibat kecelakaan. Dan di akhir musim demi memperlihatkan totalitasnya terhadap tim, Nige rela memberikan mobilnya untuk Mario Andretti yang merupakan pebalap utama di timnya agar Andretti dapat bersaing di klasemen pebalap dan loyalitas Mansell terhadap tim ini terbayarkan setelah ia mendapatkan kursi utama yang ditinggalkan Andretti saat di penghujung musim pebalap Amerika ini memutuskan untuk meninggalkan Lotus dan bergabung bersama Alfa-Romeo.

Namun saat musim balap 1981, Mansell terpaksa kehilangan debutnya bersama Lotus 88 di hadapan publiknya sendiri karena Lotus 88, karya inovatif Chapman gagal lulus uji FIA sehingga Mansell tak bisa balapan di depan publiknya sendiri di GP Inggris. Banyak yang mengatakan bahwa gagalnya Lotus 88 lebih disebabkan karena masalah politis yang dilakukan oleh para lawan Chapman untuk menghalangi inovasi terbaru Chapman sehingga tak bisa diturunkan.

Mansell baru berhasil meraih pole pertamanya di atas Lotus 95T di Dallas pada 1984 tapi kebersamaan Mansell bersama Lotus harus berakhir karena hubungan Mansell dengan Peter Warr, pengganti Chapman tak terlalu harmonis. Berbeda dengan Chapman, sang pendiri Lotus, Peter Warr, team manager Lotus yang menggantikan kepemimpinan Chapman sama sekali tak bisa menghargai Mansell sebagai seorang pebalap. Bahakn dengan sisinsya ia mengatakan bahwa Mansell takkan pernah bisa memenangkan Grand Prix, "He'll never win a Grand Prix as long as I have a hole in my arse," yakin Warr. Entah bagaimana rupa Warr ketika melihat kemenangan pertama Mansell bersama Williams di GP Belgia 1985.

Sebenarnya bukan karena Mansell tak cukup berbakat hingga belum berhasil meraih kemenangannya meski telah menjalani hampir seratus GP tapi nasib apes yang dialami Mansell membuat pebalap yang gaya membalapnya dibilang berani ini selalu saja gagal meraih kemenangan padahal kemenangan itu sudah di depan matanya seperti yang terjadi di GP Monaco 1984. Mansell sudah hampir meraih kemenangan terlebih secara mengejutkan ia berhasil menyalip Alain Prost di tengah trek yang basah dan memimpin balapan tapi sayangnya tak lama kemudian ia harus retired setelah ia kehilangan kendali atas mobilnya. 

Sebelumnya di Dallas, saat ia berhasil meraih pole pertamanya, pebalap yang memiliki dua labrador bernama Kizzy dan Abbey ini memiliki kesempatan besar untuk meraih kemenangan GP pertamanya kalau saja Lotusnya tak mengalami kegagalan transmisi di lap terakhir sehingga ia harus mendorong mobilnya agar bisa melintasi garis finish. Ia hanya bisa bersyukur karena masih bisa mendapatkan satu poin setelah finish di tempat keenam, tapi pastinya hasil itu sangat mengecewakan baginya. 

Meski Mansell sepertinya bukanlah pebalap yang disukai Dewi Fortuna tapi Frank Williams sangat terkesan padanya sehingga bos Williams tersebut langsung memberinya tempat ketika Mansell didepak dari Lotus dan digantikan Ayrton Senna.

Bersama Williams akhirnya Mansell berhasil meraih kemenangan pertamanya dan yang membuat kemenangannya ini makin terasa istimewa karena ia berhasil meraihnya di hadapan publiknya sendiri saat gelaran GP Eropa di Brands Hatch. Ia kembali meraih kemenangan di GP South Africa sehingga kepercayaan diri Mansell makin tinggi. 

Namun di musim 1986, Nelson Piquet masuk menggantikan Keke Rosberg. Meski Mansell telah berada di Williams lebih dulu tapi Piquet yang menjadi pebalap nomor satu Williams. Hubungan Mansell dengan rekan barunya ini tak sebaik dengan team mate-nya di musim sebelumnya. Terlebih The Brazilian yang satu ini secara terang-terangan menggambarkan Mansell sebagai, "an uneducated blockhead." Bukan itu saja, Piquet bahkan juga mengkritik Roseanne, istri Mansell. Namun Mansell tak mempedulikan mind game ala Piquet ini untuk menjatuhkan kepercayaan dirinya, sebaliknya Mansell malah sukses meraih lima kemenangan bahakn di Jerez ia tampil menekan Ayrton Senna dan berhasil finish kedua di belakang pebalap Brazil tersebut dengan selisih 0.014 detik, salah satu selisih waktu terdekat dalam sejarah Formula One.

Memasuki GP Australia di Adelaide persaingan merebut gelar dunia makin ketat. Tiga kandidat yaitu Mansell, Piquet dan Prost sama-sama memiliki peluang untuk meraih predikat juara dunia 1986. Mansell sendiri hanya butuh finish di tempat ketiga untuk memastikan gelar dunia jatuh ke tangannya tapi keberuntungan ternyata kembali enggan berpihak padanya. Menjelang 19 lap terakhir ban belakan Mansell pecah sehingga ia harus puas menjadi juara dunia di belakang Prost yang sukses meraih gelar dunia keduanya dari total empat gelar yang berhasil diraihnya sebelum ia pensiun pada akhir 1993. Namun meski Mansell gagal meraih gelar dunia, ternyata usahanya meraih simpati publik sehingga ia terpilih menjadi Personality of the Year versi BBC Sports.

Keapesan Mansell sehubungan dengan benda hitam bundar dari karet tersebut ternyata bukanlah keapesan satu-satunya. Beberapa kali Mansell harus mengalami nasib sial karena masalah ban. Setelah kesempatannya meraih gelar dunia lenyap di GP Australia 1986 akibat ban belakangnya meletus, tahun berikutnya Mansell lagi-lagi mengalami nasib apes sehubungan dengan bannya. Kali ini di GP Hungaria. Saat itu baut rodanya lepas sehingga akhirnya rekan setimnya, Piquet yang melenggang meraih kemenangan. Padahal di musim 1987 itu Mansell sudah hampir berhasil meraih gelar dengan mengantungi enam kemenangan, salah satunya adalah kemenangannya yang fenomenal di Silverstone ketika ia berhasil melumat rekan setimnya itu dengan mobil cadangan yang telah diseting sesuai dengan gaya pebalap Brazil tersebut.

Tapi impian Mansell untuk meraih gelar dunia kembali kandas ketika ia mengalami kecelakaan parah pada sesi kualifikasi GP Jepang yang untuk pertama kalinya diadakan di Suzuka. Kecelakaan tersebut membuat Mansell harus berbaring di rumah sakit dan tak bisa mengikuti balapan di GP terakhir di Adelaide, Australia. Sementara ia tengah berbaring di rumah sakit di Jepang, rekan setimnya, Piquet melenggang meraih gelar dunianya yang ketiga dan Mansell hanya bisa menatap kejadian itu lewat layar televisi dengan kekesalan yang menggumpal di dadanya.

Tahun 1988, Piquet meninggalkan Williams dan digantikan oleh Riccardo Patresse yang telah menggantikan Mansell di GP Australia. Dengan kepergian Piquet mestinya Mansell bisa memiliki peluang lebih besar untuk meraih gelar dunia tapi sayangnya, Honda ikut pergi meninggalkan Williams dan terbang ke McLaren sehingga penampilan Williams musim itu tidak terlalu mengesankan. Dengan masalah reabilitas yang mendera, Mansell hanya mampu menyelesaikan dua dari 14 balapan pada musim itu. 

Musim berikutnya, Mansell hijrah ke Ferrari. Mansell merupakan pebalap terakhir yang direkrut oleh Enzo Ferrari, bos sekaligus pendiri tim kuda jingkrak itu karena tak lama setelah itu, Ferrari meninggal dunia. 

Ada kejadian lucu yang terjadi pada Mansell di musim 1989 ini yaitu insiden di pit saat GP Portugal. Saat itu entah karena tak fokus atau karena Mansell terlalu serius menghadapi lomba, ia menghentikan mobilnya jauh dari garari di timnya. Mansell kemudian menyadari bahwa ia telah memarkir mobilnya di tempat yang salah tapi Mansell kemudian melakukan kesalahan fatal pertamanya. Menyadari ia telah salah parkir, Mansell pun memundurkan mobilnya (dan itu merupakan pelanggaran) sementara kru pit Ferrari tengah berlari menghampirinya. Karena kesalahannya memundurkan mobil di pit itu akhirnya ia terkena diskualifikasi. Keluar dari pit Mansell melakukan kesalahan fatal keduanya. Sekeluarnya dari pit, entah ia tak melihat atau tidak, yang jelas Mansell dianggap telah mengabaikan bendera hitam di garis start, kesalahannya makin bertambah setelah ia menabrak Senna yang tengah memimpin balapan. Akibatnya ia didiskualifikasi tidak boleh mengikuti balapan berikutnya di Jerez, Spanyol karena mengabaikan bendera hitam dan menabrak Senna.

Dan ternyata kekonyolan Mansell di pit itu bukanlah yang terakhir. Pada tahun 1991 masih di tempat yang sama yaitu di Estoril saat GP Portugal, Mansell lagi-lagi didiskualifikasi akibat kecerobohan yang dilakukan di pit tapi kali ini bersama tim Williams. Meski kecerobohan kali ini lebih disebabkan oleh kru Williams tapi tetap saja Mansell yang harus menanggungnya.

Waktu itu, kru Williams berniat mempersingkat waktu di pit agar Mansell bisa kembali ke trek dengan waktu yang tak terlalu lama terbuang di pit. Tapi karena ketergesa-gesaan kru Williams itu akibatnya malah fatal. Ban Mansell pun tak terpasang dengan baik sehingga ketika mobilnya baru saja berlalu, roda belakang kanan Williams-nya Mansell lepas dan menggelinding di tengah pit. Bodohnya, kru Williams segera menghampiri Mansell dan memasang ban yang lepas tersebut padahal ada aturan tak boleh mengutak-atik mobil di tempat yang tak seharusnya. Akibatnya lagi-lagi Mansell didiskualifikasi akibat kecerobohan kru Williams tersebut.

Saat bersama Ferrari inilah Mansell mendapat julukan Il Leone atau The Lion dari tifosi Ferrari karena gaya balap Mansell yang berani. Mansell memang merupakan pebalap yang terkesan tak takut mati. Gaya balapnya yang kelewat berani ini bahkan sempat membuat berang Mario Andretti saat mereka bertarung di CART sehingga Mario mengatakan bahwa Mansell merupakan rekan setimnya yang paling buruk dan aksi Mansell tersebut membuat Mario merasa kehilangan respeknya terhadap Mansell sebagai seorang pebalap. Masih sehubungan dengan gaya balapnya yang berani itu, Mansell sempat membuat Patrick Berger ngeper dan memakinya di GP Mexico1990 ketika ia menyalip mantan rekan setimnya di Maranello itu. "Kamu memang gila," maki Berger pada Mansell tapi aksi Mansell ini malah mendapat sambutan meriah.

Pada tahun 1990 ini Mansell berpasangan dengan Alain Prost yang telah merebut gelar dunianya pada detik-detik terakhir di GP Australia 1986. Dan ternyata Alain Prost pula yang telah membuatnya harus kehilangan kesempatan meraih gelar dunia keduanya di Williams. Meski hubungan Mansell dengan Prost tak seburuk seperti hubungannya dengan Piquet tapi Prost telah mengakibatkan Mansell dua kali merasa ingin mundur dari F1. Kehadiran Prost di Ferrari membuat Mansell merasa mendapat perlakuan tak adil dari Ferrari. Tim memberikan mobil yang lebih baik untuk Prost sehingga Mansell harus retired di depan publiknya sendiri di GP Inggris. Kekecewaan inilah yang membuat Mansell mengumumkan ingin mundur dari F1 tapi Williams yang merasa Mansell memiliki kualitas untuk menjadi juara dunia segera menarik Nige kemblai ke tim tersebut. Perkiraan Williams ternyata tak salah. 

Di musim keduanya bersama Williams, Mansell tampil luar biasa dan mendominasi musim 1992 tersebut dengan menjuarai 9 balapan dari 16 race dan sukses mencatat rekor 14 pole dalam satu musim, rekor yang belum terpecahkan hingga kini. Pada musim 1992 itu, FW 14B Mansell hanya sekali mengalami gagal mesin sementara rekan setimnya, Riccardo Patrese hanya memenangi dua race dan salah satu kemenangannya yaitu di GP Jepang, merupakan persembahan Mansell untuk rekan setimnya. Saat itu Mansell berhasil meraih pole dan tampil memimpin tapi ia sengaja melambatkan mobilnya demi membiarkan Patrese meraih kemenangan. Persis seperti yang dilakukan oleh Michael Schumacher yang memberikan kemenangan untuk Rubens Barrichello di GP USA 2004 sebagai tanda terima kasih mereka kepada rekan setimnya yang telah membantu dan mendukung mereka meraih gelar dunia.

Mansell sendiri sebenarnya sudah berniat membantu rekan setimnya itu meraih meraih kemenangan di Monza setelah ia berhasil meraih gelar dunianya di GP Hungaria. Sayangnya di Monza mereka berdua mengalami masalah dengan pompa hidrolik. Di Estoril, Portugal, Mansell juga ingin memberikan kemenangan bagi rekannya apalagi ia kembali berhasil meraih pole tapi sayangnya Patrese mengalami kecelakaan saat memperebutkan tempat ke-2 dengan Gerhard Berger yang membela McLaren-Honda.

Frank Williams, sang bos sendiri mengakui bahwa Mansell merupakan pebalap Williams yang paling sukses. Menurut Sir Frank, Mansell memiliki talenta yang jauh lebih tinggi dari yang dikira orang dan Mansell juga merupakan pebalap yang memiliki komitmen yang sangat tinggi dan sangat tangguh. Ketika meraih gelar dunianya pada 1992, Mansell sebenarnya tengah menderita patah kaki akibat kecelakaan yang dialaminya di musim sebelumnya tapi ia menyembunyikan hal itu karena takut kehilangan license-nya. Namun apa yang dilakukan Williams menjelang akhir musim 1992 membuat Mansell kecewa sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri. Williams saat itu dikabarkan telah mengontrak Prost dan tengah mendekati Senna pula. Tentu saja berita ini menyakitkan hati Mansell.

Pada 1993 Prost ternyata memang menjadi pebalap Williams bahkan berhasil meraih gelar dunia keempat sekaligus gelar dunia terakhirnya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pensiun dari F1 di akhir musim itu setelah mendengar Williams telah mengontrak Senna untuk tahun 1994. Ironis kan? Mansell pergi dari F1 karena Prost yang telah membuatnya merasa diperlakukan tak adil oleh Ferrari. Dan Prost memilih pensiun dari F1 karena Senna yang telah membuat hidupnya merana saat menjadi rekan setim Senna di McLaren.

Banyak yang menyayangkan keputusan Mansell tersebut dan berusaha menahannya tapi Mansell yang terluka telah kehilangan minatnya di F1. Bujukan Frank dan Bernie Ecclestone yang berusaha menahannya di F1 tak digubrisnya. Bahkan ia juga tak menanggapi tawaran Ron Dennis untuk bergabung dengan tim Silver Arrows tersebut. 

Kepergian Mansell ini bahkan membuat tabloid besar di Inggris, The Sun melancarkan aksi kampanye "Save Our Nige" terhadap Williams yang telah membiarkan Mansell pergi.

Kekecewaan dan sakit hati Mansell di F1 makin bertambah ketika di GP Australia jelas-jelas Senna sengaja menyenggol mobilnya sehingga ia tersingkir dari GP tapi semua seolah tak memperhatikan kelakukan The Brazilian itu sehingga Senna bebas dari hukuman, bahkan Frank sang bos timnya pun tak memprotes ulah Senna tersebut. Hal itu makin meneguhkan hati Mansell untuk meninggalkan F1 dan membalap di CART dan bergabung bersama tim Newman/Haas. Uniknya, Mansell yang bergabung dengan tim tersebut setelah meninggalkan F1 menggantikan tempat Michael Andretti yang meninggalkan CART untuk bergabung dengan tim McLaren F1.

Pada debutnya di ajang balap Amerika ini, Mansell langsung menorehkan rekor dengan menjadi rookie pertama yagn berhasil meraih pole dan memenangi balap pertamanya di CART. Bahkan pada debutnya ini, Mansell juga menjadi juara dunia CART, prestasi yang mengantarkan Mansell menerima berbagai penghargaan, salah satunya adalah Gold Medal dari Royal Automobile Club dan 1993 ESPY Award for Best Driver.

Setelah membalap selama dua musim di CART, Mansell kembali menderu di F1pada 1994 berkat campur tangan Bernie Ecclestone karena menganggap tak adanya juara dunia F1 yang bertarung setelah kematian Senna di Imola merupakan preseden buruk untuk F1 sehingga membujuk Mansell agar kembali membalap di F1 bersama Williams di GP Perancis menggantikan test driver Williams, David Coulthard. Tapi Mansell yang digaji lebih besar dari Damon Hill, team leader Williams saat itu, hanya membalap beberapa seri saja bersama tim asuhan Sir Frank ini dan Mansell absen secara mendadak di GP USA dan 4 race lainnya pada akhir 1994.

Pada tahun 1995 Mansell bergabung dengan McLaren karena meski kabarnya hubungan Ron Dennis dengan Mansell tak cukup baik, bahkan mereka tidak pernah saling bertatapan sehingga media memperkirakan hubungan keduanya takkan berlangsung lama. Tapi berhubung sponsor dari tim Silver Arrows ini menginginkan juara dunia dan saat itu ada dua juara dunia F1 yang berlaga yaitu Mansell dan Michael Schumacher yang baru meraih gelar dunia pertamanya bersama Benetton pada 1994. Tapi berhubung Schumi telah memiliki kontrak dengan Benetton untuk 1995 bahkan telah dipastikan akan bergabung dengan Ferrari pada 1996 membuat pilihan hanya tinggal pada Mansell saja. 

Sejak awal kebersamaan Mansell dengan McLaren ternyata tak cukup mulus. Karena tak muat di MP4/10-nya sehingga ia tak bisa memulai debutnya bersama McLaren. Mansell baru bisa turun di Imola. Tapi pada balapan keduanya bersama McLaren, Mansell merasa frustasi dengan tunggangannya. Merasa McLaren takkan mampu tampil kompetitif membuat Mansell memilih keluar dari tim tersebut setelah hanya membalap di dua race saja.

Setelah keluar dari F1 untuk kedua kalinya, Mansell sempat membalap di British Touring Car Championship dan saat ini dua putra Mansell, Leo dan Greg juga terjun ke dunia balap mengikuti jejaknya. Bahkan tahun lalu Greg sempat mencatat fastest lap pada sesi test di Silverstone bersama Renault untuk ajang World Series.

Debut               : GP Australia 1980
Start                 : 187
Juara Dunia      : 1992 (bersama Williams)
Poin                 : 482
Menang            : 31
Pole                 : 32
Fastest Lap      : 30


8. Damon Hill

pic taken from this site

Damon Graham Devereux Hill yang lahir pada 17 September 1960 di Hampstead, London ini merupakan satu-satunya putra juara dunia F1 yang berhasil meraih gelar dunia seperti sang ayah. Namun nama besar sang ayah tak serta merta membuat perjalanan karir putra juara dunia dua kali, Graham dan Bette Hill ini berjalan mulus. Seperti ayahnya yang terlambat memulai karir balapnya begitu pula dengan Damon. Bahkan meski menyandang nama besar sang ayah, Damon kesulitan mendapatkan kepercayaan dari tim-tim F1 sehingga ia baru memulai karir F1nya di usia tiga puluh dua. Hidup Damon Hill sendiri bisa dibilang tak seindah nama besar ayahnya.

Setelah ayahnya meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang pada 1975, kehidupan Damon yang beru berumur 15 tahun kala itu berubah drastis. Damon harus bekerja sebagai buruh dan kurir untuk membiayai sekolahnya sendiri. 

Karir balapnya dimulai di balapan motor pada umur 21 tahun. Namun ia merupakan putra juara dunia F1 dua kali tak membuatnya bisa dengan mudah mendapatkan kursi balap. Hill harus membiayai sendiri balapannya dengan gajinya sebagai buruh. Sedihnya, meski ia berhsil menjuarai 350cc clubmans's championship di Brands Hatch tapi ia dianggap tak memiliki potensi. Ibunya, Bette Hill yang menyadari bahayanya balapan motor, menganjurkan Hill untuk mengambil kursus balap mobil di Winfield Racing School di Perancis pada 1953. Dari sinilah Hill mulai mengikuti jejak sang ayah membalap di ajang single seater.

Meski Hill menjadi test driver Williams tapi Hill memulai debut balap F1nya bersama tim Brabham di GP Inggris 1982 menggantikan Giovanna Amati. Namun tim Brabham saat itu tengah mengalami kesulitan finansial sehingga tak bisa tampil kompetitif. Di GP pertamanya ini Hill menjadi yang terakhir menyentuh garis finish sementara Mansell yang tampil dominan musim itu meraih kemenangan bersama Williams.

Usai GP Hungaria, tim Brabham akhirnya harus menyerah dan tak bisa menyelesaikan seluruh balapan di musim itu.

Setelah tim Brabham ambruk dan Mansell memutuskan meninggalkan F1 pada akhir musim 1992, Hill pun diangkat menjadi pebalap reguler tim asuhan Sir Frank tersebut mendampingi Alain Prost pada 1993. Hebatnya untuk meraih tempatnya ini, Hill telah menyingkirkan pebalap-pebalap yang lebih kawakan darinya seperti Martin Brundle dan Mika Hakkinen. 

Tapi lucunya akibat kepergian Mansell di akhir tahun 1992 maka gelar dunia pun dibawanya pergi yang berarti membawa pergi juga urutan mobil no satu yang mestinya melekat pada mobil sang juara dunia sehingga Williams, tempat dimana Mansell meraih gelar dunianya mendapatkan nomor mobil nol (0) menggantikan nomor satu yang dibawa Mansell. Berhubung Prost yang menggantikan Mansell merupakan juara dunia tiga kali sehingga tak mungkin menggunakan nomor mobil dengan angka nol maka nomor zero (0) ini pun akhirnya diambil Damon. 

Uniknya, Damon harus dua kali memakai nomor zero alias nol ini. Tahun 1994, mobil Damon kembali harus berlabel dengan angka nol karena kali ini Alain Prost yang berhasil meraih gelar dunia di akhir musim 1993 mengikuti jejak Mansell, pergi meninggalkan F1. Dan Ayrton Senna yang menggantikan Prost sebagai juara dunia tiga kali tak mungkin menggunakan angka nol tersebut sehingga lagi-lagi Damon harus mengalah dan membiarkan mobilnya berlabel angka nol alias zero. 

Pada medio tahun 90-an ini, F1 memasuki babak baru terlebih setelah kematian Senna, juara dunia terakhir sebelum Mansell bergabung kembali bersama Williams, praktis tak ada juara dunia F1 sehingga perebutan mahkota juara dunia menjadi semakin menarik bagi pebalap-pebalap muda seperti Damon Hill dan Michael Schumacher. Dan memang masa pertengahan tahun 90-an itu banyak diwarnai dengan pertempuran antara Schumi dan Hill. 

Sebelum kematian Senna di Imola, Schumi telah tampil dominan dengan menjuarai tiga GP pembuka musim. Namun kematian Senna membuat Hill tampil cemerlang dan menjadi penantang serius Schumi dalam memperebutkan gelar. Persaingan makin sengit menjelang seri penutup di Adelaide, Australia setelah Hill berhasil meraih kemenangan di GP Jepang sehingga perolehan poinnya hanya selisih satu poin dari Schumi yang memuncaki klasemen pebalap. Schumi akhirnya berhasil meraih gelar dunia pertamanya pada tahun itu setelah insiden kecelakaan yang kontroversial antara dirinya dengan Hill. 

Patrick Head, partner Frank Williams yakin 100% bahwa kecelakaan itu memang disengaja Schumi sehingga ia bisa meraih gelar dunia pertamanya tapi komentator kawakan F1, Murray Walker yang juga merupakan pendukung sekaligus sahabat Hill menganggap bahwa kejadian itu merupakan kecelakaan yang tak disengaja oleh Schumi. Meski tak puas, tim Williams sendiri tak bisa menuntut gelar pertama Schumi tersebut karena mereka tengah bergulat dengan masalah hukum sehubungan kematian Senna di Imola pada awal musim itu. Hill sendiri secara terang-terangan menyalahkan Schumi dan menganggap kecelakaan tersebut memang disengaja oleh Schumi. 

Meski Hill gagal meraih gelar dunianya, namun insiden itu sepertinya membuat Hill dinobatkan sebagai Personality of The Year dari BBC Sport.

Namun insiden Adelaide itu sepertinya bukan satu-satunya insiden kontroversial yang terjadi antara Hill dan Schumi. Di Silverstone 1994, Schumi menyalip Damon saat warm-up lap dan mengabaikan bendera hitam. Tahun berikutnya gantian Damon yang beraksi terlalu berlebihan di GP Silverstone yang mengakibatkan mereka berdua keluar lintasan.

Di GP Belgia 1995, Schumi mendapat penalti karena telah memblok jalan Hill namun di Monza,  gantian Hill yang terkena penalti karena aksinya menabrak 'pantat' mobil Schumi sehingga mengakibatkan mereka berdua keluar lintasan. Pada tahun ini, Schumi kembali sukses meraih gelar dunia keduanya dengan dua balapan tersisa sementara Benetton, tempat di mana Schumi bernaung berhasil meraih gelar konstruktor. Kegagalan Hill menahan laju Schumi ini membuat para petinggi Williams tak puas dengan performanya sehingga berkembang berita bahwa tim memutuskan untuk menggantikan Hill dengan Heinz-Harald Frentzen. Tapi karena Hill masih memiliki kontrak satu tahun lagi dengan Williams membuat posisi Hill di tim tersebut masih aman hingga satu musim lagi.

Musim 1996 bisa dibilang merupakan musim terbaik Hill. Dengan hijrahnya Schumi ke Ferrari pada 1996, penampilan Benetton tak sesangar dua tahun sebelumnya sementara Ferrari tengah berkutat membangun The Winning Team. Namun Williams tampil dan kedua mobilnya merupakan yang terkencang di Formula One musim itu. Pada tahun 1996 ini, Hill mendapatkan team mate baru, Jacques Villeneuve yang juga merupakan anak pebalap legendaris F1 seperti dirinya, menggantikan David Coulthard yang berpaling hati ke McLaren. Di musim terakhirnya bersama Williams ini Hill sukses meraih gelar juara dunia semata wayangnya sehingga membuatnya menjadi satu-satunya anak juara dunia F1 yang berhasil meraih gelar dunia atas namanya sendiri. Di musim ini Hill berhasil menyabet 8 kemenangan dan di sesi kualifikasi pun ia mencatat hasil menggembirakan dengan selalu berada di barisan front row.

Di Monaco, tempat di mana ayahnya sukses meraih lima kali kemenangan, Hill sempat memimpin lomba sayangnya kegagalan mesin membuatnya gagal melanjutkan lomba dan terpaksa merelakan kemenangannya di tempat yang paling bersejarah untuk ayahnya itu kepada Olivier Panis yang sukses meraih kemenangan satu-satunya bersama tim Ligier. Di GP Jepang, Hill mendapat ancaman serius dari rekan setimnya, Jacques Villeneuve yang berhasil meraih pole pada balapan di negeri sakura tersebut tapi di race nasib Villeneuve kurang beruntung, ia gagal meneruskan lomba sementara Hill berhasil menyabet kemenangan yang sekaligus mengukuhkannya sebagai juara dunia 1996.

Keberhasilan Hill meraih gelar dunia ini membuatnya kembali mendapat penghargaan sebagai Personality of The Year dari BBC Sports dan membuatnya menjadi orang ketiga yang menerima penghargaan ini sebanyak dua kali. Dua orang sebelumnya adalah Nigel Mansell dan seorang petinju bernama Henry Cooper.

Meski Hill berhasil meraih gelar dunia tapi mengingat apa yagn telah terjadi pada tahun sebelumnya membuat Hill berpikir Williams tak menginginkannya terlebih tim Williams kelihatannya tak berniat mempertahankannya sehingga Hill meninggalkan tim tersebut. 

Dengan mengantongi gelar dunia, Hill sebenarnya memiliki penawaran dari McLaren dan Ferrari tapi Hill malah memilih Arrows, padahal tim yang dimotori oleh Tom Walkinshaw ini belum pernah memenangkan satu balapan pun dan hanya meraih satu poin pada tahun sebelumnya.

Sepanjang tahun 1997, Hill harus berkutat denga mobilnya yang tak kompetitif. Ia bahkan baru berhasil meraih poin untuk tim barunya ini di Silverstone. Hill kembali tampil gemilang di GP Hungaria ketika ia berhasil meraih P3 di sesi kualifikasi dan saat race ia berhasil menyalip rival utamanya, Michael Schumacher yang tengah kesulitan dengan Ferrarinya di turn 1. Hill bahkan sempat memimpin lomba sampai masalah hidraulik membuat Arrows-nya melambat sehingga disalip oleh ex rekan setimnya, Villeneuve dan harus puas finish di tempat kedua. Namun keberhasilan Hill itu ternyata sangat berarti bagi tim karena kesuksesan Hill tersebut merupakan podium pertama yang berhasil diraih tim ini sejak GP Australia 1995.

Hill hanya bergabung bersama Arrows selama satu musim lalu berpaling ke Jordan pada tahun 1998. Di tim inilah ia berpasangan deng Ralf Schumacher yang merupakan adik kandung dari rival utamanya. Sebenarnya berkat penampilan luar biasa Hill bersama tim yang tak kompetitif seperti Arrows sempat membuat McLaren tertarik dan hampir saja Hill bergabung dengan tim Silver Arrows tersebut tapi berhubung Ron Dennis lebih suka pebalap yang lebih muda sementara Hill saat itu sudah berusia 37 tahun sehingga Hill pun tercoret dari daftar. 

Di GP Belgia, Hill berhasil meraih podium utama, kemenangan pertama untuk timnya, Jordan sekaligus kemenangan pertamanya sejak ia pergi dari Williams. Tapi kemenangannya yang merupakan kemenangan terakhirnya di F1 tersebut ternyata merupakan hasil team order di mana Ralf 'dipaksa' merelakan kemenangannya untuk Hill yang merupakan team leader timnya dan Ralf harus puas finish kedua di belakang Hill. Tentu saja hasil ini membuat Michael Schumacher, seteru Hill yang notabene adalah kakak kandung rekan setimnya mencemoohnya. 

Pada musim keduanya bersama Jordan, ia berpasangan dengan Heinz-Harald Frentzen, orang yang telah menyebabkannya tersingkir dari Williams. Sementara Ralf Schumacher, bekas rekan setimnya hijrah ke Williams menggantikan Frenzy.

Hill sudah merencanakan untuk pensiun dari F1 pada akhir musim setelah kecelakaan GP Kanada, tapi kemenangan rekan setimnya, Frentzen di GP Perancis membuat Hill memutuskan untuk pensiun lebih cepat dari rencananya. Namun Jordan membujuk Hill agar tetap bertahan untuk GP Inggris. Hill setuju dan mengumumkan bahwa ia akan pensiun setelah race tersebut sehingga Jordan menyiapkan Jos Verstappen untuk menggantikan Hill jika ia benar-benar pensiun. Tapi setelah Hill meraih finish kelima di home race-nya itu, pebalap yang telah ubanan sejak umur 15 tahun sehingga ia selalu mengecat rambutnya saat masih berlaga di F1 ini akhirnya berubah pikiran mengenai rencana pensiunnya. 

Akhirnya Hill berhasil menyelesaikan seluruh balapan di musim itu dan bersama Frentzen ia membantu Jordan meraih posisi ketiga di klasemen konstruktor. Sayangnya di Suzuka, Jepang yang menjadi balapan terakhirnya, Hill gagal finish setelah ia melintir.

Kalau saja Hill memulai karir balapnya lebih cepat, bukan tak mungkin Hill akan mampu membuat lebih banyak lagi prestasi tapi sayangnya meski Hill menyandang nama besar ayahnya tak membuatnya bisa dengan mudah mendapatkan sponsor untuk membiayai balapannya sehingga ia harus memulai karir balap F1nya saat umurnya sudah menginjak kepala tiga. Hill sendiri menganggap Williams yang dikendarainya pada 1996 merupakan mobil terbaiknya karena di mobil ini ia benar-benar merasa nyaman. Di mobil-mobil sebelumnya Hill selalu merasa kesulitan karena kakinya tak muat atau jari-jarinya lecet di dalam tunggangannya. Tapi pada 1996 Hill mendapatkan mobil yang pas yang membuatnya nyaman sehingga mampu tampil perkasa dan sukses meraih gelar dunia.  

"Some people might think I got here because I had a sweet smile and a famous name," kata Hill sehubungan dengan nama besar sang ayah yang diembannya. "Well it wasn't like that. I was written off a lot during my career. The point I am making is that the fact I am at Williams is a measure of my determination to succeed. As for the team, it will naturally be more inclined to put its faith in someone who has actually done the job, rather than someone who claims he can do it."
Sir Frank Williams pun menganggap bahwa Hill merupakan salah satu pebalap Williams yang paling sukses di samping Mansell. Kepergian Hill pada akhir 1996 ternyata juga telah menimbulkan penyesalan dalam hati bos tim Williams tersebut karena telah melepaskannya.

Meski perjalanan karir Hill di F1 tidak terlalu panjang tapi ia telah membuktikan kemampuan dirinya dan berhasil lepas dari bayang-bayang nama besar ayahnya. Namun perjuangan Hill dalam kehidupannya di luar F1 pun ternyata cukup mengharukan. Hill dikaruniai oleh empat orang anak. Oliver, Joshua, Tabitha, dan Rosie. Namun Oliver, anak tertua Hill yang lahir pada 1 Februari 1998 ini menderita Down Syndrome. Keadaan putranya ini membuat Hill dan Georgia aktif terlibat dalam Down's Syndrome Association. Selain itu, Damon juga menjadi penyokong utama St. Josep's Specialist School and College, sebuah sekolah untuk anak-anak yang mengalami kesulitan dalam belajar dan autisme di Cranleigh, Surrey.

Namun Damon boleh berlega hati karena bakat balapnya menurun ke putra keduanya, Joshua yang pada tahun 2008 lalu telah terjun mengikuti jejak ayah dan kakeknya dan ikut berkompetisi di Formula Ford UK pada 2009.

Saat ini Damon Hill menjabat sebagai Presiden British Racing Drivers' Club menggantikan Jackie Stewart. Posisi ini sendiri telah diembannya sejak April 2006 lalu. Sejak ia menjabat sebagai presiden BRDC itu pula, maka ia terpaksa meninggalkan hobi bermain gitarnya. Padahal hobinya tersebut bukan sembarang hobi pengusir rasa jenuh selepas F1. Sejak muda Hill yang memang suka bermusik ini ternyata pernah membaut band musik dengan beberapa teman sekelasnya meski nama bandnya agak terdengar norak, "Sex, Hitler and the Hormones" (benar-benar norak, kan?) tapi setelah ia sukses di Formula One ternyata bakat musiknya ini sempat menarik hati beberapa pemusik terkenal sehingga ia pernah bermain bersama pemusik-pemusik terkenal tersebut, salah satunya adalah bersama George Harrison, salah satu personel The Beatles yang merupakan fans F1 dan penggemar Graham Hill, ayah Damon. Bahkan George Harrison mengatakan bahwa Graham Hill dan Jim Clark merupakan gentleman dan pria Inggris sejati.

Bahkan Hill sempat juga unjuk kebolehannya bermain gitar dengan tampil di "Demolition Man", opening track album Euphoria-nya Def Leppard ini. Namun Damon terpaksa meninggalkan hobi bermusiknya setelah ia terpilih sebagai presiden BRDC.


Debut               : GP Inggris 1992
Start                 : 122
Juara Dunia      : 1996 (bersama Williams)
Poin                 : 360
Pole                 : 20
Menang            : 22
Fastest Lap      : 19

Tidak ada komentar: