Total Tayangan Laman

Translate

Minggu, 20 Juni 2010

Michael.... oh, Michael....

 pic taken from here

Melihat apa yang menimpa Michael di GP Kanada kemarin, aku jadi benar-benar iba pada juara dunia tujuh kali ini. Michael yang biasanya tampak perkasa saat bersama tim asal Maranello berbaju merah itu musim ini benar-benar harus mengalami penderitaan berada di tim papan tengah yang keberadaannya di F1 sejak musim lalu benar-benar tak jelas. Musim lalu tim bekas milik pabrikan Jepang, Honda itu mengawali musim dengan kebimbangan dan perasaan putus asa karena hanya dlaam jangka waktu beberapa bulan saja sebelum musim 2009 dimulai, bos mereka yang asal Jepang mengatakan bahwa mereka mengundurkan diri dari F1.

Beruntung Ross Brawn yang telah ikut bersama tim Jepang ini sejak tahun 2008 akhirnya mau merogoh kocek untuk membeli tim itu dari bos Jepangnya yang tentunya memberikan korting besar-besaran. Kepastian mereka untuk ikut balapan pun menjadi semakin cerah setelah pabrikan mobil asal Jerman, Mercedes mau menyuplai mesin untuk memberikan tenaga bagi pacuan kedua pebalap mereka saat itu, Jenson Button dan Rubens Barrichello. Beruntung pula di awal musim lalu tim-tim papan atas macam McLaren dan Ferrari yang pada musim sebelumnya harus bertempur sampai titik darah penghabisan sehingga pengembangan mobil mereka untuk musim 2009 agak terlambat. Keadaan ini pun membuat Brawn GP, sang tim debutan yang sempat terombang-ambing, tampil perkasa lewat aksi spektakuler pebalap Inggris mereka, Jenson Button yang tampil mendominasi di awal musim dengna menjuarai enam balapan dari tujuh race di awal musim. Meski kemudian tim-tim lawan mereka akhirnya bisa bangkit di pertengahan musim sehingga membuat mereka tak secemerlang di awal musim tapi toh semua itu tak mampu menghambar mereka meraih gelar juara dunia ganda yaitu gejar juara dunia pebalap untuk Jenson Button dan gelar dunia konstruktor. From zero to hero. Segala puja puji untuk mereka pun dilayangkan setinggi langit tapi mereka tetap harus membumi dan menyadari bahwa semua kesuksesan dan kegemilangan mereka itu ternyata tak mampu menghindarkan mereka dari berbgai persoaaln yang terus mendera tim baru ini.
Juara dunia mereka, Jenson Button yang merasa tak mendapatkan kepastian di tim yang membawanya meraih gelar dunia itu pun akhirnya terpaksa hengkang ke tim papan atas asal Woking, Inggris, McLaren yang juga menggunakan mesin Mercedes  bertandem dengan sesama rekannya asal Inggris, sang juara dunia 2008, Lewis Hamilton. Sementara itu bekas timnya yang tak memiliki dana berlimpah seperti tim milik Ron Dennis itu akhirnya mendapatkan dukungan besar dari Mercedes, pabrikan mesin asal Jerman yang selama ini sangat identik dengan McLaren yang memiliki julukan Silever Arrows itu, karena cemerlangnya performa Brawn GP dengan pasokan mesin dari Mercedes pada musim lalu. Nama Brawn pun berganti menjadi Mercedes GP. Bila McLaren-Mercedes memiliki ujung tombak dua juara dunia asal Inggris maka Mercedes pun memasang dua jagoan asal Jerman sebagai "pendekar" mereka yaitu Michael Schumacher, sang juara dunia tujuh kali dengan Nico Rosberg, calon juara dunia Jerman berikutnya sekaligus anak dari juara dunia F1 asal Finlandia, Keke Rosberg.

Kehadiran Michael Schumacher di Mercedes pun menjadi buah bibir bagi para penggemar F1. Ada pro juga ada kontra. Bahkan di kalangan pebalap pun ada yang setuju namun juga ada yang tidak setuju dengan kehadiran kembali juara dunia yang telah mengundurkan diri dari F1 pada 2006 lalu ini. Jenson Button yang tempatnya di Brawn digantikan oleh Michael Schumacher pun bersuara dan mengatakan bahwa masa keemasan sang juara dunia tujuh kali itu telah berlalu, era telah berganti. Ya, F1 jaman sekarang mungkin memang telah berbeda dengan F1 di masa keemasan Michael dan suami Corinna Betsch ini pun pasti menyadari kenyataan tersebut. Tapi toh demi permintaan sahabatnya, Ross Brawn yang telah membantunya meraih tujuh gelar sejak di Benetton dan Ferrari, Michael pun rela turun gunung dan kemblai mengenakan overall balapnya untuk bertarung bersama pebalap-pebalap muda dan mengambil resiko dipermalukan oleh junior-juniornya di atas sirkuit. Semua itu pastinya sudah dipertimbangkan secara matang oleh Michael Schumacher tapi berhubung ia sangat mencintai balapan seperti ia mencintai hidup dan demi persahabatannya dengan Brawn ditambah awal karir balapnya sebenarnya adalah berkat Mercedes juga, maka akhirnya Michael pun menerima pinangan Mercedes GP dan sahabatnya, Ross Brawn untuk menjadi pebalap tim asal Jerman ini.

Michael sendiri pastinya menyadari keadaan di Mercedes ketika ia datang ke tim itu sebelum akhirnya memutuskan untuk bergabung. Ia pasti paham kesulitan tim ini untuk bertarung dengan tim-tim papan atas lainnya. Namun Michael rela mengorbankan semua reputasinya sebagai juara dunia tujuh kali dan rela bila nantinya ia akan dipermalukan saat menunggangi mobil balapnya yang payah dan tak sehebat F2002 atau F2004. Tapi Michael adalah seorang inovator. Ia bukan hanya sekadar seorang pebalap yang tak terlalu hirau dengna masalah teknik atau pengembangan mobil. I abukanlah pebalap yang berpikir bahwa dirinya hanya seornag pebalap yang tugasnya adlaah membalap dan memberikan masukan sekadarnya untuk pengembangan mobil. Michael adalah pebalap yang terlalu banyak ingin tahu seluruh isi perut mobilnya. Ia adalah seorang makhluk perfeksionis yang ingin memahami sepenuhnya tunggangannya sehingga bisa tampil padu dengan pacuannya agar bisa meraih hasil optimal, dan itu pastinya butuh waktu dan takkan bisa tercapai hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Itulah Michael. Seorang fighter yang takkan pernah mempedulikan apapun resiko yang akan ia hadapi karena yang ada dalam benaknya hanya bertarung hingga tetes darah penghabisan, mengorbankan seluruh jiwa, raga, dan pikirannya demi sebuah kesempurnaan.

Sejak keikutsertaan Michael di F1 pada GP Belgia 1991 bersama Jordan, Michael telah memperlihatkan dirinya merupakan pebalap yang pantang menyerah. Saat itu meski Michael masih merupakan seorang pebalap muda namun ia sangat memahami apa yang benar-benar diinginkannya walaupun ia sesungguhnya buta mengenai sirkuit Spa Franchorchamps, namun demi bisa mengisi kursi di tim Jordan yang kosong setelah pebalap mereka, Bertrand Gachot dipenjara karena menyemprotkan gas CS ke wajah seorang supir di London bernama Eric Court pada Desember 1990, Michael yang tampil mengesankan pada sesi test yang dilakukan Jordan di Silverstone pun terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa ia mengenal sirkuit di Belgia itu. Menyadari bahwa takdirnya dimulai di ajang perdananya ini, maka Michael pun mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. Di masa ketika teknologi simulasi belum tercipta sempurna, Michael pun "berkenalan" dengan sirkuit yang terkenal angker dan kerap merenggut nyawa pebalap-pebalap hebat ini dengan cara mengelilingi sirkuit Spa Franchorchamps dengan sebuah sepeda sewaan. Michael mencoba mengenal setiap sudut sirkuit dan merekam setiap tikungan dalam otaknya sambil membayangkan dirinya berada di atas mobil balap F1. Hasilnya ia tampil mempesona di debut F1-nya itu. Ia berhasil membawa Jordan Ford 191-nya meraih P7 di kualifikasi, sayangnya saat race ia harus retire di lap pertama karena alasan teknis di mobilnya.

Meski gagal memperlihatkan bakatnya lebih lama di race tapi ternyata debut Michael itu sudah cukup membuat bos tim Benetton-Renault, Flavio Briatore kepincut. Ia pun segera membuang pebalapnya, Roberto Moreno yang payah demi memberi tempat pada superstar baru asal Jerman ini. Dengan bantuan Bernie Ecclestone yang juga sudah terpesona oleh kehebatan putra sulung Rolf dan Elizabeth Schumacher itu, Flav pun "menculik" Michael dari Jordan setelah balapan pertama Michael, membuat Eddie Jordan berang karena mutiarnya dicuri oleh lain. Di penampilan keduanya kali ini bersama Benetton, Michael berhasil memperlihatkan bakat cemerlangnya yang membuat Wili Weber, manajernya, rela menginvestasikan hartanya pada mutiara dari Kerpen, Jerman ini. 

Di Monza, Italia, Mihcael bukan hanya berhasil meraih poin pertamanya dengan finish di P5 tapi ia juga telah mengalahkan Nelson Piquet baik di sesi kualifikasi maupun race, bahkan di sesi kualifikasi, Piquet sempat melintir dan itu adalah hal yang pertama kalinya terjadi pada juara dunia tiga kali asal Brazil ini.

Sejak itu kehadiran Michael bukan hanya fenomenal tapi semua aksinya menerbitkan decak kagum sekaligus cercaan karena berbagai aksinya kerap dinilai unfair, namun bagaimanapun tindakan Michael yang dinilai tak sportif, segala upayanya menunjukkan kecerdasannya. Seperti ketika ia meraih kemenangan dari pit saat ia menjalani penalti stop and go, namun ia berkat bantuan timnya, yang dengan cerdiknya melihat celah dalam regulasi, berhasil memenangkan race, membuktikan hukuman sekalipun tak mampu menghambat laju Michael meraih kemenangan. Atau ketika ia dituduh melakukan kecurangan saat meraih gelar juara dunia pertamanya bersama Benetton pada 1994. Saat itu, penimbangan badan hanya dilakukan saat awal dan pertengahan musim dan bukannya di setiap akhir balapan seperti sekarang, dan Michael diduga telah menguruskan badannya hampir sepanjang musim, supaya mobilnya bisa terasa ringan dan akibatnya ia pun bisa membuat mobilnya melesat layaknya sebuat pesawat jet, saat ada penimbangan badan, barulah Michael menambah berat badannya kembali agar sesuai dengan batas yang ditetapkan. Namun bukankah hal itu membuktikan bagaimana beratnya perjuangan Michael yang bukan hanya harus bertempur di atas sirkuit tapi ia juga harus berperang melawan keinginan dagingnya, bayangkan bagaimana beratnya seorang wanita berdiet demi bisa mengurangi beberapa pon lemak dalam tubuhnya untuk mendapatkan berat badan ideal, dan semua itu merupakan perjuangan yang tak mudah. Tak ada perjuangan yang tak meminta pengorbanan. Michael juga telah mengorbankan kenikmatan sensasi lidahnya dan menahan diri untuk tak menjadi pelahap segala macam rasa demi menjaga berat badannya. 

Suksesnya Michael tampil meraih dua gelar beruntun bersama Benetton membuat Ferrari yang meski memiliki nama besar dalam sejarah F1 tapi sejak 1979 mengalami inflasi gelar. Berderet nama pebalap beken direkrut mereka seperti Alain Prost dan Jean Alessi, tapi tak satupun gelar berhasil direngkuh pasukan Maranello ini. Pemboikotan Ferrari terhadap Michael sendiri menimbulkan kemarahan terhadap Flav, sang bos tim, yang sebelumnya juga telah "mencuri" Michael dari bosnya yang terdahulu di Jordan. Masa-masa awal Michael bersama Ferrari bagaikan sebuah mimpi buruk setelah ia tampil cemerlang di Benetton. Namun Michael yang sejak pertama tercipta sebagai seorang pemimpin sejati, tak sepatah katapun mengeluarkan kalimat yang membuat timnya makin terpuruk. Ia tak pernah menyalahkan tim. Semua kegagalannya ditelannya sendiri sambil berusaha mencari solusi terbaik. 
Saat Michael memutuskan pindah ke Ferrari pun ia sudah mendapatkan kabar mengenai Ferrari dari berbagai pihak. Dan Michael pastinya sadar terlalu berlebihan bila ia membayangkan bisa meraih gelar dunia pertamanya bersama Ferrari di awal kebersamaan mereka. Karenanya ketika gelar dunianya akhirnya direbut oleh seterunya, Damon Hill yang tampil perkasa bersama Williams-Renault, Michael hanya bisa pasrah sambil terus berusaha membangun sebuah mobil juara bersama timnya. 
Walau tunggangannya sangat buruk tapi Michael percaya pada mimpinya saat ia memutuskan bergabung dengan tim elit asal Italia ini. Ia yakin Ferrari akan menjadi satu bagian terindah dalam karir balapnya. Namun semua itu ada waktunya. Dan bila saatnya tiba, ia yakin ia akan bisa meraih "dunia" yang dijanjikan oleh Luca di Montezemolo, petinggi Ferrari yang dipercaya oleh Gianni Agnelli pada awal 1990-an untuk mengangkat Ferrari dari keterpurukan. Agnelli sendiri adalah bos FIAT group, perusahaan induk Ferrari.
Michael sadar untuk mencapai sebuah sukses dibutuhkan kerja keras. Meski ia telah meraih dua gelar juara dunia, tapi semua itu tak membuatnya menjadi tinggi hati dan menganggap remeh semua yang ada di Ferrari. Ia tanpa sungkan mau bergabung dengan para mekanik dan teknisi Ferrari demi membangun sebuah mobil balap yang bisa membuat lawan-lawannya ngeri. Michael bahkan rela  merendahkan diri ketika ia bersama para mekanik Ferrari asyik bekerja hingga tengah malam, Michael dengan sukahati rela menerobos pekatnya malam mencari resto yang masih buka untuk membeli makan malam bagi dirinya dan seluruh mekanik Ferrari yang masih bekerja. Ia memborong selusin kotak pizza, membawanya ke pabrik dan tanpa sungkan menyantap pizza itu bersama para mekanik dan engineer. Kesederhanaan jiwa dan kehangatan Michael yang menganggap semua mekaninknya sebagai bagian dari keluarganya pun tentu saja membuahkan penghargaan yang sangat istimewa dari para kru Ferrari terhadap sosok pebalap yang saat di lintasan kerap dinilia arogan tapi sebenarnya ia memiliki hati yang hangat dan ramah ini.

Michael si pekerja keras yang selalu mengejar kesempurnaan ini hampir memetik hasil dari usaha keras yang dilakukannya bersama para mekaniknya ketika ia hampir saja meraih gelar dunia ketiganya (yang pertama untuknya dan Ferrari) pada 1997. Sayang sebuah insiden kecil dengan Jacques Villeneuve menghempaskan mimpi indahnya itu. Ia saat itu begitu bersemangat untuk meraih gelar dunia dan Jacques, si anak pebalap legendaris Ferrari, Gilles Villeneuve ini merupakan rival terberatnya dalam klasemen musim itu dan membuat perjalanannya meraih gelar dunia ketiganya tak mudah. Ada yang mengatakan bahwa tindakan Michael yang menabrakan mobilnya ke Williams-nya Jacques merupakan usaha licik Michael untuk mengamankan posisinya untuk meraih gelar dunia. Michael adalah seorang petarung, karenanya ia kerap berusaha sekeras mungkin untuk meraih kemenangan sampai tak memikirkan bahwa tindakannya ini akan membuat karir balapnya ternoda. Akibat aksinya itu, Michael pun didiskualifikasi sehingga rivalnya, si pemuda Kanada, Jacques Villeneuve itu yang akhirnya meraih gelar dunia semata wayangnya pada 1997. Michael sendiri sangat menyesali kejadian ini. Ia telah membayar mahal atas "upah dosanya" ini jadi tak semestinya pula media terus menerus mengungkapkan cela dan aib Michael ini untuk terus menekan dan menjatuhkannya. Michael sendiri telah berulangkali dalam beberapa kali wawancara menyatakan penyesalannya atas aksinya itu, dan bila waktu bisa diulang, ia sungguh berharap bisa kembali mengulang balapan di Jerez 1997 itu. Bukan tak mungkin seandainya saja ia tak menabrak Jacques maka ia yang akan berhasil meraih gelar dunia ketiga dan karir balapnya pun tak ternoda.

Namun sepahit-pahitnya sebuah kenyataan, Michael tak ingin tenggelam dan terus meratap. Ia melupakan kejadian di akhir musim 1997 dan menatap musim berikutnya dengan sebuah harapan dan pembelajaran baru. Michael telah melewati berbagai fase dalam karir balapnya. Ia telah bersaing dengan sederet pebalap terhebat di seluruh dunia mulai dari Andrea de Cesaris, team mate pertamanya di F1, yang sebelas tahun lebih berpangalaman darinya namun dilumatnya tanpa ampun hanya dalam satu penampilan saja hingga kini Nico Rosberg yang jauh lebih muda namun kali ini Michael yang harus berjuang untuk menaklukan pemuda Jerman, juniornya ini.

Berderet nama pebalap hebat pernah terlibat konflik dengan Michael. Mulai dari Nelson Piquet, rekan setim kedua Michael di F1, yang "ngeper" dengan bakat luar biasa ayah Gina Maria dan Mick Schumacher ini, hingga Jenson Button yang di musim 2004 merupakan pesaing terberat Michael dalam meraih gelar dunia tapi tetap tak mampu mengalahkan Super Schumi, namun kini Button jauh lebih bersinar dari The Old General ini, namun semua itu adalah perjalanan hidup. Michael yang sangat menyukai lagu My Way karena sarat akan filosofi mengenai kehidupan ini pun menyadari bahwa hidup adalah perputaran sempurna sang waktu di mana manusia bisa belajar dari setiap kisah hidupnya. Michael mungkin sudah tua, tapi bukan berarti Michael kehilangan kekuatannya. Michael masih sangat fit dan ia takkan pernah membiarkan tubuhnya menjadi malas dan lengah, namun Michael selalu setia pada waktu yang berjalan. Ia percaya semua itu membutuhkan waktu.

Bertahun-tahun lamanya malang melintang di dunia F1, tentunya segala kesuksesan dan kegagalan telah puas direguk oleh pebalap yang kabarnya suka menonton film sedih bersama istrinya saling saling berbagi tissue saat menangis oleh jalinan kisah sedih dalam film. Berbagai insiden dalam balapan pun telah kenyang dilahapnya. Bahkan Michael pernah mengalami kecelakaan parah yang hampir saja merenggut karir balapnya. Ya, kecelakaan itu terjadi saat GP Inggris di Silverstone pada 1999 di mana saat itu Michael tengah memacu Ferrarinya bersaing dengan Irvine, rekan setimnya di Ferarri dan ketika memasuki tikungan Stowe di Silverstone, Michael kehilangan kendali atas mobilnya sehingga tabrakan keras pun tak bisa dihindarinya. Kaki Michael patah, dan Michael sebenarnya telah menyadari kakinya patah tapi kalimat pertama yang keluar dari mulutnya saat berbicara lewat radio pit ke timnya, Michael bukannya mengeluhkan kakinya malah memberitahu bahwa remnya rusak. Itulah Michael. Seorang pejuang yang selalu berjuang hingga titik akhir yang terkadang terlalu keras pada dirinya sendiri.
Sepanjang karir balap Michael yang panjang di F1 peran Dewi Fortuna pun bisa dibilang memiliki peranan yang amat penting, meski semua itu sebenarnya merupakan hal kesekian karena yang paling utama adalah ketekunan dan kerja keras Michael yang lebih keras dari pebalap manapun demi meraih sebuah kesuksesan. Saat Michael mengalami kecelakaan parah di Silverstone 1999 itu, mungkin bila tak ada seorang dokter bernama Dr. Bill Ribbans mungkin, karir Michael di dunia balap F1 benar-benar akan berakhir, dan dunia takkan pernah bisa melihat pencapaian luar biasa dari seorang Michael Schumacher. 

Dr. Bill Ribbans yang biasa menjadi konsultan bedah ortopedik di RS Northampton ini kebetulan melihat tayangan kecelakaan hebat yang menimpa Michael, ia pun meyakinkan pebalap kebanggan Jerman ini bahwa kakinya masih bisa diselamatkan dan ia masih bisa melanjutkan karir balapnya. Bersama Professor Saillant, seorang ahli bedah Perancis yang mengawasi proses pemulihan Michael dari cedera patah kakinya, kedua dokter yang hebat ini telah memberikan keajaiban bagi Michael sehingga ia bisa kembali melanjutkan karir balapnya dan menciptakan berbagai rekor yang amat sangat mengesankan dalam sejarah F1. 

Pebalap pertama yang harus merasakan kehebatan Michael yang telah pulih dari cederanya adalah Mika Hakkinen. Michael yang karena kecelakaan parah itu harus mengambil cuti panjang dan terpaksa absen hampir separuh musim sehingga membuatnya terlempar dari perebutan gelar kembali membalap di GP Malaysia 1999, GP perdana di negerinya Siti Nurhaliza itu. Kali ini Michael turun sebagai pebalap nomor dua dan tugasnya adalah membantu rekan setimnya, Irvine yang memiliki kans lebih besar dalam perebutan gelar bersaing dengan Mika Hakkinen dari McLaren. Saat race jelas terlihat Michael lebih kencang dari Irvine, tapi karena ia bertugas untuk membantu rekan setimnya maka iapun mengalah dan memberikan kemenangan untuk rekan setimnya itu. Tugas Michael adalah menghambat laju Mika, pesaing Irvine, karena itu sepanjang balapan Michael terus mengerjai Mika yang benar-benar mengalami mimpi buruk karena sepanjang balapan ia dibuat frustasi oleh Michael. Di podium wajah Mika yang kelelahan tampak jelas terlihat frustasi bersanding dengan Irvine di podium pertama yang menyadari kemenangannya itu merupakan "hadiah" dari rekan setimnya yang istimewa. Dan Michael? Ia tersenyum simpul di podium kedua, puas karena berhasil mengerjai sohib sekaligus seteru abadinya itu. Di Sepang itu, Michael telah memperlihatkan "kekuatan" nya yang telah pulih. Mika pun mentahbiskan Michael sebagai pebalap nomor satu sekaligus nomor dua yang terhebat. 

Sepanjang tahun 2000-2004 merupakan masa-masa keemasan Michael dan Ferrari. Kesuksesan dan dominasi mereka membuat lawan-lawannya seperti sekumpulan anak-anak sekolah tekhnik yang tengah belajar merakit mobil tapi tak jua berhasil menandingi ketangguhan si kuda jingkrak. Namun dominasi Ferrari dan Michael ternyata telah menciptakan kejenuhan bagi publik yang mulai bosan dengan kemenangan Michael dan Ferrari meskipun seharusnya keberhasilan mereka mendapatkan apresiasi karena kesuksesan yang mereka raih bukanlah kesuksesan dalam waktu semalam. Mereka telah lama berjuang dan bekerja keras untuk menciptakan masa-masa keemasan itu, dan tak seharusnya keberhasilan mereka kemudian malah dianggap sebagai sebuah momok bagi F1. 

Sebagai seorang pebalap yang memiliki kemampuan super komplet, Michael kerap tak lepas dari berbagai kritik dan pujian. Sepanjang karir balapnya, kesuksesan yang diraih Michael selalu diikuti oleh bermacam kontroversi. Contohnya adalah kasus team order di GP Austria. Kala itu Michael yang belum pernah menang di GP A1 Ring, Austria mendapatkan "bantuan" dari rekan setimnya, Rubens Barrichello yang diperintahkan timnya untuk memberikan posisi pertamanya pada Michael. Tentu saja aksi team order ini membuat publik berang dan mencela sang juara dunia lima kali itu yang dinilai oleh publik telah menciderai nilai-nilai sportifitas dalam olahraga. Padahal masalah team order bukanlah hal baru dalam dunia F1. Mika Hakkinen pun pernah mengalami kemanisan dari team order ketika David Coulthard dipaksa menyerahkan posisinya kepada Mika yang kemudian mengantarkan Mika meraih gelar dunia pertamanya pada 1998. Tapi publik saat itu tidak protes. Atau ketika Fangio mendapatkan kemudahan dari Peter Collins, rekan setimnya yang merelakan mobilnya setelah mobil Fangio mogok sehingga pebalap Argentina itu bisa terus melenggang ke garis finish dan meraih gelar dunia sementara Collins mendapatkan pujian sebagai seorang gentleman sejati tapi Fangio yang mendapatkan kemurahan hati Collins tak dicerca dan dihujat oleh publik. Namun F1 sepertinya telah bergerak ke era yang baru. Mungkin karena kejenuhan atas dominasi Michael Schumacher membuat publik mulai bosan dengan kemenangannya sehingga mereka beraksi negatif ketika Michael mendapatkan keistimewaan seperti itu dari timnya. Tapi semua itu bukan salah Michael sepenuhnya. Michael adalah pebalap utama Ferrari dan ia yang memiliki kans lebih besar untuk meraih gelar dunia sehingga tentu saja tim lebih mendukung penuh dirinya daripada rekan setimnya. Bagaimanapun bukankah Michael Schumacher-lah yang telah ikut membangun tim Italia ini hingga mencapai puncaknya sementara rekan setimnya baru beberapa tahun saja menjejakkan kakinya di markas besar tim kuda jingkrak itu dan ia tak seperti Michael yang harus jatuh bangun dalam membangun tim yang solid dan kokoh itu. Kondisi yang dihadapi Rubens tak seburuk seperti yang dialami Michael ketika ia pertama kali bergabung dengan tim besar ini.

Mungkin seandainya team order itu bukan dilakukan Ferrari dan Michael, reaksi publik takkan sekeras seperti insiden di Austria itu. Kebosanan publik melihat dominasi Michael dan Ferrari ditambah kelompok anti Schumi yang telah terbentuk sejak berbagai insiden yang dilakukan Michael terhadap Damon Hill dan Jacques Villeneuve sepanjang tahun 1996-1997. Dan tentu saja kejadian memalukan di Austria itu pun seolah menjadi sebuah ajang pengesahan bagi kelompok Anti Schumi untuk mencaci pebalap utama Ferrari ini. Michael dan Ferrari tentunya tak menyangka team order yang diberlakukan mereka itu bisa menimbulkan reaksi negatif sekeras itu.

Dunia memang mengagumi segala pencapaian Michael, tapi dunia yang bergerak tentu saja tak bisa terus menerus menerima dominasi seseorang dalam jangka waktu lama. Begitu lah yang menimpa Michael. Meski dunia sangat mengagumi sepak terjang dan keberhasilan Michael tapi dunia berharap bisa melihat lawan tanding yang setara bagi Michael demi menciptakan sebuah persaingan yang lebih seru dan menarik. Namun apakah dunia benar-benar mencintai seorang Michael Schumacher? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Toh, ketika pada musim 2004 Michael kembali tampil mendominasi, tampil dengan poin penuh di setiap balapan, publik kembali merasakan kebosanan, setelah sebelumnya publik sempat bergairah melihat Michael harus terseok-seok meraih gelar dunia keenamnya pada 2003 yang baru bisa diperolehnya di race terakhir di Suzuka, Jepang. Itulah sebabnya juga, ketika di GP Monaco, Michael keluar dari terowongan dengan tiga roda saja, karena saat di terowongan ternyata ia ditabrak oleh pebalap lain, para kelompok anti Schumi menemukan moment untuk bersorak gembira sementara kubu Ferrari dan pendukung Michael kecewa bukan kepalang. Tapi Schumi yang sudah biasa menghadapi berbagai masalah di lintasan, tak berniat menyalahkan pebalap lain itu yang telah menabraknya dan membuatnya tersingkir dari arena. Ia malah mengatakan bahwa itu adalah bagian dari balapan. Dan dalam balapan semua hal memang bisa terjadi. Michael menerimanya dengan lapang dada. Namun begitu, Jean Todt, sang bos tim Ferrari yang juga sahabat Michael sangat kecewa dengan sorak sorai kelompok anti Schumi atas keapesan yang menimpa pebalap jagoannya. Todt memang berhak kecewa karena publik tak menyadari bahwa Michael dan Ferrari sudah berusaha sangat keras untuk mencapai tempat mereka di puncak. Puluhan tahun mereka harus berjuang membawa tim mereka meraih kembali puncak kesuksesan. Puluhan tahun mereka harus menelan kekalahan demi kekalahan dan menepuk dada menenangkan diri kala melihat pacuan mereka kalah dari lawan-lawan mereka dan ketika mereka berhasil mencapainya, ternyata segala usaha keras dan pengorbanan mereka selama bertahun-tahun seolah tak mendapatkan apresiasi.

Michael memang merupakan pribadi yang unik dan kompleks. Tak ada pebalap yang menerima cacian sebanyak Michael tapi juga tak ada pebalap yang berhasil meraih pencapaian seperti Michael. Sederet prestasi dan catatan rekor ditorehkan Michael sehingga membuatnya mendapat banyak puja dan puji sebanding dengan serentetan caci maki untuknya. Michael memang tokoh yang sungguh kompleks. Dicintai sekaligus dibenci. Puji dan caci beriringan menyertainya. 

Saat Michael berada di tengah hegemoni kekuasaannya, banyak yang berharap ia jatuh, tapi ketika Michael tengah terpuruk, justru banyak juga yang merindukannya meraih kemenangan seperti di musim 2005 di mana Michael dan Ferrari terpuruk dalam lembah paling kelam dalam sejarah kebersamaan mereka. Buruknya performa Bridgestone di Ferrari mereka yang kalah bersaing dengan Michellin, membuat kesuksesan mereka merajai F1 pada musim 2004 seolah tak berbekas. Satu-satunya kemenangan yang berhasil diraih Michael dan Ferrari hanya di GP USA, itupun karena semua pebalap Michellin mogok balapan sehingga balapan hanya diisi oleh enam orang pebalap pengguna Bridgestone. 

Bertahun-tahun media berspekulasi mengenai kapan Michael akan pensiun dan ketika Michael akhirnya mengumumkan pensiunnya usai menjuarai GP Italia pada 2006, media yang selama ini bersikap sedikit keras pada Michael menunjukkan sedikit simpati padanya. Dan di GP pamungkasnya bersama Ferrari di Sao Paolo, Brazil, Michael menunjukkan kembali bakat istimewanya yang telah membuat dunia F1 mencintainya pada awal kedatangannya di F1. Di GP terakhirnya bersama Ferrari itu, Michael tak seperti biasanya mengalami kesialan bertubi-tubi. Sejak di sesi kualifikasi hingga race, Michael terus didera masalah bahkan ia sempat melorot jauh di urutan belakang, tapi Michael tak ingin meninggalkan F1 dalam kegetiran. Ia tunjukkan kualitasnya sebagai seorang juara dunia tujuh kali. Dari belakang, Michael membalap dengan gayanya yang telah membuat banyak orang jatuh hati padanya. Meski Michael gagal meraih kemenangan di GP terakhirnya itu dan hanya mampu finish di tempat keempat, di depan Raikkonen, pebalap yang menggantikan posisinya di Ferrari, namun Michael meninggalkan F1 dengan terhormat membuat semua orang yang bisa menghargai arti sebuah perjuangan mau tak mau terharu dengan perjuangan Michael merasakan penderitaan yang dilakukan Michael untuk meraih puncak dan menghargainya sebagai sebuah pribadi utuh yang selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Meski Michael telah memutuskan untuk pensiun dari F1 namun tentunya tak mudah bagi Michael yang telah memiliki begitu banyak kenangan manis maupun pahit di dunia olahraga yang telah membesarkan namanya ini. Michael terlahir sebagai seorang pebalap dengan jiwa yang selalu ingin tampil kompetitif, maka tak heran bila kemudian ia merasakan kembali kerinduannya untuk membalap. Setelah sukses di atas empat roda, Michael mencoba peruntungannya di dunia balap dua roda. Meski hanya sebentar dan tak bisa dijadikan barometer keberhasilannya, namun penampilan Michael di ajang balap motor tak terlalu buruk meski ia sempat mengalami kecelakaan parah di ajang balap dua roda itu yang mengakibatkan lehernya cedera dan akibatnya mengandaskan kesempatannya untuk tampil kembali bersama Ferrari di musim lalu untuk menggantikan bekas team mate-nya, Felipe Massa setelah The Brazilian itu mengalami cedera parah di sesi kualifikasi Hungaria.

Tiga tahun Michael telah keluar dari arena persaingan F1, meski ia masih kerap terlihat di beberapa balapan karena perannya sebagai Super Assistent di Ferrari, namun pastinya Michael merindukan kembali tampil di dalam mobil balap dan menggebernya hingga batas paling klimaks. Dan kesempatan itu akhirnya kembali datang dari sahabatnya yang telah membangun timnya sendiri. Entah apa yang menyebabkan Michael memutuskan untuk bergabung dengan tim sahabatnya itu. Michael pasti tahu keberadaan tim sahabatnya itu yang tak sebaik keadaan di timnya sebelumnya meski tim barunya ini mendapat pasokan energi dari Mercedes yang selama ini telah meraih banyak keberhasilan bersama McLaren. Entah apakah karena demi persahabatannya dengan Brawn hingga akhirnya ia akhirnya setuju untuk membantu sahabatnya dan Mercedes, pabrikan yang telah membinanya sebagai seorang pebalap junior ataukah karena Michael begitu mencintai balap dan merindukan suasana balap dan aroma kompetitifnya hingga akhirnya ia memutuskan untuk bergabung? Namun yang pasti, sejak awal Michael tahu bahwa ia akan mengalami musim yang buruk dan tak banyak yang bisa diharapkannya di penampilan comeback-nya bersama Mercedes GP ini.

Perkiraan Michael memang tak meleset. Timnya tak sehebat Red Bull dan McLaren tapi yang sempat membuat publik terhenyak adalah di beberapa balapan Michael malah dikalahkan oleh rekan setimnya. Tentu saja ini mengejutkan mengingat betapa hebatnya Michael selama ini dalam melumat rekan setimnya sejak debutnya di Jordan pada 1991. Setelah di empat seri pembuka, Michael dipermalukan oleh rekan setimnya yang jauh lebih muda, Michael bangkit di Catalunya, Spanyol dan Turki. Namun di Montreal minggu lalu, Michael kembali harus terhempas. Di Malaysia sebenarnya Michael memiliki peluang meraih hasil yang lebih baik terlebih di sesi latihan bebas Michael tampil kompetitif bersaing dengan para pebalap Red Bull dan McLaren bahkan di latihan bebas ketiga, Michael berhasil mengalahkan rekan setimnya. Meski di kualifikasi Michael kembali kalah dari rekan setimnya yang sukses meraih P2 di belakang Webber dari Red Bull, namun bukan tak mungkin bila Michael bisa mencatat hasil yang lebih baik kalau saja ia tak mengalami masalah dengan baut rodanya yang membuatnya terhempas dari balapan. 

Di sesi kualifikasi Michael memang lebih banyak dikalahkan oleh rekan setimnya, tapi di race sebenarnya Michael bisa tampil jauh lebih baik kalau saja ia tak didera berbagai kendala yang mungkin diakibatkan oleh dirinya sendiri. Di Monaco yang penuh drama, balapan Michael sebenarnya jauh lebih baik dari rekan setimnya. Sepanjang balapan ia membuntuti Alonso, kompetitornya dalam perebutan gelar di 2005  dan 2006 hingga menjelang final lap, sesaat sebelum garis finish, Michael berhasil menyalip Alonso untuk merebut tempat keenam tapi sayangnya aksi Michael itu dianggap melanggar regulasi sehingga akhirnya ia terkena penalti dan menyebabkan posisinya melorot ke P12 sementara rekan setimnya mendapatkan keuntungan dari  penalti yang diterimanya dengan meraih P7 di belakang Alonso. Tambahan enam poin untuk Rosberg sementara Michael tak mendapat tambahan satu poin pun alias nol. 

GP Kanada minggu lalu pun menyisakan kegetiran bagi Michael. Di sesi kualifikasi ia gagal menembus Q3 sehingga ia harus puas memulai startnya di grid ke-13 di belakang duet Williams, Barrichello dan Hulkenberg sementara rekan setim Michael mengisi grid ke-10. Tapi selepas start Michael berhasil terbang ke urutan ke-8 sementara Rosberg, rekan setim Michael ganti terpuruk di urutan ke-13. Saat duo McLaren dan pebalap lain di depannya masuk pit untuk mengganti ban, Michael pun menyodok naik ke P3 tapi itu tak berlangsung lama karena Michael harus masuk pit juga di lap 13 dan rejoin kembali di urutan ke-7 di depan Kubica dan Sutil. Namun saat ia keluar dari pit, ia sempat harus bertempur dengan Kubica untuk mempertahankan posisinya. Michael pun harus kembali ke pit karena mengalami kerusakan dengan mobilnya, posisinya pun kembali melorot jauh hingga ke P12. Mendekati lap-lap terakhir, saat Michael tengah berusaha mengendalikan Mercedes-nya yang payah agar bisa tetap berada di urutan sepuluh besar untuk menjaga peluangnya mendapat poin, Michael harus mendapat serangan bertubi-tubi dari para pesaingnya yang ingin merebut tempatnya. Di lap 64 Michael harus menghadapi serangan serius dari mantan team mate-nya di Ferrari, Felipe Massa, tapi Michael tak mau menyerah begitu saja meskipun ia sadar mobilnya kalah jauh dari Ferrari-nya Massa. Dengan semua kemampuan yang dimilikinya ditambah pengalamannya yang kaya, Michael pun berusaha mempertahankan posisinya. Akibat bersinggungan dengan Michael, Massa pun harus kembali ke pit untuk mengganti nose mobilnya untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya Massa juga sudah sempat mengganti nose-nya akibat bertabrakan dengan Liuzzi di tikungan pertama saat balapan baru saja dimulai. Insiden antara Michael dan Massa itu hampir saja berbuah penalti kembali untuk Michael meski sebenarnya menurutku aksi Michael merupakan bagian yang umum terjadi dalam balapan dan Michael tak melakukan tindakan yang pantas diganjar dengan penalti. Untungnya setelah pemeriksaan dan peninjauan Stewart, kedua pebalap itu bebas dan aksi itu pun dinilai bersih.

Lepas dari Massa, Michael harus menghadapi gempuran dari duet Force India yang berebut ingin mengambil posisinya di urutan kesembilan. Michael pun kembali harus bekerja ekstra keras mengendalikan Mercedes-nya yang payah demi mengimbangi solidnya pacuan Liuzzi dan Sutil. Tapi Michael akhirnya harus menyerah juga di lap terakhir. Liuzzi dan Sutil berhasil menyalipnya dan membuat Michael terdampar di posisi ke-11 dan tak satu pun poin yang berhasil diraih Michael.

Bagi pebalap papan tengah biasa mungkin apa yang dialami Michael di paruh pertama musim balap ini takkan terlalu menarik perhatian tapi lain halnya bila semua yang terjadi itu menimpa seorang Michael Schumacher, seorang juara dunia tujuh kali yang telah menorehkan banyak catatan sejarah yang luar biasa dalam dunia F1. Michael Schumacher yang dari debut pertamanya di F1 bersama Jordan telah tampil mengesnkan dan menggentarkan baik rekan setimnya seperti Andrea de Cesaris yang sebelas tahun lebih berpengalaman darinya atau bahkan Nelson Piquet yang saking gemetarnya bersanding dengan Michael sampai melintir saat sesi kualifikasi di GP Italia. Michael Schumacher yang sempat membaut geram Ayrton Senna saat McLaren-Honda-nya dihantam Benetton-Ford-nya Michael di Magny Cours pada 1992 sehingga membuat juara dunia tiga kali asal Brazil itu berang dan mengatainya bajingan. Tapi Michael selalu menanggapi semuanya dengan tenang. Segala caci maki ia telah seorang diri, pun ketika Senna menyenggol Benetton-nya Schumi di Kyalami 1993 saat Schumi mencoba menyalip Senna dari dalam. Aksi Senna itu membuat Schumi spin tapi Schumi tak mengumbar emosinya secara berlebihan seperti yang dilakukan The Master dari Brazil itu. Ia menganggap hal itu sebagai sebuah pelajaran yang akan memperkaya perjalanan hidup dan karirnya. Meski oleh banyak orang ia dianggap arogan tapi Michael sendiri mengaku ia adalah orang yang membenci konflik karenanya ia tak pernah suka mengacungkan tinju ke orang lain, meski ia sempat sangat marah pada David Coulthard ketika ia hampir celaka oleh aksi pebalap McLaren itu. Michael menyadari kadangkala hidup tak terlalu ramah di lintasan tapi ia selalu tahu cara memisahkan apa yang terjadi di lintasan dengan kehidupan sehari-hari.

Media memang terkadang terlalu kejam terhadap pria yang satu ini. Itu pula sebabnya ia sering bersikap kaku di hadapan pers karena ia benar-benar merasa tak nyaman berada di bawah sorotan kamera dan pandangan menyelidik para wartawan yang senantiasa siap menerkamnya saat ia melakukan kesalahan, namun ia bisa sangat sangar saat berada di balik kemudi, melibas setiap tikungan di atas sirkuit. Dari balik helmnya, ia bisa menyembunyikan dirinya dari keberingasan media. Di balik helm dan di atas mobilnya, ia seperti menemukan dunianya yang nyaman dan ia sendiri menganggap bahwa berada di atas tungangannya, ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri. "Where I'm really at home," ujarnya mengenai kenyamanan yang dirasakannya kala berada di balik helm dan di atas tunggangannya. Dari balik helmnya ia bisa melihat dunianya dan merancang berbagai taktik untuk memenangkan balapan. Betapapun kerasnya aksi Michael di lapangan dalam melumat lawannya tak bisa sepenuhnya menjadi justifikasi untuk menghakimi Michael dan menganggapnya sebagai pebalap yang arogan dan kasar. Michael adalah seorang pebalap dan tak ada seorang pebalap pun pastinya yang dengan murah hati memberikan posisinya pada orang lain. Begitu pun dengan Michael meski ia terkenal sebagai dermawan yang rajin beramal bagi kegiatan kemanusiaan namun ia takkan pernah bermurah hati pada lawan-lawannya di lintasan. 

Membicarakan Michael rasanya takkan cukup diungkapkan dalam satu buku tebal beratus-ratus halaman sekalipun karena Michael merupakan orang yang kompleks. Ia bisa bersikap hangat dan ramah. Ia bahkan mengenal setiap nama para pekerja di timnya, mulai dari bos tim, engineer, sampai tukang sapu, bukan karena ia suka sok kenal sok akrab, tapi ia selalu menganggap orang-orang yang bekerja dengannya adalah bagian dari keluarganya. Namun ia juga bisa sangat sangar dan menggentarkan para lawannya saat tengah bertarung di atas trek sirkuit yang panas demi memperebutkan gelar dunia hingga ia kerap dicap sebagai orang yang arogan dan kasar meski sebenarnya apa yang dilakukan Schumi juga kerap dilakukan oleh lawan-lawannya. Senna misalnya, ia juga kerap bersikap keras dan kasar di sirkuit hingga pernah membahayakan Prost dan Mansell tapi tak satupun yang mencelanya secara keras seperti yang mereka lakukan terhadap Schumi, mungkin karena Schumi memiliki karir balap yang lebih panjang dibanding Senna yang harus mati muda karena kecelakaan di Imola atau mungkin juga karena Schumi merupakan sosok yang istimewa sehingga mendapatkan begitu banyak sorotan dan caci maki yang diterimanya pun sebanyak puja puja atas kebrilianannya di atas sirkuit.

Saat ini memang Michael kembali harus membuktikan kehebatannya yang belum berhasil diperlihatkannya sejak aksi comeback-nya di Bahrain pertengahan Maret lalu. Masih banyak yang perlu dilakukannya dan ia pun harus mulai bisa beradaptasi dengan suasana F1 yang sekarang yang pastinya memiliki aturan yang berbeda pada masa keemasannya dulu. Namun itu semua bukanlah mimpi buruk bagi Michael karena ia pernah menghadapi situasi seperti ini. Saat bergabung dengan Ferrari, kondisi tim besar itu sangat buruk tapi Michael bisa membangun tim itu menjadi tim super power yang nyari tak terkalahkan. Dan "sihir" Michael di Ferrari itulah yang diharapkan bisa kembali terjadi di Mercedes, tim yang pernah berjaya bersama Juan Manuel Fangio pada 1955. Ya, faktor usia Michael yang telah beranjak menua memang bisa menjadi kendala tapi juga jangan lupa bahwa sebelum Michael telah ada juara dunia lain yang berhasil meraih gelarnya di usia yang tak bisa dibilang muda. Giuseppe Farina, juara dunia F1 yang pertama, meraih gelar dunianya saat berumur 43 tahun lebih 10 bulan 3 hari pada 1950 sementara Juan Manuel Fangio meraih gelar dunia kelimanya di usianya yang ke-46 lebih 1 bulan dan 11 hari pada 1957. Jadi usia bukanlah sebuah hambatan untuk mengukir sebuah cataan sejarah terlebih bila pencatat sejarah itu adalah Michael Schumacher yang pencapaiannya di F1 seperti sebuah mitos bernama kesuksesan dan kesempurnaan.

Michael memang bukanlah manusia sempurna sehingga Jackie Stewart pernah berkomentar bahwa Michael adalah juara dunia yang paling banyak melakukan kesalahan, dan Michael sendiri menyadari bahwa ia tak sempurna namun ia selalu berusaha untuk mengejar kesempurnaan itu karena Michael adalah seorang manusia yang tak pernah puas dalam batasan sempit akal manusia. Namun tetap di atas semua itu, Michael adalah seorang manusia biasa yang memiliki hati dan jiwa. Terdiri dari daging dan darah yang memiliki emosi dan rasa. Di balik kearoganannya di atas trek, Michael sebenarnya merupakan pribadi yang sensitif, sentimentil, rentan, dan memiliki kerendahan hati di mata mereka yang mengenalnya. Semua itu karena Michael juga adalah manusia biasa tapi semua pencapaiannya membuatnya menjadi seorang manusia yang luar biasa. 

Sebagai seorang penggemar berat Michael Schumacher, tentu saja penampilan kembali Michael di F1 tak memuaskanku, namun aku tetap percaya Michael Schumacher adalah seorang Michael Schumacher, dan ia takkan pernah menyerah begitu saja. Ia pasti bisa kembali bangkit dan memperlihatkan bakat luar biasanya yang telah mempesona jutaan penggemar F1 lainnya sejak debutnya di Spa 1991. So, I'll keep believe that Michael will shine again in some race....

Deep inside my heart, I trully wish Michael would find again his golden moment. Go for it, Michael...!

pic taken from this site

Tidak ada komentar: