Total Tayangan Laman

Translate

Rabu, 28 April 2010

Corazon Aquino = The Saint of Democracy

pic taken from here

Jika Indonesia memiliki Alm. Gus Dur sebagai penjaga pilar proses demokrasi bangsa yang dikenal sangat lantang bersuara dalam membela proses domokratisasi di Indonesia maka Corazon "Cory" Aquino mungkin merupakan pilar penjaga demokrasi di Filipina.

Corazon "Cory" Aquino semula hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa dengan 6 orang anak, namun sejak kematian suaminya, Benigno Aquino Jr., atau yang kerap dikenal dengan panggilan Ninoy Aquino, garis hidup Cory pun berubah. Ia yang sebelumnya hanya berada di belakang layar dengan mendukung penuh karir politik suaminya, namun setelah suaminya tewas terbunuh oleh Marcos, diktator di negaranya, membuatnya menjadi orang yang berdiri di garis paling depan dalam menegakkan demokrasi di Filipina dan menjadi penantang berat Ferdinand Marcos, Presiden Filipina yang dianggap sebagai diktator dan dalang utama di balik pembunuhan Ninoy, suami Cory.

Meski Cory berada di belakang layar, namun dunia politik sebenarnya bukanlah merupakan hal yang asing bagi wanita yang lahir dengan nama lengkap Maria Corazon Sumulong Cojuangco ini. Cory yang lahir pada tanggal 25 Januari 1933 ini merupakan anak keenam dari delapan bersaudara. Ayahnya, Don Jose Cojuangco adalah seorang warga Filipina keturunan Chinese yang kaya raya sementara ibunya, Donna Demeteria Sumulong merupakan warga Filipina asli. Kakeknya dari pihak ibu, Juan Marquez Sumulong merupakan seorang senator di Filipina. Sedangkan keluarga dari pihak ayahnya merupakan pengusaha terkenal di Filipina. Neneknya dari pihak ayah, Dona Tecla merupakan seorang pengusaha wanita yang amat disegani. Nenek Cory ini dikenal sebagai wanita yang amat tangguh dan tak kenal menyerah saat menghadapi masalah yang menimpa keluarga dan anak-anaknya. Keteguhan neneknya inilah yang kiranya menurun pada Corazon Cojuangco-Aquino ini. Dona Tecla, nenek Cory ini juga merupakan salah satu keturunan dari Magat Salamat, salah satu putra Rajah Lakandula yang sangat terkenal di Filipina. (Kisah Rajah Lakandula selengkapnya bisa dilihat di sini).

Saat Cory melanjutkan kuliahnya di New York, Amerika pada 1948 ia sempat menjadi salah satu tenaga sukarelawan untuk Thomas Dewey dari Partai Republik saat berkampanye untuk kursi kepresidenan Amerika Serikat melawan kandidat dari partai Demokrat, Presiden Harry Truman. 

Setelah lulus dari sekolahnya di New York, Cory kemblai ke Filipina dan ia melanjutkan kuliahnya di Far Eastern University mengambil jurusan Hukum tapi ia tak menyelesaikan kuliah hukumnya karena ia kemudian menikah dengan seorang bintang politik Filipina yang tengah bersinar, Benigno Aquino Jr. Pernikahan Corazon dengan Ninoy ini dianugrahi empat orang putri dan seorang putra. Bahkan putra semata wayang mereka, Benigno Aquino III atau yang kerap dipanggil Noynoy kini mengikuti jejak karir politik kedua orang tuanya. 

Dalam sekejap karir politik Ninoy melesat kencang terlebih ia sangat lantang menentang Ferdinand Marcos, diktator Filipina yang tengah berkuasa saat itu. Sementara Cory menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dan istri yang selalu mendukung karir politik suaminya dari balik layar.

Keberanian dan sikap vokal Ninoy tentu saja membuat pihak penguasa gerah terlebih pada pemilu 1973, Ninoy menjadi kandidat kuat Ferdinand Marcos dalam merebut takhta kepresidenannya. Marcos yang takut dengan popularitas Ninoy yang semakin kuat mengancam posisinya pun segera mengambil tindakan untuk menghentikan langkah Ninoy dengan menahannya dan menyatakan negara dalam keadaan darurat perang. Selama masa penahanan itu, Ninoy menyatakan bahwa ia mendapatkan kekuatan untuk melewatinya berkat doa dan kekuatan yang diberikan oleh istrinya, Cory. 

Atas campur tangan Jimmy Carter, Presiden Amerika Serikat yang merupakan sekutu Marcos akhirnya Marcos mengijinkan Aquino dan keluarganya meninggalkan Filipina menuju Amerika Serikat di mana Aquino akan mendapatkan pengobatan. Di Amerika, keluarga Aquino tinggal di Boston dan selama masa tiga tahun pengasingannya di Amerika itu, Aquino menyatakan bahwa tiga tahun itu merupakan masa-masa paling membahagiakan dalam pernikahan dan kehidupan keluarganya.

Pada 21 Agustus 1983, seorang diri Ninoy kembali ke Filipina dari pengasingannya di Amerika. Namun kembalinya Aquino tentu saja tak diinginkan oleh Marcos sehingga ia pun mengatur pembunuhan terhadap lawan politiknya ini sebelum Aquino menjejakkan kakinya lebih lama di bumi Filipina. Ninoy Aquino yang baru saja melangkahkan kakinya di Bandara International Manila inipun langsung roboh tertembus peluru yang ditembakkan oleh penembak yang diutus Marcos. Nama Ninoy kini diabadikan sebagai nama Bandara Internasional tersebut untuk mengenang dan menghormatinya. Corazon Aquino pun kembali ke Filipina beberapa hari kemudian untuk mengurus upacara pemakaman suaminya. Lebih dari dua juta orang Filipina mengiringi proses pemakaman Ninoy tersebut, kumpulan massa terbanyak yang mengiringi proses pemakaman dalam sejarah Filipina dan dunia.

Setelah kematian suaminya, Corazon Aquino pun menjelma dari ibu rumah tangga yang berada di belakang suaminya menjadi sosok wnaita tangguh yang senantiasa hadir dan aktif dalam berbagai aksi demonstrasi menentang rezim Marcos. Janda Aquino ini pun dianggap sebagai tokoh yang tepat untuk menyatukan kelompok oposisi dan menentang pemerintahan otoriter Marcos.

Awalnya Cory enggan menjadi pemimpin pergerakan pro demokrasi di negaranya tersebut tapi setelah Don Joaquin "Chico" Roces, seorang tokoh terkemuka Filipina yang yakin bahwa Cory adalah tokoh yang tepat yang dapat menyatukan rakyat Filipina untuk meruntuhkan kekuasaan Marcos berhasil menggerakkan rakyat Filipina untuk mengumpulkan satu juta tanda tangan demi mendesak Cory untuk menantang sang diktator, akhirnya Cory pun menerima permintaan rakyat ini dan menerima takdir barunya, menjadi pemimpin pergerakan demokrasi di negaranya dan melanjutkan perjuangan suaminya.

Bersama Salvador "Doy" Laurel yang merupakan sahabat Ninoy, suaminya, Cory pun melangkah maju dalam pemilu presiden. Awalnya Laurel sebenarnya berniat maju sebagai capres melawan Marcos tapi setelah mendapat masukan dari berbagai pihak dan menyadari bahwa posisinya tak sekuat Cory di mata rakyat Filipina akhirnya berkat bujukan dari Uskup Agung Manila, Kardinal Sin, ia pun bersedia menjadi calon wakil presiden mendampingi Cory yang akan maju menjadi presiden Filipina melawan Marcos. 

Menghadapi Cory, berbagai cara dilakukan Marcos untuk mendiskreditkannya. Ia menuding Cory didukung oleh kelompok komunis dan telah mengadakan kesepakatan untuk membagi kekuasaan dengan kelompok komunis tersebut. Tapi Cory yang tak gentar dengan intrik-intrik yang dilakukan oleh Marcos dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak mengadakan kesepakatan apapun dan bahkan ia berjanji tidak akan menaruh satupun dari anggota kelompok komunis dalam kabinetnya nanti. Marcos lalu kembali menyerang Cory dan menuduh Cory memainkan "political football" dengan Amerika Serikat dan akan membiarkan keberadaan militer Amerika Serikat di Filipina yaitu di Clark Air Base dan Subic Naval Base. Bahkan Marcos juga menyerang Cory dengan masalah gender dan menyebut Aquino "hanyalah seorang wanita" dan tempat yang pantas untuknya adalah di kamar tidur. Menghadapi isu gender tersebut, Cory pun membalas Marcos dengan tak kalah pedas dan dengan setengah menyindir Cory mengatakan, "mungkin 'wanita' terbaiklah yang akan memenangkan pemilihan ini."

Kurangnya pengalaman Cory dalam pemerintahan pun tak luput menjadi senjata Marcos untuk menyerangnya dengan menyatakan bahwa negara akan berada dalam bahaya besar dengan membiarkan seorang wanita yang tak memiliki pengalaman politik seperti Cory Aquino menjadi seorang presiden. Kali ini dengan cerdik Cory kembali membalas Marcos secara telak. Ia setengah menyindir mengatakan bahwa ia memang tidak memiliki pengalaman dalam hal menipu, berbohong kepada publik, korupsi, dan bahkan membunuh lawan politiknya.

Meskipun Cory sangat populer dan mendapat dukungan dari rakyat Flipina tapi ternyata dengan kecurangan yang dilakukan oleh pihak Marcos dalam pemilu yang diselenggarakan pada 7 Februari 1986 itu, Marcos dinyatakan kembali berhasil meraih kursi kepresidenan mengalahkan Corazon Aquino. Namun kecurangan yang dilakukan Marcos ini ternyata menjadi titik balik perjuangan rakyat Filipina untuk menjatuhkannya dari kursi kekuasaan yang diembannya selama dua puluh tahun. Kecurangan Marcos itu menimbulkan reaksi negatif bukan hanya dari negaranya saja tapi juga dari dunia internasional. 

Aquino pun kemudian menggerakkan rakyatnya untuk melakukan aksi long march terbesar yang disebutnya sebagai People's Victory Rally atau dalam bahasa Filipina disebut "Tagumpay ng Bayan". Bukan itu saja, Cory bahkan mengajak rakyat Filipina untuk memboikot produk-produk dari perusahaan yang dimiliki oleh kroni-kroni Marcos. Aksi gerakan people power yang dilakukan Cory itu akhirnya berhasil menumbangkan rezim Marcos. Atas aksinya itu majalah TIME menjuluki Aquino sebagai "Saint of Democracy." Dan pada tahun 1986 majalah TIME menganugerahinya sebagai "Woman of the Year." Pada 1999, meskipun Cory sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden Filipina namun atas aksinya yang tetap kritis menjaga demokrasi tetap berjalan di negerinya membuat TIME menganugerahinya sebagai salah satu dari dua puluh tokoh yang paling berpengaruh di Asia di abad ke-20. Dan pada 2006 kembali TIME memberikan penghargaan padanya sebagai salah satu dari 65 pahlawan Asia.

Amerika Serikat yang selama Marcos masih berada di puncak kekuasaannya merupakan "sahabat" Marcos yang paling setia pun berbalik menjadi pendukung Aquino. Bahkan karena kecurangan yang dilakukan Marcos pada pemilu 1986 yang telah mencoreng citra demokrasi sementara Amerika Serikat selama ini menganggap dirinya sebagai dewa demokrasi membuat senat negara adikuasa itu mengutuk tindakan curang yang dilakukan Marcos dalam mempertahankan kekuasaannya itu. Namun yang sebenarnya adalah Amerika Serikat yang menyadari bahwa kekuasaan Marcos hanya tinggal menghitung waktu saja sehingga negara besar itu mulai mengalihkan dukungan pada pemimpin oposisi terbesar di Filipina yaitu Aquino dengan harapan dapat melanjutkan "kerjasama" yang selama ini telah terjalin antara AS dengan Marcos tapi Aquino dengan tegas menolak penawaran pembagian kekuasaan seperti yang diajukan oleh Philip Habib, diplomat yang dikirim oleh Presiden Ronald Reagan. 

Empat jam setelah Philip Habib terbang kembali ke AS dari Manila, Marcos pun "tumbang." Saat ia telah terguling dari singgasananya, Marcos berpikir Amerika masih merupakan "sahabat" sejatinya sehingga ia melarikan diri ke Hawaii untuk mencari perlindungan. Tapi ternyata Marcos harus menelan kekecewaan karena ternyata sahabat sejatinya itu hanya benar-benar menjadi sahabatnya saat ia masih memiliki kekuasaan.

Bahkan Amerika Serikat atas permintaan Jaksa Agung Filipina menyeret Marcos ke pengadilan AS dengan tuduhan korupsi dan pelanggaran HAM yang dilakukannya saat masih berkuasa. Berbaliknya sikap AS yang semula merupakan sahabatnya dan kini menjadi lawannya inilah yang kemudian membuat Marcos stress berat sehingga ia jatuh sakit. Tapi keadaannya yang terbaring lemah karena sakit itu ternyata tak bisa membuatnya terhindar dari tuntutan hukum. Amerika Serikat yang seolah tak teringat masa-masa manis persahabatan mereka sebelumnya, saat kekuasaan masih melekat kuat dalam cengkeraman Marcos tetap menyeret Marcos meski kondisi sang diktator itu terbaring lemah di atas tempat tidur dengan selang-selang infus meliliti tubuhnya. Keadaan Marcos itu ternyata tak membuat pengadilan AS mengurungkan panggilan hukum terhadap Marcos sehingga Marcos yang tengah terbaring di atas tempat tidur tetap dipaksa untuk menghadiri persidangan di negara yang sempat menjadi kolega terbaiknya itu.
Bayangkan saja, berapa banyak terdakwa koruptor yang selalu memakai dalih sakit untuk menghindari persidangan di Republik ini?

Marcos pun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di negeri adidaya yang sekali waktu dulu pernah menjadi "sahabat" terbaiknya. Dalam keadaan telah menjadi mayat pun, Marcos masih harus menghadapi kenyataan pahit lainnya. Rakyat Filipina yang telah muak selama masa kediktatoran Marcos menolak jasad sang tiran untuk kembali ke tanah airnya dan dimakamkan di sana.

Berbanding terbalik dengan keadaan Marcos, lawan Marcos, janda Benigno Aquino yang tewas dibunuhny itu malah makin bersinar. Aquino berhasil meraih kursi kepresidenan Marcos dan menjadi presiden wanita pertama di negeri tetangga Indonesia itu. Begitu menduduki kursi kepresidenan, tentu saja hal pertama yang dilakukan oleh Aquino adalah memperbaiki keadaan konstitusional Filipina dengan melakukan penghapusan konstitusi 1973 yang menjadi kekuatan Marcos selama masa darurat perang yang ditetapkannya dan menjadi salah satu dalih yang digunakan Marcos untuk membunuh suami Cory Aquino. Berbagai ketetapan pun dilakukan Aquino untuk mencegah agar para "loyalis" Marcos yang merupakan antek-antek sang diktator agar tak bisa melakukan serangan balik dan mengembalikan kediktatoran Marcos. Berbagai reformasi di bidang hukum dan politik pun dilakukan oleh Aquino.

Lewat reformasi di bidang hukum yang dilakukan Aquino, ia memberikan landasan yang kuat untuk kebebasan sipil, HAM, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Filipina. Dan di bidang reformasi ekonomi yang dilakukan oleh Aquino pun bisa dibilang sangat mengesankan bagi wanita yang semula hanya seorang ibu rumah tangga ini.

Saat Aquino menjadi presiden, ia mewarisi hutang yang sangat besar dari masa kedikatatoran Marcos. Sebagai langkah penyelamatan bagi ekonomi negaranya, Aquino pun memfokuskan perhatian dan energinya untuk merevitalisasi dan memperbaiki perekonomian negaranya yang merosot. Salah satu aksinya yang dinilai gemilang  dalam penyelamatan perekonomian di negaranya itu adalah ketika ia membongkar berbagai praktik monopoli yang dilakukan oleh Marcos saat masih berkuasa. Aquino pun segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi hutang luar negeri Filipina sebesar 26 milyar dolar Amerika yang diwarisinya dari pendahulunya itu. 

Meski langkah Aquino dalam melakukan penyelamatan perekonomian negaranya dinilai tidak populer tapi ia berkeras dan menyatakan bahwa ia harus mengambil langkah yang tepat untuk menyelamatkan perekonomian Filipina dan salah satu hal yang penting itu adalah meraih kembali kepercayaan dari para investor dan komunitas internasional. Terbukti selama masa pemerintahan Aquino, pertumbuhan ekonomi Filipina berkembang secara positif. Pada awal masa pemerintahannya, Aquino berhasil meraih pertumbuhan ekonomi sebesar 3,4%. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Filipina di bawah pemerintahan Aquino adalah sekitar 3,8% yaitu selama tahun 1986 sampai 1992.

Namun seperti setiap segi kehidupan memiliki dua sisi selayaknya mata uang, begitu pula dengan kepemimpinan Aquino. Keberhasilannya di bidang reformasi politik, hukum, dan ekonomi ternyata tak membuat aksinya dalam reformasi agraria mendapat tanggapan yang positif. Aquino yang merupakan keturunan dari tuan tanah di Filipina yang kaya raya mendapatkan banyak kritikan atas tindakannya meratifikasi UU 1987. Bahkan tiga minggu setelah rencana ratikifasi UU itu tersiar, para petani dan pekerja di bidang agraria melakukan long march untuk memprotes kebijakan ratifikasi tersebut. Bahkan proses demonstrasi yang seharusnya berjalan damai itu ternoda oleh aksi kekerasan yang dilakukan oleh Marinir Filipina ketika massa demonstran berusaha menerobos garis pertahanan polisi. Insiden berdarah yang kemudian dikenal dengan sebutan "Pembantaian Mendiola" itu menyebabkan 12 orang petani tewas sementara sembilan belas orang mengalami luka-luka. Akibat insiden berdarah ini, beberapa tokoh terkemuka dalam kabinet Aquino pun mengundurkan diri dan salah satunya adalah seorang senator yang progresif, Jose W. Diokno yang memilih untuk mundur dari jabatannya dalam pemerintahan Aquino.

Selama masa pemerintahannya, Aquino juga mendapatkan banyak hambatan dari kelompok ekstra kanan yang dipelopori oleh kelompok militer sementara di kelompok ekstra kiri Aquino menghadapi serangan dari kelompok komunis. Belum lagi menjelang dua tahun masa akhir pemerintahannya, Aquino harus menghadapi berbagai bencana alam yang menimpa negerinya seperti pada 1990 gempa bumi terjadi di Luzon yang menyebabkan 1600 orang meninggal. Pada 1991 giliran letusan gunung berapi yang meluluhlantakan ketentraman Filipina ketika Gunung berapi Pinatubo meletus sehingga menyebabkan 300 orang tewas. Letusan gunung berapi itu dianggap sebagai letusan terdahsyat kedua di sepanjang abad ke-20 ini. Belum lagi badai tropis dan angin taufan pernah pula turut menghantam Filipina yang menyebabkan banyak rakyat Filipina tewas dan terluka.

Meski beberapa bencana dan serangan dari beberapa kelompok membuat pemerintahan Aquino sedikit tersendat namun tak membuat popularitas Aquino menurun. Ia bahkan masih bisa melanjutkan masa kepemimpinannya ke periode dua tapi Aquino ternyata bukan orang yang haus akan kekuasaan. Aquino yang telah mendobrak dan melepaskan negerinya dari cengkeraman seorang tiran ini menunjukkan karakter sejatinya sebagai seorang pemimpin sejati yang sejatinya terus memberikan panutan yang positif bagi rakyatnya. Aquino ingin menjadi contoh bagi rakyat dan para pemimpin di negerinya bahwa jabatan kekuasaan tak semestinya menjadikan seseorang sebagai tiran. Ia ingin kekuasaan tak membuatnya menjadi lupa daratan dan menjadikannya sebagai seorang tiran seperti pendahulunya. Aquino tak inign melekat pada kekuasaan meski ia memiliki peluang untuk itu. Kebesaran hati inilah yang membuat Aquino memilih untuk memberikan kesempatan bagi pemimpin besar lainnya yang akan bisa membawa negerinya ke arah yang lebih baik. 

Awalnya Aquino mendukung Ramon V. Mitra, teman dari suaminya, Ninoy Aquino sekaligus juru bicara dewan perwakilan rakyat Filipina sebagai kandidat yang akan meneruskan kepemimpinannya dalam pemilu presiden 1992. Namun belakangan, Aquino mengalihkan dukungannya kepada Jenderal Fidel V. Ramos, teman seperjuangannya yang telah membantunya menjatuhkan imperium kekuasaan Marcos dan telah berjasa bagi Aquino dengan mengatasi berbagai usaha kudeta dan pemberontakan selama masa pemerintahan Aquino.

Namun Aquino belakangan kecewa dengan keputusan penerusnya itu yang berusaha mengamandemen UU 1987 yang memberikan pembatasan dalam kekuasaan seorang presiden. Bersama Uksup Agung Manila, Jaime Cardinal Sin yang senantiasa mendukung aksi Aquino dalam menegakkan demokrasi di negaranya itu , mereka pun kemudian memimpin aksi demonstrasi besar-besaran untuk menentang rencana Presiden Fidel Ramos itu.

Aquino berkali-kali harus mengalami kekecewaan terhadap para penerusnya yang selalu berusaha mengamandemen konstitusi 1987 sehingga membuatnya berkali-kali harus kembali turun ke jalan memimpin aksi demonstrasi.

Ketika Joseph "Erap" Estrada mantan aktor Filipina menjadi presiden Filipina, Aquino dan Kardinal Sin kembali turun ke jalan memimpin aksi demonstrasi menentang rencana Estrada untuk mengamandemen UU 1987 yang menurut Estrada dilakukannya untuk kepentingan aktifitas ekonomi dan investasi dan membantah bahwa rencana amandemennya itu sebenarnya merupakan usahanya untuk mempertahankan kekuasaannya. 

Pada 2000, Aquino bergabung dengan massa yang menuntut pemecatan Estrada dari jabatannya sebagai presiden karena banyaknya kasus korupsi yang disinyalir dilakukan oleh Estrada. Seperti ketika Aquino memimpin massa menjatuhkan Marcos, kali ini Aquino kembali berhasil membuat Estrada terusir dari jabatan kepresidenannya. Aquino kemudian mengajukan dukungannya kepada wakil presiden Estrada, Gloria Macapagal-Arroyo untuk menggantikan posisi Estrada.

Kini Estrada kembali mencoba peruntungannya meraih kursi kepresidenannya dengan mencalonkan dirinya kembali pada pemilu yang akan digelar Filipina pada 11 Mei mendatang. Kali ini Estrada akan menghadapi serangan dari Benigno "Noynoy" Aquino III, putra Aquino yang telah menyebabkannya melepaskan "takhta"nya hampir sepuluh tahun lalu itu.

Namun kembali Aquino harus mengalami kekecewaan pada orang yang didukungnya yaitu Arroyo ketika Arroyo dinilai melakukan kecurangan pada pemilu presiden pada 2004 sehingga Aquino kembali turun ke jalan memimpin aksi massa untuk menentang Presiden Arroyo.

Pada Juni 2009, dua bulan sebelum kematiannya, Aquino bahkan dengan keras menentang rencana Arroyo untuk mengamandemen Konstitusi 1987 dan menyebut rencana Arroyo itu sebagai "penyalahgunaan kekuasaan yang memalukan."

Sayangnya ketegaran Aquino dalam menegakkan demokrasi di negaranya harus berakhir. Pada 24 Maret 2008, keluarga Aquino dan seluruh rakyat Filipina terhenyak ketika dokter mendiagnosa sang ikon demokrasi Filipina ini menderita kanker usus. Aquino kini harus berjuang melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya dan berusaha untuk mempertahankan hidupnya. 
Namun sayangnya perjuangan Aquino melawan kanker selama satu setengah tahun itupun ternyata harus berakhir. Sang dewi pelindung demokrasi Filipina ini pun akhirnya kembali kepada Sang Penciptanya pada 1 Agustus 2009. Seluruh dunia pun tersentak dan merasa kehilangan tapi kehilangan yang paling berat tentu saja dirasakan oleh rakyat Filipina.

Ratusan hingga ribuan rakyat Filipina pun memenuhi jalan mengiringi kepergian bekas presiden mereka ini ke tempat peristirahatan terakhirnya yang berada tepat di samping makam suaminya, Ninoy Aquino. Yang mengharukan adalah ribuan rakyat Filipina itu mengiringi kepergian Aquino itu sambil melantukan "Bayan Ko", lagu perjuangan mereka saat meruntuhkan kediktatoran Marcos di bawah kepemimpinan wanita luar biasa bernama Maria Corazon Sumulong Cojuangco Aquino ini.

Mereka juga mengenakan kaus kuning untuk mengenang perjuangan Aquino ketika memimpin rakyat Filipina menjatuhkan rezim Marcos. Saat itu pita kuning menjadi lambang pendukung Aquino ketika bertempur melawan Marcos. Dan kini mereka pun mengikatkan pita kuning di sepanjang jalan-jalan utama sebagai bentuk kehilangan mereka atas sosok wanita yang telah membawa rakyatnya meraih kemerdekaan demokrasi dan juga sebagai bentuk solidaritas dan dukungan rakyat Filipina kepada keluarga Aquino yang tengah berduka. Bahkan para pengguna jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter asal Filipina pun memasang logo pita kuning di account mereka sebagai bentuk penghormatan mereka kepada pemimpin mereka ini.

Aquino memang wanita yang luar biasa. Bagiku pribadi ia merupakan tokoh pemimpin sejati yang tak haus akan kekuasaan dan tak membiarkan jiwanya habis digerus oleh kenikmatan semu bernama kekuasaan. Aquino yang sangat saleh dan teguh menjaga imannya ini bahkan di saat-saat sulitnya ketika suaminya mengalami tekanan dari penguasa tiran di negerinya hingga tewas terbunuh, Aquino memperlihatkan imannya dengan tetap teguh menyandarkan kekuatannya pada Sang Penguasa yang senantiasa memberikannya kekuatan untuk menghadapi saat-saat sulit dan memberikan keberanian baginya yang hanya seorang ibu rumah tangga untuk memimpin bangsanya meraih kemerdekaan sejati dari tangan seorang diktator. Tapi yang istimewa adalah Aquino ternyata tak lupa daratan ketika merasakan empuknya kursi kekuasaan itu. Ia masih ingat dan menyadari kekurangannya sehingga membuatnya mengambil keputusan untuk memberikan kesempatan bagi rakyatnya yang lain yang memiliki kemampuan untuk memimpin negerinya menggantikan dirinya dan memberikan hasil yang lebih baik bagi negeri yang dicintainya ini. 

Aquino juga memperlihatkan bahwa dirinya tidak pernah silau oleh pesona kekuasaan. Terbukti ketika ia telah turun dari kursi kepresidenan dan akan menghadiri upacara penobatan Fidel Ramos sebagai presiden menggantikan dirinya, ia memilih untuk mengendarai Toyota Crown putih sederhana yang dibelinya dengan uangnya sendiri daripada duduk nyaman dalam mobil mewah Mercedes Benz yang disediakan oleh pemerintah.

Tak heran bila kematian Cory Aquino meninggalkan kehilangan yang sangat besar bukan hanya bagi rakyat Filipina tapi juga bagi dunia yang kehilangan sosok seorang pejuang demokrasi sejati yang tak hanya pandai berkoar mengobarkan semangat untuk menjatuhkan sang diktator tapi ia juga ternyata mampu memperlihatkan bahwa kekuasaan bukanlah merupakan jabatan abadi bagi seseorang hingga akhirnya menciptakan tiran. Seseorang yang telah meraih kekuasaan seharusnya ingat bahwa kekuasaan absolut adalah milik Sang Pencipta dan tak seharusnya seorang pengusasa bertengger di kursi kekuasaan sebagai penguasa absolut. Karenanya seseorang yang ingin meraih kursi kekuasaan harus pula ingat bahwa kursi itu bukanlah miliknya selamanya karena ketika kursi itu telah berhasil diraihnya, sang penguasa juga harus bisa ingat bagaimana caranya untuk turun dari kursi kekuasaan itu.

Tidak ada komentar: