Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 28 November 2009

The Selfish City

         

   pic taken from here

Pertama harus kuungkapkan bahwa tulisanku ini memang merupakan refleksi kejengkelanku atas beberapa hal tapi aku merasa bahwa pangkal dari semuanya ini adalah karena pembangunan yang seringkali hanya memikirkan kelompok berada meski harus kutekankan bahwa tulisanku ini tanpa maksud untuk menghakimi atau mendiskreditkan kelompok ataupun pemda DKI yang berurusan dengan pembangunan di Jakarta.

Sudah hampir berbulan-bulan, aku dibuat jengkel oleh pembangunan jalan di daerah menuju kantorku. Kejengkelanku pertama karena akibat pembangunan itu, jalanan jadi terkesan semrawut, motor dan mobil seenaknya saja melintas di putaran dekat proyek pembangunan jalan yang bukan hanya bisa membahayakan si pengemudi itu sendiri tapi terutama nyawa orang lain terlebih pejalan kaki yang melintas jadi sulit sekali menyeberang jalan karena mobil atau motor yang melintas seenaknya itu.

Kedua, pembangunan jalan itu kuanggap diskriminatif karena hanya memikirkan jalan untuk para pengguna mobil sementara setapak jalan kecil yang semula masih ada untuk pejalan kaki ditiadakan demi memberikan space yang lebih luas bagi kendaraan-kendaraan bermotor. Ketiga, aku sangat prihatin melihat akibat pembangunan jalan itu, kelangsungan hidup eceng gondok di kali dekat jalan jadi terancam, bahkan kulihat banyak eceng gondok yang diangkat dari kali dan dibiarkan tergeletak di dekat jalan sehingga eceng godok itu mati.

Bukannya aku anti pembangunan. Aku juga suka melihat Jakarta menjadi cantik tapi aku lebih suka bila pembangunan yang dilakukan pemda DKI bukan hanya terlihat cantik seperti boneka Barbie yang cantik tapi tak berjiwa.

Entah apakah egois merupakan keharusan bagi sebuah kota untuk menjadi kota metropolitan dan Jakarta yang telah menjadi kota megapolitan terlihat cantik terlebih saat malam ketika lampu-lampu kota berkelap-kelip menghias kota namun kecantikan itu ternyata harus menumbalkan pihak lain. Seperti seorang wanita, aku tak bermaksud menyalahkan para wanita yang ingin tampil cantik, tapi ternyata demi memuaskan keinginan para wanita untuk tampil cantik, ternyata para produsen kosmetik kerap menggunakan binatang sebagai sarana untuk mengetes sifat-sifat kimiawi dalam kosmetik tersebut yang kerap meski tak membunuh binatang yang dijadikan bahan percobaan itu tapi akibat efek samping dari bahan-bahan kimiawi tersebut telah membuat binatang itu cacat atau mungkin merusak organ dalam si binatang tersebut. Lalu apakah artinya kecantikan itu? Mungkin berkat kosmetik itu kita menjadi pusat perhatian dan banyak orang yang mengagumi kecantikan kita, tapi kecantikan kita itu ternyata telah menyebabkan kematian makhluk hidup lainnya? Tidakkah nurani kita kemudian akan terusik ketika kita melihat cermin, mengagumi kecantikan kita tapi cermin itu malah menampilkan sosok pembunuh dalam diri kita?

Apa artinya kecantikan itu bila kemudian kita kehilangan nurani? Hanya demi terlihat modis dan berkelas dengan menenteng tas kulit sementara sepatu kulit makin memperlihatkan kaki indah kita, ditambah balutan mantel-mantel bulu membuat penampilan kita semakin wah, tapi tidakkah terpikir dalam benak kita, untuk membuat penampilan kita menjadi wah itu bahkan kita bukan hanya telah membunuh buaya, harimau, atau apapun yang kulitnya bisa digunakan untuk sepatu, tas atau mantel-mantel itu, tapi kita juga telah merusak ekosistem alam padahal Tuhan memberikan bumi ini bagi kita bukan untuk kita hancurkan.

Begitulah kecantikan kota Jakarta menurut pandanganku saat ini. Seperti kukatakan sebelumnya, bukannya aku anti pembangunan tapi bukankah arti pembangunan pada dasarnya adalah untuk kesejahteraan bersama? Tapi kenyataannya pembangunan di Jakarta sepertinya hanya mensejahterakan golongan tertentu saja. Lihat saja, betapa gencarnya pembangunan rumah-rumah mewah, apartemen, atau mal-mal sementara beberapa kelompok miskin kota berkutat dalam kemiskinannya di daerah-daerah kumuh yang boro-boro memikirkan tinggal di griya-griya mewah itu, untuk membayar rumah kontrakan sepetaknya yang hanya sebesar kamar mandi di apartemen mewah itu saja sudah cukup menyulitkan terutama bagi buruh borongan yang penghasilannya tak menentu, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang sulit sekarang ini, seringkali karyawan borongan harus ngendon di rumah karena tak ada barang yang artinya, ia harus mencari akal untuk mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup dan membayar kontrakannya. Jadi jelaslah pembangunan rumah-rumah mewah itu tak benar-benar mencakup setiap aspek masyarakat kota Jakarta.

Padahal banyak ahli yang memperkirakan bahwa Jakarta akan tenggelam suatu hari nanti, tapi kok ya pemda dalam hal ini (ya, sebenarnya sih aku tak bermaksud menyalahkan pemda tapi bukankah memang pemda yang memiliki kebijakan mengenai tata ruang dan pembangunan di ibukota republik ini?) sepertinya tak peduli. Bahkan kutahu, ada sebuah kompleks perumahan mewah yang dibangun di atas lahan hutan lindung. Kok bisa ya hutan lindung digunakan untuk membangun perumahan mewah begitu? Bukankah hutan lindung itu mestinya merupakan daerah yang dilindungi karena bukan hanya demi ekosistem di sekitar hutan lindung itu yang artinya bukan hanya melibatkan flora ataupun fauna di hutan lindung itu tapi juga manusia yang tinggal di sekitar hutan lindung itu. Buktinya begitu perumahan mewah itu dibangun, banjir tak henti-hentinya melanda rumah-rumah masyarakat menengah ke bawah yang tinggal di sekitar perumahan mewah yang dibangun di atas lahan hutan lindung itu. Kalau begitu, bagaimana pemda bisa melindungi masyarakatnya jika hutan lindungnya saja tak dapat dilindungi keberadaannya?

Di sisi lain pembangun jalan pun seringkali tak memperhatikan keberadaan para pejalan kaki. Seperti yang kukemukakan di atas demi menambah space bagi jalan yang akan dilintasi kendaraan bermotor sampai-sampai area pejalan kaki dibabat sehingga para pejalan kaki kesulitan. Padahal, ketika area pejalan kaki itu masih ada pun, para pejalan kaki seringkali dibuat jengkel dengan ulah pengemudi sepeda motor yang suka seenaknya merebut lahan yang diperuntukkan bagi pedestrian itu. Padahal, pengemudi sepeda motor sudah enak karena tak perlu menggunakan kakinya seperti para pedestrian tapi kok ya tega, membuat para pejalan kaki makin kesulitan?

Aku sendiri kadang suka berjalan di jalan setapak itu sebelum jalanan itu dibabat untuk pelebaran jalan, dan seringkali aku dibuat jengkel dengan sepeda motor yang tiba-tiba nyelonong saja, bahkan pernah aku hampir keserempet, dan ketika aku mendumal, si pengemudi sepeda motor itu malah memelototkan matanya. Bukan main panasnya hatiku bila melihat pengemudi motor yang egois seperti itu. Dan lebih kesalnya lagi ketika kuceritakan mengenai masalah ini kepada ibuku, beliau hanya tersenyum dan berkata, "ya, itulah Jakarta." Apakah maksudnya Jakarta itu setiap orang bisa bertindak seenaknya saja tanpa memikirkan kepentingan orang lain? Apakah untuk menjadi masyarakat teladan ibukota nusantara ini, kita harus menjadi pribadi yang egois begitu? Itukah artinya kalimat, 'ya, itulah Jakarta' itu?

Padahal, jika pemda benar-benar serius ingin menciptakan kota yang hijau, bersih, sehat, dan bermartabat itu, mestinya pemda lebih memperhatikan kawasan pedestrian dalam proyek pembangunan jalannya dan mestinya pemerintah lebih menggerakkan rakyatnya untuk melakukan gaya hidup sehat salah satunya dengan berjalan kaki bila jarak yang ingin ditempuh tak terlalu jauh dan terlalu mengandalkan kendaraan bermotornya yang meski nyaman dan tak melelahkan kaki tapi karbondioksida yang dikeluarkan kendaraannya itu telah berkontribusi dalam penghancuran bumi ini. Jika lebih banyak yang berjalan kaki, bukankah kota yang hijau, bersih, sehat, dan bermartabat itu dengan serta merta dapat terwujud.

Jakarta yang hijau, bersih, dan asri pastinya menjadi dambaan setiap warganya tapi kecantikan fisik Jakarta mestinya juga dibarengi dengan kecantikan jiwa para warganya. Sebagai warga ibukota republik ini mestinya masyarakat Jakarta lebih bermartabat dan tak seenaknya saja seolah keegoisan merupakan ciri masyarakat modern perkotaan. Mestinya pula pemerintah kota lebih arif dalam melakukan pembangunan kota agar kelangsungan kota ini tetap lestari dan pada akhirnya pembangunan dapat sungguh-sungguh dirasakan manfaatnya bagi semua kelompok di ibukota ini sehingga setiap warga Jakarta dapat sungguh-sungguh merasa bahwa kota ini benar-benar milik kita bersama. Jika sudah begitu, masih adakah yang bertanya, 'Jakarta siapa yang punya?'

pic taken from here


Tidak ada komentar: