Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 17 Maret 2009

Di Angkot




Dua hari yang lalu ketika saya pulang kerja, omprengan (angkot) yang saya naiki tengah berhenti untuk menaikkan penumpang, kami dikejutkan oleh suara bentakan seorang pria, kontan kami semua menoleh, seorang bapak bertubuh besar berdiri di samping angkot,tapi ia bukan tengah memaki pengemudi angkot yang berhenti kurang ke pinggir melainkan tengah memaki seorang pengendara motor (yang persis di samping angkot sepertinya ingin menyalip angkot tapi ia langsung mengerem dan berhenti tepat di belakang bapak yang semula ingin menyebrang)

Si bapak menjerit-jerit pada si pengendara motor, "hargai pejalan kaki," suara baritonnya menggelegar dan gelegar itu didengar kami, yang berada di dalam angkot. Si Pengendara motor menanggapi gelegar si bapak dengan tenang, kami tak dapat menangkap suaranya meski ia telah membuka helmnya, kelihatannya ia mempersilakan bapak itu menyebrang saja tapi bapak itu sudah kepalang sewot dan urat lehernya sudah telanjur tegang. Selanjutnya saya tak tahu apa yang terjadi karena angkot yang saya naiki sudah beranjak dari tempat kejadian.

Tiga hari sebelumnya saya juga mengalami hal yang jauh lebih menengangkan. Lagi-lagi angkot yang saya naiki, berhenti seenaknya untuk mencari penumpang dan membuat jalan di belakangnya macet. Akibat perbuatannya itu, truk di belakangnya hampir bertabrakan dengan angkot lain yang ingin menyalip juga untuk berebut penumpang. Tapi herannya, si kenek truk bukan ribut dengan supir angkot yang kunaiki malah beradu mulut dengan supir angkot yang ingin menyalip itu. Mungkin supir angkot itu yang mengucapkan kata-kata yang membuat si kenek truk naik darah sehingga si kenek menarik-narik tangan lewat jendela angkot karena si supir angkot bertahan di dalam angkotnya (takut juga rupanya dengan murka si kenek yang badannya besar itu).

Nah, di tengah kemelut pertengkaran kenek truk dengan supir angkot, tiba-tiba kami dikejutkan oleh sebuah suara benturan yang keras. Ketika kami menoleh, sebuah sepeda motor sudah terjatuh setelah menabrak truk yang tengah melintas dari arah berlawanan. Sementara si pengemudi motor itu tergeletak di dekat motornya. Kejadian tabrakan itu terjadi persis di samping angkot yang kunaiki (yang berhenti seenaknya, menyebabkan kemacetan hingga mengakibatkan kecelakaan).

Rupanya si pengendara motor terlalu asyik menonton pertarungan antara kenek truk (bukan truk yang menabraknya) dengan supir angkot yang kelihatannya memang nyolotin sampai-sampai tak memperhatikan truk yang tengah melaju ke arahnya.

Yang bikin saya gregetan, si supir angkot yang saya naiki (yang menurut saya merupakan biang semua masalah sore itu) malah memperkeruh suasana ketika kenek truk ingin menghajar supir truk (yang pastinya salah satu koleganya juga), tapi ia malah menjerit-jerit mengompori kenek truk agar menghajar rekan seprofesinya itu.

Setelah ada motor yang bertabrakan dengan truk, si supir angkot yang saya naiki itu baru bungkam dan dengan tenangnya ngeloyor pergi meningalkan keruwetan di belakangnya.Dan jantung saya masih berdebar keras hingga saya tiba di rumah. Saya prihatin dengan kejadian yang menimpa si pengendara motor. Di samping itu saya gemas sekali, si biang masalah (supir truk yang kunaiki) malah terbebas dari semua belenggu masalah yang diciptakannya.

Catatan yang saya bawa untuk saya renungkan kemudian, kalau saja semua orang bertindak bijaksana dengan menegedepankan kepentingan bersama kejadian tragis itu tak perlu terjadi, bukan?

Tidak ada komentar: