Total Tayangan Laman

Translate

Kamis, 08 Oktober 2009

A Point 2 Remind




Bad luck, mungkin itulah yang terjadi pada Jenson Button di GP Jepang kemarin, alih-alih mengunci gelarnya di sirkuit Suzuka, ia malah harus berjuang mati-matian meraih lima poin, jumlah minimal yang diperlukannya untuk memastikannya sebagai new F1 World Champion menyusul kesuksesan rekan senegaranya, Lewis Hamilton yang menyabet gelar juara dunianya tahun lalu lewat adegan yang sangat menegangkan dan mengharu biru untuk Felipe Massa, kompetitor terdekatnya tahun lalu yang tahun ini mesti absen sejak ia mengalami kecelakaan di GP Hungaria.

Sesi kualifikasi GP Jepang sendiri telah memperlihatkan moment yang tak biasa. Red Flag sampai tiga kali dikibarkan. Dua kali pada Q2, mula-mula Toro Rosso Alguersuari yang bermasalah lalu beberapa detik kemudian setelah sesi kualifikasi kembali dibuka, Toyota Glock yang kini menabrak barrier sampai-sampai ia mengalami cedera kaki dan harus dilarikan ke rumah sakit, bahkan di race, Glock yang hadir di garasi timnya memperlihatkan kakinya yang di gips ke arah kamera yang tengah menyorotnya.

Setelah dua bendera merah di Q2, ternyata bendera merah ingin kembali berkibar di Q3. Kali ini McLaren Mercedes Kovalainen yang menabrak barrier sehingga lagi-lagi sesi kualifikasi terpaksa dihentikan sementara.

Nah, apesnya Jenson Button dimulai pada saat bendera kuning dikibarkan setelah terjadi kecelakaan itu. Sebenarnya bukan hanya Jenson saja yang mengalami nasib buruk itu. Rekan setimnya Rubens Barrichello, Adrian Sutil, dan Fernando Alonso pun terkena apes terkena penalti karena tak mengurangi kecepatan saat bendera kuning dikibarkan sehingga mereka harus pasrah saja dihukum turun beberapa posisi dari hasil kualifikasi mereka. Hanya saja Rubens masih jauh lebih beruntung karena hanya diturunkan satu posisi dari hasil perolehannya saat kualifikasi di tempat kelima ke posisi grid keenam. Sementara Jenson Button harus diturunkan tiga posisi dan harus memulai start di tempat ke-10.

Balapan Jenson di GP Jepang pun tak bisa dibilang cemerlang. Selepas start ia harus berjuang mati-matian menyusul Rubens yang berhasil memperbaiki posisi startnya. Namun untungnya The Briton selalu menjaga ritme balapannya sambil terus waspada mencari setiap peluang yang dapat membuatnya meraih posisi yang lebih baik. Dan kesempatan itu ternyata segera datang ketika ia tengah membuntuti Sutil yang tengah bertarung dengan Kovalainen meraih tempat kedelapan demi meraih satu poin yang tersisa. Sutil sudah hampir berhasil menyalip Kova namun ternyata rekan setim Lewis Hamilton itu tak rela begitu saja memberikan posisinya pada pembalap andalan Force India selepas Giancarlo ke Ferrari, akibatnya saat mereka bersisian, mobil mereka malah saling bersinggungan, Force India Sutil melintir begitu pun dengan Kova, Jenson tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan yang satu itu, maka ia pun segera melesat menuju tempat kedelapan, sedikit lebih dekat menuju mobil rekan setimnya yang sudah lebih jauh di depannya.

Perolehan satu poin Jenson Button memang bisa dibilang mengecewakan, tapi apa yang telah diperlihatkannya, perjuangan tanpa henti yang ditunjukkannya memperlihatkan bahwa Jenson sungguh-sungguh serius dalam merebut gelar dunia pertamanya ini. Ia memang mengalami nasib tak sebaik di race-race pada awal musim tapi ia tak pernah menyerah dan terus berusaha meraih meski itu hanya satu poin, karena setiap poin pastinya sangat bernilai bagi seorang juara dunia.

Enam tahun lalu, juga di Suzuka, Jepang. Michael Schumacher pun harus berjuang meraih satu poin untuk memastikan gelar keenamnya. Balapan Michael saat itu bisa dibilang tak terlalu baik seperti yang dialami Jenson kemarin. Namun saat itu Michael diuntungkan karena ia hanya perlu meraih satu poin saja untuk memastikannya meraih gelar dunia keenamnya. Keuntungan kedua, rekan setimnya, Rubens Barrichello sebenarnya telah cukup membantunya dengan menghambat laju pesaing terdekat Michael saat itu, Kimi Raikkonen yang saat itu membela McLaren Mercedes. Tapi seorang Michael Schumacher tak pernah menyerahkan nasibnya pada orang lain. Meski rekan setimnya telah memastikan gelar itu untuknya tapi tetap saja Michael berjuang meraih satu poin, jumlah yang diperlukannya untuk mengunci gelarnya. Dan Michael berhasil! Satu poin yang kemudian sangat berarti baginya. Satu poin yang diraihnya dengan susah payah. Satu poin yang memperlihatkan bahwa ia layak menjadi juara dunia sejati. Satu poin yang menandakan bahwa ia masih sangat perkasa meski musim yang dijalaninya tahun itu sangat sulit.

Dan seperti Michael Schumacher, The Briton pun tahu betapa pentingnya setiap poin demi meraih puncak tertinggi di jagad dunia F1. Satu poin yang diraih Jenson di GP Jepang kemarin memang terlalu kecil tapi mungkin saja satu poin itu ternyata memiliki nilai yang dapat membantunya meraih mimpinya, menjadi juara dunia! Good luck for you, Jense!


Tidak ada komentar: