Total Tayangan Laman

Translate

Senin, 30 Maret 2009

From Zero To Hero




Setelah dua tahun saya nonton Formula One tanpa bisa lagi menyatu dengan aksi di lintasan jet darat itu sejak pensiunnya Michael Schumacher, akhirnya saya bisa kembali merasakan gregetnya nonton Formula One sambil komat-kamit mendoakan pembalap pujaan saya.Tapi hari minggu kemarin ketika musim balap Formula One 2009 dimulai, semangat dalam menonton F1 kembali hinggap ke seluruh sendi dan aliran darah saya (cieileh...)

Sejak dulu saya memang sudah ngefans Jenson Button dan setelah kepergian Michael, sebenarnya saya berharap karir Jenson bersinar dan dapat menjadi juara dunia dari Inggris yang berikutnya setelah Damon Hill pada tahun 1996 tapi apa mau dikata, karir Jenson malah hampir saja nyungsep. Blundernya di akhir tahun 2004 yang ribut mau pindah ke Williams padahal dia lagi bersinar dan lagi bagus-bagusnya seakan masa depannya tengah cerah bersinar bersama BAR Honda di bawah asuhan David Richards. Buttongate I, begitu kasusnya diberi tajuk dalam headline-headline berita seputar Formula One. Eh, setelah Buttongate I, seperti sebuah film, ia malah membuat sekuelnya, Buttongate II. Waktu dia akhirnya bisa pindah ke Williams, sekarang dia malah ngotot pengen tetap di Honda. Bikin gemes aja deh tingkah Button waktu itu. Akibatnya, dia harus merogoh koceknya demi membayar sanksi dari Sir Frank Williams karena ia dianggap mempermainkan kontrak.

Setelah itu, karir Jenson seperti lenyap ditelan bumi. Si Wonder Boy, begitu julukan Jenson ketika ia muncul pertama kali di Formula One bersama Williams tenggelam di tengah hiruk pikuk gemerlapnya berita anak baru McLaren yang juga rekan senegaranya, Lewis Hamilton dan akhirnya Lewis yang berhasil mengakhiri masa panjang penantian rakyat Inggris yang menanti munculnya juara dunia dari Inggris (apalagi kebanyakan tim Formula One bermarkas di Inggris tapi masak pembalapnya malah melempem semua?)

Setelah kasus Buttongate, sepertinya tak ada tim yang mau melirik Jenson. Mungkin takut, Jenson tak bisa menghargai kontrak. Jadi ketika Honda pada penghujung tahun lalu mengumumkan mengundurkan diri dari ajang Formula One, nasib Jenson makin suram dan tak jelas.

Beruntung, Ross Brawn yang sejak musim lalu sudah bergabung bersama tim pabrikan Jepang itu akhirnya membeli tim yang kemudian diberi tajuk Brawn GP.

Selanjutnya, di GP pembuka kemarin, Brawn GP tampil memukau dan Jenson pun menjuarai GP untuk kedua kalinya. Dan saya harap itu bukan kemenangan terakhir Jenson karena saya berharap Jenson benar-benar akan meraih gelar dunianya yang pertama, kedua, ketiga, keempat .... Mungkin tak sebanyak gelar dunia Michael tapi saya harap Jenson benar-benar bisa jadi juara dunia mengingat untuk meraih juara saja ia harus melalui seratus Grand Prix dan begitu banyak jalan berliku yang telah dilaluinya.

Siapa sangka, Brawn GP, tim yang baru beberapa bulan dibentuk malah bersinar secerah matahari belakangan hari ini yang semakin terik akibat pemanasan global atau istilah internasionalnya, global warming. Mesin Mercedes yang menjadi dapur pacunya begitu padu dengan mobil Brawn GP yang didominasi warna putih dan selintasan warna hijau muda (yang seperti goresan stabilo). Malahan McLaren Mercedes yang menjadi tim pabrikan Mercedes seperti kehilangan tajinya, beruntung Lewis Hamilton masih bisa finish keempat setelah Sebastian Vettel (Red Bull) yang berada di posisi kedua dan tengah seru-serunya mengejar Button malah bertabrakan (atau sepertinya ditabrak) Robert Kubica (BMW-Sauber) yang berada di belakang Vettel dan berambisi ingin merebut posisi Vettel. Akhirnya keduanya malah gagal finish padahal balapan hanya menyisakan beberapa lap saja. Hamilton yang setelah race posisinya dinaikkan ke tempat ketiga setelah Trulli yang berada di tempat ketiga didiskualifikasi setelah dilaporkan Hamilton Trulli melanggar regulasi tapi belakangan malah poin Hamilton dan McLaren yang dihapus oleh FIA karena ternyata setelah dilakukan pengecekan ulang, Hamilton berbohong. Malangnya Hamilton .... Yang lebih menyedihkan adalah tim kuda jingkrak Ferrari yang sepertinya kecapekan berjingkrak. Felipe Massa gagal menyelesaikan balapan dan Kimi Raikkonen harus finish paling buncit setelah melakukan pit stop tambahan setelah menabrak dinding di lap ke-44.

Brawn GP memang fenomenal seperti perjalanan karir balap Jenson Button, sang pembalapnya. Mungkin terlalu dini tapi saya tak pernah berhenti berharap Jenson Button menjadi juara dunia Formula One berikutnya!!!

Tidak ada komentar: