Total Tayangan Laman

Translate

Rabu, 04 Juli 2012

Sebuah Retorika

Belakangan ini otakku terasa penuh tapi juga hampa. Ada banyak yang melintas dalam benakku tapi semua terasa tak berarti. Otakku serasa mati suri. Walau aku kerap diliputi perasaan menggebu-gebu untuk kembali menulis, tapi pada detik berikutnya, saat tanganku mulai bergerak, semangatku tiba-tiba saja melayu.

Setengah tahun ini serasa masa hibernasi terpanjang bagiku. Banyak hal yang kupikir, kurasa, kucoba telaah, kucoba pahami, kucoba mengerti. Tapi semua kembali ke titik nol.

Sudah sejak awal tahun, aku berusaha untuk tak mau terlalu muluk membuat resolusi, tapi sebagai manusia yang berjiwa, toh aku tetap memiliki harapan dan tujuan. Tapi lagi-lagi, seiring waktu berjalan semua hanya seperti air yang mengalir dalam tubuhku. Kubutuhkan, seolah terasa tapi juga tidak. Seolah udara yang berhembus di sekitarku. Kuhirup, kubutuhkan, terasa tapi juga tidak.

Rutinitas. Semua jadi hanya membuatku serasa zombie. Bergerak, terasa hidup tapi juga tidak. Ada terlalu banyak pemakluman, kompromi, kesesuaian yang harus kujalani tapi merobek semua asa dalam jiwaku.

Melelahkan. Kupikir inilah esensi hidup. Kupikir aku sudah cukup memahami tapi ternyata tidak sama sekali.

Aku jadi merasa seperti secarik daun di atas bilah bambu, bergoyang, dihembus, meliuk bersama angin. Aku tak ingin berputar begitu saja dalam putaran waktu. Tapi aku terlalu lelah berbalik menentang arus putaran.

Di detik ini aku jadi bertanya-tanya. Tanya yang kutahu takkan pernah terjawab sempurna. Sebuah retorika. Ujung yang tak selalu memiliki akhir.

Tidak ada komentar: