Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 16 Juli 2011

GP Jerman, Mercedes, dan Michael Schumacher

Michael bersama Ralf, adiknya dan Norbert Haug, vice president Mercedes sport

Setelah tampil mengesankan di Montreal, Kanada, ternyata dua balapan berikutnya tak terlalu menggembirakan untuk Michael Schumacher. Di Valencia, juara dunia tujuh kali ini kembali harus bertabrakan dengan Vitaly Petrov dan di Silverstone, Inggris, pekan lalu, Michael Schumacher yang tampil meyakinkan saat start dengan merebut P10 dari posisi start-nya di P13, lagi-lagi Michael harus mengalami nasib naas. Kali ini ia bersinggungan dengan Kamui Kobayashi. Akibatnya, Michael terkena penalty 10 detik. Penalti yang dinilai Michael terlalu berat karena dengan pelanggaran ringan yang dilakukannya, Michael mengaku remnya tak bekerja dengan baik sehingga ia tak bisa menghindari mobil Kobayashi hingga mengakibatkan keduanya bertabrakan dan membuat Michael terpaksa masuk pit untuk mengganti front nose mobilnya yang rusak, menurut Michael setidaknya drive through penalty sudah cukup baginya dan tak perlu ia sampai dikenai penalti 10 detik sehingga membuat posisinya melorot jauh, padahal Michael menilai setidaknya ia bisa merebut finish di urutan keempat atau kelima. Terlebih setelah pit pertamanya usai insiden tabrakannya dengan Kobayashi sekaligus ia memakai kesempatan itu untuk mengganti ban, sekeluarnya dari pit, Michael beberapa kali berhasil mencatat fastest lap, hasil ini memicu para pebalap lainnya untuk segera masuk pit juga mengganti ban intermediate mereka.

Michael akhirnya harus puas finish ke-9 dan meraih dua poin. Namun rupanya diffuser baru Mercedes yang mulai dipasang tim ini di GP Inggris, pekan silam memberikan harapan baru bagi kubu Mercedes dalam menghadapi balapan selanjutnya yang akan berlangsung di negeri mereka, Jerman, pekan yang akan datang. 

Dalam sejarah GP Jerman, Mercedes pernah tampil merajai sirkuit Nurburgring di masa sebelum perang dunia kedua, masa sebelum F1 yang baru dimulai pada tahun 1950. Pada balapan pra perang dunia kedua, Rudolf Caracciola, yang adalah juga pebalap Jerman merupakan pebalap yang paling banyak menangguk kesuksesan di GP Jerman. Pebalap Jerman yang di masa sebelum perang dunia kedua, sempat membalap dengan bendera bergambar swastika, lambang Nazi, pimpinan Hitler ini meraih enam kemenangan di GP Jerman dan enam di antaranya direbutnya bersama tim Mercedes-Benz. 

Sementara Mercedes-Benz sendiri sebelum perang dunia kedua merupakan kontruktor unggulan yang merajai GP Jerman dan berhasil merebut tujuh kemenangan. Namun tim konstruktor yang paling banyak meraup kemenangan di GP Jerman adalah Ferrari yang tercatat berhasil menorehkan dua puluh kali kemenangan. Sedangkan Mercedes hanya meraup delapan kali kemenangan. Tujuh kemenangan sebelum masa perang dunia kedua sementara satu kali lagi kemenangan atas nama Mercedes diraih pada tahun 1954 bersama Juan Manuel Fangio, sementara saat bertandem dengan McLaren, Mercedes sempat meraih dua kali kemenangan. Pada tahun 1998 bersama Mika Hakkinen, sedangkan yang kemenangan di GP Jerman terakhir diraih Mercedes bersama McLaren lewat Lewis Hamilton pada tahun 2008 silam.

Setelah perang dunia kedua, baik pebalap maupun pabrikan Jerman dilarang terlibat dalam balapan. Sirkuit Nurburgring yang biasa menggelar balapan pun tak lagi digunakan. GP Jerman kembali digelar pada thaun 1950 yang dimenangkan oleh Alberto Ascari bersama Ferrari. Ascari menjuarai GP Jerman tiga kali berturut-turut sejak tahun 1950 hingga 1952. 

Mercedes baru kembali meraih kemenangan di kandang mereka pada tahun 1954 lewat Juan Manuel Fangio sementara fastest lap dicatat oleh Karl Kling yang juga merupakan pebalap Mercedes. Setelah tahun 1954, Mercedes tak pernah lagi meraih kemenangan di negerinya sendiri. Sementara Fangio masih dua kali lagi meraih kemenangan di Jerman. Pada tahun 1956 Fangio meraih kemenangan bersama Ferrari, sementara pada tahun 1957 pebalap Argentina ini mencatat kemenangan untuk Maserati.

Bertahun-tahun lamanya, akhirnya Jerman kembali bisa menyaksikan pebalap mereka meraih kemenangan di negeri mereka sendiri. Dan ia adalah Michael Schumacher yang berhasil mengembalikan kejayaan pebalap Jerman di negerinya sendiri. Schumacher meraih kemenangan pertamanya di GP Jerman, yang kali ini digelar di Hockenheim, pada tahun 1995 lewat Benetton-Renault. Meski Michael Schumacher belum bisa menyamai 6 kali rekor kemenangan di GP Jerman seperti yang ditorehkan oleh Rudolf Caracciola, namun Michael Schumacher merupakan pebalap F1 yang paling banyak meraih kemenangan di GP Jerman, setelah masa perang dunia kedua. Ia menorehkan empat kali kemenangan dan semuanya ditorehkannya di sirkuit Hockenheim. Sementara kebanyakan pebalap lainnya, seperti Ascari, Fangio, Stewart, Piquet, dan Senna hanya mampu menorehkan tiga kali kemenangan saja. 

Kemenangan kedua Michael Schumacher di negerinya diraihnya pada tahun 2002 bersama Ferrari. Kiprah Michael Schumacher di negerinya sendiri memang terbilang cukup unik. Meski ia merupakan pebalap yang memiliki paket paling lengkap, tapi ia belum pernah berhasil mencatat hattrick di negerinya sendiri seperti yang pernah dilakukan oleh Ascari. 

Saat ia telah bergabung dengan Ferrari pada tahun 1996, Michael belum jua meraih kemenangan di tanah airnya. Malahan, rekan setimnya, Irvine dan Barrichello yang lebih dulu meraih kemenangan yakni pada tahun 1999 dan 2000. Pada tahun 2001 Ralf Schumacher, adik kandung Michael Schumacher berhasil meraih kemenangan pertamanya di tanah airnya. Setahun kemudian, barulah Michael Schumacher yang berhasil kembali menaikkan bendera Jerman di negeri mereka sendiri. Pada tahun 2004, Michael mengalami kesulitan dan hanya mampu meraih finish ke-7 sementara yang meraih kemenangan adalah Juan Pablo Montoya yang membalap untuk tim Williams-BMW, pabrikan saingan Mercedes.

Pada tahun 2004 dengan paket Ferrari-nya yang sempurna, Michael Schumacher kembali berhasil meraih kemenangan di depan publiknya sendiri. Setahun berikutnya, Michael dan Ferrari kepayahan akibat perang ban yang dimenangkan oleh tim-tim lawannya pengguna Michellin. Kemenangan terakhir Michael Schumacher di GP Jerman, diraihnya pada tahun 2006. 

Kini bersama Mercedes, Michael Schumacher masih belum juga tampil cemerlang kecuali di GP Kanada, yang merupakan penampilan terbaiknya sejak kembali ke arena F1, namun hingga kini Michael dan Mercedes belum pernah lagi meraih kemenangan. Tentunya hal ini merupakan motivasi paling kuat bagi mereka untuk tampil mengesankan di GP Jerman yang akan berlangsung pekan depan terlebih tim Mercedes makin optimis dengan diffuser baru mereka yang memperlihatkan hasil yang mengesankan di Silverstone, Inggris, pekan lalu. Optimisme ini diungkapkan oleh bos tim, Ross Brawn yang menilai positif perkembangan paket baru mobil mereka dengan sistem exhaust baru yang dipasang mereka di Silverstone dan berharap bisa memberikan kesempatan bagi kedua pebalap mereka tampil gemilang di hadapan publik mereka sendiri di Jerman nanti

"Our car showed positive signs of improvement with the new upgrade package and exhaust system in Silverstone, and we have been working hard since then to further enhance our understanding of its performance capabilities," ujar Brawn dalam preview tim.

"We are hopeful of continuing this progression and putting on a good performance next weekend, giving our drivers the opportunity to show what they can do in front of their own supporters."

Hal positif senada juga diungkapkan oleh Michael Schumacher yang berharap beberapa pengembangan yang telah dilakukan di Silverstone dengan sistem exhaust baru bisa bersinergi dengan ban sehingga bisa memenuhi harapan para pendukungnya.

"We saw some improvements over the Silverstone weekend with our new exhaust system, along with improvements to how we work with the tyres, so we go to the next race weekend with a good feeling added to our fighting spirit," ujar Schumacher.

"We definitely want to show our home crowds our best level of performance possible," imbuh juara dunia tujuh kali ini. 

Michael amat berharap perkembangan teknis terbaru yang dilakukan timnya bisa membuatnya tampil lebih baik, terlebih lagi tahun ini adalah kali pertama Michael akan melintasi tikungan yang dinamai dengan namanya sendiri yaitu tikungan 8 dan 9, jadi tentunya ia ingin sekali tampil kencang yang tentunya akan merupakan kebanggaan tersendiri bagi pebalap yang telah mengoleksi 91 kemenangan ini.

"It will be the first time that I race through the corner which is named after me (Turns 8 and 9), and obviously I would like to believe that this is not only making me proud, but also even faster."

Sumber gambar : worldcarfans

Tidak ada komentar: