Total Tayangan Laman

Translate

Rabu, 25 Juli 2012

Resensi Cerpen Obrolan Siang Bolong karya Ernest Hemingway

"Bukit-bukit itu bentuknya seperti segerombol gajah putih," ujar si gadis sambil mengamati kontur perbukitan di seberang lembah sungai Ebro yg tampak putih memanjang. Saat itu ia bersama kekasihnya, seorang pemuda Amerika, tengah menikmati bir di tengah cuaca yang sangat panas sambil menanti kedatangan kereta ekspress dari Barcelona.

Keduanya terlihat berusaha menikmati bir sambil mengobrol ngalor ngidul tapi tetap saja ada satu hal yang menjadi beban bagi mereka. Kehamilan si gadis.
Secara sambil lalu meski mengatakan tak memaksa tapi si pemuda terus berusaha membujuk si gadis untuk menggugurkan kandungannya.

"Operasi itu sangat sederhana, Jig," bujuk si pria. "Hanya prosedur kecil, bahkan tidak masuk ke dalam kategori operasi," lanjut pemuda itu sementara si gadis hanya diam menatap kaki meja.

Walau merasa berat, si gadis akhirnya menyatakan bersedia memenuhi permintaan kekasihnya dengan harapan hubungan mereka bisa kembali seperti dulu. Meski menyatakan kesediaannya, si gadis masih terus bergumul dengan keragu-raguannya memenuhi keinginan kekasihnya.

Kisah mengenai problematika sepasang kekasih di mana gadisnya mengandung sementara mereka sama-sama tak siap sehingga si pria membujuk sang wanita menggugurkan kandungannya memang bukanlah tema yang baru. Tapi cara Hemingway meramunya membuat cerita ini berbeda. Omongan yang terkesan ngalor-ngidul di antara sepasang kekasih ini dimana percakapan mereka dibumbui ketegangan dan kegalauan mereka mengenai masa depan hubungan mereka yang merasa masih saling mencintai tapi sayangnya diganggu oleh kehadiran sebentuk makhluk yang masih berupa janin itu. Keresahan si gadis antara ingin memenuhi keinginan kekasihnya tapi juga takut membahayakan jiwanya. Kehampaannya tergambar jelas saat ia berkata, "Kita tidak bisa pergi ke mana saja, karena dunia ini bukan milik kita lagi."

"Begitu mereka mengambilnya, kita tidak akan bisa merebutnya kembali," lanjut si gadis getir.

Catatan: Cerita ini judul aslinya "Hills Like White Elephants" karya novelis dan cerpenis terkenal asal Amerika Serikat, ERNEST HEMINGWAY. Cerita ini pertama kali diterbitkan dalam kumpulan cerpen bertajuk "Men Without Women" pada tahun 1927.

ERNEST HEMINGWAY pernah memenangkan Hadiah Nobel di bidang Sastra pada tahun 1954. Dalam dunia kepenulisannya, ia telah menghasilkan banyak karya besar dan terkenal, di antaranya: "The Sun Also Rises", "A Farewell To Arms", "For Whom The Bell Tolls", "The Snow Of Kilimanjaro" dan "Old Man And The Sea."

Tidak ada komentar: