Total Tayangan Laman

Translate

Selasa, 20 Oktober 2009

It's About Time


pic taken from: www.aboutmyarea.co.uk

Jujur sepanjang tahun ini aku terus menerus menulis tentang Jenson Button dan terus berharap ia akan meraih gelar dunia pertamanya tahun ini, tapi begitu Jenson berhasil, aku benar-benar kehilangan kata-kata (he...he... emangnya gue yang menang kok sampe kehilangan kata2? ). Aku bahkan tak tahu lagi hendak menulis apa tentang Button selain luar biasa!

Pencapaian Jenson Button tahun ini memang benar-benar luar biasa! Sebelum GP Australia tahun ini, tak ada seorang pun yang memperhatikan seorang Jenson Button. Bertahun-tahun ia terpuruk di F1 dengan saat-saat yang singkat baginya untuk memperlihatkan kualitasnya tapi bakat luar biasanya itu lebih banyak tenggelam. Bahkan tak ada yang mengira bahwa pria kelahiran Somerset, Inggris dua puluh sembilang tahun lalu ini akan berhasil meraih gelar dunia.

Dunia memang sempat terhenyak ketika Jenson Button dan tim debutan Ross Brawn tampil mendominasi, tapi tak ada satupun yang mengira bahwa tim bekas Honda ini akan mampu berbicara lebih banyak di kancah F1, dan tak ada yang mengira pada balapan-balapan berikutnya, keperkasaan Jenson Button dan Brawn GP terus berlangsung meski dominasi Jenson akhirnya terhenti sampai GP Turki.

Beruntung? Tidak juga, kurasa. Keberuntungan memang diperlukan di F1, tapi di dunia yang serba pasti dengan perhitungan yang akurat, keberhasilan Brawn GP dan Jenson Button tidak bisa dipandang sebelah mata dengan mengatakan bahwa mereka tengah beruntung seperti dalam permainan lotere. Keberhasilan Brawn GP tahun ini bisa dibilang merupakan puncak dari kerja keras seluruh orang yang terlibat di tim ini sejak tim ini didirikan tahun 1998 (kalau tak salah) ketika tim ini masih merupakan tim koalisi dua pabrikan tembakau Inggris dan Amerika, BAT.

Memang prestasi Jenson yang sempat melempem di pertengahan musim sempat membuat orang mulai meragukan kemampuan Jenson meraih gelar dunia terlebih sebelum GP Brazil, Sebastian Vettel dari Red Bull berhasil membuka peluangnya sebagai kompetitor dalam perebutan gelar dunia kembali mengemuka. Bahkan tak sedikit yang mencibir putra kesayangan John Button ini.

Namun menurutku baik yang memuja maupun meragukan Jenson, kurasa semua itu merupakan wujud dukungan bagi Jenson Button yang terbukti di GP Brazil kemarin menunjukkan kembali kualitasnya sebagai pembalap yang pantas meraih gelar dunia.

Memulai start dari grid keempat belas, Button langsung memperlihatkan kepiawaiannya, ia segera melesat menuju p 9 dan terus merangsek naik namun sempat tertahan di belakang rookie dari Toyota, Kamui Kobayashi. Tapi akhirnya Jenson berhasil juga melewati pembalap pengganti Glock yang cedera ini dan sempat memimpin lomba namun sayangnya Mark Webber langsung meraih kembali posisinya setelah keluar dari pit. Tapi perjuangannya dari grid ke empat belas hingga berhasil finish di tempat kelima mestinya membuat orang-orang yang meragukan Jenson mulai mereset ulang pandangan mereka tentang juara dunia F1 yang baru ini.

Sedikit me-review GP Brazil, meski ditayangkan di tengah malam tapi GP Brazil selalu layak ditonton. Kekacauan akibat hujan lebat di sesi kualifikasi Sabtu membuatku teringat pada GP Brazil 2003 saat GP Brazil masih menjadi balapan pembuka ketiga setelah GP Australia dan Malaysia. Saat itu, hujan deras juga melanda sirkuit yang salah satu tikungannya diberi nama legenda F1 asal Brazil, Ayrton Senna yang sampai saat ini belum memiliki penerusnya (Massa tahun lalu nyaris menjadi juara dunia dan Rubens Barrichello yang sebelum GP Brazil merupakan penantang terberat Jenson tapi setelah finish di tempat kedelapan di depan publiknya sendiri, ia malah harus merelakan posisi keduanya di klasemen kepada Sebastian Vettel).

Saat itu sirkuit Interlagos ini digenangi air yang membuat banyak pembalap terpeleset dan mengakhiri balapan mereka, bahkan seorang rain master seperti Michael Schumacher terpaksa menyerah kalah setelah mobilnya juga ikut melintir. Tapi yang seru adalah kekisruhan soal pemenang lomba setelah akhirnya balapan dihentikan di tengah jalan (tapi poin yang didapat para pembalap di big eight tak dipotong seperti di GP Malaysia tahun ini yang balapannya terpaksa dihentikan karena hujan deras). Seperti balapannya yang kacau masalah siapa yang akhirnya memenangi balapan pun tak jelas. Sebelumnya ditetapkan Kimi Raikkonen yang memenangi balapan tapi setelah dilakukan perhitungan-perhitungan mengenai beberapa detik sebelum lomba dihentikan sesuai regulasi FIA, akhirnya kemenangan Kimi dianulir dan FIA menganugrahkan kemenangan itu untuk Giancarlo Fisichella dari tim Jordan. Kimi pun terpaksa memberikan trophy-nya untuk Fisi dalam upacara singkat saat sesi latihan GP berikutnya.

GP Brazil juga sepertinya merupakan GP penentu bagi juara dunia. Di tahun 2007 dan 2008, Kimi Raikkonen dan Lewis Hamilton berhasil meraih gelar dunia di GP Brazil ini. Bahkan tahun ini, meski bukan lagi merupakan GP penutup tetap saja gelar dunia baru lahir di GP ini.

Satu lagi fakta yang kuperhatikan. Rubens Barrichello tak pernah mengalami nasib baik di GP negaranya ini. Seperti Jenson Button di GP Inggris, begitu pun dengan Rubens Barrichello. Bahkan ketika Rubens masih bersama Ferrari dengan mobil yang mumpuni sekalipun, Rubens Barrichello tak pernah menjuarai balapan di depan publiknya sendiri ini. Bahkan tahun ini, ia mengalami nasib lebih tragis dari rekan senegaranya, Felipe Massa, yang meski tahun lalu ia tak berhasil menjadi juara dunia tapi ia berhasil tampil dominan di depan rekan-rekan sebangsa dan setanah airnya. Sementara Rubens Barrichello meski berhasil menjadi pole sitter tapi strategi balapannya yang dikacaukan oleh kemunculan safety car setelah kecelakaan di awal lomba membuat posisi keduanya di klasemen direbut oleh Sebastian Vettel yang berhasil finish di tempat keempat, dan di GP Abu Dhabi, Rubens Barrichello masih harus bertarung lagi untuk meraih gelar kedua di belakan rekan setimnya, Jenson Button dan melengkapi sukacita Brawn GP yang juga berhasil meraih gelar dunia konstruktor. Dan jika Rubens Barrichello berhasil merebut kembali posisi keduanya dari tangan Vettel di Abu Dhabi, maka berarti Brawn GP memang pantas berpesta.

Ya, balapan memang masih menyisakan satu lagi. Button dan Brawn GP telah berhasil melalui jalan yang panjang dan berliku itu. Memang hanya masalah waktu bagi Jenson untuk memperlihatkan bahwa ia memang pantas meraih gelar dunia dan waktu itu adalah sekarang. It's Jenson's time! Congratulations Jenson and Brawn GP!

Terakhir, aku ingin menyampaikan kalimat Nick Fry yang kukutip dari Autosport.com mengenai keberhasilan Jenson Button ini, "I think he's just demonstrated to everyone what he can do, and the doubters who said he couldn't overtake or he wasn't aggressive enough, hopefully they're now eating humble pie."
pic taken from: www.dailymail.co.uk
Jenson Button - Race Driver of Brawn GP

Nationality: British
Date of birth: 19 January 1980
Place of birth: Frome, Somerset, England
Lives: Monaco
Height 1.83m
Weight 70.5kg
Marital status: Single
Hobbies: Water sports, cycling, ski touring, cars and music
Website www.jensonbutton.com


GP debut: Australia 2000
Best World Championship position: 3rd - 2004
First win Hungary 2006
Last win Turkey 2009
Pole positions: 7
GP starts: 168
GP wins: 7
GP points: 317


2009 Formula One: Brawn GP Formula One Team - Race Driver, Car No. 22
2008 Formula One: Honda Racing F1 Team - 18th in Drivers’ Championship
2007 Formula One: Honda Racing F1 Team - 15th in Drivers’ Championship
2006 Formula One: Honda Racing F1 Team - 6th in Drivers’ Championship
2005 Formula One: B·A·R Honda - 9th in Drivers’ Championship
2004 Formula One: B·A·R Honda - 3rd in Drivers’ Championship
2003 Formula One: B·A·R Honda - 9th in Drivers’ Championship
2002 Formula One: Renault F1 - 7th in Drivers’ Championship
2001 Formula One: Benetton - 17th in Drivers’ Championship
2000 Formula One: Williams - 8th in Drivers’ Championship
1999 British Formula 3 Series: 3rd in Championship & Top rookie driver
1998 British Formula Ford Series: Winner
European Formula Ford Series: 2nd
1997 European Supercup A Kart Series: Winner
Ayrton Senna Memorial Cup: Winner
1996 World Cup & American Kart Series: 3rd
1995 Senior ICA Italian Kart Series: Winner
1994 British Junior Kart Series: 4th
1993 British Open Kart Series: Winner
1992 British Open & British Junior TKM Kart Series: Winner
1991 British Open & British Cadet Kart Series: Winner
1990 British Cadet Kart Series: Winner
1989 British Kart Super Prix: Winner

(NB: Stats correct post 2009 Japanese GP)

2 komentar:

Rumah Dijual mengatakan...

Deretan nama juara dunia F1 kini dihiasi wajah baru, Jenson Button. Seorang pembalap yang mungkin pada masa awal musim tidak ada yang menjagokannya sebagai juara dunia. Melalui tim terbarunya, akhirnya button sukses mengalahkan rival-rival terberatnya yang pada tahun-tahun sebelumnya pernah menjadi jawara dunia.

Perjalanan Button menuju tangga jawara dunia memang ibarat roller coaster, dimana pada awal musim tampil sangat mengesenkan, tapi pada tengah-tengah prsetasinya agak melorot. Tapi pada akhirnya nasib menentukan lain. Kerja kerasnya sepanjang musim berbuah manis. Selamat deh untuk Jenson Button!
Dijual Rumah

air mengatakan...

Yap, itulah Jenson Button, mungkin dia type orang yang terlihat mudah dilupakan tapi sebenarnya takkan ada yang bisa melupakan Jenson begitu mudahnya, he...he....