Total Tayangan Laman

Translate

Rabu, 09 Juni 2010

Elizabeth I = The Virgin Queen

pic taken from here

Tag dari : Selvia Lusman & Alicemop

Perjalanan Elizabeth I menuju takhtanya bisa dibilang cukup berliku. Ia sempat dibuang oleh ayahnya sendiri yaitu Raja Henry VIII dan kehilangan statusnya sebagai putri raja setelah ibu Elizabeth, Anne Boleyn yang merupakan istri kedua Henry VIII dipenggal karena dituduh berzinah. Bahkan setelah kematian ibunya, Elizabeth dinyatakan sebagai anak haram. Saat ayahnya wafat, adik laki-lakinya, Edward VI naik takhta menjadi raja tapi tak lama karena Edward VI meninggal pada 6 Juli 1553 diduga akibat penyakit tuberkulosis.

Setelah adik Elizabeth meninggal, anehnya bukan anak-anak Henry VIII yang lain yang menjadi penerus takhta. Penerus takhta malah diserahkan kepada Lady Jane Grey, cucu Mary, Duchess of Suffolk yang adalah adik perempuan Henry VIII. Tentu saja takhta Lady Jane ini tak mendapat sambutan dan dukungan dari banyak pihak yang menganggap bahwa takhta seharusnya menjadi milik Mary, putri pertama Henry VIII dengan istri pertamanya, Catherine of Aragon yang diceraikannya karena Henry mendambakan anak laki-laki dan telah kadung jatuh cinta pada Anne Boleyn, ibu Elizabeth yang dikira bisa memberikannya seorang putra mahkota. 

Usia takhta Lady Jane pun hanya bertahan selama sembilan hari untuk kemudian digulingkan. Mary, putri tertua Henry VIII dan Elizabeth yang sempat terbuang setelah ibu mereka disingkirkan oleh sang raja yang juga adalah ayah mereka, pun akhirnya kembali ke London

Kehidupan dan latar belakang Ratu Elizabeth I sebenarnya sangat rumit. Ia lahir di tengah keluarga yang bisa dibilang amburadul. Ayahnya doyan sekali kawin hanya karena ingin memiliki putra mahkota sebagai pewaris takhtanya. Belum lagi intrik politik antar kelompok agama di sekeliling takhta yang telah ikut berpengaruh dalam perjalanan hidup Elizabeth, dari sejak lahirnya hingga akhirnya ia ditahbiskan sebagai ratu. 

Elizabeth lahir di Greenwich Palace di Chamber of Virgins pada 7 September 1533. Ia merupakan anak satu-satunya Anne Boleyn dan Raja Henry VIII namun Elizabeth merupakan anak kedua Henry VIII yang telah mendapatkan seorang putri dari pernikahan terdahulunya dengan Catherine of Aragon yang dianulirnya demi bisa menikahi Anne dan membawa Anne meraih kursi ratu dari Catherine of Aragon. 

Namun setelah ternyata Anne tak jua berhasil memberikan seorang putra mahkota, cinta dan hati sang raja pun mulai berpaling dari Anne. Dengan berbagai intrik politik di sekitar takhta, Anne pun dijebak dan dikenakan tuduhan palsu. Pada 2 Mei 1536, Anne ditahan di Greenwich atas tuduhan berselingkuh dan berencana membunuh raja. Dan bukan hanya Anne yang ditahan. George Boleyn, kakak kandung Anne yang bergelar Lord Rochford juga ditahan. Pada 17 Mei 1536, George dipenggal di Tower Hill.
Anne sendiri berusaha membuktikan bahwa ia tak bersalah namun sang raja sudah tak lagi berkenan kepada ratunya ini sehingga mengacuhkan pembelaan diri dari sang ratu. Terlebih setelah gagal memberikan seorang putra mahkota baginya, sang raja pun mengalihkan cintanya pada seorang wanita muda, Jane Seymour. Saat melihat cinta sang raja padanya sudah luntur, Anne pun menyadari bahwa ia takkan bisa lagi mempertahankan posisinya.
Padahal dulunya, sang raja kabarnya sangat mencintai Anne Boleyn. Raja yang diketahui paling benci menulis surat tapi ternyata belakangan ditemukan ada tujuh belas pucuk surat cinta dari sang raja untuk Anne yang menunjukkan betapa sebenarnya ia sangat mencintai Anne, tapi sayangnya cinta sang raja itu ternyata tak abadi sehingga Anne harus mengalami nasib yang amat tragis. Surat-surat cinta dari sang raja ini kabarnya sampai sekarang masih tersimpan dengan rapi di perpustakaan Vatikan.
Anne Boleyn pun mengalami nasib seperti kakaknya. Ia dipenggal pada 19 Mei 1536 di Tower Green. Padahal setelah melahirkan Elizabeth, Ratu Anne hampir saja melahirkan putra mahkota yang didambakan oleh Raja Henry VIII namun sayangnya ia mengalami keguguran sampai dua kali. Yang pertama ia mengalami keguguran pada 1534 dan keguguran yang kedua terjadi di awal tahun 1536. Beberapa bulan setelah keguguran, Anne malah harus menghadapi intrik politik dari orang-orang di sekitar raja untuk menyingkirkannya yang membuatnya bukan hanya kehilangan posisinya sebagai ratu tapi juga nyawanya.
Saat ibunya dipenggal, usia Elizabeth belum genap tiga tahun. Mengingat pernikahan pertama raja dengan Catherine of Aragon berdasarkan tata cara gereja Katolik Roma dan Roma tak pernah mengakui perceraian sang raja dengan Catherine maka Elizabeth yang merupakan buah cinta sang raja dengan Anne Boleyn pun tak dianggap sehingga Elizabeth pun disebut sebagai anak haram. 
Kematian ibunya membuat Elizabeth mengalami nasib seperti kakak tirinya, Mary yang dibuang oleh ayahnya sendiri dan kehilangan statusnya sebagai seorang putri raja.  Sementra ayah Elizabeth yaitu sang raja sepertinya tak pernah merasakan kesedihan apalagi kehilangan atas kematian ratunya yang tewas akibat hukuman pancung yang diberikan olehnya sendiri karena sebelas hari setelah kematian Anne Boleyn, ayah Elizabeth, Henry VIII menikah lagi dengan Jane Seymour, wanita yang akhirnya berhasil memberikan seorang putra mahkota yang diidam-idamkan Henry. Namun tragisnya, dua belas hari setelah melahirnya putranya, Jane Seymour meninggal.

Sementara itu Elizabeth yang telah kehilangan statusnya sebagai putri raja berada di bawah pengasuhan beberapa orang wanita bangsawan. Lady Mistress Elizabeth yang pertama adalah Lady Margaret Bryan yang menulis bahwa Elizabeth merupakan anak yang paling bersahaja yang pernah dikenalnya dalam menghadapi berbagai masalah. Pada musim gugur 1537 pengasuhan Elizabeth berpindah ke Blanche Herbert atau yang juga disebut Lady Troy hingga awal tahun 1546.

Selain kedua wanita itu, Elizabeth juga memiliki beberapa guru yang membantu perkembangan intelektualitasnya yang kemudian berguna saat ia menjadi seorang pemimpin. Bahkan seorang guru wanita Elizabeth tetap menjadi teman Elizabeth hingga ia dianggat menjadi ratu. Ia adalah Catherine Champernowne yang setelah menikah namanya menjadi Catherine Ashely atau yang dikenal dengan nama panggilan Kat Ashley. Ia ditunjuk menjadi guru bagi Elizabeth pada 1537 dan mereka tetap berteman sampai Kat meninggal pada 1565.

Blanche Parry kemudian dipilih untuk memberikan pendidikan bagi Elizabeth yang melakukan tugasnya dengan baik untuk pendidikan awal Elizabeth. Pada 1544 William Grindal menjadi tutor Elizabeth. Di bawah pengajaran Grindal yang dinilai sebagai seorang tutor yang sangat berbakat dan cakap, Elizabethyang sebelumnya telah menguasai bahasa Inggris, Latin, dan Italia mendapat tambahan perkembangan bahasa asing yaitu Perancis dan Yunani. Setelah Grindal meninggal pada 1548, pendidikan Elizabeth dipercayakan kepada Roger Ascham, seorang guru yang berbeda jauh dengan Grindal. Ascham merupakan guru yang simpatik dan menganggap belajar seharusnya merupakan kegiatan yang menyenangkan. Ketika Elizabeth menyelesaikan pendidikan formalnya pada 1550, ia dianggap sebagai wanita berpendidikan terbaik pada generasinya.

Usia Elizabeth belum genap 14 tahun ketika ayahnya, Raja Henry VIII meninggal dunia pada 1547. Setelah kematian ayahnya, Edward VI, adik tiri Elizabeth pun naik takhta menggantikan ayahnya. Sementara istri Henry yang terakhir, Catherine Parr menikah lagi dengan Thomas Seymour of Sudeley, paman Edward VI tak lama setelah kematian Henry. Pasangan baru ini kemudian membawa Elizabeth ke rumah mereka di Chelsea. Di sinilah Elizabeth mengalami pelecehan seksual dari suami baru ibu tirinya ini yang mungkin mempengaruhi krisis emosionalnya hingga akhir hayatnya.

Thomas Seymour, suami baru dari ibu tiri Elizabeth ini meskipun telah berumur 40 tahun tapi kabarnya memiliki karisma dan daya tarik bagi lawan jenisnya. Namun Thomas Seymour juga dikenal sebagai orang yang licik dan sangat haus akan kekuasaan.

Suatu hari Catherine Parr, ibu tiri Elizabeth yang tengah mengandung memergoki suaminya sedang berasyik masyuk dengan Elizabeth, anak tirinya. Akibatnya, Elizabeth pun diusir dari rumahnya pada Mei 1548. Catherine Parr sendiri meninggal karena demam setelah melahirkan putri pertamanya dengan Seymour pada 5 September 1548. Seymour yang licik ini tetap melanjutkan rencana busuknya untuk menguasai keluarga kerajaan. Setelah kematian istrinya, ia kemblai mendekati Elizabeth dan bahkan berencana menikahinya.

Sifat ambisius Thomas untuk meraih kekuasaan pun membawa dirinya dan Elizabeth mengalami dakwaan. Mereka dituduh berencana menjatuhkan raja yang juga adalah adik tiri Elizabeth. Namun karena tak terbukti bersalah, Elizabeth pun akhirnya dibebaskan. Sementara Seymour yang iri dengan kakaknya, Lord Protector yang menjadi wali Raja Edward VI dan sangat berambisi untuk menyingkirkannya harus menemui akhir hidup yang tragis. Pada 20 Maret 1549 Thomas Seymour dipenggal kepalanya atas tuduhan pengkhianatan.

Sementara itu peluang Elizabeth meraih takhta kerajaan hampir terbuka ketika adiknya, Edward VI meninggal dunia pada 6 Juli 1553, diduga karena tuberkulosis dalam usianya yang ke-15. Namun Edward yang hanya bertakhta sebagai raja selama 6 tahun saja, ternyata telah meninggalkan wasiat sebelum ia wafat yang isinya menyatakan bahwa penerus takhtanya adalah Lady Jane Grey, cucu Mary, Duchess of Suffolk yang merupakan adik ayahnya sendiri, Raja Henry VIII dan menyingkirkan kedua kakaknya sendiri, Mary dan Elizabeth dari tampuk kekuasaan tertinggi kerajaan. Sesuai dengan wasiat Edward VI tersebut maka Lady Jane pun segera dilantik sebagai ratu tapi banyak pihak yang tak menyetujui penobatannya sebagai ratu karena menganggap Mary sebagai putri sulung Raja Henry VIII dengan Catherine of Aragon adalah sosok yang lebih tepat untuk mewarisi takhta Edward VI.

Dengan banyaknya dukungan itu, Mary dengan didampingi oleh Elizabeth, adik tirinya itu pun kembali ke London untuk merebut takhta kerajaan dari Lady Jane yang hanya bertakhta selama sembilan hari saja. Lady Jane Grey dan suaminya, Guilford Dudley pun dipenjarakan. Begitu pula dengan ayah Guilford, John Dudley dan saudara-saudara Guilford termasuk Robert Dudley yang merupakan teman masa kecil Elizabeth ikut dipenjarakan dengan berakhirnya takhta Lady Jane yang singkat itu.

Hubungan Elizabeth dengan Mary, kakaknya mulai memburuk setelah Mary yang merupakan penganut Katolik membantai orang-orang Protestan sementara Elizabeth merupakan penganut Protestan dan sejak kecil dididik dalam ajaran tersebut. Tindakan pembantaian Mary terhadap orang-orang Protestan pun menyebabkan popularitasnya menyusut. Dukungan terhadap Mary makin surut setelah ia memilih menikah dengan Pangeran Philip, putra Raja Charles V dari Spanyol.

Ketidak puasan dan perasaan tak senang terhadap Mary pun dengan cepat segera meluas ke seluruh negeri dan banyak pihak kemudian melihat Elizabeth merupakan sosok yang tepat untuk menyingkirkan Mary dengan kebijakan religiusnya itu. Pemberontakan pun pecah pada Januari dan Pebruari 1554 di beberapa daerah di Inggris dan Wales menentang pemerintahan Mary. Aksi pemberontakan yang dipimpin oleh Thomas Wyatt ini kemudian dikenal sebagai pemberontakan Wyatt.

Untuk meredakan pemberontakan, Lady Jane Grey yang telah dipaksa turun takhta pun dijadikan tumbal. Pada 12 Pebruari ia dieksekusi di Menara London. Tentu saja tindakan ini ditentang oleh Elizabeth yang menganggap Lady Jane tidak bersalah. Ia pun mengajukan keberatan dan dengan keras memprotes keputusan tersebut. Akibatnya Elizabeth pun ditangkap dan diinterogasi. Pada 18 Maret ia ditahan di Menara London, tempat dimana Lady Jane dieksekusi.

Sementara itu dukungan untuk Elizabeth pun makin kuat. Beberapa orang penting pun mulai mendekati Elizabeth. Hal ini kemudian dipandang sebagai bahaya bagi takhta Mary. Seorang yang sangat dekat dan merupakan orang kepercayaan Mary, Simon REnard beranggapan bahwa takhta sang ratu takkan pernah aman selama Elizabeth masih hidup. Karena itulah Stephen Gardiner ditugaskan untuk membawa Elizabeth ke dalam persidangan. Namun para pendukung Elizabeth di dalam pemerintahan termasuk Lord Paget meyakinkan Mary agar melepaskan adiknya. Pada 22 Mei, alih-alih dibebaskan, Elizabeth malah dipindahkan dari Menara London ke Woodstock. Di tempat inilah selama hampir setahun lamanya Elizabeth menjalani tahanan rumah di bawah pengawasan Sir Henry Bedingfield.

Pada 17 April 1555, Elizabeth kembali dipanggil ke pengadilan sementara peluangnya untuk menjadi ratu mulai menjadi perbincangan. Kemungkinan Elizabeth untuk menjadi ratu akan musnah apabila Mary kakaknya berhasil melahirkan seorang anak. Namun bila Mary dan anaknya kemudian meninggal maka bisa dipastikan Elizabeth akan naik takhta menggantikan kakak tirinya itu. Ketika diketahui bahwa Mary sepertinya tidak akan pernah memiliki anak, peluang Elizabeth untuk naik takhta pun makin jelas dan pasti.

Kepastian inilah yang kemudian membuat dukungan terhadap Elizabeth makin besar dan bahkan Philip II, suami Mary sendiri yang kemudian menjadi raja Spanyol pada 1556, menyadari kenyataan politik baru ini. Ia pun kemudian memperkuat hubungan dengan Elizabeth dan lebih memilih Elizabeth sebagai pengganti istrinya daripada pilihan lainnya yaitu Mary, Ratu Skotlandia yang tumbuh besar di Perancis dan bertunangan dengan Dauphin of France.

Sikap Philip yang condong kepada Elizabeth ini bahkan telah terlihat ketika Mary, istrinya jatuh sakit pada 1558. Saat itu Philip mengirim Count of Feria untuk berkonsultasi dengan Elizabeth. Dan mulai bulan Oktober, Elizabeth pun mulai membuat rencana untuk pemerintahannya bila kelak ia benar-benar naik takhta menggantikan kakaknya.

Pada 6 Nopember, Mary akhirnya mengakui Elizabeth sebagai penerus takhtanya. Ketika Mary meninggal pada 17 Nopember 1558 di St. James's Palace, Elizabeth mendengar berita kematian kakaknya ini di Old Palace, Hatfield House. Sebelas hari setelah kematian kakaknya, Elizabeth, sang putri terbuang dan sempat kehilangan kesempatannya menjadi pewaris takhta inipun akhirnya di usianya yang kedua puluh lima dinobatkan sebagai ratu menggantikan Mary, kakaknya.

Pada 15 Januari 1559, Elizabeth dimahkotai dan diurapi sebagai Ratu baru di Westminster Abbey. Rakyat pun menyambut gembira penobatan Elizabeth sebagai ratu baru mereka. Dan pada 20 Nopember 1558, Elizabeth mengucapkan pidatonya dan di sinilah pertama kali muncul istilah "two bodies (dua tubuh)" yang menjadi gaya bahasa khas Elizabeth yang kerap digunakannya dalam pidato-pidatonya. Kalimat 'dua tubuh' yang diucapkan Elizabeth itu mengacu pada tubuh badani dan tubuh politik.

"Tuan-tuan sekalian, tentu saja secara alami aku merasa berduka atas apa yang terjadi pada kakakku. Apa yang telah terjadi ini membuatku takjub dan menyadari bahwa aku sesungguhnya hanyalah ciptaan Tuhan sehingga sudah seharusnya aku mematuhi perintah-Nya. Sepenuh hatiku aku menyadari bahwa aku ini hanyalah alat-Nya yang telah ditetapkan oleh karena kemurahan-Nya untuk menjadi pengemban amanat-Nya sebagaimana yang telah ditetapkan untukku ini. Dan inilah aku dengan tubuh badaniahku ( a body natural) sepenuhnya menyadari, bahwa atas kehendak-Nya memberikanku tubuh politik (a body politic) untuk menjalankan pemerintahan, sebagaimana yang telah dipercaykan oleh Anda sekalian kepadaku, karena itulah kuharap aku dengan keputusan-keputusanku dan Anda sekalian dengan kesetiaan dan pelayanan Anda berkenan di hadapan Allah yang Maha Kuasa yang akan memberikan kedamaian bagi kita dan anak cucu kita di bumi ini. Aku berjanji akan menjalankan tugasku dengan sebaik-baiknya."

Berbeda dengan kakaknya, Elizabeth> memberikan ketenangan dan kedamaian baik untuk kelompok Protestan maupun Katolik. Dalam mengambil keputusan,Elizabeth dan para penasihatnya selalu menjaga agar tak melukai kelompok Protestan dan Katolik. Meski begitu, Elizabeth tidak pernah membierkan toleransi kepada beberapa kelompok Puritan yang radikal yang mendesaknya untuk melakukan reformasi besar-besaran.

Meskipun telah diketahui bahwa Elizabeth dididik dan dibesarkan dalam ajaran Protestan, namun bagi beberapa ahli sejarah, keyakian atau agama Elizabeth secara pribadi tak pernah diketahui secara pasti. Kebijikan religius Elizabeth sendiri dinilai pragmatis oleh beberapa sejarawan.

Ketika mewarisi takhta dari kakaknya, Elizabeth menghadapi keadaan negara yang bisa dibilang sangat kritis baik dari segi ekonomi maupun kekuatan politik dalam negeri yang terpecah belah akibat kebijakan religius Ratu Mary. Ditambah lagi pemerintahannya harus menghadapi peperangan melawan Perancis dan beberapa negara lainnya, warisan masalah dari pemerintahan kakaknya. Ditambah hubungan dengan Skotlandia dan Spanyol yang memburuk. Tambahan lagi keuangan negara yang tak terlalu baik dan semua permasalahan itu membutuhkan penanganan segera dari sang ratu baru sekaligus batu ujian bagi Elizabeth yang bila berhasil melewatinya maka takhtanya bisa dipastikan akan kokoh.

Meski semua permasalahan warisan dari pemerintahan kakaknya membutuhkan tindakan sesegera mungkin dari Elizabeth tak bisa bertindak sembarangan yang nantinya akan berimbas pada buruknya kepercayaan rakyat terhadapnya.

Mengingat permasalahan agama di dalam negeri telah sangat buruk yang berakibat pada perpecahan bangsa akibat kebijakan religius sang kakak, maka Elizabeth pun memilih untuk mengatasi kemelut agama ini sebagai prioritas utama dalam pemerintahannya. Terlebih masalah pertentangan agama di Inggris itu sempat membahayakan keberadaan Elizabeth yang merupakan penganut Protestan. Pada tahun 1570 Paus Pius V sempat mengucilkan dan memerintahkan Elizabeth untuk turun takhta. Bahkan pada 1580 Paus Gregory XIII mengeluarkan pengumuman yang isinya menyatakan bahwa tidaklah berdosa membunuh Elizabeth. Meski begitu, Elizabeth mendapatkan banyak dukungan dari kelompok Protestan yang selama masa pemerintahan Mary sangat menderita akibat kebijakan religiusnya itu.

Karena itu pulalah, maka Elizabeth memilih perselisihan agama di dalam negeri merupakan hal pertama yang harus ditangani. Tak lama setelah naik takhta, Elizabeth langsung mengeluarkan Undang-Undang tentang "Supremasi dan Persamaan" yang disahkan pada 1559. Dalam UU tersebut, Anglikan ditetapkan sebagai agama resmi negara. Hal yang dinilai merupakan keputusan yagn tepat dan memuaskan kelompok Protestan Moderat sementara kelompok puritan menghendaki perubahan yang lebih drastis dan radikal.

Dengan didampingi oleh orang-orang yang cakap sebagai penasihatnya, Elizabeth pun berhasil membawa Inggris menuju babak baru. Bahkan dalam sejarah Inggris, Elizabeth I bisa dianggap sebagai raja paling terkemuka. Dalam masa 45 tahun pemerintahannya, Inggris berhasil mencapai kemakmuran dalam berbagai bidang. Selain kemakmuran dalam bidang ekonomi, dunia kesusastraan Inggris yang dimotori oleh William Shakespeare dan Christopher Marlowe mulai berkembang pesat.

Walaupun beberapa sejarawan menilai Elizabeth merupakan orang yang temperamen dan tidak tegas dalam mengambil keputusan namun perbaikan ekonomi disertai menguatnya kekuatan militer Inggris berhasil meningkatkan Elizabeth yang bahkan membuatnya menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh di dunia.

Dengan makin menguatnya kekuatan Inggris dalam peta perpolitikan global, maka masalah pnerus takhta Elizabeth pun mulai menjadi bahan perbincangan terlebih sang ratu tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan menikah. Mengingat apa yang terjadi dengan kakaknya, Elizabeth menyadari bahwa memilih siapa yang akan dinikahinya bukanlah hal yang bisa ditetapkan secara sembarangan dan memerlukan pemikiran yang cermat, karena itulah Elizabeth bersikap hati-hati dalam memilih siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya. Padahal selama 25 tahun Elizabeth telah menerima lamaran dari para pangeran Eropa untuk bisa menikahinya tapi tak satupun lamaran dari para pangeran Eropa itu dipilihnya.

Elizabeth sendiri sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan teman masa kecilnya Lord Robert Dudley, ipar dari Lady Jane Grey. Hubungannya dengan Robert makin dekat hingga awal 1559 di mana hubungan persabahatan antara Elizabeth dengan Dudley mulai berubah menjadi cinta. Namun Robert telah menikah sehingga hal ini tidak memudahkan langkah Elizabeth untuk menikah dengannya. Ketika Amy Robsard, istri Dudley tewas saat jatuh dari tangga pada 1560, jalan untuk pernikahan antara Elizabeth dan Dudley pun nyaris terbuka tapi rencana pernikahan mereka ini mendapat hambatan dan pertentangan keras dari para penasihat Elizabeth.

Hubungan Elizabeth dengan Dudley memang bisa dibilang sangat pelik. Robert Dudley adalah anak dari John Dudley, Lord of Northumberland yang pada saat Edward VI wafat berusaha menempatkan Lady Jane Grey, menantunya untuk naik takhta menggantikan Edward VI. Namun karena tak mendapatkan banyak dukungan, takhta Lady Jane tak bertahan lama. Dengan tersingkirkan Lady Jane, ia beserta seluruh keluarga Dudley pun dipenjarakan. Robert Dudley sebagai ipar dari Lady Jane, ratu yang hanya bertakta selama sembilan hari, ditahan di Menara London dan terancam hukuman mati bersaya ayah dan empat saudara laki-lakinya. Namun ia diselamatkan oleh teman masa kecilnya, Elizabeth yang juga adalah adik tiri dari Ratu Mary yang merebut takhta Lady Jane.

Sayangnya, nasib baik Robert tak diikuti oleh ayah dan adiknya, Guilford Dudley yang adalah suami dari Lady Jane Grey. Guilford Dudley dieksekusi pada Pebruari 1554, sama seperti istrinya. Sementara saudara laki-lakinya yang lain akhirnya juga dibebaskan pada musim gugur. Iparnya, Henry Sidney adalah teman pangeran Philip II dari Spanyol yang kemudian menjadi suami Ratu Mary. Dan Philip lah juga yang kemudian membantu pembebasan Robert Dudley.

Mungkin masa lalu dan latar belakang Robert inilah yang menjadi sumber keberatan para penasihat Elizabeth seperti William Cecil, Nicholas Throckmorton, dan beberapa politisi lain yang mengingatkan Sang Ratu bahwa keputusannya itu bisa menjadi sebuah batu sandungan dan bumerang yang dapat mengancam dirinya seperti yagn terjadi pada kakaknya, Ratu Mary ketika memutuskan untuk menikah dengan Philip II dari Spanyol.

Meskipun Elizabeth mematuhi nasihat dari para penasihatnya dan membatalkan rencananya untuk menikah dengan Robert Dudley namun ia tetap memberikan posisi yang bagus untuk Dudley dalam pemerintahannya hingga akhirnya Robert berhasil meraih berbagai gelar kebangsawanan dan memiliki banyak tanah yang meningkatkan harta kekayaan pribadinya. Robert sendiri akhirnya menikah kembali pada 1578 dengan Lettice Knollys.

Pernikahan kedua Dudley ini sendiri tak menyenangkan sang ratu yang tak menyukai Lettice, istri kedua Robert Dudley. Pada 1583, Elizabeth bahkan menyebut Lettice Dudley "She-wolf (serigala betina)". Sementara Robert Dudley disebutnya sebagai seorang "pengkhianat" dan "cuckold (suami yang istrinya tidak setia)".

Meski begitu, Dudley ternyata tetap menempati ruang istimewa dalam hati Elizabeth. Setelah kematian Elizabeth, ditemukan sebuah surat dari Dudley yang meninggal pada 1588 tak lama setelah Armada. Surat tersebut menunjukkan betapa dekatnya hubungan mereka yang tetap terjalin. Di surat tersebut terdapat tulisan tangan Elizabeth yang menandakan surat itu sebagai "surat terakhir" Robert Dudley.

Selain Dudley, sebenarnya Elizabeth juga sempat memikirkan lamaran dari beberapa pangeran Eropa lainnya seperti Archduke Charles of Austria yang adalah sepupu Philip II dari Spanyol. Namun sayangnya hubungannya dengan Habsburg memburuk pada 1568 hinnga akhirnya lamaran itupun tak bisa ditanggapi oleh Elizabeth hingga ke jenjang pernikahan.

Untuk memperkuat posisi politiknya demi menghadapi Spanyol, pada 1572 sampai 1581 Elizabeth juga sempat mempertimbangkan lamaran dari dua pangeran Perancis, kakak beradik Duke of Anjou, Henri dan adiknya Francois tapi keduanya ternyata tak mampu meluluhkan hati sang ratu yang akhirnya memilih untuk tetap melajang.

Dalam menjalankan politik luar negerinya, Elizabeth dikenal luwes, cerdik, cermat, dan berpandangan jauh. Hubungan diplomatik Elizabeth bukan hanya terjalin di sekitar daerah Eropa saja, namun ia memperluasnya hingga ke Jepang. Adalah William Adams, seorang Inggris pertama yang berhasil tiba di Jepang. Ia adalah mantan pegawai Barbary Company yang didirikan pada 1585. Pada Agustus 1600 ia menapakan kakinya di Jepang sebagai pilot dari Dutch East India Company. Ia kemudian memainkan peran kunci yang sangat penting bagi hubungan diplomatik pertama antara Inggris dan Jepang.

Selain itu Elizabeth juga berhasil menciptakan hubungan yang baik dengan kekaisaran Ottoman di Maroko. Hubungannya dengan Maroko memiliki peranan penting dalam upaya Elizabeth dalam menghadapi kekuatan Armada Spanyol.

Namun hubungan luar negeri Elizabeth dengan Rusia sempat terganggu ketika Feodor, putra Tsar Ivan IV naik takhta menggantikan ayahnya. Padahal hubungan Elizabeth dengan Tsar Ivan sebelumnya sudah sangat baik dan Inggris berhasil memetik banyak keuntungan dari hubungan bilateral antar kedua negara tersebut. Ketika Feodor naik takhta, ia tak lagi mengistimewakan hubungan antara Inggris dengan Rusia seperti yang dilakukan oleh ayahnya. Feodor bahkan memecat duta besar Inggris, Sir Jerome Bowes sehingga Elizabeth harus mengirimkan  Dr. Giles Fletcher sebagai duta besar Inggris yang baru untuk Rusia.

Di Irlandia, meskipun negeri ini adalah bagian dari kerajaanya, namun di sini Elizabeth sempat menghadapi masalah besar dengan mayoritas penduduk negeri ini yang sebagian besar adalah Katolik, keadaan yang sduah pasti menempatkan Elizabeth sebagai musuh dan hal ini pun menjadi kendala bagi Elizabeth dalam mencegah penyerangan Spanyol terhadap Inggris. Kebijakan Elizabeth di tempat inipun tak bisa dibilang cemerlang karena ia mengakibatkan sekitar tiga puluh ribu orang Irlandia kelaparan hingga akhirnya mati kelaparan pada 1582.

Antara 1594 dan 1603 Elizabeth menghadapi ujian paling berat di Irlandia yang kemudian dikenal sebagai Pemberontakan Tyrone atau Perang Delapan Tahun (Nine Years War). Pada musim semi 1599, Elizabeth mengirimkan Robert Devereux, 2nd Earl of Essex untuk meredakan pemberontakan. Namun sayangnya tak banyak kemajuan yang bisa dilakukannya sehingga tanpa ijin lagi, ia akhirnya kembali ke Inggris. Charles Blount atau Lord Mountjoy pun akhirnya dipilih untuk menggantikan Devereux. Ia ternyata berhasil mengalahkan para pemberontak dalam waktu tiga tahun. Hugh O'Neill atau Earl of Tyrone, sang pemimpin pemberontakan pun akhirnya menyerahkan diri pada 1603, beberapa hari setelah kematian Elizabeth.

Hubungan Elizabeth dengan Skotlandia pun bisa dibilang cukup rumit. Kebijakan Elizabeth atas Skotlandia awalnya adalah untuk mencegah keberadaan Perancis di sana. Ia takut bila Perancis akan menginvasi Inggris dan menempatkan Mary, Ratu Skotlandia yang oleh banyak pihak dianggap merupakan pewaris takhta kerajaan Inggris yang lebih pantas dari Elizabeth. Karena itu Elizabeth mengirimkan bantuan untuk pemberontak Protestan di Skotlandia. Pada Juli 1560 akhirnya tercipta kesepakatan Edinburg yang memulihkan kembali perdamaian Inggris dengan Skotlandia.

Namun ketika Mary akhirnya kembali ke Skotlandia pada 1561 untuk meraih kembali kekuasaannya, negaranya ternyata telah dikuasai oleh gereja Protestan dan parelemen pun diisi oleh para bangsawan Protestan yang didukung oleh Elizabeth sehingga Mary menolak ratifikasi perjanjian tersebut.

Untuk menaklukan Mary bahkan Elizabeth pernah menjodohkannya dengan Robert Dudley, pria yang dicintainya. Namun Mary menolaknya dan malah memilih Henry Stuart, Lord Darnley yang dinikahinya pada 1565. Namun pernikahan Mary ini dinilai merupakan awal dari kesalahan Mary yang menyebabkan Elizabeth dan kelompok Protestan Skotlandia meraih kemenangan. Darnley yang mengklaim takhta Inggris telah membuat dirinya sendiri tak disukai di Skotlandia terlebih setelah terjadi pembunuhan terhadap David Rizzio, orang Italia yang merupakan sekretaris Mary. Darnley menduga Mary, istrinya telah berselingkuh dengan Rizzio.

Konspirasi untuk membunuh Darnley yang diketuai oleh James Hepburn, Earl of Bothwell pun menyeruak. Pada Februari 1567 Darnley benar-benar dibunuh oleh kelompok konspirasi ini. Tak lama setelah kematian suaminya, pada 15 Mei 1567 Mary malah menikah dengan Bothwell, orang yang diduga merupakan pembunuh suaminya. Elizabeth pun mengirimkan surat padanya yang isinya mempertanyakan keputusan Mary menikahi seorang yang merupakan tersangka atas pembunuhan suaminya sendiri itu.

Akibat kecerobohan Mary itu, ia pun menghadapi masalah serius yang mengakibatkannya kehilangan takhtanya. Para bangsawan Skotlandia menentangnya dan memaksanya turun takhta. James, putra Mary yang dilahirkan pada Juni 1566 menjadi calon yang lebih disukai untuk menggantikan takhtanya. James kemudian dibawa ke Stirling Castle untuk dibesarkan sebagai seorang Protestan. Sementara Mary dipenjarakan di Loch Leven Castle. Namun pada 1568 Mary berhasil melarikan diri dari Loch Leven dan melarikan diri ke Inggris, ia merasa yakin akan mendapatkan dukungan dari Elizabeth. Namun meskipun Elizabeth sebenarnya sangat menyayangi Mary dan ingin memulihkan kerajaan Mary tapi Elizabeth dan parlemen Ingris akhirnya lebih memilih untuk mencari aman.

Karena terlalu riskan untuk mengembalikan Mary ke Skotlandia meskipun dengan kawalan tentara Inggris sekalipun. Sementara itu tak mungkin pula mengirimkan Mary ke Perancis dan membiarkannya bergabung dengan kelompok Katolik yang merupakan musuh Inggris. Karena itulah Mary pun akhirnya tetap ditahan di Inggris selama delapan belas tahun.

Kehadiran Mary di Inggris ternyata menjadi ancaman serius bagi takhta Elizabeth. Dengan keberadaan Mary, kelompok Katolik pun jadi memiliki seorang kuat untuk menyingkirkan Elizabeth yang merupakan pembela kaum Protestan. Pada 1569 muncul rencana untuk membebaskan Mary dan menikahkannya dengan Thomas Howard, Duke of Norfolk. Elizabeth pun segera mengambil langkah tegas dengan menyingkirkan Howard. Hal ini menyebabkan Paus Pius V mengeluarkan keputusan kepausan pada 1570 yang menyatakan "Elizabeth adalah ratu Inggris palsu dan merupakan pelayan kejahatan". Katolik Inggris pun melihat Mary yang merupakan penganut Katolik sebagai pewaris takhta Inggris yang sesungguhnya.

Elizabeth sendiri sebenarnya enggan menjatuhkan hukuman atas Mary tapi setelah Sir Francis Walsingham, agen mata-mata Elizabeth menyakinkannya bahwa Mary benar-benar telribat untuk menjatuhkan Elizabeth dan ingin merebut takhtanya akhirnya Elizabeth pun dengan berat hati mengesahkan hukuman atas Mary. Pada 8 Pebruari 1587, Mary dipenggal di Fortheringhay Castle, Northamptonshire dalam usianya yang ke-44 tahun.

Setelah hubungannya dengan Skotlandia dan Perancis berhasil diselesaikan, ternyata Inggris memiliki musuh baru yaitu Spanyol. Pertentangannya dengan Spanyol berawal dari peristiwa Le Havre pada 1562-1563 di mana Spanyol menekan kelompok Protestan Belanda. Untuk mencegah makin meluasnya kekuasaan Spanyol maka Elizabeth pun mengirimkan tentara Inggris untuk membantu para pemberontak Protestan Belanda melawan Philip II, raja Spanyol, yang pernah menjadi iparnya. Dengan kematian Pangeran Kerajaan Belanda, William The Silent, dan Francois, Duke of Anjou ditambah dengan menyerahnya beberapa kota di Belanda ke tangan Alexander Farnese, Duke of Parma yang adalah gubernur yang ditempatkan Philip II dari Spanyol di Belanda, makin memperkuat kedudukan Spanyol di Kerajaan Belanda. Pada Desember 1584 terbentuk persekutuan antara Philip II dengan kelompok Katolik Perancis di bawah kepemimpinan Henry III of France sehingga makin memperbesar dominasi Spanyol di Perancis. Hal ini tentu saja makin menguatkan posisi Spanyol atas teluk Perancis dan mengancam posisi Inggris sehingga Elizabeth melihat bahwa ia harus segera bertindak untuk menyelamatkan negaranya dan takhtanya.

Pada Agustus 1585 terbentuklah Perjanjian Nonsuch dan Elizabeth menjanjikan dukungan militer untuk Belanda. Perjanjian inilah yang mengawali perang antara Inggris dengan Spanyol (Anglo-Spanish War) yang berlangsung hingga tercipta Kesepakatan London pada 1604.

Spanyol yang semula sangat percaya diri dan meyakini kemenangan mereka atas Inggris tak menyangka bahwa ternyata Armada Inggris sangat tangguh. Spanyol kalah telak dari Armada Inggris. Dalam masa ini muncullah nama Sir Francis Drake, seorang pelaut Inggris yang sangat terkenal karena berhasil mengalahkan pasukan Spanyol di Karibia pada 1585 dan 1586. Bahkan pada 1587 ia berhasil melakukan serangan di Cadiz yang menghancurkan armada Spanyol dan menciptakan kekalahan besar atas pasukan Philip II itu.

Pada 1588 akhirnya Spanyol pun menyerah kalah terhadap Inggris. Armada Inggris sendiri kemudian terkenal sebagai angkatan laut terkuat hingga berabad-abad lamanya.

Untuk memperingati kemenangan besar tersebut, ada sebuah potret Elizabeth dengan latar belakang kekalahan Armada Spanyol pada 1588 itu sementara tangan Elizabeth bersandar pada sebuah bola dunia yang melambangkan kekuatan wanita luar biasa yang satu ini dalam menaklukan dunia.

Namun kesuksesan kepemimpinan Elizabeth ini senantiasa dihantui dengan pertanyaan dan tekanan dari berbagai pihak terhadap sang ratu yang tak kunjung menikah agar menyebutkan siapa yang akan mewarisi takhtanya kelak. Terlebih setelah Elizabeth sempat menderita sakit cacar pada 1562 yang meski ia akhirnya berhasil sembuh dari sakitnya namun hal ini membuat tekanan terhadapnya untuk menyebutkan nama pewaris takhtanya untuk berjaga-jaga bila ia tiba-tiba saja wafat.

Meski menghadapi berbagai tekanan namun Elizabeth seolah tak peduli. Ia tetap bungkam dan tak menyebutkan satu pun nama yang dianggapnya pantas untuk mewarisi takhtanya. Alasan Elizabeth untuk bungkam sebenarnya adalah untuk menjaga keamanan politik dalam kerajaannya. Ia takut bila ia menyebutkan nama pewarisnya maka akan terjadi pemberontakan untuk merebut takhtanya.

Tekanan terhadap Elizabeth mengenai dirinya yang tak kunjung menikah sempat membaut Elizabeth merasa lelah sehingga suatu kali ia pernah mengatakan bahwa seandainya saja ia bisa menemukan cara suksesi tanpa harus menikah, maka ia akan melakukannya. 

Status Elizabeth yang tetap tak menikah hingga masa tuanya pun kemudian menciptakan pemujaan terhadap virginity atau keperawanan. Dalam puisi dan berbagai lukisan, Elizabeth bahkan digambarkan secara berlebihan sebagai seorang dewi perawan (goddess of virgin).Elizabeth
sendiri pada 1559 mengatakan bahwa ia akan hidup dan mati sebagai seorang perawan. Pada 1599 Elizabeth mengatakan bahwa "Rakyatnya adalah suaminya." Hal ini pulalah yang menginspirasi sebuah lukisan tentang dirinya yang menggambarkannya menikah dengan kerajaannya.

Pada 1590-an Elizabeth mulai kehilangan para penasihatnya yang hebat. Diawali dengan kematian Earl of Leicester pada 1588, berturut-turut para politikus yang sangat penting dalam pemerintahan Elizabeth pun ikut meninggal dunia. Sir Francis Walsingham meninggal pada 1590 dan setahun kemudian Sir Christopher Hatton pada 1591. Sementara penasihat utama Elizabeth yang paling dipercayanya, William Cecil, Lord Burghley meninggal dunia pada 4 Agustus 1598. Putra Burghley, Robert Cecil yang kemudian meneruskan kiprah sang ayah.

Salah satu tugas yang dibebankan pada Cecil adalah menyiapkan cara yang halus dan aman untuk pewaris takhta Elizabeth. Dan Cecil pun secara diam-diam menyiapkan James VI, raja Skotlandia sebagai pewaris takhta Elizabeth. Ia berusaha meyakinkan Elizabeth bahwa James merupakan orang yang tepat sebagi pewarisnya. Nasihatnya ternyata berhasil diterima oleh Elizabeth karena sesaat sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, akhirnya sang ratu mengucapkan nama James of Scotland sebagai pewarisnya.

Pada musim gugur 1602 kembali Elizabeth harus merasakan kehilangan atas kematian beberapa teman dekatnya yang menimbulkan kesedihan amat mendalam bagi sang ratu. Pada bulan Maret 1602 Elizabeth jatuh sakit dan pada 24 Maret 1603 ia wafat di Richmond Palace antara jam dua atau tiga pagi. Westminster Abbey, tempat dimana jenazah Elizabeth disemayamkan pun dengan segera dipenuhi oleh rakyat banyak yang merasa sedih dan kehilangan atas kematian sang ratu.

Beberapa jam setelah kematian sang ratu, Robert Cecil dan parlemen Inggris pun segera menyiapkan rencana suksesi dan menyatakan James VI dari Skotlandia sebagai raja Inggris yang baru sesuai dengan mandat sang ratu sesaat sebelum ia meninggal. Namun sayangnya, Raja James yang sebenarnya mendapatkan ekspektasi yang sangat tinggi tak berhasil menyami kiprah sang ratu, pendahulunya ini.

Masa pemerintahan Elizabeth kerap disebut sebagai Elizabethan Era. Karena ia tak menikah hingga akhir hayatnya, maka Elizabeth kerap kali disebut sebagai Virgin Queen. Elizabeth sendiri memiliki banyak julukan lain untuknya. Di antaranya adalah Gloriana, Oriana, atau Gcod Queen Bess yang kesemuanya menggambarkan kebesaran Elizabeth.


Meskipun Elizabeth hanyalah seorang wanita, seperti yang diungkapkan oleh Paus Sixtus V namun Elizabeth telah membuat dirinya menjadi lawan yang sangat disegani oleh negara-negara besar lainnya seperti Spanyol, Pernacis, dan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya. Keberhasilan Elizabeth ini membuatnya menjadi Tudor pertama yagn diakui dan mendapat dukungan dari rakyatnya. Elizabethsendiri merupakan pewaris terakhir dari Dinasti Tudor namun ia berhasil menjadi yang paling gemilang dari para pendahulunya.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Elizabeth selalu menunjukkan kerjasamanya dengan anggota parlemen dan para penasihat yang sangat dipercayanya. Sikap kooperatif Elizabeth dengan anggota parlemen dan penasihatnya pun dicontoh oleh penerusnya, Raja James dalam menjalankan pemerintahannya.

Meskipun Elizabeth telah mencapai banyak kesuksesan dalam pemerintahannya tapi ia tetap menunjukan bahwa dirinya merupakan orang yang sangat percaya pada Tuhan. Ia bahkan menganggap Tuhan sebagai penasihatnya yang paling jujur dan Tuhan pulalah yang menjadi alasan utama dari semua peraturan dan ketetapan yang dibuatnya dalam masa pemerintahannya. Dalam doanya senantiasa mengucap syukur atas kemurahan Tuhan terhadapnya.

"Ketika perang dari perselisihan yang menimbulkan penyiksaan yang sangat mengerikan mendera hampir semua raja dan negara di sekelilingku, kerajaanku dipenuhi oleh kedamaian. Dan sementara kecintaan rakyatku begitu kukuh sehingga membuat para musuhku frustasi...," demikian ucapan syukur sang ratu kepada Tuhan, Penasihat sejatinya.

2 komentar:

alice in wonderland mengatakan...

kok aku masih bingun ya, yang bener tu Elizabethnya diperkosa ama bapak tirinya atau ia selingkuh ama bapak tirinya?
gila...ceritanya puanjang banget tapi gak ngebosenin^^
kalo ttg mary antoinette udah pernah ya?

air mengatakan...

Bukan diperkosa sih, tapi menurutku Elizabeth kan sejak kecil dibuang bapaknya jadi maybe dia kurang kasih sayang dan ga tahu cara berkasih sayang antara anak dan ayah, sehingga waktu bapak tirinya memberi kasih sayang yang "berlebihan" begitu, Elizabeth jadi menikmatinya tanpa menyadari bahwa perbuatannya dengan bapak tirinya adalah salah. Dan aku tetap menganggap tak semestinya bapak tirinya ngasih sex education macam itu ke anak tirinya.... Yang Mary Antoinette belum pernah ditulis, Alice yang tulis ya...?