Total Tayangan Laman

Translate

Senin, 12 Juli 2010

Wait For Miracle....

pic taken from here

Dua minggu lalu saat gelaran GP Eropa di Valencia, aku merasa sepertinya hari itu merupakan hari terburuk. Awalnya saat bangun pagi, aku benar-benar bersemangat mengingat hari Minggu itu ada tiga gelaran olahraga berbeda tapi semuanya merupakan favoritku.

Diawali oleh final Badminton Indonesia Open Super Series dimana hanya tinggal menyisakan Taufik Hidayat di tunggal putra melawan Lee Chong Wei dari Malaysia. Final hari itu bisa dibilang merupakan ulangan final tahun lalu. Sebenarnya aku bukanlah fans Taufik, tapi karena hanya tersisa Taufik yang kemungkinan bisa menyelamatkan wajah Indonesia maka akupun menaruh harapan besar pada menantu Agum Gumelar ini. Di set pertama, penampilan Taufik sudah cukup bagus dan mampu meladeni permainan bintang Malaysia itu, tapi di set kedua, Taufik yang staminanya mulai terkuras pun mulai keteteran sehingga Lee Chong Wei pun melangkah mulus, menaklukan Taufik dua set langsung tanpa balas dan pebulutangkis Malaysia itu kembali memperlihatkan supremasinya di Istora Senayan yang sebenarnya sangat sadis terhadap pebulutangkis negara lain.

Aku masih belum terlalu bete setelah Taufik kandas dan Indonesia terpaksa harus menanggung malu, tak berhasil meraih satupun gelar di depan publiknya sendiri.

Selepas final badminton, aku masih memiliki semangat mengingat setelah itu F1 GP Eropa mulai berlangsung. Meski sebelumnya saat sesi qualifying berlangsung, aku sempat merasa bete dan apes karena tengah seru-serunya menonton qualifying saat Q2 baru saja berlangsung dan dadaku masih bergemuruh keras akibat tegang saat Michael Schumacher nyaris tersingkir di Q1 tapi akhirnya berhasil lolos di detik-detik terakhir. Tapi baru saja aku melotot melihat Q2 yang baru dimulai, tiba-tiba, prett, rumahku mati lampu. Uhh, gemes banget, pengen rasanya berteriak memaki PLN yang tega banget mematikan lampu di saat-saat genting seperti itu, tapi karena hari sudah amat larut dan ibuku tengah terlelap di alam mimpi, akupun urung menjerit-jerit seperti orang gila. Kalau aku tetap nekat teriak-teriak, jangan-jangan ibuku benar-benar memasukanku ke RSJ.

Meski dibayang-bayangi kejadian menyebalkan saat nonton sesi qualifying, aku tetap semangat menonton GP Eropa. Dari temanku, Selvia akhirnya aku tahu bahwa Michael ternyata tak berhasil menembus Q2 dan harus puas start di P15 sementara Button memulai balapan dari grid 7 di belakang Kubica dan di depan Hulkenberg.

GP Eropa nya sendiri kurasa akan sangat menyenangkan untukku kalau saja kedua pebalap jagoanku tidak harus mengalami nasib apes karena regulasi tak jelas. Aku sudah sangat gembira dan bersorak dalam hati saja (karena belum finish) melihat Michael seperti biasanya tampil bagus sekali saat start. Dari posisi 15, Michael berhasil terbang ke urutan 11 sementara rekan setimnya yang meraih P12 di qualifying turun ke posisi ke-14. Tapi setelah kecelakan dahsyat yang menimpa Webber dan menyebabkan Safety Car masuk, kekacauan tak jelas itupun mulai terjadi. Schumi yang dengan susah payah berhasil menembus top ten terpaksa kehilangan posisinya hingga ke grid paling buncit karena tertahan di pit karena regulasi tak jelas yang kusebut di atas tadi. Akhirnya Michael pun hanya bisa puas finish di P16 tanpa berhasil meraih satu poin pun. Tapi di ujung race, aku sempat tersenyum puas melihat Michael meski memiliki mobil tak sehebat Vettel yang sukses menjuarai GP Eropa, tapi ia sempat membuat fastest lap yang menandakan kemampuan Michael sebenarnya masih sangat baik. Michael masih amat kompetitif kalau saja ia memiliki "senjata" yang lebih baik.

Bila aku tetap merasa puas dengan performa Michael meski ia gagal meraih poin tapi tidak demikian yang kurasa terhadap Button yang walaupun sukses meraih podium ketiga, tapi kebodohannya yang memilih untuk tetap mengekor di belakang Kobayashi tanpa berusaha melakukan manuver dan baru berhasil meraih posisi ketiganya setelah pebalap Jepang yang membela Sauber-Ferrari itu masuk pit untuk mengganti bannya. Bahkan keberhasilan Jenson mencatat fastest lap pada lap-lap akhir pun tetap tak mampu menyingkirkan rasa jengkelku pada pebalap asal Inggris ini. Tapi balapan sudah usai dan hasilnya sudah tercetak. Mau dibilang apa lagi, biarpun tak puas tetap saja tak mampu mengubah keadaan.

Usai GP Eropa, adik laki-lakiku yang sudah tak sabar selama aku menonton F1 segera menyambar remote dan mengganti saluran ke tv penyelenggara piala dunia. Aku sendiri sebenarnya tak terlalu suka sepakbola tapi berhubung pertandingan saat itu menampilkan tim Inggris melawan Jerman, maka akupun antusias. Kupikir sebagai pelepas kejengkelanku atas hasil GP Eropa dan Final badminton yang hasilnya tak menggembirakan.

Sejak dulu bila menonton bola, aku memang selalu mendukung tim Inggris meskipun kakak dan adik laki-laki selalu meledek pilihanku itu, karena menurut mereka, Inggris tak bisa bermain bola, tapi sejak aku melihat penampilan Alan Shearer dkk di piala Eropa (entah tahun berapa yang jelas saat itu Inggris adalah tuan rumahnya), aku sudah kepalang kepincut dengan pasukan St. George Cross itu.

Tak disangka, alih-alih melepaskan stres akibat hasil F1 GP Eropa yang bikin aku gregetan itu, aku malah jadi makin kesal saja saat Inggris terpaksa harus kalah menyakitkan dari Jerman. Yang lebih bikin aku bete ketika gol Lampard tak dianggap oleh wasit. Benar-benar mengesalkan. Jantungku yang serasa sudah ingin meledak sejak melihat Button seperti orang tolol terus mengekor Kobayashi, rasanya benar-benar akan meledak melihat Inggris dipecundangi tanpa ampun oleh Jerman.

Tragis sekali melihat apa yang terjadi pada Inggris. Pada 1966, Inggris berhasil meraih gelar juara dunianya setelah mengalahkan Jerman Barat (kalau aku tak salah ingat) dan salah satu gol yang dibuat Inggris saat itu dianggap kontroversial karena tak jelas apakah benar-benar masuk atau tidak. Dan kali ini, Inggris kembali mengalami dilema masalah gol seperti itu, tapi kali ini yang diuntungkan adalah pihak Jerman. Padahal lewat tayangan ulang jelas-jelas terlihat bahwa gol Lampard mestinya sah karena telah melewati garis gawang usai membentur mistar atas gawang Jerman. Tapi lagi-lagi semua itu telah terjadi. Hasilnya telah ditetapkan, suka ataupun tidak, Inggris akhirnya harus kembali ke tanah airnya dengan menanggung beban berat. Diiringi harapan Inggris akan meraih hasil yang lebih baik di Piala Dunia berikutnya terlebih tim yang berjuluk The Three Lions itu diisi oleh pemain-pemain top dunia yang berkualitas jadi menyakitkan bila Inggris harus terus-terusan menanggung malu seperti itu padahal Inggris selalu menggembar-gemborkan sebagai negara pencipta sepakbola yang telah menghipnotis jutaan penggila olahraga jenis ini.

Karena kejengkelanku atas hasil yang tak menggembirakan dari tiga pertandingan berbeda itu, aku jadi seperti kehilangan soul, dan malas rasanya mengupdate blog. Untungnya akhirnya aku bisa menemukan soul-ku kembali meskipun di GP Inggris kemarin, kedua jagoanku kembali jeblok tapi aku tetap menaruh harapan besar terjadi miracle. Meskipun Michael dan Jenson terus menerus mengalami nasib buruk tapi aku tetap tak bisa mengalihkan pandanganku dari layar tv dan terus berharap bahwa suatu saat nanti miracle benar-benar terjadi, ya siapa tahu akhirnya Michael bisa meraih podium teratas kembali dan Jenson mungkin beruntung bisa finish kedua di belakang Michael. Kenapa begitu? Karena aku tetap menganggap Michael masih jauh lebih hebat dari Button, buktinya Button dengan mobil yang lebih bagus saja tak mampu menyingkirkan Kobayashi. Tapi untuk menjadi juara dunia tahun ini, aku lebih menaruh harapan pada Button daripada Michael mengingat tunggangan Michael jauh lebih payah dibanding pacuannya Jenson.
pic taken from here

Tidak ada komentar: