Total Tayangan Laman

Translate

Jumat, 02 Mei 2014

Review Novel: Sleeping With The Enemy - Nancy Price

Sara Gray Burney merasa pernikahannya dengan Martin Burney adalah sebuah kesalahan besar. Ia tak pernah menyangka Martin yang bersikap baik dan lembut saat masih berpacaran ternyata seorang pria picik yang bukan hanya suka mabuk tapi juga gemar menyiksanya secara fisik. Sara bahkan nyaris tak memiliki hak apapun dalam kehidupan pernikahan mereka. Martin bisa bertindak sesuka hatinya. Menyiksa dan menekan Sara untuk mendapatkan keinginannya. Martin bahkan kerap mengingatkan Sara bahwa Sara adalah miliknya seolah Sara adalah sebuah benda mati yang tak memiliki hati dan jiwa. Salah satu propertinya dan karenanya Martin bebas memperlakukan Sara sesuai kehendaknya tanpa mempedulikan hak pribadi Sara sebagai seorang individu yang berjiwa dan bernyawa. 

Segala macam hal bisa dengan mudah membangkitkan amarah Martin. Dan bila marah bisa diduga Martin selalu melampiaskannya pada Sara dengan memukul atau menendangnya. Hal-hal remeh pun tak jarang bisa menyebabkan Martin marah dan melakukan kekerasan fisik terhadapnya. 

Sara sangat menyukai pekerjaannya di perpustakaan. Martin sebenarnya tak suka Sara bekerja. Tapi akhirnya ia mengijinkan Sara bekerja dengan syarat Sara tak boleh terlambat di rumah untuk menyediakan makan malamnya. Martin tak suka bila Sara terlambat satu menit pun menyiapkan makannya. Bahkan Martin juga bisa tiba-tiba marah dan memukulnya bila Sara tak menata sajian di piringnya sesuai kehendaknya. Daging dan sayur-mayur di atas piring Martin harus ditata serapi mungkin dengan posisi yang benar seperti yang diharapkan oleh Martin. 

Pernah Sara mencoba melarikan diri tapi naas, Martin bisa menemukan Sara. Akibatnya sangat mengerikan. Martin menendang dan memukulinya sampai-sampai jari kaki Sara patah. 

Saat itu Martin yang geram menodongkan pistol di tengkuk Sara sambil mengancam akan membunuh Sara bila ia sampai berani-berani kabur lagi. Martin juga mengingatkan Sara bila Sara sampai berani berselingkuh dan lari bersama pria lain maka Martin takkan segan-segan untuk membunuhnya dan pria tersebut. 

Sara memiliki seorang ibu yang tinggal di rumah jompo. Ibunya sudah tua dan buta. Saudara satu-satu yang dimilikinya sudah lama meninggal dunia. Joe, adik laki-lakinya semata wayang tewas tenggelam saat mereka masih kecil. Itulah sebabnya Sara amat takut dengan air. Peristiwa tenggelamnya adiknya masih meninggalkan trauma dan ketakutan dalam diri Sara. Semua teman-teman Sara tahu kalau Sara amat takut dengan air laut. Ia takut tenggelam. Martin juga tahu hal ini. Tapi Martin tetap saja tak mempedulikan trauma istrinya ini. 

Saat tengah berlibur di rumah pantai tempat mereka pernah berbulan madu, tetangga di samping rumah penginapan mereka memiliki sebuah perahu layar. Ia suka berlayar menuju kota terdekat di sana untuk menjemput kekasihnya. Martin tiba-tiba saja sangat antusias berlayar malam itu. Ia pun mendesak Sara untuk berlayar bersama tetangga mereka. Sara yang memiliki fobia terhadap air laut menolaknya. Wajahnya pucat dan tangannya gemetar ketakutan. Martin jelas melihatnya tapi tetap saja Martin memaksa bahkan menendang Sara saat Sara tetap bersikeras menolak ikut pergi berlayar bersamanya. Akhirnya karena tak punya pilihan Sara pun ikut berlayar. 

Perlayaran mereka malam itu ternyata justru menjadi babak baru dalam hidup Sara. Selama berlayar, wajah Sara pucat pasi. Tangannya menggenggam erat tepi perahu. John Fleishman, pemilik perahu layar itu pun melihat wajah Sara yang pucat. Demikian pula dengan Martin tapi tetap saja Martin tak mempedulikan perasaan Sara. Ia terlalu egois untuk memikirkan penderitaan Sara selama pelayaran mereka malam itu. Ia malah asyik menikmati suasana malam yang dinilainya amat indah itu dengan bulan purnama yang bersinar sempurna. Saat itulah petaka itu tiba-tiba saja terjadi. 

Sekonyong-konyong angin keras menerpa perahu layar yang mereka tumpangi. Dan kejadian itu berlangsung dengan cepat. Sara terjatuh ke laut. Martin dan John Fleishman yang terkejut terus memanggil-manggil nama Sara tapi tak ada satupun tanda-tanda keberadaan Sara. 

Martin dan John Fleishman pun melapor ke pos polisi terdekat perihal menghilangnya Sara ini. Polisi menduga Sara tenggelam dan meninggal. Awalnya Martin tak bisa menerima ini, ia masih mencoba kembali meneriakkan nama Sara tapi tetap saja tak ada tanda-tanda keberadaannya. Saat ia kembali ke rumah pantai tempat mereka menginap, semuanya masih berada di tempatnya kecuali Sara. Tak ada tanda-tanda Sara sempat kembali ke rumah itu. Semua barang-barang Sara termasuk buku hariannya masih ada di sana. Akhirnya Martin pun harus menerima kenyataan bahwa Sara telah tenggelam dan meninggal dunia. Dan semua itu karena dirinya. 

Satu hal yang tak diketahui Martin ternyata Sara selama beberapa bulan belakangan telah melakukan terapi untuk mengatasi fobianya terhadap air laut. Dan Sara akhirnya berhasil mengatasi ketakutannya dan bahkan menjadi perenang yang handal. Dan itulah yang dilakukan Sara saat terjatuh dari kapal layar John Fleishman. 

Saat terjatuh dari kapal, Sara berusaha selama mungkin menyelam di bawah kapal layar. Ia mendengar suara Martin memanggil-manggilnya tapi ia tetap berusaha agar kepala dan tubuhnya tetap di bawah air. Saat Martin dan John Fleishman pergi ke kantor polisi, barulah Sara naik ke daratan, melepas pakaian basahnya, sehingga saat masuk ke dalam rumah pantai tempatnya menginap bersama Martin tak ada jejak-jejak air di lantai. Secepatnya Sara mengambil kantung berisi beberapa potong pakaian dan sedikit uang yang disembunyikannya di bawah sofa. Setelah itu Sara berganti baju dengan pakaian kering dan segera pergi dari sana tanpa meninggalkan jejak setitikpun. 

Sara memilih pergi ke sebuah kota kecil yang sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya dan Martin sehingga suaminya takkan menemukannya. Di tempat ini Sara memulai hidup baru dengan nama Laura Pray. Rambut pirangnya yang indah terpaksa disembunyikannya di balik wig warna cokelat. Ia menyewa sebuah rumah yang nyaman dengan harga murah. Demi menghemat pengeluaran, Sara bahkan bersedia mengecat sendiri rumah sewaan barunya. Ia juga berhemat dalam membeli makanan karena uang yang dimilikinya tak terlalu banyak. Ia membutuhkan pekerjaan tapi untuk bekerja di perpustakaan seperti profesinya selama ini, tak mungkin karena pekerjaan-pekerjaan formal semacam itu harus memberikan nomor jaminan sosialnya. Dan bila ia memberikan nomor jaminan sosialnya maka penyamarannya akan segera ketahuan dan Martin pasti bisa langsung menemukannya. Jadi ia mencoba mencari pekerjaan non-informal seperti menjadi asisten rumah tangga atau merawat orang sakit. 

Selama belum mendapat pekerjaan Sara benar-benar harus mengencangkan ikat pinggang. Ia hanya mampu membeli bubur gandum dan pisang untuk menunya sehari-hari. Tapi tetangga Sara memiliki pohon apel dan kerapkali buah-buah apel itu berjatuhan ke bawah. Sara suka diam-diam mengambil apel-apel yang berjatuhan itu untuk menu hariannya. 

Tak memiliki uang berarti banyak hal. Terutama di musim panas. Karena tak memiliki uang, Sara tak sanggup membeli alat pendingin ruangan sehingga ia harus bertahan dan menikmati cuaca panas sambil memandang dengan iri ke arah rumah tetangganya yang terlihat nyaman dan sejuk. 

Ben Woodward, tetangga Sara ini adalah seorang professor yang mengajar drama di universitas. Ben sudah jatuh hati pada Sara sejak pertama kali melihat wanita ini. Meski menyayangkan warna rambut Sara yang cokelat karena tipe wanita yang disukai Ben biasanya wanita berambut pirang tapi mata jeli Ben bisa dengan cepat menyadari bahwa wanita cantik tetangganya ini mengenakan wig. Dan itu artinya ada sesuatu yang disembunyikannya. Ben sangat ingin tahu rahasia apa yang tengah disembunyikan Sara tapi segala kemisteriusan maupun tubuh Sara yang dinilainya terlalu kurus ini tetap tak bisa menghentikan perasaannya terhadap tetangga barunya ini. 

Kesempatannya untuk berkenalan dengan Sara muncul di suatu pagi. Saat itu Sara tengah berupaya menolong seekor kucing yang ketakutan di atas pohon maple. Ben yang tiba-tiba sudah berada di belakang Sara berkenan menolong kucing itu turun. Sara sebenarnya ingin sekali memelihara kucing yang baru mereka selamatkan itu, bila ternyata tak ada yang memiliki kucing tersebut, tapi kondisi keuangannya saat ini tak memungkinkan. Setidaknya sampai ia mendapatkan pekerjaan barulah ia bisa membawa kucing itu ke rumahnya. Tapi Ben ternyata bersedia menampung kucing tersebut sementara waktu di rumahnya. Mereka menamai kucing itu Banana. 

Dalam kesempatan itu pula, Ben memberanikan diri mengajak Sara makan malam. Sara yang takut dengan ancaman Martin merasa belum siap untuk berhubungan dengan siapapun. Tapi Ben tentu saja tak tahu soal ini. Ia memang mengira bahwa Sara tengah menyembunyikan diri dan tentunya tak ingin keberadaannya dilihat oleh orang banyak apalagi pergi makan malam bersama seorang pria di sebuah tempat publik. Maka Ben pun mengubah taktiknya. Ia mengundang Sara makan malam di rumahnya jam 7 malam saat hari sudah gelap dan Sara bisa masuk ke rumah Ben lewat pintu belakang sehingga takkan dilihat siapapun. Sebenarnya pula tawaran makan malam ini sudah amat menggoda bagi Sara terlebih saat ia mencium aroma bacon panggang, menu sarapan Ben dari arah dapur Ben, maka Sara pun menerima tawaran Ben itu. 

Makan malam itu kemudian jadi ritual mereka. Setiap minggu di jam yang sama, Sara diperkenankan datang ke rumah Ben lewat pintu belakang untuk makan malam. Mereka pun menjadi akrab terlebih karena mereka memiliki kesukaan yang sama soal buku. Ben suka membahas soal drama yang juga disukai Sara. Saking akrabnya Sara bebas menggunakan dapur Ben. Dan karena di rumah barunya, perlengkapan dapur Sara masih belim lengkap, ia sangat suka berada di dapur Ben. Dan demi membalas kebaikan Ben, Sara menawarkan membuatkan makan siang untuk Ben yang langsung disambut gembira oleh Ben. 

Nasib baik memang perlahan mulai beranjak mendekati Sara. Pekerjaan yang amat dibutuhkannya itu akhirnya datang juga. Ia mendapat pekerjaan merawat Hazel George Channing, seorang professor yang sudah mengajar Sastra Inggris selama 40 tahun di universitas. Tapi akibat sebuah kecelakaan parah yang dialaminya baru-baru ini membuatnya harus selalu berada di atas kursi roda dan kehilangan semangat hidupnya. Ellen Garner, salah seorang muridnya yang tinggal bersamanya tak bisa menjaganya di siang hari saat ia harus bekerja. Karenanya ia mencari orang yang bisa merawat, memasak dan menyuapi Dr. Channing. 

Kecelakaan mobil yang dialami Dr. Channing membuat wanita ini tak bisa menggerakkan tubuhnya. Kecelakaan itu juga membuat Dr. Channing tak mau lagi bicara. Menanganinya sepertinya hal yang sulit tapi Sara yang sebelum bersama Martin sudah terbiasa mengurus ibunya yang buta. Dan nyatanya Sara memang sangat telaten mengurus Dr. Channing. Ia bahkan menanyakan terlebih dahulu pada Dr. Channing menu apa yang disukainya sebagai makan siangnya, meski Sara sudah diberitahu Dr. Channing tak pernah bicara lagi sejak kecelakaan itu. Sara meminta Dr. Channing memberi isyarat dengan mengedipkan matanya untuk memberitahu bila ia menyukai salah satu menu yang disebutkan Sara. 

Atas informasi dari Ben, Sara mengetahui Henry James adalah penulis favorit Hazel Channing. Karena itulah Sara juga menyempatkan diri setiap hari membacakan novel Henry James untuk Hazel Channing. Hal ini membuat Dr. Channing yang selama ini kehilangan semangat hidupnya merasakan kembali kegembiraannya. Tak seperti biasanya siang itu ia makan banyak sekali sehingga saat Ellen Garner pulang, ia amat terkejut saat mengetahui Hazel Channing makan sebanyak itu. Puas dengan pekerjaan Sara maka Ellen langsung membayarkan gaji Sara dan memintanya datang setiap hari. 

Sementara itu Martin yang merasa kehilangan Sara masih terus meratapi kepergian istrinya. Ia merasa menyesal karena sikap kasarnya selama ini terhadap Sara. Suatu hari secara kebetulan Martin bertemu seorang wanita yang rupanya mengenal Sara di tempat terapi dan memberitahu Martin bahwa walau awalnya Sara amat takut berada di dalam air tapi belakangan Sara akhirnya bisa mengatasi rasa takutnya dan bahkan sangat piawai berenang. Martin tentu saja amat terkejut dengan pemberitahuan wanita ini. Ia sangat marah dan merasa Sara sudah menipunya. Ia memang tak tahu di mana saat ini Sara berada tapi ia yakin Sara pasti akan menemui ibu kandungnya sendiri, satu-satunya anggota keluarganya yang masih hidup. Dan ke sanalah Martin memulai pencariannya. Ia bertekad menemukan Sara dan memberinya pelajaran. Ia akan membunuh Sara karena telah berani-berani menipunya. 

Dugaan Martin memang tak keliru. Bagaimanapun juga Sara amat merindukan ibunya. Ia yakin ibunya pasti sudah mendengar berita perihal "kematian"- nya itu, dan ibunya pasti sedih. Sara ingin sekali pergi ke rumah jompo tempat ibunya dirawat dan memberitahu ibunya bahwa ia masih hidup. Tapi bila ia ke sana, ia yakin Martin pasti akan mengetahuinya. Satu-satunya cara baginya untuk pergi menemui ibunya tanpa ketahuan oleh Martin adalah menyamar. 

Dengan bantuan peralatan drama dari Ben, maka Sara pun menyamar sebagai seorang pria muda. Ben yang masih belum secara tuntas mengetahui rahasia apa yang tengah disembunyikan Sara memilih tak bertanya terlalu banyak. Ia bahkan meminjamkan mobilnya untuk dipakai Sara pergi ke kota tempat ibunya dirawat. 

Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Meski Sara sudah amat rapi mengatur penyamarannya tapi akhirnya Martin berhasil menemukannya juga. Sara dengan penyamarannya ini memang berhasil menemui ibunya dan memberitahu ibunya bahwa ia adalah Sara dan ia terpaksa bepura-pura tewas tenggelam demi bisa melarikan diri dari Martin. Tapi keberhasilan Sara menemui ibunya inilah yang pada akhirnya menggiring Martin ke tempat persembunyiannya selama ini. Martin memang tak menduga pria muda yang menemui ibu mertuanya itu adalah Sara tapi ia menduga pria muda itu mungkin kekasih baru Sara jadi ia mengikuti pria ini hingga ke kota kecil tempat Sara bersembunyi selama ini. 

Keberuntungan Sara yang semula menghampirinya kini justru berbalik. Petaka mulai kembali menyerangnya. Hidupnya mulai rumit. Secara kebetulan, Sara mengetahui rahasia gelap Ellen Garner, orang yang mempekerjakannya untuk merawat Hazel Channing. Ellen Garner ternyata hamil di luar nikah dan secara tak terduga bayinya lahir di dalam kamar mandi di rumah Dr. Channing dan hal ini terlihat oleh Sara. Nama Ellen Garner pun ternyata bukanlah nama aslinya. Ellen takut sekali Dr. Channing mengetahui hal ini dan akibatnya ia akan diusir. Ia terus saja menangis takut Sara akan menceritakan rahasianya ini pada orang lain. Meski Sara sudah meyakinkannya bahwa ia akan menjaga rahasia ini tapi Ellen tetap saja menangis. Akhirnya Sara memberitahu Ellen soal rahasianya juga. Ia memberitahu Ellen bahwa Laura Pray bukanlah nama aslinya dan ia juga membuka wignya di depan Ellen sehingga Ellen bisa melihat bahwa rambut aslinya pirang. 

Sementara itu hubungan Sara dan Ben semakin dekat. Namun Sara tetap menjaga jarak karena khawatir bilamana Martin berhasil menemukan tempat persembunyiannya. Ben yang sudah jatuh cinta pada Sara merasa frustasi dengan sikap wanita misterius ini. Walau ia tak terlalu mendesak Sara tapi hatinya bergelora oleh rasa penasaran terhadap rahasia apa yang sebenarnya tengah disembunyikan wanita cantik ini. Sara masih belum berani bersama Ben di depan publik. Ia masih suka diam-diam menyelinap ke rumah Ben lewat pintu belakang sehingga tak diketahui oleh tetangga lainnya. Hal inilah yang menjadi salah satu kekesalan Ben. Dalam hatinya ia ingin sekali membawa Sara ke tempat umum seperti pasangan lainnya, tapi hal itu tak mungkin selama Sara masih merasa belum aman. 

Suatu hari Sara menemukan sebuket mawar merah di depan pintunya disertai secarik kertas berisi kata-kata yang membuatnya nyaris kaku karena ketakutan. Kalimat di atas kertas tersebut berbunyi: 

AKU TAHU SIAPA DIRIMU, LAURA-KU. 
AKU TELAH MENEMUKANMU DAN AKU 
TAKKAN MELEPASKANMU. 

Saat membacanya, otak Sara serasa membeku. Ia mengira Martin berhasil menemukannya. 

Sepulang dari mengunjungi ibunya, Sara merasa gembira sekali. Ia juga tak melihat keberadaan Martin di rumah jompo. Ia sama sekali tak menduga Martin justru telah mengikutinya hingga ke tempat persembunyiannya. Sara yang tengah gembira sama sekali tak menyadari telah menggiring serigala ke goa tempatnya bersembunyi. 

Sara yang sebenarnya juga mencintai Ben tapi takut dengan ancaman Martin kini merasa sudah bebas. Ia mengira Martin takkan pernah menemukannya jadi kini ia bebas memulai hubungan baru dengan pria lain. Ia ingin membalas cinta Ben. Dan di saat inilah, ia melihat Martin. Ia tentu saja sangat terkejut, tapi bertekad tak ingin lagi takluk di bawah kaki Martin. Ia berniat berjuang meraih kebahagiaannya sendiri. Namun kebahagiaan takkan bisa diraihnya kecuali Martin mati! 

Novel ini pernah difilmkan dengan judul yang sama dan Sara Burney diperankan oleh Julia Roberts. Walau membaca novel ini dengan bahasa aslinya tapi gaya bahasa Nancy Price yang ringan dan sederhana membuat kita asyik menyelami setiap karakter tanpa perlu mengerutkan kening terlalu dalam. Nancy Price juga pandai mengatur secara rapi setiap konflik antar tokoh dan menjaga rasa penasaran pembaca terus terjaga hingga akhir cerita. 

Penerbit : Arrow Books Limited, London 
Tebal : 332 halaman 
ISBN : 0 09 994910 5 

Tidak ada komentar: