Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 26 Maret 2013

Enid Blyton = The Story of Life

Bagi penggemar cerita-cerita petualangan macam Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, atau kisah-kisah gadis-gadis nakal di sekolah asrama seperti St. Clare atau Mallory Tower tentunya tak asing dengan nama Enid Blyton sang pengarang cerita-cerita tersebut.

Sebagai pengarang, kisah-kisah karangan Enid Blyton bisa dibilang sangat variatif. Ia juga dikenal sebagai penulis cerita anak paling produktif di dunia. Buku-bukunya telah terjual lebih dari 600 juta kopi dan telah dialihbahasakan lebih dari 3.544 bahasa, tak heran bila Enid Blyton disebut-sebut sebagai salah satu pengarang paling terkenal di dunia.

Dalam tulisannya, Enid seringkali menyisipkan pesan moral bagi pembaca-pembaca ciliknya seperti salah satu kisah anak-anak karangannya yang masih kuingat sampai sekarang, tentang anak yang rajin dan ceroboh. Cerita ini mengisahkan dua orang anak dititipi seorang nenek tua yang harus pergi meninggalkan rumah dan meminta kedua anak tersebut membersihkan rumahnya selama ia pergi. Anak yang satu membersihkan rumah secara asal-asalan sementara anak yang lainnya membersihkan rumah dengan cermat. Karena kecermatan dan kerajinannya ini ia bisa menemukan beberapa keping uang yang sengaja disisipkan oleh si nenek tersebut di berbagai tempat seperti di bawah pot, di balik karpet dan sebagainya. Sewaktu nenek itu kembali si anak ini mengembalikan uang-uang yang ditemuinya itu tapi si nenek memberikannya sebagai bonus atas kerajinannya.

Ada banyak sekali kisah anak-anak yang ditulis Enid bahkan banyak juga karakter ciptaannya yang hingga kini pun masih dikenang para pembacanya seperti Lima Sekawan, kisah tentang petualangan Julian dan adik-adiknya serta sepupu mereka, Georgina, si tomboi yang lebih suka dipanggil George atau kisah si kembar O'Sullivan di sekolah berasrama St. Clare.

Meski karya ciptaan Enid sangat terkenal tapi buku-buku Enid Blyton pernah diboikot dan ditarik dari perpustakaan di Inggris karena tulisan Enid dinilai rasialis, kontra gender dan kelas sosial. Seperti di salah satu bukunya Enid menggunakan kata 'Nigger' padahal saat itu kata 'Negro' lebih umum digunakan.

Tokoh Georgina, gadis tomboi dalam kisah petualangan Lima Sekawan pun tak luput dari sasaran para kritikus. Dalam salah satu cerita Lima Sekawan, Julian, yang tertua di antara mereka seringkali harus bersitegang dengan Georgina yang lebih suka dipanggil George dan tak gentar menempuh bahaya seperti dua sepupu prianya sehingga di salah satu kisah petulangan Lima Sekawan, Julian berkata pada George, "Kau boleh saja terlihat seperti anak laki-laki dan bertingkah layaknya seorang bocah laki-laki, tapi kau tetaplah seorang anak perempuan dan suka atau pun tidak, anak perempuanlah yang harus dijaga dan dilindungi."

Dalam cerita Sapta Siaga karangan Enid, isue gender juga terlihat dengan dilarangnya anak-anak perempuan dalam kelompok mereka dari tugas-tugas mencari tempat persembunyian penjahat dan secara jelas tampak dari pernyataan Peter, ketua dari kelompok ini yang mengatakan bahwa pekerjaan berbahaya macam mencari tahu persembunyian penjahat itu adalah tugas pria dan bukan bagian dari pekerjaan anak perempuan.

Namun bisa jadi perilaku isu gender yang mengemuka dalam karangan Enid Blyton ini akibat sikap ibunya yang memberi perlakuan berbeda antara dirinya dengan dua adik laki-lakinya.

Masa Kecil

Enid Mary Blyton dilahirkan pada tanggal 11 Agustus 1897 di kediaman orang tuanya, sebuah flat sederhana yang terletak di atas sebuah toko di East Dulwich, London Selatan. Tak lama setelah kelahirannya, keluarga kecil ini pindah ke Beckenham, Kent. Enid memiliki dua adik laki-laki, Hanly (1899-1983) dan Carey (1902-1976).

Thomas Carey Blyton (1870-1920) ayah Enid awalnya seorang salesman perlengkapan makan tapi kemudian bekerja di perusahaan pamannya menjual pakaian. Keluar dari perusahaan pamannya, Thomas lalu mendirikan usahanya sendiri sebagai penjual pakaian.

Hubungan Enid dengan ayahnya sangat dekat dibanding dengan ibunya, Theresa Mary Harrison Blyton (1874-1950). Secara fisik, Enid memiliki kemiripan dengan Thomas, ayahnya. Keduanya memiliki mata berwarna coklat dan rambut mereka berwarna gelap sementara Theresa, ibu Enid yang berperawakan tinggi berambut raven. Selain itu Enid memiliki kecintaan yang sama dengan ayahnya terhadap alam. Keduanya suka berkebun, memiliki kecintaan yang sama terhadap teater, seni, musik, dan sastra.

Sedangkan ibu Enid yang kegiatan sehari-harinya berkutat di seputar pekerjaan rumah tangga tak terlalu menyukai kegiatan dan hobi Enid seperti berjalan-jalan di alam terbuka, membaca dan hobi Enid yang lainnya. Theresa sebenarnya lebih suka bila putrinya ini membantunya dalam urusan pekerjaan rumah tangga. Namun sebaliknya, ibunya amat memberi kebebasan bagi dua adik laki-laki Enid. Mungkin pandangan ibunya inilah pula yang melatari beberapa pernyataan berbau isu gender dalam beberapa karyanya.

Selain itu Theresa memang kerap memandang remeh impian Enid untuk menjadi penulis. Ada begitu banyak perbedaan pandangan yang menciptakan friksi antara Enid dengan ibunya. Hal yang amat berbeda bila melihat hubungan antara Enid dengan ayahnya yang begitu dekat.

Thomas memang sangat menyayangi putri sulungnya ini. Saat bayi, Enid menderita batuk mejan yang parah dan diperkirakan Enid takkan bisa bertahan hidup hingga fajar. Ayah Enid sama sekali tak mau menyerah dan mengabaikan prediksi dokter tersebut. Sepanjang malam ia duduk mendampingi putri kecilnya ini, menggendong dan menjaganya agar tetap hidup.

Enid sendiri dalam otobiografi-nya, 'The Story of My Life' (1952) menuliskan peran besar ayahnya terhadap dirinya di mana ia belajar banyak dari ayahnya terutama mengenai alam.

"... ayahku mencintai alam bebas, mencintai bunga-bunga, burung, binatang liar dan mengenal kehidupan alam bebas ini jauh lebih banyak dibanding siapapun yang pernah kukenal. Lebih hebatnya lagi, ayah mengijinkan dan mau membawaku ikut dalam ekspedisinya, membagi cinta dan pengetahuannya padaku! Hal itu amat luar biasa bagiku. Ini adalah cara terbaik dalam mempelajari alam yaitu menjelajahinya secara langsung bersama orang yang benar-benar tahu."

Thomas juga mengajari Enid hal penting dalam kehidupan yaitu bekerja keras untuk mencapai keinginannya. Sebuah contoh adalah saat Enid ingin menanam benih di petak kebunnya sendiri, ayahnya lalu membuat penawaran padanya. Ayahnya akan memberinya uang secukupnya untuk Enid membeli benih yang diinginkannya tapi Enid harus bekerja dengan cara membersihkan sepeda ayahnya dan membersihkan tempat tidur. Sebagai upahnya, ayahnya akan memberi Enid 6 pences dan dengan uang itu Enid bisa membeli benih-benih tanamannya.

Enid memang sangat menghargai benih dan menyukai saat benih itu tumbuh dan berbunga.

Enid memulai masa sekolahnya di sebuah sekolah kecil yang letaknya di seberang rumahnya dan dikelola oleh dua orang wanita bersaudara di sebuah rumah yang disebut Tresco. Meski begitu sekolah ini sangat berkesan bagi Enid. Enid mengenang hari-harinya di Tresco sangat menyenangkan.

"Aku ingat segalanya- ruangannya, kebunnya, gambar-gambar yang tergantung di dinding, kursi-kursi kecil, anjing di sana dan aroma harum yang menguar dari dapur ke dalam kelas kami saat kami mengerjakan dikte. Aku ingat kami masing-masing mengambil biskuit dan menyelipkannya tapi ada satu anak kecil yang tidak disukai oleh kami sekelas karena bocah laki-laki itu sangat pintar menukar sekeping biskuit kecil dengan yang lebih besar."

Secara akademik, Enid termasuk anak yang cemerlang. Ia termasuk anak yang diberkahi daya ingat yang bagus dan ia sangat bersinar dalam pelajaran seni dan ilmu alam namun ia kesulitan dalam pelajaran matematika.

Saat kecil, Enid terbilang anak yang aktif. Ia suka memainkan permainan-permainan atraktif macam Red Indian, Pencuri dan Polisi dan ia juga mahir dalam olahraga tenis. Seperti anak-anak pada umumnya, Enid juga suka bermain kartu, ular tangga, dan catur. Ayahnya berpendapat bahwa anak-anak perlu belajar catur karena catur bisa melatih otak sehingga bisa berpikir cepat dan jernih serta dapat membuat perencanaan untuk langkah ke depan.

Sejak kecil Enid sudah suka membaca. Ada beberapa yang sangat disukai Enid, salah satunya novel "Little Women" karangan Louisa May Alcott yang sangat berkesan untuknya hingga ia berpikir ingin menjadi penulis cerita anak-anak.

Enid juga menyukai puisi, kisah-kisah legenda dan mitologi. Ia juga suka membaca majalah tapi ia paling terkesan dengan Ensiklopedia Anak-anak karya Arthur Mee.

"Buku itu (Children's Encyclopedia karangan Arthur Mee) memuaskan dahagaku terhadap pengetahuan mengenai berbagai macam hal dan banyak mengajarku, sebanyak yang pernah kupelajari di sekolah."

Sebagai penulis cerita anak-anak, Enid tak suka dengan cerita dongeng karangan Grimm yang dinilainya 'kejam dan menakutkan'. Sebenarnya Enid suka dengan cerita-cerita karangan Hans Christian Andersen tapi ia menilai beberapa cerita H.C. Andersen "terlalu menyedihkan".

Di antara buku-buku favoritnya, Enid menyukai buku karangan Lewis Carroll yang berjudul 'Alice' tapi yang paling disukai Enid adalah The Princess And The Goblin karangan George MacDonald yang dibacanya berulang-ulang.

Perceraian Orangtua

Sementara itu pernikahan orangtua Enid tengah mengalami masalah. Kedua orangtua Enid kerap bertengkar hingga membuat Enid dan adik-adiknya ketakutan. Suatu malam, Enid bersama dua orang adiknya, Hanly dan Carey duduk di puncak anak tangga, tangan mereka saling merangkul satu sama lain sementara orangtua mereka tengah bertengkar hebat.

Puncak pertengkaran, pada suatu malam, Enid dan kedua adiknya mendengar ayah mereka berteriak marah bahwa ia akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Saat itu Enid belum lagi genap 13 tahun.

Enid sangat terkejut saat mengetahui ada wanita lain dalam kehidupan ayahnya. Wanita itu bernama Florence Agnes Delattre, seorang sekretaris dan sejak itu ayahnya akan tinggal bersama wanita itu.

Menyadari perceraiannya akan menjadi skandal di kawasan rumah mereka di Beckenham, Theresa, ibunda Enid, memaksa Enid dan kedua adiknya untuk berbohong, jika ada yang bertanya, dan mengatakan bahwa ayah mereka tengah bepergian.

Kebohongan yang dilakukan keluarga ini selama bertahun-tahun berpengaruh pada hidup Enid. Di kemudian waktu, ia cenderung suka menutupi hal-hal yang tak menyenangkan dan menyembunyikannya. Pengalaman traumatik ini belakangan membuat Enid menuangkannya dalam salah satu novelnya yang berjudul The Six Bad Boys pada tahun 1951.

Kepergian ayahnya sangat sulit diterima Enid dan menganggap kepergian ayahnya ini sebagai bentuk penolakan terhadap dirinya secara pribadi. Hal ini menimbulkan dampak jangka panjang pada diri Enid. Bertahun-tahun kemudian ketika Enid sudah menikah, ia sulit hamil, belakangan diketahui ada masalah dengan rahimnya yang tidak berkembang yang menurut cerita perkembangan rahimnya seperti seorang anak perempuan berumur 12 atau 13 tahun. Hal ini menandakan betapa kepergian ayahnya meninggalkan dampak baginya secara fisik maupun emosional.

Kepergian ayahnya tak jua membuat hubungan Enid dengan ibunya lebih dekat. Alih-alih Enid malah memutuskan hubungan dengan ibunya.

Meski dilarang ibunya tapi Enid tetap mengunjungi ayahnya di kantornya di London. Tapi Enid tetap tak bisa menerima kehadiran Florence sebagai ibu tirinya. Sementara itu Thomas dikaruniai tiga anak juga dari istri barunya, Florence. Walau Enid kerap mengunjungi kantor ayahnya tapi hubungan mereka tetap tak bisa sedekat seperti sebelumnya.

Hubungan Enid dengan ibunya yang tak pernah dekat terus memburuk seiring dengan ketiadaan sosok ayah yang amat dihormati dan disanjungnya.

Untuk menghindari ibunya dan memperlihatkan ketakbahagiaannya, Enid kerap mengunci diri di dalam kamar tidurnya dan menulis. Enid memiliki imajinasi yang sangat hidup dan tahu pasti bahwa suatu waktu nanti ia akan menjadi seorang penulis dan sejak itu pula ia menghabiskan waktunya dengan mengasah bakat menulisnya.

Namun upaya dan mimpi Enid menjadi penulis tak mendapat dukungan dari ibunya. Alih-alih mendukung, Theresa malah melecehkan usaha Enid mengirimkan sejumlah cerita dan puisi karangannya ke beberapa majalah sebagai pekerjaan yang sia-sia dan menghabiskan uang saja. Pendapat yang cukup beralasan mengingat saat itu karya Enid selalu ditolak dan hanya sebuah puisinya saja yang pernah dimuat di majalahnya Arthur Mee saat ia berumur 14 tahun.

Walau tak mendapat dukungan dari ibunya, namun Enid mendapat sokongan semangat dari Mabel Attenborough yang merupakan bibi dari teman sekelasnya.

Hubungan Enid dengan keluarga Attenborough memang sangat dekat. Sewaktu hubungannya dengan ibunya semakin buruk dan pada puncaknya, Enid memutuskan hubungan dengan ibunya dan tinggal bersama keluarga Attenborough. Saat libur sekolah pun Enid lebih suka menghabiskan liburannya bersama keluarga Attenborouh daripada pulang ke rumah menemui ibu dan dua adik laki-lakinya.

Masa-masa Sekolah dan Pengalaman Mengajar
Pada tahun 1907 Enid sekolah di sekolah khusus putri St. Christopher. Tak seperti tokoh-tokoh ceritanya, Enid tak pernah tinggal di asrama namun Enid terbilang populer. Seperti si kembar O'Sullivan, tokoh rekaannya dalam Si Kembar di St. Clare, Enid sangat jago bermain tenis dan menjadi juara tenis dan kapten tim lacrosse. Bahkan Enid terpilih sebagai ketua kelas.

Saat remaja, Enid pernah membuat majalah yang dikelolanya bersama dua temannya, Mary Attenborough dan Mirabel Davis. Mereka melabeli majalah tersebut Dab, yang merupakan inisial dari nama keluarga mereka sebagai kontributor utama dan untuk majalahnya ini Enid menulis cerita-cerita pendek.

Selain menulis, Enid memiliki bakat bermusik. Pada akhir tahun 1916 Enid mulai belajar di Sekolah Musik Guildhall. Enid sebenarnya sangat berbakat dalam bermusik sehingga keluaganya mengira ia akan menjadi seorang pemusik profesional seperti saudara ayahnya, May Crossland.

Waktu kecil Enid memang kerap menghabiskan waktunya dengan berlatih piano namun saat ia makin besar dan mulai menemukan kecintaan dalam menulis, ia mulai menyesali waktu yang telah dihabiskannya untuk bermain piano. Ia meyakini bahwa bakatnya adalah menulis cerita tapi keluarganya sulit menerima keyakinannya itu.

Keyakinan Enid akan jalan hidupnya sebagai penulis dan memutuskan untuk melepaskan tempatnya di Sekolah Musik Guildhall terjadi saat musim panas tahun 1916 usai mengajar Sekolah Minggu. Saat itu Enid tinggal di rumah Mabel Attenborough di Seckford Hall dekat Woodbridge di Sufolk. Enid tiba-tiba saja menyadari apa yang ingin ia lakukan. Ia memutuskan keluar dari Sekolah Musik Guildhall dan memilih menjadi guru. Nyatanya pula pengalamannya sebagai guru ini amat membantunya memahami dunia anak-anak yang menjadi tema utama dari karya-karyanya.

Setelah menyelesaikan masa pelatihannya sebagai guru, Enid menunjukkan kesungguhannya dan sebagai guru Enid terbilang serius dan enerjik.

Ia mengajar selama setahun di sekolah swasta untuk anak laki-laki di Bickley Park School di Kent. Selanjutnya ia menjadi guru privat untuk empat bersaudara Thompson di sebuah rumah yang bernama Southernhay di Surbiton, Surrey. Keluarga Thompson ini merupakan kerabat dari Mabel Attenborough, pendukung utama dan sahabat Enid.

Enid mengajar di rumah keluarga Thompson selama empat tahun dan selama masa itu, beberapa anak tetangga di sekitar situ ikut belajar bersama Enid di mana Enid menyebutnya sebagai "sekolah percobaan." Nyatanya masa-masanya mengajar di Surbiton ini sebagai "salah satu saat yang paling membahagiakan dalam hidupku."

Kematian Ayah dan Pernikahan Pertama

Enid sangat menikmati masa-masanya sebagai pengajar namun pada tahun 1920 saat tengah mengajar di Southernhay ia mendapat berita duka. Ayahnya meninggal secara mendadak akibat serangan jantung saat tengah memancing di sungai Thames.

Itulah cerita yang dikatakan Enid selama bertahun-tahun namun kenyataannya tidaklah demikian. Kenyataannya ayahnya meninggal karena stroke di rumahnya sendiri di Sunbury, di mana ia tinggal bersama Florence dan keluarga barunya.

Ternyata kisah rekaan mengenai kematian ayahnya adalah demi ibunya yang merasa malu dan selalu menutupi perceraiannya.

Meski Enid sangat dekat dengan ayahnya dan kerap berkunjung ke kantor ayahnya di London sehingga dikucilkan oleh keluarganya sendiri namun Enid tak mau menghadiri upacara pemakaman ayahnya. Ia bahkan tak pernah membicarakan mengenai kematian ayahnya itu di depan keluarga Thompson. Bisa jadi sikapnya menutup rapat emosi dan perasaannya di muka publik ini merupakan hasil dari pembelajaran dari ibunya saat ia masih kecil.

Sementara itu karir Enid sebagai penulis mulai menemui titik terang.

Setelah berkali-kali mengalami penolakan, buku pertama Enid mulai diterbitkan. Buku pertamanya ini merupakan kumpulan puisi berjudul "Child Whispers" pada tahun 1922 dan pada tahun 1923 buku-bukunya yang lain mulai diterbitkan.

Pada tahun 1924 Enid diminta oleh George Newnes, pemilik sebuah penerbitan, menulis sebuah buku untuk anak-anak mengenai Kebun Binatang London. Bukunya 'The Zoo Book' diterbitkan pada 1924.

Saat menulis buku untuk penerbitan Newnes inilah Enid pertama kali bertemu dengan Hugh Alexander Pollock yang bekerja sebagai editor di perusahaan George Newnes ini.

Hugh pernah bergabung dengan Royal Scots Fusiliers pada awal perang dunia pertama. Pernikahannya yang pertama berakhir karena istrinya selingkuh dan ia harus menceraikan istri pertamanya terlebih dahulu sebelum menikahi Enid Blyton.

Keduanya menikah pada 28 Agustus 1924 di kantor catatan sipil di Bromley tanpa dihadiri satupun anggota keluarga baik dari pihak Enid maupun Hugh. Dalam beberapa tulisannya Enid menggunakan nama Mary Pollock sebagai namanya sendiri. Nama Mary diambil dari nama tengahnya.

Pasangan ini berbulan madu di Jersey dan menjadikan pulau, puri dan daerah pedesaan yang dikunjunginya saat berbulan madu ini sebagai setting lokasi dalam buku kisah petualangan ciptaannya yang paling terkenal 'Lima Sekawan.'

Setelah menikah, Enid dan Hugh tinggal di sebuah apartemen di Chelsea. Seiring waktu, pasangan ini beberapa kali pindah rumah di antaranya ke Elfin Cottage di Beckenham pada tahun 1926. Tiga tahun kemudian, mereka pindah ke Old Thatch sebuah pondok dari abad ke-16 dan memiliki sebuah taman yang sangat indah di dekat Sungai Thames di Bourne End, Buckinghamshire. Enid menggambarkan tempat ini "bagaikan rumah di dalam cerita dongeng."

Di masa-masa awal kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Keduanya sama-sama suka berkebun dan juga kerap keluar bersama menonton teater dan film. Mereka juga suka bermain tenis dan bridge.

Pada bulan Oktober 1930 keduanya melakukan perjalanan ke Madeira dan Pulau Canary dengan kapal pesiar bernama Stella Polaris. Enid menyimpan gambaran perjalanannya ini dalam benaknya dan beberapa tahun kemudian menjadikannya bahan untuk dua novelnya: The Pole Star Family dan The Ship of Adventure, keduanya diterbitkan pada tahun 1950.

Pada tahun 1926 Enid mulai menulis untuk sebuah majalah dengan tajuk Sunny Stories For Little Folks yang kemudian pada tahun 1937 diterbitkan dengan judul Blyton's Sunny Stories namun belakangan berubah menjadi Sunny Stories.

Novel pertama Enid Blyton berjudul 'The Enid Blyton Book of Bunnies' diterbitkan pada tahun 1925 belakangan novelnya ini dicetak ulang dengan judul 'The Adventure of Binkle And Flip.

Namun pada tahun 1926 The Enid Blyton Book of Brownies diterbitkan dan sepertinya buku inilah yang lebih layak disebut sebagai "novel pertama" Enid Blyton.

Hugh sangat mendukung dan membantu karir menulis Enid. Ia juga yang telah mendesak Enid pada tahun 1927 agar mulai menggunakan mesin tik. Sebelumnya Enid mengerjakan naskahnya dengan tulisan tangan. Hugh juga sangat membantu karir Enid sebagai penulis dengan mempublikasikan cerita-cerita di Newnes dan mengajari Enid mengenai kontrak dan sisi lain pekerjaannya sebagai penulis dari segi bisnis.

Enid Blyton juga dikenal menyukai binatang peliharaan. Kabarnya ia memelihara banyak jenis binatang mulai dari anjing, kucing, burung dara, ayam, bebek, ikan mas, landak, kura-kura, dan masih banyak lagi. Mungkin 'kegilaannya' terhadap binatang peliharaan ini sebagai pelampiasannya di masa kecil orangtuanya melarang Enid dan adik-adiknya membawa ataupun memelihara binatang. Ibunya tak menyukai binatang sementara ayahnya juga merasa khawatir kalau-kalau kucing atau anjing akan merusak kebunnya. Suatu kali Enid pernah menemukan seekor kucing, ia menamainya Chippy dan diam-diam memeliharanya, namun suatu kali ibunya mengetahui hal tersebut dan kucing itu pun dibuang.

Di antara binatang-binatang peliharaan Enid ada satu yang paling terkenal yaitu Bobs, seekor anjing Fox-terrier. Bobs terkenal karena Enid menulis untuk salah satu kolom di Teacher's World mengenai kehidupan sebuah keluarga dan Enid menulisnya dari sudut pandang si anjing bernama Bobs ini dengan judul "Letters From Bobs". Enid bahkan masih tetap menulis Letters From Bobs meski Bobs sudah mati.

Kelahiran, Perceraian, Dan Pernikahan Kedua

Pada tanggal 15 Juli 1931 Enid melahirkan putri sulungnya yang diberi nama Gillian Mary Baverstock. Pada tahun 1934 ia keguguran namun di tahun berikutnya pada tanggal 27 Oktober 1935 putri kedua Enid yang dinamai Imogen Mary Smallwood lahir.

Kehadiran dua putri kecilnya ternyata tak mengurangi produktivitas Enid dalam menulis. Malahan ia lebih banyak lagi menghabiskan waktunya untuk menulis. Ia bahkan tak banyak meluangkan waktunya untuk dihabiskannya bersama anak-anaknya dan menyerahkan pekerjaan rumah tangganya, urusan berkebun hingga perawatan anak-anaknya ke tangan pembantunya.

Meski begitu Enid terkadang meluangkan waktu bermain bersama anak-anaknya usai jam minum teh dan terkadang membawa Imogen keluar bersamanya untuk menjemput Gillian dari sekolah.

Sementara itu hubungan Enid dengan Hugh mulai renggang. Keduanya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Hugh yang bekerja untuk Churchill, menulis tentang Perang Dunia Pertama merasa depresi menghadapi kenyataan dunia akan kembali lagi diluluhlantakkan perang baru. Ia mulai melarikan perasaan depresinya ke minuman keras.

Hugh bahkan dikabarkan secara sembunyi-sembunyi suka minum dalam ruangan kecil di bawah tangga. Sementara Enid mendapat penghiburan dalam tulisannya. Alih-alih mencoba memperbaiki keadaan dan hubungan mereka yang memburuk, Enid makin menjauh dari Hugh. Ia malah lebih dekat pada temannya, Dorothy.

Dorothy Richards bukanlah orang asing bagi Enid dan Hugh. Saat Enid melahirkan Imogen, Dorothy yang merupakan seorang bidan banyak membantu Enid selama beberapa minggu usai kelahiran Imogen. Sejak itu Enid dan Dorothy menjadi teman dekat. Dorothy bahkan kerap menginap di rumah Old Thatch, kediaman Enid dan Hugh.

Saat Enid memutuskan untuk pindah ke rumah yang besar, alih-alih membahasnya dengan Hugh, suaminya sendiri, Enid malah lebih suka meminta saran dan bantuan Dorothy untuk mencarikan rumah yang diinginkannya itu. Pilihan jatuh ke sebuah rumah megah berusia tiga puluh tahun atau lebih dengan delapan kamar tidur di daerah Beaconsfield, Buckhinghamshire.

Enid mengatur pindahan ke rumah barunya pada bulan Agustus 1938 sementara Hugh tengah dirawat di rumah sakit karena pneumonia. Para pembaca Enid memilihkan nama Green Hedges untuk rumah baru Enid ini.

Saat Perang Dunia Kedua pecah, Hugh kembali ke resimennya, Royal Scots Fusiliers sementara Enid masih tetap menulis selama masa perang. Namun kepergian Hugh ini makin menghancurkan pernikahannya yang telah rapuh ini.

Pada musim semi 1941 Enid pergi berlibur bersama Dorothy ke Devon. Di sinilah Enid kemudian bertemu dengan seorang dokter bedah yang kelak menjadi suami keduanya, Kenneth Fraser Darrell Waters.

Kenneth adalah seorang dokter bedah di rumah sakit St. Stephen's di Chelsea, London. Kenneth merupakan seorang yang aktif. Seperti Enid, ia juga suka berkebun dan bermain tenis. Pada waktu Perang Dunia Pertama, Kenneth bertugas di Angkatan Laut. Malang kapal Kenneth dibom saat pertempuran di Jutland. Kenneth selamat tapi insiden itu merusak pendengaran Kenneth. Ketulian Kenneth ini menyulitkannya dalam hal komunikasi. Kecacatannya ini juga membuat Kenneth dinilai sebagai pribadi yang kasar dan kurang peka atau acuh.

Sementara itu ternyata Hugh juga tengah menjalin hubungan dengan seorang novelis bernama Ida Crown. Hubungan Enid dan Hugh pun berakhir dengan perceraian pada tahun 1942. Kenneth juga menceraikan istrinya dan menikahi Enid.

Kenneth dan Enid menikah di Kantor Catatan Sipil Westminster pada tanggal 20 Oktober 1943 atau enam hari sebelum pernikahan Hugh dan Ida.

Enid membawa serta kedua putrinya dari pernikahannya dengan Hugh sementara Kenneth tak memiliki anak dari pernikahannya sebelumnya.

Menyadari isu perselingkuhan akan merusak nama baiknya di muka umum, maka di masa-masa menjelang perceraiannya, Enid memaksa dan mengancam Hugh agar menyatakan bahwa perceraian itu sepenuhnya merupakan kesalahannya dan dirinyalah yang telah lebih dulu tak setia pada pernikahannya dengan Enid. Sebagai imbalannya Enid berjanji akan memberinya ijin untuk menemui kedua putri mereka secara bebas. Namun kenyataannya setelah bercerai Hugh justru dilarang menemui kedua putri mereka. Tak hanya itu saja. Enid bahkan membuat Hugh tak bisa lagi bekerja di penerbitan manapun. Hal ini membuat Hugh semakin dalam tenggelam dalam minuman keras dan akhirnya membuat Hugh bangkrut.

Gillian dan Imogen tak pernah lagi bertemu dengan ayah mereka. Terakhir mereka bertemu ayah mereka pada bulan Juni 1942 saat Hugh pergi ke Amerika sebagai penasihat dalam Pertahanan Sipil.

Pernikahan kedua Enid sangat bahagia. Mereka tetap tinggal di Green Hedges. Secara halus Enid dapat beradaptasi dan mengubah perannya sebagai istri dokter.

Setelah memutuskan hubungan dengan Hugh dan melarang mantan suaminya itu untuk menemui kedua putri mereka, Enid membuat seolah-olah Kenneth merupakan ayah dari Gillian dan Imogen. Dalam otobiografinya yang berjudul The Story of My Life (1952) Enid memasukkan foto 'keluarga kecilnya' yang tampak bahagia terdiri dari dirinya sendiri, suami keduanya, Kenneth beserta dua putrinya, Gillian dan Imogen. Sama sekali tak disinggung mengenai Hugh, suami pertamanya sehingga memberi kesan secara eksplisit kepada para pembacanya bahwa Kenneth merupakan ayah dari kedua gadis dalam foto tersebut.

Dalam pernikahan keduanya Enid tak diberkahi anak. Pada musim semi tahun 1945 Enid mengandung tapi sayangnya kandungannya hanya bertahan selama lima bulan saja. Ia keguguran akibat jatuh dari tangga.

Karir menulis Enid makin lama makin cemerlang. Ia memasukkan kedua putrinya ke sekolah berasrama, saat itulah Enid mulai menulis karya-karya besarnya seperti Lima Sekawan, seri-seri petualangan, St. Clare, Malory Towers dan banyak lagi. Pada tahun 1949 Enid menerbitkan Noddy, boneka lucu yang tinggal di negeri mainan dan memiliki sebuah mobil mini. Noddy menjadi salah satu tokoh ciptaan Enid yang terkenal.

Selain itu Enid juga membuat majalah yang membantunya mempromosikan empat kelompok fans club-nya untuk kegiatan sosial. Klub yang pertama, Busy Bees, untuk membantu binatang), klub kedua berjuluk Famous Five Club (klub Lima Sekawan) tujuannya mengumpulkan dana untuk memberikan rumah yang layak bagi anak-anak. Lalu klub berikutnya, The Sunbeam Society untuk membantu anak-anak tuna netra dan yang terakhir Klub Majalah yang mengumpulkan dana untuk anak-anak yang menderita kejang akibat penyakit cerebral palsy.

Lewat majalahnya ini Enid menyampaikan pada para pembaca ciliknya agar menjadi anak yang baik, suka menolong, dan bertanggung jawab. Ia mengingatkan pembacanya bahwa tindakan kecil mereka dapat membawa perubahan sosial tak peduli kelompok usia mereka. Untuk itu Enid memperkenalkan keempat klub tersebut dan menyilakan para pembacanya untuk bergabung di salah satu klub tersebut.

Dari tulisan-tulisannya Enid mendapat kekayaannya. Pada tahun 1950 Enid mendirikan Darrell Waters Ltd., untuk mengatur keuangannya.

Kematian

Pada tahun 1957 Kenneth berhenti dari profesinya sebagai dokter bedah. Pada bulan September 1959 Enid menutup majalahnya karena ingin menghabiskan lebih banyak waktunya bersama Kenneth padahal empat kelompok fans club yang dipromosikan dalam majalahnya tersebut telah berhasil menjaring sekitar 500.000 anggota dan mengumpulkan sekitar 35.000 poundsterling hanya dalam waktu 6 tahun. Jumlah uang yang sangat besar pada masa itu.

Tahun 1950-an akhir kondisi kesehatan Enid mulai memburuk. Ia mengalami sesak nafas dan diduga menderita serangan jantung. Pada awal 1960-an barulah diketahui bahwa Enid menderita dementia. Ingatannya tak lagi tajam, ia jadi suka cemas dan takut kehilangan ingatan. Enid juga sangat ingin kembali ke masa kecilnya saat di Beckenham bersama kedua orangtuanya.

Sementara itu kesehatan Kenneth makin buruk. Ia menderita radang sendi akut dan obat yang diminumnya untuk mengobati radang sendi malah merusak ginjalnya.

Pada tanggal 15 September 1967 Kenneth meninggal dunia. Kematian Kenneth membuat Enid kesepian dan rapuh sedangkan anak-anaknya, Gillian dan Imogen yang telah berumur 30-an tinggal jauh dari rumah. Meski mereka rutin mengunjungi Enid tapi para pekerjanya di Green Hedges yang merawatnya saat kesehatannya terus merosot.

Akhir musim panas tahun 1968 Enid dirawat di rumah jompo Greenways, Hampstead. Tiga bulan kemudian tepatnya pada tanggal 28 November 1968 Enid Blyton, sang ratu cerita anak-anak meninggal dunia dalam usia 71 tahun. Jazadnya dikremasi di Golders Green, London Utara dan upacara perpisahannya diselenggarakan di Gereja St. James, Piccadilly pada tanggal 3 Januari 1969.

Meski Enid telah memberikan keceriaan dan dicintai jutaan anak di seluruh dunia lewat buku-bukunya tapi anaknya sendiri justru tak menyukainya. Imogen, putri bungsunya pernah mengatakan, "Enid Blyton yang sebenarnya adalah orang yang arogan, gelisah, bergaya hidup mewah, sangat pandai menyingkirkan hal-hal yang tak menyenangkan dari pikirannya, dan tak memiliki rasa keibuan. Sebagai seorang anak, aku melihatnya sebagai sosok yang cukup keras dan berkuasa. Sedangkan sebagai orang dewasa aku iba padanya."

Nobody's perfect. Enid blyton yang dicintai jutaan anak di dunia ternyata tak mampu mendapatkan cinta dan penghargaan yang besar dan tulus dari anak-anaknya. Meski begitu aku selalu terkenang dengan karya-karya Enid. Aku merupakan salah satu anak yang tumbuh besar melalui kisah-kisah petualangan dan cerita-cerita gadis berasrama-nya. Bahkan bisa dibilang aku bisa lancar membaca berkat Lima Sekawan karangannya. Hampir semua karangannya begitu dekat denganku mulai dari Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, Si Kembar di St. Clare, Mallory Tower hingga cerita bergambar si Noddy yang lucu. Semua begitu lekat dengan sejarah pertumbuhanku sejak masih kanak-kanak hingga remaja. Bahkan berkat karya-karya Enid Blyton yang begitu banyak dan dekat dengan dunia anak-anak, membaca menjadi salah satu kegiatan yang paling kusuka sejak kecil. Rasanya dunia amat membutuhkan Enid Blyton-Enid Blyton baru yang bisa kembali membangkitkan minat baca anak jaman sekarang yang lebih suka bermain game daripada membaca dan lebih memilih menghabiskan waktu bahkan rela membolos untuk bermain game di warnet dibanding meluangkan waktu ke perpustakaan atau toko buku. Bagaimana? Apakah ada yang berminat menjadi The Next Enid Blyton? :)

Tidak ada komentar: