Total Tayangan Laman

Translate

Sabtu, 28 Juli 2012

Resensi Cerpen All Over karya: Guy de Maupassant

Comte de Lormerin bagai diseret gelombang masa lalu saat melihat sepucuk surat dengan tulisan tangan yang amat dikenalnya. Seseorang yang dulu begitu dekat dengannya. Lise de Vance.

Dalam suratnya, Baronne de Vance atau yang semasa gadis dikenal bernama Lise namun Lormerin memiliki panggilan kesayangan untuknya yaitu Lison, mengatakan bahwa suaminya, di sini Lise mengingatkan Lormerin bahwa dulu, ia ia suka mengolok-olok suami Lise yang tua itu dengan sebutan "rumah sakitnya," sudah meninggal lima tahun yang lalu. Kini Lise kembali ke Paris untuk menikahkan putrinya yang sudah berusia delapan belas tahun.

Lise juga menyatakan keinginannya untuk bertemu kembali dengan Lormerin. Karenanya melalui surat itu, Lise mengundang Lormerin untuk makan malam bersamanya dan juga putrinya. Di akhir suratnya Lise menyapa Lormerin dengan panggilan kesayangannya, Jaquelet.

Jantung Lormerin berdegup kencang. Ia kembali terkenang pada wanita yang pernah menghiasi hatinya itu. Little Lise-nya yang juga suka dipanggilnya "Ashflower". Ia terkenang kembali dengan kecantikan Lise. Warna rambutnya juga matanya yang berwarna keabu-abuan. Tak dapat disangkal. Lormerin memang mencintai Lise. Ia suka saat Lise memanggilnya Jacquelet, nama kesayangan yang diberikan Lise untuknya.

Semua kenangan tentang Lise seolah menyerbu ingatan Lormerin. Ia pun teringat satu peristiwa ketika di suatu malam musim semi, Lise menemuinya, ia baru pulang dari pesta dansa. Lise masih mengenakan gaun malamnya, sementara Lormerin sendiri mengenakan jaket, dan mereka menyusuri Bois de Boulogne. Lormerin masih ingat aroma yang tercium dari parfum Lise atau mungkin itu aroma tubuh Lise. Tapi yang paling tak bisa dilupakannya adalah ketika Lise menangis saat melihat rembulan. Saat ia bertanya mengapa, Lise menjawab bahwa ia tak tahu mengapa, tapi sinar rembulan dan air danau yang memantulkan bayangan rembulan itu membuatnya terkesan dan setiap kali ia melihat hal-hal puitis macam itu, ia merasa hatinya tersentuh karenanya ia menangis.

Saat itu Lormerin tersenyum tapi hatinya pun telah terpikat pada Lise dan semua segi kelembutannya.

Sayangnya kisah cinta mereka berlangsung sangat singkat. Lise yang menikahi seorang baron yang sudah amat tua terpaksa meninggalkan Paris mengikuti suaminya.

Tapi kini Lise sudah kembali ke Paris. Lormerin merasa bersemangat membayangkan pertemuannya kembali dengan Lise. Seharian itu pikirannya hanya penuh dengan bayangan pertemuannya kembali dengan Lise. Namun alangkah terkejutnya ia saat bertemu dengan wanita itu yang sama sekali asing baginya.

Ia hanya terpaku menatap wanita tua yang tersenyum dan memanggilnya "Jaquelet". Ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi? Kemana perginya wanita yang dicintainya? Wanita dengan rambut pirang dan mata abu-abunya dan memanggilnya "Jaquelet" dengan indahnya?

"Aku akan memanggil Renee," ujar wanita tua itu. Lormerin masih diam terpaku.

Lormerin kembali berbinar saat menatap gadis muda yang baru muncul kemudian itu. Wajah itu amat dikenalnya. Wanita yang berhasil dipikatnya dua puluh lima tahun lalu. Hanya saja yang wajah gadis di depannya ini terlihat jauh lebih muda, lebih segar, dan lebih kekanak-kanakkan.

Ia merasa bingung dengan apa yang ada di depannya. Yang manakah Lise yang sebenarnya?

Wanita yang tua berkata, "Kau telah kehilangan semangat hidupmu yang lama, temanku yang malang."

"Aku telah kehilangan banyak hal lainnya," sahut Lormerin.

Lormerin pulang dengan kekecewaan dan kebingungan. Gadis yang muda itu benar-benar mirip dengan wanita yang dicintainya dua puluh lima tahun yang lalu, tapi ia merasakan sesuatu pada wanita yang lebih tua. Perasaan cinta seperti yang dirasakannya bertahun-tahun yang lalu. Ia mencintainya dengan semangat yang lebih membara bahkan setelah dua puluh lima tahun kemudian.

Lormerin menatap cermin besar seperti biasanya untuk mengagumi dirinya sendiri. Tapi kini ia melihat sesuatu. Wajah seorang pria tua dengan rambut kelabu. Ia melihat lebih dekat dan melihat bayangan yang mengerikan. Kerutan-kerutan di wajahnya yang selama ini tak disadarinya hingga saat ini.

Ia terduduk, menatap bayangan wajahnya sendiri dan dalam kesenyapan ia bergumam, "Semua sudah berlalu, Lormerin!"

Cerita ini amat menarik. Ada sedikit nuansa humor sedikit sarkastis di dalamnya. Tokoh Lormerin merupakan gambaran keangkuhan masa muda yang bahkan tak pernah menyadari waktu yang telah berlalu mengikis semua kebanggaan masa muda itu. Ia selalu terkenang akan masa lalu dan terus menerus mengagumi ketampananannya di masa muda tanpa sadar kemudaannya telah memudar.

Sedikit lucu membayangkan seorang tokoh pria tua yang tetap tak menerima kenyataan saat bertemu dengan mantan kekasihnya yang seiring waktu wajahnya pun telah menua tapi ia tetap bersikukuh meyakini bahwa mantan kekasihnya itu adalah si wanita yang lebih muda yang tak lain merupakan putri kandung mantan kekasihnya itu.

Satu nilai yang kupetik dari cerita ini adalah hidup terus berjalan. Masa lalu memang sesuatu yang indah untuk dikenang, bahkan ada pentingnya juga mengenang masa lalu, menggelorakan kembali semangat di dada tapi juga seyogyanya tak lupa akan masa kini. Waktu yang terus berjalan dan semua kenangan itu berjalan seiring membentuk masa depan dan pijakan di masa kini.

Tidak ada komentar: