Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 16 Juli 2011

Jenson Button, Up And Down In F1

Karir Jenson Button di Formula One bisa dibilang cukup unik. Sebelum memulai karir di F1, ia sempat mencicipi mobil McLaren-Mercedes namun pebalap Inggris ini malah masuk F1 lewat tim Williams pada tahun 2000. Kemunculan perdananya cukup mengesankan hingga ia dijuluki Wonder Boy. Tapi setelah setahun bersama Williams, ia terpaksa pergi meninggalkan Williams, meskipun sebenarnya tim Frank Williams itu masih suka dengan Button namun karena mereka memiliki kontrak dengan Juan Pablo Montoya maka terpaksalah Jenson Button dipijamkan ke tim Benetton. 

Bersama Benetton, Jenson mengalami masa sulit. Namun meski penampilannya payah, ia tetap dipertahankan dan hasilnya ia tampil jauh lebih baik di tahun keduanya bersama Benetton yang kini berganti nama menjadi Renault. Tapi lagi-lagi Jenson harus didepak karena Renault yang saat itu dipimpin oleh Flavio Briatore yang juga merupakan manager Fernando Alonso menganggap sudah waktunya bagi anak asuhnya tampil setelah di tahun sebelumnya menjadi test driver Renault usai menjalani masa orientasi pengenalan F1 lewat tim gurem, Minardi. Untungnya saat itu Jenson mendapat perhatian dari David Richards yang menggantikan Craig Pollock memimpin tim BAR-Honda. 

Ternyata pengamatan DR, panggilan khas untuk David Richards, terhadap Jenson Button tak keliru. Di tahun 2004 Jenson bersama BAR-Honda tampil gemilang dan merupakan satu-satunya pebalap yang mampu mengimbangi dominasi Michael Schumacher-Ferrari, tentu di samping rekan setimnya, Rubens Barrichello. 

Penampilan cemerlang Button ini tentu saja membuatnya kembali naik ke bursa pebalap top hingga tim lamanya, Williams pun mulai meliriknya kembali. Tapi ternyata kesuksesan Jenson ini juga berimbas secara negatif. Ia bahkan harus terlibat masalah kekacauan kontrak antara Williams dan BAR-Honda. 

Tahun berikutnya, BAR-Honda tak segemilang musim 2004. Namun meski Jenson memiliki opsi untuk kembali ke Williams, tapi ia memutuskan bertahan di BAR. Makin tahun, ternyata penampilan BAR-Honda yang kemudian berganti nama hanya Honda saja makin melempem. Nama Jenson Button pun kembali terbenam. Hingga akhirnya Honda memutuskan hengkang dari Formula One di akhir tahun 2008. 

Tapi ternyata di balik segala macam kesulitan ini, karir Jenson rupanya perlahan mulai kembali naik ke atas. Di tahun 2009 tim Honda yang telah berganti nama menjadi Brawn GP tampil mendominasi paruh pertama musim balap tahun itu. Bahkan walau performa Jenson dan Brawn GP mulai menurun berkat pengembangan dari tim-tim lawan, namun Jenson Button dan Brawn GP berhasil merebut gelar dunia pertama mereka di akhir musim 2009 itu. 

Setahun berikutnya, Jenson pindah ke McLaren-Mercedes, salah satu tim favoritnya saat ia masih kecil. Ia bahkan menyebut bergabungnya ia dengan tim asal Woking, Inggris itu bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. 

Kini Jenson sudah memasuki tahun keduanya bersama McLaren-Mercedes. Ia juga sudah memberikan tiga kemenangan untuk McLaren-Mercedes. Tahun lalu ia meraih dua kemenangan di Australia dan China.  Sementara di tahun ini Jenson akhirnya berhasil kembali meraih podium tertinggi di Montreal, Kanada. Namun di GP Inggris, kemarin, di hadapan publik senegaranya Jenson yang dalam sejarah karir F1-nya selalu tampil buruk di Inggris, kembali harus mengalami nasib naas. Ban depannya terlepas akibat kecerobohan kru pit McLaren, akibatnya juara dunia 2009 ini gagal melanjutkan lomba dan tak mendapatkan tambahan poin.

Menjelang masa akhir kontraknya bersama McLaren yang akan berakhir tahun depan, nama Jenson Button kini bahkan kabarnya menjadi incaran tim-tim papan atas macam Ferrari dan Red Bull. Namun berita paling akhir, Red Bull menegaskan akan tetap diperkuat Sebastian Vettel dan Mark Webber di musim depan. Namun berita tentang Ferrari yang kabarnya ingin mengganti Felipe Massa dengan pebalap yang lebih mampu mengimbangi Fernando Alonso masih belum ada kejelasannya, dan Button menjadi salah satu pebalap yang diincar tim scuderia itu. 

Jenson sendiri menanggapi positif mengenai dirinya yang menjadi incaran tim-tim papan atas dan menganggapnya sebagai berkah atas dirinya yang telah mengalami tahun-tahun sulit selama karir balapnya di F1. Dan bila kini ia termasuk salah satu pebalap top F1, maka semua itu dinilainya merupakan buah dari hasil kerja kerasnya selama ini. 

"Yeah, I've worked hard to get where I am and for what I've achieved, and I feel there is a lot more I can achieve in Formula One. That's probably one of the reasons why I'm being linked with other people, so it's nice to have positive comments written about you, and they're all exciting prospects. You could say I do feel in a privileged position. It's nice to be in that position."

Mengenai kabar dirinya yang menjadi salah satu pebalap yang diincar Ferrari, Jenson mengungkapkan bahwa di masa ia masih kecil, ada tiga tim yang merajai F1 yaitu Williams, McLaren, dan Ferrari. Dan Jenson sudah membalap untuk dua tim besar yang menjadi idamannya saat kecil, yaitu Williams dan McLaren jadi tinggal satu tim besar lagi yang belum pernah dibelanya, yaitu Ferrari. Namun Jenson juga menambahkan bahwa ia menyadari tak semua impian bisa diraihnya. 

"As a kid growing up there were three teams that really excited me, and they were the three fighting for the world title in Williams, McLaren, and Ferrari. I've driven for Williams and McLaren, one of the start of my career and one now, but your dreams as a kid don't always come true."

Masa depan Jenson di F1 saat ini bisa dibilang cukup cerah. Ia telah meraih gelar dunia dan kini tengah membalap untuk salah satu tim besar yang merupakan salah satu tim impiannya saat kecil dan ia juga tengah diminati tim besar lainnya, tapi Jenson tetap menganggap bahwa masa depan tetap merupakan misteri. Ia tak tahu pasti masa depannya, tapi yang jelas saat ini ia hanya ingin terus menggali potensinya dan terus berusaha meraih kemenangan. Meski begitu ia tetap berharap ada pilihan baginya di masa depan tapi ia juga menegaskan bahwa yang penting adalah apa yang terjadi di saat ini. Menjalani hidup dan menikmati apa yang dilakukannya di saat ini meski ia tak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

"I don't know where my future is, other than in a car that is definitely fighting for victories, which is exactly what I want at this moment in time after what I've achieved. So, it's a case of never say never. You've got to keep your option open, never burn any bridges. But I don't think you want to look too far in the future either. You have to live the moment and enjoy what you're doing, and I don't know what's going to happen in the future at the moment."

Mengenai kemungkinan bila ia bergabung dengan Ferrari, artinya ia harus membalap berdampingan dengan Fernando Alonso yang pernah membuatnya terdepak dari Renault. Alonso yang pernah membalap untuk McLaren dan mengalami masa yang buruk saat bertandem dengan Lewis Hamilton namun Button yang hingga kini masih bermitra dengan Hamilton di McLaren dan keduanya tak mengalami pertikaian tajam seperti yang terjadi ketika Hamilton berpasangan dengan Alonso di tim Woking itu. 

Meski hubungan Jenson dan Hamilton di McLaren terkesan adem ayem, namun Jenson pun pernah memiliki pertikiaian dengan rekan setim saat ia bergabung dengan BAR mendampingi Jacques Villeneuve. Mengenai hubungannya dengan JV yang sempat menjadi sorotan media, Jenson menyatakan bahwa awalnya memang hubungannya dengan JV tak terlalu baik. JV bahkan kerap membicarakan dirinya di depan media dan bukannya menghadapinya secara langsung, tapi belakangan, Jenson mengaku hubungannya dengan JV membaik, bahkan katanya belakangan mereka berteman baik. 

Bila Button akan bergabung dengan Ferrari yang artinya menjadi rekan setim Alonso, maka Button telah menjadi rekan setim tiga juara dunia. Di BAR, Jenson berpasangan dengan JV yang merupakan juara dunia 1997 sementara di McLaren, Jenson menjadi rekan setim Lewis Hamilton yang adalah juara dunia 2008. Mengenai masalah rekan setim, Jenson menyatakan bahwa ia tak terlalu mengkhawatirkan siapa yang akan menjadi rekan setimnya. Ia hanya ingin membalap untuk tim yang memiliki pebalap yang kompetitif karena ia amat menikmati pertarungan itu. "But I've no worries being anyone's team-mate. I relish racing for a team that has a competitive driver. I enjoy the fight."

Mengenai nasib apesnya di GP Inggris, pekan lalu, Jenson menyatakan bahwa yang paling penting baginya saat ini adalah ia ingin meraih kemenangan. Menikmati setiap balapan dan terus berusaha menanti peluang baik datang dan tidak memikirkan mengenai gelar dunia. Akibat hasil balap di GP Inggris minggu lalu, di mana ia gagal finish dan terpaksa tidak mendapat tambahan poin, padahal usai kemenangannya di Kanada, poin Jenson dengan pemimpin klasemen, Sebastian Vettel hanya terpaut 75 poin dan membawa Jenson mengisi urutan kedua di klasemen, tapi akibat kecerobohan kru pit McLaren di Silverstone, Inggris, maka kini poin Jenson dengan Vettel terpaut 95 poin dan posisinya di klasemen pun melorot ke urutan ke-5 di belakang rekan setimnya, Lewis Hamilton.

Sumber gambar : planetf1

Tidak ada komentar: